• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Agroindustri Sutera Alam

Agroindustri sutera alam merupakan salah satu kegiatan agroindustri yang mempunyai potensi untuk dikembangkan mengingat bahan bakunya tersedia di dalam negeri, teknologinya sederhana serta mempunyai potensi pasar yang masih sangat besar terutama untuk pasar lokal dan tidak terlepas kemungkinan untuk mengisi pasar ekspor. Industri ini mempunyai rangkaian kegiatan yang panjang; mencakup pemeliharaan ulat sutera/produksi kokon, pengolahan kokon/pemintalan, pertenunan sutera, pembatikan dan pakaian jadi. Perkembangan usaha IKM pemintalan dan pertenunan sutera alam pada tahun 2002-2005 disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan IKM Pemintalan dan Pertenunan Sutera Tahun 2002-2005

TAHUN NO Uraian 2002 2003 2004 2005 Rata-rata Pertum- buhan (%) 1 Unit Usaha (UU) 14.800 15.450 16.219

17.027 4,78 2 Tenaga Kerja (orang) 55.600 57.978 63.097

69.216 7,57 3 Nilai Produksi (Milyar Rp) 775 899 1.045

1.215 16,16 4 Nilai Bahan Baku (Milyar Rp) 495 580 678

797 17,21 5 Nilai Tambah (Miliar Rp) 280 319 367

418 14,26 Sumber : Depperin (2006c)

Alur proses agroindustri sutera alam mulai dari hulu ke hilir ditunjukkan pada Gambar 1. Bahan baku untuk benang disupplai oleh usaha pemelihara ulat sutera dengan aktivitas mulai dari penanaman pohon murbei, memelihara ulat sutera sehingga menghasilkan kokon. Filamen yang berasal dari kokon akan dipintal dengan mesin pemintal (reeling) yang menghasilkan benang. Selanjutnya benang akan dipasok ke industri pertenunan dengan hasil produksi akhir kain sutera yang berbentuk kain sutera grey, kain bermotif, kain sarung maupun kain tenun ikat. Kain

(2)

grey maupun kain bermotif dipasarkan kembali ke industri pakaian jadi maupun industri pembatikan, sedangkan kain tenun ikat dapat langsung dipasarkan ke konsumen. Sebagian kecil kain tenun sutera dipergunakan juga sebagai bahan baku untuk industri-industri kerajinan. Pasar dari produk tersebut ada yang diekspor, namun pasar terbesar adalah untuk dalam negeri.

Bahan Baku Pelaku Benang Sutera Kain Sutera

Produk-produk berbasis kain sutera 1. Baju Batik Sutera

2. Pakaian Jadi Sutera 3. Sarung Sutera

4. Lain-lain, seperti: Barang-barang Tekstil, Dasi, Dompet dan Souvenier

Catatan : Limbah kokon masih dapat dimanfaatkan (Spun Silk)

1.Perajin benang Sutera

2.Industri pemintalan 1.Ekspor 2. Industri berbasis benang 3. Industri Pertenunan 1.Ekspor 2.Industri berbasis kain sutera 1.Industri Pembatikan 2.Industri Konveksi 3.Industri Kerajinan 4.Industri Tenun Sarung 1.Ekspor 2. Domestik Petani/ Pemelihara Ulat Sutera Produk Pasar

Gambar 1. Alur Proses usaha Sutera Alam (Depperin, 2006b) Murbei

Ulat Sutera

(3)

2.2. Jenis-Jenis Murbei dan Pemeliharaan Ulat Sutera 2.2.1. Marga dan Jenis Murbei

Murbei termasuk marga Morus dari keluarga Moraceae. Berdasarkan morfologi bunga marga Morus dipilah-pilah menjadi 24 jenis (Atmosoedarjo et. al, 2000), yang kemudian ditambah dengan lima jenis lagi. Murbei pada dasarnya mempunyai bunga kelamin tunggal, meskipun kadang-kadang juga berkelamin rangkap.

Menurut Yamamoto (1985) dalam Atmosoedarjo et al. (2000) M. nigra adalah satu jenis murbei yang tersebar sangat luas, di antara 6 jenis murbei yang didatangkan dari Jawa ke Sulawesi, karena perakarannya yang sangat baik. Sesudah melalui beberapa percobaan pemupukan, maka dipilih M. alba untuk disebarluaskan, karena menghasilkan daun banyak dan berkualitas tinggi. Dalam percobaan yang sama M. multicaulis menghasilkan daun banyak juga, kendati tanpa pemupukan, akan tetapi daunnya sangat kasar.

2.2.2 Beberapa jenis murbei di Indonesia dan kegunaannya

Ciri-ciri untuk mengenal jenis murbei, yang banyak ditanam dan daunnya digunakan sebagai pakan ulat sutera di Indonesia, secara ringkas adalah sebagai berikut :

a. M. nigra

Dikenal dengan nama "murbei hitam", atau jenis "nigra". Berupa perdu, yang dapat mencapai ketinggian sampai 1,5 meter, kalau sudah dewasa. Warna batangnya hijau kecoklat-coklatan, adakalanya coklat hitam kalau sudah tua. Bentuk daunnya lonjong dan lancip ujungnya, dengan panjang antara 5 - 10 cm atau lebih, tergantung dari daerah tumbuhnya. Daunnya berwarna hijau tua, permukaannya halus dan adakalanya bercelah/berlekuk dalam dan cabangnya banyak. Stek yang berusia lebih dari 9 - 12 bulan mempunyai 10 cabang atau lebih, apalagi kalau sudah pernah dipangkas.

Buahnya berwarna merah jambu, ketika masih muda, dan hitam, kalau sudah tua. Bunga dan buah akan banyak kalau tanaman sudah mencapai umur lebih dari 8 bulan (langsung dari stek), atau sudah lebih dari 2 bulan setelah pemangkasan.

(4)

b. M. multicaulis

Dikenal dengan nama "murbei multi", atau "murbei besar". Berupa perdu, yang cepat besar dan tinggi. Warna batang coklat, atau coklat kehijau-hijauan. Daunnya sangat besar, membulat dan permukaannya bergelombang, sedang pinggiran daun bergerigi. Cabangnya tidak banyak, paling-paling antara 2 - 4 cabang saja. Setiap cabang cepat memanjang dan membesar. Buahnya berwarna merah, yang keluar pada waktu stek baru ditanam, atau batangnya baru dipangkas. Buahnya jarang didapat pada cabang atas. Sekarang banyak ditanam untuk makanan ulat, karena bentuk daunnya yang besar dan kecepatan tumbuhnya. Tetapi sangat disayangkan, bahwa pucuk-pucuknya mudah dan cepat sekali diserang hama serangga, atau penyakit bakteria, virus atau jamur, sehingga bentuknya menggulung atau rusak. c. M. australis

Dikenal dengan nama "murbei pagar", atau "murbei kecil", mengingat sering ditanam sebagai pagar dan daunnya kecil-kecil. Sifat hidupnya hampir sama dengan M. nigra, hanya batangnya berwarna coklat kekuning-kuningan dan dapat mencapai ketinggian sampai 3 - 5 meter, berupa pohon. Kalau sudah berumur 10 tahun lebih, dari satu batang dapat tumbuh sampai 50 cabang yang lebat dengan daun, sehingga setiap musim (3 - 4 bulan sekali) dari satu pohon yang sudah tua bisa didapat 2 - 4 kwintal daun.

Sekarang banyak ditanam sebagai batang bawah, yang bagian atasnya disambung dengan okulasi, dengan jenis nigra atau multi. Hal ini mengingat akan daya tumbuhnya, yang besar dan kuat, dan tahan terhadap pergantian musim, atau cuaca dan penyakit.

d. M. alba

Dikenal dengan nama "murbei buah", karena pada umumnya ditanam untuk diambil buahnya, seperti di sekitar Lembang, Tawangmangu, dsb. Berbeda dengan jenis-jenis murbei di atas, jenis ini tidak digunakan untuk pakan ulat, karena selain tumbuhnya terbatas, daun yang dapat dipungut sangat sedikit, apalagi kalau tiba waktunya berbuah.

Sifat yang sangat mencolok dari jenis ini adalah tentang buku, atau ruas batangnya yang pendek-pendek dan pertumbuhannya yang tidak ke atas, melainkan ke samping. Bentuk daunnya seperti murbei nigra, atau murbei pagar, tetapi lebih

(5)

kecil lagi. Tinggi pohon, kalau tumbuh di daerah dingin, dapat sampai 1,5 meter, tumbuh rimbun dan banyak bercabang.

e. M. Alba var. macrophylla

Jenis ini belum begitu dikenal di Indonesia. Tetapi di beberapa tempat, terutama di Sumatera, ditanam orang bukan untuk daun atau buahnya, melainkan untuk batangnya, yang baik untuk dibuat alat-alat perabot rumah-tangga, atau olah-raga. Daunnya mempunyai bentuk yang sangat mencolok, yaitu mempunyai lekukan yang dalam dan permukaannya sangat kasar, seperti ampelas. Karena itu tidak heran kalau di beberapa daerah ditanam "murbei ampelas", karena memang sering dipakai untuk mengampelas kulit muka supaya halus.

Batangnya berwarna putih dan beruas panjang-panjang. Tumbuh sangat cepat dan subur, sehingga dalam waktu singkat bisa melebihi 3 meter tingginya. Bentuk batangnyapun tidak berbeda dengan tumbuhan tinggi lainnya, seperti yang tumbuh di Kebun Raya Bogor, atau di hutan-hutan pulau Andalas.

f. M. bombycis

Walaupun jenis murbei ini belum lama ditanam di Indonesia, tetapi sekarang banyak ditanam orang, dengan bibit dari Jepang. Di Jepang jenis yang terkenal dengan nama "ichinose" ini merupakan jenis murbei terkemuka untuk pakan ulat sutera. Bentuk batangnya tidak berbeda dengan murbei multi, tetapi pertumbuhan daunnya sama seperti murbei-nigra. Permukaan daun sangat halus, sehingga tak terasa adanya gelombang apalagi lekukan pada permukaan daun, yang umum terdapat pada jenis-jenis lain.

