• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Akuntansi

Pengertian akuntansi menurut Accounting Principle Board (APB) Statement No.4 yang dikutip oleh Ahmed Riahi - Belkaoi (2000:38) menyebutkan bahwa:

”Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomik yang diperkirakan bermanfaat dalam pembuatan keputusan-keputusan ekonomik, dalam membuat pilihan di antara alternatif tindakan yang ada.”

Dari pengertian di atas, dapat diketahui bahwa akuntansi akan memberikan informasi terutama mengenai informasi keuangan yang bermanfaat bagi yang membutuhkan dalam pengambilan keputusan ekonomi dan menentukan pilihan yang terbaik dari alternatif yang tersedia.

Menurut American Institute of Certified Public Accounting (AICPA) yang dikutip oleh Ahmed Riahi - Belkaoi (2000:37-38) menyebutkan bahwa:

“Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterpretasian hasil proses tersebut.” Sedangkan American Accounting Association yang dikutip oleh Soemarso R (2004:3) mendefinisikan akuntansi sebagai:

“... proses mengidentifikasikan, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut.”

Dari definisi-definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa pengertian akuntansi adalah sebagai berikut:

1. Akuntansi merupakan suatu kegiatan pelayanan yang akan memberikan informasi terutama mengenai informasi keuanagn yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan dan dalam penentuan pilihan yang terbaik dari alternatif yang tersedia.

(2)

2. Akuntansi merupakan seni dan sekaligus sebagai ilmu tentang penyusunan laporan keuangan yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam suatu organisasi.

3. Akuntansi dapat dikatakan sebagai bahasa yang digunakan untuk menggambarkan hasil dan kegiatan ekonomi sutu organisasi yang terutama melibatkan usaha pengubahan sumber daya yang ada menjadi barang atau jasa yang dapat dikonsumsi.

4. Objek akuntansi adalah transaksi atau kejadian yang setidak-tidaknya dapat diukur dengan uang dan yang tidak dapat diukur dengan uang bukan merupakan objek akuntansi.

5. Akuntansi diterapkan dalam suatu entitas, organisasi atau lembaga.

6. Di dalam akuntansi terjadi proses penyusunan dari transaksi dan kejadian keuangan menjadi laporan keuangan.

7. Hasil akuntansi yang berupa laporan keuangan dapat dijadikan alat pengawasan dan pertanggungjawaban.

2.2 Dana

2.2.1 Pengertian Dana

Pengertian dana disini berbeda dengan dana pada perusahaan bisnis. Pada perusahaan bisnis, dana diartikan sebagai kas atau sumber daya keuangan yang disisihkan dan ditetapkan akan digunakan untuk tujuan tertentu, tetapi bukan merupakan entitas terpisah, melainkan masih menjadi bagian dari entitas akuntansi perusahaan yang merupakan entitas tunggal.

Menurut Governmental Accounting Standards Boards yang dikutip oleh Mardiasmo (2002:22) definisi dana adalah sebagai berikut:

“A fund is a fiscal and accounting entity with a self-balancing set of accounts recording cash and other financial resources, together with all related liabilities and residual equties or balances, and changes therein, which are segregated for the purpose of carrying on specific acticvities or attaining

(3)

certain objectives in accordance with special regulations, restrictions or limitations.”

Dengan demikian, yang diartikan dengan dana berbeda dengan kas atau dana sumber lainnya bersifat sempit, sebab pengertian dana mencakup:

1. Kesatuan fiskal dan kesatuan akuntansi yang berdiri sendiri.

2. Terdapat sekumpulan rekening (set of accounts) untuk mencatat mutasi kas atau sumber-sumber lainnya yang bersifat saling berimbang dengan melakukan pencatatan terhadap semua transaksi, baik harta, modal, hutang, pendapatan dan pengeluaran.

3. Mempunyai tujuan penggunaan tertentu.

4. Ada ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pembentukan dana dan penggunaannya serta pembatas-pembatasnya.

Terdapat dua macam dana yang biasa digunakan oleh suatu organisasi nonprofit, yaitu:

a. Dana Belanja (Expendable Fund)

Dana ini digunakan untuk membukukan aktiva lancar, utang dan perubahan dalam aktiva bersih yang dibelanjakan untuk kegiatan organisasi nonprofit (misal: untuk kegiatan pemadam kebakaran dan kegiatan kepolisian).

b. Dana Bukan Belanja (Nonexpendable Fund)

Dana ini digunakan untuk membukukan pendapatan, biaya, aktiva, hutang dan modal kegiatan perusahaan komersial (misal: kafetaria, sistem transportasi, sistem telekomunikasi dan sebagainya).

