Rasional Pendidikan Seni
Mata pelajaran seni di masukkan ke dalam kurikulum sekolah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat individual, sosial dan kultural yang tidak mampu dilayani oleh mata pelajaran lain. Pendidikan seni memenuhi kebutuhan yang bersifat individual karena melalui kegiatan berolah cipta seni dan berapresiasi terhadap nilai keindahan yang merupakan inti sari pendidikan seni, anak mendapatkan pengalaman individual yang memungkinkannya untuk berkembang menjadi manusia yang utuh, mandiri dan bertanggung jawab. Melalui seni, anak memperoleh pengalaman estetis yang berkaitan dengan elemen visual, bunyi, dan gerak. Pengalaman estetis ini disebut sebagai sesuatau pengalaman yang khas dalam kehidupan. Manusia yang berpengalaman utuh adalah mereka yang memiliki kematangan intelektual dan emosional sekaligus.
Pendidikan seni memenuhi kebutuhan yang bersifat sosial karena melalui seni, kita berbagi rasa, keyakinan dan nilai. Karya seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Kehidupan menjadi lebih menyenangkan dan bermakna berkat seni. Pendidikan seni yang mengembangkan kemampuan anak untuk memberikan penilaian kualitatif akan sangat bermanfaat kelak bagi anak dalam membuat keputusan-keputusan untuk memperbaiki dimensi estetis dari kehidupan pribadi dan sosial seperti keputusan untuk melestarikan lingkungan, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman atau menerima teman-teman baru yang diperlukan pada masa perubahan ipteks dan kemasyarakatan yang serba amat cepat dewasa ini.
Tujuan Pendidikan Seni
Dalam kaitannya dengan aspek pembelajaran, tujuan pendidikan seni diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, kepekaan rasa dan keterampilan motorik anak. Ketiga aspek tersebut tercermin pada rumusan tujuan pendidikan seni yang bersifat
generic. Setelah mengikuti program pendidikan seni di sekolah, anak diharapkan mampu (sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangannya) untuk:
(1) Memiliki pengetahuan tentang hakekat karya seni dan prosedur penciptaannya (baik yang dihasilkan murid atau seniman profesional dari masa dan latar belakang etnis/budaya).
(2) Memiliki kepekaan rasa yang memungkinkannya untuk mencerap nilai-nilai keindahan yang ada di sekelilingnya serta membuat penilaian yang sensitif terhadap kualitas artistik suatu karya seni.
(3) Memiliki keterampilan yang memungkinkannya untuk berekspresi melalui media rupa, bunyi/suara, gerak atau lakon secara lancar atau menciptakan karya seni untuk kehidupan pribadi dan sosialnya.
Fungsi Pendidikan Seni
Pendidikan seni berfungsi untuk kepentingan masyarakat sehingga fungsi seni perlu dilestarikan. Fungsi seni dalam masyarakat meliputi: (1) fungsi agama yang bersifat sakral dan simbolistis, (2) fungsi ekonomi yang mengutamakan kualitas artistik produk (3) fungsi politik yang dipakai sebagai alat propaganda, penggalian jati diri, (4) fungsi pendidikan yang merupakan media pencerdasan, dan (5) fungsi rekreasi yang merupakan media penghiburan.
mendukung pendidikan seni di sekolah, tetapi satu alasan saja cukup yaitu seni adalah bagian penting dari kebudayaan.
Pengalaman Belajar yang Relevan
Untuk mencapai tujuan pendidikan seni yang bersifat umum, sekolah menawarkan pengalaman belajar yang relevan dengan minat dan kematangan intelektual, sosial dan estetis murid. Tidak semua pengalaman-pengalaman ini akan mendapatkan penekanan yang sama pada setiap jenjang pendidikan atau dengan tiap anak. Meski demikian, pengalaman-pengalaman tersebut dianggap esensial dalam upaya menawarkan program belajar seni yang komprehensif di sekolah. Berikut ini pengalaman-pengalaman belajar seni yang dimaksud:
(1) Mengamati dan membahas berbagai benda alam yang memiliki kualitas keindahan baik dari segi bentuk visual, gerak atau bunyi.
