• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses/dinamika perceraian pada wanita dewasa awal yang melakukan perceraian/gugatan cerai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Proses/dinamika perceraian pada wanita dewasa awal yang melakukan perceraian/gugatan cerai"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PROSES/DINAMIKA PERCERAIAN PADA WANITA DEWASA AWAL YANG MELAKUKAN PERCERAIAN/GUGATAN CERAI. Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi. Oleh: Rezka Septya Adi 099114105. PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2016.

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN “HAPPINESS IS A CHOICE, NOT A RESULT”. “Nothing will make you happy… until you choose to be happy No person will make you happy… unless you decide to be happy Your happiness will not come to you. It can only come from you.” -Ralph Marston“Hidup itu seperti lantunan nada.”. “Merdu atau sumbang adalah bergantung pada bagaimana kita melantunkannya. Indah atau suramnya hidup adalah bergantung pada bagaimana kita memaknainya.” -R. Mareka“Every morning you have two options : Continue to sleep with your dreams. Or wake up and chase them.”. -Unknown-. Dipersembahkan untuk diriku, keluargaku, sahabatku, temanku yang selalu mengasihi dan memberikan semangat pada diriku.. iv.

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PROSES/DINAMIKA PERCERAIAN PADA WANITA DEWASA AWAL YANG MELAKUKAN PERCERAIAN/GUGATAN CERAI. Rezka Septya Adi. ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses/dinamika perceraian pada wanita dewasa awal yang melakukan gugatan cerai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana proses/dinamika perceraian pada wanita dewasa awal yang melakukan perceraian/gugatan cerai. Informan dalam penelitian ini adalah 2 orang wanita usia dewasa awal yang telah bercerai, dimana perceraian yang dilakukan merupakan keinginan dari diri mereka. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara semi terstruktur terhadap informan penelitian. Validitas penelitian ini didapatkan dengan cara melakukan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan dilakukannya perceraian menurut informan adalah : 1) Kurangnya kesiapan diri dalam menjalin hubungan rumah tangga, 2) Tujuan dan alasan menikah yang tidak tepat, 3) Kurangnya hubungan yang intim dengan pasangan, 4) Campur tangan pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga, 5) Suami meninggalkan tanggung jawabnya sebagai suami. Kata kunci : proses perceraian, wanita dewasa awal. vi.

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PROCESS/DYNAMICS OF DIVORCE ON A MATURE WOMAN STARTING DOING DIVORCE/LAWSUIT FOR DIVORCE Rezka Septya Adi. ABSTRACT. This research aims to know the process/dynamics of divorce on a mature woman starting doing for divorce. This research uses qualitative descriptive method. Questions in this research is how to process/dynamics of divorce on a mature woman starting doing divorce/lawsuit for divorce. Informants in this study were two women early adulthood who have been divorced, where divorce is done is the desire of themselves. Data were collected by semi-structured interviews to conduct research informants. The validity of this study is obtained by performing member checking. The results of the study indicate that the reason for the divorce by informants are: 1) Lack of preparedness in the relationship of households, 2) purpose and married improper, 3) Lack of an intimate relationship with a partner, 4) The intervention of a third party in the lives of household, 5) husband leaving his responsibilities as a husband. Key word : reason for divorce, young women. vii.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kemampuan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir melalui tulisan ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Ketertarikan penulis akan semakin meningkatnya angka perceraian khususnya di kalangan usia dewasa awal, mengetuk hati penulis untuk mencoba menggali dan memahami secara personal berbagai alasan yang mendasari terjadinya perceraian dari sudut pandang wanita yang melakukan perceraian di usia dewasa awal. Penulis mengucapkan terima kasih untuk segenap pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penulis baik dalam bentuk materi maupun nonmateri sehingga penulis berhasil menyelesaikan tugas akhir ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada : 1.. Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan segala kemampuan kepada penulis, serta menyediakan segala fasilitas yang dapat mendukung penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.. 2.. Bapak Dr. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3.. Bapak Paulus Eddy Suhartanto, M.Si. selaku Ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4.. Bapak Cornelius Siswa Widiyatmoko, M.Psi. selaku dosen pembimbing akademik dan pembimbing skripsi. Terima kasih atas waktu dan tenaga. ix.

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. serta kesabaran dan semangat yang telah diberikan selama proses bimbingan. 5.. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas psikologi. Terima kasih atas segenap bimbingan serta motivasi yang diberikan selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi.. 6.. Untuk kedua orang tuaku yang selalu menjadi guru dalam kehidupanku. Terima kasih atas semua doa, kerja keras, cinta dan kasih yang kalian berikan kepadaku demi kesuksesan dan kebahagiaanku.. 7.. Untuk kakak-kakakku yang tercinta Dewi, Edwin, serta kakak iparku Adi, dan Fila. Terima kasih untuk dukungan, kasih dan canda tawa yang kalian berikan. Kerukunan kita merupakan hal yang indah dalam kehidupanku.. 8.. Untuk Bernardin Dian yang telah menemaniku dalam hampir separuh waktuku selama empat tahun ini. Terima kasih atas bantuan dan semangat yang kau berikan selama proses pengerjaan tugas akhir ini.. 9.. Untuk narasumber yang sudah bersedia membantu dan memberikan cerita pengalaman hidupnya kepada saya. Terima kasih atas kesediaannya sebagai narasumber sehingga saya mampu menyelesaikan tugas akhir ini.. 10.. Untuk sahabat-sahabat terbaikku, Bang Yos, Jekek, Septian, Joshua, Ponang. Terima kasih atas kebersamaan kita selama ini yang selalu memberikan warna dalam hidupku. Kalian yang selalu menemaniku dalam segala hal dengan memberiku tawa dan canda.. x.

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 11.. Untuk semua teman-teman musisi yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, serta teman-teman Sadhar Jazz yang terus bertambah saat ini. Karena kalian aku belajar dan dapat mengembangkan potensi bermusikku. Akhirnya penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis berharap dan sangat terbuka untuk menerima saran dan kritik yang membangun. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan dapat terus dikembangkan.. Yogyakarta, September 2016. Rezka Septya Adi. xi.

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ……………………………ii HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………………..iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN …………………………………………………...iv HALAMAN KEASLIAN PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH ………………..….v ABSTRAKSI ………………………………………………………………………...vi ABSTRACT....................................................................................................................vii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ……………………viii KATA PENGANTAR ……………………………………………………………….ix DAFTAR ISI…………………………………………………………………..……....xii DAFTAR TABEL .......................................................................................................xvii DAFTAR LAMPIRAN…………….……………………………………………......xviii BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………...….….1 A.. Latar Belakang Penelitian.…………………………………….....1. B.. Rumusan Masalah……………………………………………......7. C.. Tujuan Penelitian…………………………………………....…..7. D.. Manfaat Penelitian……………………………………...….…....7 1.. Manfaat Teoritis…………………………………...….…...7. 2.. Manfaat Praktis…………………………………………….8. xii.

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pernikahan…………………………….……………………...9 1. Pengertian Pernikahan…………………………...…...9 2. Alasan Melangsungkan Pernikahan…..…………...…10 3. Kebutuhan Dalam Pernikahan…………………….….11 B. Perceraian………………………………………………….....13 1. Pengertian Perceraian…………………………………13 2. Kondisi yang Mempengaruhi Stabilitas Perkawinan....14 3. Alasan Perceraian……………………………………..19 4. Alasan Wanita Memutuskan Bercerai……………..….20 5. Dampak Perceraian……………………………………21 C. Pengertian Wanita………………………………………...…..23 D. Masa Dewasa Awal…………………………………………...24 1. Cirri-ciri Masa Dewasa Awal…………………………25 2. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal……………29 E. Proses/Dinamika Perceraian Pada Wanita Dewasa Awal yang Melakukan Perceraian/Gugatan Cerai………..….30 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……………………………......32 A. Jenis Penelitian……………………………………………...32 B. Fokus Penelitian…………………………………………..…33 C. Metode Pengumpulan Data……………………………….…33 D. Prosedur Pengumpulan Data…………………………….….35 xiii.

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. E. Informan Penelitian…………………………………...…..…35 F. Analisis Data…………………………………………......….36 G. Kredibilitas Penelitian…………………………………...…..37. BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…….……………..39 A. Pelaksanaan Penelitian………………………..…….…………39 B. Profil Informan……..………………………………..……….41 C. Hasil Penelitian……………………………………..………....42 1. Informan Y……………………………………...……..42 a. Relasi Sebelum Menikah………………...…….42 b. Karakteristik Masing-Masing Pihak………...…45 c. Relasi Dengan Orang Tua Serta Konflik/Peristiwa Traumatik Sebelum Menikah…………………….........….46 d. Perasaan Sebelum Menikah dan Alasan Menikah……………………..………….48 e. Kesiapan Emosi Dalam Pernikahan……...........50 f. Relasi Dan Perasaan Terhadap Suami Setelah Menikah………………………………...53 g. Konflik Dalam Rumah Tangga Dan Penyelesaiannya………………………….……...55 h. Perasaan Saat Terjadi Konflik.. …………….……58 i. Proses Perceraian……………………………….…59 2. Informan N…………………………………………..……61 xiv.