2.2.2 Jenis-jenis Dana

Jenis-jenis dana yang digunakan dalam organisasi nirlaba selain pemerintahan dan universitas yaitu yang bergerak dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan (voluntary,health and welfane organization) dan organisasi nirlaba lainnya menurut Wilson dan Kattelus (2004:547) adalah sebagai berikut:

(4)

1. Dana Lancar Umum (Current Unrestricted Fund)

Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berkaitan dengan sumber daya yang tidak dibatasi (unrestricted) yaitu yang dapat dibelanjakan (expendable) dan tersedia untuk digunakan, tetapi hanya untuk operasi sebagaimana dimaksud oleh pemberinya.

2. Dana Lancar Terbatas (Current Restricted Fund)

Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berkaitan dengan sumber daya yang dibatasi (resticted) yaitu yang dapat dibelanjakan (expendable) dan tersedia untuk digunakan. Tetapi hanya untuk operasi sebagaimana dimaksud oleh pemberinya.

3. Dana Endowmen (Endowment Fund)

Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berkaitan dengan hadiah dan warisan yang diterima pemberi dana dengan ketentuan :

a. Jumlah pelaku yang dipertahankan tetap (utuh) selama periode tertentu sampai peristiwa yang khusus terjadi.

b. Semua pendapatan dan investasi dana yang dapat dibelanjakan sesuai dengan maksud dan pemberi dana.

4. Dana Pemeliharaan (Custodian Fund)

Yaitu dana untuk mencatat semua aktiva yang diterima dan dipegang serta dibelanjakan sesuai dengan perintah dari orang atau organisasi yang memberi aktiva tersebut.

5. Dana Pinjaman (Loan and Annuity Fund)

Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yamg berhubungan dengan pembuatan pinjaman dan rencana pembiayaan.

6. Dana Aktiva Tetap (Loan,Building and Equipment Fund)

Yaitu dana untuk mencatat semua perkiraan yang berhubungan dengan:

a. Sumber daya yang dibatasi (resticted) yang direncanakan untuk memperoleh atau mengganti aktiva tetap yang dipakai untuk operasi organisasi.

(5)

c. Hutang atau hipotek yang berhubungan dengan aktiva tetap. d. Investasi bersih (net investment) dalam aktiva.

2.3 Akuntansi Dana

Akuntansi pada organisasi non profit berhubungan dengan pembentukan dana-dana, maka akuntansi yang digunakan disebut akuntansi dana (Fund Accounting). Akuntansi dana ini merupakan hal yang spesifik bagi organisasi nirlaba. Menurut Wilson dan Kattelus (2004:693) akuntansi dana adalah :

”Accounting system organized on the basis of funds, each of which is considered a separate accounting entity. The operations of each fund are accounted for with a separate set of self-balancing account that comprise its assets, liabilities, fund equity, revenues and expenditures or expenses as appropriate.”

Dari pengertian yang diungkapkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi dana merupakan suatu sistem akuntansi yang diatur berdasarkan dana-dana yang mana masing-masing dana merupakan kesatuan akuntansi yang terpisah. Operasi setiap dana dicatat secara terpisah dalam saldo akun sendiri yang terdiri dari aktiva, kewajiban, dana pribadi, pendapatan dan belanja yang tepat.

Kesatuan akuntansi (Accounting entity) adalah asumsi bahwa akuntansi hanya membatasi diri pada kesatuan usaha dimana ia mempunyai kepentingan dan kesatuan usaha tersebut dianggap berdiri sendiri terlepas dari pihak-pihak lain.

Semua kegiatan ekonomi diselenggarakan melalui kesatuan dari berbagai macam bentuk, individu, keluarga (kelompok), toko, perusahaan besar, lembaga sosial atau unit pemerintah. Maka akan memerlukan suatu pencatatan yang terpisah satu dengan yang lainnya. Pencatatan tersebut memerlukan saldo akun sendiri.

Bila dalam akuntansi komersial perkiraan-perkiraan yang digunakan adalah perkiraan neraca dan perkiraan laba rugi, pada akuntansi dana disamping perkiraan neraca terdapat juga perkiraan-perkiraan anggaran dan perkiraan aktiva, hutang, pendapatan dan belanja.

(6)

Pencatatan setiap aktiva, hutang dan saldo dana dilakukan dalam perkiraan-perkiraan atau akun-akun. Pencatatan setiap transaksi akan mempengaruhi aktiva atau modal suatu dana dalam perkiraan maupun dalam aktivitas pencatatannya. Pencatatan yang lengkap dan rinci ini dimaksudkan agar dapat membantu dalam melakukan analisis terhadap perubahan saldo dana.

