BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1. Informan Pertama (Y)
a. Relasi Sebelum Menikah
Menurut informan, sebelum menikah informan belum mengenali calon suaminya dengan baik. Informan menjalani hubungan dengan calon suaminya kurang lebih satu tahun hingga akhirnya menikah. Meskipun sudah saling kenal, namun hubungan informan dengan calon suaminya diawali dengan hubungan jarak jauh.
“Kalo kenalnya eemm,, sebenernya kita satu perusahaan, kerja di perusahaan yang sama. Cuman cuma sebatas oo itu namanya itu gitu doang kan.”
“Setelah aku keluar dari perusahaan itu eemm,, sahabatku kan ada di sana juga, kita facebook an. Nah dia sering itu tinggalin komen-komen gitu akhirnya kan jadi kenal deket dan nyaman”
“Tapi dalam setengah tahun itu kita nggak sering ketemu. Jadi cuma chating chating chating gitu. Soalnya dia di Solo kan dan saya di sini.”
Informan merasa dirinya tidak memiliki keintiman terhadap calon suaminya. Saat menjalani proses hubungannya, sosok calon suami tidak seperti yang diharapkan. Informan hanya merasa nyaman karena calon suaminya dapat menghibur dan memberikan support di saat informan sedang memiliki masalah.
“Cuman karena kalo di chating sama langsung gitu kan ternyata tu beda (sambil tersenyum). Kalo di chating dia tu kayak ee,, aku curhat gitu dia dewasa banget. Tapi setelah berhubungan ternyata kok kayak gini nggak kayak dulu gitu.”
“Trus kemudian di saat lagi bete gitu hubungannya lagi gak enak banget itu ada yang datang, yang ngehibur, yang ngasih support. Nah setelah itu kan jadi nyaman, kemudian cowok yang sudah pacaran selama 6 tahun itu saya putus gitu.”
“Jadi ya ee.. sebelum pernikahan itu udah hubungannya gak baik gitu”
Orang tua calon suami saat itu menganggap hubungan informan dengan anaknya sudah serius. Orang tua calon suami informan selalu menanyakan kapan informan akan menikah dengan anaknya. Menurut informan orang tua calon suami waktu
itu langsung merasa cocok kepada informan dan berniat untuk melamar informan.
“Nah di saat mulai jalan sama yang baru ini baru mencoba beradaptasi berdua ee.. dikenalin sama orangtuanya tapi waktu itu, waktu pendekatan sama orangtuanya itu , orangtuanya nganggep serius banget. Oo.. ini nanti bakal nikah lah”
“Kemudian gak tau kenapa orangtuanya udah cocok sama saya. Nah, saya kan belum siap, setiap saya silaturahmi gitu ditanya kapan nikah kapan nikah, saya kan jawabnya bingung, nanti..nanti..nanti.”
“Terus Ibu saya ee.. saya kenalin sama cowok saya yang baru, saya ajak ke rumah, trus ibu saya bilang ya nanti orangtuanya diajak ke sini, dalam arti silaturahmi. Tapi tanggapan orangtuanya sana tu ee.. dikirain ngelamar.. gitu”
Pada saat itu informan sempat menolak untuk dilamar karena informan merasa belum siap untuk menikah. Selain itu ibu dari informan masih belum merestui hubungan informan dengan calon suaminya tersebut. Namun orangtua dari calon suami tetap bersikeras hendak melamar informan. Pada akhirnya calon suami beserta orang tuanya datang ke rumah informan dengan tujuan melamar informan. Meskipun merasa ragu namun pada saat itu informan tidak berani menolak dan menerima
lamaran. Demikian juga dengan ibu informan yang akhirnya menyetujui hubungan informan dengan calon suaminya.
“Nah waktu itu sebelum sempet ngelamar ke sini, saya kan masih tetap kekeh buat nolak tapi orangtuanya tu gamau, tetep mau ke sini bawa cincin.”
“Sebenernya dulu gak merestui malahan.”
“Dikira ibu saya tu saya udah serius juga cuma waktu itu ibu saya sih memang melarang ee.. gak merestui cuma waktu itu waktu masih bilang gak merestui tiba tiba kan orangtuanya dateng untuk melamar dan saya udah bilang iya dan mau gak mau ibu saya merestui juga.”
“Nah akhirnya yaudah lah ke sini sama apa.. suami saya itu bawa cincin dan waktu itu saya gak berani nolak. Jadi, saya bilang iya padahal dalam hati sih masih ragu-ragu.”
b. Karakter Masing-Masing Pihak
Menurut informan, suaminya waktu itu masih egois dan terlalu patuh atau kurang independen terhadap orang tuanya. Calon suaminya tidak berani menolak keinginan orang tuanya untuk menikahkan mereka, meskipun tahu bahwa informan belum menginginkan pernikahan tersebut. Informan juga merasa bahwa dirinya masih egois, namun dirinya merupakan orang yang pendiam dan cenderung mengalah untuk orang lain.
“Kalo dari suami saya sih ada, Cuma dia terlalu nurut sama orangtuanya…gitu.”
“Terus karena di dalam rumah tangga itu dua-duanya masih egois, jadi ya akhirnya memutuskan untuk udah lah gitu.”
“Kalo saya kan sebenernya orangnya pendiem, suka.. lebih suka ngalah gitu Cuma..ya itu..setiap padahal sebelum lamaran juga saya bilang enggak-enggak enggak tapi ke sini juga.”
c. Relasi Informan dengan Orang Tua Serta Konflik yang Dialami Informan Sebelum Menikah
Orang tua informan telah berpisah sejak informan masih berusia anak-anak. Informan dan kakaknya tinggal bersama neneknya, sedangkan ibu informan tinggal di luar kota karena bekerja.
“Terus habis itu, saya TK di sini ikut eyang karena,, kedua orang tua saya itu pisah.”
“Terus eemm,, saya sama kakak saya diasuh sama nenek dari TK sampai SMA, ibu kerja di Jogja.”
Informan mengatakan bahwa dirinya tidak mengenali sosok ayahnya. Informan hanya pernah bertemu ayahnya saat dia masih kecil dan diriya tidak ingat seperti apa sosok ayahnya tersebut. Sedangkan hubungan informan dengan ibunya juga tidak begitu dekat. Menurut informan dirinya jarang bertemu ibunya, karena
ibunya sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan informan merasa bahwa dirinya kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
“Jadi kalo semua orang tua saya itu, terutama ayah itu ngga pernah ketemu, komunikasi nggak pernah. Cuma beberapa kali seinget saya sih, SD liburan itu pernah ketemu tapi ngga inget, pernah ketemu ke Jogja.”
“Terus kalo sama ibu,, nga begitu deket juga. Paling ibu pulang sehari habis itu kerja lagi. Paling yang diharapin bukan ibunya tapi uangnya ( sambil ketawa ).”
“Kalo kasih sayang itu kayak,, buat apa sih.. Kayak ngga ada perasaan apa..”
Informan merasa bahwa sosok ayah tidak dapat memenuhi kewajiban terhadap anaknya. Hal itu membuat informan merasa kecewa terhadap ayahnya. Bahkan kekecewaan informan tersebut memunculkan kebencian terhadap sosok ayahnya sampai saat ini. “Ee,, kemaren sempet minta ibu buat nyari bapak, karena kalo dalam Islam kan wanita menikah harus ada walinya.”
“Kemudian jawabannya ya agak.. bukan agak sih, sangat mengecewakan.”
“Tapi kemudian jawabnya nggak bisa. Di situ sedih banget.”
“Nah tapi setelah,, setelah ditolak itu, permintaanku ditolak itu nggak tahu kenapa jadi benci banget.”
d. Perasaan Sebelum Menikah dan Alasan Menikah
Awalnya informan berpacaran dengan seorang laki-laki selama enam tahun. Kemudian informan meminta pacarnya tersebut untuk memberikan kepastian bahwa mereka akan menikah. Namun dari pihak laki-laki tidak ada kepastian, hingga akhirnya informan bertemu laki-laki lain yang kemudian jadi suaminya. Informan memutuskan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki yang baru dan meninggalkan pacarnya.
“Kalo dari awal kan kayak gini, ee.. saya kan punya pacar, bukan yang jadi suami saya itu. udah pacaran selama 6 tahun. Cuman kan yang namanya wanita kan pasti minta kepastian lah kapan mau menikah. Nah setiap kali saya tanya itu jawabannya tu nanti nanti nanti, jadi kan saya ragu ini orang serius atau enggak.”
“Saya bilang sih jujur ada orang yang seperti ini yang deketin saya, trus kemudian dia kan ee.. minta saya untuk milih antara dia atau yang baru. Kemudian saya mencoba sama yang baru ini dan memutuskan yang lama.”
Menurut informan pernikahan yang dilakukannya tidak didasari dengan cinta sebab pernikahan tersebut bukan merupakan keinginan informan. Informan hanya menuruti
keinginan orang tua calon suaminya yang menginginkan anaknya menikah dengan informan. Dapat dikatakan bahwa pada waktu itu pernikahannya adalah merupakan sebuah keterpaksaan.
“Apa ya.. karena dari awal gak didasari dengan cinta mungkin”
“Oo.. ini nanti bakal nikah lah, padahal saya masih dalam tahap bertemen gitu”
“Karena saya menikah karena orangtua nya ya kayaknya orangtuanya yang pengen banget anaknya nikah, gitu.”
“Saya mah enggak, karena memang itu tadi terpaksa.” Pada awalnya informan sempat berusaha untuk menghindari terjadinya pernikahan itu. Informan berniat untuk menjauh dari calon suaminya. Namun saat informan berusaha menjauh, ibu dari calon suaminya jatuh sakit karena kepergian informan. Sesaat setelah itu, informan merasa tidak enak dan dengan terpaksa informan menuruti kemauan orang tua calon suaminya yakni untuk menikahkan mereka.
“Waktu saya mulai agak menjauh gitu, Ibu dari pihak sana itu sakit, ee.. suami saya bilang Ibunya sakit gara-gara saya tinggal, jadi otomatis mau gak mau walaupun berat ya saya harus tetep menjalankan pernikahan itu.”
e. Kesiapan Emosi Dalam Pernikahan
Perikahan itu sebenarnya tidak diinginkan oleh informan karena informan merasa bahwa dirinya belum siap dengan pernikahan tersebut. Informan merasa hubungan dengan calon suaminya sudah tidak baik. Hal ini ditunjukkan dengan keadaan dimana sebelum pernikahan berlangsung banyak konflik yang terjadi antara informan dengan calon suaminya dan informan berniat untuk membatalkan pernikahannya.
“Selama 3 bulan itu ee.. banyak cek cok gitu, sebelum pernikahan itu banyak cek cok. Kemudian saya berniat untuk membatalkan pernikahan.”
“Jadi ya ee.. sebelum pernikahan itu udah hubungannya gak baik gitu, udah terpaksa jadi dalam pernikahan..setelah pernikahan pun tetep kayak gitu, jadi akhirnya gak lama ya keputusannya berpisah”
Ibu informan pada saat itu sempat tidak merestui hubungannya dengan calon suamiya. Ibu informan sempat melarang informan untuk menjalin hubungan tersebut. Namun karena informan sudah meminta untuk direstui untuk menjalin hubungan dengan calon suaminya dan saat itu informan menerima lamaran dari pihak calon suaminya, maka dengan terpaksa ibu dari informan merestui hubungan mereka.
“Sebenernya dulu gak merestui malahan. Lebih merestui sama pacar saya yang 6 tahun itu cuman kan dari dia gak ada kepastian jadi mau gak mau ee.. yang ini direstui.”
“He’em.. karna dulu kan yang minta saya..ee.. yang ngenalin saya kan..trus.. ee.. tolong direstui sama yang ini tapi kan waktu itu kan dalam tahap masih temen gitu..dikiranya.. dikira ibu saya tu saya udah serius juga cuma waktu itu ibu saya sih memang melarang ee.. gak merestui cuma waktu itu waktu masih bilang gak merestui tiba tiba kan orangtuanya dateng untuk melamar dan saya udah bilang iya dan mau gak mau ibu saya merestui juga.”
