ANALISA BAHASA RUPA REPRESENTASI GENDER
DALAM BOTOL PARFUM
Edy Jogatama Purhita Universitas Komputer Indonesia
Program Studi Magister Desain Jl. Dipati Ukur No. 112-116, Bandung, 40132
Email: [email protected]
ABSTRACT
Product perfume or brands associate with stereotype Role of Gender in consumer mind. This is associated with the gender image and user identity, male (masculine) or women (feminine). In the packaging and bottles of perfume given picture that represents the Specific gender.
Characters of perfume bottle representing contents perfume. As well as its linkages users character gender. So the visual embodiment of a perfume bottle can be interpreted as a gender Sign related perfume consumer.
Analysis of visual language able to uncover the story behind the embodiment of a perfume bottle. Image content (isi wimba) can be using reference object lingkages gender. It related with representation of gender or sex characteristics from the perfume consumer. The way to draw image content in visual language known as Image Way (cara wimba). The reference object is drawn into the embodiment of a perfume bottle with Image Way. The topic of visual language can be captured stories behind embodiment of a perfume bottle. The captured meaning will be expanded with uncover stories related gender
keywords: perfume bottles, visual language, semiotics, design, packaging
ABSTRAK
Produk atau Merek parfum mengasosiasikan citranya dengan stereotip peran gender tertentu dalam benak konsumen. Hal ini dikaitkan dengan citra dan identitas gender laki-laki (maskulin) atau perempuan (feminin). Dalam kemasan maupun botol parfum diberikan gambaran identitas dan karakter gender sehingga merepresentasikan gender tertentu.
Botol parfum merepresentasikan karakter parfum isinya serta karakter penggunanya, dalam kaitan ini karakter gender penggunanya, sehingga perwujudan visual botol parfum dapat dimaknai menjadi tanda gender bagi konsumen parfum.
karakteristik gender dari pengguna parfumnya. Cara penggambaran obyek acuan (isi wimba) dalam bahasa rupa dikenal sebagai Cara Wimba. Objek acuan digambarkan menjadi wujud botol parfum dengan cara wimba. Dari topik bahasa rupanya dapat ditangkap cerita dibalik perwujudan botol parfum. Makna yang ditangkap akan diperluas dengan mengungkap cerita-cerita terkait gender.
Kata kunci : botol parfum, bahasa rupa, semiotika, desain, kemasan
A. PENDAHULUAN
Parfum Kata berasal dari bahasa Latin
"per fumum" yang berarti melalui
asap. Antropolog berspekulasi bahwa
wewangian primitif dimulai dengan
pembakaran dupa yang terbuat dari
getah pepohonan. Kemudian beraneka
ragam tanaman beraroma dimasukkan
dalam minyak hewani dan nabati
untuk mengurapi tubuh dalam
upacara maupun untuk kesenangan.
Dari 7000-4000 SM, minyak lemak
zaitun dan wijen diduga telah
digabungkan dengan tanaman harum
untuk menciptakan salep aromatik.
Sejarah kuno parfum masih banyak
yang diselimuti misteri. Parfum
merupakan bagian penting dari
kehidupan di zaman kuno yang
tercermin dari bukti arkeologis (Biers,
1994:4). Wewangian telah digunakan
selama ribuan tahun dalam upacara
keagamaan, meditasi, praktek
penyembuhan dan kosmetik
(Worwood, 1995:19).
Kebutuhan parfum masa kini
dicukupi oleh Industri parfum dengan
menjual produk parfum dengan
segmen pasar yang luas. Tidak hanya
parfum untuk segmen sosio-ekonomi
kelas atas dengan harga ratusan ribu
hingga jutaan rupiah, namun juga
untuk kalangan menengah ke bawah
dengan harga yang relatif terjangkau
yaitu puluhan ribu rupiah. Produk
parfum tersebut sangat mudah untuk
ditemui dalam jaringan mini market
yang tersebar di seluruh Indonesia.
Seringkali kemasan sebagai titik
akhir dari komunikasi ini. Pentingnya
kemasan tercermin dalam deskripsi
tentang kemasan sebagai "salesman
diam" (silent salesman) (Pilditch,
1961:55). Kemasan memiliki
beberapa fungsi yang memungkinkan
konsumen untuk mengidentifikasi,
membedakan dan memilih merek.
penting dalam kegiatan pemasaran
modern dan salah satu pusat perhatian
untuk setiap strategi pemasaran
'terintegrasi' (Rundh, 2009:21),
khususnya untuk barang-barang
konsumen yang bergerak cepat.
(Simms & Trott,2010:45).
Strategi Pemasaran produk kosmetik
atau perawatan tubuh (termasuk
parfum) menawarkan alternatif
dengan gender sebagai target. Desain
kemasan juga merupakan faktor
penting yang mencerminkan isi
produk dan identitas, yang bisa
menarik perhatian potensi pembeli
dari target gender tertentu. (Siripuk
Ritnamkam and Nopadon
Sahachaisaeree, 2012:5)
Produk atau Merek Gender berarti
mengasosiasikan citranya dengan
stereotip peran jenis kelamin dalam
benak konsumen. Mengkaitkan
produk atau merek dengan citra dan
identitas maskulin atau feminin
(Costa, 1994:30). Dua langkah dapat
diambil untuk produk gender ;
langkah pertama adalah merancang
atau memodifikasi produk atau merek
sehingga menarik bagi stereotip pria
atau wanita. Kedua, produk atau
merek diberikan penggambaran jenis
kelamin. Hal ini sangat terkait dengan
peran stereotip maskulin atau
feminin. Strategi komunikasi
pemasaran ini disampaikan melalui
iklan dan promosi, diantaranya dalam
bentuk rupa desain botol kemasan
berorientasi gender. Pesan penjualan
segmen gender produk disampaikan
secara visual melalui desain kemasan.
Merek gender produk parfum
dibangun untuk tujuan menggaet
konsumen pria, konsumen wanita,
konsumen anak perempuan,
konsumen anak laki-laki dan
konsumen Bayi. Gambaran karakter
gender konsumennya, tidak
diwujudkan secara sederhana dalam
perbedaan dikotomis berdasar jenis
kelamin laki-laki dan wanita, namun
mencakup kompleksitas karakteristik
gender yang lebih luas. Gender yang
dimaksud mengacu kepada
perbedaan-perbedaan antara
perem-puan dengan laki-laki tanpa
konotasikonotasi yang sepenuhnya
bersifat biologis, tetapi lebih merujuk
kepada perbedaan-perbedaan akibat
bentukan sosial. Karena itu, yang
seperangkat aturan, tradisi, dan
hubungan sosial timbal balik dalam
masyarakat dan dalam kebudayaan
yang menentukan batas-batas feminin
dan maskulin (Macdonald, 1999:11).
Berdasarkan pemaparan Latar
Belakang Penelitian diatas, dapat
dirumuskan butir-butir
permasalah-annya sebagai berikut :
a. Bagaimana sejarah parfum dan
penggunaan botol parfum kuno ?
b. Bagaimana tanda gender botol
parfum digunakan untuk
membangun merek berorientasi
gender (Gender Brand) ?
c. Bagaimana representasi gender
dalam bahasa rupa botol parfum ?
B. METODE
Metode penelitian yang digunakan
adalah Penelitian Kualitatif, yaitu
metode yang lebih menekankan pada
aspek pemahaman secara mendalam
terhadap suatu masalah daripada
melihat permasalahan untuk
penelitian generalisasi. Metode
penelitian ini lebih suka
menggunakan teknik analisis
mendalam ( in-depth analysis )
mengkaji representasi gender dalam
botol parfum. Pendekatan analisanya
menggunakan analisa tanda gender
(semiotika desain) dan analisa bahasa
rupa.
B.1. Analisa Tanda Gender
Dalam Semiotika tanda-tanda dibagi
oleh hubungan tiga unsur
(tricothomies) : pertama, menurut
tanda itu sendiri (representamen R);
kedua, menurut hubungan dengan
objeknya (menurut R-O); ketiga,
menurut penafsir (menurut R-I).
Wujud yang dirasakan adalah
representamen (R). Fungsi wujud R
sebagai media dalam penafsiran
(yaitu, relasi O-R-I). Wujud R adalah
sarana untuk interpretasi (I). Hal ini
mengacu pada mode yang berbeda
untuk objeknya (0). Referensi ini
atau hubungan-hubungan objek (R-O)
adalah fokus dari analisis ini.
