PENGANTAR ILMU SASTRA
LAPORAN STUDY TOUR
MENGENAL KOMUNITAS BISSU DI SEGERI
PANGKEP
Disusun Oleh :
EKAWATI NURDIN (2016030012)
PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS
FAKULTAS BAHASA
▸ Baca selengkapnya: contoh laporan perjalanan study tour
(2)KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pengantar Linguistik dengan judul ”SEJARAH BISSU DI PANGKEP”. Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang menjadi panutan kita umat islam di seluruh dunia.
Makalah ini dibuat dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar dalam makalah ini. Oleh karena itu, saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini. Terima kasih dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsi positif bagi kita semua.
Makassar, 09 Januari 2017
▸ Baca selengkapnya: contoh latar belakang laporan study tour bali
(3)DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... 2
DAFTAR ISI... 3
BAB 1 PENDAHULUAN... 4
1.1 LATAR BELAKANG... 4
BAB 2 PEMBAHASAN... 5
2.1 SEJARAH SINGKAT KAMPUNG BISSU...5
2.2 TRADISI BISSU DI MASA SEKARANG...12
2.3 BERKUNJUNG KE RUMAH ARAJANG...14
2.4 MATA PENCAHARIAN PARA BISSU………15
BAB 3 PENUTUP... 17
3.1 KESIMPULAN... 17
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Segeri adalah salah satu kecamatan yang ada di Pangkep yang berjarak 70 km dari Makassar. Di daerah inilah banyak berdiam komunitas bissu yang saat ini sangat eksis di kalangan masyarakat. “Bissu”, begitu panggilan akrab pada beberapa pria feminisme yang tidak mempan senjata tajam saat menunjukkan atraksi seni tarian Maggiri. Dalam kehidupan sosial, pria feminisme disebut waria, wandu atau banci yang dalam bahasa bugis waria disebut calabai, berasal dari kata “salabai” atau “sala baine”, yang artinya bukan perempuan.
Bissu diyakini berasal dari kata “bessi’ atau “mabessi” yang artinya bersih, suci, tidak kotor karena mereka tidak berpayudara dan tidak mengalami menstruasi. Bissu berkedudukan sebagai penyambung lidah raja dan rakyat, juga merupakan perantara antara langit dan bumi karena mereka menguasai bahasa “torilangi’ yang hanya dimengerti sesama bissu dan para dewata. Mereka (bissu) adalah pelestari tradisi, adat budaya, serta kepercayaan lama yang dianut oleh masyarakat bugis kuno jauh sebelum pengaruh agama islam masuk.
Kehadiran bissu ini bagi masyarakat bugis Makassar yang umumnya beragama islam jelas di satu sisi mengundang kontroversi. Namun demikian, upacara pemujaan kepada dewata dan leluhur yang tentu saja diluar ajaran agama islam masih di apresiasi dengan baik oleh masyarakat yang menggantungkan hidupnya sabagai petani dan nelayan.
Seorang calon bissu akan membutuhkan pendidikan serta pelatihan yang tidak mudah, perlu waktu bertahun-tahun untuk dapat menjadi bagian dari komunitas ini. Yang paling cepat daya tangkapnya terhadap pelajaran dapat dinyatakan lulus dalam masa 3-5 tahun.
kerajaan, kin mereka umumnya bekerja mandiri sebagai ahli tata rias dan
tradisional event organizer. Jasa mereka banyak digunakan oleh masyarakat yang ingin mengadakan persta pernikahan, khitanan, serta upacara tradisional lainnya. banyak juga dari mereka yang memiliki kemampuan meramal dan ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk mengetahui hari baik dalam melaksanakan kegiatan upacara tradisional.
Penting untuk kita ketahui bahwa komunitas Bissu bukan hanya terdapat di Pangkep tapi juga ada di beberapa daerah bahasa lainnya. namun demikian, “Bissu DewataE” sebutan bagi komunitas bissu di Pangkep. Beberapa tahun yang silam, Bissu DewataE dipimpin oleh Puang Matowa Saidi yang saat ini sudah wafat. Untuk menghargai keberadaan bissu ini kita harus memposisikan diri berpikir dalam kerangka apa : dalam kerangka agama, budaya, pariwisata, atau kerangka apa, sehingga bissu menjadi “tidak terdzalimi” oleh penilaian kepentingan kita.
