Persepsi Pemustaka Terhadap Kinerja OPAC : Studi Kasus di
Perpustakaan Universitas Indonesia
Yanni Karina1, Yohanes Sumaryanto2
1,2 Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
[email protected], [email protected]
Abstrak
Dibutuhkan tindakan yang tepat agar pemustaka mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka di tengah banyaknya koleksi perpustakaan yang ada. Penelusuran menggunakan OPAC merupakan metode yang memiliki banyak kelebihan dalam penelusuran informasi dan direkomendasikan oleh pustakawan, namun masih banyak kesulitan yang dialami pemustaka dalam menggunakannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seperti apa OPAC bila dilihat dari sisi pemustaka, penilaian kinerja dan apa saja kesulitan yang dihadapi pemustaka dalam pemakaiannya, agar OPAC dapat dikembangkan menjadi lebih mudah dipakai untuk end user. Kuesioner disebarkan ke 150 mahasiswa D3, S1 dan S2 Universitas Indonesia angkatan 2010 – 2013 dengan 120 hasil yang diperhitungkan. Pemustaka ternyata memiliki persepsi bahwa OPAC adalah alat penelusuran yang berfungi mempercepat penelusuran dibandingkan dengan menggunakan metode lain, dan karena itu menuntut agar OPAC menyediakan fitur yang sesuai untuk mempercepat penelusuran. Hasil penelitian menyarankan agar koneksi internet di perpustakaan UI ditingkatkan kekuatannya, pembaharuan dan penyederhanaan interface
OPAC, adanya pelatihan penggunaan OPAC selain pada orientasi perpustakaan, adanya pustakawan di daerah komputer OPAC, dan sinkronisasi data koleksi yang ada dengan jajaran koleksi
User Perception of OPAC Performance : A Case Study in Universitas Indonesia Library Abstract
A good strategy is needed for library users to get the information that suit their information need among tons of information available in the library. Searching through the OPAC is the method recommended by librarians because it have many advantages in retrieving information, but users still have many problems while using OPAC. This study is done to understand how is OPAC perceived from the perspective of the user, how they rate it’s performance and what are user difficulties in using OPAC, so that OPAC can be developed to be easier to use by the users. Questionaire are distributed among the library users and are given to 150 students of vocational studies, bachelor degree, and masteral degree of Universitas Indonesia from the 2010-2013 batch, with 120 questionaires collected and proccesed. The user perceive the OPAC as an helpful tools to fasten the process of searching the information they need compared to other methods, and therefore demand for the suitable feature to fasten search result in OPAC. The result suggest that the library strenghten the internet connection inside the library, redesigning and simplifying of OPAC interface, conduct OPAC guidance class other than library orientation, providing librarians around OPAC, and synchronizing OPAC’s collection data with the collection in shelves.
Keywords:OPAC; perception; end user.
Pendahuluan
Pemustaka masuk ke perpustakaan dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan informasinya di perpustakaan. Dengan koleksi yang banyak dan pilihan yang luas, perpustakaan memiliki potensi sangat besar untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Namun, dibutuhkan
tindakan yang tepat agar mereka mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka di tengah banyaknya koleksi yang ada. Secara umum, ada dua kemungkinan tindakan yang dapat diambil oleh pemustaka ketika melakukan penelusuran informasi, yaitu langsung ke rak untuk melihat susunan koleksi, atau menelusur lewat katalog dan kemudian menuju tempat yang diarahkan oleh hasil penelusurannya di katalog. Pemustaka akan memilih cara yang lebih nyaman mereka lakukan dan mana yang menurut mereka lebih memiliki kemungkinan sukses.
Pada dasarnya, penelusuran melalui katalog adalah metode yang lebih direkomendasikan oleh pustakawan dalam penelusuran informasi. Katalog dapat membantu pemustaka menemukan informasi yang dicarinya dan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka sendiri dengan menunjukan tidak hanya sumber yang berkaitan langsung dengan penelusuran mereka, namun juga sumber – sumber yang ada hubungannya dengan penelusuran tersebut, dan mendaftar koleksi apa saja yang dapat digunakan. Katalog yang biasa kita temukan di perpustakaan sekarang, WebOPAC (Online Public Access Catalog), merupakan katalog yang ada di dalam komputer dan dapat diakses secara online, sehingga bisa dipakai oleh banyak pemustaka secara sekaligus, dan memiliki banyak fitur tambahan. Akses yang lebih luas dan terkontrol,variasi fitur penelusuran, pengantaran lewat e-mail, peminjaman dari perpustakan lain, current awareness service, informasi sirkulasi dan lainnya menjadi fitur standar yang ada pada OPAC setelah tahun 1980 (Sridhar, 2002). Fitur WebOPAC masih terus meluas dan bertambah hingga sekarang, diantaranya kemampuan hypertext dan link untuk menyambungkan antarakoleksi atau sumber, dan pergerakan ke arah fitur penelusuran yang mirip dengan search engine (Husain& Ansari,2006).
