PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Jurusan Teknik Kimia
Oleh :
ENY
PURWATI
0631010070
NURUL FEBRI SUSANTI 0631010089
JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
LEMBAR PENGESAHAN
KINETIKA REAKSI DAN OPTIMASI
PEMBENTUKAN BIODIESEL DARI
CRUDE FISH OIL
Oleh :
ENY
PURWATI
0631010070
NURUL FEBRI SUSANTI 0631010089
Telah Dipertahankan Dihadapan Dan Diterima Oleh Dosen Penguji Pada Tanggal
juni 2010
Tim Penguji : Pembimbing :
1.
Ir. Nurul Widji Triana, MT Ir. Bambang Wahyudi, MT
NIP. NIP. 19580711 198503 1 001
2.
Ir. C.Pujiastuti, MT NIP.
Mengetahui :
Dekan Fakultas Teknologi Industri
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan Penelitian kami
yang berjudul KINETIKA REAKSI DAN OPTIMASI PEMBENTUKAN
BIODIESEL DARI CRUDE FISH OIL.
Penelitian ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan
perkuliahan di Universitas Pembangunan Nasional “VETERAN” Jawa Timur
program Sarjana Jurusan Teknik Kimia. Selain itu juga dapat menambah wawasan
dan pengalaman kerja bagi mahasiswa.
Dengan terselesainya Laporan Penelitian ini kami ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Ir. Sutiyono, MT. Dekan Fakultas Teknik Industri UPN “VETERAN”
Jawa Timur.
2. Ibu Ir. Retno Dewanti, MT. Ketua Jurusan Teknik Kimia UPN “VETERAN”
Jawa Timur.
3. Bapak Ir. Bambang Wahyudi MS. Selaku dosen pembimbing yang telah
banyak memberikan motivasi dan masukan yang berharga dalam
terselesaikannya laporan penelitian ini.
4. Ibu Ir. Cecillia Pudji Astuti, MT dan Ibu Ir. Nurul Widji Triana, MT selaku
iv
5. Bapak Ir. Mu’tasim Billah yang selaku Kepala Laboratorium Riset UPN
“VETERAN” Jawa Timur saat penulis melakukan panelitian.
6. Orang tua yang sangat penulis sayangi. Salam hormat dan terima kasih yang
teramat mendalam atas dukungannhya baik secara moril maupun materi.
7. Teman – teman UPN ‘VETERAN” Jatim yang telah memberikan motivasi dan
masukan bagi penulis.
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu - persatu, yang telah
membantu tersusunanya laporan ini.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan masukan demi
kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan
terutama bagi seluruh mahasiswa Teknik Kimia.
Surabaya, juni 2010
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model persamaan laju reaksi,
energy aktivasi seerta optimasi proses yang menghasilkan minyak ikan maksimum
yang dapat dicapai dalam pembentukan biodiesel dari crude fish oil ( CFO ).
Pembuatan biodisel dilakukan dengan melarutkan katalisator NaOH dengan
pereaksi methanol (metoxid), kemudian minyak ikan dan metoxid 16% dari
volume minyak dimasukkan ke dalam reaktor dan dilakukan proses
transesterifikasi dengan variasi suhu dan waktu. Setelah diperoleh waktu
optimum 90 menit dilakukan proses transesterifikasi dengan variasi suhu dan
jumlah metoxid ( 7 – 19 %). Penentuan keadaan optimum didasarkan pada nilai
konversi dan bilangan ester. Konversi Methyl Ester yang tertinggi yaitu 24.85%.