(2) Mengamati, membahas dan memberikan penilaian terhadap kualitas artistik karya seni baik yang dihasilkan oleh anak maupun oleh seniman profesional.
(3) Membaca dan mendiskusikan berbagai aspek seni untuk menumbuhkan pemahaman tentang hakekat seni.
(4) Mengkomunikasikan gagasan dalam wujud rupa, bunyi, gerak dan lakon.
(5) Melakukan eksperimentasi melalui media rupa, bunyi, gerak dan lakon untuk menemukan berbagai kemungkinan artistik.
(6) Mengunjungi sanggar seni baik yang tradisional maupun modern untuk mengamatai proses penciptaan karya seni dan sekaligus mencatat dan mendiskusikan pandangan berkesenian sang seniman.
(7) Mempresentasikan gagasan, hasil eksperimen, atau karya seni yang dihasilkan. (8) Menerapkan pengetahuan, kepekaan rasa, serta keterampilan berolah seni dalam
berbagai pribadi dan sosial.
Berbagai Persoalan dalam pengembangan Kurikulum Pendidikan Seni
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh pengembang dalammupaya mengembangkan kurikulum pendidikan seni untuk sekolah, adalah:
(1) Karena sifatnya yang formal, maka sekolah mengalami kesulitan dalam mengakomodasi model emerging curiculum yang digandrungi oleh kubu pendekatan ilmiah. Penjadwalan secara formal dan terstruktur di sekolah tampaknya telah mengakomodasi pandangan kubu pendekatan disiplin dan dalam keadaan tertentu juga kubu pendekatan multikultural.
(2) Salah satu kenyataan yang senantiasa dihadapi oleh pengembang kurikulum sekolah umum adalah terbatasnya waktu yang dapat digunakan untuk mengakomodasi pengalaman belajar yang dianggap penting untuk diberikan kepada anak. Karena guru di kelaslah yang paling mengetahui keadaan yang sesungguhnya maka seyogyanya pengembang kurikulum menyerahkan hal ini kepada guru untuk mengaturnya.
(3) Karena Kurikulum pendidikan seni di sekolah umum dimaksudkan untuk semua murid dengan segala perbedaan individualnya dalam hal kebutuhan, sikap bakat, dan tempo belajar, maka pengembang kurikulum perlu menawarkan program yang bersifat fleksibel yakni dapat dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan individual anak dalam kelas.
(4) Pengembang kurikulum dihadapkan pada persoalan mengenai mana yang lebih penting ”memberikan pengalaman yang luas dan bervariasi atau pengalaman yang terbatas tapi dalam”.
(5) Khusus untuk pengembang kurikulum pendidikan seni di sekolah dasar, persoalan yang cukup menantang yang dihadapi oleh pengembang kurikulum adalah bagaimana merancang program yang dapat diimplementasikan oleh guru kelas yang nota bene kurang memperoleh pelatihan khusus dalam berbagai kegiatan praktik/studio.
(6) Pengembangan kurikulum yang bersifat sentralistik, apalagi bila berskala nasional dapat mengabaikan pengalaman-pengalaman belajar yang bermuatan lokal yang pada gilirannya akan menjauhkan anak dari lingkungan sehari-harinya.
Mengapa Pendidikan Seni Penting?
perlu adanya keseimbangan antara ketiga bidang tersebut. Di dalam pendidikan perlu mencakup tiga hal, yaitu (1) transdisiplin, (2) sistemik, (3) trilogi pendidikan yang meliputi basic science, budi pekerti dan tradisi baca tulis.
Pendidikan sekolah harus mempunyai keseimbangan, sistematis-sistemik dan mempunyai pendekatan kompetensi. Di dalam pendidikan yang memakai pendekatan kompetensi mempunyai masalah-masalah yang perlu dijawab, yaitu (1) apa tantangan guru, (2) usaha apa yang dapat disiapkan dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi. Usaha yang dapat dilakukan oleh guru didalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi adalah memusatkan pada pengembangan semua kompetensi peserta didik yang dilakukan secara optimal dan membantu peserta didik tidak hanya masuk kawasan pengetahuan, tetapi sampai pada penerapan pengetahuan melalui pembelajaran. Kompetensi peserta didik meliputi (1) ability (kecakapan), (2) skill (keterampilan), dan (3)
knowledge (pengetahuan). Kurikulum lama lebih berfokus pada apa yang perlu disampaikan pada proses belajar mengajar. Sementara itu, kurikulum berbasis kompetensi, meliputi:
(1) Apa yang perlu dilakukan, mendorong mengembangkannya, menerapkan, menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari yang biasa disebut dengan life skill.