Dengan seluruh kelebihan, perkembangan, dan penyempurnaannya tersebut, WebOPAC memiliki banyak kelebihan dibanding pilihan lain untuk menelusur koleksi dan menemukan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Namun, menurut beberapa penelitian, masih banyak kesulitan yang dihadapi oleh pemustaka dalam pemakaian WebOPAC (Mi & Weng, 2013; Kumar & Vohra, 2010) sehingga sebagian memilih metode lain dalam penelusuran informasi (Fabunmi & Asobiojo, 2013). Menurut penelitian yang disebutkan, bahkan pemustaka yang cukup sering menggunakan OPAC masih memiliki keluhan terhadap OPAC. Hal tersebut juga terlihat pada perpustakaan Universitas Indonesia dimana banyak pemustaka masih lebih menyukai untuk langsung melihat jajaran rak daripada menggunakan OPAC. Padahal PC(personal computer) untuk mengakses OPAC tersedia, dan perpustakaan
menyediakan akses internet untuk mengakses WebOPAC melalui perangkat elektronik mereka sendiri. Penelitian terakhir tentang OPAC di Universitas Indonesia dilakukan tahun 2004. Pada saat itu, perpustakaan pusat Universitas Indonesia belum menggunakan sistem WebOPAC dan koleksinya belum dipusatkan. Karena itulah perpustakaan Universitas Indonesia diputuskan untuk menjadi tempat penelitian. Dalam penelitian ini, selain untuk mengetahui pendapat, permasalahan dan sejauh apa permustaka memanfaatkan OPAC, penulis juga ingin menyampaikan tindakan apa yang diambil oleh pustakawan dalam menghadapi hambatan yang dialami pemustaka dalam penggunaan WebOPAC.
Tinjauan Teoritis
Bagian ini berisi hasil bacaan penulis dalam rangka menemukan konsep – konsep dan sejauh mana penelitian yang senada pernah dilakukan.
Fuzzy C-Means (FCM)
Di dalam perpustakaan, pemustaka akan melakukan tindakan – tindakan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasinya, perilaku tersebut, menurut Wilson, disebut perilaku penemuan informasi (Pendit, 2003). Pada dasarnya, ada dua pola perilaku penemuan informasi yang mungkin dilakukan oleh pemustaka ketika melakukan penelusuran informasi di perpustakaan, yaitu mereka dapat mengarah langsung ke susunan koleksi atau melalui sistem temu kembali informasi seperti katalog terlebih dahulu. Pustakawan mengharapkan pemustaka mengambil tindakan yang kedua, karena OPAC memiliki banyak kelebihan. Beberapa diantaranya adalah bisa diakses kapan saja di seluruh dunia, status buku seperti dipinjam/tidak, hilang, dipindahkan, rusak dan sebagainya dapat diketahui, memungkinkan pemustaka memesan edisi cetakan terbaru melalui e-mail, dapat mengompilasi beberapa daftar cetakan ulang dengan mudah, tidak ada batasan waktu dan tempat untuk menelusur dokumen manapun. Pemustaka dapat menelusur dokumen tidak hanya di perpustakaan mereka tapi juga perpustakaan jaringan. Namun belakangan ini banyak pemustaka yang tidak memakai sistem temu kembali informasi perpustakaan.
Salah satu tantangan yang dihadapi para pustakawan di era digital adalah munculnya perubahan perilaku pemustaka yang makin familiar dengan teknologi informasi dan cenderung menginginkan layanan perpustakaan yang serba cepat yang mirip dengan search engine. Perilaku penelusuran informasi di perpustakaan perguruan tinggi adalah yang paling berubah drastis dalam tahun – tahun belakangan ini. Menurut survei yang diadakan dan
dipublikasikan oleh OCLC tahun 2005, kurang lebih 89% dari mahasiswa dari lokasi survei mereka memulai penelusuran informasi elektronik mereka dari search engine internet. Dalam penelitian lain, OCLC juga mengidentifikasi tiga tren terbaru yang digemari pencari informasi dewasa ini, yaitu self-service atau self-sufficiency, kepuasan dan kebebasan pemakaian. Tren ini merupakan ciri – ciri dari search engine, tercipta karena semakin terbiasanya orang – orang dalam memanfaatkan teknologi tersebut dalam kegiatan sehari – hari. Mereka tidak harus mengingat aturan atau pelatihan untuk memakai search engine, ataupun mengingat aturan – aturan penelusuran katalog yang jarang terpakai (Mi &Weng, 2007). Mahasiswa yang baru saja memasuki perguruan tinggi kebanyakan belum pernah memakai sistem katalog serumit OPAC perpustakaan perguruan tinggi, dan karena itu bila tidak diajarkan atau dibantu akan menambah rasa malas dalam mempelajari OPAC (Brophy, 2005).
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif analitis dengan rancangan cross sectional study. Dengan survei peneliti dapat mengungkapkan masalah yang banyak dan bermanfaat bila peneliti menginginkan informasi yang banyak dan beraneka ragam (Sawarno, 2006). Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan jumlah sampel sebanyak 150 pemustaka yang terdiri dari mahasiswa D3, S1 dan S2 tahun angkatan 2012 sampai 2010. Hal ini dikarenakan jumlah populasi yang tidak jelas dan karakteristik mahasiswa yang dianggap homogen dalam melakukan penelusuran informasi. Jumlah ini dipilih karena jumlah pengunjung perpustakaan pusat UI secara konsisten mencapai lebih dari 3000/bulan (yang tercatat, data Januari – Mei 2014) dan sudah melebihi jumlah minimal sebanyak 30 (Soehartono, 1995). Kuesioner di tes kepada 40 pemustaka perpustakaan UI terlabih dahulu, kemudian dites realibitas dan validitas menggunakan SPSS ver 20. Teknik pengambilan data primer, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya atau 150 pengguna perpustakaan pusat UI dengan menyebarkan kuesioner mengenai OPAC di perpustakaan pusat UI. Kuesioner disebar pada 3 hari terpisah, yaitu tanggal 12 – 14 Mei 2014. Pertanyaan – pertanyaan yang ada di dalam survei kuesioner terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka. Kuesioner yang disebarkan sebanyak 4 (empat) lembar dengan menggunakan skala Likert dan pertanyaan “Ya-tidak” serta tambahan komentar bagi yang ingin menambahkan. Data kemudian dikumpulkan dan diolah secara manual menggunakan Microsoft Excel, dicari persentase dan Value nya. Value adalah kecenderungan pemustaka
dalam satu pernyataan, seperti berikut : 1-1,8 sangat tidak setuju; 1,8-2,6 tidak setuju; 2,6-3,4 setuju; 3,4-4,2 sangat setuju; 4,2 -5 sangat setuju sekali.
