PERBAIKAN TEKNOLOGI PASCAPANEN
DALAM UPAYA MENEKAN KEHILANGAN HASIL PADI
1)Agus Setyono
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Jalan Raya No. 9 Sukamandi, Subang 41172
Telp. (0260) 520157, Faks. (0260) 520158 e-mail: [email protected]
1)Naskah disarikan dari bahan Orasi Profesor
Riset yang disampaikan pada tanggal 26 No-vember 2009 di Bogor.
PENDAHULUAN
Program intensifikasi padi di Indonesia telah berhasil meningkatkan produksi gabah dari 19,32 juta ton pada tahun 1973 menjadi 21,48 juta ton GKG pada tahun 1983, dan menjadi 39,03 juta ton dan 52,08 juta ton GKG pada tahun 1993 dan 2003, meningkat rata-rata 41% selama tiga de-kade produksi padi (Hafsah dan Sudar-yanto 2004). Di sisi lain, upaya penyela-matan hasil panen padi belum mendapat perhatian sebagaimana halnya program intensifikasi itu sendiri. Padahal tingkat kehilangan hasil padi pada saat panen dan sesudahnya cukup tinggi, mencapai 21,0% pada tahun 1986/1987 (BPS 1988) dan 20,5% pada tahun 1995 (BPS 1996)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1975 minta kepada semua ne-gara dan badan internasional agar meng-ambil langkah konkret untuk menekan kehilangan hasil pertanian pada kegiatan panen dan pascapanen (Saragih 2002). Badan Litbang Pertanian sejak 1976 telah merintis penelitian pascapanen untuk me-ningkatkan mutu dan mengurangi
kehi-langan hasil. Pada tahun 1986, Presiden RI mengeluarkan Keputusan Presiden No. 47/ 1986 tentang Peningkatan Penanganan Pascapanen Hasil Pertanian. Hal ini me-nunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap upaya penyelamatan hasil panen. Mejio (2008) menjelaskan, pascapanen adalah serangkaian kegiatan yang meliputi pemanenan, pengolahan, sampai dengan hasil siap dikonsumsi. Penanganan pasca-panen bertujuan untuk menekan kehilang-an hasil, meningkatkkehilang-an kualitas, daya sim-pan, daya guna komoditas pertanian, mem-perluas kesempatan kerja, dan mening-katkan nilai tambah. Berkaitan dengan hal tersebut maka kegiatan pascapanen padi meliputi (1) pemanenan, (2) perontokan, (3) perawatan atau pengeringan, (4) peng-angkutan, (5) penggilingan, (6) penyim-panan, (7) standardisasi mutu, (8) peng-olahan, dan (9) penanganan limbah.
Teknologi pascapanen padi di Indonesia terus berkembang walaupun pada awalnya berjalan sangat lambat. Perkembangan tek-nologi pascapanen dapat dirinci sebagai berikut.
Periode Sebelum Tahun 1969 (Pra-Revolusi Hijau)
Sebelum tahun 1969, hampir semua petani menanam padi lokal dengan postur ta-naman tinggi dan gabah sukar rontok. Untuk itu, padi dipanen menggunakan ani-ani dengan cara memotong malai dan padi dibendel dengan tali bambu. Gabah dijemur di halaman rumah dengan alas dari anyam-an bambu. Hasil panyam-anen disimpanyam-an dalam bentuk gabah kering dengan cara ditum-puk. Proses pemberasan gabah dilakukan dengan cara ditumbuk dalam lesung meng-gunakan alu. Pada saat itu belum diketahui istilah pascapanen.
Periode 1970-1985 (Revolusi Hijau)
Pada periode ini, International Rice Re-search Institute (IRRI) mengintroduksi varietas unggul PB5 dan PB8 pertama kali di Indonesia. Selain berdaya hasil tinggi dan reponsif terhadap pemupukan, va-rietas unggul tersebut memiliki postur pen-dek dan gabahnya mudah rontok, se-hingga terjadi perubahan cara panen dari menggunakan ani-ani menjadi sabit. Demi-kian pula perontokan gabah, dari cara diiles menjadi dibanting atau digebot.
tinggi menimbulkan masalah baru dalam pascapanen, yaitu kehilangan hasil tinggi dan beras yang dihasilkan bermutu ren-dah karena tingginya persentase butir hi-jau dan butir mengapur lebih dari 10%, dan butir beras pecah lebih dari 20% (Araullo
et al. 1976; Ditjentan 1982; Setjanata et al. 1982; Setyono 1990; Setyono et al. 1990b; Baharsyah 1992; Hosokawa 1995; Setyono
et al. 2008a).
Periode 1986-1999 (Pascaswasembada Beras)
Periode 2000 Sampai Sekarang (Reformasi dan Desentralisasi)
Pada periode ini, pemerintah melalui Badan Litbang Pertanian berupaya mengembang-kan inovasi teknologi pascapanen padi melalui pelatihan dan demonstrasi bagi pa-ra penyuluh. Upaya ini ternyata membuah-kan hasil di beberapa provinsi. Di Lam-pung, misalnya, tingkat kehilangan hasil padi turun menjadi 13,2% (Dinas Pertanian Provinsi Lampung 2006), di Jawa Tengah 10,6% (Dinas Pertanian Provinsi Jawa Te-ngah 2006), di Bali 11,1% (Dinas Pertanian Provinsi Bali 2006), dan di Kalimantan Se-latan bahkan hanya 7,38% (Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan 2006).
INOVASI TEKNOLOGI PASCAPANEN PADI
Masalah utama dalam penanganan pasca-panen padi adalah tingginya kehilangan hasil (BPS 1988, 1996), serta gabah dan beras yang dihasilkan bermutu rendah (Setyono et al. 1990a; Baharsyah 1992; Setyono et al. 2001). Hal ini terjadi pada tahapan pemanenan, perontokan, dan pengeringan sehingga perbaikan teknologi pascapanen padi dititikberatkan pada ketiga tahapan tersebut (Setyono 1990; Setyono et al. 1990b).
