• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KESADARAN WAJIB PAJAK, SOSIALISASI PERPAJAKAN

DAN PENGETAHUAN PERPAJAKAN TERHADAP KEMAUAN WAJIB

PAJAK DALAM MENGIKUTI PROGRAM TAX AMNESTY

(Studi Kasus Pada Wajib Pajak Orang Pribadi

Pada KPP Pratama Singaraja)

1

Ayu Tut Sukma Trisnasari,

1

Edy Sujana,

2

Nyoman Trisna Herawati

Jurusan Akuntansi Program S1

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

email: {[email protected],

[email protected],[email protected]}@undiksha.ac.id

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kesadaran wajib pajak, sosialisasi perpajakan, dan pengetahuan perpajakan terhadap kemauan wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Singaraja yang berada di wilayah Kecamatan Buleleng dalam mengikuti program Tax Amnesty.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif kausal dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 100 responden yang merupakan wajib pajak orang pribadi yang berada di wilayah Kecamatan Buleleng. Penentuan sampel menggunakan Proportionate Stratified Random Sampling. Model regresi berganda digunakan untuk menguji hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.

Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1). Kesadaran wajib pajak berpengaruh secara positif terhadap kemauan wajib pajak dalam mengikuti program Tax Amnesty, (2). Sosialisasi perpajakan berpengaruh secara positif terhadaindepenp kemauan wajib pajak dalam mengikuti program Tax Amnesty, (3). Pengetahuan perpajakan berpengaruh secara positif terhadap kemauan wajib pajak dalam mengikuti program Tax Amnesty.

(2)

Abstract

This study was aimed at analyze the effect of tax payers’ awareness, tax socialization and knowledge about tax on the willingness of tax payers to join tax amnesty program of the individual personal tax payers who are registered in KPP Pratama Singaraja which is located in Buleleng district jurisdiction in joining Tax Amnesty program.

This study was a causal quantitative research that used primary data obtained through questionnaire distribution to 100 respondents who are individual personal tax payers who live in the jurisdiction of Buleleng district. The sample was drawn by using Proportionate Stratified Random Sampling. Multiple Regression Model was used to test the relation between the independent variables and the dependent variable.

The results showed that (1) the tax payers’ awareness has a positive effect on the willingness of tax payers to join Tax Amnesty Program, (2) tax socialization has a positive effect on tax payers to join Tax Amnesty Program and (3) Knowledge about tax has a positive effect on tax payers to join Tax Amnesty Program.

Keywords: Tax Amnesty, Tax payers’ awareness, Tax socialization, Knowledge about tax.

PENDAHULUAN

Pembangunan sangatlah penting

demi terwujudnya keinginan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pembangunan ini dapat terjadi apabila adanya dana atau biaya yang

dapat digunakan untuk membiayai

pembangunan itu sendiri. Maka dari itu, pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk mengoptimalkan penerimaan Negara dan salah satu sumber penerimaan yang terbesar adalah bersumber dari pajak.

Pajak merupakan kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan

digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (UU KUP No. 28 Tahun 2007).

Sumber penerimaan dari sektor pajak mempunyai umur yang tidak terbatas dan terus akan meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk. Oleh sebab itu, tidak bisa dipungkiri bahwa peran serta Wajib Pajak

akan sangat mempengaruhi jumlah

penerimaan pajak yang ingin dicapai. Adapun jumlah Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Singaraja yaitu sebagai berikut:

Tabel 1. Data Wajib Pajak dan Penerimaan Tahun 2013 – 2015

Keterangan 2013 2014 2015

WP OP 54.568 59.348 64.517

Target Penerimaan 265.531.221.329 267.775.752.000 295.665.006.000

Realisasi Penerimaan

197.198.383.696 265.531.221.329 258.294.630.189

Sumber: KPP Pratama Singaraja, Tahun 2016 (data diolah) Berdasarkan tabel 1 diatas diperoleh

informasi bahwa, terjadi peningkatan jumlah

Wajib Pajak pada tahun 2013 hingga tahun 2015. Dimana, pada tahun 2013 jumlah

(3)

Wajib Pajak Orang Pribadi sebesar 54.568

dengan realisasi penerimaan

197.198.383.696, tahun 2014 jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi sebesar 59.348 dengan realisai penerimaan 265.531.221.329 dan tahun 2015 dengan jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi 64.517 jumlah realisasi penerimaan yang diperoleh yaitu sebesar 258.294.630.189. Terlihat jelas bahwa pada tahun 2014 dan tahun 2015 penerimaan

pajak tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Terdapat penurunan realisasi penerimaan pajak dari tahun 2014 ke tahun 2015 sebesar 7.236.591.140.

Salah satu penyebab turunnya

penerimaan dari sektor pajak adalah

kepatuhan Wajib Pajak. Dari data yang diperoleh pada KPP Pratama Singaraja, kepatuhan Wajib Pajak dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Kepatuhan Wajib Pajak

Keterangan 2013 2014 2015 WP OP Terdaftar 54.648 60.886 64.517 WP OP Terdaftar Wajib SPT 44.097 44.257 41.732 Persentase 80,69% 72,68% 64,68%

Sumber: KPP Pratama Singaraja, Tahun 2016 (data diolah) Dari tabel 2 diatas, dapat dilihat

bahwa tingkat kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi pada KPP Pratama Singaraja tiap tahun mengalami penurunan. Pada tahun 2013 tingkat kepatuhan Wajib Pajak berada pada persentase 80,69%, pada tahun 2014 berada pada persentase 72,68% dan pada tahun 2015 berada pada persentase 64,68%. Oleh karena itu, kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi di Singaraja harus terus ditingkatkan baik dari pihak pemungut pajak maupun Wajib Pajak itu sendiri.

Sebagai penerimaan Negara yang sangat dominan, maka penerimaan pajak harus berjalan secara optimal. Hal ini diikuti

dengan upaya pemerintah untuk

meningkatkan penerimaan dari sektor pajak dengan melakukan pembaharuan terhadap sikap petugas yang harus profesional dan transparan, pengabdian yang tinggi dan

penyempurnaan peraturan

perundang-undangan pajak dan sistem perpajakan.

Berbagai upaya peningkatan

penerimaan pajak telah dilakukan

pemerintah, diantaranya dengan melakukan Tax Reform (pembaharuan di bidang perpajakan) yaitu dengan dikeluarkannya

Program Sunset Policy tahun 2015. Dan

kebijakan terbaru di bidang perpajakan yang

dikeluarkan pemerintah adalah pelaksanaan

program Tax Amnesty. Adapun penyebab

dikeluarkannya Program Tax Amnesty ini

adalah untuk meningkatkan jumlah

penerimaan di sektor pajak, meningkatkan ekstensifikasi pajak di tahun-tahun berikutnya dan untuk menambah likuiditas domestik

khususnya dari dana repatriasi untuk

membiayai pembangunan baik program dan proyek pemerintah maupun investasi swasta

yang diharapkan mendorong perbaikan

ekonomi nasional. Sebelumnya, Indonesia

sudah pernah melakukan Tax Amnesty ini di

tahun 1984.Tetapi, program ini tidak berjalan secara efektif karena kurangnya respon dari Wajib Pajak dan tidak adanya reformasi

sistem administrasi perpajakan secara

menyeluruh.

Tax Amnesty merupakan hak yang diberikan kepada Wajib Pajak untuk secara

sukarela mengungkapkan harta yang

selama ini mungkin belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT).

Sebelumnya, Nugroho (2010) dalam

penelitiannya mengenai Sunset Policy

menjelaskan bahwa ada beberapa faktor

yang menyebabkan ketidakberhasilan

Program Sunset Policy yaitu : (1)

(4)

(2) Kekurangsadaran dan kepatuhan Wajib Pajak atas kewajiban perpajakan (3) Adanya keterlambatan aturan pelaksanaan yang

berkenaan dengan pelaksanaan Sunset

Policy.

Berdasarkan hal tersebut, maka

penulis menggunakan faktor

ketidakberhasilan tersebut khusunya yang berkenaan dengan kepatuhan Wajib Pajak atas kewajiban perpajakannya sebagai variabel yang diduga dapat mempengaruhi kemauan Wajib Pajak dalam mengikuti

Program Tax Amnesty ini. Adapun faktor

ketidakpatuhan Wajib Pajak atas kewajiban perpajakannya tersebut yaitu Kesadaran Wajib Pajak, Sosialisasi Perpajakan dan Pengetahuan Perpajakan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tatiana dan Adi (2011), mengenai dampak

program Sunset Policy terhadap

faktor-faktor yang mempengaruhi kemuan

membayar pajak. Faktor-faktor tersebut

yaitu kesadaran membayar pajak,

pengetahuan dan pemahaman terhadap peraturan perpajakan dan persepsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan.Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kebijakan Sunset Policy memberikan pengaruh positif

terhadap ketiga faktor-faktor yang

mempengaruhi kemauan membayar pajak.

Begitu pula dengan penelitian yang

dilakukan oleh Susanti (2011), yang meneliti

pengaruh Sunset Policy terhadap

faktor-faktor yang mempengaruhi kemauan

membayar pajak. Dimana, hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa kebijakan Sunset

Policy memberikan pengaruh yang signifikan

terhadap kesadaran membayar pajak,

pemahaman terhadap peraturan perpajakan, dan persepsi yang baik atas efektifitas perpajakan.

Selanjutnya, faktor yang diduga

mempengaruhi kemauan Wajib Pajak dalam

mengikuti Tax Amnesty adalah sosialisasi

perpajakan. Kurangnya sosialisasi

perpajakan kepada masyarakat berakibat pada rendahnya pengetahuan Wajib Pajak yang akan membuat kepatuhan untuk menjalankan kewajiban perpajakan semakin

menurun. Jika sosialisasi secara rutin dilakukan dan diikuti oleh Wajib Pajak maka akan dapat meningkatkan pengetahuan

Wajib Pajak mengenai aturan-aturan

perpajakan. Dimana, Wajib Pajak yang paham akan aturan perpajakan sudah tentu akan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah (Burhan, 2015).

Bercermin dari hal-hal tersebut,

seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Peneliti mengadopsi variabel kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar pajak sebagai faktor yang mempengaruhi kemauan Wajib

Pajak dalam mengikuti Tax Amnesty.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian

sebelumnya terletak pada perubahan

kebijakan perpajakan.Sebelumnya

membahas mengenai Sunset Policy dan

pada penelitian ini yaitu membahas

mengenai Tax Amnesty.

Definisi pajak menurut Mardiasmo (2016) adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untk membayar pengeluaran umum. Fungsi pajak

dibedakan menjadi dua yakni fungsi

Budgetair dan fungsi Regulerend. Jenis pajak dibedakan berdasarkan golongan, wewenang pemungut, maupun sifatnya.

Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan termasuk pemungut pajak atau pemotong

pajak tertentu. Dalam Undang-Undang

Nomor 28 Tahun 2007 didefinisikan Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayaran pajak, pemotongan pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Definisi Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak Pasal 1 menyebutkan bahwa: “Pengampunan Pajak adalah penghapusan pajak yang

(5)

seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di

bidang perpajakan, dengan cara

mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini”.

Kesadaran menurut (Tarjo dan

Sawarjuwono, 2005:126) adalah rasa rela untuk melakukan sesuatu yang sebagai kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran perpajakan berkonsekuensi logis untuk wajib pajak, yaitu kerelaan wajib pajak

memberikan kontribusi dana untuk

pelaksanaan fungsi perpajakan dengan cara membayar kewajiban pajaknya secara tepat waktu dan tepat jumlah.

Sosialisasi Perpajakan adalah upaya yang dilakukan oleh Dirjen Pajak untuk memberikan sebuah pengetahuan kepada masyarakat dan khususnya wajib pajak agar mengetahui tentang segala hal mengenai perpajakan baik peraturan maupun tata cara perpajakan melalui metode-metode yang tepat (Burhan, 2015).

Pengetahuan perpajakan merupakan suatu hasil tahu dari seseorang yang diperoleh melalui hasil penglihatan dan penginderaan tentang suatu objek yang berhubungan dengan teknis perpajakan baik itu tentang tarif, teknik pengenaan pajak, pembaharuan di bidang perpajakan dan manfaat yang diperoleh apabila wajib pajak telah memenuhi kewajiban perpajakannya.

Sebagian besar pengetahuan manusia

diperoleh dari pengalaman diri sendiri atau pengalaman orang lain.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kesadaran wajib pajak, sosialisasi perpajakan dan pengetahuan perpajakan terhadap kemauan wajib pajak dalam mengikuti program Tax Amnesty.

Kesadaran merupakan hal yang

menjadi tumpuan utama bagi manusia untuk melakukan suatu tindakan.Kesadaran Wajib Pajak disini dimaksudkan bahwa Wajib Pajak mengetahui dan memahami bahwa Program Tax Amnesty memberikan banyak manfaat

bagi Wajib Pajak itu sendiri. Ketika

masyarakat khususnya Wajib Pajak

mengetahui dan memahami fungsi, tujuan,

dan manfaat Tax Amnesty maka kesadaran

Wajib Pajak diduga akan mempengaruhi

Wajib Pajak untuk mengikuti Program Tax

Amnesty.

H1 : Kesadaran Wajib Pajak berpengaruh

secara positif terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam mengikuti Program Tax Amnesty.

Sosialisasi perpajakan adalah upaya yang dilakukan oleh Dirjen Pajak untuk memberikan sebuah pengetahuan kepada masyarakat dan khususnya wajib pajak agar mengetahui tentang segala hal mengenai perpajakan baik peraturan maupun tata cara perpajakan melalui metode-metode yang tepat (Burhan, 2015). Ketika masyarakat

khususnya wajib pajak orang pribadi

mengetahui dan memahami peraturan

perpajakan yang berlaku maka semakin patuh wajib pajak tersebut untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.

H2 : Sosialisasi perpajakan berpengaruh

positif terhadap kemauan Wajib Pajak Dalam mengikuti Program Tax Amnesty.

Tingkat pengetahuan perpajakan

yang dimiliki Wajib Pajak akan

mempengaruhi pengambilan keputusan

Wajib Pajak itu sendiri. Pengetahuan

perpajakan disini yaitu Wajib Pajak memiliki

informasi mengenai Program Tax Amnesty.

Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki Wajib Pajak maka akan semakin tinggi tingkat kemauan Wajib Pajak untuk mengikuti Program Tax Amnesty.

H3 : Pengetahuan Perpajakan berpengaruh

secara positif terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam mengikuti Program Tax Amnesty.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis

penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif karena data yang digunakan

berupa angka dan dihitung dengan

menggunakan metode statistik.Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer.Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari pihak pertama tanpa adanya pelantara.Data primer ini diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan

(6)

(kuesioner) yang telah terstruktur dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi dari Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Singaraja Kec.Buleleng yang merupakan responden dalam penelitian ini. Uji kualitas data yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu meliputi: pengujian

validitas dan pengujian reliabilitas. Sebelum data dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis regresi berganda, terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik yang meliputi: uji normalitas, uji multikolonieritas, dan uji heteroskedastisitas. Metode analisis data menggunakan analisis linier berganda,

uji hipotesis t (t test) dan uji koefesien

determinasi R2 (Adjusted R Square).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada Wajib Pajak Orang Pribadi yang bertempat tinggal di wilayah Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Penyebaran dan pengisian kuesioner ini dilakukan selama dua puluh satu hari yaitu mulai dari tanggal 28 November sampai dengan 18 Desember.

Kuesioner disebarkan kepada 100

responden, kemudian karena peneliti

mendatangi dan melakukan pendampingan secara langsung terhadap responden saat pengisian kuesioner, maka kuesioner yang berjumlah 100 eksemplar dapat diterima kembali semua secara lengkap oleh peneliti.

Uji validitas bertujuan untuk menguji seberapa baik instrumen penelitian mengukur konsep yang seharusnya diukur. Pedoman

suatu model dikatakan valid jika tingkat

signifikan di bawah 0,05 maka butir

pertanyaan tersebut dikatakan valid. Dari pengujian validitas yang telah dilakukan

hasilnya menunjukkan bahwa semua

pertanyaan yang berkaitan dengan variabel

kesadaran wajib pajak, sosialisasi

perpajakan, dan pengetahuan perpajakan dikatakan valid karena setiap pertanyaan memiliki nilai signifikansi dibawah 0,05.

Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa variabel kesadaran wajib pajak,

sosialisasi perpajakan, pengetahuan

perpajakan, dan kemauan wajib pajak dalam

mengikuti Tax Amnesty dapat dikatakan

reliabel karena memiliki nilai Cronbach’s

Alpha diatas 0,60.

Berdasarkan hasil uji normalitas

dengan menggunakan One-Sample

Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh nilai Asymp Sig. (2-tailed) sebesar 0,444 yang

berada diatas 0,05 sehingga dapat

disimpulkan bahwa data terdistribusi normal.

Hasil pengujian multikolinearitas

menunjukkan bahwa nilai Tolerance semua

variabel bebas berada diatas 0,10 dan nilai VIF semua variabel bebas berada di bawah 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas.

Berdasarkan hasil uji

heterokedastisitas yang telah dilakukan, terlihat bahwa nilai signifikan seluruh variabel bebas lebih besar dari 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi gejala heterokedastisitas.

Tabel 3. Hasil Uji Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.487 2.051 2.187 .031 X1 .383 .102 .348 3.742 .000 X2 .273 .089 .250 3.059 .003 X3 .261 .097 .252 2.677 .009 a. Dependent Variable: Y

(7)

Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai konstanta

(α) sebesar 4,487, nilai b1 sebesar 0.383; nilai

b2 sebesar 0,273; nilai b3 sebesar 0,261.

Berdasarkan hal tersebut dapat dibuat persamaan regresinya sebagai berikut.

Y = 4,487 + 0,383X1 + 0,273X2 +

0,261X3 + ε

Persamaan regresi yang terbentuk dapat diintreprestasikan sebagai berikut:

a. Konstanta sebesar 4,487 berarti

bahwa dengan mengesampingkan

pengaruh besarnya Kesadaran (X1),

Sosialisasi Perpajakan (X2), dan

Pengetahuan Perpajakan (X3) maka

besarnya Kemauan Wajib Pajak

dalam Mengikuti Tax Amnesty (Y)

adalah 4,487.

b. Koefesien regresi variabel Kesadaran

(X1) sebesar 0,383 berarti bahwa jika

terjadi peningkatan variabel

Kesadaran (X1) sebesar satu satuan

dengan asumsi variabel lain konstan, maka besarnya Kemauan Wajib Pajak

dalam Mengikuti Tax Amnesty (Y)

akan naik sebesar 0,383.

c. Koefesien regresi variabel Sosialisasi

Perpajakan (X2) sebesar 0,273 berarti

bahwa jika terjadi peningkatan

variabel Sosialisasi Perpajakan (X2)

sebesar satu satuan dengan asumsi variabel lain konstan, maka besarnya

Kemauan Wajib Pajak dalam

Mengikuti Tax Amnesty (Y) akan naik

sebesar 0,273.

d. Koefesien regresi variabel

Pengetahuan Perpajakan (X3)

sebesar 0,261 berarti bahwa jika

terjadi peningkatan variabel

Pengetahuan Perpajakan (X2)

sebesar satu satuan dengan asumsi variabel lain konstan, maka besarnya

Kemauan Wajib Pajak dalam

Mengikuti Tax Amnesty (Y) akan naik

sebesar 0,261.

Tabel 4. Hasil Uji t (t test) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.487 2.051 2.187 .031 X1 .383 .102 .348 3.742 .000 X2 .273 .089 .250 3.059 .003 X3 .261 .097 .252 2.677 .009 a. Dependent Variable: Y

Sesuai dengan hipotesis yang

diajukan dalam penelitian ini, maka

berdasarkan Tabel 4 secara terperinci dihasilkan pengujian sebagai berikut.

Hasil pengujian hipotesis pertama mengenai pengaruh variabel Kesadaran terhadap variabel Kemauan Wajib Pajak

dalam Mengikuti Tax Amnesty menunjukkan

bahwa variabel Kesadaran mempunyai t hitung sebesar 3,742 yang lebih besar dari t tabel sebesar 1,985. Nilai signifikan sebesar 0,000 yang mana nilai tersebut lebih kecil dari

0,05, hal tersebut berarti H1 diterima.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa

Kesadaran berpengaruh secara signifikan

terhadap Kemauan Wjaib Pajak dalam Mengikuti Tax Amnesty.

Pengujian hipotesis kedua mengenai pengaruh variabel Sosialisasi Perpajakan terhadap variabel Kemauan Wajib Pajak

dalam Mengikuti Tax Amnesty menunjukkan

bahwa variabel Sosialisasi Perpajakan

mempunyai t hitung sebesar 3,059 yang lebih besar dari t tabel sebesar 1.985. Nilai signifikan sebesar 0,003 yang mana nilai

tersebut lebih kecil 0,05, hal tersebut berarti

H2 diterima. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa Sosialisasi Perpajakan

Hasil pengujian hipotesis terakhir mengenai pengaruh variabel Pengetahuan

(8)

Perpajakan terhadap variabel Kemauan

Wajib Pajak dalam Mengikuti Tax Amnesty

menunjukkan bahwa variabel Pengetahuan Perpajakan mempunyai t hitung sebesar 2,667 yang lebih besar dari t tabel sebesar 1.985. Nilai signifikan sebesar 0,009 yang

mana nilai tersebut lebih kecil 0,05, hal

tersebut berarti H3 diterima. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa Pengetahuan Perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap

Kemauan Wajib Pajak dalam Mengikuti Tax

Amnesty.

Tabel 5. Hasil Uji Koefesien Determinasi (R2) Model Summary

a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1

Berdasarkan Tabel 5 besarnya

adjusted R2 adalah 0,429 hal ini berarti

42,9% variabel dependen kemauan wajib

pajak dalam mengikuti Tax Amnesty dapat

dijelaskan oleh variabel independen yang meliputi kesadaran wajib pajak, sosialisasi perpajakan, dan pengetahuan perpajakan.

Sedangkan sisanya sebesar 57,1%

dipengaruhi oleh faktor lain seperti Persepsi

yang Baik atas Efektifitas Sistem

Perpajakan, Pelayanan Fiskus, Sikap Wajib Pajak, dan lain-lain.

Pengaruh Kesadaran Terhadap Kemauan Wajib Pajak dalam Mengikuti Program Tax

Amnesty

Dalam penelitian ini, peneliti menguji bagaimana pengaruh kesadaran wajib pajak

terhadap kemauan wajib pajak dalam

mengikuti Tax Amnesty di Kecamatan

Buleleng, Kabupaten Buleleng. Kesadaran yang dimiliki oleh wajib pajak di Kecamatan Buleleng sudah baik, dimana hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban responden yang menunjukkan hasil dari regresi nilai t hitung yaitu sebesar 3,742 dengan probabilitas signifikansi adalah 0,000 berada dibawah α = 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesadaran berpengaruh secara positif

terhadap kemauan wajib pajak dalam

mengikuti Tax Amnesty.

Kesadaran perpajakan bagi wajib pajak mempengaruhi kemauan wajib pajak

untuk mengikuti Tax Amnesty karena

kesadaran merupakan modal utama wajib

pajak untuk menumbuhkan rasa patuh. Kesadaran yang dimiliki oleh wajib pajak di Kecamatan Buleleng sudah baik. Hal ini tercermin dari hasil jawaban responden yang menunjukkan bahwa indikator kesadaran

mengenai tujuan dan pentingnya

pemungutan pajak mendapat skor paling tinggi. Ini berarti mereka memahami bahwa pajak itu penting dan merupakan kewajiban. Wajib pajak juga menyadari pentingnya

fungsi pajak tersebut bagi Negara.

Kesadaran ini menjadi bahan pertimbangan

bagi wajib pajak apakah ingin mengikuti Tax

Amnesty atau tidak. Itu artinya wajib pajak

memiliki kesadaran bahwa tujuan

diadakannya Tax Amnesty adalah penting

dan memberikan manfaat bagi wajib pajak.

Sepanjang enam bulan

berlangsungnya Tax Amnesty, DJP mencatat jumlah dana dari program pengampunan pajak mencapai Rp 103,3 triliun. Dari jumlah tersebut, diperoleh dana tebusan yang diterima DJP berasal dari dana repatriasi dan deklarasi aset, baik dalam negeri maupun luar negeri. Angka itu merepresentasikan 63 persen dari target total dana tebusan hingga akhir Maret 2017, yang sebesar Rp 165 triliun. Untuk di Kabupaten Buleleng, KPP Pratama Singaraja mencatat pada periode

pertama program Tax Amnesty yang

diadakan mulai tanggal 1 Juli sampai dengan 30 September 2016 tercatat uang tebusan yang diperoleh baru mencapai Rp 14 Miliar, dimana nilai ini dikatakan masih kurang (humassetda.bulelengkab.go.id). Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .655a .429 .411 2.214

(9)

Pengaruh Sosialisasi Perpajakan Terhadap Kemauan Wajib Pajak dalam Mengikuti Program Tax Amnesty

Berdasarkan analisis yang dilakukan hasil dari regresi menunjukkan bahwa sosialisasi perpajakan memiliki pengaruh parsial yang signifikan terhadap kemauan

wajib pajak dalam mengikuti Tax Amnesty.

Hasil regresi menunjukkan nilai t hitung

sebesar 3,059 dengan probabilitas

signifikansi adalah 0,003 berada lebih rendah dari α = 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel sosialisasi perpajakan berpengaruh secara positif terhadap kemauan wajib pajak dalam mengikuti Tax Amnesty.

Signifikannya pengaruh antara

sosialisasi perpajakan dengan kemauan

wajib pajak untuk mengikuti Tax Amnesty

karena hal ini berhubungan dengan tingkat pemahaman wajib pajak terhadap materi sosialisasi yang diberikan yang dalam hal

ini yaitu materi mengenai Tax Amnesty.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran wajib pajak, kepatuhan wajib pajak, dan

kemauan wajib pajak dalam mengikuti Tax

Amnesty, maka harus dilakukan sosialisasi perpajakan dengan berbagai bentuk atau cara sosialisasi yang dilakukan secara berkala dan secara efektif baik itu dengan cara sosialisasi secara langsung dengan melakukan penyuluhan atau melalui media cetak dan elektronik yang mudah diketahui

oleh masyarakat agar masyarakat

khususnya wajib pajak akan memperoleh berita seputar peraturan atau perundang-undangan perpajakan yang terbaru.

Pengaruh Pengetahuan Perpajakan

Terhadap Kemauan Wajib Pajak dalam Mengikuti Program Tax Amnesty

Hasil penelitian ini menunjukkan nilai t hitung sebesar 2,677 dan signifikansi probabilitasnya adalah 0,009 berada lebih rendah dari α = 0,05, sehingga hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang diajukan. Hal ini mengindikasikan bahwa

variabel pengetahuan perpajakan

berpengaruh secara signifikan terhadap

kemauan wajib pajak dalam mengikuti Tax

Amnesty.

Pengetahuan dibidang perpajakan sangat penting dimiliki oleh masyarakat sebagai wajib pajak. Hal ini dikatakan penting karena dengan pengetahuan yang dimiliki dapat dijadikan sebagai pedoman

bagi wajib pajak untuk menjalankan

kewajiban perpajakannya. Pengetahuan dalam hal perpajakan memang lebih banyak didapat oleh wajib pajak sendiri melalui berbagai informasi-informasi yang ada,

dengan demikian sudah seharusnya

pemerintah selalu menyediakan informasi

yang selalu up to date agar masyarakat

selaku wajib pajak dapat selalu memiliki

pengetahuan yang terbaru mengenai

perpajakan.

Pengetahuan seseorang

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

seperti pendidikan, media, dan

keterpaparan informasi. Apabila seseorang memiliki pengetahuan yang tinggi, maka

motivasi seseorang tersebut untuk

meningkatkan kepatuhan perpajakannya yang dalam hal ini adalah kemauan untuk mengikuti Tax Amnesty akan semakin tinggi pula.

Dengan memiliki pengetahuan yang tinggi, wajib pajak akan mengerti tentang bagaimana cara untuk mendaftarkan diri sebagai wajib pajak dan memperoleh NPWP, mengerti tentang manfaat dan fungsi perpajakan, dan mengetahui tarif serta tata cara mengikuti Tax Amnesty.

Pada umumnya, seseorang yang memiliki pengetahuan perpajakan yang tinggi mereka akan sadar akan hak dan kewajibannya, tanpa harus dipaksakan ataupun diancam dengan beberapa sanksi dan hukuman. Mereka telah mengetahui bagaimana alur dari penerimaan pajak tersebut berjalan, hingga akhirnya manfaat

dari ikut serta dalam program Tax Amnesty

akan dirasakan. Jadi, apabila seseorang memiliki pengetahuan yang luas khususnya pengetahuan mengenai pentingnya pajak yang digunakan untuk membiayai keperluan public investment Negara, maka kemauan

(10)

wajib pajak untuk mengikuti program Tax Amnesty akan meningkat pula.

PENUTUP Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kesadaran berpengaruh secara positif terhadap kemauan wajib pajak dalam

mengikuti Tax Amnesty. Hal ini ditujukkan

dari hasil analisis yang menunjukkan nilai t hitung sebesar 3,742 dengan probabilitas

signifikansi adalah 0,000 berada dibawah α

= 0,05. Ini berarti variabel kesadaran sebesar 3,742 mempengaruhi kemauan wajib pajak dalam mengikuti Tax Amnesty.

Variabel sosialisasi perpajakan

berpengaruh secara positif terhadap

kemauan wajib pajak dalam mengikuti Tax

Amnesty. Hal ini ditujukkan dari hasil analisis yang menunjukkan nilai t hitung

sebesar 3,059 dengan probabilitas

signifikansi adalah 0,003 berada lebih rendah dari α = 0,05. Ini berarti variabel

sosialisasi perpajakan sebesar 3,059

mempengaruhi kemauan wajib pajak dalam mengikuti Tax Amnesty.

Dan Variabel pengetahuan

perpajakan berpengaruh secara positif terhadap kemauan wajib pajak dalam

mengikuti Tax Amnesty. Hal ini ditujukkan

dari hasil analisis yang menunjukkan nilai t hitung sebesar 2,677 dan signifikansi probabilitasnya adalah 0,009 berada lebih rendah dari α = 0,05. Ini berarti variabel pengetahuan perpajakan sebesar 2,677 mempengaruhi kemauan wajib pajak dalam mengikuti Tax Amnesty.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian serta kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, maka terdapat beberapa saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk penelitian sejenis berikutnya.

1. Penelitian selanjutnya diharapkan

dapat menambahkan variabel

independen lainnya, menambahkan variabel moderating atau intervening yang bertujuan untuk mengetahui

variabel-variabel lain yang dapat

mempengaruhi variabel dependen.

2. Penelitian selanjutnya diharapkan pula

dapat menambah jumlah sampel penelitian serta memperluas wilayah

sampel penelitian, dan dapat

melakukan penelitian di Kecamatan atau Kabupaten lain sehingga nanti hasilnya dapat digeneralisasikan untuk lingkup yang lebih luas.

3. Selain itu, walaupun hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa semua variabel

independen berpengaruh secara

positif terhadap variabel dependen. Namun, peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya menguji kembali variabel independen ini untuk lebih

memastikan apakah variabel

independen ini mempengaruhi

kemauan wajib pajak untuk mengikuti Tax Amnesty.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan, Hana Pratiwi .2015. Pengaruh

Sosialisasi Perpajakan, Pengetahuan Perpajakan, Persepsi Wajib Pajak Tentang Sanksi Pajak Dan Implementasi Pp Nomor 46 Tahun 2013 Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Empiris Pada Wajib Pajak Di Kabupaten

Banjarnegara).Universitas Diponegoro Semarang.

Mardiasmo. 2016. Perpajakan. Edisi Revisi. Yogyakarta: Cv Andi Offset.

Nugroho, Riyadi Fitra.2010. Keterkaitan

Sunset Policy Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan Di Kota Semarang.Universitas Diponegoro Semarang.

Ratung, Tatiana dan Adi, Priyo Hari. 2011. Dampak Program Sunset Policy Terhadap Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kemauan Membayar

(11)

Pajak (Studi Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Pelaku Usaha di KPP Pratama Salatiga). Universitas Trunojoyo Madura.

Republik Indonesia.Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016, Tax Amnesty (Pengampunan Pajak).

. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Susanti, Christina. 2011. Pengaruh

Kebijakan Sunset Policy Terhadap

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kemauan Membayar Pajak (Studi Kasus Pada Wajib Pajak Orang Pribadi di Wilayah KPP Pratama Jember). Universitas Jember. Tarjo dan Suwarjuwono Tjiptohadi. 2005.

“Kepercayaan Wajib Pajak Terhadap Fiskus, Kesadaram Wajib Pajak Terhadap Pentingnya Membayar Pajak, Rekayasa Akuntansi dan Kepatuhan Wajib Pajak”. Jurnal Manajemen, Akuntansi dan Bisnis Volume 3 Nomor 2.

Gambar

Tabel 3.  Hasil Uji Regresi Linear Berganda  Coefficients a Model  Unstandardized Coefficients  Standardized Coefficients  t  Sig

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengembangan dalam penelitian ini adalah model program bimbingan dan konseling komprehensif, yang dimulai dari penyusunan standart kompetensi, penyusunan assesment ke-

❖ Maka, sebagai orang Islam, masyarakat Melayu berpegang kepada konsep tauhid iaitu mengEsakan Allah s.w.t tanpa menyamakan Dia dengan sesuatu yang lain dan hanya Allah s.w.t

Hasil regresi logistik ganda umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kepegawaian, dan masa kerja terhadap kelengkapan pengisian dokumentasi asuhan keperawatan rawat inap

Dari penelitian terdahulu diketahui bahwa membran alginat yang mengandung antibiotik dapat digunakan sebagai media penyampaian obat topikal untuk luka terinfeksi,

Penelitian ini terdapat banyak kelemahan dalam penilaian tingkat kehalusan yang sebaiknya kehalusan kulit harus diamati secara cermat dengan menggunakan alat ukur yang

Pengujian dilakukan pada 5 spesimen dan setiap spesimen di tekan pada 5 titik yang berbeda, yaitu pada bagian atas, tengah, bawah. Pada uji kekerasan kali ini menggunakan gaya

Strategi pengelolaan potensi sumberdaya perikanan dalam upaya penguatan sistem kelembagaan adat Suku Kuri di Kampung Sarbe Teluk Bintuni yaitu: pengembangan wilayah

Berdasarkan fenomena dan masalah tersebut, maka diperlukan solusi yang tepat untuk mengoptimalkan pemanfaatan karung goni sebagai embellisment pada produk fesyen berupa