• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAGEMENT PROGRAM GIZI BENCANA DI DAERAH TANAH KARO

N/A
N/A
urii cleris

Academic year: 2025

Membagikan "MANAGEMENT PROGRAM GIZI BENCANA DI DAERAH TANAH KARO"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MANAGEMENT PROGRAM GIZI BENCANA DI DAERAH TANAH KARO

DISUSUN OLEH:

TITA THERESIA GINTING 112022010

DOSEN PENGAMPU: SERLINA SILALAHI, SST., M.GZ

PROGRAM STUDI SARJANA GIZI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTA ELISABETH MEDAN Jln. Bunga Terompet No. 118 Kel. Sempakata Kec. Medan Selayang

(2)

Tahun Akademik 2025/2026

KATA PENGANTAR

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI... 3

BAB I TINJAUAN PUSTAKA... 4

1.1 Pengumpulan data/Analisa Situasi...4

1.2 Analisa Masalah gizi...5

1.3 Identifikasi Masalah Gizi... 7

1.4 Perumusan Masalah dengan 5W...9

1.5 Penentuan Prioritas...10

1.6 Goal/Objektif... 10

1.7 Indikator/Kriteria...10

1.8 Usulan Program/Projek/Kegiatan...11

BAB II PENUTUP...12

2.1 Kesimpulan...12

2.2 Saran...12

DAFTAR PUSTAKA...14

(4)

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Pengumpulan data/Analisa Situasi

Kabupaten Karo di Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak oleh bencana alam di Indonesia, terutama akibat aktivitas vulkanik Gunung Sinabung yang kembali aktif sejak tahun 2010. Gunung ini telah mengalami erupsi berkali-kali, yang menyebabkan ribuan masyarakat terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi pengungsian.

Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur, tempat tinggal, dan lahan pertanian, tetapi juga berdampak serius terhadap ketahanan pangan dan status gizi masyarakat.

Berdasarkan data dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, pada September 2013 tercatat jumlah pengungsi mencapai 14.991 jiwa yang tersebar di 16 posko pengungsian. Mereka terdiri dari kelompok rentan seperti balita, ibu hamil dan menyusui, serta lansia yang sangat membutuhkan perhatian khusus dalam aspek gizi dan kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan, 2013). Penanganan bencana ini kemudian diperkuat dengan keterlibatan lintas sektor termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dinas Sosial, serta pemerintah provinsi dan kabupaten.

Selanjutnya, data dari Setkab (Sekretariat Kabinet) menunjukkan bahwa pada awal tahun 2014, masih terdapat 3.284 jiwa atau 1.018 kepala keluarga yang menempati 12 titik pengungsian di sekitar Kabupaten Karo.

Meski sudah dilakukan relokasi secara bertahap, sebagian besar masyarakat masih menghadapi kendala besar dalam hal akses terhadap pangan bergizi, air bersih, dan fasilitas sanitasi (Setkab, 2014).

Dalam penelitian oleh Nainggolan (2019), disebutkan bahwa erupsi Sinabung memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan ekonomi masyarakat, terutama petani hortikultura yang kehilangan lahan produktif mereka. Hal ini berujung pada terganggunya rantai pasok pangan lokal, sehingga ketersediaan dan keterjangkauan pangan menjadi permasalahan yang berlarut-larut. Situasi ini memperburuk status gizi keluarga, khususnya balita

(5)

dan ibu menyusui yang sangat membutuhkan energi dan mikronutrien cukup untuk pertumbuhan dan pemulihan pascabencana.

Selain faktor ekonomi, aspek sosial dan psikologis juga sangat memengaruhi pola konsumsi dan status gizi pengungsi. Implementasi relokasi oleh Pemerintah Kabupaten Karo masih menemui tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur dan keterbatasan tenaga kesehatan di lokasi baru.

Hal ini berdampak pada terganggunya layanan kesehatan dasar dan posyandu yang sebelumnya menjadi sumber pemantauan gizi rutin (Ginting et al., 2022).

Bahkan lebih lanjut, Tanjung dan Wahyuni (2021) dalam studi antropometri menyimpulkan bahwa anak-anak balita dan perempuan usia subur di Desa Pertenguhen, Kecamatan Simpang Empat, menunjukkan kecenderungan penurunan berat badan serta prevalensi anemia ringan hingga sedang setelah bencana. Hal ini mengindikasikan bahwa pemantauan gizi pascabencana belum dilakukan secara optimal, dan intervensi gizi masih bersifat jangka pendek.

