• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

EKSPLORASI DAN KARAKTERISASI PLASMA NUTFAH JAWAWUT (

Setaria italica

L

Beauv) DI PROPINSI BENGKULU, SUMATERA SELATAN DAN JAWA BARAT

Miswarti 1) , M.D. Tatuhey2) dan 3)Yulie Oktavia

1)

Peneliti Pertama pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu 2)

Lektor pada Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian, Santo Thomas Aquinas-Jayapura 3)

Calon Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu e-mail: [email protected]

ABSTRACT

Milletis one of thealternative food that has potential asan alternative because the nutrient contentof foodis no lessth another cereal. This study was conducted from June to September 2012 with a survey method and aims to explortion collection and identify millets germ plasmin Bengkulu, South Sumatra and West Java. Results obtained 73 exploration millet germ plasm accessionsie 72 accessions grown by farmers along with paddy fields/gogo and one found in wild accessions. The genetic diversity of 73 accessions were foundwas 78 percent based on morphological characters in-situ.

Keywords :exploration, characterazation, germplasm, millet

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat komplek dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya, oleh karena itu kebijakan (pemantapan) ketahanan pangan menjadi isu sentral dalam pembangunan serta merupakan fokus utama dalam pembangunan pertanian. Selama ini kebijakan pemerintah lebih difokuskan kepada beras, sehingga keberadaan pangan alternatif tersebut terabaikan (Widowati dan Damarjati, 2001 dalam Qosim dan Nurmala, 2011). Hal ini terbukti dengan adanya program pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri demi memenuhi ketersediaan pangan masyarakat, oleh karena itu pengadaan pangan harus diarahkan tidak hanya menyediakan beras, tetapi juga dapat dipenuhi dari tanaman sumber karbohidrat lainnya asalkan standar gizi dapat dipenuhi dan layak untuk dikonsumsi (Nurmala dan Irwan, 2007). Untuk memenuhi kekurangan pangan dapat dilakukan dengan pemanfaatan bahan-bahan yang ada di alam untuk dijadikan bahan makanan sebagai contoh adalah jawawut.

Di Indonesia Jawawut merupakan sumber kekayaan alam yang dimiliki dan merupakan aset dan belum banyak diketahui karakternya. Keanekaragaman dan penyebaran jawawut sangat bervariasi, oleh karena itu diperlukan eksplorasi dan karakterisasi yang berguna sebagai sumber plasma nutfah. Pengumpulan tanaman sangat dirasakan penting terutama pada tumbuhan yang dapat diintroduksikan untuk digunakan sebagai tanaman budidaya.

Jewawut jenis ekor rubah (Foxtail Millet) adalah yang jenis millet tertua yang dibudidayakan (Oelke et al, 1990). Jawawut adalah tanaman ekonomi minor namun memiliki nilai kandungan gizi yang mirip dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, jagung, dan tanaman biji-bijian yang lain karena tanaman jawawut sendiri tergolong ke dalam jenis tanaman serealia. Masyarakat belum banyak mengenal jawawut sebagai sumber pangan sehingga selama ini tanaman jawawut hanya dijadikan sebagai makanan burung oleh masyarakat. Padahal tanaman ini dapat diolah menjadi sumber makanan oleh masyarakat guna mendukung ketahanan pangan dan mengantisipasi masalah kelaparan (Marlin, 2009).

(2)

Tujuan penelitian adalah untuk mengeksplorasi, mengumpulkan dan mengidentifikasi plasma nutfah jawawut yang ada di Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat sedangkan kegunaan penelitian adalah dapat memberikan informasi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sumber plasma nutfah serealia.

METODE EKSPLORASI

Eksplorasi jawawut mulai Juni sampai September 2012 di Propinsi Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini berdasarkan bahwa diperolehnya informasi atau fakta bahwa di lapangan dan di pasar tradisional ditemukan jawawut dalam bentuk malai, gabah atau beras jawawut.

Bahan dan alat yang digunakan pada percobaan ini sebagai berikut: kantong plastik, kuisioner, altimeter, meteran, timbangan analitik, lup, pinset, alat tulis.

Eksplorasi dilakukan dengan metode survei atau jelajah dimaksudkan untuk mengumpulkan data dari tiap-tiap kawasan jelajah artinya seseorang kolektor menjelajahi setiap sudut lokasi dan mengumpulkan contoh tanaman dan diberi nomor urut genotif (aksesi), sehingga tiap kawasan memiliki contoh yang bisa dijadikan sebagai pembanding dengan daerah lainnya.

Eksplorasi atau pencarian plasma nutfah jawawut diawali dengan studi pustaka dan kunjungan lapangan ke masing-masing BIPP/BPP/Dinas Pertanian/Kelompok Tani setempat yang ada di masing-masing wilayah. Selain itu juga penggalian informasi keberadaan tanaman jawawut juga dilakukan ke tempat penjualan jawawut di pasar burung atau pemelihara burung. Informasi tersebut digunakan sebagai informasi untuk penelusuran ke lahan atau tempat jawawut tersebut tumbuh atau ditanam. Kunjungan tersebut juga dilengkapi informasi berupa leaflet atau foto-foto yang telah disiapkan untuk melengkapi informasi tanaman jawawut tersebut.

Tahap berikutnya adalah melakukan kunjungan ke tempat tanaman atau keberadaan tanaman yang tumbuh atau dibudidayakan oleh petani setempat ataupun tumbuh liar. Wawancara dilakukan kepada petani setempat untuk mendapatkan informasi.

Pengambilan sampel jawawut di lapangan diambil dalam bentuk malai atau dalam bentuk biji/gabah kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik. Biji/gabah atau malai yang diambil dilakukan pemotretan. Guna mempermudah identifikasi secara in-situ dibuat nomor aksesi, asal daerah, nama daerah, ketinggian tempat, warna gabah, panjang malai dan selanjutnya dibawa untuk koleksi.

Analisis keragaman genetik dilakukan berdasarkan karakter morfologi selanjutnya data tersebut diubah dalam bentuk data biner dengan skoring data. Selanjutnya untuk mengetahui hubungan kekerabatan dianalisis dengan menggunakan program NTSYS (Numerical Taxonomy and Multivariate AnalisysSystem) versi 2.1 yang akan menghasilkan analisis berupa dendogram. NTSYS merupakan suatu program yang digunakan untuk mencari dan menampilkan suatu struktur dalam data multivariate (Rohlft, 2001).

HASIL EKSPLORASI

Keadaan Umum Lokasi Eksplorasi

Eksplorasi yang dilakukan pada Provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat menunjukkan bahwa plasma nutfah tanaman jawawut dapat tumbuh di semua jenis tanah mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, ini terlihat dari hasil eksplorasi mulai dari ketinggian tempat 20 m s/d diatas 1200 m dari permukaan laut.

Lahan untuk penanaman tanaman jawawut berada pada lahan kering berupa tegal/hutan, sumber benih yang ditanam adalah kultivar lokal, ditanam tidak secara monokultur tetapi bersamaan dengan padi ladang/padi gogo. Luas lahan penaman padi gogo/padi ladang berkisar 0,75 sampai 1,5 ha.

(3)

Pemanenan jawawut tidak dilakukan bersamaan dengan padi gogo melainkan setelah memanen padi gogo/padi ladang karena petani beranggapan bahwa menanam jawawut merupakan salah satu cara agar burung tidak memakan biji padi melainkan memakan biji jawawut (sebagai tanaman buffer atau penyangga). Hasil panen jawawut kemudian dijemur, dikeringanginkan di para-para selanjutnya dilakukan penyimpanan. Penyimpanan jawawut dalam bentuk malai atau gabah. Juwawut yang dihasilkan oleh petani tersebut ada yang dijual dalam bentuk malai, beras jawawut tetapi ada juga yang tidak dijual namun digunakan untuk makanan keluarga.

Alat untuk penggilingan gabah jawawut menjadi beras jawawut sangat sederhana dengan bahan terbuat dari kayu dan digerakkan oleh tenaga manusia dan ada juga digerakkan oleh kincir.

Gambar 1. Lahan, tanaman serta alat pengolahan biji jawawut.

Realisasi Eksplorasi

Jawawut di petani dikenal dengan berbagai nama lokal seperti sekoi (Kota Bengkulu), dawei (Rejang Lebong/Rejang), juwau (Bengkulu Selatan/Serawai), jawe (Suku Lembak dan Pagar Alam), kunyit (sunda).

Plasma nutfah jawawut yang berhasil dikumpulkan dari kegiatan eksplorasi di Provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Barat diperoleh sebanyak 73 aksesi. Aksesi-aksesi yang ditemukan tersebut umumnya ditanam oleh masyarakat dan satu aksesi ditemukan tumbuh secara liar atau tidak dibudidayakan.

Tabel 1. Lokasi dan jumlah aksesi yang ditemukan di Provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Barat.

Provinsi Kabupaten Jumlah aksesi

Bengkulu Bengkulu Selatan, Seluma, Bengklu

Tengah, Bengkulu Utara, Kepahiang, Kaur, Rejang Lebong

49

Sumatera Selatan Lahat, Muara Enim, Kayu Agung, Muara Beliti

18

Jawa Barat Garut 6

(4)

Hasil dari karakterisasi secara insitu diperoleh bahwa warna dari biji jawawut yang ditemukan terdiri dari empat jenis yaitu berwarna kuning (87,67%), kemerahan (6,85%) dan coklat (4,11%) serta hitam (1,37%). Malai yang ditemukan panjangnya berkisar 15,33cm sampai dengan 33,17cm, pada malai juga ditemukan bulu-bulu halus yang panjangnya lebih kurang 0,1 – 1,2 cm, tipe malai yang ditemukan berbentuk kerucut, poros, dan kaki kucing.

Gambar 2. Warna biji jawawut yang ditemukan.

(5)

Tabel 2. Penampilan penotipik karakter dari plasma nutfah jawawut.

(6)

47 Tj.

Poros 20,41 Pendek Agak bulat Kemerahan

51 Poros 15,33 Sedang Agak bulat Hitam

Keterangan: - = belum diketahui, diperoleh dalam bentuk gabah.

Tabel 3. Pengelompokan 73 aksesi plasma nutfah jawawut berdasarkan karakter morfologi secara in-situ.

Kelompok utama

Sub Kelompok

Nilai kooefesien

kemiripan genetik (%) Plasma nutfah

(7)

Kesamaan karakter yang dimiliki jawawut yang diuji dapat menunjukkan hubungan kekekerabatan yang dimiliki tanaman jawawut (Gambar 4). Aksesi yang berada dalam satu kelompok menunjukkan kekerabatan yang dekat, sedangkan aksesi yang berada di kelompok yang berbeda menunjukkan gubungan kekerabatan yang jauh. Hasil dendogram yang diamati dari 6 karakter terlihat bahwa jawawut dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu kelompok I dan kelompok II dengan jarak kemiripan 0,22-1,00 (22 persen-100 persen) atau keragaman genetiknya 78%. Kelompok satu terdapat satu aksesi yaitu aksesi 50 yang berasal dari Kota Agung (Sumsel) dan kelompok dua dibagi kedalam dua sub kelompok yaitu kelompok sub satu mempunyai kemiripan 65% dan pada sub kelompok kedua kemiripannya 45%. Aksesi yang memiliki kemiripan yang besar salah satunya adalah antara aksesi 21 dan aksesi 22 karena terletak dalam kelompok yang sama. Semakin banyak persamaan ciri, maka semakin dekat hubungan kekerabatan atau sebaliknya. Banyaknya aksesi dengan tingkat kesamaan yang tinggi secara morfologi terjadi karena petani membawa benih dari suatu tempat ke tempat lain atau kemungkinan disebabkan oleh kedekatan letak geografis.

Gambar 4. Dendogram 73 aksesi plasma nutfah jawawut berdasarkan karakter morfologi secara in-situ.

KESIMPULAN

1. Plasma nutfah jawawut telah terkumpul sebanyak 73 aksesi yang ditanam oleh masyarakat dan satu diantaranya tumbuh secara liar.

2. Lokasi penemuan tanaman jawawut adalah tumbuh bersama dengan padi ladang/padi gogo dan ditanam pada awal musim penghujan.

3. Analisis dendogram menunjukkan 73 aksesi jawawut kemiripan genetik sebesar 22 persen atau ketidakmiripan sebesar 78 persen berdasarkan karakter morfologi secara in-situ.

Sub 2

Kelompok. 1 Kelompok 2

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Efendi, K., S.Kartikaningrum. 2005. Pedoman Pengelolaan Plasma Nutfah Tanaman Hias. Balai Penelitian Tanaman Hias. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.

Marlin. 2009. Sumber Pangan Tanaman Minor. http://daengnawan.blogspot.comn

Nurmala T dan A.W. Irwan. 2007. Pangan Alternatif Berbasis Serealia Minor (Gandum, Sorgum, Hanjeli, Jawawut dan Soba. Pustaka Giratuna

Putra, S., I.Suliansyah, Ardi. 2010. Eksplorasi dan Karakterisasi Plasma Nutfah Padi Beras Merah di Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat. Jerami, Jurnal Agronomi Indonesia. Vol 3 No.3 Hal 139-157

Oelke, E,A., E.S. Oplinger, D.H.Putnam, B.R. Durgan, J.D.Doll, and D.J. Undersander. 1990. Millets.

http://www.hort.purdue.edu./newcrop/afcm/millets.html

Qosim, W.A., Nurmala T. 2011. Eksplorasi, Identifikasi dan Analisis Keragaman Plasma Nutfah Tanaman Hanjeli (Coix lacryma jobi L.) Sebagai Sumber Bahan Pangan Berlemak di Jawa Barat.

Gambar

Gambar 1. Lahan, tanaman serta alat pengolahan biji jawawut.
Gambar 2. Warna biji  jawawut yang ditemukan.
Tabel 2. Penampilan penotipik karakter dari plasma nutfah jawawut.
Tabel 3.  Pengelompokan 73 aksesi plasma nutfah jawawut berdasarkan karakter morfologi secara in-situ
+2

Referensi

Dokumen terkait

1 Surat Pernyataan bahwa Perusahaan yang bersangkutan dan manajemennya atau peserta perorangan, tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak bangkrut dan tidak sedang dihentikan

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Hasil Evaluasi Dokumen Kualifikasi 07/POKJA.D2.A1/ST/IV/2017 tanggal 12 April 2017, maka dengan ini diumumkan Daftar Pendek

seorang mahasiswa perlu memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungannya, baik lingkungan di dalam kampus maupun di luar kampus..

Demikian undangan dari kami dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.. Pokja 2 ULP Kabupaten Kendal

lain dalam bentuk kemampuan mengatur waktu dengan baik, kepatuhan pada seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di kampus, mengerjakan segala sesuatunya tepat waktu, dan

[r]

• Penerapan nilai tanggung jawab antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk belajar sungguh-sungguh, lulus tepat waktu dengan nilai baik, mengerjakan tugas akademik dengan

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Hasil Evaluasi Dokumen Kualifikasi 07/POKJA.D2.A1/SR/IV/2017 tanggal 12 April 2017, maka dengan ini diumumkan Daftar Pendek