BAB 2
2.1
SEJARAH SINGKAT KAMPUNG BISSU
2.1.1 Tentang Segeri
Segeri adalah salah satu kecamatan yang ada dipangkep yang berjarak 70 km dari Makassar. Kata Segeri berasal dari kata sigere-gere dalam bahasa bugis yang artinya saling membunuh, dugaan ini dilatar belakangi terjadinya peristiwa pertumpahan darah didaerah itu pada masa lampau, dimana daerah itu menjadi tempat bertemunya dua orang atau kelompok dengan sama-sama mempertaruhkan siri’nya (harga diri) yang harus terbalaskan setelah pertumpahan darah terjadi sebagai tumbalnya.
Dugaan kedua, daerah yang sekarang bernama Segeri itu awalnya adalah merupakan wilayah kerajaan Siang, yang diperebutkan oleh Gowa dan Bone untuk dijadikan Wanua Palili. perseteruan wilayah itu kemudian melahirkan konflik berdarah pertempuran antara lascar Gowa dan Bone, saling membunuh (sigere’) untuk memperebutkan wilayah itu. dalam sejarah memang diketahui bahwa Segeri pernah menjadi wanua Palili kerajaan Bone, dalam periode yang lain Segeri juga pernah menjadi wanua Palili kerajaan Gowa. Dalam perjanjian Bungaya daerah ini dikenal sebagai Noorderprovincien (daerah-daerah utara), suatu daerah yang dimasukkan dalam wilayah pemerintahan dan kekuasaan Fort Roterdam setelah Gowa kalah dalam perang Makassar (Makkulau, 2006).
Kata bissu berasal dari kata “bessi” atau “mabessi” yang artinya bersih, suci, tidak kotor karena mereka tidak berpayudara dan tidak menstruasi. Bissu merupakan perantara antara langit dan bumi, hal ini dimungkinkan karena kemampuannya yang menguasai bahasa “Torilangi” yang hanya bisa dimengerti oleh para bissu dan para dewata. Dalam naskah kuno, surek Galigo dikisahkan bahwa bissu pertama yang ada dibumi bernama lae-lae atau biasa dipanggil bakdolo yang dikisahkan turun dari langit.
Pada masa kerajaan, pernah hidup empat puluh satu bissu yang disebut bissu patappuloe seddi yang dipersyaratkan sebagai jumlah bissu yang harus hadir pada upacara adat mappalili, namun seiring perkembangan usia, bissu pada masa kini semakin berkurang dikarenakan banyak yang telah meninggal dan juga berkurangnya minat anak bangsa khususnya yang di Segeri untuk menjadi bissu, karena dianggap aneh oleh sebagian masyarakat. Untuk menjadi bissu, seorang laki-laki yang berjiwa perempuan harus menjadi calabai sesungguhnya dalam artian bukan waria yang hanya ingin bermain-main dengan ilmu yang dimilikinya dan juga hanya untuk memuaskan keinginannya dengan banyak laki-laki.
Bissu adalah pelestari tradisi, adat budaya dan pemelihara benda-benda kebesaran dan keagamaan yang dianut oleh masyarakat bugis kuno jauh sebelum pengaruh agama islam masuk. Dengan kekuatan yang dipercaya sebagai kekuatan supernatural , Bissu Dewatae sebagai penasihat kerajaan yang sangat dihormati dan disegani digambarkan sebagai manusia setengah dewa dan dianggap sebagai media komunikasi dengan dunia spiritual. Komunitas Bissu Dewatae hidup dalam suatu aturan serta disiplin yang tinggi yang tampaknya sulit untuk dijalankan oleh mereka yang tidak mampu melihat gaya hidup semacam ini sebagai suatu panggilan suci.
