• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI KOTA KENDARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI KOTA KENDARI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Deflasi Kota Kendari bulan November tahun 2015, tercatat sebesar -0,10 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 117,46. Secara nasional dari 82 kota yang menghitung inflasi, 69 kota tercatat inflasi dan 13 kota tercatat deflasi, inflasi tertinggi tercatat di Kota Merauke (Provinsi Papua) 2,35 persen dan inflasi terendah tercatat di Kota Ternate (Povinsi Maluku) 0,02 persen. Sementara itu deflasi tertinggi tercatat di Kota Pangkal Pinang (Provinsi Bangka Belitung) 1,02 persen.

Deflasi yang terjadi di Kota Kendari tercatat disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok makanan 0,76 persen serta pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,02 persen. Sementara kelompok yang tercatat positif yaitu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,39 persen; kesehatan 0,19 persen; transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat 0,07 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar serta sandang masing-masing 0,03 persen.

Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi terbesar adalah cakalang; kembung/gembung; terong panjang; layang/benggol; kacang panjang; rambe; ekor kuning; emas perhiasan; telur ayam ras serta ketimun.

Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah cabai merah; jantung pisang; tomat buah; kangkung; bandeng/bolu; bayam; rokok kretek; rokok kretek filter; angkutan udara serta daging sapi .

Dari sebelas kota di Pulau Sulawesi, 9 kota tercatat inflasi dan 2 kota tercatat defflasi. Inflasi tercatat di Kota Kendari 0,10 persen (Provinsi Sulawesi Tenggara) dan Kota Manado 0,01 persen (Provinsi Sulawesi Utara). Sedangkan Inflasi tertinggi di Kota Baubau (Provinsi Sulawesi Tenggara) 1,27 persen.

Tingkat Inflasi Kota Kendari tahun kalender (Januari-November 2015 tercatat 1,12 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2015 terhadap November 2014) tercatat 4,43 persen.

Laju inflasi Kota Kendari tahun kalender (Januari-November 2014 tercatat 3,99 persen dan laju inflasi year on year (November 2014 terhadap November 2013) tercatat sebesar 4,00 persen.

Inflasi Nasional November 2015 tercatat 0,21 persen dan laju Inflasi (Januari-November 2015) 2,37 persen serta laju inflasi year on year (November 2015 terhadap November 2014) sebesar 4,89 persen.

No. 01/12/Th. XVIII, 1 Desember 2015

P

ERKEMBANGAN

I

NDEKS

H

ARGA

K

ONSUMEN

/I

NFLASI KOTA

K

ENDARI

(2)
(3)

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012=100) dibandingkan IHK lama (2007=100), khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.

SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru. Survei ini hanya dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 13.608 Blok Sensus dan total sampel rumahtangga sebanyak 136.080. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulanan selama tahun 2012 sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumahtangga.

Paket komoditas nasional hasil SBH 2012 terdiri dari 862 komoditas. Paket komoditas terbanyak ada di Jakarta yaitu 462 komoditas, dan yang palling sedikit di Singaraja sebanyak 225 komoditas.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS di Kota Kendari pada November 2015 tercatat deflasi 0,10 persen, atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 117,58 pada Oktober 2015 menjadi 117,46 pada November 2015. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-November) 2015 tercatat 1,12 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2015 terhadap November 2014) sebesar 4,43 persen.

Deflasi yang terjadi di Kota Kendari tercatat disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok makanan 0,76 persen sera pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,02 persen. Sementara kelompok yang tercatat positif yaitu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,39 persen; kesehatan 0,19 persen; transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat 0,07 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar serta sandang masing-masing 0,03 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada November 2015 antara lain: ketimun; daun kacang panjang; daun kelor; terong panjang; kacang panjang; tauge/kecambah; cakalang; kembung/gembung; jeruk nipis/limau serta celana panjang sersin.

Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikan harga pada November 2015 antara lain: cabai rawit; tomat buah; jantung pisang; jeruk; kangkung; papaya muda; blus; tomat sayur; sawi hijau serta bola lampu.

Pada November 2015, kelompok yang memberikan andil/sumbangan negatif, yaitu: kelompok bahan makanan 0,18 persen serta pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,002 persen. Sedangkan kelompok yang memberikan sumbangan positif, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,04 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar rumah tangga serta kesehatan masing-masing 0,01 persen; transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,02 persen serta sandang 0,002 persen.

