e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 RANCANG BANGUN ALAT PENGIRIS PISANG
Wahyudin van Gobel 1), Yunita Djamalu 2), Evi Sunarti Antu2) 1)
Mahasiswa Politeknik Gorontalo, Kampus Puncak Desa Panggulo Bone Bolango 2)
Tim Pengajar pada Program Studi Mesin dan Peralatan Pertanian, Politeknik Gorontalo
ABSTRAK
Proses pengirisan pisang di Gorontalo pada umumnya masih menggunakan alat sederhana dan manual, karena masyarakat belum begitu faham tentang alat pembuatan pengiris pisang ini dan tingkat efisiensi alat yang masih kurang. Beberapa studi terdahulu yang terkait dengan alat pengiris pisang yang pernah ada masih relatif mahal dan hanya memiliki tiga mata pisau sehingga memperlama proses pengirisan pisang, untuk itu perlu desain ulang agar proses pengiris pisang lebih optimal. Adapun tujuan dari penulis tugas akhir ini adalah sebagai berikut: Merancang bangun suatu model alat pengiris pisang yang mekanis dengan empat mata pisau, membandingkan hasil produksi alat pengiris pisang tiga mata pisau dengan pengiris empat mata pisau. Sistim kerja alat pengiris pisang, motor listrik dijalankan dan setelah putaran stabil, dilakukan dengan cara memasukan buah pisang kedalam corong penampung pisang kemudian di dorong menuju ke mata pisau yang berputar agar pisang teriris kemudian pisang akan keluar melalui corong keluar dengan bentuk pisang yang sudah di iris. Hasil pengujian kapasitas alat pengiris pisang, hasil dari irisan bulat 1 kg menghasilkan waktu rata-rata 62,79 kg/jam, pengujian ke dua untuk hasil irisan memanjang rata-rata 68,36 kg/jam.
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 ABSTRACT
The process of slicing the banana in Gorontalo in general are still using simple tools and manual, because people have not been so understand about this banana slicer tool manufacture and the level of efficiency of the appliance is still lacking. Previous studies related to banana slicer ever still relatively expensive and only has three blades so as to prolong the process of slicing bananas, it is necessary to re-design in order to process more optimal banana slicer. The purpose of the author of this thesis is as follows: Designing wake of a model of a mechanical banana slicer with four blades, comparing the production of banana slicer three blades with four-blade slicer. Employment systems slicer banana, the electric motor is run and after a round stable, done by entering the bananas into the funnel container bananas then pushed toward the blade rotates so that the banana sliced then banana going out through the mouthpiece out with a banana shape that is already in the iris , Results banana slicer capacity testing, the results of round slices 1 kg resulted in an average time of 62.79 kg / h, the test results to two slices lengthwise to average 68.36 kg / hour.
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 I. PENDAHULUAN
Boalemo merupakan salah satu kabupaten yang banyak dijumpai tanaman pisang, tetapi petani umumnya membudidayakan pisang hanya sebagai sampingan saja. Sedangkan pisang dapat diolah berbagai macam makanan untuk membantu perekonomian para petani yang ada di Boalemo, contohnya seperti pembuatan kripik pisang. Pisang merupakan sumber bahan baku bagi industri kecil, pengusaha kripik pisang umumnya membuat kripik pisang dengan pengirisan cara manual dan masih menggunakan tenaga manusia untuk mengiris pisang tersebut dan membutuhkan waktu yang cukup lama serta tenaga yang banyak dalam proses pembuatan kripik pisang, untuk itu dibutuhkan alat teknologi tepat guna yang lebih efisien dan higenis untuk mendapatkan hasil irisan yang sesuai dengan keinginan dengan proses lebih mudah dan relatif cepat yaitu alat pengiris pisang otomatis.