Pemanenan
Penentuan Umur Panen
Umur panen yang tepat dapat ditentukan melalui beberapa cara, yaitu: (1) berdasar-kan umur varietas pada deskripsi, (2) kadar air gabah berkisar antara 21-26% (Damar-djati 1979; Damar(Damar-djati et al. 1981), (3) pada
saat malai berumur 30-35 hari (Rumiati dan Soemardi 1982) atau (4) jika 90-95% gabah pada malai telah menguning (Sudjastani 1980; Rumiati 1982; Nugraha et al. 1994). Menurut Almera (1997), jika pemanenan padi dilakukan pada saat masak optimum maka kehilangan hasil hanya 3,35%, se-dangkan panen setelah lewat masak 1 dan 2 minggu menyebabkan kehilangan hasil berturut-turut 5,63% dan 8,64%.
Cara Panen
Dengan diintroduksikannya varietas ung-gul padi maka terjadi perubahan penggu-naan alat panen dari ani-ani ke sabit biasa atau sabit bergerigi. Memanen padi dengan sabit menyebabkan kehilangan hasil 3-8% (Damardjati et al. 1988, 1989, Nugraha et al. 1990b).
Cara panen padi bergantung pada alat panen yang digunakan dan cara peron-tokan gabah. Sabit umumnya digunakan untuk memanen varietas unggul dengan cara memotong pada bagian atas tanaman, bagian tengah, atau pada bagian bawah, bergantung pada cara perontokan gabah. Panen dengan cara potong bawah diterap-kan jika gabah dirontok dengan dibanting atau digebot atau menggunakan perontok pedal (Lubis et al. 1991; Nugraha et al.
1995). Panen padi dengan cara potong atas atau potong tengah dilakukan bila tokan gabah menggunakan mesin peron-tok tipe throw in.
Dalam dekade terakhir telah berkem-bang penggunaan mesin pemanen. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja di pedesaan. Mesin panen yang diintroduksikan antara lain stripper, reaper, dan combine harvest-er. Kapasitas kerja stripper dan reaper
combine harvester 5,05 jam/ha (Purwadaria
et al. 1994). Mesin pemanen tersebut belum diterima dan bahkan ditentang oleh para pemanen karena akan mengurangi kesem-patan kerja. Combine harvester berkem-bang di Korea dan Jepang, sedangkan
stripper type rotary inovasi IRRI dikem-bangkan di Sulawesi Selatan (Mejio 2008).
Combine harvester berkembang di Viet-nam dan Kamboja (Gummert 2007). Kehi-langan hasil oleh stripper lebih rendah di-banding panen secara manual atau meng-gunakan reaper (Purwadaria et al. 1994).
Perontokan Gabah
Perontokan bertujuan untuk melepaskan gabah dari malainya, dengan cara membe-rikan tekanan atau pukulan terhadap malai (Setyono et al. 1998; Mejio 2008). Malai dapat dirontok secara manual atau meng-gunakan alat dan mesin perontok. Proses perontokan gabah memberikan kontribusi cukup besar terhadap kehilangan hasil pa-di. Dalam pemanenan, tahapan pemotong-an padi dpemotong-an perontokpemotong-an gabah menjadi satu kesatuan dan upah kerja didasarkan pada hasil gabah yang diperoleh (Setyono
et al. 1995).
Alat dan cara perontokan gabah dapat dikelompokkan menjadi (1) iles/injak-injak, (2) pukul/gedig, (3) banting/gebot, (4) menggunakan pedal thresher, dan (5) menggunakan mesin perontok (BPS 1996). Kapasitas perontokan dengan cara di-gebot berkisar antara 58,8-89,8 kg/jam/ orang (Setyono et al. 1993; Mudjisihono
et al. 1998; Setyono et al. 2001). Peron-tokan gabah dengan cara digebot menyi-sakan gabah yang tidak terontok sebanyak 6,4-8,9% (Rachmat et al. 1993; Setyono et al. 2001). Angka tersebut dapat ditekan jika perontokan menggunakan mesin perontok.
Penggunaan mesin perontok meng-hasilkan gabah rontok sebesar 99%. Ka-pasitas mesin perontok bervariasi antara 523-1.125 kg/jam, bergantung pada spesi-fikasi atau pabrik pembuatnya. Penggu-naan mesin perontok dapat menekan ting-kat kehilangan hasil, meningting-katkan kapa-sitas kerja, serta memperbaiki mutu gabah dan beras yang dihasilkan (Setyono et al. 1998). Di Klaten, Sukoharjo, dan Sragen berkembang perontok model TH-6-Mobil dengan kapasitas 900-1.200 kg/jam (Nugraha et al. 1999a). Penggunaan mesin perontok di wilayah pasang surut sangat membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja (Nugraha et al. 1999b).
Integrasi Sistem Pemanenan dan Perontokan
Hasil survei pada tahun 1992 menunjukkan adanya dua sistem pemanenan padi yang berkembang di petani, yaitu (1) sistem individu atau keroyokan, dan (2) sistem ceblokan (Setiawati et al. 1992; Setyono et al. 1992). Pada kedua sistem panen ini selalu terjadi penundaan perontokan gabah di sawah selama 1-3 hari tanpa alas. Hal ini menyebabkan kehilangan hasil 1-3% karena gabah rontok (Nugraha et al. 1990a; Setyono dan Nugraha 1993).