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. a. Relasi Sebelum Menikah………………………….61 b. Karakteristik Masing-Masing Pihak………………61 c. Relasi Dengan Orang Tua Serta Konflik/Peristiwa Traumatik Sebelum Menikah…………………...……….…....63 d. Perasaan Sebelum Menikah dan Alasan Menikah………………………………...….65 e. Kesiapan Emosi Dalam Pernikahan.………….......67 f. Relasi Dan Perasaan Terhadap Suami Setelah Menikah......................................................68 g. Konflik Dalam Rumah Tangga Dan Penyelesaiannya………….………………...…........71 h. Perasaan Saat Terjadi Konflik……………………...73 i. Proses Perceraian……………….……………..……74 D. Pembahasan…………………………………………...……………76 1. Alasan Perceraian………………………………………..…76 2. Relasi Dengan Calon Suami…………………...………..…78 3. Karakter Masing-Masing Pihak………………………...….79 4. Relasi Dengan Orang Tua……………………………….....80 5. Alasan Menikah…………………………………………….81 6. Kesiapan Emosi Dalam Pernikahan………………………..83 7. Relasi dan Perasaan Terhadap Suami Setelah Menikah…...84 8. Konflik Dalam Rumah Tangga dan Penyelesaiannya……..85 9. Perasaan Saat Terjadi Konflik……………………………..86 xv.

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………..……...87 A. Kesimpulan……………………………………………….………...87 B. Keterbatasan Penelitian……………………………………….....…88 C. Saran………………………………………………….…………….89 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….…....92 LAMPIRAN……………………………………………………………………....94. xvi.

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL Tabel 1. Panduan Pertanyaan dan Wawancara………………………………36. xvii.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. : Informed Consent Persetujuan Partisipan Dalam Penelitian. Lampiran 2. : Informed Consent Data Partisipan Informan 1. Lampiran 3. : Informed Consent Data Partisipan Informan 2. Lampiran 4. : Transkrip Verbatim Informan 1. Lampiran 5. : Transkrip Verbatim Informan 2. xviii.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa dewasa awal merupakan masa transisi dari masa remaja menuju masa dewasa. Masa ini ditandai oleh eksperimen dan eksplorasi, di mana banyak individu mencari karier yang diinginkan, ingin menjadi individu yang seperti apa, gaya hidup seperti apa yang dinginkan, hidup melajang, hidup bersama, atau menikah (Santrock, 2011:6). Individu pada masa dewasa awal memiliki tugas perkembangan meliputi, mendapatkan suatu pekerjaan, memilih teman hidup, membentuk sebuah keluarga dalam ikatan suami-istri, membesarkan anak-anak, mengelola rumah tangga, menerima tanggungjawab sebagai warga negara dan bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok. Individu dewasa muda diharapakan memainkan peranan baru seperti suami/istri, orangtua, pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap, keinginan-kinginan, dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru dalam masa dewasa awal ini. (Hurlock, 1980) Sejalan dengan tugas perkembangan yang dikemukakan Hurlock, melangsungkan sebuah pernikahan atau perkawinan merupakan salah satu tugas perkembangan di masa dewasa awal. Pernikahan atau perkawinan sendiri merupakan sebuah peristiwa penting yang akan dihadapi, dipilih, dan dilalui oleh sebagian besar atau hampir semua orang. Menurut UndangUndang Nomor 1 tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara 1.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 2. seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Hadikusuma,1990:7). Setiap pasangan pasti mendambakan kehidupan perkawinan yang sejahtera, harmonis, dan bahagia, namun sayang dambaan itu tidak selalu tercapai. Saat ini, banyak sekali kabar atau berita yang tersebar di berbagai media sosial, surat kabar, maupun televisi tentang pertengkaran antara suami dan istri, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, perebutan anak dan harta, bahkan pembunuhan pasangan dalam perkawinan yang sudah berantakan (Yuwana dan Maramis, 1990). Permasalahan dalam perkawinan bukanlah hal yang baru dan bukan pula milik suatu masyarakat tertentu. Menurut Kubie (1950 dalam Yuwana dan Maramis 1990), baik pria maupun wanita, keduanya memiliki kemampuan yang besar untuk menemukan cara-cara membuat mereka berdua tidak bahagia. Mereka bertengkar dan berselisih tentang hal-hal sepele dan gagal menemukan kesatuan pendapat. Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh para pasangan yang tidak mampu mengatasi dan menyelesaikannya akan menimbulkan banyak konflik hingga berujung kemelut atau perceraian. Perceraian merupakan suatu peristiwa yang sangat tidak diinginkan bagi setiap pasangan dan keluarga.. Perceraian. dapat. menimbulkan. banyak. hal. yang. tidak. mengenakkan, sepertikepedihan yang dirasakan semua pihak.Perceraian.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 3. dapat menimbulkan berbagai dampak seperti fisik, emosional, dan psikologis bagi seluruh anggota keluarga. Dari berita yang didapatkan, dikatakan bahwa : Angka perceraian di Indonesia dianggap paling tinggi di AsiaPasifik, menurut BKKBN pada tahun 2013 lalu. (sumber: Angka Perceraian di Indonesia Tertinggi di Asia-Pasifik). Data pada tahun 2010 menyatakan bahwa 70% adalah cerai gugat istri, dengan alasan tertinggi ketidakharmonisan. Memasuki tahun 2016, angka perceraian di Indonesia masih tetap tinggi. Di Kabupaten Kulonprogo, DIY angka perceraian selama tahun 2015 mencapai 632 perkara, dengan 426 diantaranya adalah cerai gugat (sumber: Harian Jogja). Di Kabupaten Gunungkidul hingga akhir November 2015, tercatat 1.310 perkara (sumber: Tribun Jogja). Di Kabupaten Ciamis, Pengadilan Agama setempat menerima 4.549 perkara. Kasus tertinggi adalah cerai gugat 2.812 perkara, sedangkan cerai talak hanya 1.573 perkara. (sumber: Pikiran Rakyat). Pengadilan Agama Tigaraksa Tangerang, Banten menyebutkan angka perceraian mencapai 4.700 perkara yang didominasi oleh cerai gugat istri (sumber: Radar Banten). Sedangkan di Pengadilan Agama Kota Bekasi tercatat ada 3.412 perkara, dengan 75% gugatan dilayangkan oleh istri (sumber: Info Bekasi). Lain lagi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pengadilan Agama setempat mengungkapkan ada 1.115 perkara, yang didominasi pihak istri yang menggugat cerai (sumber: Suara Merdeka). Pengadilan Agama kelas 1B Pariaman, Sumatra Barat telah menyelesaikan 535 perkara selama 2015, dengan 65% adalah cerai gugat (sumber: Majalah Kartini). Lalu Pengadilan Agama kelas II A Kota Jambi, menyebutkan sepanjang tahun 2015, terdapat 1.087 perkara, sebanyak 812 diantaranya adalah gugatan cerai (sumber: Republika). Faktor ekonomi menjadi alasan utama pihak istri menggugat cerai suami.Biaya ke salon perawatan tubuh lebih besar daripada biaya hidup selama sebulan.Penghasilan suami dirasa tidak cukup, padahal istri selalu ingin tampil cantik dan terlihat awet muda.Pakaian dan asesoris yang melekat di badan harus merk terkenal, agar terlihat selalu mengikuti tren dan meningkatkan kelas sosial. Selain berubahnya gaya hidup istri, faktor ekonomi lain yang menjadi sebab cerai gugat adalah suami tidak bekerja. Tidak tahan karena harus menghidupi anak dan suami, gugatan cerai pun dilayangkan ke Pengadilan Agama.Rata-rata kasus seperti ini adalah pernikahan karena “kecelakaan”. (Hae Taufan,2016).