(4)

Tabel 1

IHK dan Tingkat Inflasi/Deflasi Kota Kendari November 2015, Tahun Kalender 2015, dan Tahun ke Tahun 2015, Menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)

Kelompok Pengeluaran IHK Inflasi/ Deflasi Bulan November 2015 1) Laju Inflasi/ Deflasi Tahun Kalender 2014 2) Inflasi/ Deflasi Tahun Ke Tahun 3) November 2014 Desember 2014 November 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) U m u m 112,48 116,16 117,46 -0,10 1,12 4,43 1 Bahan Makanan 112,20 114,30 119,47 -0,76 4,52 6,48

2 Makanan Jadi, minuman, Rokok & Tembakau 110,41 111,00 119,39 0,39 7,56 8,13 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan bakar 115,42 119,39 122,05 0,03 1,88 5,74

4 Sandang 97,77 99,22 98,65 0,03 -0,57 0,90

5 Kesehatan 107,69 109,30 113,57 0,19 3,91 5,46

6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah raga 103,04 104,14 105,95 -0,02 1,74 2,82 7 Transpor & Komunikasi dan Jasa Keuangan 120,57 128,87 121,35 0,07 -5,84 0,65

0,64

0,97

6,08

1) Persentase perubahan IHK bulan November 2015 terhadap IHK bulan sebelumnya 2) Persentase perubahan IHK bulan November 2015 terhadap IHK bulan Desember 2014 3) Persentase perubahan IHK bulan November 2015 terhadap IHK bulan November 2014

Gambar 1

Perkembangan Inflasi/Deflasi Kota Kendari (2012=100), Januari 2014 – November 2015

(5)

Tabel 2

Perkembangan Inflasi/Deflasi dan Laju Inflasi/Deflasi Kota Kendari dan Nasional Bulan Januari 2014–November 2015 (2012 = 100,00)

B u l a n Inflasi (%) Laju Inflasi (%) Kota Kendari Nasional Kota Kendari Nasional

(1) (2) (3) (4) (5) Januari 0,31 1,07 0,31 1,07 Februari -0,97 0,26 -0,66 1,33 Maret -0,10 0,08 -0,76 1,41 April 0,08 -0,02 -0,67 1,39 Mei 0,25 0,16 -0,43 1,56 Juni 0,94 0,43 0,51 1,99 Juli 1,82 0,93 2,34 2,94 Agustus -0,11 0,47 2,23 3,42 September -0,13 0,27 2,10 3,71 Oktober 0,18 0,47 2,28 4,19 November 1,67 1,50 3,99 5,75 Desember 3,27 2,46 7,40 8,38 Januari -0,96 -0,24 -0,96 -0,25 Februari -0,91 -0,36 -1,86 -0,61 Maret 0,57 -0,17 -1,30 -0,43 April -0,03 0,36 -1,33 -0,08 Mei 0,64 0,50 -0,70 0,42 Juni 0,28 0,54 -0,42 0,96 Juli 0,75 0,93 0,33 1,90 Agustus 0,64 0,39 0,97 2,29 September 0,61 -0,05 1,58 2,24 Oktober -0,36 -0,08 1,22 2,16 November -0,10 1,12 Tabel 3

Sumbangan Kelompok Pengeluaran terhadap Deflasi di Kota Kendari Oktober dan November 2015 (2012=100)

No, Kelompok Pengeluaran

Andil Inflasi/Deflasi (%) Oktober November (1) (2) (3) U M U M -0,36 -0,10 1. Bahan Makanan -0,34 -0,18

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,03 0,04 3. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar -0,03 0,01

4. Sandang -0,02 0,002

5. Kesehatan -0,001 0,01

6. Pendidikan, Rekreasi & Olahraga -0,0004 -0,002 7. Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 0,002 0,02

(6)

Gambar 2

Sumbangan Kelompok Pengeluaran Terhadap Deflasi Kota Kendari (2012=100) November 2015 (Persen)

URAIAN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN

1. Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan pada November 2015 tercatat denflasi 0,76 persen atau terjadi penuruan indeks dari 120,39 pada Oktober 2015 menjadi 119,47 pada November 2015.