Kedua sistem panen tersebut dikerja-kan oleh tenaga pemanen yang tidak ter-kendali sehingga mengakibatkan banyak gabah yang rontok, rata-rata 6,1% (Se-tyono et al. 1999). Sistem panen keroyokan berdampak terhadap tidak berfungsinya mesin perontok. Dari 367.250 unit mesin perontok yang ada pada tahun 1998 hanya sebagian kecil yang beroperasi (Setyono
dengan sistem kelompok menurunkan ting-kat kehilangan hasil padi menjadi 5,9%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan cara keroyokan 18,9% (Setyono et al. 1993). Jika pemanenan dilakukan secara ke-lompok dengan menggunakan mesin pe-rontok, kehilangan hasil panen hanya berkisar antara 4,3-4,9%, dan gabah tidak terontok 0,31-0,97%. Pada panen dengan cara keroyokan, kehilangan hasil panen mencapai 15,2-16,2% (Rachmat et al. 1993; Setyono et al. 1998; Setyono et al. 2001). Jumlah tenaga pemanen yang efisien untuk setiap kelompok adalah 20-30 orang/ha (Nugraha et al. 1990b) dan perlu terus di-kembangkan (Setyono et al. 1996a, 1996b). Pemanenan padi sistem berkelompok menghasilkan gabah lebih bersih dengan kadar kotoran dan gabah hampa 2-4% dan harga jualnya lebih tinggi dibandingkan cara gebot yang mengandung gabah ham-pa dan kotoran 16-18% (Setyono et al. 1998, 2006a, 2006b). Hasil pengkajian pema-nenan padi sistem kelompok di Yogyakar-ta pada Yogyakar-tahun 2002 dan 2003 menunjuk-kan kehilangan hasil padi hanya 3,3-4,2% dengan kadar kotoran dan butir hampa 1,5-3,0% (Mudjisihono et al. 2002, 2003; Mu-djisihono dan Setyono 2003).
Hasil uji coba pemanenan padi sistem kelompok menunjukkan tingkat kehilangan hasil yang konsisten kurang dari 4% de-ngan gabah dan beras yang bermutu baik (Setyono et al. 2003, 2005, 2006c; Mulsanti
et al. 2008). Titik kritis penyebab kehi-langan hasil adalah pada saat pemanenan, terutama pada kegiatan pemotongan padi, pengumpulan hasil panen, dan perontokan gabah. Kehilangan hasil tersebut umum-nya disebabkan oleh perilaku para pema-nen atau penderep, baik disengaja maupun tidak disengaja. Kehilangan hasil pada panen sistem kelompok rata-rata 3,8%, yang terdiri atas 1,6% dari gabah yang
ron-tok saat pemotongan padi, 0,9% dari ga-bah pada malai yang tercecer, dan 1,3% dari gabah yang ikut terbuang bersama jerami pada saat perontokan dengan me-sin. Sebaliknya, kehilangan hasil pada panen sistem keroyokan mencapai 18,8%, yang terdiri atas 3,3% dari gabah yang rontok pada saat pemotongan padi, 1,9% dari gabah pada malai yang tercecer, 5,0% dari gabah yang tercecer pada saat peron-tokan, dan 8,6% dari gabah yang tidak terontok atau terbuang bersama jerami (Setyono et al. 2007a).
Pemanenan padi sistem kelompok dapat menekan kehilangan hasil dari 18,8% pada cara keroyokan menjadi 3,8%. Jika sistem pemanenan kelompok diterapkan secara nasional pada 50% luas panen maka produksi padi yang dapat diselamatkan sekitar 3,1 juta ton gabah kering panen (GKP) dengan nilai Rp7,75 triliun. Keun-tungan lainnya adalah: (1) mendorong berkembangnya kelompok jasa perontok (UPJA), industri skala kecil, dan bengkel alsintan sehingga akan membuka lapang-an kerja baru di pedesalapang-an dlapang-an tumbuhnya kelompok kerja pertanian yang profesional, dan (2) mempermudah komunikasi dan koordinasi antarkelembagaan, termasuk kelembagaan petani, sehingga memper-cepat penyebaran teknologi kepada petani dan pemanen (Mulya et al. 2008).
Pengangkutan
gabah sangat berhati-hati dalam pengang-kutan gabah (Dinas Pertanian Provinsi Bali 2006; Dinas Pertanian Provinsi Jawa Te-ngah 2006; Dinas Pertanian Provinsi Kali-mantan Selatan 2006; Dinas Pertanian Pro-vinsi Lampung 2006).
Pengeringan
Secara biologis, gabah yang baru dipanen masih hidup sehingga masih berlangsung proses respirasi yang menghasilkan CO2, uap air, dan panas sehingga proses bio-kimiawi berjalan cepat. Jika proses tersebut tidak segera dikendalikan maka gabah menjadi rusak dan beras bermutu rendah. Salah satu cara perawatan gabah adalah melalui proses pengeringan dengan cara dijemur atau menggunakan mesin penge-ring. Di tingkat petani, gabah umumnya dijemur di atas anyaman bambu atau terpal plastik, sedangkan di unit penggilingan padi pada lantai semen atau menggunakan mesin pengering.
Pada tahun 1990 telah dicoba perawatan gabah hasil panen menggunakan mesin pengering vortek. Cara ini menghasilkan gabah berkualitas baik, tetapi waktu pe-ngeringan relatif lama, lebih dari 10 hari (Rachmat et al. 1990). Pengeringan gabah secara sederhana menggunakan silo sir-kuler dengan sumber pemanas dari kompor mawar menghasilkan beras bermutu baik dengan biaya yang lebih rendah (Soehar-madi et al. 1993). Perbaikan pengeringan gabah juga dapat diupayakan dengan cara mengatur ketebalan gabah pada saat pen-jemuran (Thahir et al. 1995).