“Awalnya sih kecewa banget karena, karena ibu saya kan udah cocok banget sama yang lama trus tiba-tiba dateng yang ini tu..ee..semacam apa ya.. yang jelas ada kekecewaan lah.”
Informan merasa dirinya belum siap untuk melakukan pernikahan tersebut. Ketidak siapan informan sudah ditunjukkan sejak akan dilakukannya lamaran dari pihak laki-laki. Namun karena informan tidak berdaya untuk menolak akhirnya dengan penuh keterpaksaan informan menjalani proses pernikahan. Informan merasa dirinya sangat tertekan dengan pernikahan yang dilakukannya. Bagi informan kebahagiaan yang ditunjukkan saat itu hanyalah untuk menyenangkan ibu dan calon mertuanya.
“Kayak mau mati (sambil ketawa) pokoknya gak ada bahagianya sama sekali.”
“Ya itu dia, saya kayak, setiap ngomong sama orangtua nya saya kayak gak bisa menyangkal kayak semua omongan bisa dipatahin.”
“Cuma..ya itu..setiap padahal sebelum lamaran juga saya bilang enggak-enggak enggak tapi ke sini juga.”
“Yang di sini sih biasa aja sih sok bahagia (sambil ketawa) cuma topeng sebenernya supaya apa ya… ibu taunya saya bahagia gitu aja”
Pada saat proses pernikahan, suami informan juga tidak memberikan dukungan yang positif. Suami informan sempat mengurung diri dan membiarkan informan menerima tamu sendirian tanpa didampingi suaminya. Dengan adanya kondisi itu informan merasa semakin tertekan hingga informan bertekad meninggalkan prosesi pernikahan yang sedang berlangsung.
“Iya stress banget, sempet kabur sih sebenermya.”
“Suami saya pernah dicalonkan dengan seorang cewek tapi gak jadi. Nah cewek itu pada saat itu, kemaren.. kemarennya tanggal 17 lah.. tanggal 17 itu dia meninggal. Gak tau kenapa suami saya itu pengen melayat ke kuburannya dia. Saya kan ijinin tapi waktu itu orangtuanya gak ngijinin, dan gak tau kenapa suami saya malah ngurung diri di kamar dan itu
nyebelim banget (sambil ketawa) jadi saya nerima tamu sendirian.”
“Kan banyak yang nanyain saya kan agak bete gimana. Akhirnya saya melipir kabur jalan jalan ke mall (sambil ketawa) sampe jam 2 siang, pada nyariin dan gatau malah jadi stress udah stress jadi tambah stress lagi (sambil ketawa).”
f. Relasi dan Perasaan Terhadap Suami Setelah Menikah
Setelah pernikahan hubungan informan dengan suaminya dapat dikatakan tidak memiliki keintiman sebagai pasangan suami istri. Informan mengakui bahwa dirinya belum mengenal sifat-sifat pasangannya dan merasa bahwa suaminya hanyalah seperti teman biasa. Bagi informan kehidupan rumah tangganya sangat membosankan karena banyak konflik yang terjadi dengan pasangannya. Hal ini mengakibatkan informan memiliki rasa benci terhadap suaminya.
“Sebenernya sih kayak masalah masalah sepele gitu sih kalo dalam rumah tangga kan pasti belum tahu sifat-sifat aslinya.”
“Ya saya sih mencoba menganggep temen dulu lah, menganggep temen tapi ya saya punya tanggung jawab kan jadi ya.. gimana sih susah (sambil ketawa).”
“Ya membosankan banget sih kayak..ee..kayak saya udah gak punya gairah untuk hidup lama gitu.”
“Biasanya sih..emm.. kenapa sih minta..minta pisah gitu.. aku selalu bilang aku gak suka sama kamu.. apa yang gak disuka gitu? Semuanya..aku bilang gitu.. abis itu diem udah break gitu.. besoknya balik lagi kayak biasa..udah cuma gitu sebenernya sih kalo berantem berantem biasa.”
Meskipun suami informan cenderung egois dan mementingkan dirinya sendiri, namun selama berumah tangga informan selalu berupaya untuk menjadi istri yang baik. Informan selalu menuruti kemauan suaminya yang menuntut informan untuk berubah sesuai keinginannya, sampai informan merasa kehilangan jati dirinya. Di saat seperti itu informan mengharpakan adanya timbal balik dari suaminya. informan menginginkan suaminya berubah, namun keinginannya itu tidak dihiraukan dan suami tetap semaunya sendiri.
“Walaupun saya gak cinta sih.. saya mecoba jadi istri yang baik, kayak saya aslinya tomboy banget, nah pas nikah itu saya berubah jadi feminim jadi pake jilbab, bangun pagi ya masak, gitu gitu.. Cuman..apa ya..kayak..kayak itu tu belum cukup.. kayak dianya tu pengen banget ngubah saya gitu.”
“Setelah saya ee.. berubah penampilan sesuai yang dia pengen dan saya minta dia berubah penampilan yang saya
pengen dia gamau, jadi kan udah dongkol, dongkol lagi, itulah nikah (sambil ketawa). Jadi kayak ee.. semacam pengorbanannya tu sia-sia gitu.”
g. Konflik Dalam Rumah Tangga dan Pnyelesaiannya
Selama empat bulan pernikahannya, informan dengan suaminya mengalami banyak konflik. Konflik itu tidak hanya antara informan dengan suaminya, akan tetapi melibatkan orang tua suami dan saudara-saudara yang lainnya yang tinggal bersama mereka. Orang tua suami sering ikut campur dalam masalah rumah tangganya. Lebih dari itu, mantan pacar suami pun ikut mencampuri urusan rumah tangga informan.
“Soalnya kalo dalam penyelesaian masalah rumah tangga kan biasanya suami istri aja nah itu orangtua jadi ikut campur.”
“Kalok nyelesein masalah itu dalam satu ruangan itu gak cuma 4 orang, jadi ada syaa, ada suami saya, ada orangtuanya 2 itu dan ada sodara-sodara lain yang mendengarkan. Gitu..”
“Ee.. dia bilang dibawa neptunus (sambil ketawa), neptunus itu kan kenapa dibawa neptunus maksudnya dicemplungin ke kali, nah setelah diusut punya usut ternyata handphone itu di bawa..dititipin ke mantannya dia.”
“Pokoknya saya tu dongkol banget ada ..orangtuanya udah ikut campur trus mantanya ikut campur juga akhirnya saya memilih pulang ke sini dan kita cerai.”
Situasi seperti itu membuat informan merasa tidak berdaya. Informan harus menghadapi semua konflik yang terjadi seorang diri. Informan merasa dirinya disudutkan oleh keluarga suaminya dan tidak ada yang membelanya. Terlebih lagi keadaan seperti itu dialami informan berkali-kali hingga akhirnya informan memutuskan untuk bercerai.
“Terus kemudian kayak karena rumah yang ditempati sama rumah orangtuanya itu deket, jadi kan kadang kalo em.. cek cok gitu kan pasti ketauan sama orangtua, ee..kadang saya tu ngerasa..apa ya.. kayak terdakwa gitu..”
“jadi kan saya ngerasa sendirian dan gak ada yang belain saya gitu”
“… dan itu terjadi berulang ulang kali…”
“..hidup di sana tu kayak sendiri aja..kayak.. udah gak bisa jadi diri sendiri dan udah merasa sendiri.”
Dalam keadaan seperti itu informan masih berupaya untuk mempertahankan hubungan rumah tangganya. Tanggung jawab sebagai istri pun masih dilakukan oleh informan. Informan juga sempat mengurungkan niatnya untuk kembali pulang ke rumahnya karena informan merasa sungkan dengan mertuanya.
“…pengen pulang aja cuman kan kalok pulang tu pasti nanti ditanyain kenapa kenapa jadi itu yang e.. bikin aku nahan untuk gak pulang.”
“diem diem gitu lah tapi tetep menjalankan ya.. kamu makan masih aku siapin..”
Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh informan, saat terjadi konflik suami cenderung diam dan tidak menunjukkan perilaku untuk memperbaiki hubungan mereka. Suami informan hanya sekedar bertanya mengenai apa alasan informan menginginkan untuk berpisah. Setelah informan beberapa kali meminta untuk berpisah, suaminya pun hanya merelakan dan menuruti kemauan informan.
“…kenapa sih minta..minta pisah gitu.. aku selalu bilang aku gak suka sama kamu.. apa yang gak disuka gitu? Semuanya..aku bilang gitu.. abis itu diem udah break gitu..”
“…kalo saya kan orangnya tipe orang yang sangat menjaga kebersihan, nah kalo cowok kan ya kadang ya kayak gitu lah ya (sambil ketawa) suka kalo naroh barang gini gini gini, em.. saya kan maunya kamu tu kalo naruh ini jangan di sini, di sini.. cuman kan enggak..enggak diiyain.”
“Waktu pas diem gitu ee.. dia deketin saya, kalo emang udah kalo emg bener-bener udah mau cerai yaudah besok tak anterin ke rumahmu gitu.. jadi dia sama sekali gak mau nahan
ee.. maksudnya udah apa ya..saya kan pengen pisah jadi dia kayak negerelain gitu aja”
h. Perasaan Saat Terjadi Konflik
Munculnya banyak konflik tersebut membuat informan marah dan merasa benci terhadap suaminya. Berawal dari tidak adanya rasa cinta dan dijalani dengan berbagai konflik membuat informan merasa enggan untuk bertemu suaminya lagi. Keinginan yang muncul dalam diri informan saat itu hanyalah keinginan untuk melarikan diri dan pulang ke rumahnya.
“Saya kan marah, abis itu ee.. saya mau pulang ke sini tapi dicegat sama orangtuanya tapi kemudian”
“Perasaannya cuma benci pengen menjauh gitu.”
“Bencinya kayak apa ya.. (sambil ketawa) ya kayak.. pokoknya udah gak pengen ketemu, gak pengen ngeliat mukanya, gak pengen menyentuh barang-baranganya gitu.”
“Perasaannya Cuma pengen kabur dan kabur, pengen pulang aja..”
Banyaknya konflik yang dihadapi informan membuatnya tertekan dan mengalami keputusasaan. Sering kali terjadi konflik dan informan hanya bisa menangis sendirian tanpa ada yang membelanya. Informan merasa begitu menderita hingga kehilangan semangat hidupnya.
“Jadi kalok ditanyain apa saya cuma.. ga bisa jawab, bisanya cuma nangis walaupun sebenernya kadang ee.. saya yang salah gitu, saya mau mengakui kesalahan saya tapi gak bisa.”
“Adanya cuma nangis dan itu terjadi berulang ulang kali.” “Ee..kayak saya udah gak punya gairah untuk hidup lama gitu.. kayak setiap sore tu saya berdoa ya allah kalo emang ini jodoh saya tolong perpendek umur saya, saya..saya sampe berdoa seperti itu saking menderitanya mungkin.”
i. Proses Perceraian
Konflik yang bermunculan dalam rumah tangga serta pernikahan yang tidak diinginkan membuat informan memiliki keinginan untuk berpisah dengan suaminya. Selama empat bulan pernikahannya informan sudah beberapa kali mengungkapkan keinginannya untuk berpisah. Meskipun pada awalnya suami informan berusaha untuk mempertahankan hubungannya, namun pada akhirnya suami menuruti kemauan informan untuk berpisah karena menurut informan suaminya mengetahui bahwa sebernarnya informan tidak menginginkan pernikahannya.
“Apa ya.. karena dari awal gak didasari dengan cinta mungkin. Terus karena di dalam rumah tangga itu
dua-duanya masih egois, jadi ya akhirnya memutuskan untuk