Hasil Penelitian
Dari 150 kuesioner yang dibagikan, ada 135 kuesioner (90%) yang kembali namun 4 kuesioner tidak valid (tidak diisi lengkap), sehingga ada 131 kuesioner yang dapat diperhitungkan. Dari 131 kuesioner, ada 11 responden (9%) yang menyatakan tidak tahu menahu tentang OPAC dan 26 responden (19%) menyatakan tidak pernah menggunakan OPAC untuk menelusur, sehingga secara total ada 120 hasil kuesioner yang akan dijabarkan di bab ini.
Pemahaman pemustaka terhadap OPAC
Pada subbab ini, penulis mencoba menganalisis kesadaran yang ditunjukan pemustaka mengenai OPAC; bagaimana pendapat dan pemahaman mereka tentang OPAC itu sendiri. Yang menarik dari penelitian ini adalah, dalam proses pengisian kuesioner, pada awalnya hampir semua responden menanyakan “Apa itu OPAC?”. Setelah dijelaskan bahwa OPAC adalah katalog online atau membaca pernyataan nomor 1, masih ada 11 responden (9%) yang masih menyatakan tidak mengetahui tentang OPAC. Bahkan salah satu dari mereka menulis, “Sebelum mengisi kuesioner ini saya tidak tahu apa itu OPAC, sekarang saya tahu.”
Dari responden yang mengetahui tentang OPAC, mayoritas sudah memahami pengertian dasar dari OPAC. Ketika diberikan pernyataan “OPAC adalah katalog yang dapat diakses secara online”, respon yang diterima adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Pengertian OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 1 0.8%
Tidak setuju 2 1.7%
Setuju 63 52.5%
Sangat setuju 28 23.3%
Sangat setuju sekali 26 21.7%
Total 120 100.0%
Value 3,63
Dari tabel 1 di atas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan pemustaka sudah memahami pengertian dasar dari OPAC yaitu katalog yang dapat diakses secara online, baik
menggunakan intranet maupun internet, dilihat dari value-nya, 3,63 yang menyatakan bahwa respon pemustaka termasuk sangat setuju dengan pernyataan tersebut.
Tabel 2. Pentingnya OPAC sebagai sarana penelusuran di perpustakaan
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 1 0.8%
Tidak setuju 8 6.7%
Setuju 40 33.3%
Sangat setuju 40 33.3%
Sangat setuju sekali 31 25.8%
Total 120 100.0%
Value 3,76
Mengenai pentingnya OPAC sebagai sarana penelusuran di perpustakaan, hasil yang diterima dapat dilihat pada Tabel 2 dengan value yang cukup tinggi (3,76) menunjukkan bahwa pemustaka sangat setuju bahwa OPAC adalah sarana penelusuran yang penting dan diperlukan di perpustakaan. Ada 1 orang yang menganggap OPAC bukan sebagai sarana penelusuran. Orang yang demikian tentunya menggunakan salah 1 cara dari 2 cara sebagai berikut, yakni langsung menelusur ke jajaran atau bertanya kepada pustakawan.
Fungsi OPAC
OPAC memiliki banyak fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka, namun tidak banyak yang memanfaatkan semuanya dan tidak semua fungsinya dimanfaatkan. Tabel 3 menunjukkan value 3,25 yang menunjukkan bahwa responden setuju bahwa OPAC membantu dalam penelusuran informasi. Masih ada sedikit (>20%) responden yang mengatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap fungsi OPAC dalam membantu penelusuran informasi.
Tabel 3. Fungsi OPAC: penelusuran informasi
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 2 1.7%
Tidak setuju 11 9.2%
Setuju 72 60.0%
Sangat setuju 25 20.8%
Sangat setuju sekali 10 8.3%
Total 120 100.0%
Dibandingkan dengan fungsi penelusuran informasi, banyak respon negatif yang diterima oleh pernyataan “Saya dapat memilih sumber yang paling tepat dari daftar hasil penelusuran OPAC” atau fungsi kolokasi OPAC. Walaupun memiliki value sebesar 2,75, yang menunjukkan bahwa responden cenderung untuk setuju dengan fungsi kolokasi yang dimiliki OPAC, namun dapat dilihat pada tabel 4 bahwa lebih dari 30% responden menjawab tidak setuju bahwa OPAC memiliki fungsi kolokasi. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi penelusuran informasi OPAC lebih sering dan efektif digunakan.
Tabel 4. Fungsi OPAC : kolokasi
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 5 4.2%
Tidak setuju 37 30.8%
Setuju 63 52.5%
Sangat setuju 13 10.8%
Sangat setuju sekali 2 1.7%
Total 120 100.0%
Value 2,75
Interaksi dengan OPAC
Bagian ini memaparkan interaksi antara pemustaka dengan OPAC, sampai dimana tingkat pemanfaatan OPAC dan preferensi dalam pemakaian fitur – fitur yang tersedia. Yang pertama dibahas adalah frekuensi penggunaan OPAC. Seperti yang terlihat pada tabel 4.4.1, ketika dihadapkan pada pernyataan “Frekuensi penggunaan OPAC saya tinggi (sering)”, respon yang diterima dapat dilihat pada tabel 5. dapat dikatakan frekuensi pemakaian OPAC di perpustakaan UI cukup tinggi, melihat value sebesar 3,25, yang cenderung setuju bahwa frekuensi pemakaian OPAC mereka tinggi.
Tabel 5. Frekuensi penggunaan OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 3 2.5%
Tidak setuju 29 24.2%
Setuju 45 37.5%
Sangat setuju 24 20.0%
Sangat setuju sekali 19 15.8%
Total 120 100.0%
Tabel 6 memaparkan jawaban responden ketika diberikan pernyataan “Saya lebih sering menggunakan OPAC dibanding bertanya pada pustakawan”. Dari value 3,616 menunjukkan bahwa pemustaka cenderung sangat setuju bahwa merekalebih menyukai penelusuran menggunakan OPAC dibandingkan bertanya pada pustakawan.
Tabel 6. Perbandingan penggunaan OPAC dengan bertanya pada pustakawan
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 4 3.3%
Tidak setuju 15 12.5%
Setuju 37 30.8%
Sangat setuju 31 25.8%
Sangat setuju sekali 33 27.5%
Total 120 100.0%
Value 3,616
Pernyataan “Saya tidak mengalami kesulitan dalam memakai OPAC” menerima jawaban seperti yang dapat dilihat di tabel 7. Value sebesar 3,22 menunjukkan bahwa responden cenderung setuju bahwa pemakaian OPAC tidak rumit. Tidak banyak yang mengalami kesulitan dalam menggunakan OPAC, kalaupun ada (20%) kesulitannya tidak besar.
Tabel 7. Tingkat kesulitan dalam pemakaian OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 0 0.0%
Tidak setuju 24 20.0%
Setuju 56 46.7%
Sangat setuju 30 25.0%
Sangat setuju sekali 10 8.3%
Total 120 100.0%
Value 3,22
Tabel 8 memaparkan jawaban yang diberikan responden ketika diberikan pernyataan “Dalam memakai OPAC, saya lebih suka advanced search dibandingkan simple search”. Ada yang jauh lebih menyukai penggunaan simple search (5% sangat tidak setuju), dan masih banyak pula yang tidak merasa nyaman menggunakan advanced search (32,5%). Dari value yamg mendekati batas antara setuju dan tidak (2,775) juga terlihat bahwa pemustaka cenderung tidak menyukai advanced search dibandingkan dengan simple search.
Tabel 8. Preferensi pemakaian : Advanced search
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 6 5.0%
Tidak setuju 39 32.5%
Setuju 55 45.8%
Sangat setuju 16 13.3%
Sangat setuju sekali 4 3.3%
Total 120 100.0%
Value 2,775
Hal ini dapat dibandingkan dengan tabel 9, yang memaparkan respon dari pernyataan “Dalam memakai OPAC, saya lebih suka memakai titik akses tertentu (pengarang, judul, subjek, penerbit, dll.) dibandingkan simple search”. Bila dibandingkan, lebih banyak respon positif yang diterima untuk penggunaan titik akses tertentu dibandingkan dengan advanced search. Value nya, meskipun sama masuk kategori setuju, lebih tinggi (3,225) dengan perbedaan yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa ada lebih banyak yang menyukai pemakaian titik akses terterntu seperti pengarang, judul, maupun subyek daripada advanced search maupun
simple search, dan bahwa penelusuran dengan titik akses tertentu adalah yang paling disukai diantara pilihan penelusuran di OPAC.
Tabel 9. Preferensi pemakaian : titik akses tertentu
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 3 2.5%
Tidak setuju 22 18.3%
Setuju 53 44.2%
Sangat setuju 29 24.2%
Sangat setuju sekali 13 10.8%
Total 120 100.0%
Value 3,225
Dapat dilihat pada tabel 10 tentang respon terhadap pernyataan “Respon OPAC cepat. Penelusuran tidak memakan waktu yang lama”. Value sebesar 3,225 menunjukkan kecenderungan responden untuk setuju bahwa respon OPAC cepat. Dapat dikatakan bahwa mayoritas sudah puas dalam kecepatan yang ditawarkan oleh OPAC. Kebanyakan yang beranggapan bahwa OPAC lama dalam memberikan respon menyalahkan koneksi internetnya, seperti yang terlihat dalam tabel 11. Ketika dihadapkan pada pernyataan “Hyperlink OPAC selalu berfungsi dengan baik”, kembali pendapat responden terbagi,
banyak yang menyatakan hyperlink di OPAC tidak berfungsi dengan baik (37,5%). Dari value
2,60 mengindikasikan responden cenderung tidak setuju bahwa hyperlink OPAC berjalan dengan baik. Dapat dikatakan bahwa responden menganggap hyperlink yang disediakan OPAC bermasalah, tidak berjalan atau berjalan sangat lambat, yang mempengaruhi kecepatan menelusur menggunakan OPAC.
Tabel 10. Kecepatan respon OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 0 0.0%
Tidak setuju 12 10.0%
Setuju 75 62.5%
Sangat setuju 27 22.5%
Sangat setuju sekali 6 5.0%
Total 120 100.0%
Value 3,225
Ini berhubungan dengan masalah koneksi internet komputer OPAC dengan WebOPAC yang digunakan, sehingga ketika koneksi internet tidak baik, hyperlink yang disediakan juga tidak dapat berfungsi. Hal ini menunjukkan bahwa koneksi internet di perpustakaan UI tidak cukup kuat untuk menunjang kegiatan mahasiswa di perpustakaan. Hal ini juga berlaku bagi perangkat elektronik lainnya, seperti laptop dan smartphone. Membuka WebOPAC di laptop kecepatannya sama dengan di PC OPAC, menunjukkan bahwa masalah utama kecepatan WebOPAC adalah koneksi intenetnya.