(2) Student oriented (berorientasi pada siswa)
(3) Guru berperan untuk mengenalkan dan mempraktekkan kebaruan dalam KBM/KMB yang didukung pihak penyelenggara.
(4) Guru dituntut lebih kreatif dengan mengajak peserta didik untuk bereksplorasi (perlu sarana dan prasarana).
(5) Guru berperan sebagai rekan peserta didik.
Di dalam pendidikan perlu pendidikan yang ”cura personalis” yaitu guru memperhatikan murid secara pribadi dalam relasi hangat antara guru dan siswa yang dilakukan dengan cara mengaktifkan, mengkreatifkan dan memotivasi peserta didik. Guru perlu memperhatikan keunikan setiap peserta didik, sehingga paradigma guru sebagai satu-satunya sumber ilmu perlu dirombak total.
Keunikan Pendidikan Seni
Keunikan pendidikan seni itu terletak pada kekhasan seni itu sendiri. Pengalaman estetik merupakan intisari dari seni maka pendidikan seni tanpa melibatkan pengalaman estetik bukanlah pendidikan seni dalam arti yang sesungguhnya. Karena itu, pengalaman estetik pulalah yang membedakan pendidikan seni dengan pendidikan bidang studi lainnya. Dalam pendidikan seni, pengalaman estetik adalah sesuatu yang esensial, sedang dalam pendidikan studi yang lain, pengalaman estetik (kalaulah pengalaman tersebut dihadirkan) hanyalah sekedar alat bantu untuk mencapai atau menegaskan tujuan tertentu yang utama dalam bidang studi tersebut.
Pengalaman estetik dimaksudkan untuk menggambarkan sejenis pengalaman yang spesial karena terjadinya sentuhan dengan gejala keindahan (bagaimanapun gejala keindahan itu dimaknai). Pengalaman ini muncul bila kualitas keindahan tersebut dikenali atau disadari. Seseorang merasakan pengalaman estetik dalam kurun waktu tertentu saat jiwanya menyatu dalam menikmati, mengimajinasikan atau mengekspresikan keindahan.
2. Keunikan Pendidikan Seni Melekat pada Upaya Pengembangan Potensi Pengalaman Estetik
Keunikan seni tercermin pada upaya pengembangan potensi pengalaman estetik yang diberikan. Upaya pengembangan tersebut dilakukan melalui penciptaan (creation), pelakonan (performance), penanggapan (respone). Penciptaan biasanya dipandang sebagai proses menghasilkan sesuatu yang baru. Penciptaan merupakan suatu yang hakiki dalam pemberian pengalaman estetik di sekolah. Proses penciptaan dalam dunia seni menuntut keterlibatan intelektual, emosional, dan fisik secara penuh agar mampu dilahirkan sesuatu ciptaan yang orisinal/kreatif. Dengan penciptaan, tersirat adanya kebebasan bagi seseorang dalam menemukan beragam cara atau pendekatan pemecahan masalah. Itulah sebabnya mengapa proses penciptaan karya seni tidak mengikuti langkah yang serba pasti dan beraturan. Dalam dunia pendidikan, seorang anak yang menciptakan sesuatu yang baru bagi dirinya (meskipun temuannya tersebut bukanlah hal baru karena telah ditemukan oleh orang lain) dapat disebut sebagai kegiatan kreatif.
pelakonan dipandang sebagai kegiatan yang kreatif. Alasannya karena seorang pemain teater, penyanyi atau pemain musik tidak begitu saja mengikuti skenario, pedoman, atau notasi lagu yang ada tetapi secara bebas memberikan penafsiran sendiri sehingga mampu melahirkan karya yang unik. Kegiatan pelakonan menjadi salah satu adpek penting dalam pendidikan seni untuk mengembangkan potensi pengalaman estetik anak.
