BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut sejarah, banyak negara yang terus-menerus mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada barang yang diekspor. Artinya, jumlah ekspor netonya selalu negatif. Meskipun para ekonom masih banyak memperdebatkan apakah defisit
perdagangan ini merupakan sebuah masalah atau tidak, banyak politisi dan pengusaha yang memberikan klaim bahwa defisit perdagangan ini merefleksikan kompetisi yang tidak adil: Perusahaan-perusahaan asing diizinkan untuk menjual produk mereka di pasar dalam negeri, sedangkan permerintahan negara lain mencegah perusahaan kita untuk menjual produk-produknya di luar negeri.
Bayangkan bahwa anda adalah seorang pemimpin negara dan ingin mengakhiri defisit perdagangan ini. Apa yang harus Anda lakukan? Haruskah anda membatasi impor, mungkin dengan menetapkan kuota untuk impor mobil dari luar negeri? Atau haruskah Anda mencoba untuk memengaruhi defisit perdagangan negara dengan cara lain?
Untuk memahami faktor apa saja yang menentukan keseimbangan perdagangan suatu negara dan bagaimana kebijakan pemerintah memengaruhinya, kita
membutuhkan teori ekonomi makro perekonomian terbuka. Sebelumnya telah diperkenalkan beberapa variabel ekonomi makro penting yang menggambarkan hubungan ekonomi dengan ekonomi lain – ekspor bersih (net export), arus keluar modal neto (net capital outflow), serta nilai tukar riil dan nominal (real and nominal
exchange rate). Paper ini mengembangkan sebuah model yang mengidentifikasi faktor
apa saja yang menentukan variabel-variabel ini dan menunjukkan bagaimana variabel ini berhubungan satu dengan yang lain.
Untuk mengembangkan model ekonomi makro perekonomian terbuka ini, kita membangunnya dari analisis sebelumnya dalam dua cara utama. Pertama, model menggunakan PDB seperti yang telah ditentukan. Kita menganggap bahwa hasil perekonomian yang berupa barang dan jasa, seperti yang diukur dengan PDB riil, ditentukan oleh penawaran faktor-faktor produksi dan teknologi produksi yang tersedia yang mengubah bahan-bahan ini menjadi hasil produksi. Kedua, model mengambil tingkat harga ekonomi seperti yang diberikan. Kita menganggap bahwa tingkat harga
disesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan jumlah uang. Dengan kata lain, paper ini merupakan titik awal pelajaran yang dibahas pada bab 25 dan 30 mengenai penetuan hasil perekonomian dan tingkat harga.
Tujuan model pada paper ini adalah untuk menekankan kekuatan yang
menentukan keseimbangan perdagangan ekonomi dan nilai tukar. Pada satu sisi, model tersebut sederhana; Model ini mengimplikasikan alat-alat penawaran dan permintaan perekonomian terbuka. Namun, model ini lebih rumit daripada model lainnya yang telah kita lihat karena memperhatikan secara bersamaan dua pasar yang berkaitan – pasar yang menyediakan dana pinjaman dan pasar untuk pertukaran valuta asing. Setelah kita mengembangkan model perekonomian terbuka ini, kita menggunakan model tersebut untuk memeriksa berbagai kejadian dan kebijakan yang memengaruhi keseimbangan perdagangan ekonomi dan kurs valuta asing.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana mengetahui kekuatan dalam perekonomian terbuka?
1.2.2 Bagaimana hubungan antara pasar dana pinjaman dan pasar valuta asing? 1.2.3 Bagiamana kebijakan dan peristiwa memengaruhi perekonomian terbuka?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui kekuatan dalam perekonomian terbuka.
1.3.2 Untuk mengetahui hubungan antara pasar dana pinjaman dan pasar valuta asing. 1.3.3 Untuk mengetahui pengaruhi kebijakan dan peristiwa dalam perekonomian
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kekuatan yang ada dalam Perekonomian Terbuka
Penawaran dan Permintaan untuk Dana Pinjaman dan Pertukaran Valuta Asing
Untuk memahami keuatan yang ada dalam perekonomian terbuka, kita akan memfokuskan perhatian pada penawaran dan permintaan di dua jenis pasar. Pasar pertama adalah pasar dana pinjaman yang mengoordinasikan tabungan, investasi, dan aliran dana pinjaman di luar negeri (disebut dengan arus keluar modal neto). Pasar kedua adalah pasar untuk pertukaran valuta asing yang mengoordinasikan orang-orang yang ingin menukarkan mata uang domestik dengan mata uang negara lain. Pada bagian ini, kita membahas penawaran dan permintaan pada masing-masing pasar. Pada bagian selanjutnya kita menggabungkan kedua pasar ini untuk menjelaskan
keseimbangan pasar terbuka.
2.1.1 Pasar dana Pinjaman
Ketika kita pertama kali menganalisis peranan sistem keuangan, kita membuat asumsi sederhana bahwa sistem keuangan hanya terdiri dari satu pasar yang diesbut dengan pasar dana pinjaman. Semua penabung mengunjungi pasar ini untuk menyimpan tabungan mereka, sedangkan semua peminjam mengunjungi pasar ini untuk memeperoleh pinjaman. Di pasar ini, ada satu tingkat suku bunga yang merupakan keuntungan dari tabungan serta biaya peminjaman.
Untuk memahami pasar dana pinjaman dalam perekonomian terbuka, kita mulai dengan identitas yang dibahas pada bab sebelumnya:
Kapan pun sebuah negara menyimpan sebagian pendapatannya, negara tersebut dapat menggunakan tabungannya untuk membiayai pembelian modal domestik atau untuk membiayai pembelian aset di luar negeri. Kedua sisi identitas ini menunjukkan kedua sisi pasar dana pinjaman. Penawaran untuk dana pinjaman berasal dari tabungan
S = I + NCO
Tabungan = Investasi domestik + Arus keluar modal neto
nasional (S), Permintaan untuk dana pinjaman berasal dari investasi domestik (I) dan arus keluar modal neto (NCO). Perhatikan bahwa pembelian aset modal menambah permintaan untuk dana pinjaman, tanpa memperhatikan apakah aset tersebut berlokasi di dalam negeri atau diluar negeri. Karena arus keluar modal neto dapat bernilai positif atau negatif, nilainya dapat menambah atau mengurangi permintaan untuk dana
pinjaman yang muncul dari investasi domestik.
Seperti yang telah kita pelajari pada pembahasan sebelumnya mengenai pasar dana pinjaman, jumlah dana pinjaman yang ditawarkan, serta jumlah dana pinjaman yang diminta bergantung pada tingkat suku bunga riil. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi mendorong orang untuk menabung sehingga meningkatkan jumlah dana pinjaman yang ditawarkan. Tingkat suku bunga yang tinggi juga membuat pinjaman untuk proyek pembiayaan modal lebih mahal. Dengan dmeikian, hal ini mematahkan semangat investasi dan mengurangi jumlah dana pinjaman yang diminta.
Selain memenagruhi tabungan nasional dan investasi domestik, tingkat suku bunga riil di sebuah negara memengaruhi arus keluar modal neto negara tersebut. Untuk melihat mengapa hal ini dapat terjadi, bayangkan dua reksa dana – satu di Singapura dan satu lagi di Hongkong – memilih untuk membeli obligasi pemerintah di Sungapura ataukah obligasi pemerintah di Hongkong. Saat tingkat suku bunga riil Singapura naik, obligasi singapura menjadi lebih menarik untuk kedua reksa dana tersebut. Dengan demikian, kenaikan tingkat suku bunga riil Singapura mematahkan semangat orang-orang Singapura untuk membeli aset di luar negeri. Sebaliknya, mendorong pihak asing untuk membeli aset Singapura. Untuk kedua alasan ini, tingkat suku bunga riil Singapura yang tinggi mengurangi arus keluar modal neto Singapura.
Pasar dana pinjaman ditampilkan dalam diagram penawaran-penawaran yang sudah dikenal pada figur 1. Seperti pada analisis kita sebelumnya mengenai sistem keuangan, kurva penawaran miring ke atas karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan jumlah dana pinjaman yang tersedia. Sementara itu, kurva permintaan miring ke bawah karea tingkat suku bunga yang lebih rendah menurunkan jumlah dana pinjaman yang diminta. Tidak seperti situasi pada pembahasna kita sebelumnya,
bagaimanapun, sisi permintaan pasar kini menunjukkan perilaku investasi domestik dan arus keluar modal neto. Artinya, pada perekonomian terbuka, permintaan dana
pinjaman tidak hanya berasal dari mereka yang menginginkan dana pinjaman untuk membeli barang-barang modal domestik, tetapi juga dari mereka yang menginginkan dana pinjaman untuk membeli aset luar negeri.
Tingkat suku bunga menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan oenawaran dan permintaan dana pinjaman. Jika itngkat suku bunga di bawah titik keseimbangan, jumlah dana pinjaman yang tersedia akan kurang dari jumlah permintaan. Kekurangan dana pinjaman akan mendorong tingkat suku bunga naik. Sebaliknya, jika tingkat suku bunga di atas titik keseimbangan, jumlah dana pinjaman yang tersedia melebihi jumlah permintaan. Kelebihan dana pinjaman ini akan mendorong tingkat suku bunga turun. Pada tingkat suku bunga keseimbangan, penawaran dana pinjaman seimbang dengan permintaannya, artinya, pada tingkat suku bunga keseimbangan, jumlah orang yang
ingin menabung tepat sama dengan jumlah investasi domestik dan arus kas keluar modal neto yang diinginkan.
2.1.2 Pasar Valuta Asing
Partisipan dalam pasar ini mempertukarkan mata uang domestik dengan mata uang asing. Untuk memahami pertukaran valuta asing, kita mulai dengan identitas lain dari bab sebelumnya :
Identitas ini menyatakan bahwa ketidakseimbangan antara pembelian dan penjualan aset modal di luar negeri (NCO) sama dengan ketidakseimbangan antara
Pasar Dana Pinjaman
Tingkst suku bunga dalam perekonomian terbuka, ditentukan oleh penawaran dan permintaan dana pinjaman. Tabungan nasional merupakan sumber penawaran dana pinjaman. Investasi domestik dan arus keluar modal neto adalah sumber permintaan dana pinjaman. Pada tingkat suku bunga keseimbangan, jumlah orang yang ingin menabung seimbang dengan jumlah orang yang ingin meminjam uang untuk membeli modal
NCO = NX
ekspor dan impor barang dan jasa (NX). Sebagai contoh, ketika perusahaan Anda mengalami surplus perdagangan (NX>0), pihak asing membeli lebih banyak barang dan jasa Anda dibandingkan dengan penduduk dalam negeri yang membeli barang dan jasa asing, apa yang dilakukan penduduk Anda terhadap mata uang asing yang mereka peroleh dari penjualan bersih barang dan jasa di luar negeri? Mereka tentunya membeli aset asing sehingga modal negara Anda mengalir ke luar negeri (NCO>0). Sebaliknya jika negara Anda mengalami defisit perdagangan (NX<0), penduduk Anda
menghabiskan uang lebih banyak untuk barang dan jasa asing daripada uang yang mereka peroleh dari penjualan di luar negeri. Sebagian dari uang ini tentunya dibiayai oleh penjualan aset Anda di luar negeri sehingga modal asing mengalir ke dalam negara Anda (NCO<0).
Model kita tentang perekonomian terbuka memperlakukan dua sisi identitas ini sebagai cerminan dua sisi pasar pertukaran valuta asing. Arus keluar modal neto mencerminkan jumlah penawaran uang untuk tujuan pembelian aset asing. Sebagai contoh, ketiak reksa dana Singapura ingin membeli obligasi pemerintah Hongkong, reksa dana tersebut perlu menukarkan dolar Singapura menjadi dolar Hongkong sehingga memenuhi dolar Singapura di pasar pertukaran valuta asing. Ekspor neto mewakili jumlah permintaan mata uang asing untuk tujuan pembelian ekspor neto barang dan jasa domestik. Sebagai contoh, ketika maskapai penerbangan Malaysia ingin membeli pesawat yang dibuat oleh Boeing, maskapai itu perlu menukar ringgit Malaysia dengan dolar AS sehingga hal ini menuntut dolar AS ada di pertukaran valuta asing.
Pada nilai berapakah penawaran dan permintaan pasar di asar pertukaran valuta asing seimbang? Jawabannya adalah nilai tukar riil. Seperti yang kita lihat pada bab sebelumnya, nilai tukar riil adalah harga relatif barang domestik dan barang luar negeri sehingga merupakan penentu utama ekspor neto. Ketika nilai tukar di tanah air naik, barang domestik menjadi relatif lebih mahal dibandingkan dengan barang luar negeri dan membuat barang domestik manjadi kurang menarik untuk konsumen di dalam negeri ataupun di luar negeri. Akibatnya, ekspor di tanah air gagalm sedangkan impor ke dalam negeri meningkat. Untuk kedua alasan tersebut ekspor neto menurun. Oleh karena itu, kenaikan nilai tukar riil mengurangi jumlah permintaan mata uang lokal di pasar pertukaran valuta asing.
Figur 2 menunjukkan permintaan dan penawaran di pasar pertukaran valuta asing. Kurva permintaan miring ke bawah karena; nilai tukar yang lebih tinggi membuat
barang domestik menjadi lebih mahal dan mengurangi jumlah permintaan mata uang lokal untuk membeli barang tersebut. Kurva penawaran berbentuk garis vertikal karena jumlah mata uang lokal yang tersedia untuk arus kas keluar modal neto tidak
bergantung pada nilai tukar modal riil. (seperti yang dibahas sebelumnya, arus keluar modal neto bergantung pada nilai tukar riil. Saat membahas pasar pertukaran valuta asing, kita mengambil nilai tukar riil dan arus keluar modal neto seperti yang diberikan.)
Nilai tukar riil menyesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan mata uang lokal seperti harga setiap barang menyesuaikan penawaran dan permintaan untuk barang tersebut. Jika tingkat suku bunga riil di bawah titik keseimbangan, jumlah penawaran mata uang lokal akan lebih sedikit dari jumlah permintaan. Penurunan jumlah mata uang lokal akan mendorong kenaikan nilai mata uang lokal. Sebaliknya, jika nilai tukar di atas titik keseimbangan, jumlah mata uang lokal akan melebihi jumlah permintaan. Kelebihan mata uang lokal akan menurunkan nilai mata uang lokal.
Pada titik keseimbangan nilai tukar riil. Permintaan mata uang lokal dari luar negeri yang berasal dari ekspor neto barang dan jasa domestik sama dengan penawaran mata uang lokal pensusuk yang beraal dari arus kas keluar modal neto.
Pasar Pertukaran Valuta Asing
Tingkat nilai tukar riil ditentukan oleh penawaran dan permintaan untuk valuta asing. Penawaran mata uang lokal yang ditukarkan menjadi mata uang asing berasal dari arus keluar modal neto. Karena arus keluar modal neto tidak bergantung pada tingkat nilai tukar riil, kurva penawaran berbentuk garis vertikal. Permintaan untuk mata uang oikal barasal dari ekspor neto. Karena tingkat nilai tukar riil yang lebih rendah
mendorong ekspor neto (dan meningkatkan jumlah permintaan mata uang lokal untuk membayar ekspor neto ini), kurva permintaan miring ke bawah. Pada titik
keseimbangan nilai tukar riil, jumlah mata uang domestik yang disediakan orang untuk membeli aset asing sama dengan jumlah unit mata uang asing yang diinginkan orang untuk membeli ekspor neto.
Disini perlu diperhatikan bahwa pembagian transaksi antara “penwaaran” dan “permintaan” pada model ini agak artifisial. Dalam model kita, ekspor neto merupakan sumber permintaan untuk mata uang lokal, sedangkan arus keluar modal neto
merupakan sumber penawaran. Dengan demikian, ketika seorang warga Singapura mengimpor sebuah mobil yang dibuat Jepang, model ini memperlakukan transaksi tersebut sebagai penurunan jumlah permintaan dolar Singapura (karena ekspor neto turun), bukan sebagai kenaikan jumlah penawaran dolar Singapura. Sama halnya saat seorang warga Jepang memebeli obligasi pemerintah Singapura, model ini
memperlakukan transaksi tersebut sebagai penurunan permintaan dolar Singapura (karena arus keluas modal neto turun), bukan sebagai kenaikan jumlah permintaan doalr Singapura. Pada awalnya, penggunaan bahasa ini mungkin terlihat kurang wajar, tetapi nanti akan terbukti berguna saat menganalisa pengaruh berbagai kebijakan.
2.2 Hubungan Antara Pasar Dana Pinjaman dan Pasar Valuta Asing Keseimbangan Perekonomian Terbuka
Sejauh ini kit ammabehas penawaran dan permintaan di dua pasar – pasar untuk dana pinjaman dan pasar pertukaran valuta asing. Sekarang, mari eprhatikan bagaimana pasar-pasar ini saling berhubungan satu dengan yang lain.
2.2.1 Arus Keluar Modal Neto : Kaitan antara Kedua Pasar
Kita telah membahas bagaimana perekonomian mengoordinasikan empat variabel ekonomi makro yang penting : tabungan nasional (S), investasi domestik (I), arus kas keluar modal neto (NCO), dan ekspor neto (NX). Ingatlah arus identitas berikut:
S = I + NCO dan NCO = NX
Pasar dana pinjaman, penawaran berasal dari tabungan nasional, permintaan berasal dari investasi domestik dan arus keluar neto, dan tingakt suku bungan riil menyeimbangkan penawaran dan permintaan. Pada dasar pertukaran valuta asing,
penawaran berasal dari arus keluar modal neto, permintaan berasal dari ekspor neto, dan nilai tukar riil menyeimbangkan penawaran dan permintaan.
Arus keluar modal neto adalah variabel yang menghubungkan kedua pasar ini. Di pasar dana pinjaman, arus keluar modal neto adalah bagian dari permintaan. Seseorang yang ingin membeli sebuah aset di luar negeri harus membayar pembelian ini dengan memperoleh sember dari pasar dana pinjaman. Di pasar pertukaran valuta asing, arus keluar modal perupakan sumber penawaran. Seseorang yang inign memebli sebuah aset di negara lain harus menyediakan mata uang untuk ditukar dengan mata uang negara tersebut.
Faktor utama yang menentukan arus keluar modal neto, seperti yagn telah kita bahas, adalah tingkat suku bunga riil. Ketika tingkat suku bungan domestik tinggi, memiliki aset domestik lebih menarik, sedangkan arus keluar modal neto negar
arendah. Figur 3 menunjukkan hubungan negatif antara tingkat suku bunga dengan arus keluar modal neto. Kurva arus keluar modal neto ini merupakan penghubung antara pasar untuk dana pinjaman dengan pasar pertukaran valuta asing.
Bagaimana Arus Keluar Modal Neto Bergantung pada Tingkat Suku Bunga Karena tingkat suku bunga riil domestik yang lebih tinggi membuat aset domestik lebih menarik, ia mengurangi arus keluar modal neto. Perhatikan posisi nol pada sumbu horizontal: Arus keluar modal neto dapat bernilai positif atau
2.2.2 Keseimbangan Simultan antara Kedua Pasar
Sekarang kita dapat menggabungkan bagian-bagian dari model kita pada Figur 4. Figur ini menunjukkan bagaimana pasar dana pinjaman dan pasar pertukaran valuta asing secara bersama-sama menentukan variabel-variabel ekonomi makro yang penting dari perekonomian terbuka.
Panel (a) dari figur menunjukkan pasar dana pinjaman (diambil dari Figru 1). Seperti sebelumnya, tabungan nasional merukapan sumber penawaran dana pinjaman. Investasi domestik dan arus keluar modal neto merupakan sumber permintaan untuk dana pinjaman. Tingkat suku bunga keseimbangan (r1) menyebabkan jumlah dana
pinjaman yang ditawarkan dan jumlah dana pinjaman yang diminta seimbang.
Panel (b) pada figur menunjukkan arus keluar modal neto (diambil dari Figur 3). Panel ini menunjukkan bagaimana tingkat suku bunga dari panel (a) menentukan arus
Keseimbangan Riil dalam Perekonomian Terbuka
Pada panel (a), penawaran dan permintaan untuk dana pinjaman menentukan tingkat suku bunga riil. Pada panel (b), tingkat suku bunga menentukan arus keluar modal neto yang menyediakan penawaran mata uang lokal di pasar untuk pasar pertukaean valuta asing. Pada panel (c), penawaran dan permintaan untuk mata uang lokal di pasar pertukaran valuta asing menentukan nilai tukar riil.
keluar modal neto. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi di tanah air membuat aset domestik lebih menarik dan ini mengurangi arus keluar modal neto. Oleh karena itu, kurva arus keluar modal neto di panel (b) menjadi miring ke bawah.
Panel (c) pada gambar menunjukkan pasar pertukaran valuta asing (diambil dari Figur 2). Karena aset asing harus dibeli dengan mata uang asing, jumlah arus keluar modal neto dari panel (b) menentukan penawran mata uang lokal yang ditukarkan dengan mata uang asing. Nilai tukar riil tidak memengaruhi arus keluar modal neto sehingga kurva penawarannya vertikal. Permintaak untuk mat auang lokal berasal dari ekspor neto. Karena penyusutan nilai tukar riil meningkatkan ekspor neto, kurva permintaan untuk valuta asing miring ke bawah. Nilai tukar riil keseimbangan (E1)
menyeimbangkan jumlah penawaran mata uang dengan jumlah permintaan mata uang lokal di pasar pertukaran valuta asing.
Kedua pasar yang ditunjukkan pada Figur 4 menentukan dua harga relatif – tingkat suku bunga riil dna nilai tukar riil. Tingkat suku bunga riil ditentukan di panel (a) adalah harga barang dan jas asekarang relatif terhadap harga barang dan jas apada masa depan. Nilai tukar riil yang ditentukan pada panel (c) adalah harga barang dan jasa domestik relatif terhadap barang dan jasa luar negeri. Kedua harga relatif ini disesuaikan secara bersamaan untuk meyeimbangkan penawaran dan eprmintaan di dua pasar tersebut. Saat melakukan hal itu, mereka menentukan tabungan nasional, investasi domestik, arus keluar modal neto, dan ekspor neto.
2.3 Pengaruh Kebijakan dan Peristiwa Memengaruhi Perekonomian Terbuka
Setelah mengembangkan sebuah model untuk menjelaskan bagiamana variabel-variabel ekonomi makro perlu ditentukan dalam perekonomain terbuka, sekarang kita dapat menggunakan model tersebut untuk menganalisis bagaimana perubahan pada kebijakan dan peristiwa lain mengubah keseimbangan perekonomian. Saat kita melanjutkan pembahasan, ingatlah selalu bahwa model kita hanyalah penawaran dan permintaan di dua pasar – pasar dana pinjaman dan pasar pertukaran valuta asing. Saat menggunakan model ini untuk menganalisis peristiwa, kita menggunakan tiga langkah. Pertama, kita menentukan kurva penawaran dan permintaan mana yang dipengaruhi oleh peristiwa tersebut. Kedua, kita menentukan ke arah mana kurva itu bergeser. Ketiga, kita menggunakan diagram penawaran dan permintaan untuk memeriksa bagaimanan pergeseran ini mengubah keseimbangan perekonomian.
2.3.1 Defisit Anggaran Pemerintah
Ketika pertama kali membahas penawaran dan permintaan untuk dana pinjaman sebelumnya, kita memeriksa pengaruh defisit anggaran pemerintah yang terjadi saat pengeluaran pemerintah melebihi pendapatan pemerintah. Karena difisit anggaran pemerintah mempresentasikan tabungan publik yang negatif, mengurangi tabungan nasional (jumlah tabungan publik dan swasta). Dengan demikian, defisit anggaran pemerintah mengurangi penawaran dana pinjaman, meningkatkan tingkat suku bunga, dan membatasi investasi.
Sekarang mari perhatikan efek defisitanggaran dalam perekonomian terbuka. Pertama, kurva mana yang bergeser pada model kita? Seperti pada perekonomian tertutup, pengaruh awal dari defisit anggaran adalah pada tabungan nasional dan,
Dampak-dampak Defisit Anggaran Pemerintah
Ketika pemerintah mengalami defisit anggaran, jumlah penawaran dana pinjaman berkurang dari S1 ke S2 pada panel (a). Tingkat suku bunga naik dari r1 menjadi r2 untuk
menyeimbangkan penawaran dan permintaan dana pinjaman. Pada panel (b), tingkat suku bunga yang lebih tinggi mengurangi arus keluar modal neto. Berkurangnya arus keluar modal neto, pada akhirnya, menguragi penawaran mata uang lokal di pasar pertukaran valuta asing dari S1 ke S2 pada panel (c). Penurunan mata uang asing ini
menyebabkan nilai tukar riil terapresiasi dari E1 ke E2 . Apresiasi nilai tukar mendorong
dengan demikian, pada penawaran untuk dana pinjaman. Kedua, ke arah mana kurva tersebut bergeser ? Lagi – lagi,seperti pada perekonomian tertutup, defisit anggaran mempresentasikan tabungan publik negatif sehingga mengurangi tabungan nasional dan menggeser dari S1 ke S2 pada panel (a) Figur 5.
Langkah ketiga dan terakhir adalah membandingkan keseimbangan lama dengan keseimbangan baru. Panel (a) menunjukan pengaruh anggaran defisit negara terhadap pasar dana pinjaman di tanah air. Dengan lebih sedikit dana yang tersedia untuk para peminjam di pasar finansial lokal, tingkat suku bungan naik dari r1 menjadi r2 guna
menyeimbangkan penawaran dan permintaan.
Dihadapkan pada tingkat suku bungan yang tinggi, peminjam di pasar da
pinjaman memilih untuk meminjam lebih sedikit uang. Perubahan ini ditunjukan pada gambar dengan pergerakan dari titik A ke titik B sepanjang kurva pembelian barang
Dampak-dampak Kuota Impor
Ketika pemerintah Malaysia menerapkan kuota impor mobil dari Jepang, tidak terjadi apa-apa di pasar dana pinjaman pada panel (a) atau arus kelur modal neto pada panel (b). Satu-satunya dampak adalah meningkatnya ekspor neto (ekspor dikurangi impor) untuk setiap nilai tukar riil. Akibatnya, permintaan ringgit malaysia di pasar-pasar pertukaran valuta asing meningkat, seperti ditunjukkan oleh pergeseran dari D1 ke D2 pada panel (c). Peningkatan
permintaan ringgit ini mengapresiasi nilai mata uang ringgit, dari E1 ke E2. Apresiasi mata
uang ringgit cenderung mengurangi ekspor neto sehingga mengimpaskan dampak langsung dari kuota impor terhadap neraca perdagangan.
modal mereka. Seperti pada perekonomian tertutup, defisit anggaran membatasi investasi domestik.
Dalam perekonomian terbuka, bagaimanapun, pengurangan penawaran dana pinjaman menimbulkan dampak – dampak tambahan. Panel (b) menunjukan bahwa peningkatan tingkat suku bunga dari r1 ke r2 mengurangi arus keluar modal neto.
[Penurunan arus keluar modal neto ini juga merupakan kebagian dari penurunan jumlah dana pinjaman yang diminta pada pergerakan ini dari titik A ke titik B pada panel (a).] Karena tabungan yang disimpan di dalam negeri sekarang memperoleh tingkat
keuntungan yang lebih tinggi, berinvestasi di luar negeri menjadi kurang menarik sehingga warga domestik membeli lebih sedikit aset luar negeri. Tingkat suku bunga
Dampak-dampak Pelarian Modal
Jika orang memutuskan bahwa Filipina merupakan tempat berisiko untuk menyimpan tabungannya, mereka akan memindahkan modal mereka ke tempat yang lebih aman seperti Amerika Serikat, yang mengakibatkan peningkatan arus keluar modal neto Filipina. Oleh karena itu, permintaan untuk dana pinjaman di Filipina naik dari D1 ke D2 seperti
ditunjukkan pada panel (a), dan hal ini mendorong tingkat suku bunga riil Filipina dari r1 ke
r2. Karena arus keluar modal neto lebih tinggi untuk semua tingkat suku bunga, kurva ini
juga bergeser dari NCO1 ke NCO2 pada panel (b). Pada saat yang bersamaan, di pasar
pertukaran valuta asing, penawaran peso naik dari S1 ke S2 seperti ditunjukkan panel (c).