Tabel 11. Koneksi internet OPAC (hyperlink)
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 6 5.0%
Tidak setuju 45 37.5%
Setuju 59 49.2%
Sangat setuju 9 7.5%
Sangat setuju sekali 1 0.8%
Total 120 100.0%
Value 2,60
Terhadap pernyataan “Menurut saya jumlah komputer OPAC yang disediakan Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa”, mayoritas responden bereaksi negatif, dengan 48,3% tidak setuju dan 10,8% sangat tidak setuju. Value
setuju bahwa jumlah komputer OPAC mencukupi. Bahkan sampai ada lebih dari 20 responden yang secara khusus menyarankan penambahan komputer OPAC atau keluhan tentang sedikitnya komputer OPAC dan antrian di kolom komentar.
Tabel 12. Kepuasan terhadap jumlah komputer OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 13 10.8%
Tidak setuju 58 48.3%
Setuju 33 27.5%
Sangat setuju 11 9.2%
Sangat setuju sekali 5 4.2%
Total 120 100.0%
Value 2,475
Pernyataan “Menurut saya komputer OPAC yang disediakan Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia berada dalam keadaan yang baik” mayoritas dijawab dengan respon setuju bahwa kondisi komputer OPAC dalam keadaan cukup baik (47,5%), seperti terlihat pada tabel 13.
Value sebesar 2,64 mengindikasikan bahwa responden cenderung setuju bahwa komputer OPAC berada dalam keadaan yang baik. Namun 29,2% masih menganggap kondisi komputer OPAC tidak baik atau sangat tidak baik (10,8%).
Tabel 13. Kondisi komputer OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 13 10.8%
Tidak setuju 35 29.2%
Setuju 57 47.5%
Sangat setuju 12 10.0%
Sangat setuju sekali 3 2.5%
Total 120 100.0%
Value 2,64
Penilaian penggunaan OPAC
Dalam kenyamanan penggunaan OPAC, dari tabel 5 dapat disimpulkan bahwa walaupun sebagian besar sudah merasakan kenyamanan penggunaan OPAC, namun masih terdapat jumlah yang cukup besar, yaitu 18,3 % yang tidak merasa nyaman dengan penggunaan OPAC dan bahkan 5% merasa sangat tidak nyaman dalam penggunaan OPAC.
Sedangkan ketika diberikan pernyataan “Menggunakan OPAC di Perpustakaan Pusat UI tidak rumit”, dengan jawaban yang dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 14. Kenyamanan penggunaan OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 6 5.0%
Tidak setuju 22 18.3%
Setuju 63 52.5%
Sangat setuju 24 20.0%
Sangat setuju sekali 5 4.2%
Total 120 100.0%
Value 3,00
Mayoritas menganggap bahwa OPAC tidak rumit untuk dipakai (50,8%). Value yang didapat (3,05) juga mengindikasikan bahwa responden cenderung setuju bahwa pemakaian OPAC. Namun masih ada sebanyak 2,5% responden merasa bahwa penggunaan OPAC di perpustakaan UI sangat rumit dan 23,3% menganggap pemakaian OPAC rumit. Yang perlu diperhatikan adalah kebanyakan responden yang mengatakan OPAC rumit untuk dipakai adalah mahasiswa tahun ke satu atau dua. Ini berarti responden yang merasa bahwa pemakaian OPAC rumit merupakan responden dengan waktu tersingkat untuk berinteraksi dan terbiasa menggunakan OPAC.
Tabel 15. Kerumitan penggunaan OPAC di Perpustakaan UI
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 3 2.5%
Tidak setuju 28 23.3%
Setuju 61 50.8%
Sangat setuju 16 13.3%
Sangat setuju sekali 12 10.0%
Total 120 100.0%
Value 3,05
Pada pernyataan “OPAC mempercepat proses penemuan informasi”, jawaban yang didapatkan dapat dilihat pada tabel 15. Value sebesar 3,45 menunjukkan bahwa responden cenderung sangat setuju bahwa OPAC membantu mempercepat penelusuran koleksi. Dalam observasi penulis, rata – rata pemustaka yang menggunakan OPAC di perpustakaan UI memakainya untuk sekitar paling cepat 10 menit per pemakaian, dari menelusur dengan
beberapa kata kunci, memilih hasilnya dari daftar, mencatatnya lalu memastikan nomor panggil masing – masing koleksi. Sehingga terkadang pemustaka harus menunggu giliran pemakaian selama 10 menit lebih karena semua komputer OPAC terpakai.
Tabel 16. Membantu tidaknya OPAC dalam mempercepat penelusuran koleksi
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 3 2.5%
Tidak setuju 11 9.2%
Setuju 55 45.8%
Sangat setuju 31 25.8%
Sangat setuju sekali 20 16.7%
Total 120 100.0%
Value 3,45
Pandangan tentang mempercepat atau tidaknya OPAC dalam proses penelusuran juga berhubungan dengan lamanya antrian, karena selama menunggu 10 menit atau lebih, pemustaka bisa menggunakannya untuk langung melihat jajaran buku di rak atau menemukan buku yang tepat bersama pustakawan. Tabel 17 menunjukkan respon ketika dihadapkan pada pernyataan “Secara keseluruhan, saya puas dalam pemakaian OPAC”. Masih ada yang sangat tidak setuju bahwa pemakaian OPAC memuaskan (0,8%) dan 19,2% tidak setuju, namun 60% menyatakan setuju bahwa mereka puas dengan pemakaian OPAC. Value yang didapatkan mengindikasikan responden cenderung setuju dengan pernyataan tersebut. Pemustaka cenderung setuju bahwa pemakaian OPAC memuaskan, tetapi tidak dalam taraf yang tinggi.