Dalam perspektif Pierce tanda
berkaitan dengan objek yang
menyerupainya, keberadaannya
memiliki hubungan sebab akibat
dengan tanda-tanda atau karena ikatan
tersebut. Ia menggunakan istilah Ikon
untuk kesamaannya, Indeks intuk
hubungan sebab akibat dan simbol
untuk asosiasi konvensional. (Arthur
Asa berger, 2005, h.14).
Analisa tanda pierce diatas digunakan
untuk mengungkap tanda gender pada
botol parfum, serta jenis tanda yang
dipakai sebagai penanda gender.
Gambar 1. Hubungan Tanda (sign) dengan Obyek
B.2. Analisa Bahasa Rupa
Prof. Dr. Primadi Tabrani penemu
Ilmu Bahasa Rupa secara sederhana
menyebut Bahasa Rupa sebagai
gambar yang bercerita. “Gambar”
yang dimaksud disini tentu bukan saja
lukisan tetapi segala karya visual
manusia seperti lukisan, patung, atau
ornamen dalam benda-benda yang
ada di sekitar kita.
Pendekatan Bahasa Rupa dalam
penelitian tesis ini adalah aplikasi
teori-tori Bahasa Rupa terhadap
pemahaman representasi gender
dalam botol kemasan parfum. Dalam
bahasa kata ada kata dan tata bahasa.
Padanannya pada bahasa rupa adalah
imaji (image) dalam tata ungkapan.
Imaji mencakup makna yang luas,
yang ada dalam khayalan. Oleh
karena itu istilah citra untuk imaji
dalam khayalan dan wimba untuk
imaji yang kasat mata.
Bentuk botol parfum merupakan
wimba yang bisa dibaca menceritakan
karakteristik penggunanya. Dalam
analisa ini akan diungkap bagaimana
cerita yang berkenaan dengan
representasi gender pada botol
kemasan parfum.
Dalam bahasa rupa dibedakan antara
Isi Wimba dan Cara Wimba. Isi
Wimba ialah objek yang digambar.
Misalnya gambar kerbau
menggambarkan objek kerbau, maka
kerbau yang digambar adalah Isi
Wimba. Cara Wimba adalah dengan
cara apa objek gambar itu digambar.
Langkah pertama dalam analisa ini
adalah mengidentifikasi Isi Wimba
dan komponen visual penyusun
wimba (Ijir wimba). Kemudian
mengungkap makna bahasa rupanya,
dilanjutkan mendalaminya dengan
cerita yang terkait dengan bahasa
rupa. Dengan analisa bahasa rupa
pada botol parfum ini akan difahami
representasi gender penggunanya.
C. PEMBAHASAN
C.1. Tinjauan Historis Parfum dan Botol parfum kuno
Jejak peradaban kuno yang berkenaan
dengan tradisi pembuatan parfum
pada bangsa Mesir, Yunani dan
Romawi, China dapat ditemukan pada
gambar-gambar dan beberapa artefak
kuno. Artefak-artefak tersebut secara
visual dapat dibaca dengan
menggunakan bahasarupa,
mencerita-kan bahwa tradisi parfum telah
berkembang dalam peradaban
bangsa-bangsa kuno tersebut.
Parfum dan wewangian dapat
ditelusuri ke beberapa budaya kuno,
terutama untuk peradaban Mesir
kuno. Bahkan, Mesir terkait parfum
mereka dengan dewa. Wewangian
dianggap sebagai keringat dewa
matahari Ra. Tutankhamun
menuangkan minyak parfum ke
tangan tunggu ratunya
Ankhesena-mun , seperti yang ditunjukkan relief
Gambar 2. Tutankhamun menuangkan
parfum pada permaisurinya1.
Lukisan dinding bangsa Romawi dari
kota Pompeii dan Herculaneum
menampilkan proses pembuatan
parfum. Parfum merupakan
komoditas perdagangan dan industri
yang terkenal dikala itu. Dimana juga
banyak ditemukan wadah-wadah
parfum kuno.
Sekelompok Cupids digambarkan
membuat parfum dalam toko parfum
pada lukisan dinding fragmen
Romawi ini. Di sebelah kiri, dua
Cupids membuat campuran parfum
dalam mangkuk putih besar. Di
1
http://www.veniceclayartists.com/vessels-of-the-aromatic/ , diakses 20/04/2016 jam 12:09 WIB
belakang mereka, lemari memajang
botol memajang produk parfum
maupun bahannya. Di sebelah kanan,
sebuah Cupid memegang alabastron,
sementara duduk memegang
lengannya untuk mencium parfum.
Cupids dan Psyche digambarkan
terlibat dalam kegiatan sehari-hari
adalah figur yang populer dalam seni
Romawi, terutama lukisan dinding.
Fragmen lukisan ini adalah bagian
dari gambar dinding yang lebih besar
dari dekorasi dinding di rumah orang
kaya.
Gambar 3. Lukisan dinding
pembuat-an parfum kota Pompeii2
Lukisan dinding sangat banyak
ditemukan dalam reruntuhan kota
ketika gunung berapi Vesuvius
meletus di tahun 79 Masehi,
menghancurkan kota Pompeii dan
Herculaneum. Panel seperti ini
merupakan elemen kecil dari dekorasi
tembok.
Berikut ini akan dipaparkan botol
parfum kuno berikut cerita yang
berkenaan dengannya :
Gambar 4. Botol Parfum Yunani Kuno
DATA ARTEFAK
NAMA Fat man perfume bottle LOKASI Kameiros di pulau Rhodes,
Yunani
TAHUN 520 SM
FUNGSI Botol parfum
BENTUK Figur laki-laki gendut UKURAN Tinggi : 14,4 cm
Lebar : 6,4 cm BAHAN Gerabah (terracotta)
SUMBER http://www.britishmuseum.org diakses 2/06/2016 jam 10:00 WIB.
Botol parfum kuno dengan bentuk
pria gendut berpose lucu memegang
perutnya yang buncit, berpose sedikit
jongkok, berasal dari Kameiros di
pulau Rhodes, Yunani, pembuatannya
sekitar 520 SM. Rhodes adalah
sebuah pulau Yunani yang relatif
besar dan makmur di zaman kuno
karena memiliki posisi strategis
secara geografis. Pulau tersebut
terletak dekat dengan laut Asia Kecil,
yang memberi peluang penduduk
untuk kontak dan perdagangan.
Selama abad ke 6 SM perdagangan
parfum sangat penting, kemungkinan
pengadaannya telah diimpor, tetapi
botol kemasannya dibuat di pulau
tersebut dalam berbagai bahan dan
bentuk. Berbagai macam bentuk botol
manusia dan kepala serta berbagai
macam hewan. Pengrajin lokal
mengembangkan gaya natural botol
parfum ini dalam bentuk seorang pria
gemuk dalam posisi sedikit jongkok,
dengan tangan memegang perutnya.
Gaya yang sedikit humoris karikatural
sosok pria gendut memancing
perhatian dan membuat senang
memandang maupun mengkoleksinya
bagi pembeli parfum dari kalangan
laki-laki
Gambar 5. Botol Parfum Yunani Kuno
DATA ARTEFAK
NAMA Terracotta aryballos (perfume bottle) in the shape of a woman's head
LOKASI Attic, Yunani TAHUN 500 SM FUNGSI Bottol parfum BENTUK Kepala Perempuan UKURAN Tinggi : 11,3 cm
Lebar : 6 cm
BAHAN Gerabah (terracotta) SUMBER http://www.metmuseum.org
diakses 25/05/2016 jam 13:00 WIB.
Botol parfum yunani kuno dengan
penggambaran seorang wanita sedang
menyunggi vase. Fungsi vase yang
diatas sebagai mulut tuang cairan
parfum. Wadah parfum yang
mencerminkan gender penggunanya,
yaitu wanita.
C.2. Tradisi Wewangian Nusantara
Nusantara adalah negeri yang sangat
kaya bahan baku wewangian dan
memiliki khasanah tradisi aromatik
yang beragam. Dengan bahan baku
wewangian yang melimpah dan
mudah ditemukan di daerah
disekitarnya, maka masyarakat
Nusantara langsung mengolah sendiri
bahan baku wewangian. Berbeda
dengan tradisi wewangian bangsa
wewangiannya sudah di ekstrak
menjadi cairan parfum dan disimpa
dalam botol-botol parfum. Teknik
aromatik masyarakat nusantara
dikenal beberapa cara :
a. wewangian dengan pengasapan,
b. wewangian dengan penguapan,
c. wewangian dengan peluluran atau
boreh,
d. wewangian dengan minum jamu,
e. wewangian dengan mandi bunga.
Teknik aromatik nusantara di
berbagai daerah memiliki istilah dan
cara yang berbeda. Nusantara sangat
kaya dengan tradisi wewangian.
C.3. Analisa Tanda Gender
Dalam analisa tanda gender botol
parfum merujuk pada perspektif
Pierce terhadap tanda (sign). Bahwa
tanda-tanda terkait dengan obyek
yang menyerupainya. Keberadaannya
memiliki hubungan sebab akibat
dengan tanda-tanda atau karena ikatan
konvensional dengan tanda-tanda
tersebut.
Pierce menggunakan istilah IKON
untuk kesamaannya, INDEKS untuk
hubungan sebab akibat dan SIMBOL
untuk asosiasi konvensional (Arthur
Asa berger, 2005, h.14).
TANDA IKON INDEKS SIMBOL
Ditandai dengan Persamaan (kesamaan)
Hubungan
Sebab Akibat Konvensi
Proses Dapat dilihat Dapat Diperkirakan
Harus dipelajari
Gambar 6. Trikotomi Tanda Pierce: IKON-INDEKS-SIMBOL
Botol parfum merepresentasikan
karakter parfum isinya serta karakter
penggunanya, dalam kaitan ini gender
(jenis kelamin) penggunanya,
sehingga perwujudan visual botol
parfum dapat dimaknai menjadi tanda
gender bagi parfum yang terkait.
Tanda gender ikonik dibangun
melalui kesamaan yang bisa dilihat
kesamaan bentuk botol dengan gestur
tubuh wanita. Tanda gender Indeksial
dibangun karena hubungan kausalitas
(sebab akibat) yang dapat
diperkirakan dengan obyek
referensinya. Contohnya, bentuk
botol berupa Gaun yang merupakan
atribut Wanita, menyebabkan bisa
diperkirakan penggunanya adalah
wanita. Tanda gender Simbolik
dibangun karena persamaan persepsi
secara konvensi atau kesepakatan
dalam pemaknaannya terhadap obyek
referensinya. Contohnya, Bunga
mawar secara konvensional difahami
sebagai simbol dari wanita
Gambar 7. Tanda Gender Botol Kemasan
Tanda ikonik adalah tanda yang
mengacu pada obyek hanya
berdasarkan karakternya sendiri, yang
menyerupai sesuatu dan digunakan
sebagai tanda untuk dirinya sendiri.
Ketika mode referensi ini diterapkan
dalam analisis produk desain, fungsi
produk sebagai tanda ikonik dan
wujud produk ditafsirkan sebagai
seperti sesuatu yang bentuk
tampaknya menyerupai bentuk lain.
Dua bentuk yang berhubungan ketika
fitur mereka dianggap serupa. Tanda
gender perempuan dalam botol
parfum dapat berfungsi sebagai tanda
ikonik ketika wujud botolnya
mengacu pada postur maupun gestur
feminis digambarkan seperti bentuk
tubuh wanita atau bagian2 yang kuat
karakter feminimnya. Bentuk botol
kemasan parfum merupakan bentuk
'lain' dengan bantuan kualitas yang
sama. Tanda ikonik dapat mewakili
sikap, suasana hati atau perasaan.
Ekspresif seperti ini sering disebut
metafora produk dalam literatur
desain. Karakter maskulin
digambarkan dengan bentuk yang
tegas terkesan gagah, karakter
feminim digambarkan dengan bentuk
yang halus meliuk terkesan sifat
gemulai. Kesamaan saja cukup
sebagai alasan dasar menjadi tanda
ikonik. Sebuah referensi metaforis
juga membutuhkan pergeseran
kenyataan, tidak sama persis seperti
nyatanya sebagaimana terlihat.
Gambar 8. Gambar bagan tanda gender ikonik botol Parfum Jean Paul Gaultier
Le Male untuk laki-laki.
Tanda gender botol parfum
yang merepresentasikan karakter
parfum serta penggunanya yang
maskulin, bugar dan segar, menarik
dan sensual bisa dilihat dalam bagan
gambar di atas. Tanda Ikonik
merupakan tanda yang memiliki
Paul Gaultier Le Male yang
menyerupai badan laki-laki kekar
berotot. Bentuk botol tersebut
murupakan tanda ikonik yang
merepresentasikan gender laki-laki
sebagai konsumennya.
Indeks adalah tanda sebagai dampak
dari objeknya dalam hubungan nyata
dan dinamis dengan objeknya.
Referensi relasi wujud botol parfum
(R) dengan obyek penafsirannya (O)
benar-benar ada.
Indeks adalah berdekatan dengan
objeknya. Misalnya, asap merupakan
index api. Sebuah jejak dari kaki di
pasir dapat menjadi indeks seseorang
yang berjalan di pantai. Jejak produk
dapat merujuk kepada alat yang
digunakan dalam alat tertentu
produksi. Jejak menunjukkan apa
jenis alat menyebabkan mereka. Jejak
(R) mengacu pada alat (0). Indeks
bisa merujuk ke arah tertentu (arah
mata angin, jari telunjuk) dan menarik
perhatian ke arah itu. Indeks menarik
perhatian dengan memiliki hubungan
yang benar-benar ada dan bukan oleh
suatu yang mirip bentuknya sebagai
tanda ikonik.
Pakaian wanita atau gaun pestanya
menunjukkan sifat gender feminim.
Helm perang romawi menunjukkan
sifat gender maskulin. Hubungannya
adalah keduanya merupakan atribut
yang benar-benar dipakai oleh
seseorang jenis kelamin tertentu
sebagai penanda gender. Demikian
pula kebiasaan ataupun hoby yang
biasa disukai dapat menunjukkan
jenis kelamin tertentu menjadi tanda
gender indeksial. Mobil balap sebagai
contoh merupakan bentuk yang
menunjukkan hoby dengan sifat
gender maskulin.
Parfum VITALIS merupakan parfum
untuk wanita yang menggunakan
bentuk botol berupa stylasi
(penyederhanaan bentuk) dari gaun
wanita. Atribut yang dipakai wanita
berupa gaun, merupakan penanda
gender indeksial yang menunjukkan
karakteristik gender penggunanya.
Hal tersebut bisa dilihat dalam
Gambar 10. Bagan tanda gender indeksial botol Parfum Vitalis
untuk wanita.
Simbol adalah tanda konvensional
tergantung pada kebiasaan, maknanya
dibuat berdasar kontrak atau
kesepakatan (konvensi). Simbol
mengacu melalui asosiasi ide umum
tidak pada dirinya sendiri,
mengidentifikasi sesuatu. Simbol
terhubung dengan objeknya
berdasarkan ide dari pikiran
penggunaan simbol, tanpa terkait
keberadaannya semata. Simbol
bertindak melalui replika. Misalnya,
kata-kata, grafis dan warna dapat
berfungsi sebagai tanda simbolis.
Mereka diwujudkan dengan cara
replika. Tanda-tanda simbolik dapat
dalam bentuk apapun karena tidak
ada kesamaan dengan objek referensi
atau hubungan sebenarnya, ini adalah
landasan untuk interpretasi.
Tanda-tanda simbolik, bagaimanapun, tidak
sepenuhnya bebas dalam budaya
tertentu. Mereka berdasarkan
kebiasaan dan bentuk yang telah
mapan. Timbangan digunakan untuk
mawar sebagai simbol wanita, hal ini
akan sulit untuk dibayangkan.
Referensi simbolik harus diketahui
atau membutuhkan referensi
pengetahuan agar dapat dipahami.
Merek dagang, Logo, nama dan
nomor tertentu adalah biasanya
merupakan simbol dalam desain.
Botol parfum Anna Sui La Vie de
Boheme Woman memiliki bentuk
kupu-kupu yang hinggap diatas bunga
mawar. Wujud botol parfum tersebut
merupakan tanda simbolik gender
untuk wanita. Kupu-kupu dengan
ragam bentuk dan warna-warni
sayapnya diasosiasikan dengan
kecantikan dan keindahan. Bunga
mawar dengan keindahan bentuk
kelopaknya dan harum baunya
diasosiasikan dengan kecantikan dan
keharuman. Sehingga kupu-kupu dan
bunga mawar dalam pengetahuan
masyarakat selalu dikaitkan dengan
kecantikan wanita dan menjadi
simbol dari wanita.
Gambar 11. Bagan tanda gender simbolik botol Parfum Anna Sui La
C.4. Bahasa Rupa Botol Parfum
Botol parfum merepresentasikan
karakter parfum isinya serta karakter
penggunanya, dalam kaitan ini gender
(jenis kelamin) penggunanya. Imaji
(wimba) yang disusun dalam
perwujudan visual botol parfum dapat
menceritakan tentang karakteristik
gender penggunanya. Dalam hal ini
imaji (wimba) tersebut merupakan
representasi dari gender
penggunanya.