Kenaikan penawaran peso ini menyebabkan peso terdepresiasi dari E1 ke E2 sehingga peso
yang lebih tinggi juga menarik para investor asing yang ingin memperoleh tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk aset – aset ini. Dengan demikian ketika defisit anggaran meningkatkan tingkat suku bunga, perilaku dalam dan luar negeri menyebabkan arus keluar modal neto di dalam negeri menurun.
Panel (c) menunjukan bagaimana defisit anggaran memengaruhi pasar pertukan valuta asing. Karena arus keluar modal neto berkurang, orang membutuhkan lebih sedikit mata uang asing untuk membeli aset luar negeri dan hal ini mendorong pergeseran ke kiri pada kurva penawaran untuk mata uang lokal dari S1 ke S2.
Penurunan penawaran mata uang lokal menyebabkan nilai tukar riil naik dari E1ke E2.
Artinya mata uang lokal menjadi lebih bernilai dibandingkan dengan mata uang asing. Kenaikan ini, akhirnya. Membuat barang domestik menjadi lebih mahal daripada barang luar negeri. Karenaorang – orang di dalam negeri ataupun di luar negeri
mengalihkan pembelian mereka dari barang domestik yang lebih mahal, ekspor dari dalam negeri menurun, sedangkan impor ke dalam negeri meningkat. Untuk kedua alasan tersebut, ekspor neto domestik turun. Oleh karena itu, pada perekomonian
terbuka, defisit anggaran pemerintah menaikan tingkat suku bunga riil, membatasi investasi domestik, menyebabkan mata uang naik, dan mendorong neraca perdagangan ke arah defisit.
Salah satu contoh dari pelajaran ini terjadi di Filipina sekitar tahun 1998 sampai dengan 2002. Selama masa ini, anggaran tergolong defisit karena pemerintah tidak mampu meningkatkan pendapatan pajak yang mencukupi untuk membayar
penegluarannya. Model kita tentang perekonomian terbuka memprediksikan bahwa kebijakan seperti itu akan mengarah pada defisit perdagangan, yang memang benar terjadi.
2.3.2 Kebijakan Perdagangan
Kebijakan perdagangan (trade polcy) merupakan kebijakan pemerintah yang
secara langsung memengaruhi jumlah barang dan jasa yang diimpor atau diekspor oleh suatu negara. Kebijaka ad adalam berbagai bentuk. Salah satu jenis kebijakan
perdagangan yang umum adalah tarif , pajak pada barang impor. Jenis lainnya adalah
kuota impo, batasan jumlah barang tertentu yang dapat diproduksi di luar negeri dan di
jual di dalam negeri. Kebijakan – kebijakan perdagangan lazim diberlakukan di seluruh dunia meskipun di terkadang bentuknya tersembunyi. Sebagai contoh, pemerintah terkadang menekan eksportir asing untuk mengurangi jumlah barang yang dapat
mereka jual di negaranya. Hal yang disebut dengan “pembatasan ekspor suka rela” (voluntarily export restrictions) ini sebenarnya tidak begitu sukarela dan intinya, merupakan salah satu bentuk kuota impor.
Sekarang, mari perhatikan pengaruh ekonomi makro pada kebijakan perdagangan. Anggaplah bahwa industri mobil malaysia, yang mengkhawatirkan kompetisi dengan para pembuat mobil jepang, meyakinkan bahwa pemerintah Malaysia untk menerapkan kuota sejumlah mobil yang dapat diimpor dari jepang. Untuk mendukung perjuangan mereka, pelobi untuk industri mobil menilai bahwa pembatasan perdagangan akan meningkatkan keseimbangan perdagangan Malaysia. Apakah mereka benar? Model kita, seperti diilustrasikan pada figur 6, memberikan sebuah jawaban.
Langkah pertama dalam menganalsis kebijakan perdagangan adalah menentukan kurva mana yang bergeser. Tidak mengherankan, pengaruh awal dari pembatsan impor adalah pada barang impor. Karena ekspor neto sama dengan ekspor dikurangi impor. Kebijakan juga memengaruhi ekspor neto, lebih lanjut, karena ekspor neto merupakan sumber permintaan untuk ringgit Malaysia di pasar pertukaran valuta asing, kebijakan memengaruhi kurva permintaan di pasar ini.
Langkah kedua adalah menentukan ke arah mana kurva ini bergeser. Karena kuota embatasi jumlah mobil Jepang yang dijual di Malaysia, kuota ini mengurangi impor pada semua nilai tukar riil yang diberika. Karena orang asing membutuhkan ringgit untuk membeli ekspor neto Malaysia, ada kenaikan permintaan untuk ringgit di pasar pertukaran valuta asing. Kenaikan permintaan untuk ringgit ini di tunjukan pada panel (c) Figur 6 dengan pergeseran dari D1 ke D2.