Tabel 17. Kepuasan pemakaian OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 1 0.8%
Tidak setuju 23 19.2%
Setuju 72 60.0%
Sangat setuju 21 17.5%
Sangat setuju sekali 3 2.5%
Total 120 100.0%
Value 3,016
Kendala dan bantuan terhadap kesulitan penggunaan OPAC
Bagian ini membahas tentang kendala yang dihadapi pemustaka berdasarkan kinerja OPAC yang sudah dibahas sebelumnya, reaksi dan harapan mereka terhadap hal tersebut.
Seperti yang terlihat pada tabel 18, ketika dihadapkan pada pernyataan “Saya akan meminta bantuan pustakawan bila penelusuran dengan komputer OPAC lambat”, value yang tinggi, 3,60 juga menunjukkan bahwa responden cenderung sangat setuju bahwa mereka akan meninggalkan komputer OPAC apabila menghadapi penelusuran OPAC yang lambat dan langsung meminta bantuan pustakawan tanpa mencoba untuk mengatasi atau menunggu respon dari komputer tersebut.
Tabel 18. Meminta bantuan pustakawan apabila penelusuran OPAC lambat
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 0 0.0%
Tidak setuju 17 14.2%
Setuju 42 35.0%
Sangat setuju 33 27.5%
Sangat setuju sekali 28 23.3%
Total 120 100.0%
Value 3,60
Ketika dihadapkan pada pernyataan “Saya akan meminta bantuan pustakawan bila penelusuran dengan komputer OPAC lambat”, kebanyakan responden menyatakan setuju bahwa mereka akan meninggalkan komputer OPAC bila penelusuran bermasalah dan bertanya pada pustakawan. Value yang tinggi, 3,60 juga menunjukkan bahwa responden cenderung sangat setuju bahwa mereka akan meninggalkan komputer OPAC apabila menghadapi penelusuran OPAC yang lambat dan langsung meminta bantuan pustakawan tanpa mencoba untuk mengatasi atau menunggu respon dari komputer tersebut.
Tabel 19. Keakuratan OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 18 15.0%
Tidak setuju 64 53.3%
Setuju 32 26.7%
Sangat setuju 5 4.2%
Sangat setuju sekali 1 0.8%
Total 120 100.0%
Value 2,25
Pernyataan “Koleksi yang disebutkan tersedia pada OPAC selalu berada pada tempatnya di rak yang disebutkan” ditanggapi dengan negatif. Seperti yang dapat dilihat pada tabel 19,
53,5% menyatakan tidak dapat menemukan buku yang dikatakan tersedia di OPAC. Value
2,25 mengindikasikan responden cenderung tidak setuju bahwa OPAC memiliki keakuratan yang tinggi. Banyak sekali keluhan dalam kolom komentar tentang OPAC yang tidak sinkron dengan kenyataan yang ada di rak.
Tabel 20. Efektivitas pengenalan OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 2 3.2%
Tidak setuju 15 23.8%
Setuju 23 36.5%
Sangat setuju 17 27.0%
Sangat setuju sekali 6 9.5%
Total 63 100.0%
Value 3,15
Respon yang didapat ketika responden yang mengikuti kelas orientasi dihadapkan pada pernyataan “Orientasi perpustakaan sangat membantu saya dalam pemakaian OPAC” dapat dilihat pada tabel 20. Mayoritas menyetujui bahwa orientasi perpustakaan membantu dalam penggunaan OPAC. Dilihat dari value nya, responden cenderung setuju bahwa pengenalan OPAC efektif. Karena itu, banyak yang meminta agar program orientasi dapat dilakukan di pertengahan semester dengan waktu yang lebih panjang agar lebih mendalam. Dari sini dapat terlihat bahwa petunjuk dari pustakawan sangat dihargai. Seperti juga terlihat pada tabel 21, yang merupakan respon dari pernyataan “Pustakawan selalu siap membantu apabila ada kesulitan pemakaian OPAC”. Value 3,6 menyatakan bahwa responden cenderung sangat setuju bahwa pustakawan siap membantu permasalahan yang mereka hadapi. Jadi, selain pada saat orientasi, pemustaka juga mencari dan menghargai pustakawan yang siap membantu dalam permasalahan OPAC.
Tabel 21. Perlu tidaknya bantuan pustakawan dalam penggunaan OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 0 0.0%
Tidak setuju 17 14.2%
Setuju 42 35.0%
Sangat setuju 33 27.5%
Sangat setuju sekali 28 23.3%
Tot al 120 100.0%
Tabel 22 menunjukkan respon ketika dihadapkan pada pernyataan “Saya berharap kecepatan hasil penelusuran OPAC dapat ditingkatkan”. Walaupun evaluasi terhadap kecepatan respon dan koneksi internet OPAC cukup baik, nyaris semua responden berharap kecepatan OPAC dapat ditingkatkan. Value 4,05 menunjukkan bahwa responden cenderung sangat setuju terhadap peningkatan kecepatan hasil penelusuran di OPAC.
Tabel 22. Harapan tentang meningkatnya kecepatan OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 0 0.0%
Tidak setuju 1 0.8%
Setuju 33 27.5%
Sangat setuju 44 36.7%
Sangat setuju sekali 42 35.0%
Total 120 100.0%
Value 4,05
Ketika dihadapkan pada pernyataan “Saya berharap interface OPAC lebih mirip dengan
search engine”, value yang didapat, 3,76, mengindikasikan kecenderungan responden untuk sangat setuju terhadap penyederhaan interface OPAC.
Tabel 23. Harapan tentang pembaharuan Interface OPAC
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 1 0.8%
Tidak setuju 5 4.2%
Setuju 44 36.7%
Sangat setuju 41 34.2%
Sangat setuju sekali 29 24.2%
Total 120 100.0%
Value 3,76
Preferensi pengguna untuk lebih menyukai teknologi yang sederhana dan mudah dipakai didukung juga pada tabel 24, yaitu respon pernyataan “Saya berharap ada lebih banyak koleksi dalam bentuk digital”. Dari semua pernyataan yang ada, pernyataan inilah yang memiliki paling banyak respon sangat setuju sekali. Value yang didapatkan juga yang tinggi 4,06, menunjukkan bahwa responden sangat setuju untuk ditambahnya koleksi digital, dan mereka menyukai hal yang dapat langsung diunduh tanpa perlu mencari ke jajaran koleksi perpustakaan, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan informasinya dimana saja.
Tabel 24. Lebih banyak koleksi dalam bentuk digital
Respon Frekuensi Persentase
Sangat tidak setuju 1 0.8%
Tidak setuju 7 5.8%
Setuju 30 25.0%
Sangat setuju 27 22.5%
Sangat setuju sekali 55 45.8%
Total 120 100.0%
Value 4,06
Pembahasan
Seperti yang terlihat pada hasil kuesioner yang dibahas, OPAC adalah sarana penelusuran informasi yang sudah dikenal dan diakui oleh pemustaka. Hal yang paling disukai dan diinginkan oleh para pemusatka yang menggunakan OPAC adalah kecepatan dalam pencarian informasi. Hal ini berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, terutama kemudahan dalam akses internet dan penggunaannya. Haigh (2006) menyatakan bahwa format dan cara kerja search engine yang dibuat sesederhana mungkin agar penggunanya nyaman membuat penggunanya tidak menginginkan sesuatu yang lebih rumit dan keluar dari format tersebut, sehingga bahkan mulai meninggalkan perpustakaan dan sumber tercetak. Pemustaka juga banyak yang mendukung diperbanyaknya file digital sehingga informasi yang mereka butuhkan dapat langsung diunduh dari mana saja tanpa harus pergi ke perpustakaan. Apalagi, pemustaka perpustakaan UI sebagian besar terdiri dari mahasiswa yang sering sekali menggunakan komputer dan internet dalam kehidupan sehari – hari.
Pengaruh search engine juga terlihat pada permintaan untuk menyederhanakan cara pemakaian dan interface OPAC. Banyak pemustaka yang merasa bahwa halaman depan OPAC perlu disederhanakan, bahkan ada yang berpendapat bahwa halaman OPAC yang terlalu penuh membuat OPAC rumit untuk digunakan. Kebanyakan yang berpendapat seperti itu adalah mahasiswa tingkat pertama atau kedua. Ini berarti responden yang merasa bahwa pemakaian OPAC rumit merupakan responden dengan waktu tersingkat untuk berinteraksi dan terbiasa menggunakan OPAC. Kenyataan ini didukung oleh pernyataan Brophy (2005), bahwa kebanyakan mahasiswa S1 yang lebih muda atau baru masuk, tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan perpustakaan dengan baik, karena sebagian besar tidak
pernah menghadapi perpustakaan dengan skala sebesar perpustakaan universitas, sehingga mereka memerlukan kemampuan baru dan waktu yang cukup untuk terbiasa dengan perpustakaan dan pelayanannya. Bila dikaitkan dengan pernyataan Haigh dan hasil penelitian lain (Mi & Weng, 2013; Kumar & Vohra, 2010; Husain& Ansari, 2006) yang menyatakan bahwa semakin hari perilaku penelusuran informasi anak muda yang mencakup mahasiswa makin terbiasa menggunakan search engine, dapat dimengerti bahwa mereka sudah sangat terbiasa dengan satu format penelusuran (search engine) sehingga merasa tidak nyaman dengan format penelusuran lainnya (seperti OPAC). Terlebih, OPAC juga menggunakan komputer dan diakses lewat internet, sehingga mereka berharap menemukan bentuk yang familiar dengan alat yang familiar mereka gunakan. Hal tersebut juga terlihat dari preferensi pemakaian fitur penelusuran OPAC, dengan Advanced Search menempati preferensi paling rendah.
Hambatan yang paling terlihat dan sering disuarakan oleh pemustaka adalah jumlah komputer OPAC dan letaknya. Perpustakaan UI adalah perpustakaan yang luas dengan koleksi yang sangat banyak. Untuk berjalan mencari koleksi sampai di jajaran rak yang ditunjukkan OPAC memerlukan waktu yang cukup lama, dan terkadang pemustaka perlu mengecek ulang ketersediaan dan kata kunci yang dipakai dalam penelusuran koleksi. Namun, perpustakaan UI hanya menyediakan sedikit komputer OPAC di dalam ruang koleksi (2 komputer per lantai), lainnya di luar ruang koleksi. Menurut Brophy (2005), salah satu hal yang harus dipertimbangkan untuk membangun sebuah perpustakaan universitas adalah jumlah komputer OPAC dan dimana komputer tersebut diletakkan sehingga dapat diakses dengan paling mudah dan nyaman. Jumlah komputer OPAC di luar ruang koleksi adalah sebagai berikut : 10 unit di lantai 2, 12 unit di lantai 3 dan 6 unit di lantai 4. Dari 10 unit di lantai 2, 4 unit tidak ada di tempat (rusak/perbaikan), sehingga hanya tersedia 6 unit, 1 unit tidak bisa dipakai dan yang lainnya bisa dipakai dengan lancar (tidak rusak maupun mengalami gangguan koneksi). Dari 12 unit di lantai 3, ada 7 unit yang tidak ada di tempatnya. 3 unit tidak dapat tersambung dengan internet sehingga hanya ada 2 komputer yang dapat digunakan untuk menelusur. Dari 6 unit OPAC yang ada di lantai 4, semuanya tersedia, namun ada 3 unit yang tidak dapat terkoneksi dengan internet. Komposisi komputer seperti ini tidak terlalu nyaman bagi pengguna, dan membuat waktu pencarian informasi semakin lama. Sebenarnya permasalahan tersebut seharusnya tidak muncul mengingat perpustakaan UI sudah memakai WebOPAC dan bahwa mayoritas mahasiswa sudah memiliki smartphone yang dapat mengaksesnya. Namun, koneksi internet di dalam gedung perpustakaan sering bermasalah, terutama di dalam ruang
koleksi yang sangat tertutup membuat koneksi internet sangat lambat dan sulit digunakan. Hal ini tentunya tidak akan terjadi apabila Wi-Fi perpustakaan UI diperkuat dan ditambah kecepatannya.
Kesimpulan
Pemahaman pemustaka tentang OPAC adalah OPAC sebagai sarana penelusuran online yang penting ada di perpustakaan untuk mempercepat pencarian informasi mereka, dan karena itu harus sederhana dan mudah digunakan. Karena OPAC sudah memenuhi fungsi untuk mempercepat penelusuran, mereka cukup puas dengan kinerja OPAC. Interaksi pemustaka dengan OPAC cukup baik, dapat dilihat dari frekuensi penggunaan yang cukup sering, dan preferensi pemustaka untuk menggunakan OPAC dibandingkan bertanya pada pustakawan. Dalam interaksinya, pemustaka tidak menganggap OPAC rumit, dan menginginkan hasil ayng cepat dan karena itu menghindari kerumitan, seperti yang terlihat dari preferensi pemakaian Advanced search yang rendah, dan memiliki masalah dengan faktor – faktor yang membuat penelusuran berjalan lambat, seperti koneksi internet yang lambat, jumlah komputer yang tidak mencukupi, dan kondisi komputer yang kurang baik. Meskipun pemustaka tidak mengalami kendala besar dengan OPAC,namun mereka merasa perlu adanya pustakawan yang hadir di lokasi dekat OPAC agar dapat memberikan bantuan. Kebanyakan merasa sudah puas dengan apa yang ditawarkan oleh pustakawan dan pustakawan dinilai sangat membantu dalam penggunaan OPAC. Orientasi perpustakaan tentang penggunaan OPAC pun ditanggapi dengan positif, namun masih ada yang menginginkan pelatihan ulang atau petunjuk pemakaian yang dirasa masih kurang oleh pemustaka.
Saran
Ada beberapa saran yang dapat diaplikasikan sebagai hasil dari penelitian ini. Menurut hemat penulis, koneksi jaringan UI di perpustakaan dan jaringan internet perlu ditingkatkan kekuatannya. Jaringan ini dirasa lebih penting daripada penambahan jumlah PC untuk fasilitas OPAC. Karena jaringan yang kuat memungkinkan pemustaka mengakses melalui laptopnya masing – masing. Bisa pula dilakukan pembaharuan dan penyederhanaan interface OPAC sehingga untuk membuka OPAC tidak diperlukan waktu yang lama. Pemustaka yang terbiasa dengan search engine yang jauh lebih sederhana interfacenya tidak menyukai tampilan yang rumit dan terkesan kaku. Perlu dikurangi hal yang tertera pada halaman awal OPAC perpustakaan UI. Berikutnya adalah perlunya dipersiapkan bantuan pustawakan, baik dalam orientasi OPAC maupun siaga bantuan ketika OPAC bermasalah. Adanya pustakawan yang
berlokasi di sekitar OPAC sehingga cepat dalam memberikan bantuan permasalahan dengan OPAC.
Daftar Referensi
Badugu, A. A., & Sadiq, H. (2013). Perception Of Digital Library Services: A Case Study Of International Islamic University, Malaysia. Diambil tanggal 24 Maret 2014 dari database ProQuest.
Brophy, P. (2005). The academic library (2nd ed.). London: Facet Pub..
Haigh, Gideon. (2006, February). Information Idol : How Google Is Making Us
Stupid. TheMonthly No.9. Diambil dari http://www.themonthly.com.au/monthly-essays-gideon-haigh-infomation-idol-how-google-making-us-stupid-170 tanggal 20 Mei 2014 Husain, Rasid, dan Mehtab Alam Ansari. (2006). From Card Catalog to Web
OPACs.DESIDOC Bulletin of Information Technology, 26.2, 41-47. Diambil tanggal 13 Mar. 2014 dari database ProQuest.
Kumar, Shiv, dan Ranjana Vohra. (2013). User Perception and Use of OPAC: A Comparison of Three Universities in the Punjab Region of India.The Electronic Library, 31.1,
36-54. Diambil tanggal 20 Feb. 2014 dari database ProQuest.
Mi, Jia, dan Cathy Weng. (2013). Revitalizing the Library OPAC: Interface, Searching, and Display Challenges. Information Technology and Libraries, 27.1, 5-22.Diambil tanggal 20 Feb. 2014 dari database ProQuest.