TINJAUAN PUSTAKA. Keadaan Umum Lokasi Asal Induk Domba

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

3 TINJAUAN PUSTAKA

Keadaan Umum Lokasi Asal Induk Domba

Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol (UP3J) merupakan areal peternakan domba milik Institut Pertanian Bogor (IPB) dibawah pengelola Fakultas Peternakan yang terletak di desa Singasari Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. UP3J disamping dikelola untuk tujuan komersil juga digunakan sebagai sarana pendidikan dan penelitian terutama pada bidang peternakan, sebagai tempat praktek kerja lapang bagi mahasiswa. UP3J memiliki luas areal 169 hektar, terdiri atas 20% kondisi lahan datar, 60% bergelombang dan 20% curam dan lembab, dilengkapi dengan padang penggembalaan dengan tanaman utama Brachiaria Humidicola, kebun rumput, sarana dan prasarana di UP3J-IPB dalam penunjang kegiatan peternakan.

Secara geografis UP3J terletak antara 60LU dan 106, 530BT pada ketinggian 70 m diatas permukaan laut. Kondisi iklim di UP3J secara umum dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu bulan basah dan bulan kering. Bulan kering terjadi antara Maret-Oktober dan bulan basah antara November-februari.

Tabel 1. Kondisi iklim UP3J

Kondisi iklim Bulan basah Bulan kering

Curah hujan (mm/bulan) 457,33 182,22

Suhu maksimum (0C) 30,77 33,63

Suhu minimum (0C) 22,15 21,78

Suhu basah (0C) 26,90 28,95

Suhu kering (0C) 25,81 26,29

Kelembapan (%) 92,36 91,54

Kecepatan angin (m/jam) 3479,33 1848,89

Sumber : UP3J (2007)

Domba ekor tipis yang terdapat di UP3 Jonggol sebanyak 670 ekor. Domba Jonggol diharapkan dapat dikembangkan menjadi domba lokal spesifik yang adaptif dengan lingkungan tropik. Selain itu UP3 Jonggol ditanami hijauan yaitu rumput

(2)

4 seperti rumput brachiaria humidicola dan legum dengan beraneka ragam spesies yang berpotensi sebagai sumber pakan domba.

Potensi Domba Lokal Indonesia

Domba Ekor Tipis merupakan domba umum di Propinsi Jawa Barat yang telah beradaptasi dengan baik dengan kondisi panas dan kelembapan tinggi. Biasanya dipelihara secara tradisional oleh keluarga petani dengan skala pemeliharaan kecil (Bradford dan Inounu, 1996).

Di Indonesia, domba ekor tipis memiliki keistimewaan umur pubertas dicapai lebih awal (Sutama, 1992), tidak mengenal sifat kawin musiman sehingga sangat menguntungkan untuk kondisi tropis dan dapat beranak banyak (peridi) dan dapat bunting kembali setelah sebulan melahirkan (Diwyanto dan Inounu, 2001).

Ternak domba di Indonesia sebagian besar dipelihara di pedesaan. Masalah produksi ternak domba di pedesaan adalah rendahnya tingkat reproduksi induk domba, hal ini diduga karena rendahnya tingkat kelahiran per tahun, panjangnya selang beranak, tipe kelahiran anak umumnya tunggal dan tingginya tingkat kematian.

Ternak yang memiliki mutu genetik tinggi, baik untuk sifat produksi maupun sifat reproduksi akan mempunyai tingkat produktivitas lebih tinggi dibandingkan rataan populasi. Domba ekor tipis ialah komoditas ternak yang akan ditingkatkan mutu genetiknya, karena domba ekor tipis mempunyai pertambahan bobot badan dan sifat prolifik lebih rendah daripada domba ekor gemuk.

Sumantri et al. (2007) menyatakan bahwa domba lokal mempunyai posisi yang sangat strategis di masyarakat karena mempunyai fungsi sosial, ekonomis, dan budaya serta merupakan sumber gen yang khas untuk digunakan dalam perbaikan bangsa domba di Indonesia melalui persilangan antar bangsa domba lokal dengan domba impor. Selain itu, domba juga termasuk ternak penghasil daging yang sangat potensial.

