PEMANFAATAN
UNMANNDED AERIAL VEHICLE
(UAV)
UNTUK PENDOKUMENTASIAN DAN PEMETAAN PADA
KAWASAN RAWAN BENCANA (KRB)
(STUDI KASUS SEBARAN TINGGALAN BUDAYA BENDA DI NAGARI PARIANGAN KABUPATEN TANAH DATAR)
Dafriansyah Putra1, Gilang Aditya2
1
Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau (Alumnus Jurusan Teknik Sipil Universitas Andalas),[email protected]
2
Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau (Alumnus Jurusan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi
Universitas Gadjah Mada),[email protected]
ABSTRACT
The area around the active volcano is relatively vulnerable to the impact of geological disasters whenever the intensity of volcanic is increased. Tanah Datar Regency, especially Nagari Pariangan, is an area located in Disaster Prone Areas Marapi Volcano. Not only it threatening the casualties and property, the disaster will also impact on the potential distribution of tangible objects in the form ofrumah gadangwhich has significant value in historical, archaeological, architectural and civil engineering. Existing documentation in the form of photogrammetry of the region becomes an important basis to record pre-disaster data and further map data processing. The utilization of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) for an area is a progress of detail recording technology which has a good accuracy in creating a basic data. The photogrammetry documentation by utilizing the drone device is capable of achieving a resolution up to 11,377 cm. The mapping of vulnerability to the geological disasters of Mount Marapi on 70rumah gadangin Nagari Pariangan, produces data: 21 rumah gadang were safe from disaster, 40 rumah gadang were in dangerous eruption, and 9rumah gadangwere in lava and eruption hazard. Mapping using UAVs is particularly important in relation to pre-disaster documentation, post-disaster monitoring, and other disaster management models within a region's scope.
Keywords: Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Disaster Prone Areas, Tangible Cultural Heritage
ABSTRAK
perekaman yang detail dan memiliki ketelitian baik dalam menciptakan suatu data dasar. Pendokumentasian fotogametri dengan mendayagunakan perangkat pesawat drone ini mampu mencapai resolusi hingga 11,377 cm. Adapun pemetaan kerawanan terhadap bencana geologi Gunung Marapi pada tinggalan budaya benda berupa 70 rumah gadang di Nagari Pariangan, menghasilkan data: aman bencanasebanyak 21 rumah gadang,rawan bahaya erupsi sebanyak 40 rumah gadang, dan bahaya lahar dan erupsi sebanyak 9 rumah gadang. Pemetaan menggunakan UAV amat penting diterapkan terkait pendokumentasian prabencana, monitoring pascabencana, maupun model manajemen bencana lain dalam suatu ruang lingkup kawasan.
Kata Kunci : Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Kawasan Rawan Bencana, Tinggalan Budaya Benda
1. PENDAHULUAN
Tinggalan budaya dalam bentuk kebendaan(tangible)atau Cagar Budaya pada dasarnya terdiri dari benda, situs, bangunan, struktur dan kawasan. Pelestarian sebaran tinggalan sumber daya budaya di dalam suatu kawasan harus didukung oleh kegiatan pendokumentasian sebelum terjadinya aspek-spek yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan keasliannya. Bencana alam adalah salah satu indikasi yang berpotensi menyebabkan perubahan lansekap kawasan secara signifikan.
Nagari Pariangan erat kaitannya dengan sejarah Minangkabau. Bukan hanya keindahan alamnya yang dinobatkan majalah Travel Budget sebagai Desa Terindah di Dunia, Nagari tertua di Minangkabau ini memiliki potensi sumber daya budaya dalam bentuk banyaknya sebaran potensi Bangunan Cagar Budaya dalam bentuk bangunan rumah gadang yang terhimpun pada satu kawasan. Terdapat 70 rumah gadang yang pada umumnya telah berusia ratusan tahun dan masih bertahan hingga kini. Berikut data sebaran tinggalan budaya benda pada masing-masing jorong dalam Nagari Pariangan:
Tabel 1. Sebaran Tinggalan Budaya Benda di Nagari Pariangan
No Jorong Jenis Tinggalan Jumlah
1. Sikaladi Rumah Gadang 16
2. Pariangan Rumah Gadang 24
3. Padang Panjang Rumah Gadang 30
4. Guguk Rumah Gadang 0
(Sumber: Survey Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, 2016)
Tabel 2. Luas wilayah Kawasan Rawan Bencana dalam Kecamatan Pariangan
No Nagari Luas Wilayah (Km2) Jumlah
KRB I KRB II KRB III Luas KRB Km2
1 Sungai Jambu 6,737 4,223 3,766 3,194 17,92
2 Pariangan 7,458 4,117 1,765 3,990 17,33
Jumlah 14,195 8,340 5,531 7,184 35,25
(Sumber: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanah Datar, 2016)
Nagari Pariangan merupakan kawasan tradisional dengan sebaran objek yang memiliki nilai penting dari sisi kesejarahan, arkeologis, arsitektur maupun dalam keilmuan teknik sipil, namun wilayah sebaran sumber daya budaya tersebut berpotensi terkena dampak bencana geologi, maka perlu dilakukan perekaman data prabencana sebagai upaya mendapatkan dokumentasi piktorial sekaligus akan menjadi data dasar dalam pemetaan, dan upaya manajemen bencana lainnya.