Cara wimba adalah cara obyek
digambar. Bentuk botol parfum dapat
dilihat menggambaran siapa
pengguna parfumnya. Bentuknya
merepresentasikan gender
penggunanya. Bentuk botol parfum
merupakan imaji / wimba yang
menggambarkan obyek yang
diacunya (Isi Wimba). Penggambaran
merupakan cara menggambarkan
wimba sehingga obyek yang
digambarkan dapat tercandera.
Penggambaran wimba dalam botol
parfum meliputi :
- Naturalis Stilasi.
Cara penggambaran suatu obyek
seakan digambar seperti naturalis
dengan penyederhanaan
- Stilasi
Cara penggambaran suatu obyek
dengan penyederhanaan obyek
acuannya. Tingkat
penyederhanaannya bisa sedikit
bisa banyak.
- Skematis
Cara penggambaran suatu obyek
yang disederhanakan menjadi
skema dengan cara stilasi.
Sehingga tinggal ciri pengenal
yang khas atau penting dari obyek
acuannya.
C.5. Pluralitas dalam Representasi Gender Botol Parfum
Ragam ekspresi gender bukan
merupakan kontradiksi antara
dualisme maskulinitas dan
feminimitas. Pluralitas dalam
karakteristik gender dapat
memberikan gambaran representasi
gender yang sangat beragam.
Gambaran karakter gender terhadap
perempuan dan feminimitas, bisa
dilakukan dalam beragam cara
sporty. Demikian pula varisi yang
beragam ditemukan untuk
menggambarkan sifat maskulinitas
bagi laki-laki.
Gambar 12. Pluralitas dalam Karakter Gender
Warna hitam atau gelap sering
digunakan untuk memberikan
karakter maskulin. Namun pilihan
warna tersebut ternyata tidak hanya
milik laki-laki. Untuk memberikan
gambara wanita yang kuat dan
tangguh warna hitam dibubuhkan
dalam botol parfum untuk wanita.
Tidak pula selalu botol persegi untuk
laki-laki, botol bulat untuk wanita.
Pilihan gender bukan dikotomis
antara maskulin dan feminin, bisa jadi
paduan yang harmonis antara
keduanya. Hal tersebut bukan
menunjukkan ambiguitas, namun
menunjukkan keragaman (pluralitas)
dalam mengekspresikan identitas atau
karakteristik gender.
Dalam pemasaran produk parfum
produsen dengan jelas terkadang
melakukan segmentasi pasar yang
jelas, dengan memberikan label “for
(bisa untuk keduanya). Namun dalam
dalam menafsirkan karakteristik
gender konsumen tidak otomatis sama
dengan kategori tersebut. Pemahanan
terhadap karakteristik gender dalam
tindakan konsumsi tidak selalu tetap
dan konsisten.
Representasi gender dalam kemasan
dan botol parfum menunjukkan
keragaman (pluralitas) dalam
menginterpretasi gender. Setiap
penyampaian pesan gender
menawarkan kesempatan bagi
transformasi makna gender dan
memberikan ruang untuk perubahan
interpretasi. Konsumen dapat
menggunakan parfum untuk
menentukan sendiri dan bermain
dengan identitas maupun karakteristik
gender. Kemasan dan botol parfum
merupakan medium yang
menyampaikan pesan gender. Bahasa
rupa botol parfum dibaca dan
diinterpretasi oleh konsumen terkait
karakteristik gendernya.
D. KESIMPULAN
Penemuan artefak peralatan
pembuatan parfum, botol-botol
parfum beragam ukuran menunjukkan
majunya teknik pembuatan parfum
bangsa-bangsa kuno. Perdagangan
antar bangsa produk parfumpun telah
dilakukan. Bahkan produk parfum
bangsa-bangsa kuno telah memiliki
orientasi pasar dengan segmentasi
gender. Botol-botol parfum kuno
yang berorientasi gender dengan
tanda-tanda gender didalamnya
menunjukkan hal tersebut. Botol yang
merepresentasikan perbedaan gender
antara laki-laki dan perempuan
ditemukan artefaknya.
Di era modern ini Produk atau Merek
parfum mengasosiasikan citranya
dengan stereotip peran jenis kelamin
tertentu dalam benak konsumen.
Mengkaitkan produk atau merek
parfum dengan citra dan identitas
gender laki-laki (maskulin) atau
perempuan (feminin).
Produk parfum dirancang atau
dimodifikasi hingga menarik bagi
stereotip pria atau wanita. Dalam
kemasan maupun botol parfum
diberikan gambaran jenis kelamin
sehingga merepresentasikan gender
yang bisa menandakan karakteristik
gender tertentu. Terdapat 3 (tiga)
jenis tanda yang merepresentasikan
gender, yaitu : tanda gender ikonik,
Stilasi dan Skematis.Dengan tiga cara
wimba tersebut botol parfum bisa
dikenali obyek acuannya yang
merepresentasikan gender. Isi wimba
yang merupakan obyek acuan dari
botol parfum dapat menggunakan
acuan yang terkait dengan gender
(jenis kelamin). Dari topik bahasa
rupanya dapat ditangkap cerita dibalik
perwujudan botol parfum. Makna
yang ditangkap akan lebih luas
dengan mengungkap cerita-cerita
yang terkait dengan perwujudan
visual botol parfum. Dengan analisa
bahasa rupa penelitian ini
mengungkap cerita dibalik
perwu-judan botol parfum. Hal tersebut
terkait dengan representasi
gender-nya, ataupun mengungkap
karak-teristik gender dari pengguna
parfumnya.
Representasi gender dalam kemasan
dan botol parfum menunjukkan
keragaman (pluralitas) dalam
menginterpretasi gender. Setiap
penyampaian pesan gender
menawarkan kesempatan bagi
transformasi makna gender dan
memberikan ruang untuk perubahan
interpretasi. Konsumen dapat
menggunakan parfum untuk
menentukan sendiri dan bermain
dengan identitas maupun karakteristik
gender.
Kemasan dan botol parfum
merupakan medium yang
menyam-paikan pesan gender. Bahasa rupa
botol parfum dibaca dan diinterpretasi
oleh konsumen terkait karakteristik
E. DAFTAR PUSTAKA
Arthur Asa Berger (2005),
Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, suatu pengantar semiotika,
Yogyakarta : Tiara Wacana.
Biers, William R., Gerhardt, Klaus and Rebecca A Braniff. (1994). Lost Scents:
Investigations of Corinthian "Plastic" Vases by Glass Chromatography -Mass Spectrometry. MASCA, University of Pennsylvania Musuem of Archaeology and Anthropology, Philadelphia.
Costa, J.A. (1994). Gender Issues and Consumer Behavior. London: Thousand Oaks.Denzin, N. &
Lincoln, Y. (2000) Handbook
of Qualitative Research. USA: Sage Publications Inc.
Philip Kotler, Veronica Wong, John Saunders, Gary Armstrong (2005). Principles of Marketing, 4th European edition, Pearson Education Limited.
Philip Kotler. (2003). Marketing Management. USA: Courier-Westford.
Pilditch J (1961). The Silent Salesman: How to Develop Packaging That Sells. London: Harper and Row.
Primadi Tabrani (2012), Bahasa Rupa, Bandung : Penerbit Kelir.
Simms C, Trott P, (2010). Packaging development: A conceptual framework for identifying new product opportunities.
Marketing Theory, 10: 397-415.
Siripuk Ritnamkam and Nopadon Sahachaisaeree, (2012), Cosmetic Packaging Design: A Case Study on Gender Distinction, ASEAN
Conference on Environment-Behaviour Studies, Bangkok, Thailand Procedia - Social and Behavioral Sciences, 50 ( 2012 ) : 1018 – 1032.
Susann Vihma (1995), Products as representations, a semiotic and aesthetic study of design products, University of art and design Helsinky UIAH.
Susann Vihma, (1990), Semantic Visions in Design, University of art and design Helsinky UIAH.
Terence A. Shimp (2003), Periklanan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jakarta : Penerbit Erlangga.
Worwood, S. (1995). Essential
aromatherapy; A pocket guide to essential oils &
Lampiran 01 : Bagan Cara Wimba Bahasa Rupa Botol Parfum
Gambar 6.1. Cara wimba dengan isi wimba badan laki-laki
Gambar 6.2. Cara wimba dengan isi wimba badan wanita
Gambar 6.3. Cara wimba dengan isi wimba gaun pesta