• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIKTIS | Website Resmi Direktorat Pendidikan Tinggi Islam - Ditjen Pendis Kemenag RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "DIKTIS | Website Resmi Direktorat Pendidikan Tinggi Islam - Ditjen Pendis Kemenag RI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN AGAMA RI 

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM

 

Jl. Lapangan Banteng Barat No. 3-4 Jakarta Tel. 021-3811642, 3811654, 3853449

Fax: 021-3812344, 021-34833981 http://pendis.kemenag.go.id/diktis.kemenag.go.id

J A K A R T A

PETUNJUK TEKNIS 

PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN PELAPORAN PENELITIAN 

 

  BAB I 

PENDAHULUAN   

 

A.LATAR BELAKANG 

Keberadaan  perguruan  tinggi  harus  selalu  memberikan  kemanfaatan  kepada masyarakat.Melalui fungsi pembelajaran, penelitian dan pengabdian,  perguruan  tinggi  menghasilkan  lulusan  dan  mengembangkan  ilmu  pengetahuan dan teknologi. 

Berbagai  cara  ditempuh  untuk  memaksimalkan  dampak  dan  pengaruh  sebuah  perguruan  tinggi  kepada  masyarakat.Bahkan,  perguruan  tinggi  menjadi  ikon  untuk  melakukan  perubahan  atau  rekayasa  sosial.Termasuk  bagaimana sebuah perguruan tinggi menjadi wadah untuk mengasah aspek  kewargaan  dari  setiap  individu  manusia.  Perguruan  tinggi  menjadi  tempat  yang  cukup  menjanjikan  untuk  terjadi  proses  pendidikan  menjadi  warga  yang baik dengan segala sikap yang konstruktif.  

Penelitian  sebagai  salah  satu  Tri  Dharma  Perguruan  Tinggi  memberikan  dampak  kemanfaatan  yang  lebih.Usaha‐usaha  menghasilkan  gagasan‐ gagasan  baru  mengenai  kehidupan  melalui  penelitian  tidak  dipandang  sebagai  sebuah  usaha  eksklusif  sekelompok  kecil  manusia.Sejatinya  usaha  itu  merupakan  usaha  bersama  bagi  siapa  saja  yang  memiliki  minat  untuk  perbaikan  kualitas  kehidupan  manusia.  Hanya  segelintir  orang  yang  tahu  dan terpelajarlah yang paling absah melakukan penelitian, sementara orang  kebanyakan  yang  kurang  terdidik  adalah  obyek  kajian  semata  menjadi  sebuah  pandangan  yang  tidak  saja  lemah,  tetapi  mengandung  sikap  arogansi.  Ilmu  pengetahuan  yang  dihasilkan  oleh  perguruan  tinggi  adalah  ilmu yang hidup, demikian di berbagai perguruan tinggi di Eropa menyebut  usaha  ini  sebagai  menghasilkan  living  knowledge.Ruang  kerjasama  penelitian  oleh  perguruan  tinggi  bersama  masyarakat  menjadi  sesuatu  kebutuhan  dengan  semangat  menghasilkan  perubahan  dan  ilmu  pengetahuan yang relevan serta kontekstual. 

Tujuan  penelitian  sebenarnya  adalah  untuk  perbaikan  kehidupan.  Kemampuan  manusia  untuk  menghadapi  berbagai  tantangan  kehidupan  Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam 

(2)

akan  meningkat  seiring  dengan  penguatan  atas  pola  relasi  sosial.  Keterpaduan  tri‐dharma  mensyaratkan  bahwa  operasionalisasi  fungsi  dharma tersebut harus sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat yang  sedang berlangsung. 

Harapan  tinggi  terhadap  aspek  penelitian  perlu  dibarengi  dengan 

pengaturan  perencanaan  dan  pelaporan  yang  bisa 

dipertanggungjawabkan.Karena  itulah,  penyusunan  petunjuk  teknis  ini  menjadi mutlak dibutuhkan. 

 

B.DASAR HUKUM 

 

1. Undang‐undang  Republik  Indonesia  Nomor  20  Tahun  2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia  Nomor 4301); 

2. Undang‐Undang  Nomor  14  Tahun  2005  tentang  Guru  dan  Dosen  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2005  Nomor  157,  Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157) 

3. Undang‐undang  Republik  Indonesia  Nomor  12  Tahun  2012  tentang  Pendidikan  Tinggi  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2012  Nomor  158,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor   5336); 

4. Peraturan Pemerintah Nomor 04 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan  Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor 5500); 

5. Peraturan  Presiden  Nomor  47  tahun  2009  tentang  Pembentukan  dan  Organisasi Kementerian Negara; 

6. Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  Nomor  23  Tahun  2005  tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum; 

7. Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  Nomor  19  Tahun  2005  tentang  Standar  Nasional  Pendidikan  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik  Indonesia Nomor 4496); 

8. Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  Nomor  23  Tahun  2005  tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum; 

9. Peraturan  Menteri  Agama  Republik  Indonesia  Nomor  55  Tahun  2014  tentang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. 

 

C. TUJUAN 

(3)

1. Memberikan panduan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan  penelitian pada PTKI Negeri. 

2. Memperjelas tahapan langkah‐langkah pelaksanaan penelitian. 

 

D.RUANG LINGKUP PANDUAN 

Pedoman ini merupakan acuan pelaksanaan penelitian bagi instansi‐instansi  sebagai berikut: 

1. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. 

Direktorat  Jenderal  Pendidikan  Islam  mengalokasikan  APBN  untuk  pelaksanaan penelitian setiap tahunnya.  

2. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam 

Perguruan tinggi keagamaan mengalokasikan anggaran untuk penelitian  yang merupakan salah satu aspek tri dharma perguruan tinggi.  

 

E. SUMBER ANGGARAN PENELITIAN 

Anggaran  kegiatan  penelitian pada PTKI Negeri bersumber  dari: 

1. Anggaran  pemerintah  yang  bersumberkan  dari  DIPA  Kementerian  Agama tahun berjalan; 

2. DIPA  PTKI  Negeri,  yang  terdiri  dari  Rupiah  Murni  (RM)  dan  Bantuan  Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN); 

3. Pemerintah Daerah;  4. Perusahaan; 

5. Sumbangan masyarakat dan lembaga donor yang tidak mengikat;  6. Hasil kerjasama dengan berbagai pihak; atau, 

7. Usaha‐usaha lain yang sah menurut Undang‐undang. 

Khusus untuk PTKI Negeri, anggaran penelitian yang bersumberkan dari  Biaya  Operasional  Perguruan  Tinggi  Negeri  (BOPTN)  dialokasikan  sebesar  30%  dari  dana  yang  diterima  PTKI  tersebut.  Termasuk  dalam  komponen  30% adalah untuk pembiayaan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat  dan publikasi karya ilmiah. 

Pengelolaan  anggaran  dilakukan  secara  transparan,  akuntabel,  dan  efisien. Pemanfaatannya adalah untuk kegiatan penelitian dengan paradigma  baru  yaitu  inovatif,  inspiratif,  pengamalan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi,  seni,  pemberdayaan  dan  pengembangan  masyarakat  secara  luas  sesuai  dengan bidang ilmu yang dikembangkan oleh Perguruan Tinggi Keagamaan  Islam masing‐masing. 

 

F. KATAGORI PENELITI DAN NOMINAL BANTUAN 

Dalam  penelitian,  ditemukan  adanya  ketimpangan  kemampuan  penelitian  para  pengaju.  Untuk  itu,  dalam  pengajuan  dana  bantuan  penelitian  besaran  dana  disesuaikan  dengan  katagori  penelitiannya.  Katagorisasi penelitian tersebut adalah sebagai berikut:  

1. Peneliti Pemula 

(4)

a. Pernah  melakukan  1  (satu)  kali  penelitian  sebagai  anggota  peneliti  dalam penelitian kelompok; atau 

b. Pernah melakukan penelitian mandiri 1 kali penelitian yang dibiayai  oleh PTKI setempat.  

Besar dana penelitian untuk jenis ini adalah antara Rp. 10.000.000,‐ s.d.  Rp. 15.000.000,‐ 

2. Peneliti Madya 

Yang  masuk  dalam  katagori  ini  adalah  jika  pengaju  telah  memenuhi  ketentuan sebagai berikut: 

a. Pernah  melakukan  1  (satu)  penelitian  sebagai  ketua  tim  peneliti  dalam penelitian kelompok di lingkungan PTKI atau menjadi anggota  kelompok minimal 3 penelitian yang dibiayai oleh PTKI setempat;  b. Pernah  melakukan  penelitian  mandiri  2  kali  penelitian  dari  PTKI 

setempat; atau, 

c. Pernah mendapatkan bantuan 1 (satu) kali penelitian dari instansi di  luar PTKI. 

Besar dana penelitian untuk jenis ini adalah antara Rp. 16.000.000,‐ s.d.  Rp. 25.000.000,‐ 

3. Peneliti Utama  

Yang  masuk  dalam  katagori  ini  adalah  jika  dosen  yang  mengajukan  penelitianunggulan yang memenuhi ketentuan sebagai berikut: 

a. Pernah  melakukan  dua  kali  penelitian  sebagai  ketua  tim  peneliti  dalam penelitian kelompok di lingkungan PTKI atau menjadi anggota  kelompok  minimal  4(empat)  penelitian    yang  dibiayai  oleh  PTKI  setempat; 

b. Pernah  melakukan  penelitian  mandiri  minimal  3  (tiga)  kali  penelitian dari PTKI tempat ditugaskan; atau 

c. Telah melakukan 2 (dua) kali penelitian mandiri yang dibiayai dari  instansi di luar PTKI. 

Peneliti utama melaksanakan penelitian unggulan yang dibagi dalam tiga  katagori, yaitu: 

a. Peneliti Unggulan Madya 

Penelitian  unggulan  madya  dilakukan  dengan  tagihan  outcome  minimal dimuat dalam jurnal nasional terakreditasi. 

Besar dana penelitian untuk jenis ini adalah antara Rp. 50.000.000,‐  s.d. Rp. 100.000.000,‐ 

b. Peneliti Unggulan Nasional 

Peneliti  unggulan  nasional  dilakukan  dengan  tagihan  outcome 

penelitian harus dimuat dalam jurnal nasional terakreditasi dan hasil  penelitian  lengkapnya  dipersiapkan  untuk  dipublikasikan  oleh  penerbit skala nasional. 

Besar dana penelitian untuk jenis ini adalah antara Rp. 100.000.000,‐  s.d. Rp. 150.000.000,‐ 

c. Peneliti Unggulan International 

(5)

dicetak  format  buku  dan  tagihan outcome‐nyaharus  dimuat  dalam  jurnal internasional. 

Besar dana penelitian untuk jenis ini adalah antara Rp. 150.000.000,‐  s.d. Rp. 250.000.000,‐ 

 

Jika disederhanakan, maka matriknya adalah sebagai berikut:   

No  Pengaju  Jenis Penelitian  Rp 

(juta) 

Produk 

1  Peneliti  Pemula 

Penelitian Pemula  10‐15  • Laporan  • Buku  2  Peneliti 

Madya 

Penelitian Madya  16‐25  • Laporan   • Buku 

• Jurnal Nasional  3  Peneliti 

Utama/Ahli 

Penelitian Unggulan  Madya 

50‐100  • Laporan   • Buku  

• Jurnal  Nasional  Terakreditasi 

    Penelitian Unggulan 

Nasional 

100‐150  • Laporan   • Buku  

• Jurnal  Nasional  Terakreditasi  Penelitian Unggulan 

International 

151‐250   

• Laporan   • Buku   • Jurnal 

(6)

BAB II 

PELAKSANAAN PENELITIAN 

   

A. PENGAJUAN PENELITIAN 

Seorang dosen yang akan melakukan penelitian harus menempuh langkah‐ langkah untuk mendapatkan bantuan penelitian, yaitu:  

 

1. Mengajukan Proposal 

 

Komponen proposal sekurang‐kurangnya harus memuat hal‐hal sebagai  berikut: 

 

a. Judul 

Merupakan  rumusan  dari  pokok  masalah  yang  akanditeliti.  Untuk  itu,  judul  yang  baik  harus  mencerminkan  inti  rumusan  masalah  penelitian. 

 

b. Latar Belakang 

Menjelaskan  alasan  pentingnya  penelitian  yang  akan  dilakukan.  Bagian ini menjelaskan fakta, harapan, dan masalah yang ada, yaitu : 

i. Fakta‐fakta  yang  menunjukkan  adanya gap  antara  apa  yang  seharusnya (das solen) dengan apa yang senyatannya (das sein);  ii. Pentingnya masalah untuk dipecahkan; 

iii. Fakta‐fakta  penentu  yang  memberikan  harapan  pemecahan  masalah melalui penelitian yang akan dilakukan; 

iv. Nilai  tambah  yang  diperoleh,  dibandingkan  denganhasil  penelitian terdahulu 

 

c.  Perumusan Masalah  

Perumusan  masalah  dirumuskan  dalam  kalimat  pertanyaan  atau  pernyataan.  Rumusan  masalah  ini  yang  akan  menjadi  pemandu  peneliti dalam melaksanakan penelitiannya. 

 

d.  Kajian Teori dan Kajian Pustaka  

Kajian  teori  merupakan  alat  baca  dalam  pelaksanaan  penelitian.  Kajian  teori  akan  lebih  mantap  jika  disertai  dengan  kajian  pustaka.  Kajian  pustaka  ini  merupakan  elaborasi  hasil‐hasil  penelitian  sebelumnya yang berkaitan dengan topik. 

 

e. Metode  

(7)

 

f.   Data dan Sumber Data 

Memuat  data  yang  sudah  dukumpulkan  dan  sumber  data  tersebut  didapat. 

 

g. Jadwal Pelaksanaan  

Rincian  jadwal  setiap  kegiatan  yang  akan  dilakukan  (dalam  bulan),  jadwal ditampilkan dalam bentuk tabel. 

 

h. Anggaran  

Memuat rencana anggaran dan belanja penelitian (RAB), kebutuhan  anggaran harus ditulis dengan rinci, meliputi komponen‐komponen.  Anggaran    kegiatan    penelitian,    komponen    belanja    barang    pada   tiap  aktivitas    akan    dilaksanakan    sesuai    dengan    besaran    biaya   yang    dibelanjakan  (at  cost) Dalam  penganggarannya,  peneliti   mengalokasikan    rencana    pengeluaran    yang    sesuai    dengan   rencana  pekerjaan.    Besaran    atas    belanja  barang    dan    belanja   perjalanan    akan  disesuaikan    pula  dengan    sifat,  ukuran,  jenis  dan  luas penelitian tersebut.  

Adapun  model  penganggarannya  minimal  mengikuti  pola  sebagaimana lampiran 1. 

 

i.  Pelaksana 

Pelaksana  penelitian  ditulis  lengkap  dengankeahlian  yang  dimiliki  sesuai  dengan  kebutuhan  pelaksanaan  penelitian,jadwal,  serta  alokasi waktu keterlibatan masing‐masing. 

Dengan  ketentuan  pengajuan  sebagaimana  di  atas,  maka  kelayakan  proposal  yang  diajukan  dituangkan  dalam  proposal  dengan  ketebalan  antara 20 s.d. 25 halaman, di luar daftar isi dan lampirannya. 

Dalam hal perencanaan penganggaran, agar diperhatikan ketentuan  prosentase pengalokasian sebagai berikut: 

No Mata Anggaran

Penelitian

Nasional Internasional

2 Belanja Gaji dan Tunjangan (Honorarium, Gaji, Upah

30% 30% 30% 30% 30%

3 Belanja Barang*) (Bahan, ATK, Perlengkapan, Copy, Jilid,

Konsumsi, BHP, Barang, Publikasi)

45% 45% 45% 45% 45%

4 Belanja Perjalanan**)

(8)

(Transport Dalam Kota, SPD Dalam Negeri dan SPD Luar Negeri) 5 Belanja Modal Fisik

Lainnya (Khusus untukPembelian Buku)

5% 5% 5% 5% 5%

TOTAL 100% 100% 100% 100% 100%

*), **)  Maksimum alokasi fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan 

2.  Seleksi  

 

Proposal yang memenuhi syarat dan ketentuan bisa dipromosikan untuk  dibiayai.Jika  jumlah  pengajuan  melebihi  anggaran  yang  tersedia,  maka  harus  dilakukan  seleksi  atau  penilaian  untuk  memberikan  prioritas  kepada peneliti yang mampu mengutarakan gagasannya dalam proposal  tersebut. 

 

Pelaksanaan  seleksi  sekurang‐kurangnya  merupakan  bentuk  pertanggungjawaban atas proposal yang diajukannya. 

 

Proses  seleksi  terdiri  dari  tiga  tahap,  yaitu;  pertama,  seleksi  administrastif  yang  dilakukan  melalui  penilaian  meja  (desk evaluation),  yakni  memeriksa  kelengkapan  berkas  standar  minimal. Kedua, seleksi  substansi,  yaitu  seleksi  melalui  forum  seminar  pertanggungjawaban  proposal. 

DINILAI Indikator

NILAI (N)

BOBOT

(B) N x B KET

A PERMASALAHAN

1 Permasalahan yang akan diteliti

1. Tidak mengandung masalah;

2. ada masalah, tapi tidak layak untuk diteliti 3. ada masalah, tidak jelas rumusannya 4. ada masalah dan baik untuk ditindaklanjuti 5. masalah yang diambil sangat penting ditindaklanjuti

10

2 Rumusan masalah 1. RM tidak mencerminkan permasalahan penelitian; 2. RM tidak jelas rumusannya

3. RM kurang menggambarkan gagasan penelitian 4. RM cukup tepat dan menggambarkan gagasan penelitian

5. RM sangat ideal dan menggambarkan gagasan penelitian

10

3 Signifikansi penelitian 1. signifikansi penelitian tidak terelaborasi baik; 2. tidak signifikan, tapi terelaborasi dengn baik; 3. cukup signifikan, tapi tidak terelaborasi baik; 4. signifikan untuk diteliti dan terelaborasi dengan baik;

5. signifikan dan terelaborasi dengan sangat baik

(9)

4 Mengandung unsur/teori baru

1. tidak mengandung unsur baru 2. memuat isu baru tapi tidak berkaitan 3. mengandung unsur baru, namun tidak penting 4. mengandung teori baru dan penting untuk pengembangan keilmuan

5. mengandung teori baru dan sangat penting untuk pengembangan keilmuan

10

B PENGGUNAAN BAHASA Penggunaan Bahasa

dan Diskripsi Proposal

1. Ulasan proposal menggunakan bahasa yang tidak ilmiah

2. Bahasa ilmiah tapi tidak sistematis 3. Bahasa ilmiah dan sistematis 4. Bahasa ilmiah dan rasional

5. Bahasa ilmiah, sistematis dan terurai dengan jelas

   10 

C TEORI DAN REFERENSI

1 Ketepatan Penggunaan Teori

1. Tidak ada teori yang dipergunakan 2. ada teori, tapi tidak berkaitan 3. ada teori, tapi penulis tidak mampu menggunakannya

4. ada teori dan terelaborasi dengan baik 5. ada teori, terelaborasi dengan baik, dan sangat tepat

10

2 Penggunaan Referensi

1. referensi ada tapi tidak berkaitan dengan tema penelitian

2. referensi yang berkaitan di bawah 10 judul 3. referensi UTAMA berjumlah 5 - 10 judul 4. referensi UTAMA lebih dari 11 judul 5. Proposal sudah merujuk min. 5 refernsi utama

10

3 Kajian Pustaka/Riset sebelumnya yang berkaitan

1. tidak ada kajian pustaka/riset sebelumnya dgn tema yang berkaitan

2. ada kajian pustaka, tapi tidak berkaitan dengan tema

3. ada kajian pustaka/riset sebelumnya dengan jumlah 1-2 riset

4. ada kajian pustaka/riset sebelumnya, berkaitan dengan tema, tapi kurang terelaborasi

5. ada kajian pustaka/riset sebelumnya, berkaitan dengan tema riset dan terelaborasi baik

10

C HIPOTHESIS

Hipotesis (jika ada) 1. Tidak ada hipotesis

2. Ada tapi tidak jelas berkaitan dengan tema 3. ada dan teruraikan dengan baik 4. ada, jelas dan tapi tidak tepat 5. ada, jelas dan sangat tepat

5

D METODE PENELITIAN

Ketepatan Penggunaan Metode

1. Metode yang dipergunakan tidak tepat2. Metode yang dipergunakan ada, tapi kurang tepat3. metode yang dipergunakan tepat tapi kurang terjabarkan dengan baik4. terurai dengan baik sistematis dan jelas5. terjabarkan dengan sistematis, elaboratif dan jelas

10

E Alokasi Biaya dan Waktu

Pembiayaan 1. RAB ada tapi tidak rasional 2. RAB ada, cukup rasional

3. RAB ada dan kurang sesuai peruntukannya 4. RAB ada dan cukup sesuai peruntukannya 5. RAB ada dan sangat sesuai peruntukannya

5

JUMLAH SKOR TOTAL 100 REKOMEND ASI

(10)

Penilai,

__________________________________ Catatan:

a  Skor 100 - 300 = Ditolak

       

b Skor 301 ‐ 400 = Dipertimbangkan

       

c Skor 401 ‐ 500 = Layak/lulus menjadi nominator 

       

 

Setelah  dilakukan  proses  penilaian  dan  seleksi,  pengaju  harus  mempresentasikan  proposalnya  di  hadapan  pakar  pada  masing‐masing  perguruan  tinggi.  Para  pakar  yang  dihadirkan,  ditentukan  oleh  perguruan  tinggi  masing‐masing  disesuaikan  dengan  disiplin  ilmu  dan  keahliannya. 

 

B. SEMINAR 

Yang dimaksud dalam seminar di sini adalah seminar hasil penelitian.Setiap  hasil  penelitian  harus  diseminarkan.  Seminar  hasil  penelitian  dilakukan  dalam beberapa bentuk: 

Pertama, Seminar di hadapan tim yang ditunjuk oleh lembaga pemberi dana 

bantuan  penelitian.  Seminar  ini  dilakukan  sebagai  bagian  dari  pelaksanaan  fungsi kontrol pelaksanaan penelitian dan pertanggungjawaban Negara atas  belanja bantuan yang telah dialokasikan. 

Kedua, Seminar expose hasil penelitian. Seminar ini dilakukan dalam rangka 

mensosialisasikan  hasil  penelitian  yang  dilakukan  peneliti.Seminar  expose  penelitian  bisa  dilakukan  dengan  menghadirkan  para  ahli,  atau  para  dosen  atau seminar yang lebih luas melibatkan para mahasiswa. 

 

C. PENGANGGARAN PENELITIAN 

Mekanisme  dan  tahapan  yang  harus  dilakukan  oleh  masing‐masing  peneliti. Dalam penyusunan anggaran penelitian, agar diperhatikan hal‐hal  sebagai berikut:  

1. Anggaran  tidak  mencantumkan  honorarium  peneliti.  Hal  ini  dikarenakan, penelitian termasuk bagian dari pelaksanaan fungsi dosen  di bidang penelitian. 

2. Komponen Pembiayaan penelitian mencakup biaya hal‐hal sebagai  berikut: 

a. penyusunan proposal, yang mencakup narasumber dalam diskusi  dengan tim sejawat 

b. presentasi proposal, yang mencakup biaya transportasi,  narasumber saat pelaksanaan presentasi. 

c. pengumpulan data, yang meliputi biaya akomodasi, transportasi,  focus group discussion, dan lain‐lain. 

d. presentasi hasil penelitian, yang meliputi biaya narasumber utama,  narasumber pembanding, transportasi, dan sejenisnya. 

e. pembelian bahan. 

(11)

3. Perencanaan  anggaran    kegiatan    penelitian,    komponen    belanja   barang  pada  tiap aktivitas  akan  dilaksanakan  sesuai  dengan  besaran   biaya    yang    dibelanjakan    (at  cost).Dalam  penganggarannya,    peneliti   dapat    mengalokasikan    rencana    pengeluaran    yang    sesuai    dengan   rencana  pekerjaan.    Besaran    atas    belanja  barang    dan    belanja   perjalanan  akan disesuaikan  pula dengan  sifat, ukuran, jenis dan luas  penelitian tersebut.  

 

 

(12)

BAB III 

PENCAIRAN DANA PENELITIAN 

     

Bab  ini  mengatur  alur,  mekanisme,  tahapan  dan  waktu  pencairan  anggaran penelitian. Hal‐hal yang  perlu  diperhatikan  Mekanisme  Pencairan   Anggaran Penelitian  oleh  Peneliti di  Satuan  Kerja  PTKI Negeri adalah sebagai  berikut:  

1.  Penelitian    Pemula,    dengan    anggaran    penelitian    maksimum    Rp.  15.000.000,‐.    Pada    penelitian    kategori    ini,  pembayaran  penelitian  dilakukan dengan 2 (dua) tahap, yakni:  

a.  Tahap  1  sebesar  60%  dicairkan  setelah  peneliti  mempresentasikan  proposal,  ditetapkan  sebagai  penerima,  dan  telah  menandatangani  kontrak penugasan penelitian ditandatangani  

b.  Tahap  2  sebesar  40%  setelah  evaluasi  pertengahan,  dan  peneliti  memenuhi persyaratan sebagai berikut:  

1)  Mengikuti  seluruh  tahapan Work  in  Progress  yang  ditentukan  oleh  Pemberi dana bantuan. 

2)  Memberikan laporan perkembangan penelitian. 

2.  Penelitian    Madya,    dengan    anggaran    penelitian    maksimum    Rp.  25.000.000,‐.Pada    penelitian    dengan  kategori  ini,  pembayaran  penelitian  dilakukan dengan 2 (dua) tahap pula, yakni:  

a.  Tahap  1  sebesar  60%  dicairkan  setelah  peneliti  mempresentasikan  proposal,  ditetapkan  sebagai  penerima,  dan  telah  menandatangani  kontrak penugasan penelitian ditandatangani  

b.  Tahap  2  sebesar  40%  setelah  evaluasi  pertengahan,  dan  peneliti  memenuhi persyaratan sebagai berikut:  

1) Mengikuti  seluruh  tahapan Work  in  Progress  yang  ditentukan  oleh  Pemberi dana bantuan  

2) Memberikan laporan hasil penelitian  

3.    Penelitian  Unggulan, dengan anggaran penelitian  antra  Rp.50.000.000,‐  s.d.  Rp.  250.000.000,‐.Pada    penelitian    dengan  kategori  ini,  pembayaran  penelitian dilakukan dengan 3 (tiga) tahap pula, yakni: 

a.  Tahap  1  sebesar  40%  dicairkan  setelah  mempresentasikan  proposal,  ditetapkan  sebagai  penerima,  dan  telah  menandatangani  kontrak  penugasan penelitian ditandatangani  

b. Tahap 2 sebesar 30% setelah evaluasi pertengahan.  

c. Tahap 3 sebesar 30 % setelah peneliti memenuhi persyaratan sebagai  berikut:  

1)  Mengikuti seluruh tahapan Work in Progress yang ditentukan oleh  Pemberi dana bantuan  

2)  Memberikan laporan perkembangan pelaksanaan penelitian    

 

(13)

BAB IV 

LAPORAN PENELITIAN 

   

Laporan penelitian terdiri dari dua bentuk, yaitu: 

A. Laporan Akademik 

Yang  dimaksud  dengan  laporan  akademik  adalah  laporan  hasil  penelitian. Dalam hal ini, peneliti menyerahkan hasil penelitian yang terdiri  dari 3 (tiga) bentuk, yaitu: 

1. Laporan Hasil Penelitian Lengkap 

Yang  dimaksud  dengan  laporan  penelitian  lengkap  adalah  laporan  penelitian  yang  menampilkan  secara  lengkap  hasil  penelitian  yang  meliputi: 

a. Laporan  Inti,  yakni  laporan  akademik  hasil  penelitian  yang  di‐lay  outdalam  bentuk  buku  ukuran  kertas  HVS  A‐4,  dan  secara  lengkap  beserta lampirannya.  

b. Laporan  dalam  bentuk  buku.  Laporan  inti  sebagaimana  dimaksud  pada  huruf  a  di‐lay  outdalam  bentuk  buku  siap  dipublikasikan  dengan ukuran 25 x 17 cm, dan telah ber‐ISSBN. 

2. Excecutive Summary 

Yang  dimaksud  dengan  laporan  dalam  bentuk  excecutive  summary  adalah  laporan  yang  sudah  diformat  dalam  bentuk  tulisan/artikel  yang  siap  dikirimkan  ke  Jurnal.  Laporan  jenis  ini  mengikuti  sistematika  sebagai berikut: 

a. Judul Penelitian 

b. Nama penulis, alamat email dan jabatan/pekerjaan saat ini  c. Abstraksi dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris/Arab  d. Kata kunci 

e. Isi  tulisan,  dengan  sistematika:  Pendahuluan,  Pembahasan  dan  Penutup, daftar referensi 

f. Indek 

3. Laporan Outcome 

Laporan  yang  mengatur  tentang outcome  penelitian  sesuai  perjanjian  yang disepakati, di antaranya adalah: 

a. Hasil  penelitian  di  muat  dalam  jurnal  nasional,  jurnal  nasional  terakreditasi atau jurnal international. 

b. Hasil penelitian sudah diformat dalam bentuk ukuran buku dan siap  dipublikasikan oleh lembaga penerbitskala nasional. 

Ketentuan  format  laporan  dalam  bentuk  buku  siap  dipublikasikan  adalah sebagai berikut: 

a. Ukuran buku 17 x 25 cm 

b. Tebal halaman minimal 200 hal  c. Spasi 1.15 pt maksimal 1.5 pt 

d. Font standar Book Antiqua atau Times New Roman  dengan ukuran  12 pt 

(14)

B. Laporan Penggunaan Dana 

Setiap  penggunaan  uang  Negara  harus  dilaporkan  kepada  pemberi/penyalur  dana  bantuan.  Laporan  Penggunaan  Dana  adalah  laporan  yang  disusun  untuk  mengetahui  besarnya  realisasi  atas  pengeluaran yang dibandingkan dengan anggaran yang telah disusun. 

Setiap laporan kuangan harus disertai dengan hal‐hal berikut: 

1. Bukti  Pendukung,  yakni  bukti  terlampir  dan  pendukung  atas  tiap  transaksi yang telah disajikan, di mana terdapat kuitansi/ Nota /Struk  belanja  atas  transaksi  yang  akan  disiapkan  dengan  lampiran  bukti  pengeluaran dan penerimaan dari pihak ketiga, yakni : 

a. Belanja Gaji dan Tunjangan, berupa amprahan, surat tugas, daftar  kehadiran  dan  surat  penugasan  (SK)  nama‐nama  penerima  honorarium 

b. Belanja barang, yakni seluruh nota pembelian, struk belanja  c. Belanja perjalanan, yakni Surat Perjalanan Dinas (SPD) dan surat 

tugas.  Untuk  perjalanan  ke  Luar  Negeri  dilampirkan  pula  Surat  Izin dari Setneg RI. 

d. Belanja  modal  fisik  lainnya,  yakni  struk  belanja  atau  nota  pembelian 

2. Format  atas  masing‐masing  laporan  keuangan  atas  dana  penelitian,  jika dibuat matrik adalah sebagai berikut : 

Penelitian Unggulan

Madya Nasional International Jenis

Pelaporan  hasil  penelitian  diserahkan  pada  waktu  setelah  selesainya  pelaksanaan  penelitian  bersamaan  dengan  berakhirnya  masa  anggaran  tahun  berjalan.  Namun  demikian,  berkenaan  dengan  batas  waktu  laporan 

out come, perlu diperhatikan matrik di bawah ini: 

 

No  Katagori 

Penelitian 

Laporan 

Produk  Outcome  Ket 

(15)

Pemula  lengkap  paling  lambat  12  bulan  sejak  penelitian 

diselesaikan 

2  Penelitian Madya  a. Laporan 

lengkap 

b. Buku  siap 

dipublikasik

b. Buku  siap 

dipublikasik

b. Buku  siap 

dipublikasi kan 

Jurnal  nasional  terakreditasi 

Laporan  outcome  paling  lambat  18  bulan  sejak 

b. Buku  siap 

dipublikasi paling  lambat  24  bulan  sejak  penelitian 

diselesaikan 

(16)

BAB V 

PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN PENELITIAN   

 

Bab ini menjelaskan tentang bentuk, kaidah, dokumen, form, pemungutan dan  pemotongan  pajak  dalam  pertanggungjawaban  keuangan  kegiatan  (LPJ)  penelitian, dengan ketentuan sebagai berikut : 

1. LPJ  keuangan  disusun  oleh  pelaksana  peneliti/  Tim  peneliti  dengan  mengacu pada sistem pertanggungjawaban keuangan (lihat lampiran 1)  2. Bukti‐bukti  LPJ  dibuat  dan  disusun  mengacu  kepada  rincian  Laporan 

Penggunaan Dana. 

3. Laporan pertanggungjawaban keuangan disusun sesuai dengan keterjadian  pelaksanaan penelitian (at cost

4. Bukti pengeluaran, misalnya, berupa :  a. Rapat persiapan kegiatan 

Rapat  persiapan  kegiatan  yang  dilaksanakan  di  kantor,  yang  dapat  dipertanggungjawabkan hanya snack rapat dan makan siang. Apabila  rapat  persiapan  yang  dilaksanakan  di  kantor  mengundang  instansi  atau wakil Kementerian/ Lembaga, maka peserta rapat dari instansi  atau  wakil  Kementerian/  Lembaga  dapat  diberikan  SPD  atau  transport kegiatan dalam kota. 

b. Absensi 

  Absensi  (daftar  Hadir)  dibuat  pada  saat  rapat  persiapan  kegiatan  yang  dilaksanakan  dikantor  dan  yang  dilaksanakan  di  luar  kantor.  Absensi diperlukan untuk menegetahui berapa banyak peserta yang  hadir. Nama‐nama yang ada dalam absensi dicantumkan pada setiap  pelaporan kegiatan. 

c. Tanda terima transport kegiatan dalam kota (lokal) 

Tanda  terima  transport  lokal  diberikan  kepada  peserta  undangan  dan  tim  peneliti,  untuk  kegiatan  yang  dilaksanakan  baik  dikantor  maupun  diluar  kantor.  Kegiatan  di  luar  kantor  dapat  dilaksanakan  dengan  ketentuan  masih  di  dalam  batas  wilayah  suatu  kanbupaten/kota. 

Dalam  pelaksanaan  kegiatan  rapat  di  kantor,  transport  dalam  kota  hanya  diberikan  kepada  peserta/undangan  dari  instansi  atau  lembaga lain yang terkait. Tanda terima transport lokal dibuat dalam  bentuk  tabel  seperti  daftar  hadir  (absensi)  kegiatan.  Transport  diberikan  maksimal  Rp.  110.000,‐/  orang  kali  (lihat  contoh  pada 

lampir an 2) 

d. Belanja  gaji  dan  tunjangan,  terkait  dengan  pembayaran  atas  honorarium, gaji dan sekretariat peneliti serta honorarium lainnya  e. Belanja  barang,  terkait  dengan  kuitansi,  nota  pembelian  untuk 

(17)

f. Belanja perjalanan dinas (SPD) 

Perjalanan  dinas  dapat  dilakukan  oleh  ketua  Peneliti,  anggota  peneliti  maupun  tenaga  teknis  yang  melaksanakan  kegiatan  penelitian di kabupaten/kota. 

Perjalanan  dinas  mengacu  pada  Standar  Biaya  Masukan  tahun  berjalan, yang terdiri atas : 

1) Uang Harian (uang makan, uang saku dan transport lokal) 

2) Transport  luar  kota  (tiket+boarding  jika  menggunakan  pesawat  udara) 

3) Hotel  berdasarkan  ketentuan  yang  berlaku  pada  tahun  berjalan  (contoh  Permenkeu  No.  72/PMK.02/2013  jo.PMK  No.  52/PMK.02/2014 tentang standar Biaya Masukan tahun 2014).  4) Perjalanan Dinas didukung dengan surat tugas dari Rektor/Ketua 

LP2M dalam Surat Perjalanan Dinas (SPD) 

5) Pelaporan  pertanggungjawaban  ketua  peneliti,  anggota  peneliti  dan tenaga teknis yang melakukan perjalanan dinas dibuat dalam  bentuk SPD (Surat Perjalanan Dinas) yang berisi antara lain :  a) Rincian perjalanan Dinas (Awal) 

b) Rincian perjalanan Dinas Rampung  c) Bill/kuitansi biaya penginapan (Hotel) 

d) Daftar Pengeluaran Riil untuk biaya transport dari propinsi ke  Kabupaten/ Kota  

e) Lembar 1 SPD 

f) Lembar  2  SPD,  dilengkapi  dengan  stempel  dan  tanda  tangan  pejabat/pegawai negeri yang berwenang 

g) Kuitansi  untuk  pengeluaran  berupa  pembelian  jasa/sewa  lainnya; 

5. Bukti  pengeluaran  dibuat  rangkap  2  (dua)  dengan  perincian  sebagai  berikut : 

a. Arsip pemberi dana bantuan rangkap 1 (asli) 

b. Arsip penerima bantuan penelitian rangkap 1 (tembusan) 

6. Kuitansi/bukti  pengeluaran  disusun  secara  rapi  sesuai  urutan,  dikonsultasikan  ke  bagian  keuangan,  setelah  disetujui  untuk  kemudian  dijilid dan diserahkan ke pemberi bantuan. 

7. Dana  kegiatan  penelitian  yang  dibiayai  DIPA  PTKI  Negeri  tidak  diperbolehkan untuk belanja modal, misalnya: peralatan kantor (barang  inventaris  kantor),  komputer,  mebeulair  dan  lain‐lain,  kecuali  untuk  pembelian  buku  dan  literatur  lainnya  yang  masuk  belanja  modal  fisik  lainnya. 

8. Dalam  hal  perpajakan,  pengenaan  pajak  dikenakan  terhadap  penggunaan dana yang bersumber dari APBN maupun APBD. Jenis‐jenis  pajak antara lain : Materai, PPH 21, PPh 22, PPh 23 dan PPN. 

a. Materai 

(18)

No.55/PMK.03/2009  tentang  Bentuk,  Ukuran  dan  Warna  Benda  Materai), dengan perincian sebagai berikut : 

 Pembelian  barang/jasa,  sewa:  <  Rp  250.000,‐  tanpa  dibubuhi  Materai. 

 Pembelian  barang/jasa,  sewa:  >Rp.  250.000,‐s.d.  Rp.  1.000.000,‐ dibubuhi Materai 3.000,‐ 

 Pembelian barang/jasa, sewa: >Rp. 1.000.000,‐ dibubuhi Materai  6.000,‐ 

 

b. Pajak Penghasilan (PPh 21) 

Dasar  pemotongan  PPh  Ps  21  (Undang‐undang  Nomor  36  tahun  2008  tentang  Pajak  Penghasilan,  Permenkeu  nomor  262/PMK.03/2010, dan Perdirjen Pajak Nomor Per‐57/PJ/2009).  Setiap  penyerahan  yang  berupa  honorarium  dipungut  PPh  21  dengan rincian untuk penerima dengan kepangkatan Gol. IV sebesar  15  %,  Gol.  III  sebesar  5%;  Gol.II  sebesar  0%;  non  PNS  sebesar  5%.Pajak  disetorkan  ke  kas  Negara  melalui  bank/kantor  pos  menggunakan NPWP Bendahara pengeluaran pemberi dana bantuan.   

c. Pajak Penghasilan Belanja Barang (PPh 22) 

Dasar  pemotongan  PPh  Ps  22  (Undang‐undang  PPh  22,  Perdirjen  Pajak  Nomor  Per‐15/PJ/2011).  Belanja  bahan  (pembelian  ATK,  bahan  kimia,  supplies,  spanduk,  dll)  dengan  masing‐masing  nilai  transaksi  dalam  1  (Satu  bulan)  dengan  toko  yang  sama  jumlah  transaksi  kurang  dari  Rp.  1.000.000,‐  (satu  juta),  maka  tidak  dikenakan  PPN  (Pajak  Pertambahan  Nilai)  dan  PPh.  Psl.  22  (pajak  penghasilan pasal 22). 

Untuk  pembelian  barang  dengan  masing‐masing  nilai  transaksi  dalam 1 (satu bulan) dengan toko yang sama jumlah transaksi mulai  dari Rp. 1.000.000,‐ (satu juta rupiah) sampai dengan Rp. 2.000.000,‐ (dua  juta  rupiah)  maka  hanya  dikenakan  PPN  (Pajak  Pertambahan  Nilai) perhitungan 

 PPN DN = (100/110) x nilai transaksi x 10 %) 

Pembelian  bahan  dalam  1  (satu  bulan)  dengan  toko  yang  sama  jumlah  transaksi  lebih  dari  Rp.  2.000.000,‐  (dua  juta),  maka  dikenakan PPN (Pajak Pertamabahn Nilai) dan PPh. Psl. 22 (pajak  penghasilan pasal 22) 

 Perhitungan  PPh  Ps.  22  dengan  NPWP  Toko  (100/110)  x  nilai  transaksi x 1,5 % 

 Perhitungan  PPN  dengan  NPWP  (100/110)  x  nilai  transaksi  x  10  %)  (dilampiri  SSP  PPN;  SSP  PPh  Psl.  22  dan  Faktur  Pajak  Standar dan menggunakan NPWP toko). 

 

d. Pajak Penghasilan Pembelian Jasa/Sewa (PPh. Ps. 23) 

(19)

1) Setiap transaksi pembelian jasa/sewa kurang dari Rp. 1.000.000,‐  dikenakan  PPh  Ps.  23  sebesar  2  %,  (dilampiri  SSP  PPh  Psl.  23  yang distempel toko). 

2) Setiap  pembelian  jasa/sewa  lebih  dari  Rp.  1.000.000,‐dikenakan  PPN  sebesar  10  %  dari  DPP  dan  PPh  pasal  23  sebesar2  %  dari  DPP  (dilampiri  Faktur  Pajak,  SSP  PPN;  SSP  PPh  Psl.  23  yang  distempel toko) 

3) Khusus  pembelian  Komsumsi/Jasa  catering  berapapun  nilainya  dikenakan  PPh  pasal  23  sebesar  2  %dan  tidak  dikenakan  PPN  (dilampiri  SSP  PPh  Psl.  23  yang  menggunakan  NPWP  toko  dan  distempel toko) 

Contoh perhitungan : 

‐ Konsumsi,  apabila  menggunakan  kuitansi  atas  nama  rumah  makan  A,  maka  perhitungan  pajaknya  :  (untuk  konsumsi  :  nilai kuitansi 0 – 2 juta = tidak dikenai pajak, sedangkan nilai  kuitansi diatas 2 juta dikenai PPH) PPh Psl. 22 NPWP rumah  makan = nilai transaksi x 1,5 % 

‐ Catering, apabila menggunakan kuitansi atas nama catering A,  maka  perhitungan  pajaknya  (berapapun  nilainya  kena  PPh  pasal 23), PPh ps. 23 NPWP catering = nilai transaksi x 2 %  e. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 

Dasar  pemotongan  PPN  (Undang‐undang  nomor  42  tentang  PPN,  Permenkeu  nomor.  68/PMK.03/2010,  Perdirjen  Pajak  Nomor  Per‐ 44/PJ/2010, Kepmenkeu Nomor 563/KMK.03/2003). 

Setiap  pembelian  barang  atau  jasa  yang  nilai  akumulasinya  Rp.  1.000.000,‐  ke  atas  dengan  satu  penyedia  barang  dalam  jangka  waktu satu bulan kalender, maka dikenakan PPN sebesar 10 % dari  dasar  pengenaan  pajak  (DPP)  disertai  faktur  Pajak  dan  Surat  Setor  Pajak  (SSP)  dengan  menyertakan  identitas  pengusaha  kena  Pajak  (toko) antara lain 

1) Nama Pengusaha kena Pajak (PKP)  2) Alamat Pengusaha Kena Pajak (PKP)  3) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 

4) Tanggal Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP) 

5) Anda tangan pengusaha kena pajak (PKP) dan stempel toko   

Cara Menghitung Dasar Pengenaan Pajak (DPP)   

   

 

9. Pengadaan Barang dan Jasa 

Pengadaan  barang/jasa  pemerintah  adalah  kegiatan  pengadaan  barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan  secara  swakelola  maupun  oleh  penyedia  barang/jasa  (Keputusan  Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003) beserta perubahannya sebagaimana 

(20)

beberapa  kali  diubah  dan  terakhir  diubah  dengan  Peraturan  Presiden  Republik  Indonesia  Nomor  70  Tahun  2012  tentang  Pengadaan  Barang/Jasa Pemerintah. 

Adapun pengadaan peralatan Barang/Jasa menggunakan dua cara yaitu :  a. Cara Swakelola 

Pengadaan  barang/jasa  sampai  dengan  Rp.  1.000.000,‐  bukti  pembayarannya cukup dengan kuitansi bermaterai 

b. Menggunakan penyedia Barang/Jasa 

Pelaksanaan pengadaan barang dengan nilai diatas Rp. 10.000.000,‐  mengacu  pada  Perpres  54  Tahun  2010  dan  perubahan  terakhir  Peraturan  Presiden  Republik  Indonesia  Nomor  70  Tahun  2012  Tentang  Pengadaan  Barang/Jasa  Pemerintah  tentang  pengadaan  barang/jasa yang terdiri dari : 

1) Pengadaan Langsung 

Pengadaan  Langsung  adalah  pelaksanaan  pekerjaan  yang  dikerjakan  dengan  cara  pembelian  langsung  dari  sekurang‐ kurangnya  ada  satu  penyedia  barang/jasa.  Apabila  pembelian  barang/jasa diatas Rp. 10.000.000,‐ s.d. Rp. 200.000.000,‐ 

2) Pelelangan Umum 

Pelelangan Umum adalah pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan  dengan  cara  diumumkan  secara  terbuka  melalui  website  (e‐ procurement).  Untuk  pelelangan  ini  apabila  belanja  pengadaan  (pagu  anggaran)  lebih  dari  Rp.  200.000.000,‐  (Dua  Ratus  juta  rupiah). 

Pengadaan  Barang/Jasa  dikenakan  pajak  sesuai  dengan  peraturan  yang  berlaku  tentang  perpajakan  sebagaimana  telah  dibahas sebelumnya. 

(21)

BAB VI  PENUTUP 

 

Penelitian  yang  tidak  dilaporkan  sampai  pelaporan  outcame,  akan  dikenai  pemblokiran  akses  penelitian  atau  bantuan  pada  tahun‐tahun  selanjutnya.  Perguruan  tinggi  dan  lembaga  pemberi  dana  penelitian  harus  mempunyai  aplikasi/system  informasi  yang  mempu  menjangkau track  record  pengajuan  bantuan. 

Hal‐hal  yang  belum  dijelaskan  dalam  panduan  ini  akan  dijelaskan  dalam  ketentuan lainnya 

Ditetapkan di   : Jakarta 

Pada tanggal   :      Juni 2015   

Direktur Jenderal,   

   

(22)

Lampiran 1

RENCANA ANGGARAN BIAYA

No Jenis Kegiatan v f Sat Harga Jumlah

A Pra Kegiatan

Penyempurnaan Proposal a Honor Narasumber:

Penyempurnaan

penyusunan proposal

Penelitian

1 4 JPL 900.000

b Transportasi 1 1 Keg 110.000

c Konsumsi peserta diskusi 10 1 OA 35.000

B Pelaksanaan

Penyusunan Desain

Operasional Penelitian a Honor Narasumber:

Penyempurnaan

penyusunan proposal

Penelitian

1 4 JPL 900.000

b Transportasi 1 1 Keg 110.000

c Konsumsi peserta diskusi 10 1 OA 35.000

Uji instrument 20 1 Org 100.000

Pengumpulan Data

a Uang Harian, Penginapan, Transportasi

1 20 OH Sesuaikan

SBU Pengolahan Data

Penyusunan Laporan Konsinyering

C Pasca Pelaksanaan Expose Hasil penelitian

a Honor Narasumber b Transportasi c Konsumsi Peserta

D Bahan

(23)

Berangkat dari : (tempat kedudukan) Pada Tanggal :

Ke :

    a.n. Rektor/Ketua, 

      Ketua LP2M 

   

         

II. Tiba di : Berangkat dari :

Pada Tanggal : Ke :

Kepala : Pada tanggal :

Kepala :

III. Tiba di : Berangkat dari :

Pada Tanggal : Ke :

Kepala : Pada tanggal :

Kepala :

IV. Tiba di Jakarta Tgl, 24 Juni 2012 Telah diperiksa dengan keterangan bahwa perjalanan

(tempat kedudukan) tersebut di atas benar dilakukan atas perintahnya dan

semata-mata untuk kepentingan jabatan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Pejabat yang memberi perintah Pejabat yang memberi perintah

V. CATATAN LAIN-LAIN :

VI. PERHATIAN

Pejabat yang berwenang menerbitkan SPPD pegawai yang melakukan perjalanan dinas, para pejabat yang mengesahkan tanggal berangkat/tiba Bendaharawan yang bertanggung jawab berdasarkan peraturan-peraturan keuangan negara, apabila negara menderita rugi akibat kesalahan, kelalaian dan kealpaannya (angka 8 lampiran Surat Menteri Keuangan tanggal 30 April 1975 No. 296/MK/I/4/1975).

Lampiran 3

Lampiran 2: 

(24)
(25)

Referensi

Dokumen terkait

2951 Tahun 2017 tentang Pengelolaan BOPTN Penelitian pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam akan menyelenggarakan

IMPLEMENTASI SISTEM PENGENDALIAN INTERN COSO SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP GOOD UNIVERSITY GOVERNANCE PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM. UIN

Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Agama sebagai penyelenggara pendidikan keagamaan mengalokasikan bantuan melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi

Selasa 07.30-10.30 Online Based Multi Jaringan Sebagai Basis Penjaminan Mutu Antar Perguruan

Dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan peningkatan mutu penyelenggaraan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam akan menyelenggarakan

Perguruan Tinggi Agama [slam, Direktorat Pendidikan lfinggi Islarn akatt3. menyelenggarakan Sosialisasi cktn Luwrching Seleksi Penerimcutn l[ahruiswo

program studi yang berada di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islamb. Negeri (PTAIN) maupun

DAFTAR PESERTA WORKSHOP EVALUASI BEBAN KERJA DOSEN PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM (PTAI). DITJEN PENDIDIKAN