8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Persepsi
Persepsi adalah proses individu menyeleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasikan rangsangan (stimulus) ke dalam suatu gambaran yang berarti dan koheren dengan dunia ( Siegel dan Marcon dalam Adhi, 2003). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi didefinisikan sebagai: tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
Persepsi (perception) merupakan proses individu dalam mengenali dirinya sendiri maupun keadaan sekitarnya. Persepsi meliputi juga kognisi (pengetahuan), jadi persepsi mencakup penafsiran obyek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan. Suatu fenomena yang sama, bisa ditafsirkan secara berbeda oleh tiap individu (Robbins dalam Handayaningsih (2004). Perbedaan ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1) Faktor dalam diri subyek, meliputi sikap (attitude), motif (motives), kepentingan (interest), pengalaman (experience), dan pengharapan (expectation).
2) Faktor dalam diri obyek, meliputi keunikan (noveltry), gerakan (motion), suara (sound), ukuran (size), latar belakang (background), dan kemiripan (proximity). 3) Faktor situasi, meliputi waktu (timing), keadaan tempat kerja (work setting) dan
2.1.2. Teori Efektivitas Organisasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, efektif berarti dapat membawa hasil atau berhasil guna. Menurut Steers (1985), terdapat 3 perspektif dalam menganalisis efektivitas organisasi yaitu:
1) Perspektif optimalisasi tujuan, yaitu efektivitas organisasi dinilai menurut seberapa besar tujuan organisasi berhasil dicapai. Dengan perspektif ini, efektif berarti pemusatan perhatian pada tujuan yang layak dicapai secara optimal. Hal ini memungkinkan memungkinkan adanya bermacam-macam tujuan yang sering saling bertentangan, sekaligus dapat diketahui beberapa hambatan dalam usaha mencapai tujuan.
2) Perspektif sistem, yaitu efektivitas organisasi dinilai dari keterpaduan berbagai faktor sesuai pola, input, konversi, output dan umpan balik, serta mengikutsertakan lingkungan sebagai faktor eksternal. Tujuan tidak dianggap sebagai suatu keadaan akhir yang statis, tetapi sebagai sesuatu yang dapat berubah dalam perjalanan waktu.
Tercapainya tujuan-tujuan jangka pendek tertentu dapat menjadi input baru untuk penetapan tujuan selanjutnya. Oleh karena itu, tujuan mengikuti suatu daur yang saling berhubungan antar komponen, baik faktor yang berasal dari dalam (faktor internal), maupun faktor yang berasal dari luar (faktor eksternal).
3) Perspektif perilaku manusia, yaitu efektivitas organisasi menekankan pada perilaku orang-orang dalam organisasi yang mempengaruhi keberhasilan organisasi. Dalam perspektif ini, penekanannya pada pengintegrasian antara tingkah laku individu maupun kelompok sebagai unit analisis. Asumsi yang dipakai adalah cara satu-satunya mencapai tujuan adalah melalui tingkah laku orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut.
Steers (1985) juga menjelaskan 4 faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi yaitu karakteristik organisasi, karakteristik lingkungan, karakteristik pekerja, dan kebijakan/praktik manajemen. Keempat faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Karakteristik organisasi, yaitu ciri-ciri yang melekat pada organisasi seperti struktur organisasi dan teknologi yang digunakan.
2) Karakteristik lingkungan, mencakup dua aspek yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal dikenal dengan iklim organisasi seperti gaya pengambilan keputusan oleh manajemen tingkat atas. Lingkungan eksternal adalah kekuatan yang timbul dari luar organisasi yang mempengaruhi keputusan serta tindakan di dalam organisasi.
3) Karakteristik pekerja adalah kemampuan individu dalam mencapai efektivitas organisasi. Karakteristik pekerja ini dipengaruhi oleh keterikatan pekerja pada organisasi dan prestasi kerja.
4) Kebijakan/praktik manajemen, yaitu kebijakan-kebijakan yang secara jelas membawa organisasi ke arah tujuan yang diinginkan. Karakter ini terdiri dari
beberapa hal antara lain penyusunan tujuan strategis, proses komunikasi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.