Pengeringan gabah dengan box dryer
dapat menghasilkan beras giling bermutu baik dan kehilangan hasil kurang dari 1%, lebih rendah dibandingkan dengan penje-muran (Setyono dan Sutrisno 2003; Sutrisno
et al. 2006). Kehilangan hasil pada tahapan penjemuran relatif tinggi, yaitu 1,5-2,2% ka-rena sebagian gabah tercecer, dimakan ayam atau burung. Dengan mesin pengering, ke-hilangan hasil kurang dari 1% (Dinas Per-tanian Provinsi Bali 2006; Dinas PerPer-tanian Provinsi Jawa Tengah 2006; Dinas Pertani-an Provinsi KalimPertani-antPertani-an SelatPertani-an 2006; Dinas Pertanian Provinsi Lampung 2006).
Penggilingan
Kehilangan hasil dalam proses penggiling-an disebabkpenggiling-an oleh gabah ikut terbupenggiling-ang bersama sekam, gabah dan beras tercecer, dimakan burung, ayam atau tersangkut pada mesin penggilingan (Nugraha et al.
2000). Untuk menghasilkan beras bermutu baik dengan tingkat kehilangan hasil ren-dah, unit penggilingan padi harus mene-rapkan sistem jaminan mutu (Setyono et al. 2006b).
Penyimpanan
Sebelum dikonsumsi atau dijual, beras disimpan dalam jangka waktu tertentu. Pe-nyimpanan dengan teknik yang baik dapat memperpanjang daya simpan dan men-cegah kerusakan beras. Penyimpanan be-ras umumnya menggunakan pengemas, yang berfungsi sebagai wadah, melindungi beras dari kontaminasi, dan mempermudah pengangkutan. Penyimpanan dalam pe-ngemas yang terbuat dari polipropilen dan polietilen densitas tinggi memperpanjang daya simpan beras dan lebih baik diban-dingkan dengan karung dan kantong plas-tik (Setyono et al. 2007b).
PETA JALAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PASCAPANEN
Teknologi pascapanen berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah produksi dan keberlanjutan swasembada beras. Untuk itu, diperlukan peta jalan pengem-bangan teknologi pascapanen padi untuk menekan tingkat kehilangan hasil serendah mungkin dan meningkatkan mutu gabah dan beras. Keluaran yang diharapkan dari pengembangan teknologi penanganan pascapanen padi adalah terbentuknya kelompok jasa pemanen dan kelompok jasa perontok, terlaksananya pemanenan padi terintegrasi, dan penanganan pascapanen yang baik. Peta jalan pengembangan tek-nologi pascapanen padi meliputi penelitian dan pengembangan, perakitan teknologi, produk dan proses sosialisasi, serta peng-guna dan adopsi teknologi.
Penelitian dan Pengembangan
Penelitian mencakup umur panen, karak-teristik gabah dan beras, alat dan cara
panen, alat dan cara perontokan, teknik penanganan gabah basah, penjemuran, pengeringan, dan penggilingan termasuk survei. Survei dilakukan untuk menda-patkan informasi penanganan pascapanen di tingkat petani serta penyebab tingginya kehilangan hasil dan rendahnya mutu ga-bah dan beras. Dari komponen teknologi yang diperoleh kemudian dirakit teknologi pemanenan padi sistem kelompok dan penanganan pascapanen. Tahap terakhir adalah sosialisasi dan penerapan sistem pemanenan padi secara berkelompok dan penerapan teknologi pascapanen, dalam hal ini pemerintah daerah sebagai pembina. Kehilangan hasil padi dibedakan men-jadi dua, yaitu kehilangan absolut ( ab-solute losses) dan kehilangan relatif (relative losses). Kehilangan absolut ada-lah gabah yang hilang tidak dapat atau sulit diselamatkan. Kehilangan relatif ada-lah gabah yang hilang masih berpeluang diselamatkan (Hosokawa 1995). Kehilang-an relatif inilah yKehilang-ang perlu diselamatkKehilang-an.
Perakitan dan Sosialisasi Teknologi
Teknologi yang telah dirakit perlu diuji coba untuk disempurnakan, kemudian disosialisasikan kepada pengguna atau petani antara lain melalui demonstrasi, penyuluhan, dan bantuan peralatan yang relatif modern. Namun, petani atau pe-manen lambat menerima perubahan karena hasilnya tidak dapat segera mereka rasakan (Setyono et al. 1992, 1999).
Produk dan Proses Sosialisasi
teknologi pascapanen dapat ditempuh me-lalui: (1) peningkatan peran aktif pemerin-tah daerah sebagai pembina wilayah dan masyarakat tani serta sebagai fasilitator; (2) pembentukan kelompok jasa pemanen; (3) pembentukan kelompok jasa perontok dan pengembangan usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA), terutama mesin perontok; dan (4) sosialisasi kepada petani, kelompok tani, kelompok jasa pemanen, dan UPJA.
Pengguna dan Adopsi Teknologi
Pengguna teknologi pascapanen adalah petani, kelompok pemanen, UPJA, swasta, bengkel, dan juga pemerintah. Teknologi pascapanen sudah berkembang di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Di Subang dan Indramayu, Jawa Barat, sudah mulai berkembang pemanenan padi sistem ke-lompok dengan jumlah mesin perontok sekitar 460 unit. Pengembangan sistem pemanenan padi secara kelompok ternyata mampu meniadakan pengasak dan peng-awasan dapat dilakukan oleh petani sendiri karena jumlah pemanen terbatas dan pe-kerjaan perontokan dilaksanakan oleh UPJA. Mesin perontok dapat dibuat oleh bengkel-bengkel lokal sehingga mening-katkan pendapatan masyarakat setempat.
STRATEGI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PASCAPANEN
Strategi pengembangan teknologi pena-nganan pascapanen padi mencakup be-berapa hal seperti berikut ini.
Pembentukan Kelembagaan Jasa Pemanenan dan Perontokan
Pengembangan pemanenan padi sistem kelompok dan pascapanen memerlukan
dukungan kelembagaan pemerintah be-rupa penyebaran informasi teknologi, pe-nyuluhan, informasi pasar, dan pembina-an. Selain itu diperlukan pula kebijakan yang dapat memberikan kepastian usaha melalui penetapan Surat Keputusan Bupa-ti atau Kepala Daerah tentang kelompok jasa pemanen, UPJA, pemanenan padi sis-tem kelompok, perontokan, pengeringan, penggilingan, pembinaan, dan sebagai-nya.
