• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paparan Laporan Pendahuluan RTR KSK Kawa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Paparan Laporan Pendahuluan RTR KSK Kawa"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis (RTR-KS)

Kawasan Pertanian dan Wisata Alam Taram

(2)

OUTLINE PAPARAN

1. Pendahuluan

2. Gambaran Umum Wilayah

3. Kajian Kebijakan

4. Pendekatan & Metodologi

(3)

PENDAHULUAN

Maksud:

1.

Mewujudkan rencana rinci tata ruang yang mendukung

terciptanya kawasan strategis maupun kawasan fungsional

secara aman, produktif dan berkelanjutan yang disesuaikan

dengan RTRW Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2012-2032

agar dapat dijadikan acuan teknis bagi seluruh pemangku

kepentingan di wilayah kabupaten Lima Puluh Kota dalam

mengisi pembangunan fisik dan sebagai acuan dalam

penyelenggaraan penataan ruang.

2.

Menciptakan acuan dan pedoman pemanfaatan ruang dalam

rangka menunjang pelaksanaan peningkatan pertanian dan

wisata alam Taram.

(4)

PENDAHULUAN

1.

Telah disusun kembalinya RTRW Kabupaten Lima Puluh Kota sesuai dengan

ketentuan UU RI No. 26 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri No 16 tahun 2009

tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. RTRW Lima

Puluh Kota telah disahkan dengan Perda No 7 Tahun 2012

2.

Ditetapkannya beberapa kawasan strategis kabupaten yang diharapkan dapat

memacu pertumbuhan sesuai dengan nilai-nilai strategis kawasan strategis tersebut.

3.

Sesuai pasal 14 ay 3 UU No. 27/2007 tentang Penataan Ruang, diamanatkan agar

setiap kawasan strategis harus disusun RTR KSK sebagai perangkat operasional

(rencana rinci) dan bermanfaat maksimal.

4.

Didalam penyusunannya RTR KSK harus menetapkan kawasan fungsional yang

memperhatikan kegiatan utama dan kegiatan penunjang. Dan didalam

penyusunannya harus lengkap dengan peraturan zonasi dan penetapan peraturan

daerahnya digabung dalam kesatuan PERDA RTR KS dan Zoning Regulationnya.

5.

Sebagai salah satu Kawasan Strategis

Pertanian dan Wisata Alam Taram

di

Kecamatan Harau, maka perlu disusun RTR-nya sesuai dengan peraturan yang ada.

6.

Berdasarkan pengkajiannya, didalam Kecamatan Harau telah ada kawasan wisata

Kapalo Banda yang merupakan kawasan wisata unggulan namun dirasakan belum

memberi manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi lokal, karena belum diaturnya

pemanfaataan ruangnya dan diperlukan perencanaan RTR KS.

(5)

PENDAHULUAN

Tujuan:

1.

Menyusun pedoman sebagai dasar koordinasi dalam penyelenggaraan penataan

ruang pada kawasan strategis kabupaten yang diselenggarakan oleh seluruh

pemangku kepentingan;

2.

Menyusun pedoman sebagai dasar dalam sinkronisasi program pemerintah dan

pemerintah propinsi dan kabupaten, serta swasta dan masyarakat dalam rangka

pelaksanaan peningkatan pengembangan pertanian dan wisata alam Taram dan

mewujudkan Kawasan Strategis Kabupaten Kawasan pertanian dan wisata alam

Taram;

3.

Menyiapkan acuan lokasi investasi dalam Kawasan Strategis Kabupaten untuk

Kawasan Pertanian dan wisata alam Taram yang dilakukan pemerintah, masyarakat

dan swasta;

4.

Menyiapkan acuan dalam pemanfaatan dan pengendalian ruang dan

pengembangan Kawasan Strategis Kawasan pertanian dan wisata alam Taram;

5.

Menyiapkan acuan dalam penerbitan izin pemanfaatan ruang Kawasan Strategis

Kawasan pertanian dan wisata alam Taram;

6.

Mewujudkan keterpaduan pembangunan Kawasan Strategis Kawasan Pertanian dan

wisata alam Taram dengan wilayah kabupaten;

7.

Menjamin terwujudnya Tata Ruang Kawasan Strategis Kawasan Pertanian dan

wisata alam Taram yang berkualitas; dan

8.

Menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian perkembangan Kawasan Strategis

Kawasan Pertanian dan wisata alam Taram dengan Rencana Tata Ruang Wilayah

(RTRW) Kabupaten Lima Puluh Kota.

(6)

GAMBARAN UMUM WILAYAH

3. Secara administratif, ruang lingkup

wilayah perencanaan berbatasan dengan:

Sebelah utara berbatasan dengan

Nagari Sarilamak kecamatan Harau;

Sebelah Selatan berbatasan dengan

Nagari Balai Panjang kecamatan

Lareh Sago Halaban dan Nagari

Andaleh Kecamatan Luak;

Sebelah Timur berbatasan dengan

Kabupaten Kampar Propinsi Riau;

dan

Sebelah Barat berbatasan dengan

Nagari Bukik Limbuku dan Nagari

Pilubang Kecamatan Harau.

No Nagari Luas Wilayah

(Km2)

Jarak ke Ibukota Kabupaten (km)

Jarak ke Ibukota Kecamatan (km)

1. Nagari Taram dengan luas sekitar

60,59 Km

2

terdiri dari 7 Jorong

yaitu Jorong Subarang, Jorong Balai

Cubadak, Jorong Tajuang Kubang,

Jorong Parak Baru, Jorong Tanjuang

Ateh, Jorong Sipatai dan Jorong

Gantiang.

2. Secara spesifik fokus perencanaan

atau kawasan inti adalah Nagari

Taram yang merupakan kawasan

Pertanian dan pariwisata alam,

dimana pariwisata alam Kapalo

Banda merupakan salah satu objek

pariwisata unggulan di Kabupaten

(7)

Bar Chart Komoditas

Padi

Jagung

Ubi Kayu

Tanam

7,049.00

767

126

Panen

6,826.00

218

145

Produksi

32,220.71

1,162.70

5,485.54

Produksi Padi dan Palawija di Kecamatan Harau Tahun 2012

GAMBARAN UMUM WILAYAH

(8)

Bar Chart Komoditas

Cabe

Kacang

Panjang

Terung

Ketimun

Buncis

Tanam

36

26

29

31

29

Panen

64

31

39

40

37

Produksi

403.1

227.2

464.8

500.9

280.1

Produksi Holtikultura di Kecamatan Harau Tahun 2012

(9)

Bar Chart Komoditas

Alpukat

Duku

Durian

Jeruk

Manggi

s

Pepaya

Pisang

Tanam

0.5

0

0

0

0

0.3

12.96

Panen

6.9

2.46

10.37

3.44

93.9

1.67

2.8

Produksi

72.7

6

87.5

79

565

62

75.2

Produksi Buah-Buahan di Kecamatan Harau Tahun 2012

GAMBARAN UMUM WILAYAH

(10)

Bar Chart Komoditas

Gambir

Enau

Kakao

Pinang

Produksi

53.6

573

0

0

7.5

0

849.9

90

206

11

Belum Produktif

107

160.5

5

0

15

0

147

7

241

8

Produksi

46.2

741.2

0

0

11

0

1,182.80

21.2

247.4

16.9

Komoditas Perkebunan di Kecamatan Harau Tahun 2012

(11)

KAJIAN KEBIJAKAN

1. Objek wisata Lembah Harau merupakan salah satu dari 189 objek wisata yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota , dimana Lembah Harau ini adalah objek wisata unggulan daerah dan berada pada wilayah tujuan wisata (WTW) III pengembangan objek wisata Kabupaten Lima Puluh Kota.

2. Berdasarkan prasasti yang terdapat di kaki air terjun (Sarasah ) Bunta , daerah ini mulai dibuka pada tanggal 14 Agustus 1926 oleh Asisten Residen Lima Puluh Kota yang bernama F. Rinner bersama dengan Tuanku Laras Datuk Kuning Nan Hitam dan Asisten Demang Datuk Kodoh Nan Hitam.

3. Jadi Lembah Harau sudah dikenal sejak jaman Pra- Kemerdekaan Republik Indonesia ,karena pada waktu itu sudah

dipopulerkan oleh orang kulit putih melalui cap dagang dengan tulisan Arau Valley sejak jaman penjajahan ,dan termasuk kedalam tujuh keajaiban tebing didunia ,dimana sudah dikunjungi oleh Ratu Belanda pada waktu melintasi Solok dan Danau Singkarak , sehingga kajian terhadap Lembah Harau ini sejajar dengan Kebun Raya Bogor.

4. Objek wisata Lembah Harau (Harau Valley), sudah dikukuhkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Govenrment Besluit (GB) tanggal 10 Januari 1933 nomor 15 Stbl Nomor 24 dengan status sebagai cagar alam seluas 315 Ha ,kemudian dilakukan pengukuran ulang oleh Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) pada tahun 1979 dengan luas defenitif dilapangan adalah 298 Ha, (Witari Heiza , 1985)

5. Setelah kemerdekaan , objek wisata Lembah Harau dikelola oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor : 478 / Kpts /Um / 8 / 1979, tanggal 2 Agustus 1979 ,tentang perubahan statusnya menjadi taman wisata seluas 27,5 Ha.Jadi sejak tahun 1979 Lembah Harau adalah kawasan taman wisata dan cagar alam.

6. Sejak berubahnya status Lembah Harau menjadi kawasan wisata ,maka urusan kepariwisataan menjadi wewenang Pemerintah Propinsi Dati I Sumatera Barat ,dimana objek wisata Lembah Harau dikelola oleh Pemerintah Daerah Tingakt I Sumatera Barat yaitu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor : 24 tahun 1979 tentang penyerahan sebagian urusan Pemerintah dalam bidang Kepariwisataan kepada Daerah Tingkat I melalui Cabang Dinas Pariwisata. Pada tahun 1992, pegelolaan objek wisata Lembah Harau diserahkan kepada Pemerintah Dati II Kabupaten Lima Puluh Kota sesuai dengan Peraturan Daerah Tingkat I Propinsi Sumatera Barat Nomor : 9 tahun 1992 tentang penyerahan sebagian urusan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Barat dalam bidang Kepariwisataan.

Sejarah Penetapan Lembah Harau

Sejarah Penetapan Lembah Harau

(12)

1. Dari tahun 1992 sampai tahun 1993, merupakan tahun transisi pengelolaan objek wisata Lembah Harau karena masih dikelola oleh cabang Dinas Pariwisata Propinsi Tingkat I Sumatera Barat. Hal ini disebabkan Pemerintah Dati II Kabupaten Lima Puluh Kota belum mempunyai lembaga teknis daerah dibidang kepariwisataan.

2. Objek wisata Lembah Harau mulai dikelola oleh Pemerintah Dati II Kabupaten Lima Puluh Kota sejak tahun 1994 yaitu dengan dibentuknya Dinas Pariwisata Kabupaten Dati II Lima Puluh Kota dengan Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Lima Puluh Kota Nomor : 3 Tahun 1994 tentang Pembentukan susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pariwisata Kabupaten Dati II Lima puluh Kota.

3. Pada bulan Maret 1996 dibuatlah rencana detail tata ruang kawasan pariwisata Lembah Harau, dimana secara bertahap objek wisata ini dibenahi melalui dana APBD Kabupaten Lima Puluh Kota, terutama sarana pokok dan sarana penunjang

kapariwisataan , dalam lingkup pengelolaan Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten lima Puluh Kota sampai tahun 2000. 4. Dari tanggal 23 Desember 2000 sampai 23 Desember 2003, pengelolaan objek wisata Lembah Harau diserahkan pada swasta

yaitu PT. Tri Dhora Nusantara Tour dan Travel dengan pola kerjasama selama 3 tahun.

5. Dalam mendukung Lembah Harau sebagai Kawasan Wisata Unggulan di Propinsi Sumatera Barat , maka Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Sumatera Barat membangun Rest Area sebagai pusat informasi kepariwsataan dan

kebudayaan di Jorong Gunung Sanggul Kenagarian Harau , berdasarkan berita acara serah terima pengelolaan Nomor : 532 / Parsenibud-TU /VIII/2003 dari Gubernur Propinsi Sumatera Barat kepada Bupati Lima Puluh Kota.

6. Berdasarkan Peratruran Daerah Nomor : 16 Tahun 2002, tentang SOTK Lembaga Teknis Daerah, maka sektor pariwisata digabung dengan seni dan budaya yaitu menjadi Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Lima Puluh Kota. Sementara pengelolaan objek wisata Lembah Harau dikelola oleh Unit Pengelolaan Kabupaten Lima Puluh Kota (UPK).

7. Karena Kantor Pariwisata Seni dan Budaya sudah terbentuk, maka keluarlah Keputusan Bupati Lima Puluh Kota Nomor: 40 tahun 2004 tentang Pembubaran Unit Pengelolaan Kepariwisataan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota, serta Pengembalian Pengelolaan Kepariwisataan kepada Kantor Pariwisata Seni dan Budaya.

8. Sejak keluarnya Surat Keputusan Bupati tersebut, maka pengelolaan objek wisata Lembah Harau dikelola oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya dengan Ketua Tim Kasi Pemasaran. Sementara pada tahun 2005, objek wisata Lembah Harau sudah ditetapkan sebagai objek wisata unggulan (Red Carvet Area) Propinsi Sumatera Barat.

9. Berdasarkan Keputusan Bupati Lima Puluh Kota Nomor : 47 tahun 2005 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Pejabat Struktural pada Kantor Pariwisata Seni dan Budaya, maka pengelolaan objek wisata berada pada Seksi Objek Wisata dibawah Kasi Objek Wisata Lima Puluh Kota, sesuai Surat Keputusan Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Nomor : 556/01/Ia/Par-LK/II/2006 tentang Tim Pengelola Objek Wisata Lembah Harau.

KAJIAN KEBIJAKAN

(13)

1.

Pada Ps 42 ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Geologi

2.

Pada Ps 47 Ay 1 ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Geologi, yakni

Kawasan Cagar Alam Geologi

3.

Pada Ps 47 Ay 2 dinyatakan bahwa Kawasan Cagar Alam Geologi terdiri

atas a. kawasan keunikan batuan dan fosil; b. kawasan keunikan bentang

alam; dan c. kawasan keunikan proses geologi.

4.

Pada Ps 47 Ay 8 dinyatakan Pengembangan pengelolaan guna

melestarikan kawasan keunikan batuan dan fosil, kawasan keunikan

bentang alam, dan kawasan keunikan proses geologi, rehabilitasi

kawasan keunikan batuan dan fosil, kawasan keunikan bentang alam,

dan kawasan keunikan proses geologi yang terdegradasi, serta

pengendalian perkembangan kawasan budi daya terbangun di sekitar

kawasan keunikan batuan dan fosil, kawasan keunikan bentang alam,

dan kawasan keunikan proses geologi pada

1.

keunikan bentang alam berupa ngarai, lembah, dan amphiteater di

Ngarai Sianok, Lembah Harau, dan amphiteater Asahan;

KAJIAN KEBIJAKAN

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera

(14)

KAJIAN KEBIJAKAN

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera

(15)

KAJIAN KEBIJAKAN

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) SUMBAR, PERDA No 13 Tahun 2012

Tentang RTRWP Sumatera Barat 2012 - 2032

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) SUMBAR, PERDA No 13 Tahun 2012

Tentang RTRWP Sumatera Barat 2012 - 2032

Arahan Rencana Struktur dan Pola Ruang

:

1.

Ditetapkan sebagai PKL , yaitu Sari Lamak (Kab. Lima Puluh Kota)

2.

Pengembangan terminal regional B di Kabupaten Lima Puluh Kota;

3.

Terdapat kawasan rawan bencana;

4.

Kawasan terletak di zona patahan aktif;

5.

Terdapat kawasan lindung

lubuk larangan;

6.

Terdapat kawasan strategis provinsi yakni kawasan minapolitan;

7.

Pada indikasi program terdapat arahan pengembangan kawasan peternakan

dengan prioritas pengembangan kawasan yang terintegrasi untuk jangka

menengah (5 tahun) yaitu (i) kawasan terintegrasi antara sawit dan sapi; (ii) ayam

ras petelur dan pedaging, serta ayam buras dengan jagung;

Arahan Kawasan Lembah Harau

:

1.

Ditetapkan sebagai kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya,

yakni Cagar Alam (CA) Lembah Harau (Ps 39 butir a)

2.

Ditetapkan sebagai kawasan wisata alam (KWA) Lembah Harau (ps 39 butir h).

3.

Ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi, yakni kawasan cagar alam geologi

(CAG) berupa keunikan bentang alam karst.

4.

Pada arahan pemanfaatan ruang, KWA Lembah Harau ditetapkan untuk

(16)

KAJIAN KEBIJAKAN

(17)

Peta Indikatif Kawasan RTR

Kang Irfan

KAJIAN KEBIJAKAN

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) SUMBAR

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) SUMBAR

CA Lembah Harau

HL

(18)

KAJIAN KEBIJAKAN

(19)

Peta Indikatif Kawasan RTR

Kang Irfan

KAJIAN KEBIJAKAN

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kab. 50 Kota

Penetapan Lembah Harau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kab. 50 Kota

CA Lembah Harau

HL

(20)

Gambaran Umum Wilayah

KAJIAN KEBIJAKAN

(21)

KAJIAN KEBIJAKAN

Peta Administrasi Kecamatan Harau

Peta Administrasi Kecamatan Harau

(22)

Gambaran Umum Wilayah

KAJIAN KEBIJAKAN

(23)

Gambaran Umum Wilayah

KAJIAN KEBIJAKAN

Peta Geologi Kecamatan Harau

Peta Geologi Kecamatan Harau

(24)

Gambaran Umum Wilayah

KAJIAN KEBIJAKAN

(25)

Gambaran Umum Wilayah

KAJIAN KEBIJAKAN

Peta Rawan Gempa Kecamatan Harau

Peta Rawan Gempa Kecamatan Harau

(26)

Gambaran Umum Wilayah

KAJIAN KEBIJAKAN

(27)

Hasil tumpang tindih Peta Pulau Sumatera

Hasil tumpang tindih Peta RTRW Provinsi

Hasil tumpang tindih Peta RTRW Kab. Lima Puluh Kota

Hasil tumpang tindih:

Indikatif Kawasan Inti (CA Geologi)

Indikatif Kawasan Penyangga (Pendekatan Radius Cakupan

Dukungan keberlangsungan adanya CA)

PRA MASUKAN DELINIASI KSK

Usulan (INDIKATIF) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KPWA TARAM

Usulan (INDIKATIF) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KPWA TARAM

Hasil Superimpose antara

RTRW Provinsi dan RTRW Kab.

Pola Pemanfaatan Sesuai Pola Pemanfaatan Tdk Sesuai

(28)

Peta Indikatif Kawasan RTR

Kang Irfan

KAJIAN KEBIJAKAN

Usulan (INDIKATIF) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KPWA TARAM

Usulan (INDIKATIF) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KPWA TARAM

CA Lembah Harau

HL

Sesuai Penetapan RTRW

(29)

Peta Indikatif Kawasan RTR

Kang Irfan

KAJIAN KEBIJAKAN

Usulan (INDIKATIF) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KPWA TARAM

Usulan (INDIKATIF) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KPWA TARAM

CA Lembah Harau

HL

Sesuai Penetapan RTRW

Sesuai Penetapan RTRW

(30)

Wisata Alam Kapalo Banda Taram

Wisata Alam Kapalo Banda Taram

(31)

Wisata Alam Kapalo Banda Taram

(32)

Wisata Alam Kapalo Banda Taram

(33)

Sumber : Draf Pedoman Penyusunan RTR KS Kab/Kota

Mengacu kepada:

Mengacu pada RTRW;

Mengacu pada pedoman dan petunjuk pelaksanaan bidang penataan

ruang; dan memperhatikan RPJP Kota/kota dan RPJM Kota /kota.

Konsep Pengembangan, meliputi:

Rumusan tentang tujuan, kebijakan, dan strategi pengembangan

wilayah Kota/kota

Dan konsep pengembangan wilayah Kota/kota.

Menghasilkan

Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis (RTR KS), berisi:

Tujuan penataan;

Rencana pola ruang;

Rencana jaringan prasarana;

Penetapan dari bagian wilayah RTR KSK yang diprioritaskan

penanganannya;

Ketentuan pemanfaatan ruang; dan

Peraturan zonasi.

Menghasilkan

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

PERUMUSAN KONSEP

PERUMUSAN KONSEP

(34)

Sumber : Draf Pedoman Penyusunan RTR KS Kab/Kota

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

(35)

Sumber : Draf Pedoman Penyusunan RTR KS Kab/Kota

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

ALUR PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI RTR/KSK

ALUR PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI RTR/KSK

(36)

Sumber : RTRW Kota Bukittinggi

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

(37)

Sumber : Tim Ahli, 2015

Diagram Proses Pembangunan Peta Skala Besar

Jenis Data Sumber Data Kedalaman Data

Peta Rupabumi Badan Informasi Geospasial Skala

1 : 10.000 1 : 25.000 1 : 50.000

Peta Topografi Badan Pertanahan Nasional (BPN)

Direktorat Topografi – AD

Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian ESDM

Bappeda

DEM LiDAR, Terra SAR-X, IKONOS 1 : 5.000 – 1 : 25.000

Sumber : Tim Ahli, 2015

Tabel Jenis Kebutuhan Data

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

DIAGRAM PEMBANGUNAN PETA

DIAGRAM PEMBANGUNAN PETA

(38)

Jenis Data Sumber Data Kedalaman Data

Geologi Umum Kementerian ESDM Peta geologi tata lingkungan

Geologi Wilayah Kementerian ESDM dan Pengamatan Lapangan

Turunan peta geologi dan

pengecekan lapangan

Geologi Permukaan Penelitian lapangan Kondisi geologi tanah permukaan dan sebaran lateral serta vertikal.

Jenis Kebutuhan Data Peta Geologi

Jenis Data Sumber Data Kedalaman Data

Detail Penelitian lapangan 1:5.000 - 1:25.000

Semi-detail Penelitian lapangan 1:25.000 - 100.000

Tinjau Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian

1:100.000 -

1:250.000

Eksplorasi Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian

1.1.000.000 -

1:2.500.000

Bagan Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian

<1:2.500.000

Jenis Data Peta Jenis Tanah

Jenis Data Sumber Data Kedalaman Data

Rupabumi Badan Informasi Geospasial 1:10.000 - 1:250.000

Tutupan Lahan / Penggunaan Lahan

BP DAS Kementerian Kehutanan, BPN , Bappeda

1:5.000 - 100.000

Peta Hidrogeologi Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian ESDM

Bappeda

1:100.000 - 1:250.000

Jenis Data Peta Hidrologi

Jenis Data Sumber Data Kedalaman Data

Peta Atlas

Nasional Indonesia

Badan Informasi Geospasial 1:250.000

Peta Lingkungan Laut Indonesia

Dishidros-AL 1:50.000 – 1:100.000

Jenis Data Peta Geomorfologi

Jenis Data Sumber Data Kedalaman Data

Peta DAS

Indonesia

BPDAS Kementerian Kehutanan 1:100.000

Peta Atlas Nasional Indoensia

Badan Informasi Geospasial 1:250.000

Jenis Data Peta DAS

Jenis Data Sumber Data Kedalaman Data

Peta Rupabumi Indonesia

Badan Informasi Geospasial 1:10.000 – 1:25.000

Peta

Penggunaan Lahan

Badan Pertanahan Nasional, Bappeda

1:5.000 – 1:25.000

Jenis Data Penggunaan Lahan

Sumber : Tim Ahli, 2015

Sumber : Tim Ahli, 2015

Sumber : Tim Ahli, 2015

Sumber : Tim Ahli, 2015

PENDEKATAN DAN METODOLOGI

DIAGRAM PEMBANGUNAN PETA

DIAGRAM PEMBANGUNAN PETA

(39)

RENCANA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Sumber : Tim Ahli, 2015

(40)

RENCANA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Rencana Survei oleh Tim Lapangan:

1. Identifikasi kegiatan di dalam kawasan lindung CA dan HL baik itu berupa

perumahan, jasa, perdagangan, pertanian, peternakan dan perkebunan.

2. Identifikasi sarana dan prasarana yang ada, baik itu jalan, jembatan, prasarana

sumber daya air, sanitasi, dan lainnya terutama

aset yang dimiliki oleh

pemerintah daerah dan pemerintah provinsi.

3. Identifikasi isu strategis termasuk adalah permasalahan infrastruktur dan non

infrastruktur yang mempengaruhi bentang alam, kerusakan CA, HL dan

kegiatan pariwisata yang berdampak terhadap turunnya kualitas KSK.

4. Identifkasi permasalahan pariwsata yang berdampak pada nilai-nilai sejarah

dan norma yang ada sehingga berdampak pada kepariwisataan yang ada.

5. Identifikasi kebutuhan pengembangan infrastruktur ke dalam kawasan, di

dalam kawasan serta kebutuhan pengembangan sarana dan prasarana di dalam

KS Inti dan Penyangga.

6. Identifikasi isu strategis pada kawasan penyangga dalam upaya untuk

memproteksi kawasan inti dan upaya-upaya yang dilakukan untuk

mengamankan kawasan inti serta kebutuhan pengembangan infrastruktur pada

kawasan penyangga.

(41)

ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN

(42)

Gambar

Tabel Jenis Kebutuhan Data

Referensi

Dokumen terkait

Berkaitan dengan hal ini dilakukan penelitian di desa Tajungwidoro Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik, yang mayoritas mata pencaharianya adalah para petani tambak, pada

Dengan demikian penerapan asas aman dari Pasal 2 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 dalam asas pendaftaran tanah sangat penting dalam pendaftaran tanah. Bahwa

Adapun kedelapan karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara berturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk

*) Biaya investasi dalam tabel tidak termasuk sarana meubelair, prasarana (lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang

Penandaan fase tumbuh kacang didasarkan pada tambahan jumlah buku pada batang utama yaitu buku-buku pada batang utama yang mempunyai daun yang telah berkembang penuh dan

Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk melihat kondisi atau keadaan objek yang alamiah dengan peneliti sebagai instrumen pengumpul data,

Dengan Perancangan Inventory Monitoring berbasis website pada PT Pelindo II Cabang Tanjung Priok dapat memudahkan Divisi Teknik dan Sistem Informasi mengelola data

Tujuan kegiatan yaitu mengetahui kapasitas layanan air bersih dan potensi sumber-sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan di wilayah Kabupaten Lombok Barat dan