• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materials Safety Data Sheet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Materials Safety Data Sheet"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

Materials Safety Data Sheet (MSDS) Bahan Materials Safety Data Sheet (MSDS) Bahan 2.1.1 Asam Asetat (CH

2.1.1 Asam Asetat (CH33COOH)COOH)

Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah

Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimiasenyawa kimia asamasam organik organik  yang dikenal sebagai pemberi rasa

yang dikenal sebagai pemberi rasa asamasam dandan aromaaromadalamdalam makananmakanan.. Asam cukaAsam cuka memiliki rumus empiris C

memiliki rumus empiris C22HH44OO22. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH33

--COOH, CH

COOH, CH33COOH, atau CHCOOH, atau CH33COCO22H. Asam asetat murni (disebutH. Asam asetat murni (disebut asam asetatasam asetat

glasial

glasial)) adalahadalah cairancairan higroskopishigroskopistak bertak berwarnawarna,, dan memiliki titik beku 16.7dan memiliki titik beku 16.7°C°C,, Rumus molekul : CH

Rumus molekul : CH33COOH ; Massa molar : 60.05 g.molCOOH ; Massa molar : 60.05 g.mol-1-1; Densitas : 1.049 g; Densitas : 1.049 g

cm

cm−3−3 cairan dan 1.266 g cmcairan dan 1.266 g cm−3−3padatan ; titik didih : 118.1 °C (391.2 ± 0.6 K)padatan ; titik didih : 118.1 °C (391.2 ± 0.6 K) (244.5 °F) (anonim, 30 oktober 2010).

(244.5 °F) (anonim, 30 oktober 2010). Asam asetat merupakan salah satu

Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilatasam karboksilat paling sederhana, setelahpaling sederhana, setelah asam format

asam format.. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuahLarutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemahasam lemah,, artinya hanya terdisosiasi sebagian

artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadimenjadi ionion HH++dan CHdan CH33COOCOO--. Asam asetat. Asam asetat

merupakan

merupakan pereaksi kimiapereaksi kimia dandan bahan bakubahan baku industriindustriyang penting. Asam asetatyang penting. Asam asetat digunakan dalam

digunakan dalam produksiproduksipolimerpolimer sepertiseperti polietilena tereftalatpolietilena tereftalat,, selulosa asetatselulosa asetat,, dan

dan polivinil asetatpolivinil asetat,, maupun berbagai macammaupun berbagai macam seratseratdandan kainkain.. Dalam industriDalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai

makanan, asam asetat digunakan sebagai pengaturpengatur keasamankeasaman.. Di rumah tangga,Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai

asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak airpelunak air.. Dalam setahun,Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta

kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta tonton per tahun. 1.5 juta ton perper tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil

tahun diperoleh dari hasil daur ulangdaur ulang,, sisanya diperoleh dari industrisisanya diperoleh dari industri petrokimiapetrokimia maupun dari sumber

maupun dari sumber hayatihayati(anonim, 30 oktober 2010).(anonim, 30 oktober 2010).

2.1.2

2.1.2 Kardon Kardon Aktif Aktif 

Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif,

Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenisadalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini

karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapaibisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki

karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-luas permukaan kira-kira sebesar 500 m

kira sebesar 500 m22(didapat dari (didapat dari pengukuranpengukuran adsorpsiadsorpsigasgas nitrogennitrogen)). Biasanya. Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan

beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbondengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri

aktif itu sendiri (anonim, 30 oktober 2010).(anonim, 30 oktober 2010).

Larutan standar dalam memegang peranan yang amat

Larutan standar dalam memegang peranan yang amat penting, hal ini penting, hal ini disebabkandisebabkan larutan ini telah dike

larutan ini telah diketahui konsentrastahui konsentrasi secara pasi secara pasti (artinya ti (artinya konsentrasi larutankonsentrasi larutan standar adalah tepat dan akurat). Larutan standar merupakan istilah kimia standar adalah tepat dan akurat). Larutan standar merupakan istilah kimia yangyang menunjukkan bahwa suatu larutan telah diketahui

menunjukkan bahwa suatu larutan telah diketahui konsentrasinykonsentrasinya.NaOH tidak a.NaOH tidak  dapat dipakai untuk standar primer disebabkan NaOH bersifat higroskopis oleh dapat dipakai untuk standar primer disebabkan NaOH bersifat higroskopis oleh sebab itu maka NaOH harus dititrasi

(2)
(3)

sebagai standar primer. Begitu juga dengan H2SO4 dan HCl t

sebagai standar primer. Begitu juga dengan H2SO4 dan HCl t idak bisa dipakaiidak bisa dipakai sebagai standar primer, supaya menjadi standar sekunder maka larutan ini dapat sebagai standar primer, supaya menjadi standar sekunder maka larutan ini dapat dititrasi dengan larutan standar primer NaCO3 (

dititrasi dengan larutan standar primer NaCO3 (anonim, 30 oktober 2010).anonim, 30 oktober 2010).

2.1.3

2.1.3 Larutan Larutan Standar Standar NaOHNaOH

Rumus molekul NaOH, sifat fisik dan kimia natrium hidroksida : massa molar : Rumus molekul NaOH, sifat fisik dan kimia natrium hidroksida : massa molar : 39,9971 g.mol

39,9971 g.mol-1-1; densitas : 2,1 g.cm; densitas : 2,1 g.cm-3-3; titik leleh : 318°C (591 K) ; titik didih :; titik leleh : 318°C (591 K) ; titik didih : 1390°C (1663 K) ; kelarutan dalam air : 111 g/100 ml

1390°C (1663 K) ; kelarutan dalam air : 111 g/100 ml (20°C) (anonim, 30 oktober(20°C) (anonim, 30 oktober 2010).

2010).

Natrium hidroksida

Natrium hidroksida ((NaOHNaOH)), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis, juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis basa

basa logam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutanlogam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalinalkalin yang kuatyang kuat ketika dilarutkan ke dalam air.

ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang industri,Ia digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi

kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayububur kayu dandan kertaskertas,, tekstil

tekstil,, air minumair minum,, sabunsabun dandan deterjendeterjen.. Natrium hidroksida adalah basa yangNatrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia. Natrium hidroksida murni paling umum digunakan dalam laboratorium kimia. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat

larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembab cair dan secara spontan menyeraplembab cair dan secara spontan menyerap karbonkarbon dioksida

dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panasair dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut

ketika dilarutkan. Ia juga larut dalamdalam etanoletanoldandan metanolmetanol,, walaupun kelarutanwalaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih

NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutankecil daripada kelarutan KOHKOH.. Ia tidak larutIa tidak larut dalam

dalam dietil eterdietil eter dan pelarut non-polar lainnya.dan pelarut non-polar lainnya. LarutanLarutannatrium hidroksida akannatrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas (anonim, 30 oktober 2010). meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas (anonim, 30 oktober 2010).

2.1.4 Indikator pp 2.1.4 Indikator pp

Sifat fisik dan kimia pp :

Sifat fisik dan kimia pp : massa molar : 318,32 g/mol ; massa jenis : 1,277 g/molmassa molar : 318,32 g/mol ; massa jenis : 1,277 g/mol pada suhu 32°C ; titik

pada suhu 32°C ; titik leleh : 262,5°C. Indikator asam-basa (fenoftalen)leleh : 262,5°C. Indikator asam-basa (fenoftalen) menunjukkan bahwa suatu larutan bersifat asam at

menunjukkan bahwa suatu larutan bersifat asam atau basa. Indikator asam-basaau basa. Indikator asam-basa seperti pp (fenoftalen) mempunyai warna tertentu pada trayek pH

seperti pp (fenoftalen) mempunyai warna tertentu pada trayek pH / rentang pH/ rentang pH tertentu => yang ditunjukkan dengan perubahan warna indikator. Kalau indikator tertentu => yang ditunjukkan dengan perubahan warna indikator. Kalau indikator pp, merupakan indikator yang menunjukkan pH basa,

pp, merupakan indikator yang menunjukkan pH basa, karena dia berada padakarena dia berada pada rentang pH antara 8,3 hingga 10,0 (dari

rentang pH antara 8,3 hingga 10,0 (dari tak berwarnatak berwarna –  – merah pink). Kalau padamerah pink). Kalau pada percobaan Anda ketika NaOH diberi fenoftalen, lalu warnanya berubah menjadi percobaan Anda ketika NaOH diberi fenoftalen, lalu warnanya berubah menjadi merah lembayung, maka trayek pH-nya mungkin sekitar 9-10. Indikator ini

merah lembayung, maka trayek pH-nya mungkin sekitar 9-10. Indikator ini tidak tidak  larut dalam air, benzene, tetapi sangat larut dalam etanol dan eter (anonim, 30 larut dalam air, benzene, tetapi sangat larut dalam etanol dan eter (anonim, 30 oktober 2010).

oktober 2010).

2.2

(4)

Adsorpsi atau penyerapan adalah pembentukan lapisan gas pada permukaan Adsorpsi atau penyerapan adalah pembentukan lapisan gas pada permukaan padatan atau kadang-kadang cairan. Dalam proses adsorpsi ada

padatan atau kadang-kadang cairan. Dalam proses adsorpsi ada zat yang terserapzat yang terserap pada suatu permukaan zat lain yang disebut adsorbat, sedangkan zat yang

pada suatu permukaan zat lain yang disebut adsorbat, sedangkan zat yang permukaan

permukaannya dapat menyerap zat nya dapat menyerap zat lain disebut adsorben. Adsorpsi ataulain disebut adsorben. Adsorpsi atau penyerapa

penyerapan berbeda dengan absorpsi atau n berbeda dengan absorpsi atau penyerapan, sebab pada proses absorpsipenyerapan, sebab pada proses absorpsi zat yang terserap menembus ke dalam zat penyerap. Secara kimia absorpsi adalah zat yang terserap menembus ke dalam zat penyerap. Secara kimia absorpsi adalah masuknya gas ke dalam padatan atau lareutan, atau masuknya cairan ke dalam masuknya gas ke dalam padatan atau lareutan, atau masuknya cairan ke dalam padatan. Sedangka

padatan. Sedangkan secara fisika, n secara fisika, absorpsi adalah perubahan energi radiasiabsorpsi adalah perubahan energi radiasi elektromagne

elektromagnetik, bunyi, berkas partikel, dan tik, bunyi, berkas partikel, dan lain-lain ke dalam bentuk energi llain-lain ke dalam bentuk energi lainain  jika dilewatkan p

 jika dilewatkan pada suatu mediumada suatu medium. Bila foton disera. Bila foton diserap akan terjadi suap akan terjadi suatutu peralihan ke keadan tereksitasi (Daintith, 1994 : 35).

peralihan ke keadan tereksitasi (Daintith, 1994 : 35).