dari perhitungan didapat bahwa penelitian ini mengikuti orde 1 semu dan
diperoleh konstanta kecepatan reaksi, dengan persamaan garis : y =
vi DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
INTISARI ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GRAFIK ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan Penelitian ... 4
1.3. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Secara Umum ... 5
2.1.1. Biodiesel ... 5
2.1.2. Minyak Ikan ... 9
2.1.3. Methanol ... 10
2.1.4. Natrium Hidroksida (NaOH) ... 11
2.1.5. Asam Phosfat ... 12
2.4. Hipotesa ... 27
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1. Bahan – Bahan ... 28
3.2. Alat yang Digunakan ... 28
3.3. Peubah ... 29
3.4. Prosedur Penelitian ... 30
3.5. Analisa ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Bilangan Ester ... 32
4.2. Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap XA ... 34
4.3. Pengaruh Suhu Reaksi Terhadap XA (%)... 36
4.4. Pengaruh Suhu Reaksi Terhadap XA (%)... 37
viii
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. Kesimpulan ... 46
V.2. Saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA
APPENDIX
Tabel 4.2. Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Konversi (%) ... 34
Tabel 4.3. Pengaruh Suhu Reaksi Terhadap Konversi ( % ) ... 36
Tabel 4.4. Pengaruh suhu Reaksi Terhadap Konversi dalam Bebagai Volume metoxid ... 37
Tabel 4.5. Identifikasi Hasil Variasi Waktu Terhadap Suhu Untuk Orde 1 ... 40
Tabel 4.6. % Kesalahan Untuk Orde 1 ... 43
Tabel 4.7. Nilai Konstanta Kecepatan Reaksi ... 44
x DAFTAR GRAFIK
Grafik 4.1. Korelasi Antara Waktu dan Bilangan Ester ... 33
Grafik 4.2. Korelasi Antara Waktu dan Konversi ... 35
Grafik 4.3. Korelasi Antara Suhu Reaksi dan Konversi ... 36
Grafik 4.4. Korelasi Antara Volume Metoxid dan Bilangan Ester ... 38
Grafik 4.5. Korelasi Antara Suhu Reaksi dan Bilangan Ester ... 38
Grafik 4.6. Korelasi antara Volume Metoxid dan Konversi ... 39
Grafik 4.7. Korelasi Antara –ln(1-XA) dengan Waktu Pada Suhu 45oC... 40
Grafik 4.8. Korelasi Antara –ln(1-XA) dengan Waktu Pada Suhu 50oC... 41
Grafik 4.9. Korelasi Antara –ln(1-XA) dengan Waktu Pada Suhu 55oC... 41
Grafik 4.10. Korelasi Antara –ln(1-XA) dengan Waktu Pada Suhu 60oC... 42
Grafik 4.11. Korelasi Antara –ln(1-XA) dengan Waktu Pada Suhu 65oC... 42
Grafik 4.12. Korelasi Antara –ln(1-XA) dengan Waktu dalam berbagai suhu.... 43
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak terjadi krisis energy, harga minyak bumi melambung tinggi.
Indonesia yang dulunya sebagai Negara pengekspor minyak bumi sekarang
berubah menjadi Negara pengimpor minyak bumi. Nilai impor Indonesia
untuk bahan bakar solar mencapai 25% dan bensin 20% dari total kebutuhan
nasional (Tatang, 2003). Harga minyak mentah di pasar internasional saat ini
sudah mencapai 135 USD/barel, sedangkan konsumsi minyak bumi di
Indonesia untuk tahun ini diperkirakan akan mencapai 66 juta kilo liter.
Pemenuhan sumber energi dalam bentuk cair terutama solar merupakan sector
paling kitis dan perlu mendapat perhatian khusus. Pada saat ini kurang lebih
25% kebutuhan solar di impor oleh negara. Oleh karena itu, sudah saatnya
dipikirkan untuk dapat disubstitusi dengan bahan bakar alternatif lainnya
terutama bahan bakar yang berkesinambungan pengadaannya (renewable).
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari bahan mentah
terbarukan (renewable). Biodiesel bisa digunakan dengan mudah karena dapat
bercampur dengan segala komposisi dengan minyak solar, mempunyai sifat –
sifat fisik yang mirip dengan solar biasa sehingga dapat diaplikasikan
langsung untuk mesin – mesin diesel yang ada hampir tanpa modifikasi, dapat
terdegradasi dengan mudah (biodegradable), 10 kali tidak beracun dibanding
L aporan Penelit ian - 2 - K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
biasa, asap buangan biodiesel tidak hitam, tidak mengandung sulfur serta
senyawa aromatic sehingga emisi pembakaran yang dihasilkan ramah
linkungan serta tidak menambah akumulasi gas karbondioksida di atmosfer
sehingga lebih jauh lagi mengurangi efek pemanasan global.
Biodiesel tersusun dari berbagai macam ester asam lemak yang dapat
diproduksi dari minyak – minyak tumbuhan seperti sawit (palm oil), minyak
kelapa, minyak jarak pagar, minyak kapok randu, dan masih ada lebih dari 30
macam tumbuhan Indonesia yang potensial untuk dijadikan sumber energi
bentuk cair ini. Selain minyak nabati, bahan baku juga dapat berasal dari
minyak hewani seperti minyak ikan.
