MENULIS CERITA PENDEK DENGAN MEDIA KACRIT UNTUK MENINGKATKAN JIWA NASIONALISME SISWA
DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Makalah ini disusun untuk memenuhi syarat Mengikuti Lomba Olimpiade Guru Nasional (OGN) yang diselenggarakan oleh
Direktorat Pendidikan Guru Pendidikan Menengah
Disusun oleh:
Nama : Mochamad Sodik, S.S. NIP :197411162009031002
UnitKerja : SMK Negeri 1 Sukoharjo, Wonosobo Guru Mapel : Bahasa Indonesia
DIREKTORAT PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehubungan penulis telah dapat menyelesaikan artikel ini. Penulisan ini adalah upaya untuk menunjukkan kemauan untuk menimba pengalaman sebagai modal untuk lebih meningkatkan profesionalisme guru yang penulis tekuni saat ini. Besar harapan penulis tulisan yang tersaji dapat diakui sebagai karya yang dapat diperhitungkan sebagai persyaratan untuk mengikuti Olimpiade Guru Nasional (OGN) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Akan tetapi, apabila karya ini belum sesuai dengan harapan Tim Penilai, penulis dengan lega hati menerima dan berusaha memperbaikinya.
Atas upaya ini, penulis ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi JawaTengah,
2. Kepala SMK Negeri 1 Sukoharjo, Wonosobo, tempat penulis mengabdi,
3. Seluruh rekan guru yang tidak penulis sebutkan satu-persatu yang telah memberikan apresiasi dan dorongan.
Demikian pengantar ini, penulis sampaikan. Penulis sangat berharap tulisan ini dapat diperhitungan untuk masuk atau memenuhi syarat lomba.
Penulis,
DAFTARISI
HALAMAN JUDUL...i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ...3
C. Tujuan...3
D. Manfaat... 4
BAB II KAJIANTEORI A. Menulis Cerita Pendekdan Jiwa Nasionalisme ………..5
B. Media Pembelajaran Bahasa Indonesia... 8
BAB III PEMBAHASAN A. Hubungan Menulis Cerpen dengan Jiwa Nasionalisme siswa...………. 12
B. Strategi strategi pembelajaran menulis cerpen dengan media kacrit untuk meningkatkan jiwa nasionalisme siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia………. 14
BAB IV SIMPULAN 19
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Nasionalisme merupakan manifestasi sikap mental dan kepribadian yang lahir dari budaya dan karakter budaya bangsa Indonesia. Nasionalisme hakikatnya adalah keinginan untuk hidup bersama dan keinginan untuk eksis bersama, bertumpu pada kesadaran adanya jiwa dan prinsip spiritual yang berakar pada kepahlawanan yang tumbuh karena kesamaan penderitaan dan kemuliaan di masa lalu.
Pelaku kasus-kasus yang mengoyak jiwa nasionalisme sebagian besar dilakukan oleh warga Indonesia. Terorisme, separatisme, peredaran narkotika, korupsi, berita-berita hoax telah mengancam NKRI. Semangat nasionalisme yang di dalamnya terdapat unsur kesadaran berbangsa dan bernegara, kecintaan terhadap tanah air, keyakinan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai ideology, falsafah, dan dasar Negara, kerelaan berkorban bagi bangsa dan Negara, serta kemampuan awal bela negara sudah mulai luntur dalam kehidupan bernegara.
Dalam dunia pendidikan pun sering kita jumpai perilaku siswa yang enggan dan kurang menghayati upacara bendera, kurang mengenal pahlawan bangsa, tidak hapal sila dalam Pancasila, dan tidak bisa menyayikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Indikator sederhana ini merupakan cermin menurunnya nilai nasionalisme siswa. Perkembangan teknologi informasi yang masif pun menambah problematika di kalangan siswa. Paham-paham radikal, budaya, dan isu-isu SARA yang bertentangan dengan nilai-nilai nasionalisme dan karakter bangsa bebas diakses di dunia maya sehingga dapat memberi dampak negatif terhadap pemahaman siswa karena kurangnya referensi keilmuan dan pengalaman hidup.
Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Tujuannya untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Peraturan pemerintah untuk mengatasi penurunan karakter peserta didik tertuang dalam Permendikbud nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pada pasal 5 ayat (4) disebutkan bahwa kegiatan kokurikuler
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya dan/atau bentuk lain untuk penguatan karakter peserta didik. Permendikbud ini diperkuat dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan PendidikanKarakter yang disingkat PPK.
Perpres Nomor 87 tahun 2017 menjadi dasar pengintergrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran yang tertuang dalam pasal 6 ayat (1) Penyelenggaraan PPK pada Satuan Pendidikan jalur Pendidikan Formal sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf a angka1 dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan (a) Intrakurikuler; (b) Kokurikuler (c) Ekstrakurikuler. Selanjutnya dalam pasal 7 ayat (1) memberikan ketegasan bahwa penyelenggaraan PPK dalam kegiatan Intrakurikuler merupakan penguatan nilai-nilai karakter melalui kegiatan penguatan materi pembelajaran, metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
Salah satu upaya menumbuh kembangkan nilai-nilai dan semangat nasionalisme dan karakter bangsa melalui jalur pendidikan dilaksanakan dengan strategi pengintergrasian materi nasionalisme dan karakter bangsa ke dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia materi menulis cerpen menggunakan media kacrit (kartu cerita).
pembiasaan, sarana, dan dampak teknologi menjadi penyebab kemerosotan kondisi tersebut. Dibutuhkan terobosan-terobosan kreatif agar kondisi ini tidak semakin terpuruk. Modifikasi media dan metode pembelajaran perlu dikembangkan untuk mengatasi permasalahan siswa ini.
Pemilihan media kacrit dimaksudkan mempermudah siswa menuangkan ide dalam bentuk tulisan dengan mudah dan menyenangkan. Hambatan-hambatan siswa ketika menulis cerita pendek akan terbantukan dengan menggunakan media kacrit ini.
Cerpen sebagai sebuah karya sastra berjenis prosa berfungsi mentransfer nilai-nilai kehidupan termasuk nilai-nilai nasionalisme dan karakter bangsa. Pembelajaran penulisan cerpen (sastra) mendorong siswa ikut merenungkan masalah hidup dan kehidupan. Oleh karena itu, kesastraan pada umumya, sering dianggap dapat membuat manusia menjadi lebih arif, atau dapat dikatakan sebagai “memanusiakan manusia” (Nurgiyantoro, 2000:4).
B. RumusanMasalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut :
1. Bagaimana hubungan pembelajaran menulis cerita pendek dengan peningkatan nilai nasionalisme siswa?
2. Bagaimana strategi pembelajaran menulis cerpen dengan media kacrit untuk meningkatkan jiwa nasionalisme siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia?
C. Tujuan
Tujuan penulisan artikel ini :
1. Mengetahui hubungan antara pembelajaran menulis cerpen dengan peningkatan nilai nasionalisme siswa.
D. Manfaat
1. Manfaat bagi Peserta Didik
a. Peserta didik turut terbimbing dan terarahkan sesuai dengan problematika yang dihadapi
b. Peserta didik di satuan pendidikan dapat semakin ditingkatkan karakter jiwa nasionalismenya.
2. Manfaat bagi Guru
a. Guru dapat memahami setiap teknik yang digunakan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme.
b. Guru dapat terbantu dalam penyelesaian problematika peserta didik terkait peningkatan karakter jiwa nasionalisme.
3. Manfaat bagi Satuan Pendidikan dan Masyarakat
a. Satuan pendidikan dan masyarakat dapat terbantu oleh guru bahasa Indonesia terkait penanganan kasus lemahnya jiwa nasionalisme. b. Satuan pendidikan dapat meningkatkan karakter peserta didik pada
BAB II KAJIAN TEORI
A. Menulis Cerita Pendek dan Jiwa Nasionalisme
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang harus dikembangkan secara dini mulai dari pendidikan dasar denga cara metodis dan sistematis. Tanpa pembinaan secara metodis dan sistematis sulit keterampilan ini dimiliki. Padahal, kemampuan menulis secara efektif sangat diperlukan siswa, tidak saja sebagai sarana belajar di sekolah, tetapi yang lebih penting lagi, keterampilan berbahasa tulisan ini sangat penting dalam menunjang aktivitas kehidupan siswa.
Menulis merupakan suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Dalam pengertian ini, menulis mempunyai tiga aspek utama. Yang pertama, adanya tujuan atau maksud tertentu yang hendak dicapai. Kedua, adanya gagasan atau sesuatu yang hendak dikomunikasikan. Ketiga, adanya sistem pemindahan gagasan itu, yaitu berupa sistem bahasa (Semi, 1995:16).
Dalam bukunya yang berjudul Keterampilan Berbahasa (Membaca dan Menulis) yayasan Pena Banda Aceh , 2010 halm. 99-100 bukhari menyatakan
menulis suatu kegiatan memyampaikan ide, pesan, gagasan kepada pembaca dengan menggunakan huruf, kata, frasa, dan kalimat, dan aturan-aturan yang berlaku dalam sebuah bahasa. Jadi, dalam kegiatan menulis atau mengarang, penulis menggunakan bahasa untuk menyatakan isi hati dan pikirannya secara menarik dan mengena pada pembaca. Dalam komunikasi secara tertulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat di dalamnya. Keempat unsur tersebut adalah: (1) Penulis sebagai penyampai pesan, (2) Pembaca sebagai penerima pesan, (3) Isi yang terkandung dalam tulisan, dan (4) Saluran atau medium dalam bentuk tulisan.
Leonhardt (2002:19-27) menyatakan sepuluh alasan mengapa gemar menulis itu penting. (1) menumbuhkan rasa suka, (2) ketelitian, (3) kemandirian, (4) fokus, (5) terampil, (6) rajin dan tekun, (7) pemahaman masalah, (8) unggul, (9) manajemen emosi, (10) kerja keras.
Cerita pendek sesuai dengan namanya, memperlihatkan sifat yang serba pendek, baik peristiwa yang diungkapkan, isi cerita, jumlah pelaku, tema tunggal, plot terbatas, latar tidak terlalu detail. Perbandingan ini jika dikaitkan dengan bentuk prosa yang lain, misalnya novel. Cerita pendek atau sebagian orang menyamakan dengan novela adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan memberikan kesan tunggal yang dominan (Sujiman, 2000:15)
Dalam menulis sebuah cerpen, ada hal-hal yang harus dicermati yaitu unsur pembangun cerpen. Unsur pembangun cerpen mencakupi tema dan amanat, penokohan, alur, latar, pusat pengisahan/sudut pandang, dan gaya cerita (Kosasih, 2009: 392-394).
(1) Tema dan Amanat
Tema adalah inti atau ide dasar sebuah cerita. Sedangkan amanat adalah ajaran moral atau pesan dikdaktis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca. (2) Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Ada dua teknik yang dapat digunakan dalam menggambarkan karakter tokoh, yaitu:
a. Teknik analitik, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang. b. Teknik dramatik, karakter tokoh dikemukakan melalui:
- Penggambaran fisik dan perilaku tokoh - Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh - Penggambaran tata kebahasaan tokoh - Pengungkapan jalan pikiran tokoh - Penggambaran oleh tokoh lain (3) Alur
Alur (plot) merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat. Secara umum jalan cerita terbagi ke dalam bagian-bagian berikut: a. Pengembangan situasi cerita (expotition)
b. Pengungkapan peristiwa (complication) c. Menuju pada adanya konflik (rising action) d. Puncak konflik (turning point)
(4) Latar
Latar (setting) merupakan salah satu unsur intrinsik karya sastra yang meliputi keadaan tempat, waktu, dan suasana. Latar tersebut bisa bersifat faktual atau imajiner.
(5) Pusat Pengisahan/Sudut Pandang
Pusat pengisahan atau sudut padang adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita. Posisi pengarang terdiri atas:
a. Berperan langsung sebagai orang pertama, sebagai tokoh yang terlibat dalam cerita yang bersangkutan.
b. Hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat. (6) Gaya Cerita
Gaya cerita (gaya bahasa) berfungsi untuk menciptakan suatu nada atau suasana persuasif, serta merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi antara sesama tokoh. Bahasa dapat menimbulkan suasana yang tepat bagi adegan yang seram, adegan cinta, ataupun peperangan, keputusasaan, maupun harapan. Oleh karena itu, penulis harus menguasai kosakata yang banyak agar cerpen yang dihasilkan tidak monoton.
Dalam Wikipedia Indonesia, sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Belajar sastra adalah salah satu keterampilan yang imajinatif dan komunikatif bagi siswa sebagai pencipta maupun penikmat sastra. Di dalamnya terdapat muatan mendidik yang tersirat dan tidak bersifat doktrin. Siswa juga bisa mencerna sesuai dengan perkembangan jiwanya dan membuatnya sangat peka terhadap karya sastra itu sendiri.
mengambil risiko, pemalas, merasa cepat kalah, belum apa-apa sudah menyerah, dan sebagainya. Kedua, karakter kuat; contohnya tangguh, ulet, mempunyai daya juang tinggi, atau pantang menyerah. Ketiga, karakter jelek; misalnya licik, egois, serakah, sombong, pamer, dan sebagainya.
Pendidikan karakter telah terindikasi dalam 18 nilai karakter yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) religious, (2) toleransi, (3) jujur, (4) kerja keras, (5) disiplin, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, (18) tanggung jawab (Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & karakter bangsa: Pedoman Sekolah, 2009:9-10).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan, kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.
Nilai-nilai nasionalisme dapat dijabarkan dalam bentuk karakter kesadaran berbangsa dan bernegara, kecintaan terhadap tanah air, keyakinan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi, falsafah, dan dasar Negara, kerelaan berkorban bagi bangsa dan Negara, serta kemampuan awal bela Negara (Pedoman Umum Pembinaan Nasionalisme melalui Jalur Pendidikan. Dinas Pendidikan Prov Jateng.2010:3).
B. Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Media bentuk jamak dari perantara (medium) merupakan sarana komunikasi. Berasal dari bahasa Latin medium (“antara”). Istilah ini merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah sumber dan sebuah penerima. Tujuan media adalah memudahkan komunikasi dan belajar.
membangkitkan semangat, perhatian, dasn kemauan siswa sehinggadapat mendorong proses pembelajaran dalam diri siswa.selain itu media secara mendasar berpotensi memnerikan peluang bagi siswa untuk mengembangkan kepribadian. Dan secara umum ciri-ciri media pembelajaran adalah media itu dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamati melalui panca indera. Di samping itu, media pembelkajaran dpat dilihat menurut harganya,lingkup sasarannya, dan kontrol oleh pemakainya. Media pembelajaran dapat digunakan untuk menciptakan komunikasiyang efektif antara guru dan siswa. Media pembelajaran dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Media pembelajaran mengandung aspek-aspek alat dan teknik yang sangat erat pertaliannya dengan metode mengajar.
Menurut Smaldino (2014: 7), ada enam kategori media, yaitu teks, audio, visual, video, perekayasa (manipulative) benda-benda, dan orang-orang. Teks merupakan karakter alfanumerik yang mungkin ditampilkan dalam bentuk apa pun, buku, poster, papan tulis, layar computer dan sebagainya. Audio mencakup apa saja yang bias anda dengarkan, suara orang, musik, suara mekanis (deru mesin mobil), suara berisik dan sebagainya. Visual meliputi diagram dalam sebuah poster, gambar dalam sebuah papan tulis putih, foto, gambar dalam sebuah buku, kartun, dan sebagainya. Video merupakan media yang menampilkan gerakan, termasuk DVD, rekaman video, animasi omputer dan sebagainya. Perekayasa bersifat tiga dimensi yang bisa disentuh dan dipegang oleh para siswa. Orang-orang, ini bisa berupa guru, siswa, atau ahli bidang studi. Orang-orang sangatlah penting bagi pembelajaran. Para siswa belajar dari guru, siswa lainnya, dan orang dewasa.
Pendidik bertanggung jawab terhadap pengaturan proses belajar mengajar yang bertujuan untuk mengarahkan penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan. Penggunaan media pembelajaran sangat berperan dalam memudahkan penguasaan kompetensi siswa. Pemilihan media pembelajaran yang tepat tentunya dapat mengoptimalkan kemampuan siswa.
pendidik berkaitan dengan pengembanagan media pembelajaran, salah satunya adanya keterbatasan dalam merancang dan menyusun media pembelajaran serta belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk membuat sebuah media.
Dalam pengembangan media pembelajaran harus mengacu pada kurikulum dalam mata pelajaran. Kriteria media pembelajaran yang baik, idealnya meliputi 4 hal utama, yaitu:
1. Kesesuaian atau relevansi, artinya media pembelajaran harus sesuai derngan kebutuhan belajar, rencana kegiatan belajar, program kegiatan belajar, tujuan belajar dan karakteristik peserta didik.
2. Kemudahan, artinya semua isi pembelajaran melalui media harus mudah dimengerti, dipelajari, aytau dipahami oleh peserta didik dan operasional dalam penggunaannya.
3. Kemenarikan, artinya media pembelajaran harus mampu menarik maupun merangsang perhatian peserta didik, baik tampilan, pilihan warna, maupun isinya. Uraian isi tidak membingungkan serta dapat menggugah minat peserta didik untuk menggunakan media tersebut.
4. Kemanfaatan, artinya isi dari media pembelajaran harus bernilai dan berguna, mengandung manfaat bagi pemahaman materi pembelajaran serta tidak mubazir atau sis-sia apalagi merusak peserta didik. (Mulyanta, 2009:3-4)
Dengan demikian media pembelajaran Bahasa Indonesia adalah alat yang digunakan oleh siswa maupun guru untuk memperlancar proses belajar mengajar bahasa Indonesia. Media pembelajaran dibuat dalam tahap persiapan pembelajaran. Menurut Kemdikbud, beberapa langkah yang harus dilakukan guru dalam persiapan pembelajaran sebagai berikut.
1. Merumuskan tujuan pembelajaran. Dalam pelaksanaan KTSP diwujudkan dalam bentuk indikator. Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh sekolah, disesuaikan dengan lingkungan setempat dan media serta lingkungan belajar yang ada di sekolah.
(evaluasi untuk memperbaiki pembelajaran), maupun sumatif (evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa).
3. Memilih materi pelajaran yang esensial untuk dikuasai dan dikembangkan dalam strategi pembelajaran. Materi mata pelajaran yang dipilih terutama berkaitan dengan prinsip, yang berisi sebuah konsep dan konten yang menjadi alat untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan siswa. 4. Berdasarkan karakteristik materi (bahan ajar) maka guru memilih strategi
BAB III PEMBAHASAN
A. Hubungan Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Peningkatan Jiwa Nasionalisme Siswa
Kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia materi menulis cerita pendek dalam kerangka pengembangan karakter peserta didik dapat menggunakan pendekatan kontekstual sebagai konsep belajar dan mengajar yang membantu guru dan peserta didik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata sehingga peserta didik mampu menghubungkan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka. Dengan begitu, dengan pembelajaran kontekstual peserta didik dapat lebih memiliki hasil yang komprehensif tidak hanya dalam ranah kognitif (olah pikir), tapi pada tataran afektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta psikomotor (olahraga).
Pembelajaran kontekstual mencakup beberapa strategi, yaitu: (a) pembelajaran berbasis masalah, (b) pembelajaran kooperatif, (c) pembelajaran berbasis proyek, (d) pembelajaran pelayanan, (e) pembelajaran berbasis kerja. Kelima strategi dapat memberikan nurturant effect pengembangan karakter peserta didik, seperti: karakter cerdas, berpikir terbuka, tanggung jawab dan rasa ingin tahu (Aqib dan Amrullah, 2017:9-10).
Pembelajaran menulis yang berbasis proyek akan lebih dihayati siswa ketika melibatkan emosi dan tingkah laku (psikomotor). Pembelajaran menulis secara konvensional membuat siswa kurang tertarik dengan keterampilan ini. Belajar menulis sastra, khususnya cerita pendek membuat siswa berhubungan dengan nilai-nilai kehidupannya. Kehidupan tokoh dan problematikanya dapat dihayati siswa secara tidak langsung. Siswa pun dapat mengambil amanat cerita yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Menulis sastra akan membuat siswa senang dan tidak tertekan karena peristiwanya sering bersentuhan dengan keseharian siswa.
Materi menulis cerita pendek berbasis karakter nasionalisme membuat Siswa dapat merasakan pengalaman belajar dengan kehidupan. Berbagai pengalaman belajar yang dapat diberikan siswa antara lain sebagi berikut.
Dalam pengalaman belajar mental ini, kegiatan pembelajaran yang dirancang dan diimplemantasikan oleh guru berhubungan aspek berpikir, mengungkapkan perasaan, mengambil inisiatif, dan mengimplementasikan nilai-nilai.
2. Pengalaman Belajar Fisik
Dalam pengalaman belajar mental ini, kegiatan pembelajaran yang dirancang dan diimplemantasikan oleh guru berhubungan dengan kegiatan fisik atau pancaindera dalam menggali sumber-sumber informasi sebagai sumber materi pembelajaran.
3. Pengalaman Belajar Sosial
Pengalaman belajar sosial merupakan pengalaman belajar yang berhubungan dengan kegiatan peserta didik dalam menjalin hubungan dengan orang lain seperti guru, peserta didik lainnya, dan sumber materi pembelajaran berupa orang atau narasumber (Wiyani, 2013: 148-149). Nilai-nilai nasionalisme yang berupa nilai, ajaran, paham, dan peraturan tidak akan berdampak pada karakter siswa manakala tidak diikuti dengan internalisasi dari hal itu. Melihat makna katanya, internalisasi mempunyai makna penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya (KBBI).
Internalisasi karakter-karakter unggul yang di dalamnya terdapat nilai-nilai nasionalisme dalam materi menulis cerpen (sastra) dapat dipraktikkan. Pengintergrasian nilai nasionalisme ke dalam pembelajaran menulis cerpen mempunyai keuntungan ganda.
Pertama, kemampuan menulis siswa menjadi meningkat.
Kedua, keberhasilan pengajaran sastra.
Ketiga, terjadi transfer nilai-nilai nasionalisme dalam kepribadian siswa.
B. Strategi Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Media kacrit untuk Meningkatkan Jiwa Nasionalisme Siswa dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Materi menulis cerita pendek dalam pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu keterampilan kebahasaan siswa, selain menyimak, berbicara, dan membaca. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diungkapkan bahwa materi diartikan ke dalam dua hal, antara lain sebagai berikut.
1. Materi diartikan sebagai benda atau bahan ataun segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata dan dapat disentuh.
2. Materi diartikan sebagai sesuatu yang menjadi bahan untuk dipikirkan, dibicarakan, dikarang, dan diuji.
Kemudian secara istilah, An Nahlawi dalam Asifudin (2010: 119) mengungkapkan bahwa materi pembelajaran merupakan bahan berupa pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam memenuhi kompetensi yang telah ditetapkan.
Pembelajaran menulis cerpen berbasis karakter kebangsaan dengan media kacrit (kartu cerita) merupakan terobosan pembelajaran menulis yang
menyenangkan yang sarat dengan muatan nilai nasionalisme. Nilai-nilai nasionalisme yang berisi karakter kesadaran berbangsa dan bernegara, kecintaan terhadap tanah air, keyakinan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi, falsafah, dan dasar Negara, kerelaan berkorban bagi bangsa dan Negara, serta kemampuan awal bela Negara.
Adapun jabaran nilai-nilai nasionalisme dalam Pedoman Umum Pembinaan Nasionalisme melalui Jalur Pendidikan sebagai berikut.
1. Kesadaran Berbangsa dan Negara Karakter meliputi kesadaran: a. Sebagai bangsa Indonesia. b. Cita-cita dan tujuan.
c. Hak dan kewajiban sebagai warga Negara.
d. Hakikat Negara Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
g. Kebhineka tunggal ikaan bangsa dan kebudayaan Indonesia. h. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia, serta
i. Simbol-simbol Negara. 2. Kecintaan terhadap Tanah Air
Karakter meliputi:
a. Lagu-lagu perjuangan dan lagu yang bertemakan nasionalisme. b. Menjaga dan merawat lingkungan.
c. Kebanggaan atas potensi sumber daya yang dimiliki bangsa Indonesia serta berupaya merawat, mengolah, dan menjaganya. d. Menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa melalui prestasi
baik di sekolah maupun di masyarakat, serta
e. Ikut serta menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidup. 3. Keyakinan pada Pancasila Sebagai Ideologi, Dasar, dan Falsafah
Negara
Karakter meliputi:
a. Pancasila sebagai pandangan hidup, dasar Negara, dan ideology Negara.
b. Lagu kebangsaan Indonesia Raya. c. Hari-hari besar agama dan nasional. d. Nilai-nilai kepahlawanan.
e. UUD 1945dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Kerelaan Berkorban untuk Bangsa dan Negara
Karakter meliputi:
a. Kesetiakawanan sosial dan solidaritas nasional. b. Kejujuran, keadilan, dan rasa tanggung jawab. c. Pola hidup sederhana.
d. Keuletan, tahan uji, dan pantang menyerah. e. Rajin belajar dan giat bekerja.
Media kacrit mengintergrasikan antara pembelajaran menulis cerita pendek dengan muatan-muatan karakter kebangsaan yang berisi nilai-nilai nasionalisme. Nilai-nilai ini dituangkan dalam bentuk gambar/foto yang ditempelkan di kartu. Dalam KBBI, kartu bermakna kertas tebal, berbentuk persegi panjang (untuk berbagai keperluan, hampir sama dengan karcis). Jadi, media kacrit adalah media berbentuk kartu gambar/foto yang berisi peristiwa-peristiwa yang menggambarkan nilai-nilai nasionalisme.
Sadiman (2002: 29) mengemukakan bahwa gambar adalah media yang paling umum dipakai dan merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana-mana serta gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.
Bentuk ekspresi tersebut dalam fakta gambar/foto bukan dalam bentuk bahasa. Pesan yang tersirat dalam gambar tersebut dapat dinyatakan kembali dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Penerjemahan pesan dari bentuk visual ke dalam bentuk kata-kata atau kalimat sangat tergantung pada kemampuan imajinasi siswa.
Kemampuan verbal siswa yang berbentuk tulisan akan terasah seiring dengan kemampuan nonverbal siswa dengan daya imajinasi dan kreativitasnya. Visualisasi kacrit yang menarik akan merangsang daya pikir siswa dan secara tidak langsung menyerap nilai-nilai nasionalisme dalam rekaman peristiwa gambar tersebut.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana siswa dengan sebebas-bebasnya mengekspresikan kemampuannya belajar sastra (menulis cerpen) dengan menyenangkan sekaligus dapat menyerap nilai-nilai nasionalisme.
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa kacrit (kartu cerita) adalah gambar/foto yang mempunyai urutan kejadian yang memiliki satu kesatuan cerita yang bermuatan nilai-nilai nasionalisme. Kacrit juga dapat melatih siswa mempertajam imajinasi yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Semakin tajam daya imajinasi siswa, akan semakin berkembang pula siswa dalam melihat dan membahasakan sebuah gambar.
Melalui media kacrit diharapkan siswa dapat mengalami perubahan pengalaman pembelajaran menuju ke arah pembelajaran yang menyenangkan dengan muatan karakter kebangsaan. Keunggulan dari solusi yang ditawarkan oleh penulis adalah sebagai berikut ;
1. Sifatnya konkret, gambar/foto lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
2. Gambarnya dapat membatasi batas ruang waktu. Tidak semua benda, objek atau tempat dapat dibawa ke kelas, dan tidak semua siswa bisa dibawa ke objek/tempat tersebut.
3. Media gambar/foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.
4. Media gambar/foto dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja.
5. Berbiaya rendah dan digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus, bahkan menggunakan barang-barang bekas.
Adapun langkah-langkah menulis cerpen menggunakan media kacrit ini, sebagai berikut.
1. Guru memperlihatkan kacrit berisi peristiwa yang menggambarkan nilai-nilai nasionalisme kepada siswa. Kegiatan ini bisa dilakukan secara berkelompok. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dari menulis cerpen. 2. Guru menyediakan 5 (menyesuaiakan jumlah kelompok) amplop berisi
kacrit di mana gambar itu sudah diberi nomor dan ketua dari tiap-tiap
3. Sebelum membuka amplop yang berisi kacrit terlebih dahulu guru menjelaskan unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen kemudian siswa diberi petunjuk cara pengerjaan.
4. Siswa diberi waktu 25 menit untuk menganalisis, mencari tema, menemukan topik permasalahan, membuat alur dan memilih diksi yang tepat sesuai kacrit yang dibagikan oleh guru.
5. Guru dan siswa berdiskusi mengenai hal-hal yang dianggap sulit, nilai- nilai nasionalisme, hal-hal menarik serta pendapat siswa mengenai media kacrit ketika menulis cerpen dengan menggunakan media kacrit.
6. Salah satu perwakilan kelompok mewakili kelompoknya membacakan hasil menulis cerpen ke depan kelas.
7. Guru memberikan apresiasi pada siswa yang judul cerpen serta tema cerita yang menarik dengan cara memberian tepuk tangan kata-kata motivasi. 8. Guru dan siswa melakukan refleksi dengan cara bertanya jawab serta
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan akan membantu siswa mengembangkan dan mencapai kompetensinya dengan maksimal. Pemilihan media yang tepat dan menarik akan menambah motivasi belajar siswa meningkat. Dengan pembelajaran yang utuh dan menyeluruh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dapat berkembang dengan pesat.
Pembelajaran dengan mengintergrasikan materi pelajaran dengan karakter nasionalisme membutuhkan kemasan yang menarik agar transfer karakter unggul dapat berjalan dengan baik dan menyenangkan. Kreativitas seorang guru sangat dibutuhkan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Dalam kegiatan menulis kreatif hendaknya guru memperhatikan siswa dan menciptakan pengajaran yang kreatif, inovatif dan menyenangkan pada siswa. Salah satunya dengan penggunaan media kacrit (kartu cerita) di mana media ini berusaha untuk menggali imajinasi dan memancing siswa untuk lebih kreatif dalam menulis tema, topik, alur, serta pemilihan diksi yang sesuai dengan tema cerita.
DAFTAR PUSTAKA
Aa Gym. 2006. Saya Tidak Ingin Kaya tapi Harus Kaya. Bandung: Khas MQ. Angkowo, robertus dan Kosasih, A. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran.
Jakarta: Grasindo.
Asifudin, Ahmad Janan. 2010. Mengungkit Pilar-Pilar Pendidikan Islam: Tinjauan Filosofis. Yogyakarta. Suka Press.
Aqib, Zainal dan Amrullah, Ahmad. 2017. Pedoman Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.Yogyakarta: Gava Media.
Bukhari. 2010. Keterampilan Berbahasa (Membaca dan Menulis). Banda Aceh: Yayasan Pena.
Depdiknas. 2007. Panduan pengembangan mata pelajaran muatan local. Jakarta: Depdiknas.
Dinas Pendidikan Pemprov Jateng. 2010. Pedoman Umum Pembinaan Nasionalisme melalui Jalur Pendidikan.
Dinas Pendidikan Pemprov Jateng. 2010. Pedoman Umum Pengintergrasian Materi Nasionalisme dan Karakter Bangsa melalui Ekstrakurikuler.
Dinas Pendidikan Pemprov Jateng, 2010. Pedoman Teknis Pembinaan Nasionalisme dan Karakter Bangsa melalui Ekstrakurikuler SMA.
Dirjen Pendidikan Menengah Kemendiknas. 2012. Pembinaan Karakter Bangsa dan Bela Negara bagi SMK Tingkat Nasional.
Hidayatulloh, Furqon. 2009.Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Kosasih, E. 2009. Bahasa Indonesia Untuk SMA/MA, Ringkasan Materi X, XI, dan XII. Bandung: Yrama Widya.
Leonhardt, Mary. 2002. Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis. Bandung: Kaifa.
Mulyanta dan Leong, Marlon. 2009. Tutorial Membangun Multimedia Interaktif Media Pembelajaran. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya.
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan PendidikanKarakter yang disingkat PPK.
PP no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Sahlan, Asmaun dan Prastyo, angga Teguh. 2014. Desain Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter. Yogyakarta: AR-RUZ Media.
Semi, M. Atar. 1995. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Mugantara. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Smaldino, Sharon E. Lowhter, Deborah L dan Russel, James D. Teknologi
Pembelajaran dan Media untuk Belajar. 2014. Jakarta: Prenadamedia
group.
Sujiman, Panuti. 1990. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: penerbit Universitas Indonesia.
LAMPIRAN 1
KACRIT 1 BERISI NILAI MENJAGA DAN MERAWAT LINGKUNGAN
KACRIT 3 BERISI NILAI RAJIN BELAJAR