PENINGKATAN PERILAKU TERTIB PENGGUNAAN R

Teks penuh

(1)

BANGSA INDONESIA YANG LEBIH TERTIB SERTA TAAT HUKUM

Menginjak usia ke 72 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebenarnya adalah umur yang cukup bagi sebuah bangsa untuk perlahan menapak kemandirian, kondisi stabil dan berprospek maju serta sejahtera. Namun yang kita rasakan sebagai rakyat Indonesia, kondisi negara kita tercinta ini tak kunjung mengalami perbaikan yang signifikan. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa ini, mulai dari masa orde lama, orde baru, reformasi, hingga kini era globalisasi, masih saja menjadi negara dengan kategori berkembang, kesenjangan ekonomi dimana-mana, sulit untuk bersaing dengan bangsa lain, atau paling tidak menyamai derajat mereka. Pada tahun 2016 sesuai data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di Indonesia pada sektor publik (Corruption Perception Index Transparency),1 dari 176 negara, Indonesia berada di rangking 90 dengan skor 37 dan ini belum mampu mengungguli skor Malaysia (49), Brunei (58) dan Singapura (85) dan bahkan dalam World Happiness Report 20172 yang dikeluarkan oleh PBB untuk mengukur tingkat kebahagiaan hidup masyarakat internasional, Indonesia berada di urutan 81dari 155 negara dan dibawah Filipina (72), Malaysia (42), Thailand (32) serta Singapura (26).

Setelah pelantikan menjadi presiden RI, konsep revolusi mental yang di lansir oleh presiden Jokowi pada Mei 2014 ketika masih masa kampanye telah menjadi salah satu prioritas kebijakan pembangunan nasional yang dinamakan dengan Nawacita3. Revolusi mental merupakan kelanjutan dari revolusi bangsa Indonesia dengan mengutip amanat Bung Karno bahwa “Samen bundeling van alle revolutionare characten menuju

Nation and character building’’,4 yaitu upaya menyatukan segala potensi kekuatan suku bangsa yang beragam menuju pembentukan karakter revolusioner yang selalu menginginkan perubahan mendasar segera, sebagai cara membangun dan membentuk

1 Transparancy Internasional, Corruption Perception Index 2016.

2The Sustainable Development Solutions Network,World Happiness Report 2017.

3 Jokowi Jusuf Kalla, Visi Misi dan Program Aksi “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, mandiridan

Berkepribadian, 2014,hal 7.

(2)

karakter bangsa, inilah sesungguhnya makna sejati revolusi mental yang diinginkan oleh Soekarno yakni membuat perubahan mendasar mental bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka dan berani.

Revolusi mental adalah upaya untuk meningkatkan karakter bangsa agar lebih baik lagi dengan menanamkan kembali nilai-nilai bangsa dan mengubah cara pandang masyarakat terhadap banyak hal. Revolusi mental diyakini bisa membawa bangsa Indonesia menjadi karakter yang kuat, jujur, dan beretos kerja tinggi sehingga mampu menyusul keberhasilan Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Kata "Revolusi" yang berasal dari bahasa latin Revolutio, yang berarti "berputar arah" merupakan suatu perubahan yang cukup mendasar yang terjadi dalam periode waktu yang relatif singkat. Sedangkan mental merupakan cara berpikir atau pola pikir dan pola tindak untuk merespons terhadap suatu situasi atau kondisi. Secara keseluruhan dapat diartikan bahwa Revolusi Mental merupakan perubahan yang cukup mendasar dalam waktu singkat untuk kembali pada watak, sifat, pola pikir dan pola tindak untuk berperilaku sesuai sifat asli bangsa Indonesia

(3)

sentris), sifat tidak disiplin, tidak menghargai orang lain, tidak percaya pada diri sendiri, tidak bertanggung jawab dan korup. Hal tersebut bila tidak segera ditangani akan menciptakan tindakan intoleransi dan krisis kepribadian bangsa, melemahkan sendi perekonomian bangsa dan melemahkan wibawa Negara.

Berangkat dari latar belakang permasalahan diatas maka pembahasan akan diprioritaskan kepada pelaksanaan revolusi mental dalam penggunaan ruang publik dan peningkatan perilaku budaya antri dalam rangka membangun kesadaran Bangsa Indonesia yang lebih tertib serta taat hukum, sehingga dapat diambil rumusan permasalahan yaitu Apakah program revolusi mental dalam penggunaan ruang publik dan budaya antri sudah berjalan sesuai dengan harapan dan bagaimana agar program ini dapat berjalan dengan baik ?

