• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Kas DiDaerah doc Paper

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan " Manajemen Kas DiDaerah doc Paper"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Manajemen Kas DiDaerah

Perubahan paradigma keuangan terjadi sejak di berlakukannya

Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan Undang-undang-Undang-undang

nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan anatara pemerintah pusat

dan daerah. Undang-undang tersebut membawa perubahan yang sangat mendasar

pada pola hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, terutama

karena misi yang di bawanya yaitu mewujudkan efisiensi dan efektivitas

pengelolaan sumber daya keuangan daerah.

Tujuan kedua undang-undang tersebut untuk mereformasi

kelemahan-kelemahan pengelolaan keuangan daerah, namun pelaksanaannya jauh dari

harapan sehingga diganti dengan undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang

pemerintah daerah dan undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang

perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan dearah. Dengan

diberlakukannya Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 yang merupakan revisi

dari undang nomor 33 tahun 2004 yang merupakan revisi dari

undang-undang nomor 25 tahun 1999, tentang Perimbangan Keuangan anatara Pemerintah

Pusat dan Daerah , memberikan kewenangan secara mutlak pada tiap-tiap daerah

untuk mengatur daerah sendiri.

Kas adalah salah satu komponen dari aktiva yang sangat vital bagi

kelangsungan hidup organisasi, baik organisasi pemerintah maupun perusahaan

swasta. Kas merupakan elemen kunci dalam perencanaan atas seluruh aspek

(2)

mungkin dapat kehilangan reputasinya dan sulit untuk bertransaksi dengan pihak

lain karena organisasi tersebut tidak dapat membayar tagihannya yang sudah jatuh

tempo. Oleh karena itu manajemen kas merupakan suatu keharusan bagi seluruh

organisasi, baik organisasi pemerintah maupun swasta.

Secara umum, organisasi yang dapat memperbaiki metode dalam

menerima dan mengeluarkan kas akan menjadi lebih sukses. Hal ini didasarkan

pada pemikiran bahwa kekurangan uang dalam organisasi dapat menimbulkan

biaya yang seharusnya dapat dihindari manakala terdapat manajemen kas yang

baik. Kekurangan kas akan menyebabkan suatu organisasi harus mencari

pinjaman dana dalam rangka menutupi kekurangan kas untuk melaksanakan

kegiatan operasionalnya. Namun, pinjaman yang didapatkan dapat menimbulkan

resiko berupa biaya baru seperti biaya bunga dan denda atas keterlambatan

pembayaran. Di sisi lain, dengan adanya manajemen kas yang baik suatu

organisasi dapat menyediakan berbagai sumber daya lainnya tepat pada waktunya

ketika dibutuhkan, belum lagi kemungkinan memanfaaatkan diskon yang

diberikan oleh para pemasok pada saat pembelian barang karena membayar tepat

pada waktunya.

Manajemen

Terdapat beberapa pengertian mengenai manajemen menurut GR Terry

manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan

atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan organisasional atau

maksud yang nyata. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai

(3)

berbagai tugas yang mungkin diperlukan, atau berarti dengan tidak melakukan

tugas itu sendiri. Stoner dikutip Indriyo Gitosudarmo : 2001 meyatakan bahwa

manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan

pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya

organisasi lainnya agar mencari tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara

efektif dan efisien.

Menurut sugiri (2007:4) bagi manajemen mempunyai peran sangat

penting, antara lain dalam hal berikut:

1. Melindungi Aset. Catatan akuntansi yang teliti dapat menunjukan posisi

keuangan perusahaan dari waktu kewaktu sehingga mempersempit ruang

gerak pihak-pihak yang akan melakukan korupsi maupun manipulasi.

2. Penyusunan Rencana. Anggaran merupakan rencana kegiatan yang

dinyatakn dalam satuan uang yang menjadi pemandu untuk beroperasi di

masa yang akan datang.

3. Pengukuran efisiensi,efektivitas dan keekonomian. Akuntasi mengukur

laba entitas bisnis dengan menyelisishkan antara pemdapatan yang

diperoleh selama suatu periode dan biaya yang dikeluarkan untuk

memperoleh pendapatan tersebut. Laba berperan sebgai pengukur efisiensi

dan efektivitas entitas bisnis. Pada lembaga pemenrinthan akuntansi juga

dapat mengukur apakah kegiatan yang telah dijalankan adalah efisien,

efektif dan ekonomis. Kegiatan disebut efektif jika mencapai sasaran,

(4)

di tetapkan, dan diesbut ekonomis jika input (masukan) yang digunakan

untuk melakukan efetifitas diperoleh dengan harga termurah relative

terhadap semua harga alternatif di pasar.

4. Pengawasan. Manajemen akan melakukan upaya agar pelaksanaan

kegiatan sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan.

Manajemen Kas

Ada banyak sekali pengertian mengenai kas, baik dari sisi

peurndang-undangan maupun dari sisi teori atau konsep ekonom. Menurut Undang-Undang

Nomor 1 tahun 2004 tentang Keuangan Negara adalah tempat penyimpanan uang

negara yang ditentukan oleh Menteri keuangan selaku bendahara umum negara

untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar seluruh

pengeluaran negara. Maka yang dimaksud dengan kas dalam undang-undang ini

adalah semua uang negara yang bersumber dari seluruh penerimaan negara dan

digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran negara.

Menurut standar akuntansi pemerintah yang di maksud dengan kas adalah

uang tunai dan saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat digunakan untuk

membiayai kegiatan pemerintahan. Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang

daerah yang ditentukan oleh Bendaharawan Umum Daerah untuk menampung

seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kas Negara adalah tempat

(5)

Bendaharawan Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan dan

pengeluaran pemerintah pusat.

Sedangkan menurut standar akuntansi keuangan kas terdiri dari saldo kas

dan rekening giro adalah invetasi yang besifat likuid, berjangka pendek dan yang

dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa mengahadapi risiko

perubahan nilai yang signifikan.

Menurut Munawir (1983) bahwa kas merupakan uang tunai yang dapat

digunakan untuk mebiayai operasi perusahaan, termasuk dalam pengertian kas

adalah cek yang diterima dari para pelanggan dan simpanan perusahaan di bank

dalam bentuk giro atau demand deposit yaitu simpanan di bank dapat diambil

kembali.

Pendapat lainnya juga hampir sama dikemukakan oleh Theodarus M

Tuanakotta (AK,1982) memyatakan kas dan bank meliputi uang tunai dan

simpanan-simpanan di bank yang langsung dapat diuangkan pada setiap saat tanpa

mengurangi niali simpanan tersebut. Kas dapat terdiri dari kas kecil atau

dana-dana kas lainnya seperti penerimaan uanh tunai dan cek-cek untuk disetor ke bank

keesokan harinya.

Menurut Mamduh M. Hanafi (2004) beliau menyatakan kas adalah item

aset yang paling likuid. Praktis likuiditas suatu aset diukur dengan kedekatannya

dengan kas. Kemudian aset disusun berdasarkan likuiditas tersebut adalah piutang

kemudian persediaan. Definisi kas itu sendiri sebenarnya tidak begitu jelas. Kas

(6)

Secara umum kas merupakan aset yang paling tidak produktif disbanding

aset yang lainnya. Karena itu ditinjau dari sisi produktivitas, memegang aset

seminimal mungkin merupakan pikihan yang baik untuk perusahaan. Ada

beberapa motif kenapa perusahaan memegang kas.

1. Motif transaksi.

Kas diperlukan untuk memenuhi kebutuhan transaksi. Transaksi

perusahaan berasalh dai penjualan yang berarti perusahaan

menerima kas. Sementara itu, perusahaan harus membayar gaji

pegawai, membeli bahan mentah, membayar utang dagang. Jika

kas keluar lebih besar dibandingkan dengan kas masuk, perusahaan

bisa mengahadapi masalah likuiditas. Untuk mengatasi hal tersebut

perusahaan harus memegang kas.

2. Motif berjaga jaga

Alasan lain memegang kas adalah untuk berjaga-jaga menghadapi

ketidakpastian di masa datang. Contohnya jika perusahaan tiba-tiba

harus mengeluarkan kas yang cukup besar, perusahaan harus

mempunyai kas. Jika perusahaan tidak bisa membayar kebutuhan. 3. Kebutuhan di masa mendatang

Kebutuhan kas bisa meningkta pada saat ada kejadian-kejadian

tertentu di masa mendatan. Sebgai contoh jika perusahaan

berencana meluncurkan produk baru peluncuran tersebut akan

memakan kas cukup subtansial. Perusahaan dengan demikian akan

menimbun kas untuk persiapan produk baru tersebut.

(7)

Bank seringkali mensyaratkan saldo minimal yang harus tetap

berada di rekening perusahaan di bank. Sebgai contoh,jika

perusahaan harus memegang sejumlah saldo minimal tertentu.

Karena itu saldo kas tidak mungkin ditekan hingga nol. Perssyartan

saldo kas minimal tertentu tersebut tentu mempengaruhi terhadap

saldo kas perusahaan.

Manajemen kas berusaha memaksimumkan pemnafaatan kas tanpa

mengabaikan saldo kas. Dengan kata lain , jumlah kas yang ada dalam perusahaan

harus maksimum, tetapi juga memaksimumkan bunga yang bisa diperoleh dari

penginvestasian kas tersebut dalam surat-surat berharga, dan juga seperti pada

deposito jangka pendek.

Ada tiga hal yang dilakukan oleh seorang manajer keuangan dalam

mengelola kas:

1. Mempercepat pemasukan kas, bertujuan menaikkan ketersedian

kas ( daripada kas dipegang oelh perusahaan lain, lebih baik

dipegang dan dikelola oleh manajer keuangan)

2. Memperlambat pengeluaran kas mempunyai tujuan yang sama

dengan mempercepat pemasukan , yaitu agar perusahaan

mempunyai kesempatan yang ebih lama untuk menggunkan kas.

Ada pembahsan yang harus diperhatikan yaitu rputasi (credit

standing) perushaan tidak turun dikarenakan upaya memperlambat

aliran kas keluar. Aternatif yang oaling mudah untuk menunda

pembayaran kas adalah menolak untuk membayar. Tetapi tentu saja

(8)

perusahaan. Cara yang alin adalah dengan memanfaatkan float dan

cek di bayar pada hari tertentu.

3. Memelihara saldo kas yang optimal. Setelah ketersedian kas

meningkat langkah berikutnya dalah menentukan saldo kas

optimal. Memegang kas mempunyai trade off tingkat keuntungan

dan risiko. Semakin besar saldo kas semakin likuid perusahaan,

dan semakin aman dari risiko kekurangan kas. Kekurangan kas

bisa menyebabkan operasi perusahaan terganggu. Sebaliknya kas

yang besar menyebabkan kurangnya produktivitas aset perusahaan.

Denga trade off semacam itu, ,perusahaan diharapkan memegang

saldo yang optimal, yaitu saldo kas yang bisa menjaga likuiditas

perusahaan tetapi juga bisa menjaga produktivita perusahaan. Salah

atu caranya adalah dengan sinkronisasi pengeluaran dan

pemasukan kas melalui anggaran kas yaitu optimalisasi saldo kas

bisa dilakukan dengan anggaran kas. Dalam anggaran kas, manajer

keuangan akan meperkirakan kas masuk dan keluar di masa

mendatang. Kemudian saldo kas akan diperoleh dengan

mengurangkan kas keluar terhadap kas masuk. Jika saldo kas yang

diperoleh lebih besar daripada target saldo kas, maka perusahaan

sudah harus bersiap-siap mencari alternative investasi kelebihan

kas tersebut. Sebaliknya jika saldo kas diperoleh ternyata lebih

kecil dari target saldo kas maka perusahaan harus bersiap-siap

mencari alternative untuk memperoleh kas tambahan, misalnya

(9)

bisa dipakai untuk merencanakan aliran ka dimasa datang,

mensinkronkan aliran kas masuk dengan kas keluar , dan pada

ahirnya memelihara kas optimal yang meminimalkan saldo kas dan

menekan risiko likuiditas.

Dengan dua langkah pertama maka diharapkan ketersediaan kas akan

meningkat. Semakin ketersediaan kas di perusahaan semakin besar maka semakin

baik bagi perusahaan. Berikut adalah gambar dari manajemen kas Gambar 1

Sumber : manajemen keuangan DR. Mamduh M Hanafi 2004

Manajemen kas adalah pengelolaan atas sumber daya kas suatu organisasi.

Manajemen kas memberikan kepada manajemen alat untuk berfungsinya suatu

organisasi dengan menggunakan kas atau sumber daya likuid yang dimilikinya

dengan cara yang tepat. Mike Williams (2004) mendefinisikan manajemen kas

pemerintah sebagai strategi dan proses-prosesnya untuk mengelola secara efektif

dan efisien arus kas jangka pendek dan saldo-saldo kas yang ada dalam

pemerintahan maupun antara pemerintah dengan sektor-sektor lain.

Berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara di Indonesia tujuan-tujuan

manajemen kas dapat di kelompokkan dalam tiga bagian berikut:

1. Manajemen Likuiditas. Manajemen likuiditas penting untuk memastikan negara memiliki kas yang cukup untuk menyelesaikan

Mempercepat Pengeluaran Memperlambat Pengeluaran Kas

Mengoptimalkan Cash Availability Meningkatkan Cash Availability

(10)

semua kewajiban yang jatuh tempo. Untuk itu pemerintah perlu

mengetahui berapa besar penerimaan dan pengeluaran yang akan

dilakukan. Cara yang dapat dilakukan yakni dengan monitoring

penerimaan dan pengeluaran kas negara dan antisipasi atas

kemungkinan kekurangan atau kelebihan kas.

2. Minimalisasi kas yang menganggur (idle cash). Pemanfaatan kas secara memaksimalkan untuk memperoleh keutungan dan

mengurangi cost financing.

3. Mengurangi biaya transaksi keuangan pemerintah. Banyaknya rekening pemerintah (bank accounts) yang tersebar di berbagai

bank menimbulkan biaya tinggi untuk memelihara rekening

tersebut. Selain itu tersebarnya rekening mengakibatkan semakin

banyaknya kas menganggur (idle cash). Untuk itu perlu dilakukan

pengurangan jumlah rekening pemerintah dengan menerapkan

sistem rekening tunggal (single account system).

Manajemen Kas di Daerah

Sebelum mengetahui manajemen kas di daerah, kita harus mengetahui

terlebih dahulu yang dimaksud dengan manajemen keuangan daerah. Manajemen

keuangan daerah adalah pengorganisasian kekayaan yang ada pada suatu daerah

untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai daerah (Abdul Halim:2007). Sedangkan

akuntansi keuangan daerah sering diarrikan sebagai tata buku atau rangkaian

(11)

prinsip, standarisasi, dan prosedur tertentu untuk menghasilkan informasi actual

dibidang keuangan.

Gambar 2

Sumber : Akuntansi Keuangan Daerah Prof.Dr.Abdul Halim

Mardiasmo dalam halim (2012) menjelaskan bahwa secara garis besar,

manajemen keuangan daerah dibagi menjadi dua yakni manajemen penerimaan

daerah dan manajemen pengeluaran daerah. Sehingga evaluasi terhadap

pengelolaan keuangan daerah dan pembiayaan pembangunan memiliki implikasi

yang sangat luas. Kedua komponen tersebut akan sangat menentukan kedudukan

suatu pemerintah daerah dalam rangka melaksanakan otonomi daerah.

Secara umum pengelolaan manajemen kas dilaksanakan berdasarkan

beberapa peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

1. Pasal 5 ayat 2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945 yang menyatakan bahwa presiden menetapkan

Peraturan Pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang

sebagaimana mestinya

Manajemen Keuangan Daerah

Tata Usaha Keuangan Daerah

Tata usaha keuangan Tata Usaha Umum

(12)

2. UU Nomor 17 tahun 2003 Tentang Keuangan Negara dan

Penjelasannya

3. Undang-Undang Nomo 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara dan penjelasannya khususnya pasal 9 ayat 1 dan 2 serta

pasal 21 ayat 1-6

4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan

Pengelolan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

5. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 Tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional

6. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah

7. Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 Tentang Perimbangan

Keuangan Pemerintah Daerah dan Penjelasannya

8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 Tentang Standar

Akuntansi Pemerintah.

9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah dan Penjelasannya Khususnya pasal 3 (j), pasal

110 dan pasal 111

10. Permendagri Nomor 3 tahun 1999 tentang pencabutan peraturan

mentri dalam negeri nomor 1 thun 1979 tentang kedudukan bank

pembangunan daerah yang melaksanakan fungsi kas daerah

11. Permendagri 13 tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan

Keuangan Daerah

12. Peraturan Pemenrintah Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan

Uang Negara/ Daerah dan penjelasannya, khususnya pada pasal 1

ayat 9, pasal 7 pasal 9 dan pasal 33-37

Pengelolaan keuangan di daerah pada dasarnya telah di tetapkan dalam

(13)

Undang-Undang nonor 1 Tahun 2004 tentan Pembendaharaan Negara. Dalam

pasal 9 ayat 2 bahwa satuan kerja pengelola keuangan daerah adalah bendahara

umum daerah. Bendahara umum daerah memiliki wewenang memberikan

petunujuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah

selain itu BUD juga melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola atau

menatausahakan investasi.

Selanjutnya undang-undang juga menjelaskan bahwa BUD dalam rangka

penyelenggaraan rekening pemerintah daerah diharuskan membuaka rekening kas

umum daerah pada bank yang di tentukan oleh gubernur/bupati/walikota.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 di dalam pasal 33

dijelaskan bahwa BUD bertanggung jawab untuk membuat perencanaan kas dan

menetapkan saldo kas minimum. Sehinnga berdasarkan perencanaan arus kas dan

saldo kas minimal BUD menentukan strategi manajemen kas untuk mengatasi

kekurangan maupun untuk menggunakan kelebihan kas. Strategi yang

dilaksanakan harus dapat memastikan bahwa (1) pemerintah daerah selalu

memiliki akses yang cukup untuk memperoleh persediaan kas guna memenuhi

pembayaran kewajiban daerah dan (2) saldo kas diatas kas minimal diarahkan

untuk manfaat yang optimal.

Dalam rangka menetapkan saldo kas minimal yang akan di ambil,

pemerintah daerah dapat menggunakan beberapa pendekatan sebagai berikut: Model Miller-Orr. Merton Miller dan Daniel Orr mengembangkan model saldo kas dalam keadaan arus kas masuk dan arus kas keluar berfluktuasi secara

random setiap hari.2 Dalam model Miller-Orr, baik penerimaan kas maupun

pengeluaran kas diikutsertakan. Model ini mengasumsikan bahwa arus kas bersih

(14)

normal. Pada setiap hari, arus kas bersih dapat berupa nilai yang diharapkan

(expected value) ataupun nilai yang lebih tinggi atau nilai yang lebih rendah.

Dalam analisis ini diasumsikan nilai yang diharapkan besarnya nol.

Gambar berikut menunjukkan bagaimana bekerjanya model Miller-Orr.

Model beroperasi dalam bentuk batas kendali atas (H) dan batas kendali bawah

(L), dan saldo kas yang ditargetkan (Z). Organisasi membiarkan saldo kasnya

bergerak secara acak ke atas atau ke bawah dalam jangkauan batas atas dan batas

bawah ini. Sepanjang saldo kasnya berada antara H dan L, organisasi tidak

melakukan transaksi (menjual surat berharga menjadi kas atau membeli surat

berharga untuk mengurangi saldo kas). Ketika saldo kas mencapai H (batas atas),

misalnya pada waktu di titik X, maka perusahaan akan membeli H – Z unit (dalam

rupiah) surat berharga untuk mengurangi saldo kasnya menjadi saldo kas yang

ditargetkan. Dengan cara yang sama, ketika saldo kas turun mencapai L (batas

bawah), seperti pada waktu di titik Y, organisasi menjual Z – L unit sekuritas dan

menambah saldo kasnya menjadi saldo kas yang ditargetkan. Pada kedua situasi,

saldo kas kembali ke titik Z. Manajemen menetapkan batas bawah, L, bergantung

pada seberapa besar risiko kekurangan kas yang akan ditoleransi oleh mereka. Seperti model Baumol, model Miller-Orr bergantung pada trading costs

dan opportunity costs. Biaya per transaksi menjual atau membeli sekuritas, F,

diasumsikan berjumlah tetap. Persentase opportunity cost memegang kas, K,

adalah tingkat bunga (pengembalian) harian dari sekuritas atau surat berharga

yang disimpan. Akan tetapi, tidak seperti model Baumol, jumlah transaksi per

periode adalah variabel acak yang bervariasi dari satu periode ke periode lainnya,

(15)

Sebagai konsekuensinya, trading costs untuk setiap periode bergantung

pada jumlah transaksi yang diharapkan dalam sekuritas atau surat berharga selama

periode tersebut. Demikian juga, opportunity cost dari memegang kas adalah

fungsi dari saldo kas yang diharapkan setiap periode.

Gambar 3

Dengan L ditetapkan oleh manajemen, model Miller-Orr menentukan saldo

kas yang ditargetkan, Z, dan batas atas, H. Total biaya yang diharapkan dari

kebijakan pengembalian saldo kas (cash-balance-return policy), Z-H, sama

dengan jumlah biaya transaksi yang diharapkan dan opportunity costs yang

diharapkan. Nilai dari Z (titik kembali kas) dan H (batas atas) yang miminalkan

total biaya yang diharapkan ditentukan oleh Miller-Orr dengan persamaan berikut:

(16)

cost dan trading costs. Modelnya digunakan untuk menentukan target saldo.

Model baumol mengasumsikan bahwa pemakaian kas selalu konstan setiap waktu.

Misalnya Pemda Jakarta Tenggara memulai kegiatannya dengan saldo kas

sebesar C = Rp. 12.000.000.000, dan pengeluarannya akan melebihi

penerimaannya sebesar Rp. 6.000.000.000 setiap minggunya. Saldo kasnya akan

menjadi nol pada akhir minggu kedua, dan saldo kas rata-ratanya akan sebesar C/2

= Rp. 12.000.000.000/2 = Rp. 6.000.000.000 selama periode dua minggu tersebut.

Pada akhir minggu kedua, Pemda Jakarta Tenggara harus mengisi saldo kasnya

dengan menjual SBI yang dimilikinya atau meminjam. Gambar berikut

menggambarkan situasi dari ini.

Gambar 4

Model perhitugan saldo kas minimum dan saldo kas maksimum di atad

dapat membantu pemeirntah daerah dalam mengelola kekurangan maupun

kelebihan kasnya.

Selanjutny Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 dalam pasal 34

(17)

dapat melakukan pinjaman baik dalam maupun luar negeri atau menjual atau

menerbutkan SUN dan atau menjual surat berhatga lainnya. Dalam hal melakukan

melakukan pinjaman Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 2011tentang

Pinjaman Daerah Menjelaskna bahwa dalam melakukan pinjaman daerah

pemerintah daerah wajib memenuhi persayaratan (1) jumlah sisa pinjaman daerah

ditambah jumlah pinjaman yang akan di tarik tidak melebihi 75% dari jumlah

penerimaan umum APBD tahun sebelumnya ,(2) memenuhi ketentuan rasio

kemapuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman yang ditetapkan oleh

pemerintah. Dalam penetapan rasio kemampuan keuangan daerah untuk

mengembalikan pinjama paling sedikit 2,5 dengan memperhatikan perkembangan

perekonimian nasional dan kapasitas fiskal daerah.

Dalam hal kelebihan kas BUD dapat menempatkan uang daerah pada

rekening di bank sentral atau bank umum yang menghasilkan bunga atau jasa giro

dengan tingkat bunga yang berlaku. Penempatan uang daerah pada bank umum

dilakukan dengan memastikan BUD dapat menarik uang tersebut sebagian atau

seluruhnya ke rekening kas umum daerah. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai

invsetasi daerah. Pemerintah daerah dapat melakukan investasi di deposito dan

sekuritas dana lainnya.

Terkait dengan prosedur akuntansi kas yang ada di daerah terdapat dua hal

penting dalam akuntansi kas yakni penerimaan kas dan pengeluaran kas.

Prosedur akuntansu penerimaan kas, meliputi serangkaian proses,baik

manual maupun terkomputerisasi mulai dari pencatatan, penggolongan dan

peringkasan transaksi dan/atau kejadian keuangan hingga pelaporan keuangan

dalam rangka pertanggung jawaban pelaksanaan APBD yang berkaitan dengan

(18)

bagian yang berfungsi akuntansi pada SKPD dan SKPKD. Dokumen-dokumen

yang dikumpulkan yakni dokumen-dokume yang berkaitan dengan penerimaan

pendapatan daerah seperti Surat Tanda Bukti Penerimaan, Surat Tanda Setoran

dan lainnya. Yang setelahnya akan dijurnal lalu di catat dalam buku besar yang

akan menghasilkan laporan realisasi anggaran, neraca dan CALK.

Prosedur akuntansi pengeluaran kas. Meliputi serangkaian proses baik

manual maupun terkomputerisasi mulai dari pencatatan, penggolongan dan

peringkasan transaksi dan/atau kejadian keuangan hingga pelaporan keuangan

dalam rangka pertanggungjwaban pelaksanaan APBD yang berkaitan dengan

(19)
(20)

Sumber : www.jakarta.go.id Kesimpulan

Manajemen kas di pemerintah daerah sangat memiliki potensi yang baik

bagi penerimaan Pendapatan Asli Daerah apabila di kelola dengan baik.

Manajemen kas tidak hanya di fokuskan bagaimana penerimaan dan pengeluaran

kas tetapi juga bagaimana membuat kebijakan mengenai kas yang kurang serta

kas yang menganggur. Dalam hal kas yang menganggur pemerintah daerah dapat

melakukan investasi. Seperti yang terlihat dalam neraca pemerintah DKI Jakarta

dimana pemerintah mendapatkan jasa atas giro dan pemeintah juga melakukan

investasi untuk penerimaan di masa mendatang. Pemerintah DKI Jakarta juga

melakukan pinjaman yang tercermin dari pembayaran pokok pinjaman yang

dilakukan

Daftar Pustaka

Halim,Abdul. 2007. Akuntansi Keuangan Sektor Publik Akuntansi Keuangan

Daerah. Salemba Empat.Jakarta.

Hanafi,Mamduh.2004. Manjemen Keuangan,BPFE Yogyakarta ,Desember.

Megantar, Andie,dkk,Manajemen Perbendaharaan Pemerintahan Aplikasi Di

Indonesia,BPPK.

Murwanti,Rahmadi,dkk. 2006. Manajemen Kas. Badan pendidikan dan pelatihan

Keuangan Departemen Keuangan RI. www.Scribd.com

(21)

www.jakarta.go.id

Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2007 Pengelolaan Uang Negara/ Daerah Permendagrai 13 Tahun 2006 Pengelolaan Keuangan Daerah

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomo 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 Pengelolaan Keuangan Daerah

Daftar Isi

Gambaran Umum 1

Manajemen kas 4

Manajemen kas di Daerah 10

Kesimpulan 19

(22)

Paper Manjemen Kas Daerah

DIAMPU OLEH : Prof.Dr.Abdul Halim

Disusun Oleh:

Lintang Nur Agia

(12/341195/PEK/17300)

MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

(23)

Referensi

Dokumen terkait

harga per unit dari hasil produksi yang dijualnya dari tanggal 1 s/d 15 bulan pencacahanI. PENGENALAN TEMPAT DAN

Setelah diadakan penelitian dan evaluasi penawaran oleh Pokja Pekerjaan Konstruksi ULP Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung Tahun Anggaran 2015

prosedur dan aturan yang ada di Politeknik Negeri Malang. Usaha peningkatan efektivitas sumber daya manusia merupakan alternatif yang tepat untuk mempertahankan kemampuan

4) Cara penyampaian dokumen penawaran : metode 1 (satu) sampul.. 5) Metode evaluasi :

Sebagai kelanjutan dari proses pengumuman ini, akan diterbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/ Jasa dan Surat Perintah Kerja (SPK).. Demikian pengumuman pemenang (penyedia)

[r]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: 1) perkembangan perkamusan Arab - Indonesia dan Indonesia - Arab di Indonesia, 2) sistematika perkamusan

Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan tersebut dibutuhkan sebuah sistem yang dapat mempermudah untuk mencari data dan melaporkan data penyusutan aset tetap