Introduksi dan Sosialisasi Pemanenan Padi Sistem Kelompok dan Pascapanen
Pelaku utama pemanenan padi adalah buruh panen dan jasa perontok. Karena itu, introduksi dan sosialisasi pemanenan padi sistem kelompok dan pascapanen tidak hanya ditujukan kepada kelompok tani, tetapi juga kelompok pemanen dan jasa perontok. Selanjutnya dilakukan pe-netapan sistem upah kerja yang disetujui bersama oleh ketiga pihak, yaitu petani pemilik, kelompok pemanen, dan UPJA.
Pengembangan Mesin Perontok
pekerjaan bagi petani sebaiknya diin-tegrasikan ke dalam penyusunan RDKK.
Penetapan sistem upah kerja pema-nenan dan perontokan perlu disepakati bersama, yang meliputi (1) upah kerja pe-motongan padi, (2) upah kerja perontokan gabah, (3) sewa mesin perontok, dan (4) biaya operasional mesin perontok. Upah kerja dapat berupa uang tunai, natura atau upah bawon. Pembinaan bengkel-bengkel lokal diperlukan untuk mendukung pe-ngembangan alsintan.
Revitalisasi Kelompok Tani dan Pelatihan
Petani, kelompok tani, kelompok jasa pe-manen, dan kelompok jasa perontok adalah pengguna inovasi teknologi. Kelompok tani sudah lama terbentuk, namun sebagian besar kurang aktif sehingga perlu dire-vitalisasi dalam bentuk gabungan kelom-pok tani (gakelom-poktan). Untuk menunjang perbaikan penanganan pascapanen, ter-utama yang berkaitan dengan pengope-rasian alsintan dan pengelolaan keuangan, perlu adanya pelatihan dan pembinaan bagi gapoktan, kelompok pemanen, dan kelompok UPJA.
Revitalisasi Penggilingan Padi
Menuju ekspor beras, unit-unit penggi-lingan padi perlu direvitalisasi melalui pembinaan dan pelatihan. Konfigurasi me-sin penggilingan dan sosialisasi standar mutu beras harus segera dilakukan karena mutu sangat menentukan keberhasilan ekspor beras. Tenaga kerja dan sumber daya manusia di penggilingan padi harus terus dibina.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
Kesimpulan
1. Pemanenan padi sistem kelompok selain dapat mengurangi gabah rontok saat pemotongan juga meningkatkan mutu beras. Penggunaan mesin pe-rontok dapat meningkatkan efisiensi kerja, menghindarkan penundaan pe-rontokan, memperbaiki mutu gabah, beras, dan rendemen beras giling, me-nekan kehilangan hasil karena gabah tidak terontok kurang dari 1%, dan menekan kehilangan hasil 10% (3,1 juta ton GKP per tahun) yang senilai de-ngan Rp7,75 triliun.
2. Pengembangan kelompok jasa pema-nen dan kelompok UPJA akan mem-buka lapangan kerja baru melalui tumbuhnya bengkel alsintan di pede-saan.
3. Penggunaan mesin pengering meng-hindari terjadinya kontaminasi pasir atau kerikil dan mutu beras yang di-hasilkan lebih baik dibandingkan de-ngan cara penjemuran. Selain itu, ke-hilangan hasilnya juga rendah, kurang dari 1%, lebih rendah dibandingkan dengan cara penjemuran sebesar 1,5-2,0%.
Implikasi Kebijakan
ter-libat, baik petani pemilik, buruh panen maupun pengusaha UPJA. Karena itu, pengembangan teknologi pascapanen harus ditempatkan sebagai bagian in-tegral dalam program pengembangan sistem usaha tani padi.
2. Intensifikasi penanganan pascapanen. Penanganan pascapanen secara ter-integrasi harus mempertimbangkan iklim atau curah hujan, pola tanam, topografi, sosial-ekonomi, budaya, ke-lembagaan, dan kebijakan karena terkait dengan dana dan peralatan yang sesuai dengan wilayah setempat. Dengan de-mikian diperlukan informasi lengkap mengenai wilayah pengembangan.
3. Program perbaikan penanganan pasca-panen secara terintegrasi. Program perbaikan penanganan pascapanen dapat diimplementasikan melalui pen-dekatan wilayah dan penpen-dekatan tek-nologi. Pendekatan wilayah didasarkan atas persepsi petani, sosial-ekonomi, budaya, kelembagaan, dan kondisi wi-layah. Pendekatan teknologi didasar-kan pada aspek teknis, seperti upaya peningkatan kapasitas, efisiensi kerja, perbaikan spesifikasi alat dan proses untuk meningkatkan rendemen dan mutu beras serta menekan kehilangan hasil.
4. Peningkatan peran bank. Dukungan yang diharapkan dari pihak bank selain kredit sarana produksi adalah kredit untuk UPJA dan bengkel alsintan de-ngan bunga lunak dan persyaratan yang mudah.
5. Peraturan Pemerintah Daerah. Dalam pelaksanaan sistem pemanenan padi secara terintegrasi dan penanganan
pascapanen diperlukan perangkat hu-kum, berupa Surat Keputusan atau Per-aturan Pemerintah Daerah yang dike-luarkan oleh Bupati setempat tentang pelaksanaan pemanenan padi sistem kelompok dan penanganan pasca-panen.
