• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUANG PUBLIK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RUANG PUBLIK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

RUANG PUBLIK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF DEMOKRASI DELIBERATIF

(STUDI TENTANG ALUN-ALUN “TAMAN KUSUMA WICITRA”

TULUNGAGUNG)

Rendra Wahyu Kurniawan

Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang, Indonesia

Email : [email protected] Abstract

Kusuma Wicitra Park name of Tulungagung Square, is a form of public space in Tulungagung, public space in the study of Jurgen Habermas has some requirements to be met including free, inclusive, and without government intervention. In addition, public space can be used as a forum to increase public participation and community outreach in Tulungagung. The square as a major public space in Tulungagung apparently has not reached the public as a whole, especially away from urban centers, then with these problems, an alternative public sphere emerged in each village to facilitate the community. The presence of this alternative public space, people can socialize with each other without leaving for Tulungagung Square.

Keyword : Public Space, Square (Alun-Alun), Public Participation Pendahuluan

Ruang publik selama ini diikuti oleh masalah-masalah perkotaan (urban issue) yang terkait dengan proses modernisasi. Dalam perkembangannya suatu

kota tidak hanya tumbuh dalam bentuk fisik saja, akan tetapi akan tumbuh bersama dengan masyarakatnya. Perkembangan zaman membuat ruang publik menjamur di setiap daerah dalam bentuk yang bermacam-macam, sehingga dibutuhkan ruang publik yang benar-benar representatif untuk semua kalangan tanpa ada klasifikasi sosial.

(2)

tekanan, sehingga nantinya konsep demokrasi deliberatif dapat dimunculkan dalam forum-forum tersebut. Pada dasarnya (1) ruang publik, (2) partisipasi masyarakat dengan tindakan komunikatif untuk menghasilkan konsensus dan juga (3) demokrasi deliberatif, merupakan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan, karena sesuai dengan konsep demokrasi deliberatif, yakni:

“Sebagai sebuah konsep dalam teori diskursus, istilah “demokrasi deliberatif” sudah tersirat di dalam apa yang telah kita bicarakan sebagai diskursus praktis, formasi opini dan aspirasi politis (politische Meinungs-und Willenbildung), proseduralisme atau kedaulatan rakyat sebagai prosedur

(Volksouveranitat als Verfahen). Teori demokrasi deliberatif tidak memusatkan pada penyusunan daftar aturan-aturan tertentu yang menunjukkan apa yang harus dilakukan warganegara, melainkan pada prosedur untuk menghasilkan aturan-aturan itu. Sedemikian rupa sehingga warga negara mematuhi aturan-aturan-aturan-aturan itu”. (Hardiman, 2009:128).

Sebagai bentuk keterkaitan diantara ruang publik dalam konsep demokrasi deliberatif telah digambarkan oleh Jurgen Habermas. Habermas memahami ruang publik politis itu sebagai prosedur komunikasi. Ruang publik itu memungkinkan para warganegara untuk bebas menyatakan sikap mereka, karena ruang publik itu menciptakan kondisi yang memungkinkan pada warganegara untuk menggunakan kekuatan argumen. (Hardiman, 2009:134).

(3)

Bagan 1.1 Partisipasi Masyarakat tehadap Sistem

Sumber : Hardiman 2009:63

Di berbagai daerah, alun-alun menjadi pusat kota yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai macam lapisan, menurut sejarahnya sendiri, Alun-Alun Kabupaten Tulungagung banyak dipengaruhi oleh arsitektur Mataram, hal ini disebabkan karena kabupaten Tulungagung merupakan salah satu daerah yang masuk ke dalam wilayah Kadipaten milik Kerajaan Mataram pada saat itu. Seiring berjalannya waktu alun-alun yang awalnya menjadi ruang publik di zaman kerajaan dialih fungsikan sebagai tempat kegiatan jual beli, dimana banyak pedagang kaki lima (PKL) berjejeran mengelilingi Alun-Alun Kabupaten Tulungagung, hingga kini dilakukan relokasi PKL ke tempat baru, sehingga fungsi alun-alun kembali lagi sebagai ruang publik dengan didukung berbagai macam fasilitas bagi masyarakat. Pengembangan ruang publik semacam ini tentunya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam hal diskursus.