Langkah ketiga adalah membandingkankeseibangan lama dan baru. Seperti yang dapat kita lihat di panel (c), kenaikan permintaan untuk ringgit menyebabkan nilai tukar riil dari E1 ke E2. Karena tidak ada terjadi di pasar untuk dana pinjaman pada panel (a),
tidak ada perubahan pada tingkat suku bunga riil. Karena tidak ada perubahan pada tingkat suku bunga riil maka tidak ada perubahan pada arus keluar modal neto yang ditunjukan pada panel (b). Lebih lanjut, karena tidak ada perubahan pada arus keluar modal meto, tidak akan ada perubahan pada ekspor neto meskipun kuota impor telah mengurangi jumlah barang impor.
Alasan mengapa ekspor neto dapat sama, sedangkan impor turun dijelaskan oleh perubahan pada nilai tukar riil: Saat rnggit mengalami apresiasi di pasar untuk pasar pertukaran valuta asing, barang domestik menjadi lebih mahal daripada barang luar
negeri. Apresiasi meningkatkan impor dan mengurangi ekspor kedua perubahan ini bekerja untuk mengimbangi kenaikan langsung pada ekspor neto (ekspor dikurangi impor) tidak berubah.
Dengan demikian, kita telah sampai pada sebuah implikasi yang mengejutkan: kebijakan-kebijakan perdagangan tidak memengaruhi keseimbangan perdagangan. Artinya, kebijakan yang langsung memengaruhi ekspor dan importidak mengubah ekspor neto Kesimpulan ini mungkin tidak terlalu mengejutkan jika mengingat identitas akuntansi:
NX = NCO = S – I
Ekspor neto sama dengan arus keluar modal neto yang sama dengan tabungan nasional dikurangi dengan investasi domestik. Kebijakan perdagangan tidak mengubah keseimbangan perdagangan karena tidak mengubah tabungan nasional ataupun
investasi domestik. Untuk tingkat tabungan nasional dan investasi domestik yang diberikan, nilai tukar riil menyesuaikan untuk mempertahankan keseimbangan perdagangan, tanpa memperhtaikan kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh peerintah.
Meskipun kebijakan perdagangan tidak mempengaruhi keseluruhan
keseimbangan perdgangan negara, kebijakan ini memengaruhi beberapa perusahaan, industri, dan negara. Ketika pemerintah Malaysia menerapkan kuota impor untuk mobil Jepang, pembuat mobil lokal menghadapi kompetisi dari luar negeri yang lebih sedikit dan dan akan menjual lebih banyak mobil. Pada saat yang bersamaan, karena nilai ringgit naik, perusahaan elektronik Malaysia akan lebih sulit berkomptisi dengan perusahaan elektronik korea selatan. Ekspor alat elektronik Malaysia akan turun, sedangkan impor alat elektronik Malaysia naik. Di sini, kuota impor untuk mobil dan munurunkan ekspor neto alat elektronik. Salin itu, ini akan meningkatkan ekspor netoMalaysia ke Jepang dan menurunkan ekspor neto Malaysia ke Korea Selatan. Keseluruhan keseimbangan perdagangan ekonomi Malaysia, bagaimana, tetaplah sama.
Dampak kebijakan perdagangan, oleh sebab itu, lebih bersifat ekonomi makro daripada ekonomi makro. Meskipun pendorong kebijakan perdagangan terkadang memberikan klaim (salah) bahwa kebijakan ini dapat mengubah keseimbangan perdagangan negara, mereka biasanya lebih bermotivasi oleh perhatian kepada perusahaan atau industri tertentu. Seharusnya orang tidak terkejut, misalnya, saat mendengar eksekutif dari perusahaan mobil Malaysia mengadvokasikan kuota impor
terhadap mobil – mobil Jepang. Para ekonom hampir selalu menentang kebijakan semacam itu. Perdagangan bebas memperkenankan ekonomi mengkhususkan untuk melakukan yang terbaik, membuat penduduk di semua negara lebih sejahtera. Pembatasan perdagangan menghalangi keuntungan dari perdagangan dan, dengan demikian, mengurangi kemapanan keseluruhan ekonomi.
2.3.3 Ketidakstabilan Politik dan Pelarian Modal
Pada bulan Agustus 1983, ketidakstabilan politik di Filipina, termasuk
pembunuhan pemimpin politik yang terkemuka, membuat pasar finansial dunia gelisah. Orang – orang mulai melihat Filipina sebagai negara yang kurang stabil di bandingkan dengan apa yang sebelumnya mereka pikiran. Mereka memutuskan untuk menarik beberapa aset mereka keluar dari Filipina untuk memindahkannya ke Amerika Serikat dan “tempat berlindung yang aman” lainnya. Pergerakan dana yang besar dan tiba – tiba keluar dari suatu negara disebut dengan pelarian modal (capital flight). Untuk melihat implikasi pelarian modal terhadap ekonomi Filipina, kita lagi – lagi
menggunakan tiga langkah untuk menganalisis perubahan pada keseimbangan, tetapi kali ini kita mengaplikasikan model perekonomian terbuka kita dari prespektif Filipina.
Pertama – tama, perhatikan kurva mana pada model kita yang dipengaruhi oleh npelarian modal. Ketika investor diseluruh dunia memperhatikan masalah politik di Filipina, mereka memutuskan untuk menjual beberapa aset Filipina mereka dan menggunakannya untuk membeli aset AS. Tindakan ini mengingatkan arus keluar modal neto Filipina sehingga memengaruhi kedua pasar dalam model tersebut. Yang paling jelas, ia memengaruhi kurva arus keluar modal dan selanjutnya memengaruhi penawaran mata uang Filipina, peso, di pasar pertukaran valuta asing. Selain itu, karena permintaan untuk dana pinjaman berasal dari investasi domestik dan arus keluar modal neto, pelarian modal memengaruhi kurva permintaan di pasar dana pinjaman.
Sekarang, perhatikan ke arah mana kurva tesebut bergese. Ketika arus keluar modal neto meningkat, ada permintaan yang lebih besar untuk dana pinjaman guna membiayaipembelian aset modal diluar negeri ini. Dengan demikian, seperti yang ditunjukan panel (a) pada figur 7, kurva permintaan dana pinjaman bergeser ke kiri dari D1ke D2. Selain itu, karena arus keluar modal neto lebih tinggi untuk semua tingkat
suku bunga, kurva arus keluar modal neto juga bergeser ke kiri dari NCO1 ke NCO2,
Untuk melihat dampak pelarian modal terhadap perekonomian, kita
membandingkan keseimbangan lama dan baru. Panel (a) pada figur 7 menunjukan bahwa penrmintaan untuk dana pinjaman yang naik menyebabkan tingkat suku bunga di Filipina dari R1menjadi R2 panel (b) menujukan bahwa arus keluar note Filipina naik.
(meskipun kenaikan tingkat suku bunga memang membuat aset Filipina lebih menarik ini hanya mengimbangi sebagian pengaruh pelarian modal terhadap arus keluar modal). Panel (c) menunjukan bahwa kenaikan pada arus keluar modal neto meningkatkan penawaran peso di pasar untuk pasar pertukaran valuta asing dari S1 Ke S2. Artinya, saat
orang – orang mencoba untuk keluar dari aset Filipina, ada ketersediaan peso
menyebabkan peso turun dari E1 ke E2. Dengan demikian, pelarian modal dari Filipina
meningkatkan tingkat suku bunga Filipina dan menurunkan nilai peso di pasar pertukaran valuta asing.Inilah yang diamati pada tahun 1983.
Perubahan harga ini yang dihasilkan dari pelarian modal memengaruhi beberapa besaran ekonomi makro yang penting . turunnya nilai mata uang membuat ekspor lebih murah dan impor lebih mahal, mendorong keseimbangan perdagangan menuju surplus. Pada saat yang bersamaan, kenaikan tingkat suku bunga mengurangi investasi domestik yang memperlambat akumulasi modal dan pertumbuhan ekonomi.
Meskipun pelarian modal memiliki pengaruh yang besar pada negaratempat dimana modal keluar, ia juga memengaruhi negara – negara lain. Ketika modal mengalir keluar dari Filipina ke Amerika Serikat, misalnya, ia memiliki penaruh yang besebrangan terhadap perekonomian di AS, seperti pengaruhnya terhadap
perekonomian Filipina. Khususnya, kenaikan pad aarus keluar modal note Filipina terjadi pada waktu yang sama dengan turunnya arus keluar modal neto AS. Saat ini nilai peso turun dan tingkat suku bunga Filipina naik, nilai dolar naik dan tingkat suku bunga AS turun. Ukuran pengaruh ini terhadap perekonomian AS terbilang kecil, bagaimanapun, karena ekonomi Amerika Serikat sangatlah bedar dibandingkan dengan Filipina.
Peristiwa yang telah kuta gambarkan di Filipina dapat terjadi pad asetiap perekonomian di dunia, dan pada kenyataanya mereka mengalami ini dari waktu ke waktu. Pada 1997, dunia belajar bahwa sistem perbankan dari beberapa perekonomian Asia, termasuk Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia, ada pada atau dekat dengan titik kebangkrutan, dan berita ini mendorong modal keluar dari negara – negara ini. Tahun 1998, pemerintah Rusia gagal membayar utangnya, mendorong para investor internasional untuk mengambil berapa pun uang yang dapat mereka ambil dan lari.
Peristawa yang sama (tetapi lebih rumit) terungkap si Argentina dapa tahun 2002. Pada setiap kasus pelarian modal ini, hasilnyahampir sama dengan yang di presiksi model kita: kenaikan tingkat suku bunga riil dan turunnya nilai mata uang.
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
Ilmu ekonomi internasional merupakan topik yang semakin penting. Semakin banyak orang membeli barang yang dihasilkan di luar negeri dan menghasilkan barang untuk di jual di luar negeri. Melalui reksa dana dan institutif finansial lain, mereka meminjam dan meminjamkan uang di pasar finansial dunia. Sebagai hasilnya, sebuah analisis yang utuh mengenai suatuperekonomian membutuhkan pemahaman mengenai bagaimana perekonomian tersebut berinteraksi dengan perekonomian lain di dunia. Bab ini telah menyediakan model dasar untuk memikirkan ekonomi makro perekonomian terbuka.
Meskipun kajian ilmu ekonomi internasional sangat penting, kita harus hati – hati untuk tidak melebih – lebihkan pentingnya kajian ini. Para pembuat kebijakan dan komentator sering kali cepat menyalahkan orang asing atas persoalan – persoalan yang dihadapi dalam perekonomian suatu negara. Sebaliknya, para ekonomi lebih mungkin menyesali rendahnya tingkat tabungan nasional. Tabungan yang rendah menghalangi pertumbuhan modal, produktivitas, dan standar hidup, tanpa menghiraukan apakah perekonomian tersebut terbukti atau tertutup.
3.2 Saran
Pihak asing merupakan sasaran empuk bagi para politisi karna menyalahkan pihak asing memberikan cara untuk menghindari tanggung jawab tanpa melecehkan pendukungnya di dalam negeri. Oleh karena itu, kapan pun Anda mendengar
perbincangan populer mengenai perdagangan dan keuangan internasional. Penting untuk memisahkan mitos dengan kenyataan. Alat – alat yang telah Anda pelajari pada dua bab terakhir dapat membantu upaya anda tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Mankiw, N. Gregori, Quah, Euston dan Wilson, Peter. 2012. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta Selatan; Salemba Empat.
http://cws.cengage.co.uk/mankiw_taylor/students/exhibits/ch32.ppt (diakses tanggal 3 Mei