Bila pada permukaan antara dua fasa yang bersih (seperti antara

Bila pada permukaan antara dua fasa yang bersih (seperti antara gasgas –  – cairan dancairan dan cairan

cairan –  – cairan) ditambahkan komponen ketiga, maka komponen ketiga inilah cairan) ditambahkan komponen ketiga, maka komponen ketiga inilah yangyang akan teradsorpsi pada permukan dan komponen ini

akan teradsorpsi pada permukan dan komponen ini akan sangat mempengaruhiakan sangat mempengaruhi sifat permukaan. Sebagai contoh bila komponen ketiga tadi adalah n-pentanol ( sifat permukaan. Sebagai contoh bila komponen ketiga tadi adalah n-pentanol ( alcohol rantai pendek ), yang dilarutkan dalam air

alcohol rantai pendek ), yang dilarutkan dalam air maka ketegangan permukamaka ketegangan permukaanan air

air –  – udara akan berkurang karena adanya adsorpsi n-pentanol tadi. Contoh lainudara akan berkurang karena adanya adsorpsi n-pentanol tadi. Contoh lain adalah penambaha

adalah penambahan sabun n sabun untuk menstabilkan emulsi airuntuk menstabilkan emulsi air –  – minyak. Kestabilanminyak. Kestabilan akan meningkat karena dalam kasus ini molekul sabun akan teradsorpsi pada akan meningkat karena dalam kasus ini molekul sabun akan teradsorpsi pada permukan antara kedua cairan dan menurunkan tegangan permukaan. Dalam permukan antara kedua cairan dan menurunkan tegangan permukaan. Dalam kedua kasus diatas, komponen ketiga yang ditambahkan adalah molekul yang kedua kasus diatas, komponen ketiga yang ditambahkan adalah molekul yang teradsorpsi pada permukaan (dan karenanya dinamakan sebagai surface active teradsorpsi pada permukaan (dan karenanya dinamakan sebagai surface active / /  surfaktan) (Bird, 1993: 309).

surfaktan) (Bird, 1993: 309).

Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air

Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk gas-(untuk gas-gas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan

gas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan),tetesan cairan), natrium hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam natrium hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam sulfat (untuk gas-gas

sulfat (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti basa).Dalam proses adsorpsiyang dapat bereaksi seperti basa).Dalam proses adsorpsi dikenal juga kolom adsorpsi dimana kolom adsorpsi itu

dikenal juga kolom adsorpsi dimana kolom adsorpsi itu sendiri adalah suatusendiri adalah suatu kolom atau tabung tempat

kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorbsiterjadinya proses pengabsorbsi (penyerapa

(penyerapan/penggumpalan) dari zat n/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut.yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut. Proses ini dilakukan dengan melewatkan zat

Proses ini dilakukan dengan melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponenyang terkontaminasi oleh komponen lain dan zat tersebut dilewatkan ke kolom

lain dan zat tersebut dilewatkan ke kolom ini dimana terdapat fase cair ini dimana terdapat fase cair daridari komponen tersebut (Warnana 2007:49).

komponen tersebut (Warnana 2007:49). Persyaratan absorben : memiliki

Persyaratan absorben : memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsidaya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar mungkin, selektif, memiliki tekanan uap yang rendah, tidak korosif, yang sebesar mungkin, selektif, memiliki tekanan uap yang rendah, tidak korosif, mempunya

mempunyai viskositas i viskositas yang rendah, stabil secara termis, yang rendah, stabil secara termis, murahmurah (Daintith.1994:34).

(Daintith.1994:34).

Molekul dan atom dapat menempel pada permukaan dengan dua cara. Dalam Molekul dan atom dapat menempel pada permukaan dengan dua cara. Dalam fisisorpsi (kependekan dari adsorpsi fisika), terdapat interaksi van der Waals fisisorpsi (kependekan dari adsorpsi fisika), terdapat interaksi van der Waals antarantar adsorpat dan substrat. Antaraksi van der Waals mempunyai jarak jauh, tetapi

adsorpat dan substrat. Antaraksi van der Waals mempunyai jarak jauh, tetapi lemah, dan energi yang dilepaskan jika partikel terfi

lemah, dan energi yang dilepaskan jika partikel terfisiorpsi mempunyai ordesiorpsi mempunyai orde besaran yang sama dengan entalpi kondensasi. Kuantitas energi sekecil

(5)

diadsorpsi sebagai vibrasi kisi dan

diadsorpsi sebagai vibrasi kisi dan dihilangkan sebagai gerakan termal. Molekuldihilangkan sebagai gerakan termal. Molekul yang melambung pada permukaan seperti batuan itu

yang melambung pada permukaan seperti batuan itu akan kehilangan energinyaakan kehilangan energinya perlahan-laha

perlahan-lahan dan n dan akhirnya teradsorpsi padapermukaan itu, dalam proses akhirnya teradsorpsi padapermukaan itu, dalam proses yangyang disebut akomodasi. Entalpi fisorpsi dapat

disebut akomodasi. Entalpi fisorpsi dapat diukur dengan mencatat kenaikandiukur dengan mencatat kenaikan temperatur sampel dengan kapasitas kalor yang diketahui,

temperatur sampel dengan kapasitas kalor yang diketahui, dan nilai khasnyadan nilai khasnya berada di sekitar 20 kJ mol

berada di sekitar 20 kJ mol-1-1. Perubahan entalpi yang kecil ini ti. Perubahan entalpi yang kecil ini tidak cukup untuk dak cukup untuk  menghasilkan pemutusa

menghasilkan pemutusan ikatan, sehingga molekul n ikatan, sehingga molekul yang terfisisorpsi tetapyang terfisisorpsi tetap mempertahan

mempertahankan identitasnya, walaupun molekul itkan identitasnya, walaupun molekul itu dapat terdistorsi u dapat terdistorsi dengandengan adanya penukaran (Atkins, 1997:285).

adanya penukaran (Atkins, 1997:285).

BAB. 3 METODOLOGI PERCOBAAN BAB. 3 METODOLOGI PERCOBAAN

3.1

3.1 Alat Alat dan dan BahanBahan 3.1.1 3.1.1 Alat Alat ::   Erlenmeyer 250 mlErlenmeyer 250 ml   Buret 50 mlBuret 50 ml 

 Corong gelasCorong gelas 

 Kertas saringKertas saring

3.1.2

3.1.2 Bahan Bahan ::

 Larutan asam asetat 1 NLarutan asam asetat 1 N 

 Larutan standart NaOH 0,5 NLarutan standart NaOH 0,5 N 

 Karbo aktif Karbo aktif  

 Indikator PPIndikator PP

3.2

3.2 Skema Skema KerjaKerja Asam asetat

Asam asetat

 Dilarutkan dalam aquades sebanyak 50 ml dengan normalitas (1 ; Dilarutkan dalam aquades sebanyak 50 ml dengan normalitas (1 ; 0.8 ; 0.60.8 ; 0.6

; 0.4 ; 0.2 ; 0.1). ; 0.4 ; 0.2 ; 0.1).

(6)

 Diambil 10 ml tiap-tiap larutan asam asetatDiambil 10 ml tiap-tiap larutan asam asetat 

 Dititrasi dengan 0.5 N Dititrasi dengan 0.5 N NaOH menggunakan indikator ppNaOH menggunakan indikator pp

Hasil Hasil

Asam asetat Asam asetat

 Diambil setiap larutan sebanyak 25 mlDiambil setiap larutan sebanyak 25 ml 

 Dimasukkan kedalam Dimasukkan kedalam enlemeyerenlemeyer 

 Ditambahkan 1 gram absorben kedalam Ditambahkan 1 gram absorben kedalam masing-masing larutanmasing-masing larutan 

 Dikocok dan ditutup dengan kertas saringDikocok dan ditutup dengan kertas saring 

 Didiamkan selama 30 menitDidiamkan selama 30 menit 

 Diambil 10 ml dari masing-masing filtratDiambil 10 ml dari masing-masing filtrat 

 Diberi indikator 2 tetesDiberi indikator 2 tetes 

 Dititrasi dengan larutan standar 0.5 N larutan NaOHDititrasi dengan larutan standar 0.5 N larutan NaOH

Hasil Hasil

BAB. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil

4.1 Data Hasil PengamatanPengamatan

NO Normalitas NO Normalitas

volum

volum vol vol NaOH NaOH yang yang dibutuhkandibutuhkan asam asetat

asam asetat awal tanpaawal tanpa karbon aktif  karbon aktif  Adsorbsi dengan Adsorbsi dengan karbon aktif  karbon aktif  1 1 1 1 N N 50 50 ml ml 6,4 6,4 ml ml 6 6 mlml 2 2 0.8 0.8 N N 40 40 ml ml 4.1 4.1 ml ml 4 4 mlml 3 3 0.6 0.6 N N 30 30 ml ml 3.9 3.9 ml ml 3,6 3,6 mlml 4 4 0.4 0.4 N N 20 20 ml ml 1,2 1,2 ml ml 2,5 2,5 mlml 5 5 0.2 0.2 N N 10 10 ml ml 1.1 1.1 ml ml 1.3 1.3 mlml 6 6 0.1 0.1 N N 5 5 ml ml 0.7 0.7 ml ml 0.4 0.4 mlml 4.2 Pembahasan 4.2 Pembahasan

Adsorpsi adalah pengumpulan zat terlarut dipermukaan media

Adsorpsi adalah pengumpulan zat terlarut dipermukaan media dan merupakandan merupakan  jenis adhesi y

 jenis adhesi yang terjadi pada zang terjadi pada zat padat atau cat padat atau cair yang kontak deair yang kontak dengan zat-zatngan zat-zat lainnya. Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif,

lainnya. Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatuadalah suatu  jenis karbon y

 jenis karbon yang memiliki luas peang memiliki luas permukaan yang rmukaan yang sangat bessangat besar. Hal ini bisaar. Hal ini bisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut,

dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut, hanya dengan satu gramhanya dengan satu gram karbon aktif, akan didapatkan suatu

karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki material yang memiliki permukaan sebesarpermukaan sebesar 500m

(7)

permukaan saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri.

