BERDASARKAN GAYA BELAJAR KOLB Puput Senja Eka Sari
Jurusan Matematika, Program Studi Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail: [email protected]
Abstrak
Dalam belajar diperlukan proses berpikir, proses berpikir adalah serangkaian aktivitas mental yang terjadi di dalam pikiran seseorang dalam merespons stimulus pada saat menerima, mengolah, menyimpan dan memanggil kembali informasi dari ingatan siswa. Pada proses pembelajaran siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Setiap siswa memiliki cara yang berbeda dalam memecahkan masalah. Dalam menyelesaikan permasalahan siswa harus memiliki pertimbangan dan strategi yang tepat, yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dipengaruhi oleh gaya belajar mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa SMA dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan gaya belajar Kolb. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan di SMA Negeri 2 Lamongan dengan subjek masing-masing satu siswa yang memiliki tipe gaya belajar Divergen, Konvergen, Asimilasi dan Akomodasi. Data dikumpulkan dengan memeberikan angket gaya belajar, tes kemampuan matematika, tes pemecahan masalah dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bagaimana proses berpikir dari keempat subjek. Pada tahap memahami masalah subjek Divergen, Asimilasi, Akomodasi membaca permasalahn dalam hati, sedangankan subjek Konvergen membaca masalah dengan suara pelan. Subjek Divergen dan Konvergen menentukan informasi yang penting dengan membaca keseluruhan dan menggarisbawahi, sedangkan subjek Asimilasi dan Akomodasi menentukan informasi yang penting dengan membaca perkalimat dan ditulis. Pada tahap membuat rencana subjek Divergen mengunakan cara yang berbeda dalam menyelesaikan beberapa masalah, sedangkan subjek Konvergen, Asimilasi dan Akomodasi menggunkan cara yang sama dalam menyelesaikan beberapa masalah. Pada tahap melaksanakan rencana subjek Divergen, Konvergen, Asimilasi dan Akomodasi menyelesaiakan permasalahan sesuai rencana yang telah dibuat. Pada tahap memeriksa kembali subjek Divergen memeriksa setiap langkah yang dilakukan, subjek Konvergen menyesuaikan apa yang ditanyakan pada soal dengan hasil yang diperoleh, subjek Asimilasi memeriksa beberapa tahap yang dilakukan, sedangkan subjek Akomodasi tidak melakukan pemeriksaan.
Kata Kunci: Proses Berpikir, Memecahkan masalah, dan Gaya Belajar Kolb.
Abstract
Within learning required thinking process. Thinking process is series of mental activities occurred in the individual mind to response stimulus when receives, processes, reserves, and recall information from the memory. At learning process, students are possible to obtain experience by using knowledge and skill which already they have to be applied to solve the problem that is not routine. Each student has different way to solve the problem. In problem solving, student must have right consideration and strategy which will be used to finish the problem. Student skill in problem solving is affected by their learning style.
This research aimed to describe thinking process of high school student in solving mathematics problem based on Kolb learning style. This research is descriptive qualitative research that conducted in SMA Negeri 2 Lamongan where each subjects was one student who has learning style Divergent, Convergent, Assimilation, and Accommodation. Data were collected by giving test to categorized learning style, mathematics skill test, problem solving test, and interview.
The results show how the thinking process of the four subjects. At the stage of understanding the subject matter Divergen, Assimilation, Accommodation reading problems in the heart, Convergent Convergent subjects read the problem in a low voice. Divergent and Convergent subjects determine important information by reading whole and underline, while Assimilation and Accommodation subjects determine important information by reading sentences and written. At the stage of making the subject plan Divergen uses different ways of solving some problems, while Convergent, Assimilation and Accommodate subjects use the same way of solving some problems. At the stage of carrying out the subject plan Divergen, Convergent, Assimilation and Accommodations solve the problems according to the plan that has been made. At the stage of re-examining the subject Divergen examines every step taken, the Convergent subject adjusts what is asked to the problem with the results obtained, the subject Assimilation checks several stages performed, while the subject Accommodations do not perform the examination.
PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari adanya perubahan-perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia. Di masa ini kurikulum 2013 telah diterapkan oleh beberapa sekolah. Dalam kurikulum 2103 para siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar atau pembelajaran lebih berpusat pada siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa harus memberi ruang bagi siswa untuk belajar menurut ketertarikan nya, kemampuan pribadinya dan gaya belajarnya.
Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan nilai sikap. Dalam belajar diperlukan adanya proses berpikir, proses berpikir merupakan urutan kejadian mental yang terjadi secara alamiah dan sistematis yang menghasilkan suatu perubahan terhadap objek (Kuswana, 2013).
Salah satu hal yang dipikirkan adalah masalah, dalam penelitian ini masalah yang dimaksud adalah masalah matematika. Soedjadi (2000) menyatakan bahwa
objek dasar matematika yang merupakan fakta, konsep, relasi/operasi dan prinsip merupakan hal-hal yang abstrak sehingga untuk memahaminya tidak cukup hanya menghafal tetapi dibutukan adanya proses berpikir.
Pada proses
pembelajaran siswa dimungkinkan
memperoleh pengalaman menggunakan
pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Pemecahan masalah merupakan suatu jalan yang menghubungkan fakta, algoritma dalam permasalahan yang akan dihadapi oleh siswa. Pada saat penyelesaian masalah setiap siswa memiliki pertimbangan dan strategi yang berbeda. Perbedaan
tersebut yang
mempengaruhi perbedaan cara belajar sehingga gaya belajar dari setiap siswa berbeda. Hal tersebut juga didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Aljaberi (2015) yang menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dipengaruhi oleh gaya belajar mereka.. Conner (2008) menyatakan bahwa gaya belajar siswa mengacu pada cara siswa memilih untuk menerima atau memproses informasi baru. Hal tersebut sesuai dengan gaya belajar yang dikembangkan oleh Kolb
.
Siswa pada tingkat SMA Menurut teori
perkembangan kognitif peaget telah berada pada tahap operasi formal yang merupakan tahap perkembangan kognitif terakhir (syah, 2013). Siswa di asumsikan telah mampu mengembangkan pola pikir abstrak dan logis. Siswa dapat menggunakan
pengalaman-pengalaman yang telah mereka dapatkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk digunakan dalam proses pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa. Berdasarkan alasan yang sudah dijabarkan, maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana proses berpikir siswa SMA Dalam pemecahan masalah matematika berdasarkan gaya belajar Kolb.
Agar dapat menjawab pertanyaan penelitian tersebut dibutuhkan pengetahuan mengenai kajian literatur yang menjadi dasar penelitian ini antara lain: proses berpikir, masalah matematika, Memecahan masalah Matematika, Proses berpikir dalam memecahkan masalah matematika, gaya belajar Kolb.
Dalam belajar matematika seseorang pasti melibatkan kegiatan mental sehingga terjadi proses mental (proses berpikir). Proses berpikir merupakan serangkaian proses mulai tahap input (masuk), pemrosesan dan pembentukan kesimpulan. Proses berpikir dalam
penelitian ini adalah serangkaian aktivitas mental yang terjadi di dalam pikiran seseorang dalam merespons stimulus pada saat menerima, mengolah, menyimpan dan memanggil kembali informasi dari ingatan siswa. Penerimaan informasi merupakan bagaimana subjek menerima informasi dari pemasalahan yang dibaca. Pengolahan informasi adalah mengaitkan dan membandingkan
informasi yang diterima dengan pengetahuan yang sudahdimiliki, serta menemukan ide, langkah, prosedur terhadap permasalahan yang diberikan. Penyimpanan informasi adalah pengulangan informasi atau hasil proses berpikir sebelumnya yang berhubungan dengan permasalahan yang diberikan. Pemanggilan kembali informasi merupakan mengingat informasi yang diterima atau mengingat pengetahuan yang sudah
dikuasai pada
permasalahan yang diberikan.
merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang siswa dalam mengatasi atau memecahkan suatu halangan atau kendala ketika suatu jawaban belum tampak jelas. Polya (1985) mengartikan ada empat tahapan dalam pemecahan masalah yaitu memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali.
