• Tidak ada hasil yang ditemukan

perda nomor 26 tahun 2011 tentang retribusi terminal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "perda nomor 26 tahun 2011 tentang retribusi terminal"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

BUPAT I SUMBAWA BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

NOMOR 26 TAHUN 2011

TENTANG

RETRIBUSI TERMINAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SUMBAWA BARAT,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 127 Undang-Undang

Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah, Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk

memungut Retribusi Terminal;

c. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada

masyarakat serta untuk menjaga keamanan dan keselamatan

penumpang, Pemerintah Daerah telah menyediakan Terminal

sebagai tempat menaikkan dan menurunkan penumpang

atau barang;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud

dalam huruf a, dan huruf b perlu membentuk Peraturan

Daerah tentang Retribusi Terminal.

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang

Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara

Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 1649);

3. Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab

Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran

(2)

4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003

Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4286);

5. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan

Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat

(Lembara Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 145,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4340);

6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang

Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4355);

7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004

Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir

dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang

Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4844);

8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004

Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4438);

9. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan

Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009

Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 5038);

10.Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah

dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5049);

11.Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara

(3)

3

12.Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem

Informasi Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4576) sebagaimana telah

diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010

tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 56

Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 110,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5155);

13.Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

14.Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang

Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4593);

15.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,

Pemerintahan Daerah Propinsi dan Pemerintahan Daerah

Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4737);

16.Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata

Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 5161);

17.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

tentang Pendoman Pengelolaan Keuangan Daerah

sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011

tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam

Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pendoman Pengelolaan

Keuangan Daerah;

18.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK.07/2010

tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Terhadap Pelanggaran

(4)

19.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2011

tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah.

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

dan

BUPATI SUMBAWA BARAT

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI TERMINAL.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah adalah Kabupaten Sumbawa Barat.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur

penyelenggara Pemerintahan daerah.

3. Kepala Daerah adalah Bupati Sumbawa Barat

4. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang Retribusi Daerah

sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

5. Dinas adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah yang tugas pokok dan

fungsinya dibidang Perhubungan di Kabupaten Sumbawa Barat.

6. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan

baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi

perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik

Negara atau Badan Usaha Milik Daerah dengan nama dan dalam bentuk

apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,

yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik atau organisasi yang sejenis,

lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya.

7. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan

Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang

khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk

kepentingan orang pribadi atau Badan.

8. Retribusi Jasa Usaha adalah retribusi atau jasa yang disediakan oleh

Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada

dasarnya dapat disediakan oleh sektor swasta.

9. Terminal adalah tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan bus umum,

tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya yang dimiliki atau dikelolah oleh

(5)

5

10.Retribusi Terminal yang selanjutnya disebut retribusi adalah pembayaran

atau pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan

bus umum, tempat kegiatan usaha, fasilitas lainnya di lingkungan terminal

yang dimiliki atau dikelolah oleh Pemerintah Daerah tidak termasuk

pelayanan peron.

11.Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan

perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran

retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu.

12.Masa Retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu

bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa atau perizinan tertentu.

13.Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat dengan SKRD,

adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok

retribusi yang terutang.

14.Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya dapat disingkat STRD,

adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi

administrasi berupa bunga atau denda.

15.Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan,

dan mengelola data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan

kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi berdasarkan peraturan

perundang-undangan.

16.Penyidikan tindak pidana dibidang retribusi adalah serangkaian tindakan

yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat

disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan

bukti itu membuat terang tindak pidana dibidang retribusi yang terjadi serta

menemukan tersangkanya.

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI

Pasal 2

Dengan nama Retribusi Terminal dipungut retribusi sebagai pembayaran atas

pelayanan penyediaan tempat untuk kendaraan penumpang dan bus umum,

tempat kegiatan usaha dan fasilitas lainya di lingkungan terminal yang dimiliki

dan/atau dikelolah oleh Pemerintah Daerah.

Pasal 3

(1)Obyek Retribusi adalah pelayanan penyediaan fasilitas terminal yang

meliputi :

a. Penyediaan tempat parkir kendaraan penumpang dan bus umum;

b. Penyediaan tempat kegiatan usaha; dan

(6)

(2)Subyek Retribusi adalah badan atau orang pribadi yang menggunakan

fasilitas terminal.

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI

Pasal 4

Retribusi Terminal digolongkan sebagai retribusi jasa usaha.

BAB IV

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA

Pasal 5

Tingkat penggunaan jasa Retribusi Terminal diukur berdasarkan atas frekuensi

dan jangka waktu pemakaian fasilitas terminal.

BAB V

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN

STRUKTUK DAN BESARNYA TARIF

Pasal 6

Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi didasarkan pada tujuan

untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang

pantas diterima oleh pengusaha sejenis yang beroperasi secara efesien dan

berorientasi pada harga pasar.

BAB VI

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI

Pasal 7

(1)Tarif retribusi digolongkan berdasarkan jenis fasilitas, jenis kendaraan dan

jangka waktu pemakaian.

(2)Besarnya tarif retribusi dihitung dengan mempertimbangkan :

a. biaya operasional langsung yang meliputi biaya belanja pegawai termasuk

pegawai tidak tetap, belanja barang, belanja pemeliharaan, sewa tanah dan

bangunan, biaya listrik, dan semua biaya rutin yang berkaitan langsung

dengan penyediaan jasa;

b. Biaya tidak langsung meliputi biaya administrasi umum, dan biaya lainnya

yang mendukung penyediaan jasa;

c. Biaya modal yang berkaitan dengan tersedianya aktiva tetap dan aktiva

lainnya yang berjangka menengah dan panjang, yang meliputi angsuran

dan bunga pinjaman, nilai sewa tanah dan penyusutan aset.

d. Biaya-biaya lainnya yang berhubungan dengan penyediaan jasa, seperti

(7)

7

(3) Struktur dan besarnya tarif ditetapkan sebagai berikut :

NO JENIS

PELAYANAN

JENIS KENDARAAN/

NAMA FASILITAS BESARNYA TARIF

1 2 3 4

1. Penyediaan tempat

naik turunnya penumpang

a. Angkutan Kota

b. Angkutan Non Bus

Antar Kota dalam Kabupaten

c. Bus Lambat antar

Kota dalam Kabupaten

d. Bus Cepat Antar

Kota dalam Provinsi

Rp.1000-/sekali masuk Rp. 1.500-/sekali masuk

Rp. 2.000-/sekali masuk

Rp. 2.500-/sekali masuk

2. Penyediaan tempat

parkir angkutan penumpang dan kendaraan

lainnya

a. Sepeda Motor

b. Microlet/Mini Bus

dan Kendaraan

Rp. 1.000-/Sekali Parkir Rp. 1.000-/Sekali Parkir

Rp. 1.000-/Sekali Parkir

Rp. 1.500-/Sekali Parkir Rp. 2.000-/Sekali Parkir

3. Pemakaian Tempat Usaha

a. Kios Plasa Terminal I

3 x 6 m

b. Kios Plasa Terminal

II 3 x 3 m

c. Kios Plasa Terminal

III 3 x 6 m

d. Pedagang Kaki Lima

Rp. 3.420.000,-/unit/tahun

a.Ruang tunggu

Terminal

b. Kamar Mandi/WC 1. Mandi

Retribusi yang terhutang dipungut di wilayah daerah tempat pelayanan fasilitas

terminal diberikan.

BAB VIII

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERHUTANG

Pasal 9

Masa retribusi pelayanan fasilitas pertokoan/kios dan sejenis yang ada di

(8)

Pasal 10

Saat retribusi terutang adalah pada saat diterbitkan SKRD atau dokumen lain

yang dipersamakan.

BAB IX

TATA CARA PEMUNGUTAN

Pasal 11

(1)Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan.

(2)Retribusi dipungut dengan mengunakan SKRD atau dokumen lain yang

dipersamakan.

(3)Dokumen lain yang dipersamakan dapat berupa karcis, kupon dan kartu

langganan.

(4)Berdasarkan SKRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2), retribusi terhutang

ditagih kepada Wajib Retribusi.

(5)Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus paling lama 15

(lima belas) hari sejak diterbitkan SKRD.

(6)Pembayaran retribusi oleh Wajib Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat

(3) dilakukan secara tunai dengan menggunakan SSRD.

(7)Hasil penerimaan retribusi disetor ke Kas Daerah.

(8)Tata cara pemungutan termasuk tata cara pembayaran, penyetoran, tempat

pembayaran, dan angsuran serta penundaan pembayaran retribusi diatur

lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB X

TATA CARA PENAGIHAN

Pasal 12

(1)Penagihan retribusi terutang yang tidak atau kurang bayar dilakukan dengan

menggunakan STRD.

(2)Penagihan retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didahului

dengan Surat Teguran.

(3)Pengeluaran Surat Teguran/Peringatan/Surat lain yang sejenis sebagai

tindakan awal pelaksanaan penagihan dikeluarkan setelah 7 (tujuh) hari

sejak tanggal jatuh tempo pembayaran.

(4)Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat

Teguran/Peringatan/Surat lain sejenis, wajib retribusi harus melunasi

retribusi yang terutang.

(5)Surat Teguran/Peringatan/Surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) dikeluarkan oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk.

(6)Tata cara penagihan dan penerbitan Surat Teguran/Peringatan/Surat lain

(9)

9

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI

Pasal 14

(1)Bupati dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan

retribusi.

(2)Pemberian pengurangan atau keringanan retribusi sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi antara lain

untuk mengangsur.

(3)Pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain

diberikan kepada wajib retribusi yang ditimpa bencana alam dan/atau

kerusuhan.

(4)Tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi diatur lebih

lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB XIII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN

Pasal 15

(1)Atas kelebihan pembayaran retribusi, wajib retribusi dapat mengajukan

permohonan kepada Bupati.

(2)Bupati dalam jangka waktu paling alam 6 (enam) bulan, sejak diterimanya

permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) harus memberikan keputusan.

(3)Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui

dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian

pembayaran retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan

dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.

(4)Apabila wajib retribusi mempunyai utang retribusi lainnya, kelebihan

pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung

diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang retribusi tersebut.

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya

(10)

(6)Jika pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat 2

(dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen)

sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi.

(7)Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati.

BAB XIV

KEDALUWARSA PENAGIHAN

Pasal 16

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi menjadi kedaluwarsa setelah

melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi,

kecuali jika wajib retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.

(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

tertangguh jika :

a. Diterbitakan surat teguran; atau

b. Ada pengakuan utang retribusi dari wajib retribusi baik langsung maupun

tidak langsung.

(3)Dalam hal diterbitkan surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

huruf a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya surat

teguran tersebut.

(4) Pengakuan utang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

huruf b adalah wajib retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih

mempunyai hutang retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah.

(5)Pengakuan utang retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran

atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh wajib retribusi.

Pasal 17

(1)Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk

melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.

(2)Bupati menetapkan Keputusan penghapusan piutang retribusi yang

sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3)Tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur

lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB XV

PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN

Pasal 18

(1)Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan

pemenuhan kewajiban retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan

(11)

11

(2)Wajib retribusi yang diperiksa wajib:

a. Memperlihatkan dan /atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen

yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek

retribusi yang terutang;

b. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap

perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan; dan/atau

c. Memberikan keterangan yang diperlukan.

(3)Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan rertribusi

ditetapkan oleh Bupati.

BAB XVI

PENINJAUAN TARIF RETRIBUSI Pasal 19

(1)Tarif Retribusi ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali.

(2)Peninjauan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan

dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian.

(3)Penetapan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan

dengan Peraturan Bupati.

BAB XVII

INSENTIF PEMUNGUTAN

Pasal 20

(1)Satuan Kerja Perangkat Daerah yang melakukan pemungutan retribusi

dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.

(2)Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui

Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

(3)Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) ditetapkan oleh Bupati berdasarkan dengan peraturan

perundang-undangan.

BAB XVIII

PENYIDIKAN

Pasal 21

(1)Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi

wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan dibidang

retribusi daerah, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum

Acara Pidana.

(2)Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Pegawai Negeri

Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangakat oleh pejabat

yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(12)

a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan

berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah agar

keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas.

b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi

atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehu bungan

dengan tindak pidana retribusi daerah.

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan

sehubungan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah.

d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak

pidana dibidang retribusi daerah.

e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,

pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap

bahan bukti tersebut.

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan

tindak pidana dibidang retribusi daerah.

g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan

atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa

identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa.

h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah.

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai

tersangka atau saksi.

j. menghentikan penyidikan, dan/atau

k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak

pidana dibidang retribusi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

(4)Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya

penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum

melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan

ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

BAB XIX

KETENTUAN PIDANA

Pasal 22

(1)Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan

keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau

pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang tidak

atau kurang dibayar.

(2)Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

(13)

13 BAB XX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 23

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku maka Peraturan Daerah

Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 5 Tahun 2006 tentang Retribusi Terminal

(Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2006 Nomor 5, Tambahan

Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor 20), dicabut dan

dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 24

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan

Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten

Sumbawa Barat.

Ditetapkan di Taliwang

pada tanggal 30 Desember 2011

BUPATI SUMBAWA BARAT,

ZULKIFLI MUHADLI Diundangkan di Taliwang

pada tanggal 30 Desember 2011

Plt. SEKRETARIS DAERAH

KABUPATEN SUMBAWA BARAT,

MUSYAFIRIN

(14)

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

NOMOR 26 TAHUN 2011

TENTANG

RETRIBUSI TERMINAL

I. UMUM

Sesuai ketentuan dan semangat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah

terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 dan Undang-Undang

Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang memberi kewenangan yang

seluas-luasnya disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggaraan

otonomi daerah.

Mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah telah diatur di dalam

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah.

Jenis-jenis retribusi daerah ada 3 (tiga) yaitu :

1. Retribusi Jasa Umum;

2. Retribusi Jasa Usaha; dan

3. Retribusi Perizinan Tertentu.

Retribusi Terminal digolongkan sebagai retribusi Jasa Usaha karena

retribusi Jasa Usaha merupakan retribusi atas jasa yang disediakan oleh

pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada

dasarnya dapat pula disediakan oleh pihak swasta.

Dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan tugas

pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat serta untuk

menjaga keamanan dan keselamatan penumpang, pemerintah daerah telah

menyediakan terminal sebagai tempat menaikkan dan menurunkan

penumpang atau barang.

Retribusi Terminal merupakan salah satu sumber penerimaan yang sangat

potensial untuk menunjang penyelenggaraan kegiatan dimaksud. Retribusi

Terminal dipungut atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk

kendaraan penumpang dan bus umum, tempat kegiatan usaha dan fasilitas

lainya di lingkungan terminal yang dimiliki dan/atau dikelolah oleh

Pemerintah Daerah.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas maka Pemerintah Daerah

(15)

15

II. PASAL DEMI PASAL

(16)

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Dalam hal besarnya tarif retribusi yang telah ditetapkan dalam

Peraturan Daerah perlu disesuaikan karena biaya penyediaan

layanan cukup besar dan/atau besarnya tarif tidak efektif lagi

untuk mengendalikan permintaan layanan tersebut, Bupati dapat

menyesuaikan tarif retribusi.

Pasal 20

Cukup jelas

Pasal 21

Cukup jelas

Pasal 22

Cukup jelas

Pasal 23

Cukup jelas

Pasal 24

Cukup jelas

Referensi

Dokumen terkait

(1) Apabila Wajib Retribusi tidak membayar atau kurang membayar retribusi yang terutang sampai pada saat jatuh tempo pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Bupati

(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT, STRD dan Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus dibayar harus

(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT, STRD dan Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus dibayar harus

lain pajak yang terutang tidak atau kurang

(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain dipersamakan SKRDKBT, STRD dan Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus

(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT, STRD dan Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang

(1) Retribusi yang terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT STRD dan Surat Keputusan keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang

(1) Apabila wajib retribusi tidak membayar atau kurang membayar retribusi yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Bupati atau Pejabat yang di tunjuk