Adsorpsi yang dipakai pada percobaan kali ini adalah karbon aktif, dmana karbon aktif memiliki sifat-sifat diantaranya sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang melakukan kontak dengan karbon tersebut, baik di udara maupun di dalam air. Larutan asam asetat dapat diserap oleh karbon aktif sehingga asam asetat yang awalnya tidak murni merjadi lebih murni karena zat-zat lain yang ikut pada asam asetat menjadi terserap oleh karbon aktif. Sehingga asam asetat yang semula konsentrasinya tinggi menjadi lebih rendah konsentrasinya.

Apabila luas permukaan pada karbon aktif semakin besar, maka penyerapan yang dilakukan terhadap zat-zat lain juga semakin besar. Karena ruangan yang dimiliki karbon aktif untuk melakukan penyerapan zat-zat semakin besar maka semakin banyak pula zat-zat yang terserap didalamnya, serta semakin cepat pula waktu yang dibutuhkan untuk proses penyerapannya.

Pada percobaan ini dilakukan pengenceran asam asetat agar diperoleh konsentrasi yang berbeda-beda. Pengadukan yang dilakukan setelah penambahan karbon aktif  bertujuan supaya terjadi penyerapan warna dari larutan. Pengadukan larutan

seharusnya menggunakan stirer magnetik agar pengadukan dilakukan pada saat yang bersamaan. Hal ini dimaksudkan agar penyerapan warna dari larutan dengan konsentrasi berbeda memerlukan waktu yang sama. Selain itu, pengadukan

dengan stirer dilakukan untuk efektifitas waktu. Erlenmeyer ditutup dengan kertas saring agar larutan tidak terpecik keluar erlenmeyer serta menghalangi gangguan dari luar sehingga larutan tidak terkontaminasi oleh zat-zat yang dapat

mempengaruhi daya asam asetat oleh karbon aktif. Pengadukan dilakukan selama 30 menit karena dianggap sebagai waktu yang cukup bagus untuk adsorbsi

larutan.

Pada percobaan ini juga terjadi penambahan indikator pada saat melakukan titrasi. Indikator disini berfungsi untuk mengetahui kapan penambahan titran harus

dihentikan dan untuk mengetahui titik ekivalen yaitu jumlah titran sama dengan  jumlah titratnya.Juga untuk menentukan titik akhir yaitu titik dimana titrasi harus

dihentikan karena terjadi perubahan warna. Pada umumnya, titik akhir tidak sama tepat dengan titik ekivalen sehingga terjadi kesalahan titrasi,tetapi kesalahan ini tidak perlu dianggap sebagai suatu kegagalan dalam melakukan titrasi. Pada

percobaan kali ini indikator yang digunakan adalah indikator PP, dimana indikator PP merupakan jenis indikator asam. Dimana pada saat suasana asam indikator PP tidak berwarna, tetapi pada suasana basa indikator PP berubah warna menjadi merah.

Hasil percobaan kami diperoleh berikut : pada konsentrasi 0,1 N nilai ( x/m ) sebesar 0,009 ; konsentrasi 0,2 N nilai x/m sebesar -0,006 ; konsentrasi 0,4 N nilai x/m sebesar -0,039 ; konsentrasi 0,6 N nilai x/m sebesar 0,009 ; konsentrasi 0,8 nilai x/m sebesar 0,003 ; konsentrasi 1 N nilai x/m sebesar 0,012. Menurut teori

(8)

nilai adsorbsi semakin meningkat dengan meningkatnya konsentrasi larutan yang diukur. Hal ini seharusnya didapatkan hubungan grafik yang cukup linier, tetapi dalam percobaan kami didapatkan hasil yang kurang sesuai, yaitu grafik yang diperoleh kurang linier. Didapatkan volume akhir (setelah ditambah adsorben) NaOH yang dibutuhkan lebih banyak daripada volume awal, pada larutan asam asetat dengan konsentrasi 0,4 N yaitu 2,5 mL NaOH sedangkan awalnya hanya dibutuh 1,2 mL NaOH. Begitu juga dengan asam asetat yang memiliki konsentrasi 0,2 N. Pada percobaan ini ada beberapa kesalahan yang dilakukan pada saat

praktikum. Pada saat melakukan titrasi titik ekivalen dan titik akhir terlambat dicapai, hal ini dikarenakan dalam proses pengenceran asam asetat tidak 

dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak tepat pada garis batas labu ukur yang menyebabkan konsentrasi yang diperoleh tidak sesui dengan yang diharapkan. Kesalahan yang lain yaitu pada saat melakukan titrasi, pada saat i ndikator berubah warna,titrasi tidak langsung dihentikan,sehingga titik akhir dan titik ekivalen tidak  sesuai dengan yang diharapkan. Serta pada saat mengocok dan menutup larutan yang berisi asam asetat dengan karbon aktif yang bersifat higroskopis akan

menyerap air yang berupa gas disekitarnya sehingga konsentrasi yang diinginkan terjadi perubahan dan dapat menyebabkan data yang diinginkan tidak valid.

BAB. 5 PENUTUP 5.1 KESIMPULAN

 Karbon aktif berfungsi sebagai adsorben.

 Semakin kecil konsentrasi ( normalitas ) semakin sedikit jumlah NaOH

yang dibutuhkan untuk titrasi, begitu pula sebaliknya semakin semakin besar konsentrasi ( normalitas ) semakin banyak pula jumlah NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi.

 Jumlah NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi asam asetat yang telah

diadsorpsi lebih sedikit dibandingkan jumlah NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi pertama (tanpa karbon).

5.2 SARAN

 Selalu periksa kondisi alat sebelum melakukan percobaan guna

(9)

 Selalu tingkatkan ketelitian dalam pengamatan untuk mendapatkan hasil

yang optimal.

 Ikuti petunjuk asisten dan buku penuntun untuk meminimalisasi

kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Asam Asetat . http://www.id.wikipedia.org/Asam-Asetat diakses tanggal 22 oktober 2010.

Anonim. 2010. Karbo Aktif. http://www.id.wikipedia.org/Karbon-Aktif diakses tanggal 22 oktober 2010.

Anonim. 2010. Natrium Hidroksida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Hidroksida diakses tanggal 22 oktober 2010.

Anonim. 2010. Pheolptealein. http://www.id.wikipedia.org/Phenolptealein diakses tanggal 22 oktober 2010.

Atkins, P. W., 1994, Kimia Fisika, Erlangga, Jakarta.

Dainith, J., 1994, Kamus Lengkap Kimia, Erlangga, Jakarta.

Bird,Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Warnana, Dwa Desa, dkk. 2007.Termodinamika. Jakarta : Universitas Terbuka.

LAMPIRAN PERHITUNGAN

1. Pengenceran Diketahui : N1= 1 N

(10)

V2 = 50 mL  N2= 0.8 N V1 . N1= V2. N2 V1 . 1N = 50 mL . 0.8 N V2 = 40 mL  N2= 0.6 N V1 . N1= V2. N2 V1 . 1N = 50 mL . 0.6 N V2 = 30 mL  N2= 0.4 N V1 . N1= V2. N2 V1 . 1N = 50 mL . 0.4 N V2 = 20 mL  N2= 0.2 N V1 . N1= V2. N2 V1 . 1N = 50 mL . 0.2 N V2 = 10 mL  N2= 0.1 N , V2 = 10 mL

(11)

V1 . N1= V2. N2

V1 . 1N = 100 mL . 0.1 N

V2 = 10 mL

1. Perhitungan Asam Asetat yang diadsorbsi Diketahui : N NaOH = 0.5 N

mKarbon = 1 gram

{60(x-y) . NNaoH /1000} gram

 {60(6.4 -6)0.5N/1000} gram = 0.012 gram Log = -1,92 Log konsentrasi= 0  {60(4,1-4)0.5N/1000} gram = 0.003 gram Log = -2,52 Log konsentrasi= -0,097  {60(3,9-3,6)0.5N/1000} gram = 0.009 gram Log = -2,05

(12)

Log konsentrasi= -0,222  {60(1,2-2,5)0.5N/1000} gram = – 0.039 gram Log = 1,41 Log konsentrasi= -0,391  {60(1,1-1,3)0.5N/1000} gram = – 0.006 gram Log =2,22 Log konsentrasi= -0,699  {60(0.7-0.4)0.5N/1000} gram = 0.009 gram Log = – 2,05 Log konsentrasi= -0,1 GRAFIK

(13)

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103 Vol.12 No. 4 November 2008 109