(6)

Gambar 2. Berbagai Jenis Murbei yang digunakan sebagai Pakan Ulat Sutera di Indonesia (Atmosoedarjo et al. 2000).

2.2.3 Pemeliharaan Ulat Sutera

Bibit ulat sutera berupa telur ulat sutera yang dikembangkan dari jenis unggul yaitu bivoltine. Pada saat sekarang telur diproduksi dan dikembang-biakkan oleh Perum Perhutani yang berlokasi di Candiroto dan Soppeng, dengan produksi riil sebanyak 25.000 kotak per tahun yang dapat menghasilkan kokon. Menurut Atmosudardjo et al. (2000), pemeliharaan ulat sutera sudah dimulai di China sejak berabad-abad yang lalu. Leluhurnya adalah Ulat sutera liar, Bombyx mandarina, yang ditemukan di pohon murbei di China, Jepang dan negara lain di Asia Timur.

Pemeliharaan ulat sebanyak enam kali, atau delapan kali tiap tahun, bahkan mungkin lebih, di negara kita dapat dilakukan, asal dapat mengatur waktu penanaman dan waktu pemangkasan di beberapa bagian kebun murbei, dengan perhitungan, bahwa sembilan bulan sebelum pemeliharaan ulat dimulai, harus sudah selesai menanam dan menyediakan tanaman murbeinya. Dengan perhitungan waktu tersebut,

Morus alba

Morus nigra Morus multicaulis. Morus australis.

M. alba var. macrophylla

(7)

maka tinggal mengatur berapa kali pemeliharaan akan kita lakukan setiap tahun, agar persediaan daun cukup banyak dan pemeliharaan ulat sutera tidak terlantar. Kecuali itu, di samping kebun-kebun, yang sudah termasuk di dalam rencana, harus disediakan pula kebun persediaan, atau kebun bandingan, untuk persediaan kalau kebun-kebun biasa terkena hama, atau ada gangguan lain. Pemeliharaan ulat sebanyak 12 kali setiap tahun, di negara kita dapat saja dilakukan, asal tersedia paling sedikit empat bagian kebun murbei yang berlainan waktu mulai ditanamnya, dan sedikitnya harus ada dua tempat pemeliharaan. Kalau satu tempat pemeliharaan dipakai, yang lain dibersihkan, dan sebaliknya. Tetapi cara pemeliharaan 12 kali tiap tahun akan memerlukan persyaratan kerja, alat-alat dan pengawasan yang sangat ketat, agar tidak mengakibatkan kegagalan atau kerugian (Atmosoedarjo et al. 2000).

Produksi kokon berpotensi besar karena cepat memberikan hasil dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Teknologi yang digunakan sederhana dan dapat dilakukan sebagai usaha utama maupun sebagai usaha tambahan atau sampingan. Pekerjaan-pekerjaan dalam usaha agroindustri ini dapat dilakukan oleh pria, wanita dewasa maupun anak-anak. Kegiatan tersebut bersifat padat karya sehingga dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat yang menguntungkan dan dapat pula dijadikan ajang untuk mengentaskan kemiskinan di pedesaan. Pada tahun 2005 posisi perkembangan usaha pengolahan kokon meliputi 11.867 petani (KK), luas tanaman murbei 9.526 ha dan menghasilkan kokon sebanyak 7.129,5 ton. (Depperin, 2006b).

(8)

2.3. Industri Pemintalan Sutera Alam

Industri pemintalan sutera menggunakan alat pintal (reeling) baik dengan sistim manual dan semi mekanis maupun dengan sistim semi otomatis. Sentra utama industri pemintalan benang sutera terdapat di Sulawesi Selatan (Kab. Enrekang, Soppeng dan Wajo) dan Jawa Barat (Kab. Garut, Tasikmalaya, Bogor dan Cianjur). Sentra penghasil benang sutera lainnya adalah (1) Jawa Tengah tersebar di Kabupaten Pemalang, Jepara, Pekalongan, Pati, Wonosobo dan Banyumas, (2) DI Yogyakarta tersebar di Sleman dan Kota Yogyakarta, (3) Bali: Badung dan Tabanan, (4) NTB di Lombok Barat, (5) NTT: Timor Timur Selatan, (6) Lampung tersebar di Lampung Barat, (7) Sumatera Selatan tersebar di Kabupaten OKU, (8) Sumatera Barat tersebar di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten 50 Kota. (9) Sumatera Utara tersebar di Kabupaten Deli Serdang dan Simalungun.

Jumlah industri pemintalan sutera sekitar 2.363 unit usaha, menyerap tenaga kerja sebanyak 7.796 orang. Produsen benang sutera terbesar Indonesia adalah Sulawesi Selatan, namun seluruh produksi belum mampu memenuhi kebutuhan benang sutera nasional. Untuk mengisi kekurangan benang sutera tersebut diatasi dengan mengimpor benang sutera dari China, Thailand, Vietnam dan India. (Depperin, 2006b)

Gambar 4. Mesin Reeling (pemintalan) Sutera Otomatis, Mesin Reeling Sutera

Konvensional dan Benang Sutera Hasil Reeling.

2.4. Industri Pertenunan

Industri pertenunan sutera menggunakan peralatan yaitu sistem gedogan, alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun mesin (ATM). Pada saat ini terdapat 14.764 unit usaha industri pertenunan sutera yang memperkerjakan 66.986 tenaga

(9)

kerja dengan nilai produksi sebesar Rp 1.063 miliar atau setara dengan 26 juta meter. Sentra utama yang memproduksi kain sutera terdapat di Sulawesi Selatan sebanyak 9.387 unit usaha atau 64% dari potensi nasional, sedangkan daerah lain yang memproduksi kain sutera adalah Jawa Barat (Majalaya, Tasikmalaya, dan Garut), Jawa Tengah (Jepara, Pemalang dan Pekalongan), DI Yogyakarta (Sleman) dan Bali (Tabanan dan Badung).

Gambar 5. Alat Tenun Bukan Mesin dan Kain Sutera Produksi Thailand.

2.5. Industri Pembatikan

Batik adalah produk seni rupa Indonesia hasil pewarnaan rintang dengan menggunakan lilin batik sebagai bahan perintangnya. Karena itu dilihat dari teknik pembuatannya, batik melalui tiga pokok tahapan proses yaitu :

1. Pelekatan lilin batik sebagai media penerapan ragam hias pada kain 2. Pewarnaan

3. Penghilangan/pelepasan lilin batik

Teknik aplikasi pelekatan lilin batik sesuai motifnya dapat dilakukan dengan alat canting tulis, canting cap atau kombinasi keduanya. Dengan cara pelekatan lilin batik tersebut, produk batik dapat digolongkan sebagai batik tulis, batik cap dan batik kombinasi tulis dan cap. Bahan baku untuk batik dapat digunakan kain yang terbuat dari serat alam maupun serat buatan. Kain dari serat alam termasuk kain sutera.

Pewarnaan dapat dilakukan dengan cara pencelupan maupun kuwasan/ coletan, sedangkan penghilangan lilin batik dilakukan pada tengah proses dan pada akhir proses. Penghilangan lilin pada tengah proses dapat dilakukan lebih dari satu kali disesuaikan dengan banyaknya warna yang diinginkan.

(10)

Sentra utama industri pembatikan sutera terdapat di Jambi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung dan Bali. Pada tahun 2005 jumlah industri kecil menengah batik sebesar 40.549 unit usaha, menyerap tenaga kerja sebanyak 703.560 orang dengan nilai produksi sebesar Rp. 2.506 milyar. Industri penghasil batik dunia adalah Indonesia meskipun saat ini telah banyak negara khususnya di Asia mulai memproduksi batik. Penghasil batik terbesar setelah Indonesia antara lain Malaysia, Singapore, dan bahkan Thailand juga telah mulai memproduksi batik. Industri batik Indonesia yang menggunakan sutera sebagai bahan bakunya sekitar 15%.

Gambar 6. Proses Pembatikan dengan Cap dan Tulis serta Kain Batik.

2.6. Pemasaran

Pada umumnya pasar produk sutera di dalam negeri. Produk sutera di distribusikan mulai dari petani kokon ke sentra-sentra industri pemintalan kemudian benangnya dijual ke pelaku usaha industri pertenunan sutera. Secara tradisional sudah terbentuk jaringan distribusi pemasaran dengan pendekatan market operation, artinya pemasaran produk sutera telah berjalan sesuai mekanisme pasar.

Permintaan kain sutera oleh industri pembatikan sekitar 1 juta meter atau setara 200 ton benang sutera per bulan, permintaan kain sutera untuk industri gaun pengantin, interior, garmen dan produk jadi lainnya di dalam negeri cukup besar. Di samping tujuan pasar dalam negeri, produk sutera juga di ekspor ke Jepang, Italia, Perancis dan Amerika Serikat. Ekspor produk sutera alam dari tahun 2001 s/d 2005 ditunjukkan pada Gambar 7.

(11)

-2.000.000,00 4.000.000,00 6.000.000,00 8.000.000,00 10.000.000,00 12.000.000,00 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun US $ Kokon Benang Kain

Gambar 7. Grafik Perkembangan Ekspor Produk Sutera (Depperin 2006b) Realisasi produksi benang dan kain sutera dalam negeri belum memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sehingga kekurangannya diimpor. Impor benang sutera pada tahun 2005 mencapai US$. 1.365.320,00 dan impor kain sutera pada tahun yang sama mencapai US$.1.135.998,00. Perkembangan impor produk-produk persuteraan alam pada tahun 2001 s/d 2005 ditunjukkan pada Gambar 8.

-500.000,00 1.000.000,00 1.500.000,00 2.000.000,00 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun US $ Kokon Benang Kain

Gambar 8. Grafik Perkembangan Impor Produk Sutera (Depperin 2006b)

2.7. Prospek Pengembangan

Persuteraan alam Indonesia merupakan kelompok agro-industri yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena memiliki berbagai keunggulan antara lain sebagai berikut :

(12)

ketinggian 400-800 meter di atas permukaan laut untuk menghasilkan murbei dan kokon yang baik.

