Yudha Prasetya Christianto 111211132089
Psikologi Humanistik Universitas Airlangga
Pandangan Spiritualitas dan Religiusitas dan Psikologi Humanistik
Psikologi Humanistik adalah satu aliran yang termasuk mempercayai banyak hal terkait dengan kesejahteraan menjadi manusia seutuhnya dan dapat bersahaja dengan sekitarnya. Tidak tertutup pula bahwa ada juga yang memperkuat statement dimana tingkat spiritualitas manusia di dalamnya juga sangat penting. Pernyataan ini menjadi kuat oleh hasil penelitian dari Elkins, Lipari, Kozora terhadap APA (American Psychological Association) dan beserta 32 Divisi Psikologi Humanistik. Yang dimana dari data survey tersebut menyebutkan hasil sebagai berikut : 77% mengatakan bahwa mereka menyetujui jika spiritualitas itu penting dan bahkan sangat penting bagi kehidupan mereka sehari hari. 75% meyebutkan bahwa mereka percaya terhadap hubungan transendental dan hubungan yang lebih semacam kekuatan dari dalam. Dan 43% juga menyatakan bahwa mereka lebih memiliki ikatan personal dan kepercayaan terhadap Dewa/Tuhan.
kita sebagai awam atau istilahnya belum tahu tentang bagaimana jalan keterkaitan psikologi humanistis terhadap isu spiritualitas dan religiusitas tersebut, dan atau bahkan tidak paham apa yang orang-orang ini pikirkan sehingga mencetuskan kalimat seperti tersebut. Mungkin sebelum penjelasan secara gamblang dan panjang serta membosankan yang akan saya tulis, yang perlu diketahui adalah berikut ini merupakan sebuah tulisan atas perspektif penulis pribadi, karena apa yang saya pikirkan adalah yang membuat saya tetap kritis dalam sesuatu hal. Nah dan kali ini topik dari tulisan berikut juga merupakan interpretasi saya pribadi atas dasar penalaran yang sebiasanya dan tanpa melebih-lebihkan. Pemilihan topik pun saya sadari bahwa ini adalah bahasan yang bakal menarik untuk diangkat dan dimaknai. Saran dan masukan yang tepat adalah bagaimana menyikapi tulisan berikut ini bahwa sebenarnya ini terlepas dari isu atau fakta yang terjadi terhadap khalayak di dunia nyata atau dengan ini yang saya maksud adalah lembaga atau komunitas atau personal dengan “Teis” yang menganggap tulisan berikut adalah dalang anarki, pemberontakan, penolakan atau apapun, dan yang perlu diketahui adalah inti dari tulisan ini bukan untuk memperolok, menjelek-jelekan, bahkan menginjak martabat kaum beragama sekalian. Ini hanya murni pemikiran saya dan apa yang dituliskan di halaman ini itulah yang saya alami dan jalani
Pentingnya Spiritualitas
pokok pemikiran yang istilahnya dapat berperan penting terhadap kelompok dan bahkan person. Pertama-tama adalah untuk mengerti Spiritualitas. Sejatinya spiritualitas sendiri menurut peikiran saya pribadi adalah satu State/kondisi untuk manusia dapat mencapai tingkatan yang lebih mempunyai makna tersendiri, atau dalam bahasanya yang lebih sederhana spiritualitas adalah bagaimana cara manusia untuk bisa/dapat sampai ke titik puncak pencapaian yang diinginkan. Jika sudah memahami tentang pengartian maka yang selanjutnya adalah bagaimana atau kapan bisa terjadi kondisi seperti itu. Pertama yang harus diketahui adalah spiritualitas tiap person adalah berbeda dari segi pencapaian dana pemaknaan, maka yang mendasari sebuah kondisi tersebut adalah tingkatan destinasi dan capaian atas person itu sendiri.
bawahi adalah kata demi kata yang saya tulis sejatinya untuk ajang merefleksikan atas apa yang saya alami dan maknai, mohon maaf jika kurang cocok juga akan topik ini maka dapat segera meninggalkan tulisan ini.
Sesuatu yang ganjil terhadap pemikiran saya adalah bagaimana orang dapat menyikapi tingkat spiritualitas atau bahkan religiusitas seseorang dengan cara dan pendekatan yang hanya kasa mata saja dan yang lebih membuat risih adalah apapun ucapan dan perilaku serta tindak tanduk kita berikan dan tunjukkan seakan tidak bermakna babi mereka yang tergolong “agamis” tersebut. Yang menjadi tolak ukur sebenarnya bukan masalah apa yang dianut tetapi apa yang mereka alirkan untuk orang supaya dapat memahami bahwa merekalah yang sebenar-benernya dengan mengesampingkan yang lain. Baik, berarti dalam bahasan kali ini saya akan membahas tentang religiusitas yang saya alami dan keterkaitannya terlebih dahulu.
dalam perdebatan ataupun bahkan dalam perwakilan tulisan ini. Jadi karena keterbatasan pemikiran, nalar dan serta interpretasi saya yang kurang pintar maka salahkanlah saya. Tetapi memang saya rasa kadang bahwa yang namanya orang beribadah itu tidaklah harus dipaksa dan memaksa, karena saya pikir itu adalah sebuah anjuran dan penawaran dan bukannya paksaan. Menanggapi orang yang sering mendakwahi tentang satu ajaran, padahal yang saya pikir hanya “kasihan kamu, kenapa kamu tunjukkan, agama adalah kebutuhanmu, belum tentu sama dengan kebutuhanku”. Statement tersebut bukan menunjukkan bahwa saya bukan orang yang tak beragama, saya akui saya beragama tetapi bukan umat yang rajin dan patuh, dan bisa dibilang patuh dengan jalannya sendiri. Karena pengertian tentang religiusitas yang saya amalkan sebenarnya adalah mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dan dengan demikian amal perbuatan dan hal-hal lainnya.
Namun setelah itu ada beberapa kejadian di atas, yang saya rasakan benar adalah ketika membuka mata adalah saat dimana biasa menyapa teman, bisa mengerjakan pekerjaan / tugas, dapat mengerndarai motor untuk pergi hampir kemanapun saya inginkan, lalu yang paling berasa adalah disaat saya menunaikan hobi untuk menggambar. Contoh – contoh diatas mungkin terlihat sepele dan sering diabaikan dari berbagai fungsi dan mencoba untuk memaknai hal-hal kecil tersebut sebenarnya sangat dalam dan seperti melebihi yang pernah jiwa kita rasakan.
Padahal pasalnya bahwa itu adalah hal sehari-hari yang menurut saya pribadi awalnya juga membosankan dan terkesan monoton, tetapi setelah melalui pemaknaan yang berulang-ulang sebernarnya ada rasa yang sengaja ditimbulkan untuk melepaskan hasratnya pada satu kegiatan yang monoton tersebut dan membawanya lebih dalam. Dan di luar itu, kita sebagai raga merasakan sensasi yang benar-benar berbeda dari sebelumnya karena adanya pemaknaan yang mendasar tersebut dan memang pengaitan antara unsur spiritualitas dalam kehidupan sehari- hari bagi saya pribadi memang besar dan sangat membantu sekali untuk bisa merasakan hidup yang Bear-benar hidup. Lalu bagaimana dengan religiusitas?. Hal tersebut juga berperan tak kalah penting di dalam keseharian saya, sebagai umat pemeluk agama, saya mengetahui kondisi religiusitas benar-benar saya pegang teguh dan memang merasakan perbedaan dan serta manfaatnya.
benafas atau energi kehidupan. Dalam bahasa Latin disebut anima, di Yunani disebut psyche. “’Soul’ si not a Hing baut [rather] a quality or a dimension of experiencing Life Ana ourselves. It has do do Alt depth, value, relatedness, heart, Ana personal substance”,Moore(1992). Jadi apa yang kita rasakan sebenarnya untuk masuk ke dalam spiritualitas adalah bagaimana kita mengajak seluruh dari kita untuk bisa mengikuti alur yang ditawarkan atau kita mau dan benar-benar meresapi dengan penuh makna. Dengan kata lain jiwa juga turut berperan penting terhadap diri kita untuk mencapai kondisi spiritualitas yang tinggi yang dilajutkan pada urusan religiusitas.