Situasi ini mencerminkan bahwa analisis situasi di daerah bencana harus dilakukan dengan pendekatan multidimensi: mulai dari aspek geografis, ekonomi, sosial-budaya, hingga kesehatan masyarakat. Data primer dapat diperoleh melalui survei lapangan, wawancara dengan tenaga kesehatan, serta pengukuran status gizi masyarakat (IMT, LILA, Hb, dsb.), sedangkan data sekunder bisa diperoleh dari laporan dinas kesehatan, BNPB, dan instansi sosial. Integrasi data tersebut sangat penting dalam merancang program gizi bencana yang kontekstual dan berkelanjutan.

1.2 Analisa Masalah gizi

Bencana alam seperti erupsi Gunung Sinabung berdampak signifikan terhadap kondisi gizi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia. Dalam kondisi pengungsian yang serba terbatas, akses terhadap makanan bergizi sangat minim, menyebabkan terjadinya kekurangan zat gizi makro (energi dan protein) maupun mikro (zat besi, vitamin A, zinc, dan yodium). Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Karo menunjukkan adanya peningkatan kasus balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang pasca erupsi,

(6)

yang disebabkan oleh rendahnya asupan gizi serta terbatasnya pelayanan gizi selama pengungsian (Dinas Kesehatan Karo, 2021).

Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya variasi makanan yang tersedia di posko pengungsian, di mana distribusi bantuan lebih banyak berupa makanan instan, nasi, dan mi, yang rendah protein hewani dan zat gizi mikro penting. Hasil pengukuran antropometri oleh Tanjung & Wahyuni, (2021) menunjukkan adanya peningkatan prevalensi wasting dan underweight pada balita yang tinggal di pos pengungsian Desa Pertenguhen, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Mereka juga mencatat bahwa anemia ringan hingga sedang ditemukan pada lebih dari 40% perempuan usia subur yang menjadi responden dalam studi tersebut.

Masalah gizi yang paling umum diidentifikasi dalam situasi bencana di Indonesia, termasuk di Kabupaten Karo, adalah stunting, wasting, dan defisiensi mikronutrien. Kementerian Kesehatan RI (2022) mencatat bahwa dalam konteks darurat bencana, kelompok balita sangat rentan terhadap kondisi gizi buruk karena kebutuhan energi mereka lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, sementara daya tahan tubuh yang rendah membuat mereka lebih mudah terpapar penyakit infeksi yang memperburuk status gizi. Kombinasi antara kurangnya asupan dan peningkatan kebutuhan metabolik inilah yang menjadikan masalah gizi sangat serius di lokasi bencana.

Menurut (Nainggolan, 2019), bencana erupsi Gunung Sinabung tidak hanya menyebabkan kehilangan lahan pertanian, tetapi juga berdampak pada ketahanan pangan masyarakat lokal. Petani hortikultura di sekitar lereng gunung mengalami gagal panen dan kehilangan sumber penghasilan utama, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga dengan layak. Akibatnya, pola makan masyarakat menjadi tidak seimbang, bergeser dari konsumsi sayur dan buah segar ke makanan pokok sederhana yang kurang bergizi. Hal ini menunjukkan bahwa aspek ekonomi dan akses pangan sangat berkaitan erat dengan status gizi dalam situasi krisis. Dampak Erupsi Gunung Sinabung terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Petani Hortikultura di Kabupaten Karo.

(7)

Kekurangan zat gizi mikro, terutama zat besi, vitamin A, dan zinc, juga menjadi masalah besar dalam situasi bencana. Penelitian oleh Laili et al., (2022) menyatakan bahwa anak-anak usia di bawah lima tahun sangat rentan terhadap defisiensi zat besi yang dapat menyebabkan anemia, serta kekurangan vitamin A yang berdampak pada penurunan imunitas. Dalam kondisi pengungsian, pemberian suplementasi sering kali tidak merata dan tidak berkelanjutan, sehingga dampaknya terhadap perbaikan status gizi belum maksimal. Intervensi yang tepat waktu, terarah, dan berbasis kebutuhan lokal sangat dibutuhkan dalam konteks ini.