Bila pada kreasi dan pelakonan seseorang secara aktif menghasilkan atau mempertunjukkan sesuatu, dan karena itu ia berperan sebagai seniman, maka pada penanggapan, seseorang berperan sebagai pengamat atau penonton. Di sini, faktor kepekaan rasa dalam mencerap rangsang keindahan menjadi aspek utama yang dibina. Kepekaan rasa keindahan seorang anak akan menjadikannya bersikap apresiatif terhadap nilai keindahan.
Berkah Karena Keunikannya
Pendidikan seni menarik karena perhatian para filosof dan pendidik karena keunikannya. Mereka berupaya memanfaatkan keunikan tersebut untuk mencapai tujuan yang dihasilkannya yaitu manusia ideal yang dicita-citakan. Pemanfaatan ini membuahkan berkah, yaitu dijadikannya pendidikan seni sebagai bagian penting dalam upaya pendidikan, khususnya dalam sistem persekolahan. Dalam konteks pendidikan modern, pemanfaatan pendidikan seni terutama dimaksudkan untuk mengembangkan potensi anak secara alamiah agar ia dapat tumbuh dengan wajar, sehat dan penuh daya cipta.
Studi tentang anak menunjukkan bahwa mengekspresikan diri secara estetik melalui media gerak, suara/bunyi, atau rupa(visual) merupakan sesuatu yang alamiah pada diri anak sejak usia dini dan berkembang sejalan degan perkembangan fisik dan jiwanya. Hasil studi ini kemudian menyadarkan pendidik bahwa pendidikan seni merupakan suatu media yang amat efektif untuk mengembangkan kepribadian anak karena potensi untuk itu telah dimiliki oleh anak. Tidak mengherankan bila kemudian pendidikan seni menjadi bagian penting dari kurikulum pendidikan modern. Pendidikan seni yang mendorong anak untuk berekspresi, dipandang memiliki nilai pembersihan jiwa (katarsis), dan karena itu bersifat terapi yang dapat memberi sumbangan bagi kenyamanan dan ketentraman jiwa.
belajar karena dianggap penting dalam mengembangkan kemampuan berfikir kreatif. Peran pendidikan seni semakin diapresiasi sejalan dengan temuan penelitian yang mengungkap misteri fungsi belahan otak kanan-kiri manusia. Belahan otak kanan manusia secara khusus berfungsi untuk kegiatan yang bersifat intuitif, ekspresif, komunikstif, dan kreatif. Sedangkan belahan otak kiri berkaitan dengan kegiatan berfikir secara rasional, berhitung, membaca dan menulis. Berdasarkan temuan tersebut, maka pendidikan seni tidak hanya penting dalam kaitannya dengan pengembangan kekreatifan, tetapi juga penting dalam upaya menyeimbangkan belahan otak kanan dan otak kiri manusia.
Berkah Yang Kurang Berkah
Dengan dimasukkannya pendidikan seni ke dalam kurikulum sekolah, di satu sisi mendatangkan berkah, di sisi lain menjadi kurang berkah. Banyak faktor yang amat berpengaruh yaitu upaya penentu kebijakan pendidikan untuk menyeragamkan cara pandang dan bertindak praktisi pendidikan di lapangan, dan lemahnya komitmen terhadap pendidikan seni.
1. Kekurangberkahan Karena Upaya Penyeragaman
Salah satu ciri yang menonjol dari sistem pendidikan di Indonesia adalah adanya upaya penyeragaman cara pandang dan bertindak para praktisi pendidikan yang dilakukan oleh penentu kebijakan pendidikan di tingkat pusat. Upaya penyeragaman itu terlihat pada penataran-penataran semisal P3G, P2LPTK, dan AA, yang dilakukan oleh pemerintah bagi guru dan dosen perguruan tinggi kependidikan dengan materi standar yang dikembangkan oleh pakar pendidikan berdasarkan visi yang sejalan keinginan pemerintah. Karena yang ditatar guru dan dosen, sang penyebar ilmu, maka dampaknya sangatlah kolosal. Materi yang ditatarkan segera menyebar luas dan menjadi ilmu yang dipersepsikan oleh calon guru sebagai lise (intisari) dari teori kependidikan sehingga diyakini secara fanatik. Kefanatikan itu terutama terlihat pada guru yang kurang berpeluang untuk memperlajari teori kependidikan selain yang diajarkan di kelas.
kehilangan gairah untuk mengimajinasikan keserbamungkinan, bagaimana bisa menghadirkan program pembelajaran seni yang mampu menebarkan berkah kekreatifan dan kegairahan hidup?
Penyeragaman yang dilakukan oleh penentu kebijakan pendidikan tentu saja memiliki dasar. Kebijakan atau metode yang disebarkan pastilah berpijak pada suatu filosofi kependidikan yang diyakini. Persoalannya adalah tidak ada filosofi yang serba melingkupi dan menjawab semua persoalan. Ketika sebuah filosofi diimlementasikan, apalagi dalam skala luas, maka ketika itu pula mencuat persoalan relevansi dan kesesuaian. Dalam konteks inilah, pendidikan seni diperhadapkan dengan kebijakan pendidikan yang berpijak pada filosofi atau teori pendidikan generik yang tidak selalu paes dengan keunikan pendidikan seni.
2. Kekurangberkahan Karena Lemahnya Komitmen
Komitmen untuk melaksanakan pendidikan seni amatlah rendah, disebabkan karena kurang dipahaminya pendidikan seni serta lemahnya kegiatan advokasi untuk memperkenalkannya. Pendidikan seni sering dipersepsikan sebagai sekedar kegiatan rekreatif untuk menyegarkan anak setelah penat mengikuti mata pelajaran yang serius. Kenyataan bahwa tidak tampaknya pengaruh yang segera terhadap diri anak setelah mengikuti pendidikan seni, semakin memperkuat persepsi tersebut. Pendidikan seni efektif untuk mengembangkan kepekaan rasa estetik dan kekreatifan tetapi bersifat jangka panjang. Karena itu, dalam konteks jangka pendek, dinilai tidak efisien karena hasil yang dicapainya tidak sebanding dengan waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan. Karena dianggap tidak efisien, pendidikan seni hanyalah bersifat pembelajaran kognitif yang dilaksanakan di ruangan kelas reguler. Terlihat dengan jelas bahwa komitmen untuk melaksanakan pendidikan seni di sini, terkalahkan oleh komitmen untuk mengurangi ketidakefisien.
asyik mengurusi dirinya sendiri sehingga kurang memberi perhatian pada hal yang besar dan eksternal.
Memberkah Berkah
Dicantumkannya pendidikan seni pada kurikulum sekolah diharapkan berkah, oleh karena itu, ada dua hal pokok yang harus diperhatikan, yaitu: apresiasi yang tulus terhadap keunikan pendidikan seni dan komitmen yang kuat untuk menyukseskan pendidikan seni. 1. Apresiasi yang Tulus Terhadap Keunikan Pendidikan Seni
Pendidikan seni perlu diapresiasi dan diberi kemudahan. Apresiasi ini diwujudkan dalam bentuk pemberian keleluasaan kepada guru seni untuk mengembangkan dan melaksanakn program pembelajaran yang relevan, kreatif dan bermakna. Teori pendidikan yang bersifat generik seyogyanya tidak begitu saja dipaksakan terhadap pendidikan seni. Bagaimanapun pendidikan seni memiliki teori dan pendekatannya sendiri. Apresiasi terhadap keunikan pendidikan seni seyogyanya juga diwujudkan dalam bentuk kesediaan untuk memaknai ketidakefisienan pendidikan seni secara positif. Harus disadari, bahwa aspek yang dikembangkan dalam pendidikan seni seperti ketajaman, kemampuan imajinasi, keluwesan ekspresi, dan kehalusan koordinasi motorik, memerlukan waktu dalam proses, pematangannya sehingga tidak semestinya diharapkan hasil yang segera diamati. Ketidaksabaran dalam mendidik selama ini, karena ingin segera melihat hasil, sehingga secara tidak sengaja menjadikan lulusan yang dihasilkan oleh sekolah miskin imajinasi, mahal ekspresi, dan lemah karakter.
