• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Penerapan Insentif Pajak di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbandingan Penerapan Insentif Pajak di"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Insentif Pajak di Indonesia dan Philippines

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Terstruktur

Mata Kuliah Seminar Perpajakan

Disusun Oleh :

Rizka Puji Lestari D. Habibie (125030407111060)

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PERPAJAKAN JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan tugas terstruktur. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu baik moril maupun materil dalam penyusunan makalah ini, terutama kepada bapak Yuniadi Mayowan, S.sos., MAB selaku dosen mata kuliah seminar perpajakan.

Tugas ini berisikan tentang informasi mengenai fasilitas insentif pajak khususnya membahas tentang perbandingan insentif pajak di Indonesia dan Philippines serta masalah yang ditimbulkan akibat fasilitas perpajakan ini. Dengan maksud penulisan ini dapat memenuhi tugas mata kuliah Seminar Perpajakan.

Saya menyadari bahwa penulisan ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya sangat menerima berbagai saran sebagai perbaikan untuk kedepannya agar lebih baik lagi.

Malang, Maret 2015

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk menghadapi perkembangan aktivitas ekonomi global banyak cara yang ditawarkan berbagai negara untuk menarik investor terutama investasi yang memiliki efek multiplier yang signifikan bagi perekonomian nasional termasuk Indonesia dan Philippines. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan berbagai kemudahan untuk investor agar tertarik melakukan investasi meliputi kepastian hukum, ketersediaan infrastruktur, kemudahan perizinan usaha dan kesederhanaan sistem perpajakan yang berlaku di negara tersebut.

Walaupun memiliki harapan dan tujuan yang sama dalam perekonomian global. Negara Indonesia dan tetangganya khususnya Philippines tentu memiliki perbedaan penerapan kebijakan, khususnya dalam bidang perpajakan yaitu penerapan insentif pajak. Perbedaan penerapan insentif pajak ini diakibatkan beragam faktor salah satunya jumlah penduduk, potensi negara yang berbeda dan faktor lainnya.

Indonesia dengan potensi alam yang luar biasa uniknya dan kualitas sumber daya manusia sepadan dengan kuantitasnya, turut berkontribusi dalam menawarkan berbagai advantage bagi dunia investasi dan keberlangsungannya. Hal ini dilakukan dengan tanpa menyampingkan keselarasan antara peraturan perpajakan dengan perkembangan implementasi dalam dunia usaha. Dengan harapan mampu menarik investor sebanyak mungkin yang dapat membawa pengaruh terhadap perluasan lapangan kerja, penurunan tingkat pengangguran, turut menambah kontribusi dalam meningkatkan pendapatan nasional dan kemandirian bangsa.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakangnya, maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah :

1. Apa yang dimaksud dengan kebijakan fiskal dan fasilitas insentif pajak? 2. Bagaimana penerapan fasilitas insentif pajak di Indonesia?

3. Bagaimana penerapan fasilitas insentif pajak di Philippines?

4. Dilihat dari penerapan insentif pajak dikedua negara yang memiliki ciri khas sendiri, apa saja yang ditimbulkan akibat perbedaan penerapan fasilitas perpajakan tersebut?

(4)

Berdasarkan rumusan masalahnya, maka tujuan penulisannya meliputi :

1. Untuk memahami pengertian kebijakan fiskal dan fasilitas insentif pajak.

2. Untuk mengetahui penerapan fasilitas insentif pajak sebagai suatu bentuk kebijakan yang diterapkan di Indonesia.

3. Untuk mengetahui penerapan fasilitas insentif pajak di Philippines.

(5)

BAB II

ISI

2.1 Pengertian Kebijakan Fiskal dan Insentif Pajak

2.1.1 Pengertian Kebijakan Fiskal

Istilah kebijakan fiskal atau fiscal policy di Indonesia, pertama kali dikemukan oleh Djojohadikoesoemo pada tahun 1954 dalam tulisannya yang berjudul Fiscal Policy, Foreign Exchange Control and Economic Development. Didalam buku tersebut, beliau mendefinisikan kebijakan fiskal dapat diartikan sebagai suatu instrumen dalam mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan secara serentak, baik secara langsung dapat memperoleh dana yang diperlukan untuk investasi publik (negara), atau secara tidak langsung menggali uang tabungan pribadi ke sektor produktif.

2.1.2 Pengertian Insentif Pajak

Insentif adalah suatu sarana memotivasi berupa materi, yang diberikan sebagai suatu pendorong dengan sengaja kepada para pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang besar untuk meningkatkan produktivitas kerjanya dalam organisasi (Gorda, 2004:141). Sedangkan Manullang (2003 :147) menyatakan, Insentif merupakan sarana motivasi atau sarana yang menimbulkan dorongan. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat saya simpulkan bahwa insentif pajak adalah salah satu upaya atau kebijakan dalam perpajakan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang dalam menentukan arah perpajakan di Indonesia untuk mendorong investor agar melakukan investasi di Indonesia.

2.2Penerapan Fasilitas Insentif Pajak di Indonesia

(6)

penghasilan pasal 29 bagi wajib pajak industri tertentu, pengurangan 50% tarif pajak penghasilan bagi wajib pajak badan, pengurangan ansuran pajak penghasilan pasal 25 dalam tahun berjalan, serta fasilitas insentif pajak lainnya.

Dalam penulisan ini, penyusun lebih memfokuskan insentif pajak hanya mengenai tax holiday, tax allowance atau investment allowance untuk penanaman modal di bidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu dan pemberian insentif pada kawasan ekonomi khusus sebelum dilakukan revisi. Berdasarkan informasi yang beredar melalui media massa dan internet khususnya ketiga insentif pajak ini akan mengalami perubahan yang akan diumumkan pada semeter pertama 2015 yang meliputi, revisi peraturan menteri keuangan nomor 130/PMK 011/2011 terkait tax holiday, revisi peraturan pemerintah nomor 52 tentang tax allowance, dan revisi peraturan menteri keuangan nomor 130/PMK 022/ 2011 tentang pemberian fasilitas pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan.

2.2.1 Tax Holiday untuk Industri Pionir

Bentuk fasilitas yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini antara lain adalah pembebasan pajak penghasilan badan (tax holiday) 5 sampai 10 tahun sejak dimulainya produksi komersial, pengurarangan pajak penghasilan badan 50% selama 2 tahun setelah periode tax holiday dan Menteri Keuangan dapat memberikan fasilitas dengan jangka waktu lebih panjang dengan mempertimbangkan kepentingan daya saing industri nasional dan nilai strategis dari kegiatan usaha tertentu. Namun pemberian fasilitas ini hanya dikhususkan untuk wajib pajak badan baru atau yang telah berdiri paling lama 12 bulan sebelum 15 agustus 2011 dengan syarat merupakan industri pionir yaitu industri logam dasar, pengilangan minyak bumi dan/atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam, permesinan, sumber daya terbaru, dan/atau peralatan komunikasi, investasi minimal Rp. 1.000.000.000.000 (triliun), serta menempatkan dana di perbankan Indonesia minimal 10% dari total rencana investasi. Wajib pajak dapat memanfaatkan tax holiday ini jika seluruh penanaman modal telah direalisasikan, telah berproduksi secara komersial dan telah mengajukan permohonan kepada direktur jenderal pajak.

2.2.2 Tax Allowance/ Investment Allowance untuk Penanaman Modal Bidang Usaha Tertentu dan/atau Daerah Tertentu

(7)

modal yang dibebankan selama 6 tahun, masing-masing sebesar 5%, penyusutan dan amortisasi dipercepat, tarif pajak penghasilan 10% atas deviden kepada subjek pajak luar negeri atau tarif lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B), dan kompensasi kerugian 5 sampai 10 tahun dengan berbagai ketentuan yang telah diatur. Namun fasilitas ini hanyak dikhususkan untuk wajib pajak badan berbentuk PT atau koperasi yang melakukan penanaman modal pada 52 bidang usaha dan 77 bidang usaha di daerah tertentu yang telah memiliki izin penanaman modal sebelum berlakunya peraturan pemerintah nomor 52 tahun 2011 dengan syarat, rencana penanaman modal minimal Rp. 1.000.000.000.000 (triliun) dan belum beroperasi secara komersial pada saat peraturan pemerintah nomor 52 tahun 2011 berlaku. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan setelah wajib pajak merealisasikan rencana penanaman modal minimal 80%, kecuali bagi wajib pajak yang telah mendapatkan fasilitas berdasarkan peraturan pemerintah nomor 1 tahun 2007 atau peraturan pemerintah nomor 62 tahun 2008.

2.2.3 Pemberian Insentif pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

Pemberian insentif pajak pada kawasan ekonomi khusus di berikan kepada wajib pajak yang melakukan kegiatan di kawasan ini sebagai dukungan pemerintah dalam mempercepat pengembangan ekonomi diwilayah tertentu dengan memberikan fasilitas berupa pajak penghasilan, tambahan fasilitas ini dapat diberikan sesuai karakteristik zona, dan tidak dipungut pajak penghasilan impor barang ke kawasan ini.

2.3 Penerapan Fasilitas Insentif pajak di Philippines

Setelah melakukan reformasi terhadap pajak pertambahan nilai (VAT) di Philippines dan mengalami kesuksesan maka pihak yang berwenang menyadari betul bahwa selain melakukan reformasi di bidang administrasi perpajakan tersebut, pendapatan pajak di Negara Philippines ini juga perlu melakukan reformasi intensif pajak yang bertujuan untuk mengurangi redundansi. Redundansi adalah pemberian intensif pajak untuk suatu kegiatan yang harus dilakukan dengan perkiraan dapat mengurangi biaya sekitar 1% terhadap GDP pendapatan terdahulu.

(8)

pajak, peningkatan pemotongan pajak dan pembebasan VAT atau PPN, bea masuk dan biaya lainnya. Kebijakan ini di atur dalam peraturan yang atur oleh BOI, PEZA dan otoritas lain yang khususnya membahas dalam ruang lingkup ekonomi seperti Cayagan Economic Zone Authority, Clark Development Corporation, Zamboanga City Economic Authority and Subic Bay Metropolitan Authority. Diperkirakan ada sekitar 180 peraturan perundang-undangan yang membahas mengenai intensif pajak.

2.4 Analisis Perbedaan Penerapan Insentif Pajak di Philippines dan Indonesia

Sumber : Incentives in the Philippines, IMF Working Paper 01/181, Washington, DC; FIAS, 2007, Transition Issues in Investment Incentives Reform, Draft, April; Various editions of deloitte tax guides.

No (tarif PPh badan luar negeri = 20%)

Bidang investasi di indentifikasi setiap tahun di Investment Priorities Plan (IPP) atau sejak dimulainya produksi komersial. Investor domestik dan asing akan diberikan dengan statusnya pelopor atau proyek di lokasi kurang maju.

• 4 tahun: proyek - proyek bukan pelopor baru

(9)

45/PJ/2011 dengan syarat : Merupakan industri pionir, investasi minimal Rp. 1 triliun, pekerja, atau netto devisa asing.

3. Tax Allowance Keringanan atau pengurangan pajak (investment allowance) 30% dari jumlah penanaman modal yang dibebankan selama 6 tahun, masing-masing sebesar 5%, penyusutan dan amortisasi dipercepat, tarif pajak penghasilan 10% atas deviden kepada subjek pajak luar negeri atau tarif lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B), dan kompensasi kerugian 5 sampai 10 tahun dengan berbagai ketentuan yang telah diatur

(10)

Berdasarkan data di atas tarif pajak penghasilan badan di Philippines lebih tinggi daripada tarif pajak badan luar negeri di Indonesia. Hal ini diakibatkan karena perhitungan tarif pajak yang berlaku memperhitungkan karakteristik utama pajak penghasilan badan suatu negara, manfaat dari aset dan/atau metode dalam pelaporan keuangan serta metode penyusutan yang berlaku di negara tersebut. Dalam hal, Philippines hanya menerapkan metode garis lurus, double-declining balance atau the sum of the years digits methods, sedangkan Indonesia dalam penyusutan menerapkan garis lurus (kelompok bangunan baik permanen atau tidak permanen) dan metode garis lurus atau saldo menurun untuk kelompok bukan bangunan. Selain itu tarif ini didasarkan pada pilihan dalam mempertimbangkan pembiayaan khusunya pengurangan bunga dalam kasus pembiayaan hutang dan kehidupan ekonomi di Philippines yang berbeda dengan negara Indonesia.

Jika dilihat dari durasi atau lamanya penerapan suatu periode tax holidays di kedua negara memliki perbedaan. Durasi atau periode tax holidays di Indonesia yaitu 5 sampai 10 tahun sedangkan untuk Philippines yaitu 3 sampai 8 tahun. Insentif investasi ini menargetkan ekspor yang dilakukan oleh perusahaan berorientasi teknologi dan bertujuan untuk mempromosikan investasi di daerah terpencil atau terbelakangan. Kompensasi kerugian yang ditawarkan oleh Indonesia adalah selama 5 tahun sedangkan Philippines berangam mulai dari 3 tahun disesuaikan dengan proyek yang telah di atur di dalam BOI dan PEZA.

Pertimbanga lain dilihat dari tax allowance, sebagain besar negara menyediakan pembebesan bea masuk dan PPN untuk proyek investasi berkualifikasi dengan penggunaan outputnya tidak hanya untuk ekspor tetapi dapat digunakan produsen untuk mendukung industrinya. Di beberapa negara seperti Laos, Thailand dan Vietnam menggunakan pengecualian yang lebih selektif dan cenderung lebih mengurangi tarif daripada pengecualian tersebut. Sedangkan di Philippines menawarkan pemotongan biaya infrastruktur dan tenaga kerja dalam kondisi tertentu.

(11)

withholding tax cut akan menurunkan tarif efektif pajak penghasilan dari sisi pengguna cost of capital.

Selain itu menurut Center for International Private Enterprise (yang tertulis dalam sebuah paper terbitan September 1992) kriteria pertimbangan investasi yaitu karakteristik pasar lokal, akses pasar, tenaga kerja, resiko moneter, repatriasi modal, perlindungan HaKI, kebijakan perdagangan, regulasi pemerintah, tarif pajak dan insentif, stabilitas politik, kebijakan makro ekonomi, dan infrastruktur dan kemudahan pendukung. Jika dilihat tarif pajak, tarif pajak negara tetangga bukanlah unsur yang mudah dikesampingkan. Contohnya saja dalam pengenaan tarif pajak pertambahan nilai, Singapura hanya memungut 5% sementara Indonesia 10%. Sehingga insentif pajak bukan hanya salah satu hal yang dipertimbangkan oleh investor.

Tidak hanya Indonesia, negara Philippines juga mendapatkan berbagai kritikan dan dorongan untuk mereformasikan insentif pajak yang berlaku di negara tersebut. Salah satunya bersumber dari jurnal internasional “Investment Incentives and Effective Tax Rates in the Philippines”, yang mengemukakan bahwa :

 Berdasarkan pengalaman yang telah terjadi di berbagai negara bahwa tax holiday hanya memiliki efek perpajakan yang relatif kecil terhadap investasi jangka panjang. (The international experience is described in detail in Guin-Siu (2004). See also Zee, Stotsky, and Ley (2002).)

 Umumnya dalam penerapan tax holidays tidak tepat sasaran.

 Tax holidays sebagai insentif pajak menarik industri atau perusahaan yang cenderung akan keluar dari negara yang menerapkan insentif pajak tersebut jika periode pajaknya berakhir.

Berdasarkan sumber jurnal internasional lain “Road Map for a Pro-Growth and Equitable Tax System” meembagi dua sisi kontra atas penerapan insentif pajak. Dampak buruk yang ditimbulkan dengan adanya penerapan insentif pajak di berbagai negara pada umumnya :

 Kurangnya pendapatan negara yang bersumber dari pajak sehingga untuk mengatasi

(12)

mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dan efisiensi ekonomi yang menyebabkan ketidakadilan.

 Insentif pajak mendorong terjadinya penyalahgunaan pajak seperti transfer pricing.

 Pengeluaran terhadap infrastruktur sosial lebih efektif dibandingkan memberikan tax holidays untuk menarik investasi di daerah-daerah yang kurang berkembang.

 Bukan hanya pajak yang dapat mempengaruhi investasi disuatu negara. Sehingga insentif pajak tidak selamanya mampu menarik minat investor.

Selain masalah umum yang terjadi di berbagai negara, Philippines memiliki masalah tertentu yang diakibatkan oleh penerapan insentif pajak di negaranya. Antara lain :

 Pemberian insentif pajak oleh beberapa lembaga hukum dan peraturan perundang-undangan di Philippines menimbulkan persaingan yang seharusnya tidak perlu terjadi diantara lembaga tersebut karena dapat menimbulkan kebingungan bagi investor.