Dari sebelas subkelompok bahan makanan, tercatat 7 subkelompok diantaranya deflasi dan 4 subkelompok tercatat inflasi. Subkelompok yang tercatat deflasi adalah subkelompok ikan segar 2,96 persen; sayur-sayuran 1,49 persen; ikan diawetkan 1,36 persen; telur, susu dan hasil-hasilnya 0,74 persen; bahan makanan lainnya 0,34 persen; lemak dan minyak 0,09 persen serta padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya 0,08 persen. Sedangkan subkelompok yang tercatat inflasi adalah subkelompok bumbu-bumbuan 3,87 persen; buah-buahan 3,74 persen; kacang-kacangan 0,28 persen serta daging dan hasil-hasilnya 0,20 persen.

Kelompok ini pada November 2015 memberikan sumbangan deflasi 0,18 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi adalah cakalang 0,08 persen; kembung/gembung 0,07 persen; terong panjang 0,05 persen; layang dan kacang panjang masing 0,03 persen; rambe dan ekor kuning

(7)

masing-masing 0,02 persen; telur ayam ras; ketimun; daun kacang panjang muda; daun kelor; katamba; daging ayam ras masing-masing 0,01 persen; beras 0,006 persen serta tauge/kecambah 0,005 persen.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Kelompok ini pada November 2015 tercatat inflasi 0,39 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 118,93 pada Oktober 2015 menjadi 119,39 pada November 2015. Semua kelompok tercatat inflasi yaitu subkelompok tembakau dan minuman beralkohol 1,05 persen; makanan jadi 0,21 persen serta minuman yang tidak beralkohol tercatat deflasi 0,07 persen.

Kelompok ini pada November 2015 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu, rokok kretek dan rokok kretek filter masing-masing 0,01 persen; roti tawa dan rokok kretek putih masing-masing 0,005 persen.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar

Kelompok ini pada November 2015 tercatat Inflasi 0,03 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 122,01 pada Oktober 2015 menjadi 122,05 pada November 2015.

Subkelompok yang tercatat inflasi yaitu, subkelompok biaya tempat tinggal dan bahan bakar, penerangan dan air masing-masing 0,06 persen serta penyelenggaraan rumahtangga 0,02 persen. Sementara subkelompok perlengkapan rumahtangga tercatat deflasi 0,09 persen.

Pada November 2015 kelompok ini secara umum memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,01 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan positif yaitu: kontrak rumah; bahan bakar rumah tangga serta semen masing-masing 0,004 persen; bola lampu; seng serta piring masing-masing 0,001 persen.

4. S a n d a n g

Kelompok sandang pada November 2015 masih mencatat inflasi sebesar 0,03 persen, atau terjadi kenaikan indeks dari 98,62 pada Oktober 2015 menjadi 98,65 pada November 2015.

Subkelompok yang tercatat inflasi pada November 2015, yaitu subkelompok sandang anak-anak 0,41 persen; sandang wanita 0,40 persen serta sandang laki-laki 0,04 persen. Sedangkan subkelompok yang tercatat negatif yaitu, barang pribadi dan sandang lain 0,72 persen.

Kelompok ini pada November 2015 secara keseluruhan memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,002 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu, blus 0,01 persen; baju anak stelan 0,004 persen; baju kaos brekerah pria dan baju kaos berkerah wanita masing-masing 0,003 persen; jaket; celana pendek serta celana dalam wanita masing-masing 0,001 persen.

5. K e s e h a t a n

Kelompok kesehatan pada November 2015 tercatat inflasi 0,19 persen, atau terjadi kenaikan indeks dari 113,36 pada Oktober 2015 menjadi 113,57 pada November 2015.

(8)

Subkelompok yang tercatat inflasi pada November 2015 yaitu, subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika 0,39 persen. Sementara subkelompok jasa kesehatan; obat-obatan serta jasa perawatan jasmani tidak terjadi perubahan indeks (stabil).

Kelompok ini pada November 2015 secara keseluruhan memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,01 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan negatif yaitu: pasta gigi dan hand body lotion masing-masing 0,003 persen serta parfum 0,002 persen.

6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada November 2015 tercatat inflasi negatif 0,02 persen atau terjadi penurunan indeks dari 105,97 persen pada Oktober 2015 menjadi 105,95 pada November 2015.