Alat pengiris pisang ini menggunakan empat mata pisau yang dipasang pada piringan yang berputar pada porosnya sebagai media untuk mengiris pisang dengan ukuran ketebalan yang dapat diatur dengan mengatur jarak mata pisau terhadap landasan piringannya. Pada alat ini, penulis menggunakan motor listrik sebagai sumber tenaganya, dengan prinsip kerja merubah energi listrik menjadi energi gerak kemudian energi gerak dari motor listrik tersebut ditransmisikan dengan menghubungkan antara puli pada motor listrik dan puli pada poros piringan pengiris dengan menggunakan sabuk v (v-belt) agar piringan pengiris dapat berputar. Putaran piringan pengiris tersebut nantinya akan
mengiris bahan (pisang). Alat pengiris ini juga dilengkapi dengan hopper sebagai wadah masuknya bahan sehingga bahan lebih mudah teriris dan tidak mudah terlontar ke luar. (Dodi Mowo, dkk., 2012)
Penelitian ini bertujuan untuk membuat alat pengiris pisang mekanis dengan daya 0,25 hp yang di bandingkan dengan alat pengiris pisang otomatis.
II. TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Pisang
Tanaman pisang tumbuh didaerah tropis karena menyukai iklim panas dan memerlukan sinar matahari penuh. Tanaman ini dapat tumbuh di tanah yang cukup air, pada daerah dengan ketinggian sampai 2.000 M dari
permukaan laut.
Umumnya,Pisang merupakan tanaman p ekarangan, walaupun di beberapa daerah sudah di tanam di perkebunan untuk diambil buahnya. Pisang merupakan tanaman yang berbuah hanya sekali, pohon pisang rata-rata antara 2-9 m, berakar serabut dengan batang bawah tanah (bonggol) yang pendek. Dari mata tunas yang ada pada bonggol inilah bisa tumbuh tanaman baru, pisang mempunyai batang semu yang tersusun atas tumpukan pelepah daun yang tumbuh dari batang bawah tanah sehingga mencapai ketebalan 20 -50 cm, daun yang paling muda terbentuk dibagian tengah tanaman keluarnya men ggulung dan terus tumbuh memanjang kemudian secara progresif membuka. (Ardiwahyu144)
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 Pengolahan Pisang
Pisang dapat di olah menjadi berbagai jenis makanan, seperti pisang goreng, jus pisang dan kripik pisang. Selama ini para petani indonesia khususnya di daerah Atinggola mengolah kripik pisang masih dengan cara manual, sehingga timbul suatu inovasi untuk membuat pengiris pisang karena kurangnya alat teknologi tepat guna yang beredar di masyarakat terutama di masyarakat pedesaan. Perancangan alat ini bisa membantu para petani untuk mengolah pisang lebih mudah. Kualitas kripik pisang di tentukan oleh tiga faktor utama yaitu rasa dan kerenyahan serta bentuk irisan yang tidak pecah / rusak. Cara mengiris pisang merupakan salah satu kendala utama untuk menghasilkan kripik pisang yang berkualitas. Kebanyakan industri kecill kripik pisang masih menggunakan cara manual, dengan menggunakan pisau untuk mengiris pisang, proses pengirisan dapat dilakukan dengan mudah. Akan tetapi jika pisang sudah pendek (karena sudah di iris), maka irisan pisang yang dihasilkan banyak yang sobek. Utntuk itu perlu dilakukann perancangan mesin pengiris pisang yang mampu menghasilkan irisan pisang dengan ketebalan yang seragam serta dapat meningkatkan kapasitas produksi.
Untuk itu para pengusaha terutama industri kecil rumah tangga yang ingin mengolah kripik pisang sebagai usaha besar, masih menemukan kendala dalam hal yang di butuhkan untuk proses pengirisan pisang agar hasil irisan lebih baik dan tebal untuk waktu yang lama, untuk itu penulis akan membuat alat teknologi tepat guna yang di desain ulang yang terdiri dari mata pisau yang di pasangkan pada
piringan yang berputar pada posrosnya sebagai media untuk mengiris pisang dengan mengatur jarak mata pisau terhadap landasan piringannya.
Pada alat ini, penulis menggunakan motor listrik sebagai sumber tenaganya dengan prinsip kerja mengubah energi listrik menjadi energi gerak, kemudian energi gerak dari motor listrik tersebut di transmisikan dengan menghubungkan antara pulley pada motor listrik dan pulley pada poros piringan pengiris dengan menggunakan sabuk v (v-belt) agar piringan pengiris dapat berputar, putaran piringan putaran tersebut nantinya akan mengiris pisang.
