TRI SARI ARUM
Ilmu Komunikasi – Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
Abstrak
Televisi merupakan salah satu alat penyampai informasi yang dipercaya oleh masyarakat. Tidak semua yang ada di media dapat dijadikan pedoman yang baik pasalnya banyak tayangan yang tidak layak ditonton sehingga memberikan dampak yang buruk. Anak sebagai individu yang rentan terhadap dampak negatif televisi seharusnya mendapat perhatian lebih ketika menonton televisi. Fakta menyebutkan bahwa orangtua terkadang membiarkan anak menonton televisi tanpa pengawasan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui literasi televisi pada orangtua dan juga mediasi yang dilakukan orangtua terkait konsumsi televisi pada anak. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan data.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa literasi media televisi pada orangtua masih tergolong rendah. Orangtua sangat percaya sekali dengan televisi sehingga terkadang tidak dapat membedakan antara realitas dunia nyata dan realitas dunia media khususnya pada program berita. Orangtua belum memahami tentang proses kerja televisi dalam menghasilkan program acara akibatnya mereka tidak memahami adanya framing media dalam proses pembuatan berita. Orangtua yang terpapar tayangan televisi berita sodomi bahkan mengalami efek kultivasi sehingga muncul perasaan takut dan persepsi bahwa dunia ini tidak aman. Orangtua menggunakan televisi untuk kebutuhan informasi dan hiburan namun secara tidak sadar penggunaan televisi sudah menjadi kebiasaan sehingga orangtua tidak lagi mengakses televisi berdasarkan kebutuhan tersebut. Orangtua mulai memiliki sisi kritis ketika dihadapkan pada keterkaitan kepemilikan media dan munculnya konten berbau politis dalam televisi.
Pengetahuan tentang efek negatif televisi pada orangtua masih terbatas pada efek yang terjadi pada orang lain, sementara efek pada diri sendiri tidak disadari. Pemahaman efek positif televisi kebanyakan berupa penambahan wawasan dan pengetahuan, selain itu televisi juga dapat menjadi sarana mentranferkan warisan budaya bagi orangtua. Pemahaman tentang efek televisi pada orangtua lebih ditekankan pada efek yang bersifat behavioral, sementara efek kognitif tidak mendapat perhatian yang khusus. Pengetahuan efek yang terbatas tersebut juga berpengaruh pada bagaimana orangtua melakukan pengarahan pada anak. Rata-rata informan hanya melarang anak untuk menonton konten tayangan tertentu tanpa memberikan penjelasan dan mendiskusikannya dengan anak. Mengenai content creation, yaitu kemampuan mengkomunikasikan pesan-pesan melalui media, mayoritas orangtua belum memiliki keterampilan ini.
Terpaan media massa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dewasa ini. Data menunjukkan jumlah stasiun radio yang awalnya berjumlah 700 stasiun di akhir tahun 2010, mengalami peningkatan menjadi 2590 di tahun 2011 (Kominfo, 2013). Jumlah media cetak yang tercatat tahun 2010 mencapai 952 perusahaan, baik itu harian, bulanan, atau mingguan (Dewan Pers, 2010). Begitu juga halnya dengan televisi. Jumlah media televisi di Indonesia mencakup sepuluh stasiun televisi swasta nasional dan lebih dari seratus stasiun televisi lokal sebagaimana terdaftar di
Asiawaves (2009).
Satu stasiun televisi biasanya menayangkan lebih dari dua puluh program acara dalam sehari yang berisi ratusan informasi. Apabila dikalikan dengan jumlah seluruh stasiun televisi lokal dan nasional di Indonesia, ada jutaan informasi yang disampaikan oleh televisi setiap jamnya. Ini menunjukkan banyaknya informasi yang membanjiri kehidupan saat ini.
Informasi yang disampaikan oleh televisi bersifat mentransferkan nilai-nilai budaya dan juga realitas. Namun realitas dan nilai-nilai yang disampaikan tersebut merupakan realitas yang sudah dikonstruksi. Televisi mengkonstruksikan realitas sedemikian sehingga sesuai dengan target pasar dan persaingan industri media sebagaimana dipaparkan Sunarto (2009).
Menanggapi hal tersebut, khalayak seharusnya lebih pandai dalam memilah-milah informasi. Pasalnya, tidak semua informasi yang didapat merupakan informasi yang berguna dan benar. Padahal, informasi yang disampaikan oleh media tersebut sedikit banyak mempengaruhi pengambilan keputusan dan emosi kita. Untuk itu perlu adanya pembentengan
pikiran secara psikologis dengan cara membiasakan untuk bersikap kritis terhadap setiap pesan dan informasi yang menerpa pikiran. Sikap kritis dalam menanggapi pesan-pesan media disebut juga sebagai kemampuan melek media atau literasi media.
Dalam bukunya Theory of Media Literacy, Potter (2004) mengumpulkan berbagai macam definisi tentang literasi media, salah satunya adalah definisi dari
National Leadership Conference on Media Education yakni literasi media adalah
kemampuan untuk mengakses,
menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan – pesan dalam berbagai bentuk literasi secara luas. Menurut Adam dan Hamm (dalam Potter, 2004), literasi media merupakan kemampuan untuk menciptakan makna pribadi dari simbol – simbol verbal dan visual yang kita dapat setiap hari dari televisi, iklan, film, dan media digital. Literasi media lebih dari sekedar mengajak khalayak untuk mendekode informasi melainkan mengajak khalayak untuk menjadi pemikir kritis.
Melek media bukanlah suatu kategori kelompok dimana seseorang termasuk di dalamnya atau tidak. Melainkan semua orang sebenarnya sudah memiliki kemampuan melek media, namun dengan tingkatan yang berbeda-beda (entah rendah, menengah, atau tinggi). Tingkatan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. “Kedewasaan [dari segi umur] tidak menjamin seseorang memiliki tingkat literasi yang tinggi” (Potter, 2005, h. 41).
dan buruk, bagaimanakah cara orangtua mengarahkan anak-anaknya? Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang akhirnya menjadi pengantar bagi penulis untuk meneliti lebih lanjut bagaimanakah kemampuan literasi media pada orangtua dan bagaimana cara orangtua mengarahkan anak terkait dengan penggunaan media.
Boby Guntarto sebagai ketua lembaga organisasi Kidia (Simamora, 2006), mengatakan bahwa rata-rata anak Indonesia menonton televisi selama 30 hingga 35 jam per minggu. Sebaliknya sebuah survei online yang diadakan oleh One Poll (BBC, 2011) mengatakan bahwa 25 persen dari 1000 orangtua yang memiliki anak balita di Inggris menggunakan televisi sebagai pengasuh anak.
Survei senada diadakan di Indonesia oleh Kompas mengatakan bahwa :
.. dari 900 orangtua yang disurvei, ternyata 37,8 persen membiarkan anak-anaknya menonton televisi, 27,4 persen kadang-kadang membiarkan anaknya menonton dan 34,8 persen orangtua mengatur anak-anaknya menonton televisi. Hasil survei itu juga menunjukkan bahwa anak-anak suka menonton film khusus anak-anak maupun film untuk orang dewasa. Apa yang ditontonnya itu tidak mudah lenyap dari ingatannya. Mulai dari hal-hal yang lucu, maupun yang bersifat banyak tayangan yang mengandung unsur sensualitas dan kekerasan di pertelevisian Indonesia. Contohnya di tahun 2011, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) menegur TRANSTV karena terdapat adegan vulgar dalam potongan film “Sex and The City”. ANTV pun juga mendapat teguran karena
menayangkan adegan vulgar dalam acara musik berjudul “Kembali Bergoyang” pada 9 Mei 2011 (Sumandoyo, n.d.) dimana Dewi Persik menampilkan adegan berpelukan bersama Olga disertai goyangan pinggul ke depan dan ke belakang.
Sejalan dengan teori kultivasi yang dikemukakan oleh Gerbner (dalam West & Turner, 2010, h. 82) yang mengatakan bahwa:
Analisis Kultivasi adalah sebuah teori yang memprediksikan dan menjelaskan formasi dan pembentukan jangka panjang dari persepsi, pemahaman, dan keyakinan mengenai dunia sebagai akibat dari konsumsi akan pesan-pesan media. Analisis Kultivasi menunjukkan bahwa komunikasi massa, terutama televisi mengkultivasi keyakinan tertentu mengenai kenyataan yang dianggap sebagai suatu yang umum oleh konsumen komunikasi massa.
Apabila tayangan dengan unsur pornografi dan sensualitas menghiasi layar kaca dalam jangka waktu lama terus terjadi, lambat laun akan menjadi hal biasa yang dianggap umum bagi masyarakat. Unsur sensual tersebut akan tertanam dalam pikiran dan alam bawah sadar anak-anak yang mengkonsumsinya.
Berdasarkan asumsi dan data-data yang dipaparkan sebelumnya mengenai efek media televisi dan kondisi konsumsi media televisi pada anak yang tidak sejalan dengan pengasuhan orangtua akan media, peneliti tertarik untuk meneliti fenomena literasi media televisi pada orangtua.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Efek Media Televisi Bagi Anak
Berita dan hiburan di televisi telah menjadi sumber informasi utama yang secara perlahan mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku pemirsanya. Pengaruh yang sama juga terjadi pada anak-anak karena melalui televisi mereka mendapatkan beragam hiburan dan informasi, sementara itu proses imajinasi dan pembelajaran bagi anak-anak [juga terjadi]. (Pandanwangi dan Cahyana, 2011, h. 59)
Psikolog Terapan UI, Anna Surti Ariani (Tak Hanya Menghibur, 2013) mengungkapkan bahwa media televisi dapat memberikan keuntungan bagi perkembangan anak dalam hal kognitif dan bahasa. Melalui tayangan televisi yang bersifat edukatif seperti ‘Laptop Si Unyil’ atau ‘Si Bolang’, anak memperoleh wawasan dan pengetahuan akan dunia di luar lingkungan terdekatnya. Anak dapat mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengetahui perkembangan peristiwa yang terjadi di kesehatan. Dari segi bahasa, televisi dapat menambah kosa kata yang belum pernah diajarkan kepada anak. Inilah yang disebut sebagai efek prososial media seperti dipaparkan Rakhmat (2002, h. 230). Efek prososial adalah ketika media massa memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat.
Tayangan yang bersifat edukatif masih minim dijumpai di layar televisi Indonesia. “Kebanyakan topik yang mengisi layar kaca di Indonesia adalah yang berbau sensualitas, kekerasan, dan vulgar” (Tamburaka, 2013, h. 209).
Tayangan-tayangan tersebut dapat memberikan efek negatif bagi pemirsa, khususnya anak. Efek tersebut dapat berupa efek kognitif, afektif, dan behavioral (Ardianto dan Komala, 2007, h. 49).
Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, difahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi. Efek efektif (sic!) timbul apabila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai. Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku. (Rakhmat, 2002, h. 219)
Menonton televisi memiliki hubungan negatif terhadap kedisiplinan belajar anak berdasarkan penelitian Prasetyo dan Muslimin (2011). Berbagai penelitian (dalam Widayanti dkk., 2011) telah menyoroti dampak negatif media diantaranya pada obesitas, agresivitas, ketakutan, gangguan tidur, dan berbagai macam dampak negatif lainnya. Contoh lain dari efek negatif televisi yang bersifat behavioral adalah menimbulkan perilaku imitatif (Naibaho, 2012) dan juga perilaku konsumtif (Ulum, 2011).
sendiri dapat menjadi intim sekaligus sosial, global sekaligus lokal, lugu sekaligus jahat, pasif sekaligus aktif, murah sekaligus mahal. (Shurmn, n.d.)
Televisi sebagai media yang populer bukan hanya memberikan manfaat yang positif tapi juga memberikan efek negatif yang krusial.
2.2 Peran Orangtua Sebagai Filter Efek Negatif Televisi
Pesan media televisi yang memberikan berbagai efek sebagaimana dipaparkan sebelumnya akan difilter oleh khalayak yang menerimanya. Menurut Ardianto dan Komala (2007, h. 41), faktor budaya dan faktor psikologikal merupakan salah satu filter pesan media bagi khalayak. Filter budaya merupakan latar belakang budaya yang dapat memberikan arti berbeda-beda pada pesan media, mencakup agama, ideologi, tingkat intelektualitas, tingkat ekonomi, dan pekerjaan (Mulyana, 2005, h. 196). Filter psikologikal merupakan frame of reference dan field of experience yang dimiliki oleh konsumen media. Frame of reference merupakan faktor-faktor fungsional yang dapat mempengaruhi persepsi (Rakhmat, 2002, h. 58). Sedangkan field of experience merupakan ruang lingkup pengalaman yang dimiliki khalayak (Ardianto & Komala, 2007, h. 41). Sebagai individu yang masih dalam tahap perkembangan, anak belum memiliki
frame of reference dan field of experience
yang memadai sebagai filter pesan media. Orangtua sebagai significant others
memiliki peran yang signifikan dalam tumbuh kembang anak. Significant others
merupakan orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk
pikiran kita, dan menyentuh kita secara emosional (Rakhmat, 2002, h. 103).
Sebagai lingkungan terdekat bagi anak, orangtua memiliki peran yang besar dalam menanamkan nilai-nilai dan budaya yang baik untuk anak. Penelitian Herdiana (2011) membuktikan bahwa orangtua memiliki peran dalam menanamkan budaya membaca dan menonton televisi bagi anak. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orangtua, secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku anak. Hal tersebut dikarenakan orangtua merupakan role model bagi anak-anak. Hal ini sejalan dengan teori peniruan (modeling theories) sebagaimana dipaparkan Rakhmat (2002, h. 216) bahwa “individu dipandang secara otomatis cenderung berempati dengan perasaan orang-orang yang diamatinya dan meniru perilakunya. Kita membandingkan perilaku kita dengan orang yang kita amati, yang berfungsi sebagai model”.
sebuah pengalaman dan melakukan proses imitasi.
Penelitian oleh Ambarwati dan Muslimin (2011) yang berjudul “Persepsi Terhadap Bimbingan Orangtua Dalam Hal Menonton Tayangan Misteri Dan Pengaruhnya Terhadap Perasaan Takut Pada Anak Masa Sekolah” mengungkapkan bahwa terdapat hubungan negatif diantara kedua variabel tersebut. Semakin positif persepsi anak terhadap bimbingan orangtua dalam menonton tayangan misteri maka semakin negatif rasa takut pada anak.
Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Gerungan (2004, h. 195) bahwa pengalaman-pengalaman seseorang dalam interaksinya di keluarga akan menentukan cara tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarga dan di masyarakat. Menurut Wakil Ketua KPI Pusat, Ezki Suyanto, “orangtua berperan memberikan rasa aman kepada anak-anaknya dari efek media yang tidak sehat. Salah satu peran itu adalah memberikan mereka pilihan yang sehat dan pendampingan pada saat mereka mengkonsumsi hiburan, informasi ataupun edukasi di media” (KPI, 2013).
2.3 Pentingnya Literasi Media
Cara pandang individu dalam memahami media akan menentukan bagaimana ia akan menyikapi setiap pesan yang datang kepadanya dan bagaimana ia bersikap. Semakin paham individu terhadap cara kerja media, semakin pahamlah bahwa pesan media tidak terjadi begitu saja, tetapi dibuat dan diciptakan oleh media dengan tujuan tertentu. Media massa tidak hanya sekedar memberikan informasi dan hiburan semata, tetapi juga mengajak khalayak melakukan perubahan perilaku melalui
pembingkaian pesan dalam teks, gambar, dan suara (Tamburaka, 2013, h. 1).
Pemahaman individu akan media tercermin di dalam literasi media. Definisi literasi media sebagaimana dijabarkan oleh Potter (2005, h. 22) adalah berikut ini
Media literasi adalah suatu rangkaian perspektif yang kita gunakan secara aktif untuk menerpa diri kita dengan media untuk menginterpretasikan makna dari pesan-pesan [media] yang kita temui. Kita membangun perspektif kita dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan, kita memerlukan peralatan dan materi-materi mentah. Peralatan tersebut adalah keterampilan kita. Sedangkan materi mentah tersebut adalah informasi yang kita dapat dari media dan dari dunia nyata. Penggunaan secara aktif berarti bahwa kita waspada akan pesan-pesan [media] dan dengan sadar berinterasi dengannya.
“Mengambil kendali adalah inti dari literasi media. Menjadi melek media memberikan kita perspektif yang lebih jelas untuk melihat batas antara dunia nyata dan dunia yang dihasilkan oleh media” (Potter, 2005, h. 14). “Ketika seseorang melek media, ia akan memiliki peta yang jelas untuk mengarahkan diri secara lebih baik di dalam dunia media sehingga ia bisa memperoleh pengalaman dan informasi yang diinginkan tanpa teralihkan oleh pesan-pesan yang merusak dirinya” (Potter, 2005, h. 14).
2.3.1 Komponen Literasi Media
is no point at the high end where we can say that someone is fully literate – there is always room from improvement” (Potter, 2005, h. 23). Pada dasarnya individu sudah memiliki kemampuan literasi media, hanya dalam tataran atau tingkatan yang berbeda-beda. Untuk mengetahui kemampuan literasi media seseorang, individu perlu memahami unsur-unsur yang membentuk kemampuan literasi media tersebut.
Silverblatt, seorang ahli komunikasi (dalam Tamburaka, 2013, h. 12) mengidentifikasi lima elemen literasi media yaitu
1. Kesadaran akan dampak media pada individu dan masyarakat 2. Pemahaman atas proses
komunikasi massa
3. Pengembangan strategi untuk
menganalisis dan
mendiskusikan pesan media 4. Kesadaran atas konten media
sebagai sebuah teks yang memberikan pemahaman kepada budaya kita dan diri kita sendiri
5. Pemahaman kesenangan, pemahaman, dan apresiasi yang ditingkatkan terhadap konten media.
Buckingham (n.d.) menyebutkan definisi literasi media sebagai “the ability to access, understand, and create communications in a variety contexts”. Tiga poin yang dapat diambil dari definisi di atas adalah sebagai berikut:
1. Access, mencakup kemampuan untuk terhubung pada media atau ketersediaan media dan juga kemampuan untuk mencari informasi atau konten yang dibutuhkan.
2. Understand, memahami empat komponen kunci dalam media yaitu
bahasa media, representasi realitas, industri, dan audiens.
3. Content Creation, yaitu kemampuan untuk menciptakan konten media seperti contohnya home video, membuat website, dan blog. Atau secara aktif mengkomunikasikan pesan-pesan baru dari perspektif audiens.
Dengan memahami elemen-elemen literasi media, akan dapat dilihat bagaimana kemampuan literasi media seseorang.
Sedangkan menurut Potter (2005, h. 33-35), bangunan dasar dari literasi media adalah seperangkat struktur pengetahuan yang telah tersusun dengan kuat. Struktur pengetahuan merupakan seperangkat informasi yang tersusun di dalam ingatan seseorang melalui proses penjalinan informasi di dalam pikiran manusia. Kunci dari literasi media mencakup lima komponen struktur pengetahuan, antara lain:
1. Struktur pengetahuan mengenai efek media
2. Struktur pengetahuan mengenai isi media
3. Struktur pengetahuan mengenai industri media
4. Struktur pengetahuan mengenai dunia sekitar (real world)
5. Struktur pengetahuan mengenai diri sendiri (self)
Dimensi lingkungan didefinisikan sebagai suatu set faktor kontekstual (yang mempengaruhi kompetensi individu) yang berdampak pada rentang luas literasi media, termasuk ketersediaan informasi, kebijakan media, pendidikan dan peran serta tanggung jawab pemangku kepentingan (pemegang saham) dalam komunitas media.
2.4 Mediasi Orangtua Terhadap Media Televisi
Proses pengajaran dan pengarahan orangtua terhadap konsumsi media anak dapat tercermin di dalam mediasi orangtua. Mediasi orangtua telah dideskripsikan sebagai suatu cara yang efektif dalam mengatur pengaruh televisi pada anak (Mendoza, 2009). The American Academy of Pediatrics (Kecanduan vs Keterikatan, 2013) telah mendesak dokter anak untuk berbicara dengan orangtua tentang mendiskusikan televisi dengan anak-anak mereka. Mereka juga merekomendasikan membatasi konsumsi media, khususnya pada anak-anak.
Warren (dalam Mendoza, 2009) mendefinisikan mediasi orangtua sebagai “setiap strategi yang digunakan orangtua untuk mengontrol, mengawasi, atau menafsirkan isi”. Orangtua menegakkan aturan dan membatasi cara anak-anak mereka menggunakan media. Ketika membahas tentang mediasi, terdapat tiga strategi media yaitu: co-viewing sosial, mediasi restriktif, dan mediasi aktif.
Nathanson dan Yang (2005) mendefinisikan co-viewing sosial sebagai “tindakan sederhana menonton televisi dengan anak-anak tanpa membahas konten”. Mediasi restriktif adalah “menetapkan aturan pada konsumsi televisi
anak-anak” seperti apa yang mereka menonton atau jumlah waktu ketika mereka menonton. Mediasi aktif adalah ketika orangtua berbicara dengan anak-anak tentang program apa yang mereka tonton. Selain membahas program televisi, mereka juga membahas iklan yang mereka lihat selama istirahat stasiun.
Mendoza (2009) mengatakan bahwa mediasi aktif dapat memperkuat keterampilan berpikir kritis tentang televisi dan mungkin memiliki efek positif dalam melindungi anak-anak dan remaja dari pesan negatif media. Ia juga mengatakan bahwa penelitian menunjukkan mediasi aktif memiliki lebih banyak efek positif termasuk pengurangan agresi, pengurangan efek negatif dari konten kekerasan dan seksual pada remaja, dan meningkatkan perilaku prososial. Anak-anak dan orangtua yang menggunakan gaya mediasi aktif lebih merasa positif ketika berbicara dengan orangtua mengenai apa yang mereka tonton.
Mediasi restriktif terjadi ketika orangtua membatasi penggunaan televisi dan melarang program dan konten media. Jordan, Hersey, McDivitt, & Heitzler (2006) menggali bagaimana membatasi televisi dapat diterima sebagai suatu strategi ketika digunakan pada orangtua dan anak-anak usia sekolah. Orangtua dalam studi tersebut dilaporkan bahwa mereka memiliki aturan untuk anak-anak mereka, tetapi hanya beberapa yang memiliki aturan mengenai berapa jumlah tayangan yang ditonton.
telah menghilangkan penggunaan televisi di kamar anak mereka. Sebaliknya, Nathanson (1999) menyatakan bahwa mediasi restriktif tidak efektif karena hanya dapat menyebabkan anak-anak dan remaja merasa penasaran untuk ingin menonton lebih banyak.
III. METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan paradigma interpretatif.
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif digunakan peneliti untuk menggali secara terperinci keterampilan literasi media orangtua seperti mencakup tingkat konsumsi televisi, interpretasi terhadap media, dan kritik serta tindakan yang dilakukan oleh orangtua dalam memediasi antara televisi dan anak.
3.1 Teknik Pemilihan Informan
Penentuan informan dilakukan dengan
purposive sampling. “Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian” (Kriyantono, 2006, h. 154). Dalam memilih informan, peneliti melakukan pre-eliminary research
terlebih dahulu untuk menentukan calon informan yang memenuhi kriteria tersebut.
Pre-eliminary research telah dilakukan peneliti pada 27-28 Februari 2014 di sebuah sekolah dasar yaitu SDN Bunulrejo 2 Malang. Peneliti memilih sekolah tersebut dengan pertimbangan karena SDN Bunulrejo 2 Malang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Lokasi SDN Bunulrejo yang berdekatan dengan
rumah peneliti juga menjadi pertimbangan tersendiri.
Daftar pertanyaan dalam pre-eliminary research mencakup pertanyaan mengenai konsumsi televisi orangtua, bagaimana orangtua mengarahkan anak ketika menonton televisi, pemahaman orangtua terhadap media, serta data-data tentang anak (usia, sekolah, dan durasi konsumsi media anak). Pre-eliminary research
tersebut membantu peneliti untuk memperoleh gambaran mengenai penelitian yang akan dilakukan serta membantu peneliti mencari informan yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan peneliti.
Dalam penelitian ini, peneliti memiliki beberapa kriteria dalam pemilihan informan, yaitu:
1. Informan merupakan orangtua yang bersedia untuk diwawancarai dan bersedia berpartisipasi dalam peneliti ini.
2. Informan merupakan orangtua yang memiliki anak berusia 7-12 tahun. Kriteria tersebut peneliti pilih berdasarkan apa yang dipaparkan Potter (2005, h. 43) pada usia tujuh hingga dua belas tahun, anak sudah memiliki pemahaman mengenai fiksi dan jalan cerita namun hal tersebut tergantung dari pengalaman anak terhadap televisi. Anak masih memerlukan pengarahan karena pengalaman terhadap televisi masih sedikit.
3.2 Sumber Data
1. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data pertama atau tangan pertama di lapangan. Sumber data ini bisa responden atau subjek riset, dari hasil pengisian kuisioner, wawancara, dan observasi (Kriyantono, 2010, h. 42). Dalam penelitian ini sumber data primer diperoleh langsung oleh peneliti lewat wawancara mendalam terhadap subjek penelitian yaitu orangtua.
2. Data sekunder, yaitu data tambahan yang berfungsi sebagai pelengkap atau pendukung data utama. Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara terhadap significant other's informan utama, yaitu anak.
Adapun sumber data yang ditetapkan oleh peneliti yaitu enam orangtua yang telah memenuhi kriteria sebagaimana dipaparkan dalam teknik pemilihan informan. Sumber data yang ditetapkan peneliti antara lain :
1. Ratih Yulianti, 42 tahun. Usia anak sepuluh tahun
2. Siti Mutmainah, 37 tahun. Usia anak delapan tahun.
3. Ribut Supriyati, 38 tahun. Usia anak sembilan tahun.
4. Ronald Tora, 39 tahun. Usia anak sembilan tahun.
5. Suparno, usia 49 tahun. Usia anak delapan tahun.
6. Lilik Hidayati, usia 38 tahun. Usia anak sepuluh tahun.
Peneliti menentukan subjek penelitian sebanyak enam orang dikarenakan enam orang tersebut mewakili kriteria-kriteria sebagaimana dipaparkan dalam teknik pemilihan informan yaitu orangtua yang memiliki anak 7-12 tahun. Selain kriteria tersebut, enam orang informan tersebut dipilih karena mereka memiliki
keterbukaan terhadap peneliti sehingga memudahkan peneliti untuk menggali informasi sebanyak mungkin. Informan-informan tersebut juga memiliki latar belakang sosial seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan usia yang berbeda-beda. Pemilihan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan keberagaman data.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Peneliti melakukan wawancara dengan informan dengan tujuan memperoleh data untuk mengetahui kondisi konsumsi media televisi orangtua dan anak. Melalui wawancara mendalam, peneliti berusaha menggali pemahaman literasi media pada orangtua. Jenis wawancara yang dilakukan adalah depth interview, yaitu “suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam” (Kriyantono, 2006, h. 98). Peneliti berusaha untuk menggali informasi mengenai secara mendalam mengenai keterampilan literasi media yang dimiliki orangtua dan mediasi yang dilakukan dalam menjembatani antara televisi dan anak.
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan oleh peneliti dijabarkan sebagai berikut : 1. Seluruh hasil wawancara akan dicatat
oleh peneliti. Catatan tersebut akan diubah menjadi sebuah transkrip wawancara atau narasi yang
memudahkan peneliti untuk
menganalisis.
dimasukkan ke dalam pengkategorian yang telah dibuat oleh peneliti
3. Peneliti mencari hubungan antar kategori
4. Peneliti menyederhanakan dan mengintegrasikan data dan teori untuk membantu analisis peneliti
3.5 Keabsahan Data
Untuk menguji kebenaran dan kejujuran dalam mengungkapkan realitas, penulis menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber adalah membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang berbeda (Kriyantono, 2010, h. 72).
Untuk memperkuat keabsahan data, peneliti juga melakukan wawancara kepada anak. Hasil wawancara ini kemudian akan dibandingkan dengan data yang sudah didapat dari orangtua selama penelitian, sehingga data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut Potter (2005, h. 22), literasi media merupakan suatu rangkaian sudut pandang yang digunakan oleh individu secara aktif untuk menginterpretasikan makna dari pesan-pesan yang ada di dalam media. Sudut pandang tersebut dibentuk oleh berbagai macam pengetahuan yang telah terstruktur, yaitu pengetahuan tentang efek media, pengetahuan tentang konten media, pengetahuan tentang industri media, serta pemahaman tentang realitas yang dibentuk oleh media. Memiliki pengetahuan terhadap berbagai hal tersebut dapat membekali individu untuk dapat memaksimalkan penggunaan media untuk
hasil yang lebih positif, dan meminimalisir pengaruh-pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan melalui penggunaan media. Dalam penelitian ini, peneliti berfokus pada literasi pada media televisi.
Menurut Ofcom, sebuah lembaga indepen yang bergerak sebagai regulator industri komunikasi di Inggris (dalam Buckingham, n.d.), definisi literasi media adalah “the ability to use, understand and create media and communications in a variety of contexts”. Kemampuan untuk mengakses media merujuk pada kemampuan memperoleh akses media dan juga menentukan konten media yang sesuai dengan kebutuhannya dan menghindar dari konten media yang tidak dibutuhkan. Sementara kemampuan memahami mengacu pada apa yang dipahami oleh individu ketika menemukan informasi pada media. Kemampuan menciptakan adalah kemampuan untuk menciptakan pesan-pesan baru yang berbeda dengan perspektif media, misalnya menulis pada blog, melaporkan konten-konten televisi yang tidak layak ditonton kepada KPI, atau menciptakan video berita sebagai bentuk
citizen journalism.
juga karena sudah menjadi kebiasaan dan sebagai pengisi waktu luang.
Keadaan tersebut sejalan dengan pemikiran Potter (2005) yang mengatakan bahwa media turut memiliki andil dalam perubahan struktur kehidupan individu dan membuat individu terlatih untuk mengembangkan kebiasaan tertentu. Informan dalam penelitian ini mengintegrasikan setiap aktivitasnya kesehariannya dengan aktivitas menonton televisi. Kondisi ini menurut Potter disebut sebagai mindlessness yaitu kondisi dimana seseorang tidak aktif dalam proses berfikir namun individu berada pada kondisi pemrosesan pesan secara otomatis yang terjadi karena kebiasaan. Kondisi pemrosesan pesan secara otomatis ini sedikit sekali menggunakan usaha berpikir kritis.
Informan dapat membedakan realitas media dan realitas dunia nyata hanya sebatas pada program fiksi televisi seperti sinetron dan FTV. Sementara untuk program berita, informan beranggapan bahwa semua berita pasti benar adanya tanpa memandang bagaimana sudut pandang dalam berita dikonstruksi oleh wartawan. Pengetahuan informan mengenai proses kerja media yang meliputi kegiatan jurnalistik masih terbatas. Individu tidak memahami bagaimana sebuah berita diframing melalui sudut pandang wartawan atau media.
Pemahaman yang sedikit tentang proses komunikasi massa tersebut membuat informan tidak memiliki sudut pandang lain terhadap pesan-pesan yang dibuat oleh media. Informan pada dasarnya sangat mempercayai apa yang ada di dalam berita dan menjadikannya sebagai sebuah pedoman. Pengetahuan informan terhadap
dunia nyata akibatnya menjadi sempit. Informan cenderung mengeneralisasikan apa yang ada di media dengan apa yang ada di dunia nyata.
Kondisi tersebut didukung juga dengan pengetahuan informan mengenai efek televisi yang masih sedikit. Informan cenderung menyebutkan efek negatif televisi yang terjadi pada anak, bukan pada dirinya sendiri. Pengetahuan informan mengenai efek negatif masih terbatas pada efek yang nampak, khususnya juga pada anak-anak, sebagai contoh penurunan minat belajar ketika menonton televisi, konsentrasi belajar anak yang terganggu karena menonton televisi, dan peniruan yang dilakukan anak-anak setelah menonton televisi. Sebaliknya efek negatif yang dirasakan pada diri sendiri tidak tertangkap dalam pemahaman individu. Pada diri sendiri, informan cenderung lebih merasakan efek positif daripada efek negatif dari televisi. Efek positif yang dirasakan oleh informan umumnya berupa bertambahnya wawasan, pengetahuan dan juga hiburan setelah menonton televisi. Efek tersebut termasuk dalam efek prososial yaitu ketika media memberikan manfaat bagi masyarakat, sebagaimana dipaparkan Rakhmat (2002, h. 230).
Pengetahuan orangtua perihal industri media masih berkisar pengetahuan pada kulit luar. Pada beberapa informan, mereka mulai memiliki sisi kritis sehingga dapat menyebutkan kepentingan politik pemilik media terhadap konten televisi, khususnya pemberitaan seputar pemilu. Informan dapat menyebutkan nama-nama konglomerasi media secara horisontal dan juga mengetahui bahwa iklan merupakan sumber penghasilan televisi. Hanya saja informan masih belum menangkap keterkaitan dan pengaruh antara kedua hal tersebut pada konten televisi dan pengaruhnya pada efek televisi khususnya kultivasi.
Literasi media dari segi pembuatan konten, tidak ditemui satupun pada informan. Inisiatif informan untuk memberikan laporan perihal tayangan yang tidak layak ditonton kepada KPI, dan juga kreativitas informan untuk membuat konten-konten baru dengan sudut pandang yang berbeda belum dijumpai pada informan. Hal tersebut mungkin dapat disebabkan karena gerakan literasi media yang masih bersifat sporadis di Indonesia sehingga pemberdayaan masyarakat perihal literasi media masih minim.
Dalam menjembatani antara media dan anak, orangtua berfungsi sebagai mediator. Mediasi menurut Warren (dalam Mendoza, 2009) adalah “setiap strategi yang digunakan orangtua untuk mengontrol, mengawasi, atau menafsirkan isi media”. Di dalam penelitian ini ditemukan dua jenis proses mediasi yang dilakukan oleh orangtua yaitu co-viewing
sosial dan juga mediasi restriktif. Co-viewing sosial merupakan mediasi yang terjadi ketika orangtua hanya menonton televisi dengan anak-anak tanpa membahas
konten televisi. Sedangkan mediasi restriktif ditemukan pada informan yang membatasi penggunaan televisi dan melarang program dan konten media tertentu yang dikonsumsi anak. Pada penelitian ini mayoritas orangtua hanya melarang anak ketika didapati konten televisi tertentu yang tidak layak untuk ditonton. Orangtua juga membatasi durasi penggunaan televisi pada anak, namun pada prakteknya pembatasan durasi tersebut tidak berlaku secara tegas karena orangtua tidak memberikan contoh. Orangtua terkadang juga mengganti channel televisi seketika itu juga ketika didapati konten yang tidak layak. Informan tidak memberikan penjelasan mengapa tayangan tersebut tidak boleh untuk ditonton. Menurut Nathanson (1999), pelarangan tersebut semakin membuat anak penasaran dan ingin menonton telebih banyak.
Secara garis besar, berdasarkan definisi dari EAVI (2009, h. 51) literasi media orangtua dalam penelitian ini dapat dikategorikan sebagai literasi media tingkat dasar. Orangtua mengetahui fungsi media dan menggunakannya televisi untuk tujuan informasi dan hiburan. Kemampuan orangtua dalam menganalisis informasi secara kritis masih terbatas. Kapasitas komunikasi orangtua melalui media juga masih terbatas. Pengetahuan literasi media yang didapat melalui lingkungan juga masih terbatas karena gerakan literasi media di Indonesia masih mencakup beberapa kota saja dan bersifat sporadis.
Tabel 1. Model Literasi Media No
.
Materi
1 Durasi penggunaan media yang ideal yaitu dua jam dalam sehari.
• Perlu penekanan pada orangtua bahwa kebiasaan orangtua
menonton televisi dapat ditiru oleh anak. Orangtua idealnya
memberikan teladan.
2 Pemahaman tentang efek televisi. • Memberi pengetahuan pada
orangtua bahwa efek televisi tidak hanya terjadi pada anak-anak namun juga pada orang dewasa. • Efek televisi yang perlu diketahui
orangtua adalah efek kultivasi, yaitu pembentukan jangka panjang dari persepsi, pemahaman, dan keyakinan mengenai dunia sebagai akibat dari konsumsi akan pesan-pesan media. Contohnya pada tayangan berita sodomi, dapat membentuk keyakinan bahwa dunia ini jahat, menimbulkan ketakutan tertentu yang berlebihan pada orangtua.
3 Pemahaman tentang konten dan industri televisi
• Orangtua perlu melihat konten dari perspektif media sebagai pembuat pesan. Konten yang dibuat oleh televisi semata-mata untuk menarik perhatian penonton sehingga meningkatkan rating dan menarik pengiklan. Ada unsur dramatisasi dalam pembuatan
Contohnya :
− Berita dibuat dengan menjual
unsur kekerasan
− Sinetron dibuat dengan menjual unsur konflik − Reality Show menjual
tayangan yang
mempermainkan emosi penonton, contoh ekploitasi kemiskinan yang menyentuh simpati penonton
• Tayangan televisi isinya cenderung seragam karena adanya
konglomerasi dan juga tuntutan rating sehingga ketika ada tayangan dengan rating tinggi, hampir semua stasiun televisi membuat program dengan format yang sama. Akibatnya efek kultivasi semakin kuat.
• Berita merupakan tayangan yang tidak hanya berisi fakta namun juga opini. Berita sudah diframing
sehingga memiliki nilai jual. • Tidak semua kartun baik untuk
anak-anak. Orangtua perlu waspada terhadap konten, bukan melihat kemasan. Dapat juga diberikan materi mengenai jenis program anak dengan kategori aman, waspada dan bahaya. 4 Meningkatkan peran aktif orangtua
dalam literasi media
• Memberikan pengetahuan tata cara melapor ke KPI.
• Jika memungkinkan juga
dilakukan pelatihan penggunaan internet dan pelatihan menulis di blog.
5 Mediasi orangtua terkait pengaruh televisi pada anak
bahwa melarang anak menonton konten tertentu tanpa memberi penjelasan justru akan membuat anak penasaran.
• Pembatasan durasi menonton pada anak harus disertai dengan teladan orangtua yang dilakukan secara konsisten.
• Pembatasan durasi menonton dan juga pelarangan untuk menonton konten tertentu harus disertai penjelasan atau bahkan diskusi bersama anak. Dengan demikian akan muncul kesadaran sehingga tanpa dilarang orangtua pun anak tidak anak menonton hal yang dilarang tersebut.
Sumber : Diolah peneliti
Dengan memberikan materi yang sesuai dengan kebutuhan orangtua, diharapkan dapat dengan efektif meningkatkan literasi media pada orangtua.
DAFTAR PUSTAKA BUKU
Ardianto, E. & Komala, L. (2007).
Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Bungin, B., (2007). Penelitian Kualitatif.
Jakarta: Prenada Media Group. Gerungan, W. A. (2004). Psikologi
Perkembangan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada Group.
Moleong, L. J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mondry. (2008). Pemahaman Teori dan Praktek Jurnalistik. Jakarta: Ghalia Yudhistira
Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Salemba Empat.
Potter, W. James. (2004). Theory of Media Literacy : A Cognitive Approach. America : Sage Publication.
Potter, W. James. (2005). Media Literacy (3rd ed). America: Sage Publication. Rakhmat, Jalaluddin. (2002). Metode
Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Contoh Analisis Statistik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin. (2002). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Shurmn, L.J. (n.d.). Psikologi Media Entertainment: Membedah Periklanan Subliminal dan Bujukan yang Tak Disadari Konsumen. Yogjakarta: Jalasutra
Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Tamburaka, Apriadi. (2013). Literasi Media : Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers. Tankard, J. W. & Severin, W. J. (2005).
Teori Komunikasi. Jakarta : Kencana. West, R., & Turner, L. H. (2010).
Introducing Communication Theory; Analysis and Application (Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi) (Ed. 3). Jakarta : Penerbit Salemba Humanika.
JURNAL
Ambarwati, T. & Muslimin, Z. I. (2011).
Psikologi dan Media Call For Paper Proceeding. 14-15 Oktober. h. 81. Buckingham. (n.d.). The Media Literacy of
Children and Young People, A review of the research literature on behalf of
Ofcom. Diakses dari
http://eprints.ioe.ac.uk/145/1/Bucking hammedialiteracy.pdf
Dewi, K. S., Widayanti, C.G., Dewi, E. K., Setyawan, I. (2011). Gambaran Pemahaman Pendidikan Literasi Media Pada Caregiver Anak Usia Dini di Klaten. Seminar Nasional Psikologi dan Media Call For Paper Proceeding. 14-15 Oktober. h. 11. EAVI. (2009). Study on Assessment
Criteria for Media Literacy Levels. (Final Report For The European Commission Directorate General Information Society and Media). Versus Menonton Televisi Pada Anak-Anak Usia Sekolah Dasar. Seminar Nasional Psikologi dan Media Call For Paper Proceeding. 14-15 Oktober. h. 18.
Jordan, A., Hersey, J., & Heitzler, C. (2006). Reducing Children's Television-viewing Time: A Qualitative Study of Parents and Their Children. Pediatrics, 18,
1303-1311. Diakses dari
http://pediatrics.aappublications.org/c ontent/118/5/e1303.full.pdf+html Kurniawan, M. N. (2007). Jurnalisme
Warga di Indonesia, Prospek dan Tantangannya. Makara, Sosial Humaniora,
11 (2), 71-78. Diakses dari Matahari Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang). (Masters
thesis, Universitas Diponegoro).
Diakses dari
http://eprints.undip.ac.id/41062/ Mendoza, K. (2009). Surveying Parental
Mediation: Connection, Challenges and Questions for Media Literacy.
Journal of Media Literacy Education: Vol. 1: Iss. 1, Article 3. Diakses dari http://digitalcommons.uri.edu/cgi/vie wcontent.cgi?
article=1002&context=jmle
Naibaho, F. (2012). Menonton Boyband Indonesia dan Perilaku Imitasi (Studi Korelasional Mengenai Pengaruh Menonton Tayangan Smash Boyband Indonesia pada Program Acara Musik Dahsyat Terhadap Perilaku Imitasi Siswa SMP Yayasan Pendidikan Mardi Lestari Medan).
(Skripsi Komunikasi, Universitas Sumatera Utara, 2012). Diakses dari http://repository.usu.ac.id/handle/123 Kind of Mediation. Conference Paper, International Communication Siaran Televisi dengan Kedisiplinan Belajar SD Negeri Ringin Putih 3
Borobudur. Seminar Nasional
Psikologi dan Media Call For Paper Proceeding. 14-15 Oktober. h. 36. Ulum, Z. (2011). Hubungan Antara
http://karya- ilmiah.um.ac.id/index.php/BK-Psikologi/article/view/14770
Widayanti, C. G., Dewi, K. S., Setyawan, I., Guntarto, B. (2011). Efektivitas Pelatihan Literasi Media Terhadap Frekuensi Penggunaan dan Kegiatan Media Pada Caregiver PAUD di Jawa Tengah. Seminar Nasional Psikologi dan Media Call For Paper Proceeding. 14-15 Oktober. h. 1.
WEBSITE
Asiawaves. (2008). Diakses pada 2
Februari 2012, dari
http://www.asiawaves.net/indonesia-local-tv.htm
Balipost. (2003). Anak Bertanya, Orangtua Malas Jelaskan. Diakses pada 19
Januari 2012 dari
http://www.balipost.co.id/balipostceta K/2003/1/19/kel2.html
BBC. (2011). Orangtua Mengaku Pakai TV Menjaga Anak. Diakses pada 29 2010. Diakses pada 2 Februari 2012 dari
http://www.dewanpers.or.id/page/pub likasi/buku/?id=1608
Kominfo. (2013). Konvensi RSKKNI Produser TV. Diakses pada 3 Januari
2012 dari Bermasalah dan Tidak Layak Tonton. Diakses pada 26 Mei 2014 dari Berbagai Ujian Skripsi. Diakses pada 23 Februari 2014, dari
Liputan6. (2008). KPI: Waspadai Film Tom and Jerry dan Popeye. Diakses pada
26 Mei 2014 dari Okezone. (2014). Acara Trans TV & Trans
7 Paling Banyak Ditegur KPI.
MAJALAH
Dunia Digital (2013, November).
Parenting Indonesia, h. 41
Kecanduan vs Keterikatan (2013, November). Parenting Indonesia, h. 16
Tak Hanya Menghibur (2013, November).