Pada setiap organisasi, termasuk inspektorat daerah, faktor-faktor tersebut harus dipertimbangkan agar mencapai organisasi yang efektif. Semua anggota organisasi, pemimpin organisasi, dan stakeholders yang terkait dengan organisasi tersebut berperan dalam menciptakan organisasi yang efektif.
2.1.3. Teori institusi (institutional theory)
Teori institusi mengatakan bahwa organisasi dipengaruhi dan bisa mempengaruhi lingkungan dimana organisasi itu berada (DiMaggio dan Powell dalam Ahmad, 2015). Teori ini menekankan bahwa organisasi akan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal, terutama pemerintah, dan nilai serta norma-norma sosial di lingkungan organisasi tersebut (Collier dan Woods dalam Ahmad, 2015). Oleh karena itu, organisasi yang sukses dan efektif adalah mereka yang memperoleh dukungan dan legitimasi sesuai dengan tuntutan sosial. Hal ini sesuai dengan konsep teori institusi yang menegaskan bahwa harapan sosial bisa berkontribusi untuk keberhasilan organisasi dan kelangsungan hidupnya.
Karakter teori institusi adalah adanya isomorphism process dalam organisasi, yaitu proses dimana organisasi mulai menjadikan dirinya sama seperti tuntutan yang ada di sekitarnya (DiMaggio dan Powell dalam Ahmad, 2015). Proses isomorphism diidentifikasi menjadi 3 (tiga) bentuk yaitu: coercive isomorphism, mimetic isomorphism dan normative isomorphism. Coercive isomorphism menunjukkan bahwa organisasi dipaksa untuk mengadopsi struktur dan aturan formal, terutama dari pemerintah. Mimetic isomorphisme yaitu organisasi
mengimitasi struktur dan nilai dari organisasi lain dalam lingkungan yang sama. Normatif isomorphism terjadi karena adanya tuntutan profesional dari organisasi profesi. Normative isomorphism dapat berasal dari banyak sumber. Menurut Di Maggio and Powell, normatif institusi termasuk lembaga pendidikan, asosiasi perdagangan, kelompok industri, dan opini publik. Teori institusional ini lebih menekankan pada pengaruh eksternal terhadap keberhasilan organisasi.
Beberapa peneliti menggunakan teori ini untuk membahas efektivitas auditor intern. Penelitian oleh Al-Twaijry, Brierley, dan Gwilliam (2003) menunjukkan bahwa peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan efektivitas auditor intern di Saudi Arabia. Selain itu Arena, Arnaboldi, dan Azzone (2006) juga mengatakan bahwa coercive, mimetic, dan normative isomorphism mempengaruhi efektivitas auditor intern.
Pada organisasi auditor intern pemerintahan, khususnya di inspektorat daerah, teori institusi ini dapat menjelaskan perubahan yang terjadi pada organisasi tersebut. Perubahan yang terjadi pada inspektorat daerah didominasi oleh aturan dan regulasi yang bersifat formal (proses coercive isomorphism). Selain itu, terdapat pengaruh normative isomorphism yang berasal dari organisasi profesi berupa standar audit dari Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI). 2.1.4. Efektivitas inspektorat daerah
Secara umum, efektif berarti tercapainya tujuan organisasi. Menurut Van Peursem dalam Ahmad (2015), pembahasan mengenai efektivitas auditor internal menjadi penting karena peran yang dapat diberikan oleh auditor internal yaitu menyediakan informasi yang diperlukan organisasi dalam meningkatkan
pengendalian, manajemen risiko, dan proses manajemen organisasi. Anthony dan Govindarajan (2007) menyebutkan bahwa efektivitas merupakan hubungan antara sebuah output dari pusat tanggung jawab dan tujuannya. Dittenhofer (2001) juga menerangkan efektivitas sebagai capaian tujuan menggunakan faktor-faktor pengukuran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan definisi-definisi tersebut, auditor intern yang efektif pada dasarnya ditunjukkan dengan seberapa besar capaian dibandingkan dengan harapan atau rencana yang ditetapkan sebelumnya.