Alat pengiris pisang ini juga dilengkapi dengan hopper sebagai wadah masuknya bahan sehingga bahan lebih mudah teriris dan tidak mudah terlontar keluar.
Alat pengiris pisang dari PT Agrowindo Dengan 3 Mata Pisau
Alat pengiris pisang merupakan suatu mesin yang digunakan untuk proses pengolahan pisang dalam perajangan. Fungsi mesin pengiris pisang digunakan untuk proses pengirisan ataupun perajangan maupun pemotongan buah pisang menjadi bentuk ukuran yang sama dan serasi. PT. Agrowindo merupakan pabrik pendesain mesin pengiris pisang ini dengan kualitas dan mutu yang bagus. Biasanya masyarakat masih menggunakan cara manual untuk pengirisan pisang yang kinerjanya kurang efektif sebab lebih lama, banyak membutuhkan tenaga serta kurang efisien.
Mesin untuk merajang pisang produksi Agrowindo di desain menggunakan mutu dan kualitas yang baik, material untuk desain mesin
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 pengiris pisang dibuat menggunakan
pilihan bahan stainless steel, bahan berkualitas serta keawetan mesin iris pisang lebih terjaga akan tetapi dalam proses kerjanya alat ini masih menggunakan 3 mata pisau sehingga proses pengirisan masih lama yaitu 1kg dalam waktu 1 menit, di samping itu alat ini juga masih terbilang mahal yakni Rp. 1.600.000 Per satu buah alat.
Gambar 1. Alat pengiris pisang buatan PT Agrowindo
Proses pengirisan pisang dibedakan menjadi dua yang dilihat dari fungsi dan cara kerja alat yakni alat pengiris pisang sitem mekanis dan alat pengiris pisang manual. Adapun alat pengiris pisang mekanis yang sudah ada adalah alat pengiris pisang dengan sistem piringan yang berputar menggunakan 3 mata pisau pada piringan tersebut.
Gambar 2. Alat pengiris pisang manual
sitem maju mundur (Multikarya)
Alat pengiris pisang ini adalah alat pengiris pisang sistem maju mundur seperti halnya alat pengikis es batu. Cara kerja alat ini adalah dengan memasukan buah pisang ditengah, ditekan dan pisang pun akan terpotong menjadi bagian sama besar untuk setiap jepitan.
Adapun kelemahan alat ini adalah masih membutuhkan tenaga manusia dan prosesnya juga relatif besar dengan bahan alat yang masih terbuat dari kayu keras sehingga belum begitu higienis. Bahan Logam Yang Digunakan Logam yang Digunakan Baja Tahan Karat Baja tahan karat (stainless steel) mempunyai seratus lebih jenis yang berbeda - beda. Akan tetapi, seluruh baja itu mempunyai satu sifat karena kandungan kromium yang membuatnya tahan terhadap karat. Baja tahan karat dapat dibagi ke dalam tiga kelompok dasar, yakni baja tahan karat berlapis ferit, berlapis austenit, dan berlapis martensit. Baja tahan karat martensit mengandung 0,1 % C, 13 % Cr, dan 0,5 % Mn ini dapat didinginkan untuk memperbaiki kekuatannya, tetapi tidak menambah kekerasan. Baja ini seringkali disebut besi tahan karat dan digunakan khususnya untuk peralatan gas turbin dan pekerjaan dekoratif. Apabila baja ini digunakan untuk alat-alat pemotong maka terlebih dahulu ditemper atau disepuh pada temperatur sekitar 1800 C, dan jika digunakan untuk pegas terlebih dahulu ditemper pada temperatur sekitar 4500 C (Amanto dan Daryanto, 1999)
Motor Listrik Yang Digunakan Elemen Mesin Motor listrik Motor listrik dapat digolongkan menjadi dua golongan sesuai dengan sumber arus listrik, yaitu motor listrik arus searah atau DC dan motor listrik arus bolak-balik atau AC. Motor listrik AC yang kecil banyak dipakai pada peralatan rumah tangga misalnya alat cukur, alat kecantikan, alat dapur, dan sebagainya. Sedangkan motor listrik yang besar
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 banyak digunakan pada kompresor,
penggiling jagung, dan alat-alat bengkel atau pabrik. Dasar utama yang menyebabkan motor berputar ialah reaksi antar kutub magnet. Kutub yang senama tolak-menolak dan kutub yang tak senama tarik-menarik. Reaksi medan magnet listrik pada stator dan medan magnet penghantar yang dialiri arus listrik (Hartanto, 1997).