Pendapatan dan belanja merupakan perkiraan-perkiraan sementara, kedua perkiraan tersebut merupakan bagian dari rekening saldo dana. Belanja yang dilakukan biasanya dicatat dalam setiap perkiraan yang menunjukan tujuan belanja tersebut, maka secara tidak langsung akan diketahui siapa yang bertanggungjawab terhadap pengeluaran tersebut.

Perubahan yang terjadi pada rekening pendapatan dan belanja disebabkan oleh adanya perubahan yang terjadi karena adanya kenaikan dan penurunan yang berhubungan dengan saldo dana. Pendapatan menyebabkan saldo dana menjadi naik dan belanja akan mengurangi saldo dana.

2.4 Organisasi Non Profit

2.4.1 Ruang Lingkup Organisasi Non Profit

Organisasi non profit dalam beberapa hal mempunyai kesamaan bila dibandingkan dengan organisasi profit yang bermotifkan mencari laba.

Menurut Sabeni dan Ghozali (2001:6-7) beberapa kesamaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kedua jenis organisasi tersebut adalah merupakan bagian dari suatu sistem ekonomi yang sama dan menggunakan sumber daya yang sama pula untuk memenuhi tujuannya.

2. Kedua jenis organisasi tersebut harus menggunakan sumber daya yang langka untuk menciptakan barang dan jasa.

3. Kedua jenis organisasi tersebut masing-masing memiliki proses manajemen keuangan yang sama.

(7)

4. Kedua jenis organisasi tersebut memerlukan analisis biaya dan pengendalian biaya guna menetapkan bahwa sumber daya yang langka tersebut telah digunakan secara efektif dan efisien.

5. Dalam beberapa hal, kedua jenis organisasi tersebut menghasilkan produk yang sama seperti pemerintah maupun perusahaan komersial yang keduanya dapat mengelola sistem transportasi, sanitasi, listrik dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui secara umum bahwa persamaan kedua jenis organisasi tersebut yaitu berada dalam suatu sistem ekonomi dan memerlukan sumber daya untuk menjalankan segala aktivitasnya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh masing-masing organisasi, serta memerlukan analisis dan pengendalian biaya guna menetapkan bahwa sumber daya yang langka tersebut telah digunakan secara efisien dan efektif.

Walaupun keduanya memiliki beberapa kesamaan, namun ada beberapa hal pokok yang membedakan kedua jenis organisasi ini, yaitu dalam hal tujuan organisasi, sumber dana dan peraturan atau pengendalian barang dan jasa.

Secara ringkas perbedaan antara organisasi komersial dan organisai nirlaba dapat dipandang dari beberapa hal sebagai berikut:

Perbedaan Organisasi Profit Organisasi Non Profit

Tujuan Organisasi

Menentukan laba bersih dan untuk mendapatkan laba per lembar saham yang setinggi-tingginya

Menghimpun dana dan menggunakannya untuk masyarakat secara keseluruhan

Sumber Dana Perseorangan atau

sekelompok orang yang membentuk sejumlah modal yang disetor untuk memperoleh pendapatan

Berbagai sumber dan digunakan untuk berbagai macam tujuan tanpa adanya penekanan pada penentuan laba

(8)

Peraturan dan Pengendalian Barang dan Jasa

Barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen umum, akan dimodifikasikan atau ditarik dari pasaran apabila barang dan jasa tersebut tidak menguntungkan lagi

Menyediakan barang dan jasa yang tidak ada harga pasarnya dan ini dapat digunakan sebagai pengukur kepuasan konsumen karena barang dan jasa tersebut bersifat unik

Sumber: Sabeni dan Ghozali, (2001:6). Pokok-pokok Akuntansi Pemerintahan, Edisi Keempat, Yogyakarta, BPFE

2.4.2 Karakteristik Organisasi Non Profit

Pemerintah dan organisai-organisasi non profit mempunyai perbedaan dengan organisasi-organisasi lain yang bertujuan untuk mencari laba sehingga organisasi non prpfit memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi profit.

Menurut Sabeni dan Ghozali (2001:5) menyatakan beberapa karakteristik organisasi non profit, yaitu:

1. Organisasi nonprofit tidak mempunyai motif mencari laba atau dengan kata lain motif mendapatkan keuntungan bukanlah tujuan utama bagi organisasi jenis ini. 2. Organisasi nonprofit ini dimiliki secara kolektif, artinya adalah hak pemilikan

tidak ditunjukkan oleh saham yang dapat dimilki secara perseorangan yang dapat dijual-belikan.

3. Pihak-pihak yang memberikan sumber keuangan kepada organisasi nonprofit ini, tidak harus menerima imbalan langsung, baik berupa barang, uang atau jasa.

