• Tidak ada hasil yang ditemukan

tata cara dakwah dan faktor faktor penun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "tata cara dakwah dan faktor faktor penun"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Komunikasi Strategi dan Dakwah

Tata Cara Pelaksanaan Dakwah dan Faktor-Faktor Penunjangnya

Disusun Oleh:

Yume Sacharias Pramudhana

▸ Baca selengkapnya: bagaimana cara berdakwah yang tepat pada era yang serba canggih ini, jika dikaitkan dengan keteladanan, cara dakwah yang dilakukan walisanga

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perhatian terhadap kebutuhan masyarakat akan jasmani harus seimbang dengan

kebutuhan rohani. Oleh karenanya kontribusi dakwah dirasa perlu untuk memperbaiki

dan menjaga kualitas mental dan karakter dengan menggalakkan kegiatan-kegiatan

positif berupa pendidikan yang membangun kesadaran masyarakat dalam hidup

beragama, berbangsa dan bernegara. Kontribusi dakwah dapat dilakukan dalam berbagai

macam bentuk, salah satunya adalah dengan melakukan analisis keagamaan dengan

masalah-masalah sosial, politik, ekonomi, budaya. Apabila konteks perjuangan yang

dilakukan pemuda pada masa penjajahan adalah mendapatkan kemerdekaan, maka yang

harus dilakukan pemuda saat ini adalah berjuang untuk menumpas kebodohan untuk

membentuk pribadi yang unggul dan siap bersaing dimasa yang akan datang. Karena

sebuah negara akan maju jika masyarakatnya peka akan isu-isu yang terjadi disekitarnya

yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.

Untuk membentuk pribadi yang unggul, pemenuhan kebutuhan jasmani dan

rohani harus seimbang. Apabila kebutuhan jasmani seseorang berupa pendidikan untuk

hidup bermasyarakat dan bekerja untuk bertahan hidup maka kebutuhan rohani berupa

kasih sayang yang bisa didapat dari orang-orang terdekat dan ketenangan hati yang

didapat dengan berlindung kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, pengetahuan

tentang agama juga diperlukan untuk dapat beribadah dengan benar serta menjaga

kualitas diri untuk tetap menjadi khalifah yang baik.

Di masa sekarang, kebutuhan jasmani dirasa lebih penting daripada kebutuhan

(3)

dakwah perlu digalangkan kembali. Aktifitas dakwah pada awalnya hanyalah merupakan

tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang diterima Rasulullah

SAW,walau hanya satu ayat.

Hal ini dapat di pahami sebagaimana yang di tegaskan oleh hadits Rasulullah

SAW : “Balighu ‘anni walau ayat”. Inilah yang membuat kegiatan atau aktifitas dakwah

boleh dan harus dilakukan oleh siapa saja yang mempunyai rasa keterpanggilan untuk

menyebaekan nilai-nilai islam.

Oleh karena itu aktivitas dakwah memang harus berangkat dari kesadaran pribadi

yang di lakukan oleh orang per orang dengan kemampuan minimal dari siapa sajayang

dapat melakukan dakwah. Kegiatan dakwah sering di geluti oleh para da’i dan da’iyah

secara tradisional secara lisan dalam bentuk ceramah dan pengajian.

Yang mana para da’i berpindah dari satu majelis ke majelis yang lainnya. Akan

tetapi berkembangnya zaman dakwah saat ini tidak lagi dilakukan secara tradisional.

Dakwah sekarang sudah menjadi suatu profesi yang menuntut skill,planning dan

manajemen handal. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Ali-Quran surat

Al-Imron ayat 104 :

Atrinya : “dan hendaklah ada diantara kamu, satu golongan yang mengajak

(manusia) kepada kebijakan, dan menyuruh mereka melakukan yang baikdan mencegah

mereka dari perbuatan mungkar dan mereka itulah orang - orang yang berhasil”.

Ali-Imron:104.

Memahami esensi dari makna dakwah itu sendiri, kegiatan dakwah sering

dipahami sebagai upaya untuk memberikan solusi Islam terhadap masalah dan

kehidupan. Untuk itu dakwah harus dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas.

