Unnes Journal of Mathematics Education
http:/ / journal.unnes.ac.id/ sju/ index.php/ ujme© 2013 Universitas Negeri Semarang ISSN
Info A rtikel
Abstrak
A bstract
I M PL EM ENTA SI M OD EL PEM BEL A JA RA N
CORETERHA DA P
K EM A M PUA N BERPI K I R REFL EK TI F SI SWA K EL A S X M ATERI
TRI GONOM ETRI
Yoga W icaksana , Emi Pujiastuti, Bambang Eko Susilo
Jurusan M atematika, FM IPA , Universitas Negeri Semarang, Indonesia Gedung D7 L t.1, K ampus Sekaran Gunungpati, Semarang 50229
Sejarah A rtikel: Diterima A gustus 2013 Disetujui A gustus 2013 Dipublikasikan Oktober 2013
Penelitian inibertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan implementasi model pembelajaranCORE mencapai K K M klasikal dan mengetahui apakah kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan model pembelajaran CORE lebih baik dibandingkan kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan model pembelajaran langsung. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X SM A N 1 M agelang tahun pelajaran 2012/ 2013. M etode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, tes, dan observasi. Dengan teknik cluster random sampling, terpilih sampel peserta didik kelas X-7 sebagai kelas kontrol yang diterapkan pembelajaran dengan model pembelajaran langsung dan kelas X-8 sebagai kelas eksperimen yang diterapkan model pembelajaranCOREberbantuan mediaprezi. Dari hasil uji ketuntasan klasikal, diperoleh ketuntasan belajar dalam kemampuan berpikir reflektif peserta didik pada kelas eksperimen. Dari hasil uji kesamaan rata-rata, diperoleh rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Simpulan yang diperoleh yaitu rata-rata kemampuan berpikir reflektif dengan pembelajaran modelCOREmencapai K K M klasikal dan rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan modelCORElebih tinggi dari rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik pada pembelajaran model pembelajaran langsung.
A lamat korespondensi: E-mail: [email protected] Keywords:
CORE model Reflectivethinking skill M edia of Prezi
The purposes of this study were to know were students’ reflective thinking skill through implementation of CORE learning model were achieved the minimum criteria, and to know were the students’ reflective thinking skill through the implementation of CORE learning model was better than students’ reflective thinking skill through the implementation of direct instruction model. The population in this study was students of grade X SM A N 1 M agelang academic year 2012/ 2013. This study used documentation, test, and observation methods. The sample was taken by using cluster random sampling technique. The selected samples were student of X-7 as control group who were taught by direct instruction model and students of X-8 as experiment group who were taught by
Pendahuluan
Di dalam Permendiknas No. 41 (2007), materi semeter genap kelas X mata pelajaran M atematika pada BA B 5 adalah materi trigonometri. M ateri yang dengan standar kompetensi “ menggunakan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri dalam pemecahan masalah” memiliki 3 kompetensi dasar. SM A N 1 M agelang terletak di Kota M agelang yang terletak di Jalan Cepaka No 1 M agelang.Pada pembelajaran matematika tahun ajaran 2011/ 2012 di SM A Negeri 1 M agelang yang lalu, hasil belajar peserta didik kelas X sebanyak 5 kelas pada subbab aturan sinus dan kosinus serta rumus luas segitiga, belum mencapai hasil yang maksimal. Walaupun secara keseluruhan bab Trigonometri peserta didik telah mencapai ketuntasan, akan tetapi untuk subbab aturan sinus dan kosinus serta rumus luas segitiga belum mencapai ketuntasan, yaitu baru 57,67% dengan ketuntasan klasikal 75%. Berdasarkan hasil analisis perolehan hasil Ujian Nasional oleh Balitbang Kemdikbud (2012), SM A N 1 M agelang tahun ajaran 2011/ 2012 untuk mata pelajaran matematika, diperoleh daya serap materi trigonometri belum maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan menyelesaikan masalah menggunakan aturan sinus dan kosinus dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan.
Berdasarkan hasil observasi di SM A N 1 M agelang, pengajaran di SM A N 1 M agelang menerapkan strategi team teaching, dengan pembagian materi per bab dengan guru yang berbeda-beda. M odel pembelajaran yang diterapkan dalam SM A N 1 M agelang yakni model pembelajaran direct instruction atau disebut dengan model pembelajaran langsung. M odel pembelajaran langsung memiliki sintaks antara lain orientasi, presentasi, latihan terstruktur, latihan terbimbing, dan latihan mandiri.