2. Produk sutera memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak digemari masyarakat tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

3. Usaha persuteraan alam dapat dikelola masyarakat pedesaan secara luas, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat secara cepat untuk segera mengurangi masalah kemiskinan dan dapat mengembangkan ekonomi kerakyatan.

4. Permintaan pasar produk sutera baik oleh pasar domestik maupun ekspor dari tahun ke tahun cenderung meningkat seperti raw silk, yarn silk dan grey fabrics.

Perkembangan kebutuhan benang sutera dunia meningkat dari tahun 2002 sebesar 92.742 ton dan pada tahun 2005 mencapai 118.000 ton atau meningkat 27,3 %. Sedangkan Indonesia hanya mampu menghasilkan benang sutera rata-rata 78 ton per tahun. Demikian pula dengan barang-barang jadi sutera seperti finishing silk fabrics (dyed maupun printed), ready made garment, made up goods dan bahan-bahan untuk interior dan dekorasi pasarannya cukup baik untuk tujuan pasar dalam negeri dan ekspor.

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan persuteraan alam, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, maupun untuk memenuhi pasar global. Diharapkan dalam waktu tidak terlalu lama usaha persuteraan alam dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam perekonomian nasional. Hal ini akan segera terwujud apabila pengembangan persuteraan alam nasional dikelola dengan cermat dan konsepsional oleh instansi pembina dan para stakeholders.

2.8. Konsep Klaster

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2005-2009) mengamanatkan bahwa lima tahun ke depan fokus pengembangan industri diarahkan kepada pengembangan 10 klaster industri antara lain kelompok industri tekstil produk tekstil. Definisi mengenai klaster antara lain sebagai berikut :

1. Depperin (2006e), mendefinisikan klaster sebagai kelompok yang secara geografis berdekatan, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan dan institusi-institusi terkait dalam bidang tertentu, yang dihubungkan dengan adanya

(13)

kebersamaan (commonalities) dan sifat saling melengkapi (complementaries)

satu sama lain.

2. Porter (1998a), menyatakan bahwa klaster adalah suatu kelompok perusahaan yang saling terkait satu dengan lainnya (interconnected) memiliki asosiasi

kelembagaan dalam satu bidang tertentu yang saling melengkapi, kompetitif dan kooperatif.

3. Morosini (2003) menyatakan “An industrial cluster is a socioeconomic entity characterized by a social community of people and a population of economic agents localized in close proximity in a specific geographic region. Within an industrial cluster, a significant part of both the social community and the economics agents work together in economically link activities, sharing and nurturing a common stock of product, technology and organizational knowledge in order to generate superior products and services in the marketplace.”

4. Doeringer dan Terkla (1995) memberi definisi sebagai “Geographical concentration of industries that gain performance advantages through co-location”.

5. Definisi yang digunakan oleh UNIDO (OECD 1999) adalah: “The term cluster is used to indicate a sectoral and geographical concentration of enterprises which, first, give rise to external economics (such as the emergence of specialized suppliers of raw materials and component or the growth of a pool of sector specific skills) and, second, favours the rise of specialized services create a conducive ground for the development of a network of public and private local institutions which support local economic development by promoting collective learning and innovation through implicit and explicit co-ordination”.

6. Cooke (2001) mendefinisikan klaster dengan: “Geographically proximate firms in vertical and horizontal relationships, involving a localized enterprise, support infrastructure, with a shared developmental vision for business growth, based on competition and co-operation in a specific market field”.

7. Bregman and Feser ( 2000) mendefinisikan “An industry cluster is a group of business enterprises and non business organization (industry associations, technical and community colleges with specialized industry programs, network brokers, and the like) for whom membership within the group is an important

(14)

element of each member firm’s individual competitiveness”. Binding the cluster together are “buyer-supplier relationships, or common technologies, common buyers or distribution channel, or common labor pools”.

8. Ketels (2004) dalam Sa’id dan Rahayu (2006), menyatakan bahwa klaster merupakan suatu terminologi yang digunakan untuk menggambarkan suatu kelompok perusahaan, universitas dan lembaga-lembaga lainnya, misalnya dalam bidang produksi otomotif, pengolahan pangan atau turisme, yang secara geografik berada dalam lokasi yang berdekatan. Karena lokasinya yang berdekatan satu sama lainnya tersebut, maka perusahaan-perusahaan di atas dapat mengambil manfaat dari peningkatan perekonomian daerah, yang memungkinkan mereka menciptakan nilai tambah bagi para pelanggan bisnisnya.

Knorringa dan Meyer (1998) menyatakan bahwa klaster industri yang terdapat di negara-negara berkembang pada umumnya adalah klaster yang masih pada tahapan embrio dengan skala yang masih sangat kecil dan hanya memproduksi barang-barang konsumsi yang berkualitas rendah. Klaster ini hanya melakukan spesialisasi horizontal dan belum melakukan pembagian pekerjaan sebagaimana yang terdapat dalam suatu rantai nilai (value-chain). Manfaat aglomerasi yang diperoleh baru berupa kemudahan untuk dapat bertemu dengan calon pembeli dan terdapatnya pool dari tenaga kerja. Klaster demikian ini disebut sebagai "survival cluster". Klaster jenis ini sebagian besar bersifat stagnan, sehingga akan tetap hanya berupa aglomerasi dari sekumpulan perusahaan yang kurang mendapatkan manfaat dari terbentuknya klaster.

Meskipun di negara-negara berkembang pembangunan industri melalui pendekatan klaster belum terlalu maju, namun beberapa pengalaman di berbagai negara memperlihatkan bahwa wilayah-wilayah dimana terdapat klaster-klaster industri telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Penelitian Porter (1998a) memperlihatkan bahwa sejumlah kecil klaster industri biasanya merupakan kontributor terbesar dari kegiatan ekonomi di suatu wilayah geografis dan juga merupakan pemberi kontribusi terbesar untuk kegiatan ekspor ke luar daerahnya.

Dalam penelitian ini definisi yang dipakai adalah yang digunakan oleh Depperin (2006e) meskipun pelaku tidak terkonsentrasi semua secara geografis. Bila melihat definisi klaster industri yang telah diuraikan di atas, maka klaster industri

(15)

dapat menciptakan suatu competitive advantages dilihat dari beberapa terminologi kunci (Depperin, 2006e), yaitu:

1. Klaster industri melibatkan perusahaan-perusahaan yang saling berhubungan dan terkait dengan supplier yang terspesialisasi, service providers, dan lain- lain. Klaster industri merupakan associated institutions

2. Keterlibatan dan partisipasi dari universitas, asosiasi, dan LSM diperlukan untuk melakukan penelitian, pelatihan tenaga kerja dan konsultasi untuk pemantapan klaster.

3. Klaster industri memiliki konsentrasi geografi untuk memudahkan pengembangan dan akses antar pelaku yang terlibat dalam klaster.

4. Klaster dan komponen-komponen lainnya yang berasosiasi dan terkonsentrasi dalam wilayah geografis memungkinkan terjadinya interaksi dan efisiensi yang dapat dikembangkan antara perusahaan yang berhubungan dan juga menyediakan akses pada tenaga kerja yang lebih terspesialisasi. Perusahaan dalam klaster berkompetisi tetapi juga berkooperasi. Secara individual, perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam klaster industri berkompetisi satu dengan yang lain tetapi juga menunjukkan suatu kerjasama. Karena tanpa kooperasi, suatu wilayah tidak memiliki klaster industri.

Semua komponen dalam klaster berperan secara sinergi sepanjang mata rantai nilai. Setiap perusahaan secara inheren merupakan bagian dari klaster, oleh karena keunggulan kompetitif tidak hanya ditentukan oleh satu perusahaan sendiri. Peningkatan efisiensi pada tingkat perusahaan sangat penting, tetapi dalam persaingan global hal tersebut tidaklah cukup.

Menurut Depperin (2006e), pengembangan klaster industri meliputi perencanaan bisnis dari sekumpulan industri (industri inti ditunjang industri terkait dan industri pendukung) yang diintegrasikan sepanjang rantai nilai dan didukung oleh adanya kelembagaan. Ada lima elemen kunci dari suatu klaster yaitu (1) Pengelompokan (clustering), (2) Adanya mata rantai nilai, (3) Memiliki industri inti, (4) Memiliki keterkaitan baik secara vertikal maupun secara horizontal, dan (5) Adanya kelembagaan.

Menurut Anderson (2004), klaster saat ini merupakan alat yang sangat penting untuk meningkatkan industri, menciptakan temuan-temuan baru, meningkatkan daya

(16)

saing dan pertumbuhan industri. Disamping upaya-upaya yang telah dilakukan oleh sektor swasta dalam pengembangan klaster peran dari pelaku-pelaku lainnya juga cukup penting misalnya pemerintah dan instansi-instansi terkait lainnya baik regional maupun nasional.

Konsep klaster seharusnya diarahkan dan digunakan berdasarkan kompetensi bagaimana mengatur dan mensosialisasikannya tapi bukan menetapkan untuk distandarkan. Ada tujuh elemen yang perlu diidentifikasi dalam pengembangan klaster yaitu : (1) konsentrasi geografis, (2) industri inti dan menetapkan spesialisasi dari klaster, (3) pelaku-pelaku, (4) keterkaitan (linkages), (5) critical mass (6) cluster life cycle, (7) inovasi. Namun demikian tidak harus semua elemen tersebut terpenuhi untuk setiap klaster spesifik.

Kekuatan daripada klaster terletak pada konsep keterkaitan klaster itu sendiri dengan persepsi-persepsi yang menguntungkan. Klaster industri merupakan bentukan organisasi industri yang paling sesuai guna menjawab tantangan globalisasi, tuntutan desentralisasi, dan sekaligus mendorong terbentuknya jaringan kegiatan produksi dan distribusi serta pengembangan pengusaha kecil, menengah dan koperasi untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya.