Terdapat dua pendekatan dalam mendefinisikan konsep efektivitas auditor intern. Pendekatan pertama menyatakan bahwa efektivitas auditor intern ditentukan dengan kesesuaian audit dengan standar-standar universal dalam audit intern (Sawyer dalam Cohen dan Sayag, 2010). Pendekatan kedua menyebutkan bahwa efektivitas auditor ditentukan oleh evaluasi subjektif atas capaian tujuan yang telah ditentukan oleh manajemen. Dengan kata lain, kesuksesan auditor intern diukur berdasarkan ekspektasi dan harapan dari stakeholders terhadap auditor internal (Albrecht, Howe, Schueler, dan Stocks dalam Cohen dan Sayag, 2010).
Pendekatan kedua sejalan dengan definisi auditor intern yang dikeluarkan oleh The Institute of Auditor Intern (IIA) dalam Boynton, Johnson, dan Kell (2001) yaitu:
“Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control, and governance processes.
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 pasal 11 disebutkan bahwa perwujudan peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang efektif sekurang-kurangnya harus:
1) Memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah;
2) Memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah;
3) Memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah.
Oleh karena itu, perwujudan inspektorat daerah yang efektif harus bisa memberikan jaminan (assurance) atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas operasional pemerintah daerah dan mampu memberikan nilai tambah (added value) berupa kontribusi peningkatan pengendalian manajemen di pemerintah daerah.
2.1.5. Independensi organisasi
Bagi auditor intern, khususnya inspektorat daerah, independensi merupakan tantangan tersendiri. Tantangan tersebut muncul karena mereka menjalankan dua peran yang berbeda. Di satu sisi perannya membantu manajemen, namun di sisi lain mereka akan mengevaluasi kinerja manajemen. Independensi organisasi menjadi aspek yang penting agar kedua peran tersebut bisa dijalankan dengan baik.
Bou-Raad dalam Cohen dan Sayag (2010) menyebutkan bahwa kekuatan auditor internal bisa dinilai dari tingkat independensinya terhadap manajemen.
Beberapa organisasi profesi audit seperti IIA dan AICPA mengidentifikasi independensi sebagai faktor yang sangat penting bagi auditor internal dalam menjalankan fungsinya. Auditor harus mempunyai independensi yang cukup agar dapat melakukan kegiatannya tanpa intervensi dan tekanan dari manajemen.
Independensi adalah kebebasan dari kondisi yang mengancam kemampuan aktivitas audit intern untuk melaksanakan tanggung jawab audit intern secara objektif (AAIPI Standar, 2013). Arens, Elder, dan Beasley (2008) mendefinisikan independensi dalam audit berarti mengambil sudut pandang yang tidak bias. Mulyadi (2002) mendefinisikan independensi sebagai sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak bergantung pada orang lain. Untuk menjamin independensi organisasi APIP, Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SAIPI) menyebutkan; “posisi APIP harus ditempatkan secara tepat
sehingga bebas dari intervensi, dan memperoleh dukungan yang memadai dari pimpinan kementerian/ lembaga/pemda”. Struktur organisasi inspektorat dalam pemerintah daerah merupakan salah satu indikator dalam menjamin independensi inspektorat daerah.
2.1.6. Dukungan manajemen puncak
Manajemen puncak adalah sejumlah orang yang bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya organisasi. Salah satu peran manajemen puncak adalah memobilisasi sumber daya organisasi kepada manajemen di bawahnya. Oleh karena itu, manajemen puncak memerlukan keahlian konseptual lebih besar dibandingkan keahlian teknis.
Fernandez dan Rainey (2006) mengatakan bahwa dukungan dan komitmen manajemen puncak memainkan peranan penting dalam pembaharuan organisasi. Dengan dukungan manajemen puncak, auditor intern dapat memperoleh sumber daya yang cukup untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dan departemen audit intern bisa mempekerjakan staf yang berkualitas serta memberikan pelatihan yang berkesinambungan untuk pengembangan dukungan manajemen (Cohen dan Sayag, 2010).