Subkelompok yang tercatat deflasi pada November 2015, yaitu subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan 0,10 persen. Sementara subkelompok pendidikan; kursus-kursus/pelatihan; rekreasi serta olahraga tidak terjadi perubahan indeks (stabil).

Kelompok ini pada November 2015 memberikan sumbangan inflasi negatif sebesar 0,002 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi negatif adalah: lapotop/notebook dan buku tulis bergaris masing-masing 0,001 persen. persen.

7. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan

Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada November 2015 tercatat inflasi 0,07 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 121,26 pada Oktober 2015 menjadi 121,35 pada November 2015.

Subkelompok yang tercatat inflasi, adalah subkelompok transpor 0,11 persen. Sedangkan sukkelompok yang tercatat negatif yaitu, subkelompok komunikasi dan pengiriman serta sarana penunjang trasnpor masing-masing 0,03 persen. Sementara subkelompok jasa keuangan tidak mengalami perubahan atau relatif stabil.

Secara keseluruhan kelompok ini pada November 2015 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah angkutan udara dan sepeda motor masing-masing 0,01 persen.

(9)

Tabel 3

IHK dan Inflasi/Deflasi Kota Kendari Menurut Kelompok dan Sub Kelompok Bulan November 2015 (2012 = 100,00)

No, Kelompok/Sub kelompok IHK Inflasi/Deflasi %

(1) (2) (3)

A U M U M 117,46 -0,10

I BAHAN MAKANAN 119,47 -0,76

Padi-padian Umbi-umbian dan Hasilnya 120,71 -0,08

Daging dan Hasil-hasilnya 111,94 0,20

Ikan Segar 116,32 -2,96

Ikan Diawetkan 136,60 -1,36

Telur Susu dan Hasil-hasilnya 124,08 -0,74

Sayur-sayuran 128,22 -1,49

Kacang – kacangan 117,72 0,28

Buah – buahan 103,29 3,74

Bumbu – bumbuan 121,31 3,87

Lemak dan Minyak 121,05 -0,09

Bahan Makanan Lainnya 115,97 -0,34

II MAKANAN JADI MINUMAN ROKOK DAN TEMBAKAU 119,39 0,39

Makanan Jadi 120,35 0,21

Minuman yang Tidak Beralkohol 111,97 0,07

Tembakau dan Minuman Beralkohol 124,33 1,05

III PERUMAHAN AIR LISTRIK GAS DAN BAHAN BAKAR 122,05 0,03

Biaya Tempat Tinggal 111,76 0,06

Bahan Bakar Penerangan dan Air 160,16 0,06

Perlengkapan Rumahtangga 107,97 -0,09 Penyelenggaraan Rumahtangga 116,61 0,02 IV SANDANG 98,65 0,03 Sandang Laki-laki 91,43 0,04 Sandang Wanita 104,48 0,40 Sandang Anak-anak 110,22 0,41

Barang Pribadi dan Sandang Lain 90,83 -0,72

V KESEHATAN 113,57 0,19

Jasa Kesehatan 104,66 0,00

Obat-obatan 106,68 0,00

Jasa Perawatan Jasmani 118,06 0,00

Perawatan Jasmani dan Kosmetika 121,66 0,39

VI PENDIDIKAN REKREASI DAN OLAH RAGA 105,95 -0,02

Pendidikan 99,40 0,00

Kursus-kursus / Pelatihan 128,45 0,00

Perlengkapan / Peralatan Pendidikan 103,53 -0,10

Rekreasi 110,33 0,00

Olahraga 103,61 0,00

VII TRANSPOR KOMUNIKASI DAN JASA KEUANGAN 121,35 0,07

Transpor 132,75 0,11

Komunikasi Dan Pengiriman 96,06 -0,03

Sarana dan Penunjang Transpor 116,40 -0,03

(10)

PERBANDINGAN INFLASI TAHUNAN

Tingkat Inflasi tahun kalender (Januari-November) 2015 tercatat 1,12 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2015 terhadap November 2014) tercatat 4,43 persen. Sedangkan tingkat inflasi pada periode yang sama tahun kalender (Januari-November) 2014 tercatat 3,99 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2014 terhadap November 2013) tercatat 4,00 persen.

Tabel 4

Inflasi/Deflasi Bulanan Tahun kalender Tahun ke Tahun 2013- 2015

Inflasi 2013 2014 2015

(1) (2) (3)

1 November 0,11 1,67 -0,10

2 Tahun kalender (Januari-November) 6,76 3,99 1,12

3 November terhadap November (year on year)

(tahun n) (tahun n-1) 6,88 4,00 4,43

PERBANDINGAN ANTARKOTA

Pada November 2015 di Kota Kendari tercatat deflasi sebesar 0,10 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 117,46 Dari 82 kota IHK tercatat 69 kota inflasi dan 13 kota tercatat deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Merauke 2,35 persen dengan IHK 127,38 dan inflasi terendah tercatat di Kota Ternate 0,02 persen dengan IHK 125,90. Sementara deflasi tertinggi tercatat di Kota Pangkal Pinang 1,02 persen dengan IHK 121,87.

Perandingan Antarkota di Pulau Sumatera

Kota-kota IHK diwilayah Pulau Sumatera yang berjumlah 23 kota pada November 2015, tercatat 19 kota inflasi dan 4 kota deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Bukit Tinggi 0,83 persen dengan IHK 119,37. Sedangkan inflasi terendah tercatat di Kota Bungo 0,07 persen dengan IHK 118,90. Sementara deflasi tertinggi tercatat di Kota Pangkal Pinang 1,02 persen dengan IHK 121,87 (lihat Tabel 5).

(11)

Tabel 5

Perbandingan Indeks dan Inflasi/Deflasi November 2015 Kota-Kota di Pulau Sumatera dengan Nasional

(2012=100) K O T A November IHK Inflasi/Deflasi (%) (1) (2) (3) 1. Bukittinggi 119,37 0,83 2. Sibolga 120,83 0,78 3. Palembang 119,19 0,68 4. Medan 123,02 0,53 5. Batam 121,34 0,52 6. Padang 124,87 0,47 7. Jambi 120,59 0,47 8. Padangsidempuan 118,52 0,41 9. Pekanbaru 121,30 0,41 10. Lhokseumae 116,78 0,34 11. Meulaboh 120,67 0,28 12. Pematang Siantar 123,87 0,28 13. Banda Aceh 115,67 0,23 14. Lubuklinggau 118,84 0,23 15. Tanjung Pinang 121,23 0,18 16. Tembilahan 125,65 0,15 17. Bandar Lampung 122,47 0,11 18. Bengkulu 127,59 0,09 19. Bungo 118,90 0,07 20. Dumai 122,27 -0,02 21. Metro 129,16 -0,25 22. Tanjung Pandan 126,38 -0,63 23. Pangkal Pinang 121,87 -1,02 NASIONAL 121,82 0,21

Perbandingan Antarkota di Pulau Jawa

Pada November 2015 dari 26 kota IHK di wilayah Pulau Jawa tercatat 24 kota inflasi dan 2 kota deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Serang 0,79 persen dengan IHK 127,38 dan inflasi terendah di Kota Bekasi

(12)

tercatat 0,03 persen dengan IHK 119,02. Sementara deflasi tertinggi tercatat Kota Cilegon 0,07 persen dengan IHK 124,46 (lihat Tabel 6).

Tabel 6

Perbandingan Indeks dan Inflasi November 2015 Kota-Kota di Pulau Jawa dengan Nasional

(2012=100) K O T A November IHK Inflasi (%) (1) (2) (3) 1. Serang 127,38 0,79 2. Tasikmalaya 120,32 0,41 3. Surakarta 118,66 0,32 4. Tangerang 128,92 0,31 5. Sumenep 119,45 0,30 6. Sukabumi 121,34 0,28 7. Bogor 120,77 0,27 8. Jember 119,77 0,26 9. Tegal 118,15 0,24 10. Depok 120,19 0,23 11. Kudus 127,05 0,21 12. Semarang 120,52 0,21 13. Madiun 119,34 0,21 14. Cilacap 123,38 0,20 15. Bandung 120,77 0,19 16. Cirebon 118,62 0,17 17. Purwokerto 119,21 0,16 18. Malang 122,03 0,16 19. Yogyakarta 119,31 0,13 20. DKI Jakarta 122,47 0,12 21. Kediri 120,04 0,11 22. Banyuwangi 119,25 0,08 23. Probolinggo 120,73 0,05 24. Bekasi 119,02 0,03 25. Surabaya 120,71 -0,02 26. Cilegon 124,46 -0,07 NASIONAL 121,82 0,21

Perbandingan Antarkota Wilayah Luar Pulau Jawa Sumatera dan Sulawesi

Pada November 2015 dari kota-kota IHK di wilayah luar Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang berjumlah 22. 17 kota tercatat Inflasi dan 5 kota tercatat deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Merauke 2,35 persen dengan IHK 127,38 dan inflasi terendah tercatat di Kota Ternate 0,02 persen dengan 125,90. Sedangkan

(13)

Tabel 7

Perbandingan Indeks dan Inflasi November 2015

Kota-Kota di Luar Pulau Sumatera Jawa dan Sulawesi dengan Nasional (2012=100) K O T A November IHK Inflasi (%) (1) (2) (3) 1. Merauke 127,38 2,35 2. Tual 132,94 1,03 3. Palangkaraya 119,98 0,85 4. Kupang 122,87 0,72 5. Tanjung 123,65 0,71 6. Bima 124,14 0,66 7. Maumere 116,40 0,59 8. Sampit 122,30 0,51 9. Banjarmasin 120,27 0,41 10. Denpasar 118,46 0,40 11. Singaraja 127,24 0,32 12. Samarinda 123,68 0,26 13. Manokwari 113,41 0,22 14. Jayapura 121,78 0,11 15. Mataram 120,16 0,05 16. Tarakan 129,70 0,05 17. Ternate 125,90 0,02 18. Singkawang 120,79 -0,03 19. Pontianak 128,52 -0,14 20. Ambon 121,10 -0,44 21. Balikpapan 125,41 -0,54 22. Sorong 122,13 -0,74 NASIONAL 121,82 0,21

Perbandingan Antarkota di Pulau Sulawesi

Pada November 2015 kota-kota IHK di wilayah Pulau Sulawesi 9 kota tercatat inflasi dan 2 kota tercatat deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Baubau 1,27 persen dengan IHK 125,17. Sedangkan Deflasi tertinggi tercatat di Kota Kendari 0,10 persen dengan IHK 117,46. (lihat Tabel 8)

(14)

Tabel 8

Perbandingan Indeks dan Inflasi November 2015 Kota-Kota di Pulau Sulawesi dengan Nasional

(2012=100) November IHK Inflasi (%) (1) (2) (3) 1. Baubau 125,17 1,27 2. Mamuju 120,73 0,62 3. Palu 122,81 0,47 4. Palopo 119,82 0,44 5. Pare-Pare 118,69 0,30 6. Makassar 121,69 0,26 7. Watampone 117,93 0,21 8. Gorontalo 117,99 0,18 9. Bulukumba 126,69 0,05 10. Manado 123,06 -0,01 11. Kendari 117,46 -0,10 NASIONAL 121,82 0,21

(15)

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara

Email: Zalima@bpsgoid Informasi lebih lanjut hubungi:

Wa Zalima S Si

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai pisau analisis dalam penulisan hukum ini tinjauan pustaka yang digunakan antara lain tinjauan mengenai kedudukan anak didalam perkawinan, pengakuan

Penerimaan ganti rugi atas kerugian negara (tuntutan ganti rugi dan tuntutan bendaharawan). Penerimaan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah. Penerimaan

Dari pengukuran dinamik dan statik dibuat model hubungan konstanta elastik seperti, modulus Young (E), modulus bulk (K), dan nisbah Poisson dengan porositas terhadap batugamping

Lombok Putri Cinderamata menentukan pasar sasarannya dengan berfokus pada pemasaran produknya ke pasar ekspor dikarenakan sudah banyaknya pesaing dalam negeri dan dalam

Namun dalam pembuatannya tersebut diperlukan suatu analisa yang mana diperlukan untuk mengetahui kelayakan produk melalui beberapa pengujian terkait produk pangan

Benar saja, ketika pihak FA melakukan penyelidikan sedikitnya federasi sepakbola Inggris tersebut menemukan ada tujuh pemain dari kedua kesebelasan yang terlibat dalam

Secara umum keberhasilan anggaran sebagai alat perencanaan dan pengendalian perusahaan sangat ditentukan oleh beberapa faktor dalam sistem penyusunan anggaran itu

Regression Variables Entered/Removed Model Variables Entered Variables Removed Method 1 KSP, SIZE, ROA a. All requested