Prinsip kerja motor listrik Pada motor listrik tenaga listrik dirubah menjadi tenaga mekanik. Perubahan ini dilakukan dengan merubah tenaga listrik menjadi magnet yang disebut sebagai elektro magnit. Sebagaimana kita ketahui bahwa : kutub-kutub dari magnet yang senama akan tolak-menolak dan kutub-kutub tidak senama, tarik-menarik. Maka kita dapat memperoleh gerakan jika kita menempatkan sebuah magnet pada sebuah poros yang dapat berputar, dan magnet yang lain pada suatu kedudukan yang tetap (Anonimous, 2010).
Motor listrik sering di gunakan sebagai tenaga penggerak dibandingkan dengan jenis tenaga-tenaga yang lain karena:
1. Motor dapat disesuaikan: Motor dapat digunakan di hampir setiap lokasi termaksut di dalam air.
2. Otomatis: Motor lebih mudah dikontrol dengan alat otomatis
3. Rapi: Sebuah unit kecil memperkembangkan sejumlah kekuatan besar secara bersama-sama.
4. Dapat dipercaya: Motor listrik digunakan untuk pekerjaan jarang mengalami gangguan
5. Ekonomis
6. Efisien: Motor listrik memiliki efisiensi 95%.
7. Perawatan mudah: Jika melindungi dari debu dan kotoran, motor hanya membutuhkan sedikit perawatan.
8. Tenang: Motor secara umum lebih tenang daripada mesin yang dijalankan. 9. Aman: Apabila dipasang dengan tepat,
dipelihara, dan digunakan motor sanagat aman di oprasikan.
10. Mudah di oprasikan: Tidak membutuhkan banyak pelatihan untuk mengoprasikan motor (Cooper,1992). Motor listrik mempunyai keuntungan sebagai berikut :
1. 1.Dapat dihidupkan dengan hanya memutar sakelar
2. Suara dan getaran tidak menjadi gangguan
3. Udara tidak ada yang diisap, juga tidak ada gas buang, karena itu tidak perlu mengukur polusi lingkungannya atau membuat ventilasi
4. Motor DC mempunyai daya besar pada putaran rendah. (Soenarta dan Furuhama, 2002).
Mekanisme Pembuatan Alat
Mekanisme Pembuatan Alat Dalam pekerjaan bengkel alat dan mesin, benda kerja yang akan dijadikan dalam bentuk tertentu sehingga menjadi barang siap pakai dalam kehidupan sehari-hari, maka dilakukan proses pengerjaan dengan mesin–mesin perkakas, antara lain mesin bubut, mesin bor, mesin gergaji, mesin frais, mesin skrap, mesin asah, mesin gerinda, dan mesin yang lainnya (Daryanto, 1984).
Motor listrik sering digunakan sebagai tenaga penggerak dibandingkan dengan jenis tenaga-tenaga yang lain karena dapat disesuaikan : motor dapat digunakan di hampir setiap lokasi termasuk di dalam air (Cooper, 1992). Pemasangan puli antara lain dapat
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 dilakukan dengan cara vertikal,
pemasangan puli dilakukan secara tegak di mana letak pasangan puli adalah pada sumbu vertikal. Pada pemasangan ini akan terjadi getaran pada bagian mekanisme serta penurunan umur sabuk (Mabie and Ocvirk, 1967).