(4)

kontekstual menjadi bagian stategis dan kegiatan dakwah itu sendiri. Untuk lebih

jelasnya akan dibahas di bab selanjutnya mengenai metode dakwah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara berdakwah menurut Al-Quran? 2. Bagaimana aplikasi dakwah Rasullulah?

3. Apa saja hambatan dan keberhasilan dakwah?

C. Tujuan

1. Mengetahui objek material dakwah

2. Mengetahui tentang bagaimana cara berdakwah menurut Al-Quran 3. Mengetahui hambatan-hambatan dalam berdakwah

(5)

BAB II PEMBAHASAN

Salah satu arti dakwah adalah usaha atau aktifitas dengan lisan atau tulisan dan

lainnya yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan

mentaati Allah SWT sesuai dengan garis-garis akida syariat serta akhlak islamiyah. Dalam

pelaksanaan dakwah ini, selayaknya harus mengetahui metode-metode dalam

penyampaiannya, yang mana Al-Quran telah mengisyaratkan sebagai tuntunan dalam metode

tersebut.

Dalam menerangkan cara-cara berdakwah tersebut, Allah SWT berfirman:

هليبس نع لض نمب ملعا وه كبر نإ نسحا يه يتلااب مهلداجو ةنسحلا ةظعوملاو ةمكحلااب كبر ليبس يلإ عدا

:لحنلا نيدنهملااب ملعا وهو} 125

{

“Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik, Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan ia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa seorang juru dakwah harus memperhatikan

metode-metode tersebut sehingga visi dan misi dalam berdakwah dapat tercapai, yang mana

susunan metode tersebut disajikan sebagai acuan dalam berdakwah sesuai kondisi dan situasi.

Dari segi bahasa kata metode berasal dari dua perkataan yaitu “meta“ yang berarti melalui

dan “hodos“ yang berarti jalan/ cara (Arifin, 1991). Dengan demikian dapat artikan bahwa

metode adalah cara atau jalan yang harus di lalui untuk mencapai suatu tujuan. Sumber yang

lain menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa Jerman methodica artinya ajaran tentang

metode. Sedangkan metode dakwah menurut Albayunni adalah cara-cara yang ditempuh

(6)

tersebut ada beberapa karakter yang melekat dalam metode dakwah, yaitu metode dakwah

merupakan cara-cara sistematis yang menjelaskan arah strategi dakwah yang telah

ditetapkan. Peranan metode dakwah sangat penting dalam penyampaian dakwah. Metode

yang tidak benar, meskipun materi yang disampaikan baik,maka pesan yang baik

tersebut bisa ditolak. Pendakwah harus teliti dan bijak dalam memilih metode, karena

metode sangat mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan dakwah.

A. Cara Berdakwah Menurut Al-Quran

Metode dakwah dalam Alquran salah satunya merujuk pada surat An

Nahl ayat 125:

لللضل ننملبب ممللعنأل ولهم كلبللرل نللإب نمسلحنأل يلهب يتبلللابب منهملندباجلول ةبنلسلحللنا ةبظلعبونمللناول ةبملكنحبلنابب كلبلبرل لبيببسل ىىللإب عمدن

نليدبتلهنمملنابب ممللعنأل ولهمول هبلبيببسل ننعل

Yang artinya: “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah

dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang

tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang

mendapat petunjuk”.

Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa metode dakwah itu

meliputi tiga cakupan, yaitu:

a. Metode Bi Al Hikmah

Hikmah secara bahasa memiliki beberapa arti: al-‘adl,

al-ilm,al-Hilm,al-Nubuwah, al-Qur’an, al-injil, al-Sunnah dan lain sebagainya. Hikmah juga diartikan al-‘llah, atau alasan suatu hukum, diartikan juga al-kalam atau

ungkapan singkat yang padat isinya.Seseorang disebut hakim jika dia

(7)

Dalam bahasa komunikasi hikmah menyangkut apa yang disebut

sebagai frame of reference, field of reference dan field of experience, yaitu

situasi total yang mempengaruhi sikap terhadap pihak komunikan (obyek

dakwah). Dengan kata lain al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan

komunikasi yang dilakukan atas dasar persuasife. Karena dakwah bertumpu

pada human oriented, maka konsekuensi logisnya adalah pengakuan dan

penghargaan pada hak-hak yang bersifat demokratis, agar fungsi dakwah yang

utama adalah bersifat informatif.