PENGENALAN MSDS BAHAN KIMIA DALAM PROSES REAKSI BUNSEN

UNTUK MENUNJANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Oleh

Rahayu Kusumastuti, Itjeu Karliana

Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir - BATAN ABSTRAK

PENGENALAN MSDS BAHAN KIMIA DALAM PROSES REAKSI BUNSEN UNTUK

MENUNJANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA. Produksi hidrogen termokimia I-S yang

melibatkan reaksi bunsen saat ini belum dilaksanakan di Indonesia, tetapi masih dalam kajian dan eksperimen di

laboratorium. Dengan demikian, tingkat resiko tersebut belum diketahui. Oleh karena itu diperlukan pemahaman

dan kesadaran terhadap resiko di laboratorium. Untuk memperoleh pemahaman dan kesadaran terhadap resiko di

laboratorium tersebut, sebuah dokumen yang memuat data mengenai sifat dan karakter material, yang di sebut

Material Safety Data Sheet (MSDS) diperlukan. MSDS merupakan dokumen mengenai pengenalan umum, sifat

bahan, cara penanganan, penyimpanan, pemindahan dan pengelolaan limbah buangan bahan kimia. Pada

makalah ini diuraikan tentang pengertian dan evaluasi MSDS terhadap bahan-bahan yang diperlukan pada reaksi

bunsen yaitu iodine (I2), HI ,H2SO4 dan SO2. Dengan MSDS, sifat dan karakter bahan kimia yang digunakan

pada reaksi bunsen yang merupakan bahan tidak mudah meledak, tidak mudah terbakar akan tetapi bersifat

korosif dan reaktif terhadap logam tersebut diketahui. Dengan demikian, perlu perlakuan spesifik terhadap bahan

kimia tersebut yang termasuk bahan berbahaya dan beracun. Pengetahuan, pemahaman dan implementasi

terhadap MSDS dapat menjamin keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium.

Kata kunci: keselamatan kerja, reaksi bunsen, MSDS  ABSTRACT 

 INTRODUCTION MSDS OF MATERIALS IN THE BUNSEN REACTION   PROCESS TO

SUPPORT WORKPLACE SAFETY AND HEALTH. Thermochemical Iodine-Sulfur process for hydrogen

 production with bunsen reaction has not been carried out in Indonesia, but just  stil in the study and experiment 

(14)

in a laboratory. Therefore, its level of risks needs to be evaluated. Consequently, understanding and awareness

of the risks of bunsen reaction process are required in a laboratory. To achieve the understanding and 

awareness on the risks in a laboratory, a document describing data on material  properties, which is usually

called Material Safety Data Sheet (MSDS), is required. MSDS is a document on a general introduction about the

nature of the material, ways of handling, storage, transport and waste management of chemicals. This paper 

describes the understanding and evaluation of the MSDS for the materials needed  in the Bunsen reaction. i.e.,:

iodine (I2), HI, H2SO4 and SO2. By MSDS, the nature and characteristics of  materials, which are not explosive,

not flammable but corrosive and reactive metal are known. Therefore, specific treatment is needed because they

include the on hazardous materials. Understanding and implemention of MSDS can ensure the safety and 

health of working in a laboratory.

Keywords: safety, bunsen reaction, MSDS PENDAHULUAN

Setiap kegiatan kerja selalu diikuti dengan resiko bahaya yang dapat berakibat terjadinya kecelakaan, walaupun demikian terjadinya kecelakaan seharusnya dapat dicegah dan

diminimalisasikan karena kecelakaan tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Terjadinya kecelakaan pada umumnya ditimbulkan oleh beberapa faktor penyebab, oleh karena itu harus diteliti faktorfaktor penyebabnya dengan tujuan untuk 

menentukan usaha-usaha pembinaan dan

pengawasan keselamatan yang tepat, efektif dan efisien sehingga terjadinya kecelakaan dapat dicegah.

Dalam melaksanakan eksperimen, kontak 

terhadap bahan kimia akan terjadi baik langsung maupun tidak langsung. Pengetahuan sifat dan karakter bahan kimia perlu dimiliki mengingat bahan kimia memiliki potensi untuk menimbulkan bahaya baik terhadap kesehatan maupun bahaya kecelakaan. Hal ini dapat dipahami karena bahan kimia dapat memiliki tipe reaktivitas kimia tertentu dan juga dapat memiliki sifat mudah terbakar. Oleh karena itu aktivitas kerja yang selalu

memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja perlu dibudayakan dalam bekerja di

(15)

laboratorium.

Untuk dapat mendukung jaminan kesehatan

dan keselamatan kerja maka para peneliti maupun laboran yang bekerja di laboratorium harus

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103 Vol.12 No. 4 November 2008 110

mengetahui dan memiliki pengetahuan serta keterampilan untuk menangani bahan kimia

khususnya dari segi potensi bahaya yang mungkin ditimbulkan[1]. Informasi atau pengetahuan yang harus diketahui pelaksana di laboratorium kimia dimuat dalam Material Safety Data Sheet (MSDS). Pada kesempatan ini akan dibahas pentingnya

pengenalan MSDS khususnya untuk Iodine (I2), HI dan H2SO4, SO2 untuk mendukung keselamatan kerja pada riset reaksi bunsen dalam rangka mendukung produksi hidrogen termokimia I-S.

Dengan mengetahui sifat dan karakter dari masingmasing bahan tersebut, kita dapat mengetahui

tingkat bahaya yang mungkin timbul jika terjadi kecelakaan.

Produksi hidrogen termokimia I-S saat ini

belum diproduksi di Indonesia,akan tetapi masih dalam kajian dan eksperimen skala laboratorium sehingga belum diketahui tingkat bahaya(2). Teknologi proses produksi hidrogen secara termokimia telah didemonstrasikan di Jepang.

Proses ini hanya membutuhkan energi termal untuk  memecahkan air menjadi hidrogen dan oksigen. Untuk mempermudah proses pemecahan digunakan katalis iodium dan sulfur, oleh karena itu proses ini dikenal sebagai proses I-S (Iodine-Sulphur).

Pemanfaatan energi termal dari suatu reaktor nuklir temperatur tinggi untuk memasok energi yang dibutuhkan dalam pemecahan air secara

termokimia akan meningkatkan efisiensi dari teknologi proses produksi hidrogen.

Teknologi proses produksi hidrogen secara

termokimia dengan proses I-S terdiri dari beberapa komponen proses reaksi kimia yang membentuk  suatu siklus tertutup, yaitu:

Reaksi bunsen

(I2 (l) + SO2 (g) + 2H2O(l) 2HI (aq) + H2SO4 (aq))

Penstabilan produk reaksi bunsen

Pemisahan hasil reaksi Bunsen

(16)

Pemurnian hasil reaksi Bunsen

Dekomposisi hasil reaksi Bunsen

(H2SO4 (aq) H2O (l) + SO2 (g) + ½ O2(g)) dan (2HI (g) H2 (g) + I2 (g))

H2SO4 + 6 HI S + 3 I2 + 4 H2 (reaksi samping - endotermik)

H2SO4 + 8 HI H2S + 4 I2 + 4 H2O (reaksi samping - endotermik) (3)

Dari reaksi tersebut diatas, terlihat bahwa reaksi Bunsen merupakan reaksi utama yang sangat penting dalam proses produksi hidrogen termokimia I-S. Oleh karena itu segala

permasalahan pada reaksi Bunsen harus terlebih dahulu diketahui penyelesaiannya sebelum beranjak  pada tahapan reaksi berikutnya, terutama untuk  mencapai tujuan akhir yaitu mewujudkan proses I-S siklus tertutup dan memproduksi hidrogen secara efisien.

TEORI

 Material Safety Data Sheet (MSDS) MSDS merupakan dokumen yang dibuat khusus tentang suatu bahan kimia mengenai pengenalan umum, sifat-sifat bahan, cara penanganan, penyimpanan, pemindahan dan

pengelolaan limbah buangan bahan kimia tersebut. Berdasarkan isi dari MSDS maka dokumen tersebut sebenarnya harus diketahui dan digunakan oleh para pelaksana yang terlibat dengan bahan kimia tersebut yakni produsen, pengangkut, penyimpan, pengguna dan pembuangan bahan kimia.

Pengetahuan ini akan dapat mendukung budaya terciptanya kesehatan dan keselamatan kerja. Ketersediaan MSDS laboratorium di

lembaga riset saat ini belum memasyarakat padahal ketersediaan MSDS cukup penting dan digunakan  juga sebagai salah satu kriteria laboratorium

standart. MSDS di perguruan tinggi di Indonesia umumnya hanya tersedia di perpustakaan. Saat ini masih banyak peneliti, teknisi laboratorium yang belum begitu mengenal MSDS, meskipun mereka rutin berkecimpung dengan aktivitas yang

melibatkan kontak dengan bahan kimia.

Berdasarkan permasalahan di atas maka diperlukan penyebarluasan informasi tentang MSDS

khususnya mengenai sifat-sifat senyawa Iodin, HI dan H2SO4, SO2 untuk mendukung keselamatan

(17)

kerja pada riset reaksi bunsen sebagai bagian produksi hidrogen melalui proses I-S. Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam MSDS adalah mengenai simbol tanda bahaya. Pada MSDS simbol dikelompokkan menjadi 4 (seperti pada Gambar 2) yaitu bahaya dari segi kesehatan,

kemudahan terbakar, reaktivitas bahan dan bahaya khusus dan digunakan simbol belah ketupat yang terdiri empat bagian. Arti simbol tersebut adalah :

Bagian sebelah kiri berwarna biru

menunjukkan skala bahaya kesehatan

Bagian sebelah atas berwarna merah

menunjukkan skala bahaya kemudahan terbakar

Bagian sebelah kanan berwarna kuning

menunjukkan skala bahaya reaktivitas

Bagian sebelah bawah berwarna putih

menunjukkan skala bahaya khusus lainnya Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

Vol.12 No. 4 November 2008 111

Gambar 2. Simbol belah ketupat untuk MSDS Masing-masing bagian akan terisi dengan

angka skore tertentu dengan nilai 0, 1, 2, 3, atau 4 tergantung dari tingkat bahaya bahan kimia. Skore 0 mengindikasikan bahan kimia tidak berbahaya, sedangkan skore 1 menunjukkan bahaya pada level rendah dan skore 4 menunjukkan bahan tersebut termasuk sangat berbahaya. Detail arti tingkat bahaya tersebut diuraikan pada tebel berikut. MSDS tentang sifat dan karakter dari bahan

yang digunakan untuk produksi hidrogen ini dibuat untuk digunakan sebagai acuan agar setiap

pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan lancer dan aman serta mempertimbangkan aspek 

keselamatan pada personel dan lingkungan. Salah satu permasalahan pada proses reaksi bunsen yang perlu diteliti adalah pengetahuan,pemahaman serta pengimplementasian tentang sifat bahan yang digunakan sebagaimana yang termuat dalam MSDS. Hipotesa untuk mengatasi permasalahan adalah dengan memahami dan

mengimplementasikan sifat bahan, keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium dapat terjamin. Tabel 1. Kategori Tanda Bahaya Pada MSDS(4) Skor Arti

(18)

Bahaya terhadap kesehatan 4

Bahan kimia yang dengan sangat sedikit paparan (exposure) dapat menyebabkan kematian atau sakit parah.