Dalam organisasi pemerintah daerah, kepala daerah adalah manajer tingkat puncak. Peran kepala daerah sangat penting bagi keberhasilan organisasi. Bagi inspektorat daerah, dukungan manajemen puncak sangat penting untuk menjalankan kegiatannya. Komitmen kepala daerah terhadap pengawasan, alokasi pegawai yang berkualitas dan dana yang cukup merupakan beberapa indikator atas dukungan yang memadai dari manajemen puncak.
Dukungan manajemen puncak terhadap efektivitas inspektorat berupa: 1. Piagam Audit intern (intern audit charter)
Piagam audit intern merupakan dokumen formal yang mendefinisikan tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab aktivitas audit intern. Piagam audit intern menetapkan posisi aktivitas audit intern dalam organisasi; memberikan kewenangan akses terhadap catatan, personil, dan properti fisik yang relevan dengan penugasan; dan mendefinisikan ruang lingkup aktivitas audit intern. Inspektorat daerah yang memiliki dokumen piagam audit intern akan leluasa dalam melakukan kegiatan pengawasannya. Batasan-batasan dari auditee akan dapat
dihindari dengan adanya komitmen bersama yang ditandatangani dalam bentuk dokumen piagam audit intern tersebut.
2. Anggaran yang memadai
Fungsi audit harus mempunyai anggaran yang cukup tergantung pada ukuran tanggung jawab auditnya. Elemen ini seharusnya tidak ditinggalkan karena anggaran akan mempengaruhi kapasitas fungsi auditor dalam menjalankan tugasnya. Anggaran memegang peranan penting dalam menjaga efektivitas kinerja suatu instansi pemerintah, termasuk inspektorat daerah.
Dengan adanya dana yang cukup, inspektorat akan lebih mudah dalam memenuhi tugasnya, tidak dipengaruhi oleh pembiayaan dari auditee dan obyek audit lainnya. Mulyadi (2002) juga mengatakan bahwa hubungan keuangan dengan klien dapat mempengaruhi integritas, objektivitas, dan independensi.
2.1.7. Kepemimpinan
Katz dan Kahn dalam Steers (1985) mendefinisikan kepemimpinan sebagai tambahan pengaruh yang melebihi dan mengatasi kepatuhan mekanis pada pengarahan rutin organisasi. Kepemimpinan terjadi jika seorang individu dapat mendorong orang lain mengerjakan sesuatu atas kemauannya sendiri dan bukan mengerjakan karena wajib atau takut akan konsekuensi dari ketidakpatuhan. Unsur sukarela inilah yang membedakan kepemimpinan dari proses-proses pengaruh lainnya seperti wewenang dan kekuasaan.
Tery dalam Rofai (2006) merumuskan kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi, sedangkan Sedangkan Sutarto dalam Rofai (2006) mendefinisikan kepemimpinan
sebagai rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan orang lain, sehingga mereka bertindak dan berperilaku sebagaimana diharapkan terutama bagi tercapainya tujuan yang diinginkan. Kepemimpinan merupakan rangkaian kegiatan penataan yang diwujudkan sebagai kemampuan mempengaruhi orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. 2.1.8. Keahlian profesional
Untuk menjadi auditor inspektorat, diperlukan pendidikan yang memadai dan relevan terkait dengan tugas yang akan dijalankan. Individu tersebut harus melewati pendidikan dan pelatihan sehingga kompeten dalam bidang audit intern. Agar kemampuannya dapat diakui sepenuhnya, auditor harus mengikuti sertifikasi auditor yang diadakan oleh organisasi pembina Jabatan Fungsional Auditor (JFA), yaitu BPKP.
Setiap auditor wajib memiliki kemahiran profesionalitas dan keahlian dalam melaksanakan tugasnya sebagai auditor (Harjanto, 2014) karena salah satu bagian penggerak efektivitas atas segala tinjauan pada informasi yang diungkapkan, bersandar pada kualitas audit, dimana kualitas audit itu sendiri bergantung kepada keahlian auditor (Schelker dalam Naufal, 2014). Penyusunan staf yang sesuai pada departemen audit intern dan manajemen yang baik pada anggotanya merupakan
suatu kunci untuk menuju operasi efektif pada suatu audit intern (Cohen & Sayag, 2010).
