• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Tata Negara - Repository UNIKOM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Hukum Tata Negara - Repository UNIKOM"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

James J. Robbins :

The Body of Legal Rules and Principles which define the nature and limits of governmental power as well as the rights and duties of individuals in relation to the state and its governing organs. These rules and principles are usually formulated in a written constitution and are interpreted and extended by courts of final jurisdiction exercising their power of judicial review

Perhatikan kalimat : …are usually formulated in a written… Mengandung arti bahwa ada kalanya berbagai peraturan

(4)

Nilai-nilai Konstitusi yang tak tertulis

Undang-undang dasar, Pembukaan dan Pasal-pasalnyaPeraturan Perundangan Tertulis

Jurisprudensi Peradilan

Constitutional Conventions (Kebiasaan Ketatanegaraan)

Doktrin Ilmu Hukum yang telah menjadi Ius Comminis Opinio

Doctorum

Hukum Internasional yang telah diratifikasi menjadi Hukum

Nasional

(5)

Soetandyo Wignjosoebroto (emiritus Profesor, UNAIR)

Sejumlah ketentuan hukum yang disusun secara sistematik untuk menata dan mengatur pada pokok-pokoknya struktur dan fungsi lembaga pemerintahan, termasuk hal ikhwal kewenangan dan batas kewenangan lembaga-lembaga negara itu.

(6)

Banyak yang menyamakan begitu saja, misal UUD

Amerika Serikat sering disebut “Konstitusi Amerika Serikat”.

Pengalaman Indonesia pada 1949; menggunakan

istilah “Konstitusi RIS” dan bukannya UUD RIS

Konstitusi lebih luas dari UUD. Konstitusi adalah

hukum dasar. UUD adalah hukum dasar yang tertulis.

(7)

Jimly Asshiddiqie

(Gurubesar HTN, UI)

Hukum dasar yang dijadikan pegangan dalam penyelenggaraan suatu negara. Konstitusi dapat berupa hukum dasar tertulis yang lazim disebut Undang-undang Dasar, dan dapat pula tidak tertulis.

(8)

Ajaran (doktrin) mengenai kebebasan sebagai Hak Asasi

Manusia

Hak yang kodrati, tak tetap tak bisa diambil alih kapanpun dan kekuasaan manapun dalam kehidupan bernegara, serta harus dijaga dan dipertahankan eksistensinya agar tetap utuh dan tak cacat karena terjadinya pelanggaran atasnya.

Ajaran (doktrin) Rule of Law atau the supremacy state of law:

setiap wujud kekuasaan harus mempunyai dasar pembenarannya menurut hukum perundang-undangan, dan pada gilirannya hukum perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan apa yang telah dikaidahkan oleh konstitusi.

(9)

An Anglo-American doctrine that the law is supreme

and that the rights of person under law are protected from interference by officers of the government

Suatu ajaran bahwa hukum adalah supreme/teratas

dan bahwa hak-hak orang di bawah naungan hukum dilindungi dari gangguan oleh para pejabat

pemerintah

Rule of Law, bukan Rule of Men, apalagi Rule By

(10)
(11)

Naskahnya dipersiapkan oleh Dokuritu Zyunbi

Tyosa Kai (baca: Dokuritsu Jiunbi Cosakai,

diterjemahkan sebagai Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, disingkat BPUPK) yang dibentuk pada 29 April 1945 oleh pemerintah

Jepang sebagai pelaksanaan janji Kemerdekaan, dilantik pada 28 Mei 1945

BPUPK : 62 Anggota, diketuai KRT Radjiman

Wedyodiningrat & wakilnya Hibangase Yosio

Persidangan dibagi dlm 2 periode: 29 Mei – 1 Juni

1945 & 10 Juli-17 Juli 1945

dalam kedua sidang, pembicaraan fokus pada

(12)

Mr. Soepomo dalam pidato di Sidang BPUPKI 31 Mei 1945 menyatakan bahwa cita negara yang sesuai dengan Indonesia adalah negara integralistik.