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 4. Berita lain menyatakan : Di Kabupaten Wonogiri, dalam sebulan, Pengadilan Agama (PA) Wonogiri menerima kasus perceraian mencapai ratusan perkara. Bahkan, usai masa lebaran, angka perceraian justru meningkat. Sekretaris Pengadilan Agama Wonogiri, Riyanto mengatakan bahwa rata-rata tiap bulan ada 150 perkara yang masuk. Menurutnya, jumlah kasus perceraian 2015 yang masuk ke PA Wonogiri hingga Oktober mencapai sekitar 1.300 perkara.Ia juga mengatakan bahwa jumlah tersebut akan meningkat hingga 200 perkara usai lebaran. Hal tersebut dimungkinkan pada saat lebaran, banyak warga Wonogiri yang merantau pulang dan mengurus cerai.Ia meyebut, faktor pendukung penyebab kasus perceraian di Wonogiri cukup variatif. Selain karena pihak suami tidak bertanggung jawab menafkahi isterinya sehingga memilih bercerai, namun paling dominan soal perekonomian. (Tarmuji,2015) Berita lain juga menyatakan bahwa : Meningkatnya pengetahuan wanita Wonogiri di bidang hukum, berimbas pula pada komposisi kasus perceraian.Disebutkan lebih dari separuh tingkat perceraian merupakan inisiatif dari pihak istri. Ketua Pengadilan Agama (PA) Wonogiri Zaenal Arifin melalui Panitera/Sekretaris PA Djumanah mengungkapkan, lebih dari 50 persen merupakan cerai gugat atau pihak istri yang menggugat cerai suaminya. Penyebabnya, wanita Wonogiri mulai mengetahui hak-haknya di ranah hukum.Di tahun 2012 ada permohonan perceraian total mencapai 1.837, meningkat ketimbang 2011 dengan 1.623 pemohon. Zaenal Arifin mengatakan bahwa mulai awal 2000 saat gencarnya emansipasi wanita, lebih separuh perceraian dari inisiatif istri.Kalangan istri semakin mandiri dan mengerti hak hukumnya, tidak lagi bergantung pada suaminya. Sementara, hampir sebagian besar inisiasi itu disebabkan adanya pihak ketiga yang masuk ke dalam rumah tangga.Biasanya, diawali suami merantau untuk meningkatkan kehidupan ekonominya.Saat di tempat yang baru, ada orang ketiga yang datang dan menganggu rumah tangga mereka. (Arianto,2013). Dari ketiga berita tersebut dapat kita lihat bahwa pada tahun 2013 Indonesia dianggap negara dengan angka perceraian tertinggi di Asia Pasifik dan masih tetap tinggi sampai tahun 2016. Pada tahun 2010, 70% perceraian diajukan oleh istri dengan alasan tertinggi adalah ketidakharmonisan dan faktor ekonomi. Kemudian di kabupaten Tangerang perceraian didimonasi.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 5. oleh cerai gugat cerai istri mencapai 4.700 perkara. Begitu juga di kota Bekasi sebanyak 75% gugatan cerai dilayangkan oleh istri, sedangkan di Kabupaten Rembang, kasus perceraian juga didominasi pihak istri yang menggugat cerai. Sementara di Kabupaten Wonogiri sendiri, angka perceraian juga selalu meningkat setiap tahunnnya. Perceraian di Wonogiri ini juga didominasi dengan cerai gugat dimana perceraian diajukan oleh pihak istri. Penyebab perceraian di beberapa tempat tersebut sangat bervariasi, mulai dari masalah ketidakharmonisan, masalah ekonomi, orang ketiga, dan lain sebagainya. Menurut Nasaruddin dalam Kertamuda (2009), ada tiga belas kriteria terjadinya perceraian, yaitu ketidakcocokkan, kekerasan dalam rumah tangga, poligami, masalah ekonomi, nikah di bawah tangan, salah satu pasangan menjadi TKI, atau jarak usia yang terlalu. jauh. Selain itu,. Nasaruddin juga mengatakan bahwa saat ini wanita makin pintar, makin menyuarakan kesetaraan gender dan hak-haknya. Hal inlah yang juga menjadi pemicu tingginya tingkat perceraian. Nakamura (1991) dalam bukunya yang berjudul Perceraian Orang Jawa, menuliskan kategorisasi alasan perceraian yang disusun oleh Departemen Agama, antara lain : a. Ekonomis, keadaan di mana suami tidak mampu untuk menghidupi ister dan keluarganya. b. Krisis moril, keadaan di mana suami/isteri mengadakan hubungan seksual dengan orang lain yang bukan pasangannya yag sah..

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 6. c. Dimadu,memiliki dua bnetuk keadaan, pertama adalah keadaan di mana isteri sudah dimadu oleh isteri lain dan ia merasa tidak tahan lagi. Kedua, suami ingin menikah kembali dan istri tidak mau dimadu oleh calon madu ini. d. Meninggalkan kewajiban, menurut Hukum Islam, seorang suami berkewajiban untuk memelihara isterinya dan menyediakan kehidupan yang layak baginya. Istri memiliki kewajiban untuk menjaga keserasian rumah tangga dan taat kepada suami. e. Biologis adalahkeadaan di mana suami dan isteri tidak mempunyai kemampuan jasmaniah untuk membina perkawinan yang bahagia seperti sakit, impoten, atau mandul. f. Pihak Ketiga adalah campur tangan dari pihak lain, seperi orangtua dari isteri atau suami, dalam urusan rumah tangga dan memkasakan perceraian. g. Politik adalah pertentangan keyakinan politik antara suami dan isteri. Berdasarkan. uraian. tersebut,. peneliti. merasa. tertarik. untuk. mengetahui dinamika/proses perceraian pada wanita dewasa awal yang melakukan gugatan cerai. Mengingat bahwa salah satu tugas perkembangan usia dewasa awal adalah untuk membentuk suatu komitmen dalam hubungan suami/istri dan perceraian bukan merupakan hal yang didambakan dalam suatu pernikahan, namun banyak terjadi. Terlebih lagi perceraian memiliki banyak dampak buruk bagi diri sendiri dan keluarga..

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 7. B. Rumusan Masalah Rumusan. masalah. dalam. penelitian. ini. adalah. Bagaimana. proses/dinamika perceraian pada wanita dewasa awal yang melakukan perceraian/gugatan cerai?. C. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui proses/dinamika perceraian pada wanita dewasa awal yang melakukan perceraian/gugatan cerai.. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki manfaat teoretis maupun praktis sebagai berikut : 1. Manfaat Teoretis a. Menambah wawasan dan pengetahuan di bidang psikologi sosial dan psikologi perkembangan terkait perceraian pada wanita di usia dewasa awal. b. Menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya mengenai perceraian pada wanita di usia dewasa awal. 2. Manfaat Praktis a. Bagi subjek penelitian Dapat dijadikan sebagai refleksi diri akan masalah-masalah yang dialami dalam kehidupannya..

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 8. b. Bagi psikolog dan konselor Berbagai informasi yang terdapat dalam hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan atau dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya yang lebih mendalam dan menyentuh aspek-aspek psikologis lainnya. Selain itu juga dapat menjadi landasan atau pertimbangan untuk melakukan proses konseling atau tindakan lainnya. c. Bagi masyarakat luas Dapat dijadikan sumber informasi, wawasan, dan juga pembelajaran mengenai berbagai masalah terkait perceraian pada wanita di usia muda..

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pernikahan 1. Pengertian Pernikahan Pengertian perkawinan menurut perundangan di dalam pasal 1 UU no.1-1974 dikatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk suatu keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Hadikusuma, 1990:7). Menurut Walgito (1984), pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri. Ikatan lahir merupakan ikatan yang nampak, ikatan yang bersifat formal sesuai dengan peraturan yang ada. Ikatan formal ini nyata, baik yang mengikat dirinya, yaitu suami dan istri maupun bagi orang lain yakni masyarakat luas. Sementara ikatan batin merupakan ikatan yang tidak nampak secara langsung, merupakan ikatan psikologis. Ikatan batin ini ditunjukkan dengan adanya perasaan saling mencintai antara suami dan istri dan tidak ada paksaan dalam pernikahan. Jika dalam sebuah pernikahan terdapat paksaan, tidak ada rasa saling mencintai satu sama lain maka dalam pernikahan tersebut dinyatakan tidak memiliki ikatan batin. Kedua ikatan tersebut dituntut dalam perkawinan, apabila tidak ada salah satu maka akan menimbulkan persoalan dalam kehidupan pasangan tersebut.. 9.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 10. Terruwe dalam Yuwana dan Maramis (1990), mengatakan bahwa pernikahan merupakan suatu persatuan. Dalam pernikahan, suami dan istri merupakan suatu kesatuan tunggal yang disahkan dalam sebuah ikatan yang terdapat di dalam semua segi kehidupan mereka bersama. Secara singkat, dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah sebuah ikatan lahir dan batin antara suami dan istri yang disahkan oleh agama dan negara untuk membentuk sebuah keluarga yang satu, utuh, kekal dan memperoleh kebahagiaan. 2. Alasan Melangsungkan Pernikahan Menurut Rice (1990) dalam Yuliana dan Falah, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk menikah muda, yakni: a. adanya rangsangan seksual yang juga memungkinkan terjadinya hamil sebelum seseorang tersebut melangsungkan pernikahan. b. mudahnya seseorang dalam memulai berpacaran, pengalaman berpacaran. yang. terjadi. lebih. cepat. akan. mempercepat. kedewasaan. c. adanya tekanan sosial yang mendesak seseorang untuk segera melangsungkan pernikahan. d. ada pandangan bahwa pernikahan adalah suatu yang sangat romantis untuk dilakukan. e. pernikahan dilakukan sebagai jalan pintas dari penyelesaian masalah pribadi. f. alasan kekayaan dan kemakmuran..