(4)

dan rimbunnya tanaman membuat masyarakat merasa nyaman untuk berdiskusi atau sekedar berbincang di Alun-Alun Kabupaten Tulungagung.

Berbagai macam komunitas dan LSM di Kabupaten Tulungagung seringkali memanfaatkan fasilitas yang ada di ruang publik berupa Alun-Alun ini. Terkadang mereka juga membicarakan tentang isu-isu politik, pemerintahan baik lokal maupun nasional. Hal ini merupakan wujud positif dari penggunaan alun-alun sebagai ruang publik dengan semangat menuju masyarakat yang partisipatif.

Fokus masalah yang dibahas dalam penelitian ini berkaitan dengan eksistensi alun-alun Kabupaten Tulungagung sebagai ruang public dan juga peran pemerintah Kabupaten Tulungagung dalam meningkatkan partisipasi public di daerah dengan memanfaatkan ruang public tersebut.

Partisipasi Masyarakat dalam Demokrasi Deliberatif

Arimbi (1993:1) mendefinisikan partisipasi sebagai feed-forward information and feedback information. Dengan definisi ini, partisipasi masyarakat

sebagai proses komunikasi dua arah yang terus menerus dapat diartikan bahwa partisipasi masyarakat merupakan komunikasi antara pihak pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat di pihak lain sebagai pihak yang merasakan langsung dampak dari kebijakan tersebut. Dari pendapat Canter juga tersirat bahwa masyarakat dapat memberikan respon positif dalam artian mendukung atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.

Demokrasi tentunya tidak bisa dipahami secara minimalis dengan pemilihan umum saja, proses-proses di antara pemilihan umum yang satu dengan yang lainnya harus dilihat sebagai proses-proses demokratis, karena dari beberapa proses tersebut tentunya menghasilkan kesenjangan dari keputusan yang dibuat pemerintah.

(5)

pofesional baru yang memiliki unsur moral dan politik, berkeadilan sosial, dan memberi kekuasaan pengambilan keputusan pada masyarakat (citizen empowerment). Gerakan ini kemudian menghasilkan beberapa paradigma

perencanaan dan perancangan partisipatif seperti Community Architecture (Christopher dan Rossi, 2003:45).

Dalam pandangan Hardiman (2009:133) jika demokrasi ingin dimengerti secara deliberatif, pemilihan umum dapat dianggap sebagai “hasil pemakaian publik atas hak-hak komunikatif” (offentlicher Gebrauch der kommunikativen Freiheiten) yang berlangsung terus menerus. Dapat diartikan juga bahwa proses

pemilihan umum sebagai produk demokrasi adalah hasil dari diskursus atau partisipasi masyarakat di dalam ruang publik.

Keberadaan forum-forum diskursus warga untuk menanggapi isu-isu lokal daerah dan nasional merupakan wujud konkrit dari partisipasi yang melibatkan masyarakat di dalamnya. Terlebih lagi, alun-alun selama ini menjadi wadah yang relevan digunakan karena letaknya yang berada di pusat kota dan berada ditengah-tengah antara gedung DPRD Kabupaten Tulungagung dan Pendopo yang merupakan rumah seorang Bupati, maka wajar ketika alun-alun berperan sentral dalam peningkatan partisipasi publik.

Metode Penelitian

(6)

Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan purposive typical sampling dimana informan yang dipilih bersifat tipikal untuk mendukung data

dalam penelitian ini, sehingga dimunculkan informan seperti halnya Bupati, Kepala Dinas Pariwisata, Budayawan, LSM, Organisasi Pemuda, dan pengunjung yang mengetahui fenomena dalam alun-alun Kabupaten Tulungagung selama ini. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tiga hal yakni, observasi, wawancara dan juga dokumentasi, sehingg dapat dianalisis dengan menggunakan kerangka Miles dan Hubberman.

Pembahasan

Seorang Budayawan bernama Trijono hendak menyampaikan betapa sebenarnya Alun-alun juga memiliki kaitan erat dengan kekuasaan, hal itu ditunjukkan dengan keberadaan bangunan-bangunan yang mengelilinginya, seperti halnya Gedung DPRD Kabupaten Tulungagung, Pendopo Kabupaten Tulungagung, dan juga Masjid Agung Al-Munawar. Seperti halnya yang kita ketahui bersama bahwa DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) adalah representasi dari kepentingan rakyat, memiliki gedung di area alun-alun, sehingga menunjukkan bahwa mereka dekat dengan rakyat yang disimbolkan oleh alun-alun. Hal itu juga ditunjukkan dengan dekatnya lokasi pendopo “Kongas Arum Kusumaning Bongso” yang tepat berada di depan alun-alun sebagai tempat tinggal seorang bupati Kabupaten Tulungagung mencerminkan relasi antara penguasa dan rakyat telah terjadi sejak dulu dan berjalan hingga kini. (Sumber: www.tulungagung.go.id)

(7)

yang berusaha menjaring aspirasi lewat musyawarah dan diskusi di Alun-Alun Kabupaten Tulungagung.

Pada masa pra kolonial tumenggungan (penguasa daerah) di Kabupaten Tulungagung, peran alun-alun sebagai tempat untuk menyalurkan informasi seorang tumenggung pada rakyatnya. Dalam perjalanannya alun-alun hanya terdiri dari tanah lapang di depan pendopo dan masjid setelah masuknya pengaruh kerajaan Mataram Islam di Kabupaten Tulungagung.

Selanjutnya pada masa kolonialisme Belanda, terdapat perubahan arsitektur dalam tatanan pemerintahan di Kabupaten Tulungagung, pembangunan pagar yang mengelilingi tanah lapang menunjukkan adanya jarak antara penguasa dengan rakyatnya. Selain pagar yang mengelilingi alun-alun, juga terdapat pembangunan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kabupaten Tulungagung di selatan alun-alun atau berhadapan langsung dengan pendopo. Tata letak Lapas dalam bingkai sejarah yang berada di area alun-alun menunjukkan bahwa relasi kekuasaan pada masa itu begitu kuat. (Handinoto, 1992: 18)

Pasca kolonialisme bentuk arsitektur alun-alun Kabupaten Tulungagung terlihat lebih ramah, dengan pembangunan beberapa fasilitas untuk masyarakat walaupun masih menyimpan relasi kuasa didalam arsitekturnya, seperti halnya keberadaan pendopo, gedung DPRD Kabupaten Tulungagung, dan gedung-gedung dinas seperti halnya Dinas Pencatatan Sipil yang mengelilingi alun-alun Kabupaten Tulungagung. Lapas yang pada masa kolonialisme sempat berada di dekat Alun-Alun Kabupaten Tulungagung, kemudian di relokasi di selatan Taman Makam Pahlawan Kabupaten Tulungagung. Hampir secara keseluruhan lembaga inti pemerintahan berada di dekat Alun-Alun Kabupaten Tulungagung.

(8)

matahari sudah tidak lagi terik. Pada siang hari ratusan burung merpati menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung yang ingin memberikan makan berupa jagung yang dijual oleh beberapa penjual di area alun-alun. Sedangkan sore hari beberapa pengunjung banyak memanfaatkan wahana bermain dan outbond untuk menemani anak-anaknya bermain.

Pada hari biasa sekumpulan anak muda dan juga beberapa aktivis mahasiswa di Kabupaten Tulungagung memanfaatkan tanah lapang yang berada di tengah-tengah alun-alun dan juga balai rakyat untuk berdiskusi membahas isu nasional maupun daerah khususnya Kabupaten Tulungagung. Keadaan di hari minggu pagi lebih ramai karena kegiatan Car Free Day banyak yang memanfaatkan hari libur untuk berolah raga di alun-alun ataupun rekreasi melihat satwa yang berada di area pendopo Kabupaten Tulungagung, selain itu beberapa komunitas kreatif dan pecinta binatang seperti halnya kelompok Breaking Rooster Crew, Skate Board Community, Pecinta Sepeda BMX, dan komunitas pecinta reptil dan musang menampilkan keahliannya di alun-alun. Terdapat fasilitas dokar (kereta kuda) yang dapat digunakan untuk berkeliling di sekitar alun-alun yang memang disediakan untuk para pengunjung.

(9)

Masyarakat Kabupaten Tulungagung telah lama memanfaatkan Alun-Alun Kabupaten Tulungagung sebagai ruang yang berfungsi untuk menyampaikan aspirasi. Lokasi alun-alun yang berdekatan dengan gedung-gedung pemerintahan seperti halnya gedung DPRD Kabupaten Tulungagung dan juga Pendopo Kabupaten sebagai rumah dinas seorang Bupati, membuat alun-alun dianggap ideal oleh masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai ruang publik politis. Tidak jarang ditemui beberapa anggota DPRD dan juga Bupati turut serta dalam forum-forum masyarakat yang dilaksanakan di pendopo seperti halnya yang diadakan salah satu LSM di Kabupaten Tulungagung.

Salah satu kesuksesan pemerintah kabupaten Tulungagung dalam meningkatkan partisipasi masyarakat adalah, merubah fungsi alun-alun dari tempat berjualan PKL menjadi ruang terbuka publik bagi masyarakat, penataan PKL yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Tulungagung bukan tanpa alasan, menurut Heru Cahyono mantan Bupati Kabupaten Tulungagung perlunya Kabupaten Tulungagung memilliki ruang publik dimana para orang tua, anak muda, dan anak-anak bisa menikmati kesegaran suasana taman di Alun-Alun, selain itu Tulungagung juga belum memiliki tempat yang ideal untuk bersosialisasi ketika di pusat kota, tuturnya. (Heru Cahyono, Mantan Bupati Kabupaten Tulungagung, wawancara 10 Juni 2014).

(10)

Urgensi akses informasi public di era desentralisasi berhasil dijawab oleh pemerintah Kabupaten Tulungagung dengan memanfaatkan keberadaan alun-alun. Masyarakat dapat memberikan respon positif dalam artian mendukung atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan. Seperti halnya cita-cita dari Juergen Habermas yang menginginkan masyarakat dapat melakukan konsensus atau musyawarah sehingga memunculkan keputusan bersama. Hal itu dapat dikatakan sebagai langkah awal menuju demokrasi deliberatif. Karena demokrasi deliberatif pada dasarnya memiliki makna yang tersirat yaitu diskursus praktis, formasi opini dan aspirasi politik, serta kedaulatan rakyat sebagai prosedur. (Hardiman, 2009:128)

Adanya beberapa fasilitas penunjang akses informasi publik berupa free hotspot area untuk pengunjung di area alun-alun dan juga video tron yang tak

jarang menampilkan informasi-informasi terbaru dari pemerintah daerah kabupaten Tulungagung seperti halnya anjuran untuk membuat e-ktp dan juga kampanye “keluarga berencana” . Selain area hotspot terdapat juga perpustakaan yang berada di area alun-alun sebagai ruang baca untuk publik, sehingga pada dasarnya wilayah alun-alun memiliki potensi untuk menjadi ruang publik yang ideal bagi semua kalangan.

(11)

dipastikan ada perwakilan dari setiap desa sehingga aspirasi yang terserap bisa secara utuh.

Partisipasi publik selama ini menjadi program yang sedang dimaksimalkan oleh pemerintah daerah kabupaten Tulungagung, dengan adanya ruang publik seperti halnya alun-alun ataupun balai desa di setiap kelurahan, diharapkan bisa menjadi infrastruktur penunjang keberhasilan partisipasi publik di Kabupaten Tulungagung. Selain balai desa dan juga alun-alun sebagai tempat untuk melakukan musyawarah atau diskursus, Kabupaten Tulungagung memiliki potensi lain yang dapat digunakan sebagai ruang publik baru, membanjirnya warung kopi di Kabupaten Tulungagung juga menjadi lokasi baru yang bisa digunakan sebagai ruang publik bagi masyarakat.

Sehingga urgensi ruang publik yang selama ini dipertanyakan sudah terjawab, bahwa sesungguhnya masyarakat sebagai individu yang memiliki karakteristik sosial membutuhkan adanya ruang untuk sekedar berkumpul atau bersosialisasi. Hal ini juga tidak mengurangi sisi privat dari masing-masing individu masyarakatnya sendiri, ada ranah lebenswelt (dunia-kehidupan) dimana mereka dapat membedakan ranah privat dan publik tergantung dimana mereka berada.

Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat dijadikan kesimpulan dalam penelitian ini, yakni terjadinya perkembangan fungsi alun-alun Kabupaten Tulungagung sebagai ruang publik bagi masyarakat, dalam perkembangannya tersebut alun-alun turut mengembangkan sarana dan prasarana fasilitas publik, sehingga dapat digunakan secara nyaman untuk kegiatan masyarakat. Selain itu, keberadaan beberapa baliho, poster dan juga video tron yang terpasang di sekitar alun-alun mendukung program pemerintah untuk memberikan akses informasi terhadap publik, sehingga partisipasi masyarakat terhadap program pemerintah meningkat.

(12)

partisipasi selama ini hanya terdapat pada segmentasi masyarakat tertentu seperti halnya organisasi pemuda, LSM, dan organisasi kemahasiswaan, belum bersifat menyeluruh terhadap masyarakat umum. Selain itu, akses alun-alun yang jauh bagi mereka yang berada di pelosok desa seperti halnya Besuki dan Campurdarat memunculkan ruang-ruang publik baru bagi masyarakat. Ruang publik alternatif tersebut, sedikit banyak mempengaruhi eksistensi alun-alun sebagai ruang public yang selama ini telah dikembangkan oleh pemerintah kabupaten Tulungagung.

Daftar Pustaka

Arimbi, Mas Achmad, 1993, Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan. Jakarta: Walhi.

Craigh Calhoun, and Habermos.1993. The Public Sphere, Rethingking the Publik Sphere: A Contribution to the Critique of Actually Existing Democracy, MITPress.

Day, Christopher.2003. Consensus Design Socially Inclusive Process, London: Architectural Press.

Habermas, Jurgen. 2007. Teori Tindakan Komunikatif II: Kritik atas Rasio Fungsionaris. Terjemahan oleh Nurhadi. Yogyakarta : Kreasi Wacana

Handinoto, 1992. Arsitektur Kota-Kota di Jawa Pada Masa Kolonial.Yogyakarta: Graha Ilmu

Hardiman, F. Budi.2007. Filsafat Fragmentaris. Yogyakarta : Kanisius

Hardiman, F. Budi.2009. Menuju Masyarakat Komunikatif : Ilmu, Masyarakat, Politik, dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta : Kanisius

Hardiman, F. Budi.2010. Ruang Publik : Melacak “Partisipasi Demokratis” dari Polis sampai Cyberspace.Yogyakarta: Kanisius.

Referensi

Dokumen terkait

Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Sambas dalam Menjatuhkan Pidana Mati terhadap Pembunuhan Berencana adalah karena adanya hal-hal yang menjadi dasar atau yang

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah adalah sejauhmana pengaruh penerapan model PBL versus ekspositori dan motivasi berprestasi

Cara analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan (1) mengumpulkan laporan keuangan Manchester United PLC dari tahun 2009 hingga 2012, (2)

Berdasarkan analisis diperoleh hasil bahwa pada anak yang dididik oleh orang tuanya dengan pola asuh otoriter dapat membentuk kepribadian introvert sebanyak 28 orang

Keterbatasan SDM merupakan salah satu ancaman serius bagi industri kecil di Kota Makassar untuk dapat bersaing baik di pasar domestik maupun pasar internasional di

Hal ini untuk mencocokkan sidik jari latent yang ditemukan di TKP guna mencari ada atau tidaknya sidik jari asing (diduga pelaku) dalam tempat kejadian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat Sialang Jaya memiliki berbagai kearifan lokal dalam melaksanakan pengelolaan sungai antara lain, (1) Perencanaan,

Artinya, Zainul (1993) tidak menganalisis variasi fonologis dalam penelitiannya dan hanya mendeskripsikan fonem-fonem yang terdapat dalam bahasa yang digunakan di Mukomuko. 3)