1.3 Identifikasi Masalah Gizi

Salah satu masalah gizi utama yang muncul akibat bencana erupsi Gunung Sinabung adalah wasting atau gizi kurang akut. Kondisi ini terjadi karena terbatasnya ketersediaan makanan bergizi selama masa pengungsian.

Anak-anak balita yang berada di lokasi pengungsian cenderung mengalami penurunan berat badan secara drastis karena kurangnya asupan energi dan protein dalam waktu singkat. Berdasarkan studi oleh Tanjung dan Wahyuni (2021), terdapat peningkatan prevalensi wasting pada balita yang tinggal di posko pengungsian Desa Pertenguhen, Kecamatan Simpang Empat. Studi ini menegaskan bahwa kurangnya keberagaman makanan dan pola makan yang monoton menjadi pemicu utama terjadinya wasting.

Masalah lain yang cukup signifikan adalah stunting, yakni gangguan pertumbuhan kronis yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam jangka panjang. Meskipun stunting bukan kondisi akut, bencana memperburuk situasi anak-anak yang sebelumnya telah mengalami kekurangan gizi kronis.

Kementerian Kesehatan RI (2022) menyatakan bahwa stunting di Indonesia sering kali terjadi di daerah dengan keterbatasan akses pangan dan air bersih, dua kondisi yang sangat mencirikan lokasi pengungsian di Kabupaten Karo.

Erupsi gunung menyebabkan terputusnya rantai pasokan pangan, rusaknya infrastruktur sanitasi, dan menurunnya layanan kesehatan dasar, yang semuanya berkontribusi terhadap memburuknya prevalensi stunting.

(8)

Masalah gizi berikutnya yang juga perlu menjadi perhatian adalah anemia defisiensi besi, khususnya pada kelompok perempuan usia subur dan ibu hamil. Dalam kondisi pengungsian, distribusi makanan tinggi zat besi seperti daging merah, hati, atau sayuran hijau sangat terbatas. Akibatnya, asupan zat besi harian tidak terpenuhi. Dalam studi sistematik oleh Laili et al.

(2022) disebutkan bahwa anemia merupakan salah satu kondisi gizi mikro yang paling umum muncul dalam situasi bencana, dengan dampak serius terhadap kehamilan, pertumbuhan janin, dan daya tahan tubuh. Sayangnya, program suplementasi zat besi pada pengungsi sering tidak berjalan secara konsisten karena keterbatasan logistik dan tenaga kesehatan.

Selain itu, defisiensi vitamin A dan zinc juga menjadi masalah gizi mikro yang umum terjadi dalam situasi darurat. Vitamin A penting untuk imunitas dan kesehatan mata, sementara zinc berperan penting dalam proses penyembuhan luka dan pertumbuhan. Dalam situasi pengungsian, makanan yang disediakan jarang mengandung cukup vitamin A atau zinc, sehingga risiko infeksi meningkat. UNICEF Indonesia (2020) mencatat bahwa di daerah terdampak bencana, hanya sekitar 60% anak-anak yang mendapatkan suplementasi vitamin A secara rutin, dan angka ini jauh lebih rendah pada kelompok pengungsi karena keterbatasan distribusi.

Dengan melihat berbagai bentuk kekurangan zat gizi tersebut, maka identifikasi masalah gizi dalam konteks bencana Gunung Sinabung mencakup:

(1) wasting akut karena keterbatasan asupan energi dan protein; (2) stunting kronis yang diperburuk oleh gangguan pasokan pangan dan layanan kesehatan;

(3) anemia akibat defisiensi zat besi; dan (4) defisiensi mikronutrien seperti vitamin A dan zinc. Identifikasi ini menjadi dasar penting untuk menentukan arah intervensi dan prioritas program gizi darurat yang lebih responsif dan berbasis bukti.

1.4 Perumusan Masalah dengan 5W

1) What: Masalah utama yang timbul adalah meningkatnya kejadian gizi buruk pada anak balita, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya akibat keterbatasan akses pangan bergizi selama masa pengungsian. Banyak anak

(9)

mengalami wasting dan berisiko mengalami stunting jika kondisi tidak segera ditangani. Penurunan berat badan, anemia, dan gejala defisiensi mikronutrien seperti vitamin A dan zinc menjadi kejadian umum selama bencana berlangsung.

