BADAN PUSAT STATISTIK
Pedoman
Pencacahan Konsumsi Rumah Tangga
Survei Penyusunan Diagram Timbang
Nilai Tukar Petani 18 Kabupaten
2015
KATA PENGANTAR
Buku Pedoman Pencacahan Konsumsi Survei Penyusunan Diagram Timbang Nilai
Tukar Petani 18 Kabupaten (SPDT NTP) 2015 adalah buku pedoman bagi petugas pencacah
dan pengawas. Buku pedoman ini memuat petunjuk dan acuan yang harus dilakukan oleh
petugas dalam pelaksanaan lapangan SPDT NTP 18 Kabupaten 2015.
Kegiatan SPDT NTP 18 Kabupaten yang dilaksanakan pada 2015, terdiri dari
persiapan, pelaksanaan lapangan, entri data, proses pengolahan, dan tabulasi, sedangkan
penyusunan diagram timbang serta penghitungan NTP dilakukan pada 2016.
Mengingat kualitas data sangat ditentukan oleh keberhasilan pengumpulan data di
lapangan, untuk itu diperlukan petugas yang mempunyai kualifikasi yang sangat baik. Oleh
karena itu seluruh petugas harus mengerti, memahami dan mengikuti petunjuk yang ada
dalam buku pedoman ini. Dengan demikian diharapkan dalam pelaksanaan survei nanti dapat
berjalan dengan baik, lancar, dan sesuai dengan rencana dan jadwal yang ditetapkan.
Kepada seluruh petugas SPDT NTP 18 Kabupaten agar bekerja dengan
sungguh-sungguh dan cermat supaya pelaksanaan lapangan SPDT NTP 18 Kabupaten 2015 dapat
berjalan lancar, sehingga data yang dihasilkan berkualitas.
Terima kasih dan selamat bekerja.
Jakarta, Maret 2015
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa
DAFTAR ISI
Hubungan antara PCS dan PMS ...
Alur Dokumen...
Kabupaten 2015 (SPDT15-DSRTU) ...
BAB IV PENGISIAN DAFTAR ... 25
4.1.
4.2.
Tata Cara Pengisian Daftar ...
Daftar SPDT15-K (Nilai Konsumsi)... 25
26
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di
Indonesia, dimana sekitar 34 persen (Sakernas Agustus 2014) distribusi tenaga kerja
diserap oleh sektor tersebut. Hal ini mencerminkan bahwa sektor pertanian sesungguhnya
masih menjadi tumpuan bagi penduduk Indonesia dan sekaligus sebagai penyumbang
terhadap pertumbuhan ekonomi. Sehubungan dengan itu, maka di perlukan suatu indikator
yang secara akurat dapat mengukur kemampuan daya beli petani sebagai salah satu pelaku
utama di sektor pertanian. Ukuran ini di sajikan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian
pemerintah yang berguna sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Salah satu indikator proxy untuk mengukur kemampuan daya beli petani di daerah perdesaan adalah Nilai Tukar Petani (NTP). NTP merupakan perbandingan indeks harga
komoditas pertanian yang diproduksi oleh petani terhadap indeks harga barang/jasa yang
dibayar petani untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan biaya produksi. Salah satu
bahan dasar dalam penghitungan NTP adalah diagram timbang dan paket komoditas
dimana diagram timbang dan paket komoditas didapat dari hasil survei penyusunan
diagram timbang.
Pada tahun 2014 Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan Survei Penyusunan
Diagram Timbang (SPDT) NTP pada tingkat kabupaten. Survei tersebut mencakup 16
kabupaten terpilih di 16 provinsi. Pada tahun 2015, cakupan SPDT NTP di tingkat
kabupaten semakin diperluas dengan penambahan sebanyak 18 kabupaten terpilih yang
tersebar di 17 provinsi lainnya.
1.2. Landasan Hukum
Pelaksanaan Survei Penyusunan Diagram Timbang NTP 18 Kabupaten 2015
dilandasi oleh:
a. Undang-undang No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik.
b. Peraturan Pemerintah RI No. 51 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik.
c. Keputusan Presiden No. 3 Tahun 2002 Jo Keputusan Presiden No. 103 Tahun
2001 tentang Kedudukan, Fungsi, Kewenangan, dan Susunan Organisasi
1.3. Tujuan
Tujuan dari survei ini adalah:
a. Memperoleh nilai produksi dan jenis komoditas pertanian yang banyak
dihasilkan petani dan persentase marketed surplusnya.
b. Memperoleh nilai konsumsi dan biaya produksi serta komoditas yang banyak
di gunakan oleh rumah tangga pertanian, baik untuk keperluan rumah tangga
maupun digunakan dalam proses produksi pertanian.
c. Menyusun struktur input untuk setiap komoditas pertanian yang banyak
dihasilkan petani.
d. Sebagai bahan untuk menyusun paket komoditas diagram timbang Nilai Tukar
Petani (NTP).
e. Sebagai dasar untuk menghitung NTP tingkat kabupaten terpilih.
1.4. Ruang Lingkup
Kegiatan survei dilakukan di 18 kabupaten yang tersebar di 17 provinsi di
Indonesia (Daftar nama kabupaten terpilih terlampir pada Blok III Metodologi). Responden
adalah rumah tangga pertanian terpilih di 5 (lima) subsektor yang meliputi: rumah tangga
pertanian Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, Tanaman Perkebunan Rakyat,
Peternakan, dan Perikanan (Tangkap dan Budidaya). Materi pencacahan meliputi
pendapatan petani dari penjualan hasil produksi, pengeluaran rumah tangga petani untuk
keperluan produksi, dan konsumsi rumah tangga.
1.5. Buku Pedoman dan Jenis Dokumen
a. Buku 1, digunakan sebagai pedoman teknis BPS Provinsi/ Kabupaten/Innas.
b. Buku 2, digunakan sebagai pedoman pencacahan konsumsi rumah tangga.
c. Buku 3, digunakan sebagai pedoman pencacahan produksi.
d. Buku 4, digunakan sebagai pedoman pengawasan/pemeriksaan.
e. Buku 5, digunakan sebagai pedoman pengolahan.
g. Daftar SPDT15-TP, daftar ini digunakan untuk mengumpulkan data produksi, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi pada Subsektor
Tanaman Pangan.
h. Daftar SPDT15-TH, daftar ini digunakan untuk mengumpulkan data produksi, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi pada Subsektor
Tanaman Hortikultura.
i. Daftar SPDT15-TPR, daftar ini digunakan untuk mengumpulkan data produksi, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi pada
Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat.
j. Daftar SPDT15-TRK, daftar ini digunakan untuk mengumpulkan data produksi, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi pada
Subsektor Peternakan.
k. Daftar SPDT15-IKT, daftar ini digunakan untuk mengumpulkan data produksi, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi pada
Subsektor Perikanan Tangkap.
l. Daftar SPDT15-IKB, daftar ini digunakan untuk mengumpulkan data produksi, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi pada
Subsektor Perikanan Budidaya.
m. Daftar SPDT15-K, daftar ini digunakan untuk mengumpulkan keterangan rumah tangga dan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang berasal dari
pembelian, tidak termasuk pemberian dari pihak lain maupun produksi sendiri.
n. Daftar SPDT15-LKK, daftar ini digunakan untuk membantu atau sebagai lembar kerja pengumpulan data pengeluaran konsumsi rumah tangga selama
seminggu yang lalu.
o. Daftar SPDT15-LKP, daftar ini digunakan sebagai lembar kerja untuk membantu pengumpulan data produksi yang dihasilkan petani dijual,
dikonsumsi sendiri, yang diberikan kepada pihak lain, dan rata-rata harganya
p. SPDT15-DSRTU, daftar ini memuat nama kepala rumah tangga yang menjadi sampel utama dalam SPDT NTP 18 Kabupaten 2015.
q. SPDT15-DSRTP, daftar ini memuat nama kepala rumah tangga yang menjadi sampel pengganti dalam SPDT NTP 18 Kabupaten 2015.
Tabel 1. Jadwal Kegiatan SPDT NTP 18 Kabupaten 2015
Kegiatan Pusat Daerah
A. Persiapan
1. Pembahasan Persiapan Survei Jan – Feb 2015
2. Penggandaan Kuesioner dan Pedoman Pencacahan
Feb 2015 Mg III
3. Pengiriman Dokumen ke Daerah Mar 2015 Mg II
4. Pelatihan Instruktur Nasional Mar 2015 Mg II (12 – 13 Mar 2015)
5. Pelatihan Petugas Pencacah dan Pengawas
Mar 2015 Mg III – IV
B. Pelaksanaan Lapangan
1. Pencacahan SPDT NTP Apr 2015
2. Pengawasan/Pemeriksaan Dokumen Apr 2015
3. Entri Data Mei - Jun 2015
4. Pengiriman Data (softcopy) ke BPS Jul 2015 Mg I
C. Pengolahan di Pusat Jul – Okt 2015
D.
E.
Cross check tabel
Pengolahan Diagram Timbang
Nov – Des 2015
Jan - Mei 2016
F. Tabulasi Diagram Timbang Jun – Jul 2016
II.
ORGANISASI SURVEI
2.1
Penanggung Jawab Pelaksanaan Survei
Penanggung jawab Pusat : Direktur Statistik Harga
Penanggung jawab Teknis Pusat
: Kepala Subdirektorat Statistik Harga Perdesaan
Penanggung jawab Daerah : Kepala BPS Provinsi dan Kepala BPS Kabupaten terpilih
Penanggung jawab Teknis Daerah
: Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi dan Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kabupaten
Pengawas/Pemeriksa (PMS) : Staf BPS Kabupaten yang ditunjuk
Pencacah (PCS) : Koordinator Statistik Kecamatan (KSK)/ Staf BPS Kabupaten dan/atau Mitra yang ditunjuk
Editor : Kepala Seksi IPDS atau Staf BPS
Kabupaten yang ditunjuk
Petugas entri : Kepala Seksi IPDS atau Staf BPS
Kabupaten yang ditunjuk
2.2
Tugas Pemeriksa (PMS)
a. Mengikuti pelatihan petugas survei.
b. Mengatur pendistribusian dokumen dan perlengkapan pencacah (PCS) yang
menjadi tanggung jawabnya.
c. Mengawasi jalannya pelaksanaan pencacahan agar sesuai dengan prosedur
yang ditetapkan.
d. Mengatasi masalah teknis yang dihadapi oleh petugas pencacah.
e. Mengumpulkan dan memeriksa kelengkapan semua dokumen serta hasil
pencacahan yang dilakukan PCS.
f. Mengisi kode jenis komoditas.
g. Menyerahkan semua dokumen yang telah diperiksa kepada BPS Kabupaten.
2.3
Tugas Pencacah (PCS)
a. Mengikuti pelatihan petugas survei.
b. Melakukan pencacahan dengan menggunakan daftar SPDT NTP 18 Kabupaten
2015 ke rumah tangga sampel.
c. Mencatat seluruh permasalahan dan informasi penting dalam blok catatan.
d. Memeriksa kelengkapan isian hasil pencacahan.
e. Menyerahkan Daftar SPDT NTP 18 Kabupaten 2015 yang telah diisi kepada
PMS secara bertahap tanpa menunggu selesainya seluruh beban tugas yang
menjadi tanggung jawabnya.
f. Memperbaiki isian daftar pertanyaan yang dinyatakan salah oleh PMS.
g. Mematuhi jadwal waktu yang telah ditetapkan.
2.4
Hubungan antara PCS dan PMS
a. PMS harus membantu, memeriksa dan memberikan bimbingan kepada
pencacah/PCS.
b. PCS dan PMS bersama-sama mendiskusikan dan memutuskan kesulitan yang
dijumpai selama melaksanakan pencacahan. Apabila tidak dapat memecahkan
permasalahan, harus segera melaporkan kepada Kepala Seksi Statistik
Distribusi BPS Kabupaten.
2.5
Alur Dokumen
1. PCS menyerahkan dokumen hasil pencacahan kepada PMS
2. PMS meneliti kelengkapan isiannya. Jika belum lengkap atau ada isian yang
meragukan, dokumen tersebut dikembalikan ke PCS untuk dilengkapi dan
diperbaiki.
3. Seluruh dokumen yang sudah bersih dari kesalahan selanjutnya dientri di BPS
Kabupaten.
4. Sebelum proses entri dokumen dilakukan editing coding terlebih dahulu oleh
petugas.
5. Setelah proses data entri selesai, seluruh hasilnya segera dikirimkan via email
ALUR DOKUMEN DARI BPS RI KE PETUGAS
ALUR DOKUMEN DARI PETUGAS KE BPS RI
III.
METODOLOGI
3.1.
Cakupan
SPDT NTP 18 Kabupaten 2015 dilaksanakan di 17 provinsi. Secara lengkap
cakupan wilayah tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Cakupan wilayah SPDT NTP 18 Kabupaten 2015
No Provinsi Kabupaten
1 Aceh 1103 Aceh Selatan
2 Sumatera Barat 1306 Padang Pariaman
1308 Lima Puluh Kota
3 Riau 1406 Kampar
4 Jambi 1501 Kerinci
5 Sumatera Selatan 1610 Ogan Ilir
6 Bengkulu 1702 Rejang Lebong
7 Kepulauan Bangka Belitung 1901 Bangka
8 Kepulauan Riau 2102 Bintan
9 Kalimantan Tengah 6203 Kapuas
10 Kalimantan Timur 6403 Kutai Kartanegara
11 Kalimantan Utara 6502 Bulungan
12 Sulawesi Utara 7102 Minahasa
13 Sulawesi Tengah 7202 Banggai
14 Sulawesi Tenggara 7405 Konawe Selatan
15 Sulawesi Barat 7602 Polewali Mandar
16 Maluku 8103 Maluku Tengah
17 Papua 9403 Jayapura
SPDT NTP 18 Kabupaten 2015 mencakup semua subsektor dalam sektor pertanian kecuali
subsektor kehutanan, sehingga bisa dinyatakan bahwa subsektor yang menjadi cakupan
SPDT NTP 18 Kabupaten 2015 adalah:
Subsektor Tanaman Pangan
Subsektor Tanaman Hortikultura
Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat
Subsektor Peternakan
Subsektor Perikanan Tangkap
Terkait dengan tujuan survei tersebut, maka selain mendefinisikan cakupan
subsektor maka perlu mendefinisikan komoditas yang akan dicakup dalam survei.
Komoditas yang dicakup adalah sebagai berikut:
Subsektor Tanaman Pangan: padi, jagung, kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu/ketela pohon, dan ubi jalar/ketela rambat, talas, jagung
manis.
Subsektor Tanaman Hortikultura: buah naga, cempedak, duku, durian, jambu air, jambu biji, jeruk, kedondong, langsat, mangga, manggis, matoa
buah, nenas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sawo, mentimun suri, semangka,
petai, bawang daun, bawang merah, bawang prei, bayam, brokoli, buncis, cabai
hijau, cabai merah, cabai rawit, kacang merah, kacang kapri, kacang panjang,
kangkung, kembang kol, kentang, kubis, labu siam, lobak, ketimun,
oyong/gambas, paria/pare, petsai/sawi putih, sawi hijau, seledri, selada, terong,
tomat, wortel, jahe, kemangi, dan kunyit.
Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat: cengkeh, gambir, jambu mete, kakao, karet, kelapa sawit, kelapa, kemiri, kopi, lada, pala, pinang/jambe,
nilam, tebu, dan tembakau.
Subsektor Peternakan: kerbau, kuda, sapi potong, babi, kambing, ayam kampung, ayam ras pedaging, ayam ras petelur, itik, dan burung puyuh.
Subsektor Perikanan Kelompok Perikanan tangkap:
Khusus penangkapan laut maupun penangkapan perairan umum tidak
diperlukan informasi mengenai komoditas. Informasi yang dibutuhkan adalah
jenis kapal/perahu yang digunakan. Jenis kapal/perahu yang digunakan antara
lain: kapal motor, perahu motor tempel, perahu tanpa motor, dan tanpa perahu.
Subsektor Perikanan Kelompok Perikanan Budidaya: budidaya laut: kerapu dan rumput laut.
budidaya air payau: bandeng, dan udang
budidaya air tawar: baung putih, bawal air tawar, gurame, jelawat, lele, mas, mujair, nila, dan patin
3.2.
Kerangka Sampel
Beberapa hal penting terkait pembentukan kerangka sampel dalam SPDT NTP 18
i) Kerangka sampel rumah tangga yang digunakan dalam SPDT NTP 18
Kabupaten 2015 adalah daftar rumah tangga usaha pertanian hasil pencacahan
lengkap ST2013 pada blok sensus perdesaan.
ii) Rumah tangga eligible SPDT NTP 18 Kabupaten 2015 adalah rumah tangga:
- yang mempunyai 2-10 anggota rumah tangga (jumlah isian pada R107 pada
daftar ST2013-L adalah 2-10)
- sumber penghasilan utama rumah tangga adalah dari sektor pertanian
(R218=1)
- khusus untuk tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan,
rumah tangga eligible dibatasi dengan kriteria batas minimal usaha (BMU). Kriteria penentuan BMU dilihat dari isian pada R214 pada daftar ST2013-L,
dan selanjutnya disesuaikan dengan subsektor masing-masing serta
memanfaatkan rincian sebagai berikut:
No Subsektor Komoditas Dasar BMU
1 Tanaman pangan Padi sawah/lading BIII R301 kol (5)
2 Tanaman Palawija Palawija BIII R303 kol (5)
3 Hortikultura Hortikultura tahunan BIV R401 kol (5) Hortikultura semusim BIV R401 kol (4) 4 Perkebunan Perkebunan tahunan BV R501 kol (5)
Perkebunan semusim BV R501 kol (6) 5 Peternakan ayam ras pedaging BVI R 602f kol (3)
Lainnya -
6 Budidaya ikan Budidaya ikan -
7 Penangkapan ikan Penangkapan ikan -
Secara lengkap kriteria BMU untuk masing-masing komoditas terdapat di
lampiran 1
- selain BMU, khusus untuk subsektor palawija, hortikultura, perkebunan, dan
peternakan, jumlah komoditas yang diusahakan yang memenuhi BMU juga
menjadi pertimbangan dalam penarikan sampel rumah tangga pertanian
tersebut.
3.3.
Desain sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan menentukan kabupaten terpilih yaitu
kabupaten potensi pertanian.
Tahap selanjutnya memilih rumah tangga usaha tani di kabupaten terpilih
dengan sistematic sampling.
Stratifikasi rumah tangga
Stratifikasi rumah tangga dilakukan pada masing-masing subsektor. Rumah tangga
pada BS cakupan di bagi menjadi beberapa strata sesuai dengan subsektor masing-masing.
Strata tersebut adalah sebagai berikut:
1) Subsektor Tanaman Pangan
a. Padi
- strata 1: apabila jumlah luas tanam padi yang diusahakan oleh rumah
tangga pertanian tersebut kurang dari atau sama dengan nilai rata-rata luas luas tanam padi yang diusahakan per jenis komoditas padi dalam
kabupaten tertentu
- strata 2: apabila jumlah luas tanam padi yang diusahakan oleh rumah
tangga pertanian tersebut lebih dari nilai rata-rata luas luas tanam padi yang diusahakan per jenis komoditas padi dalam kabupaten tertentu
b. Palawija
- strata 1: apabila jumlah luas tanam komoditas palawija yang diusahakan
oleh rumah tangga pertanian tersebut kurang dari atau sama dengan nilai rata-rata luas luas tanam komoditas palawija yang diusahakan per
jenis komoditas palawija dalam kabupaten tertentu
- strata 2: apabila jumlah luas tanam komoditas palawija yang diusahakan
oleh rumah tangga pertanian tersebut lebih dari nilai rata-rata luas luas tanam komoditas palawija yang diusahakan per jenis komoditas palawija
dalam kabupaten tertentu
2) Subsektor Tanaman Hortikultura
- strata 1:
(1) untuk tanaman hortikultura tahunan: apabila jumlah
pohon/rumpun/luas tanam yang sudah berproduksi dari tanaman yang
berproduksi dari tanaman yang diusahakan per jenis komoditas dalam
kabupaten tertentu
(2) untuk tanaman hortikultura semusim: apabila jumlah
pohon/rumpun/luas tanam yang diusahakan/dikelola oleh rumah tangga
pertanian tersebut kurang dari atau sama dengan rata-rata jumlah pohon/rumpun/luas tanam yang diusahakan/dikelola per jenis
komoditas dalam kabupaten tertentu
- strata 2:
(1) untuk tanaman hortikultura tahunan: apabila jumlah
pohon/rumpun/luas tanam yang sudah berproduksi dari tanaman yang
diusahakan oleh rumah tangga pertanian tersebut lebih dari rata-rata jumlah pohon/rumpun/luas tanam yang sudah berproduksi dari tanaman
yang diusahakan per jenis komoditas dalam kabupaten tertentu
(2) untuk tanaman hortikultura semusim: apabila jumlah
pohon/rumpun/luas tanam yang diusahakan/dikelola oleh rumah tangga
pertanian tersebut lebih dari rata-rata jumlah pohon/rumpun/luas tanam
yang diusahakan/dikelola per jenis komoditas dalam kabupaten tertentu
3) Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat
- strata 1:
(1) untuk tanaman perkebunan tahunan: apabila jumlah
pohon/lajar/rumpun yang sudah berproduksi dari tanaman yang
diusahakan oleh rumah tangga pertanian tersebut kurang dari atau sama dengan rata-rata jumlah pohon/lajar/rumpun yang sudah berproduksi dari tanaman yang diusahakan per jenis komoditas dalam
kabupaten tertentu
(2) untuk tanaman hortikultura semusim: apabila jumlah luas tanaman/luas tanam yang diusahakan/dikelola oleh rumah tangga
pertanian tersebut kurang dari atau sama dengan rata-rata jumlah luas
tanaman/luas tanam yang diusahakan/dikelola per jenis komoditas
dalam kabupaten tertentu
- strata 2:
(1) untuk tanaman perkebunan tahunan: apabila jumlah
diusahakan oleh rumah tangga pertanian tersebut lebih dari rata-rata jumlah pohon/lajar/rumpun yang sudah berproduksi dari tanaman yang
diusahakan per jenis komoditas dalam kabupaten tertentu
(2) untuk tanaman hortikultura semusim: apabila jumlah luas tanaman/luas tanam yang diusahakan/dikelola oleh rumah tangga
pertanian tersebut lebih dari rata-rata jumlah luas tanaman/luas tanam yang diusahakan/dikelola per jenis komoditas dalam kabupaten tertentu
4) Subsektor Peternakan
- strata 1: apabila jumlah ternak yang dipelihara/dikuasai pada 1 Mei 2013
untuk usaha peternakan (pengembangbiakan/penggemukan/pembibitan/
pemacekan) oleh rumah tangga pertanian tersebut kurang dari atau sama dengan rata-rata jumlah ternak (ekor) yang diusahakan per jenis komoditas dalam kabupaten tertentu
- strata 2: apabila jumlah ternak yang dipelihara/dikuasai pada 1 Mei 2013
untuk usaha peternakan (pengembangbiakan/penggemukan/pembibitan/
pemacekan) oleh rumah tangga pertanian tersebut lebih dari rata-rata jumlah ternak (ekor) yang diusahakan per jenis komoditas dalam kabupaten
tertentu
5) Subsektor Perikanan
a) Perikanan Budidaya
- strata 1: apabila luas baku budidaya pada saat pencacahan (dari seluruh
wadah yang digunakan) dari rumah tangga pertanian tersebut kurang dari atau sama dengan nilai rata-rata luas baku budidaya pada saat pencacahan (dari seluruh wadah yang digunakan) per jenis budidaya
dalam kabupaten tertentu
- strata 2: apabila luas baku budidaya pada saat pencacahan (dari seluruh
wadah yang digunakan) dari rumah tangga pertanian tersebut lebih dari
nilai rata-rata luas baku budidaya pada saat pencacahan (dari seluruh
wadah yang digunakan) per jenis budidaya dalam kabupaten tertentu
b) Perikanan Tangkap
Sebelum dilakukan stratifikasi pada rumah tangga perikanan tangkap, maka
perlu dilakukan pengelompokan rumah tangga berdasarkan usaha perikanan
termasuk dalam usaha perikanan ditentukan berdasarkan kegiatan utama di
subsektor perikanan tersebut, yaitu apakah penangkapan ikan di laut ataukah
di perairan umum (Rincian 705 Daftar ST2013-L). Tahapan berikutnya
adalah menentukan jenis kapal/perahu utama yang digunakan oleh rumah
tangga perikanan tersebut. Penentuan jenis kapal/perahu didasarkan pada
R704a kolom (5) atau R704b kolom (5) Daftar ST2013-L. Apabila rumah
tangga tersebut menggunakan lebih dari satu jenis kapal/perahu maka pilih
kode terkecil (R704a kolom (5) atau R704b kolom (5) Daftar ST2013-L).
Setelah dilakukan penentuan jenis perahu/kapal, maka tahapan berikutnya
adalah melakukan stratifikasi rumah tangga perikanan tangkap berdasarkan
jenis kapal/perahu yang digunakan tersebut. Strata tersebut antara lain:
- Strata 1: Penangkapan ikan di laut dengan kapal motor
- Strata 2: Penangkapan ikan di laut dengan perahu motor tempel
- Strata 3: Penangkapan ikan di laut dengan perahu tanpa motor
- Strata 4: Penangkapan ikan di perairan umum dengan kapal motor
- Strata 5: Penangkapan ikan di perairan umum dengan perahu motor
tempel
- Strata 6: Penangkapan ikan di perairan umum dengan perahu tanpa motor
- Strata 7: Penangkapan ikan di perairan umum tanpa perahu
Selain stratifikasi di atas, khusus subsektor tanaman pangan kelompok palawija,
subsektor tanaman hortikultura, subsektor tanaman perkebunan rakyat, dan subsektor
peternakan dilakukan stratifikasi yang kedua berdasarkan jumlah komoditas yang
diusahakan oleh rumah tangga menurut subsektor. Stratifikasi tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Subsektor tanaman pangan kelompok palawija
Strata 1: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 1-2 komoditas
Strata 2: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 3-4 komoditas
Strata 3: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak > 4 komoditas
2) Subsektor tanaman hortikultura
Strata 1: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 1-3 komoditas
Strata 2: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 4-7 komoditas
3) Subsektor tanaman perkebunan rakyat
Strata 1: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 1-3 komoditas
Strata 2: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 4-7 komoditas
Strata 3: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak > 7 komoditas
4) Subsektor peternakan
Strata 1: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 1-2 komoditas
Strata 2: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak 3-4 komoditas
Strata 3: jika jumlah komoditas yang diusahakan sebanyak > 4 komoditas
Tahapan pengambilan sampel SPDT NTP 18 Kabupaten 2015
3.4.
Alokasi sampel
Jumlah sampel SPDT NTP 18 Kabupaten 2015 dirancang untuk estimasi tingkat
kabupaten. Alokasi sampel untuk tiap kabupaten sekitar 600 rumah tangga usaha tani.
Total sampel dialokasikan secara compromise allocation untuk masing-masing komoditas. Formula alokasi yang digunakan adalah sebagai berikut:
dengan
= compromise allocation = equal allocation
= proportional allocation
3.5.
Daftar Sampel Rumah Tangga Utama SPDT NTP 18 Kabupaten
2015 (SPDT15-DSRTU)
SPDT15-DSRTU dibuat dalam satu kecamatan. Rincian yang terdapat dalam
SPDT15-DSRTU adalah sebagai berikut:
i) Rincian Provinsi : yang tercantum dalam rincian ini adalah kode dan nama
provinsi
ii) Rincian Kabupaten : yang tercantum dalam rincian ini adalah kode dan nama
kabupaten
iii) Rincian Kecamatan : yang tercantum dalam rincian ini adalah kode dan nama
kecamatan
iv) Kolom (1) : No, yang tercantum pada kolom ini adalah nomor urut
v) Kolom (2) : Kode dan Nama Desa/Kelurahan
vi) Kolom (3) : Nomor Blok Sensus
vii) Kolom (4) : NURT, adalah nomor urut rumah tangga tani yang diurutkan
dalam satu kabupaten
viii) Kolom (5) : Nama Kepala rumah Tangga
ix) Kolom (6) : Alamat
x) Kolom (7) : Subsektor sampel SPDT NTP 18 Kabupaten 2015
xi) Kolom (8) : Komoditas sampel terpilih SPDT NTP 18 Kabupaten 2015
xii) Kolom (9): Kode hasil pencacahan, berisi kode hasil pencacahan rumah
tangga yaitu:
1 : rumah tangga ditemukan dan komoditas yang diusahakan sesuai
dengan komoditas terpilih sampel dan output yang dihasilkan merupakan produk standar
2 : rumah tangga ditemukan dan komoditas yang diusahakan sesuai
dengan komoditas terpilih sampel tetapi output yang dihasilkan bukan merupakan produk standar
3 : rumah tangga ditemukan tetapi komoditas yang diusahakan tidak
sesuai dengan komoditas terpilih sampel
4 : bukan rumah tangga pertanian
5 : tidak dapat diwawancarai sampai batas waktu pencacahan
6 : Menolak
8 : rumah tangga ditemukan tetapi tidak memenuhi BMU
9 : rumah tangga ditemukan tetapi jumlah anggota rumah tangga (ART)=
1 atau ART>10
3.6.
Pembentukan Sampel Pengganti
Pembentukan sampel pengganti dilakukan untuk menyediakan daftar rumah tangga
usaha pertanian sebagai sampel pengganti dari Daftar SPDT15-DSRTU. Pembentukan
sampel pengganti ini dilakukan dengan paket program bersamaan dengan penarikan sampel
utama dan diuraikan sebagai berikut:
Pemilihan rumah tangga sampel pengganti dilakukan setelah pemilihan rumah tangga
sampel utama dalam satu kabupaten selesai dilakukan. Rumah tangga yang telah terpilih
sebagai sampel utama tidak boleh dijadikan sebagai sampel pengganti. Rumah tangga
sampel pengganti adalah rumah tangga dengan subsektor dan jenis komoditas yang sama
dengan rumah tangga sampel utama. Pemilihan rumah tangga sampel pengganti dilakukan
melalui tahap berikut:
1) Pencarian rumah tangga dilakukan pada desa yang sama dengan rumah tangga
sampel utama
2) Cari rumah tangga yang berusaha dalam subsektor dan komoditas yang sama
dengan sampel utama
3) Jika pada desa/kelurahan yang sama tidak ditemukan rumah tangga dengan
subsektor dan komoditas yang sama dengan sampel utama maka pencarian
dilakukan dalam kecamatan yang sama.
4) Jika dalam kecamatan yang sama tidak ditemukan rumah tangga dengan
subsektor dan komoditas yang sama dengan sampel utama maka pencarian
dilakukan pada kecamatan lain (berbeda kecamatan).
3.7.
Daftar Sampel Rumah Tangga Pengganti SPDT NTP 18
Kabupaten 2015 (SPDT15-DSRTP)
Rincian yang terdapat dalam SPDT15-DSRTP adalah sebagai berikut:
i) Rincian Provinsi : yang tercantum dalam rincian ini adalah kode dan nama
ii) Rincian Kabupaten : yang tercantum dalam rincian ini adalah kode dan nama
kabupaten
iii) Rincian Kecamatan : yang tercantum dalam rincian ini adalah kode dan nama
kecamatan
iv) Kolom (1) : No, yang tercantum pada kolom ini adalah nomor urut
v) Kolom (2) : Kode dan Nama Desa/Kelurahan
vi) Kolom (3) : Nomor Blok Sensus
vii) Kolom (4) : NURT, adalah nomor urut rumah tangga tani yang diurutkan
dalam satu kabupaten
viii) Kolom (5) : Nama Kepala Rumah Tangga
ix) Kolom (6) : Alamat
x) Kolom (7) : Subsektor sampel SPDT NTP 18 Kabupaten 2015
xi) Kolom (8) : Komoditas sampel terpilih SPDT NTP 18 Kabupaten 2015
xii) Kolom (9): Kode hasil pencacahan, berisi kode hasil pencacahan rumah
tangga yaitu:
1 : rumah tangga ditemukan dan komoditas yang diusahakan sesuai
dengan komoditas terpilih sampel dan output yang dihasilkan merupakan produk standar
2 : rumah tangga ditemukan dan komoditas yang diusahakan sesuai
dengan komoditas terpilih sampel tetapi output yang dihasilkan bukan merupakan produk standar
3 : rumah tangga ditemukan tetapi komoditas yang diusahakan tidak
sesuai dengan komoditas terpilih sampel
4 : bukan rumah tangga pertanian
5 : tidak dapat diwawancarai sampai batas waktu pencacahan
6 : Menolak
7 : tidak ditemukan
8 : rumah tangga ditemukan tetapi tidak memenuhi BMU
9 : rumah tangga ditemukan tetapi jumlah anggota rumah tangga (ART) =
3.8.
Prosedur Penggantian Sampel
Penggantian sampel rumah tangga usaha pertanian dapat dilakukan apabila hasil
pencacahan rumah tangga (isian kolom 9 SPDT15-DSRTU) tersebut berkode 2 sampai 9.
Jika rumah tangga ditemukan dan komoditas yang diusahakan sesuai dengan komoditas
terpilih sampel tetapi output yang dihasilkan bukan merupakan produk standar, rumah tangga ditemukan tetapi komoditas yang diusahakan tidak sesuai dengan komoditas terpilih
sampel, rumah tangga tersebut bukan rumah tangga pertanian, rumah tangga tersebut tidak
dapat diwawancarai sampai batas waktu pencacahan, menolak, tidak ditemukan, ditemukan
tetapi tidak memenuhi BMU, atau ditemukan tetapi jumlah anggota rumah tangga (ART) =
1 atau ART > 10 maka pencacah harus melaporkan kondisi tersebut kepada pemeriksa.
Selanjutnya pemeriksa melaporkan ke BPS Kabupaten untuk dicarikan sampel pengganti
rumah tangga tersebut. Prosedur penggantian sampel yang dilakukan oleh BPS Kabupaten
adalah mencari rumah tangga pada daftar sampel pengganti SPDT15-DSRTP sesuai dengan komoditas rumah tangga sampel utama. BPS Kabupaten menginformasikan rumah
tangga sampel pengganti tersebut kepada pemeriksa dan selanjutnya pemeriksa
menginformasikannya kepada pencacah.
Jika rumah tangga pengganti tidak berhasil dicacah karena beberapa alasan, maka
prosedur penggantian sampel sama dengan prosedur sebelumnya. BPS Kabupaten
melakukan pencarian rumah tangga sampel pengganti pada daftar SPDT15-DSRTP.
Contoh: Dari daftar sampel NURT 005 adalah rumah tangga Pak Mahmud sebagai sampel usaha palawija dengan komoditas jagung dikunjungi oleh pencacah. Namun ternyata Pak
Mahmud tidak mengusahakan jagung melainkan kedelai. Maka carilah sampel pengganti
dari SPDT15-DSRTP dengan komoditas yang sesuai dengan komoditas sampel utama
sebagai sampel pengganti untuk rumah tangga pak Mahmud. Misalkan ditemukan rumah
tangga Pak Toni nomor urut 008 pada daftar SPDT15-DSRTP mengusahakan komoditas
yang sama dengan Pak Mahmud yaitu jagung. Maka rumah tangga Pak Toni menjadi
sampel pengganti dari rumah tangga Pak Mahmud.
3.9.
Cakupan Rumah Tangga
Satu rumah tangga tani hanya bisa menjadi responden pada satu subsektor
pertanian. Bila suatu rumah tangga tani telah menjadi responden pada suatu subsektor,
maka rumah tangga tersebut tidak bisa menjadi responden pada subsektor yang lain.
Rumah tangga dibedakan menjadi dua macam: 1. Rumah tangga biasa
2. Rumah tangga khusus
Dalam kegiatan ini yang dicakup hanya rumah tangga biasa. Rumah tangga biasa
adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan
fisik/sensus dan biasanya tinggal bersama serta makan dari satu dapur. Yang dimaksud makan dari satu dapur adalah jika pengurusan kebutuhan sehari-hari dikelola bersama-sama menjadi satu.
Petani adalah orang yang mengusahakan/mengelola usaha pertanian baik pertanian tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, perikanan dan
kehutanan yang bertujuan sebagian atau seluruh hasil produksinya untuk dijual. Namun
yang dicakup dalam survei ini hanya petani yang mengusahakan usaha pertanian Subsektor
Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, Tanaman Perkebunan Rakyat, Peternakan dan
Perikanan. Petani yang dimaksud adalah petani penggarap baik sebagai pemilik lahan
pertanian, penyewa maupun bagi hasil. Dengan demikian, orang yang bekerja di
sawah/ladang orang lain dengan menerima upah (buruh tani) bukan petani. Begitu juga
dengan orang yang mengembalakan ternak, tukang memberi makan ternak milik orang lain
dengan menerima upah, bukanlah peternak. Syarat rumah tangga tani yang dapat menjadi
responden survei ini bila:
a. Jumlah anggota rumah tangganya lebih dari 1 dan kurang dari 11 (1<jumlah
ART<11).
b. Salah satu anggota rumah tangga mengusahakan komoditas utama pertanian
terpilih.
c. Persentase rata-rata penghasilan rumah tangga selama setahun yang lalu dari
sektor pertanian harus lebih dari 50 persen terhadap total penghasilan rumah
tangga.
d. Komoditas jenis usaha sektor pertanian harus memenuhi syarat Batas Minimal
Usaha (BMU).
e. Komoditas yang diusahakan sudah menghasilkan dan dijual selama referensi
f. Hasil produksi komoditas jenis usaha subsektor pertanian minimal 11 persen dari
produksi normal.
g. Rumah tangga berdomisili di wilayah sampel minimal 1 tahun.
h. Usaha sektor pertanian tidak berbadan hukum.
3.10.
Tata Cara Berwawancara
a. Pada saat berkunjung hendaknya berpakaian yang wajar dan sopan.
b. Sebelum memasuki rumah untuk mengadakan wawancara, mintalah ijin dahulu
dengan mengucapkan salam, mengetuk pintu atau dengan cara lain yang biasa
berlaku.
c. Awali wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud
kedatangan pencacah. Bila perlu tunjukkan surat tugas dan tanda pengenal
petugas.
d. Pada saat melakukan pencacahan, banyak ditemui berbagai macam sikap dan
tingkah laku responden, gunakan kecakapan, kesabaran, keramahan selama
berwawancara.
e. Jika responden membelokkan percakapan kepada hal-hal yang menyimpang dari
pelaksanaan survei, kembalikan pembicaraan secara bijaksana ke arah daftar
isian.
f. Jangan memberikan tanggapan yang tidak baik terhadap jawaban yang diberikan
dan jangan kehilangan kesabaran. Bersikaplah tenang dalam menghadapi
suasana yang tidak diinginkan.
g. Bersabarlah terhadap rasa ingin tahu responden dan jawablah pertanyaan
responden dengan tepat dan jelas.
h. Setelah selesai melakukan pencacahan, jangan lupa mengucapkan terima kasih
dan memberitahukan tentang kemungkinan kunjungan ulang bila masih ada
keterangan yang diperlukan.
i. Lakukan kunjungan ulang jika diperlukan. Hal ini mungkin terjadi jika pada
kunjungan pertama keterangan yang diperlukan tidak berhasil diperoleh.
IV.
PENGISIAN DAFTAR
4.1
Tata Cara Pengisian Daftar
a. Daftar isian harus diisi dengan menggunakan pensil hitam.
b. Daftar isian harus diisi dengan huruf cetak/balok.
c. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan harus diperbaiki dengan menggunakan
penghapus pensil, tidak diperbolehkan memperbaikinya dengan cara mencoret.
d. Daftar isian harusnya diisi dengan kaidah rata kanan.
e. Isikan kotak yang tersedia sesuai dengan kodenya.
f. Kualitas terbuka dalam kuesioner harus selalu diisi untuk memudahkan dalam
pengisian nilai komoditas/jasa yang akurat dan rasional.
g. Jika ada komoditas/jasa yang dicacah tidak tertampung dalam kuesioner, maka
coret komoditas/jasa yang tidak ada harganya di daftar isian untuk diganti
menjadi komoditas/jasa yang tercacah/dijumpai.
h. Komoditas yang dicacah harus menggunakan satuan yang standar, jika ada
komoditas/jasa yang masih menggunakan satuan lokal atau setempat, maka
petugas harus mengkonversikannya ke dalam satuan standar.
i. Mencatat hal-hal yang tidak bisa ditampung atau tidak dapat dimasukkan ke blok
lainnya dalam blok catatan.
Usaha di sektor pertanian yang dicakup dalam survei ini meliputi:
a. Kegiatan usaha pertanian Subsektor Tanaman Pangan,
b. Kegiatan usaha pertanian Subsektor Tanaman Hortikultura,
c. Kegiatan usaha pertanian Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat,
d. Kegiatan usaha pertanian Subsektor Peternakan,
e. Kegiatan usaha pertanian Subsektor Perikanan Kelompok
Perikanan Tangkap,
f. Kegiatan usaha pertanian Subsektor Perikanan Kelompok
4.2
Daftar SPDT15-K (Nilai Konsumsi)
Daftar SPDT15-K merupakan daftar yang digunakan untuk mencatat semua
pengeluaran konsumsi rumah tangga pertanian terpilih dalam referensi waktu baik selama
seminggu yang lalu untuk makanan maupun selama sebulan dan setahun yang lalu untuk
non makanan. Pengeluaran konsumsi makanan yang dicatat dalam survei ini adalah bahan
makanan; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Sedangkan pengeluaran konsumsi
non makanan antara lain pengeluaran perumahan, air listrik, gas, dan bahan bakar;
sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi, dan olahraga; transportasi dan komunikasi; serta
pengeluaran lainnya.
Pengeluaran yang dimaksud di sini adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga
untuk semua barang/jasa yang diperoleh secara pembelian baik tunai maupun kredit oleh
rumah tangga tersebut, tetapi tidak untuk keperluan usaha maupun investasi. Beberapa
pengeluaran yang tidak termasuk pengeluaran konsumsi rumah tangga antara lain:
a. Pengeluaran untuk usaha.
b. Pengeluaran untuk investasi seperti pembelian tanah, bangunan, surat-surat
berharga, menabung dan pembelian barang lainnya untuk investasi.
c. Pengeluaran untuk pesta, denda, judi dan sejenisnya.
d. Pemberian kepada pihak lain, sumbangan dan sejenisnya.
e. Pembayaran premi asuransi, kontribusi dana pensiun.
Konsep pengeluaran konsumsi rumah tangga yang digunakan pada survei ini
dibedakan atas dasar 2 (dua) konsep pendekatan, yaitu:
a. Pengeluaran konsumsi rumah tangga menurut konsep akuisisi adalah jumlah nilai seluruh barang/jasa yang diperoleh rumah tangga selama periode referensi survei
tanpa memperhatikan apakah barang tersebut sudah digunakan atau belum baik
diperoleh secara tunai maupun kredit.
Contoh: - membeli pakaian dengan kontan pada April 2015 yang akan digunakan pada
bulan berikutnya (diluar referensi survei), maka nilai pakaian tersebut yang
dicatat sebagai konsumsi bulan April (di dalam referensi waktu survei).
-membeli mesin cuci seharga Rp. 2.500.000,- pada Februari 2015 dengan
Ketika pencacahan dilaksanan bulan April maka nilai pengeluaran konsumsi
diisi adalah nilai kontan tanpa melihat jumlah kredit yang sudah dibayarkan.
b. Pengeluaran konsumsi rumah tangga menurut konsep pemakaian adalah jumlah nilai seluruh barang/jasa yang benar-benar telah dikonsumsi/dipakai oleh rumah tangga
selama periode referensi survei. Konsep ini digunakan untuk pengeluaran konsumsi
bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau.
Contoh : - membeli beras 5 kg seharga Rp. 35.000,- tetapi hanya dikonsumsi 2 kg,
maka pengeluaran konsumsi beras yang dicatat adalah sebesar Rp.
14.000,- (diperoleh dari Rp 35.000/5 kg x 2 kg).
Agar konsumsi makanan jadi, minuman dan rokok yang dibeli di luar rumah tidak terlewat maka harus ditanyakan langsung kepada anggota rumah tangga
yang bersangkutan
Daftar SPDT15-K terdiri dari 7 blok, yaitu:
1. Blok I : Pengenalan Tempat
Tujuan blok ini digunakan untuk mendapatkan keterangan yang lengkap dan jelas
mengenai lokasi/tempat pencacahan dan jenis komoditas utama yang diusahakan
Rincian 1: Provinsi
Rincian 2: Kabupaten
Rincian 3: Kecamatan
Rincian 4: Desa/Kelurahan
Rincian 5: Nomor Urut Rumah Tangga DSRT
Rincian 6: Nomor Urut Sampel
Rincian 7: Nama Kepala Rumah Tangga
Rincian 1 sampai dengan 5 dan rincian 7 diisi sesuai SPDT15-DSRTU (DSRT Utama). Jika terjadi penggantian sampel, maka diisi sesuai SPDT15-DSTRP (DSRT Pengganti).
Rincian 8: Subsektor
Isikan subsektor yang menjadi usaha pertanian utama. Kemudian isikan
kodenya pada kotak sebelah kanan.
Kode subsektor:
Kode 1, bila subsektor tanaman pangan.
Kode 2, bila subsektor tanaman hortikultura.
Kode 3, bila subsektor tanaman perkebunan rakyat.
Kode 4, bila subsektor peternakan.
Kode 5, bila subsektor perikanan – tangkap.
Kode 6, bila subsektor perikanan – budidaya.
Rincian 9a: Jenis komoditas utama
Isikan jenis komoditas utama yang diusahakan (komoditas utama mengacu
pada daftar sampel komoditas yang telah ditentukan). Penentuan komoditas
utama dalam rumah tangga sampel adalah komoditas yang mempunyai nilai
produksi yang paling besar. Kemudian pengawas menuliskan kode jenis
komoditas utama tersebut pada kotak di sebelah kanannya. Rincian 9a diisi
jika rincian 8 berkode selain kode 5.
Jenis-jenis komoditas tiap subsektor.
Jenis Tanaman Pangan meliputi:
a) Padi-padian
Tanaman padi meliputi:
- Padi sawah adalah padi yang ditanam di lahan sawah. Yang termasuk padi sawah adalah padi rendengan, padi gadu, padi pasang surut, padi lebak, padi
rembesan dll.
- Padi ladang adalah padi yang ditanam di lahan bukan sawah. Yang termasuk padi ladang adalah padi gogo/ladang/huma.
b) Palawija
Tanaman palawija antara lain meliputi:
- Biji-bijian: jagung, gandum, sorgum.
Beberapa nama daerah untuk ubi kayu/ketela pohon/singkong adalah hui jenderal, sampeu, hui perancis, ketela pohung, ketela matriks, ketela cangkel,
ketela mantri, kaspe, menyok.
Beberapa nama daerah untuk ketela rambat/ubi jalar adalah mantang, boled, ketela pendem, ketela jawa.
- Kacang-kacangan: kacang tanah, kacang kedele, kacang hijau, kacang merah, kacang jogo/tolo/tunggak dan lainnya.
Nama lain kedele adalah kacang jepun.
Beberapa nama daerah untuk kacang tanah adalah kacang suuk, kacang cina, kacang hole, kacang waspada, kacang jebrul, kacang bandung, kacang manggala,
kacang kerentil, kacang kerentul.
Nama lain kacang hijau adalah kacang herang.
Jenis tanaman hortikultura meliputi:
a) Sayur-sayuran meliputi: kentang, ketimun, kacang panjang, kol/kubis, cabe hijau, cabe rawit, cabe merah, tomat sayur, buncis muda, labu siam, wortel, terung
panjang, kangkung, bayam, bawang daun, lobak, petsai, sawi hijau, sawi putih,
bawang putih bersih, bawang merah, petai tua, oyong/emes/gambas, jengkol,
leunca/rimbang, pare, seledri, melinjo, kacang merah dan lainnya. Tomat sayur,
pepaya sayur, dan nangka sayur adalah buah tomat, pepaya, dan buah nangka yang
digunakan untuk sayur.
b) Buah-buahan meliputi: pisang, pepaya, jeruk besar, jeruk keprok/siam, jeruk lainnya, jambu, sawo, mangga, alpukat, duku, durian, nanas, rambutan, salak, tomat
buah, apel, belimbing, kedondong, nangka, semangka, sirsak, lengkeng, anggur,
bengkuang, melon, dan lainnya.
c) Tanaman Obat-obatan meliputi: jahe, kencur, kunyit, lengkuas, temu lawak, dan sebagainya.
Jenis tanaman perkebunan rakyat meliputi: kelapa, kopi, teh, coklat, karet, tebu,
cengkeh, tembakau, kapuk, lada putih/merica, pala, kayu manis, kapas, jarak, jambu
mete, sereh, vanili, aren/enau, kemenyan, kelapa sawit, pandan anyam, rumput gajah,
Jenis ternak/unggas meliputi:
a) Ternak besar: sapi perah fries holland (FH), sapi perah persilangan, sapi bali, sapi peranakan onggale (PO), sapi madura, sapi brangus, sapi simmental, sapi hisar, sapi
persilangan, kerbau murah, kerbau lumpur/lokal.
b) Ternak kecil: kambing kacang, kambing ettawa/peranakan ettawa (PE), domba ekor gemuk, domba aduan, babi lokal, babi ras, babi persilangan, kijang, kelinci.
c) Unggas: ayam, itik/bebek, itik manila, angsa, ayam kalkun, burung merpati, burung puyuh, dan unggas lainnya.
d) Hasil-hasil ternak/unggas: susu sapi, telur ayam ras, telur ayam buras, dan lainnya.
Jenis ikan meliputi:
Kelompok perikanan tangkap,
a) Perairan umum: bandeng, gabus, mas, patin, udang, kepiting air tawar, dan lainnya.
b) Laut: baronang, bawal, belanak, biji nangka, cakalang, cucut, ekor kuning, kakap, dan lainnya.
Kelompok perikanan budidaya,
i. Air tawar: bawal, betutu, gabus, gurame, lele, mujair, nila, patin, tawes, siput/bekicot, dan lainnya.
ii. Air laut: baronang, kakap, kepiting, rajungan, penyu, cumi-cumi, teripang, rumput laut, dan lainnya.
iii. Air payau: bandeng, belanak, kakap, kerapu, mujair, nila, rajungan, dan lainnya.
Rincian 9b : Jenis perahu
Isikan jenis perahu yang digunakan. Kemudian, tulis kodenya pada kotak
sebelah kanan. Rincian 9b diisi jika rincian 8 berkode 5.
Kode perahu,
Kode 1, bila tanpa perahu.
Kode 2, bila perahu tanpa motor.
Kode 3, bila perahu motor tempel.
2. Blok II : Keterangan Pencacahan
Tujuan blok ini digunakan untuk mencatat keterangan petugas pencacah dan pemeriksa.
Isikan nama petugas, kode petugas, tanggal pelaksanaan serta tanda tangan dari
pencacah dan pemeriksa di kolom yang tersedia.
3. Blok III : Keterangan Rumah Tangga
Tujuan blok ini digunakan untuk mencatat keterangan anggota rumah tangga, sumber
penghasilan utama, dan jenis komoditas yang diusahakan.
Blok III.A. : Keterangan Anggota Rumah Tangga
Blok ini digunakan untuk mencatat keterangan anggota rumah tangga yang meliputi
nomor urut anggota rumah tangga, nama anggota rumah tangga, hubungan dengan
kepala rumah tangga, jenis kelamin, umur, pendidikan tertinggi yang ditamatkan,
apakah berusaha pada sektor pertanian, apakah bekerja sebagai buruh sektor pertanian
dan berusaha pada subsektor apa di sektor pertanian. Blok III.A ditanyakan kepada
semua anggota rumah tangga.
Blok ini terdiri dari 9 kolom, yaitu:
Kolom (1): Nomor urut.
Nomor urut sudah tercetak dari nomor 1 sampai 10.
Kolom (2): Nama anggota rumah tangga.
Tuliskan nama semua anggota rumah tangga yang tinggal di rumah tangga tersebut dan
diurutkan mengikuti aturan baku SP 2010 sebagai berikut:
1. Nomor urut pertama adalah nama kepala rumah tangga dan diikuti nama istri/suami
(pasangannya).
Kepala rumah tangga adalah salah seorang dari anggota rumah tangga yang
bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari rumah tangga atau orang yang
dituakan/ditunjuk sebagai kepala rumah tangga.
2. Nomor urut berikutnya adalah nama anak-anaknya yang belum menikah diurutkan
mulai dari yang tertua.
3. Nomor urut berikutnya adalah nama anak yang telah menikah dan pasangannya
untuk para anak-anak dari kepala rumah tangga yang telah menikah disusun
berurutan bersama pasangannya dan anak-anaknya.
4. Nomor urut berikutnya adalah anggota rumah tangga selain anak, yang sudah
menikah diikuti oleh pasangannya dan anak-anaknya yang belum menikah.
5. Nomor urut berikutnya adalah anggota rumah tangga lainnya yang tanpa pasangan
dan tanpa anak mulai dari orang tua/mertua, famili lain, pembantu/sopir/tukang
kebun, dan lainnya.
Anggota rumah tangga adalah semua orang yang tergabung dalam satu kesatuan rumah tangga baik dalam satu tempat tinggal maupun tidak pada saat pencacahan.
Anggota rumah tangga yang telah bepergian 6 bulan atau lebih, dan anggota rumah
tangga yang bepergian kurang dari 6 bulan tetapi dengan tujuan pindah/akan
meninggalkan rumah 6 bulan atau lebih, tidak dianggap sebagai anggota rumah tangga.
Tamu yang telah tinggal di rumah tangga 6 bulan atau lebih dan tamu yang telah tinggal
di rumah tangga kurang dari 6 bulan tetapi akan bertempat tinggal 6 bulan atau lebih,
dianggap sebagai anggota rumah tangga. Seorang pembantu rumah tangga/sopir yang
tinggal di rumah majikannya, dianggap sebagai anggota rumah tangga majikannya.
Sebaliknya, jika pembantu rumah tangga/sopir tersebut tidak tinggal di rumah
majikannya, ia dianggap sebagai anggota rumah tangga di mana ia bertempat tinggal.
Kolom (3): Hubungan dengan kepala rumah tangga.
Isikan salah satu kode 1, 2, 3, …, atau 9, hubungan anggota rumah tangga pada kolom
(2) dengan kepala rumah tangga.
Hubungan dengan kepala rumah tangga, yaitu:
1. Kepala rumah tangga adalah salah seorang dari kelompok anggota rumah tangga yang bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari rumah tangga tersebut atau
yang dianggap/ditunjuk sebagai kepala di dalam rumah tangga tersebut.
2. Istri/suami dari kepala rumah tangga.
3. Anak adalah anak kandung, anak tiri, dan atau anak angkat yang diangkat oleh kepala rumah tangga.
4. Menantu adalah suami/istri dari anak kandung, anak tiri, dan atau anak angkat. 5. Cucu adalah anak dari anak kandung, anak tiri, dan atau anak angkat.
7. Famili lain adalah orang-orang yang ada hubungan famili dengan kepala rumah tangga atau ada hubungan famili dengan istri/suami kepala rumah tangga misalnya
adik, kakak, keponakan, bibi, paman, ipar, kakek, nenek dan sebagainya.
8. Pembantu rumah tangga adalah seseorang yang bekerja sebagai pembantu yang menginap di rumah tangga tersebut dengan menerima upah/gaji baik berupa uang
ataupun barang, termasuk juga sopir yang tinggal di rumah majikannya.
9. Lainnya adalah orang yang tidak ada hubungan famili dengan kepala rumah tangga, seperti tamu, teman, orang yang mondok dengan makan dan sebagainya.
Kolom (4): Jenis kelamin.
Isikan kode 1 pada kotak bila anggota rumah tangga pada kolom (2) berjenis kelamin
laki-laki, dan isikan kode 2 bila perempuan.
Kolom (5): Umur.
Isikan umur masing-masing anggota rumah tangga pada kolom (5). Umur dituliskan
dalam tahun menurut kalender masehi dan dibulatkan ke bawah. Bayi yang berumur
kurang dari 1 tahun harus dituliskan angka 00 (nol).
Contoh: - Umur 5 tahun 8 bulan, maka pada kolom (5) dituliskan 05.
-Bayi umur 4 bulan, maka pada kolom (5) dituliskan 00.
-Untuk umur 98 tahun atau lebih, maka pada kolom (5) dituliskan 98.
Kolom (6): Pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
Isikan salah satu kode pada kotak di kolom (6), yaitu:
Kode 0, bila anggota rumah tangga pada kolom (2) tidak/belum pernah sekolah.
Kode 1, bila anggota rumah tangga pada kolom (2) tidak/belum tamat SD/sederajat.
Kode 2, bila anggota rumah tangga pada kolom (2) tamat SD/sederajat.
Kode 3, bila anggota rumah tangga pada kolom (2) tamat SMP/sederajat.
Kode 4, bila anggota rumah tangga pada kolom (2) tamat SMA/SMK/sederajat.
Kode 5, bila anggota rumah tangga pada kolom (2) tamat Akademi/Perguruan
Tinggi.
Sekolah adalah pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Ijazah/STTB adalah surat keterangan yang diberikan kepada seseorang yang telah menyelesaikan pelajaran pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah di
Belum/tidak pernah sekolah adalah seseorang yang tidak atau belum pernah sekolah, termasuk yang tamat taman kanak-kanak dan tidak melanjutkan ke Sekolah Dasar.
Tidak/belum tamat SD/Sederajat adalah seseorang yang pernah duduk di bangku Sekolah Dasar/sederajat tetapi belum/tidak tamat. Termasuk seseorang yang sampai saat
ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar/sederajat.
Tamat Sekolah Dasar (SD)/Sederajat adalah tamat dan mempunyai ijazah Sekolah Dasar, Sekolah Rakyat, Sekolah Luar Biasa Tingkat Dasar, Sekolah Dasar Kecil,
Sekolah Dasar Pamong, Madrasah Ibtidaiyah dan lulus Paket A. Termasuk seseorang
yang sampai saat ini masih bersekolah di bangku SMP/sederajat.
Tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Sederajat adalah tamat dan mempunyai ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama/Setara misalnya SLTP, SMP, MULO, HBS 3
tahun, Sekolah Luar Biasa Tingkat Pertama, Madrasah Tsanawiyah atau tamat dan
mempunyai ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kejuruan misalnya SKKP,
SMEP, SPMP, ST, PGA 4 tahun, SGB, Kursus Karyawan Perusahaan, Pendidikan
Pegawai Urusan Peradilan Agama, termasuk lulus Paket B. Termasuk seseorang yang
sampai saat ini masih bersekolah di SMA/sederajat.
Tamat Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sederajat adalah tamat dan mempunyai ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/Setara misalnya SMA, HBS 5 tahun, AMS,
Madrasah Aliyah, atau tamat dan mempunyai ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Kejuruan misalnya SPMA, SMKK, SMEA, STM, SPG, KPG, SGO/SMOA, PGA 6
tahun, SAKMA, SAA/SMF, KPAA, termasuk lulus Paket C.
Tamat Akademi/Perguruan Tinggi adalah tamat dan mempunyai ijazah program pendidikan sarjana, pasca sarjana, doktor, diploma III atau IV, akta IV atau V, spesialis
I/II pada suatu Universitas/Institut/Sekolah Tinggi.
Penjelasan :
Seseorang yang tamat dan mempunyai ijazah program D1/D2 seperti Program Diploma
I dan II, PGSLP, D1 Sekretaris, D1 Komputer dianggap hanya Tamat SMA/Sederajat
(bukan Tamat Perguruan Tinggi). Demikian juga seseorang yang masih/sedang kuliah di
perguruan tinggi dianggap Tamat SMA/Sederajat.
Bila seseorang telah memiliki ijazah/STTB pada jenjang sekolah tertentu tetapi hilang,
Kolom (7) s.d. (9) ditanyakan khusus untuk anggota rumah tangga yang berumur 10 tahun ke atas.
Kolom (7): Apakah berusaha pada sektor pertanian selama setahun yang lalu?
Isikan kode 1 pada kotak bila selama setahun yang lalu anggota rumah tangga pada
kolom (2) berusaha pada sektor pertanian, dan isikan kode 2 bila tidak.
Berusaha adalah suatu kegiatan yang menghasilkan barang/jasa dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual dan menanggung resiko.
Usaha di sektor pertanian adalah kegiatan yang menghasilkan produksi pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual dan menanggung resiko.
Usaha di sektor pertanian meliputi:
a. Kegiatan usaha pertanian subsektor tanaman pangan.
b. Kegiatan usaha pertanian subsektor tanaman hortikultura.
c. Kegiatan usaha pertanian subsektor tanaman perkebunan.
d. Kegiatan usaha pertanian subsektor peternakan.
e. Kegiatan usaha pertanian subsektor perikanan
f. Kegiatan usaha pertanian subsektor kehutanan
Setahun yang lalu adalah referensi waktu survei yang digunakan untuk pengumpulan data dihitung berdasarkan periode satu tahun yang berakhir sehari sebelum tanggal
pencacahan.
Kolom (8): Apakah bekerja sebagai buruh tani selama seminggu yang lalu?
Isikan kode 1 bila anggota rumah tangga pada kolom (2) sebagai buruh di sektor
pertanian, dan isikan kode 2 bila tidak.
Buruh/pekerja adalah orang yang mengerjakan suatu kegiatan tertentu dengan tidak menanggung resiko sendiri, yang terdiri dari:
1. Pekerja dibayar adalah mereka yang bekerja pada suatu kegiatan dengan tujuan mendapatkan upah/gaji baik berupa uang maupun barang dan tidak menanggung
resiko sendiri.
2. Pekerja tidak dibayar adalah status pekerjaan bagi mereka yang bekerja dengan tidak mendapatkan upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Misalnya pekerja
keluarga.
Kolom (9): Jika kolom (7) berkode 1, bekerja pada subsektor
Kolom ini ditanyakan jika anggota rumah tangga pada kolom (2) berusaha di sektor pertanian.
Kode subsektor:
Kode 1, bila berusaha di Subsektor Tanaman Pangan.
Kode 2, bila berusaha di Subsektor Tanaman Hortikultura.
Kode 4, bila berusaha di Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat.
Kode 8, bila berusaha di Subsektor Peternakan.
Kode 16, bila berusaha di Subsektor Perikanan.
Kode 32, bila berusaha di Subsektor Kehutanan.
Misalnya:
Pak Ari Basuki mempunyai lahan sawah seluas 2 Ha yang diusahakan sendiri. Ia juga
mempunyai usaha ternak sapi yang berada dibelakang rumahnya dan lahan seluas 1 Ha
untuk tanaman bawang merah. Dalam hal ini Pak Ari Basuki berusaha di subsektor:
Tanaman Pangan - 01
Tanaman Hortikultura - 02,
Peternakan - 08,
Sehingga isian pada kotak adalah 11, yaitu jumlah dari 1+2+8.
Blok III.B. : Sumber Penghasilan Utama Rumah Tangga
Subblok ini digunakan untuk mengetahui rata-rata persentase penghasilan rumah
tangga setahun dari usaha sektor pertanian terhadap total penghasilan rumah tangga
setahun. Isikan rata-rata persentase penghasilan rumah tangga dari sektor pertanian
terhadap total penghasilan rumah tangga.
Contoh:
Pak Anton adalah seorang petani dibantu dengan anak tertuanya. Dia mempunyai tanah
yang diusahakan untuk tanaman gabah kering dan jagung ontongan. Selain itu, istri Pak
Anton membuka warung di rumah. Penghasilan dari usaha pertanian Pak Anton lebih
besar daripada penghasilan istrinya (60:40).
Setiap anggota rumah tangga bisa berusaha di beberapa subsektor pertanian. Bila anggota rumah tangga mempunyai lebih dari satu jenis usaha di sektor pertanian,
Cara pengisian Blok III.B:
Rata-rata persentase penghasilan rumah tangga setahun dari sektor pertanian = 60 %
terhadap total penghasilan rumah tangga setahun.
Blok III.C. : Jenis Komoditas Pertanian Yang Diusahakan
Subblok ini digunakan untuk mencatat jumlah dan jenis komoditas pertanian yang
memenuhi BMU pada subsektor terpilih yang diusahakan/dihasilkan dan dijual oleh
seluruh anggota rumah tangga dalam referensi waktu survei.
Rincian 1: Isikan jumlah komoditas pertanian yang memenuhi BMU pada subsektor
terpilih yang diusahakan dan dijual oleh rumah tangga tersebut selama
setahun yang lalu.
Rincian 2: Isikan jenis komoditas pertanian yang memenuhi BMU pada subsektor
terpilih yang diusahakan/dihasilkan dan dijual oleh rumah tangga selama
setahun yang lalu. Nomor urut 1 adalah jenis komoditas yang mempunyai
nilai produksi terbesar atau yang telah ditetapkan sebagai sampel komoditas
terpilih.
Rincian ini terdiri 3 kolom yaitu:
Kolom (1): nomor urut
Nomor urut sudah tercetak 1 sampai dengan 40.
Kolom (2): jenis komoditas pertanian
Isikan jenis komoditas pertanian yang memenuhi BMU pada
subsektor terpilih yang diusahakan/dihasilkan dan dijual oleh
rumah tangga selama setahun yang lalu.
Kolom (3): kode
Kode untuk setiap jenis komoditas pertanian diisi oleh pengawas
berdasarkan master komoditas
Cara pengisian Blok III.C:
Pak Anton mengusahakan 2 jenis komoditas, yaitu: gabah kering dan jagung ontongan,
dimana gabah kering merupakan komoditas yang mempunyai nilai produksi terbesar.
Rincian 1 : 2
Rincian 2 kolom (1) baris pertama : 1
Rincian 2 kolom (3) baris pertama : 2101001 (kode diisi pengawas)
Rincian 2 kolom (1) baris kedua : 2
Rincian 2 kolom (2) baris kedua : JAGUNG ONTONGAN
Rincian 2 kolom (3) baris kedua : 2102001 (kode diisi pengawas)
4.Blok IV: Konsumsi Rumah Tangga Untuk Bahan Makanan, Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Selama Seminggu Yang Lalu Yang Berasal dari Pembelian.
Blok ini digunakan untuk mencatat konsumsi rumah tangga untuk bahan makanan,
makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau selama seminggu yang lalu yang berasal
dari pembelian saja. Konsumsi yang dicatat adalah nilai pengeluaran untuk konsumsi
rumah tangga selama seminggu yang lalu yang berasal dari pembelian (tunai/kredit),
tidak termasuk yang diproduksi sendiri dan pemberian dari pihak lain. Perlu
diperhatikan bahwa ada kemungkinan responden memberikan keterangan tentang apa
yang ia beli padahal mungkin tidak seluruhnya dikonsumsi, maka yang dicatat hanya
yang benar-benar dikonsumsi oleh rumah tangga selama seminggu yang lalu. Konsumsi
makanan/bahan makanan yang diambil dari warung/toko milik rumah tangga yang
bersangkutan dan bersumber dari pembelian termasuk dalam pencatatan.
Seminggu yang lalu adalah referensi waktu survei yang digunakan untuk pengumpulan data konsumsi bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dihitung
berdasarkan periode satu minggu yang berakhir sehari sebelum tanggal pencacahan
rumah tangga. Misalnya pencacahan dilakukan tanggal 16 April 2015, maka yang
dimaksud seminggu yang lalu adalah tanggal 9 s.d 15 April 2015.
Misalnya seorang ibu membeli bahan makanan pokok seperti beras, gula, garam,
minyak goreng dan sebagainya untuk keperluan satu bulan, maka dalam hal ini yang
harus dicatat hanyalah beras, gula, garam, minyak goreng dan sebagainya yang
dikonsumsi selama seminggu yang lalu.
Makanan dan minuman jadi yang diperoleh dengan cara membeli baik yang dimakan di
rumah maupun di luar rumah, juga harus dicatat sebagai konsumsi rumah tangga.
Blok IV terdiri dari 6 kolom, yaitu:
Kolom (1) : Jenis barang
Kolom (3) : Satuan standar
Kolom (4) : Kode Komoditas (diisi oleh pengawas).
Kolom (5) : Banyaknya barang yang dikonsumsi.
Kolom (6) : Nilai barang yang dikonsumsi.
Isikan banyaknya barang yang telah dikonsumsi selama seminggu yang lalu dalam
satuan standar, kemudian catatlah nilai barang tersebut dalam rupiah. Apabila satuan
yang digunakan masih dalam satuan setempat maka harus dikonversi ke dalam satuan
standar. Pada pengisian kolom (6), harap diperhatikan oleh petugas pencacah agar
pengisiannya sesuai dengan kaidah penuh tepi kanan.
Untuk mengisi blok IV daftar SPDT15-K, disalin dari daftar SPDT15-LKK.
Kolom (2) kualitas/merk disalin dari daftar SPDT15-LKK kolom (2).
Kolom (5) banyaknya disalin dari daftar SPDT15-LKK kolom (18) untuk jenis barang
yang sesuai.
Kolom (6) nilai (Rupiah) disalin dari daftar SPDT15-LKK kolom (19) untuk jenis
barang yang sesuai.
Daftar SPDT15-LKK (Lembar Kerja Konsumsi):
Sebuah daftar yang digunakan untuk memperoleh keterangan jenis dan kualitas
komoditas bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yang
dikonsumsi rumah tangga pertanian selama seminggu yang lalu yang diperoleh dengan
cara pembelian. Catatlah pengeluaran rumah tangga selama seminggu yang lalu dengan
mencantumkan jenis dan kualitas barang, konsumsi bahan makanan, makanan jadi,
minuman, rokok dan tembakau sejak hari pertama sampai dengan hari ke tujuh,
banyaknya dan nilai (Rp) secara keseluruhan, dengan satuan standar yang terdapat
dalam daftar SPDT15-K.
Jika jenis barang sama namun terdiri dari bermacam-macam kualitas, maka hanya satu macam kualitas/merk yang lebih sering dikonsumsi yang dicatat di kuesioner.
Cara pengisian Daftar SPDT15-LKK
Isikan keterangan tempat sesuai dengan daftar SPDT15-K Blok I
Daftar SPDT15-LKK terdiri dari 19 kolom.
Kolom (1): nomor
Isikan nomor urut
Kolom (2): jenis dan kualitas barang
Isikan seluruh jenis barang berikut kualitas/merk yang dikonsumsi oleh
seluruh anggota rumah tangga selama seminggu yang lalu yang berasal dari
pembelian
Kolom (3): satuan
Isikan satuan standar dari komoditas pada kolom (2) sesuai dengan daftar
SPDT15-K
Kolom (4), (6), (8), (10), (12), (14), (16): banyaknya
Isikan banyaknya (volume) dari komoditas yang dikonsumsi pada kolom (2)
pada hari pertama sampai hari ke tujuh sesuai satuan standar pada kolom (3)
Kolom (5), (7), (9), (11), (13), (15), (17): nilai (Rp)
Isikan nilai dari komoditas yang dikonsumsi pada kolom (2) pada hari
pertama sampai hari ke tujuh
Kolom (18): banyaknya
Isian kolom ini merupakan penjumlahan dari kolom (4), (6), (8), (10), (12),
(14), (16)
Kolom (19): nilai (Rp)
Isian kolom ini merupakan penjumlahan dari kolom (5), (7), (9), (11), (13),
(15), (17)
Jenis komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga per harinya dapat terdiri dari
beras, lauk pauk (ikan, ayam, telur dan sebagainya), sayur-sayuran, bumbu-bumbuan
atau kombinasi dari berbagai macam aneka komoditas makanan tersebut, sesuai
jawaban responden. Jenis komoditas yang rutin seperti garam dicatat sesuai jumlah yang
dikonsumsi selama satu minggu.