PROSPEK PENGEMBANGAN TERNAK POLA INTEGRASI
BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL
KUSUMA DIWYANTO danATIEN PRIYANTI Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan,
Jl. Raya Pajajaran, Kav.E-59, Bogor 16151
ABSTRAK
Pengembangan ternak pola integrasi dalam suatu sistem pertanian yang ramah lingkungan merupakan suatu strategi yang sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan rumah tangga petani dan masyarakat pedesaan secara lestari. Dengan inovasi teknologi yang tepat, limbah tanaman dapat diubah menjadi bahan pakan sumber serat bagi ternak ruminansia (sapi). Melalui pendekatan LEISA (low external input sustainable agriculture), setiap ha lahan pertanian dapat menghasilkan pakan untuk memelihara sapi 2-3 ekor/ha. Dalam hal ini ternak sapi berperan sebagai pabrik kompos dengan bahan baku limbah tanaman, yang pada akhirnya kompos tersebut dipergunakan sebagai bahan pupuk organik bagi tanaman. Dalam upaya meningkatkan populasi ternak sapi potong dengan biaya produksi yang layak, pendekatan pola integrasi ternak dengan tanaman pangan, perkebunan dan hutan tanaman industri layak untuk dikembangkan baik secara teknis, ekonomis maupun sosial. Salah satu kunci keberhasilan dari pola ini adalah tidak ada bahan yang terbuang, serta pemanfaatan inovasi secara benar dan efisien. Pendekatan ini memposisikan sapi sebagai mesin pengolah limbah pertanian menjadi kompos (bahan organik), sedangkan pedet adalah bonus akibat dari pemeliharaan sapi secara benar. Secara mikro pola sistem integrasi tanaman-ternak berupaya untuk memperbaiki struktur, tekstur kimia dan mikrobiologi tanah, sedangkan secara makro pola ini berupaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Kata Kunci: Sistem Integrasi Tanaman-Ternak, Sapi
PENDAHULUAN
Indonesia saat ini merupakan negara nomor empat di dunia yang mempunyai jumlah penduduk paling besar setelah P.R. China, India, Amerika dan Rusia. Seirama dengan jumlah penduduk yang lebih dari 220 juta jiwa dan cenderung terus meningkat, kebutuhan pangan dan energi juga terus meningkat. Dua kebutuhan dasar tersebut sebagian besar harus dapat dicukupi dari dalam negeri, agar tidak menghamburkan devisa yang saat ini sangat diperlukan untuk memacu pembangunan. Kondisi tersebut merupakan peluang untuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang saat ini masih menjadi permasalahan serius. Yang menjadi pertanyaan adalah, adakah sumberdaya lokal yang tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi harapan tersebut?
Pangan saat ini masih merupakan barang mewah bagi sebagian penduduk, yang
hewani cenderung meningkat lebih pesat dibandingkan pangan nabati. Perkembangan dan perubahan ini ternyata belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi di dalam negeri, yang ditandai dengan masih tingginya volume maupun nilai impor produk peternakan dan bahan input usaha seperti: jagung, kedelai, tepung ikan, maupun meat bone meal.
Bila menyimak perkembangan industri peternakan dunia, terlihat bahwa negara yang memiliki kelimpahan pakan akan mampu menghasilkan produk yang lebih bersaing. Hal ini disebabkan karena biaya produksi dalam usaha peternakan sebagian besar, 70-80%, diperuntukkan untuk pakan. Perkembangan peternakan di kawasan Amerika Utara dan Eropa cenderung bertumpu pada kelimpahan biji-bijian, sedangkan di Amerika Latin dan Australia bertumpu pada padang pangonan atau rerumputan. Indonesia tidak memiliki kelimpahan dua hal tersebut, biji-bijian dan
masih terbuang atau justru menjadi masalah lingkungan. Bahkan banyak energi yang terkandung dalam biomasa tersebut masih terbuang percuma, karena sistem usaha tani masih bersifat monokultur.
Dalam era perdagangan bebas yang masih belum berkeadilan ini, sudah semestinya diupayakan untuk memanfaatkan sumberdaya lokal untuk mendorong perkembangan usaha dan industri di dalam negeri. Potensi dan kekayaan yang saat ini telah tersedia secara melimpah hanya dapat dimanfaatkan bila ada sentuhan inovasi teknologi yang terjangkau masyarakat. Makalah ini akan membahas hal-hal yang terkait dengan tantangan dan peluang untuk mengembangkan usaha dan industri peternakan pola integrasi crop livestock system (CLS), dengan pendekatan zero waste dan zero cost. Diharapkan pendekatan ini mampu menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus untuk menghasilkan pangan dan produk pertanian yang sangat diperlukan masyarakat, yang pada gilirannya akan diperoleh devisa melalui penghematan atau justru meningkatkan ekspor. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman di lapang yang telah berkembang, serta dengan belajar dari kearifan lokal yang
memang benar-benar telah teruji kehandalannya.
PENGALAMAN EMPIRIS
Sebagaimana halnya di negara-negara Asia Tenggara, konsep pertanian terpadu yang melibatkan pola sistem integrasi tanaman-ternak, sebenarnya sudah diterapkan oleh petani di Indonesia sejak jaman dahulu. Berbagai varian dari penerapan pola ini cukup beragam berdasarkan tingkat pemilikan petani, sebagaimana disajikan pada Tabel 1 (DEVENDRA, 1993). Pada awal revolusi hijau, sistem usahatani terpadu mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an berdasarkan hasil-hasil pengkajian dan penelitian yang dimulai oleh Lembaga Pusat Penelitian Pertanian (LP3) di Bogor dengan mengacu pada pola di IRRI. Sejak saat itu secara bertahap muncul istilah-istilah pola tanam (cropping pattern), pola usahatani (cropping systems), sampai akhirnya muncul istilah sistem usahatani (farming systems), serta sistem integrasi tanaman-ternak yang merupakan terjemahan dari crop livestock systems (DIWYANTOet al., 2002).
Tabel 1. Sistem integrasi tanaman-ternak di Asia Tenggara
Komoditas Tujuan produksi Tipe tumpangsari Tingkat kepemilikan Ternak ruminansia: Kerbau Sapi Kambing Domba Tenaga kerja Daging Daging Susu Tenaga kerja Daging Susu Daging
Padi dan palawija Padi
Hortikultura, perkebunan, padi Hortikultura, perkebunan Padi dan palawija Hortikultura, perkebunan Hortikultura, perkebunan Hortikultura, perkebunan Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Sedang/tinggi Rendah Sedang/tinggi Ternak non ruminansia:
Babi Ayam Bebek Daging Daging, telur Daging, telur Hortikultura Hortikultura dan padi
Hortikultura, padi dan kolam ikan
Sedang/tinggi Sedang/tinggi Sedang/rendah Sumber: DEVENDRA (1993)
Selanjutnya DEVENDRA (1993) menyatakan bahwa terdapat delapan keuntungan dari penerapan pola sistem integrasi tanaman-ternak, yaitu: (1) diversifikasi penggunaan sumberdaya produksi, (2) mengurangi terjadinya resiko usaha, (3) efisiensi penggunaan tenaga kerja, (4) efisiensi penggunaan input produksi, (5) mengurangi ketergantungan energi kimia dan biologi serta masukan sumberdaya lainnya, (6) sistem ekologi lebih lestari serta tidak menimbulkan polusi sehingga ramah lingkungan, (7) meningkatkan output, dan (8) mampu mengembangkan rumahtangga petani yang berkelanjutan. Kedelapan keuntungan ini diperoleh karena adanya sinergi antar kegiatan, yang pada gilirannya hampir tidak ada sumberdaya yang terbuang (zero waste). Implikasinya adalah beberapa produk yang dihasilkan dapat diperoleh tanpa biaya yang secara riil harus dikeluarkan petani/peternak (zero cost).
Hasil penelitian dan pengkajian pola integrasi sapi di bawah pohon kelapa (Sulawesi Utara), sapi di kawasan persawahan (Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, NTB), mina-padi di Jawa Barat, integrasi ternak di lahan tadah hujan di Bali, Lampung dan Jawa Barat menunjukkan bahwa penerapan model integrasi tanaman-ternak sudah dapat diterima oleh masyarakat. Integrasi sapi dengan padi pada pola tanam IP-300 di beberapa wilayah menunjukkan hasil dan keuntungan ekonomi yang relatif lebih tinggi, dibandingkan jika usaha tersebut dilaksanakan secara monokultur. DIWYANTO dan HARYANTO (2001) menyatakan bahwa penerapan sistem ini meningkatkan penghasilan petani hampir dua kali lipat lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pola tanam padi tanpa ternak. Sekitar 40 persen dari hasil tersebut berasal dari pupuk organik yang diperoleh dari ternak sapi. Hasil-hasil penelitian dan pengkajian di berbagai tempat dan agroekologi juga menunjukkan bahwa pada umumnya integrasi ternak dengan tanaman, baik itu tanaman pangan, tanaman perkebunan maupun tanaman industri memberikan nilai tambah yang cukup signifikan (SYAM dan SARIUBANG, 2004).
POTENSI LAHAN PERTANIAN UNTUK USAHA INTEGRASI
TANAMAN-TERNAK
Hampir seluruh lahan pertanian di Indonesia mempunyai potensi untuk dapat dipergunakan sebagai kawasan bagi pengembangan ternak. Misalnya pada lahan persawahan intensif, setiap kali panen dapat diperoleh jerami yang volumenya setara dengan produksi padi, yaitu sekitar 5-8 ton/ha/panen. Jumlah ini bila dipergunakan untuk memelihara ternak besar, sapi atau kerbau, dapat mencukupi kebutuhan serat untuk 2 ekor ternak dewasa sepanjang tahun. Bila setiap tahun dapat dilakukan pertanaman 2-3 kali, maka biomasa yang saat ini masih dianggap limbah mampu mengakomodasi kebutuhan serat bagi 4-5 ekor ternak sepanjang tahun. Bila luas lahan persawahan saat ini mencapai sekitar 7,7 juta ha (Tabel 2), secara teoritis dapat mengakomodasi juta-an ekor ternak sapi atau kerbau sepanjang tahun. Namun sangat disayangkan, di Jawa Barat dan beberapa daerah lumbung padi lain, saat ini masih menyia-nyiakan jerami ini. Biasanya jerami padi dibakar atau dipergunakan untuk keperluan lain atau kegiatan non-pertanian. Disamping jerami padi, dedak padi yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu komponen bahan pakan utama untuk menyusun konsentrat (HARYANTO et al., 2002).
Sementara itu saat ini masih tersedia kawasan perkebunan dan lahan pertanian lain di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dll. yang relatif kosong ternak seluas juta-an ha. Padahal limbah berupa biomasa yang dihasilkan setiap ha jumlahnya sangat besar, yang diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan pakan sedikitnya untuk seekor ternak dewasa sepanjang tahun. Inovasi teknologi memungkinkan untuk mengolah hasil samping dan limbah pertanian maupun agroindustri sebagai pakan murah. Pada tanaman kelapa rakyat, misalnya, dari 3,6 juta ha hanya sekitar 0,7 juta ha yang efektif dimanfaatkan bagi usaha budidaya kelapa. Hal ini menunjukkan bahwa hampir 80% lahan tersebut mempunyai peluang untuk
Tabel 2. Luas penggunaan lahan di Indonesia 1998–2003 (ha) Tahun Jenis lahan 1998 1999 2000 2001 2002 Pertumbuhan (%) Sawah 8.504.917 8.106.356 7.486.978 7.779.733 7.748.848 -0,40 Tegalan 8.568.675 9.136.723 9.291.357 13.176.750 9.868.736 -33,52 Ladang 3.247.242 3.631.988 3.645.927 3.282.666 3.495.255 6,08 Padang rumput 2.016.972 2.424.469 2.208.923 2.165.015 2.041.671 -6,04 Perkebunan 16.460.966 16.543.663 16.714.647 19.909.665 16.382.234 -21,53 Tanaman kayu 9.072.416 8.905.200 8.803.270 10.099.841 8.329.772 -21,25 Total 47.871.188 48.748.399 48.151.102 56.413.670 47.866.516 -76,66 Sumber: DEPARTEMEN PERTANIAN (2004)
Pengembangan perkebunan kelapa sawit diperkirakan akan terus meningkat khususnya yang diusahakan oleh swasta, dimana pada tahun ini luas arealnya telah mencapai lebih dari 5 juta ha. Apabila setiap ha kebun mempunyai 130 pohon, dan jika setiap pohon dapat menghasilkan 22 pelepah/tahun, maka diperoleh 9 ton pelepah segar setiap tahun atau sekitar 0,66 ton bahan kering. Jumlah tersebut dan dikombinasi dengan limbah pabrik minyak sawit akan menghasilkan biomasa yang sangat besar, yang berarti setiap ha kebun sawit mampu menampung sekitar 1-3 ekor sapi (DIWYANTO et al., 2004). Oleh karena itu perluasan perkebunan kelapa sawit merupakan peluang yang sangat besar untuk mengembangkan ternak, yang pada gilirannya akan berdampak pada: (a) efisiensi dan dayasaing produk, (b) keberlanjutan terkait dengan masalah kesuburan, (c) dampak lingkungan dalam proses pengolahan sawit, serta (d) aspek sosial yang berhubungan dengan kesejahteraan pekerja maupun masyarakat sekitarnya.
Dengan demikian pertanian pola tumpang sari maupun integrasi tanaman-ternak merupakan jawaban untuk meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian dan peternakan, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi kesejahteraan masyarakat.
POLA INTEGRASI DENGAN PENDEKATAN LEISA
Konsep pertanian terpadu dalam mewujudkan keberhasilan dan kemandirian dilatarbelakangi oleh pendekatan LEISA (low
external input sustainable agriculture) yang merupakan inti dari sistem usaha pertanian terpadu, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Melalui rumusan LEISA, usaha peternakan dapat diintegrasikan dengan usaha pertanian tanaman pangan dan perkebunan dengan cara: (a) limbah pertanian dan perkebunan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, seperti jerami padi, pucuk tebu, limbah sawit, jerami jagung, jerami kacang-kacangan, dll; (b) kotoran ternak dan sisa pakan serta hasil panen yang bukan pangan ataupun pakan dapat didekomposisi menjadi kompos untuk penyediaan unsur hara lahan, sekaligus untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah; serta (c) ternak terutama ruminansia dapat dipelihara dengan sistem grazing di perkebunan (kelapa sawit atau kelapa) untuk memakan tanaman liar/gulma sebagai pakan sehingga menghemat biaya penyiangan. Dengan demikian usahatani akan lebih efisien, sehingga tingkat pendapatan meningkat dan akhirnya kemandirian petani dan peternak terwujud. Pendekatan LEISA ini tidak bertujuan untuk memaksimalkan produksi dalam jangka pendek, namun untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang. LEISA berupaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan sumberdaya alam serta memanfaatkan secara maksimal proses-proses alami.
Saat ini usaha peternakan menghadapi kendala antara lain: (a) ketersediaan pakan murah berkualitas secara kontinyu, (b) keterbatasan lahan untuk pengembangan usaha, dan lahan pangonan untuk ternak ruminansia, (c) kesulitan pembuangan hasil samping usaha
(limbah) berupa kotoran ternak, dan (d) permasalahan sosial dan lingkungan di sekitar usaha. Dilain pihak, usaha tanaman pertanian menghadapi keterbatasan dalam hal ketersediaan sumber unsur hara, biaya perawatan (maintenance) untuk pertumbuhan tanaman yang tinggi dan permasalahan limbah sebagai media penyebaran hama dan penyakit. Kendala-kendala tersebut dapat diatasi dengan melakukan integrasi antar kegiatan dengan cara sebagai berikut:
a. Aplikasi teknologi dan inovasi sederhana pemanfaatan hasil samping (limbah) pertanian dan perkebunan sebagai bahan pakan ternak. Contoh konkrit adalah perlakukan fisik, kimia maupun biologis melalui pencacahan, amoniasi atau fermentasi jerami padi, pucuk tebu, pelepah sawit, serta limbah lainnya (limbah pabrik sawit, kakao, kopi, dll). Pendekatan ini saat ini sudah diadopsi oleh sebagian besar industri dan usaha penggemukan sapi di Bali, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu yang telah menggantikan hampir 100% kebutuhan rumput.
b. Kotoran ternak dan sisa pakan serta hasil panen lainnya dapat diolah lebih cepat menjadi kompos untuk penyediaan unsur hara lahan melalui aplikasi teknologi tepat guna. Inovasi ini sudah diaplikasikan secara penuh oleh beberapa peternakan sapi di Jawa, Bali, Riau, Lampung, Bengkulu dan Sulawesi Selatan.
c. Penggunaan kompos berkualitas terbukti dapat meningkatkan efisiensi produksi padi dan tanaman lainnya, yang memberikan peningkatan pendapatan petani dan menjaga kelestarian lahan persawahan. Inovasi ini sudah berkembang pesat dengan indikator telah bertumbuhkembangnya industri kompos di Indonesia, yang dimotori oleh pelaku usaha dari Surakarta, Jawa Tengah.
Konsep sistem integrasi tanaman-ternak dan pengalaman empiris di beberapa tempat ada benang merah yang dapat ditarik dari hulu sampai ke hilir, yaitu: (1) petani dan pekebun termotivasi untuk tetap mempertahankan
benar dan diimbangi dengan penambahan bahan organik, antara lain dengan penggunaan kompos dari kotoran ternak yang telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan menurunkan biaya produksi; (3) penggunaan kompos membuka peluang pasar baru dan mendorong masyarakat pedesaan untuk mengembangkan industri kompos dengan memelihara sapi; (4) teknologi pakan dalam memanfaatkan limbah pertanian lainnya telah mampu mengurangi biaya pemeliharaan sapi, dengan kompos sebagai produk andalan; (5) pedet merupakan produk utama dari budidaya sapi, namun sebagian biaya pakan dapat diatasi dengan penjualan kompos; serta (6) peternakan dapat dipandang sebagai usaha investasi (tabungan) yang tidak terkena inflasi, mampu menciptakan lapangan kerja yang memang tidak tersedia di pedesaan, dan menjadi bagian integral dari sistem usahatani dan kehidupan masyarakat di pedesaan.
PROSPEK PENGEMBANGAN INTEGRASI PETERNAKAN (SAPI)
Secara nasional populasi sapi potong dari tahun 1994-2002 mengalami penurunan sebesar 3,1% per tahun. Penurunan populasi ini lebih merisaukan karena terjadi pada wilayah sentra produksi yakni NTB, NTT, Sulawesi, Lampung dan Bali. Sedangkan di beberapa daerah Jawa sebagai kawasan yang paling banyak memiliki sapi potong tidak bisa diandalkan lagi karena selain mengalami masalah serupa, di wilayah ini banyak terjadi pemotongan sapi betina produktif atau ternak muda/kecil. Diperkirakan penurunan ini masih akan terus berlangsung pada tahun-tahun mendatang apabila tidak ada terobosan dalam pembangunan peternakan sapi di Indonesia. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan karena dapat mengganggu upaya pencapaian ketahanan pangan, penghematan devisa, penyediaan bahan industri, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan petumbuhan ekonomi nasional.
Dalam dasawarsa terakhir ini juga terdapat kecenderungan impor daging dan sapi hidup jumlahnya terus meningkat, kecuali sesaat setelah krisis tahun 1997. H et al. (2002)
tahun 2002 impor sapi hidup telah mencapai lebih 420.000 ekor (Tabel 3). Namun akhir-akhir ini telah terjadi perubahan (penurunan impor) yang cukup signifikan. Kondisi ini telah menyebabkan harga daging di dalam negeri sangat baik dan merangsang usaha peternakan sapi di pedesaan.
Tabel 3. Realisasi impor daging dan sapi bakalan ke Indonesia
Tahun Impor daging (ribu ton)
Impor sapi bakalan (ribu ekor) 1994 10.62 118.4 1995 12.057 246.9 1996 17.772 378.5 1997 12.764 349.5 1998 3.528 38.8 1999 17.282 133 2000 18.7 266.413 2001 19.3 251.85 2002 16.2 379.438*) 2003
* Data dari APFINDO lebih dari 420.000 ekor Sumber: DITJEN BINA PRODUKSI PETERNAKAN
(2003)
Saat ini usaha peternakan untuk menghasilkan sapi bakalan (cow-calf operation) 99% dilakukan oleh peternakan rakyat yang sebagian besar berskala kecil. Usaha ini biasanya terintegrasi dengan kegiatan lainnya sehingga peran ternak (sapi) sangat komplek dalam menunjang kehidupan keluarga petani. Hampir tidak ada investor yang berminat untuk mengembangkan usaha cow-calf operation, bahkan producer atau breeder yang ada pun sudah hampir tidak mampu bertahan. Usaha cow-calf operation untuk menghasilkan pedet atau sapi bakalan memerlukan biaya pakan yang relatif sangat mahal. Dengan asumsi rata-rata jarak beranak sekitar 500 hari, dan biaya pakan seekor induk sekitar Rp. 4.000,-/hari, maka biaya pakan untuk menghasilkan pedet sedikitnya Rp. 2 juta. Hal inilah yang menyebabkan sampai saat ini tidak ada investor yang bersedia menanamkan modalnya untuk usaha cow-calf operation.
Dengan inovasi teknologi pakan dan pengolahan kompos (dimana memposisikan sapi sebagai mesin penghasil kompos), ternyata kinerja usaha sapi tersebut dapat lebih ditingkatkan, antara lain melalui pengembangan ternak pola integrasi crop-livestock system (SIPT, sistem integrasi padi-sapi). Bahkan untuk kawasan perkebunan sawit, pekebun dapat memelihara sapi dengan mudah dan murah (SISKA, sistem integrasi sapi pada kebun sawit di Agricinal, Bengkulu), dengan skala 10-15 ekor/keluarga. Pendekatan seperti ini mempunyai prospek sangat baik, karena: (i) ternak dapat diusahakan dengan biaya pakan sangat murah, (ii) tersedia kotoran ternak sebagai sumber energi untuk keperluan rumah tangga (biogas) dan pupuk untuk menyuburkan lahan, (iii) tersedia pakan sepanjang tahun, (iv) meningkatkan dayasaing hasil pertanian dan atau perkebunan, serta (v) pemilik ternak menjadi lebih sejahtera.
Studi dalam skala terbatas yang melibatkan sekitar 200 ekor induk sapi di Loka Penelitian Sapi Potong di Grati Pasuruan menunjukkan bahwa pemeliharaan sapi PO pola low input mampu menghasilkan pedet dengan biaya yang sangat kecil. Pakan yang disediakan berupa jerami padi, sedikit rerumputan, dan pakan tambahan yang berasal dari limbah pertanian/perkebunan. Bila diasumsikan bahwa petani dapat menyediakan sumber serat secara gratis, maka biaya eksternal yang secara riil harus dibayar hanya sekitar 6 (kg) x Rp. 175 = Rp. 1050. Sapi dipelihara secara kelompok dalam jumlah 10-20 ekor/kandang, dan kandang dibersihkan sebulan sekali. Ternyata kotoran yang terkumpul laku dijual sebagai kompos dengan produksi sekitar 5 kg ekor-1
hari-1 dengan harga jual Rp. 200/kg, yang
berarti seekor sapi menghasilkan kompos dengan nilai Rp. 1000/ekor/hari.
Dalam studi ini perkawinan dilakukan secara alami, sehingga jarak beranak hanya sekitar 400 hari. Dengan demikian biaya pakan yang secara riil dikeluarkan untuk menghasilkan seekor pedet hanya sekitar 400 x Rp. (1050-1000) = Rp. 20.000/ekor/pedet. Angka ini sangat fantastis, bila dibandingkan dengan perhitungan biaya pedet dalam pola usaha tunggal dan manajemen modern, yang memerlukan pakan biaya sekitar 2 juta rupiah/ekor/pedet. Bila pola ini dilakukan secara masal, maka akan diperoleh keuntungan
lain, antara lain: (i) tersedia pejantan untuk dipotong di setiap desa, sehingga dapat mengurangi pemotongan betina produktif yang saat ini diperkirakan lebih dari 200.000 ekor/tahun, (ii) mengurangi biaya perkawinan, sekaligus mempermudah cara pemeliharaannya, serta (iii) setiap peternak dapat memelihara sapi lebih dari 20 ekor/KK, tanpa harus bersusah payah secara berlebihan.
Dengan melihat kondisi tersebut, pengembangan sapi di Indonesia terutama di kawasan baru, harus dilakukan secara terintegrasi secara in-situ maupun ex-situ dengan memanfaatkan sumberdaya pakan yang ada. Di sisi lain, usaha perkebunan berkembang cukup pesat di Indonesia seperti kelapa sawit, tebu maupun kopi/kakao. Usaha perkebunan tersebut juga menghasilkan banyak jenis produk samping yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan ternak. Sejalan dengan hal tersebut, efisiensi usaha yang berkaitan dengan peningkatan pendapatan para petani juga harus terus diupayakan. Kegiatan penelitian terapan dalam memanfaatkan biomassa yang melimpah di kawasan perkebunan sedang dilakukan oleh Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan pihak swasta, pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memperoleh rekomendasi sistem pemeliharaan pola integrasi di berbagai agroekologi dengan pendekatan zero waste, zero cost atau low cost. Usaha ini ditujukan dalam upaya pemberdayaan peternakan rakyat yang berdayasaing serta dalam memanfaatkan sumberdaya lokal melalui aplikasi teknologi yang tepat.
Di beberapa wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, NTB dan NTT yang merupakan kawasan padat ternak (sapi) perlu dilakukan strategi sebagai berikut: a. Konsolidasi pemeliharaan ternak dengan
sistem kandang kelompok, berkisar antara 20-30 ekor sampai 300-500 ekor (contoh: di DIY dan NTB), untuk memudahkan manajemen pemeliharaan, kesehatan maupun perkawinan.
b. Koordinasi dalam memanfaatkan lahan untuk kandang dan penanaman hijauan pakan ternak, penggunaan limbah pertanian
melalui aplikasi teknologi, peningkatan mutu genetik melalui seleksi, persilangan maupun grading up, serta intensifikasi IB yang dibarengi dengan penyediaan pejantan.
d. Persilangan dengan sapi tipe besar dibatasi dengan persentase darah sapi lokal sekitar 50-62,5%, sehingga biaya maintenance untuk menghasilkan pedet rendah.
Di wilayah pantura Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain, strategi yang dapat dilakukan adalah:
a. Integrasi dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ, akan tetapi harus terdapat aliran: tanaman-pakan-ternak-kompos-lahan. Dalam hal ini diutamakan integrasi dalam suatu kawasan.
b. Di kawasan ini tidak semua petani (harus) dilibatkan dalam pengembangan industri kompos. Setiap KK petani dapat memiliki lebih dari 10 ekor pada awal usahanya, sehingga peternakan merupakan kegiatan utama untuk mendukung agribisnis secara kesatuan. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi rumah tangga dengan membangun instalasi biogas sangat dianjurkan.
c. Jenis maupun komoditas yang dipelihara disesuaikan dengan kondisi agroekologi dan sosial-budaya masyarakat, misalnya sapi potong, sapi perah, kerbau, dan lain sebagainya.
Integrasi tidak hanya padi-sapi, tetapi dapat pula terkait dengan tanaman lainnya, baik semusim maupun tahunan. Spesialisasi dapat dilakukan, misalnya: cow-calf operation di kawasan remote, pembesaran pedet di wilayah yang prasarana jalannya sudah baik, dan penggemukan dilakukan di kawasan dekat pasar atau di kawasan penghasil konsentrat yang berasal dari limbah (singkong, sawit, dll).
SUATU MODEL: SISTEM INTEGRASI TERNAK DI PERKEBUNAN SAWIT (MODEL PT AGRICINAL, BENGKULU)
Salah satu pekerjaan terberat pada perkebunan kelapa sawit adalah pada saat
TBS ke tempat pengumpulan hasil, PT Agricinal, Bengkulu mengintroduksi ternak sapi Bali sebagai tenaga kerja, baik dengan cara menarik gerobak maupun dengan cara diangkut di punggung. Sapi Bali dipilih karena mempunyai keunggulan, seperti: mudah dikendalikan, ukuran badan tepat (sesuai), mampu beradaptasi dalam kondisi lingkungan lembab tropis, serta sangat produktif. Pengembangan sapi Bali dalam pola ini dapat diintegrasikan dengan ternak kambing, tetapi tidak dianjurkan untuk pengembangan domba karena ternak domba merupakan carrier penyakit MCF (malignant cattharal fever) pada sapi Bali.
Dengan bantuan 2 ekor sapi, seorang pekerja pemanen TBS mampu bekerja lebih mudah dan nyaman. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya luas lahan panen dari ancak giring seluas 10 ha menjadi ancak tetap dengan luas 15 ha per pekerja, sehingga pendapatan mereka meningkat sekitar 50% dari sebelumnya (DIWYANTO et al., 2004). Sapi juga sangat membantu dalam mengangkut pupuk dan saprodi lainnya, sehingga perawatan kebun menjadi lebih efektif dan efisien. Keberadaan sapi yang dipelihara dengan baik telah menyebabkan perkembangan jumlah sapi pada tahun 2003 meningkat (inti 2312 ekor, plasma 1964 ekor, total 4296 ekor), sehingga memerlukan pakan lebih banyak. Saat ini, sebagian besar pekebun memiliki sapi lebih dari 8 ekor per KK. Di lain pihak ketersediaan rerumputan di areal perkebunan kelapa sawit yang telah berproduksi tidak dapat mencukupi, karena vegetasi alam tidak mampu tumbuh dengan baik karena tertutup kanopi.
Pada tahun 1997, peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit bekerjasama dengan ex-Sub-Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Sei Putih-Medan, telah berhasil merintis pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai pengganti pakan hijauan. Hasil inovasi teknologi ini telah diaplikasikan di PT Agricinal dengan hasil yang cukup memuaskan, walaupun masih belum optimal. Dengan memanfaatkan pelepah sawit dan biomasa yang tersedia, ternyata setiap ha tanaman sawit mampu menyediakan pakan untuk dua ekor sapi dewasa sepanjang tahun. Dengan demikian seorang pekebun yang bekerja dalam pola ancak tetap dan memanen sawit seluas 15 ha, mempunyai peluang
memelihara minimum 30 ekor sapi tanpa mengalami kesulitan pakan sepanjang tahun, dan hanya 2 diantaranya dipergunakan sebagai ternak beban.
Studi pendahuluan terhadap penggunaan produk samping kebun dan industri pengolahan kelapa sawit menunjukkan bahwa imbangan yang optimal pemberian pelepah, solid dan bungkil kelapa sawit adalah 1:1:1 (bahan kering) dengan kenaikan bobot hidup harian 0,335 kg/ekor. Nilai ini sejalan dengan rendahnya kemampuan ternak sapi mengkonsumsi ransum yang diberikan sebagai akibat tingginya kandungan air bahan ransum. Hasil penelitian ini tersirat bahwa cacahan segar pelepah kelapa sawit dapat menggantikan sepenuhnya pakan hijauan yang mutlak dibutuhkan ternak ruminansia.
Ke depan, diharapkan dengan ketersediaan produk samping tanaman dan pabrik pengolahan kelapa sawit yang telah ditingkatkan kualitasnya, dapat dirakit pakan komplit ternak ruminansia dalam bentuk crumble, pellet, balok atau tepung. Dengan demikian prospek pengembangan industri pakan komplit berbasis produk samping industri kelapa sawit cukup menjanjikan (khususnya industri pakan untuk ruminansia). Penelitian pakan komplit ini akan terus disempurnakan untuk setiap status fisiologis ternak (anak, muda, dewasa, bunting, laktasi, penggemukan dan pejantan). Diharapkan penelitian ini dapat memberi rekomendasi lengkap untuk pengembangan ternak pola “Sistem Integrasi Sapi-Perkebunan Kelapa Sawit di Agricinal (SISKA)”. Pola pengembangan dimaksud adalah (i) model penyediaan sapi bakalan pada tingkat inti-plasma melalui pendekatan LEISA, (ii) model penggemukan sapi pada tingkat perusahaan/inti (khususnya ternak potong, namun tidak menutup kemungkinan untuk sapi perah), dan (iii) model pengembangan sapi pola integrasi ex-situ.
Diharapkan, dengan berkembangnya industri pakan ruminansia dan pola pengembangan ternak ruminansia khususnya sapi, yang terpadu dalam suatu sistem pengelolaan perkebunan kelapa sawit, kebutuhan daging nasional dapat terpenuhi dan terjamin serta menghasilkan produk yang mampu bersaing. Bila setiap ha dapat menyediakan pakan untuk sedikitnya 2 ekor
sapi dewasa, maka luas areal perkebunan yang lebih dari 5 juta ha sangatlah menjanjikan. Pola integrasi ini juga memungkinkan penyediaan bahan (pupuk) organik yang sangat diperlukan untuk merawat kebun, sehingga kesuburan lahan dapat terjamin disamping adanya efisiensi penggunaan pupuk anorganik.
Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran (feses) sebanyak 8-10 kg setiap hari. Apabila kotoran sapi ini diproses menjadi pupuk organik dapat diharapkan akan menghasilkan 4-5 kg/hari (HARYANTOet al., 1999). Dengan demikian, pada luasan perkebunan sawit satu hektar dapat diharapkan akan menghasilkan sekitar 7-10 ton pupuk organik per tahun. Sementara itu, penggunaan kotoran ternak yang sudah diolah dengan baik dan benar pada lahan sawit adalah 2-3 ton per hektar untuk setiap kali tanam. Sehingga potensi pupuk organik yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1-2 hektar. Sistem integrasi sapi pada kawasan sawit diharapkan dapat memanfaatkan potensi sumberdaya wilayah dalam rangka mempertahankan kesehatan lahan melalui siklus unsur hara secara sempurna.
Introduksi ternak sapi dalam sistem integrasi di perkebunan kelapa sawit dapat menjadi alternatif untuk mengatasi berbagai masalah, kendala maupun tantangan yang ada (efisiensi, kesuburan, lingkungan dan sosial), serta sekaligus merupakan peluang dalam menjawab masalah dalam menyediakan daging atau sapi bakalan di dalam negeri. Saat ini di PT Agricinal telah memperkenalkan pengembangan biogas, yang ternyata mempunyai prospek sangat bagus dalam penyediaan energi untuk rumah tangga. Bila hal ini dilakukan, maka masalah lain yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia karena kelangkaan BBM sebagian dapat teratasi dengan mudah dan bijaksana.
PENUTUP
Keterkaitan antara tanaman dengan ternak dalam satu sistem usahatani terpadu dapat dikembangkan pada kawasan persawahan, perkebunan, hutan tanaman industri, dan lain
diharapkan petani akan mendapatkan sumber income setidak-tidaknya dari dua komoditas yang diusahakan, disamping kemungkinan adanya penurunan biaya produksi baik pada usaha tanaman maupun usaha ternaknya karena munculnya kondisi saling menunjang diantara kedua usaha tersebut.
Manajemen yang diaplikasikan adalah zero waste dan zero cost, atau pertanian dengan pendekatan LEISA. Inovasi untuk menunjang sistem ini sudah tersedia, tetapi dalam pelaksanaannya harus dipilah dan dipilih berdasarkan Agro Ecological Zone dan kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, model pengembangan mendukung sistem integrasi tanaman-ternak di setiap kawasan perlu dikaji, agar secara teknis layak, secara ekonomi feasible, sesuai dengan sosial-budaya masyarakat, ramah lingkungan, serta secara lokal maupun nasional mempunyai prospek untuk dikembangkan. Model integrasi dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ, tetapi yang terpenting ada aliran atau siklus biologis yang tidak terputus.