 Pelayanan insentif yang sama dari berbagai lembaga

 Dengan adanya insentif pajak dapat melemahkan pemantauan terhadap kepatuhan investor

 Keterlibatan DOF yang terbatas di dalam mengambilan keputusan insentif investasi

(13)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berbagai cara dilakukan oleh suatu negara untuk menarik minat investor tidak terkecuali negara Indonesia dan Philippines, salah satu upayanya dengan menerapkan kebijakan fiskal yaitu insentif pajak. Namun perlu diketahui, bahwa terdapat berbagai macam faktor yang dapat menimbulkan keinginan investor untuk berinvestasi selain tarif dan insentif pajak. Faktor-faktor itu meliputi karakteristik pasar lokal, akses pasar, tenaga kerja, resiko moneter, repatriasi modal, perlindungan HaKI, kebijakan perdagangan, regulasi pemerintah, stabilitas politik, kebijakan makro ekonomi, dan infrastruktur dan kemudahan pendukung. Sumber daya manusia dan sumber daya alam, menurut penyusun juga tidak dapat dipungkiri mampu menarik minat suatu indutri atau perusahaan dalam melakukan investasi

Dalam penerapakan kebijakan peraturan perpajakan khususnya insentif pajak di Indonesia dan Philippines tentunya terdapat perbedaan dalam penetapan ketentuan tarif, pengguna fasilitas, syarat menggunakan fasilitas insentif pajak, tanggapan positif dan negatif terhadap penerapan fasilitas ini. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi suatu negara dan sumber daya manusianya yang beragam.

3.2 Saran

Berdasarkan berbagai faktor yang menimbulkan minat investor untuk melakukan investasi, untuk itu perlu adanya perhatian khusus dari berbagai pihak dalam menyelaraskan kebijakan peraturan perpajakan dengan perkembangan implementasi dalam dunia usaha. Terkait tanggapan negatif dari berbagai pihak mengenai penerapan insentif pajak di Indonesia sebagaimana telah saya tuliskan di bab sebelumnya, menurut saya itu hal yang wajar dalam setiap penerapan sebuah kebijakan. Tanggapan negatif ini sebagai bentuk upaya peduli dan/atau kontribusi masyarakat akan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Dengan harapan pemerintah Indonesia selalu mengupayakan keputusan terbaik dengan tidak menyampingkan hak rakyat.

(14)

selanjutnya. Semoga penulisan mengenai insentif pajak yang berlaku di Indonesia dan Philippinies bermanfaat.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

o PP 94/2010 Tentang Perhitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan.

o PMK-130/PMK.011/2011 Tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan

o PER-44/PJ/2011 Tentang Tata Cara Pelaporan Penggunaan Dana dan Realisasi Penanaman Modal bagi Wajib Pajak Badan yang Mendapatkan Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan

o PER-45/PJ/2011 Tentang Tata Cara Penetapan Saat Dimulainya Berproduksi Secara Komersial bagi Wajib Pajak Badan yang Mendapatkan Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan

o Pasal 31 A Undang - Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008

o PP 1/2007 s.t.d.t.d PP 52/2011 Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-daerah Tertentu sebagaimana telah diubah terakhir dengan PP Nomor 52 Tahun 2011

o PMK-16/PMK.03/2007 s.t.d.t.d PMK-144/PMK.011/2012 Tentang Pemberian Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu

o PER-67/PJ/2007 s.t.d.d PER-41/PJ/2013 Tata Cara Pemberian Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu

o SE-16/PJ/2007 Tentang Penyampaian PP Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu beserta Peraturan- Peraturan Pelaksanaannya

o UU No.39 tahun 2009 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus

o PP 2/2011 Tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus

o PP 26/2012 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung

o PP 29/2012 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei

o Nakayama, Kiyoshi. Caner, Selcuk. Mullins, Peter. (2011). “ROAD MAP FOR A PRO-GROWTH AND EQUITABLE TAX SYSTEM”. IMF Country Report. 12 (60)

o Botman, Dennis. Klemm, Alexander. Baqir, Reza. (2008). “Investment Incentives and Effective Tax Rates in the Philippines”. IMF Country Report. 08 (207)

o http://smail-tcom.blogspot.com/2009/09/kebijakan-perpajakan-tax-policy.html

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan PP Nomor 148 tahun 2000 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan atau di Daerah- daerah

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 89/PMK.010/2015 tentang Tata Cara Pemberian Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu Dan/Atau Di Daerah-Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2019 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah- daerah Tertentu

Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah- daerah tertentu

yang dijadikan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman modal di bidang usaha tertentu dan atau daerah tertentu dan

Perubahan PP Nomor 148 tahun 2000 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan atau di Daerah- daerah

Perubahan PP Nomor 148 tahun 2000 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang- bidang Usaha Tertentu dan atau di Daerah-daerah tertentu...