Menurut Jan Hoesada (2005:3) beberapa karakteristik organisasi non profit adalah sebagai berikut:

1. Para pengguna organisasi non profit secara ideal mempunyai tujuan tulus mendukung organisasi untuk mencapai tujuan, namun pada kenyataannya tidak

(9)

selalu demikian. Maka akuntansi dan laporan keuangan bertugas meminta pertanggungjawaban pengurus.

2. Para karyawan organisasi non profit sebagian besar atau pada umumnya ingin diperlakukan setara karyawan profesional organisasi profit, memperoleh karir, jabatan dan masa depan. Maka akuntansi non profit bertugas menginformasikan kesinambungan hidup organisasi non profit.

3. Yayasan tidak mempunyai anggota. Namun pada organisasi non profit lain bukan yayasan, para anggota secara serius mungkin ikut serta dalam suatu organisasi non profit untuk mencapai suatu idaman tertentu organisasi non profit sejalan dengan aspirasinya.

4. Para pelanggan atau pihak yang menjadi sasaran diuntungkan oleh organisasi, berharap manfaat yang dijanjikan organisasi perlu mendapat informasi sasaran yang berhasil diraih oleh organisasi.

5. Bagi pemerintah, organisasi non profit harus mematuhi ketentuan undang-undang non profit, diharapkan memberi citra baik bagi bangsa. Laporan keuangan berfungsi sebagai umpan balik kepada pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik organisasi non profit yang utama adalah bahwa motif mencari laba bukan merupakan tujuan utama, kepemilikan organisasi ini dimiliki secara umum dan para anggota tidak mendapat balasan secara langsung atas dana yang diserahkan seta adanya suatu keyakinan bahwa apa yang dilakukan anggota untuk organisasinya akan mendapat balasan di akhirat nanti.

2.4.3 Laporan Keuangan Organisasi Non Profit

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2004: no 45) secara rinci menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah untuk menyajikan informasi mengenai:

a. Jumlah dan sifat aktiva, kewajiban dan aktiva bersih suatu organisasi

b. Pengaruh transaksi, peristiwa dan situasi lainnya yang mengubah nilai dan sifat aktiva bersih

(10)

c. Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya dalam satu periode dan hubungan antara keduanya

d. Cara suatu organisasi mendapatkan dan membelanjakan kas memperoleh pinjaman dan melunasi pinjaman dan faktor lainnya yang berpengaruh pada likuiditasnya

e. Usaha jasa suatu organisasi

Para pengguna laporan keuangan organisasi non profit memiliki kepentingan bersama yang tidak jauh berbeda dengan organisasi bisnis. Pada organisasi profit pemakai laporan keuangan menaruh perhatian terhadap kelangsungan hidup organisasi dalam menghasilkan laba demi keuntungan pemilik, atau kelangsungan hidup perusahaan dalam menggaji karyawannya atau hal lainnya tergantung kepentingan para pemakai laporan keuangan.

Para pemakai laporan keuangan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pemberi Sumber Daya Keuangan

Pemberi sumber daya keuangan adalah orang yang secara langsung menerima balas jasa atau penggantian atas sumber daya uang yang diserahkannya.

2. Pemberi suara

Pemberi suara adalah orang yang memakai dan memperoleh manfaat pelayanan yang diberikan organisasi.

3. Badan Pengatur dan Pengawas

Badan pengatur dan pengawas adalah badan yang bertanggung jawab menyusun kebijakan dan melakukan pengawasan serta penilaian terhadap manajemen organisasi.

4. Manajemen

Manajemen organisasi nirlaba mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan seluruh kebijaksanaan pemerintah dan mengelola operasi sehari-hari organisasi. Manajemen merupakan pemakai intern laporan keuangan yang sekaligus sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam penyusunan laporan keuangan yang bersangkutan.

(11)

2.4.4 Jenis-jenis Organisasi Non Profit

Menurut Sabeni dan Ghozali (2001:6) jenis-jenis organisasi non profit adalah sebagai berikut:

a. Pemerintahan (Government); pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

b. Lembaga pendidikan (Education); Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi.

c. Kesehatan dan kesejahteraan (Hospital and Welfare); seperti rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik, Palang Merah Indonesia dan Panti Asuhan Yatim Piatu. d. Keagamaan (Religius); seperti mesjid, pondok pesantren, gereja dan tempat

peribadatan lainnya.

e. Lembaga amal (Charitable); seperti Yayasan Jantung Sehat, Yayasan Ginjal dan Yayasan Amal lainnya.

f. Lembaga dana (Foundation); yaitu lembaga yang dikelola untuk memberikan dana bagi lembaga pendidikan, lembaga keagamaan dan lembaga amal.