Konsumsi

Menurut Tillman et al. (1998), konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi. Konsumsi merupakan faktor yang penting dalam

(3)

5 menentukan produktifitas ruminansia dan ukuran tubuh ternak sangat mempengaruhi konsumsi pakan (Aregheore, 2000), karena dengan mengetahui tingkat konsumsi pakan dapat ditentukan kadar suatu zat makanan dalam ransum untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi (Parakkasi 1999). Semakin baik kualitas makanannya, semakin tinggi konsumsi ransum ternak (Parakkasi, 1998).

Konsumsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam ternak itu sendiri seperti jenis kelamin, bobot badan, nafsu makan, kesehatan dan kondisi ternak. Faktor eksternal berasal dari pakan dan lingkungan sekitar dimana ternak tersebut hidup, konsumsi pakan juga dipengaruhi oleh palatabilitas. Menurut Parakkasi (1999), jumlah pakan yang diberikan pada ternak sehari-hari harus lebih banyak dari kebutuhan hidup pokok agar ternak tidak mengalami kesulitan produksi. Kebutuhan bahan kering untuk domba fase pertumbuhan atau dengan bobot badan sekitar 15-25 kg adalah 3% dari bobot badannya atau sekitar 400-500g/ekor/hari (NRC, 2006). Sitepu (2011) dalam penelitiannya melaporkan, pemberian rumput dan konsentrat secara terpisah dengan rasio 40:60 menghasilkan konsumsi bahan kering rumput berkisar 207,57-216,81 g/e/h dan konsumsi bahan kering konsentrat berkisar 311,36-325,21 g/e/h.

Sulistyowati (1999) dalam penelitiannya melaporkan bahwa ransum yang terdiri dari hijauan dengan jumlah yang rendah dan konsentrat dengan jumlah yang tinggi ternyata mampu meningkatan konsumsi bahan kering maupun bahan segar konsentrat. Konsumsi bahan kering rumput berbanding terbalik dengan konsumsi bahan kering konsentrat. Semakin tinggi konsumsi bahan kering konsentrat, menyebabkan konsumsi bahan kering rumput menurun. Freer dan Dove (2002) menyatakan bahwa konsumsi konsentrat melebihi 320 g/h pada domba yang digembalakan dapat menurunkan konsumsi hijauan. Forbes (2007) menyatakan bahwa tingginya propionat yang dihasilkan konsentrat dapat menurunkan kecernaan rumput, sehingga sulitnya rumput yang dicerna pada rumen menyebabkan konsumsi bahan kering rumput rendah.

Konversi Pakan

Konversi ransum adalah salah satu parameter untuk mengetahui efisiensi penggunaan makanan. Konversi pakan ialah banyak zat makanan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk. Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang

(4)

6 dikonsumsi untuk mendapatkan kenaikan satu satuan bobot hidup (Parakkasi,1998). Efisiensi dari penggunaan pakan termasuk dalam program pemberian pakan yang diukur dari konversi pakan atas bobot badan hidup domba. Konversi pakan ditentukan oleh beberapa faktor yaitu suhu lingkungan, potensi genetik, nutrisi pakan, kandungan energi dan penyakit (Parakkasi, 1999). Konversi pakan juga dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi, bobot badan, gerak atau aktivitas tubuh, musim dan suhu dalam kandang.

Kualitas pakan yang dikonsumsi oleh ternak semakin baik maka semakin efisien dalam penggunaan pakan (Parakkasi, 1999). Faktor-faktor yang berpengaruh pada konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan juga berpengaruh terhadap konversi ransum. Semakin timggi nilai konversi ransum berarti efisiensi penggunaan ransum semakin rendah, dan semakin rendah nilai konversi ransum berarti ransum yang dibutuhkan untuk menaikkan bobot badan persatuan berat semakin sedikit.

Pertambahan Bobot Badan Harian

Salah satu kriteria yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan adalah dengan pengukuran bobot badan. Pertambahan bobot badan adalah kemampuan ternak untuk mengubah zat-zat nutrisi yang terdapat dalam pakan menjadi daging. Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas bahan makanan ternak. Menurut NRC (2006) pertambahan bobot badan harian domba sekitar 100 g/ekor/hari, sedangkan menurut Tomaszewska et al. (1993) pertambahan bobot badan harian domba untuk daerah tropis adalah 70 g/ekor/hari.

Pertumbuhan selanjutnya didefinisikan sebagai perubahan ukuran yang meliputi perubahan bobot hidup, bentuk dimensi linier dan komposisi tubuh termasuk perubahaan organ-organ dan jaringan tersebut berlangsung secara gradual hingga tercapai ukuran dan bentuk karakteristik masing-masing organ dan jaringan tersebut (Soeparno,1994). Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas ransum yang diberikan.. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam laju pertambahan bobot badan adalah genetik dan lingkungan. Faktor genetik berhubungan dengan kecepatan dan sifat tumbuh yang diwariskan oleh tetuanya dan jenis ternak. Faktor lingkungan diantaranya adalah manajemen pemeliharaan dan pakan (Church, 1991).

(5)

7 Bahan Pakan

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya (Tillman et al., 1998). Adapun bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

Rumput Lapang

Rumput lapang adalah campuran dari beberapa jenis rumput lokal yang umumnya tumbuh secara alami dengan daya produksi dan kualitas nutrien yang rendah. Rumput lapang banyak terdapat di sekitar sawah, pegunungan , tepi jalan, dan semak-semak. Wiradarya (1989) menyatakan bahwa rumput lapang mudah diperiksa, murah, dan pengelolaannya mudah. Pemberian rumput lapang segar sebagai pakan cukup baik dalam produksi maupun reproduksi selama pemeliharaan. Jagung

Jagung adalah bahan makanan yang sangat baik untuk ternak. Jagung sangat disukai ternak dan pemakaiannya dalam ransum ternak tidak ada pembatasan, kecuali untuk ternak yang akan digunakan sebagai bibit. Dalam peternakan, jagung digunakan sebagai bahan utama pembuat konsentrat. Jagung digunakan sebagai bahan makanan sumber energi karena mengandung TDN sebesar 80,80% (Sutardi, 1981). Jagung kaya energi dan rendah dalam serat dan serta mineral. Jagung merupakan sumber energi tercerna yang unggul tetapi jagung rendah protein dan proteinnya berkualitas rendah (defisien lisin), protein jagung sekitar 8,5% (NRC, 1994).

Bungkil Kelapa

Bungkil kelapa merupakan hasil ikutan yang didapat dari ekstraksi daging buah kelapa segar/kering (SNI, 1996). Bungkil kelapa dapat digunakan untuk mensuplai sebagian protein yang diperlukan untuk ternak (Pond et al., 1995). Tillman et al. (1998) menyatakan bungkil kelapa memiliki komposisi kimia yang bervariasi, akan tetapi kandungan zat makanan yang utama adalah protein kasar, yaitu sebanyak 21,6% sehingga bungkil kelapa termasuk sumber protein untuk ternak. Kandungan serat kasar dari bungkil kelapa cukup tinggi, yaitu sekitar 15%

(6)

8 dan ini merupakan sifat dari bungkil kelapa atau ampas bahan makanan yang berasal dari tumbuhan.

Onggok

Onggok merupakan bahan pakan ternak berupa padatan hasil sampingan dari proses pengolahan singkong atau ubi kayu menjadi tepung tapioka. Sebanyak dua per tiga, singkong dikonsumsi oleh manusia dan sisanya digunakan untuk pakan ternak (Nwokoro et al., 2002). Ketersediaan onggok pun terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi ubi kayu (Supriyati, 2003). Produksi singkong di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 21.756.991 (BPS, 2009). Sebagai sumber energi, onggok lebih rendah dibandingkan dengan jagung dan ubi kayu akan tetapi lebih tinggi daripada dedak. Ditinjau dari komposisi zat makanannya, onggok merupakan pakan sumber energi dengan kandungan BETN 86,33%, namun kandungan protein yang rendah (2,21%) disertai dengan kandungan serat kasar yang tinggi (11,16%) (Lubis, et al., 2007).

Molases

Molases merupakan hasil sampingan pada industri pengolahan gula dengan wujud bentuk cair, atau dengan kata lain limbah utama dalam industri pemurnian gula (Cheeke, 1999). Molases atau yang biasa dikenal dengan tetes dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak yang berenergi tinggi. Disamping rasanya manis, keuntungan penggunaan molases untuk pakan ternak adalah kadar karbohidrat tinggi (48-60% sebagai gula), kadar mineral cukup, dan rasanya disukai ternak. Kadar kalium molases yang tinggi dapat menyebabkan diare jika konsumsinya terlalu banyak (Rangkuti et al., 1995).

Urea

Urea merupakan salah satu sumber nitrogen bukan protein (NBP) yang berbentuk kristal putih, bersifat mudah larut dalam air dan mengandung 45% nitrogen (Parakkasi, 1995). Urea dalam proses fermentasi akan diuraikan kembali oleh enzim urease menjadi amonia dan karbondioksida dan selanjutnya amonia akan digunakan untuk menbentuk asam amino. Dalam penggunaannya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi pada penambahan urea yaitu ketersediaan karbohidrat

(7)

9 yang mudah dicerna, harus dicampur dengan baik dengan bahan pakan lain, diberikan pada waktu adaptasi dua sampai dengan tiga minggu, serta pemberiaanya disarankan disertai dengan penambahan mineral (Parakkasi, 1995).

Mineral Mix

Menurut Parakkasi (1999), kebutuhan Ca dan P untuk ternak ruminansia menjadi unsur yang sangat penting diperhatikan pada hampir semua kondisi pemberian pakan. Dari beberapa mineral makro yang dibutuhkan ternak, hanya garam (NaCl), kalsium (Ca), phospor (P), secara rutin ditambahkan ke ransum ternak. Garam merupakan salah satu bahan baku mikro yang dapat digunakan dalam ransum ternak. Garam paling umum terdapat dalam ransum, berasal dari satu sumber, tidak mahal dan relatif mudah diuji. Sifat fisik garam sebagai bahan uji adalah lebih padat, bentuk kubik dan lebih kecil dibanding partikel lain. Pengujian sampel yang mengandung garam dapat dilakukan dengan teknik pengujian Na+ atau Cl- . Garam dapur atau NaCl ini merupakan bahan alami yang di gunakan untuk melengkapi mineral-mineral lainnaya yang dibutuhkan oleh ternak. Dikalsium Fospat (Dicalsium Phospate / DCP) merupakan bahan untuk melengkapi kebutuhan kalsium dan phosphate bagi ternak, DCP yang dibutuhkan adalah 1-2%.

Income Over Feed Cost

Analisis ekonomi sangat penting dalam usaha penggemukan domba, karena tujuan akhir dari penggemukan adalah untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu perhitungan yang dapat digunakan adalah Income Over Feed Cost (IOFC) yaitu pendapatan dari pemeliharaan setelah dikurangi biaya pakan selama penggemukan. Faktor yang dapat berpengaruh penting dalam perhitungan IOFC adalah pertambahan bobot badan selain pemeliharaan, konsumsi pakan dan harga pakan (Mulyaningsih, 2006). Pertumbuhan yang baik belum tentu menjamin keuntungan maksimum, tapi pertumbuhan yang baik dan diikuti dengan konversi pakan yang baik pada serta biaya pakan yang minimal akan mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Sifat Reproduksi Domba Betina

Reproduksi merupakan proses perkembangbiakan suatu makhluk hidup, dimulai sejak bersatunya sel telur makhluk hidup betina dengan sel mani dari jantan

(8)

10 menjadi makhluk hidup baru yang disebut zigot, disusul dengan kebuntingan dan diakhiri dengan kelahiran anak. Daya reproduksi kelompok ternak yang tinggi disertai dengan pengelolaan ternak yang baik akan menghasilkan efisiensi reproduksi yang tinggi pula (Hardjopranjoto, 1995). Prinsip-prinsip reproduksi dan cara pengendaliannya, penyebab menurunnya efisiensi reproduksi, serta cara-cara untuk meningkatnya merupakan hal penting untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam usaha peternakan (Tomaszewska et al., 1991).

Performans reproduksi ternak ruminansia pada daerah tropis umumnya ditentukan oleh empat faktor, yaitu genetik, lingkungan fisik, nutrisi dan manajemen ( Smith dan Akinbamijo, 2000). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam reproduksi adalah dewasa kelamin dan perkawinan pertama, masa dan tanda-tanda berahi serta siklus berahi, saat perkawinan yang tepat di waktu berahi, lama bunting, perkawinan kembali setelah beranak, cara perkawinan, dan kegagalan reproduksi serta penanggulangannya (Ginting dan Sitepu, 1989).

Pubertas

Pubertas atau dewasa kelamin adalah umur atau waktu dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi, atau umur pada saat estrus pertama kali yang disertai ovulasi. Umur dewasa kelamin pada berbagai jenis ternak tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Umur Dewasa Kelamin pada Berbagai jenis ternak

Jenis Ternak Umur Pubertas Variasi

Sapi 12 bulan 6-24 bulan

Kuda 18 bulan 10-24 bulan

Domba 8 bulan 4-12 bulan

Kambing 8 bulan 4-12 bulan

Kerbau 24 bulan 12-40 bulan

Babi 6 bulan 4-8 bulan

Sumber : Partodihardjo (1980)

Pubertas terjadi ketika gonadotropin dihasilkan oleh hypopysis anterior dalam konsentrasi yang cukup tinggi untuk menginisiasi folikel dan ovulasi. Pada hewan jantan pubertas ditadai dengan kemampuan hewan untuk berkopulasi dan menghasilkan sperma disamping perubahan-perubahan kelamin sekunder lain.

(9)

11 Sedangkan pada hewan betina ditandai dengan terjadinya estrus dan ovulasi (Toelihere, 1993). Pubertas pada domba dapat dicapai pada umur bervariasi 6 – 12 bulan atau pada berat sekitar 55-60% dari berat badan dewasa (Sutama et al., 1995).

Beberapa faktor yang mempengaruhi pubertas antara lain faktor ternak itu sendiri dan lingkungan yaitu :

a. Nutrisi

Nutrisi sangat berpengaruh terhadap pubertas, dan merupakan faktor utama dari hewan yaitu bobot badan pada saat pencapaian pubertas.

b. Musim

Musim sangat mempengaruhi pada alat reproduksi hewan. Biasanya ternak birahi pada musim semi, karena untuk menjaga kesehatan serta ketersediaan pakan yang sudah tercukupi.

c. Suhu

Masa pubertas juga dipengaruhi oleh suhu. Suatu lingkungan dengan suhu ideal akan sangat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan suatu ternak terutama pada masa-masa pubertasnya. Suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas (tidak normal) akan mengganggu hal tersebut.

d. Makanan

Pakan yang diberikan atau makanan yang diperoleh oleh ternak baik itu jumlah maupun kualitasnya baik akan mempercepat pubertas.

e. Musim Kawin

Musim kawin juga mempengaruhi pubertas. Ketika musim kawin terjadi banyak ternak yang terangsang baik itu yang sudah dewasa maupun yang belum dewasa sekalipun. Sehingga kondisi tersebut dapat mempercepat pubertas pada ternak yang belum dewasa terutama dewasa kelaminnya. Faktor yang mempengaruhi musim kawin antara lain lamanya siang hari, mekanisme hormonal.

f. Pengaruh Ternak Jantan

Stimulasi pejantan melalui kontak suara, bau, dan fisik terjadi pada sistem hpotalamus dan menyebabkan terjadi sekresi LH dan ovulasi yang menyebabkan terjadinya birahi. (Tomaszewska, 1991).