Tambunan (2001), menyatakan bahwa dalam menyusun strategi pengembangan, harus dapat (1) menciptakan keterkaitan produksi antar sektor pertanian dengan sektor agroindustri dan keterkaitan antar unit produksi di dalam satu industri secara kuat; (2) pengembangan spesialisasi berdasarkan faktor keunggulan komparatif dan kompetitif dan (3) pendalaman struktur industri (diversifikasi). Lebih lanjut dinyatakan bahwa untuk mencapai pengembangan industri tersebut, klaster industri merupakan salah satu strategi pengembangan yang tepat.

Porter (1998a) menjelaskan bahwa konsep klaster menunjukkan pola berpikir tentang ekonomi nasional dan menggambarkan peran baru bagi perusahaan, pemerintah dan institusi lainnya dalam upaya peningkatan daya saing. Selanjutnya, menurut Porter (1994), keterkaitan adalah hubungan antar suatu aktivitas dengan aktivitas lain. Keunggulan bersaing adalah pelaksanaan suatu aktivitas secara lebih murah atau lebih baik dari pesaing.

Keterkaitan dapat menghasilkan keunggulan bersaing melalui optimalisasi dan koordinasi. Keterkaitan sering mencerminkan trade off antar aktivitas untuk

(17)

mencapai keseluruhan tujuan. Sebagai contoh, spesifikasi bahan baku yang lebih berkualitas akan memunculkan harga pembelian yang lebih mahal, akan tetapi akan menurunkan biaya produksi dan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, keterkaitan tersebut perlu dioptimalkan. Keterkaitan mungkin pula mencerminkan kebutuhan untuk koordinasi antar aktivitas. Secara garis besar dapat dijelaskan bahwa pengembangan industri dengan pendekatan klaster banyak memiliki keunggulan antara lain :

a. Meningkatkan daya saing dan meningkatkan nilai tambah para anggota klaster, juga akan menumbuhkan inovasi yang berkelanjutan bagi setiap anggota klaster dan memiliki posisi tawar menawar yang kuat. Inovasi akan muncul karena pada dasarnya konsep klaster memberikan peluang yang besar bagi para anggota untuk melaksananakan proses pembelajaran. Perusahaan tertentu akan belajar pada perusahaan lainnya yang memiliki keunggulan atau kemajuan, sebaliknya perusahaan yang unggul perlu terus memacu keunggulan yang telah dimiliki agar memiliki daya saing yang berkelanjutan. Begitu pula, dalam konteks yang lebih luas bahwa klaster industri juga dapat belajar pada klaster industri lainnya yang lebih maju baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri.

b. Karena banyak perusahaan dalam klaster memerlukan tenaga dengan keterampilan yang sama, maka akan terjadi perpindahan tenaga kerja antar perusahaan dalam klaster yang berakibat terjadinya transfer pengetahuan kepada perusahaan yang menerima tenaga kerja tersebut. Hal ini akan meningkatkan persaingan, yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan. Pertumbuhan ini dapat memperdalam integrasi vertikal ataupun integrasi horizontal dari klaster tersebut.

c. Doeringer dan Terkla (1995) menjelaskan bahwa manfaat yang diperoleh dari aglomerasi sangat berperan dalam perkembangan klaster. Perusahaan yang berlokasi saling berdekatan, akan mendapat manfaat berupa biaya transportasi dan biaya transaksi yang lebih rendah serta mendapatkan akses yang lebih mudah untuk memperoleh tenaga kerja yang diperlukan. Aglomerasi juga akan mendorong persaingan melalui transfer dari informasi serta pengetahuan dan teknologi di antara perusahaan yang saling terkait. Transfer pengetahuan dan teknologi ini dapat memunculkan industri baru yang menyebabkan klaster

(18)

menjadi lebih besar dan tumbuh. Selain itu munculnya kerjasama sesama anggota dalam klaster antara lain disebabkan oleh karena : ”common customers, common suppliers and service providers, common infrastructures, common pool of human talent, common educational, common universities, research center and technology institute, and common risk capital markets.” (Morosini, 2003).

d. Porter (1990) menyampaikan argumentasinya, bahwa adanya persaingan merupakan kekuatan yang mendorong perkembangan klaster. Pembentukan klaster (clustering) merupakan suatu proses yang dinamis, yang pertumbuhan satu perusahaan yang memiliki daya saing pada klaster tersebut akan membangkitkan kebutuhan akan adanya industri terkait lainnya pada klaster dimaksud. Dengan berkembangnya klaster, akan terjadi sistem yang saling memperkuat dimana manfaatnya akan mengalir ke depan dan ke belakang pada seluruh industri yang terdapat dalam klaster. Porter (1990) berpendapat bahwa persaingan antara perusahaan dalam klaster akan mendorong pertumbuhan karena persaingan akan memaksa perusahaan dalam klaster untuk lebih inovatif dan didorong untuk melakukan perbaikan serta menciptakan teknologi baru. Keadaan ini dapat mendorong terjadinya spin off, menstimulasi kegiatan penelitian dan pengembangan dan mendorong diterapkannya keterampilan dan jenis pelayanan yang baru.

e. Cheney (2002) menguraikan manfaat yang diperoleh dari klaster sebagai berikut: 1) Iklim persaingan antar perusahan dalam klaster memacu dan memaksa

perusahaan ke arah diversifikasi produk dan penciptaan-penciptaan produk baru baik di dalam klaster tersebut maupun klaster-klaster lainnya. Persaingan perlu tetap berlangsung karena apabila perusahaan berhenti bersaing, maka industri tersebut akan stagnan.

2) Munculnya pendatang baru dalam klaster memungkinkan terjadinya peningkatan diversifikasi dan inovasi melalui penelitian dan pengembangan serta memperkenalkan strategi dan keterampilan baru.

3) Aliran informasi secara cepat, bebas dan menyebar kepada para pemasok, dan melalui supply chain kepada para pelanggan. Faktor paling penting yang diperoleh melalui klaster adalah informasi, dan hasil dari berbagai informasi sesama anggota klaster adalah pengurangan biaya, differensiasi, kemajuan

(19)

teknologi dan ruang gerak yang lebih baik dalam rantai nilai.

4) Cara-cara baru untuk bersaing dan kesempatan baru untuk diverifikasi, baik melalui penghematan biaya, penurunan harga maupun melalui operasi yang lebih efektif dapat diperoleh dari interkoneksi di dalam klaster.

5) Klaster akan mendorong pertumbuhan dan berperan dalam menimbulkan dorongan untuk diferensiasi dan membantu mengatasi sikap yang hanya fokus ke dalam, tidak fleksibel dan sikap cepat puas dengan apa yang telah dicapai, yang merupakan ciri-ciri perusahaan yang sudah mendekati akhir kurva pertumbuhannya (maturing industries).

f. Menurut Mitsui (2003), pada awalnya dianggap bahwa ekonomi regional hanya tergantung kepada sumber daya alam, lokasi, dan biaya murah. Namun banyak daerah yang perekonomiannya meningkat meskipun mempunyai kekurangan dalam hal tersebut di atas (traditional comparative advantage) misalnya Silicon

Valley yang berhasil karena penemuan-penemuan baru di bidang teknologi informasi dan Jepang negara yang sangat kekurangan sumber daya alam berhasil mengembangkan industri dengan kemampuan kelas dunia. Keberhasilan ekonomi seperti ini digerakkan oleh klaster industri.

Namun demikian pengembangan industri melalui pendekatan klaster mempunyai beberapa kelemahan. Morosini (2003) melihat bahwa kedekatan geografis usaha yang ada dalam klaster dapat menimbulkan terjadinya pembajakan tenaga kerja terlatih antar perusahaan, meningkatkan persaingan (meskipun di lain pihak kompetisi dapat menciptakan inovasi dan perpindahan dapat menciptakan transfer teknologi bagi usaha lainnya), penjiplakan teknologi maupun produk yang cepat, dan lain-lain.

Tidak semua perusahaan memiliki budaya untuk menjalankan proses pembelajaran sehingga diperlukan adanya agenda perubahan yang fundamental bagi setiap perusahaan yang akan menjalankan strategi klaster. Menurut Prahalad (1994) terdapat tiga agenda perubahan yang perlu dilakukan oleh perusahaan apabila ingin mengubah paradigma yaitu agenda intelektual, behaviour dan manajemen.

Rosenfeld (1995) mengkhawatirkan kebijakan pengembangan industri melalui pendekatan klaster dapat menyebabkan over-specialization dalam suatu ekonomi. Seluruh ekonomi di wilayah tersebut dapat terganggu apabila kebijakan tersebut

(20)

gagal dilaksanakan. Disamping itu, klaster industri lebih sesuai untuk perusahaan-perusahaan yang kecil, terutama karena suksesnya suatu klaster tergantung sikap saling percaya dan kerjasama yang baik antar anggota klaster. Padahal dalam kenyataannya, perusahaan-perusahaan multi nasional banyak mendominasi ekonomi saat ini dan perusahaan besar cenderung akan meremehkan rasa saling percaya yang diperlukan untuk suksesnya suatu klaster.

Selanjutnya, klaster industri hanya sesuai untuk daerah urban karena daerah pedalaman tidak memiliki skala yang diperlukan untuk berkembangnya suatu klaster. Kemajuan telekomunikasi tidak lagi memerlukan spatial clustering. Karena itu perusahaan tidak memperoleh keunggulan kompetitif dari kedekatan geografis.

Glasmeier dan Harrison (1997) menyatakan bahwa pengembangan klaster hanya sesuai untuk suatu daerah dimana sudah ada basis ekonomi yang beragam yang mampu mendukung pasar yang baru dan diversifikasi. Kritik selanjutnya adalah bahwa klaster industri hanya dapat menjawab perubahan permintaan pasar dan perubahan teknologi secara lambat dan incremental. Untuk perubahan-perubahan yang besar dan cepat, klaster cenderung akan menolaknya karena hal itu dapat berakibat perubahan drastis dari proses terdahulu yang telah pernah membawa sukses.

Melalui penelitiannya di Amerika Latin, Altenburg dan Meyer (1999) membuktikan bahwa terdapat beberapa bentuk klaster di negara berkembang antara lain :

a. "Survival cluster" merupakan bentuk klaster yang terbanyak, terdiri dari

perusahaan berskala usaha mikro dan usaha kecil. Klaster ini memproduksi barang-barang konsumsi dengan kualitas yang rendah dan pasarnya hanya sebatas lokal. Pada umumnya "barrier to entry"-nya rendah, produktivitas dan upah pada

perusahaan dalam klaster tersebut juga masih rendah.

b. "Klaster maju" yang melakukan produksi massal dan menghasilkan berbagai jenis barang seperti barang substitusi impor, tetapi pasarnya juga sebagian besar masih untuk pasar lokal dan belum banyak melakukan ekspor. Perusahaan yang terlibat dalam klaster ini terdiri dari berbagai skala mulai dari yang kecil sampai perusahaan yang berskala besar.

(21)

perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi barang yang mengandung muatan teknologi yang tinggi, seperti elektronika dan kendaraan bermotor. Jumlah klaster seperti ini belum begitu banyak dan didominasi oleh cabang dari perusahaan multi-nasional, yang melayani baik pasar dalam negeri maupun pasar internasional.

Dalam mengidentifikasi klaster, Porter (1998) merekomendasikan beberapa langkah yang dimulai dari suatu perusahaan yang besar atau suatu konsentrasi dari perusahaan-perusahaan serupa seperti sentra industri kecil menengah kemudian melihat keterkaitan ke depan (upstream) dan keterkaitan ke belakang (downstream) dalam rantai vertikal (vertical chain) perusahaan dan institusi. Langkah selanjutnya adalah melihat hubungan horisontal untuk mengidentifikasikan industri yang juga melalui saluran pemasaran bersama (common channels) atau yang memproduksi produk-produk yang bersifat melengkapi (complementary products).

Hubungan antara industri utama atau industri inti dengan semua industri vertikal merupakan pengembangan konsep sistem nilai (value system) yang dikembangkan oleh Porter (1994) dalam buku Competitive Advantage. Hubungan ini ditampilkan dalam Gambar 9.

Kotler et al. (1997) menjabarkan rantai nilai vertikal dan horisontal tersebut

secara lebih rinci. Rantai vertikal (vertical chain) adalah bidang-bidang yang

merupakan input ataupun output dari industri tersebut. Ada dua macam rantai vertikal: rantai ke depan dan rantai ke belakang. Dari sudut pandang industri utama atau industri inti, semua industri yang terkait secara vertikal disebut “industri

Rantai nilai

pemasok nilai peru- Rantai sahaan Rantai nilai jalur distribusi Rantai nilai pembeli

(22)

pendukung”:

a. Rantai ke depan (upstream chain), adalah industri-industri hilir yang menjadi

pelanggan industri utama. Contohnya, industri peralatan kendaraan bermotor, industri permesinan, industri konstruksi, dan sebagainya

b. Rantai ke belakang (downstream chain), adalah industri-industri hulu yang

merupakan pemasok industri utama. Contohnya, industri batu bara, batu gamping dan biji besi.

Rantai horisontal (horizontal chain) adalah industri lain yang bersifat saling melengkapi dalam teknologi dan/atau pemasaran. Semua industri yang terlibat dalam rantai horisontal disebut “industri terkait” (Kotler et al. 1997).

Salah satu determinan utama daya saing klaster tersebut adalah hadirnya industri-industri terkait dan pendukung dalam suatu klaster. Keberhasilan inovasi dalam suatu klaster sangat tergantung pada kontak pemakai dengan pemasok/penghasil yang dekat dan terus-menerus (Kotler, et.al 1997).

Berhubung banyak pihak-pihak terkait yang mempunyai berbagai kepentingan dalam pengembangan klaster maka perlu diperhatikan faktor-faktor penting terkait untuk membangun klaster tersebut. Morosini (2003) mengidentifikasi 5 faktor penting yang diperlukan untuk membangun suatu klaster yaitu :

1. Adanya Leadership. Klaster industri akan terbentuk dan berkembang dengan baik

jika dipimpin oleh group atau individu yang mempunyai keahlian atau kemampuan dalam meningkatkan kerjasama, dapat membagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya, mampu mengatasi permasalahan/perselisihan yang terjadi dalam klaster sehingga dapat memenuhi keinginan semua anggota

2. Membangun Kerjasama. Klaster akan berjalan dengan baik jika para anggotanya telah mengetahui secara jelas tugas dan tanggung jawabnya sesuai aturan dan fungsi-fungsi organisasi, mengerti budaya dan lingkungan spesifik perusahaan. Membangun ikatan sosial budaya yang kuat antara pelaku-pelaku yang terlibat dalam klaster sehingga mampu menciptakan kerjasama aktif dan saling mempercayai, kesamaan bahasa meliputi kesamaan dalam terminologi teknologi dan business, kesamaan dalam budaya dan iklim industri, kesamaan dalam philosofi dan pendekatan dalam pengembangan kemampuan sumberdaya

(23)

manusia, kesamaan dalam pengertian persaingan dalam business, dan kesamaan pengertian dalam pendekatan pengukuran kinerja perusahaan.

3. Pentingnya komunikasi yang intensif. Di dalam pengembangan klaster industri harus ada kesempatan-kesempatan berkomunikasi, saling berinteraksi secara reguler dan terus menerus yang akan meningkatkan kebersamaan sesama anggota klaster. Interaksi dan komunikasi dalam mendukung pengembangan kesamaan identitas dalam klaster industri termasuk komunikasi dengan asosiasi industri serta instansi-instansi terkait lainnya.

4. Berbagi ilmu dan pengetahuan tentang teknologi maupun ilmu bisnis lainnya antar sesama anggota sehingga dapat meningkatkan dan mengembangkan usaha para anggota klaster.

5. Di dalam perkembangan klaster-klaster industri yang sudah maju dan berdaya saing tinggi kemungkinan besar terjadi perpindahan sumber daya manusia yang mempunyai keterampilan maupun kemampuan khusus di lingkup usahanya ke usaha lainnya. Perpindahan tenaga-tenaga profesional tersebut antar klaster industri dapat meningkatkan kinerja klaster lainnya. Selain itu perpindahan tersebut dapat juga mempunyai kontribusi dalam pengembangan pengetahuan dan teknologi baru antar perusahaan.

Brenner (2004) menyampaikan tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu daerah dalam menumbuhkan klaster yang berlokasi di daerah tersebut. Pertama, terdapatnya kondisi lokal tertentu, karena tanpa terdapatnya kondisi tersebut maka tidak akan ada klaster yang dapat tumbuh di daerah tersebut. Kondisi yang dimaksud adalah: 1) Terdapatnya suatu perguruan tinggi, 2) Terdapatnya lembaga penelitian, dan 3) Terdapatnya sumber daya dan lokasi yang secara geografis sesuai. Kedua, terdapatnya faktor-faktor yang memberi daya tarik sehingga dapat diharapkan tumbuhnya klaster di daerah tersebut, seperti: 1) Faktor budaya (kewirausahaan dan kemampuan berinovasi), 2) Kondisi politik dan hukum, 3) Lokasi (geografis), 4) Tipe daerah (kota atau rural), 5) Perguruan tinggi dan lembaga penelitian, 6) Kegiatan ekonomi di bidang terkait. Ketiga, terdapat perkembangan yang tidak dapat diramalkan sejak awal, dan hanya dapat diketahui setelah terjadi, seperti: 1) : Terdapatnya promotor lokal, 2) Adanya kebijakan khusus, 3) Kejadian historis tertentu, 4) Munculnya inovasi, 5) Dibangunnya suatu perusahaan yang sangat

(24)

mempengaruhi perkembangan.

Depperin (2006e), menunjukkan bahwa dari hasil penelitian terdapat beberapa hal yang menentukan keberhasilan suatu klaster yaitu :

a. Keberadaan jejaring dan kemitraan. Salah satu keuntungan yang diperoleh melalui

network atau jaringan adalah kesempatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan

dan informasi baik secara formal maupun informal. Akses pada ilmu pengetahuan dan informasi dapat mendukung pembelajarankolektif serta dapat meningkatkan kinerja yang lebih kompetitif. Selain itu, bagi perusahaan kecil yang ada dalam klaster, kunci keberhasilan pengembangannya terdapat pada kemampuan dalam melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan jejaring yang formal dan nonformal. Keberhasilan klaster dapat ditentukan oleh sistem jaringan dan hubungan yang dimiliki. Semakin baik hubungan antar anggota klaster semakin meningkatkan kepercayaan sesama anggota. Dengan adanya peningkatan kepercayaan dan hubungan interpersonal akan melahirkan klaster klaster yang memiliki modal sosial yang kuat. Mengembangkan hubungan di atas membutuhkan waktu. Pembentukan jaringan dapat dilakukan melalui struktur kelembagaan yang kuat. Transfer ilmu pengetahuan di sekitar klaster dimungkinkan terjadi disebabkan nilai jaringan informal yang berbasis hubungan sosial dan bahkan pergerakan pekerjaan. Kolaborasi informal dan jaringan yang luas dapat menciptakan ’komunitas ilmu pengetahuan’.

Jaringan kemitraan melalui internet memungkinkan diperolehnya pembagian ilmu pengetahuan seiring dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat. Portal klaster dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi jaringan sekaligus sharing

informasi mengenai klaster, terutama pada klaster besar yang mempunyai banyak perusahaan.

Bentuk jaringan mempunyai variasi yang beragam mulai dari kerjasama perusahaan padat karya sampai asosiasi dengan ratusan anggota. Ukuran bukan faktor yang terpenting, tetapi yang paling penting adalah pelayanan jaringan tersebut dapat bermanfaat bagi anggotanya. Pengembangan jaringan dan kemitraan pada umumnya terjadi melalui hubungan sosial dan budaya yang dikembangkan oleh perusahaan dalam klaster atau oleh organisasi sektor publik. Dalam hal ini, pengelola klaster harus berperan aktif dalam penguatan jaringan

(25)

dan kemitraan antar pelaku klaster melalui pemberian informasi mengenai manfaat dan peluang yang diperoleh bila terjadi kerjasama dan kemitraan.