Negara integralistik menurut Mr. Soepomo lebih tepat daripada negara individual liberalistis atau negara yang didasarkan pada kelas sebagaimana

(13)

Mr. Soepomo yang seorang ahli hukum adat, telah lama meyakini bahwa kesatuan antara pemimpin dan rakyat adalah karakter bangsa Indonesia,

sebagaimana juga dijumpai di Jerman dan Jepang. Pendapat Soepomo didukung Ir. Soekarno &

anggota-anggota BPUPK beretnis Jawa

Hatta & Yamin di sisi lain menginginkan bahwa Negara Indonesia yang akan terbentuk tetap

(14)

Pro: konsep negara integralistik adalah

pandangan asli bangsa Indonesia

Contra: konsep negara integralistik

Menjadikan UUD 1945 cenderung

melahirkan kekuasaan otoriter

(15)

Pada persidangan kedua, dibentuk Panitia Hukum

Dasar, beranggotakan 19 orang, diketuai Ir. Soekarno

Panitia ini membentuk Panitia Kecil diketuai o/

Prof.Soepomo

13 Juli 1945, panitia kecil menyelesaikan tugas &

BPUPK menyetujui hasil kerjanya sebagai RUUD pada 16 Agustus 1945

(16)

o Pidato Ketua PPKI Soekarno 18 Agustus 1945: UUD 1945

adalah Revolutie Grondwet, nanti kita akan memiliki UUD yang lebih baik

o Ratulangi: UUD 1945 perlu disempurnakan o Aturan Tambahan Pasal II:

Dalam enam bulan setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat ini terbentuk, Majelis bersidang untuk menetapkan

(17)

UUD 1945, UUD darurat, OKI tidak selalu

dijadikan rujukan

2 September 1945 dibentuk kabinet pertama

dibawah tanggungjawab Presiden

Soekarno. Ini berkesesuaian dengan UUD

1945 yang menganut

sistem Presidensial

.

tapi

(18)

Latar Belakang:

Perang Dunia II berakhir: Jepang menjadi negara kalah perang.

Kerajaan Belanda hendak kembali menjajah dengan taktik mendirikan negara kecil di Sumatera,

Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan,

(19)

23 Agustus -12 November 1949 diadakan Konferensi Meja Bundar di The Hague (Den Haag)

Hasil Konferensi:

Mendirikan Negara Republik Indonesia Serikat

Penyerahan Kedaulatan kepada RIS yang berisi 3

hal, yaitu (a) piagam penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Pemerintah RIS; (b)

status uni; dan (c) persetujuan perpindahan

Mendirikan Uni antara Republik Indonesia Serikat

dengan Kerajaan Belanda

(20)

Negara RIS tidak bertahan lama. Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, dan Negara Sumatera Timur menggabungkan diri menjadi satu wilayah Republik Indonesia.

19 Mei 1950 Pemerintah RIS dan Pemerintah RI sepakat membentuk kembali NKRI

Dibentuk Panitia untuk merancang UUD UUDS resmi berlaku 17 Agustus 1950

(21)

Desember 1955 Pemilu memilih konstituante untuk

membentuk UUD

1956-1959 Konstituante bersidang dengan maksud

membuat UUD yang tetap

Dalam kurun waktu 3 tahun (1956-1959)

(22)

Presiden Soekarno menyimpulkan Majelis

Konstituante gagal, ia mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 : membubarkan Konstituante dan

memberlakukan kembali UUD 1945

Dikukuhkan secara aklamasi pada 22 Juli 1959 oleh

DPR

Dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 150

(23)

Mengalami sakralisasi: tidak boleh dirubah, walau UUD 1945 adalah sementara sifatnya

Tap MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum mempersulit perubahan UUD 1945

Kekuasaan mengalami stagnasi. Tidak berubah selama 32 tahun

Kolusi Korupsi Nepotisme sebagai akibat UUD 1945 yang sentralistik dan sangat executive heavy

Pelanggaran berbagai hak asasi manusia: hak hidup, hak untuk bebas dari penyiksaan, hak persamaan dimuka hukum, hak berserikat berkumpul,

(24)

Agenda Reformasi (Pembaharuan) a.l:

Amandemen UUD 1945

Penghapusan Doktrin Dwi Fungsi ABRI

Penegakan Supremasi Hukum, Penghormatan HAM,

serta pemberantasan KKN

Desentralisasi dan hubungan yang adil antara pusat

dan daerah

Mewujudkan Kebebasan Pers

(25)

UUD 1945 belum cukup memuat landasan bagi

kehidupan yang demokratis, pemberdayaan rakyat dan penghormatan HAM.

Presiden memiliki kekuasaan legislatif (membentuk Undang-undang)

UUD 1945 mengandung pasal-pasal yang multitafsir

dan membuka peluang bagi penyelenggaraan negara yang otoriter, sentralistik, tertutup, dan KKN

Pasal Mengenai Masa Jabatan Presiden (Pasal 7),

(26)

Tidak adanya saling mengawasi dan saling

(27)

Menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan

negara dalam mencapai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945 dan memperkokoh NKRI berdasar Pancasila

Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan

dan pelaksanaan kedaulatan rakyat serta memperluas partisipasi rakyat

Menyempurnakan aturan dasar mengenai

perlindungan hak asasi manusia

Menyempurnakan aturan dasar penyelenggaraan

(28)

Pasal 37 UUD 1945

Naskah yang menjadi objek perubahan: Undang

Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan Dekrit

Presiden pada tanggal 5 Juli 1959 serta dikukuhkan secara aklamasi pada tanggal 22 Juli 1959 oleh

(29)

Sidang Istimewa MPR RI 1998: diterbitkan

Tiga Ketetapan MPR

Tiga ketetapan tersebut tidak secara

langsung merubah UUD 1945 tapi telah

menyentuh muatan UUD 1945

Setelah ada tiga ketetapan tersebut

kehendak dan keinginan untuk melakukan

perubahan UUD 1945 makin mengkristal di

kalangan masyarakat, pemerintah, dan

(30)

Ketetapan MPR Nomor VIII/MPR/1998 tentang Pencabutan

Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum

Ketetapan MPR Nomor XIII/MPR/1998 tentang Pembatasan

Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Ketentuan Pasal 1 ketetapan MPR tersebut berbunyi “Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia memegang jabatan selama masa lima tahun, dan

sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”

Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi

Manusia. Ketetapan ini dapat dilihat sebagai

(31)

Tidak mengubah Pembukaan UUD 1945,

Tetap mempertahankan Negara Kesatuan

Republik Indonesia,

Mempertegas Sistem Pemerintahan Presidensial

Penjelasan UUD 1945 yg memuat hal-hal

normatif, akan dimasukkan dalam pasal-pasal,

(32)

Pembukaan UUD 1945: Memuat dasar filosofis & normatif Pembukaan UUD 1945

yang mendasari seluruh pasal dalam UUD 1945 Pembukaan mengandung staatsidee berdirinya NKRI, tujuan (haluan) negara yang harus dipertahankan

Kesepakatan untuk mempertahankan NKRI didasari mempertahankan NKRI

pertimbangan bahwa negara kesatuan adalah bentuk yang ditetapkan sejak awal berdirinya negara Indonesia dan

dipandang paling tepat untuk mewadahi ide persatuan bangsa yang majemuk ditinjau dari berbagai latar belakang

Kesepakatan mempertegas Sistem Presidensial bertujuan mempertegas Sistem Presidensial

(33)

Peniadaan Penjelasan dimaksudkan untuk menghindarkan

kesulitan dalam menentukan status “Penjelasan” dari sisi sumber hukum dan tata urutan perundang-undangan. Selain itu Penjelasan BUKAN produk BPUPK atau PPKI karena kedua lembaga itu menyusun rancangan Pembukaan dan Batang

Tubuh (Pasal-pasal) UUD 1945 tanpa Penjelasan

Perubahan secara Adendum artinya perubahan dilakukan

(34)

PERUBAHAN MATERI PERUBAHAN KETERANGA N

Pertama (disahkan dalam Sidang Umum MPR-RI 19 Oktober 1999)

Pasal 5 ayat (1), Pasal 7, Pasal 9 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 13 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (4), dan Pasal 21

Keseluruhan berisi 16 ayat= 16 butir

ketentuan dasar

Kedua (disahkan dalam Sidang Tahunan MPR-RI tanggal 18 Agustus 2000)

Mencakup 27 Pasal yang tersebar dalam 7 bab, yaitu Bab VI tentang Pemerintahan Daerah, Bab VII tentang Dewan Perwakilan Rakyat, Bab IXA Tentang Wilayah Negara, Bab X Tentang Warga Negara dan Penduduk, Bab XA Tentang Hak Asasi Manusia, Bab XII

tentang Pertahanan dan Keamanan Negara, Bab XV tentang Bendera, Bahasa, dan

Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan

(35)

PERUBAHAN MATERI PERUBAHAN KETERANGAN

Ketiga (disahkan 9

November 2001) Bab I tentang Bentuk Negara dan Kedaulatan, Bab II Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Bab III tentang Kekuasaan

Pemerintahan Negara, Bab V tentang

Kementrian Negara, Bab VIIA tentang Dewan Perwakilan Daerah, Bab VIIB tentang

Pemilihan Umum, dan Bab VIIIA tentang Badan Pemeriksa Keuangan

Antara lain ditetapkan bahwa UUD NRI 1945 sebagaimana telah dirubah dengan Perubahan I, II, III,IV adalah UUD NRI 1945 yang

ditetapkan 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan Dekrit 5 Juli 1959 serta

dikukuhkan secara aklamasi pada 22 Juli 1959

(36)

PERIODE MUATAN

1945-1959 Naskah Asli UUD 1945 tanpa Penjelasan. Yang ada adalah Penjelasan Tentang UUD 1945

1959-1999 Naskah Asli UUD 1945 dengan Penjelasan Pasal per Pasal.

1999-2000 Naskah Asli UUD 1945 versi 1959-1999 + Perubahan I (1999)

2000-2001 Naskah Asli UUD 1945 versi 1959 -1999+ Perubahan I (1999) dan Perubahan II (2000)

2001-2002 Naskah Asli UUD 1945 versi 1959-1999 + Perubahan I (1999) , Perubahan II (2000) dan Perubahan III (2001)

(37)

Perubahan UUD 1945 dilakukan dalam rangka

menyempurnakan dan bukan mengganti UUD 1945

Oleh karenanya jenis perubahan UUD yang

dilakukan MPR adalah mengubah, membuat rumusan baru sama sekali, menghapus atau

(38)

Contoh; Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 yang semula berbunyi

Pasal 2

(1) Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat, ditambah dengan

utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, menurut aturan yang ditetapkan dengan undang-undang Setelah diubah menjadi

Pasal 2

(1) Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota

(39)

Contoh; Pasal 6A ayat (1) UUD 1945 Pasal 6A

(40)

Contoh, Ketentuan Bab IV Dewan Pertimbangan Agung

BAB IV

DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG Pasal 16

Susunan Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan dengan

Undang-undang

Dewan ini berkewajiban memberi jawab atas pertanyaan

Presiden dan berhak memajukan usul kepada Pemerintah

Setelah diubah menjadi

BAB IV

DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG

(41)

Contoh Pemindahan Rumusan Pasal ke dalam Rumusan Ayat: Pasal 34 UUD 1945

Pasal 34

Fakir Miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara

Setelah diubah menjadi

Pasal 34

Fakir Miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh

(42)

Kelompok /Arus yang ingin kembali ke UUD 1945

Kelompok Sapta Margais/Purnawirawan TNI dengan alasan Kesetiaan kepada Pancasila dan UUD 1945 Kelompok /Arus yang ingin mempertahankan UUD 1945

hasil Perubahan

Parpol dominan di MPR/DPR dengan alasan:

Perubahan sudah cukup menampung aspirasi dan kompromi

Kelompok /Arus yang ingin Perubahan Lanjutan/ Perubahan ke-Lima

(43)

Perubahan UUD 1945 (199-2002) bukan pengkhianatan

terhadap Pancasila dan UUD 1945. Perubahan bahkan amanat Aturan Tambahan II UUD 1945

Perubahan tidak menyentuh Pembukaan UUD 1945 yang

berisi Dasar Negara Panca Sila

Perubahan telah dibahas dalam jangka waktu lebih lama, 12

Referensi

Dokumen terkait

Setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Negara Indonesia kembali menggunakan UUD 1945, Namun demokarsi yang diterapkan adalah

Berlakunya kembali UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 diterima baik oleh rakyat Indonesia, bahkan DPR menyatakan diri bersedia untuk bekerja atas dasar

Mengingat dasar hukum kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 itu berdasarkan Dekrit Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tanggal 5 Juli

Berlakunya kembali Undang-undang Dasar 1945 setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan adanya Ketetapan-ketetapan MPRS Nomor I dan II tahun 1960 menghendaki diadakannya Undang-

Mengingat dasar hukum kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 itu berdasarkan Dekrit Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tanggal 5 Juli

Mengingat dasar hukum kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 itu berdasarkan Dekrit Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tanggal 5 Juli

Berdasarkan Pembukaan UUD NRI 1945 tanggal 18 Agustus 1945 juncto Keputusan Presiden RI Nomor 150 Tahun 1959 mengenai Dekrit Presiden RI/Panglima Tertinggi Angkatan

Berlakunya kembali Undang-undang Dasar 1945 setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan adanya Ketetapan-ketetapan MPRS Nomor I dan II tahun 1960 menghendaki diadakannya Undang-