(10)

12 Pubertas yang lebih awal akan menguntungkan karena dapat mengurangi masa tidak produktif dan memperpanjang masa hidup produktif ternak. Selain itu dapat terjadi peningkatan genetik lebih cepat karena interval generasi berkurang bila dilakukan seleksi dengan baik dan program seleksi yang efektif (Tomaszewska etal., 1991).

Siklus birahi

Hewan betina yang masih dara akan menunjukkan birahi pertama bila berat badannya telah mencapai 55%-60% dari berat badan dewasa serta didukung dengan pemberian pakan yang cukup dan berkualitas baik.

Tanda-tanda berahi yang paling penting adalah domba kelihatan tidak tenang, gelisah dan nafsu makan biasanya turun, vulva tampak bengkak, merah, hangat, dan keluar cairan seperti lendir mirip putih telur dari vagina, bulu dipangkal ekor rontok, dan akan diam bila dinaiki pejantan. Kadang-kadang tanda tersebut tidak jelas dan tipe berahi ini disebut “berahi tenang” atau silent heat (birahi tersembunyi). Tanda-tanda berahi berakhir adalah keluar lendir berwarna kuning dan bercampur darah dari vagina (Ginting dan Sitepu, 1989).

Untuk memudahkan deteksi birahi dan efisiensi perkawinan dapat dilakukan dengan rangsangan birahi (Direktur Jenderal Peternakan, 1991). Cara pendeteksian birahi di lapangan ada 2 (dua) cara, yaitu : Secara manual melihat langsung tanda-tanda birahi pada ternak betina yang dilakukan oleh peternak. Secara alami digunakan pejantan pengusik (teaser), dengan cara memasukkan pejantan ke dalam kandang induk. Pejantan akan mendekati dan menaiki betina, betina yang sewaktu diam dinaiki dan menunjukkan tanda-tanda birahi maka domba betina tersebut sedang birahi.

Siklus berahi merupakan jarak waktu berahi periode pertama dengan berahi periode berikutnya. Jarak berahi terjadi sekitar 11-19 hari dengan rata-rata 16,7 hari (Toelihere, 1985), menurut Partodiharjo (1980) siklus birahi ternak bervarisai seperti yang tercantum pada tabel 3. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi siklus berahi ialah umur ternak, bangsa, perubahan panjang siang dan panjang malam hari, suhu lingkungan, kualitas makanan dan kehadiran pejantan (Tomaszewska et al., 1991). Persentase kebuntingan yang tinggi dapat dicapai apabila dilakukan pada saat yang tepat.

(11)

13 Tabel 3. Panjang Siklus Birahi pada Berbagai Jenis Ternak

Jenis Ternak Panjang Siklus Birahi Variasi

Sapi 21 hari 18-24 hari

Kuda 21 hari 19-21 hari

Domba 16,5 hari 14-20 hari

Kambing 18 hari 19-21 hari

Babi 21 hari 18-24 hari

Anjing - 6-12 bulan

Sumber : Partodihardjo (1980)

Siklus berahi terbagi menjadi empat fase yaitu fase proestrus, fase estrus, fase metestrus dan fase diestrus. Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati. Fase proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Fase estrus merupakan periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Ovulasi berhubungan dengan fase estrus, yaitu setelah selesai fase estrus. Pada fase ini estrogen bertindak terhadap sistem saraf pusat. Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus. Umumnya pada fase ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama fase ini. Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada domba hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk kehamilan.

Umur dan bobot kawin Pertama

Hewan-hewan betina muda tidak boleh dikawinkan sampai pertumbuhan badannya memungkinkan untuk suatu kebuntingan dan kelahiran normal. Hal ini karena dewasa kelamin terjadi sebelum dewasa tubuh tercapai. Umur kawin pertama menjadi perhatian peternak dalam proses reproduksi ternak, karena umur yang terlalu

(12)

14 muda akan menghasilkan keturunan yang kurang baik, walaupun kematangan biologis sudah tercapai namun kematangan fisik belum mendukung karena masih berada pada fase pertumbuhan yang relatif cepat.

Nutrisi sangat berpengaruh terhadap pubertas dan merupakan faktor utama dari hewan tersebut untuk masuk dalam periode pubertas. Meskipun berat badan hewan kurang memenuhi syarat untuk terjadinya birahi pertama kali, maka hewan tersebut walaupun umurnya sudah mencukupi tetap saja tidak akan mengalami masa pubertas.

Kebutuhan Zat Makanan Domba

Kebutuhan zat makanan ternak ruminansia terdiri atas kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi. Zat makanan yang diperlukan ternak dapat dipisahkan menjadi komponen utama antara lain energi, protein, mineral, dan vitamin. Kebutuhan bahan kering dihitung berdasarkan bobot badan, tingkat produksi susu, bulan laktasi, dan lingkungan (NRC, 2001).

Salah satu faktor yang mempengaruhi produktifitas ternak adalah bahan makanan yang meliputi jumlah dan kualitas pakan. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ternak bervariasi antar jenis dan umur fisiologis yang berbeda (Sutardi, 1980). Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi ternak adalah jenis kelamin, tingkat produksi, keadaan lingkungan dan aktivitas fisik ternak (Haryanto, 1992). Kebutuhan nutrisi ternak dapat dikelompokkan menjadi komponen utama yaitu energi, protein, mineral, dan vitamin. Komponen-komponen utama tersebut diperoleh dari zat makanan yang masuk kedalam tubuh ternak.

Pakan yang kurang pada jangka waktu yang lama pada domba betina dapat menghambat timbulnya dewasa kelamin, dan juga dapat menyebabkan siklus berahi yang tidak normal. Pakan dengan kualitas dan kuantitas rendah seperti kekurangan lemak dan karbohidrat dapat mempengaruhi aktivitas ovarium sehingga menekan pertumbuhan folikel dan mendorong timbulnya anestrus, kekurangan protein mendorong terjadinya hipofungsi ovarium disertai anestrus. Oleh karena itu kualitas dan kuantitas pakan sangat penting untuk proses perkawinan pada calon induk domba lokal. Peningkatan konsumsi energi dan protein bereran dalam peningkatan konsentrasi insulin dan insulin growth factor (IGF) dalam darah yang berpengaruh terhadap folikel yang hubungannya dengan hormone FSH dan LH (Pulina, 2004).

(13)

15 Energi, protein, mineral, vitamin, dan air dibutuhkan untuk proses reproduksi secara normal sama halnya dengan kebutuhan nutrisi untuk metabolisme tubuh yang lain (hidup pokok, pertumbuhan, dan produksi susu). Pada dasarnya ternak membutuhkan zat makanan atau energi untuk hidup pokok dan untuk energi cadangan yang akan disimpan dalam jaringan baru dan energi untuk proses-proses metabolism. Secara langsung, nutrisi menyediakan glukosa, asam amino, vitamin, dan elemen kimia esensial. Secara tidak langsung, nutrisi dapat memodifikasi fungsi hormonal, dimana dapat meningkatan kematangan sel telur, ovulasi atau terjadinya birahi, perkembangan embrio, pertumbuhan fetus, dan daya tahan anak yang lahir (Freer dan Dove, 2002).