2. Komitmen yang Kuat untuk Menyukseskan Pendidikan Seni
Konsep Pendidikan Seni
Pendidikan Seni Berbasis Anak
Pendekatan ekspresi bebas bercirikan pemberian kesempatan bagi anak-anak untuk menyatakan dirinya secara tidak terganggu melalui seni dalam kegiatan pembelajaran. Konsep dasar pendekatan ekspresi bebas adalah seni anak hanya bisa diciptakan oleh anak, sehingga anak harus diberi kebebasan untuk tumbuh kembang secara leluasa tanpa gangguan dari orang dewasa. Dengan pendekatan ekspresi bebas ini, tugas guru adalah memberikan pengalaman kepada anak yang dapat merangsang munculnya ekspresi pribadi anak. Pendekatan ekspresi bebas yang digunakan guru adalah yang terarah, dengan cara (1) bercerita atau berdialog untuk membangkitkan perhatian dan merangsang lahirnya motif untuk dijadikan dasar dalam berkarya, (2) memberikan ank pengalaman kontak langsung dengan alam secara sadar, (3) mendemonstrasikan proses penciptaan karya seni yang akan diajarkan. Setelah termotivasi, anak diminta untuk mengekspresikan dirinya secara bebas.
Pendidikan Seni Berbasis Disiplin
Pendidikan seni sebagai disiplin ilmu mempunyai pengertian bidang studi yang mempunyai ciri (1) memiliki isi pengetahuan (body of knowledge), (2) adanya masyarakat pakar yang mempelajari ilmu tersebut, (3) tersedianya metode kerja yang memfasilitasi kegiatan eksplorasi dan penelitian. Pendidikan seni berbasis disiplin bertujuan menawarkan program pembelajaran yang sistematik an berkelanjutan dalam empat bidang yaitu penciptaan, penikmatan, pemahaman, dan penilaian. Keempat bidang tersebut haruslah tercermin dalam kurikulum dan dilaksanakan secara terpadu.
Pendidikan Seni Berbasis Multikultural
Pendidikan seni multikultural adalah sebuah pendekatan pendidikan untuk mempromosikan keragaman budaya melalui kegiatan penciptaan, penikmatan, dan pembahasan keindahan visual. Dalam pendidikan seni berbasis multikultural, terdapat 3 model yaitu model pengenalan, model pengamalan, dan model perombakan.
murid agar ia dapat memahami orang lain dan karya seni yang dianut oleh sang murid. Pembelajaran dilaksanakan berupa kegiatan kurikuler atau ekstra kurikuler. Metode yang digunakan adalah ceramah, dilengkapi media pandang dengar, diskusi, praktik studio, dan studi lapangan.
Di sebut model pengamalan, karena model ini mengakui adanya keragaman dan berusaha untuk mengamalkan ide persamaan dalam keragaman tersebut secara sistemik dan sistematis dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajarannya dirancang sedemikian rupa sehingga setiap murid yang berasal dari berbagai latar belakang suku, ras, agama, kelas sosial, jenis kelamin, pandangan, dan kondisi tertentu, mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar.
Pendidikan seni multikultural model perombakan merasa tidak puas dengan sekedar mengamalkan gagasan keragaman budaya dan sosial karena kondisi dasar suku, ras, agama, kondisi sosial, jenis kelamin, atau pandangan yang dianut. Karena ketidakadilan ini, maka pendidik seharusnya mengagendakan perombakan struktur dan pola hidup masyarakat dalam kurikulum dan kegiatan pembelajarannya.
DAFTAR PUSTAKA
Salam.2001.Kurikulum Pendidikan Seni Yang Esensil dan Realistis. Makalah. Jakarta: Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Seni 18-20 April 2001 di Hotel Indonesia.
---.2002.Paradigma Pendidikan Seni. Semarang. PPs. UNNES.
---.2005.Paradigma dan Masalah Pendidikan Seni. Semarang: PPs. UNNES.
---2005. Paradigma Pendidikan Seni Berbasis Anak, Disiplin dan Multikultural.