3 Bahan kimia yang dengan sedikit paparan dapat menyebabkan sakit serius atau sakit parah.

2

Bahan kimia yang dengan paparan cukup intens atau berkelanjutan dapat menyebabkan kemungkinan sakit parah atau penyakit menahun.

1 Bahan kimia yang dengan terjadinya paparan dapat menyebabkan iritasi atau sakit.

0

Bahan kimia yang akibat paparan termasuk dalam kondisi terbakar tidak mengakibatkan sakit atau bahaya kesehatan.

Bahaya kemudahan terbakar 4

Bahan kimia yang akan teruapkan dengan cepat atau sempurna pada tekanan atmosfer dan temperatur kamar atau bahan kimia yang segera terdispersi di udara dan bahan kimia tersebut akan terbakar dengan cepat. 3 Bahan kimia berupa cairan atau padatan yang dapat menyala pada semua temperatur kamar.

2 Bahan kimia yang harus dipanaskan atau dikondisikan pada temperatur tinggi tertentu sehingga dapat menyala. 1 Bahan kimia yang harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum nyala dapat terjadi.

0 Bahan kimia yang tidak dapat terbakar. Bahaya reaktivitas

4

Bahan kimia yang secara sendirian memiliki kemungkinan meledak atau terdekomposisi dan

menimbulkan ledakan atau bereaksi pada tekanan dan temperatur normal.

3

Bahan kimia yang secara sendirian memiliki kemungkinan meledak atau terdekomposisi dan

menimbulkan ledakan atau bereaksi tetapi membutuhkan bahan inisiator atau harus dipanaskan pada kondisi

tertentu sebelum inisiasi atau bahan yang bereaksi dengan air dan menimbulkan ledakan.

2

Bahan kimia yang segera menunjukkan perubahan kimia drastis akibat kenaikan temperatur atau tekanan atau

(19)

reaksi secara cepat dengan air dan mungkin membentuk  campuran bahan peledak dengan air.

1

Bahan kimia yang secara sendirian stabil tetapi dapat menjadi tidak stabil akibat kenaikan temperatur atau tekanan.

0 Bahan kimia yang secara sendirian stabil kecuali pada kondisi nyala api dan bahan tidak reaktif dengan air. PEMBAHASAN

Adanya beberapa kecelakaan kerja di

laboratorium dilingkungan puspiptek, serpong inilah yang mendasari kajian dengan topik ini di lakukan. Ledakan dilaboratorium yang

mengakibatkan kebakaran terjadi karena kelalaian personal yang tidak mengindahkan sifat-sifat bahan tersebut atau bahkan kurangnya pengkajian

terhadap MSDS bahan yang digunakan untuk  melakukan experimen. Dengan mengkaji lebih dalam mengenai MSDS, pemahaman karakter serta penanganan bahan tersebut akan lebih optimal. Hal ini agar kesehatan dan keselamatan kerja

dilaboratorium lebih terjamin sehingga kecelakaan bisa diminimalkan.

Pengelolaan bahan kimia yang diperlukan

pada riset proses reaksi bunsen perlu diperhatikan, karena bahan-bahan tersebut tergolong dalam bahan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Bahan yang termasuk dalam kategori B3 perlu penanganan yang lebih spesifik baik dalam penggunaan,

perlakuan, penyimpanan maupun pengangkutannya agar tidak menimbulkan cedera bagi pengguna. Oleh karena itu MSDS memagang penanan penting dalam penanganan bahan dalam kategori B3

tersebut. Dengan mengetahui sifat masing-masing Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

Vol.12 No. 4 November 2008 112

bahan, maka kita akan dapat memperlakukan bahan tersebut sesuai dengan sifat bahan serta

mengantisipasi agar jangan sampai tejadi kecelakaan saat eksperimen berlangsung. Dari daftar MSDS diatas terlihat bahwa

secara umum H2SO4(l) merupakan cairan asam kuat yang pada dasarnya bersifat tidak mudah menyala dan tidak bersifat explosive. Jika bereaksi terhadap logam maka akan mengkorosi logam

(20)

tersebut, khususnya logam alkali. Asam sulfat dapat menyebabkan rasa terbakar jika terjadi kontak dengan kulit, mata serta paru-paru (jika terhirup).

Dalam rangkaian proses produksi hidrogen termokimia I-S yang saat ini di lakukan secara skala laboratorium, asam sulfat dilibatkan dalam kestabilan reaksi bunsen :

{ SO2 + H2O + I2 --- H2SO4 + HI}

dalam reaksi ini tidak memerlukan tekanan tinggi dan temperatur tinggi, tekanan yang digunakan berkisar 1 – 2 atm, serta temperaturnya berkisar 120 oC.

Penanganan asam sulfat dalam reaksi

Bunsen ini tidak boleh mengabaikan MSDS, kaidah-kaidah seperti yang tertera dalam MSDS harus tetap diperhatikan. Letakkan asam sulfat dalam lemari asam, proses pengambilan harus dilakukan dilemari asam dengan memakai pakaian pelindung seperti jas laboratorium, gunakan sarung tangan karet/ gloves (CPE, neoprene, PE) dan

sebaiknya gunakan filter penyerap asap agar paruparu terlindung dari uap asam sulfat, seperti dalam

Tabel 2. Dalam proses pengenceran asam sulfat sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit kedalam air dan bukan sebaliknya karena bersifat

eksotermis.

Tabel 2. Lembar Data Keselamatan H2SO4[5] Identifikasi Bahan:

Nama Prod : Sulfuric Acid (H2SO4)

Penggunaan Bahan : Reagen untuk analisa Sifat Fisik dan Kimia

Bentuk : Cairan

Warna : Tak berwarna Bau : tak berbau

Titik didih: 330 oC330 oC Titik lebur: 10 oC330 Batas ledakan : -Densitas: 1,84

Kelarutan dalam air: Larut dalam air dengan segala perbandingan Tekanan Uap : 1 mmHg (146 oC)))

Identifikasi Bahaya Kesehatan:)

Efek Jangka Pendek (akut):

Menghirup uap asap menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan serta mengganngu paru-paru. Cairan asam dapat

(21)

menyebabkan luka yang parah dan menyebabkan kebutaan jika terkena mata.

Efek jangka panjang (kronis):

Menghirup uap asap menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan serta mengganngu paru-paru.

Nilai ambang batas: 1 mg/m3

Toksisitas : LD50 = 2,14 g/kg (tikus) LC50 = 510 mg/m3 (tikus)

IDHL = 80 mg/m3DLH : 80

Tindakan Pencegahan Kebakaran

Dasarnya tidak mudah menyala. Perkembangan gas atau uap menyala yang berbahaya mungkin terjadi dalam keadaan

kebakaran. Yang mungkin berkembang saat kebakaran: adanya gas Sulfur Oxides.

Tetapi dapat menyala jika bereaksi dengan senyawa organik, seperti gula, selulosa.akan reaktif dengan bubuk zat organik. Reaktifitas

Mengalami peruraian bila kena panas,mengeluarkan gas SO2. Asam encer bereaksi dengan logam menghasilkan gas hidrogen yang eksplosif jika kena api atau panas dan bereaksi hebat ji ka kena air.

Tindakan terhadap tumpahan dan bocoran

Jangan menyentuh tumpahan atau bocoran karena dapat merusak  kulit, pakaian dan dapat merusak lantai. Netralkan dengan larutan soda atau kapur sebelum disiram dengan air. Hati-hati terhadap tempat rendah karena uap lebih berat daripada udara. Gunakan alat pelindung diri dalam menangani tumpahan

Penanganan

Hindari kontak langsung dengan asam, hirup uap atau kabut. Bekerja pada lemari asam atau dengan ventilasi yang baik.

Pengenceran dilakukan dengan menambahkan asam sedikit demi sedikit kedalam air dan bukan sebaliknya karena bersifat

eksotermis. Simpan asam pada wadah yang kuat ditempat berventilasi dan dingin, jauhkan dari air, zat organic mudah terbakar dan logam.

Penyimpanan

Tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Simpan dalam kondisi tertutup rapat pada +15 oC hingga +25 oC. Kontrol Paparan

Pakaian pelindung dipilih secara spesifik untuk tempat bekerja, Pertolongan Pertama

Terhirup : Bawa korban ke tempat segar dan lakukan pengobatan Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

Vol.12 No. 4 November 2008 113

(22)

Paru-paru : Filter penyerap asam atau respirator udara Mata : Safety gloggles dan pelindung muka

Kulit : Gloves (CPE, Neoprene, PE) Pakaian kerja

Terkena mata: Cuci dengan air bersih yang mengalir selama kurang lebih 20 menit dan bawa segera ke dokter

Terkena kulit : Cuci air bersih yang mengalir selama kurang lebih 20 menit dan segera bawa ke dokter

Tertelan : Minum air 1-2 gelas. Cepat segera bawa ke dokter Informasi Ekologi

Asam dalam air limbah dapat mengganggu kehidupan tamnaman dan hewan baik didarat maupun didalam air sehingga ekosistem pada lingkungan akan terganggu. Penetralan menggunakan soda atau air kapur harus dilakukan untuk menjaga agar pH stabil pada angka 7 sebelum dibuang ke lingkungan. Residu netralisasi dapat dicampur dengan tanah atau pasir.

Pemadaman Kebakaran

Pemadaman dapat dilakukan dengan serbuk kimia atau CO2 Kebakaran besar dapat dilakukan dengan air tetapi harus hati-hati karena dapat menimbulkan panas (pemadaman dari jarak jauh). Dapat mengakibatkan luka bakar yang parah.

Penyimpanan bahan sebaiknya dilakukan di wadah yang kuat dilemari asam serta berventilasi yang baik pada temperatur < 25 oC serta jauhkan dari logam dan zat organic , dengan logam akan bersifat reaktif dan korosif, dengan zat organic bersifat mudah terbakar. Asam encer jika bereaksi dengan logam akan menghasilkan hidrogen yang bersifat eksplosif jika terkena api. Limbah asam sulfat sebaiknya di buang di tempat yang telah ditentukan, jangan membuang di aliran air karena akan mengganggu ekosistem.

Pada reaksi bunsen dalam proses produksi hidrogen termokimia I-S, SO2 digunakan pada temperatur + 120 oC dan tekanan 1-2 atm. SO2 merupakan gas berwarna kekuning-kuningan, bau sulfur sangat tajam, merupakan gas yang sangat beracun bahkan mematikan tetapi SO2 tidak 

bersifat explosif dan tidak mudah menyala. Gas ini bersifat reaktif pada tekanan dan temperatur tinggi. Oleh karena itu tabung gas SO2 harus ditempatkan pada tempat dengan temperatur < 71 oC dengan ventilasi yang baik. Tabel 3 menunjukkan lembar data keselamatan untuk SO2.

Tabel 3. Lembar Data Keselamatan SO2[5] Identifikasi Bahan:

(23)

Penggunaan Bahan : Digunakan sebagai bleaching, Reagen, pendingin serta pelarut dan proses dalam industri makanan Sifat Fisik dan Kimia

Bentuk : Gas berwarna atau aerosol Warna : berwarna

Bau : berbau belerang menyengat BM : 64,06

Titik didih : - 10 oC pada 760 mmhg oC330 o Titik lebur : -75,9 oC330

Batas ledakan :

-Densitas : 2,926 g/L 0 oC dan 760 mmHg

Tingkat Penguapan : 40,18 g/m2/s pada 21 oC , 16 km/jam Kelarutan dalam air: 11,9 % ( 15 oC), serta larut dalam alcohol, kloroform, ether, asam asetat.

Tekanan Uap : 1 mmHg (146 oC))) Identifikasi Bahaya

Gas ini tergolong BERBAHAYA. Sangat beracun. Akan berakibat fatal jika terhirup. Tidak menyebabkan terbakar Kesehatan:)

Efek Jangka Pendek (akut):

Menghirup uap asap menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan serta mengganngu paru-paru. Cairan asam dapat menyebabkan luka yang parah dan menyebabkan kebutaan jika terkena mata.

Efek jangka panjang (kronis):

Menghirup uap asap menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan serta mengganngu paru-paru. DLH : 80 Tindakan Pencegahan Kebakaran

Dasarnya Tidak mudah menyala dan tidak mudah meledak. Tabung harus disimpan dalam ruangan dengan ventilasi yang baik (< 71 oC).

Prosedur jika terjadi kebakaran:

Pindahkan tabung SO2 menjauh dari api (jika menungkinkan) dan segera siram dengan air kecuali terjadi kebocoran gas. Reaktifitas

Produk akan stabil dalam kondisi normal.

Hindari kondisi lingkungan pada temperatur dan tekanan tinggi. Gas SO2 sangat reaktif terhadap alkali kuat, bromine

pentaflouride, chlorine triflouride, serbuk-serbuk logam, sodium hidrat, cesium azide, silver azide dan dietil zink membentuk  trioksida belerang dan asam belerang, yang akan dengan cepat berubah menjadi asam sulfat

Tindakan terhadap tumpahan dan bocoran

Jangan menyentuh tumpahan atau bocoran karena dapat merusak  kulit, pakaian dan dapat merusak lantai. Netralkan dengan larutan soda atau kapur sebelum disiram dengan air. Hati-hati terhadap

(24)

tempat rendah karena uap lebih berat daripada udara. Gunakan alat pelindung diri dalam menangani tumpahan

Penanganan dan Penyimpanan

Hindari kontak langsung dengan asam, hirup uap atau kabut. Informasi Toxikologi

Data Karsinogenik: SO2 tidak digolongkan dalam kelompok  Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

Vol.12 No. 4 November 2008 114

Bekerja pada lemari asam atau dengan ventilasi yang baik.

Pengenceran dilakukan dengan menambahkan asam sedikit demi sedikit kedalam air dan bukan sebaliknya karena bersifat

eksotermis. Simpan asam pada wadah yang kuat ditempat berventilasi dan dingin, jauhkan dari air, zat organic mudah terbakar dan logam.

karsinogen.

Data mutagen : SO2 tidak menyebebkan perubahan mutagen/perubahan kromosom pada manusia.

Kontrol Paparan

Kontrol ruangan dalam keadaan ventilasi yang baik. Gunakan pakaian pelindung dipilih secara spesifik untuk tempat bekerja, tergantung konsentrasi dan jumlah bahan berbahaya.

Paru-paru : Filter penyerap asam atau respirator udara Mata : Safety gloggles dan pelindung muka

Kulit : Gunakan pakaian terlindung, Gloves (PVC, Neoprene) Pertolongan Pertama

Terhirup : Bawa korban ke tempat segar dan lakukan

pertolongan bantuan pernafasan (jika diperlukan). Segera bawa ke dokter.

Terkena mata: Cuci dengan air bersih yang mengalir selama kurang lebih 20 menit dan bawa segera ke dokter

Terkena kulit : Cuci air bersih yang mengalir selama kurang lebih 20 menit dan segera bawa ke dokter

Tertelan : Minum air 1-2 gelas. Cepat segera bawa ke dokter Informasi Ekologi

Asam dalam air limbah dapat mengganggu kehidupan tamnaman dan hewan baik didarat maupun didalam air sehingga ekosistem pada lingkungan akan terganggu. Ambang batas yang diizinkan untuk ikan: 3000 μg/L, alga : 500 μg/L

Pemadaman Kebakaran

Pemadaman dapat dilakukan dengan serbuk kimia atau CO2 Kebakaran besar dapat dilakukan dengan air tetapi harus hati-hati karena dapat menimbulkan panas (pemadaman dari jarak jauh). Dapat mengakibatkan luka bakar yang parah.

Gas SO2 ini memang perlu penanganan yang spesifik, karena termasuk gas yang sangat

(25)

berbahaya dan beracun, seperti harus menggunakan safety gloggles dan pelindung muka, pakaian

terlindung, gloves (PVC, neoprene), filter penyerap asam atau respirator udara khusus SO2 karena mempunyai efek yang sangat serius langsung dapat meracuni makhluk disekitarnya. SO2 menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan kenaikan sekresi mucus. Orang yang mempunyai pernapasan lemah sangat peka terhadap kandungan SO2 yang tinggi. Dengan konsentrasi 500 ppm, SO2 dapat

menyebabkan kematian pada manusia. Sulfur

dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Adanya gas ini pada konsentrasi tinggi dapat membunuh

 jaringan pada daun. pinggiran daun dan daerah diantara tulang-tulang daun rusak. Secara kronis SO2 menyebabkan terjadinya khlorosis. Kerusakan tanaman ini akan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara. SO2 diudara akan berubah menjadi asam sulfat[6]. Oleh karena itu, dalam penggunaan SO2 pada ekperimen reaksi bunsen ini perlu kontrol yang spesifik. Hal-hal yang perlu di perhatikan di antaranya adalah regulator pengatur tekanan harus bisa mengatur tekanan sesuai yang diinginkan (1-2 atm), memperhatikan sifat-sifat SO2 sebagaimana tercantum dalam MSDS, Klepklep sambungan harus terjaga baik untuk 

menghindari kebocoran gas SO2 ke lingkungan. Dari reaksi bunsen :

I2 + SO2 + H2O ---- H2SO4 + HI (120oC, 1 atm) terlihat bahwa iodin dan hidrogen iodida bereaksi pada tekanan atmofsir. HI merupakan cairan berwarna keungu-unguan serta berbau iodin menyengat, iodin merupakan padatan berwarna silver, kedua senyawa tersebut pada dasarnya tidak  mudah menyala dan tidak bersifat explosif.

Senyawa tersebut bersifat korosif dan reaktif . Bersifat tidak mudah menyala dan tidak mudah meledak akan tetapi bersifat korosif dan reaktif  terhadap logam. Iodin akan mudah menguap pada suhu kamar menjadi gas ungu biru dengan bau menyengat. Iodin mudah larut dalam kloroform, karbon tetraklorida, atau karbon disulfida yang kemudian membentuk larutan berwarna ungu yang indah. Iodin hanya sedikit larut dalam air. Bahan ini cukup berbahaya terhadap saluran pernafasan, jika menghirup uap dapat mengiritasi paru-paru.

(26)

Bekerja dengan bahan iodin tetap perlu

menggunakan pelindung yang baik berupa pakaian yang spesifik, sarung tangan karet atau neoprene serta pelindung mata. Sehubungan sifat bahan tersebut termasuk dalam bahan berbahaya dan beracun, maka pembuangan limbah perlu tempat khusus karena sangat mengganggu ekosistem. Perlakuan bahan tersebut juga harus dilakukan di lemari asam serta harus mempertimbangkan

ventilasi yang baik di laboratorium terkait. Tabel 4a dan 4b menunjukkan lembar data manajemen HI dan I2.