Abduh mengatakan bahwa hikmah adalah ilmu yang sahih (valid)

yang menggerakkan kemauan untuk melakukan suatu perbuatan yang

berguna (Natsir, 1966). Bahkan hikmah bukan semata ilmu, tetapi juga

ilmu yang sehat yang mudah dicerna, berpadu dengan rasa perisa, sehingga

menjadi penggerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, yaitu sesuatu

tindakan yang efektif.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat dipahami bahwa al Hikmah

adalah kemampuan dan ketepatan dalam memilih, memilah dan

menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u. al Hikmah

merupakan kemampuan dai dalam menjelaskan doktrin-doktrin Islam serta

realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif.

Oleh karena itu al Hikmah sebagai sebuah sistem yang menyatukan

antara kemampuan teoritis dan praktis dalam berdakwah.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Hikmah

dalam dunia dakwah mempunyai posisi yang sangat penting, yatu dapat

menentukan sukses tidaknya dakwah. Dalam menghadapi mad’u yang

(8)

dai memerlukan Hikmah, sehingga ajaran Islam mampu memasuki ruang

hati para mad’u yang tepat. Oleh karena itu, para dai dituntut untuk

mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar

belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima dirasakan sebagai sesuatu

yang menyentuh dan menyejukkan hatinya.

Dai yang sukses biasanya juga berangkat dari kepiawaiannya

dalam memilih kata, mengolah kalimat dan menyajikannya dalam

kemasan yang menarik. Hikmah berjalan pada metode yang realistis

(praktis) dalam melakukan suatu perbuatan. Maksudnya, ketika seorang

dai akan memberikan ceramahnya pada saat tertentu, haruslah selalu

memperhatikan realitas yang terjadi di luar, baik pada tingkat intelektual,

pemikiran, psikologis, maupun sosial. Semua itu menjadi acuan yang harus

dipertimbangkan.

Dengan demikian, jika Hikmah dikaitkan dengan dakwah akan

ditemukan bahwa Hikmah merupakan peringatan kepada juru dakwah

untuk tidak menggunakan satu bentuk metode saja. Sebaliknya, mereka harus

menggunakan berbagai macam metode sesuai dengan realitas yang dihadapi

dan sikap masyarakat terhadap agama Islam.

Jadi cara-cara yang diterapkan dalam metode dakwah bi al hikmah

adalah

 Memilih metode yang sesuai untuk diterapkan pada situasi dan kondisi

yang tepat, karena sering kali suatu metode hanya sesuai untuk situasi

tertentu dan untuk menghadapi kondisi tertentu saja, namun tidak sesuai

pada kondisi yang lainnya. Untuk menghadapi kondisi emosional harus

(9)

untuk kondisi yang rasional, demikian juga metode empirik hanya bisa

dipakai pada kondisi empirik.

 Memilih format yang cocok dari tekhnis yang dipakai. Banyak format dari

satu tekhnis dakwah, dan “hikmah” menuntut adanya pemilihan format

yang sesuai untuk berbagai situasi. Apa yang dikatakan dalam kondisi

“bahagia” berbeda dengan apa yang disampaikan pada kondisi “sedih.”

Apa yang disampaikan saat kondisi “sulit dan pailit” berbeda dengan saat

“serba mudah dan makmur.” Ada tempat saat menyeru (persuasif), ada

tempat saat melarang (preventif). Bagi orang penakut misalkan, maka baik

dipakai tekhnis persuasif dan pengharapan; sedangkan bagi orang yang

dikuasai ambisi dan pengharapan, sebaiknya dengan tekhnis preventif, dst.

 Berpedoman terhadap skala prioritas; yaitu mulai dari memberi

peringatan, kemudian nasihat, kemudian ketegasan lalu dengan tindakan

keras (bil yad), ancaman dan terakhir dengan pukulan.