Hasil wawancara di SM A N 1 M agelang yang dilakukan dengan narasumber guru mata pelajaran matematika Bapak Welasono, diperoleh bahwa peserta didik dalam proses pengerjaan soal masih secara langsung. Secara langsung disini memiliki arti penerapan rumus secara langsung, tanpa adanya proses penjabaran serta identifikasi masalah. Hal tersebut dalam beberapa soal dengan tipe pemahaman konsep, soal yang lebih membutuhkan penerapan rumus ke dalam penyelesaian soal. Di dalam hasil wawancara
ditemukan juga bahwa belum pernah dilakukannya pengukuran kemampuan berpikir reflektif peserta didik yang dilihat dari K K M sekolah.
M enurut Schön sebagaimana dikutip oleh Coskun (2011), berpikir reflektif dapat meningkatkan pengalaman belajar peserta didik lebih baik dibandingkan dengan belajar secara menghafal rumus. Oleh karena itu diperlukan suatu pembelajaran yang dapat menjadikan kemampuan berpikir reflektif peserta didik lebih baik. M enurut jurnal yang disusun oleh A zizah (2012), terdapat suatu model pembelajaran kooperatif yang dapat membantu menjadikan kemampuan berpikir reflektif peserta didik lebih baik, yaitu model pembelajaran CORE. M odel pembelajaranCOREmerupakan salah satu jenis tipe model pembelajaran kooperatif. CORE
merupakan singkatan dari Connecting Organizing
Reflecting Extendingdimana sintaknya adalah (C)
koneksi informasi lama-baru dan antar konsep; (O) organisasi ide untuk memahami materi; (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali; serta (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model CORE memerlukan adanya suatu media untuk membantu dalam proses pembelajaran. Seperti pada tahap
connecting dalam pembelajaran, diperlukan
suatu media yang interaktif dan fleksibel dalam penayangan informasi-informasi yang akan digunakan untuk menemukan materi baru. Terdapat suatu media pembelajaran yang dapat mendukung proses pembelajaran menggunakan model CORE, media tersebut adalah media
prezi. Prezi adalah software presentasi berbasis internet dan media untuk berbagi ide dan informasi yang ditempatkan pada sebuah kanvas virtual (Diamond, 2010).
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah: (1) apakah kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas X pada materi pokok trigonometri sub-bab aturan sinus dan kosinus serta luas segitiga dengan implementasi model pembelajaran CORE mencapai K K M klasikal yaitu 75% dari jumlah peserta didik yang memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 77 sesuai dengan K K M sekolah; dan (2) apakah kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan model pembelajaran CORE
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas X pada materi pokok trigonometri sub-bab aturan sinus dan kosinus serta rumus luas segitiga dengan implementasi model pembelajaran CORE
mencapai K K M klasikal serta mengetahui bahwa kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan model pembelajaran CORE lebih baik dibandingkan kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan model pembelajaran langsung.
M etode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SM A Negeri 1 M agelang tahun pelajaran 2012/ 2013 sebanyak 9 kelas. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik cluster
random sampling. Sampel yang terpilih dalam
penelitian ini adalah siswa kelas X-8 (30 siswa) sebagai kelas eksperimen yang diterapkan pembelajaran model CORE berbantuan media
prezi dan kelas X-7 (30 orang) sebagai kelas kontrol yang diterapkan model pembelajaran langsung. Dalam penelitian ini, variabel bebasnya adalah model pembelajaran, variabel terikatnya adalah kemampuan berpikir reflektif, serta variabel kontrolnya berupa materi pembelajaran dan fasilitas pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan adalah Pre-Eksperimental Design tipeI ntact-Group
Comparism (Sugiyono, 2011). Pada jenis
eksperimen ini terjadi pengelompokan subjek secara acak dengan adanya posttest (O) (Sugiyono, 2011).
