PERAN SASI DALAM MELINDUNGI SUMBERDAYA TERIPANG
DI KAMPUNG FOLLEY, KABUPATEN RAJA AMPAT
Kuwati1*, Martanto Martosupono1, Jubhar C. Mangimbulude1
1Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana 2Fakultas Sains & Matematika, Program Studi Fisika, Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro No. 52 – 60, Salatiga 50711 Telp.: +62 (0)298-321212, Fax.: +62 (0)298-321443
*E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Kampung Folley merupakan salah satu kampung di Raja Ampat yang masih menggunakan hukum adat sasi untuk melindungi alamnya. Sasi tersebut digunakan untuk melindungi tanaman dan hasil laut mereka terutama teripang. Keberadaan sasi sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada.Kepatuhan masyarakat terhadap hukum adat sasi memberikan dampak yang positif terhadap pelestarian alam. Sasi juga memiliki peran untuk memberikan kesempatan kepada makhluk hidup (sumberdaya alam) tertentu untuk tumbuh dan berkembang biak. Bagi nelayan, Sasi dapat digunakan untuk meningkatkan panenan.Adanyan larangan sasi yang masih berlaku di Kampung Folley hingga saat ini, baik disadari dan dipahami masyarakat setempat atau tidak merupakan sikap pelestarian lingkungan (konservasi) yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Kata kunci: sasi, konservasi, tradisional, sumberdaya, teripang, eksploitasi
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas perairan Indonesia tidak kurang dari 5,8
juta km2 dan memiliki sebanyak 17.480 pulau yang terdiri dari pulau besar dan pulau kecil dengan panjang garis
pantai lebih kurang 95.186 km, yang merupakan garis pantai tropis terpanjang di dunia setelah Kanada (Satker Pengelolaan dan Rehabilitasi Terumbu Karang/COREMAP II, 2009), sesungguhnya memiliki potensi sumberdaya alam pesisir dan lautan yang sangat besar dan beragam. Salah satu sumberdaya yang bernilai ekonomis yaitu teripang.
Sudah diketahui umum bahwa teripang adalah komoditas perikanan yang diperdagangkan secara internasional, dan eksploitasinya telah berlangsung sejak ratusan tahun. Teripang selain berfungsi ekonomi sebagai komoditas perikanan/perdagangan, di alam teripang mempunyai fungsi ekologi. Kepunahan teripang di habitat alaminya akan berpengaruh terhadap sistem alami yang ada (Darsono, 2002).
Kekayaan sumberdaya alam Indonesia yang besar merupakan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa yang patut disyukuri sehingga pelaksanaan pengelolaannya haruslah dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dan juga kelestariannya. Dengan demikian maka pengelolaan sumberdaya alam harus dilakukan secara optimal dan berkelanjutan dengan tidak melampaui daya dukung wilayah, sehingga tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup, dan pemanfaatannya dapat diselenggarakan dalam jangka panjang (Rugebregt, 2011).
Kekayaan pengetahuan masyarakat lokal di Indonesia sudah berkembang dalam jangka waktu yang panjang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Proses perkembangan tersebut memunculkan banyak pengetahuan dan tata nilai tradisional yang dihasilkan dari proses adaptasi dengan lingkungannya. Sesuai dengan kebutuhan dasar manusia, salah satu bentuk pengetahuan tradisional yang berkembang adalah pengetahuan dalam pemanfaatan lahan, baik sebagai tempat tinggal maupun tempat untuk mencari atau memroduksi bahan makanannya (Kosmaryandi, 2005).
Kondisi tanah air Indonesia yang menghasilkan alam dengan keanekaragaman ekosistem beserta sumberdaya alam, melahirkan manusia Indonesia yang akrab dengan alam, seperti pola pertanian (waktu tanam, waktu menuai dan memungut hasil), menangkap ikan ke laut, dan lainnya. Manusia Indonesia menanggapi alam sebagai guru pemberi petunjuk gaya hidup masyarakat, yang terlahir dalam bentuk kebiasaan alami yang dituangkan menjadi adat kehidupan yang berorientasi pada sikap alam terkembang menjadi guru (Salim, 2006).
Kearifan tradisional merupakan salah satu warisan budaya yang ada di masyarakat (tradisional) dan secara turun-menurun dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Kearifan tradisional tersebut umumnya berisi ajaran untuk memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam (hutan, tanah, dan air) secara berkelanjutan. Dari sisi lingkungan hidup keberadaan kearifan tradisional sangat menguntungkan karena secara langsung ataupun tidak langsung sangat membantu dalam memelihara lingkungan serta mencegah terjadinya kerusakan lingkungan (Lampe
2006 dalam Pawarti 2012).
ini adalah salah satu wujud nyata kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam berbasis lingkungan. Hukum sasi melarang untuk mengeksploitasi sumberdaya alam, melarang memanen hasil kebun atau hasil laut sebelum saatnya dipanen (buka sasi).
PERANAN SASI
Begitu pentingnya sasi dalam perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan, maka sasi selalu dibicarakan dan didiskusikan dalam berbagai pertemuan tentang lingkungan hidup. Peranan sasi adalah sebagai wadah pengamanan terhadap sumberdaya alam dan lingkungan, mendidik dan membentuk sikap serta perilaku masyarakat. Sasi merupakan upaya untuk memelihara tata krama hidup bermasyarakat termasuk upaya pemerataan dan pembagian pendapatan dari sumberdaya alam kepada seluruh masyarakat. Oleh karena itu sasi mempunyai peran sebagai nilai budaya masyarakat, sehingga perlu dijaga kelestariannya. Selain itu kelembagaan sasi juga memiliki peran untuk memberikan kesempatan kepada makhluk hidup (sumberdaya alam) tertentu untuk memperbaharui dirinya dan berkembang biak, memelihara mutu dan memperbanyak populasi sumberdaya alam tersebut (Pattinama dan Pattipelohy, 2003).
Menurut Kissya (1993), sasi pada hakekatnya merupakan suatu upaya untuk memelihara tatakrama hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga atau penduduk setempat. Untuk itu keberadaan sasi sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di wilayah pesisir secara optimal agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir.
Pawarti (2012) menegaskan bahwa pelestarian lingkungan hidup sebagai upaya untuk menciptakan kondisi lingkungan alam yang mencukupi kuantitas dan kualitas bagi generasi yang akan datang dengan melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat adat yang ada sejak dahulu dan memiliki kekhasan sikap dan budaya. Berbagai pihak yang terlibat pada dasarnya memiliki tujuan yaitu tercapainya keseimbangan ekonomi, sosial, dan ekologi.
SASI SEBAGAI PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM TRADISIONAL
Sasi mengacu pada pengelolaan sumberdaya alam secara tradisional dan termasuk larangan panen pada
sumberdaya darat maupun laut. Peraturan sasi melarang pemanenan hasil hutan atau hasil laut yang belum
waktunya dipanen secara gegabah, akan tetapi peraturan itu juga berlaku di dalam kehidupan masyarakat (Sasi
regulations prohibit the premature harvesting of forest and marine products, but are also applied on social behavior Kissya 1994; Zerner 1994; Benda-Beckmann et al; Nikijuluw 1995; Mantjoro 1996). Bagi masyarakat Raja Ampat sasi berfungsi sebagai perlindungan terhadap lingkungan, tanaman, dan hewan, baik yang ada di darat maupun yang ada di laut dari ancaman eksploitasi berlebihan.
Bailey dan Zerner 99 mengatakan bahwa sasi berasal dari kata saksi witness) yang berarti larangan
terhadap panen, penangkapan, atau pengambilan tanpa izin terhadap sumberdaya tertentu yang secara subsisten atau ekonomis bermanfaat bagi masyarakat.
Adanyan larangan sasi yang masih berlaku di Kampung Folley hingga saat ini, baik disadari dan dipahami masyarakat setempat atau tidak merupakan sikap pelestarian lingkungan (konservasi) yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Jika kita bandingkan praktek sasi dengan pengelolaan sumberdaya laut modern, maka sasi merupakan
kombinasi dari seasonal prohibition, limiting entry (pembatasan jumlah nelayan atau unit teknologi penangkapan),
gear restriction (larangan terhadap jenis teknologi penangkapan tertentu) dan quota (batasan terhadap jumlah hasil tangkapan). Keseluruhan aturan-aturan tersebut biasanya diadakan untuk mengurangi tekanan terhadap
sumberdaya laut sedemikian rupa sehingga sustainability dari sumberdaya bisa dipertahankan. Namun demikian,
dalam praktek-praktek pengelolaan modern, seringkali aturan-aturan tersebut diciptakan, diaplikasikan dan
dievaluasi oleh pemerintah saja tanpa melibatkan stakeholder lain. Aplikasi aturan-aturan tersebut seringkali
mengalami berbagai masalah baik karena keterbatasan pemerintah untuk membuat dan mengawasi
implementasinya, maupun karena resistensi dari stakeholder lain (Adhuri, 2002).
Kegiatan perikanan illegal, termasuk pemboman dan menangkap ikan di kawasan larang tangkap melemahkan upaya perlindungan terhadap sumberdaya untuk masyarakat, dan dapat menyebabkan runtuhnya produksi perikanan, tingginya tangkapan sampingan, dan hilangnya sumber makanan penting untuk biota laut lainnya.
SUMBERDAYA TERIPANG
Teripang (Holothurians) adalah kelompok hewan invertebrata laut dari kelas Holothuroidea (Filum
dalam terutama di lautan India dan lautan Pasifik Barat. Jenis biota ini dikenal dengan nama ketimun laut, suala, sea cucumber (Inggris), namako (Jepang), beche-de-mer (Perancis) atau dalam istilah pasar internasional dikenal dengan
nama teat fish (Sutaman, 1993; Martoyo et al., 2002 dalam Lewerissa, 2009).
Teripang (kelas Holothuroidea, Filum Echinodermata), termasuk dalam invertebrata laut. beberapa jenisnya menjadi target perburuan untuk diperdagangkan. Teripang merupakan komoditas perikanan yang diperdagangkan secara internasional (Akamine, 2000; Conand 1990, 1997, 1998, Conand & Sloan 1989). Teripang merupakan jenis bahan makanan tradisional di beberapa negara di Asia, khususnya China. Teripang olahan kering dikenal sebagai beche-de-mer atau trepang, merupakan komoditas perdagangan internasional. Teripang disukai karena kandungan
zat-zat obat (medicinal properties), makanan ini berkhasiat penyembuhan (curative), dan mempunyai daya
aphrosidiac (Preston, 1993).
Menurut Hyman (1955) dalam Yusron (1992), teripang banyak menghuni daerah Litoral di perairan Indonesia
dan merupakan komoditas perikanan yang diperdagangkan baik di pasar lokal maupun internasional. Dari analisa proksimat daging teripang diperoleh komposisi protein 43%, lemak 2%, kadar air 17%, mineral 21% dan kadar abu 7% (James, 1989). Karena rendahnya kandungan lemak, direkomendasikan teripang baik untuk orang-orang yang bermasalah dengan kolesterol. Di Jepang, Korea dan beberapa negara Pasifik Selatan, daging dan organ dalam (viscera) teripang dimakan mentah, dimasak, diasin atau dalam bentuk kering (Shelley,1985; Yanagisawa, 1996 dalam Darsono, 2002). Teripang juga digunakan sebagai pakan ternak, dan untuk dibuat tuba ikan maupun sebagai agen anti jamur (Preston, 1993). Dari sekitar 1400 jenis teripang yang diketahui di dunia, hanya sekitar 20 jenis yang bernilai komersial (Conand & Byrne, 1993; Holland, 1994; Rowe & Gates, 1995).
EKSPLOITASI TERIPANG DI INDONESIA
Ancaman utama terhadap keberadaan teripang adalah terjadinya tangkap lebih (over exploitation) akibat
peningkatan permintaan pasar, juga penggunaan teripang sebagai biota akuarium maupun sebagai bahan riset biomedis. Hal lain yang juga mengancam populasi teripang adalah degradasi dan hilangnya habitat tempat hidupnya. Teripang berkelamin terpisah, memijah di dalam air laut dan fertilisasi terjadi dalam kolom air. Teripang mempunyai
karakter mobilitas rendah dan kemungkinan ruang hidupnya sempit (small home range). Oleh karena itu untuk
suksesnya fertilisasi, populasi teripang harus dalam jumlah tertentu. Jarak keberadaan antara jantan dan betina terlalu jauh maka fertilisasi tidak akan terjadi. Sekali kepadatan populasi teripang turun di bawah jumlah kritis, maka sangat sulit populasi akan pulih kembali (Darsono, 2002).
Teripang (Holothurians) adalah hewan bentik yang lambat geraknya, hidup pada dasar/substrat pasir, lumpur,
maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan (food chain) di
daerah terumbu karang dengan asosiasi ekosistemnya pada berbagai tingkat tropis, berperan penting sebagai
pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspense (suspensi feeder). Individu teripang bisa memproses
sediman sebanyak 80 g berat kering per hari. Penurunan populasi secara cepat menimbulkan konsekuensi serius bagi
kehidupan jenis-jenis lain yang merupakan bagian dalam lingkar pangan (food web) yang sama. Seperti diketahui
telur-telur, larva, dan juwana teripang merupakan sumber pangan yang penting bagi beberapa jenis biota laut seperti
udang-udangan (crustaceans), ikan, dan moluska.
Teripang mencerna sejumlah besar sedimen, terjadilah pengadukan lapisan atas sedimen di goba, terumbu maupun habitat lain yang memungkinkan terjadi oksigenisasi lapisan sedimen, mirip seperti yang dilakukan cacing tanah di darat. Proses ini mencegah terjadinya penumpukan busukan benda organik dan sangat mungkin membantu
mengontrol populasi hama dan organisme patogen termasuk bakteri tertentu maupun cyanobacteria. Tangkap lebih
terhadap teripang bisa mengakibatkan terjadinya pergeseran dasar laut, dan berakibat ketidak cocokan habitat bagi
bentos lain dan organisma meliang (infaunal organism) (Darsono, 2002).
Masyarakat tradisional biasanya mempunyai aturan-aturan tertentu untuk mencegah terjadinya eksploitasi/pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. Sebagai contoh, izin untuk memanen spesies tertentu dikontrol dengan ketat dan larangan melakukan perburuan atau pemanenan pun diberlakukan pada daerah-daerah tertentu. Terkadang ada pula larangan untuk mengambil betina, anak-anak hewan atau atau hewan yang masih kecil ukurannya. Aturan-aturan tersebut memungkinkan masyarakat tradisional untuk memanfaatkan sumberdaya milik bersama dalam jangka panjang dan secara berkelanjutan. Aturan yang diterapkan mirip dengan aturan penangkapan ikan secara ketat yang mulai diusulkan dan diterapkan pula oleh banyak nelayan di Negara-negara industri (Colding dan Folke, 2001).
Kepulauan Raja Ampat terletak di bagian ujung barat laut Provinsi Papua Barat, tepat di jantung Segitiga
terumbu Karang yang diakui sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kajian ekologis yang dilakukan The
Indonesia yang mendeklarasikan sebuah jejaring Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Kawasan konservasi ini secara global telah diakui sebagai sebuah perangkat yang efektif dalam menopang perikanan yang berkelanjutan, melindungi habitat laut penting dan menjamin mata pencaharian masyarakat lokal (TNC, 2013).
Masyarakat Raja Ampat khususnya masyarakat Kampung Folley sejak leluhurnya telah memiliki cara pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang secara langsung dan tidak langsung merupakan bagian dari konservasi yaitu dengan cara sasi. Pelaksanaan sasi di Kampung Folley juga menjadi sarana untuk meningkatkan penghasilan masyarakat setempat. Hasil panen yang berlimpah dan nilai ekonomis teripang yang tinggi membuat penghasilan masyarakat setempat semakin bertambah, sehingga selain bermanfaat untuk kepentingan konservasi, sasi juga banyak membantu masyarakat setempat untuk mendapatkan hasil yang berlimpah dan kualitas yang lebih baik.
Tokoh adat Kampung Folley, Yohanes Fadimpo menuturkan, hasil ini sangat memuaskan karena sejak tahun
2011 masyarakat adat di Kampung Folley telah berinisiatif untuk melestarikan sumberdaya alam laut mereka melalui
sasi, dan tradisi ini dipertahankan untuk menjaga sumberdaya laut agar tetap berlimpah . Direktur Program Kelautan TNC )ndonesia, Abdul (alim mengatakan, Dari data yang telah kami kumpulkan, hasil buka sasi dan zona
siter memberikan bukti nilai ekonomis yang tinggi bagi masyarakat serta memiliki peran penting untuk
berkelanjutan sektor perikanan tradisional TNC, .