 Menginventarisir factor-faktor pendukung dan sarana dakwah yang dapat

diamati dalam rangka memilih tekhnis yang dipakai dan bersifat preventif.

Metode menghadapi orang bodoh sangatlah berbeda dengan metode

menghadapi musuh, sebagaimana metode menghadapi orang lemah

berbeda dengan menghadapi seorang penantang yang juga fanatic.

b. Metode Al Mauidza Al Hasanah

Secara bahasa, mauiza hasanah terdiri dari dua kata, yaitu mauiza

dan hasanah. Kata mauiza berasal dari kata waaza, yaitu wazan – izatan yang

berarti : nasihat, bimbingan pendidikan dan peringatan, sementara hasanah

merupakan kebaikan fansayyiah yang artinya kebaikan lawannya kejelekan.

(10)

nasihat, memberi peringatan kepada seseorang yang bisa membawa taubat

kepada Allah SWT.

Al Mauiza Al Hasanah dapatlah diartikan sebagai ungkapan yang

mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, ksah-kisah, berita

gembira, peringatan, pesan-pesan positif (wasiat) yang bisa dijadikan pedoman

dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat (Aripudin,

2011). Tekanan dakwah bil mauizah tertuju kepada peringatan yang baik dan

dapat menyentuh hati sanubari seseorang, sehingga mad’u terdororng untuk

berbuat baik.

Jadi, kesimpulan dari Al Mauiza Al Hasanah adalah kata-kata yang

masuk ke dalam hati dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan

dengan penuh kelembutan, tidak membongkar atau membeberkan

kesalahan orang lain, sebab kelemahlembutan dalam menasehati sering

kali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan hati yang liar, ia

lebih mudah melahirkan kebaikan dari pada larangan dan ancaman.

Dasar acuan untuk melaksanakan metode Al Mauidza Al Hasanah

“Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidzah hasanah...”

:ءاسنلا اغبلب لوق مهسفنا يف مهل لقو مهظعو} 63

{

(11)

c. Metode Al Mujadalah

Dari segi etimologi (bahasa) lafaz mujadalah terambil dari kata

“jadala” yang bermakna memintal, melilit. Kata “jadala” dapat bermakna

menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu. Orang yang

berdebat bagaikan menarik dengan ucapan untuk meyakinkan lawannya

dengan menguatkan pendapatnya melalui argumentasi yang disampaikan

(Shihab, 2000). Metode dakwah al Mujadalah dibagi menjadi dua bentuk,

yaitu metode debat, al hiwar (dialog) dan as ilah wa ajwibah (Tanya jawab).

Debat adalah pembicaraan antara dua orang atau lebih yang cenderung saling

menjatuhkan lawan, masing-masing pihak saling mempertahankan

pendapatnya dan sulit melakukan kompromi. Al hiwar merupakan metode

dialog yang lebih berimbang, karena masing-masing pembicara memiliki

hak dan kesempatan untuk mengemukakan pendapat, metode ini dilakukan

oleh dai yang setara kecerdasannya.

As ilah wa ajwibah atau metode tanya jawab, yaitu proses

dakwah ketika mad’u memberi pertanyaan kepada dai kemudian dai

menjawabnya (Aripudin, 2011). Karena dakwah memiliki tujuan untuk

menerangi manusia, maka jawaban dai ketika muncul pertanyaan harus

berusaha agar jawabannya bisa menjelaskan dan menerangi akal pikiran.

Sayyid Thantawi (1984) juga mengemukakan beberapa landasan

etis dalam berdialog : 1) kejujuran, menjauhi kebohongan dan kekaburan, 2)

tematik dan objektif dalam menyikapi masalah, yaitu tidak keluar dari tema

dialog, sehingga pembicaraan jelas dan mencapai sasaran, 3) argumentatif

(12)

menghindari perasaan benar sendiri, dan 6) member kesempatan kepada

pihak lawan untuk mengemukakan argumentasi.

Dari pengertian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa, al

Mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara

sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan

menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan

bukti yang kuat, antara yang satu menghormati dan menghargai pendapat yang

lainnya.