Minyak ikan selain memiliki variasi asam lemaknya lebih tinggi
dibandingkan minyak atau lemak lainnya, juga jumlah asam lemaknya lebih
banyak. Panjang rantai karbon minyak ikan mencapai 22 dan lebih banyak
mengandung jenis asam lemak tak jenuh. Asam lemak yang berasal dari ikan
pada prinsipnya ada 3 jenis yaitu jenuh, tidak jenuh tunggal dan tidak jenuh
jamak. Asam lemak tak jenuh tunggal mengandung satu ikatan rangkap dan
asam lemak tak jenuh jamak mengandung banyak (mencapai 6) ikatan
rangkap per molekul..
Permasalahan yang timbul dengan menggunakan minyak ikan adalah
besarnya kadar FFA dan kadar air dalam minyak ikan. Cara yang pernah
digunakan untuk menurunkan FFA dalam minyak adalah dengan reaksi
hidrolisa, reaksi oksidasi, reaksi hidrogenasi, rekasi saponifikasi dan reaksi
Penelitian terhadap biodiesel telah banyak dilakukan namun
pembahasan tentang kinetika reaksi pada proses pembuatannya sangat jarang
dilakukan. Pada penelitian kali ini peneliti akan membahas mengenai kinetika
reaksi. Kinetika reaksi dapat digunakan untuk mendapatkan data :
a. Suhu Reaksi Kimia
Dapat diketahui apakah reaksi kimia tersebut berlangsung dibawah
atau diatas suhu udara sekeliling(di Indonesia ±30ºC). Apabila
dibawah suhu lingkungan, maka diperlukan perancangan reactor
dengan system pendingin pada reactor kimia tersebut. Bila reaksi
berlangsung pada suhu diatas lingkungan reactor, maka diperlukan
perancangan reactor dengan system pemanas.
b. Tekanan
Tekanan pada saat berlangsungnya suatu reaksi kimia, sehingga
dapat ditetapkan berapa ketebalan maupun macam bahan yang
digunakan untuk reactor kimia tersebut.
c. Rate aliran Bahan
Rate aliran berhubungan erat dengan jumlah bahan yang
direaksikan maupun produk hasil reaksi (berupa padatan, cairan atau
gas). Dengan diketahui volumenya maka dapat dihitung atau
ditentukan dimensi atau ukurannya : diameter, tinggi ataupun panjang
L aporan Penelit ian - 4 - K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
d. Waktu Reaksi Kimia
Waktu reaksi kimia sangat berkaitan (saling terikat) dengan rate
aliran bahan kimia. Hal ini disebabkan karena rate aliran umumnya
mempunyai satuan : volume per waktu = liter per menit ataupun satuan
lainnya, misal cuft/dtk. Jadi disini ada satuan waktu yang identik
dengan waktu reaksi, maka volume raktor kimia dapat dihitung
(diketahui).
Selain waktu reaksi dan rate aliran yang saling terkait, dapat pula
ditambahkan yaitu waktu pengisian reactor, waktu pengosongan ,
waktu pendinginan dan waktu pemanasan. Karena data tersebut sangat
diperlukan dalam perancangan reaktor kimia, maka hal tersebut yang
melatar belakangi mengapa suatu penelitian kinetika reaksi
dilaksanakan (Stanley M Walas,1998)
1. 2 Tujuan Penelitian
Mendapatkan model persamaan laju reaksi, energi aktivasi serta optimasi
proses yang menghasilkan konnversi minyak ikan maksimum yang dapat
dicapai dalam pembentukan biodiesel dari Crude Fish Oil (CFO).
1. 3 Manfaat Penelitian
1. Meningkatkan nilai guna dan nilai tambah secara ekonomi dari Crude Fish
Oil dengan memprosesnya menjadi biodiesel.
2. Mendapatkan persamaan laju reaksi dan energy aktivasi dalam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Secara Umum
2.1.1 Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran
mono—alkyl ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai
sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari
sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan. Sebuah
proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak
dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas.
Setelah melewati proses ini biodiesel memiliki sifat pembakaran yang
mirip dengan diesel (solar) dari minyak bumi. Namun, biodiesel lebih
sering digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum,
meningkatkan bahan bakar diesel petrol murni ultra rendah belerang
yang rendah pelumas.
Biodiesel merupakan kandidat yang paling dekat untuk
menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi
utama dunia, karena biodiesel merupakan bahan bakar terbaharui yang
dapat menggantikan diesel petrol di mesin sekarang.
Penggunaan dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat,
L aporan Penelit ian 6
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar. Pertumbuhan
SPBU membuat semakin banyaknya penyediaan biodiesel kepada
konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan yang menggunakan
biodiesel sebagai bahan bakar.
Sifat – sifat penting dari bahan bakar mesin diesel antara lain adalah :
1. Densitas
Densitas merupakan sifat fisis yang penting bagi bahan bakar mesin
diesel. Densitas yang terlalu tinggi dapat mempersulit proses
pembentukan butir – butir cairan/ kabut saat penyemprotan/
atomisasi. Densitas bahan bakar yang terlalu rendah akan dapat
mengakibatkan kebocoran pada pompa injeksi bahan bakar. Kedua
hal yang ekstrim ini dapat menimbulkan kerugian, sehingga salah
satu persyaratan bahan bakar mesin diesel adalah nilai densitas
standart bahan bakar mesin diesel.
2. Pour Point
Pour point atau titik tuang adalah suhu terendah dimana bahan
bakar dapat dialirkan. Untuk daerah bersuhu rendah, bahan bakar
dipersyaratkan tidak membeku. Titik tuang yang terlalu tinggi akan
menyebabkan kesulitan pada pengaliran bahan bakar.
3. Flash Point
Flash point atau titik nyala adalah suhu terendah dimana bahan
tersebut terjadi secara terus menerus maka suhu tersebut
dinamakan titik bakar (fire poin). Titik nyala yang terlampau tinggi
dapat menyebabkan keterlambatan penyalaan, sementara apabila
titik nyala terlalu rendah akan menyebabkan timbulnya detonasi,
yaitu ledakan – ledakan kecil yang terjadi sebelum bahan bakar
masuk ruang bakar. Hal ini juga dapat meningkatkan resiko bahaya
pada saat penyimpanan.
4. Nilai Kalor (Heating Value)
Nilai kalor bahan bakar menentukan jumlah konsumsi bahan bakar
tiap satuan waktu. Makin tinggi nilai kalor bahan bakar
menunjukkan bahan bakar tersebut semakin sedikit pemakaiannya.
5. Kadar Air
Kadar air adalah salah satu parameter terpenting dalam penentuan
kualitas bahan bakar, karena bila kadar air terlalu besar, didalam
bahan bakar beberapa kendala akan muncul, seperti :
- Nilai Kalor ( Heating Value) akan turun
- Tumbuhnya mikroorganisme
- Terbentuknya deposit dari unsure – unsure anorganic yang
terdapat di air.
L aporan Penelit ian 8
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
6. Viscositas
Viscositas adalah suatu angka yang menyatakan besarnya
perlawanan atau hambatan dari suatu bahan cair untuk mengalir
atau ukuran besarnya tahanan geser dari bahan cair. (Miyas
Ningrum : 2007 )
Tabel 1. Sifat Fisika Biodiesel
Specific gravity 0.87 – 0.89
Kinematic viscosity @ 40 ºC 3.7 – 5.8
Higher heating value (Btu/lb) 16.928 – 17.996
Cetane number 46 – 70
Sulfur, wt% 0.0 – 0.0024
Could Point (ºC) -11 – 16
Pour point(ºC) -15 – 13
Iodine number 60 – 135
Lower heating value (Btu/lb) 15.700 – 16.735
( www.biodiesel.org.2005)
Keuntungan penggunaan biodiesel:
- Ramah lingkungan
- Bahan baku yang terbaharui
- Pembakaran sempurna (bebas sulfur dan rendah jumlah bilangan asap)
- Mengurangi efek rumah kacaMemiliki efek pelumasan terhadap mesin
Sejak tahun 2008 penelitian tentang minyak ikan sebagai bahan
bakar alternative telah dilakukan oleh Bagus Rahmanto dengan
menggunakan proses Batch. Peralatan yang digunakan pun masih
sederhana karena masih dilakukan dalam skala laboratorium yaitu
dengan menggunakan labu leher tiga yang digabung dengan kondensor
dan pengaduk yang digerakkan oleh sebuah motor listrik, suhunya
dipantau dengan menggunakan thermometer. Crude Fish Oil diproses
pada suhu 90oC dengan waktu Proses 60 menit yang akan mengalami
proses Esterifikasi yang akan menghasilkan ester.
Hasil yang didapat biofuel dari minyak ikan ini memiliki specific
grafity yang sesuai dengan spesifikasi minyak diesel yaitu 0,886 –
0,9067 dan pour point yang sangat rendah yaitu 28,4 oF – 44,6 oF.
(Bagus Rahmanto, 2008 )
2.1.2 Minyak Ikan
Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang banyak
mengandung berbagai macam zat nutrisi. Sebagai salah satu sumber
hewani, ikan mengandung asam lemak tak jenuh (omega3,
Eicosapentaenoic acid / EPA, Docosahexanoic acid / DHA), yodium,
selenium, fluorida, zat besi, magnesium, zink, taurin, dan co-enzym
L aporan Penelit ian 10
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
Minyak ikan memiliki karakteristik sebagai berikut :
- Minyak ikan yang diperoduksi oleh Unisea (Alaska) mempunyai
densitas sekitar 7,7 lb/gallon dan dibandingkan dengan bahan
bakar diesel no-2 yang mempunyai densitas sekitar 7,1 lb/gallon.
Perbandingan minyak ikan dengan bahan bakar diesel no-2
tersebut menunjukkan bahwa minyak ikan memiliki densitas yang
lebih tinggi, sedikit bersifat asam, daya pelumasan yang lebih
rendah dan memiliki flash point yang lebih tinggi. Minyak ikan
dilaporkan memiliki kandungan sulfur 0,004% dari beratnya dan
panas pembakaran sekitar 131.756 Btu/gallon dan dibandingkan
dengan bahan bakar diesel no-2 yang memiliki kandungan sulfur
sekitar 137.000 Btu/gallon.
- Analisa dari sampel minyak ikan dari Unisea pada juli 2002
menunjukkan bahwa kandungan sulfur sekitar 0,0084% dari
beratnya.
- Panas pembakaran sekitar 130.440 Btu/gallon.
2.1.3 Metanol
Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol
atau spiritus, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia
merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan
atmosfer" ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak
berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas
pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif
bagi etanol industri. Reaksi kimia metanol yang terbakar di udara dan
membentuk karbon dioksida dan air adalah sebagai berikut:
2CH3OH + 3 O2 → 2 CO2 + 4 H2O
Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu,
kita harus berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk
mencegah cedera akibat api yang tak terlihat. Karena sifatnya yang
beracun, metanol sering digunakan sebagai bahan additif bagi
pembuatan alcohol. Untuk penggunaan industry penambahan "racun"
ini akan menghindarkan industri dari pajak yang dapat dikenakan
karena etanol merupakan bahan utama untuk minuman keras
(minuman beralkohol). ( http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol, 2009)
2.1.4 NaOH
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda
kaustik, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida
membentuk larutan alkali yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia
digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan
sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air
minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang
L aporan Penelit ian 12
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia
dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia
bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari
udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas
ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun
kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan
KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya.
Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain
dan kertas. ( Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/NatriumHidroksida,
2009)
2.1.5 Asam Phospat
Asam phospat digunakan dalam proses pemisahan gum yang
terdiri dari dai fosfatida, protein, residu, karbohidrat, air dan resin
tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak. Asam
phospat ditambahkan kedalam minyak, lalu dipanaskan sehingga akan
membentuk senyawa fosfolipid yang lebih mudah terpisah dari
minyak. Kemudian, disusul dengan proses pemusingan. (Hambali
Erliza, dkk. 2007)
Sifat – sifat asam phospat :
1. Tidak berwana atau jernih
2. Berbentuk kristal
3. Berat molekul : 98
5. Melting Point : 42,35 °C
6. Boiling Point : 213 °C
7. Larut dalam air dan alkohol
2.2 Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi
Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak bebas menjadi
ester dengan mereaksikan lemak dengan alkohol. Katalis-katalis yang cocok
adalah zat berkarakter asam kuat seperti asam sulfat, asam sulfonat organik
atau resin penukar kation. (Soerawidjaja, 2006).
Esterifikasi biasa dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak
berkadar asam lemak bebas tinggi (berangka-asam ≥ 5 mg-KOH/g). Pada
tahap ini, asam lemak bebas akan dikonversikan menjadi metil ester. Reaksi
esterifikasi berlangsung lambat dan dapat balik (reversibel). Persamaan
reaksinya adalah sebagai berikut:
Tahap esterifikasi biasa diikuti dengan tahap transesterfikasi.
Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap konversi
dari trigliserida (minyak nabati) menjadi alkyl ester, melalui reaksi dengan Asam
karboksilat
L aporan Penelit ian 14
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
alkohol, dan menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Di antara
alkohol-alkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber/pemasok gugus alkil,
metanol adalah yang paling umum digunakan, karena harganya murah dan
reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi disebut metanolisis). Jadi, di
sebagian besar dunia ini, biodiesel praktis identik dengan ester metil
asam-asam lemak (Fatty Acids Metil Ester, FAME)
Reaksi Transesterifikasi :
Reaksi diatas dapat menggunakan katalis basa dan enzim untuk
mempercepat reaksinya. Katalisnya dengan menggunakan NaOH, sodium
methoksida, KOH, Kalium hamida dan Kalium hibrida.
Selain bahan – bahan diatas juga dapat digunakan campuran antara
NaOH dengan NaOCH3 yang digunakan sebagai katalis. Konversi ester yang
terjadi pada rasio 6 : 1 untuk 1% NaOH dan 0,5% NaOCH3 hampir sama
Trigliserida Metanol gliserol Methyl Ester
dengan 60 menit/ 1 jam (Freedman dkk, 1984), sehingga apabila digunakan
NaOH dan NaOCH3 sebagai katalis, maka reaksinya dapat ditulis sebagai
berikut :
Reaksi diatas melibatkan peruraian atau pemisahan (cleavage) oleh alkohol
sehingga dibutuhkan alkohol yang mempunyai kereaktifan besar. (Darmawan
I., 2004).
Alkohol yang digunakan dalam reaksi alkoholis pada umumnya adalah
methanol atau ethanol. Pada umumnya atom C lebih sedikit mempunyai
kereaktifan yang lebih tinggi daripada alkohol dengan atom C yang lebih
banyak. Untuk meningkatkan hasil reaksi perlu diperhatikan beberapa faktor
yang mempengaruhi reaksi alkoholis, yaitu :
1. Suhu
Semakin tinggi suhu, maka kereaktifan zat pereaksi akan meningkat dan
memperbesar tumbukan antar molekul. Reaksi yang terjadi bagus sehingga
Trigliserida Metanol gliserol Methyl Ester
L aporan Penelit ian 16
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
konversi lebih besar. Pemilihan suhu reaksi dibatasi oleh kestabilan zat
pereaksi dan hasil.
2. Katalisator
Fungsi katalisator adalah mengaktifkan zat pereaksi, sehingga pada suhu
tertentu konstanta kecepatan reaksi bertambah besar. Untuk mempercepat
reaksi katalisator yang biasa digunakan adalah katalisator asam (misalnya
asam khlorida dan asam sulfat) atau katalisator basa (misalnya natrium
hidroksidadan kalium hidroksida). Katalis digunakan untuk
menyempunakan reaksi dalam waktu yang singkat yaitu 30 menit pada
suhu rendah 50 ºC. Katalis yang digunakan kira – kira 0,1 %. Jika
konsentrasi katalis tinggi maka akan kehilangan minyak secara berlebih
sebagai pembentuk sabun dan methyl ester.
3. Waktu Reaksi
Semakin lama reaksi, konversi semakin besar sampai diperoleh
kesetimbangan. Apabila reaksi telah mencapai kesetimbangan
penambahan waktu tidak menguntungkan karena konversi tidak berubah.
4. Konsentrasi Zat Pereaksi
Konsentrasi reaksi sebanding dengan konsentrasi zat pereaksi. Semakin
5. Kecepatan Pengadukan
Tumbukan yang terjadi antara zat pereaksi akan semakin banyak jika
kecepatan pengadukan semakin besar, sehingga kecepatan reaksi akan
bertambah besar.
6. Perbandingan Pereaksi
Reaksi alkoholis dilakukan dengan menggunakan alcohol berlebih.
Alkohol dapat ditambahkan dengan kelebihan 65 % dari kebutuhan
stoikiometrisnya atau dengan perbandingan molar alcohol yang diperlukan
: minyak ( 5:1). (Miyas Ningrum, 2007 )
2.3Landasan Teori
Kinetika reaksi adalah cabang dari ilmu kimia yang mempelajari
mekanisme reaksi,yaitu bagaimana reaksi itu terjadi dan kecepatan terjadinya
reaksi. Untuk menentukan kecepatan reaksi kimia dikembangkan suatu
persamaan reaksi kimia yang menguji bahwa reaksi itu mengikuti tingkat
atau orde keberapa, maka diperoleh beberapa hal sebagai berikut :
(Levenspiel, 1999):
1. Molekularitas dan Orde Reaksi
Pada suatu reaksi elementer, molekularitasnya adalah merupakan
jumlah molekul yang terlibat dalam reaksi itu dan harganya adalah satu,
dua, terkadang tiga akan tetapi tidak boleh dalam bentuk pecahan.
L aporan Penelit ian 18
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
Sering dijumpai suatu kenaikan kecepatan reaksi yang melibatkan
zat – zatnya dan dapat diperkirakan dengan suatu persamaan :
-rA = k. CAa.CBb.CCc ………...(1)
a+b+c = n ………...(2)
(levenspiel, 1999)
a, b dan c tidak menyatakan koefisien stoikiometri tetapi orde reaksi dari
zat tersebut. Orde reaksi total adalah n. Orde reaksi berhubungan dengan
kecepatan reaksi secara empiris.
2. Reaksi Elementer
Dalam menyatakan suatu kecepatan reaksi digunakan ukuran yang
3. Konstanta Kecepatan Reaksi
Berdasarkan persamaan Archenius, jika suhu dinaikkan, maka konstanta
kecepatan reaksi (K) semakin besar, sehingga reaksi berjalan cepat.
k = k0 e–E/RT
dimana,
k = tetapan kecepatan reaksi
k0 = faktor frekuensi
E = tenaga aktifasi
R = tetapan gas (8,314 J/mol.K, 1,982 kal/mol.K atau 0,206.10-5
m3.atm/mol.K)
T = suhu (K)
2.3.1 Factor yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi
1. Waktu
Semakin lama waktu reaksi maka reaksi belangsung maka reaksi akan
semakin sempurna karena waktu kontak antar partikel - partikel tersebut
lebih lama. Tetapi perlu diperhatikan bahwa waktu reaksi yang berlebih
dapat menyebabkan reaksi yang berlanjut kereaksi yang tidak
diinginkan, sehingga perlu dicari waktu reaksi optimum.
2. Suhu
Pada umumnya kecepatan reaksi akan meningkat sebanding dengan
L aporan Penelit ian 20
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
optimum reaksi agar material tidak mengalami kerusakan atau terbentuk
produk lain yang tidak diinginkan.
3. Pengadukan
Pengadukan akan membantu mempercepat terjadinya reaksi. Karena
dengan pengadukan akan memperbesar frekuensi tumbukan dan harga
konstanta kecepatan reaksi akan semakin besar pula.
4. Perbandingan zat pereaksi
Kelebihan salah satu pereaksi akan menyebabkan kesetimbangan
bergeser ke kanan tetapi pemakaian zat pereaksi yang berlebihan dibatasi
oleh kemungkinan adanya reaksi samping dan dari kinetiknya.
5. Energi aktifasi
Energi pengaktif adalah energi yang diperlukan untuk mengaktifkan
2.3.2 Menentukan Orde Reaksi
Reaksi yang digukan adalah :
Reaksi Transesterifikasi :
Ada beberapa tahapan yang dapat dilaksanakan dalam penentuan orde dan
konstanta kecepatan reaksi (levenspiel, 1972), antara lain yaitu :
- Metode Analisis integral
Adalah suatu cara untuk memperkirakan persamaan reaksi dengan
mengunakan integral dan membandingkan perkiraan grafik dengan data
yang diperoleh dari percobaan.
Trigliserida Metanol gliserol Methyl Ester
L aporan Penelit ian 22
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
Jika CB sangat besar, maka CB dianggap konstan
dimana,
CA = CA0 (1 - XA)
...(11)
Maka didapatkan persamaan
-ln (1 – XA) = k’ t... (12)
Plot antara –ln (1 – XA) atau dengan t dari persaman (11) dan
persamaan (12).
Gambar 2.1. Reaksi Orde 1
Pada reaksi A + B C + D dapat menganggap bahwa
salah satu pereaksi terdapat dalam jumlah yang sangat besar, misalkan
CB jauh lebih besar dari pada CA, apabila reaktan A dan B bereaksi,
maka sesudah reaksi reaktan B berkurangnya sangat kecil dibandingkan
L aporan Penelit ian 24
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
mendekati persamaan reaksi orde satu atau disebut juga reaksi orde satu
semu.
Karena pada setiap saat t, jumlah A yang bereaksi harus sama dengan
jumlah B yang direaksikan, maka :
dimana, CB0/CA0 = M
Persamaan diintegralkan
menjadi,
... (14)
Plot antara , atau dengan t dari persamaan
(14).