Berdasarkan kajian yang ada pada penelitian
ini untuk
mengidentifikasikan proses berpikir subjek, peneliti menjabarkan perilaku subjek dalam tabel langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya sebagai berikut:
Tabel 1 Indikator Proses Berpikir Siswa dalam Memecahkan Masalah Berdasarkan
Langkah Polya Langkah
pemecahan masalah
Proses berpikir Memahami
masalah Menerimainformasi Mengolah informasi
Menyimpan Informasi
Menyusun rencana penyelesaia n masalah
Memanggil kembali
Tabel 1 Indikator Proses Berpikir Siswa dalam Memecahkan Masalah Berdasarkan
Langkah Polya Langkah
pemecahan masalah
Proses berpikir Mengolah informasi
Melaksanak an rencana pemecahan masalah
Mengolah informasi
Menyimpan informasi
Memanggil kembali
Melakukan pengecekan kembali
Mengolah informasi
Menyimpan informasi
Memanggil kembali
Siswa merupakan suatu individu yang unik yang memiliki perbedaan masing-masing. Salah satu perbedaan dari satu siswa dengan siswa lain adalah cara mereka dalam belajar, sehingga gaya belajar siswa berbeda. Gaya belajar yang berbeda
akan mempengaruhi bagaimana siswa memahami materi yang diajarkan oleh guru, dan juga mempengaruhi siswa dalam menyelesaikan masalah. Gaya belajar berkaitan erat dengan pribadi siswa yang dipengaruhi oleh pendidik
dan riwayat
perkembangannya. Gaya belajar bersifat individual bagi siswa.
Berawal dari pentingnya penggunaan pengalaman terhadap proses belajar, para ahli pendidikan dan psikologi menyusun teori belajar experiential. Kolb (1984) menghubungkan teori experiential lebih jauh. Tipe belajar David Kolb berlandaskan teori belajar pengalaman. Gaya belajar Kolb merupakan gaya
belajar yang
mengikhtisarkan adanya dua pendekatan yaitu memperoleh informasi dan transformasi pengalaman. Dalam memperoleh informasi
terdapat dua
kecenderungan yaitu pengalaman konkrit dan konseptualisasi abstrak Sedangkan dalam melakukan transformasi pengalaman ada dua kecenderungan yaitu observasi reflektif dan eksperimen
Ada 4 tipe gaya
belajar yang
dikembangkan oleh Kolb, yaitu konvergen, divergen, asimilasi dan akomodasi.
a. Pertama gaya belajar divergen yang dicirikan dengan konseptualisasi
abstrak dan
pengalaman aktif. b. Kedua gaya belajar
konvergen yang dicirn dengan pengalaman konkrit dan observasi reflektif.
c. Ketiga gaya belajar asimilasi yang dicirikan dengan konseptualisasi
abstrak dan
observasi reflektif. d. Keempat gaya
belajar akomodasi yang dicirikan dengan pengalaman
konkrit dan
eksperimen aktif.
METODE PENELITIAN
masalah dan hasil wawancara. Untuk hasil wawancara dalam penelitian ini dugunakan tiga metode yaitu reduksi data untuk memilih informasi yang penting, penyajian data untuk menuliskan data yang diperoleh dan penarikan kesimpulan yang
Berdasarkan hasil tes pemecahan masalah program linear dan wawancara , dapat diketahui proses berpikir berpikir siswa dengan gaya belajar kolb tipe Divergen , Konvergen, Asimilasi dan Akomodasi dalam memecahkan masalah program linear adalah sebagai berikut. Proses Berpikir Siswa dengan Gaya Belajar Divergen (D) Dalam Memecahkan Masalah Program Linear.
Pada tahap memahami masalah berdasarkan hasil tes tulis dan wawancara subjek dengan gaya belajar Divergen menerima informasi dengan cara keseluruhan masalah dan menggaris bawahi masalah tersebut. Dalam menyimpan informasi, SD menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanya dengan menuliskan pada lembar jawaban.
Pada tahap menyusun rencana dalam memanggil kembali SD menyebutkan cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. SD menyebutkan cara yang digunakan dalam menyelesaikan MPL1
yaitu dengan
menggunakan logika pemikirannya sendiri, sedangkan pada MPL2 sesuai dengan informasi yang ada pada masalah. Selanjutnya subjek menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan dilakukan.
Pada tahap melaksanakan rencana, SD mengolah informasi dengan melakukan rencana sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pada tahap menyimpan informasi pada MPL1, subjek mensubstitusikan dua kemungkinan kedalam rumus penjualan selama satu minggu, dan
memilih pendapatan yang paling maksimum, sedangkan pada MPL2 SD membuat grafik menentukan himpunan penyelesaian,
mensubstitusikan titik pojok kedalam fungsi tujuan dan didapat keuntungan yang paling maksimum, serta pada tahap memanggil kembali SD menjelaskan secara dengan menjelaskan bahwa jawaban yang diperoleh sudah sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan. Langkah yang dilakukan SD untuk menentukan kesesuaian adalah dengan cara membaca ulang kembali permasalahan. Dalam menyimpan informasi, SD melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. SD melakukan pemeriksaan pekerjaan yang telah dilakukan dengan cara memeriksa setiap langkah yang telah SD kerjakan. Selanjutnya pada tahap memanggil kembali, SD menjelaskan bahwa tidak ada perubahan yang terjadi pada setiap langkah penyelesaian yang SD periksa.
Proses Berpikir Siswa dengan Gaya Belajar Konvergen (K) Dalam Memecahkan Masalah Program Linear.
Pada tahap memahami masalah
berdasarkan hasil tes tulis dan wawancara subjek dengan gaya belajar Konvergen menerima informasi dengan cara ditanya berdasarkan apa yang telah dibaca. SK mengolah informasi dengan cara membaca keseluruhan masalah dan membaca ulang dengan mengaris bawahi informasi yang diketahui. SK menyimpan informasi dengan menyebutkan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dengan cara menuliskan pada lembar jawaban.
Pada tahap menyusun rencana, SK memanggil kembali dengan menyebutkan cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. SK menyebutkan cara menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan dilakukan.
SK mengolah informasi dengan melakukan rencana sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pada tahap menyimpan informasi SK membuat grafik menentukan himpunan penyelesaian, mensubstitusikan titik pojok kedalam fungsi tujuan dan didapat keuntungan yang paling maksimum. Pada tahap memanggil kembali SK menjelaskan secara jelas dan memberikan alasan secara logis setiap langkah yang telah dikerjakan.
Pada tahap memeriksa kembali, SK mengolah informasi dengan menjelaskan bahwa jawaban yang diperoleh sudah sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan. Langkah yang dilakukan SK untuk menentukan kesesuaian adalah dengan cara membaca ulang kembali permasalahan. Dalam menyimpan informasi, SK melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. SK melakukan pemeriksaan pekerjaan yang telah menjelaskan bahwa tidak ada perubahan yang terjadi pada setiap langkah penyelesaian yang SK periksa
Proses Berpikir Siswa dengan Gaya Belajar Asimilasi (AS) Dalam
Memecahkan Masalah Program Linear.
Pada tahap memahami masalah berdasarkan hasil tes tulis dan wawancara subjek dengan gaya belajar Asimilasi menerima informasi dengan cara membaca dalam hati sebanyak dua kali. Setelah
SAS membaca menentukan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan berdasarkan apa yang telah dibaca. SAS mengolah informasi dengan cara membaca per kalimat jika terdapat informasi yang diketahui SAS mengaris bawahi kalimat tersebut dan menulis pada lembar lain.
SAS menyimpan
informasi dengan menyebutkan informasi yang diketahui dan yang dengan menyebutkan cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. SAS menyebutkan cara yang digunakan dalam menyelesaikan yaitu dengan cara eliminasi dan substitusi. SAS menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan dilakukan.
Pada tahap melaksanakan rencana, SAS mengolah informasi dengan melakukan rencana sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pada tahap menyimpan informasi pada MPL1 SAS memilih banyaknya tas ransel yang paling maksimum untuk mencari pendapatan maksimum. Pada MPL2 SAS menggunakan substitusi dua persamaan yang dimiliki untuk menentukan banyaknya kerbau dan sapi yang maksimum. Pada tahap memanggil kembali SAS menjelaskan secara jelas dan memberikan alasan secara logis setiap langkah yang telah dikerjakan.
Pada tahap memeriksa kembali, SAS mengolah informasi dengan menjelaskan bahwa jawaban yang diperoleh sudah sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan. Langkah yang dilakukan SAS untuk menentukan kesesuaian adalah dengan cara melihat kembali apa yang ditanyakan pada lembar jawaban. Dalam menyimpan informasi,
SAS melakukan
pemeriksaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. SAS melakukan pemeriksaan terhadap beberapa tahap penyelesaian yang SAS lakukan. Selanjutnya pada tahap memanggil kembali,
SAS menjelaskan bahwa tidak ada perubahan yang terjadi pada setiap langkah penyelesaian yang SAS periksa
Proses Berpikir Siswa dengan Gaya Belajar Akomodasi (AK) Dalam Memecahkan Masalah Program Linear.
Pada memahami masalah berdasarkan hasil tes tulis dan wawancara subjek dengan gaya belajar Akomodasi menerima informasi dengan cara membaca dalam hati sebanyak dua kali. Setelah SAK membaca permasalahan, SAK menjelaskan apa cara membaca per kalimat jika terdapat informasi yang diketahui SAK langsung menulis setelah itu lanjut membaca kembali. SAK menyimpan informasi dengan menyebutkan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dengan cara menuliskan pada lembar jawaban.
mengolah informasi menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan dilakukan.
Pada tahap melaksanakan rencana, SAK mengolah informasi dengan melakukan rencana sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pada tahap menyimpan informasi pada MPL1 SAK memilih banyaknya tas ransel yang paling maksimum dengan menggunakan grafik dan substitusi. Pada MPL2 SAK mensubstitusikan titik pojok yang diketahui ke fungsi tujuan dengan dua kali pengulangan. Pada tahap memanggil
kembali SAK
menjelaskan secara jelas dan memberikan alasan secara logis setiap langkah yang telah dikerjakan.
Pada tahap memeriksa kembali, SAK mengolah informasi dengan menjelaskan bahwa jawaban yang diperoleh sudah sesuai dengan permasalahan yang ditanyakan. Langkah yang dilakukan SAK untuk menentukan kesesuaian adalah dengan cara membaca kembali informasi yang ada pada soal. Dalam menyimpan informasi, SAK tidak melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan dapat mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan gaya belajar Kolb. Berikut ini simpulan setiap subjek dalam penelitian ini. 1. Proses berpikir siswa
SMA dengan gaya
memahami masalah subjek dengan tipe belajar Divergen menerima informasi dengan cara membaca dalam hati. SD mengolah informasi dengan menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan berdasarkan apa yang telah dibaca dengan cara membaca keseluruhan dan menggaris bawahi masalah. Dalam menyimpan informasi, SD menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanya dengan menuliskan pada lembar jawaban. 2. Proses berpikir siswa
memahami masalah subjek dengan tipe belajar Konvergen menerima informasi dengan cara membaca dengan suara pelan. SK mengolah informasi
dengan menentukan apa yang diketahui dan ditanya berdasarkan apa yang telah dibaca dengan cara membaca keseluruhan masalah dan membaca ulang dengan mengaris bawahi informasi yang diketahui. Dalam menyimpan informasi, SK menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanya dengan menuliskan pada lembar jawaban.
Pada tahap
menyusun rencana, saat memanggil kembali SK menyebutkan cara yang digunakan dalam menyelesaikan rencana. SK menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan beberapa masalah. SK melakukan proses mengolah informasi dengan memutuskan bahwa cara yang digunakan telah sesuai dengan informasi yang ada pada masalah. Selanjutnya subjek menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan dilakukan secara rinci dan berurutan.
Pada tahap
melaksanakan rencana, SK mengolah informasi dengan melakukan rencana sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Pada tahap menyimpan informasi SK mengunakan informasi yang telah diperoleh sebelumnya untuk mendapatkan hasil akhir. Pada tahap memanggil kembali SK menjelaskan secara jelas
dan memberikan alasan secara logis setiap langkah yang telah dikerjakan
Pada tahap
memeriksa kembali, SK mengolah informasi dengan menjelaskan bahwa jawaban yang diperoleh sudah sesuai dengan cara membaca ulang kembali permasalahan. Dalam menyimpan informasi,
SK melakukan
lain. Dalam menyimpan informasi, SK menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanya dengan menuliskan pada lembar jawaban.
Pada tahap menyusun rencana, saat memanggil
kembali SAS
menyebutkan cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. SAS menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan beberapa masalah. SAS melakukan proses mengolah informasi dengan memutuskan bahwa cara yang digunakan telah sesuai dengan informasi yang ada pada masalah. Selanjutnya subjek menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan dilakukan secara rinci dan berurutan.
Pada tahap melaksanakan rencana, SAS mengolah informasi, dengan melakukan rencana sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Pada tahap
menyimpan informasi SAS menggunakan informasi yang telah diperoleh sebelumnya untuk mendapatkan hasil akhir. Pada tahap memanggil kembali SAS menjelaskan secara jelas dan memberikan alasan secara logis setiap
langkah yang telah dikerjakan.
Pada tahap memeriksa kembali SAS mengolah informasi dengan menjelaskan bahwa jawaban yang diperoleh sudah sesuai dengan cara melihat kembali apa yang ditanyakan pada lembar jawaban. Dalam menyimpan informasi, SAS melakukan
pemeriksaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan dengan melakukan
pemeriksaan terhadap beberapa tahap. Selanjutnya pada tahap memanggil kembali, SAS menjelaskan bahwa tidak ada perubahan yang terjadi pada setiap langkah penyelesaian yang SAS periksa
4. Proses berpikir siswa SMA dengan gaya belajar Kolb tipe akomodasi dalam memecahkan masalah.
Pada tahap memahami masalah subjek dengan tipe belajar Akomodasi menerima informasi dengan cara membaca dalam hati. SAK mengolah informasi dengan menentukan apa yang diketahui dan ditanya berdasarkan apa yang telah dibaca dengan cara membaca per kalimat jika terdapat informasi yang diketahui SAK menulis kemudian lanjut membaca
kembali. Dalam menyimpan informasi, SAK menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanya dengan menuliskan pada lembar jawaban.
Pada tahap menyusun rencana, saat memanggil
kembali SAK
menyebutkan cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. SAK menggunakan cara yang sama untuk menyelesaikan beberapa masalah. SAK melakukan proses mengolah informasi dengan memutuskan bahwa cara yang digunakan telah sesuai dengan informasi yang ada pada masalah. Selanjutnya
menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang akan dilakukan secara rinci dan berurutan.
Pada tahap melaksanakan rencana, SAK mengolah informasi dengan melakukan rencana sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Pada tahap
menyimpan informasi SAK menggunakan informasi yang telah diperoleh sebelumnya untuk mendapatkan hasil akhir. Pada tahap memanggil kembali SAK menjelaskan secara jelas dan memberikan alasan secara logis setiap
langkah yang telah dikerjakan
Pada tahap memeriksa kembali, SAK mengolah informasi dengan menjelaskan bahwa jawaban yang diperoleh sudah sesuai dengan cara membaca kembali informasi yang ada pada soal. Dalam menyimpan informasi, SAK tidak melakukan
pemeriksaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang diberikan adalah sebagai berikut.
1.
Peneliti yangakan melakukan penelitian yang relevan dengan penelitian ini dapat
mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah matematika dengan menggunakan tinjauan yang berbeda.
2.
Siswa dibiasakan untukmengerjakan masalah matematika dengan menggunakan tahapan Polya agar
pengerjaan pemecahan masalah.
DAFTAR PUSTAKA Aljaberi, Nahil M.2015.U niversity Student’s Learning Styles and Their Ability to Solve Mathemat ical Problem (online), vol 6, No 4,
(ijibssnet. com/jurna ls/vol _6 no_ 4.../18.pdf , diakses 25 september 2016). Conner, Adams. 2008.
School violence: bullying behaviors and the psychosocia l school environmen t in middle schools. (Online), (http://cs.ox fordjournals .org/content /30/4/211.fu ll.pdf diakses 03 oktober 2016) Kolb, D. A. 1984.
Experenti al Learning, Experienc e As a Source Of Learning and Developm
ent. Online . (http://aca demic.regi s.edu/ed20 5/kolb.pdf pada tanggal 23 September 2016). Kuswana, Wowo Sunaryo.
2013. Taksonom i Berpikir. Bandung: Remaja Rosdakary a
Polya, George. 1985. How To Solve It 2ndedPrinc eton. (notendur.hi .is/hei2/teac hing/Polya_ HowToSolv eIt.pdf diakses pada 27 september 2016) Siswono, Tatag Y. E.
2008. Model Pembelajar an Berbasis Pengajuan dan Pemecahan Masalah untuk Meningkatk an
Kemampua n Berpikir Kreatif. Surabaya: Unesa University Press. Soedjadi, R. 2000. Kiat
Pendidik Matematika Di
Indonesia. Jakarta: Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Syah, Muhibbin. 2013.
Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rajagrafind o Persada.