Oleh karena itu pengembangan ternak pola integrasi adalah salah satu jawaban utama untuk merespon permasalahan peternakan, khususnya dalam menyediakan daging. Pola ini secara tidak langsung akan menjadi alternatif dalam menciptakan lapangan kerja, penghematan devisa dan penyediaan energi alternatif (ternak sebagai tenaga kerja maupun produk biogas). Untuk pengembangannya harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (i) biomasa yang tersedia dan dapat dijadikan bahan pakan utama, (ii) spesies atau jenis ternak yang sesuai dengan kondisi agroekologi dan sosial budaya masyarakat, (iii) manajemen pemeliharaan yang tepat (sistem perkandangan dan kandang kelompok, aspek veteriner, pengolahan dan pemanfaatan kompos, dll), serta (iv) dukungan inovasi teknologi lain yang tepat (seleksi dan persilangan, IB atau kawin alam, dll).
Namun pola integrasi ini juga tetap memerlukan kewaspadaan, terutama dalam bidang veteriner, bila akan melakukan mix farming antar spesies ternak. Pengembangan sapi Bali sebaiknya tidak disatukan dengan
memperhatikan jangan sampai ternak justru menjadi hama tanaman, seperti kasus pengembangan domba di kawasan perkebunan tebu Jawa Barat.
DAFTAR PUSTAKA
ADININGSIH,S.J. 2000. Peranan bahan organik tanah
dalam sistem usahatani konservasi. Dalam: Bahri et al., (eds). Materi Pelatihan Revitalisasi Keterpaduan Usaha Ternak dalam Sistem Usaha Tani. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor.
BADAN PUSAT STATISTIK. 2003. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
BUDIANTO, J. 2003. Kebijaksanaan penelitian dan
pengembangan teknologi peningkatan produktivitas padi terpadu. Prosiding Lokakarya Pelaksanaan Program Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Bogor.
DITJEN BINA PRODUKSI PETERNAKAN. 2003. Statistik
Peternakan. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta. DEPARTEMEN PERTANIAN. 2004. Statistik Pertanian.
Pusat Data dan Informasi Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.
DIWYANTO, K., B.R. PRAWIRADIPUTRA dan D. LUBIS. 2002. Integrasi tanaman-ternak dalam
pengembangan agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkerakyatan. Buletin Ilmu Peternakan Indonesia, Wartazoa, 12 (1): 1-8. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor. DIWYANTO, K., D. SITOMPUL, I. MANTI, I-W
MATHIUS dan SOENTORO. 2004. Pengkajian
Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Prosiding Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa sawit-Sapi. Departemen Pertanian bekerjasama dengan Pemprov Bengkul dan PT. Agricinal.
DEVENDRA,C. 1993. Sustainable Animal Production
from Small Farm Systems in South East Asia. FAO Animal Production and Health Paper. FAO, Rome.
HADI,P.U.,N.ILHAM,A.THAHAR.,B.WINARSO,D. VINCENT dan D. QUIRKE. 2002. Improving Indonesia’s Beef Industry. ACIAR Monograph No. 95
HARYANTO, B., M. SABRANI, M. WINUGROHO, B.
SUDARYANTO, B.RISDIONO, A. PRIYANTI, E. MARTINDAH, M. SIAHAAN, E. SUYANTI dan
SUBIYANTO. 1999. Pengembangan hijauan
makanan ternak menunjang IP 300. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor.
HARYANTO,B.,I.INOUNU,IGMBUDIARSANA dan K. DIWYANTO. 2002. Panduan Teknis Sistem Integrasi Padi-Ternak. Departemen Pertanian, Jakarta.
HARYANTO,B. 2003. Manajemen pemeliharaan sapi dalam pola CLS lahan kering. Makalah disampaikan dalam Apresiasi Teknis Program Litkaji Sistem Usahatani Tanaman Ternak di Lahan Kering. Sukamandi, 30 Juni–2 Juli 2003. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor. PRASETYO, T., C. SETIANI dan S. KARTAATMAJA.
Integrasi tanaman-ternak pada sistem usahatani di lahan irigasi: studi kasus di kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Buletin Ilmu Peternakan Indonesia, Wartazoa, 12 (1): 29-35. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor. SUBAGYONO, D. 2004. Propsek Pengembangan
Ternak Pola Integrasi Di Kawasan Perkebunan. Prosiding Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor.
SURYANA, A. dan HERMANTO. 2003. Kebijakan
ekonomi perberasan nasional. Dalam: Kasryno, F., E. Pasandaran dan A.M. Fagi (eds). Ekonomi Padi dan Beras Indonesia. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.
SYAM, A. dan M. SARIUBANG. 2004. Pengaruh pupuk organik (kompos kotoran sapi) terhadap produktivitas padi di lahan irigasi. Prosiding Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor. TRIKESOWO, N. 2004. Peluang dan kendala
pengembangan agribisnis peternakan sapi. Makalah disampaikan pada acara Lokakarya Peranan Road Map Dalam Membantu Penyusunan Program Pembangunan Peternakan Yang Berkelanjutan Menuju Tahun 2020. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Bogor.