Saat ini bila kita melihat perilaku dan watak bangsa Indonesia, maka akan dapat kita lihat bahwa hal tersebut masih jauh dari budaya leluhur kita yang sangat menjunjung tinggi adab sopan santun, sabar dan toleransi antar sesama. Budaya tradisional Indonesia juga sudah mengenal adanya pemanfaatan ruang publik dan budaya antri. Dan setiap daerah memiliki budaya yang relative sama, hanya namanya saja yang berbeda-beda . Dalam pemanfaatan ruang publik kita mengetahui budaya di pulau Jawa yang selalu mengaitkan dengan Pamali, yaitu larangan-larangan dalam perilaku sehari-hari yang tidak pantas, kemudian di wilayah Maluku dan Papua ada budaya Sasi yang mengatur tentang perilaku manusia dan hubungannya dengan lingkungan. Kemudian budaya antri juga sudah lama dikenal dalam budaya local kita seperti budaya Subak di Bali, yaitu budaya untuk mengatur system pengairan sawah di pedesaan Bali yang didasari oleh budaya antri dan taat serta patuh kepada Kelian, seorang pejabat dalam subak yang memiliki tugas mengatur pembagian air. Budaya-budaya itu merupakan warisan leluhur yang seharusnya kita pertahankan dan gali kembali, sehingga mampu membendung efek negatif dari globalisasi yang mengkis kepribadian asli bangsa Indonesia.

(4)

budaya bangsa akhirnya menjadi luntur seiring perjalanan waktu, sehingga perlu digalakkan kembali dalam kurikulum pelajaran budi pekerti di sekolah dan masyarakat secara luas. Sejalan hal itu, agenda prioritas Revolusi mental saat ini telah ditindaklanjuti menjadi Gerakan Nasional Revolusi Mental yang dijabarkan dengan aksi nyata melalui program Gerakan Indonesia Tertib.5 Program Gerakan Indonesia Tertib difokuskan pada peningkatan perilaku tertib penggunaan ruang publik dan peningkatan perilaku budaya antri sebagai sebuah upaya untuk mengembalikan karakter bangsa tersebut.

Ruang publik atau ruang umum pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakatnya, baik secara individu maupun secara kelompok. Ruang publik yang dimaksud merupakan sarana yang disediakan pemerintah untuk digunakan secara umum oleh masyarakat secara bersama-sama. Diberbagai negara ruang publik disediakan untuk berbagai macam tujuan seperti transportasi, rekreasi, perdagangan/bisnis, pendidikan, berkomunikasi, interaksi, dan lain-lain. Pada umumnya ruang publik terbagi menjadi dua menurut sifatnya yaitu terbuka dan tertutup6. Ruang publik terbuka adalah area parkir, Halte, Area olah raga Umum. Trotoar, Area rekreasi dan Rest area, sementara Ruang publik tertutup adalah Stasiun, Terminal, Bandara, Pelabuhan dan Moda Transportasi. Budaya Antri adalah suatu proses pola perilaku yang ditampilkan seseorang atau sekelompok dalam beraktivitas berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Dalam budaya antri terdapat unsur kesamaan kebutuhan, minat dan waktu bersama, keterbatasan waktu pelayanan dan sumber daya yang melayani, serta unsur kesepakatan yang tidak tertulis. Unsur kesepakatan yang dimaksud memberikan makna bahwa yang datang lebih awal dalam antrian akan dilayani lebih dulu. Hal tersebut menunjukkan makna bahwa dalam antrian memberikan karakter menghargai orang lain, disiplin dan tertib. Budaya antri telah berlangsung sejak zaman dahulu dan dipicu oleh kemajuan pola pikir masyarakat. Semakin maju peradaban pola pikir masyarakat, maka semakin tertib budaya antri yang dilakukan. Kondisi ini terlihat di negara-negara maju yang selalu tertib dalam mengadakan antrian.

5 Setkab RI, Instruksi Presiden RI Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental, 2016.

(5)
(6)

Dalam rangka memperbaiki sifat-sifat buruk tersebut dan mengembalikan karakter asli masyarakat Indonesia yang berbudi luhur maka diperlukan langkah-langkah kongkrit dan terencana serta terpadu/lintas sektoral sehingga dapat optimal dalam pelaksanaannya, langkah-langkah tersebut adalah;

Pembentukan Karakter Sejak Dini, pembentukan karakter yang berkepribadian Pancasila harus dimulai sejak dini dan dimulai tingkat keluarga, masyarakat dan sekolah yang berjenjang dari Playgrup, Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama mestilah diberdayakan kembali. Sebagaimana yang dinyatakan Philips, bahwa keluarga hendaknya menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang7. Anak yang merupakan bibit masa depan bangsa harusnya mendapatkan nutrisi kasih sayang dan teladan tentang pentingnya saling mengasihi sesama dari keluarga. Kasih sayang dan penghargaan yang diterima anak dalam keluarga akan meningkatkan self esteem anak8 .

Self esteem yang tinggi ini akan pada gilirannya menjadikan anak memiliki perasaan mampu menghadapi kesulitan, siap terhadap tantang dimasa depan. Anak dengan self esteem yang tinggi juga akan mampu mengembangkan kemampuannya dengan lebih baik karena kemampuan mereka diharagai dan merekapun menghargai apa yang mereka miliki. Dengan demikian karakter positif yang pada dasarnya telah dimiliki anak akan dapat dikuatkan. Untuk itu dalam sebuah keluarga perlu Penerapan Kedisiplinan, Membentuk dasar keagamaan yang kuat, Perlakuan Kasih Sayang dan Pembentukan Nilai Sopan Santun dan Tatakrama. Untuk itu perlu dimaksimalkan peran PKK di lingkungan masyarakat sehingga dapat membekali para ibu-ibu dalam mendidik keluarganya. Sementara Sekolah/Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak, bukan hanya untuk mendapat nilai angka yang tinggi saja. Sekolah harus menjadi penggerak utama dalam pendidikan yang bebas dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal dan tidak memihak. Dengan demikian tujuan pendidikan efisiensi sosial, pembentukan berwarganegaraan, dan

7 Philip, C. Thomas, Family as The School of Love, 2000.

(7)

penciptaan manusia berkarakter bisa terwujud9. Sekolah yang secara mikro merupakan

leading sector, harus mampu berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus proses pendidikan karakter di sekolah. Terdapat prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter disekolah10; Berkelanjutan, prinsip ini mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari satuan pendidikan; 2) Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah; 3) Nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan, prinsip ini mengandung makna bahwa materi nilai pendidikan karakter bangsa bukanlah bahan ajar biasa, nilai ini tidak dijadikan pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep teori, melainkan harus dikembangkan melalui berbagai aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik; 4) Proses pendidikan dilakukan peserta didik dengan aktif dan menyenangkan, poin ini merupakan titik tekan yang harus diperhatikan. Bahwa sekolah harus mampu mewujudkan proses belajar yang menyenangkan untuk siswa didik dan dilakukan secara aktif oleh siswa dan bukan guru. Untuk itu bagi seluruh siswa sejak mulai dini harus dikenalkan dengan Kedisiplinan dan Tata Krama di lingkungan sekolahnya , yaitu dengan pemberian materi PBB yang dilaksanakan saat Upacara Bendera, penghormatan kepada Bendera Merah Putih, berbaris dan antri sebelum masuk kelas, menyalami Ibu/Bapak guru, menjaga kebersihan kelas, membuat jadwal piket dan petugas kebersihan, menyanyikan lagu kebangsaan sebelum memulai pelajaran, menghormati orang yang lebih tua, menutup pintu gerbang saat mulai pelajaran dan menghukum siswa yang terlambat. Sehingga sejak dari awal siswa dikenalkan dengan kepribadian yang baik.

Peningkatan Peran Aparatur Negara, dalam meningkatkan kedisiplinan penggunaan ruang publik dan budaya antri di kalangan masyarakat Indonesia sangat diperlukan peran serta dari aparatur negara seperti aparatur Pemerintah Daerah yang dilaksanakan dari level atas sampai bawah, seperti aparat kelurahan/desa dan Polisi

9 Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Karya Ki Hajar Dewantara Bagian I Pendidikan, 1962.

(8)

Pamong Praja sebagai pengawas dan penjaga Ketentraman dan Ketertiban umum juga oleh Kepolisian yang memiliki tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta aparat TNI yang memiliki Babinsa di setiap wilayah dan memiliki tugas melaksanakan pembinaan masyarakat, selain itu terdapat juga aparat dari instansi lain yang memiliki tanggung jawab yang sama dan dituntut untuk mampu membina masyarakat. Peningkatan kemampuan aparat baik secara kualitas maupun kuantitas sangat diperlukan, karena tugasnya sebagai pengawas di ruang publik yang harus mampu menjaga keamanan dan kenyamanannya. Aparat yang berdisiplin, bebas korupsi dan memiliki integrasi serta kinerja yang tinggi sangat dibutuhkan. Untuk itu diperlukan pembekalan/pendidikan dasar yang cukup, pemberian insentif/tunjangan kinerja bagi aparatur yang berprestasi, penambahan jumlah personel maupun pos pengawas di ruang public, peningkatan kemampuan dalam pelayanan kepada masyarakat dan pemberian hukuman bagi yang melanggar/berkinerja buruk. Selain itu diperlukan juga Tim Gabungan Penyuluh Revolusi Mental yang terdiri dari berbagai macam elemen masyarakat seperti aparat Pemda, Polisi, TNI, LSM, pemuka agama dan organisasi lainnya. Tim ini bertugas memberikan penyuluhan kepada seluruh lapisan masyarakat. Yang terakhir adalah pembuatan ketentuan/peraturan daerah di ruang public oleh pemerintah daerah sehingga dapat dijadikan sebagai dasar dalam bertindak bagi seluruh elemen masyarakat.

(9)

Sosialisasi dan Publikasi, dengan sosialisasi dan publikasi yang masif serta terencana dengan baik maka program revolusi mental aspek penggunaan ruang public dan budaya antri akan lebih cepat mencapai sasaran. Sosialisasi dapat dilakukan melalui lingkungan keluarga (PKK), lingkungan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan di kelurahan/desa maupun tempat ibadah, sosialisasi di sekolah melalui penyuluhan dan pemberian materi pelajaran dan sosialisasi di perguruan tinggi/organisasi massa melalui seminar dan workshop yang dilakukan secara internal maupun terbuka dan disiarkan oleh media. Pemberian sosialisasi ini dilakukan oleh tim gabungan penyuluh lintas sektoral yang dibentuk untuk melaksanakan penyuluhan secara terpadu ( MTT/ Mobile Team Training). Publikasi harus dilakukan secara massif dan kepada seluruh elemen masyarakat melalui media massa baik cetak (Koran,majalah, pamflet,selebaran,brosur), elektronik (TV,Radio,Online), film bioskop, baliho, papan reklame,videotron dan sarana publikasi yang lain. Publikasi ini harus menyesuaikan dengan sasaran seperti pamflet di tempat ibadah akan berbeda dengan di sekolah taman kanak-kanak maupun bagi mahasiswa di perguruan tinggi.

(10)

Pelanggaran terhadap ketentuan di ruang publik seperti membuang sampah sembarangan, mencorat-coret tembok, buang air sembarangan, berbuat asusila, merusak prasarana umum harus diberikan hukuman yang setimpal oleh penegak ketertiban dan ketentraman di ruang publik yaitu Polisi Pamong Praja dan Polri. Selain hukum legal yang dibuat pemerintah daerah, perlu juga dilakukan penguatan terhadap hukum adat/norma daerah yang bisanya akan memberikan hukuman secara social dan adat yang jauh lebih mengikat dan sangat ditakuti oleh masyarakat. Hukum adat yang masih kuat ini dapat kita lihat masih dilakukan di daerah Bali, dimana pecalang adat sebagai penjaga keamanan dan ketertiban umum sangat dihargai oleh masyarakat.

Revolusi mental di bidang pemanfaatan ruang publik dan budaya antri dapat dianalogikan sebagai simbolisasi dari lompatan dari sisi perilaku dan watak (character building). Dimana revolusi mental hanya bisa dilakukan dengan cara menguatkan kembali nilai-nilai Pancasila yang diinternalisasikan dalam pendidikan dan kehidupan masyarakat, dihayati oleh seluruh individu dan kelompok serta tercermin dalam perilaku masyarakat Indonesia. Nilai-nilai ini harus ditanamkan dengan secara all out melalui kebijakan pemerintah sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa.

Demikian tulisan Peningkatan perilaku tertib penggunaan ruang publik dan peningkatan perilaku antri dalam rangka membangun kesadaran bangsa indonesia yang lebih tertib serta taat hukum, agar menjadi kesepakatan dan tekad bersama untuk mengubah menjadi Indonesia yang lebih baik.

Sentul, Agustus 2017

Penulis,

Sigit Purwanto S.I.P, M.Si

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :