Kajian Islam dalam Pendekatan Filsafat

19 

Teks penuh

(1)

1

KAJIAN ISLAM DALAM PENDEKATAN FILSAFAT

Oleh : Hayat Ruhyat

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon Prodi : Pendidikan Islam

A. PENDAHULUAN

Islam merupakan sebuah sistem universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam Islam, segala hal yang menyangkut kebutuhan manusia, dipenuhi secara lengkap. Semuanya diarahkan agar manusia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan manusiawi sesuai kodrat kemanusiaannya.Sebagai sebuah sistem, Islam memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakni al- Qur`an dan Hadits. Rasulullah menjamin, jika seluruh manusia memegang teguh al Qur`an dan Hadits dalam kehidupannya, maka ia tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Al Qur`an dipandang sebagai sumber ajaran dan sumber hukum Islam yang pertama dan utama, sedangkan hadits merupakan sumber kedua setelah al Qur`an.1 Dan al Qur`an serta Hadits berisikan nash-nash (teks-teks) yang perlu dieksplorasi dan dielaborasi lebih lanjut untuk menjadi ajaran-ajaran yang fungsional dan aplikatif melalui upaya-upaya ilmiah yang lazim disebut studi Islam (islamic studies).

Studi Islam kontemporer meniscayakan pengelompokan nash-nash dalam sumber-sumber ajaran Islam menjadi dua kategori, yaitu : pertama, nash normatif-universal dan kedua nash praktis-temporal. Pengelompokan nash ini menjadi salah satu penemuan penting dalam studi Islam.2 Sedangkan M. Atho Muzhar membaginya dalam kategori : pertama, Islam sebagai wahyu, dan kedua, Islam sebagai produk sejarah.3 Dengan istilah lain bahwa Islam dibagi menjadi Islam Ideal dan Islam Aktual. Islam jenis pertama bukan wilayah yang terbuka untuk dikaji karena sifatnya yang absolut, sakral dan hakiki,

1

Supiana, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : DitjenPendisKemenag RI, 2012), h. 73 2

Khoiruddin Nasution, Peran Hermeneutika dan Pengelompokan Nash dalam Studi Hukum Islam Integratif-Interkonektif dalam Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), h.18. 3

(2)

2 sedangkan Islam jenis kedua merupakan wilayah terbuka untuk dikaji dan diijtihadi karena merupakan produk pikiran manusia tentang Islam Ideal. Penentuan kategorisasi tersebut dianggap penting sebagai titik tolak dari mana studi Islam seharusnya berangkat.

Untuk memahami sumber-sumber otentik ajaran Islam, maka diperlukan berbagai pendekatan metodologi pemahaman Islam yang tepat, akurat dan responsible. Dengan demikian diharapkan Islam sebagai sebuah sistem ajaran yang bersumber pada al Qur`an dan Hadits dapat difahami secara komprehensif.4 Dan beberapa pendekatan yang lazim dipergunakan dalam studi Islam antara lain pendekatan historis, pendekatan sosiologis,

pendekatan hermeneutika dan lain sebagainya termasuk pendekatan filsafat.

Pendekatan filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal dengan meneliti akar permasalahannya. Metode ini bersifat mendasar dengan cara radikal dan integral, karena memperbincangkan sesuatu dari segi esensi (hakikat sesuatu). Harun Nasution mengemukakan, sebagaimana dikutip Supiana, bahwa berfilsafat intinya adalah berfikir secara mendalam, seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya, tidak terikat kepada apapun, sehingga sampai kepada dasar segala dasar.5

Menggunakan filsafat dalam mengkaji Islam ibarat menjadikan filsafat sebagai pisau analisis untuk membedah Islam secara mendalam, integral dan komprehensif untuk melahirkan pemahaman dan pemikiran tentang Islam yang senantiasa sĥlih ̂ kulli za ̂n a al akân (relevan pada setiap waktu dan ruang) karena dengan pendekatan filsafat, sumber-sumber otentik ajaran Islam digali dengan menggunakan akal, yang menjadi alat tak terpisahkan dalam proses penggunaan metode ijtihad, tanpa lelah tak kunjung henti.