2) Where: Masalah ini terjadi di lokasi pengungsian warga terdampak erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo. Lokasi pengungsian umumnya merupakan lahan darurat yang memiliki keterbatasan fasilitas dapur umum, air bersih, dan pelayanan posyandu.

3) When: Masalah ini terjadi sejak awal terjadinya erupsi Gunung Sinabung pada tahun 2010 dan terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya, terutama saat pengungsian berlangsung lama dan relokasi belum terlaksana sepenuhnya.

4) Who: Kelompok yang paling terdampak adalah balita, anak usia sekolah, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Kelompok ini secara fisiologis membutuhkan lebih banyak energi dan zat gizi, namun dalam kondisi bencana mereka justru mengalami kesulitan memenuhi kebutuhannya.

5) Why: Akar permasalahan berasal dari keterbatasan logistik, distribusi pangan tidak merata, pelayanan kesehatan terganggu, kurangnya penyuluhan gizi selama pengungsian, serta lemahnya koordinasi antar lembaga dalam memastikan ketersediaan pangan bergizi bagi pengungsi.

1.5 Penentuan Prioritas

Penentuan prioritas dalam penanganan masalah gizi di Kabupaten Karo harus mengutamakan kelompok rentan, terutama balita dan ibu hamil, yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi. Prioritas pertama adalah memastikan akses terhadap makanan tambahan bergizi dengan kandungan energi, protein, dan mikronutrien yang mencukupi. Hal ini penting karena risiko wasting dan stunting meningkat selama masa pengungsian berlangsung (Kemenkes RI, 2023).

Prioritas kedua adalah memulihkan pelayanan kesehatan dasar dan posyandu yang terganggu akibat relokasi dan kerusakan fasilitas. Pemantauan

(10)

pertumbuhan, pemberian vitamin A, tablet tambah darah, serta imunisasi harus kembali dilaksanakan secara rutin, walau dalam kondisi darurat sekalipun.

Selain itu, perlu juga dilakukan pelatihan tenaga relawan dan kader gizi agar mampu mengidentifikasi gejala gizi buruk secara dini serta memberikan edukasi gizi praktis kepada masyarakat. Edukasi ini meliputi pengolahan makanan darurat yang bergizi, pentingnya ASI eksklusif, serta pencegahan penyakit infeksi.

1.6 Goal/Objektif

a. Tujuan umum dari manajemen program gizi bencana ini adalah untuk menurunkan angka kejadian malnutrisi pada kelompok rentan pasca bencana.

b. Tujuan khusus mencakup:

(1) meningkatkan cakupan distribusi makanan tambahan bergizi, (2) meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat, serta

(3) memperkuat sistem surveilans gizi di daerah terdampak (FAO, 2020).

1.7 Indikator/Kriteria

Keberhasilan program akan diukur melalui indikator berikut:

a. Penurunan prevalensi wasting pada balita sebanyak 30% dalam 6 bulan.

b. Cakupan pemberian PMT (Pemberian Makanan Tambahan) minimal 80%

untuk ibu hamil dan balita.

c. Tersedianya pos pelayanan gizi darurat minimal 1 unit per 500 pengungsi (Kemenkes RI, 2023).

1.8 Usulan Program/Projek/Kegiatan

6) Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Balita dan Ibu Hamil: PMT darurat berbasis pangan lokal dapat didistribusikan melalui posko kesehatan pengungsian. Jenis makanan bisa berupa bubur kacang hijau, biskuit tinggi energi, dan telur rebus. Pemberian PMT disesuaikan dengan status gizi dan frekuensi pemantauan mingguan.

(11)

7) Pendirian Dapur Gizi Darurat dan Edukasi Gizi Praktis: Dapur gizi disertai sesi edukasi untuk ibu balita tentang pemanfaatan bantuan pangan menjadi menu bergizi seimbang. Pelatihan ini juga mengajarkan prinsip kebersihan makanan untuk mencegah diare yang dapat memperparah malnutrisi.

8) Mobile Clinic Gizi dan Pos Layanan Gizi Keliling: Tim kesehatan keliling terdiri dari tenaga gizi, perawat, dan bidan yang bertugas memberikan suplemen mikronutrien, pemeriksaan status gizi, dan konseling gizi kepada keluarga pengungsi. Layanan ini menjangkau lokasi pengungsian terpencil dan memantau cakupan intervensi.

9) Pemulihan Posyandu dan Penguatan Surveilans Gizi: Posyandu darurat dijalankan secara rotasi di lokasi pengungsian. Kegiatan meliputi penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan, pemberian vitamin A, imunisasi, dan edukasi gizi keluarga.

BAB II PENUTUP 2.1 Kesimpulan

Manajemen program gizi dalam situasi bencana seperti yang terjadi di Kabupaten Karo akibat erupsi Gunung Sinabung merupakan langkah krusial untuk menyelamatkan kelompok rentan dari risiko malnutrisi. Dampak jangka panjang bencana terhadap status gizi dapat menyebabkan peningkatan prevalensi wasting, stunting, dan defisiensi mikronutrien pada anak-anak serta anemia pada ibu hamil. Oleh karena itu, pendekatan terpadu yang menggabungkan penyediaan makanan tambahan, pelayanan gizi darurat, serta edukasi kepada masyarakat sangat diperlukan.

Identifikasi masalah gizi yang terjadi, mulai dari keterbatasan akses pangan, kurangnya pelayanan posyandu, hingga minimnya suplai makanan bergizi harus menjadi fokus dalam perencanaan dan pelaksanaan program. Dengan

(12)

menggunakan metode analisis situasi dan perumusan masalah melalui pendekatan 5W, strategi yang disusun menjadi lebih sistematis dan terarah.

Usulan program seperti pemberian makanan tambahan, pendirian dapur gizi, layanan mobile clinic gizi, serta reaktivasi posyandu darurat akan sangat efektif jika didukung oleh sinergi lintas sektor. Pemantauan dan evaluasi yang kontinu juga diperlukan agar intervensi tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak jangka panjang terhadap pemulihan status gizi masyarakat pascabencana.

Dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa manajemen program gizi bencana harus berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar yang mendesak, namun tetap mempertimbangkan aspek edukatif dan preventif, sehingga masyarakat terdampak dapat bangkit dengan status gizi yang lebih baik dan ketahanan kesehatan yang lebih kuat di masa depan.

2.2 Saran

1) Peningkatan Koordinasi Antar Instansi

Pemerintah daerah, dinas kesehatan, lembaga penanggulangan bencana, serta organisasi non-pemerintah perlu meningkatkan koordinasi dalam perencanaan dan pelaksanaan program gizi di daerah bencana. Kolaborasi yang kuat dapat memaksimalkan distribusi logistik pangan bergizi, pelayanan kesehatan, dan edukasi gizi kepada masyarakat terdampak.

2) Penguatan Edukasi dan Kapasitas Masyarakat

Edukasi gizi kepada masyarakat, khususnya kepada ibu balita dan remaja putri, harus dijadikan program prioritas. Materi edukasi harus disesuaikan dengan kondisi darurat dan dikemas secara praktis agar dapat diterapkan dalam keterbatasan sarana dan prasarana di pengungsian.

3) Optimalisasi Pemantauan Status Gizi

Perlu adanya sistem pemantauan status gizi yang lebih responsif dan terstandar di lokasi pengungsian, termasuk pelatihan kader gizi darurat.

Pemantauan ini dapat dilakukan secara berkala untuk mendeteksi dini masalah gizi dan segera memberikan intervensi yang tepat sasaran.

4) Pengembangan Posyandu Darurat dan Mobile Clinic

(13)

Posyandu darurat dan layanan kesehatan keliling harus diperkuat, terutama untuk menjangkau lokasi pengungsian terpencil. Dengan pendekatan yang fleksibel ini, pelayanan dasar seperti pemberian vitamin A, imunisasi, pemantauan tumbuh kembang, dan konseling gizi dapat tetap berjalan meski dalam situasi bencana.

5) Penyediaan Makanan Tambahan Berbasis Lokal

Pemberian makanan tambahan sebaiknya tidak hanya bergantung pada produk industri, tetapi juga diupayakan dengan mengembangkan pangan lokal yang bergizi. Ini akan mendorong ketahanan pangan lokal sekaligus menciptakan keterlibatan masyarakat dalam penyediaan solusi gizi.

DAFTAR PUSTAKA

Sphere Association. (2018). The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response. https://spherestandards.org (diakses tanggal 10 April 2025).

Ginting, M., Siahaan, A. Y. S., & Harahap, H. (2022). Implementasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Karo dalam Relokasi Masyarakat Terdampak Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Sumatera Utara. Histeria: Jurnal

Ilmiah Sosial dan Humaniora, 1(2), 50–60.

https://jurnal.arkainstitute.co.id/index.php/histeria/article/view/283

Nainggolan, H. L. (2019). Dampak Erupsi Gunung Sinabung terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Petani Hortikultura di Kabupaten Karo. Sosiohumaniora, 21(3), 267–275. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v21i3.22382n Pusat Krisis Kesehatan. (2013). Jumlah Pengungsi Gunung Sinabung Bertambah

Jadi 14.991 Jiwa.

https://bencana-kesehatan.net/index.php/13-berita/berita/1814-jumlah- pengungsi-gunung-sinabung-bertambah-jadi-14991-jiwa

(14)

Setkab. (2014). G. Sinabung Terus Erupsi, 3.284 Warga Karo Masih Tinggal di Pengungsian. https://setkab.go.id/g-sinabung-terus-erupsi-3-284-warga- karo-masih-tinggal-di-pengungsian/

Tanjung, N. U., & Wahyuni, S. (2021). Pengukuran Antropometri Balita dan Perempuan Usia Subur Pasca Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Desa Pertenguhen Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. Shihatuna:

Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat, 1(1), 17–20.

https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/shihatuna/article/view/9229

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022. https://pusdatin.kemkes.go.id/folder/view/01/structure- publikasipusdatin-profil-kesehatan.html

Laili, R., Alristina, A., Hayudanti, D., & Ethasari, R. (2022). Establishing Nutritional Management after Natural Disaster for Children Under-five Years in Indonesia: A Systematic Review. International Journal of Advancement in Life Sciences Research, 5(4), 11–18.

https://www.ijalsr.org/index.php/journal/article/view/167

UNICEF Indonesia. (2020). Nutritional emergency response in Indonesia.

https://www.unicef.org/indonesia/id/nutrition

World Food Programme. (2022). Nutrition Support in Emergency Response.

https://www.wfp.org (diakses tanggal 10 April 2025).

Food and Agriculture Organization. (2020). Emergency nutrition response strategy . https://www.fao.org (diakses tanggal 10 April 2025).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Buku Saku Pemantauan Gizi dalam Situasi Bencana. https://gizi.kemkes.go.id (diakses tanggal 10 April 2025).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pelayanan Gizi dalam Situasi Bencana. https://gizi.kemkes.go.id (diakses tanggal 10 April 2025).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman pelayanan gizi dalam penanggulangan bencana. https://gizi.kemkes.go.id (diakses tanggal 10 April 2025).

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Dpkes RI (1997) faktor penyebab langsung timbulnya masalah gizi buruk pada balita adalah adanya penyakit infeksi serta konsumsi makanan yang tidak mencukupi

Penanggulangan gizi buruk di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1974 tetapi persentase balita gizi buruk khususnya di kota Medan masih termasuk dalam kategori

Apakah Ibu turut serta dalam melakukan pemberian makanan tambahan pada balita yang menderita gizi

Gerak Kegiatan koordinasi BPBD Kabupaten Karo dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung saat tanggap darurat mulai dari evakuasi, penyediaan tempat

Latar belakang penelitian adalah permasalahan status gizi pada balita. Pada tahun 2013, kasus gizi di Kabupaten Semarang tercatat sebanyak 1,05% balita dengan gizi buruk dan

“Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Karo , Ir.Subur Tambun mengatakan bahwa pada awal terjadinya tanggap darurat erupsi Gunung Sinabung BPBD Kabupaten Karo

Status gizi buruk pada balita disebabkan kurangnya asupan makanan bergizi yang diberikan baik secara kualitas dan kuantitas, adanya keterbatasan pengetahuan tentang pangan yang bergizi

Pelaksanaan Prioritas Perkuatan Kesiapsiagaan dan Penanganan Darurat Bencana No Dilaksanakan Tidak dilaksanakan 1 Rencana kontijensi banjir Rencana Kontijensi Tsunami 2 Sistem