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103 Vol.12 No. 4 November 2008 115

Tabel 4a. Lembar Data Manajemen HI[5] Identifikasi Bahan:

Nama Prod : Hydrogen Iodine (HI)

Penggunaan Bahan : Reagen untuk analisa Sifat Fisik dan Kimia

Bentuk : Cairan Warna : berwarna Bau : berbau Titik didih: - 35,4 oC C Titik lebur: - 51 oC Batas ledakan : -Densitas: (udara=1) = 4,5 Densitas (air = 1) = 2,8

Kelarutan dalam air: Larut dalam air dengan segala perbandingan Tekanan Uap (20 oC) = 7,5 bar

Identifikasi Bahaya

Berbahaya bagi saluran pernafasan .

Sangat korosif terhadap mata, sistem pernafasan dan kulit Tindakan Pencegahan Kebakaran

Dasarnya Tidak mudah menyala. Perkembangan gas atau uap menyala yang berbahaya mungkin terjadi dalam keadaan

kebakaran. Reaktifitas

Bereaksi dengan beberapa logam, melepaskan hydrogen, gas yang mudah terbakar.

Dengan air menyebabkan korosi terhadap beberapa logam. Dapat bereaksi hebat dengan logam golongan alkali

Tindakan terhadap tumpahan dan bocoran

Jangan menyentuh tumpahan atau bocoran karena dapat merusak  kulit, pakaian dan dapat merusak lantai. Gunakan alat pelindung diri dalam menangani tumpahan

(27)

Penanganan dan Penyimpanan

Simpan dalam kondisi kurang dari 50 oC dan pada kondisi ventilasi yang baik.

Ditempatkan pada tempat yang kedap air, tahan terhadap tekanan dan temperatur

Kontrol Ledakan / Personal Proteksi -Pastikan ventilasi yang baik 

-Lindungi mata, muka, kulit dari cairan HI -Jangan merokok saat menangani HI

-Siapkan selalu tabung oksigen, mungkin suatu saat diperlukan saat terjadi kecelakaan

-Gunakan pakaian yang resisten terhadap HI Kontrol Paparan

Pakaian pelindung dipilih secara spesifik untuk tempat bekerja, tergantung konsentrasi dan jumlah bahan berbahaya.

Paru-paru : Filter penyerap asam atau respirator udara Mata : Safety gloggles dan pelindung muka

Kulit : Gloves (CPE, Neoprene, PE) Pakaian kerja Pertolongan Pertama

Terhirup : Segera berikan pertolongan pernafasan buatan untuk  memberikan oksigen kepada penderita , segera bawa ke dokter Terkena mata/kulit: Cuci dengan air bersih yang mengalir selama kurang lebih 20 menit dan bawa segera ke dokter

Informasi Ekologi

Asam dalam air limbah dapat mengganggu kehidupan tanaman dan hewan baik didarat maupun didalam air sehingga ekosistem pada lingkungan akan terganggu. Dapat merubah pH dalam ekosistem air.

Tabel 4b. Lembar Data Manajemen I2[5] Identifikasi Bahan:

Nama Prod : Iodine

Penggunaan Bahan : Reagen untuk analisa Sifat Fisik dan Kimia

Bentuk : Padatan

Warna : Perak-keunguan Bau : bau iodine

Titik didih: 120 oC330 oC Titik lebur: 0 oC330

Batas ledakan : -Densitas: 1,07

Kelarutan dalam air: larut dalam air yang dididihkan Tekanan Uap : 1 mmHg (146 oC))

Identifikasi Bahaya Kesehatan:)

Efek Jangka Pendek (akut):

(28)

tenggorokan serta mengganngu paru-paru. Efek jangka panjang (kronis):

Menghirup uap asap menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan serta mengganngu paru-paru. : 80

Tindakan Pencegahan Kebakaran

Dasarnya Tidak mudah menyala. Perkembangan gas atau uap menyala yang berbahaya mungkin terjadi dalam keadaan

kebakaran. Reaktifitas

Hindari pencemaran dengan mengaktifkan kembali zat atau bahan-bahan. Jangan mencampur dengan bahan alkali

Tindakan terhadap tumpahan dan bocoran Jika terjadi tumpaha yang disengaja/tidak.

Jumlah kecil, segera ambil dan pindahkan ke tempat yang telah disediakan.

 jangan lupa menggunakan sarung tangan dan pelindung kacamata Penanganan dan Penyimpanan

Jangan disimpan dekat tempat yang sangat panas atau dekat api yang menyala. Simpan ditempat yang tertutup

Pertolongan Pertama

Jika terkena kulit: cuci dengan air

Jika terkena mata: segera bilas dengan air selama 15 menit dan segera hubungi dokter

Jika tertelan: segera minum air putih sebanyak2nya. segera hubungi pusat pengawasan beracun setempat

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103 Vol.12 No. 4 November 2008 116

Kontrol Paparan

Pakaian pelindung dipilih secara spesifik untuk tempat bekerja, tergantung konsentrasi dan jumlah bahan berbahaya.

Perlindungan untuk sarung tangan: karet atau neoprene Perlindungan untuk mata: kacamata pelindung debu untuk  mencegah kontak dengan mata

Pemadaman Kebakaran

Tidak menimbulkan bahaya ledakan dan kebakaran. Pemanasan produk yang akan menghasilkan uap yodium

Informasi Ekologi

iodine dalam air limbah dapat mengganggu kehidupan tanaman dan hewan baik didarat maupun didalam air sehingga ekosistem pada lingkungan akan terganggu.

KESIMPULAN

Para peneliti maupun laboran yang bekerja di laboratorium diharapkan dapat mengerti, memahami serta mengimplementasikan

(29)

dapat mencegah kemungkinan bahaya dan

kecelakaan kerja dilaboratorium. Dengan demikian dapat menjamin keselamatan dan kesehatan kerja dilaboratorium..

DAFTAR PUSTAKA

1. TRIANI, N. dkk, “Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium”, FTK -UI, Indonesia, 2004.

2. ONUKI dkk, ”Thermochemical Hydrogen Production By Iodine-Sulfur Cycle”,

Proceedings 14th World Hydrogen Energy Conference, Montreal, Canada, 2002. 3. PANDIANGAN, T., “ LAK Penelitian Kesetabilan Reaksi Bunsen Pada Proses  Produksi Hidrogen Termokimia”, PTRKN,

April 2008.

4. ANONYMOUS, “ Module 1 the Hazardous  Materials Table”, Research and Special

Programs Administration, Instructor edition; USA, 2002.

5. http://www.msdsonline.com/ 

6. PHIFER, RW., et.al, “ Laboratory Waste  Management ”, A Guidebook, American

(30)

Praktikum Kelarutan Zat (Diagram Terner)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA TERAPAN

KELARUTAN ZAT (DIAGRAM TERNER)

Pembimbing : Iwan

Kelompok : VIII

Penyusun : Tyas Hastya C M W (101411029)

Via Siti Masluhah (101411030) Yuniar Widiyanti (101411031) Yusuf Zaelana (101411032) POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

TEKNIK KIMIA 2011

I. TUJUAN

1. Menentukan kelarutab suatu zat dalam suatu pelarut 2. Menggambarkan fase diagram tiga komponen

3. Menggambarkan tie line pada diagram tiga komponen

II. DASAR TEORI

Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat-zat lain dalam suatu bejana inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh perubahan temperature, tekanan serta konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah yang ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa biner. Banyaknya komponen dalam sistem C adalah jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi semua fase yang ada dalam sistem. Definisi ini mudah diberlakukan jika spesies yang ada dalam system tidak bereaksi sehingga kita dapat menghitung banyaknya.Fasa merupakan keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, tidak hanya dalam komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan fisiknya. Contohnya: dalam sistem terdapat fasa padat, fasa cair dan fasa gas. Banyaknya fasa dalam sistem diberi notasi P. Gas atau campuran gas adalah fasa

(31)

tunggal ; Kristal adalah fasa tunggal dan dua cairan yang dapat bercampur secara total membentuk fasa tunggal. Campuran dua logam adalah sistem duafasa (P=2), jika logam-logam itu tidak dapat bercampur, tetapi merupakan sistem satu fasa(P=1), jika logam-logamnya dapat dicampur. Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W Gibbs menarik kesimpulan tentang aturan fasa yang dikenal dengan Hukum Fasa Gibbs,  jumlah terkecil perubahan bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem

dengan tepat pada kesetimbangan diungkapkan sebagai: V = C – P + 2 Dimana, V = jumlah derajat kebebasan

C = jumlah komponen P = jumlah fasa

Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan komposisi sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap dapat dinyatakansebagai :

V = 3 – P

Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa maka V = 2 berarti untuk menyatakan suatu sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, V = 1; berarti hanya satu komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan diagram fasa untuk diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena itu system tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap punya derajat kebebasan maksimum = 2 (jumlah fasa minimum = 1), maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram terner, diagram tersebut menggambarkan suatu komponen murni. Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dinyatakan dengan istilah persen berat atau fraksi mol. Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan: XA + XB + XC = 1. Diagram fasa yang digambarkan segitiga sama sisi, menjamin dipenuhinya sifat ini secara otomatis, sebab jumlah jarak ke sebuah titik di dalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar dengan sisi-sisinya sama dengan panjang sisi segitiga itu, yang dapat diambil sebagai satuan panjang. Puncak  – puncak dihubungi ke titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu : Aa, Bb,Cc. Titik nol mulai dari titik a,b,c dan A,B,C menyatakan komposisi adalah 100% atau 1,

(32)

 jadigaris Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi A,B,C merupakan konsentrasi A,B,C.Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saing larut antara zatcair tersebut dan suhu percobaan. Apabila pada suhu dan tekanan yang tetap digunakan kurva bimodal untuk  menentukan kelarutan C dalam berbagai komposisi A dan B. Pada daerah didalam kurva merupakan daerah dua fasa, sedangkan yang di luarnya adalah daerah satu fasa.Untuk  menentukan kurva bimodal yaitu dengan menambahkan zat B ke dalam campuran A dan C

Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling larut sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau memperkecil daya saling larut A dan B.

Pada percobaan ini hanya akan ditinjau sistem yang memperbesar daya saling larut A dan B. Dalam hal ini A dan C serta B dan C saling larut sempurna. Kelarutan cairan C dalam berbagai komposisi campuran A dan B pada suhu tetap dapat digambarkan pada suatu diagram terner. Prinsip menggambarkan komposisi dalam diagram terner dapat dilihat pada gambar (1) dan (2) di bawah ini.

Gambar 1

Titik A, B dan C menyatakan kompoenen murni. Titik-titik pada sisi Ab, BCdan Ac menyatakan fraksi dari dua komponen, sedangkan titik didalam segitiga menyatakan fraksi dari tiga komponen. Titik P menyatakan suatu campuran dengan fraksi dari A, B dan C masing-masing sebanyak x, y dan z.

(33)

Gambar 2

Titik X menyatakan suatu campuran dengan fraksi A = 25%, B = 25%, dan C = 50%. Titik-titik pada garis BP dan BQ menyatakan campuran dengan perbandingan dengan jumlah A dan C yang tetap, tetapi dengan jumlah B yang berubah. Hal yang sama berlaku bagi garis-garis yang ditarik dari salah satu sudut segitiga kesisi yang ada dihadapannya. Daerah didalam lengkungan merupakan daerah dua fasa. Salah satu cara untuk menentukan garis binoidal atau kurva kelarutan ini ialah dengan cara menambah zat B ke dalam berbagai komposisi campuran A dan C. Titik-titik pada lengkungan menggambarkan komposisi sistem pada saat terjadi perubahan dari jernih menjadi keruh. Kekeruhan timbul karena larutan tiga komponen yang homogen pecah menjadi dua larutan konjugat terner.

III. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan Bahan yang dipaka Erlenmeyer 100ml Asam asetat glacial

Erlenmeyer 50ml Kloroform

Buret 25ml Aquadest

Corong pisah NaOH standard

(34)

I. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN 1. Penentuan Kurva campuran kloroform, As. asetat, dan air

Berat jenis Kloroform : 1.48 gr/ml Berat jenis As.aetat glacial : 1.05 gr/ml Berat jenis air : 1 gr/ml

kloroform Asam asetat aquadest

Konsentrasi Volume (ml) Massa (gr) Volume (mL) Massa (gr) Volume (mL) Massa (gr) 10% 2 2,96 18 18,9 20 20 20% 4 5,92 16 16,8 9,6 9,6 30% 6 8,88 14 14,7 6,2 6,2 40% 8 11,84 12 12,6 4,0 4 50% 10 14,80 10 10,5 2,1 2,1 60% 12 17,76 8 8,4 0,9 0,9 70% 14 20,72 6 6,3 0,4 0,4 80% 16 23,68 4 4,2 0,1 0,1 Erlenmeyer 1 Erlenmeyer 2 Erlenmeyer 1 + isi Erlenmeyer 2 +isi Titrasi 1 Titrasi 2 62,154 gr 59,08 102,530 gr 83,337 gr 2 ml 6,9 ml  Pada konsentrasi 10% : % berat kloroform = = = 7,07 % % berat As.asetat glacial =

=

= 45,15%

% berat aquadest =

=

(35)

 Pada konsentrasi 20% :

% berat kloroform =

=

= 18,32%

% berat As.asetat glacial =

= = 51,98% % berat aquadest = = = 29,70% Pada konsentrasi 30 % : % berat kloroform = = = 29,82 %

% berat As.asetat glacial =

= = 49,36 % % berat aquadest = = = 20,82 %  Pada konsentrasi 40 % : % berat kloroform =

(36)

=

= 41,63 %

% berat As.asetat glacial =

= = 44,30% % berat aquadest = = = 14,06%  Pada konsentrasi 50 % : % berat kloroform = = = 54,01%

% berat As.asetat galasial =

= = 38,32% % berat aquadest = = = 7,66%  Pada konsentrasi 60 % : % berat kloroform = = = 65,63%

(37)

% berat As.asetat glacial = = = 31,04% % berat aquadest = = = 3,33%  Pada konsentrasi 70 % : % berat kloroform = = = 75,56%

% berat As.asetat glacial =

= = 22,98 % % berat aquadest = = = 1,46%  Pada konsentrasi 80% : % berat kloroform = = = 84,63 %

% berat As.asetat glacial =

(38)

= 15,01 %

% berat aquadest =

= = 0,36 % Diagram Tiga Komponen

Percobaan 2 (Penentuan Tie line) No. Titik awal pada

garis kesetimbangan Kloroform % b/b

Asam Asetat

Glasial % b/b Air % b/b

1 1 7.07 % 45.15 % 47.78 %

2 8 84.63 % 15.01 % 0.36 %

Berat Komponen Setelah Campuran =

=

2,047 Panjang ruas air.M = 2

(39)

Mol asam asetat glacial

Massa asam asetat glacial : 2 ml x 1.05 gr/ml = 2.1 gr Mol asam asetat glacial =

=

= 0.035 mol Mol NaOH

Mol NaOH pada lapisan atas : 6,9 ml x 10 M = 0,069 mol Mol NaOH pada lapisan bawah : 2 ml x 10 M = 0,02 mol Mol total NaOH : 0,069 + 0,02 = 0,089 mol

II. PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dilakukan percobaan mengenai diagram terner sistem zat cair tiga komponen dengan metode titrasi. Percobaan ini bertujuan untuk  membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam campuran dua cairan tertentu. Dimana dalam hal ini cairan yang dipergunakan sebagai cairan A adalah

(40)

CHCl3, cairan B adalah Aquadest, dan cairan C adalah asam asetat. Prinsip dasar

dari percobaan ini adalah pemisahan suatu campuran dengan ekstraksi yang terdiri dari dua komponen cair yang saling larut dengan sempurna. Pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut yang tidak larut dengan sempurna terhadap campuran, tetapi dapat melarutkan salah satu komponen (solute) dalam campuran tersebut. Cairan yang digunakan dalam percobaan ini adalah air (aquadest), kloroform (CHCl3), dan asam asetat. Metode titrasi ini digunakan

CHCl3 dan asam asetat yang saling melarut yang kemudian dititrasi dengan zat

yang tidak larut dengan campuran tersebut yaitu air aquadest.

Pada percobaan pertama, cairan A dan C dicampur dengan variasi perbandingan volume, yaitu: 2:18 ; 4:16 ; 6:14 ; 8:12 ; 10:10 ; 12:8 ; 14:6 ; dan 16:4 ml. Dari percobaan, cairan A dan C mampu melarut dengan baik. Hasil tersebut diperoleh karena antara CHCl3 dengan asam asetat dapat saling berikatan.

Dimana, CHCl3 dapat berikatan di sekitar gugus metil dari CH3COOH yang

bersifat non-polar pada gugus CH3-nya.

Ketika titrasi dengan aquades dilakukan, terjadi pemisahan diantara campuran CHCl3 dengan asam asetat, hal ini dikarenakan asam asetat membentuk 

ikatan hidrogen yang lebih kuat dengan molekul air pada bagian – OH dari gugus –  COOH asam asetatnya. Oleh karena itu, asam asetat yang awalnya berikatan dengan CHCl3 akan terpisahkan dan berikatan dengan air. Hal ini disebabkan

karena sifat CHCl3 yang tidak melarut dengan air sehingga CHCl3 yang mulanya

berikatan dengan CH3COOH akan terlepas dan terpisah membentuk 2 larutan terner terkonjugasi yang ditandai dengan terbentuknya larutan yang keruh. Karena kemampuannya yang dapat melarut dengan air dan juga CHCl3, maka Asam

Asetat Glasial (CH3COOH) dikenal sebagai pelarut yang bersifat semi-polar. Ketika campuran asam asetat dan CHCl3 dititrasi dengan aquades, volume titran

I= 20 ml ; volume titran II= 9,6 ml ; volume titran III= 6,2 ml ; volume titran IV= 4,0 ml ; volume titran V= 2,1 ml ; volume titran VI = 0,9 ml ; volume titran VII = 0,4 ml dan volume titran VIII = 0,1 ml ditemukan keadaan campuran dalam keadaan keruh.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan adsorpsi karbon aktif batang pisang terhadap ion logam Cr(VI) dengan melihat konsentrasi awal dan waktu kontak pada adsorpsi

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan adsorpsi karbon aktif batang pisang terhadap ion logam Cr(VI) dengan melihat konsentrasi awal dan waktu kontak pada adsorpsi

adsorpsi ion Al dan Fe oleh karbon aktif Dalam Gambar juga terlihat waktu kontak yang relatif singkat dapat menyebabkan proses adsorpsi belum optimal hal ini disebabkan

adsorpsi ion Al dan Fe oleh karbon aktif Dalam Gambar juga terlihat waktu kontak yang relatif singkat dapat menyebabkan proses adsorpsi belum optimal hal ini disebabkan

Untuk penentuan model isoterm adsorpsi logam Fe (II) pada karbon aktif dari ampas tebu, data yang diperoleh pada percobaan 2.1.3 diolah dengan ketentuan

Dibandingkan dengan karbon aktif - metanol,walaupun kedua pasangan memiliki panas adsorpsi yang sama, namun pasangan karbon aktif/ amonia memiliki keuntungan dari tekanan

Karbon aktif adalah jenis adsorben yang paling banyak digunakan pada sistem adsorpsi gas alam, hal tersebut dikarenakan karbon aktif memiliki volume mikropori dan

Penentuan waktu kontak optimum adsorpsi bertujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh adsorben arang aktif kulit buah kakao dalam menyerap Cr total secara