• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembangkan Indonesia Dari Segregasi k

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mengembangkan Indonesia Dari Segregasi k"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Mengembangkan Indonesia:

Dari Segregasi ke Integrasi

Dari Kekerasan ke Komitmen Konstruktif

i

Oleh: Bagus Takwin

Latar Belakang Masalah: Rusaknya Integrasi Sosial

Sebagai salah satu dari anggota kelompok negara yang secara ‘tak hormat’ disebut ‘negara berkembang’ atau ‘negara dunia ketiga’, Indonesia mengalami keadaan yang digambarkan oleh Ac. Krtashivananda Avt, “...besides suffering economic crisis, cary the psychological burdens of passive psychology, inferiority complex, religious dogma and other group sentiments” sehingga integrasi sosialnya rusak. Persoalan integrasi sosial menjadi penting dalam konteks Indonesia saat ini, juga dalam proyeksi pertumbuhan dan perkembangannya ke masa depan. Indonesia sebagai negara bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh warganya, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta dalam perdamaian dunia membutuhkan integritas sosial yang kohesif.

(2)

Indikasi dari kerusakan integritas sosial dapat dideteksi dari berbagai kenyataan yang terjadi di Indonesia. Di antara kenyataan itu adalah (1)

bermunculannya kecenderungan sektarianisme yang tampil dalam bentuk kelompok-kelompok yang secara intensif mengutamakan keyakinan (belief)sektarian dan etnik, serta (2) mendominasinya kinerja kekuasaan modal. Meluasnya aksi kekerasan dan agenda kelompok sektarian yang menentang pluralisme serta kecenderungan perilaku ekonomi yang didasari keserakahan dan tidak mengindahkan rasa keadilan mulai tampak di berbagai bidang kehidupan.

Beberapa bentuk regulasi yang mengutamakan nilai moral kelompok tertentu baik dalam skala nasional maupun lokal, tindakan kekerasan mengatasnamakan nilai-nilai agama, konflik horisontal antar kelompok yang berlabel agama, serta pertikaian antar kelompok berlabel suku merupakan indikasi kecenderuangan sektarianisme dan etnosentrisme. Eksploitasi lingkungan, perusakan hutan, pencemaran tanah dan air oleh limbah-limbah penambangan, penjerumusan negara untuk terjerat dalam hutang oleh lembaga-lembaga keuangan internasional, serta penguasaan lembaga legislatif oleh kelompok pemodal besar yang mendorong deregulasi ekonomi yang lebih menguntungkan mereka sendiri merupakan indikasi dari kecenderungan dominannya kekuasaan sekelompok pemilik modal yang digerakkan oleh naluri ekonomi semata.

Dua kecenderungan itu merupakan dua gaya dengan arah yang berlawanan. Upaya menghadapi keduanya dalam upaya menjaga integritas sosial bangsa Indonesia dapat menimbulkan situasi dilematis. Di satu sisi, kecenderungan sektarianisme menekankan (bahkan memaksakan) penerapan ‘moral tunggal’ dari ruang privat hingga ke ruang publik yang sangat plural dengan implikasinya berupa pengendalian perilaku di ruang privat dan publik oleh aturan-aturan sangat mengekang dan

intoleran. Penekanan ini berpotensi mengusik dan merobek jalinan sosial dalam masyarakat Indonesia. Di sisi lain, kecenderungan perilaku ekonomi yang didasari keserakahan dan tidak mengindahkan rasa keadilan dengan dasar ekonomi pasar bebas mendorong mekanisme pasar mendominasi kehidupan ekonomi lepas dari etika kepedulian dan mengabaikan rasa keadilan. Kecenderungan ini menempatkan

(3)

Menghindari situasi dilematis yang mungkin muncul menyertai upaya-upaya menghadapi keduanya, perlu dicermati kesamaan antara keduanya. Meski tampil dengan wajah yang berbeda dan tampak bertentangan satu sama lain, keduanya sama-sama memiliki daya robek yang sama-sama terhadap integrasi sosial. Dampak dari

berlangsungnya dua kecenderungan ini di Indonesia adalah: (1) Kecenderungan sektarian menyedot dan merampas hak-hak privat dari kehidupan sosial, sedangkan kecenderungan perilaku ekonomi yang didasari keserakahan dan tidak mengindahkan rasa keadilan mengabaikan hak-hak publik dalam bidang ekonomi dengan

melemparkan urusan kesejahteraan individu kepada individu masing-masing; (2) kecenderungan sektarian menekankan dan memaksakan satu sistem nilai moral yang tak dapat ditawar bahkan oleh mereka yang tidak menganutnya, sedang

kecenderungan perilaku ekonomi tersebut seolah mengabaikan nilai-nilai moral apapun; (3) kecenderungan sektarian bersifat sentralistis sehingga mengabaikan perbedaan dan memaksakan keseragaman, sedangkan kecenderungan perilaku ekonomi itu membebaskan siapa saja menampilkan perilaku yang didasari

keuntungan ekonomi semata; keduanya mengakibatkan kerusakan integrasi sosial, yang pertama memicu konflik antar kelompok, yang kedua membuyarkan ikatan sosial yang merekatkan berbagai kelompok.

Untuk dapat menangani keduanya diperlukan cara pandang yang melampaui dikotomi itu. Inilah masalah yang dihadapi Indonesia: Bagaimana melampaui dan mengatasi kecenderungan-kecenderungan yang merusak integrasi sosial dan kembali menumbuh-kembangkan Indonesia sebagai bangsa?

Pemetaan Masalah

Mencermati situasi Indonesia saat ini, dapat disimpulkan bahwa Indonesia sebagai bangsa dan negara sedang mengalami pelemahan. Fungsinya makin

berkurang dan perannya melemah dalam penyelenggaraan dan pengaturan kehidupan masyarakat. Pengurangan fungsi dan pelemahan peran negara itu dianggap menjadi faktor utama dari kerusakan sosial di Indonesia. Untuk mengatasi situasi ini, kita perlu memetakan masalah secara komprehensif.

(4)

dan merawat sesuatu yang dianggap berharga olehnya, di dalamnya mencakup juga pemberian keleluasaan dan kekuasaan untuk mengambil tindakan-tindakan tak tertentu. Rasa saling percaya itu yang mengikat mereka, menjalin integrasi sosial. Komitmen untuk berada dan hidup bersama-sama dengan tujuan yang sama dalam satu bangsa dibangun oleh kepercayaan. Dengan demikian, integrasi sosial dari sebuah bangsa merupakan jalinan kepercayaan yang dibina dan dikembangkan oleh warga-warganya. Ketika rasa percaya itu hilang, maka robeklah jalinan itu, rusaklah integrasi sosial.

Mengambil pengertian dari Charles Tilly (2005:12), komunitas kepercayaan atau jaring-jaring kepercayaan (trust networks) mencakup “...ramified interpersonal connections, consisting mainly of strong ties, within which people set valued,

consequential, long-term resources and enterprises at risk to the malfeasance,

mistakes, or failures of others.” Dalam komunitas kepercayaan orang-orang disatukan oleh ikatan yang kuat yang didasari oleh nilai (belief yang menyarankan penganutnya untuk melakukan sesuatu) yang dianut bersama dalam waktu lama dan kesiapan untuk menerima konsekuensi-konsekuensinya. Di dalamnya, sumberdaya dan serangkaian usaha dikelola oleh para anggotanya dengan risiko terjadinya penyimpangan perilaku dan penyalah-gunaan wewenang para anggotanya, kesalahan-kesalahan menjalankan aturan, serta kegagalan anggota lain. Tilly menekankan risiko sebagai dasar untuk mendefinisikan jaring-jaring kepercayaan ini. Orang-orang yang tergabung di dalamnya siap menanggung risiko dari kebersamaannya. Tetapi, pada prakteknya, orang tidak sepakat untuk masuk dalam komunitas kepercayaan karena mereka suka menjalani hubungan yang penuh risiko, sebaliknya mereka justru mengandalkan komunitas ini untuk mendapatkan dukungan dalam mengatasi berbagai risiko. Di sini, ada jaminan risiko individual akan ditanggung bersama. Pengendalian terhadap konsekuensi-konsekuensi dari kesalahan dan kegagalan menjadi perhatian penting dalam komunitas kepercayaan.

Pencapaian bangsa sebagai komunitas kepercayaan yang saat ini sedang sangat melemah dan diabaikan di Indonesia. Bangsa Indonesia sebagai kumpulan dari berbagai kelompok justru menampilkan maraknya gejala segregasi.

Kelompok-kelompok yang membentuk bangsa pada dasarnya adalah juga sebuah komunitas kepercayaan dengan nilai-nilai yang lebih khusus ruang lingkupnya sebagai pengikat. Komunitas kepercayaan itu bisa berbasiskan kesamaan suku, agama, ideologi,

(5)

Indonesia, kita temukan komunitas-komunitas kepercayaan berbasis agama, suku, ideologi serta minat dan kepentingan ekonomi. Komunitas-komunitas itu dapat disebut sebagai komunitas kepercayaan lokal yang berbeda dari bangsa sebagai komunitas kepercayaan nasional dalam hal keluasan ruang-lingkup nilai-nilai yang dianut.

Nilai yang dianut komunitas kepercayaan lokal lebih khusus dari nilai dan

belief yang dianut bangsa sebagai komunitas kepercayaan nasional. Dalam bangsa, nilai-nilaiyang dianut mencakup juga nilai komunitas kepercayaan lokal tetapi tidak hanya itu. Di dalam bangsa dianut juga nilai-nilai yang dibagi bersama (shared values). Nilai-nilai inilah yang mempertemukan dan mempersatukan komunitas-komunitas kepercayaan lokal dalam komunitas-komunitas kepercayaan nasional.

Persoalan yang sekarang dialami Indonesia sebagai bangsa adalah vakumnya nilai-nilai yang dibagi bersama di antara komunitas kepercayaan lokal. Akibatnya, setiap komunitas kepercayaan lokal hanya mengandalkan nilai-nilai eksklusif mereka. Berbagai kelompok lokal membangun tembok yang tebal dan tinggi sehingga tertutup bagi kelompok lokal yang lain. Dari waktu ke waktu komunikasi antar komunitas kepercayaan lokal semakin sedikit. Dialog antar kelompok lokal tidak dapat berlangsung sehingga saling-pemahaman sulit terjadi. Karena kekhususan dan eksklusivitas nilai-nilai lokal itu, satu komunitas kepercayaan lokal sulit untuk bertemu dan bersepakat komunitas lainnya. Dalam proses-proses penyelenggaraan hidup bersama untuk mencapai kesejahteraan, perbenturan nilai terjadi sehingga memicu konflik antara komunitas. Akibatnya, segregasi antara kelompok lokal dan kecenderungan menggunakan kekerasan dalam penyelesaian masalah mendominasi. Indonesia tampak seperti kumpulan kelompok-kelompok yang asing satu sama lain dan saling bertikai mengandalkan kekerasan fisik dan mental untuk saling

menjatuhkan.

(6)

orang-orang untuk menempatkan dirinya di posisi pertama dalam daftar prioritas sehingga diri atau kelompok sendiri cenderung dipentingkan dan orang atau kelompok lain cenderung diabaikan. Faktor-faktor lain mencakup masalah rasa keadilan yang dilanggar, penafian hak-hak minoritas, pemaksaan nilai-nilai untuk dianut tanpa syarat, dan kesenjangan sosial.

Dengan pemahaman tentang nilai khusus dan nilai yang dibagi bersama tersebut, masalah yang dihadapi Indonesia dapat dirumuskan secara singkat: Bagaimana bangsa Indonesia bisa menemukan nilai yang dibagi bersama dan menjadikannya perekat integrasi sosial?

Bagaimana Komunitas Kepercayaan Terbentuk?

Untuk memahami bagaimana komunitas kepercayaan terbentuk, terlebih dahulu kita pahami dulu karakteristiknya. Tilly (2005:4) memaparkannya dalam bukunya Trust and Rule. Karakteristik pertama, adanya sejumlah orang yang saling terkait, secara langsung atau tidak langsung, oleh ikatan-ikatan yang sama; mereka membentuk jaringan. Kedua, keberadaan ikatan tertentu yang seakan-akan diterima begitu saja memberi setiap anggota kewenangan untuk mengklaim perhatian atau bantuan dari anggota yang lain. Jaringan mengandung ikatan-ikatan yang kuat. Ketiga, anggota-anggota jaringan secara kolektif menjalani serangkaian usaha utama dalam waktu lama, seperti prokreasi, perdagangan jarak-jauh, saling membantu dalam praktek kehidupan sehari-hari dan kerja, serta menganut dan mempertahankan agama tertentu. Terakhir, konfigurasi ikatan-ikatan dalam jaringan menata usaha-usaha kolektif untuk menghadapi risiko dari kecurangan, kesalahan dan kegagalan individu yang menjadi anggotanya.

Bagaimana komunitas kepercayaan terbentuk dapat dijelaskan dengan mencermati karakteristik-karakteristiknya. Dari karakteristik pertama komunitas kepercayaan, kita pahami bahwa ada ikatan yang sama yang mengubungkan dan menyatukan sekumpulan orang. Ikatan itu bisa berupa keyakinan tentang sesuatu, agama, kesukuan, latar belakang, kepentingan ekonomi, kerangka pikir dalam

memahami dunia, pengalaman hidup bersama dalam waktu yang lama, atau perasaan senasib-sepenanggungan. Dengan dasar kesamaan ikatan itu, sekumpulan orang itu membentuk jaringan.

(7)

dianggap alamiah atau sudah ada ‘dari sananya’, sesuatu yang terberi; pada kenyataannya adalah sesuatu yang bersifat ‘history turn into nature’; sesuatu yang tadinya produk sejarah kemudian dipersepsikan sebagai kodrat atau takdir karena durasi keberlangsungannya sangat panjang atau intensitasnya sangat tinggi, atau bisa juga kedua-duanya. Ikatan ini bersifat ideologis, sesuatu yang diterima begitu saja tanpa dicermati secara kritis terlebih dahulu. Dengan ikatan itu, setiap anggota merasakan perasaan senasib-sepenanggungan dengan anggota lain. Mereka saling peduli dan menuntut satu sama lain untuk memperhatikan dan saling-membantu.

Anggota-anggota jaringan terlibat satu sama lain dalam dunia kehidupan bersama secara lama dan intensif. Di dalam jaringan itu, proses mempertahankan dan mengembangkan kehidupan dilakukan bersama-sama berdasarkan ikatan ideologis yang mereka anut. Interaksi mereka terjadi sampai ke persoalan personal dan rutinitas sehari-hari meliputi aspek psikologis, sosial, budaya, ekonomi, politik, religius, seni dan lain-lain. Singkatnya, interaksi ini terjadi di seluruh aspek kehidupan mereka sebagai manusia. Ini kita pahami dari karakteristik ketiga komunitas kepercayaan.

Terakhir, dari karakteristik keempat, kita pahami adanya regulasi yang menata usaha-usaha kolektif untuk menghadapi risiko dari kecurangan, kesalahan dan

kegagalan individu yang menjadi anggotanya. Dengan kata lain, komunitas

kepercayaan menjaga dan menjamin jalannya kehidupan setiap anggotanya dengan mekanisme penghargaan-hukuman (reward-punishment) yang jelas dan tegas, saling-pengertian, saling-mengingatkan, dan saling-menjaga. Ikatan dalam jaringan

kepercayaan ini dioperasionalkan dalam bentuk norma dan aturan yang berorientasi mempetahankan kesatuan dan kesejahteraan kolektifnya.

(8)

komunitas kepecayaan nasional tanpa menghilangkan identitas dan karekteristik komutitas kepercayaan lokal. Ini merupakan persoalan politik, bagaimana proses politik di Indonesia dapat menata jaringan-jaringan kepercayaan lokal yang ada menjadi jaringan nasional yang bersama-sama mengembangkan Indonesia sebagai bangsa, sebagai jaringan kepercayaan nasional.

Strategi Integrasi: Komitmen di antara Pihak-pihak yang Setara

Integrasi komunitas kepercayaan lokal ke dalam kehidupan politik nasional, atau kehidupan politik publik membutuhkan strategi khusus. Pengalaman

menunjukkan pendekatan kekerasan, baik fisik, simbolik maupun psikologis seperti yang dikembangkan Orde Baru, tidak dapat menghasilkan komunitas kepercayaan nasional yang solid dan langgeng. Pendekatan ekonomi pasar yang memberi

kesempatan dan kebebasan kepada setiap orang untuk bersaing dalam bidang ekonomi pun diidentifikasi mulai menghasilkan kesejangan sosial-ekonomi yang besar

kemungkinannya membawa Indonesia kepada segregasi sosial.

Tilly (2005) menunjukkan berbagai bentuk kehidupan negara dengan

karakteristik kehidupan politik publiknya. Setiap bentuk kehidupan itu menggunakan strategi yang berbeda. Ia juga menjelaskan bagaimana berbagai strategi digunakan untuk mengintegrasikan komunitas kepercayaan lokal ke dalam kehidupan politik publik untuk membentuk komunitas kepercayaan nasional. Apa aturan dan bagaimana mengatur negara dapat dipahami dari bagaimana hubungan kepercayaan dan aturan berlangsung dalam kehidupan politik publik. Penyelesaian persoalan ini terletak dalam strategi apa yang dipakai untuk mengintegrasikan komunitas kepercayaan lokal ke dalam kehidupan politik publik.

Langsung ke kehidupan politik di Indonesia, kita temukan dewasa ini negara kita terpecah antara berbagai bentuk hubungan antara komunitas kepercayaan lokal dan negara. Di satu sisi berkembang bentuk evasive conformity yang ditandai oleh konformitas yang sangat tinggi dari beberapa kelompok lokal terhadap apa yang dilakukan negara dan kelompok lain; di sini integrasi sangat rendah dan cara-cara kekerasan dominan. Di sisi lain, beberapa wilayah masih mengalami bentuk

(9)

dikeluarkan negara; bentuk ini menampilkan komitmen yang tinggi namun integrasi dengan negara sangat lemah. Yang terakhir, kita temukan juga bentuk brokered autonomy yang ditandai dengan pengandalan produk-produk ekonomi sebagai perekat komunitas kepercayaan lokal dengan negara; setiap komunitas lokal merupakan pelaku ekonomi yang harus memberikan pemasukan bagi negara; di sini pelibatan modal sangat dominan dan hubungan yang berlangsung adalah negosiasi. Sementara bentuk demokrasi yang diharapkan oleh Indonesia masih belum tampak jelas dan tegas. Demokrasi merupakan bentuk hubungan yang ditandai oleh integrasi dan komitmen yang tinggi meski tidak total antara komunitas kepercayaan lokal dan negara; bisa dipahami sekumpulan Kami dalam Kita.

Strategi apa yang perlu dikembangkan untuk menegakkan dan memantapkan bentuk hubungan demokratis di Indonesia? Ini persoalan kita yang lebih khusus.

Secara prinsipil yang perlu dilakukan adalah membangun dan meningkatkan komitmen bersama untuk mengintegrasikan Indonesia di antara komunitas

kepercayaan lokal yang ada. Pendekatan kekerasan atau koersif (termasuk pemaksaan dan penguasaan totaliter), konformitas, negosiasi untung-rugi, penyerahan diri kepada pihak-pihak yang lebih berkuasa, pengandalan modal ekonomi, dan menggantungkan diri kepada kekuasaan global atau multinasional bukan cara yang efektif untuk mempersatukan Indonesia. Kita perlu melampaui itu semua, mempertemukan berbagai ragam perbedaan untuk membina, membangun dan mengembangkan integrasi sosial di Indonesia. Saat ini, terkesan Indonesia memandang dirinya

berhadapan dengan situasi dilematis: memilih unsur lokal atau global, mengikuti yang partikular atau universal, religius atau non-religius, sentralisasi ekonomi atau pasar bebas, totaliter atau permisif total. Terjebak dalam situasi dilematis semacam itu akan membawa Indonesia kepada keadaan yang tak diinginkan, totaliterianisme atau hilangnya kendali negara sama sekali.

Lalu apa yang perlu dilakukan?

(10)

sosiologi dan psikologi, situasi semacam ini dikenal dengan sebutan ‘jebakan sosial’ (social trap). Bagaimana kita mengatasinya?

Kita perlu melampaui situasi yang mengandung jebakan sosial itu. Kita perlu menemukan kerangka orientasi baru yang mengatasi situasi dilematis itu. Rasionalitas instrumental yang menekankan hasil sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya tak dapat digunakan. Kita memerlukan apa yang oleh Habermas disebut rasio komunikasi sebagai kerangka pikir untuk membangun kembali komunitas nasional Indonesia yang saling-percaya. Dengan rasio komunikasi, komunikasi yang

menghasilkan konsensus bersama dapat dicapai. Tetapi komunikasi ala Habermas mensyaratkan kesetaraan antara pihak yang terlibat di dalamnya. Persoalannya, kita temukan di Indonesia berbagai pihak yang mengklaim dirinya lebih benar dan lebih baik, juga pihak-pihak yang mengklaim pihak lain lebih buruk, lebih salah dan lebih tidak mampu. Jelas persepsi kesetaraan sedang tidak dialami oleh banyak pihak di Indonesia. Bagaimana komunikasi intersubjektif jadi mungkin? Jika pihak-pihak yang akan terlibat dalam komunikasi tidak memposisikan diri mereka setara dengan yang lain, mustahil komunikasi ala Habermas berlangsung secara efektif. Bagaimana mengatasi keadaan seperti itu? Bagaimana menyetarakan pihak-pihak yang tercakup dalam Indonesia?

Belajar dari hubungan ibu dan anak, juga dari proses pembentukan komunitas kepercayaan lokal, kita temukan di sana adanya sikap dan rasa saling-peduli. Kita selami lebih dalam lagi, dasar saling-peduli itu adalah kesiapan untuk berkorban, kesediaan untuk dirawat dan diurusi, persepsi bahwa orang lain selalu memperhatikan dan selalu siap membantu. Lebih dasar lagi, ada totalitas kehendak untuk menerima dan menyerahkan diri dalam berbagai aspek kehidupan di sana, totalitas emosional yang mengesampingkan pertimbangan untung-rugi, menang-kalah, sukses-gagal, maju-mundur dan sebagainya. Ada kesiapan menanggung risiko baik dan buruk, benar dan salah. Itu semua didasari oleh gairah untuk hidup bersama di sana. Itu semua tercakup dalam gairah.

(11)

Gairah memang berwajah dua, bisa positif, bisa negatif. Gairah positif mempersatukan dan mengembangkan, seperti kepedulian, perhatian, kerelaan merawat dan mengembangkan, serta kesediaan berkorban. Sedangkan gairah negatif memecah-belah dan menghancurkan, seperti kebencian, keserakahan, kemarahan, dan iri-hati. Orang-orang dalam komunitas kepercayaan lokal punya gairah positif

terhadap kelompoknya sendiri, di sisi lain tak jarang menunjukkan gairah negatif yang destruktif terhadap pihak-pihak di luar kelompoknya. Persoalannya lalu: Bagaimana menjaga agar gairah positif terbuka bagi siapa saja dan gairah negatif redup atau tersalurkan tanpa destruksi?

Di sini kita lalu bicara tentang negara dan aparatnya dari pusat sampai daerah. Bisa kita tambahkan juga dalam negara peran pemimpin-pemimpin lokal informal, kelompok swadaya masyarakat, pemimpin adat dan sebagainya. Bagaimana agar negara dengan aparatnya dan para pemimpin lokal-informal bisa mengelola gairah, memanajemi gairah untuk menghasilkan pemanfaatan rasio komunikatif yang membawa kepada integrasi sosial di Indonesia?

Mencari Metafor Lain: Negara sebagai Pawang

Kita bisa mengambil metafor negara sebagai pawang untuk membantu penyelesaian masalah-masalah di Indonesia. Apa yang dilakukan pawang terhadap apa yang dipawanginya menurut saya analog dengan apa yang mestinya dilakukan negara terhadap rakyatnya. Pawang memahami objek yang dipawanginya. Ia tidak menempatkan diri di atas atau di bawah mereka. Dengan kata lain, pawang

menempatkan mereka yang dipawanginya setara dengan dirinya. Ia menggunakan dialog sebagai strategi untuk memahami mereka yang dipawanginya. Pawang bukan hanya menjinakkan, melainkan juga mengoptimalkan kemampuan, mengembangkan potensi dan memfasilitasi aktualisasi potensi mereka yang dipawanginya.

Sebagai pawang, negara memahami rakyat termasuk kebutuhan-kebutuhan mereka dan berbagai karakteristiknya. Negara harus bisa berkomunikasi dengan rakyatnya secara efektif dan afektif, serta harus mampu merawat mereka, bisa menenangkan, juga mengoptimalkan dan mengaktualisasi potensi-potensi individu yang menjadi rakyatnya. Negara harus bisa membawa mereka ke pencapaian kesejahteraan prestasi yang tinggi.

(12)

sebagai makhluk yang buas. Pada dasarnya, pawang memandang alam bukan sebagai hal yang liar dan buas. Alam dipandang sebagai kumpulan dari berbagai potensi, baik yang negatif maupun positif. Alam bisa menampilkan wajah dan tindakan yang beringas, bisa juga tampil ramah, bersahabat dan memberi kehidupan yang memadai bagi makhluk hidup. Alam dapat menampilkan sisi destruktifnya yang bernilai negatif bagi makhluk hidup, bisa juga menampilkan sisi konstruktif yang bernilai positif. Makhluk hidup sebagai bagian dari alam pun demikian. Hewan-hewan bisa

menampilkan sisi positif-konstruktif, bisa juga menampilkan sisi negatif-destruktif. Sifat positif dan negatif sama-sama mungkin untuk ditampilkan, begitu juga

kecenderungan konstruktif dan destruktif. Persoalannya adalah bagaimana

memfasilitasi yang positif dan konstruktif serta memperkecil bahkan menghilangkan yang negatif dan destruktif.

Memandang negara sebagai pawang berarti memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi-potensi baik, positif dan konstruktif. Metafor ini bertentangan dengan metafor negara sebagai leviathan yang dikemukakankan Thomas Hobbes. Diktum homo homini lupus tidak tepat dipakai sebab cenderung membawa kita kepada kecurigaan dan penilaian negatif terhadap manusia. Negara yang menganut faham ini cenderung memfokuskan kebijakannya untuk mencegah rakyatnya bertindak buas dan liar; peraturan yang dibuat kebanyakan bersifat preventif. Sementara kebijakan yang mengembangkan rakyat tidak banyak dicanangkan dan program promosi hal-hal yang baik terabaikan.

Di sisi lain, pandangan romantik ala J.J. Rousseau yang pukul rata bahwa alam adalah baik cenderung membawa kita mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang didapat sebagai akibat dari potensi negatif dan destruktif manusia. Memahami negara sebagai pawang adalah memahami dua jenis potensi, negatif dan positif, destruktif dan konstruktif. Metafor negara sebagai pawang mengandung pemahaman bahwa potensi harmoni dan konflik sekaligus terkandung dalam kehidupan bersama yang dijalani manusia. Bagaimana potensi harmoni dapat

diaktualisasi dan potensi konflik dicegah perwujudannya, itulah persoalan yang harus dijawab negara. Tugas negara sebagai pawang adalah fasilitasi hal-hal positif dan pola hidup yang konstruktif demi tercapainya kesejahteraan bersama.

(13)

rakyat perlu diubah. Negara bukan pengarah dan penentu apa yang harus dilakukan rakyat melainkan sebagai fasilitator yang menyimak apa kemauan rakyat. Tugas negara adalah membantu memberi alternatif, menanggapi kemauan rakyat secara kritis dan hangat, membangun dan menyediakan fasilitas fisik dan psikis, membangun atmosfer yang kondusif bagi perkembangan individu dan kelompok, mengembangkan budaya yang meleluasakan perolehan hak dan pencapaian kesejahteraan bersama, membantu kesulitan-kesulitan rakyat, bersama-sama mencari jalan keluar bagi masalah-masalah yang dihadapi rakyat, serta bersama-sama merancang visi dan misi masa depan negara.

(14)

i Makalah ini ditulis berdasarkan diskusi intensif yang dilakukan bersama Eric Santosa, Herdis Herdiansyah dan Chris

Sahat Panggabean untuk keperluan diskusi di Lingkar Muda Indonesia yang diselenggarakan harian Kompas

Referensi

Dokumen terkait

Seperti beberapa kompetitor Shopee yaitu Lazada menggunakan Lee Min Ho sebagai brand ambassador, Blibli menggunakan Park Seo Joon sebagai brand ambassador,

Berdasarkan Vrettos et al (2012) EQ-5D dapat digunakan untuk menilai kualitas hidup terkait kesehatan pasien kanker, meskipun EQ-5D merupakan instrumen general

[r]

memiliki kesempatan yang sama untuk terambil dan setiap unit dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih. q Cara penarikan sampelnya adalah setiap unit

Memburuknya keadaan gizi anak akibat penyakit infestasi adalah akibat beberapa hal antara lain : Turunnya nafsu makan anak akibat rasa tidak nyaman yang dialami,

[r]

Grafik pada Gambar 3 di atas menjelaskan bahwa dari hasil pengguna parkir yang akan mengubah perilaku parkir jika diterapkan sistem parkir progresif pada badan jalan (

- Laporan Tahunan disampaikan oleh BPDAS/BPTH/BPA, BKSDA/BTN, Dinas yang menangani urusan Kehutanan di Kabupaten/Kota maupun Dinas Kehutanan Propinsi kepada masing-masing