PENUTUP
Penerapan pemanenan sistem terintegrasi dan teknologi pascapanen selain dapat mengurangi kehilangan hasil padi, me-ningkatkan mutu gabah dan beras, mening-katkan pendapatan petani dan pemanen, juga menunjang peningkatan stok pangan nasional. Usaha pelayanan jasa alsintan dalam mengembangkan kelompok jasa perontok diharapkan dapat mendorong tumbuhnya bengkel-bengkel alsintan sehingga membuka lapangan kerja baru di pedesaan. Oleh karena itu, pemanenan padi sistem terintegrasi dan teknologi pascapanen harus terus dikembangkan di pedesaan. Pemerintan Daerah, Badan Litbang Pertanian, bank, dan dunia usaha perlu berkoordinasi dalam menekan ke-hilangan hasil padi melalui pengembangan pemanenan padi sistem terintegrasi dan perbaikan teknologi pascapanen.
DAFTAR PUSTAKA
Almera. 1997. Grain losses at different harvesting times based on crop ma-turity. In L. Lantin. Rice Postharvest Operation. www.org/inpho/index.htm. Ananto, E.E., Handaka, dan A. Setyono, 2004. Mekanisasi dalam perspektif modernisasi pertanian. hlm. 443-466.
Araullo, E.V., B.D. de Padua, and Graham. 1976. Rice Postharvest Technology. IDRC-053e. International Development Research Centre, Singapore. 394 pp. Baharsyah, S. 1992. Pidato Pengarahan
Menteri Pertanian pada Pembukaan Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Dalam M. Syam, Hermanto, M. Karim, dan Sunihardi (Ed.). Kinerja Penelitian Tanaman Pangan, Buku 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
BPS (Biro Pusat Statistik). 1988. Survei Susut Pascapanen Padi Musim Tanam 1986/1987. Kerja sama Biro Pusat Statistik, Ditjen Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pengendali Bimas, Badan Urusan Logistik, Badan Peren-canaan Pembangunan Nasional, Ins-titut Pertanian Bogor, dan Badan Pene-litian dan Pengembangan Pertanian. BPS (Biro Pusat Statistik). 1996. Survei
Su-sut Pascapanen MT. 1994/1995. Kerja sama Biro Pusat Statistik, Ditjen Perta-nian Tanaman Pangan, Badan Pengen-dali Bimas, Badan Urusan Logistik, Ba-dan Perencanaan Pembangunan Na-sional, Institut Pertanian Bogor, dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Damardjati, D.S. 1979. Pengaruh Tingkat Kematangan Padi (Oryza sativa L.) terhadap Sifat dan Mutu Beras. Tesis, Institut Pertanian Bogor.
Damardjati, D.S., H. Suseno, dan S. Wijandi. 1981. Panentuan umur panen optimum padi sawah (Oryza sativa L.). Penelitian Pertanian 1: 19-26.
Damardjati, D.S., Suismono, Sutrisno, and U.S. Nugraha. 1988. Study on harvest-ing losses in different harvest tools.
Damardjati, D.S., E.E. Ananto, R. Thahir, and A. Setyono. 1989. Postharvest losses assessment of paddy in Indo-nesia: Case study in West Java. Paper presented at Workshop on Appropriate Technologies on Farm and Village Level, Postharvest Grain Handling, Yogyakarta, 31 July-4 August 1989. Asean Australian Economic Coope-ration Program. 35 pp.
Dinas Pertanian Provinsi Bali. 2006. La-poran Tahunan 2006. Dinas Pertanian Provinsi Bali.
Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah. 2006. Laporan Tahunan 2006. Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, Semarang.
Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Se-latan. 2006. Laporan Tahunan 2006. Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
Dinas Pertanian Provinsi Lampung. 2006. Laporan Tahunan 2006. Dinas Perta-nian Provinsi Lampung, Bandar Lam-pung.
Ditjentan (Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan). 1982. Usaha penye-lamatan produksi pangan. Disajikan pada Diskusi Masalah Pascapanen dalam rangka Peringatan Hari Pangan Sedunia Kedua, Jakarta, 16 Oktober 1982.
Gummert, M. 2007. Cleverly cutting costs in Cambodia. Research Strategy. Rapple Irrigated Rice Research Con-sortium. [email protected].
Indone-Hosokawa, A. 1995. Rice Postharvest Technology. The Food Agency, Mi-nistry of Agriculture, Forestry and Fisheries, Japan Yoshihito Makao, ACE Corporation, Tokyo. 566 pp.
Lubis, S., Soeharmadi, S. Nugraha, dan A. Setyono. 1991. Sistem pemanenan, alat pemanen dan perontok padi di Kara-wang serta pengaruhnya terhadap ke-hilangan. hlm. 43-55. Prosiding Hasil Penelitian Pascapanen. Laboratorium Pascapanen Karawang, 10 Februari 1990.
Mejio, D.J. 2008. An overview of rice postharvest technology: Use of small metallic for minimizing losses. Agri-cultural Industries Officer, AgriAgri-cultural and Food Engineering Technologies Service, FAO, Rome. FAO Corporate Document Repository. p. 1-16. Mudjisihono, R., Sutrisno, dan A. Setyono,
1998. Evaluasi pemanenan padi tabela menunjang SUTPA di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. hlm. 42-55. Pro-siding Seminar Ilmiah dan Lokakarya Teknologi Spesifik Lokasi dalam Pe-ngembangan Pertanian dengan Orien-tasi Agribisnis. Balai Pengkajian Tek-nologi Pertanian Ungaran.
Mudjisihono, R., A. Guswara, dan A. Setyono. 2002. Pengkajian pemanenan padi sistem kelompok dan alat perontok pada tanaman padi yang dikelola secara terpadu. Laporan Akhir. Balai Pengka-jian Teknologi Pertanian Yogyakarta. Mudjisihono, R., A. Setyono, dan A.
Gus-wara. 2003. Kajian cara perontokan pa-di pada pemanenan papa-di sistem kelom-pok dan tingkat kerontokan padi tipe baru PTB 0202. Laporan Akhir. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogya-karta.
menekan kehilangan hasil panen padi. Laporan Akhir. Balai Pengkajian Tek-nologi Pertanian Yogyakarta.