Seperti sebagian besar komunitas adat dan spiritual bissu juga memiliki sesuatu yang diagungkan yang mereka sebut dengan Arajang. Arajang komunitas bissu yang berada di Kelurahan Bonto Matene, Kecamatan Segeri , Kabupaten Pangkajene & Kepulauan berupa dua batang kayu yang di bungkus dengan kain kafan kemudian diikat dan di gantung di dalam sebuah rumah yang telah disiapkan untuk menyimpan Arajang tersebut. Arajang masuknya agama Islam, sejak saat itulah peran bissu dalam kerajaan mulai tersingkirkan perannya. Perannya sebagai penasehat kerajaan kemudian digantikan oleh lembaga penasehat kerajaan yang baru disebut Parewa Ada dan Parewa Sara’. Parewa ada adalah lembaga penasehat kerajaan yang memberikan pertimbangan dari aspek adat kepada raja sedangkan parewa sara’ merupakan lembaga penasehat kerajaan yang memberikan pertimbangan dari aspek syariat atau dari segi tinjauan agama kepada raja. Setelah agama Islam masuk ke kerajaan-kerajaan Bugis, peranan bissu sebagai pendeta Bugis pra Islam nyaris hilang karena upacara –upacara ritual tidak digunakan lagi atau dianggap sebagai kegiatan syirik dan pertentangan dengan semangat penyerapan syariah yang di motori oleh kerajaan Gowa. Selain itu peranan bissu semakin memudar ketika pemerintahan kerajaan beralih ke pemerintahan republik (M.Farid W Makkulau: 2007).
Bissu bisa bertahan hingga saat ini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis Kuno hingga sekarang ini, masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasrat keinginan dan permohonannya. Maka tidak heran banyak pemuda-pemudi datang ke rumah arajang untuk memperbaiki nasibnya dengan cara di berikan mantra (ma’dukun-dukun).
b. Pelantikan dan pemilihan puang matoa bissu
Pada masa kerajaan proses pelantikan dan pemilihan puang matoa bissu dipilih oleh rakyat dan dilantik oleh raja bersamaan dengan dilantiknya puang lolo. Pada hari pelantikan bissu berpakaian sebagai mana pakaian upacara, lalu berduyung-duyunglah mereka menuju tempat kediaman calon puang matoa untuk menjemputnya dengan membawa sesajian yaitu sebuah talam berisi seikat daun sirih, tiga biji pinang dan wangtali lima buah. Tiba disana calon puang matoa telah siap dan lengkap dengan pakaian upacaranya dengan memakai songkok putih, selanjutnya dari sana puang matoa diiring keistana untuk menjemput raja menuju tempat upacara, kemudian bersama-samalah raja dengan puang matoa bissu menuju ketempat upacara dimana rakyat telah hadir menunggunya. Tiba ditempat itu raja mengumumkan pelantikan kepala bissu itu dan berseru kepada rakyat bahwa yang berpakaian kebesaran dan bersongkok putih itu ialah yang disepakati dan dipilih mulai hari ini menjadi puang matoa bissu, pemimpin asuhan arajang kita disegeri ini, ucapan itu diuulangi sebanyak tiga kali dan suara rakyatpun bergemuruh bersorak bergembira. Sesudah upacara peresmian pelantikan ini puang matoa bissu yang baru diarak oleh rakyat banyak menuju bola arajang, tempat kediaman alat kebesaran itu.
c. Panggilan Spritual menjadi Bissu
di Puang Matowa Bissu dan dianggap telah sempurna ilmu kebissuannya, maka seorang bissu diwajibkan untuk selalu menjaga tutur kata, sikap dan perbuatannya.
Selain dari segi penampilan dan cara berpakaian perbedaan bissu dengan waria kebanyakan adalah ilmu, bahasa dan kesaktian yang dimiliki oleh seorang bissu. Kesaktian para “waria bugis” itu bukan hanya terlihat saat melakukan aksi “maggiri” (menusuk badan menggunakan benda tajam tapi tidak mempan), melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Dengan bahasa tersendiri atau bahasa torilangi (bahasa orang langit), bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya di masa lampau.
Bissu juga memiliki kemampuan mempraktekkan pengobatan ala sanro (perdukunan) yaitu cukup dengan membacakan mantra-mantra dan doa disertai kepulan asap kemenyan. Di samping itu, bissu juga diyakini memiliki kemampuan meramal, yaitu kemampuan melihat hari baik melakukan sesuatu atau hari pantangan melakukan sesuatu.
1) Berawal dari Mimpi
Perjalanan salah satu bissu yang di takdirkan menjadi bissu pada tahun 2003 diawali lewat mimpi semasa SMP. Dalam mimpinya, ada seorang lelaki tua berbusana putih menyuruhnya pergi ke rumah pusaka. “waktu itu saya takut kesana karena pakaian mereka perempuan tapi mukanya besar-besar” kenangnya. Pada mimpi ketiga, barulah ia memberanikan diri . Waria bernama kecil Kahar ini mengakui, sejak kecil memang merasakan ada kelainan dalam dirinya yang lebih suka berlaku seperti perempuan. Di rumah puang matowa, beliau mempelajari ilmu-ilmu bissu yang hanya beredar di kalangan mereka, sekaligus belajar keterampilan merias pengantin dan tata caranya menurut adat Bugis.
dapat mengetahui basa torilangi, meski tak ada yang mengajarkannya kepada mereka.
2) Berpuasa dan Bernazar
Waria (calon bissu) yang akan di lantik menjadi bissu diwajibkan berpuasa (appuasa, mappuasa). Lama waktu puasa sangat ditentukan oleh tingkat penerimaan atau kemampuan calon bissu dalam menerima ilmu-ilmu kebissuan. Ada yang menjalani puasa selama sepekan, namun ada pula yang menjalani hingga masa waktu 40 hari.
Setelah itu, calaon bissu diwajibkan untuk bernazar (mattinja’) sebelum menjalani prosesi irebba. Proses menjalani puasa ini merupakan tahap yang dianggap berat oleh beberapa bissu. Dalam menjalani proses puasa tersebut, mereka juga dituntut untuk menjaga segala sikap, tingkah laku dan perbuatan agar tidak tercela dan menodai kekhusu’an berpuasa. 3) Prosesi Irebba
Seorang waria baru bisa dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matowa atau Puang Lolo Bissu. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (rebba, berbaring atau di baringkan) yang di lakukan di teras depan pada “Bola ArajangE”. Tahap ini merupakan proses paling penting dan wajib di lalui sebelum seseorang itu dianggap sah sebagai bissu.
Prosesi irebba dilakukan berhari-hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Proses ini dimulai dengan proses dimandikan (dipassili), lalu di kafani, dan di baringkan selama masa hari yang di nazarkan. Diatas perutnya, di simpan 2 buah kelapa. Setelah bissu melewati upacara sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu . Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan. Seorang bissu di wajibkan untuk menjaga sikap, perilaku dan tutur katanya. Konon, tak sedikit bissu yag melanggar ketentuan dari para dewa, kemudian celaka. Misalnya apabila mereka melakukan tindak asusila.
Seperti terjadi di mana-mana di nusantara ini, lambat laun tata upacara ini diarahkan untuk kepentingan penggalangan massa partai tertentu dan untuk memajukan pembangunan. Masuklah beberapa acara baru dalam tata upacara tradisional yang telah dipertahankan kelestariannya oleh orang-orang Bugis selama beberapa dekade di desa tersebut. Demi untuk penyesuaian dengan dinamika pembangunan, kemudian tata laksana upacara mappalili yang disusun oleh pemerintah Orde Baru lebih diarahkan kepada menggalang wisatawan. Upacara palili diharapkan dapat menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Upacara dan benda-benda pusaka yang dulunya sakral, kini menjadi seni kemasan untuk wisatawan dan menjadi ajang hiburan saja. Tidak sedikit anak muda mempergunakan kesempatan upacara sakral mappalili ini sebagai ajang main-main. Misalnya pada saat ucara siram-siraman usai palili, ada sebagian orang yang sengaja menyiram peserta upacara dengan air yang bercampur dengan air comberan. Upacara itu tidak lagi dianggap sakral bagi mereka. Padahal sebagaimana yang dipercaya masyarakat Segeri, bahwa upacara mappalili sebagai salah satu upacara sakral mempunyai beberapa pantangan yang harus ditaati oleh warga masyarakat. Kini mereka tidak hanya meladeni hajatan masyarakat yang sesekali mengundang mereka, tetapi mereka juga menari untuk suguhan wisatawan yang berkunjung ke Segeri atau di Pare-pare.[15] Bahkan Dinas Pariwisata Kabupaten Pangkep telah menurunkan fungsi dan derajat komunitas Bissu Segeri ini menjadi sebuah sanggar tari bernama Sanggar La Pawowoi Segeri.
Faktor eksternal lainnya adalah penyebaran ajaran Islam yang menganggap seluruh kegiatan Bissu tersebut bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam murni. Penyebaran agama Islam membawa arti dan pengaruh yang sangat cepat bagi perkembangan yang menyimpang dari kebiasaan lama Bissu. Tradisi Bissu pelan-pelan memudar, berkat kokohnya peningkatan dari cita-cita modern dan juga pertambahan keinsyafan dalam masalah agama Islam secara mendasar dalam masyarakat.
Mengomentari perubahan ini, Haji Syamsuddin, Lurah Bontomatene Segeri hanya mengatakan:
“… upacara palili tetap dilaksanakan, akan tetapi tidak semeriah dulu ketika Puang Towa masih tinggal di Bola Arajang. Hal ini disebabkan karena dianutnya paham baru dalam masyarakat Segeri Mandalle, yaitu semakin tingginya keimanan mereka terhadap Tuhan YME.”
Walaupun demikian, sinkritisme telah terjadi di kalangan pendukung ritual Bissu. Menurut Imam Kampung Panaikang:
“… sekarang ini tidak ada lagi pengelompokan dalam masyarakat Segeri. Masyarakat sekarang sudah menganut satu ajaran atau aliran, yaitu Ahlul Sunnah wal Jamaah. Adapun golongan masyarakat ini tidak menentang diadakannya upacara mappalili, tetapi mereka tidak ikut secara langsung mendukung pelaksanaan upacara. Sebab menurut ajaran mereka sebelum memulai sesuatu terlebih dahulu harus membaca doa-doa yang diiringi sesajen untuk dibaca.”
2.3
BERKUNJUNG KE RUMAH ARAJANG
Puang Salma (39 tahun) duduk menghadap sebuah benda besar yang dililit kain putih. Di depannya sebuah benda kecil dari kayu berukir terus mengeluarkan asap. Aroma dupa memenuhi ruangan sekira 3 m x 10 m itu. Cahaya matahari masuk lewat pintu, menyisakan separuh ruangan dalam keremangan. Gabungan antara rapalan doa dan mantra dengan abu dupa serta suasana remang-remang tak pelak membuat suasana jadi terasa senyap dan mistis. Dia duduknya menghadap ke arah kami.
Kami dipersilahkan untuk masuk ke ruangan tersebut. Kami juga dipersilahkan mengambil gambar sembari melihat- lihat benda suci yang ada didalamnya. Sawah yang disucikan, dalam bahasa Bugis namanya rakkala’ yang dianggap sebagai salah satu benda keramat peninggalan kerajaan Segeri. Dalam bahasa Bugis namanya arajang, atau sesuatu yang disucikan/dikeramatkan
di Saoraja atau istana raja. Saoraja itu berbentuk rumah panggung khas Bugis
dengan warna dominan hijau, berdiri di atas tanah luas yang sekelilingnya ditutup pagar batu. Sebagian pagar sudah doyong ke depan, seperti sisa menunggu waktu sebelum terjerembab ke tanah.
Di Saoraja itulah arajang kerajaan Segeri disimpan, istilahnya ditidurkan. Sekali setahun arajang itu dibangunkan, tepatnya di awal musim tanam padi. Sebuah upacara harus digelar untuk membangunkan arajang itu, namanya mappalili. Para bissu berada di garis depan memimpin upacara mappalili yang ditutup dengan peragaan nan mistis yang menunjukkan kesaktian mereka. Namanya maggiri. Dalam acara maggiri, para bissu akan menusuk diri mereka dengan badik atau keris. Jangankan luka, guratan kecilpun tidak akan terlihat sama sekali, padahal badik atau keris itu kadang ditancapkan di pangkal leher, di salah satu titik paling vital di tubuh manusia.
2.4 MATA PENCAHARIAN PARA BISSU
Sistem mata pencaharian adalah pekerjaan yang menjadi pokok penghidupan, pekerjaan atau pencaharian utama yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari guna usaha pemenuhan kehidupan.
Masyarakat Segeri rata-rata berprofesi sebagai petani, pekebun dan pedagang, hal ini ditandai dengan banyaknya hamparan sawah, penjual jeruk, dan penjual dange di sepanjang jalan menuju Segeri.
Umumnya waria-waria di Segeri berprofesi sebagai perias pengantin, sebagaimana juga profesi yang umum dilakoni oleh para waria dimanapun mereka berada. Semua bissu memilih menjadi perias pengantin sebagai ujung tombak untuk menafkahi hidupnya, terjun dalam urusan perkawinan seperti merias pengantin, membuat dan menyewakan baju pengantin, juru masak pengantin atau yang dalam bahasa bugis disebut “bass” dan menyewakan peralatan pesta sampai tata urutan pestanya, penghasilan yang diperolehnya pun lumayan. Saat musim hajatan, wedding organizer (indo’ botting) bisa menangani 3 samapi 7 pengantin sehari, satu pasang ditarif minimum 2 juta rupiah.
Salah satu bissu yang berada di Segeri adalah Salemma, Salemma sendiri dalam kesehariannya bekerja sebagai perias pengantin (indo botting) dan juru masak (paddawa-dawa, bass) memiliki penghasilan kurang lebih 2,5 juta per resepsi pernikahan. Saat melaksanakan tugasnya sebagai juru masak pada pesta perkawinan, beliau juga bersosialisasi dengan masyarakat sekitar tempat resepsi. Maka tak heran bahwa Salemma sangat banyak di kenali oleh orang di daerah Segeri dan sekitarnya karena selain piawai merias pengantin dan memasak, beliau juga pandai bersosialisasi.
Selain mejadi indo’ botting, bissu juga mendapatkan penghasilan dari pentas-pentas yang diadakan di dalam daerah, maupun luar daerah, bahkan Internasional.
diterimanya. Panggilan spiritual menjadi bissu inilah yang kemudian mengangkat derajatnya menjadi “bukan sekedar waria biasa”. Tentunya, semakin baik penerimaan masyarakat terhadap ke-abnormalan bissu ini akan semakin memudahkan bagi bissu untuk menata lebih baik pula kehidupan sosial ekonominya.
Beberapa bissu belakangan juga diketahui berumah tangga atau mempunyai suami layaknya seorang perempuan, namun rumah tangga yang dimaksud disini hanyalah sebatas seorang laki-laki yang tinggal dirumah waria tersebut tanpa resepsi pernikahan atau ijab qabul.
BAB 3
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Boleh dikatakan, Bissu yang masih tersisa sekarang ini adalah generasi terakhir yang mewarisi tradisi Bugis klasik. Kini komunitas Bissu yang makin berkurang ini berada dalam ambang antara ada dan tiada. Dikatakan ada karena sesekali komunitasnya masih menghendaki dan memandang perlu untuk
mengedepakannya bagi kepentingan yang bertalian dengan upacara. Dapat menjadi tiada ketika masyarakat yang semula menopang keberadaannya kemudian
dirasakan kehadirannya, namun dianggap tidak ada lagi. Hidup tidak, mati pun tak rela.