Kawasan Rawan Bencana III Selalu terancam aliran awan panas, lava gas racun, dan guguran batu (pijar) r: 3km Selalu terancam
lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat
Kawasan Rawan Bencana III Selalu terancam aliran awan panas, lava gas racun, dan guguran batu (pijar) r: 5km
Kawasan Rawan Bencana I Berpotensi terlanda aliran lahar hujan
r: 7km Berpotensi terhadap hujan abu dan kemungkinan dapat terkena lontaran batu (pijar)
Sebaran sumber daya budaya (Rumah Gadang)
(Sumber: Baperlitbang Kabupaten Tanah Datar dan diolah oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat)
Gambar 1. Peta Dampak Bencana Letusan Gunung Api Marapi Kabupaten Tanah Datar
2. STUDI PUSTAKA
Kawasan tradisional dengan sebaran tinggal budaya berupa rumah tradisional lahir dari tradisi vernakular yang disusun oleh material alam dan metode tradisional, pada dasarnya merupakan kekayaan khazanah sekaligus contoh yang penting untuk diangkat dan ditelaah lebih dalam. Ditilik dari sisi rancang bangunan misalnya. Pengaruh globalisasi dalam arsitektur serta merta akan membawa arus pengaruh pada metamorfosa gatra yang sarat perwujudan modernitas. Namun, tak dapat dimungkiri, arsitektur lokal yang hadir dari kualitas hubungan antara manusia dengan lingkungan adalah konsep dasar perwujudan arsitektur. Tatanan serta bentuk arsitektur yang masih kuat berlandas pada tradisi merupakan ekspresi dari makna, nilai dan kepercayaan yang dianut oleh suatu komunitas dalam kurun waktu tertentu. (Salura, 2007)
Secara lokalitas, masyarakat adat sudah mampu membuat perencanaan keruangan berbasis potensi lokal. Masyarakat dari generasi ke generasi akan mampu dan jeli dalan pertimbangan pemanfaatkan lahan dengan peruntukannya antara ekologi, ekonomi dan estetik (Effendi dkk, 2012). Kebiasaan dari suatu komunitas tradisional menghasilkan sebuah pengetahuan teknis yang jika ditilik dari kondisi kekinian merupakan sebuah pertimbangan empiris yang matang.
Adanya kawasan tradisional dengan komponen lansekap sejarah dan lansekap budaya merupakan aset berharga yang masih terjaga. Potensi Cagar Budaya yang bersifat warisan budaya bendawi (tangible) merupakan bentuk kebudayaan bangsa yang harus dilestarikan dalam bentuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan yang sesuai dengan amanat pelestarian di dalam Undang-undang No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pendokumentasian merupakan salah satu bentuk pelestarian tinggalan budaya benda melalui data, guna transformasi ilmu bagi kepentingan generasi yang akan datang.
Kemajuan teknologi pendokumentasian berdampak pada perekaman data peta yang secara metode semakin efektif dan efisien. Teknologi UAV (Unmanned Aerial Vehicle) adalah teknologi pemetaan fotogametri dengan menggunakan wahana berupa pesawat tanpa awak. Pemanfaatan pesawat tanpa awak yang memakai prinsip aerodinamika ini merupakan salah satu cara yang dpat digunakan untuk misi pemetaan, monitoring dan inspeksi terhadap suatu wilayah.
Gambar 2. Teori Geometri Foto Udara
3. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi yang diterapkan dalam penelitian ini terdiri dari prasurvey, survei lapangan dan pascasurvei. Tahapan awal terdiri dari persiapan teknis dan non-teknis, pengamatan area survey dan studi referensi. Adapun tahap survey lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data primer berupa: observasi lapangan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi objek, ploting sebaran tinggalan budaya benda untuk menentukan keletakan geografis masing-masing objek dengan menggunakan perangkat GPS, pengambilan data mozaik foto udara dengan piranti UAV/pesawat drone, pengisian formchecklish survei, serta dokumentasi foto. Adapun tahapan pascasurvei merupakan kegiatan pengolahan data foto udara, pengolahan foto dokumentasi dan penyusunan database. Kebutuhan data sekunder penelitian ini adalah data Kawasan Rawan Bencana (KRB) di Kecamatan Pariangan dan data peta penanggulangan bencana letusan Gunung Api Marapi yang diperoleh dari Badan Perencanaan, Penelitian, Pengembangan Daerah Kabupaten Tanah Datar dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanah Datar.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengumpulan Data Identifikasi dan Data Teknis
4.2. Pendokumentasian Fotogametri Kawasan
Untuk mendapatkan data objek kawasan yang utuh dengan resolusi yang tajam, dilakukan pemetaan fotogrametri menggunakan pesawat drone. Data fotogrametri ini diperoleh gambaran objek, baik objek alam: tanaman, aliran sungai, dsb, maupun objek buatan: bangunan, jalan, dsb.
Pendokumentasian diawali dengan membuat perencanaan jalur (flight plan) dan membuat sebaran titik penerbangan. Penerbangan di kawasan Nagari Pariangan dilakukan pada titik kontol penerbangan yang berbeda-beda. Posisi untuk menentukan titik penerbangan adalah dengan mempertimbangkan tercakupnya semua area yang dibutuhkan. Pembuatan perencanaan jalur ini ini dibantu dengan program Pix4d pada android yang terkoneksi dengan pesawat drone. Contoh tampilan aplikasi Pix4d dapat dilihat pada gambar 3 berikut:
Gambar 3. TampilanFlight Planpada AplikasiPix4d
Data mozaik foto udara yang telah didapat kemudian diolah dengan aplikasi Agisoft Photoscan untuk menghasilkan keluaran berupa orthophoto. Hasil orthophoto inilah akan menjadi data kondisi eksisting sebaran objek dan lingkungan. Hasil orthophoto yang detail dan memiliki ketelitian yang baik. Selain mendapatkan gambaran kondisi eksisting juga dapat menjadi data dasar dalam pengolahan kebutuhan data terkait kawasan: monitoring, rencana pengembangan, maupun upaya-upaya pelestarian lainnya.
Gambar 4. Tampilan Pengolahan DataAgisoft Photoscan
Selain menghasilkan dokumentasi eksisting yang detail, terbaru dan akurat, model orthophoto yang diolah dari pesawat drone disajikan dalam bentuk peta yang gambaran tinggalan budaya benda yang berdampak pada kerawanan terhadap bencana geologi Gunung Marapi. Akan dapat diidentifikasi sebaran objek mana saja yang aman bencana, berdampak tutupan bahaya erupsi, serta terkena langsung bahaya lahar dan erupsi.
Gambar 7. Peta Klasifikasi Kerawanan Tinggalan Budaya Benda di Nagari Pariangan terhadap Potensi Bencana Geologi Gunung Marapi
Dilakukan perekapan data dalam bentuk tabelaris koordinat sebaran tinggalan rumah gadang dan pengklasifikasian sesuai tingkat kerawanan terhadap potensi bencana geologi Gunung Marapi.
Tabel 3. Sebaran tinggalan rumah gadang dan klasifikasi kerawanan
Objek Jorong
Tk. Keraw anan
Koordinat X UTM
Koordinat
Y UTM Objek Jorong
Tk. Keraw anan
Koordinat X UTM
Koordinat Y UTM
1
Rumah Gadang Maharajo Depang
Pariangan Bahaya
Erupsi 100,492959 -0,455456 36
Rumah Gadang
Dt. Garang Sikaladi
Bahaya
Erupsi 100,480980 -0,457139
2 Rumah Gadang
Datuk Cilangik Pariangan Aman 100,487292 -0,456306 37
Rumah Gadang Dt. Panduko Rajo
Sikaladi Aman 100,481950 -0,460804
3
Rumah Gadang Angku Bandaro Kayo
Pariangan Aman 100,493672 -0,458704 38 Rumah Gadang
Dt. Indo Marajo Sikaladi Aman 100,481724 -0,461243
4 Rumah Gadang
Datuk Tampang Pariangan Aman 100,487491 -0,456416 39
Rumah Gadang
Dt. Siama Sikaladi Aman 100,482731 -0,461818
dan
Datuk Rajo Api Pariangan
Bahaya Lahar dan Erupsi
100,492325 -0,455561 44 Rumah Gadang Dt. Sidano
100,492184 -0,455331 45 Rumah Gadang Dt. Suri Marajo
100,491753 -0,455031 47 Rumah Gadang Dt. Rajo Lelo
Erupsi 100,491435 -0,453974 48
Rumah Gadang
Erupsi 100,491819 -0,454065 49
Rumah Gadang
Erupsi 100,492114 -0,454162 50
Rumah Gadang
Erupsi 100,492444 -0,454982 51
Rumah Gadang
100,493264 -0,456941 53 Rumah Gadang Dt. Mustapa
Erupsi 100,494195 -0,456782 54
Rumah Gadang
Pariangan Aman 100,493711 -0,458340 56 Rumah Gadang Dt. Sinaro
Datuk Sampono Pariangan Aman 100,494052 -0,459097 57
Rumah Gadang
Datuk Maka Pariangan Aman 100,495097 -0,459960 58
Rumah Gadang
Datuk Garang Pariangan Aman 100,491866 -0,458757 59
Dirajo
28 Rumah Gadang
Dt. Sudano Sikaladi Aman 100,482029 -0,461290 63
Rumah Gadang
Dt. Tambijo Sikaladi Aman 100,482246 -0,461216 64
Rumah Gadang
Dt. Intan Sati Sikaladi Aman 100,482017 -0,460999 65
Rumah Gadang
Dt. Barabanso Sikaladi Aman 100,481734 -0,460476 66
Rumah Gadang
Sikaladi Aman 100,481247 -0,460471 67 Rumah Gadang Dt. Kayo
Padang Panjang
Bahaya
Erupsi 100,495622 -0,448655
33 Rumah GadangDt. Bungsu Sikaladi Aman 100,481634 -0,459459 68 Rumah GadangDt. Tamudo PadangPanjang BahayaErupsi 100,494863 -0,449093
34 Rumah Gadang
Dt. Panduko Sikaladi
Bahaya
Erupsi 100,480803 -0,457476 69
Rumah Gadang
Erupsi 100,480686 -0,456654 70
Rumah Gadang
1. Pendokumentasi eksisting sebaran tinggalan budaya benda sebagai upaya perekaman data prabencana dengan memanfaatkan fungsi Unmanned Aerial Vehicle pada Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Marapi, Nagari Pariangan, dilakukan pada area 338,89 ha dengan total foto yang dapat diambil sebanyak 204 foto. Keluaran kegiatan berupa fotogrametri kawasan yang kemudian dipetakan. 2. Pendokumentasian fotogametri dengan memanfaatan Unmanned Aerial Vehicle
menghasilkan resolusi 11,377 cm. Data dokumentasi piktorial yang dihasilkan lebih detail dibandingkan citra satelitquickbirdyang memiliki resolusi geospasial 2,4 m. 3. Pemetaan kerawanan terhadap bencana geologi Gunung Marapi pada tinggalan
budaya benda berupa 70 rumah gadang di Nagari Pariangan, menghasilkan data: aman bencana sebanyak 21 rumah gadang, rawan bahaya erupsi sebanyak 40 rumah gadang,bahaya lahar dan erupsisebanyak 9 rumah gadang.
4. Pemetaan menggunakan Unmanned Aerial Vehicle dapat menginterpretasikan hingga per atap bangunan. Hal ini amat penting terkait pendokumentasian prabencana maupun monitoring pascabencana dalam suatu kawasan.
5. Pemanfaatan Unmanned Aerial Vehicle menghasilkan dokumentasi eksisting yang dapat menjadi data dasar yang detail, akurat dan terbaru dalam pengolahan data terkait kawasan, seperti: zonasi kerawanan bencana, permodelan evakuasi, rencana prioritas, maupun upaya-upaya manajemen kebencanaan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, dkk. 2012. Ranah Minang Siaga Bencana. Lembaga Swadaya Masyarakat BANIO.