KESIMPULAN
Sasi memiliki peran yang penting dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati. Dengan adanya sasi di Kampung Folley, Kabupaten Raja Ampat telah banyak membantu masyarakat setempat dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam laut mereka, sehingga terjadi keseimbangan alam agar teripang dan biota laut lainnya dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Pelaksanaan sasi di Kampung Folley juga menjadi sarana untuk meningkatkan penghasilan masyarakat setempat. Hasil panen yang berlimpah dan nilai ekonomis teripang yang tinggi membuat penghasilan masyarakat setempat semakin bertambah, sehingga selain bermanfaat untuk kepentingan konservasi, sasi juga banyak membantu masyarakat setempat untuk mendapatkan hasil yang berlimpah dan kualitas yang lebih baik. Adanya larangan sasi yang masih berlaku di Kampung Folley hingga saat ini, baik disadari dan dipahami masyarakat setempat atau tidak merupakan sikap pelestarian lingkungan (konservasi) yang telah dilakukan secara turun-temurun.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Beasiswa Unggulan DIKTI – Biro Perencanaan & Kerjasama
Luar Negeri (BPKLN), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang telah memberikan beasiswa melalui Program Studi Magister Biologi, Universitas Satya Wacana, Salatiga.
DAFTAR PUSTAKA
Adhuri, D. S. 2002. Menjual Laut, Mengail Kekuasaan: Studi mengenai Konflik Hak Ulayat Laut di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. www.academica.edu/267072/ (diakses, 4 November 2013).
Akamine, J. 2000. Sea Cucumbers from the Coral Reef to the World Market. In Bisayan Knowledge, Movement and Identity. VMAS III 1996-1999 (I. Ushijima & C. N. Zayas eds.). Quezon city, University of the Philippines.
Bailey, C. & Zerner, Ch. 1992. Community-Based Fisheries Management Institutions in Indonesia. MAST, 5 (1): 1-17.
Benda-Beckmann von, F., K. von Benda-Beckmann & Brouwer, A. 1995. Changing ´Indigenous Environmental Law´ in the Central
Moluccas: Communal Regulation and Privatization of Sasi. In : Ekonesia. A journal of Indonesian Human Ecology. Program
Studi Antropologi, Program Pascasarjana. University of Indonesia. No. 2: 1 – 38.
Colding, J. & Folke, C. 2001. Social Taboos: Invisible Systems of Local Resources Management and Biological Conservation. Ecological Applications 11: 584 – 600.
Conand, C. & Byrne, M. 1993. A Review of Recent Developments in the World Sea Cucumber Fisheries. Mar. Fish. Rev. 55: 1 – 13. Conand, C. 1990. The Fishery Resources of Pacific Island Countries. Pacific Island Countries. Rians. FAO Fishery Technical paper 272
(2): 7 – 10, 27 – 41, 95 – 100.
Conand, C. 1997. Are Holothurian Fisheries for Export Dustainable?. Proc. Eightlnt. Coral Reef Symp., Panama 1996 (2): 2.021 – 2.026. Conand, C. 1998. Overexploitation in the Present World Sea Cucumber Fisheries and Perspectives in Mariculture. Echinoderm (Mooi &
Tellord eds.), Balkema, Rotterdam: 449 – 454.
Conand, C. & Sloan, N. 1989. World Fisheries for Echinoderms. In: Marine Invertebrate Fisheries (Ed. J. Caddy). Wiley & Sons: New York. Page 647 – 663.
Darsono, P. 2002. Perlukah Teripang (Holothurians) Dilindungi?. Oseana XXVII (3). www.oseanografi.lipi.go.id (diakses, 3 Desember 2013).
Holland, A. 1994. The Status of Global Beche-de-mer Fisheries with Special Reference to the Solomon Islands and the Potensials of
Holothurians Culture. M.Sc. Thesis, Departement of Marine Sciences and Coastal Management, University of Newcastle Upon
Tyne.
Kissya E. 1993. Sasi Aman Haru-ukui: Tradisi Kelola Sumberdaya Alam Lestari di Haruku. Seri Pustaka Khasana Budaya Lokal, Yayasan Sejati: Jakarta.
Kissya, E. 1994. Managing the Sasi Way.In: Samudra Report, Nos. 10 & 11, Dec. 1994. Page 11 – 13.
Kosmaryandi, N. 2005. Kajian Penggunaan Lahan Tradisional Minangkabau Berdasarkan Kondisi Tanahnya (Study of Minangkabau
Traditional Landuse Based on Its Soil Condition).Media Conservasi. Vol. X (2): 77 – 81.
Lampe, M. 2006. Kearifan Lingkungan dalam Wujud Kelembagaan, Kepercayaan/Keyakinan, dan Praktik, Belajar dari Kasus Komunitas-Komunitas Nelayan Pesisir dan Pulau-Pulau Sulawesi Selatan. Lokakarya Menggali Nelayan-Nelayan Kearifan
Lingkungan di Sulawesi Selatan. 10 Agustus 2006. http://www.scribd.com/doc/16149372/Kearifan-Tradisional (diakses, 9
Januari 2011)
Lewerissa, Y. A. 2009. Pengelolaan Teripang Berbasis Sasi di Negeri Porto dan Desa Warialau Provinsi Maluku. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/
Mantjoro, E. 1996. Traditional Management of Communal-Property Resources: the Practice of the Sasi System.In: Ocean and Coastal Management. 32 (1): 17 – 37.
Martoyo, J., Aji, N. & Winanto, T. 2002. Budidaya Teripang. Penebar Swadaya: Jakarta. 75 pp.
Nikijuluw, V. P. H. 1995. Community-Based Fishery Management (Sasi) in Central Maluku.In: Indonesian Agricultural Research and Development Journal. 17 (2): 33 – 39.
Pattinama, W. & Pattipelohy, M. 2003. Upacara Sasi ikan Lompa di Negeri Haruku. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Balai Kajian dan Nilai Tradisional; Ambon 2003.
Pawarti, A. 2012. Nilai Pelestarian Lingkungan dalam Kearifan Lokal Lubuk Larangan Ngalau Agung di Kampung Surau Kabupaten
Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat. http://eprints.undip.ac.id/37597/1/017-AminPawartiedited.pdf. (diakses, 2
Desember 2013)
Preston, G. L. 1993. Beche-de-mer. In: Nearshore Marine Resources of the South Pacific : Information for Fisheries Development and Management (A.Wright & L. Hill, eds.). Forum Fisheries Agency, Honiara, Solomon Islands: 371 – 407.
Rowe, F. W. E. & Gates, J. 1995. Echinodermata. In : Zoological Catalogue of Australia (A. Wells, ed.), Vol. 33. CSIRO Australia, Melbourne.
Rugebregt, R. V. 2011. Pengaruh Kebijakan Pemerintah Dalam Penataan Ruang Terhadap Pengelolaan Sumberdaya Alam Oleh
Masyarakat Adat. Dipresentasikan pada Seminar Pengelolaan Sumberdaya Alam. Bakosurtanal. Cibinong.
Salim, E. 2006. Alam Terkembang Menjadi Guru. Majalah Jendela, Informasi dan Komunikasi.Edisi 5. Agustus 2006. Satker Pengelolaan dan Rehabilitasi Terumbu Karang (COREMAP II). 2009. Profil KKLD Kabupaten Raja Ampat. Jakarta.
Shelley, C. 1985. Growth of Actinoyga echinites and Holothuria scabra (Holothuroidea: Echinodermata) and (Their Fisheries Potential
(as Beche-de-mer) in Papua New Guinea. Proc. 5th Int. Coral Reef Symp., Tahiti, 5: 297 – 302.
Sutaman. 1993. Petunjuk Praktis Budaya Teripang. Penerbit Kanisius: Yogyakarta. 68 pp. TNC. 2013. Panen Berlimpah Hasil Kearifan Lokal Raja Ampat. Berita Pers.
Yanagisawa, T. 1996. Sea-Cucumber Ranching in Japan and some Suggestions for the South Pacific. In : Present and Future of Aquaculture Research and Development in the Pacific Island Countries. Proceed. Int. Workshop, 20 – 24 November 1995, Tonga: 387 – 411.
Zerner, C. 1994. Through a Green Lens: The Constructions of Customary Environmental Law and Community in Indonesia’s Maluku