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 11. Sedangkan menurut Goleman (1992) dalam Papalia, Olds, dan Feldman (2009), suatu pernikahan dibangun atas dasar cinta. Kemudian berdasarkan subteori Sternberg (1986;1998a), subteori segitiga cinta (triangular subtheory of love), ketiga unsur, atau komponen cinta adalah keintiman, gairah, dan komitmen. Keintiman yaitu unsure emosional, melibatkan pengungkapan diri, yang mengarah ke keterikatan, kehangatan, dan rasa percaya. Gairah yaitu unsur motivasional, didasari oleh dorongan yang mentranslasi rangsangan fisiologis menjadi hasrat seksual. Komitmen yaitu unsur kognitif, keputusan untuk mencintai dan bertahan dengan kekasih (Papalia, Olds, dan Feldman, 2009). Penjelasan di atas menunjukkan bahwa alasan dilakukannya pernikahan dapat dikarenakan oleh faktor-faktor dari luar ataupun dari dalam diri individu dengan berbagai tujuan tertentu.. 3. Kebutuhan dalam Pernikahan Walgito (1984) menjelaskan bahwa di dalam sebuah pernikahan terdapat kebutuhan-kebutuhan yang menghendaki adanya pemenuhan oleh pasangan, kebutuhan itu antara lain : a. Kebutuhan fisiologik Kebutuhan ini berkaitan dengan kejasmanian, kebutuhan akan makan, minum, udara segar, dan seksual. Kebutuhan seksual juga merupakan salah satu kebutuhan yang ada dalam sebuah pernikahan. Kebutuhan ini juga menghendaki adanya pemenuhan..

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 12. Kebutuhan seksual antara pria dan wanita ini dapat dilaksanakan melalui pernikahan. Dengan demikian salah satu segi yang melatarbelakangi pernikahan adalah untuk memenuhi kebutuhankebutuhan fisiologik yang sesuai dengan norma masyarakat Indonesia. b. Kebutuhan psikologik Kebutuhan ini meliputi mendapatkan perlindungan, kasih sayang, merasa aman, ingin melindungi, ingin dihargai. Kebutuhan psikologik ini dapat dipenuhi salah satunya melalui pernikahan. Dengan. pernikahan,. individu. akan. merasa. tenang,. dapat. melindungi dan dilindungi, dapat mencurahkan segala isi hati kepada pasangannya, dapat saling mengisi kebutuhan-kebutuhan psikologis bersama pasangannya. Dengan demikian, kebutuhan psikologik merupakan salah satu segi yang melatarbelakangi pernikahan. c. Kebutuhan sosial Kebutuhan ini meliputi kebutuhan untuk berinteraksi sosial, kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, kebutuhan berteman, kebutuhan bersaing. Keadaan sosial budaya dari suatu masyarakat ikut mengambil bagian dari pernikahan. Misalnya lebih baik menikah muda kemudian menjadi janda muda daripada terlambat menikah. Akan tetapi hal tersebut terkadang memiliki.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 13. dampak yang tidak diharapkan, misalnya dengan terjadinya kasus perceraian dengan frekuensi yang cukup tinggi. d. Kebutuhan religi Kebutuhan ini meliputi kebutuhan untuk berhubungan dengan Sang Pencipta. Dengan melakukan pernikahan maka salah satu segi yang digariskan agama dapat dipenuhi. Sebagai contoh, dalam ajaran agama Katolik, manusia diciptakan berpasangpasangan dan dititahkan untuk beranak cucu, bertambah banyak dan memenuhi bumi. Atas dasar tersebut, sudah dikodratkan bahwa antara pria dan wanita perlu melakukan pernikahan.. B. Perceraian 1. Pengertian Perceraian Perceraian berasal dari cerai yang dideskripsikan sebagai terpecahnya keluarga, anak-anak yang menderita, pernikahan yang gagal, melupakan komitmen, pertengkaran yang panjang, kemarahan, permusuhan, kebencian, dan kesulitan ekonomi (Demo,Fine,dan Ganong dalam McKenry dan Price, 2000 dalam Kertamuda, 2009). Perceraian adalah suatu peristiwa di mana antara suami-istri secara resmi berpisah dan mereka bersepakat untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami-istri. Mereka juga tidak lagi hidup serumah bersama karena sudah tidak ada ikatan yang sah (Dariyo, 2004)..

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 14. Hurlok (1980:307), mengatakan perceraian merupakan puncak dari penyesuaian perkawinan yang buruk dan terjadi apabila suami istri sudah tidak mampu lagi mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah terpecahnya ikatan perkawinan antara suami dan istri sebagai akibat dari ketidakmampuan menyesuaikan dan mencari jalan keluar dari masalah perkawinan yang dihadapi yang menyebabkan munculnya kemarahan, pertengkaran, dan kebencian, keluarga menjadi tidak utuh dan kekal, serta hilangnya tugas dan kewajiban suami-istri dikarenakan hubungan keduanya sudah tidak lagi resmi. Dalam perundangan, perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami dan istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri (Hadikusumo,1990:162).. 2. Kondisi yang Mempengaruhi Stabilitas Perkawinan Menurut. Hurlock. (1980:309),. ada. beberapa. kondisi. yang. mempengaruhi stabilitas perkawinan yang seringkali mengakibatkan perceraian, yaitu: a. Jumlah Anak Banyaknya anak memiliki pengaruh terhadap stabilitas keluarga. Pasangan yang tidak memiliki anak atau memiliki sedikit anak.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 15. cenderung lebih banyak mengalami perceraian dibandingkan dengan pasangan yang memiliki banyak anak. b. Kelas Sosial Pasangan atau keluarga dengan kelas sosial menengah ke atas cenderung lebih banyak mengalami perceraian dibandingkan dengan pasangan atau keluarga dari kelas sosial menengah ke bawah. c. Kemiripan Latar Belakang Pasangan yang memiliki latar belakang kebudayaan, suku, dan agama yang sama cenderung lebih sedikit mengalami konflik dan perceraian dibandingkan dengan pasangan dengan latar belakang budaya, suku, dan agama yang berbeda. d. Saat Menikah Tingkat perceraian yang tinggi bisanya terjadi pada pasangan yang menikah terlalu dini atau sebelum memiliki pekerjaan yang mantap dan ekonominya belum kuat. e. Alasan untuk menikah Pasangan yang menikah karena terpaksa atau karena pasangan wanitanya telah mengandung kemungkinan untuk bercerai lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang menikah bukan karena paksaan atau tuntutan dari orang lain atau situasi tertentu. f. Menjadi Orangtua.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 16. Pasangan yang terlalu cepat mempunyai anak dan menjadi orangtua tidak punya cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi berkeluarga sehingga mengakibatkan penyesuaian diri terhadap peran dan tanggungjawab mereka sebagai orangtua sulit. g. Status Ekonomi Makin rendah status ekonomi keluarga makin besar kemungkinan terjadinya perceraian atau salah satunya meninggalkan keluarga. Ini berlaku untuk pasangan dari segala usia. h. Posisi Umum Masa Kecil Keluarga Menjadi. satu-satunya. pria. dalam. keluarga. mempunyai. kemungkinan bercerai yang besar sedangkan menjasi satu-satunya wanita dalam kelaurga memiliki kemungkinan bercerai yang rendah. Hal ini dapat mendukung fakta bahwa pria tipe tersebut cenderung untuk merusak sedang wanita tipe tersebut belajar untuk memahami tanggungjawab. Anak laki-laki pertama juga mau memahami tanggung ketika masih muda dan kecil kemungkinan untuk bercerai. Anak wanita pertama bisanya keras dan ingin menaklukkan adik-adiknya mempunyai kemungkinan bercerai lebih tinggi. i. Mempertahakankan Identitas Orang dewasa yang dapat merawat identitas dirinnya secara madiri setelah menikah dan memiliki kesempatan utnuk memperbaharui.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 17. diri, lebih kecil kemungkinannya untuk bercerai daripada mereka yang kehidupan dirinya sangat dipengaruhi oleh keluarga.. Berbagai kondisi di atas dapat mengakibatkan buruknya penyesuaian perkawinan tetapi kondisi tersebut tidak mesti menjadi penyebab yang sesungguhnya dari perceraian. Hurlock (1980:308) mengatakan, bagi orang-orang tertentu yang tidak pandai dalam menyesuaikan diri nampak bahwa perceraian lebih mudah terjadi.Banyak dari orang dewasa yang tidak pandai menyesuaikan diri menganggap bahwa pernikahan adalah sebuah jalan kelaur untuk mengatasi masalah emosionalnya. Tetapi hal ini jarang terjadi karena proses penyesuaian diri mereka di dalam keluarga baru justru menjadi semakin buruk dan perlahan menimbulkan suasana rumah menjadi tidak sehat sehingga perceraian menjadi satu-satunya pilihan untuk mengatasi masalah tersebut. Karakteristik individu juga memiliki pengaruh yang sangat penting dalam stabilitas pernikahan. Dalam penelitian longitudinalnya, Adams (1946) menemukan bahwa pria yang lebih "tenang, jujur, dan mantap" sebelum menikah yang bahagia dalam perkawinan mereka daripada lakilaki yang marah, mengelak, dan emosional. Wanita yang "jujur, stabil, dan puas" sebelum menikah lebih mungkin untuk menjadi bahagia dalam pernikahan dibandingkan dengan wanita yang "mengelak, tidak stabil, dan khawatir atau ketidakpuasan" (Holman, 2002). Sedangkan berdasarkan dari penelitian Vaillant (1978) yang melibatkan 95 laki-laki usia dewasa.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 18. muda, beliau menemukan bahwa laki-laki yang tidak bahagia dalam pernikahannya adalah yang tertunda dalam membangun kemandirian dari ibu mereka. Hal ini tidak jelas apakah ini merupakan indikator cirri-ciri kepribadian laki-laki pranikah atau keadaan mental, atau lebih mencerminkan hubungan awal dan berkelanjutan dengan ibu mereka (Holman, 2002) Berdasarkan penjelasan Kelly, dkk (1985) dalam Holman (2002), komunikasi negatif atau komunikasi yang tidak baik dalam interaksi pranikah berhubungan dengan pernikahan nanti. Hal ini merupakan kesimpulan dari penelitian laporan diri yang mengukur karakteristik relasional pranikah dari 21 pasangan retrospektif (selama pernikahan dini), serta 2½ tahun kemudian, para peneliti menemukan bahwa konflik pranikah dan komunikasi negatif adalah prediktor yang signifikan dari kepuasan hubungan yang lebih rendah di awal pernikahan.temuan ini lebih kuat bagi perempuan daripada laki-laki. Kualitas relasi suami istri dalam kehidupan rumah tangga juga memiliki pengaruh yang penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Beavers dalam Yuwana dan Maramis (1990), menjelaskan bahwa dalam suatu keluarga yang utuh, kualitas relasi suami istri merupakan faktor yang sangat menentukan bagaimana suatu keluarga berfungsi. Relasi suami istri yang tidak baik memungkinkan terjadinya ketidakstabilan rumah tangga..