Mulsanti, I.W., S. Wahyuni, dan A. Setyo-no. 2008. Pengaruh kecepatan putar silinder mesin perontok terhadap mutu benih padi. hlm. 947-958. Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Padi Menunjang P2BN, Buku 2. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. Mulya, S.H., A. Setyono, A. Ruskandar,
Jumali, dan P. Wardana. 2008. Studi pe-ranan kelembagaan pascapanen dalam upaya menekan kehilangan hasil pro-duksi di Majalengka. hlm. 901-918. Pro-siding Seminar Apresiasi Hasil Pene-litian Menunjang P2BN, Buku 2. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Suka-mandi.
Nugraha, S., A. Setyono, dan D.S. Da-mardjati. 1990a. Pengaruh keterlam-batan perontokan padi terhadap ke-hilangan dan mutu. Kompilasi Hasil Penelitian 1988/1989. Pascapanen. Ba-lai Penelitian Tanaman Pangan Suka-mandi. hlm. 1-7.
Nugraha, S., A. Setyono, dan D.S. Da-mardjati. 1990b. Penerapan teknologi pemanenan dengan sabit. Kompilasi Hasil Penelitian 1988/1989, Pascapa-nen. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi. hlm.13-16.
Nugraha, S., A. Setyono, dan R. Thahir. 1994. Studi optimasi sistem pemanenan padi untuk menekan kehilangan hasil. Reflektor 7(1-2): 4-10.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Nugraha, S., Sudaryono, S. Lubis, dan A. Setyono. 1999a. Uji kelayakan jasa perontok padi dengan mesin perontok model TH6-Mobil. hlm. 229-235. Prosiding Seminar Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi dalam Upaya Pening-katan Kesejahteraan Petani dan Peles-tarian Lingkungan. Paket dan Kom-ponen Teknologi Produksi Padi, Bogor, 22-24 November 1999.
Nugraha, S., A. Setyono, dan Sutrisno. 1999b. Perbaikan penanganan pas-capanen di lahan pasang surut. hlm. 229-235. Prosiding Simposium Pene-litian Tanaman Pangan IV, Bogor, 22-24 November 1999. Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Paket dan Komponen Teknologi Pro-duksi Padi. Pusat Penelitian dan Pe-ngembangan Tanaman Pangan, Bogor. Nugraha, S., Sudaryono, S. Lubis, dan A. Setyono. 2000. Perbaikan sistem pro-sesing pada penggilingan beras. Pro-siding Seminar Nasional Teknik Perta-nian: Modernisasi Pertanian untuk Pe-ningkatan Efisiensi dan Produktivitas Menuju Pertanian Berkelanjutan. Vol 2. PERTETA CREATA dan FATETA IPB. 2=260-265 (POI).
Purwadaria, H.K., E.E. Ananto, K. Sulis-tiadji, Sutrisno, and R. Thahir. 1994. Development of stripping and thresh-ing type harvester. Postharvest Tech-nologies for Rice in the Humid Tropics, Indonesia. Technical Report Submitted to GTZ-IRRI Project. IRRI, Philippines. 38 pp.
Rachmat, R., R. Thahir, A. Setyono, dan D.S. Damardjati. 1990. Penanganan ga-bah hasil panen di musim hujan dengan vortex. Kompilasi Hasil Penelitian 1988/
1989. Pascapanen. Balai Penelitian Ta-naman Pangan Sukamandi. hlm. 17-21. Rachmat, R., A. Setyono, dan R. Thahir. 1993. Evaluasi sistem pemanenan be-regu menggunakan beberapa mesin perontok. Agrimex 4 dan 5 (1): 1-7. Rumiati. 1982. Cara panen dan perontokan
padi VUTW untuk menentukan jumlah kehilangan. Laporan Kemajuan Pene-litian Seri Teknologi Lepas Panen No. 13. Subbalittan Karawang.
Rumiati dan Soemardi. 1982. Evaluasi hasil penelitian peningkatan mutu padi dan palawija. Risalah Tanaman Pangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Saragih, B. 2002. Sambutan Menteri Per-tanian Republik Indonesia pada Pem-bukaan Workshop Kehilangan Hasil Pascapanen Padi, Jakarta, 5 Juni 2002. Setiawati, J., R. Thahir, dan A. Setyono. 1992. Evaluasi ekonomi pada panen dan perontokan. Media Penelitian Suka-mandi 11: 24-29.
Setjanata, S., Ekowarso, dan Ruswandi, 1982. Dukungan teknologi pascapanen di tingkat petani untuk pengamanan produksi beras. Dalam Risalah Loka-karya Pascapanen Tanaman Pangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Setyono, A. 1990. Untuk menekan tingkat kehilangan hasil panen sistem pema-nenan di jalur pantura perlu diperbaiki. Pikiran Rakyat, 11 Juni 1990.
Setyono, A., R. Thahir, Soeharmadi, dan S. Nugraha. 1990a. Evaluasi Sistem Pe-manenan Padi. Laporan Hasil Pene-litian. Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi.
465-486. Risalah Simposium II Peneli-tian Tanaman Pangan, Ciloto, 21-23 Maret 1988. Buku 2. Pusat Penelitian Tanaman Pangan, Bogor.
Setyono, A., Sudaryono, S. Nugraha, dan J. Setiawati. 1992. Studi sistem pema-nenan padi di Kabupaten Karawang, Purbalingga dan Klaten. Seminar, 19 Ju-ni 1992. Balai Penelitian Tanaman Pa-ngan Sukamandi.
Setyono, A. dan S. Nugraha. 1993. Pe-ngaruh penundaan perontokan padi di sawah terhadap kehilangan hasil dan kerusakan. Reflektor 6(1-2): 41-43. Setyono, A., R. Thahir, Soeharmadi, dan S.
Nugraha. 1993. Perbaikan sistem pema-nenan padi untuk meningkatkan mutu dan mengurangi kehilangan hasil. Media Penelitian Sukamandi 13: 1-4.
Setyono, A., S. Nugraha, Sutrisno, dan R. Thahir. 1995. Peningkatan Pendapatan Petani dan Penderep dengan Pema-nenan Padi Sistem Beregu. Balai Pene-litian Tanaman Padi, Sukamandi. Setyono, A., S. Nugraha, R. Thahir, dan A.
Hasanuddin. 1996a. Hasil penelitian teknologi pascapanen. hlm. 99-114. Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Pe-nelitian, Sukamandi, 23-25 Agustus 1995. Buku I. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
Setyono, A., S. Nugraha, dan A. Hasa-nuddin. 1996b. Usaha pengembangan pemanenan padi dengan sistem be-regu. hlm. 141-154. Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Penelitian, Sukamandi, 23-25 Agustus 1995. Buku II. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. Setyono, A., Sutrisno, dan S. Nugraha.
1998. Uji coba regu pemanen dan mesin perontok padi dalam pemanenan padi sistem beregu. hlm. 56-69. Prosiding Seminar Ilmiah dan Lokakarya
Tekno-logi Spesifik Lokasi dalam Pengem-bangan Pertanian dengan Orientasi Agribisnis. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran.
Setyono, A., Suismono, T. Ilyas, dan S. Nugraha. 1999. Pengamatan kehi-langan hasil panen dan perontokan padi. Seminar Apresiasi Alsintan dalam Menekan Kehilangan dan Peningkatan Mutu Hasil Tanaman Pangan, Jakarta, 21 Desember 1999. Direktorat Bina Usa-ha dan PengolaUsa-han Hasil, Jakarta. Setyono, A., Sutrisno, dan S. Nugraha.
2001. Pengujian pemanenan padi sistem kelompok dengan memanfaatkan ke-lompok jasa pemanen dan jasa peron-tok. Penelitian Pertanian Tanaman Pa-ngan 2(2): 51-57.
Setyono, A., Jumali, Sutrisno, A. Guswara, E. Suwangsa, dan E.S. Noor. 2003. Penelitian penekanan kehilangan hasil padi. Laporan Akhir Tahun 2003. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. Setyono, A. dan Sutrisno. 2003. Perawatan
gabah pada musim hujan. Berita Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanam-an PTanam-angTanam-an No. 26: 8-9.
Setyono, A., Jumali, Astanto, S. Wahyuni, E. Suwangsa, A. Guswara, dan E.S. Noor. 2005. Studi pemanenan dan tingkat kerontokan beberapa galur ha-rapan dan varietas unggul baru. La-poran Akhir Tahun 2005. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. Setyono, A., A. Guswara, E. Suwangsa, dan
E.S. Noor. 2006a. Penekanan kehilangan hasil panen padi dengan penggunaan mesin perontok pada pemanenan padi sistem kelompok. hlm. 615-632. Dalam
Setyono, A., Suismono, Jumali, dan Su-trisno. 2006b. Studi penerapan teknik penggilingan unggul mutu untuk pro-duksi beras bersertifikat. hlm. 633-646.
Dalam Inovasi Teknologi Padi Menuju Swasembada Beras Berkelanjutan, Buku 2. Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Tanaman Pangan, Bogor. Setyono, A., Sutrisno, A. Guswara, dan
Jumali. 2006c. Pengaruh kecepatan per-putaran silinder perontok terhadap mu-tu benih dan beras. hlm. 287-300. Pro-siding Seminar Nasional Mekanisasi Pertanian. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Institut Pertani-an Bogor, Asosiasi PerusahaPertani-an Alat dan Mesin Pertanian Indonesia. Setyono, A., Sutrisno, S. Nugraha, and
Jumali. 2007a. Application of group harvesting technique for rice farming. p. 637-642. Proc. Rice Industry, Culture and Environment. Book 2. Indonesian Center for Rice Research, Sukamandi. Setyono, A., Jumali, D.D. Handoko, I P.
Wardana, P. Wibowo, dan A.W. Ang-gara. 2007b. Studi bahan dan cara pengemasan terhadap daya simpan dan mutu beras. Laporan Akhir Tahun. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Suka-mandi.
Setyono A., S. Nugraha, dan Sutrisno. 2008a. Prinsip penanganan pascapa-nen padi. hlm. 439-461. Dalam Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan. Buku I. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
Setyono, A., B. Kusbiantoro, Jumali, P. Wi-bowo, dan A. Guswara. 2008b. Evaluasi
mutu beras di beberapa wilayah sentral produksi padi. hlm 1429-1449. Prosi-ding Seminar Nasional Inovasi Tekno-logi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Mendukung Ketahanan Pangan, Buku 4. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
Soeharmadi, A. Setyono, dan R. Thahir. 1993. Pengeringan gabah basah de-ngan silo pengering sirkuler. Agrimek 4 dan 5 (1): 24-29.
Sudjastani, R. 1980. Pengaruh derajat ma-sak terhadap produksi dan mutu gabah/ beras. Laporan Kemajuan Penelitian Seri Teknologi Lepas Panen No. 6 (Padi) 1977-1980. Bagian Teknologi Karawang, Balai Penelitian Tanaman Pangan Suka-mandi.
Sutrisno, D.R. Achmad, Jumali, dan A. Setyono. 2006. Pengaruh kapasitas kerja terhadap efisiensi pengeringan gabah menggunakan box dryer bahan bakar sekam. hlm. 331-341. Prosiding Seminar Nasional Mekanisasi Pertani-an. Balai Besar Pengembangan Meka-nisasi Pertanian, Institut Pertanian Bo-gor, Asosiasi Perusahaan Alat dan Me-sin Pertanian Indonesia.