Dan filsafat berperan membuka wawasan berpikir umat untuk menyadari fenomena perkembangan wacana keagamaan kontemporer yang menyuarakan nilai-nilai keterbukaan, pluralitas dan inklusivitas. Studi filsafat sebagai pilar utama rekonstruksi pemikiran dapat membongkar formalisme agama dan kekakuan pemahaman agama – atau dalam istilah M. Arkoun sebagai ta d̂s al akâ al dî niyyah –sebagai salah satu sumber ekslusivisme agama dan kejumudan umat. Salah satu problem krusial pemikiran dan pemahaman keagamaan sekarang ini, misalnya, adalah perumusan pemahaman

4

Supiana, …, h. 74 5

(3)

3 agama yang dapat mengintegrasikan secara utuh visi Ilahi dan visi manusiawi tanpa dikotomi sedikitpun.6

Mengacu pada kerangka pikir di atas, dalam makalah ini penulis mencoba menjelaskan gambaran umum, pengertian, signifikansi, pola dan model serta contoh butir-butir kajian Islam melalui pendekatan filsafat.

B. BATASAN ISTILAH

Sebelum masuk dalam bahasan utama, penting kiranya untuk menjelaskan beberapa istilah pokok yang terkait dengan kajian pada makalah ini. Beberapa istilah tersebut antara lain :

1. Pendekatan

Pendekatan (approach) adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu.7Pendekatan juga berarti suatu sikap ilmiah (persepsi) dari seseorang untuk menemukan kebenaran ilmiah.8Atau juga mengandung pengertian suatu disiplin ilmu untuk dijadikan landasan kajian sebuah studi atau penelitian.9

Pendekatan dalam aplikasinya lebih mendekati disiplin ilmu karena tujuan utama pendekatan ini untuk mengetahui sebuah kajian dan langkah-langkah metodologis yang dipakai dalam pengkajian atau penelitian itu sendiri.10

2. Metodologi

6

Husein Heriyanto, Nalar Saintifik Peradaban Islam, (Bandung : Mizan, 2011), h. 355.

7

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2004), h. 28

8 Adeng Mukhtar Ghazali,

Ilmu Perbandingan Agama, (Bandung : Pustaka Setia , 2000), h. 27

9

Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), h. 64

10

(4)

4 Secara etimologis, kata metodologi diderivasi dari kata method yang berarti

ara`, da logy atau logos ya g erarti teori` atau il u`. Jadi kata etodologi

e pu yai arti suatu il u atau teori ya g e i araka ara .11

Metodologi juga berarti pengetahuan tentang metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.12

Bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan yang benar?.Untuk memperoleh pengetahuan itu, kita harus mengetahui metode yang tepat

untuk memperolehnya. Cara dan prosedur untuk memperoleh pengetahuan dapat ditentukan berdasarkan disiplin ilmu yang dikajinya. Oleh karena itu, dalam menentukan disiplin ilmu, kita harus menentukan metode yang relevan dengan disiplin itu.13

Dalam setiap kajian atau penelitian ilmiah metodologi mutlak harus digunakan sebagai piranti lunak untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang bersifat ilmiah. Tanpa metodologi sebuah kajian akan kehilangan arah dan berakhir tanpa kesimpulan yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

3. Studi Islam

Yang dimaksud Studi Islam (kajian Islam) menurut Rosihon Anwar, adalah usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Dengan perkataan lain, usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran, sejarah maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.14

11

Abdul Rozak, Cara Memahami Islam : Metodologi Studi Islam, (Bandung : Gema Media Pustakama, 2001), h. 27

(5)

5 Pengertian Studi Islam di atas memberikan pemahaman bahwa bidang garapan atau aspek kajian yang menjadi objek studi Islam sangatlah luas karena hampir mencakup semua aspek dan karakteristik ajaran Islam. Disamping itu pula studi Islam terus menerus mengalami perkembangan dan dinamika seiring dengan realitas kehidupan umat Islam yang terus dinamis. Barangkali inilah salah satu disiplin ilmu tentang Islam yang mengalami perkembangan dan kemajuan yang melaju sangat cepat seiring dengan

akselerasi kebudayaan dan peradaban umat Islam sendiri.

4. Filsafat

Menurut Harun Nasution, sebagaimana dikutip Ramayulis, Perkataan filsafat berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas dua kata, yaitu : (1) philein, dan (2)

sophos. Philein berarti cinta dan sophos berarti hikmah (wisdom).Perkataan philosophio merupakan perkataan bahasa Yunani yang dipindahkan oleh orang-orang arab da disesuaika de ga ta i at susu a kata-kata orang arab, yaitu falsafah pola : fa lala dan fi la yang kemudian menjadi kata kerja falsafa dan filsaf. Adapun sebutan filsafat yang diucapkan dalam bahasa Indonesia kemungkinan besar merupakan gabungan kata arab falsafah dan bahasa Inggris philosophi yang kemudian menjadi filsafat.15

Menurut pengertian umum, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakikat. Ilmu pengetahuan tentang hakikat menanyakan apa hakikat atau sari atau inti atau esensi segala segala sesuatu. Dengan cara

15

(6)

6 ini maka jawaban yang akan diberikan berupa kebenaraan yang hakiki. Ini sesuai dengan arti filsafat menurut kata-katanya.16

Sedangkan definisi filsafat menurut Sidi Gazalba, sebagaimana dikutip Abuddin Nata, adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.17

Pendapat Sidi Gazalba di atas memperlihatkan adanya 3 ciri pokok dalam filsafat. Pertama, adanya unsur berfikir yang dalam hal ini menggunakan akal. Dengan demikian filsafat adalah kegiatan berfikir. Kedua, adanya unsur tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan berfikir tersebut, yaitu mencari hakikat atau inti mengenai segala sesuatu. Ketiga, adanya unsur ciri yang terdapat dalam berpikir tersebut, yaitu mendalam. Dengan ciri ini filsafat bukan hanya sekedar berfikir, melainkan berfikir sungguh-sungguh, serius, dan tidak berhenti sebelum yang difikirkan itu dapat dipecahkan. Ciri lainnya adalah sistematik. Dalam hubungan ini filsafat menggunakan aturan-aturan tertentu yang secara khusus dijelaskan dalam ilmu mantiq (logika). Selanjutnya ciri berfikir tersebut adalah radikal, yakni menukik sampai kepada inti atau akar permasalahan, atau sampai ujung batas yang sesudahnya tidak ada lagi objek serta ruang gerak yang difikirkan, karena memang sudah habis digarapnya. Selain itu filsafat bersifat universal, dalam arti fikiran tersebut tidak dikhususkan untuk suatu kelompok atau teritorial tertentu. Dengan kata lain, fikiran tersebut menembus batas-batas etnis, geografis, kultural dan sebagainya.18

16

Soetriono dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, (Yogyakarta : Andi Offset, 2007), h. 20

17

Abuddin Nata, op.cit, h. 4

18

(7)

7 Deskripsi lain tentang ciri-ciri berpikir filsafat adalah bahwa berpikir filsafat mengandung beberapa ciri, yaitu : deskriptif, kritis atau analitis, evaluatif atau normatif, spekulatif, sistematis, mendalam, mendasar dan menyeluruh.19

C. BEBERAPA POLA PENDEKATAN FILSAFAT DALAM KAJIAN ISLAM

Menggunakan pendekatan filsafat dalam kajian Islam dapat dideskripsikan dalam dua pola : Pertama, upaya ilmiah yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran, sejarah maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya dengan menggunakan paradigma dan metodologi disiplin filsafat. Kedua, upaya ilmiah yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas nilai-nilai filosofis (hikmah) yang terkandung dalam doktrin-doktrin ajaran Islam yang bersumber pada al- Qur`an dan Hadits yang selanjutnya terejawantah dalam praktek-praktek keagamaan.

Untuk menjelaskan pola yang pertama, ada baiknya jika dijelaskan terlebih dahulu metode yang dapat ditempuh dalam kajian Islam melalui pendekatan filsafat. Sebagai suatu metode, pengembangan suatu ilmu, dalam hal ini kajian Islam, memerlukan empat hal sebagai berikut :20

Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan untuk pengembangan didiplin ilmu. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis yaitu , al- Qur`an dan hadits serta pendapat para ulama atau filosof. Dan bahan yang diambil dari pengalaman empirik dalam praktek keberagamaan.

Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa.

19

Ibid, h. 21

20

(8)

8 Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analitis-sintetis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, deduktif, dan analisa ilmiah.

Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan

fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena. Hal ini selanjutnya erat hubungannya dengan disiplin keilmuan.

Sedangkan dalam pola kedua, pendekatan filsafat dilakukan untuk mengurai nilai-nilai filosofis atau hikmah yang terkandung dalam doktrin-doktrin ajaran Islam yang terdapat dalam al- Qur a da Hadits. “eperti hik ah dala penerapan syariat Islam atau hikmah dalam perintah tentang shalat, puasa, haji, dan sebagainya. Pola ini banyak ditempuh oleh beberapa ulama, antara lain Imam as- Syatibi melalui karyanya : al- Mu ̂fa ̂tu f̂ Ushûli al “ a ̂ ati atau yang dilakukan oleh Syekh Ali Ahmad al- Jurjawi melalui karyanya : Hikmat al Tas i a

Falsafatuhu.

(9)

9 Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik, sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik.21

D. BEBERAPA MODEL PENDEKATAN FILSAFAT KONTEMPORER 22 DALAM KAJIAN

ISLAM

Jamali Sahrodi menyebutkan setidaknya ada tiga jenis atau model yang termasuk pendekatan filsafat modern (kontemporer) yang digunakan dalam studi Islam

(Islamic studies) saat ini yaitu : pertama, Pendekatan Hermeneutika, kedua, Pendekatan Teologi-Filosofis, dan ketiga, Pendekatan Tafsir Falsafi.23

1. Pendekatan Hermeneutik

Kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti

e afsirka , da dari kata hermeneuein ini dapat ditarik kata benda hermeneia ya g erarti pe afsira atau i terpretasi da hermeneutes yang berarti interpreter (penafsir).24 Kata ini sering diasosiasikan dengan nama salah seorang dewa Yunani, Hermes yang dianggap sebagai utusan para dewa bagi manusia. Hermes adalah utusan para dewa di langit untuk membawa

sekarang. Milton K. Munitz, sebagaimana dikutip Abdul Basith Junaidi, membagi periode fisafat menjadi empat periode. Pertama, filsafat Yunani dan Romawi yang dimulai abad ke 6 SM dan berakhir secara definitif pada abad 529 M, ketika kaisar Yustianus dari Byzantium, yang didorong keyakinannya kepada agama Kristen, menutup sekolah-sekolah filsafat kafir Athe a. Kedua, filsafat abad pertengahan, meliputi pemikiran Boethius (abad ke- 6) sampai Nicolas Cusanos (abad ke- 15), dengan puncaknya abad ke- 13 dan permulaan abad ke-14, ketiga, filsafat modern, didahului oleh pemikiran tokoh-tokoh Renaissance tetapi mekar secara meyakinkan pada filsafat Rene Descartes (1596-1650) dan dianggap berakhir pada pemikiran Friedrich Nietzsche (1844-1900). Keempat, filsafat kontemporer yang meliputi seluruh filsafat abad ke-20 hingga sekarang. Lihat Abdul Basith Junaidi, Pencarian Makna kebenaran, Perspektif Charles Sanders Pierce dalam Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer, (Yogyakarta ; Pustaka Pelajar, 2009), h. 3

23

Lihat Jamali Sahrodi, op.cit, h. 105-116

24 E. Sumaryono,

Hermeneutika : Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1999), h. 23

25

(10)

10 Hermeneutika secara terminologis dapat didefinisikan sebagai tiga hal : (1). Mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata, menerjemahkan dan bertindak sebagai penafsir. (2). Usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca, dan (3). Pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas, diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.26

Fungsi hermeneutika adalah untuk mengetahui makna dalam kata, kalimat dan

teks. Hermeneutika juga berfungsi menemukan instruksi dari simbol. Hermeneutika oleh Josef Bleicherr, sebagaimana dikutip Khoiruddin Nasution , dapat dipetakan menjadi tiga bagian, yaitu : 1), hermeneutika sebagai metodologi, 2). Hermeneutika sebagai filsafat/filosofis, dan. 3). Hermeneutika sebagai kritik. 27

Salah satu kajian penting hermeneutik adalah bagaimana merumuskan relasi yang pas antara nash (text), penulis atau pengarang (author), dan pembaca (reader) dalam dinamika pergumulan penafsiran/pemikiran nash termasuk dalam nash-nash keagamaan dalam Islam. Perlu disadari, semestinya kekuasaan (otoritas) atas nash adalah hanya mutlak menjadi hak Tuhan. Hanya Tuhan sajalah yang (author) yang tahu persis apa yang sebenarnya Dia kehendaki dan maui dalam firman-firman-Nya sebagaimana tertuang dalam

nash. Manusia sebagai penafsir (reader), hanya mampu memosisikan dirinya sebagai penafsir atas nash yang diungkapkan Tuhan dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dengan demikian, penafsiran yang paling relevan dan

dan kedokteran. Di kalangan Mesir Kuno, Hermes dikenal sebagai Thot, sementara di kalangan Yahudi dikenal sebagai Unukh dan di kalangan masyarakat Persia Kuno sebagai Hushang. Fakhruddin Faiz,

He e eutika Qu a i, (Yogyakarta : Qalam, 2007), h. 46

26

Fakhruddin Faiz, He e eutika Qu a i, (Yogyakarta : Qalam, 2007), h. 19

27

(11)

11 paling benar mestinya hanyalah keinginan dan kehendak si pengarang, dan bukan terletak di tangan penafsir.28

Istilah hermeneutika dalam pengertian teori penafsiran kitab suci ini pertama kali dimunculkan oleh J.C. Dannhauer dalam bukunya Hermeneutica Sacra Siva Methodus Expondarum Sacrarum Litterarum. Istilah hermeneutika dalam hal ini dimaksudkan sebagai kegiatan memahami kitab-kitab suci yang dilakukan para agamawan. Kata hermeneutika dalam pengertian ini muncul pada abad

17-an, meskipun sebenarnya kegiatan penafsiran dan pembicaraan tentang teori-teori penafsiran, baik itu terhadap kitab suci, sastra maupun dalam bidang hukum, sudah berlangsung sejak lama. Dalam agama Yahudi misalnya, tafsir terhadap teks-teks Taurat dilakukan oleh para ahli kitab, yaitu mereka yang membaktikan hidupnya untuk mempelajari dan menafsirkan hukum-hukum agama yang dibawa oleh para Nabi. Berbeda dengan kaum Yahudi, awal tradisi Kristen dengan pengalaman akan Yesus yang dianggap wafat dan bangkit lagi, juga menerapkan tafsir pada teks-teks Perjanjian Lama, dimana tafsir tersebut bisa dikategorikan hermeneutika, karena Perjanjian Lama dipahami secara Kristiani dan hasilnya kemudian disebut Perjanjian Baru.29

Pada perkembangan selanjutnya ketika memasuki zaman modern , munculah Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher, seorang pendeta yang nantinya

dia ggap se agai apak Her e eutika Moder kare a elahirka ke ali

hermeneutika melalui konsep hermeneutikanya yang disebut sebagai Hermeneutika Romantik.30

Istilah hermeneutika sendiri dalam sejarah keilmuan Islam, khususnya tafsir al-

Qur a klasik, e a g tidak dite uka . Istilah terse ut popular justru dala

28

Asnawi Ihsan, Otoritarianisme : Catatan kelam Peradaban Islam, dalam situs http://asnawiihsan.blogspot.com

29

Fakhruddin Faiz, op. cit, h. 20-21

30

(12)

12 masa kemunduran. Meski demikian, menurut Farid Esack, sebagaimana dikutip Fakhruddin Faiz, dalam bukunya Qur`an : Liberation and Pluralism, praktik hermeneutik sebenarnya telah dilakukan oleh umat Islam sejak lama, khususnya ketika menghadapi al- Qur`an. Bukti dari hal itu adalah :

1. Problematika Hermeneutik senantiasa dialami dan dikaji, meski tidak ditampilkan secara definitif. Hal ini terbukti dari kajian-kajian mengenai as ̂ a uzûl dan nasakh-mansukh.

2. Perbedaan antara komentar komentar yang aktual terhadap al- Qur`an

(tafsir) dengan aturan, teori atau metode penafsiran telah ada sejak mulai munculnya literatur-literatur tafsir yang disusun dalam bentuk ilmu tafsir. 3. Tafsir tradisional itu selalu dimasukkan dalam kategori-kategori, misalnya

tafsir “yi ah, tafsir u tazilah, tafsir hukum, tafsir filsafat, dan lain sebagainya. Hal itu menunjukan adanya kelompok-kelompok tertentu, ideologi-ideologi tertentu, periode-periode tertentu, maupun horison-horison tertentu dari tafsir.31

Dalam dunia pemikiran Islam, adalah Hassan Hanafi yang pertama kali memperkenalkan Hermeneutika dalam bukunya berjudul : Les Methods d E eges, Essai su La “ ie e des Fo de e ts de la Comprehension, Ilm Ushul al-Fi h pada tahun 1965.32

Selain di Mesir, seperti Hassan Hanafi, Muhammad Abduh dan Nasr Hamid Abu Zayd sendiri, tokoh Islam yang menggeluti kajian hermeneutika antara lain : di India, Ahmad Khan, Amir Ali dan Ghulam Ahmad Parves, yang berusaha melakukan demitologisasi konsep-konsep dalam al- Qur`an yang dianggap bersifat mitologis. Di Aljazair muncul Mohammed Arkoun yang menggagas ide cara baca semiotik terhadap al- Qur a . Lalu Fazlurrah a ya g eru uska

31 Ibid, h. 38-39

32

(13)

13 hermeneutika semantik terhadap al- Qur`an, dan kemudian dikenal sebagai

dou le o e e t .33

2. Pendekatan Teologis-Filosofis

Kejian keislaman dengan menggunakan pendekatan teologi-filosofis bermula dari kemunculan pemahaman rasional di kalangan mutakallimin (ahli kalam) di

kala ga u at Isla , yak i azha Mu tazilah.34

Mu tazilah e yodorka ko sep-konsep teologi (ilmu kalam) dengan berbasiskan metodologi dan epistemologi disiplin filsafat Yunani yang pada saat itu tengah berpenetrasi dalam perkembangan intelektual dunia Islam (masa pemerintahan Bani Abbas) akibat proyek penterjemahan ilteratur-literatur Yunani yang dilakukan para sarjana muslim pada kurun waktu tersebut. Kehadiran mazhab teologi rasional ini berupaya memberikan jawaban-jawaban dengan pendekatan filosofis atas doktrin-doktrin pokok Tauhid yang pada saat itu tengah menjadi materi-materi perdebatan dalam blantika pemikiran Islam.

Ke u ula geraka Mu tazilah erupaka tahap ya g tera at pe ti g

dalam sejarah perkembangan intelektual Islam. Meskipun bukan golongan rasionalis murni, namun jelas mereka adalah pelopor yang amat bersungguh-sungguh untuk digiatkannya pemikiran tentang tentang ajaran-ajaran pokok Islam secara lebih sistematis. Sikap mereka yang rasionalistik dimulai dengan titik tolak bahwa akal mempunyai kedudukan yang sama dengan wahyu dalam memahami agama. Sikap ini adalah konsekwensi logis dari dambaan mereka kepada pemikiran sistematis. Kebetulan pula pada masa-masa akhir kekuasaan Umayyah itu sudah terasa adanya gelombang pengaruh Hellenisme di

kala ga u at. Kare a pe awaa rasio al ereka, kau u tazilah

33

Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Al- Qu a i, Te a-tema Kontroversial (elSAQ, 2005), h. 14-15

34

(14)

14 merupakan kelompok pemikir muslim yang dengan cukup antusias menyambut invasi filsafat itu. Meskipun terdapat berbagai kesenjangan untuk

e er siste kepada faha Mu tazilah ti gkat awal itu, namun tesis-tesis

mereka jelas merupakan sekumpulan dogma yang ditegakkan di atas prinsip-prinsip rasional tertentu. Karena berpikir rasional dan sistematis itu sesungguhnya tuntutan alami agama Islam, maka penalarannya, di bidang lain, juga menghasilkan pemikiran yang rasional dan sistematis pula, seperti di

ida g huku syari ah ya g diri tis oleh I a “yafi I w. 4 H/ M ,

perumus pertama prinsip-prinsip jurisprudensi (Ushûl al- fiqh).35

Pada era pemikiran Islam kontemporer, kajian Islam dengan pendekatan teologi-filosofis banyak dilakukan oleh beberapa tokoh orientalis (outsider) seperti dilakukan oleh W. Montgomery Watt melalui karyanya, Free Will and Predestination in Early Islam (1948), Islamic Theology and Theology (1960), dan The Formative Period of Islamic Thought (1973). Sumber-sumber kajian kalam (teologi oleh para sarjana barat banyak memanfaatkan literatur teologi Islam klasik seperti karya-karya al- Syahrastani seperti al- Milal wa al Nihal, al- Baghdadi, al- farq Bayn al-Firaq dan al- Asy ari, Ma ̂l̂t al-Isl̂ i ̂ .36

3. Pendekatan Tafsir Falsafi

Al-Dzahabi, sebagaimana dikutip Jamali Sahrodi, menjelaskan bahwa tafsir falsafi adalah penafsiran ayat-ayat al- Qur`an berdasarkan pendekatan-pendekatan filosofis, baik yang berusaha untuk mengadakan sintesis dan sinkretisasi antara teori-teori filsafat dengan ayat-ayat al- Qur`an maupun yang berusaha menolak teori-teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat al- Qur`an. Timbulnya tafsir jenis ini tidak terlepas dari perkenalan umat Islam dengan filsafat Hellenisme yang kemudian merangsang mereka

35

Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994), hlm. 21-22

36

(15)

15 untuk menggelutinya kemudian menjadikannya sebagai alat untuk menganalisis ajaran-ajaran Islam, khususnya al- Qur`an.37

Tafsir falsafi juga diartikan sebagai suatu tafsir yang bercorak filsafat. Dalam menjelaskan makna suatu ayat, mufassir mengutip atau merujuk pendapat para filsuf. Persoalan yang diperbincangkan dalam suatu ayat dimaknai atau didefinisikan berdasarkan pandangan para ahli filsafat. Makna suatu ayat ditakwilkan sehingga sesuai dengan pandangan mereka.38 Ibnu Sina adalah

salah satu contoh tokoh yang berkecenderungan tafsir jenis ini ketika menjelaskan ayat-ayat al- Qur`an. Salah satu karyanya dalam bidang ini adalah Al- Is ̂ ̂t a at -ta ̂ĥt : AL-Qism Ats -Tŝ i at -Tâi ah. Dalam karyanya tersebut Ibnu Sina, misalnya, memberikan penafsiran filosofis terhadap ayat 35 surat an- N̂r se agai erikut : adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala

(16)

16

   ia artikan pula kepada pikir. Penafsiran ini ia lakukan untuk menguatkan pendapatnya tentang pembagian akal manusia.39

Kitab tafsir Fakhr al-Razi, Mafatih al-Ghaib, dianggap sebagai jenis tafsir falsafi yang berusaha menolak teori-teori filsafat, ter asuk paha Mu tazilah yang

berlatar belakang filsafat, dengan ayat-ayat al-Qur`an dan argumen-argumen filosofis.40 Selain itu Tafsir karya Al- Zamakhsyari, Al-Kas s af a Ha Al-Ta ẑl a U û Al-A ̂ il i Wujû Al -Ta îl juga dapat digolongkan sebagai karya tafsir bercorak tafsir falsafi.

Selain tiga model pendekatan filsafat dalam kajian Islam yang telah disebut di atas, Tasawuf Falsafi juga bisa disebut sebagai disiplin kajian berpendekatan filsafat. Tasawuf falsafi, atau biasa juga disebut tasawuf nazhari, merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antar visi mistis dan visi rasional sebagai pengasasannya. Tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi filosofis tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.41

E. PENUTUP

Pendekatan filsafat merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam kajian Islam untuk memahami aspek-aspek ajaran Islam dengan metodologi yang biasa digunakan filsafat atau menelaah dan mengurai nilai-nilai filosofis (hikmah) yang terkandung dalam doktrin-doktrin ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur`an dan Hadits sehingga diharapkan ajaran-ajaran Islam tersebut dapat diinternalisasikan dan diamalkan secara lebih subtansial dan sarat fungsi, tak kering makna.

39 Kadar M. Yusuf,

op.cit, h. 163-164

40

Al-Dzahabi, Al-Tafŝr wa al-Mufassi ̂n, II, t.t.p (Dar al- Maktab al-Haditsah, 1976), h. 417

41

(17)

17 Pendekatan filsafat dalam kajian Islam telah dilakukan banyak tokoh sejak masa klasik sampai masa kontemporer dalam berbagai disiplin ilmu. Beberapa model pendekatan filsafat tersebut antara lain : 1). Pendekatan Hermeneutik, 2). Pendekatan Teologi-Filosofis, 3). Pendekatan Tafsir Falsafi, dan 4). Pendekatan Tasawuf Falsafi.

Filsafat, dengan beragam karakteristik dasarnya yang inheren, sendiri berperan mengasah dan mempertajam penalaran kita, dan juga membongkar kejumudan pola pikir yang kita warisi begitu saja yang seakan turun dari langit,

(18)

18 DAFTAR PUSTAKA

Al-Dzahabi, Al-Tafŝr wa al-Mufassi ̂ , II, t.t.p (Dar al- Maktab al-Haditsah, 1976). Anwar, Rosihon, Pengantar Studi Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2009).

Asnawi Ihsan, Otoritarianisme : Catatan kelam Peradaban Islam, dalam situs http://asnawiihsan.blogspot.com.

E. Sumaryono, Hermeneutika : Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1999).

Faiz, Fakhruddin, Hermeneutika Al- Qu a i, Te a-tema Kontroversial (elSAQ, 2005). Faiz, Fakhruddin, He e eutika Qu a i, (Yogyakarta : Qalam, 2007).

Ghazali,Adeng Mukhtar, Ilmu Perbandingan Agama, (Bandung : Pustaka Setia , 2000).

Heriyanto, Husein, Nalar Saintifik Peradaban Islam, (Bandung : Mizan, 2011).

Junaidi, Abdul Basith, Pencarian Makna kebenaran, Perspektif Charles Sanders Pierce dalam Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer, (Yogyakarta ; Pustaka Pelajar, 2009).

Madjid, Nurcholis, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1994).

Muzairi, Hermeneutika dalam Pemikiran Islam dalam Hermeneutika Al-Qur a Mazha Yogya, (Islamika, 2003).

Muzhar, M. Atho, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998).

Nasution,Khoiruddin, Peran Hermeneutika dan Pengelompokan Nash dalam Studi Hukum Islam Integratif-Interkonektif dalam Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008).

Nata,Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2004).

Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta ; Kalam Mulia, 2009).

(19)

19 Sahrodi, Jamali, Metodologi Studi Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008).

Soetriono dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, (Yogyakarta : Andi Offset, 2007).

Solihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia, 2008).

Supiana, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : Ditjen Pendis Kemenag RI, 2012)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...