Penelitian dilaksanakan di SM A Negeri 1 M agelang pada bulan M ei 2013. M ateri yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi trigonometri (aturan sinus, aturan kosinus dan luas segitiga). Penelitian dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Tiga pertemuan digunakan untuk pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran CORE berbantuan media Prezi pada kelas X-8 dan model pembelajaran langsung pada kelas X-7. Satu pertemuan digunakan untuk tes evaluasi. M etode pengumpulan data penelitian yang dirancang adalah metode dokumentasi, tes, dan observasi. Penyusunan instrumen soal tes kemampuan berpikir reflektif dilakukan dengan langkah-langkah (1) menentukan materi dalam penelitian ini yaitu materi trigonometri; (2) menentukan bentuk tes yang digunakan,
bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal uraian; (3) menentukan jumlah butir soal, jumlah butir soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah 8 butir soal uraian; (4) menentukan alokasi waktu mengerjakan soal, alokasi waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 x 40 menit; (5) membuat kisi-kisi soal uji coba; (6) membuat butir soal uji coba; (7) membuat kunci jawaban dan pedoman penskoran; (8) mengujicobakan instrumen pada peserta didik kelas uji X-4; (9) menganalisis hasil uji coba yaitu validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan taraf kesukaran tiap butir soal; dan (10) memilih item soal yang sudah teruji berdasarkan analisis yang sudah dilakukan. Selain itu juga dibuat instrumen untuk lembar observasi. L embar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas peserta didik dan kinerja guru selama pembelajaran. L embar ini berisi mengenai kegiatan yang dilakukan peserta didik dan guru selama pembelajaran berlangsung.
Setelah mendapatkan data hasil tes kemampuan berpikir reflektif, kemudian data hasil tersebut diuji normalitas menggunakan uji chi-kuadrat ( ) dan juga dilakukan uji homogenitas menggunakan rumus Bartlett. Kemudian data tersebut diuji ketuntasan belajar klasikal menggunakan uji proporsi dan uji perbedaan dua rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan uji t.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis tahap awal diperoleh data yang menunjukkan bahwa kelas yang diambil sebagai sampel dalam penelitian berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen. Hal ini berarti sampel berasal dari kondisi atau keadaan yang sama. Kemudian dengan teknik cluster random
sampling, terpilih kelas X-7 sebagai kelas kontrol
dan kelas X-8 sebagai kelas eksperimen.
Setelah diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran langsung pada kelas kontrol dan pembelajaran dengan model pembelajaran CORE berbantuan media prezi pada kelas eksperimen, diperoleh data kemampuan berpikir reflektif yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Berdasarkan perolehan data hasil tes kemampuan berpikir reflektif peserta didik, dilakukan uji normalitas dan homogenitas untuk menentukan statistik apa yang digunakan selanjutnya. Di dalam uji normalitas diperoleh baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen berdistribusi normal. Kemudian untuk uji homogenitas, diperoleh dua kelas sampel tersebut homogen. Selanjutnya dipilih uji proporsi satu pihak untuk melihat ketuntasan klasikal serta uji kesamaan rata-rata untuk melihat kesamaan rata-rata dua kelas sampel tersebut.
Tabel 2 Hasil Uji Ketuntasan K lasikal
Berdasarkan Tabel 2, karena untuk uji proporsi satu pihak pada kelas eksperimen diterima, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir reflektif pada kelas eksperimen mencapai K K M klasikal. Sedangkan untuk uji proporsi satu pihak pada kelas kontrol ditolak, maka rata-rata kemampuan berpikir reflektif pada kelas kontrol belum mencapai K K M klasikal.
Tabel 3 Hasil Uji Kesamaan Rata-rata
Berdasarkan Tabel 3, diperoleh bahwa maka diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas kontrol.
Hasil observasi terhadap aktivitas peserta didik dan kinerja guru dapat dilihat di Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 4 Hasil A nalisis Observasi A ktivitas Peserta didik
Tabel 5 Hasil A nalisis Observasi K inerja Guru
Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat bahwa aktivitas peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, terjadi perubahan dari pertemuan satu sampai pertemuan tiga. K riteria aktivitas peserta didik baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol sangat baik. Kemudian berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat bahwa kinerja guru pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, terjadi perubahan kinerja guru dari pertemuan satu sampai pertemuan tiga. K inerja guru pada kelas eksperimen dan kelas kontrol kriteria sangat baik.
Pada pertemuan pertama, di dalam kelas eksperimen muncul beberapa kendala. Kendala yang muncul seperti di aspek diskusi di dalam fase organizing, yaitu proses penemuan rumus. Peserta didik mengalami kesulitan dalam berdiskusi penemuan rumus karena sebelumnya jarang melakukan tukar pendapat di dalam diskusi untuk menemukan materi baru. Guru kemudian memberikan pengarahan kepada peserta didik dengan berkeliling ke tiap-tiap kelompok. Sehingga terjadi perubahan di pertemuan kedua dan ketiga pada kemampuan diskusi tukar pendapat peserta didik. Seperti yang disampaikan oleh Ausubel sebagaimana dikutip oleh Ruseffendi (2006) bahwa proses belajar menemukan lebih berarti dibandingkan proses belajar menerima, di dalam hal ini menemukan dilakukan dengan cara diskusi.
Seperti pada pembelajaran di kelas eksperimen, di kelas kontrol juga ditemukan kendala. Kendala muncul di kegiatan kerjasama di dalam kelompok diskusi serta pengoreksian hasil diskusi dan hal ini terjadi di setiap pertemuan. Guru telah melakukan pengarahan dan bantuan di setiap pertemuan, akan tetapi masih tetap belum maksimal. Hal ini terjadi karena sebenarnya di dalam proses pembelajaran langsung tidak ada kegiatan diskusi, hanya saja peneliti ingin memberikan pengalaman diskusi bagi peserta didik yang diberikan di kegiatan penyelesaian masalah kontekstual.
pada pertemuan pertama, kosinus pada pertemuan kedua, dan luas segitiga pada pertemuan ketiga. Baik di dalam kelas eksperimen maupun kelas kontrol, pada pertemuan pertama dan kedua peserta didik dapat dengan lancar menguasai materi. Dibuktikan dengan pengerjaan L K PD yang tepat dan benar sesuai dengan kunci yang ada. A kan tetapi, pada pertemuan ketiga mengalami kendala di bagian kajian mencari rumus luas segitiga ketika diketahui ketiga sisinya. Sebelumnya untuk kajian mencari rumus luas segitiga ketika diketahui dua sisi dan satu sudut serta kajian mencari rumus luas segitiga ketika diketahui satu sisi dan tiga sudut, peserta didik tidak mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan oleh materi sedikit rumit sehingga diperlukan turun tangan guru untuk menjelaskannya. Proses penjelasannya pun tidak secara terpusat oleh guru, akan tetapi menggunakan sarana tanya jawab agar peserta didik juga merasa ikut menemukan rumus tersebut.
Kemampuan berpikir reflektif di dalam penelitian ini dapat dilihat melalui hasil diskusi pengerjaan masalah kontekstual oleh kelompok-kelompok peserta didik secara diskusi dan juga dilihat dari rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik untuk tes kemampuan berpikir reflektif. Di kelas eksperimen, terjadi perubahan dari pertemuan pertama ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas eksperimen mengalami peningkatan, sesuai dengan yang disampaikan oleh A zizah (2012) bahwa model pembelajaran CORE dapat menjadikan kemampuan berpikir reflektif peserta didik menjadi lebih baik. Hal ini terjadi karena di fase
connecting, peserta didik diajak untuk
mengoneksikan informasi-informasi lama atau yang diketahui di sebuah permasalahan, kemudian di faseorganizingpeserta didik diajak untuk mengolah informasi-informasi tersebut menjadi sebuah model penyelesaian masalah dan menyelesaikannya sesuai model tersebut. Setelah itu di fase reflecting peserta didik diajak memikirkan kembali tentang hasil penyelesaian masalah tersebut dan kemudian diajak untuk menyimpulkannya. Jelas fase-fase tersebut berpengaruh banyak untuk kemampuan berpikir reflektif, yaitu dengan indikator reporting,
responding, relating, reasoning, danreconstructing.
Berbeda dengan kelas kontrol, baik di pertemuan pertama maupun pertemuan berikutnya tidak terlihat secara jelas untuk kemampuan berpikir reflektif peserta didik. Hal
ini dapat terjadi dimungkinkan karena memang model pembelajaran yang diterapkan di kelas kontrol tidak mendukung peningkatan kemampuan berpikir reflektif.
