• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM ACARA BADAN ARBITRASE KEOLAHRAGAAN INDONESIA ( BAKI )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUKUM ACARA BADAN ARBITRASE KEOLAHRAGAAN INDONESIA ( BAKI )"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM ACARA

BADAN ARBITRASE KEOLAHRAGAAN INDONESIA

(“BAKI”)

BAB I

RUANG LINGKUP Pasal 1

Arbitrase Mandatori

Pasal 28.1 AD secara tegas menyatakan bahwa setiap perselisihan, sengketa, tuntutan, ketidak-sepahaman, penafsiran ketentuan dari kontrak atau perjanjian, yang berhubung-an dengberhubung-an kegiatberhubung-an keolahragaberhubung-an, yberhubung-ang terjadi dberhubung-an menyberhubung-angkut atau melibatkberhubung-an KOI dan/atau jajarannya dan/atau setiap Anggota dan/atau jajarannya dan/atau setiap perse-lisihan yang menyangkut keolahragaan dan/atau yang mempunyai kaitan dengan kegiat-an atau kepentingkegiat-an keolahragakegiat-an, dikegiat-antara KOI dkegiat-an/atau jajarkegiat-annya dkegiat-an/atau Anggota dan/atau jajarannya dan/atau individu yang menjadi anggota dari Anggota, tanpa ada yang dikecualikan (“Perselisihan”), yang tidak dapat diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat dan/atau melalui mekanisme internal organisasi yang berlaku, harus dan wajib disampaikan kepada, untuk diperiksa dan diputus oleh BAKI.

Pasal 2

Arbitrase Penundukandiri

2.1 Para Pihak yang terhadapnya ketentuan Pasal 1 tidak berlaku, dapat dengan pe-nundukan diri kepada yurisdiksi BAKI, yang dapat dilakukan dengan memasukkan klausula arbitrase BAKI di dalam perjanjian atau kesepakatan khusus mereka, dapat mengajukan setiap perselisihan, sengketa, tuntutan, ketidak-sepahaman, pe-nafsiran ketentuan dari kontrak atau perjanjian, yang berhubungan dengan kegiat-an keolahragakegiat-an, ykegiat-ang terjadi dkegiat-an menykegiat-angkut atau melibatkkegiat-an KOI dkegiat-an/atau jajar-annya dan/atau setiap Anggota dan/atau jajarjajar-annya dan/atau setiap perselisihan yang menyangkut keolahragaan dan/atau yang mempunyai kaitan dengan kegiatan atau kepentingan keolahragaan, diantara KOI dan/atau jajarannya dan/atau Ang-gota dan/atau jajarannya dan/atau individu yang menjadi angAng-gota dari AngAng-gota, tanpa ada yang dikecualikan (“Perselisihan”), kepada BAKI untuk diperiksa dan di-putus.

2.2 Klausula arbitrase standar bagi penundukan diri kepada BAKI adalah sebagai berikut:

”Setiap perselisihan, sengketa, tuntutan, ketidak-sepahaman, penafsiran ketentu-an dari Perjketentu-anjiketentu-an ini, tketentu-anpa ada yketentu-ang dikecualikketentu-an, yketentu-ang tidak dapat diselesaikketentu-an secara musyawarah untuk mufakat (“Perselisihan”), harus dan wajib disampaikan kepada, untuk diperiksa dan di putus oleh BAKI sesuai dengan Hukum Acara BAKI yang berlaku, yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang berselisih sebagai putusan yang final dan mengikat”.

(2)

BAB II

KETENTUAN UMUM Pasal 3

Pengertian

3.1 Kecuali secara khusus ditentukan lain, maka setiap istilah di bawah ini apabila

dimulai dengan huruf besar mempunyai pengertian sebagaimana ditentukan disini: 3.1.1 ”AD” adalah Anggaran Dasar KOI.

3.1.2 ”Arbiter” adalah setiap dan seluruh Arbiter yang diangkat atau ditetapkan oleh Ketua atau suatu Pihak atau Para Pihak di dalam suatu Perselisihan tertentu, untuk menjadi Arbiter tunggal atau menjadi salah seorang Arbiter dari Majelis, untuk memeriksa dan memutus suatu Perselisihan yang di-sampaikan dan didaftarkan pada Sekretariat untuk diperiksa dan diputus-kan.

3.1.3 ”ART” adalah Anggaran Rumah Tangga KOI.

3.1.4 “Alat Bukti” adalah setiap Bukti Keterangan dan/atau Bukti Pengakuan dan/atau Bukti Rekaman dan/atau Bukti Tertulis dan/atau Bukti Lainnya, secara sendiri atau bersama.

3.1.5 “BAKI” adalah Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia.

3.1.6 “Berkas” adalah kumpulan dari Permohonan, Jawaban, setiap Alat Bukti

yang diajukan Pemohon dan/atau Termohon, setiap dan seluruh catatan atau risalah yang dibuat oleh Majelis dan/atau Sekretaris sepanjang dan selama berlangsungnya Proses Arbitrase untuk suatu Perselisihan terten-tu, yang mencatat setiap hal dan kejadian yang terjadi dan keterangan yang diberikan oleh setiap pihak, termasuk (para) saksi dan/atau ahli dan lain sebagainya dan tanpa ada yang dikecualikan sepanjang berkaitan atau berhubungan dengan Perselisihan dan sepanjang Proses Arbitrase Perselisihan itu, tang harus dibuat dan/atau dipelihara oleh Majelis dan/ atau Sekretaris yang bertugas untuk memeriksa dan memutus Perseli-sihan tertentu itu.

3.1.7 “Biaya Arbitrasi” adalah biaya yang harus dibayar dan dilunasi oleh Para Pihak sebagaimana ditetapkan oleh Pengurus dan/atau Majelis, yang ter-diri dari Biaya Administrasi, Biaya Majelis, Biaya Sekretaris dan Biaya Lainnya, serta Biaya Dimuka sebagaimana ditentukan dan diatur di dalam Peraturan Administrasi.

3.1.8 “Bukti Lainnya” berarti setiap hal dan/atau peralatan dan/atau sarana dan/atau pra-sarana dan/atau bentuk lainnya tanpa ada yang dikecualikan yang memberikan atau mendukung atau menopang suatu hal atau mem-perjelas atau yang dapat dipergunakan secaya layak dan menurut pertim-bangan Majelis berguna atau menolong untuk membuat atau menolong untuk membuat atau memperjelas sesuatu menjadi lebih jelas dan trans-paran dan mempermudah Proses Arbitrase.

3.1.9 “Bukti Keterangan” berarti setiap keterangan yang diberikan oleh setiap orang yang memberikan kesaksian di hadapan Majelis sepanjang Proses Arbitrase, tentang setiap hal dan/atau kejadian yang dilakukan, tidak dila-kukan, dibuat atau tidak dibuat, didengar atau dilihatnya secara langsung. 3.1.10 “Bukti Pengakuan” berarti setiap pengakuan yang diberikan oleh

Pemo-hon dan/atau kuasanya dan/atau TermoPemo-hon dan/atau kuasanya tentang setiap hal dan/atau kejadian yang dilakukan, tidak dilakukan, dibuat atau

(3)

tidak dibuat, didengar atau dilihatnya secara langsung, di dalam pemerik-saan sepanjang Proses Arbitrase maupun di tempat lain tanpa ada yang dikecualikan dan diakui atau tidak dibantah di dalam atau sepanjang Pro-ses Arbitrase ketika dikonfirmasikan kepadanya.

3.1.11 ”Bukti Rekaman” berarti setiap rekaman suara, rekaman gambar atau apapun tanpa ada yang dikecualikan, di dalam bentuk apapun yang dibuat dan/atau direkam dan/atau dikirimkan secara elektronik, yang meliputi tape-recorder, voice-recorder, video, cd, usb, film, dan bentuk komunikasi atau peralatan elektronik lainnya tidak ada yang dikecualikan;

3.1.12 “Bukti Tertulis” berarti setiap dokumen atau sejenisnya tanpa ada yang dikecualikan yang Tertulis;

3.1.13 “Buku Register” adalah suatu buku khusus yang dibuat dan dipelihara oleh Sekretariat, yang secara rinci memuat dan mencatat nomor dan data lainnya sebagaimana ditetapkan oleh Pengurus, dari setiap dan seluruh Permohonan Arbitrase yang disampaikan dan didaftarkan pada BAKI untuk diperiksa dan diputuskan sesuai dengan ketentuan dari Hukum Acara ini. 3.1.14 “CAS” adalah the Court of Arbitration for Sport (Badan Arbitrase Olah-

raga), yang berkedudukan dan berkantor pusat di Lausanne, Swiss.

3.1.15 ”Daftar Arbiter” adalah suatu buku khusus yang dibuat dan dipelihara oleh Sekretariat yang memuat dan merinci nama setiap dan seluruh Arbiter BAKI yang ada dan dapat dipilih dan ditetapkan menjadi Arbiter untuk me-meriksa dan memutus suatu Perselisihan yang berdasarkan Permohonan Arbitrase diajukan dan didaftarkan kepada BAKI untuk diperiksa dan di-putuskan sesuai dengan ketentuan Hukum Acara ini.

3.1.16 ”Hari”, berarti hari kalender.

3.1.17 “Hukum Acara” berarti Hukum Acara ini, yang juga berarti dan menunjuk pada ketentuan Hukum Acara yang berlaku pada saat dimulainya Proses Arbitrase, dengan mengindahkan adanya kesepakatan tertentu yang mungkin dibuat Para Pihak dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1 di atas.

3.1.18 “Hukum Indonesia” berarti setiap dan seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan termasuk kebiasaan, kepatutan dan kelayak-an ykelayak-ang berlaku secara umum di Indonesia.

3.1.19 “Jawaban” adalah jawaban tertulis yang dipersiapkan oleh Termohon atas Permohonan, dan disampaikan kepada Sekretariat, sebagai dimaksud Pasal 13.

3.1.20 “Ketua” adalah Ketua BAKI.

3.1.21 ”LADI” adalah Lembaga Anti-Doping Indonesia.

3.1.22 “Majelis” adalah setiap majelis yang dibentuk menurut Hukum Acara ini dan terdiri dari 1 (satu) atau 3 (tiga) Arbiter, untuk memeriksa dan memu-tus suatu Perselisihan yang disampaikan dan didaftarkan pada Sekretariat. 3.1.23 “Para Pihak” berarti (para) Pemohon dan (para) Termohon secara ber-sama, dan “Pihak” berarti salah satu di antara Para Pihak, Pemohon atau Termohon, secara terpisah sendiri.

3.1.24 “Pemberitahuan” atau ”Komunikasi” berarti setiap dan semua tindakan baik berupa pemberitahuan, pengajuan, permohonan dan komunikasi ser-ta setiap bentuk lainnya yang dilakukan baik secara tertulis maupun tidak tertulis, yang akan disampaikan setiap Pihak kepada Pihak yang lain dan/ atau kepada Pengurus, Sekretariat dan Majelis yang berhubungan dengan

(4)

Perselisihan dan dilakukan di dalam dan sepanjang Proses Arbitrase. 3.1.25 “Pemohon” berarti dan menunjuk pada satu atau lebih pemohon atau

pi-hak yang mengajukan Permohonan Arbitrase.

3.1.26 “Pengurus” adalah dan terdiri dari Ketua dan Wakil Ketua, dibantu oleh Sekretaris Kepala.

3.1.27 “Perselisihan” adalah setiap perselisihan sebagaimana dimaksud dan di-artikan di dalam Pasal 1 dan/atau Pasal 2.

3.1.28 “Peraturan Administrasi” adalah Peraturan Administrasi BAKI yang ber-laku.

3.1.29 “Permohonan” adalah surat permohonan yang dibuat, disampaikan dan didaftarkan oleh seorang atau lebih, yang akan menjadi pihak Pemohon, dimana berdasarkan permohonan itu, disampaikan dan didaftarkan suatu Perselisihan kepada Sekretariat untuk diperiksa dan diputuskan sesuai dengan ketentuan Hukum Acara ini.

3.1.30 “Proses Arbitrase” berarti suatu proses yang akan dijalani di dalam me-meriksa dan menyelesaikan suatu Perselisihan, yang dimulai dari tanggal dilunasinya Biaya Dimuka dimaksud Pasal 10.3 dan diakhiri dengan diba-cakannya keputusan dari Majelis yang memeriksa dan memutus Perse-lisihan itu.

3.1.31 “Putusan” adalah setiap putusan yang ditetapkan oleh Majelis, baik putus-an provisi, putusputus-an sela ataupun putusputus-an akhir.

3.1.32 “Sekretariat” berarti dan menunjuk pada organ administratif BAKI yang bertanggungjawab dalam hal pendaftaran Permohonan Arbitrase dan hal lain yang bersifat administratif dalam rangka penyelenggaraan arbitrase. 3.1.33 “Sekretaris” adalah seorang atau lebih petugas dari Sekretariat yang

di-tunjuk oleh Pengurus untuk membantu Majelis, membuat dan memelihara administrasi Proses Arbitrase yang mereka jalankan untuk suatu Perseli-sihan tertentu, termasuk membuat risalah dan/atau rekaman dari setiap pemeriksaan yang dilakukan Majelis sepanjang Proses Arbitrase.

3.1.34 "Sekretaris Kepala” berarti orang yang diangkat oleh Pengurus untuk menjalankan dan mengelola kegiatan Sekretariat.

3.1.35 “Termohon” berarti dan menunjuk pada satu atau lebih orang atau pihak terhadap siapa Permohonan Arbitrase ditujukan.

3.1.36 “Tertulis” atau “tertulis” berarti dan adalah setiap dokumen yang ditulis dan/atau dicetak dan/atau digambar di atas kertas atau sejenisnya atau apapun bentuknya, termasuk dokumen yang dibuat dan/atau dikirimkan secara elektronis, yang meliputi tidak saja perjanjian tetapi juga pertukaran korespondensi atau satu arah, catatan rapat atau pertemuan atau kejadi-an, telex, telefax, e-mail, web-site, sms, blackberry messenger (BBM), face-book, twitter, dan seti-ap bentuk alat atau jenis komunikasi lainnya, manual atau elektronis, tidak ada yang dikecualikan.  

3.1.37 “Tuntutan Balik” atau “Rekonpensi” adalah dan berarti tuntutan balik yang dilancarkan oleh Termohon atas tuntutan Pemohon sebagaimana di-rinci di dalam Permohonan Arbitrasenya.

3.1.38 “UU Arbitrase” berarti dan menunjuk pada UU Arbitrase Republik Indo-nesia No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

(5)

3.2 Istilah yang merujuk pada orang pribadi berlaku untuk kedua gender, dan setiap istilah dalam bentuk tunggal berlaku pula pada bentuk jamak dan sebaliknya.  

Pasal 4

Hukum Acara

4.1 Hukum Acara ini berlaku bagi dan sepanjang Proses Arbitrase atas setiap

Perse-lisihan yang harus dan wajib diajukan dan didaftarkan kepada BAKI berdasarkan dan sesuai dengan ketentuan Pasal 1, untuk diperiksa dan diputus.

4.2 Setiap Perselisihan yang diajukan kepada BAKI berdasarkan dan sesuai dengan

ketentuan Pasal 2 akan diperiksa, diputus dan diselesaikan berdasarkan ketentu-an Hukum Acara ini, dengketentu-an memperhatikketentu-an ketentuketentu-an perjketentu-anjiketentu-an atau kesepa-katan yang memuat klausula arbitrase yang disepakati secara tertulis oleh Para Pihak.

4.3 Penyelesaian Perselisihan melalui Arbitrase BAKI dilandasi itikad baik Para Pihak

dengan landasan tata cara kooperatif dan non-konfrontatif.

4.4 Proses Arbitrase dilakukan dengan memegang teguh prinsip keterbukaan, dimana

setiap Pihak yang menjadi dan terlibat di dalamnya harus mengungkapkan setiap dan seluruh fakta dan Alat Bukti yang terkait dan sehubungan dengan Perselisih-an, tanpa ada yang dikecualikan dan disembunyikan.

4.5 Dengan tunduk atau menundukkan diri pada BAKI berarti secara otomatis memilih

dan mengakui berlakunya Hukum Acara ini untuk penyelesaian Perselisihan, dan Para Pihak dalam Perselisihan itu dianggap sepakat dan mengikatkan diri untuk meniadakan atau mengenyampingkan proses pemeriksaan melalui Pengadilan Negeri sehubungan dengan Perselisihan itu, dan akan melaksanakan setiap Pu-tusan yang diputuskan oleh Majelis.

Pasal 5

Majelis dan Kewajibannya

5.1 Pengurus akan membentuk dan menetapkan Majelis yang mempunyai tugas

memberikan keputusan arbitrasi dan/atau mediasi atas perselisihan yang timbul dalam bidang dan/atau berkaitan secara langsung maupun tidaklangsung dengan olahraga sesuai dengan ketentuan Hukum Acara ini.

5.2 Untuk hal ini Pengurus akan mengatur pembentukan Majelis dan kelancaran

ber-jalannya Proses Arbitrasi. BAKI menyediakan prasarana yang diperlukan bagi ke-pentingan setiap pihak yang terkait di dalam suatu Proses Arbitrase.

5.3 Kewajiban Majelis itu antara lain:

5.3.1 Memeriksa dan menyelesaikan Perselisihan yang diserahkan kepadanya yang melibatkan setiap pihak sebagaimana diatur Pasal 1;

5.3.2 Memeriksa dan menyelesaikan Perselisihan yang diserahkan kepadanya yang melibatkan setiap pihak sebagaimana diatur Pasal 2; dan

5.3.3 Memberikan pendapat dan nasehat yang tidak mengikat atas permintaan KOI, LADI dan setiap Anggota KOI.

Pasal 6 Arbiter

6.1 Setiap Arbiter yang ditetapkan oleh Kongres atau Rapat Anggota sesuai dengan

ketentuan AD dan ART, akan dimasukkan di dalam Daftar Arbiter.

6.2 Apabila seorang Arbiter mengundurkandiri, meninggal atau berhalangan

(6)

sisa masa jabatannya, sesuai dengan ketentuan AD dan ART yang berlaku.

6.3 Setiap Arbiter yang masuk di dalam Daftar Arbiter dapat ditugaskan untuk menjadi

anggota Majelis yang ditetapkan oleh Pengurus. Dengan pengangkatan dan pene-tapan mereka, setiap Arbiter wajib menandatangani suatu pernyataan yang me-wajibkan pelaksanaan tugas mereka secara pribadi, dengan tujuan dan keman-dirian sepenuhnya dan sesuai dengan ketentuan Hukum Acara ini.

6.4 Setiap Arbiter tidak dapat bertindak sebagai penasehat bagi suatu pihak

dihadap-an BAKI.

6.5 Setiap Arbiter terikat oleh tugas kerahasiaan yang diatur di dalam Hukum Acara ini

dan secara khusus, tidak boleh mengungkapkan kepada pihak ketiga manapun tanpa terkecuali setiap fakta atau informasi lain yang berkaitan dengan proses yang dilangsungkan di hadapan BAKI.

Pasal 7 Kedudukan

7.1 Kedudukan BAKI dan setiap Majelis adalah di tempat kedudukan KOI di Jakarta.

7.2 Namun apabila keadaan membutuhkan dan setelah berkonsultasi dengan setiap

Pihak yang terkait, Pengurus atau Majelis, dapat memutuskan untuk mengadakan sidang di tempat lain dan menetapkan pedoman yang cukup dan berkaitan dengan sidang itu.

Pasal 8

Hukum Yang Berlaku

8.1 Sesuai dengan ketentuan Pasal 107.1 ART, hukum yang berlaku dan mengatur di dalam memeriksa dan memutuskan setiap Perselisihan dan sepanjang Proses Arbitrase, materil dan formil adalah Hukum Indonesia, kecuali secara tegas diatur dan ditentukan di dalam Hukum Acara ini dan/atau Para Pihak di dalam suatu perjanjian atau kesepakatan khusus yang relevan dengan Perselisihan itu menen-tukan dan dipilih hukum yang lain selain Hukum Indonesia sebagai hukum yang berlaku.

8.2 Meskipun Para Pihak secara tegas menentukan dan memilih bahwa hukum yang berlaku dan mengatur dipilih hukum yang lain selain Hukum Indonesia, akan tetapi apabila ternyata tidak ada pihak asing yang terlibat sebagai Pihak dan senyatanya Para Pihak di dalam Perselisihan adalah warga negara atau badan hukum Indo-nesia, maka hukum yang berlaku dan akan dipergunakan Majelis untuk memeriksa dan memutuskan Perselisihan dan sepanjang Proses Arbitrase adalah dan tetap Hukum Indonesia.

8.3 Majelis dapat menerapkan kewenangan yang bersifat amicable compositeur dan/ atau memutuskan secara ex aequo et bono, apabila Para Pihak telah menyatakan kesepakatannya mengenai hal itu secara tegas.

Pasal 9 Bahasa

9.1 Bahasa yang digunakan BAKI adalah Bahasa Indonesia.

9.2 Para Pihak dapat meminta bahasa lain untuk digunakan, dengan ketentuan

dise-tujui oleh Pengurus atau Majelis.

9.3 Apabila disepakati, Sekretaris Kepala bersama dengan Majelis menentukan

keten-tuan yang berkaitan dengan pemilihan bahasa, dan apabila diperlukan, Majelis da-pat menetapkan bahwa Para Pihak menanggung seluruh atau sebagian biaya

(7)

ter-jemahan dan penerter-jemahan sebagaimana diperlukan sebagai akibat dari pema-kaian dan pemilihan bahasa itu.

9.4 Majelis dapat memerintahkan bahwa setiap dan seluruh Alat Bukti yang diajukan di

dalam bahasa selain dari yang dipakai pada Proses Arbitrasi diajukan bersama dengan terjemahan resmi atau yang dibuat oleh penerjemah di bawah sumpah di dalam bahasa yang digunakan dalam Proses Arbitrasi.

BAB III

PERMULAAN PROSES ARBITRASE Pasal 10

Permohonan

10.1 Setiap pihak yang bermaksud menyampaikan suatu Perselisihan kepada BAKI berdasarkan Hukum Acara ini harus mengajukan Permohonan kepada BAKI mela-lui Sekretariat yang mencantumkan:

10.1.1 Nama dan alama lengkap (para) Termohon;

10.1.2 Pernyataan singkat mengenai dan menyangkut Perselisihan, yaitu fakta dan dalil hukum, termasuk rincian Perselisihan yang diajukan untuk mem-peroleh keputusan;

10.1.3 Hal yang dimohonkan oleh Pemohon;

10.1.4 Keterangan yang menyatakan kepadanya berlaku ketentuan Arbitrase Mandatori sebagaimana ditentukan Pasal 1 Hukum Acara ini dan doku-men pendukung keterangan itu, atau salinan dari perjanjian atau kesepa-katan yang berisi klausula arbitrasi atau dokumen apapun yang mengatur klausula arbitrasi yang memenuhi ketentuan sebagaimana ditentukan Pasal 2 Hukum Acara ini;

10.1.5 Setiap informasi yang relevan mengenai jumlah dan pilihan Arbiter, khu-susnya apabila perjanjian atau kesepakatan arbitrasi menentukan 3 (tiga) Arbiter, nama dan alamat (para) Arbiter yang dimilih oleh Pemohon dari Daftar Arbiter;

10.1.6 Apabila Permohonan didasarkan dan sesuai dengan ketentuan dari per-janjian atau kesepakatan khusus yang telah dibuat dan berlaku di antara Para Pihak, maka hal itu harus dimasukkan dan menjadi bagian dari Per-mohonan;

10.1.7 Apabila relevan, proposal mengenai hukum yang mengatur dan bahasa yang berlaku; dan

10.1.8 Setiap dan seluruh Alat Bukti sebagaimana dikemukakan atau dirujuk di dalam Permohonan, tidak ada yang dikecualikan.

10.2 Keterbukaan

10.2.1 Pemohon pada saat dan ketika menyampaikan dan mendaftarkan Per- mohonan harus dan berkewajiban untuk menyampaikan fakta dan me-lampirkan pada Permohonan itu setiap dan seluruh Alat Bukti yang ber-hubungan dan relevan dengan Perselisihan, atau yang oleh Pemohon di-anggapnya relevan.

10.2.2 Apabila terdapat fakta dan/atau Alat Bukti lain yang akan diajukan kemu-dian, Pemohon harus menegaskan hal itu di dalam Permohonannya itu.

(8)

10.3 Biaya Dimuka dan Pelunasannya

10.3.1 Dengan mengajukan dan mendaftarkan Permohonan pada Sekretariat, Pemohon harus membayar Biaya Dimuka yang jumlahnya diatur di dalam Peraturan Administrasi.

10.3.2 Apabila ketentuan Pasal 10.3.1 itu tidak dipenuhi ketika Permohonan di-ajukan dan didaftarkan pada Sekretariat, Sekretaris Kepala akan mem-berikan hanya sekali waktu yang pendek paling lama 7 (tujuh) Hari kepada Pemohon untuk memenuhi kewajibannya melunasi Biaya Dimuka itu, yang apabila oleh sebab apapun tidak dipenuhinya Permohonan dianggap telah dibatalkan.

Pasal 11 Pendaftaran

11.1 Pendaftaran Pada Buku Register

Setelah menerima Permohonan dan setiap Alat Bukti di dalam jumlah yang cukup, serta pelunasan Biaya Dimuka yang disyaratkan, Sekretariat wajib mendaftarkan Permohonan itu di dalam Buku Register.

11.2 Kompetensi BAKI

Pengurus akan memeriksa Permohonan itu untuk menentukan apakah berda-sarkan ketentuan peraturan KOI yang berlaku dimaksud Pasal 1 atau perjanjian atau kesepakatan arbitrase yang berlaku dimaksud Pasal 2.1, telah cukup mem-berikan dasar kewenangan dan kompetensi bagi BAKI untuk memeriksa dan me-mutus Perselisihan itu.

11.3 Penetapan Sekretaris

Apabila Pengurus menentukan bahwa BAKI berwenang memeriksa, maka setelah pendafaran Permohonan itu seorang atau lebih Sekretaris harus ditunjuk untuk membantu pekerjaan administrasi Proses Arbitrase itu.

11.4 Penyampaian Salinan Permohonan

Sekretariat harus menyampaikan satu salinan Permohonan dan setiap dan seluruh Alat Bukti yang menjadi lampirannya kepada Termohon, dan meminta Termohon untuk menyampaikan Jawabannya secara tertulis sesuai dengan ketentuan Pasal 13.

Pasal 12

Dimulainya Proses Arbitrasi

12.1 Kecuali secara nyata sejak awal menunjukkan bahwa ketentuan Pasal 21.8 AD tidak berlaku bagi Para Pihak yang terlibat, atau secara tegas tidak terdapat per-janjian atau kesepakatan yang memuat klausula arbitrasi yang memenuhi persya-ratan dan diajukan kepada Sekretariat, maka Sekretaris Kepala harus mengambil setiap tindakan yang layak untuk menetapkan arbitrasi dalam proses.

12.2 Untuk hal ini, Sekretaris Kepala secara khusus harus memberitahukan Permo-honan kepada Termohon, memanggil Para Pihak untuk mengungkapkan hukum yang berlaku terhadap pokok Perselisihan dan menentukan jangka waktu bagi Termohon untuk mengajukan informasi terkait mengenai jumlah dan pilihan arbi-ter, secara khusus menunjuk seorang Arbiter dari Daftar Arbiarbi-ter, serta mengajukan Jawaban.

(9)

Pasal 13

Jawaban dan Materi Jawaban 13.1 Penyampaian Jawaban

Di dalam waktu paling lama 21 (dua puluh satu) Hari terhitung sejak tanggal dite-rimanya salinan Permohonan Pemohon dari Sekretariat, Termohon harus me-nyampaikan Jawabannya secara tertulis atas materi Permohonan Arbitrase di da-lam jumlah yang cukup kepada Sekretariat, untuk disampaikan kepada Pemohon. 13.2. Perpanjangan Waktu

Ketua berwenang atas permohonan Termohon, memperpanjang waktu pengajuan Jawaban dan atau penunjukan Arbiter oleh Termohon dengan alasan yang sah, dengan ketentuan bahwa perpanjangan waktu itu tidak boleh melebihi 14 (empat belas) Hari.

13.3 Materi Jawaban:

Dengan mematuhi ketentuan Pasal 13.1 dan Pasal 13.2, apabila berlaku, Jawaban itu harus memuat dan mencakup hal berikut:

13.3.1 Pernyataan yang menerima atau menolak seluruh atau sebagian apa yang dituntut oleh Pemohon;

13.3.2 Pernyataan mengenai tuntutan balik (rekonpensi) dan setiap hal yang

ber-kaitan dengan tuntutan balik itu, termasuk penjelasan atau rincian dari materi dan jumlah kompensasi yang dituntut balik;

13.3.3 Pernyataan atau sanggahan atas setiap butir sebagaimana dirinci pada Permohonan;

13.3.4 Apabila telah disetujui atau disepakati sebelumnya di antara Para Pihak tentang jumlah Arbiter dan tatacara penunjukannya, maka Termohon wa-jib mengikuti ketentuan itu untuk menunjuk dan/atau mencalonkan calon(-calon) Arbiternya untuk ditetapkan sebagai Arbiter untuk memeriksa dan memutus Perselisihan;

13.3.5 Permohonan tentang jumlah dan penetapan Arbiter yang diinginkannya

untuk ditetapkan oleh Pengurus, apabila di antara Para Pihak tidak ada perjanjian atau kesepakatan khusus tentang hal itu sebelumnya; dan 13.3.6 Pembayaran biaya administrasi sebagaimana berlaku.

13.4 Keterbukaan

13.4.1 Termohon pada saat dan ketika menyampaikan Jawabannya atas Permo-honan, harus dan berkewajiban untuk menyampaikan fakta dan melam-pirkan pada Jawabannya itu setiap dan seluruh Alat Bukti yang berhubu-ngan dan relevan deberhubu-ngan Perselisihan, atau yang oleh Termohon diang-gap relevan dan tidak ada yang disembunyikan.

13.4.2 Apabila terdapat fakta dan/atau Alat Bukti lain yang akan diajukan kemu-dian, Termohon harus menegaskan hal itu di dalam Jawabannya.

Pasal 14

Perwakilan dan Pendampingan

14.1 Para Pihak dapat diwakilkan atau didampingi oleh pihak yang mereka pilih.

14.2 Nama, alamat, nomor telepon dan faksimili orang yang mewakili Para Pihak itu di-beritahukan kepada Sekretariat, Pihak lain dan Majelis setelah dibentuk dan suatu surat kuasa khusus harus diserahkan untuk mendukung hal ini.

(10)

Pasal 15

Pemberitahuan dan Komunikasi

15.1 Setiap dan semua Pemberitahuan yang akan disampaikan setiap Pihak, bersa-maan dengan setiap dan seluruh dokumen lampirannya, harus diserahkan kepada Sekretariat untuk didaftarkan dengan jumlah salinan yang cukup untuk memung-kinkan Sekretariat memberikan satu salinan kepada masing-masing Pihak, setiap Arbiter yang akan ditetapkan dan untuk disimpan di Sekretariat. Untuk maksud itu, Para Pihak dan/atau kuasanya harus menjamin bahwa Sekretariat pada setiap waktu memiliki alamat terakhir dan nomor telepon, faksimili, e-mail dari yang bersangkutan untuk kepentingan Pemberitahuan yang diperlukan. Setiap Pem-beritahuan yang dikirim langsung oleh Majelis kepada Para Pihak haruslah disertai salinannya kepada Sekretariat dan setiap Pemberitahuan yang dikirim Para Pihak kepada Majelis harus disertai salinannya kepada Pihak lainnya dan Sekretariat. 15.2 Setiap Pemberitahuan yang dimaksudkan oleh Sekretariat dan Majelis bagi setiap

Pihak untuk diserahkan, wajib diserahkan oleh Sekretariat. Pemberitahuan itu dikirimkan oleh Sekretariat ke alamat yang tercantum di dalam Permohonan, Ja-waban, Permohonan Pendapat atau ke alamat lain yang akan ditentukan kemu-dian sepanjang berlangsungnya Proses Arbitrase. Setiap keputusan, penetapan, panggilan dan setiap hal lain yang dibuat oleh Pengurus, Sekretariat dan Majelis akan diberitahukan dengan setiap cara yang diperbolehkan dibuktikan oleh tanda terima.

15.3 Setiap Pemberitahuan dari Para Pihak yang ditujukan kepada BAKI atau Pengurus

atau Majelis atau Sekretariat, harus dikirimkan secara langsung atau melalui kurir dan/atau pos tercatat dan/atau secara elektronik (termasuk dengan e-mail dan telefax) atau dikirimkan dengan cara apapun asalkan pengiriman itu dibuktikan dengan bukti yang penerimaan yang layak kepada Sekretariat, yang apabila tidak dilakukan dinyatakan sebagai tidak diterima.

15.4 Pemberitahuan dianggap telah diterima pada tanggal diterima atau apabila tanggal penerimaan tidak dapat ditentukan, pada hari setelah penyampaiannya secara nyata.

15.5 Permohonan dan seluruh pengajuan tertulis harus diajukan oleh Para Pihak de-ngan salinan sebanyak jumlah Para Pihak yang lain dan (para) Arbiter, dan 2 (dua) salinan tambahan untuk BAKI sendiri. Dalam hal tidak dipenuhinya ketentuan ini, maka BAKI tidak akan melanjutkan proses arbitrasi. Bukti yang melekat pada pengajuan tertulis apapun dapat dikirimkan kepada Sekretariat melalui surat elek-tronik, dan Sekretariat kemudian dapat meneruskan dengan cara yang sama. 15.6 Apabila Perselisihan telah didaftarkan dan Majelis belum dibentuk, Pemohon tidak

boleh melakukan Komunikasi langsung secara lisan dengan Pengurus atau ngan salah satu atau lebih Arbiter sebagaimana terdaftar pada Daftar Arbiter de-ngan alasan dan dasar apapun dan dede-ngan cara yang bagaimanapun sehubude-ngan dengan Permohonan dan/atau Perselisihan, kecuali dihadiri juga oleh atau disertai setiap pihak Termohon, dan sebelumnya telah diberitahukan kepada Sekretaris Kepala.

15.7 Apabila Majelis telah dibentuk, setiap Pihak tidak boleh melakukan Komunikasi langsung secara lisan dengan Pengurus dan/atau Majelis atau dengan salah satu atau lebih Arbiter anggota Majelis dengan cara bagaimanapun sehubungan dengan Permohonan dan/atau Perselisihan, kecuali dihadiri juga oleh atau disertai setiap Pihak lainnya, dan sebelumnya telah diberitahukan kepada Sekretaris Kepala.

(11)

Pasal 16 Jangka Waktu

16.1 Jangka waktu yang ditentukan dalam Hukum Acara ini dimulai dari hari setelah

di-terimanya pemberitahuan oleh Sekretariat. Hari libur resmi dan bukan hari kerja termasuk dalam perhitungan jangka waktu. Jangka waktu yang ditentukan berda-sarkan Hukum Acara ini terpenuhi apabila komunikasi yang dilakukan oleh Para Pihak dikirimkan sebelum tengah malam pada hari terakhir dimana jangka waktu itu berakhir. Apabila hari terakhir jangka waktu itu merupakan hari libur resmi atau bukan hari kerja di negara dimana pemberitahuan itu dibuat, maka jangka waktu berakhir pada akhir hari kerja pertama berikutnya.

16.2 Atas permohonan dan dengan alasan yang diterima, baik Pengurus atau Majelis, dapat memperpanjang jangka waktu yang diatur di dalam Hukum Acara ini, apa-bila keadaan sangat membutuhkan perpanjangan waktu itu dan dengan ketentuan jangka waktu awal belum berakhir. Setiap permohonan perpanjangan waktu wajib diputuskan oleh Pengurus atau Majelis di dalam waktu 5 (lima) Hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan itu dan wajib dikirimkan atau diberitahukan Sekretaris Kepala kepada setiap Pihak di dalam waktu 3 (tiga) Hari terhitung tang-gal keputusan itu ditetapkan.

16.3 Majelis atas permohonan dan dengan alasan yang diterima, dapat menunda Pro-ses Arbitrasi yang sedang berlangsung untuk jangka waktu yang secara tegas harus ditentukan lamanya.

16.4 Dengan mematuhi dan mengindahkan setiap ketentuan Hukum Acara ini, Majelis wajib melakukan upaya terbaiknya untuk menyelesaikan Perselisihan yang di-tanganinya di dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terus menerus terhitung tanggal dimulainya Proses Arbitrasi.

BAB IV

ARBITER DAN MAJELIS Pasal 17

Jumlah dan Penetapan Arbiter 17.1 Jumlah Arbiter

17.1.1 Seorang Arbiter tunggal akan ditunjuk dan ditetapkan oleh Pengurus kecuali apabila oleh Para Pihak sebelumnya telah disetujui bahwa jumlah Arbiter akan terdiri dari 3 (tiga) Arbiter atau apabila menurut pen-dapat Pengurus, dengan mempertimbangkan kerumitan dan/atau jumlah yang terkait atau dituntut di dalam Permohonan dan/atau Tuntutan Balik, Perselisihan secara layak dan wajar sebaiknya diperiksa dan diputus oleh 3 (tiga) tiga Arbiter.

17.1.2 Apabila Para Pihak telah menyetujui bahwa setiap Arbiter akan ditunjuk oleh satu Pihak atau lebih, atau oleh pihak ketiga atau termasuk Arbiter yang telah ditunjuk itu, maka persetujuan itu dianggap sebagai suatu per-setujuan untuk mencalonkan seorang Arbiter berdasarkan ketentuan Hukum Acara ini.

17.1.3 Dalam semua hal, para Arbiter yang dicalonkan oleh Para Pihak, atau oleh pihak ketiga, termasuk Arbiter yang telah ditunjuk, akan ditetapkan oleh Pengurus dengan keputusan Pengurus.

(12)

17.2 Pemohon dan/atau Termohon Terdiri Dari Multi Pihak

Dalam hal Pemohon dan/atau Termohon terdiri dari 1 (satu) atau multi Pihak, seti-ap Pihak yang bertindak sebagai Pemohon (para Pemohon) harus dianggseti-ap sebagai satu pihak tunggal dalam hal penunjukan Arbiter, dan setiap Pihak yang dituntut sebagai Termohon (para Termohon) harus dianggap sebagai satu pihak tunggal dalam hal penunjukan dan penetapan Arbiter itu.

17.3 Kelalaian Penunjukan

Dalam setiap hal dimana suatu Pihak tidak dapat mengangkat atau menunjuk seorang Arbiter dalam batas waktu yang ditentukan Pasal 17.1.2, di dalam waktu 14 (empat belas) Hari sejak pemberitahuan atau permohonan untuk menunjuk Arbiter, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 10.3, Pengurus berwenang me-nunjuk dan menetapkan Arbiter itu untuk dan atas nama serta kepentingan Para Pihak.

17.4 Penetapan Arbiter Oleh Pengurus

17.4.1 Pengurus akan menunjuk dan menetapkan seorang atau setiap Abiter sesegera mungkin. Setiap keputusan Pengurus dalam menunjuk dan me-netapkan seorang dan setiap Arbiter berdasarkan Hukum Acara ini ber-sifat final dan mengikat terhadap Para Pihak, dan terhadapnya tidak dapat ditolak atau diajukan banding atau bantahan.

17.4.2 Pengurus atas kebijakannya berhak menetapkan setiap calon Arbiter yang penunjukannya telah diusulkan oleh setiap Pihak.

17.4.3 Ketentuan penetapan setiap Arbiter diatur oleh Kepala Sekretaris berda-sarkan dan sesuai dengan Hukum Acara ini dan catatan praktek yang ber-laku, atau sesuai dengan persetujuan dari Para Pihak.

17.5 Kewenangan Pengurus

17.5.1 Keputusan atau persetujuan akhir mengenai penunjukan dan penetapan setiap Arbiter berada ditangan Pengurus. Di dalam memberikan persetu-juan, Pengurus dapat meminta keterangan tambahan sehubungan dengan kemandirian, netralitas dan/atau persyaratan para Arbiter yang diusulkan. Pengurus juga dapat mempertimbangkan kewarganegaraan Arbiter yang diusulkan sehubungan dengan kewarganegaraan Para Pihak yang ber-selisih dengan memperhatikan persyaratan baku yang berlaku di BAKI. 17.5.2 Pengurus harus mengupayakan bahwa keputusan sehubungan dengan

penunjukan dan penetapan Arbiter diambil atau disetujui di dalam waktu paling lama 7 (tujuh) Hari sejak hal itu diajukan kepadanya.

17.6 Penerimaan Arbiter

Setiap calon Arbiter dalam waktu paling lama 7 (tujuh) Hari sejak ditunjuk, harus menyampaikan kepada Sekretariat suatu pernyataan tertulis tentang kesedia-annya bertindak sebagai Arbiter. Apabila diperlukan, Arbiter yang ditunjuk harus menerangkan setiap keadaan yang mungkin dapat menjadikan dirinya diragukan sehubungan dengan netralitas atau kemandiriannya.

 

Pasal 18

Majelis Dengan Arbiter Tunggal 18.1 Para Pihak Sepakat

18.1.1 Apabila Para Pihak telah menyetujui sebelumnya bahwa Majelis hanya akan terdiri dari seorang Arbiter, Pemohon wajib di dalam Permohonan-nya, mengusulkan kepada Pengurus seorang atau lebih yang memenuhi syarat untuk ditetapkan menjadi Arbiter tunggal itu.

(13)

18.1.2 Apabila Termohon setuju dengan salah satu calon yang diajukan Pemo-hon, Arbiter itu akan ditetapkan Pengurus sebagai Majelis yang terdiri dari Arbiter tunggal.

18.1.3 Apabila tidak ada calon yang diusulkan oleh Pemohon di dalam Permo-honannya, Pengurus wajib segera menunjuk seorang Arbiter dari Daftar Arbiter yang ditetapkan sebagi Majelis dengan Arbiter tunggal, penetapan mana bersifat final dan mengikat bagi Para Pihak, tidak dapat ditolak atau diajukan banding atau keberatan atasnya oleh Para Pihak, kecuali atas dasar dan alasan yang cukup bahwa Arbiter itu dianggap tidak mandiri atau mempunyai benturan kepentingan.

18.2 Para Pihak Gagal Sepakat

Apabila Para Pihak gagal mencapai kesepakatan tentang penunjukan Majelis dengan Arbiter tunggal itu, maka Penunjukan dan penetapan Majelis dengan Arbi-ter tunggal itu akan dilakukan Pengurus dengan menunjuk dan menetapkan seo-rang Arbiter dari daftar Arbiter BAKI sebagai Majelis dengan Arbiter tunggal, dan untuk menghindari keraguan, di dalam kejadian ini ketentuan Pasal 17.5 berlaku sepenuhnya.

18.3 Majelis Dengan Tiga Arbiter

Dalam hal berlakunya ketentuan sebagaimana diatur Pasal 18.1.1, akan tetapi Pengurus berpendapat dan menetapkan bahwa Perselisihan itu bersifat kompleks dan/atau skala dari Perselisihan itu atau nilai tuntutan yang diperselisihkan sangat besar jumlahnya sehingga sebaiknya dan sepatutnya diperiksa dan diputus oleh Majelis yang terdiri dari 3 (tiga) Arbiter, maka Sekretaris Kepala akan segera mem-beritahukan ketetapan Pengurus itu kepada Para Pihak, dan meminta Para Pihak untuk menunjuk Arbiternya masing-masing yang wajib dilakukan sesuai dengan ketentuan Hukum Acara ini.

Pasal 19

Majelis Dengan Tiga Arbiter 19.1 Para Pihak Sepakat

Apabila Para Pihak telah menyetujui sebelumnya bahwa Majelis akan terdiri dari 3 (tiga) Arbiter dan mengatur tatacara penunjukan para Arbiter dan termasuk ketua-nya, maka penunjukan ke-3 (tiga) Arbiter itu akan dilakukan sesuai dengan perse-tujuan Para Pihak itu, dan Pengurus akan menetapkannya sebagai Majelis untuk memeriksa dan memutus Perselisihan.

19.2 Para Pihak Gagal Sepakat

Apabila dengan alasan apapun Para Pihak tidak dapat mencapai persetujuan untuk menunjuk ketua dari Majelis yang terdiri dari 3 (tiga) Arbiter sebagaimana dimaksud Pasal 19.1 di dalam jangka waktu sebagaimana mereka sepakati sebe-lumnya, atau di dalam hal jangka waktu itu tidak diatur atau disetujui oleh Para Pihak sebelumnya, maka Pengurus akan menunjuk dan menetapkan seorang Arbiter yang akan mengetuai Majelis. Penunjukan dan penetapan Arbiter yang akan mengetuai Majelis itu akan dilakukan Pengurus dengan mempertimbangkan usul dari para Arbiter setiap Pihak. Untuk itu Arbiter yang ditunjuk oleh setiap Pi-hak dapat mengajukan calon yang dipilihnya dari Daftar Arbiter.

(14)

Pasal 20

Jumlah Arbiter Tidak Ditentukan

20.1 Apabila Para Pihak tidak sepakat sebelumnya tentang jumlah Arbiter yaitu 1 (satu) atau 3 (tiga) Arbiter, Pengurus berhak memutuskan, berdasarkan sifat, komplek-sitas dari dan jumlah tuntunan yang terkait pada Perselisihan itu, apakah Perseli-sihan secara layak dan patut sebaiknya diperiksa dan diputus oleh Majelis yang anggotanya terdiri dari 1 (satu) atau 3 (tiga) Arbiter.

20.2 Di dalam hal demikian ketentuan Pasal 18 berlaku apabila anggota Majelis terdiri dari 1 (satu) Arbiter dan Pasal 19 berlaku apabila anggota Majelis terdiri dari 3 (tiga) Arbiter.

Pasal 21

Kualifikasi Arbiter 21.1 Arbiter BAKI

21.1.1 Kecuali dalam keadaan khusus sebagaimana dimaksud Pasal 21.2, hanya Arbiter sebagaimana dirinci Daftar Arbiter yang dapat bertindak selaku Arbiter berdasarkan Hukum Acara ini dan dapat dipilih oleh Para Pihak.

21.1.2 Daftar Arbiter itu terdiri dari para Arbiter, baik pakar hukum maupun non-hukum yang meme-nuhi setiap persyaratan yang berlaku.

21.2 Arbiter Luar

21.2.1 Dalam hal Para Pihak, memerlukan Arbiter yang memiliki suatu keahlian khusus yang diperlukan dalam memeriksa suatu Perselisihan yang disam-paikan dan didaftarkanan kepada BAKI, permohonan dapat diajukan kepada Pengurus guna menunjuk seorang Arbiter yang tidak terdaftar di dalam Daftar Arbiter dengan ketentuan bahwa Arbiter itu memenuhi persyaratan sebagaimana ditentukan Pasal 21.3.

21.2.2 Setiap permohonan harus dengan jelas menyatakan alasan diperlukannya Arbiter luar dengan disertai data riwayat hidup lengkap dari Arbiter yang diusulkan. Apabila Pengurus menganggap bahwa tidak ada Arbiter di dalam Daftar Arbiter dengan kualifikasi profesional yang dibutuhkan itu sedangkan Arbiter yang dimohonkan memiliki kualifikasi dimaksud me-menuhi persyaratan, netral dan tepat, maka Pengurus dapat, berdasarkan pertimbangannya sendiri menyetujui penunjukan Arbiter itu.

21.2.3 Apabila Pengurus tidak menyetujui penunjukan Arbiter luar itu, Pengurus

harus merekomendasikan, atau menunjuk, dengan pilihannya sendiri, arbiter alternatif yang dipilih dari Daftar Arbiter atau seorang pakar yang memenuhi syarat dalam bidang yang diperlukan namun tidak terdaftar di dalam Daftar Arbiter.

21.3 Persyaratan Arbiter

Setiap Arbiter dimaksud Pasal 21.2 harus memenuhi setiap persyaratan berikut: 21.3.1 Berwenang atau cakap melakukan tindakan hukum.

21.3.2 Sekurangnya berusia 40 (empat puluh) tahun.

21.3.3 Tidak memiliki hubungan keluarga berdasarkan keturunan atau per-kawinan sampai dengan keturunan ketiga dengan setiap Para Pihak yang terkait dengan Perselisihan.

21.3.4 Tidak memiliki kepentingan keuangan atau apapun terhadap hasil penye-lesaian arbitrase.

(15)

21.3.5 Berpengalaman sekurangnya 15 (lima belas) tahun dan menguasai secara aktif bidang atau profesi yang ditekuninya.

21.3.6 Tidak sedang menjalani atau bertindak sebagai hakim, jaksa, panitera pengadilan, atau pejabat negara atau instansi pemerintahan lainnya. 21.4 Pernyataan Tidak Mempunyai Benturan Kepentingan

Arbiter yang ditunjuk untuk memeriksa suatu Perselisihan sesuai dengan keten-tuan Hukum Acara ini, wajib menandatangani Pernyataan Tidak Mempunyai Ben-turan Kepentingan yang disediakan oleh Sekretariat.

21.5 Penunjukan Arbiter

Apabila perjanjian atau kesepakatan khusus yang relevan dengan Perselisihan tidak secara spesifik dan tegas mengatur penunjukan Arbiter, maka penunjukan Arbiter itu secara otomatis tunduk pada ketentuan penunjukan Arbiter sebagai-mana diatur Hukum Acara ini.

Pasal 22

Penolakan Arbiter

22.1 Penolakan Arbiter

22.1.1 Sebelum dimulainya Proses Arbitrase, seorang Arbiter dapat ditolak apa-bila terdapat suatu keadaan tertentu yang menimbulkan keraguan terha-dap netralitas dan/atau kemandirian dari Arbiter itu.

22.1.2 Pihak yang mengajukan penolakan harus menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada Sekretariat dalam waktu paling lama 14 (empat belas) Hari sejak diberitahukan identitas Arbiter itu, dengan melampirkan dasar dan alasan penolakan itu.

22.1.3 Apabila keterangan yang menjadi dasar dan alasan itu juga diketahui oleh Pihak yang lain, maka penolakan itu harus diajukan di dalam waktu paling lama 14 (empat belas) Hari setelah keterangan itu diketahui setiap Pihak yang lain itu.

22.1.4 Setelah dimulainya Proses Arbitrase penolakan dapat diajukan di dalam jangka waktu 7 (tujuh) Hari setelah alasan penolakan itu diketahui oleh pi-hak yang mengajukan penolakan itu, dengan melampirkan dasar dan alasan penolakan itu.

22.2 Penggantian Arbiter

22.2.1 Pengurus wajib mempertimbangkan penolakan itu sendiri atau atau

me-nunjuk dan menetapkan suatu tim khusus untuk melakukan pemeriksaan atas penolakan itu, dan menyampaikan hasilnya kepada Pengurus, Arbiter yang ditolak dan Para Pihak, pendapatnya atas penolakan itu. 22.2.2 Apabila Arbiter yang ditolak setuju untuk mundur, atau Pihak yang lain

menerima penolakan itu, seorang Arbiter pengganti harus ditunjuk dengan cara yang sama dengan penunjukan Arbiter yang mengundurkan diri itu, atau jika sebaliknya, Pengurus dapat, namun tidak diharuskan, menyetujui penolakan itu, dan dalam hal ini Ketua harus menunjuk Arbiter pengganti. 22.3 Kegagalan Penolakan

Apabila Pihak lain atau Arbiter tidak menerima penolakan itu dan Pengurus juga menganggap bahwa penolakan itu tidak berdasar, maka Arbiter yang ditolak harus melanjutkan tugasnya sebagai Arbiter.

22.4 Penolakan Pihak Yang Menunjuk

Suatu Pihak dapat membantah Arbiter yang telah ditunjuknya atas dasar bahwa ia baru mengetahui atau memperoleh alasan untuk penolakan setelah penunjukan

(16)

dilakukan, maka Arbiter itu harus mengundurkan diri, dan Pihak itu wajib menunjuk seorang Arbiter penggati yang memenuhi persyaratan untuk ditetapkan oleh Peng-urus sebagai Arbiter.

Pasal 23

Penggantian Arbiter

23.1 Kematian atau Ketidakmampuan

Dalam hal seorang Arbiter meninggal atau tidak mampu secara nyata untuk mela-kukan tugasnya selama jalannya Proses Arbitrase, yang diakibatkan apapun juga, maka Arbiter itu harus diberhentikan dan diganti dan seorang Arbiter pengganti harus ditunjuk yang penunjukannya dilakukan sesuai dengan ketentuan yang sama terhadap penunjukan atau pemilihan Arbiter yang diganti, sebagaimana diatur Pasal 17.

23.2 Pengundurandiri Arbiter

23.2.1 Calon atau Arbiter yang mempunyai benturan kepentingan (conflict-of-interest) dengan Perselisihan atau Para Pihak yang berselisih wajib untuk mengundurkan diri.

23.2.2 Sebaliknya apabila Majelis telah terbentuk, tidak seorangpun Arbiter boleh mengundurkan diri dari kedudukannya kecuali terjadi penolakan terhadap dirinya sesuai dengan ketentuan dari UU Arbitrase dan Hukum Acara ini.

23.3 Kelalaian Bertindak

Dalam hal seorang Arbiter lalai dalam melakukan tugasnya, baik secara de-jure ataupun de-facto, satu dan lain atas pertimbangan Pengurus sehingga tidak mung-kin bagi dirinya menjalankan fungsinya dengan baik dan sebagaimana mestinya, maka prosedur sehubungan dengan penolakan dan penggantian seorang Arbiter sesuai dengan ketentuan Pasal 23 ini sepenuhnya berlaku dan diberlakukan. 23.4 Pengulangan Pemeriksaan

23.4.1 Apabila berdasarkan ketentuan Pasal 22 jo. Pasal 23.1 jo. Pasal 23.2 jo.

Pasal 23.3 Arbiter tunggal Majelis diganti, maka pemeriksaan Perselisih-an, termasuk sidang yang telah diselenggarakan sebelumnya harus di-ulang.

23.4.2 Apabila Ketua Majelis diganti, setiap sidang kesaksian sebelumnya dapat

diulang apabila dianggap perlu oleh kedua Arbiter lainnya.

23.4.3 Apabila seorang Arbiter dalam Majelis diganti, maka kedua Arbiter lainnya harus memberikan penjelasan kepada Arbiter yang baru ditunjuk dan si-dang sebelumnya tidak perlu diulang kecuali dalam keadaan khusus di-mana, Majelis menurut pertimbangannya sendiri menganggap perlu berdasarkan alasan keadilan. Apabila terjadi pengulangan sidang berda-sarkan alasan diatas, Majelis dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu pemeriksaan Perselisihan sebagaimana dimaksud Pasal 16.4. Pasal 24

Kewenangan

24.1 Kewenangan Arbiter

24.1.1 Setelah terbentuk atau ditetapkan berdasarkan ketentuan dan peraturan sebagaimana dirinci di dalam BAB IV, Majelis akan memeriksa dan me-mutus Perselisihan atas nama BAKI dan karenanya dapat melaksanakan segala kewenangan yang dimiliki BAKI sehubungan dengan pemeriksaan

(17)

dan pengambilan keputusan atas Perselisihan itu.

24.1.2 Selama Proses Arbitrasi berlangsung, Majelis dapat mengusahakan

ada-nya perdamaian di antara Para Pihak. Upaya perdamaian itu tidak mem-pengaruhi batas waktu pemeriksaan dimaksud Pasal16.4.

24.2 Kerahasiaan

Seluruh persidangan sepanjang Proses Arbitrase dilakukan tertutup untuk umum, dan segala hal yang berkaitan dengan penunjukan Arbiter, termasuk dokumen, laporan, catatan sidang, keterangan saksi dan putusan, harus dijaga kerahasia-annya di antara Para Pihak, para Arbiter dan BAKI, kecuali oleh peraturan perun-dang- undangan hal itu tidak diperlukan atau disetujui oleh Para Pihak.

24.3 Prinsip Keadilan

Sesuai dengan ketentuan Hukum Acara ini, Majelis wajib menyelenggarakan Pro-ses Arbitrase dengan menjungjung dan melaksanakan prinsip dan cara yang be-nar dan adil dan dengan ketentuan Para Pihak diperlakukan dengan persamaan hak dan diberi kesempatan yang patut dan sama pada setiap tahap pemeriksaan perkara.

24.4 Tempat Pemeriksaan

24.4.1 Pemeriksaan diselenggarakan di tempat yang ditetapkan oleh BAKI dan

kesepakatan Para Pihak, namun dapat pula di tempat lain jika dianggap perlu oleh Arbiter tunggal atau Majelis, sebagaimana berlaku, dengan kesepakatan Para Pihak.

24.4.2 Majelis dapat meminta diadakan rapat untuk memeriksa, aset, barang lain atau dokumen pada setiap waktu dan di tempat yang diperlukan, dengan pemberitahuan seperlunya kepada Para Pihak, guna memungkinkan mereka dapat ikut hadir dalam pemeriksaan itu.

24.4.3 Rapat internal dan sidang Majelis dapat diadakan pada setiap waktu dan tempat, termasuk melalui jaringan internet, Majelis menganggapnya perlu. Pasal 25

Sita Jaminan, Sita Provisi dan Putusan Sela 25.1 Sita Jaminan dan Sita Provisi

25.1.1 Tidak ada Pihak yang dapat memohon sita jaminan atau sita provisi berdasarkan Hukum Acara ini sebelum Permohonan, yang menunjukkan telah dilakukannya upaya penyelesaian internal secara maksimal, telah diajukan kepada Sekretariat.

25.1.2 Pengurus, sebelum penyerahan Berkas kepada Majelis, atau Majelis setelah Berkas diserahkan kepada Majelis, dengan adanya permohonan salah satu Pihak, dapat membuat penetapan untuk peletakan sita jaminan atau provisi.

25.1.3 Dengan menyetujui untuk mengajukan Perselisihan sesuai dengan Hukum Acara ini, Para Pihak secara tegas melepaskan hak mereka untuk mengajukan permohonan sita jaminan atau provisi itu dari pengadilan negeri atau pihak lain yang berwenang dari negara.

25.1.4 Apabila suatu permohonan sita provisi diajukan, Pengurus atau Majelis

akan memanggil Termohon untuk menegaskan kedudukannya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) Hari atau dalam jangka waktu yang lebih pendek apabila dibutuhkan. Pengurus atau Majelis akan mengeluarkan penetapan dalam jangka waktu yang singkat dan pertama sekali akan memutuskan tentang di yurisdiksi BAKI. Pengurus dapat mengakhiri

(18)

Proses Arbitrasi apabila Pengurus memutuskan bahwa BAKI secara nyata tidak memiliki yurisdiksi. Dalam hal sangat mendesak, Pengurus sebelum penyerahan Berkas kepada Majelis, atau Majelis setelah Berkas diserah-kan kepada Majelis, dapat mengeluardiserah-kan penetapan dengan dasar hanya pada permohonan, dengan ketentuan lawannya akan didengar disidang yang kemudian.

25.1.5 Sita jaminan dan/atau sita provisi dapat dilakuan secara bersyarat dengan pemberian jaminan sebagaimana ditentukan oleh Pengurus atau Majelis, sebagaimana berlaku.

25.2 Putusan Sela

Majelis berhak menetapkan putusan sela yang dianggap perlu sehubungan dengan penyelesaian sengketa bersangkutan, termasuk untuk menetapkan suatu putusan tentang sita jaminan, memerintahkan penyimpanan barang pada pihak ketiga, atau penjualan barang yang tidak akan tahan lama. Majelis berhak meminta jaminan atas biaya yang berhubungan dengan tindakan-tindakan tersebut.

Pasal 26

Penggabungan dan Intervensi 26.1 Penggabungan

26.1.1 Apabila seorang Termohon meminta untuk melibatkan pihak ketiga meng-ikuti arbitrasi, maka Termohon itu harus menyatakannya di dalam Jawab-annya, bersamaan dengan alasJawab-annya, serta mengajukan salinan tambah-an dari Jawabtambah-annya itu.

26.1.2 Sekretariat harus memberitahukan salinan ini kepada setiap pihak yang

keikutsertaannya dimohonkan dan menentukan batas waktu bagi pihak itu untuk menyatakan kedudukannya dalam keikutsertaanya itu dan membe-rikan tanggapan sesuai dengan ketentuan Pasal 13.3.

26.1.3 Sekretariat juga menentukan batas waktu bagi Pemohon untuk menyata-kan tanggapannya dalam keikutsertaan pihak ketiga itu.

26.2 Intervensi

26.2.1 Apabila pihak ketiga tertentu bermaksud ikut serta sebagai pihak dalam Proses Arbitrasi, pihak ketiga itu harus mengajukan kepada Sekretariat suatu permohonan mengenai hal itu, bersamaan dengan alasannya di da-lam jangka waktu 10 (sepuluh) Hari sejak adanya Proses Arbitrasi itu telah diketahui oleh pihak yang mengintervensi, akan tetapi di dalam hal apapun paling lambat sebelum pemeriksaan atau sebelum ditutupnya proses pembuktian apabila Proses Arbitrase Dihadapan Majelis telah dilakukan.

26.2.2 Sekretariat harus mengirimkan salinan permohonan ini kepada Para Pihak dan menentukan jangka waktu bagi mereka untuk memberikan tanggapan mereka atas keikutsertaan pihak ketiga itu dan mengajukan, apabila berlaku, jawaban sesuai dengan ketentuan Pasal 13.3.

26.3 Penolakan atau Pengabulan

26.3.1 Pihak ketiga hanya dapat menjadi Pihak di dalam Proses Arbitrasi suatu Perselisihan apabila baginya berlaku ketentuan Pasal 28.1 AD atau de-ngan menundukkan diri pada yurisdiksi BAKI yang harus dilakukannya se-suai dengan ketentuan Pasal 2.

(19)

26.3.2 Dengan berakhirnya jangka waktu yang diatur Pasal 26.1 dan Pasal 26.2, Pengurus atau Majelis, apabila telah ditunjuk, harus memutuskan tentang keikutsertaan pihak ketiga itu.

26.3.3 Apabila Pengurus mengabulkan keikutsertaan pihak ketiga itu, maka Pengurus akan melanjutkan proses pembentukan Majelis sesuai dengan jumlah Arbiter serta metode penunjukan yang disepakati oleh Para Pihak. Dalam hal tidak adanya kesepakatan, maka Pengurus harus memutuskan jumlah Arbiter sesuai dengan ketentuan Pasal 17.1. Apabila Arbiter tunggal yang akan ditetapkan, maka ketentuan Pasal 18 berlaku. Apabila akan ditetapkan 3 (tiga) orang Arbiter, maka para Arbiter ditunjuk oleh Pengurus dan akan mencalonkan ketua Majelis sesuai dengan ketentuan Pasal 19.

26.3.4 Dalam hal keikutsertaan itu diputuskan oleh Majelis, maka pihak yang

di-kabulkan keikutsertaannya di dalam Proses Arbitrasi tidak berhak melaku-kan penolamelaku-kan terhadap setiap Arbiter Majelis, kecuali sebagaimana di-maksud Pasal 22, dan Majelis akan, bilamana diperlukan, menetapkan pedoman proses yang diperlukan mengenai keikutsertaan itu.

26.3.5 Setelah berkonsultasi dengan Para Pihak, Majelis harus menentukan sta-tus pihak ketiga itu dan haknya dalam Proses Arbitrasi.

26.3.6 Setelah merundingkannya dengan Para Pihak Majelis dapat mengizinkan pengajuan penjelasan amicus curiae.

Pasal 27 Perdamaian

Pengurus sebelum menyerahkan Berkas kepada Majelis, dan Majelis setelah penyerahan Berkas dilakukan, setiap waktu dapat berupaya untuk menyelesaikan Perselisihan secara damai. Penyelesaian secara damai dapat diwujudkan dalam suatu keputusan arbitrasi yang dikeluarkan atas persetujuan Para Pihak.

Pasal 28 Kerahasiaan

28.1 Setiap dan seluruh Proses Arbitrasi dihadapan BAKI berdasarkan Hukum Acara ini adalah bersifat rahasia.

28.2 Para Pihak, Pengurus, (para) Arbiter dan setiap pihak yang merupakan bagian atau bekerja bagi pada atau untuk kepentingan BAKI dengan alasan dan dasar apapun tidak boleh mengungkapkan kepada pihak ketiga setiap fakta atau infor-masi apapun tanpa ada yang dikecualikan yang berkaitan dengan setiap dan selu-ruh Perselisihan atau Proses Arbitrasi tanpa persetujuan tegas dan tertulis terlebih dahulu dari Pengurus.

28.3 Keputusan tidak boleh diumumkan kepada dan diketahui oleh umum, kecuali selu-ruh Pihak menyetujuinya atau diputuskan oleh Pengurus.

(20)

BAB V

PROSES ARBITRASI DIHADAPAN MAJELIS Pasal 29

Pengajuan Tertulis

29.1 Proses dihadapan Majelis terdiri dari pengajuan tertulis dan apabila Majelis meng-anggapnya layak, pemeriksaan lisan. Dengan diterimanya pengajuan, (Ketua) Majelis, apabila layak, akan menetapkan pedoman sehubungan dengan pengaju-an tertulis.

29.2 Sebagai ketentuan umum, terdapat satu surat gugatan, satu tanggapan dan apa-bila keadaan menentukan, satu jawaban dan satu tanggapan kedua. Dalam hal surat gugatan dan tanggapan, Para Pihak dapat mengajukan gugatan yang tidak tercantum dalam Permohonan dan dalam Jawaban atas Permohonan itu. Kemu-dian tidak satupun Pihak dapat mengajukan tuntutan baru tanpa persetujuan dari Pihak lainnya.

29.3 Bersamaan dengan pengajuan tertulis mereka, Para Pihak harus menyerahkan

setiap dan seluruh bukti tertulis yang menjadi acuan mereka. Setelah pertukaran pengajuan tertulis, Para Pihak tidak berhak menyerahkan bukti tertulis lainnya, kecuali berdasarkan musyawarah atau apabila diizinkan oleh Majelis dengan da-sar keadaan khusus.

29.4 Dalam pengajuan tertulis mereka, Para Pihak harus menyusun daftar para saksi, termasuk ringkasan singkat mengenai kesaksian mereka, dan (para) ahli yang me-nyatakan bidang keahlian mereka yang menjadi acuan mereka dan menyata-kan setiap proses pembuktian lainnya yang dimohonkan oleh mereka. Setiap pernya-taan dari para saksi akan diajukan bersamaan dengan pengajuannya sebagai saksi oleh Para Pihak.

29.5 Apabila diajukan tuntutan balik dan/atau penolakan yurisdiksi, Sekretariat harus menentukan jangka waktu pengajuan jawaban atas tuntutan balik dan/atau peno-lakan jurisdiksi itu oleh Pemohon.

Pasal 30 Sidang

30.1 Setelah ditutupnya pertukaran pengajuan secara tertulis dimaksud Pasal 29, Majelis akan menetapkan pedoman sehubungan dengan sidang dan secara khu-sus menentukan tanggal sidang. Sebagai ketentuan umum, terdapat 1 (satu) si-dang dimana Majelis akan memeriksa Para Pihak, saksi dan ahli serta argumen lisan terakhir dari Para Pihak, dimana Termohon akan memperoleh giliran terakhir. 30.2 (Ketua) Majelis melaksanakan sidang pemeriksaan dan menjamin bahwa pernya-taan yang dibuat singkat dan terbatas pada materi dalam pengajuan tertulis, se-panjang pengajuan ini berkaitan. Kecuali disepakati oleh Para Pihak, sidang pe-meriksaan tidak terbuka untuk umum. Berita acara pepe-meriksaan dapat dibuat. Pihak yang diperiksa oleh Majelis dapat didampingi oleh seorang penerjemah atas biaya Pihak yang memanggil orang itu.

30.3 Para Pihak yang dipanggil untuk didengar oleh Majelis seperti saksi dan ahli sebagaimana telah mereka tentukan dalam pengajuan tertulis mereka. Para Pihak bertanggungjawab atas kesediaan dan biaya para saksi dan ahli yang dipanggil untuk hadir dalam sidang pemeriksaan.

30.4 (Ketua) Majelis dapat secara khusus mengizinkan pemeriksaan para saksi dan ahli melalui konferensi telepon atau video. Sesuai dengan kesepakatan dari Para

(21)

Pi-hak, Ketua Majelis juga dapat mengecualikan seorang saksi dan/atau ahli untuk hadir dalam sidang pemeriksaan apabila saksi dan/atau ahli itu sebelumnya telah mengajukan suatu pernyataan.

30.5 Majelis dapat membatasi atau tidak memperkenankan hadirnya saksi dan/atau ahli, atau setiap bagian kesaksian mereka, atas dasar tidak memiliki keterkaitan dengan materi Perselisihan.

30.6 Sebelum memeriksa saksi atau ahli atau penerjemah, Majelis dengan sungguh meminta Pihak itu untuk mengatakan kebenaran, yang dapat dikenakan sanksi sumpah palsu.

30.7 Setelah sidang pemeriksaan ditutup, Para Pihak tidak diizinkan menyerahkan per-mohonan tertulis selanjutnya, kecuali diperintahkan oleh Majelis.

30.8 Setelah merundingkannya dengan Para Pihak, Majelis, apabila menganggap cu-kup memperoleh informasi, dapat memutuskan untuk tidak mengadakan sidang pemeriksaan.

Pasal 31

Proses Pembuktian Atas Perintah Majelis

31.1 Suatu Pihak dapat mengajukan permohonan kepada Majelis untuk memerintahkan Pihak lain menyerahkan Alat Bukti yang disimpannya atau dikuasainya. Pihak yang meminta penyerahan Alat Bukti itu harus menunjukkan bahwa Alat Bukti itu mungkin ada dan berkaitan.

31.2 Apabila dianggap layak untuk mendukung pengajuan Para Pihak, Majelis setiap waktu dapat memerintahkan penyerahan Alat Bukti tambahan atau pemeriksaan (para) saksi, menunjuk dan memeriksa (para) ahli, serta melanjutkan tindakan Pro-ses Arbitrasi lainnya. Majelis dapat memerintahkan Para Pihak untuk membayar biaya tambahan yang berkaitan dengan pemeriksaan (para) saksi dan/atau ahli. 31.3 Majelis akan berkonsultasi dengan Para Pihak sehubungan dengan penunjukan

dan ketentuan rujukan dari ahli itu. Ahli yang ditunjuk oleh Majelis akan dan tetap menjadi sosok yang mandiri dari Para Pihak dan harus segera mengungkapkan setiap keadaan yang mungkin dapat mempengaruhi kemandiriannya sehubungan dengan setiap Pihak.

Pasal 32

Cidera Kewajiban

32.1 Apabila Pemohon tidak dapat mengajukan surat gugatannya sesuai dengan

keten-tuan Pasal 10.3, Permohonan dianggap dicabut.

32.2 Apabila Termohon tidak dapat mengajukan jawabannya sesuai dengan ketentuan Pasal 13, Majelis dapat melanjutkan Proses Arbitrasi dan menetapkan suatu kepu-tusan.

32.3 Apabila setiap Pihak mendapat panggilan, namun tidak hadir dalam sidang, Maje-lis dapat melanjutkan sidang.

Pasal 33

Proses Dipercepat

33.1 Keputusan atau Permohonan Proses Dipercepat

Sebelum dimulainya pemeriksaan awal dari Proses Arbitrasi, Majelis atau Para Pihak atau suatu Pihak dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Pengurus melalui Sekretariat agar Proses Arbitrasi dilakukan dengan dan sesuai dengan Proses Dipercepat.

(22)

33.2 Persyaratan Proses Dipercepat

Persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu permohonan Proses Dipercepat ada-lah sebagai berikut:

33.2.1 Perselisihan tidak menyangkut tuntutan atau kompensasi pembayaran atau jumlah yang terkait tidak lebih dari atau setara dengan Rp.5.000.000.000.- (lima milyar Rupiah), yang mewakili jumlah keseluruhan tuntutan, Tuntutan Balik dan setiap pembayaran lainnya;

33.2.2 Para Pihak menyetujui dilakukannya Proses Dipercepat; atau 33.2.3 Perselisihan memerlukan penyelesaian yang cepat.

33.3 Penolakan atau Persetujuan Atas Permohonan Proses Dipercepat

Apabila suatu Permohonan Proses Dipercepat kepada Pengurus melalui Sekreta-riat sesuai dengan ketentuan Pasal 33.1, dan apabila setelah mempertimbangkan pendapat Para Pihak, Pengurus wajib dengan segera menetapkan bahwa permo-honan untuk Proses Arbitrasi disetujui untuk dilaksanakan atau ditolak.

33.4 Prosedur Proses Dipercepat

Di dalam hal permohonan untuk melaksanakan Proses Dipercepat disetujui, maka Proses Arbitrase yang berlaku khusus untuk memeriksa dan memutus Perselisih-an itu adalah sebagai berikut:

33.4.1 Pengurus akan menyingkat dan menentukan batas waktu dimana Proses Arbitrase sudah harus diselesaikan paling lama 3 (tiga) bulan terhitung se-jak tanggal disetujuinya pelaksanaan Proses Dipercepat;

33.4.2 Perselisihan akan diperiksa dan diputus oleh Majelis yang terdiri dari ha-nya seorang Arbiter, kecuali ditentukan lain oleh Pengurus atau atas per-mintaan khusus dari Para Pihak maka Perselisihan akan diperiksa dan di-putus Majelis yang terdiri dari 3 (tiga) Arbiter;

33.4.3 Kecuali Para Pihak menyetujui bahwa Perselisihan diputuskan hanya ber-dasarkan Alat Bukti yang ada di dalam Berkas, maka Proses Arbitrasi ha-rus mengadakan pemeriksaan dan mendengarkan setiap saksi dan/atau argumentasi yang disampaikan oleh Para Pihak ;

33.4.4 Keputusan dibuat paling lama di dalam jangka waktu 14 (empat belas) Hari terhitung setelah tanggal pemeriksaan terakhir dilakukan, kecuali dalam keadaan tertentu, Majelis dapat memperpanjang jangka waktu itu, akan tetapi dengan dasar apapun perpanjangan itu tidak boleh melebihi 7 (tujuh) Hari; dan

33.4.5 Putusan akan dibuat dalam bentuk singkat tanpa pertimbangan yang rinci. Akan tetapi diktumnya harus rinci dan pasti, kecuali Para Pihak telah seca-ra khusus meminta agar Putusan dibuat secaseca-ra rinci dan memuat pertim-bangan yang lengkap, dan untuk keperluan ini, jangka waktu dimaksud Pasal 33.4.4, apabila diperlukan, dapat diperpanjang untuk paling lama 7 (tujuh) Hari.

BAB VI

KEPUTUSAN DAN BANDING Pasal 34

Keputusan

34.1 Keputusan akan dibuat berdasarkan keputusan mayoritas, atau dalam hal tidak adanya mayoritas, oleh Ketua Majelis sendiri. Keputusan dibuat secara tertulis,

(23)

de-ngan tanggal dan ditandatade-ngani. Kecuali disepakati secara lain oleh para pihak, keputusan harus secara singkat dengan menyatakan alasannya. Tandatangan Ke-tua Majelis, sebagaimana berlaku, sudah cukup.

34.2 Sebelum keputusan arbitrasi ditandatangani, keputusan itu ditransmisikan kepada Sekretaris Kepala yang dapat melakukan perbaikan bentuk asli dan juga dapat meminta perhatian Majelis terhadap masalah mendasar.

34.3 Pendapat disenting tidak dikenal oleh BAKI dan tidak dipertimbangkan.

34.4 Kecuali sebagaimana dalam keadaan khusus sebagaimana diatur Pasal 108 ART, setiap keputusan Majelis yang diberitahukan oleh Sekretariat bersifat final dan mengikat.

Pasal 35 Banding

35.1 Banding atas suatu keputusan Majelis dimungkinkan sesuai dengan ketentuan Pasal 28.2 AD jo. Pasal 108 ART, dan karenanya apabila Pihak yang yang berke-pentingan dapat mengajukan banding atas suatu keputusan Majelis hanya dalam hal sebagaimana diatur secara tegas di Pasal 108 ART itu tidak atas keputusan yang lain.

35.2 Permohonan banding harus diajukan kepada CAS di Lausanne, Swiss, sesuai dengan peraturan CAS yang berlaku, dan salinan permohonan banding itu yang dilampiri dengan salinan bukti pendaftaran permohonan banding itu yang dike-luarkan dan diberikan oleh CAS harus diserahkan kepada Sekretariat paling lam-bat di dalam jangka waktu 5 (lima) Hari setelah permohonan banding itu didaftar-kan pada CAS.

35.3 Dengan dasar dan alasan apapun permohonan banding dan pendaftarannya se-bagaimana dimaksud Pasal 35.1 jo. Pasal 35.2 di atas sudah harus dilakukan paling lama di dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu) Hari terhitung sejak tanggal diberitahukannya keputusan yang dimohonkan banding itu kepada Pihak yang mengajukan permohonan banding oleh Sekretariat.

35.4 Apabila oleh sebab dan dasar apapun jangka waktu dimaksud Pasal 30.3 di atas dilampaui, maka keputusan itu menjadi mempunyai kekuatan yang final dan meng-ikat dan dapat dilaksanakan.

Pasal 36

Bantuan Kepada Pemohon Banding

36.1 Di dalam hal terjadinya upaya banding sebagaimana diatur Pasal 35 dan bukti adanya permohonan banding yang telah didaftarkan kepada CAS di maksud Pasal 35.2 telah dipenuhi maka Pengurus akan memberikan bantuan kepada Pihak yang memohonkan banding itu sebagaimana diperlukan.

36.2 Apabila CAS meminta secara khusus secara tertulis kepada BAKI agar salinan dari berbagai dokumen yang ada pada Berkas Perselisihan dikirimkan kepada CAS, maka setiap biaya yang dibutuhkan untuk maksud itu sebagaimana dite-tapkan oleh Sekretaris Kepala akan menjadi beban dan harus dilunasi oleh Pihak yang mengajukan banding kepada CAS itu, dan apabila hal itu tidak dipenuhinya ha itu akan diberitahukan Pengurus kepada CAS dan menjelaskan belum dapat memenuhi permintaan CAS itu, sampai pembayaran biaya itu dilunasi.

(24)

BAB VII

PERMINTAAN PENDAPAT ARBITRASE Pasal 37

Permintaan Pendapat

37.1 KOI, LADI dan setiap Anggota KOI, dapat meminta pendapat berupa nasehat dari BAKI tentang masalah hukum sehubungan dengan kegiatan atau perkembangan olahraga atau kegiatan yang berkaitan dengan olahraga.

37.2 Permintaan pendapat ditujukan kepada Sekretariat dan disertai dokumen yang mungkin dapat membantu Majelis untuk memberikan pendapatnya.

Pasal 38

Dimulainya Proses Pemberian Pendapat

Bilamana suatu permintaan dimaksud Pasal 37 diajukan dan didaftarkan pada Sekre-tariat, Pengurus akan mengkaji apakah permintaan itu memerlukan suatu pendapat. Apabila disetujui, Pengurus akan memulai proses dengan pembentukan Majelis yang terdiri dari 1 (satu) atau 3 (tiga) Arbiter yang diangkat dari nama yang tersedia pada Daf-tar Arbiter. Pengurus atas kebijakannya sendiri akan merumuskan pertanyaan yang dia-jukan kepada Majelis dan meneruskan pertanyaan ini kepada Majelis.

Pasal 39 Pendapat

Sebelum memberikan pendapatnya, Majelis dapat meminta informasi tambahan. Penda-pat itu daPenda-pat diterbitkan dengan persetujuan Pihak pemohon. PendaPenda-pat itu bukan meru-pakan keputusan arbitrasi yang mengikat.

Pasal 40 Penafsiran

40.1 Suatu Pihak dapat mengajukan kepada BAKI melalui Sekretariat penafsiran suatu keputusan yang dikeluarkan dalam Proses Arbitrasi, apakah bagian tertentu dari keputusan itu tidak jelas, tidak lengkap, bersifat ambigu atau apakah unsurnya bertentangan sendiri atau berlawan dengan alasan yang dikemukakan, ataupun apakah keputusan itu mengandung kesalahan ketatausahaan atau salah perhi-tungan angka.

40.2 Bilamana suatu permohonan penafsiran diajukan, Pengurus akan mengkaji apa-kah terdapat alasan untuk memberikan penafsiran. Apabila ada, Pengurus akan mengajukan permohonan itu kepada Majelis yang semula memeriksa dan kemu-dian memutuskan keputusan itu untuk memeriksa dan mengeluarkan keputusan penafsiran. Apabila terdapat anggota Majelis yang tidak dapat melakukan tugas-nya, akan diganti dengan Arbiter yang lain dari Daftar Arbiter sesuai dengan keten-tuan Pasal 23. Majelis harus memutuskan permohonan itu dalam jangka waktu 45 (empat puluh lima) Hari terhitung sejak tanggal permohonan itu diterima oleh Sekretariat.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian alasan pembatalan berdasarkan ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase terlalu limitatif jika dibandingkan dengan Pasal 34 The UNICITRAL Model Law yaitu para pihak atau

Majelis arbitrase atau arbitrase tunggal akan memeriksa dan memutus sengketa antara para pihak atas nama BANI dan karenanya dapat melaksanakan segala kewenangan

Perjanjian arbitrase yang menjadi syarat hukum un- tuk dapat diselenggarakannya suatu penyelesaian sengketa melalui forum arbitrase diatur dalam Pasal 1 Angka (1) UU Nomor 30

Perjanjian arbitrase yang menjadi syarat hukum un- tuk dapat diselenggarakannya suatu penyelesaian sengketa melalui forum arbitrase diatur dalam Pasal 1 Angka (1) UU Nomor 30

(i) dalam hal Arbiter Tunggal/ Majelis Arbitrase menjatuhkan putusan sela dengan amar yang menyatakan Permohonan Arbitrase tidak dapat diterima, maka Para Pihak

Bahwa karena adanya Klausula Arbitrase yang sudah disetujui kedua belah pihak dan karenanya mengikat mereka sebagai undang-undang (Pasal 1338 KUHPerdata), maka sudah teranglah

Pada Pasal 1 angka 3 UUA dan APS, menentukan, “Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum di dalam suatu perjanjian tertulis yang

Dan pada Pasal 9 ayat 2 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menjelaskan bahwa dalam hal para pihak tidak dapat menandatangani