Perencanaan Komponen Alat Pully
Pully merupakan bagian terpenting dari mesin-mesin sehingga pembuatan pully perlu dipertimbangkan baik kekuatan pully, proses pengerjaan hingga nilai ekonomis bahan pully. Pada dunia teknik khususnya kontruksi permesinan kita mengetahui ada berbagai macam jenis dan bahan yang bisa digunakan dalam kontruksi pully disesuaikan dengan penggunaan pully tersebut. Adapun jenis-jenis pully tersebut adalaah sebagai berikut :
1. Bahan besi cor/besi tuang 2. Bahan pully aluminium 3. Bahan pully plastic 4. Bahan pully mild steel
Dalam penggunaan pully harus mengetahui berapa besar putaran yang akan digunakan serta dengan menerapkan diameter dari salah satu pully yang kita gunakan, dalam hal ini dapat digunakan rumus :
𝑛1 𝑛2=
𝑑1 𝑑2 Keterangan :
n1 = Putaran pully motor (rpm) n2 = Putaran pully yang digerakkan
(rpm)
d1 = Diameter pully II pada poros yang digerakkan (mm)
d2 = Diameter pully I pada poros yang penggerak (mm) V-belt
V-belt terbuat dari karet dengan inti tetoron atau semacamnya dan mempunyai spenampang travesium, v-belt dibelitkan disekeliling alur pully yang membentuk V pula. Bagian v-belt yang sedang membelit pada pully ini mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah besar. Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh bentuk. (Sularso, 1997) Untuk mengetahui panjang sabuk belt menggunakan rumus sebagai berikut :
L = 2C +𝜋 2(𝑑𝑝 + 𝐷𝑝) 1 4. 𝐶+ (𝐷𝑝 − 𝑑𝑝 Keterangan : L = panjang sabuk (mm)
C = jarak sumbu poros (mm) D1 dp = diameter puli penggerak
(mm) D2
Dp = diameter puli poros (mm) Poros
Poros adalah komponen alat mekanis yang mentransmisikan gerak berputar dan daya. Poros merupakan salah satu bagian terpenting dari mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran. Peranan seperti itu dapat dilakukan oleh poros.
Bantalan
Bantalan merupakan komponen mesin yang berfungsi untuk menyangga poros ketika poros meneruskan beban. oleh karena itu untuk menentukan jenis bantalan yang digunakan, kita harus
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 ketahui dulu berapa besarnya beban
yang bekerja pada bantalan tersebut. Dalam penentuan bantalan yang paling utama kita perhatikan adalah kemampuannya dalam berputar, sebab bantalan ini harus mampu menopang poros.
Menghitung Break Even Point (BEP) BEP dapat diartikan suatu keadaan di mana dalam operasi perusahaan, perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (penghasilan yang dinilai menggunakan total biaya). Tetapi analisa BEP tidak hanya semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan apakah mencapai titik BEP, akan tetapi analisa BEP mampu memberikan informasi kepada pinjaman perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
Menurut Mulyadi (2006, h.260) berikut asumsi-asumsi dasar analisa BEP, yaitu : variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan, harga jual produk dianggap tidak berubahubah pada berbagai tingkat kegiatan, kapasitas produksi pabrik dianggap secara relatif konstan, harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah, efisiensi produksi dianggap tidak berubah, perubahan jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan, komposisi produk yang dijual dianggap tidak berubah, volume merupakan faktor satusatunya yang mempengaruhi biaya.
Matzh (1997, h.224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa BEP untuk manajemen, yaitu : Membantu pengendalian melalui
anggaran, Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan, Menganalisa dampak perubahan volume, Menganalisa harga jual dan dampak perubahan biaya, Merundingkan upah, Menganalisa bauran produk, Manerima keputusan kapitalisasi dan ekspansi lanjutan, Menganalisa margin of safety.
Analisis break even point adalah analisis yang digunakan untuk mengukur tingkat keseimbangan antara biaya, volume dan penjualan agar perusahaan tidak mengalami untung maupun rugi. Alat analisis yang dapat digunakan dalam mencari tingkat break even point adalah:
BEP = FC / (Su – VC) Keterangan :
FC = biaya tetap VC = biaya tidak tetap Su = unit harga jual
III. METODOLOGI PENELITIAN Waktu Dan Tempat Penelitian
Kegiatan Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mesin Umum Program Studi Mesin dan Peralatan Pertanian Politeknik Gorontalo, waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari seminar proposal tugas akhir pada bulan februari 2016 dan pembuatan alat sampai pada pembuatan laporan yakni pada bulan Juni sampai dengan bulan September 2016.
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 Diagram Alir Penelitian
Tahap penelitian disajikan pada gambar di bawah ini:
Gambar 3. Diagram Alir Penelitian
Gambar 3. Diagram Alir Penelitian
Gambar 4. Konstruksi Alat
Gambar 4. Pengiris Pisang 4 Mata Pisau
Keterangan Gambar: 1. Dinding pengaman 2. Mata pisau
3. Piringan mata pisau
4. Handel pendorong pisang 5. Rangka alat pengiris pisang 6. besi plat
7. Besi siku Proses Pengerjaan
Proses pengerjaan merupakan urutan langkah pengerjaan dari bahan baku sampai menjadi benda kerja yang dikehendaki sesuai dengan ukuran yang telah direncanakan. didalam pengerjaan harus memperhatikan efisiensi waktu, kemudahan pengerjaan dan faktor perakitan, proses pengerjaan ini berfungsi sebagai petunjuk bagi operator dalam membuat suatu komponen. rencana pengerjaan mempunyai arti penting yaitu sebagai acuan untuk menentukan waktu perakitan sehingga pada akhirnya dapat diketahui besar biaya yang diperlukan. Selain itu juga dapat diketahui tahap-tahap dalam proses pengerjaan serta mesin-mesin yang digunakan.
Dari tahap-tahap pengerjaan ini dapat diketahui lamanya waktu dan besarnya biaya pengerjaan. Proses pengerjaan ini disusun secara berurutan dan bertahap dari awal sampai terbentuknya benda jadi dengan didasarkan pada pengalaman dan teori. Dimensi Rangka Mesin
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 Proses pengerjaan:
7. Siapkan bahan yang akan digunakan untuk perancangan rangka
8. Mempelajari gambar dan memeriksa ukuran benda kerja dengan ukuran material.
9. Mengukur panjang besi siku yang akan dipotong sesuai ukuran rangka yaitu dengan dimensi 50 cm x 40 cm x 50 cm kemudian menandainya. 10. Potong besi siku degan ukuran 50
cm sebanyak 8 buah, 50 cm 4 buah dengan menggunakan mesin gergari. 11. Lakukan pengelasan las titik terlebih dahulu pada batang besi siku dan besi siku yang lain hingga seluruh komponen tersambung dengan baik. 12. Melakukan las penuh pada
sambungan rangka.
13. Menghaluskan hasil las dengan gerinda tangan.
Dinding Pengaman
Gambar 6. Dinding pengaman
Proses pengerjaan:
5. Mempelajari gambar dan memeriksa ukuran benda kerja dengan ukuran material.
6. Menandai bagian-bagian yang akan dipotong sesuai dengan ukuran. 7. Memotong Besi plat dengan ukuran
P = 500 mm x L = 400 mm x T = 500 mm
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Alat Pengiris Pisang
Secara utuh konstruksi alat pengiris pisang dapat dilihat pada gambar lampiran. Secara garis besar alat ini terdiri dari bagian rangka, corong penampung pisang, system transmisi dan tenaga penggerak. Rangka terbuat dari besi siku 3x3 yang berfungsi sebagai penopang utama mesin. Pisau pengiris dan dudukan mata pisau merupakan bagian inti dari proses kerja dari alat pengiris piang ini, dinding alat pengiris pisang terbuat dari plat eser 1,3 mm, sedangkan pada bagian bawah di lengkapi corong keluar hasli dari irisan pisang.
Sistim transmis terdiri dari pulley dan sabuk. Tenaga penggerak pada mesin ini menggunakan motor listrik 0,25 HP.