B. Aplikasi Metode Dakwah Rasullulah

Pada jamannya, Rasullulah SAW melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Dakwah dilakukan dengan cara menyeru untuk masuk islam kepada orang-orang

dilingkungannya serta kerabat serta sahabat dekatnya. Cara ini ditempuh oleh Rasullulah

karena beliau yakin bahwa masyarakat jahiliah masih kuat mempertahankan kepercayaan

dan tradisi leluhur mereka. Sehingga mereka bersedia berperang dan rela mati dalam

mempertahankannya.

Dakwah secara terang-terangan dimulai sejak tahun ke 4 dari kenabian, yakni

setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu di lakukan

secara terang – terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al – Quran surah 26: 214-216.

Tahap – tahap dakwah Rasullulah SAW secara terang – terangan, antara lain:

1. Mengundang kaum kerabat kaum Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan

dan mengajak mereka agar masuk islam. Tetapi karena cahaya hidayah Allah SWT

waktu itu belum menyinari hati mereka, mereka belum menerima Islam sebagai

agama mereka. Namun ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang

(13)

dengan tegas menyatankan keIslamannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far

bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

2. Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada

dan bertempat tinggal di disekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa, yang

letaknya tidak jauh dari Ka’bah.

Berdasar pada metode dakwah yang dilakukan oleh Rasullulah SAW, Moh. Ali

Aziz dalam buku Ilmu Dakwah menuliskan garis besar dakwah dalam tiga bentu, yaitu

Dakwah bil Lisan, Dakwah bil Kalam, dan Dakwah bil Hal. Berdasarkan ketiga

bentuk dakwah tersebut maka metode dakwah dapat diklasifikasi sebagai berikut :

1. Metode Ceramah

Metode ceramah atau muhadarah atau pidato ini telah dipakai oleh

semua Rasul Allah dalam menyampaikan ajaran Allah. Sampai sekarang pun masih

merupakan metode yang paling sering digunakan oleh para dai sekalipun alat

komunikas modern telah tersedia. Tidak terikat oleh aturan yang ketat. Umumnya,

ceramah diarahkan kepada sebuah publik, lebih dari seorang.

Oleh sebab itu, metode ini disebut public speaking. Sifat

komunikasinya lebih banyak searah dari dai ke audiensi, sekalipun juga

diselingi atau diakhiri dengan komunikasi dua arah dalam bentuk Tanya jawab.

Umumnya, pesan-pesan dakwah yang disampaikan dengan ceramah bersifat

ringan, informatif, dan tidak mengundang perdebatan. Dialog yang dilakukan

(14)

2. Metode Diskusi

Metode ini dimaksudkan untuk mendorong mitra dakwah berpikir dan

mengeluarkan pendapatnya serta ikut menyumbangkan dalam suatu masalah

agama yamg terkandung banyak kemungkinan-kemungkinan jawaban.

Dari batasan diskusi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa diskusi

sebagai metode dakwah adalah bertukar pikiran tentang suatu masalah keagamaan

sebagai pesan dakwah antar beberapa orang dalam tempat tertentu. Dalam

diskusi, pasti ada dialog yang tidak hanya sekedar bertanya, tetapi juga

memberikan sanggahan atau usulan, diskusi dapat dilakukan dengan komunikasi

tatap muka ataupun komunikasi kelompok.

3. Metode Konseling

Konseling adalah pertalian timbale balik diantara dua orang individu, di

mana seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai

pengertian tentang drinya sendiri dalam hubungannya dengan masalah-masalah

yang dihadapinya pada saat ini dan pada waktu yang akan datang. Metode

konseling merupakan wawancara secara individual dan tatap muka antara

konselor sebagai dai dan klien sebagai mitra dakwah untuk memecahkan

masalah yang dihadapinya (Aziz, 2004).

4. Metode Karya Tulis

Metode ini termasuk dalam kategori dakwah bil kalam (dakwah dengan

karya tulis). Tanpa tulisan, peradaban dunia akan lenyap dan punah. Metode karya

tulis merupakan buah dari keterampilan tangan dalam menyampaikan pesan

dakwah. Keterampilan tangan ini tidak hanya melahirkan tulisan, tetapi juga

(15)

5. Metode Pemberdayaan Masyarakat

Salah satu metode dalam dakwah bil hal (dakwah dengan aksi) adalah

metode pemberdayaan masyarakat, yaitu dakwah dengan upaya untuk

membangun daya, dengan cara mendorong, memotivasi, dan membangkitkan

kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya

dengan dilandasi proses kemandirian. Metode ini selalu berhubungan antara tiga

faktor, yaitu masyarakat (komunitas), pemerintah dan agen (dai). melalui

hubungan ketiga aktor ini, kita bisa membuat tekniknya (Aziz, 2004).

6. Metode Kelembagaan

Metode lainnya dalam dakwah bil hal adalah metode kelembagaan yaitu

pembentukan dan pelestarian norma dalam wadah organisasi sebagai instrumen

dakwah. Metode kelembagaan dan pemberdaan berbeda satu sama lain.

Perbedaan pokok dari kedua metode ini adalah terletak pada arah kebijakannya

bersifat dari atas ke bawah.

Sedangkan strategi pemberdayaan lebih bersifat desentralistik dengan

kebijakan dari bawah ke atas (Aziz, 2004). Perbedaan yang lain adalah

kontribusi keduanya pada suatu lembaga. Ada kata kunci yang membuat

keduanya berbeda, metode kelembagaan menggerakkan lembaga, sedangkan

metode pemberdayaan mengembangkan lembaga.

C. Hambatan dan Keberhasilan Dakwah

Problematika dakwah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari

abad ke abad, tentu sangat variatif. Tiap-tiap masa dan era memiliki tantangannya

sendiri-sendiri. Karena itu, dinamika agama di manapun ia berada sangat ditentukan oleh

gerakan-gerakan dakwah yang dilakukan oleh umatnya. Pada zaman Nabi saw,

(16)

yang telah memeluk agama selain agama Islam, bahkan berbagai perubahan sebagai

akibat banyaknya ummat Islam yang hijrah ke Madinah sekaligus merubah sistem

ekonomi, sosial budaya dan bahkan status sosial.

Sepeninggal Nabi saw, problematika dakwah tetap muncul ke permukaan.

Adanya sebagian umat Islam yang enggan mensosialisasikan ajaran agama, misalnya

tidak mengeluarkan zakat, termasuk problematika yang tak terbantahkan. Di masa-masa

berikutnya, perpecahan umat Islam ke dalam berbagai aliran yang berdampak pada

renggangnya solidaritas dan ukhuwah islāmiyah, juga merupakan problematika abadi

yang dihadapi oleh umat Islam sepanjang sejarahnya.

Untuk zaman modern ini, problematika dakwah dihadang oleh kecanggihan

teknologi informasi dan komunikasi yang semakin mempermantap terjadinya globalisasi

dalam segala bidang kehidupan. Dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi tersebut bisa

bebentuk positif, tapi juga negatif terhadap pelaksanaan dakwah. Segi positifnya antara

lain adalah mempermudah penyampaian dakwah melalui jaringan-jaringan alat

komunikasi canggih seperti, telepon, telefax, radio, televisi, internet dan selainnya. Segi

negatifnya antara lain adalah munculnya gejala mendewakan perangkat-perangkat

canggih tersebut, sehingga kegiatan dakwah dalam arti tablīg dengan cara bertatap muka

secara langsung, akan berkurang frekuensinya.

Dalam upaya mengantisipasi kasus-kasus seperti di atas, maka kegiatan amar

ma’rūf dan nahi munkar mutlak dilaksanakan. Dengan kata lain, aktifitas dakwah harus

senantiasa digalakkan di tengah-tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi

muda. Tanpa kegiatan dakwah, maka sosialisasi ajaran agama akan berhenti dan akan

mengalami kevakuman. Oleh karena itu, aktifitas dakwah harus dikemas secara

(17)

mengikuti irama dan dinamika zaman. Hal ini penting karena dakwah merupakan

instrumen terpenting dalam memformat perilaku keberagamaan masyarakat.

Suatu hal menggembirakan dewasa ini adalah walaupun zaman semakin modern,

rupanya aktifitas dakwah senantiasa berjalan dengan baik. Minimal sekali kegiatan

dakwah terlihat dalam bentuk khutbah-khutbah, pengajian majelis-majelis taklim,

ceramah-ceramah agama pada moment tertentu seperti kematian, perkawinan, aqidah,

hajatan haji, naik rumah baru dan sebagainya. Dalam skala luas, terlihat aktifitas dakwah

terealisasi di berbagai tempat, baik di hotel-hotel maupun di rumah-rumah penduduk,

baik di kantor-kantor pemerintah maupun di perusahaaan-perusahaan swasta, baik di

kota-kota besar maupun di kota-kota kecil, bahkan sampai di kecamatan-kecamatan dan

di desa-desa terpencil.

Aktifitas dakwah seperti yang disebutkan di atas, dapat pula dilihat wujudnya di

Desa Ngabab Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Setiap bulan puasa warga Ngabab

mengadakan acara yang biasa di sebut safari ramadhan, dakwah yang dilakukan

seminggu sekali tersebut di adakan di musholah dan di masjid dengan mengundang

pemuka agama. Desa ngabab adalah desa yang terkenal masih mempercayai akan hal-hal

ghaib, hal ini terbukti dengan masih adanya paranormal (dukun) yang bertempat tinggal

disana. Dengan adanya paranormal tersebut maka tidak di pungkiri bahwa sebagian besar

masyarakat di daerah tersebut masih memparcayai paranormal. Sedangkan mempercayai

paranormal adalah hal yang tidak di perbolehkan di dalam agama islam.

Dakwah yang di adakan oleh ibu-ibu PKK selalu mendapat perhatian oleh warga

terutama sebagian besar ibu-ibu. Mereka mendatangi acara dakwah dengan berpakaian

sopan dan berjilbab. Namun disisi lain ada beberapa warga yang di ketahui masih

mendatangi paranormal untuk meminta pertolongan seperti meminta rejeki, kelancaran

(18)

lakukan oleh da’i tersebut belum bisa di katakan berhasil. Oleh karena itu dakwah harus

di lakukan dengan menggunakan metode lain yang lebih efektif.

Melihat fenomena tersebut maka pendakwah harus menggunakan metode yang

efektif agar pesan tersampaikan dengan baik dan juga diaplikasikan warga ke kehidupan

sehari-hari. Metode yang efektif yang digunakan adalah metode yang sudah dijelaskan

dalam surat An Nahl ayat 125, yaitu metode bi al hikmah; metode al mauidza al hasanah;

dan metode al mujadalah. Perlunya teknik al hikmah dalam hal ini karena keadaan

penduduk yang masih mempercayai paranormal, sehingga pendakwah harus mempunyai

kemampuan untuk menjelaskan ajaran islam dengan mengkaji realitas serta memberikan

argumentasi yang logis. Dengan penggunaan teknis al hikmah yang benar, diperlukan

juga bahasa yang komunikatif agar mad’ u mampu mengkaji materi dengan baik. Materi

disampaikan dengan penuh kasih sayang, tidak membongkar atau membeberkan

kesalahan orang lain, sebab kelemahlembutan dalam menasehati sering kali dapat

meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan hati yang liar, ia lebih mudah

melahirkan kebaikan dari pada larangan dan ancaman. Setelah memberikan materi

dengan memperhatikan kondisi mad’u, tukar pendapat atau tanya jawab perlu dilakukan

secara sinergis agar masalah-masalah yang berhubungan dengan materi tersampaikan dan

mengena di hati mad’u.

Sedangkan metode yang efektif yang diperlukan dilihat dari cara Rasullulah

dalam berdakwah adalah metode konseling, yaitu metode ceramah, diskusi dan

konseling. Ceramah dilakukan oleh pendakwah yang berilmu dan mendalami islam serta

memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Setelah ceramah, mad’u harus

melontarkan pertanyaan sebagai bentuk respon terhadap dakwah yang telah disampaikan.

Dengan adanya tanya jawab antara mad’u dan pendakwah, maka pendakwah dapat

(19)

memahami permasalahan dan kebutuhan rohani mad’u mengenai agama, maka

pendakwah dapat melakukan pembicaraan antara dua orang individu (konseling). Hal ini

dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi mad’u serta pendakwah dapat

(20)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Untuk membentuk pribadi yang unggul dan siap bersaing dimasa yang akan

datang, diperlukan adanya asupan pengetahuan yang benar. Selain dengan pengetahuan

yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara jasmani, perlu adanya

pemenuhan kebutuhan hidup secara rohani berupa pengetahuan tentang agama. Oleh

karena itu, dakwah diperlukan untuk keseimbangan kebutuhan hidup manusia. Untuk

melakukan dakwah, banyak metode dakwah yang bisa digunakan agar pesan dapat tepat

sasaran.

Banyak metode dakwah yang terdapat pada Alquran, salah satunya yang

dijelaskan dalam surat An Nahl ayat 125 yaitu metode bi al hikmah; metode al mauidza

al hasanah dan metode al mujadalah. Selain itu, M. Ali Aziz menjelaskan bahwa ada tiga

bentuk dakwah yaitu dakwah bil lisan, dakwah bil kalam dan dakwah bil hal.

Berdasarkan ketiga bentuk dakwah tersebut maka metode dakwah dapat diklasifikasi

sebagai berikut: metode ceramah; metode diskusi; metode konseling; metode karya tulis;

metode pemberdayaan masyarakat; dan metode kelembagaan.

B. Saran

Agar pesan dapat diterima masyarakat maka pendakwah harus memperhatikan

banyak aspek sosial dan masalah-masalah yang sedang dialami masyarakat. Penggunaan

bahasa yang lembut dan penyampaian secara komunikatif juga diperlukan agar tidak

terjadi perselisihan dalam proses dakwah. Oleh karena itu, pendakwah harus lebih pintar

dalam mengkaji permasalahan dan menghadapi mad’u yang mempunyai berbagai macam

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Aripudin. 2011. Pengembangan Metode Dakwah. Jakarta: PT Raja Grafndo Persada.

Arifin. 1991. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Aziz, Ali. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: kencana.

Natsir, M. 1966. Fiqhud Dakwah. Jakarta : Yayasan Capita Selecta.

Saputra, Wahidin. 2011. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: PT Raja Grafndo Persada.

Shihab , Quraisy. 2000. Tafsir al Misbah. Jakarta: Lentera Hati.

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga bisa disimpulkan bahwa agroekosistem merupakan kesatuan lingkungan pertanian yang tersusun dari komponen biotik (makhluk hidup) dan abiotik (makhluk tak

Jika calon jamaah baru bisa mendapat seat haji pada usia 50 tahun dan harus menunggu sampai dengan dua puluh tahun, maka baru bisa berangkat pada usia 70 tahun.Bila masa tunggu

Pengujian rangkaian power supply bertujuan untuk mengetahui hasil tegangan keluaran, apakah rangkaian power supply yang digunakan dapat bekerja denggan baik, sehingga dapat

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas yaitu jumlah penduduk Kota Sorong sampai dengan tahun 2026, besar kebutuhan air

Sehamsnya agar ti- dak teijadi penyalahgunaan dalam penerapan isi pasal, titik tekan da lam produk hukum perkawinan Indonesia mengacu pada fomena sosial bahwa perkawinan antar

1) Menurut hasil prediksi dengan metode Grover, Altman Z- Score dan Springate diperoleh kesimpulan bahwa PT Solusi Bangun Indonesia Tbk berada dalam kondisi

Nama Parthenon itu sendiri berarti pemujaan Dewi Athena Parthenos yang berarti wanita yang bisa menikah tetapi tidak menikah, yang menurut cerita Dewi Athena lahir dari kepala

Pada sistim peternakan terpadu (ILCSs) di kawasan agroekologi dataran rendah ditemui jumlah peternak sebanyak 39 orang yang meliputi sistim peternakan sapi