Kebutuhan Energi

Energi adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan untuk melakukan suatu pekerjaan dan berbagai bentuk kegiatan. Sutardi (1981) menyatakan bahwa energi merupakan hasil metabolisme zat makanan organik yang terdiri atas karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat pada pakan ruminansia merupakan zat makanan yang dominan dalam menyediakan bahan yang bersifat bulky yang berguna untuk memelihara kelancaran proses pencernaan. Energi didapatkan dari hasil metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh ternak itu sendiri. Ternak membutuhkan energi untuk mempertahankan hidupnya dan berproduksi secara normal (Kartadisastra, 1997). Kebutuhan energi ternak untuk hidup pokok adalah jumlah energi dalam pakan yang harus dikonsumsi setiap hari bukan untuk mendapat ataupun kehilangan energi tubuh, energi tersebut digunakan untuk memelihara dan mempertahankan keutuhan tubuhnya. Kebutuhan untuk produksi dan reproduksi adalah energi di atas kebutuhan hidup pokok yang dimanfaatkan untuk proses-proses produksi dan reproduksi (NRC, 2006).

Ensminger (1993) menyatakan bahwa kekurangan energi merupakan masalah defisiensi nutrisi yang umum terjadi pada domba, yang dapat disebabkan oleh kekurangan pakan atau mengkonsumsi pakan dengan kualitas yang rendah. Menurut Tillman et al., (1991) bahwa penggunaan energi tinggi akan merangsang estrus dan memiliki efek positif pada tingkat konsepsi, akan tetapi kekurangan energi akan menghambat pertumbuhan pada hewan muda dan kehilangan bobot badan pada hewan dewasa, serta pencapaian dewasa kelamin.

(14)

16 Berdasarkan NRC (2006) menyatakan bahwa kebutuhan energi pada ternak domba dipengaruhi oleh umur, ukuran tubuh, jenis kelamin, pertumbuhan, kebuntingan, laktasi, dan produksi. Kondisi lingkungan seperti temperatur, kelembapan, dan cuaca juga berpengaruh terhadap kebutuhan energi. Banyak sedikitnya jumlah energi dalam pakan (kandungan bahan kering) berpengaruh pada organ reproduksi dan aktivitas ovarium, bila terjadi ketidak seimbangan energi dalam pakan (intake) dengan energi untuk pertumbuhan akan menurunkan birahi pada ternak muda yang sedang tumbuh. Birahi pertama akan tertunda bila energi yang dikandung dalam pakan sebelum dan sesudah beranak rendah, hal tersebut akan mempengaruhi siklus birahi berikutnya dan akan memperpanjang selang beranak. Kebutuhan Protein

Protein merupakan unsur penting dalam tubuh dan diperlukan terus-menerus untuk memperbaiki sel dalam proses sinteis (NRC, 2001). Berdasarkan NRC (2001) pada saat pertumbuhan seekor ternak membutuhkan kadar protein yang tinggi untuk proses pembentukan jaringan tubuh. Ternak muda memerlukan protein lebih tinggi dibandingkan ternak dewasa karena untuk memaksimalkan pertumbuhannya.

Kebutuhan protein untuk domba dipengaruhi antara lain oleh masa pertumbuhan, umur, fisiologis, ukuran dewasa, kebuntingan, laktasi, kondisi tubuh, dan rasio energi protein (Ensminger, 1990). Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien dan tidak seperti bahan makronutrien lain seperti lemak dan karbohidrat, protein dapat berperan lebih penting dalam pembentukan biomolekul daripada sebagai sumber energi. Protein dapat juga dipakai sebagai bahan bakar jika kebutuhan energi tubuh terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak.

Herman (2003) menyatakan bahwa kebutuhan protein dan pertumbuhan ternak mempunyai hubungan yang erat dengan kebutuhan energi, sehingga energi perlu diperhitungkan. Bila hewan diberi makan protein dan energi yang dihasilkan melebihi kebutuhan hidup pokoknya, maka hewan tersebut akan menggunakan kelebihan zat makanan tersebut untuk pertumbuhan dan produksi (Tillman et al., 1998).

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. akan
Related subjects :