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 19. 3. Alasan Perceraian Menurut pasal 39 ayat 2 dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentnag perkawinan, dikatakan bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan sebagai berikut (Walgito,1984): a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sulit disembuhkan. b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lainnya selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya. c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung. d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain. e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menajalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri. f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Nakamura (1991) dalam bukunya yang berjudul Perceraian Orang Jawa, menuliskan kategorisasi alasan perceraian yang disusun oleh Departemen Agama, antara lain : h. Ekonomis, keadaan di mana suami tidak mampu untuk menghidupi ister dan keluarganya..

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 20. i. Krisis moril, keadaan di mana suami/isteri mengadakan hubungan seksual dengan orang lain yang bukan pasangannya yag sah. j. Dimadu,memiliki dua bnetuk keadaan, pertama adalah keadaan di mana isteri sudah dimadu oleh isteri lain dan ia merasa tidak tahan lagi. Kedua, suami ingin menikah kembali dan istri tidak mau dimadu oleh calon madu ini. k. Meninggalkan kewajiban, menurut Hukum Islam, seorang suami berkewajiban untuk memelihara isterinya dan menyediakan kehidupan yang layak baginya. Istri memiliki kewajiban untuk menjaga keserasian rumah tangga dan taat kepada suami. l. Biologis adalahkeadaan di mana suami dan isteri tidak mempunyai kemampuan jasmaniah untuk membina perkawinan yang bahagia seperti sakit, impoten, atau mandul. m. Pihak Ketiga adalah campur tangan dari pihak lain, seperi orangtua dari isteri atau suami, dalam urusan rumah tangga dan memkasakan perceraian. n. Politik adalah pertentangan keyakinan politik antara suami dan isteri.. 4. Alasan Wanita Memutuskan Bercerai Purnama dan Santoso (2013) mengemukakan bahwa seorang istri berani menceraikan suaminya karena dengan bercerai, tekanan atau masalah yang menimpa dirinya bisa teratasi dan tidak menimbulkan masalah baru.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 21. yang membawa hubungan keluarga yang semakin rumit. Bercerai dipilih oleh isteri dengan harapan masalah tidak timbul secara berkelanjutan, masalah bisa terhenti dan tidak memicu masalah baru. Makna dari seorang isteri yang mengajukan cerai adalah untuk memperoleh kebebasan, kemandirian, dan merupakan jalan keluar dari permasalahan pernikahan (Purnama dan Santoso, 2013).. 5. Dampak Perceraian Dampak perceraian terjadi paling kuat terutama pada tahun-tahun pertama setelah perceraian. Masalah-masalah. yang biasa dialami oleh. wanita maupun laki-laki setelah bercerai menurut Hurlock (1980, h.311) adalah: a. Masalah Ekonomi b. Masalah praktis sehari-hari c. Masalah Psikologis d. MasalahEmosional e. Masalah Sosial f. Masalah Kesepian g. Masalah Pembagian Tanggung Jawab terhadap Pengasuhan Anak h. Masalah Seksual i. Masalah Perubahan Konsep Diri. Dinamika interpersonal dalam keluarga merupakan sarana untuk memberikan nilai-nilai penting untuk kaum muda, membangun makna.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 22. bersama, serta menanamkan hasil psikososial pada anak-anak. (Peterson dan Bush, 2013). Akan tetapi, jika relasi orang tua dengan anak tidak baik, seperti misal orang tua yang bercerai akan memberikan dampak yang negatif pada anak. (Peterson dan Bush, 2013) Hasil dari meta-analisis (Amato, 2001; Amato & Keith, 1991) menunjukkan bahwa anak-anak dari orang tua bercerai menunjukkan secara signifikan lebih tinggi pada pengukuran hasil bermasalah (misalnya, depresi dan melakukan masalah) dan secara signifikan lebih rendah pada langkah-langkah positif kesejahteraan (misalnya, prestasi akademik, konsep diri, hubungan sosial, dan kualitas hubungan dengan orang tua) dibandingkan dengan anak-anak dengan orang tua terus menerus menikah. (Peterson dan Bush, 2013). Penelitian terdahulu menunjukkan, anak-anak dari orang tua yang bercerai lebih mungkin untuk bercerai ketika dewasa nanti. Menurut McGue dan Lykken (1992), studi yang dilakukan oleh Matt McGue dan rekan-rekannya melaporkan bahwa gen yang bertanggung jawab untuk sekitar 50% dari kecenderungan untuk bercerai (Garth Fletcher, dkk, 2013). Peneliti lain seperti D'Onofrio, dkk (2007) menunjukkan bahwa warisan genetik predisposisi/mengarahkan orang untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian negatif, seperti neurotisisme, sehingga meningkatkan kemungkinan kerusakan perkawinan (Garth Fletcher, dkk, 2013). Sedangkan menurut Crowell, dkk (2009), anak-anak dari orang tua yang bercerai lebih mungkin untuk mengembangkan model kerja attachment.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 23. yang tidak aman, dan mengalami kemarahan, agresi, dan komunikasi yang tidak baik dalam hubungan intim mereka saat usia dewasa (Garth Fletcher, dkk, 2013). Pendapat lain dari Amato dan Booth (2001) dalam Garth Fletcher, dkk (2013) menyatakan bahwa konflik orangtua, bahkan tanpa adanya perceraian, juga memprediksi lemahnya efikasi diri dan manajemen konflik dalam suatu hubungan serta kemungkinan mengalami ketidakpuasan dalam hubungan dan hubungan penikahan nantinya.. C. Pengertian Wanita Wanita berasal dari kata wani (berani) dan ditata (diatur) yang artinya seorang wanita adalah sosok yang berani ditata atau diatur. Dalam kehidupan praktis masyarakat jawa, wanita adalah sosok yang selalu mengusahakan keadaan tertata sehingga ia harus menjadi sosok yang berani ditata (Handayani dan Noviyanto, 2004: 24). Damardjati Supadjar dalam Handayani dan Noviyanto (2004: 24) mengatakan bahwa wanita berasal dari kata wani (berani) dan tapa (menderita). Artinya, wanita adalah sosok yang berani menderita bahkan untuk orang lain. Nolen-Hoeksema,Laron,& Grayson mendeskripsikan wanita adalah subjek. terhadap. tekanan. sosial. yang. mendorong. mereka. untuk. memperjuangkan dan mempertahankan kerjasama dan kemurahan hati,wanita merasa terlalu bertanggung jawabakan kesejahteraan orang lain dan sulitbersikap. asertif dalam. ubungannya (DalamBaron,. 2003, dalam.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 24. Wahyuningsih, 2013). Menurut Kartono (1992) dalam Wahyuningsih (2013) wanita dianggap sebagai makhluk lemah lembut dan mempunyai daya tarik tersendiri, tetapi dibalik itu semua, wanita juga menyimpan potensi dan dapat ditunjukkan pada dunia luar tentang eksistensinya. Handayani dan Noviyanto (2004: 130) mengemukakan, wanita jawa memiliki karakter seperti bertutur kata halus, tenang, diam/kalem, tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi/terkontrol, daya tahan untuk menderita tinggi, memegang peranan secara ekonomi, dan setia/loyalitas tinggi. Wanita lebih cenderung menyadari emosinya, lebih berbagi penghargaan. dan. ingin. mempertahankan. hubungan. daripada. mengendalikannya (Latifah, 2014). Secara psikologis wanita lebih emosional, lebih pasif, maka sudah sewajarnya tugas yang diberikan alam kepada wanita adalah melahirkan dan membesarkan anak di dalam lingkungan rumah tangga, memasak dan memberi perhatian kepada suaminya agar rumah tangganya menjadi tenteram dan kedamaian dalam rumah tangga dapat diciptakan (Wahyuningsih, 2013).. D. Masa Dewasa awal Menurut Hurlock (1980), masa dewasa merupakan periode yang paling panjang dalam masa kehidupan, umumnya dibagi menjadi tiga periode, yaitu:.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 25. masa dewasa awal, dewasa pertengahan, dan dewasa akhir/usia lanjut. Masa dewasa awal ini dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. 1. Ciri-Ciri Masa Dewasa Awal Berikut adalah ciri-ciri masa dewasa awal menurut Hurlock (1980): a. Masa dewasa awal sebagai masa pengaturan. Memasuki masa dewasa awal, seseorang akan menerima tanggungjawab sebagai orang dewasa. Pria muda akan mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan menjadi karirnya, wanita muda diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai seorang ibu dan mengurus rumah tangga. Saat ini penjajakan terlalu singkat dan cepat mengakibatkan terbentuknya bibit ketidakpuasan karena terlalu cepat memilih pekerjaan atau teman hidup. Oleh sebab itu, banyak orang muda mencoba berbagai jenis pekerjaan untuk menentukan mana yang paling sesuai dengan dirinya, begitu juga dalam mencari pasangan hidup. Berbagai ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan yang didapati seseorang pada usia ini adalah karena keputusan untuk berumah tangga atau bekerja dipilih dengan tergesa-gesa sebelum menemukan suatu pola hidup yang memberikan kemungkinan-kemungkinan kepuasan sepanjang hidup. b. Masa dewasa awal sebagai usia reproduktif. Orangtua merupakan peran yang paling penting dalam hidup orang dewasa. Bagi orang yang cepat mempunyai anak dan mempunyai keluarga besar pada awal masa dewasa kemungkinan seluruh masa dewasa awal merupakan masa reproduksi..