Auditor intern harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lain yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Oleh karena kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis harus dilaksanakan terus menerus untuk meningkatkan kompetensi auditor intern.
2.1.9. Standar audit
Standar audit dimaksudkan untuk menjaga audit intern yang berkualitas sehingga siapapun auditor yang melaksanakan audit diharapkan menghasilkan suatu mutu hasil audit intern yang sama ketika auditor tersebut melaksanakan penugasan sesuai dengan standar audit yang berlaku. Standar audit intern merupakan kriteria atau ukuran mutu minimal untuk melakukan audit intern yang wajib dipedomani oleh auditor dan pimpinan APIP. Standar audit intern yang berlaku saat ini adalah Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SAIPI).
Inspektorat daerah yang melakukan kegiatan audit harus berpedoman kepada standar audit. Hal ini diperlukan untuk menjaga kualitas audit inspektorat. Efektivitas inspektorat daerah salah satunya diukur dengan adanya ketaatan audit terhadap standar-standar yang berlaku (Sawyer dalam Cohen & Sayag, 2010). 2.2. Pengembangan Hipotesis
2.2.1. Independensi organisasi dengan efektivitas inspektorat daerah
Independensi dalam audit berarti mengambil sudut pandang yang tidak bias (Arens et al., 2008). Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia menyebutkan bahwa independensi adalah kebebasan dari kondisi yang mengancam kemampuan
aktivitas audit intern untuk melaksanakan tanggung jawab audit intern secara objektif.
Independensi harus menjadi aspek utama dalam kegiatan inspektorat karena sangat berpengaruh terhadap efektivitasnya. Hasil penelitian Baharud-din et al., (2014) menunjukkan aspek tersebut. Kekuatan auditor intern bisa dinilai berdasarkan independensinya terhadap manajemen dan operasi organisasi (Bou-Raad dalam Cohen & Sayag, 2010). Auditor harus mempunyai independensi yang cukup dalam menjalankan kegiatannya karena akan berdampak pada kualitas kerja. Untuk mencapai tingkat independensi yang diperlukan dalam melaksanakan tanggung jawab aktivitas audit intern secara efektif, pimpinan APIP harus memiliki akses langsung dan tak terbatas kepada atasan pimpinan APIP (AAIPI, 2013).
Dengan demikian independensi organisasi akan meningkatkan efektivitas inspektorat daerah. Independensi ini akan menjadi kekuatan auditor dalam melakukan kegiatan terhadap seluruh bagian instansi pemerintah, tanpa ada batasan-batasan baik secara struktural maupun secara psikologis. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 1 (H1): Independensi organisasi akan berpengaruh positif terhadap efektifitas inspektorat daerah.
2.2.2. Dukungan manajemen puncak dengan efektivitas inspektorat daerah Berbagai referensi menyebutkan peranan penting manajemen puncak terhadap keberhasilan organisasi. Fernandez dan Rainey (2006) mengatakan bahwa dukungan dan komitmen manajemen puncak memegang peranan penting dalam
pembaharuan organisasi, sehingga manajer senior dapat mengatur staff dan sumber daya agar organisasi berjalan dengan baik.
Bagi inspektorat daerah, dukungan manajemen puncak sangat penting bagi efektivitas organisasinya. Bentuk nyata dari dukungan kepala daerah dapat berupa dukungan anggaran yang memadai, alokasi pegawai yang kompeten, dan keberpihakan kepala daerah terhadap pengawasan berupa dokumen piagam audit intern. Cohen dan Sayag (2010) mengatakan bahwa:
“Most obviously, the support of management is almost crucial to the operation and success of Internal Auditor”.
Oleh karena itu, hubungan antara inspektorat daerah dengan kepala daerah sangat penting bagi efektivitas inspektorat daerah. Kepala daerah harus merasakan pentingnya inspektorat daerah dan memastikan bahwa inspektorat daerah mempunyai sumber daya yang memadai untuk menjalankan perannya sebagai auditor intern. Dengan dukungan tersebut akan terwujud inspektorat daerah yang efektif. Peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 2 (H2): Dukungan manajemen puncak berpengaruh positif terhadap efektivitas inspektorat daerah.