Motor listrik ini berfungsi sebagai sumber tenaga utama pada alat pengiris pisang.
Sistim Kerja Alat Pengiris Pisang Motor listrik dijalankan dan setelah putaran stabil, dilakukan dengan cara memasukan buah pisang ke dalam corong penampung pisang kemudian di dorong menuju ke mata pisau yang berputar agar pisang bisa ter iris kemudian pisang akan keluar melalui corong keluar dengan bentuk pisang yang sudah di iris.
Keunggulan alat
Keunggulan dari alat ini adalah memiliki 4 mata pisau sehingga mempercepat proses dari pengirisan pisang, dgn harga jual yg murah karna lebih praktis.
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 Perbedaan alat pengiris pisang 3 mata
pisau dan 4 mata pisau.
Perbedaan dari alat pengiris pisang 3 mata pisau adalah proses pengirisannya masih kurang efisien yakni 1 kg 1/menit, sedangkan pengiris pisang dengan 4 mata pisau 1 kg 57,2/detik
Pengambilan Data Pengujian
Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kinerja alat apakah mesin berjalan dengan baik sesuai dengan rancangan fungsional, metode pengujian dilakukan dengan pengamatan terhadap kinerja dari alat pengiris pisang denagan tujuan untuk mengetahui kesalahan rancangan pada rangkaian alat kemudian dari data kapasitas dan efisiensi alat dapat kita ketahui. Bahan yang di pakai yang dalam pengujian yaitu pisang, stopwatch, dan timbangan. Kemudian dilanjudkan denagan uji kapasitas, dan yang paling utama dalam proses ini yaitu keselamtan dari pengguna atau operator mesin.
Pengujian dilakukan dengan prosedur sebagai berikut : 1. Motor listrik dihidupkan dengan
putaran mesin 1.400 rpm
2. Masukan pisang ke corong tempat pengirisan, kemudian atur stopwatch berapa waktu yang dibutuhkan mesin dalam proses pengirisan pisang
3. Melakukan pengamatan proses kerja alat pengiris pisang apakah berjalan dengan baik atau terjadi masalah. 4. Proses pengirisan untuk mengetahui
kapasitas pengirisan kg/jam dan kapasitas efektifitas mesin dalam menghasilkan hasil irisan yang sesuai dengan yang di inginkan.
Hasil Pengujian Kapasitas Alat Pengiris Pisang
Setelah alat selesai di kerjakan tahapan selanjutnya yaitu pengujian alat, tahapan ini peneliti mengevaluasi kembali cara kerja, sistem operasi alat yang bertujuan untuk mengetahui apakah elemen pada alat berjalan dengan baik, setelah operasi alat selesai dan tidak terjadi masalah pada alat maka tahapan terakhir yaitu menghitung kapasitas dan produksi yang dihasilkan dari proses dari alat pengiris pisang. Data pengujian alat pengiris pisang dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Hasil Pengujian untuk irisan bulat
Dari data pengujian diperoleh hasil rata-rata dari alat pengiris pisang untuk 1 kg adalah 57,33 detik. Kapasitas pengiris pisang 62,79 kg/jam.
2. Irisan Memanjang
Tabel 2. Hasil Pengujian Untuk irisan memanjang
Dari data pengujian diperoleh hasil rata-rata dari alat pengiris pisang untuk 1 kg
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 adalah 52,66 detik. Kapasitas pengirisan
pisang 68,36 kg/jam.
Gambar 7. Pisang yang sudah di iris dengan hasil bulat dan memanjang
Mencari panjang v-belt L = 2𝑥367 +3,14 2 (75 + 197) + 1 4𝑥367(197 − 75)² = 734 + 1,57 (272) +0,00068 x 14884 =1171,16 mm
Menghitung putaran per detik 𝑛1= 𝑛1 𝑥 𝑑1 𝑑2 𝑛1= 1400X75 500 = 210 rpm Atau 60 210= 0,286 detik/putaran Analisis Biaya a. Biaya tetap Biaya penyusutan D = (P-S)/L D = (Rp 1.579000 – Rp 1.57900)/ 5 tahun = Rp1421.100/ 5 tahun = Rp 284.220 /tahun Biaya modal dan asuransi I = (P) (L+1)/ 2L
= 12% Rp 1.579000(5tahun + 1)/ 10 tahun
= Rp 113688/tahun. Total biaya biaya tetap
= biaya penyusunan + biaya modal dan asuransi
= Rp 421.100/tahun + Rp 113688/tahun = Rp 114.109/tahun.
b. Biaya Tidak Tetap Biaya Listrik
BF = SFC x Power x HF x WT = 0,75 kwh.x 0,25 Hp x Rp 1410/L
= Rp 21.440/ jam
Biaya pemeliharaan dan perbaikan BL = 10% x BF
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 = 10 % x Rp 21.440/ jam = Rp 264/ jam BR = FR x P/ 100 jam xWT = 1,2 % x 1.579000 x / 3000 jam = Rp 6,31 / jam Total biaya tidak tetap
= biaya listrik + biaya pemeliharaan dan perbaikan = Rp.21.440 /jam + Rp Rp 264 /jam + Rp 6,31/jam = Rp 21.710/ jam Total biaya (TC) TC = (FC / X ) + VC = (114.109/ thn : 3000 jam ) + Rp21.710 /jam = Rp 38,03 + Rp 21.710 /jam = Rp 21.748 /jam
c. Biaya BEP (Break event point) Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi atau impas (penghasilan = total biaya)
BEP = FC / (Su – VC) Keterangan :
FC = Rp 114.109/tahun
VC = Rp 21.710/ jam Su = unit harga jual Maka, BEP = FC / (Su – VC) = Rp 114.109/ ( Rp 1.579000 – Rp 21.710) = Rp114.109 / Rp 1.557.290 = 0,07
Kesimpulannya nilai BEP dapat dikatakan mengalami kerugian atau tidak layak digunakan untuk pengolahan tanah, karena nilai BEP < 1.
VI. PENUTUP Kesimpulan
Dari hasil pembuatan alat pengiris pisang dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Proses pengirisan pisang dengan hasil dengan hasil irisan bulat dengan memanjangmenggunakan empat mata pisau.
2. Dimensi alat: Panjang 500 mm, lebar 400 mm, tinggi 500 mm, motor listrik 0,25 hp.
3. Karena alat ini bekerja dengan baik, desain rangkah cukup kokoh untuk menahan getaran dari motor listrik
4. Kapasitas efektif hasil irisan memanjang 68,36 Kg/Jam dan hasil irisan bulat 62,79 kg/jam dengan menggunakan motor listrik. 5. Di bandingkan dengan pengiris pisang manual, alat ini memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi karena memiliki empat mata pisau dalam proses pengirisan pisang.
e-ISSN 2503-2992 Volume 1, Nomor 2, Oktober 2016 DAFTAR PUSTAKA
Dodi Mowo Asmoro, dkk,2012 Rancang bangun alat pengiris pisang mekanis.
S. Rekayasa Pengirisan dan Pert. Vol ! No !
Tantan wuhantara, dkk, 2010 Rancang bangun alat pengiris bawang merah dengan pengiris vertikal (Shallot). Seminar rekayasa kimia dan proses Vol ! NO ! Anonimous, 2009. Ilmu pengetahuan
dan Teknologi.
http://ristek.go.id
Earle, R.L, 1969. Satuan operasi dalam
mengelolah pangan.
Penerjemah: Zein Nasution Stolk., J dan keoss, 1981. Elemen
Mesin: Elemen Kontstruksi dari bangunan Mesin.
Terjemahan Hendersin dan A. Rahman Erlangga, jakarta.
Ferdinand P.Johnston, E. Russell Jr, 2001. Mekanika Teknik Untuk Insinyur. Statika, Edisi keempat, Erlangga, Jakarta
Ulrich, Karl; Steven D. Epingger, 2001,
Perancangan Dan
Pengembangan Produk, Irwin McGraw Hill, Salemba Teknika.
Jakarta
Yoseph Edward, 2001. Mechanical Engneering Design, Seventh Edition. Internasional Edition.