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 26. c. Masa dewasa awal sebagai masa bermasalah. Pada tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seseorang. Kebanyakan laki-laki dan wanita berusaha menyesuaikan diri dalam kehidupan perkawinan, peran sebagai orangtua, dan karir mereka. Berbagai masalah yang dialami orang muda pada masa ini rumit dan memerlukan waktu dan energi untuk mengatasinya. Maka berbagai penyesuaian diri banyak dilakukan pada waktu yang bersamaan. d. Masa dewasa awal sebagai masa ketegangan emosional. Pada masa ini, kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan berbagai masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional. Apabila emosi yang menggelora masih tetap kuat pada usia tiga puluhan maka hal ini menjadi data bahwa penyesuaian diri pada kehidupan orang-orang dewasa belum terlaksana secara memuaskan. Apabila ketegangan emosi terus berlanjut, hal itu akan nampak dalam bentuk keresahan atau kekhawatiran bias terkait pekerjaa, msalah perkawinan, atau peran sebagai orangtua. Apabila seseorang merasa tidak mampu mengatasi aneka masalah utama dalam kehidupan mereka, mereka sering terganggu secara emosional bahkan memeikirkan untuk mencoba bunuh diri. e. Masa dewasa awal sebagai masa keterasingan sosial. Dengan memasuki masa dewasa awal tentunya seseorang lalu akan meninggalkan dunia formalnya dan masuk ke dalam pola kehidupan.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 27. orang dewasa, yaitu karir, perkawinan, dan rumah tangga. Hubungan dengan rekan sebayanya menjadi renggang dan keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terus. berkurang. Sebagai. akibatnya seseorang akan mengalami keterpencilan sosial, ini yang kemudian dikatakan sebagai “krisis keterasingan”. Sebentar atau lamanya kesepian yang berasal dari keterasingan seseorang akan tergantung pada cepat atau lambatnya orang tersebut membina hubungan sosial baru untuk menggantikan hubungan social pada masa sebelumnya. f. Masa dewasa awal sebagai masa komitmen. Seseorang pada masa ini memiliki tanggung jawab baru dalam kehidupan dewasanya. Sebelumnya bergantung pada orangtua, kini dituntut untuk menjadi orang dewasa yang mandiri. Orang dewasa pada masa ini menentukan pola hidup baru, memikul tanggungjawab baru dan membuat berbagai komitmen baru. Meski pola hidup, tanggung jawab dan berbagi komitmen baru akan berubah dan tidak menetap pasti tetapi pola-pola ini menjadi landasan yang akan membentuk pola hidup, tanggung jawab, dan komitmen di kemudian hari. g. Masa dewasa awal sebagai masa ketergantungan. Meski seseorang pada masa ini sudah mencapai status dewasa dan memiliki kebebasan untuk mandiri tetapi masih banyak orang muda yang tergantung pada orang lain dalam hal ini orangtua..

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 28. h. Masa dewasa awal sebagai masa perubahan nilai. Pada masa ini nilai-nilai pada masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan social yang lebih luas dengan orang lain dan karena kini nilai-nilai tersebut dilihat dari kaca mata orang dewasa. Ada beberapa alasan yang menyebabkan perubahan nilai pada masa dewasa awal. Pertama, untuk dapat diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, seseorang harus menerima nilai-nilai kelompok tersebut. Seseorang harus mengganti tingkah laku lama mereka menjadi tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat dewasa apabila mereka ingin diterima dalam kelompok-kelompok sosial dan ekonomi orang dewasa. i. Masa dewasa awal sebagai masa penyesuaian diri dengan gaya hidup baru. Menyesuaikan diri pada suatu gaya hidup baru memang selalu sulit terlebih bagi kaum muda zaman sekarang yang mana persiapan mereka ketika masa kanak-kanak dan remaja tidak berkaitan atau tidak cocok dengan gaya-gaya hidup baru saat ini. Selain itu, orang muda saat ini sangat jarang dipersiapkan agar mampu memikul tanggungjawab sebagai orangtua tunggal atau tugas ganda sebagai orangtua dan pencari nafkah di luar rumah. j. Masa dewasa awal sebagai masa kreatif. Bentuk kreatifitas yang terlihat pada masa dewasa tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan berbagai kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 29. menyalurkan. kreatifitasnya. melalui. hobi,. pekerjaan. yang. memungkinkan ekspresi kreativitas.. 2. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal Tugas tugas perkembangan pada masa dewasa awal dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat meliputi mendapatkan suatu pekerjaan, memilih seorang teman hidup, membentuk sebuah keluarga dalam ikatan suami-istri, membesarkan anak-anak, mengelola rumah tangga, menerima tanggungjawab sebagai warga negara dan bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok (Hurlock,1980). Masa dewasa ini merupakan masa penyesuain diri terhadap polapola hidup dan harapan harapan sosial yang baru.Orang dewasa muda diharapkan memainkan peranan baru seperti suami/istri, orangtua, pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap, keinginan-keinginan, dan nilainilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru dalam masa dewasa awal ini. Periode ini menjadi periode yang sulit dari rentang hidup seseorang. Pada masa ini seseorang dituntut untuk menyesuaikan diri dan mengatasi seluruh persoalan hidup yang muncul secara mandiri dan lepas dari ketergantungan terhadap orang tua, teman, atau orang alain yang bersedia menolong (Hurlock, 1980). Menurut Erikson, perkembangan hubungan yang intim sebagai tugas penting masa dewasa awal. Kebutuhan menjalin hubungan yang kuat, stabil, dekat, dan penuh perhatian merupakan motivator penting dari.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 30. tingkah laku manusia (Papalia, Olds, dan Feldman, 2009). Collin dan Miller (1994) dalam Papalia, Olds dan Feldman (2009) menjelaskan bahwa unsur penting dari keintiman adalah pengungkapan diri (selfdisclosure), yaitu membuka informasi panting tentang diri sendiri kepada orang lain.. E. Proses/Dinamika Perceraian Pada Wanita Dewasa Awal yang Melakukan Perceraian/Gugatan Cerai Seseorang yang telah memasuki tahap perkembangan dewasa awal akan menentukan pola hidup baru, memiliki tanggung jawab baru dan menentukan komitmen baru, baik itu pria maupun wanita. Salah satu tugas perkembangan yang dilakukan adalah dengan memilih teman hidup dan melakukan pernikahan. Pernikahan dilakukan untuk membentuk suatu keluarga yang satu, utuh, dan mendapatkan kebahagiaan. Umumnya, setiap wanita yang telah menikah pada tahap ini pasti mendambakan kehidupan pernikahan yang bahagia. Kebahagiaan dan kekalnya suatu pernikahan merupakan bentuk dari keberhasilan individu dalam melakukan tugas-tugas perkembangannya. Demikian juga berlaku bagi seorang wanita. Perceraian dalam kehidupan rumah tangga merupakan bentuk dari gagalnya suatu hubungan pernikahan. Seseorang memilih untuk bercerai dengan banyak pertimbangan dimana masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan suami istri tidak lagi dapat diselesaikan. Perceraian wanita di usia dewasa awal merupakan salah satu bentuk ketidakberhasilan individu dalam.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 31. melakukan tugas perkembangannya. Meskipun perceraian bukan merupakan hal yang didambakan dalam kehidupan suami istri, namun seringkali perceraian dianggap jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah kehidupan suami istri. Bagaimana wanita dewasa awal memutuskan untuk menikah, dan berakhir dengan perceraian di usia pernikahanya yang masih muda..

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.. Metode. kualitatif. merupakan. prosedur. penelitian. yang. menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari subjek dan perilaku yang dapat diamati. (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2007). Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar dan bukan angkaangka. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya (Moleong,2007). Metode kualitatif dipilih karena peneliti ingin meneliti lebih dalam mengenai suatu latar belakang, dalam hal ini proses/dinamika perceraian yang dilakukan oleh subjek. Di samping itu, penelitian kualitatif dalam psikologi umumnya dilakukan untuk memahami kerangka acuan atau pandangan yang dimiliki sejumlah kecil subjek terhadap dunia, bukan mencoba menguji suatu hipotesa yang telah ditetapkan pada sampel dalam jumlah besar (Smith,2009:3). Hasil dari penelitian kualitatif sendiri bertujuan memberikan uraian deskriptif yang kaya tentang fenomena yang diselidiki (Geertz,1973 dalam Smith,2009:2), lain halnya dengan penelitian kuantitatif yang umumnya menyangkut urusan membilang kejadian, volume, atau besaran hubungan antar entitas (Smith,2009:2).. 32.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 33. B. Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada bagaimana relasi para subjek dengan calon suaminya serta motivasi awal para subjek memutuskan untuk melakukan pernikahan. Selain itu, bagaimana proses relasi para subjek dengan suaminya setelah menikah. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi dan bagaimana para subjek mengatasi kendala tersebut selama menjalani kehidupan pernikahan mereka. Setelah itu, peneliti fokus pada bagaimana proses awal mula subjek melakukan gugatan cerai. hingga akhirnya. perceraian terjadi. Dari pengalaman tersebut, akan dilihat proses/dinamika perceraian yang terjadi pada subjek.. C. Metode Pengumpulan Data Metode wawancara semi terstruktur digunakan peneliti dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data (Creswell,2012). Wawancara kualitatif adalah wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada subjek, bisa secara tatap muka, melalui telepon, atau menggunakan wawancara focus group. Wawancara didasarkan pada sejumlah pertanyaan yang bersifat tak terstruktur dan biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk memancing pandangan dan pendapat para subjek (Supratiknya, 2015:65). Dalam. penelitian. ini,. wawancara. yang. dilakukan. peneliti. menggunakan panduan pertanyaan terbuka yang telah disusun dengan format yang struktur, namun dalam perlaksanaan wawancara sendiri, pertanyaan.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 34. kepada subjek diajukan secara fleksibel, mengalir menyesuaikan dengan subjek dan tidak kaku terpaku pada format pertanyaan yang sudah dibuat. Tabel 1 Panduan pertanyaan dan wawancara No 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. Tujuan Pertanyaan Pertanyaan Mengetahui proses dan a. Kenapa anda memutuskan untuk penyebab perceraian serta bercerai? Apa penyebabnya? konflik yang dihadapi b. Konflik apa yang menurut Anda dalam rumah tangga. tidak dapat diselesaikan sehingga memutuskan untuk bercerai? Mengetahui relasi dengan a. Bagaimana hubungan anda dengan pasangan sebelum dan saat suami anda saat setelah konflik setelah terjadi konflik. tersebut muncul? b. Sebelum konflik tersebut muncul bagaimana hubungan anda dengan suami? Mengetahui perasaan a. Bagaimanakah perasaan Anda terhadap suami sebelum terhadap suami setelah terjadi dan saat setelah terjadi konflik? konflik. b. Lalu sebelum terjadi konflik bagaimana perasaan anda terhadap suami? Mengetahui upaya dalam a. Apa yang anda lakukan saat terjadi menyelesaikan konflik baik konflik dengan suami anda tersebut? dari informan maupun dari b. Bagaimana dengan suami anda? Apa pasangannya dari sudut yang dilakukannya? pandang informan. Mengetahui proses dan a. Bagaimana awalnya anda bisa tujuan menikah. menikah dengan suami anda waktu itu? b. Siapa yang menghendaki pernikahan anda? Mengetahui perasaan a. Bagaiman hubungan anda dengan terhadap calon suami dan suami anda sebelum anda menikah? relasi dengan calon suami. b. Bagaimana perasaan anda terhadap suami anda sebelum menikah?.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 35. D. Prosedur Pengumpulan Data Proses pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu: 1. Mencari dan menentukan subjek yang sesuai dengan tujuan penelitian. 2. Mencari tahu bagaimana cara sebaiknya mengadakan kontak dengan subjek. 3. Memberikan informed consent sebagai persetujuan tertulis dari subjek yang bersedia menjadi responden dan bersedia memberikan informasi sesuai dengan tujuan penelitian ini. 4. Menentukan waktu yang disepakati bersama dengan subjek. 5. Menyiapkan form panduan pertanyaan yang akan diajukan kepada subjek. 6. Melaksanakan proses wawancara kepada subjek.. E. Informan Penelitian Fokus subjek dalam penelitian ini adalah wanita yang mengalami perceraian di usia dewasa awal. Pemilihan subjek wanita dikarenakan pengajuan perceraian didominasi oleh wanita/cerai gugat. Berikut kriteria wanita yang menjadi subjek dalam penelitian ini : 1. Wanita yang sudah menikah dan mengalami perceraian di usia dewasa awal..

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 36. 2. Perceraian yang dialami atas inisiatif pihak wanita yang menggugat cerai.. F. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif (AIK). AIK merupakan metode penelitian untuk menafsirkan secara subjektif isi data berupa teks melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengodean dan pengidentifikasian aneka tema atau pola (Hsieh dan Shannon dalam Supratiknya, 2015). Analisis isi kualitatif (AIK) dalam penelitian ini menggunakan pendekatan induktif atau analisis isi konvensional, dimana peneliti bergerak dari yang spesifik menuju yang umum dengan mengamati fakta-fakta khusus tertentu dalam data dan kemudian menggabungkan atau menyusunnya menjadi satuan lebih besar berupa rumusan umum (Hsieh dan Shannon; Elo dan Kyngas dalam Supratiknya, 2015). Metode analisis data tersebut dilakukan melalui langkah-langkah berikut, yaitu : 1. Memilih atau menentukan satuan analisis yang berupa hasil wawancara yang sudah ditranskripsikan menjadi teks. 2. Membaca keseluruhan data secara berulangkali agar dapat menyelami keseluruhan.. dan. memperoleh. kesan. tentang. data. secara.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 37. 3. Melakukan pengodean secara terbuka berdasarkan apa yang muncul dari data. 4. Memilah aneka kode yang berhasil ditemukan ke dalam sejumlah kategori berdasarkan hubungan kesamaan isi atau makna dari masing-masing kode. 5. Mengidentifikasikan hubungan antar kategori pada tingkatan lebih tinggi lagi dan merumuskannya ke dalam tema. 6. Membuat interpretasi atau merumuskan makna dari keseluruhan temuan yang diperoleh.. G. Kredibilitas Penelitian Langkah pertama yang dilakukan peneliti dalam mencapai kredibilitas penelitian adalah memeriksa kembali hasil transkripsi-transkripsi untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang dibuat selama proses transkripsi. Apabila selama proses transkripsi ada hal yang masih kurang atau keliru, maka peneliti kembali kepada informan untuk menanyakan dan memastikan kembali data yang diperlukan (Creswell,2010). Langkah berikutnya yang dilakukan peneliti untuk mengetahui dan memastikan akurasi hasil penelitian adalah dengan melakukan member checking. Peneliti membawa kembali laporan akhir, deksripsi-deskripsi, transkrip-transkrip spesifik kepada informan untuk diperiksa kembali oleh informan apakah laporan, data, atau deskripsi tersebut sudah akurat (Creswell,2010). Hal ini bertujuan agar segala data yang diperoleh peneliti.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 38. saat wawancara sesuai dan mewakili jawaban atau keadaan yang sebenarnya dari informan..

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian. 1. Informan Pertama Pengambilan data yang dilakukan pada informan pertama melalui dua tahapan. Tahapan pertama dilakukan pada tanggal 21 April 2016. Pada tahapan ini dilakukan perkenalan dan wawancara tak terstruktur untuk mengetahui latar belakang informan. Adapun data yang diperoleh pada tahapan ini meliputi, nama, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, rutinitas yang dilakukan informan, latar belakang keluarga, serta kondisi lingkungan tempat tinggal. Pengambilan data pada tahapan kedua dilakukan pada tanggal 1 Mei 2016. Pada tahapan ini dilakukan wawancara semi-terstruktur untuk menggali informasi mengenai pengalaman dan pandangan, serta perasaan informan dalam alasannya melakukan perceraian di usia muda (dewasa awal). Pengambilan data pada tahap ketiga dilakukan pada tanggal 7 Agustus 2016. Pada tahap ini dilakukan wawancara semi-terstruktur untuk menggali informasi tambahan untuk menyesuaikan dengan data yang diperoleh dari informan kedua. Untuk membantu dalam pembuatan verbatim, peneliti menggunakan alat perekam suara selama proses pengambilan data tersebut berlangsung.. 39.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 40. Selain itu peneliti juga menggunakan alat tulis untuk membuat catatancatatan penting yang terjadi dan diperlukan selama proses pengambilan data. 2. Informan Kedua Pengambilan data yang dilakukan pada informan kedua melalui dua tahapan. Tahapan pertama dilakukan pada tanggal 8 Mei 2016. Pada tahapan ini dilakukan perkenalan dan wawancara tak terstruktur untuk mengetahui latar belakang informan. Adapun data yang diperoleh pada tahapan ini meliputi, nama, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, rutinitas yang dilakukan informan, latar belakang keluarga, serta kondisi lingkungan tempat tinggal. Pengambilan data pada tahapan kedua dilakukan pada tanggal 16 Mei 2016. Pada tahapan ini dilakukan wawancara semi-terstruktur untuk menggali informasi mengenai pengalaman dan pandangan, serta perasaan informan dalam alasannya melakukan perceraian di usia muda (dewasa awal). Untuk membantu dalam pembuatan verbatim, peneliti menggunakan alat perekam suara selama proses pengambilan data tersebut berlangsung. Selain itu peneliti juga menggunakan alat tulis untuk membuat catatancatatan penting yang terjadi dan diperlukan selama proses pengambilan data..

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 41. B. Profil Informan Untuk melakukan proses penelitian ini, peneliti melibatkan dua orang wanita yang mengalami proses perceraian di usia muda sebagai informan. Berikut ini adalah profil dari informan dalam penelitian ini : 1. Informan pertama Informan pertama adalah seorang wanita dengan inisial Y yang berusia 25 tahun. Pendidikan terakhir yang ditempuh informan Y adalah SMA. Informan N saat ini bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di Wonogiri. Informan Y menikah di usia 24 tahun. Selama pernikahannya informan belum dikaruniai seorang anak. Informan Y menikah pada bulan Mei tahun 2015 dan menjalani kehidupan rumah tangga bersama suaminya selama kurang lebih empat bulan. Pada bulan Oktober 2015 informan Y meminta untuk suaminya untuk menceraikannya. Sejak saat itu informan berpisah rumah dengan suaminya dan menunggu proses perceraiannya sah secara hukum pada bulan Agustus 2016. 2. Informan kedua Informan kedua adalah seorang wanita dengan inisial N yang berusia 25 tahun. Pendidikan terakhir yang ditempuh informan N adalah SMA. Informan N saat ini bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di Wonogiri. Informan menikah di usianya yang ke18 tahun. Bersama pasangannya, informan N dikaruniai satu orang anak laki-laki yang saat ini berusia 6 tahun..

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 42. Informan N menikah pada tahun 2009 dan menjalani kehidupan rumah tangga bersama suaminya selama kurang lebih dua tahun. Pada tahun 2011 informan memutuskan untuk berpisah rumah dengan suaminya. Kemudian pada tahun 2012 informan mengajukan gugatan cerai dan menjalami proses persidangan hingga akhirnya informan dinyatakan bercerai dengan suaminya.. C. Hasil Penelitian 1. Informan Pertama (Y) a. Relasi Sebelum Menikah Menurut informan, sebelum menikah informan belum mengenali calon suaminya dengan baik. Informan menjalani hubungan dengan calon suaminya kurang lebih satu tahun hingga akhirnya menikah. Meskipun sudah saling kenal, namun hubungan informan dengan calon suaminya diawali dengan hubungan jarak jauh. “Kalo kenalnya eemm,, sebenernya kita satu perusahaan, kerja di perusahaan yang sama. Cuman cuma sebatas oo itu namanya itu gitu doang kan.” “Setelah aku keluar dari perusahaan itu eemm,, sahabatku kan ada di sana juga, kita facebook an. Nah dia sering itu tinggalin komen-komen gitu akhirnya kan jadi kenal deket dan nyaman”.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 43. “Tapi dalam setengah tahun itu kita nggak sering ketemu. Jadi cuma chating chating chating gitu. Soalnya dia di Solo kan dan saya di sini.” Informan merasa dirinya tidak memiliki keintiman terhadap calon suaminya. Saat menjalani proses hubungannya, sosok calon suami tidak seperti yang diharapkan. Informan hanya merasa nyaman. karena. calon. suaminya. dapat. menghibur. dan. memberikan support di saat informan sedang memiliki masalah. “Cuman karena kalo di chating sama langsung gitu kan ternyata tu beda (sambil tersenyum). Kalo di chating dia tu kayak ee,, aku curhat gitu dia dewasa banget. Tapi setelah berhubungan ternyata kok kayak gini nggak kayak dulu gitu.” “Trus kemudian di saat lagi bete gitu hubungannya lagi gak enak banget itu ada yang datang, yang ngehibur, yang ngasih support. Nah setelah itu kan jadi nyaman, kemudian cowok yang sudah pacaran selama 6 tahun itu saya putus gitu.” “Jadi ya ee.. sebelum pernikahan itu udah hubungannya gak baik gitu” Orang tua calon suami saat itu menganggap hubungan informan dengan anaknya sudah serius. Orang tua calon suami informan selalu menanyakan kapan informan akan menikah dengan anaknya. Menurut informan orang tua calon suami waktu.

Gambar

Tabel 1  Panduan  Pertanyaan dan Wawancara………………………………36

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan persediaan tidak aktif adalah nama persediaan yang sebelumnya sudah kita pakai untuk transaksi pembelian maupun penjualan, akan tetapi dalam perkembangannya

Oleh karena itu orang-orang yang mengerjakan sesuatu perbuatan jahat tetapi ia tidak mengetahui sebelumnya bahwa perbuatan itu jahat, maka perbuatan manusia

a). Penyisipan vokal /a/ dalam gugus konsonan dapat diketahui dari tabel 12. Vokal yang disisipkan pada gugus konsonan tersebut di atas adalah sejenis dengan vokal sebelumnya.

Penggunaan silase daun Mengkudu ( M. citrifolia ) dalam formula pakan berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, rasio efisiensi

Untuk melihat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada siswa yang diberi perlakuan menggunakan pembelajaran discovery learning dengan

Dalam skala identitas karier ini disediakan empat alternatif jawaban yaitu : Sangat setuju, Setuju, Tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Alasan dipakainya pilihan jawaban

Perkembangan usahatani PHT kapas di Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknik pengendalian yang direkomendasikan, para petani kooperator (petani PHT)

KHUSAINI Qur'an Hadits MI NAHDLATUL ULAMA Sidoarjo 433 13050323620008 EDY LUKMAN SYAH Qur'an Hadits MI AL-IKHLAS Kutorejo Kab.. RIFAI Qur'an Hadits MA Swasta BIDAYATUL