2.2.3. Kepemimpinan dengan efektivitas inspektorat daerah
Kepemimpinan akan mempunyai hubungan langsung terhadap efektivitas inspektorat daerah. Pemimpin inspektorat daerah (inspektur) harus memiliki kemampuan pengetahuan yang tinggi tentang audit internal, kematangan organisasi dan keluasan pandangan sosial. Aspek tersebut akan membuat inspektur mampu mengendalikan keadaan yang kritis dan mempunyai keyakinan serta kepercayaan pada diri sendiri, mempunyai motivasi dan keinginan berprestasi yang datang dari
dalam serta mempunyai kemampuan menjalankan hubungan antar manusia. Thoha (1983) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perorangan maupun kelompok.
Inspektorat daerah yang efektif memerlukan pemimpin yang mempunyai pengetahuan akan standar audit yang diterapkan, mempunyai keahlian dalam bidang audit internal, mampu mengelola organisasi sekaligus membina hubungan baik dengan auditee dan manajemen puncak. Peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 3 (H3): Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap efektivitas inspektorat daerah.
2.2.4. Keahlian profesional auditor dengan efektivitas inspektorat daerah Agar dapat melaksanakan tugasnya, auditor inspektorat daerah harus memiliki pengetahuan dan keahlian yang memadai. Staf yang profesional dan pimpinan yang kompeten merupakan salah satu kunci untuk mencapai inspektorat yang efektif. Untuk mencapai hal tersebut, kegiatan pendidikan dan pelatihan harus diberikan kepada auditor inspektorat.
Suatu audit membutuhkan staf yang profesional, yang mempunyai tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman serta kualifikasi profesional untuk melakukan audit sesuai mandatnya (Al-Twaijry et all., 2003). Auditor harus mempunyai tingkat pendidikan dan pelatihan minimum sesuai standar yang ditetapkan. Setelah syarat itu terpenuhi, auditor intern bisa melaksanakan penugasan pengawasan. Pickett (2000) mengatakan bahwa pelatihan dan
pengembangan merupakan hal yang penting dalam menuju keberhasilan audit intern. Peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 4 (H4): Keahlian profesional auditor berpengaruh positif terhadap efektivitas inspektorat.
2.2.5. Standar audit terhadap efektivitas inspektorat daerah
Sesuai dengan mandat Pasal 53 PP 60 Tahun 2008, organisasi profesi auditor intern pemerintah harus menyusun standar audit intern. Standar ini merupakan kriteria atau ukuran mutu untuk melakukan kegiatan audit yang wajib dipedomani oleh aparat pengawasan intern pemerintah (APIP). Oleh karena itu, pada tahun 2013, organisasi profesi AAIPI menerbitkan Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SAAIPI). SAAIPI tersebut terdiri dari standar umum, standar pelaksanaan audit intern, dan standar komunikasi audit intern. Standar ini mengatur perilaku auditor secara objektif dan harus sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh asosiasi profesi ini.
Dengan berpedoman pada standar, efektivitas auditor pada inspektorat daerah akan dapat dijaga. Verifikasi terhadap kesesuaian pedoman dan standar harus senantiasa dilaksanakan. Kegiatan audit yang sesuai dengan standar audit intern memberikan kontribusi yang besar bagi efektivitas kegiatan audit (Glazer dan Jaenike dalam Hong dan Ngamkroectjoti, 2015). Dapat dikatakan bahwa semakin besar pemahaman dan pekerjaan sesuai standar, maka semakin besar capaian efektivitas auditor intern. Peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 5 (H5): Standar audit berpengaruh positif terhadap efektivitas inspektorat daerah.
2.3. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas inspektorat daerah menurut persepsi auditor intern pemerintah daerah digambarkan sebagai berikut:
X1 (+) X2 (+) X3 (+) X4 (+) X5 (+) Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Keterangan:
= Pengaruh secara parsial = Pengaruh secara simultan
Efektivitas Inspektorat Daerah (Y) Dukungan Manajemen Puncak Independensi Organisasi Kepemimpinan Standar Audit Keahlian Profesional