Adanya pelaku yang terlibat dalam klaster mempunyai alasan yang berbeda-beda dan kebutuhan pelaku tersebut juga harus bisa berubah-ubah setiap saat. Tampaknya jaringan akan terus terbentuk dan terbentuk kembali seperti perubahan keanggotaan dan kebutuhan.

Salah satu elemen yang paling penting dalam strategi pengembangan klaster adalah mendorong terbentuknya keterkaitan antar anggota klaster. Pada umumnya, jaringan terbentuk oleh perusahaan berbasis klaster sehingga memudahkan dalam pembentukan dinamisme internal sekaligus bekerjasama dalam mendorong kolaborasi dan kerjasama. Hal ini memerlukan pengembangan struktur atau format kelembagaan baru yang akan memegang peran tersebut pada masa mendatang.

Biasanya jaringan yang ada dalam klaster terbentuk sebagai respon terhadap kebutuhan anggota perusahaan atau berasal dari inisiatif satu atau dua individu kunci. Yang terpenting adalah semua anggota klaster memperoleh sesuatu dengan adanya partisipasinya dalam klaster. Dengan kondisi jaringan yang terbentuk dari bawah ke atas (bottom up) maka setiap anggota yang terlibat cenderung untuk

bekerja sebaik mungkin. Sekali jaringan terbentuk, maka manfaat besar akan dapat terealisasi, yaitu membangun kepercayaan dan pemahaman bersama, serta penyebaran ilmu pengetahuan dan pengalaman antar pelaku klaster. Selain itu, adanya jaringan dapat berfungsi sebagai fasilitator dan penyedia bagi anggota untuk bekerjasama dan berkolaborasi.

b. Menurut literatur faktor kunci keberhasilan klaster adalah jika klaster tersebut dapat mengakses dan memelihara dasar keahlian yang kuat semua anggota yang terlibat dalam klaster mulai dari tingkat manajemen sampai ke tingkat tenaga kerja terendah. Kualitas dan kuantitas pelaku-pelaku yang tersedia dalam klaster merupakan komponen penting dalam mengembangkan keberhasilan klaster. c. Kemampuan menciptakan inovasi yang didukung oleh kegiatan riset dan

pengembangan merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan klaster. Promosi inovasi dan R&D adalah dua kegiatan yang berbeda meskipun saling berkaitan. Inovasi secara umum berkenaan dengan pengembangan produk atau

(26)

proses, sedangkan riset dan pengembangan berkenaan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Inovasi yang berhasil adalah outcome dari proses riset dan

pengembangan yang baik. Inovasi dapat meningkat seperti halnya produk dan proses. Klaster yang berhasil adalah yang inovatif, sebaiknya klaster dapat mendukung proses inovasi melalui peningkatan jaringan dan sharing ide. Untuk

mendukung peningkatan jaringan, jaringan yang ada sebaiknya tidak hanya antar pelaku klaster, namun juga hingga pelaku di luar klaster. Di samping itu, jasa informasi dan intelejensi juga sangat diperlukan.

d. Peranan perusahaan besar dalam pengembangan klaster yang dapat berfungsi sebagai sistem inovasi miniatur yang menyediakan ruang inkubasi bagi pekerja, membiayai pembangunannya sendiri, menyediakan ahli teknis, serta memproduksi pasar spesifik, menyediakan orang-orang terlatih yang dapat disewa oleh perusahaan kecil inovatif dan dapat sharing keahlian dengan rantai supply.

Perusahaan besar dapat bertindak sebagai industri inti yang mampu menjadi penggerak utama. Peran perusahaan besar dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Sebagai katalisator, perusahaan besar mengendalikan kekuatan dalam pengembangan klaster, menstimulasi masuknya usaha baru dan menarik perusahaan terkait ke dalam kawasan dimaksud, sehingga perusahaan besar dapat mendukung pengembangan klaster.

2) Sebagai inovator, perusahaan besar dapat memainkan peran kunci dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi UKM, stimulasi inovasi penjualan dan ekspor, dan menyediakan ’rute pasar’ bagi UKM secara langsung dan sebagai basis akses pada pasar dunia.

3) Sebagai pengembang pasar baru, manajemen pengembangan intervensi, pengembangan rantai persediaan (supply) serta improvisasi produk dan

proses, termasuk pengembangan manajemen yang ada di perusahaan dalam klaster

4) Sebagai Pengelola Rantai Persediaan (Management Supply Chain). Hal ini

termasuk kaitan rantai persediaan (supply) dengan perusahaan luar negeri

seperti sertifikasi pemasok, serta membangun pembeli/pemasok yang lebih baik seperti kaitan subkontrak dan aliansi strategi. Memfasilitasi keterkaitan dengan perusahaan kunci lainnya.

(27)

5) Sebagai penyedia dana bagi anggota klaster

6) Sebagai pengembang citra (image) positif suatu kawasan melalui pemasaran

dan promosi sebagai klaster untuk menarik investor. Pengembangan merek (brand) atau citra (image) untuk suatu kawasan merupakan hal yang penting

dalam strategi pengembangan klaster.

e. Faktor kunci dalam pengembangan klaster yang berhasil seperti telah diidentifikasi sebelumnya antara lain hubungan komunikasi, infrastruktur fisik, dan lokasi. Peran infrastruktur fisik modern termasuk adanya fasilitas bagi perusahaan dan pekerja dan juga hubungan transportasi dan komunikasi yang baik, merupakan pertimbangan penting bagi para pengelola klaster.

f. Jiwa kewirausahaan merupakan faktor penting dalam pengembangan klaster. Kemampuan kewirausahaan merupakan kemampuan dalam mengadaptasi perubahan pasar dan berkeinginan untuk mencoba ide-ide baru. Mereka dapat memanfaatkan peluang-peluang atau teknologi baru, membawa inovasi ke dalam pasar atau berani mengambil resiko yang telah diperhitungkan. Jika diinginkan klaster yang maju dan berkembang maka setiap pengusaha dalam klaster harus meningkatkan jiwa kewirausahaannya.

g. Akses pada pembiayaan merupakan faktor penting dalam pengembangan klaster. Akses pada pembiayaan meliputi akses pada modal ventura, sumber daya dan pembiayaan khusus, pendanaan riset & pengembangan swasta dan pemerintah, jasa pendukung bisnis dan jaringan investasi.

h. Faktor lingkungan yang mendukung antara lain : (1) Pentingnya pemimpin, (2) Kompetisi sebagai kekuatan penggerak, (3) Manfaat kedekatan dengan pasar, (4) Kualitas hidup, (5) Kebijakan yang mendukung

Keterpaduan dari perusahaan-perusahaan yang berada di suatu klaster sangat ditentukan oleh kuat atau tidaknya jaringan kerjasama baik dengan industri terkait maupun industri pendukung serta infrastruktur ekonomi yang dinamis. Keterkaitan yang terbentuk di antara anggota klaster lebih disebabkan untuk memperkuat atau mendukung kompetensi inti yang akan diciptakan.

Untuk meningkatkan efisiensi produksi, setiap perusahaan (secara bersama-sama) bekerjasama dengan industri berskala kecil melalui pola sub-kontraktor. Industri kecil yang menjadi sub-kontraktor diarahkan pada kemampuan yang spesifik

(28)

sehingga akan mewujudkan spesialisasi kemampuan di antara industri kecil tersebut, pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas pada seluruh mata rantai produksi. Peningkatan kemampuan spesifik pada industri kecil dapat dilakukan melalui proses pembelajaran sehingga proses kreatif dan inovasi bukan hanya pada industri inti tetapi juga pada industri kecil.

Aspek keterkaitan dalam pengembangan strategi klaster merupakan faktor kunci dalam keberhasilan dari penerapan strategi klaster ini. Pengembangan elemen keterkaitan ini merupakan salah satu elemen kritis dalam pengembangan klaster. Ditinjau dari aspek ekonomi, terdapat 4 (empat) tipe keterkaitan meliputi : 1) integrasi vertikal dengan pelanggan, 2) integrasi vertikal dengan pemasok, 3) integrasi horizontal dan 4) diversifikasi.

Keterkaitan Horizontal Arena Baru Industri Inti Pemasok Keterkaitan Ke Depan Konsumen Keterkaitan Ke Belakang Keterkaitan Diversifikasi PERSAINGAN

(29)

Gambar 10 menunjukkan bahwa terdapat 4 model keterkaitan yang mungkin, dapat mendukung kemampuan industri inti, dan tidak semua model ini harus dilakukan dalam suatu klaster, tetapi perlu dilakukan pemilihan, sehingga integrasi yang dilakukan oleh suatu klaster akan saling memperkuat. Integrasi vertikal dapat berasal dari faktor-faktor teknologi dan atau faktor-faktor informasi dan perilaku yang mengakibatkan kesulitan-kesulitan perjanjian, distribusi kepemilikan dan kendali, jika pihak-pihak yang ada terpisah dan bersifat independen.

Kendali vertikal dapat diperoleh melalui kepemilikan, tetapi integrasi vertikal seutuhnya mengikat sumber daya modal dan ada kecenderungan akan menimbulkan masalah-masalah manajemen yang cukup berat. Hal ini disebabkan perusahaan akan terlibat dalam tahap-tahap produksi dan distribusi tetapi mereka tidak mempunyai pengalaman dari bisnis tersebut.

Apabila dalam pengembangan bisnisnya, pelanggan dipandang sebagai faktor yang penting bagi keberhasilan, maka dipertimbangkan untuk melakukan keterkaitan ke depan dengan pelanggan. Sebaliknya apabila input atau bahan baku sulit didapat atau membutuhkan penyesuaian-penyesuaian terhadap proses produksi keterkaitan ke belakang perlu dipertimbangkan. Berdasarkan studi yang dilakukan di Swedia tentang jaringan kerja dengan pemasok dan pelanggan yang bertahan lama dalam pasar industri adalah hubungan vertikal melalui kontrak yang tersirat (implicit) dan saling

percaya. Di Jepang misalnya, kontrak-kontrak produksi dan teknologi merupakan ikatan vertikal antar perusahaan yang paling umum, dan diikuti oleh kontrak-kontrak pemasaran. Tetapi di Eropa, kontrak-kontrak pemasaran yang paling umum. Kontrak pemasaran yang dapat memiliki jaminan jangka panjang adalah kontrak franchising

(waralaba), pola kerjasama ini bertahan lama dan memperlihatkan perkembangan yang cukup pesat (Depperin 2006e).

Strategi yang digunakan dalam integrasi horizontal biasanya digunakan dengan merger dan akuisisi, dan strategi ini perlu diperkuat atau hanya dengan argumen skala biaya murni. Merger di antara beberapa perusahaan terkadang mengarah kepada merger diantara banyak perusahaan yang tersisa sampai dihasilkan beberapa macam aligopoli yang seimbang.

Strategi horizontal yang didasarkan pada pertimbangan skala ekonomi dapat berkembang menjadi suatu strategi yang mengarah pada aspek monopoli,

(30)

mengakibatkan kesejahteraan pelanggan dikorbankan. Begitu pula, skala ekonomi dapat diperoleh melalui joint ventura tetapi banyak para manajemen menjadi lebih

kompleks.

Strategi joint venture akan lebih efektif sebagai alat ekspansi horizontal

apabila sumber daya modal yang dimiliki terbatas dan atau perusahaan menghadapi hambatan dalam ekspansi. Bentuk strategi-strategi di atas merupakan usaha yang kreatif dari aliansi-aliansi, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan di atas rata-rata. Sebagai contoh, retailer-retailer (pebisnis eceran) membentuk suplai chain

untuk membentuk perusahaan-peruasahaan joint venture dengan para pemasok agar

diperoleh persyaratan perdagangan yang lebih baik sehingga akan mempermudah kontrak dengan para pelanggan.

Kebanyakan perusahaan menerapkan strategi diversifikasi untuk meningkatkan daya saing perusahaan secara keseluruhan sehingga nilai total perusahaan akan meningkat. Disamping itu terdapat alasan lain suatu perusahaan untuk menerapkan strategi diversifikasi, yaitu: 1). Menetralisir kekuatan pasar pesaing (menetralisir keunggulan perusahaan lain dengan mengakuisisi outlet distribusi yang mirip dengan milik perusahaan lain), 2) Memperluas portfolio perusahaan untuk mengurangi resiko pekerjaan manajerial.

2.9. Membangun Keunggulan Daya Saing

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa konsep klaster menunjukkan pola berpikir ke arah peningkatan daya saing. Menurut Porter (1998a), setiap negara dapat membangun keunggulan daya saing, baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional. Dengan demikian, relevan untuk menganalisia daya saing industri nasional dan daerah serta faktor-faktor yang membentuk keunggulan daya saing tersebut seperti ditunjukkan Gambar 11 berikut.

(31)

Gambar 11. Berlian Keunggulan Daya Saing Industri Nasional (Porter, 1998a) Lebih lanjut Porter (1998a) mengemukakan 4 (empat) komponen yang membentuk lingkungan dimana perusahaan-perusahaan berkompetisi membentuk daya saingnya yaitu :

1. Kondisi faktor (factor condition), yakni posisi industri nasional tersebut dalam

faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja terampil, ketersediaan sumberdaya (teknologi, bahan baku, modal) atau infrastruktur, yang diperlukan untuk bersaing dalam industri bersangkutan.

2. Kondisi permintaan (demand condition), yakni seberapa besar permintaan di

dalam negeri maupun luar negeri terhadap produk atau layanan industri bersangkutan.

3. Industri terkait dan pendukung (related and supporting industries), yakni

keberadaan industri pemasok atau industri pendukung dalam menunjang industri nasional.

4. Strategi, struktur, dan tingkat persaingan perusahaan (firm strategy, structure, and rivalry) sebagai kondisi di dalam bangsa tersebut.

Strategi Perusahaan, Struktur dan Persaingan

Kondisi Faktor (Input) Kondisi Permintaan

(32)

Komponen-komponen dalam berlian tersebut merupakan komponen dalam sistem yang saling menguatkan. Keunggulan pada seluruh komponen dibutuhkan untuk memperoleh dan mempertahankan keberhasilan daya saing dalam industri yang bersaing secara global dalam perekonomian yang maju. Keempat komponen di atas menciptakan konteks, dimana masing-masing unit usaha dalam negara bersangkutan terbentuk dan bersaing, yaitu :

a. Ketersediaan sumberdaya dan keterampilan tenaga kerja sangat diperlukan untuk keunggulan daya saing suatu industri.

b. Informasi yang membentuk persepsi terhadap peluang dan arah penyebaran sumberdaya dan keterampilan.

c. Tujuan dari pemilik, manajer, dan karyawan yang terlibat dalam persaingan. d. Tekanan terhadap perusahaan agar berinvestasi dan berinovasi.

Untuk meraih keunggulan daya saing para pelaku usaha atau bisnis harus memenuhi beberapa persyaratan berikut :

a. Daerah tempat usahanya memungkinkan dan mendukung akumulasi yang cepat terhadap asset dan keterampilan.

b. Daerah tempat usahanya mampu memberikan informasi dan pandangan secara terus menerus mengenai kebutuhan produk dan proses.

c. Tujuan dari pemilik, manajer, dan karyawan mendukung komitmen dan investasi yang berkelanjutan.

d. Dengan demikian daerah atau lokasi juga merupakan komponen penting dalam pengembangan industri.

Selain empat komponen di atas, dalam berlian keunggulan daya saing nasional, terdapat dua komponen tambahan yang mempengaruhi sistem tersebut, yakni peran pemerintah dan peluang/kesempatan. Peran pemerintah dapat meningkatkan atau bahkan memperlemah keunggulan nasional. Peran pemerintah terutama dalam membentuk kebijakan yang mempengaruhi komponen-komponen dalam berlian keunggulan daya saing nasional. Regulasi dapat mengubah faktor permintaan. Kebijakan pemerintah yang mendukung pendidikan dapat mengubah kondisi faktor produksi. Belanja pemerintah dapat merangsang industri terkait dan pendukung, dan sebagainya.

(33)

Peluang/kesempatan adalah merupakan faktor atau kondisi yang berada di luar kendali perusahaan-perusahaan (dan biasanya juga di luar kendali pemerintah suatu bangsa), seperti misalnya penemuan baru, terobosan teknologi dasar, perang, perkembangan politik eksternal dan perubahan besar dalam permintaan pasar asing. Faktor peluang di atas dapat menciptakan gangguan yang mencairkan atau membentuk ulang struktur industri.

Tuntutan kompetisi untuk meningkatkan daya saing akan mendorong pengembangan teknologi dan menciptakan spesialisasi setiap perusahaan dimana pada mulanya suatu perusahaan memproduksi komoditas yang sama dalam suatu sektor yang identik, namun persaingan di dalam klaster akan mendorong terciptanya

technological spin-off. Persaingan di tingkat spesialisasi perusahaan dalam

mengembangkan teknologi akan mendorong spesialisasi di tingkat lebih tinggi, yaitu spesialisasi industri. Akhir kompetisi akan mendorong adanya integrasi perusahaan, sehingga siklus tersebut berulang kembali yang semakin lama klaster akan selalu meningkat dalam kapasitas teknologinya. Proses tersebut disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12. Siklus Integrasi Perusahaan dalam Persaingan (Depperin, 2006e) Keberadaan perusahaan secara bersama dalam klaster dapat memberikan manfaat atau keuntungan antara lain; perusahaan dapat melakukan berbagai upaya bersama dalam bidang pemasaran, pembelian, pelatihan, penggunaan fasilitas dan pengujian produk bersama. Upaya-upaya tersebut berdampak terhadap penurunan biaya, peningkatan pengetahuan,

Integrasi Horisontal dan Reintegrasi Persaingan mendorong Technological Spin Off Munculnya variasi teknologi : spesialisasi industri Perusahaan Membangun Spesialisasinya

(34)

peningkatan dan pengembangan pasar, dan lain-lain.

2.10. Konsep Rantai Nilai

Penjelasan terdahulu menunjukkan beragam definisi mengenai klaster, namun demikian secara umum definisi tersebut menunjukkan kesamaan dalam hal keterkaitan perusahaan dan institusi dalam bidang tertentu, yang dihubungkan dengan adanya kesamaan (commonalities) dan sifat saling melengkapi (complementarities) satu sama lain. Bentuk klaster bergantung kepada kedalaman

dan kecanggihannya, namun kebanyakan melibatkan adanya perusahaan produk akhir (end-product companies), spesialis pemasok sumberdaya, komponen mesin

dan layanan yang merupakan input dari perusahaan produk akhir, institusi keuangan pendukung, dan perusahaan-perusahaan dalam industri terkait.

Klaster juga dapat melibatkan perusahaan dalam industri lanjutan

(downstream industries), yakni saluran perantara atau pelanggan langsung dari

industri, produsen produk komplementer, pemerintah dan institusi lainnya yang spesialis dalam menyediakan pelatihan, edukasi, informasi riset, dan dukungan teknis (misalnya perguruan tinggi, lembaga think tanks, penyedia pelatihan

keterampilan), dan badan penentu standar mutu. Badan pemerintah secara signifikan dapat mempengaruhi klaster dan dianggap sebagai bagian dari klaster. Sejumlah klaster juga melibatkan asosiasi perdagangan dan badan sektor swasta kolektif lainnya yang mendukung para anggota klaster.

Menurut Porter (1998a), cara mengidentifikasikan sebuah klaster dimulai dari suatu perusahaan yang besar atau suatu konsentrasi dari perusahaan-perusahaan serupa, kemudian mempelajari keterkaitan ke depan (upstream) dan

keterkaitan ke belakang (downstream) dalam rantai vertikal (vertical line)

perusahaan dan institusi. Langkah selanjutnya adalah mengkaji hubungan horisontal untuk mengidentifikasikan industri yang juga melalui saluran pemasaran bersama

(common channels) atau yang memproduksi produk-produk yang bersifat

melengkapi (complementary products)

Wirabrata (2000) menyebutkan bahwa dalam pengembangan klaster diharuskan memiliki industri inti atau industri unggulan yang akan berfungsi sebagai

(35)

industri inti atau industri unggulan telah sering digunakan dalam kebijakan pengembangan industri di Indonesia, namun definisi atau pengertian baku belum ditemukan. Namun mengacu pada Depdiknas (2001) istilah industri inti atau unggulan tersebut dapat diartikan industri yang diunggulkan karena industri tersebut lebih baik dari industri lainnya ditinjau dari berbagai kinerjanya.

Setiap perusahaan merupakan sekumpulan kegiatan yang dilakukan untuk mendisain, memproduksi, memasarkan, menyampaikan, dan mendukung produknya. Semua kegiatan tersebut dapat digambarkan dengan menggunakan rantai nilai. Gambar 13 menunjukkan rantai nilai yang ada dalam perusahaan.

Selanjutnya, hubungan antara industri utama atau industri inti dengan semua industri terkait merupakan pengembangan konsep sistem nilai (value system) yang dikembangkan oleh Porter (1994). Hubungan antara industri utama dengan semua industri vertikal dapat dilihat pada Gambar 14.

Infrastruktur Perusahaan Manajemen Sumberdaya Manusia

Pengembangan Teknologi Pembelian Logistik Ke Dalam Operasi Logistik Ke Luar Pemasaran dan Penjualan Pelayanan Margin Margin A P K E T N I D V U I K T U A N S G AKTIVITAS PRIMER

(36)

Gambar 14. Sistem Nilai Perusahaan (Porter, 1994)

Rantai nilai (value chain) vertikal dalam agroindustri sutera alam adalah

petani/pemelihara ulat sutera, industri pemintalan, industri pertenunan dan industri pembatikan. Sedangkan rantai pasokan (supply chain) atau rantai ke belakang (backward chain) dalam agroindustri sutera alam adalah pemelihara ulat sutera

sebagai produsen kokon merupakan pemasok bagi industri pemintalan, industri pemintalan yang menghasilkan benang merupakan pemasok bagi industri pertenunan dan pertenunan yang menghasilkan kain merupakan pemasok bagi industri pembatikan.

Rantai horizontal (horizontal chain) adalah industri lainyang bersifat saling

komplementer dengan teknologi dan/atau pemasaran. Semua industri yang terlibat dalam rantai horizontal disebut "industri terkait".

Kotler et al. (1997), menjabarkan rantai nilai vertikal (vertical value chain)

sebagai bidang yang merupakan input ataupun output dari industri tersebut. Rantai nilai vertikal ada yang mengarah ke depan dan ada ke belakang. Dari sudut pandang industri utama, semua industri yang terkait secara vertikal disebut "industri pendukung”.

Kehadiran industri-industri terkait dan pendukung dalam suatu klaster merupakan salah satu determinan utama daya saing klaster tersebut. Keberhasilan inovasi dalam suatu klaster sangat tergantung pada hubungan pemasok/penghasil yang dekat dan

terus-Rantai Nilai UU Rantai Nilai Pemasok Rantai Nilai UU Rantai Nilai Penyalur Rantai Nilai Pembeli Rantai Nilai UU

(37)

menerus. Sehubungan dengan daya saing nasional, di mana terdapat empat komponen faktor penentu keunggulan daya saing nasional sebagaimana ditunjukkan oleh Berlian Keunggulan Daya Saing Industri Nasional. Porter (1998a) mengaplikasikan Berlian tersebut untuk konteks klaster daerah sebagaimana terlihat pada Gambar 12.

Bertolak dari beberapa hal tersebut di atas, pengembangan agroindustri sutera alam melalui pendekatan klaster dapat dijadikan sebagai suatu strategi untuk meningkatkan daya saing sutera alam dengan kegiatan yaitu (1) melakukan keterkaitan antar kegiatan agroindustri sutera alam dengan industri/institusi pendukung yang ditujukan untuk saling melengkapi, memperkuat dan saling menguntungkan, (2) keterkaitan agroindustri sutera alam dengan lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga keuangan, industri dan pemerintah (keterkaitan horizontal) untuk meningkatkan kualitas produk, kapasitas produksi dan penerimaan informasi.

2.11. Kelembagaan

Menurut Nasution (1999), kelembagaan didefinisikan sebagai suatu sistem organisasi dan kontrol terhadap sumber daya yang sekaligus mengatur hubungan seseorang dengan lainnya. Pengembangan kelembagaan merupakan suatu proses perbaikan yang mencakup struktur dan hubungan diantara anggota dalam organisasi untuk lebih produktif dengan tujuan memenuhi kebutuhan para anggotanya secara efektif, efisien dan adil. Kemampuan suatu kelembagaan dalam mengkoordinasikan, mengendalikan atau mengontrol interdependensi antar partisan sangat ditentukan oleh kemampuan institusi tersebut mengendalikan sumber interdependensi yang merupakan karakteristik dari komoditas seperti biaya transaksi, resiko, dan ketidakpastian.

Pengembangan kelembagaan klaster agroindustri sutera alam adalah proses perancangan sistem organisasi industri yang dapat mendorong tercapainya kerja sama yang saling menguatkan dan menguntungkan untuk meningkatkan daya saing sutera alam dalam menjawab tantangan globalisasi, tuntutan desentralisasi, dan sekaligus mendorong terbentuknya jaringan kegiatan produksi dan distribusi. Di samping itu, pengembangan kelembagaan klaster dapat meningkatkan produktivitas usaha melalui proses alih pengetahuan, teknologi, dan manajemen diantara anggota dan

(38)

pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara lebih produktif.

Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan di dalam merancang sistem pengembangan kelembagaan adalah pengaturan antara hak dan kewajiban yang dituangkan dalam suatu perjanjian yang saling mengikat. Kegagalan bentuk kerjasama selama ini karena seringkali melupakan hal tersebut. Pengembangan kelembagaan memerlukan analisa yang mendalam dan menyeluruh terhadap pelaku, kebutuhan, kendala, aktivitas dan tujuan guna merancang sistem kelembagaan yang efektif untuk mewujudkan kebersamaan dalam mengembangkan agroindustri sutera alam.

Dalam pengembangan industri melalui pendekatan klaster para pengusaha dapat saling memanfaatkan aktivitas produksi secara bersama. Porter (1994), menyatakan bahwa pemanfaatan bersama aktivitas produksi dapat meningkatkan keunggulan bersaing melalui pendayagunaan kapasitas dan diversifikasi produk yang dihasilkan. Pemanfaatan bersama muncul dari peluang berbagi aktivitas karena adanya kesamaan teknologi, distribusi atau faktor lainya. Pemanfaatan bersama aktivitas produksi dapat meningkatkan pendayagunaan kapasitas dan diversifikasi produk dan pada gilirannya dapat mencapai skala ekonomi. Skala ekonomi adalah kemampuan perusahaan melakukan aktivitas usaha secara lebih efisien dengan volume yang lebih besar. Peningkatan tersebut akan meningkatkan produktivitas dan daya saing sutera alam.

2.12. Pendekatan Sistem

Berhubung banyaknya pelaku dengan berbagai kepentingan dan keinginan yang beragam maka pengembangan agroindustri sutera alam melalui pendekatan klaster bersifat kompleks. Menurut Eriyatno (2003), karakteristik permasalahan tersebut memerlukan pendekatan sistem, karena pemikiran sistem selalu mencari keterpaduan antar bagian melalui pemahaman yang utuh. Kumpulan dan gugus bagian dapat disebut sistem apabila memenuhi syarat adanya kesatuan (unity), hubungan fungsional dan tujuan yang berguna. Pendekatan sistem adalah pendekatan terpadu yang memandang suatu obyek atau masalah yang kompleks dan bersifat antar disiplin sebagai bagian dari sistem. Pendekatan sistem menggali elemen-elemen terpenting yang memiliki kontribusi yang signifikan terhadap tujuan sistem.

Gambar

Gambar 1. Alur Proses usaha Sutera Alam (Depperin, 2006b)
Gambar 2. Berbagai Jenis Murbei yang digunakan sebagai Pakan Ulat Sutera di  Indonesia (Atmosoedarjo et al
Gambar 7. Grafik Perkembangan Ekspor  Produk Sutera (Depperin 2006b)  Realisasi produksi benang dan kain sutera dalam negeri  belum memenuhi  kebutuhan pasar dalam negeri sehingga  kekurangannya diimpor
Gambar 9. Sistem Nilai (Porter, 1994)
+6

Referensi

Dokumen terkait

Alternatif yang paling sesuai dengan kondisi pada simpang tersebut adalah alternatif III dengan mengubah stage simpang belok kiri langsung menjadi belok kiri beserta perubahan

Adanya perubahan Kurikulum sejak kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sampai pada kurikulum 2013 perubahan

Hasil wawancara ini dikuatkan dengan adanya dokumen Jadwal Supervisi Akademik tahun pelajaran 2014/2015 sebagai program supervisi akademik yang dimiliki oleh para Kepala Sekolah

Ada beberapa bentuk Corporate Social Responsibility yang diberikan Auto 2000 kepada para konsumen dan lingkungan sekitar, seperti menjaga kualitas, baik dari segi

Dari berbagai pengertian mengenai media pembelajaran yang telah diuraikan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan sumber belajar yang dapat digunakan

Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahu yang disebut air dadih (whey), sedang sumber limbah

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh dari tingkat pengungkapan informasi CSR, size, dan pro fi tabilitas terhadap informativeness of earnings yang dalam hal ini

Namun begitu permulaan Matematik moden bermula pada tahun 1575 (Carl, 1991). Hal ini kerana pada tahun ini Ilmuan Eropah barat menemui semula.. kebanyakan karya