Gambar 2.2 Reaksi Orde 2
Untuk persamaan laju reaksi tingkat 2, sebagai pembanding laju reaksi
tingkat 1 tersebut apabila grafik 1/(CA – CA0) vs t merupakan garis lurus
maka reaksinya orde 2. ( Levenspil, 1999 ).
Berdasarkan hokum Archenius ( k – k0.e-E/RT ) yan g diubah bentuk ln
L aporan Penelit ian 26
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
Ln k = ln k0 – E/RT
Kemudian plotkan dalam grafik antara ln k dengan 1/T. dari grafik
diperoleh slope –E/R dan intersep ln k0 sehingga besarnya energi
aktivasi ( E ) dan faktor frekuensi ( k0 ) dapat dihitung.
3. Orde n
Jika mekanisme suatu reaksi tidak diketahui, kita seringkali mencoba
menghitung data dengan persamaan untuk orde n.
... (15)
... (16)
Orde n tidak dapat ditemukan seexplicit dari persamaan 29, jadi dilakukan
trial – and – error untuk mendapatkannya. Cukup pilih nilai untuk n dan
menghitung k. nilai n yang dapat meminimalkan variasi k adalah nilai
yang diinginkan.
Laju adalah bahwa reaksi dengan n > 1 tidak dapat diselesaikan dalam
waktu terbatas. Di lain ha, untuk n < 1 laju dapat dianggap bahwa
konsentrasi reaktan adalah nol dan akan menjadi negative pada beberapa
waktu terbatas.
Karena konsentrasi nyata tidak bias turun dibawah nol kita tidak harus
2.4 Hipotesis
Proses pembentukan biodiesel dari minyak ikan ini dapat dilakukan
dengan reaksi esterifikasi dan transesterifikasi, yaitu reaksi asam lemak
bebas dengan alkohol membentuk methyl ester dan air yang dipengaruhi
oleh konsentrasi , alkohol, suhu, waktu reaksi di dalam reaktor tangki
berpengaduk. Reaksi ini memungkinkan terjadi reaksi orde 1, namun juga
dilakukan penghitungan untuk orde 2 dan orde n untuk menentukan
L aporan Penelit ian 28
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Bahan yang Digunakan
Penelitian ini menggunakan bahan baku minyak ikan off grade berasal
dari PT. Rekayasa Energi Alternatif Mandiri. Metanol teknis dibeli dari Tidar
Kimia Surabaya.NaOH anhidrous, Asam phospat. Sebelum digunakan minyak
ikan off grade dicuplik untuk analisis kadar air, zat pengotor, FFA, kekentalan
dan densitynya.
3.2 Alat yang Digunakan
Peralatan yang digunakan terdiri atas :
1. Reactor Gumming
Sebagai tempat proses penghilangan gum dengan spesifikasi reactor
tangki berpengaduk dengan kapasitas 4000cc, diameter 15 cm, tinggi
60cm dari bahan baja tahan karat (SS-304) dilengkapi pemanas listrik
menggunakan daya 1000 watt.
2. Reactor Transesterifikasi
Sebagai tempat proses mereaksi trigliserida menjadi biodiesel,
spesifikasi reactor tangki dengan kapasitas 4000cc, diameter 15 cm,
tinggi 60cm dari bahan baja tahan karat (SS-304) dan dilengkapi
3. Unit pemurnian produk bio diesel, yang terdiri dari :
a. Tangki pencuci yang dilengkapi pemanas dan distributor udara.
Terbuat dari stainless steel kapasitas 5L.
b. Pengering produk biodiesel ber bentuk tangki dilengkapi pemanas
dan pompa vakum dan kondensor.
3.3 Peubah
Variable yang ditetapkan :
a. Kecepatan Pengadukan : 150 rpm
b. Volume Minyak : 2000 ml
c. Dosis katalis (NaOH) : 5% per 1 liter metanol
Variable yang dipelajari :
a. Waktu proses (menit) : 30,45, 60, 90, 105.
b. Suhu reaksi(oC) : 40, 45, 50, 55, 60.
c. Volume methoxid (dari berat minyak) : 7%, 10%, 13%, 16 %,19%.
L aporan Penelit ian 30
-K inet ika Reaksi dan Opt imasi
Pembent ukan Biodiesel dari Crude Fish Oil
U niversit as Pembangunan N asional “Vet eran” JATI M
Penentuan kadar FFA bahan
Penentuan kadar Air
Degumming
Transesterifikasi
Pemurnian Biodiesel