Pada pembelajaran di kelas eksperimen diterapkan model pembelajaran CORE yang dapat menjadikan kemampuan berpikir reflektif peserta didik lebih baik. Sesuai dengan yang disampaikan oleh A zizah (2012) bahwa pembelajaran dengan model CORE dapat menjadikan kemampuan berpikir reflektif peserta didik lebih baik. Berbeda dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran langsung dimana model ini belum dapat menjadikan kemampuan berpikir reflektif peserta didik lebih baik.
Pada pembelajaran di kelas eksperimen, peserta didik lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Penggunaan media pembelajaran berupa media prezi, juga mempermudah pemahaman peserta didik tentang materi trigonometri. Hal tersebut sesuai dengan teori Brunner sebagaimana dikutip oleh Suherman (2003) bahwa penggunaan alat peraga (media prezi) dalam pembelajaran yang dapat membantu menyampaikan pengalaman kepada peserta didik serta memberikan gambaran mengenai objek yang mewakili suatu konsep. Selain itu sesuai dengan yang disampaikan Djamarah (1995), dengan adanya media dapat membantu peserta didik tidak cepat bosan dan kelelahan dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi lancar. Pada pembelajaran di kelas kontrol tidak dilengkapi dengan media pembelajaran berupa media prezi.
Pada pembelajaran kelas eksperimen, peserta didik jauh lebih aktif dalam berdiskusi secara berkelompok karena mereka dituntut dari awal pembelajaran untuk menemukan materi baru secara diskusi, bukan dengan menunggu penjelasan dari guru. Sesuai dengan teori Ausubel sebagaimana dikutip oleh Ruseffendi (2006) bahwa proses pembelajaran menemukan lebih baik dibandingkan dengan proses pembelajaran menerima. Hal ini tidak terjadi pada kelas kontrol.
beberapa hal. Dari perhitungan data hasil tes menggunakan uji proporsi satu pihak, diperoleh bahwa rata-rata kemampuan berpikir reflektif pada kelas eksperimen mencapai K K M klasikal. Kemudian diperoleh dari perhitungan uji kesamaan rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh bahwa rata-rata kemampuan berpikir reflektif kelas eksperimen lebih dari rata-rata kemampuan berpikir reflektif kelas kontrol.
Simpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa (1) rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik kelas X pada materi pokok trigonometri sub-bab aturan sinus dan kosinus serta rumus luas segitiga dengan implementasi model pembelajaran CORE mencapai K K M klasikal. K K M klasikal dicapai jika sebanyak 75% dari jumlah peserta didik memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 77, dan (2) rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan model pembelajaran CORE berbantuan media prezi lebih baik dibandingkan rata-rata kemampuan berpikir reflektif peserta didik dengan model pembelajaran langsung.
Ucapan Terimakasih
A rtikel ini dapat tersusun dengan baik berkat bantuan dan bimbingan banyak pihak.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada Welasono, S.Pd dan M unjaroah, S.Pd. selaku Guru M atematika kelas X SM A Negeri 1 M agelang.
D aftar Pustaka
A zizah, L dkk. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran M odel CORE Bernuansa Konstruktivistik untuk M eningkatkan Kemampuan Koneksi M atematika. Dalam
Unnes Journal of M athematics Education Research vol 1(1) halaman 100-105, 2012 ISSN:2252-6455.
Coskun, M . et. al. 2011. Evaluation of Geographic Information System (GIS) Based Teaching Process A ccording to Primary Education Student’s Reflective Thinking Skills.M iddle-East Journal of Scientific Research 7 (3): halaman 381-386, 2011 ISSN:1990-9233. IDOSI Publications, 2011.
Diamond, S. 2010.Prezi for Dummies. Canada : Wiley Publishing.
Djamarah, S. B. dan Zain, A . 1995. Strategi Belajar M engajar. Banjarmasin : Rineka Ilmu Ruseffendi. 2006. Pengantar kepada M embantu Guru
M engembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran M atematika untuk M eningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito
Sugiyono. 2011. Statistika untuk Penelitian. Bandung: A lfabeta.
Suherman, E. dan Winataputra, U. S. 1992. Strategi Belajar M engajar M atematika. Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka.