PERANCANGAN DAN SIMULASI RUANG STUDIO REKAMAN DALAM BANGUNAN SEMI BAWAH TANAH
( Muhammad Ali Husein, Ir. Tutug Dhanardono, M.T.) Departement of Engineering Physics FTI ITS Surabaya
Kampus ITS Keputih Sukolilo Surabaya 60111 Phone: +6231-5947188 Fax: +6231-5923626
e-mail : [email protected]
Abstrak
Home Recording adalah rekaman kegiatan di rumah, untuk melakukan rekaman kita membutuhkan studio yang dirancang dengan kualitas akustik yang baik agar suara yang dihasilkan menjadi bagus. Seringkali dijumpai oleh para editor audio pemula bahwa ketika melakukan mixing lagu terekam pula suara yang berasal dari luar studio misalnya suara motor yang mudah begitu saja masuk ketika kita sedang fokus melakukan mixing, akibatnya proses mixing harus dilakukan dari awal lagi.
Hasil penelitian yang dijelaskan lebih detail di bagian kesimpulan menjadi acuan untuk membangun dinding bangunan dengan nilai TL (lihat bagian kesimpulan) sehingga dapat mengurangi kebisingan yang masuk ke dalam ruang rekaman. Sedangkan ruang studio rekaman dibangun dengan panjang 7,52 m, lebar 6,24 m, dan tinggi 4,88 m. Untuk mendapatkan nilai RT60 0,5 s – 0,7 s (standar large recording studio, Everest) maka permukaan dinding studio rekaman diselimuti dengan bahan akustik Plywood dengan luas 117,70 m2(tersebar merata seluruh permukaan dinding). Untuk permukaan lantai bahan akustik yang diberikan adalah linoleum dengan luas 53,20 m2(tersebar merata). Sedangkan langit-langit diberikan bahan akustik Softboard unpainted dengan luas 43,09 m2 dan panel Mineral Wool dengan luas 10,11 m2
Keywords: RT6; Transmission Loss; Acoustic material; ARTA; Sabin (tersebar merata).
1. PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang
Dalam ilmu perancangan bangunan tidak hanya memerlukan ilmu estetika dan desain dalam perwujudan bentuk fisik, tetapi juga memerlukan penerapan ilmu akustik dan fisika bangunan guna kenyamanan pemakaian ruang. Jadi, setiap bangunan yang akan dibangun harus memperhatikan dua parameter penting, yaitu: Parameter Arsitektur dan Parameter Akustik Ruang. Pada ruang yang diharapkan dapat memiliki kualitas akustik yang baik memerlukan perancangan akustik ruang yang harus disesuaikan dengan fungsi serta kegunaan dari ruang tersebut.
Parameter arsitektur, secara sederhana terdiri atas dimensi dan material yang akan digunakan untuk perancangan bentuk fisik bangunan. Sedangkan dari segi parameter akustik ruang dapat dilakukan analisa dan perancangan nilai-nilai parameter objektif (RT, Clarity, Early Decay Time, Definition, Centre Time, Noise Criteria, dll) dari akustik ruang dalam satu bangunan. Perancangan akustik ruang ditujukan untuk dapat mencapai kejelasan rekaman yang baik.
Lokasi Studio yang berada di pinggir jalan raya sangatlah memungkinkan untuk terpengaruh dengan kebisingan yang berasal dari lalu lintas kendaraan. Oleh karena itu, sangatlah penting sekali mengetahui tingkat kebisingan yang diakibatkan lalu lintas jalan raya ini.
1.2 Permasalahan
Permasalahan dalam penelitian tugas akhir ini adalah: a. Bagaimana memodelkan sistem disain b. Bagaimana mengenali pengaruh noise
yang dihasilkan lalu lintas kendaraan di
jalan raya terhadap ruang rekaman yang akan dibangun.
c. Bagaimana menentukan TL dinding untuk mencegah noise yang dihasilkan lalu lintas jalan raya.
d. Bagaimana mendesain Ruangan agar memiliki RT60 yang sesuai dengan kriteria ruang rekaman.
1. 3 Batasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan yang ada pada penelitian ini, penulis membuat batasan masalah sebagai berikut:
1. Studio Rekaman beroperasi pada jam 6 sore sampai jam 10 malam
2. Perhitungan Parameter Akustik dilakukan untuk frekuensi 125 Hz, 250 Hz, 500 Hz, 1000 Hz, 2000 Hz, 4000 Hz
3. Penentuan nilai NC noise menggunakan software ARTA
4. Penggunaan Mathcad untuk mencari TL dinding
1. 4 Tujuan
1. 5 Metodologi Penelitian
Metodologi yang dikerjakan penulis dalam melaksanakan penelitian tugas akhir ini tersusun sebagai berikut:
• Studi Literatur. Dalam hal ini melakukan studi tentang pengendalian bising lalu lintas, dan bagaimana melakukan perancangan ruangan sehingga memiliki RT60 sesuai yang disarankan untuk studio rekaman.
• Merancang sistem desain ruang rekaman dan melakukan simulasi hasil perancangan sistem identifikasi.
• Melakukan pengambilan data perekaman sinyal suara dengan SLM dan Software ARTA. • Merangkum dan menyusun seluruh hasil yang
diperoleh dalam sebuah laporan dan dalam bentuk buku.
1. 6 Sistematika Laporan
Sistematika laporan Tugas Akhir ini disusun untuk memudahkan dalam memahami. Susunan laporan Tugas Akhir ini secara umum adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan latar belakang penelitian ini dilakukan. Dengan beberapa permasalahan yang timbul dan pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Serta mengutarakan tujuan yang ingin dicapai dalam menyelesaikan penelitian dalam Tugas Akhir ini. BAB II TEORI PENUNJANG
Pada bab ini dipaparkan mengenai teori penunjang yang digunakan dan menunjang pengerjaan yang dilakukan dalam penelitian ini. Beberapa diantaranya diberikannya pemahaman dasar tentang noise, alat yang digunakan untuk merekam sinyal suara (Software ARTA ). Serta tentang beberapa metode yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dan mencapai tujuan yang diutarakan pada bab I.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi tentang langkah yang dilakukan untuk mengerjakan penelitian ini. Juga berisi tentang metode langkah yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang akan timbul dan untuk mencapai tujuan dari pengerjaan Tugas Akhir ini.
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA
Bab ini memaparkan tentang sistem identifikasi yang telah dirancang dan implementasinya dalam Tugas Akhir ini. Serta berisi tentang rangkuman hasil yang telah diperoleh melalui sistem identifikasi yang telah dirancang dengan digunakannya beberapa metode yang telah diutarakan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dituliskan pada bab ini beberapa kesimpulan yang dapat diambil yang berkaitan dengan rangkuman hasil yang didapat melalui sistem identifikasi yang
telah dirancang. Kesimpulan diambil berdasar atas dilakukannya pengujian dan analisa. Serta saran yang dapat dijadikan kajian pada Tugas Akhir yang akan datang dengan topik yang sama ataupun jika dijadikan acuan oleh beberapa praktisi.
1. 7 Relevansi
Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat bermanfaat bagi perkembangan penerapan ilmu akustik, serta dapat mempermudah penyampaian ilmu akustik bangunan. Mempermudah dalam hal ini dengan bantuan suatu alat bantu (software) yang diintegrasikan dengan sebuah metode sebagai pengolah data.
2. TEORI PENUNJANG 2.1 Bunyi
Bunyi bisa didefinisikan sebagai gelombang yang bergerak di udara atau media elastis (stimulus) atau sesuatu yang merangsang mekanisme
pendengaran kemudian menghasilkan persepsi suara. Ada berbagai macam suara yang dapat kita dengar di sekitar kita seperti musik, suara percakapan, noise, dan lain-lain.
Panjang Gelombang dan Frekuensi
Panjang gelombang merupakan jarak antara 2 puncak gelombang yang terdekat, sedangkan frekuensi adalah jumlah siklus gelombang per detik. Frekuensi dan panjang gelombang saling berhubungan yang dirumuskan sebagi berikut:
� =� �
Level dan Desibel
Dalam perkembangannya, ditemukan bahwa respon telinga manusia terhadap suara lebih bergantung kepada rasio intensitas dua suara yang berbeda dari pada perbedaan dalam intensitas. Dengan alasan ini, skala logaritma atau bisa disebut skala level ditetapkan.
Reverberation Time
Mematikan sumber suara ketika kondisi stasioner tercapai, yaitu dengan mengatur ��2 (�) =��∞2 pada waktu t = 0, dan W = 0 untuk t > 0, didapatkan rumus sebagai berikut
��2(�) =��
∞
2 ∙ �−��4� ∙�0
Reverberation time T ditentukan oleh waktu yang telah berlalu untuk tingkat tekanan suara untuk menurun sebesar 60 dB, atau setara, bahwa kepadatan energi suara yang mengalami penurunan oleh faktor 10-6, ditulis sebagai
��2(�) ��∞2
yang mana memberi nilai T60, biasanya dilambangkan
Ini adalah rumus T60 terkenal Sabine yang paling sering digunakan dalam praktek meskipun kesederhanaan dan asumsi tergeletak di belakang derivatnya. Jelas tidak dapat diterapkan untuk kamar memiliki luas areal penyerapan sangat tinggi. Dengan menetapkan faktor penyerapan sebesar 1,0 untuk semua permukaan, kita masih mendapatkan T60 yang terbatas padahal jelas bahwa kita tidak akan mendapatkan gaung sama sekali. Formula lainnya telah dikembangkan dengan memperhitungkan fakta bahwa gema bukanlah sebuah proses yang berkesinambungan tetapi melibatkan pengurangan bertahap dari energi gelombang ketika menabrak permukaan batas. Yang pertama adalah rumus dilambangkan Eyring (lihat Eyring (1930)), yang dapat dinyatakan sebagai
��� =
55.26 �0 ∙
� −� ∙ln( 1− � )
dimana � seperti sebelumnya adalah faktor penyerapan rata-rata batas-batas ruang, yaitu
�=1
���� ���
Rumusnya adalah jelas benar untuk kasus benar-benar menyerap permukaan seperti yang kita kemudian mendapatkan TEY sama dengan nol. Untuk kasus α
<<1, formula akan sama dengan Rumus Sabine.
2.2 Volume Studio
Studio yang memiliki volume kecil rawan sekali dengan resonansi ruangan sebaliknya studio yang besar menghasilkan respon yang lebih halus.
Tabel Dimensi Studio
Tabel 2.1 Tabel dimensi Studio
Tabel Resonansi Studio dalam Hz Studio
Korespon frek ke ruang diagonal
31,6 21,0 15,8
Asumsi reverb, waktu studio, detik
0,3 0,5 0,7
Mode bandwidth (2.2/RT60) 7,3 4,4 3,1
Tabel 2.2 Tabel Resonansi Studio dalam Hz
2.3 L – time-weighted sound pressure level
Didefinisikan sebagai interval waktu pendek dengan integral ekxponensial rumus di bawah ini:
�� = 20⋅log�
�1� ∫ �� 2(�)�−(�−�)/���
−∞
�0
dimana τ merupakan time constant fungsi eksponensial.
Penulis menggunakan software ARTA yang menerapkan rumus di atas untuk mengambil data kebisingan jalan raya, yang mana data kebisingan jalan raya ini sebagai acuan penulis untuk menentukan TL barrier agar bisa mengurangi noise dari kendaraan di jalan raya yang sudah pasti mengganggu studio rekaman. Data yang direkam software ARTA selanjutnya diekspor dalam format .csv agar bisa dianalisa lebih lanjut menggunakan Micerosoft Excel dan MathCad.
2.4 Noise
Menurut Mc-Graw Hill Dictionary of Scientific and Technical Terms (Parker, 1994), noise adalah sound which is unwanted (bunyi yang tidak dikehendaki). Sesungguhnya, gangguan yang ditimbulkan noise tidak harus berupa bunyi yang keras. Bagi mereka yang sedang sakit gigi dan sangat membutuhkan istirahat, bahkan bunyi tetesan air pun dapat menjadi gangguan.
Noise senantiasa dihubungkan dengan ketidaknyamanan yang diakibatkan olehnya. Belum banyak orang yang menyadari bahwa munculnya noise juga dapat mengakibatkan penurunan kesehatan. Sebagai contoh, orang yang sulit beristirahat karena di sekitar rumahnya selalu ramai dengan bunyi yang tidak dikehendaki, lambat laun dapat menurun tingkat kesehatannya. Selanjutnya, masalah psikologi pun dapat muncul akibat dari istirahat yang kurang mencukupi, seperti cepat lelah dan mudah marah (Nilson, 1991). Noise yang berasal dari bunyi yang keras bahkan dapat secara langsung menurunkan kemampuan organ pendengaran, meskipun hal itu secara bertahap.
Noise bersifat subjektif, sehingga batasan noise bagi orang yang satu bisa saja berbeda dengan batasan noise bagi orang yang lain.
2.2 Noise Criterion
Kurva NC diperkenalkan (Beranek, 1957) untuk mengevaluasi kebisingan dalam ruang interior seperti kantor, ruang konferensi, dan Rumah. Nilai rating NC ditentukan dari kurva NC terendah, yang digambar pada spektrum band oktaf.
Tabel 2.3 Nilai NC
3. METODOLOGI PERANCANGAN
Pada bab ini akan dibahas bagaimana proses mengerjakan tugas akhir ini. Beberapa software akustik terlibat dalam simulasi desain home recording ini. Untuk mengolah data kebisingan yang terukur dari jalan raya digunakan software ARTA, simulasi akustik ruang rekaman yang digunakan menentukan absorber yang cocok untuk mendapatkan nilai RT yang diperlukan untuk ruang dengan software Sabine 3.
Gambar 3.1 Flowchart Pengerjaan Tugas Akhir
3.1 Memodelkan Layout Sistem
Layout studio rekaman yang kerjakan:
Gambar 3.1 Layout 2D Studio Rekaman
Pintu dengan jenis double door untuk meminimalkan kebocoran kebisingan dari ruang satu ke ruang lainnya.
Gambar 3.3 Layout 3D Studio Rekaman
Ruang Rekaman, Ruang Kontrol dan Ruang Vokal. Ketiga ruang tersebut dipisahkan dengan dinding, ruang antara, dan pintu double door. Dengan membuat layout 3D maka lebih mudah mengetahui pola penyebaran kebisingan yang mungkin terjadi pada bangunan.
Bangunan studio rekaman yang dirancang berada dekat dengan jalan raya sehingga kebisingan jalan raya ini relatif mengganggu dan harus dikendalikan.
Gambar 3.4 Layout 3D Isometrik
3.2 Pengambilan Data input Kebisingan Jalan Raya
Lokasi studio rekaman yang terletak di pinggir jalan raya dan menghadap ke jalan raya memerlukan perhatian khusus untuk menghidari kebisingan yang berasal dari jalan raya.
Noise Criterion
NC-15 47 36 29 22 17 14 12 11
NC-20 51 40 33 26 22 19 17 16
NC-25 54 44 37 31 27 24 22 21
NC-30 57 48 41 35 31 29 28 27
NC-35 60 52 45 40 36 34 33 32
NC-40 64 56 50 45 41 39 38 37
NC-45 67 60 54 49 46 44 43 42
NC-50 71 64 58 54 51 49 48 47
NC-55 74 67 62 58 56 54 53 52
NC-60 77 71 67 63 61 59 58 57
NC-65 80 75 71 68 66 64 63 62
Sound Pressure Levels (dB)
Octave Band Center Frequency (Hz)
63 125 250 500 1000 2000 4000 8000
Mulai
Memodelkan sistem
Menganalisa Pengaruh Noise Outdoor
Menentukan TL untuk dinding Ruang
Menentukan absorber agar Ruang Rekaman memiliki nilai RT60 yang sesuai standar
Untuk melakukan pengukuran serta melihat hasil Kurva NC, penulis menggunakan software ARTA yang dikalibrasi dulu sebelum digunakan sebagai virtual SPL meter. Rumus Lτ yang digunakan ARTA adalah sebagai beikut:
�� = 20⋅log�
�1� ∫ �� 2(�)�−(�−�)/���
−∞
�0 (��)
Gambar 3.3 Diagram Blok integrasi SPL Meter
Gambar di atas menunjukkan blok diagram dari integrasi SPL meter. Sinyal dari mikrofon akan input input. Indikator overload menunjukkan keadaan penguat input (atau converter A/D dalam sistem digital). Sinyal dari amplifier akan difilter pembobotan frekuensi dengan tiga kurva bobot frekuensi yang berbeda: A, C dan Z, seperti yang diberikan dalam Tabel pembobotan di lampiran dan didefinisikan dalam IEC 61672-1. Huruf Z menunjukkan nol-bobot atau bobot linier. Kurva bobot ini digunakan untuk pengukuran tingkat RMS. Untuk pengukuran tingkat filter Peak hanya digunakan bobot-C. Pada tahap selanjutnya sinyal akan dikuadratkan. Output dari sebuah squarer diterapkan untuk integrator dan detektor puncak. Akhirnya, setelah melewati rangkaian akar kuadrat dan logaritma, tingkat tekanan suara dalam dB akan ditampilkan di beberapa layar.
Pengukuran kebisingan dengan software ini dilakukan dengan mengaktifkan dulu Octave SPL yang dimiliki oleh software ARTA. Cara mengaktifkannya klik Tool – integrating SPL meter maka akan muncul gambar seperti di bawah.
Gambar 3.6. Integrating SPL Meter dari Software ARTA
Berikut adalah contoh gambar grafik nilai kurva NC yang ditampilan secara RealTime oleh software ARTA:
Gambar 3.6 Octave SPL dari Software ARTA
3.3 Transmission Loss Dinding untuk
meminimalkan Bising
Bunyi yang datang pada suatu dinding (partisi) akan ditransmisikan oleh dinding itu dengan energi yang lebih kecil dari pada energi yang datang.
Besaran yang menunjukkan kemampuan suatu dinding (partisi) untuk mengurangi energi bunyi yang melaluinya disebut Transmission Loss (rugi transmisi). Untuk dinding homogen tak berpori, TL rata-rata untuk frekuensi 50-5000Hz dirumuskan sebagai berikut (Prasasto Satwiko):
������ −���� = 10log��10
���������
10
� � ��
Sedangkan untuk menghitung TL pada frekuensi tertentu:
��� = 20log�+ 20log� −47 ��
Dengan : M = massa dinding kg/m f = frekuensi Hz
2
3.4 Estimasi RT60 Ruang Rekaman dan solusi absorber untuk mencapai RT60 yang diinginkan
4. PENGUJIAN DAN ANALISA PERANCANGAN 4.1. Input data kebisingan
Kebisingan Ruang 1 Sore hari
Tabel 4.1 Data Noise Ruang 1 Sore
Kebisingan Ruang 1 Malam hari
Tabel 4.2 Data Noise Ruang 1 Malam
Kebisingan depan Rumah malam
Tabel 4.3 Data Noise Depan Rumah malam
Kebisingan Ruang 2 Malam Hari
Tabel 4.4 Data Noise Ruang 2 malam
4.2 Perencanaan TL bangunan studio rekaman sehingga pada Ruangan memiliki NC-20
Fig 4.1 Ilustrasi Ruang Rekaman
Noise ruang 1 dan Noise ruang 2 diukur pada malam hari
TL untuk masing masing frekuensi
Dimana Sw adalah luas dinding yang diukur dalam hal ini ceiling.
Sehingga Massa Jenis dalam kg/m2 (per cm tebal)
Bahan yang sesuai dengan langit-langit dan memiliki massa jenis besar adalah concrete dengan M = 23 kg/m2 (per cm tebal). Maka dapat dicari berapa tebal minimal untuk mempertahankan NC-20 pada ruang rekam
Tebal minimal concrete antara ruang 1 dan ruang 2 adalah 12,537 cm
4.4 Estimasi RT60 Ruang Rekaman berdasarkan Rumus Eyring
Reverberation time adalah faktor akustik yang penting untuk diperhatikan sebab studio harus mampu menangkap suara musik, vokal sesuai dengan kualitas suara sesungguhnya. Namun bukan berarti musik dan vokal tidak boleh memiliki efek ”reverb”.
Untuk mengestimasi ruang rekaman diasumsikan bahwa tekanan atmosfer udara adalah
1013 hPa, kelembaban udara 60%, dan temperatur
ruang 20 °C. Sedangkan Tinggi ruang 16ft (4,887m),
lebar ruang 20,48ft (6,242m), panjang ruang 24,64ft
(7,51m) sehingga volume ruang rekaman adalah 8.074ft3 (228,63m3
RT untuk studio rekaman adalah 0,5 – 0,7 detik.
). Penulis menentukan besar
panjang, lebar dan tinggi ruang berdasarkan perbandingan 1,54 (p): 1,28 (l): 1,0 (t) nilai perbandingan ini disarankan oleh Sepmeyer.
RT ruang rekaman yang akan dibangun dicari dengan menggunakan Sabin 3 dengan memilih pendekatan metode Eyring. Ruangan rekaman ini memiliki 2 dinding yang sejajar berhadapan masing-masing seluas 36,70m2 dan 30.50m2, lantai dengan luas 46,90m2, dan langit-langit seluas lantai sebesar
46,90m2.
Dari Sabin 3, didapatkan laporan sebagai berikut:
Ruang Rekaman
Umum
Floor covering: linoleum 44.90 m² Audience, wooden chairs 2 persons/m2 2.00 m²
Ceiling 46.90 m²
beton 37.05 m²
Plasterboard on frame t = 9.5 c = 60 a = 40 9.85 m²
Wall 134.40 m²
Tembok Plester di cat 78.92 m² Door (solid wood) 4.00 m²
Audience, wooden chairs 2
persons/m2 2
Tabel 4.4 Material Bahan Akustik Ruang Rekaman
Koefisien Absorbsi
Tabel 4.5 Koefisien absorbsi
Absorbsi
Reverberation Time
Tabel 4.7 Estimasi Reverberation Time
Gambar 4.11 Grafik RT60 Desired dan Eyring
Nilai Reverberation Time yang didapatkan dari hasil akhir estimasi menggunakan software Sabin 3.0 adalah 0.7 untuk frekuensi 125Hz; 0.5 untuk 250Hz; 0,45 untuk 500Hz; 0,49 untuk 1000Hz; 0,51 untuk 2000Hz; dan 0,47 untuk 4000Hz. Hitungan tersebut mengacu pada perumusan Eyring, penulis memakai Eyring karena perumusan ini merupakan penyempurnaan dari perumusan Sabin.
5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Beberapa hal dapat disimpulkan berdasarkan hasil yang diperoleh melalui Pengujian dan Analisa Perancangan yang telah dilakukan dalam penelitian ini. Untuk menjawab permasalahan dan tujuan yang telah dipaparkan pada Bab I kesimpulan yang didapat diantaranya adalah:
1. Kebisingan jalan raya yang paling mengganggu studio rekaman dalam penelitian penulis adalah kebisingan yang dihasilkan dari sepeda motor dimana kebisingan tersebut mencapai nilai puncak pada frekuensi 500 Hz sebesar 93 dB.
2. Untuk mencapai NC-20 pada ruang rekaman maka dinding/langit-langit antara ruang 1 dan ruang 2 minimal memiliki ketebalan 12,537 cm dengan bahan beton.
3. Estimasi RT60 untuk masing-masing frekuensi sebesar:
adalah 0.7 untuk frekuensi 125Hz; 0.5 untuk 250Hz; 0,45 untuk 500Hz; 0,49 untuk
1000Hz; 0,51 untuk 2000Hz; dan 0,47 untuk 4000Hz.
5.2. Saran
Dari penelitian ini, terdapat beberapa hal yang belum terselesaikan dan dilakukan. Hal ini berkaitan dengan tindak lanjut yang akan dilakukan pada penelitian berikutnya. Yang mana hal tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut. Hal tersebut diantaranya adalah:
1. Penelitian yang penulis lakukan lebih fokus membahas parameter akustik dan masih perlu penelitian lebih mendetail lagi dalam bentuk fisik bangunan yang akan dirancang.
2. Dalam menentukan RT60 ruang rekaman, penulis masih menggunakan absorber dan belum membahas bagaimana efek difusor terhadap perubahan RT60 mengingat difusor ini biasa dipakai untuk mentreatmen bagian studio yang digunakan untuk merekam gitar, sedangkan absorber sangat cocok untuk mentreatmen bagian studio untuk merekam Drum.
3. Tugas Akhir ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan detail untuk mentreatmen antara ruang Live Room/Dead Room, antara Ruang Rekam dengan Ruang Kontrol.
6. DAFTAR PUSTAKA
1. Satwiko, Prastowo. ”FISIKA BANGUNAN”. 2009: ANDI Yogyakarta
2. Cox, Trevor and D’Antonio, Peter. ”Acoustic Absorbers and Diffusers Theory, design and application”. 2004: Spon Press 29 West 35th Street, New York, NY 10001
3. Barron, Randall F. ”Industrial Noise Control and Acoustics”. 2003: Marcel Dekker.Inc 270 Madison Avenue, New York, NY 10016 4. Gervais, Rod. ”Home Recording Studio Built
it Like Pros”. 2006: Thomson Course Technology PTR, a division of Thomson Learning Inc. 25 Thomson Place Boston, MA 02210
5. Newell, Philip. ”Recording Studio Design”. Second Edition. 2008: Elsevier Ltd. 30 Corporate Drive, Suite 400, Burlington, MA 01803, USA
6. Thomas D. Rossing (Ed.). ”Handbook of Acoustics”. 2007: Springer Science+Business Media, LLC New York
7. Everest, F. Alton. ”The Master Handbook of Acoustics”. Fourth Edition. 2001: McGraw-Hill
9. Moylan, William. “The Art of Recording Understanding and Crafting the Mix”. 2002: Focal Press
BIODATA
Nama : Muhammad Ali Husein TTL : Malang, 20 April 1985 Alamat : Jl. Raya Kepuharjo 10
Karangploso – Malang
Pendidikan
1. MI Darussalam
2. MTs. Al-Maarif Singosari 3. SMUN 4 Malang
4. Teknik Fisika
Hobby : Multimedia Audio Visual Video Tutorial
HP : 0856 455 21024
E-mail : [email protected] [email protected] FB : Ular Berbisa (Muhammad
Ali Husein) Keahlian