Pengelompokkan organisasi non profit di atas adalah merupakan pengelompokkan secara umum. Di dalam prakteknya, terjadi saling tumpang tindih dalam pelaksaannya. Misalnya : gereja akan berhubungan dengan pengelolaan lembaga amal, pemerintah yang secara langsung akan berhubungan dengan lembaga pendidikan, kesehatan dan lembaga-lembaga lain yang dibutuhkan oleh masyarakat.

2.5 Rumah Sakit

2.5.1 Pengertian Rumah Sakit

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata rumah sakit memiliki arti: 1. Gedung tempat merawat orang sakit.

2. Gedung tempat menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan.

3. Gedung yang memberikan layanan, pengobatan, perawatan bagi penderita berbagai penyakit yang dilengkapi dengan dokter ahli, umum akan dapat melayani berbagai pasien yang mengidap penyakit yang beraneka macam.

(12)

Maka dapat disimpulkan bahwa rumah sakit adalah gedung yang memeberikan pelayanan mengenai berbagai macam masalah kesehatan bagi penderita berbagai macam penyakit yang dilengkapi dengan dokter ahli yang sama halnya dengan organisasi yang mengatur dirinya sendiri.

Rumah Sakit Pemerintah adalah rumah sakit yang dapat diselenggarakan oleh: Departemen Kesehatan

Pemerintah Daerah ABRI

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Suatu organisasi memerlukan adanya manjemen yang baik untuk dapat mencapai tujuannya, begitu juga dengan rumah sakit yang memerlukan pengelolaan keuangan yang memadai agar dapat membuat keputusan yang berkenaan dengan kegiatannya secara efektif.

2.5.2 Pengelolaan Keuangan Rumah Sakit

Ditinjau dari aspek administrasi atau manajemen yang dimaksud dengan pengelolaan keuangan adalah proses pengurusan, penyelenggaraan, penyediaan dan penggunaan uang dalam setiap usaha kerjasama sekelompok orang untuk tercapainya suatu tujuan. Proses ini tersusun dari pelaksanaan fungsi-fungsi penganggaran pembukuan dan pemeriksaan atau secara operasional. Tjahjanulin Domai (2002) berpendapat bahwa:

“Pengelolaan keuangan rumah sakit adalah yang pelaksanaannya meliputi penyusunan, penetapan, pelaksanaan, pengawasan dan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja rumah sakit.”

Menurut Tjahjanulin Domai (2002) tujuan pengelolaan keuangan rumah sakit adalah sebagai berikut:

1. Memanfaatkan semaksimal mungkin sumber-sumber pendapatan rumah sakit. 2. Setiap anggaran yang dibuat atau disusun diusahakan perbaikan-perbaikan dari

(13)

3. Sebagai landasan formal dari suatu kegiatan yang lebih terarah dan teratur serta memudahkan untuk melakukan pengawasan.

4. Memudahkan koordinasi dari masing-masing institusi dan dapat diarahkan sesuai dengan apa yang diprioritaskandan dituju oleh rumah sakit.

5. Untuk menampung dan menganalisa serta memudahkan dalam pengambilan keputusan tentang alokasi permbiayaan terhadap proyek-proyek atau kebutuhan lain yang diajukan oleh masing-masing institusi.

Sedangkan tujuan pengelolaan keuangan rumah sakit menurut I Gusti Ayu Rima Kusuma Dewi seperti yang dikutip Abdul Halim (2004:81) adalah:

1. Tanggung jawab

Artinya, rumah sakit harus mempertanggung jawabkan tugas keuangannya kepada lembaga atau orang yang berkepentingan yang sah.

Lembaga atau orang tersebut termasuk pemerintah pusat, DPRD kepala daerah dan masyarakat umum. Adapun unsur-unsur penting dalam tanggung jawab mencakup keabsahan (setiap transaksi keuangan harus berpangkal pada wewenang hukum tertentu) dan pengawasan (tata cara efektif untuk menjaga kekayaan uang dan barang, mencegah penyelewengan, dan memastikan semua pendapatan yang sah benar-benar terpungut, jelas sumbernya dan tepat penggunaannya.

2. Mampu memenuhi kewajiban keuangan

Artinya, keuangan rumah sakit harus ditata sedemekian rupa sehingga mampu melunasi semua ikatan keuangan, jangka pendek dan jangka panjang (termasuk pinjaman jangka panjang).

3. Kejujuran

Artinya, urusan keuangan harus diserahkan pada pegawai yang jujur dan kesempatan untuk berbuat kecurangan diperkecil.

(14)

Artinya, tata cara mengurus keuangan rumah sakit harus sedemikian serupa sehingga dapat memungkinkan program dapat direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan rumah sakit dengan biaya yang efisien dan efektif.

5. Pengendalian

Artinya, petugas keuangan rumah sakit, DPRD, pengawas keuangan harus melakukan pengendalian agar semua tujuan tersebut di atas dapat tercapai. Mereka harus mengusahakan agar selalu mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran kemudian dibandingkan dengan rencana dan sasaran.

Berkaitan dengan pernyataan diatas tujuan pengelolaan keuangan rumah sakit merupakan salah satu faktor penting dalam mengukur secara nyata kemampuan rumah sakit dalam melaksanakan otonomi.

Pengelolaan keuangan rumah sakit yang baik dapat mendukung pelaksanaan rencana kerja rumah sakit dengan cara menyediakan informasi mengenai ketersediaan dana di rumah sakit.

Rumah sakit pemerintah sebagai unit organisasi pemerintah pelaksana anggaran dalam melaksanakan pengelolaan keuangan tunduk pada aturan-aturan mengenai pengelolaan keuangan negara.

Sumber keuangan berasal dari penerimaan anggaran belanja rutin (DIK), anggaran belanja pembangunan (DIP) dan penerimaan negara bukan pajak yang terdiri dari penerimaan fungsional dan penerimaan non fungsional. Rumah sakit memiliki bagian keuangan yang bertugas melaksanakan aktivitas keuangan.

Anggaran rutin yang diterima dari pemerintah diarahkan untuk membiayai operasional dan pemeliharaan organisasi dalam usaha meningkatkan pelayanan kesehatan dan mendukung kelancaran pelaksanaan tugas pokok serta menampung biaya operasional dan pemeliharaan hasil proyek yang telah selesai.

Tanggung jawab rumah sakit berkenaan dengan pengelolaan keuangan rumah sakit yang baik adalah dalam penyusunan anggaran, perkiraan sumber dana, pengalokasian dana dan pertanggungjawaban pemakai dana.

(15)

2.5.2.1 Penyusunan Anggaran

Anggaran sangat berperan dalam pengelolaan keuangan rumah sakit karena semua penerimaan dan pengeluaran keuangan rumah sakit selalu mengacu pada anggaran yang dibuat. Sebagai bahan acuan bagi pelaksanaan kegiatan rumah sakit, maka penyusunan anggaran diusahakan sesuai dengan kebutuhan rumah sakit dan memberikan suatu peluang untuk terus berkembang dalam arti anggaran tiap tahun diusahakan mengalami peningkatan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Secara lebih terperinci, proses penyusunan anggaran antara lain:

1. Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun anggaran. 2. Pengolahan dan penganalisisan data dan informasi tersebut untuk mengadakan

taksiran-taksiran dalam rangka menyusun anggaran.

3. Menyusun anggaran serta menyajikannya secara teratur dan sistematis. 4. Pengkoordinasian pelaksanaan anggaran.

5. Pengumpulan data dan informasi untuk keperluan pengawasan kerja, yaitu untuk mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan anggaran.

6. Pengolahan dan penganalisisan tersebut untuk mengadakan interpretasi dan memperoleh kesimpulan-kesimpulan dalam rangka mengadakan penilaian terhadap kerja yang telah dilaksanakan serta menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagai tindak lanjut dari kesimpulan-kesimpulan tersebut.

Dalam menyusun suatu anggaran perlu diperhatikan beberapa syarat, yaitu:  Realistis, artinya tidak terlalu optimis dan tidak pula terlalu pesimis.

 Luwes, artinya tidak terlalu kaku, mempunyai peluang untuk disesuaikan dengan keadaan yang mungkin berubah.

 Kontinyu, artinya membutuhkan perhatian secara terus-menerus dan bukan merupakan suatu usaha yang insidentil.

Pada dasarnya yang berwenang dan bertanggung jawab dalam penyusunan anggaran adalah pimpinan tertinggi organisasi. Tetapi dalam rumah sakit yang berwenang dan bertanggung jawab dalam penyusunan anggaran adalah Kepala Satuan Kerja Pemerintah Daerah..

(16)

Menurut Sofyan Syafri (2001:83) ditinjau dari siapa yang menyusun anggaran, maka penyusunan anggaran dapat dilakukan dengan cara:

1. Otoriter atau top down

Pada metode ini, penyusunan anggaran dan penetapan anggaran dilakukan oleh pimpinan tertinggi organisasi, dengan sedikit bahkan tanpa keterlibatan bawahan dalam penyusunannya.

2. Demokrasi atau bottom up

Pada metode ini, penyusunan anggaran disiapkan oleh pihak yang melaksanakan anggaran tersebut, kemudian anggaran akan diberikan kepada pihak yang lebih tinggi untuk mendapat persetujuan dan pengesahan.

3. Campuran atau top down dan bottom up

Pada metode ini, penyusunan anggaran dimulai dari pimpinan tertinggi organisasi dan kemudian untuk selanjutnya dilengkapi dan dilanjutkan oleh pihak yang melaksanakan anggaran.

Kebanyakan rumah sakit menggunakan metode campuran atau top down dan bottom up dengan pertimbangan anggaran yang tersusun nanti merupakan kesepakatan bersama, sesuai dengan kondisi, fasilitas serta kemampuan masing-masing bagian secara terpadu.

2.5.2.2 Perkiraan Sumber Dana

Sumber dana yang tersedia bagi organisasi non profit adalah terbatas. Dana tersebut hanya dapat digunakan untuk tujuan tertentu atau jenis kegiatan tertentu. Dengan adanya keterbatasan tersebut, masalah yang dihadapi organisasi non profit adalah bagaimana menggunakan dana tersebut agar sesuai dengan tujuan ysng dikehendaki oleh pemberi dana dan melaporkan hasilnya sebagai pertanggungjawaban kepada pemberi dana.

Sumber-sumber dana dalam rumah sakit: 1. Asuransi kesehatan

(17)

3. APBD Provinsi 4. APBN

5. Bantuan luar negeri 6. Sumber lain

2.5.2.3 Pengalokasian Dana

Pengelolaan keuangan sangat terkait erat dengan pengalokasian dana. Pada organisasi non profit pengalokasian dana didasarkan atas tujuan sosial dan politik serta batasan-batasan lain yang ada bukan atas dasar tingkat laba yang akan dicapai.

2.5.2.4 Pertanggungjawaban Pemakaian Dana

Pengelolaan keuangan terutama dilakukan untuk mencatat semua penerimaan dan pengeluaran terhadap semua dana yang ada. Pengelolaan yang dilakukan bertjuan untuk dapat menghasilkan suatu pertanggungjawaban secara keseluruhan.

Pertanggungjawaban pemakaian dana dapat berupa laporan keuangan. Menurut Jan Hoesada (2005:3) laporan keuangan tersebut meliputi:

1. Laporan Posisi Keuangan 2. Laporan Aktivitas

3. Laporan Arus Kas

4. Catatan atas Laporan Keuangan

Laporan keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Laporan Posisi Keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban dan aktiva bersih dan informasi mengenai hubungan diantara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu. Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama pengungkapan dan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak-pihak lain untuk menilai kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara

(18)

berkelanjutan dan likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya dan kebutuhan pendanaan eksternal.

Informasi tersebut umumnya disajikan dengan pengumpulan aktiva dan kewajiban yang memiliki karakteristik serupa dalam suatu kelompok yang relatif homogen. Sebagai contoh, orang biasanya melaporkan masing-masing unsur aktiva dalam kelompok yang homogen, seperti:

a. Kas dan setara kas

b. Piutang pasien, pelajar, anggota dan penerima jasa lain c. Persediaan

d. Sewa, asuransi dan jasa lainnya yang dibayar dimuka e. Surat berharga dan investasi jangka panjang

f. Tanah, gedung, peralatan serta aktiva tetap lainnya yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa

2. Laporan aktivitas

Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai: a. Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva

bersih

b. Hubungan antar transaksi dan peristiwa lain

c. Bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan berbagai program atau jasa, informasi dalam laporan aktivitas yang digunakan bersama dengan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak lainnya untuk:

1. Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode

2. Menilai upaya, kemampuan dan kesinambungan organisasi dan memberikan jasa

3. Menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja manajer 3. Laporan Arus Kas

Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode.

(19)

a. Aktivitas Pendanaan

1. Penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaanya dibatasi untuk jangka panjang

2. Penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang penggunaannya dibatasi untuk pemerolehan, pembangunan dan pemeliharaan aktiva tetap atau peningkatan dana abadi (endowment) b. Pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan pendanaan non kas;

sumbangan berupa bangunan atau aktiva investasi. 4. Catatan atas Laporan Keuangan

Tujuan utama catatan atas laporan keuangan adalah:

a. Menyediakan informasi yang relevan mengenai cara suatu organisasi memperoleh sumber dana yang diterima oleh suatu organisasi

b. Mengungkapkan informasi mengenai metode penyusutan aktiva dan juga jasa yang dihasilkan oleh suatu organisasi

2.6 Efektivitas Pengelolaan Keuangan Rumah Sakit

Definisi efektivitas menurut Mardiasmo (2004:134) adalah:

“Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi tersebut telah mencapai tujuannya dikatakan telah berjalan dengan efektif”.

Sedangkan efektivitas dalam pengelolaan keuangan rumah sakit menurut Abdul Halim (2004:74) adalah:

“Efektivitas dalam rumah sakit dapat diartikan penyelesaian kegiatan tepat pada waktunya dan dalam batas anggaran yang tersedia, dapat berarti pula mencapai tujuan dan sasaran seperti yang telah direncanakan”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa efektivitas pengelolaan keuangan rumah sakit adalah sebagai berikut:

1. Penyelesaian kegiatan tepat waktu

2. Penyelesaian kegiatan sesuai batas anggaran tersedia 3. Pencapaiana tujuan dan sasaran sesuai dengan rencana

(20)

4. Jika menyimpang dari rencana tapi memberi dampak yang menguntungkan bagi pihak penerima sasaran manfaat maka bisa dikatakan juga efektif.

Efisiensi mengacu pada penggunaan sumber daya keuangan dalam mencapai tujuan dan efektivitas mengacu pada keadaan proses pencapaian tujuan, sedangkan dimensi efektivitas yang dimaksud dalam penelitian ini lebih mengacu pada siklus keuangan rumah sakit dan pencapian tujuan serta sasaran rumah sakit.

2.7 Penerapan Akuntansi Dana dalam Menunjang Efektivitas Pengelolaan Keuangan Rumah Sakit

Setelah menguraikan pengertian masing-masing, dapat disimpulkan bahwa antara akuntansi dana dan pengelolaan keuangan organisasi nirlaba mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan.

Rumah sakit dapat dipandang sebagai salah satu segmen organisasi non profit yang sistem akuntansinya menggunakan arus kas masuk dan arus kas keluar. Rumah sakit beroperasi sebagai organisasi yang tujuan utamanya bukan untuk mencari laba. Aktivitas rumah sakit dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya dikendalikan oleh anggaran yang dibuat rumah sakit. Pembelanjaan yang dianggarkan biasanya disusun oleh bagian keuangan.

Akuntansi yang digunakan oleh organisasi non profit dalam pengelolaan keuangan adalah akuntansi dana, karena akuntansi ini berhubungan dengan pembentukan dana-dana. Penerapan akuntansi dana ini akan menghasilkan laporan keuangan yang dibutuhkan oleh organisasi non profit. Sehingga laporan keuangan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan juga mempunyai ketelitian yang tinggi serta sistem yang efektif.

Diterbitkannya laporan keuangan tersebut dapat memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban dan sumber daya bersih serta pengaruh transaksi atau kejadian yang berkaitan dengan sumber daya tersebut. Juga jasa atau produk yang dihasilkan dan bagaimana pengelolaannya untuk menilai kinerja serta bagaimana organisasi memperoleh sumber daya yang likuid, peminjaman dan

(21)

pembayarannya dan faktor-faktor lain yang yang mempengaruhi likuiditasnya. Dengan demikian, diharapkan bahwa pemakai laporan keuangan organisasi non profit dapat membuat keputusan yang rasional mengenai pengalokasian sumber daya dan memperkirakan jasa dan kemampuan organisasi dalam menyediakan jasa serta pengelola memberi pertanggungjawaban dengan memperhatikan aspek-aspek kinerja lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya akuntansi dana yang memadai dapat menunjang efektivitas pengelolaan keuangan organisasi non profit.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui pengaruh aspek rasio tinggi dan lebar dinding terhadap daktilitas dan kekakuan, maka hasil analisis daktilitas dan kekakuan pada penelitian

Fakultas / Universitas : Farmasi / Universitas Muhammadiyah Purwokerto Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi ini adalah hasil dari proses penelitian saya yang

Pengukuran dapat dilakukan secara real time, jika ada partikel-partikel hujan yang melewati balok laser maka disdrometer dapat mendeteksi curah hujan (mm/h) dan distribusi titik

Hal ini terlihat dari : (1) Kebijakan tarif impor beras yang rendah, sehingga mendorong membanjirnya beras impor yang melebihi kebutuhan di dalam negeri; (2)

Dari hasil penelitian ini akan terlihat bagaimana mahasiswa menerapkan peraturan tata guna lahan pada hasil tugas SPA 3 sesuai ketentuan yang telah diatur dalam RTRW

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mulai dari studi literatur, perancangan sistem, pembuatan alat hingga pengujian dan analisis data maka didapatkan

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS