• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Sejarah, Pengertian, dan Tujuan Epidemiologi Gizi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "1 Sejarah, Pengertian, dan Tujuan Epidemiologi Gizi"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Sejarah, Pengertian, dan Tujuan

Epidemiologi Gizi

Albiner Siagian

(2)

Perkembangan Sejarah Surveilans Gizi Di

Indonesia

Surveilans Gizi pada awalnya dikembangkan untuk mampu memprediksi situasi pangan dan gizi secara teratur dan terus-menerus sehingga setiap

perubahan situasi dapat dideteksi lebih awal (dini) untuk segera dilakukan tindakan pencegahan. Sistem tersebut dikenal dengan Sistem Isyarat Tepat Waktu untuk Intervensi atau dalam bahasa Inggris disebut Timely Warning Information and Intervention

(3)

Pada periode 1986-1990 SIDI dikembangkan di

beberapa provinsi dan pada periode 1990-1997 berkembang mencakup aspek yang lebih luas, dengan pertimbangan bahwa masalah gizi dapat terjadi setiap saat tidak hanya diakibatkan oleh kegagalan produksi pertanian. Sistem yang

dikembangkan ini disebut Sistem Kewaspadaan

(4)

Pada periode 1990-an kegiatan SKPG sudah ada di

seluruh provinsi, tetapi pamornya memudar. Akhirnya, pada saat Indonesia mengalami krisis multidimensi pada tahun 1998 dilakukan upaya revitalisasi sehingga SKPG meliputi: (1) pemetaan situasi pangan dan gizi tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional, (2)

memperkirakan situasi pangan dan gizi di tingkat

kecamatan, (3) pemantauan status gizi kelompok rentan serta kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG) dan

(5)

Pada awal millennium ketiga (tahun 2000-an)

Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Bina Gizi, lebih memfokuskan pada Surveilans Gizi yang pada saat itu lebih ditujukan untuk penanganan masalah balita gizi buruk.

Saat ini masalah gizi (“malnutrition”) bukan hanya masalah kekurangan gizi (“undernutrition”) tetapi sudah terjadi juga masalah kelebihan gizi

(6)

Surveilans gizi sangat berguna untuk mendapatkan

informasi keadaan gizi masyarakat secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan, yang dapat digunakan untuk menetapkan kebijakan gizi. Informasi yang digunakan mencakup indikator pencapaian gizi masyarakat serta informasi lain yang belum tersedia dari laporan rutin. Adanya surveilans gizi akan dapat meningkatkan

(7)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah yang dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah

Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa salah satu

kewajiban Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten

(8)

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan Pasal 141 menyebutkan bahwa upaya

perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat melalui

perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang; perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan; peningkatan akses dan mutu

(9)

Pengertian Surveilans Gizi

Surveilans gizi adalah proses pengamatan

masalah dan program gizi secara terus

menerus baik situasi normal maupun darurat,

meliputi : pengumpulan, pengolahan, analisis

dan pengkajian data secara sistematis serta

penyebarluasan informasi untuk pengambilan

tindakan sebagai respon segera dan

(10)

Suatu proses pengumpulan, pengolahan dan

diseminasi informasi hasil pengolahan data

secara terus menerus dan teratur tentang

indikator yang terkait dengan kinerja

(11)
(12)

Prinsip Dasar Surveilens Gizi

1. Tersedia data yang akurat dan tepat waktu

2. Ada proses analisis atau kajian data

3. Tersedianya informasi yang sistematis dan

terus menerus

4. Ada proses penyebarluasan informasi, umpan

balik dan pelaporan

(13)

Tujuan

1. Umum

1. Terselenggaranya kegiatan surveilans gizi untuk memberikan 2. gambaran perubahan pencapaian kinerja pembinaan gizi

masyarakat

3. dan indikator khusus lain yang diperlukan secara cepat, akurat, teratur

4. dan berkelanjutan dalam rangka pengambilan tindakan segera,

(14)

Tujuan Khusus

a. Tersedianya informasi secara cepat, akurat, teratur dan

berkelanjutan mengenai perubahan pencapaian kinerja pembinaan gizi:

1) Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan; 2) Persentase balita yang ditimbang berat badannya;

3) Persentase bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif;

4) Persentase rumah tangga mengonsumsi garam beriodium; 5) Persentase balita 6-59 bulan mendapat kapsul vitamin A; 6) Persentase ibu hamil mendapat 90 tablet Fe;

7) Persentase kabupaten/kota melaksanakan surveilans gizi;

(15)

b. Tersedianya informasi indikator gizi lainnya

secara berkala jika diperlukan, seperti:

1) Prevalensi balita gizi kurang berdasarkan

antropometri;

2) Prevalensi status gizi anak usia sekolah, remaja

dan dewasa;

3) Prevalensi risiko Kurang Energi Kronis (KEK)

(16)

4) Prevalensi anemia gizi besi dan Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI), Kurang Vitamin A (KVA) dan masalah gizi mikro lainnya;

5) Tingkat konsumsi zat gizi makro (energi dan protein) dan mikro (defisiensi zat besi, defisiensi iodium);

6) Data pendistribusian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dan Pemberian Makanan Tambahan

(PMT);

(17)

Manfaat

1. Kegiatan surveilans gizi bermanfaat untuk memberikan informasi

2. pencapaian kinerja dalam rangka pengambilan tindakan segera,

3. perencanaan jangka pendek dan menengah serta perumusan kebijakan,

4. baik di kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Selain itu kegiatan surveilans

5. gizi juga bermanfaat untuk mengevaluasi pencapaian kinerja pembinaan

Referensi

Dokumen terkait

Status gizi balita dilihat berdasarkan karakteristik responden, pada balita dengan status gizi yang kurang, persentase gizi kurang lebih tinggi pada ibu yang memiliki

Apakah strategi penanganan stunting ditinjau dari faktor sosial ekonomi, gizi dan kesehatan pada balita di pedesaan dan perkotaan?... Mengidentifikasi dan menganalisis faktor

Gizi buruk dan beberapa masalah kesehatan yang masih dirasakan oleh Masyarakat desa Catur sampai saat ini. Kondisi gizi yang buruk telah terjadi pada anak usia balita

Hubungan Kontrol Makanan dengan Resiko Status Gizi Balita Berdasarkan hasil penelitian pada 58 responden diketahui bahwa balita dengan status gizi baik lebih banyak terdapat pada

Sehubungan dengan hal tersebut, Direktorat Gizi Masyarakat menyusun Buku Saku Pencegahan dan Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita di Layanan Rawat Jalan yang diharapkan dapat menjadi

Direktorat Bina Kesehatan Ibu Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.. KB Suntik 3 Tiga Bulan Dengan Efek Samping Gangguan Haid Dan

Masalah gizi pada anak balita di Indonesia mengalami penurunan, namun jumlah anak gizi buruk masih besar sehingga perlu tenaga kesehatan terampil dan panduan penanganan gizi buruk yang

Kementerian Kesehatan RI 2022 mencatat bahwa dalam konteks darurat bencana, kelompok balita sangat rentan terhadap kondisi gizi buruk karena kebutuhan energi mereka lebih tinggi