• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN PERATURAN PERUNDANG RINGKASAN PERATURAN PERUNDANGRINGKASAN PERATURAN PERUNDANG

RINGKASAN PERATURAN PERUNDANG----UNDANGAN BANK INDONESIAUNDANGAN BANK INDONESIAUNDANGAN BANK INDONESIAUNDANGAN BANK INDONESIA

Peraturan Peraturan Peraturan

Peraturan : Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/3/DPNP tanggal 27 Januari 2009 perihal Perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional dengan Menggunakan Pendekatan Indikator Dasar (PID)

Berlaku Berlaku Berlaku

Berlaku : Tanggal 27 Januari 2009

Ringkasan: Ringkasan: Ringkasan: Ringkasan:

1. Tujuan pengaturan ini adalah mendukung terwujudnya sistem perbankan yang sehat dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional, khususnya terkait struktur permodalan Bank agar mampu menyerap risiko yang dihadapi sesuai standar internasional yang berlaku. Oleh karena itu, risiko operasional merupakan salah satu risiko yang perlu diperhitungkan dalam perhitungan kecukupan modal selain risiko kredit, risiko pasar, dan risiko-risiko lainnya yang bersifat material.

2. Sesuai Pasal 31 PBI No.10/15/PBI/2008 tanggal 24 September 2008 tentang KPMM Bank Umum, Bank wajib memperhitungkan ATMR untuk Risiko Operasional dalam perhitungan KPMM dengan menggunakan :

a. Pendekatan Indikator Dasar (Basic Indocator Approach) b. Pendekatan Standar (Standardized Approach); dan/atau

c. Pendekatan yang lebih kompleks (Advanced Measurement Approaches) 3. Untuk penerapan tahap awal, perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional

wajib dilakukan dengan menggunakan Pendekatan Indikator Dasar (PID). 4. Perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional dengan menggunakan PID

dilakukan sebesar 12,5 x beban modal Risiko Operasional (adalah rata-rata dari penjumlahan Pendapatan Bruto (gross income) tahunan dari Januari sampai dengan Desember selama 3 tahun terakhir yang positif) dikali tarif yang berlaku.

5. Dalam rangka memberikan kesempatan bagi Bank dalam mempersiapkan penerapan ketentuan ini, BI memperpanjang masa transisi pemberlakuan kewajiban perhitungan beban modal risiko operasional yang semula direncanakan tahun 2009 menjadi diatur secara bertahap sebagai berikut:

(2)

b. sejak tanggal 1 Juli 2010 sampai dengan 31 Desember 2010, perhitungan beban modal Risiko Operasional ditetapkan sebesar 10% dari rata-rata pendapatan bruto positif tahunan selama tiga tahun terakhir;

c. sejak tanggal 1 Januari 2011, perhitungan beban modal Risiko Operasional ditetapkan sebesar 15% dari rata-rata pendapatan bruto positif tahunan selama tiga tahun terakhir;

6. Perhitungan beban modal Risiko Operasional dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

KPID = [ ∑(GI 1...n x α)] n Dengan keterangan sebagai berikut:

KPID = beban modal Risiko Operasional menggunakan PID GI = pendapatan bruto positif tahunan dalam tiga tahun terakhir n = jumlah tahun di mana pendapatan bruto positif

α = 5%, 10%, atau 15% sesuai ketentuan

7. Sebagai insentif bagi Bank yang melakukan merger/konsolidasi, Bank tidak diwajibkan untuk menghitung ATMR untuk Risiko Operasional sampai dengan akhir tahun setelah merger/konsolidasi. Untuk tahun berikutnya, bank wajib menghitung ATMR untuk Risiko Operasional dengan menggunakan pendapatan bruto yang diperoleh selama tahun awal setelah merger yang disetahunkan. Penagturan ini berlaku pula untuk Bank yang baru berdiri. 8. Untuk itu sejak berlakunya Surat Edaran ini Bank hendaknya melakukan

simulasi perhitungan KPMM dengan memasukkan perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional dan apabila terdapat kekurangan melakukan upaya-upaya pemenuhan ketentuan dimaksud.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk risiko operasional diusulkan kecukupan modal seharusnya lebih rendah dari yang diusulkan dalam Basel II, mengingat bank Islam tidak bertanggung jaw ab terhadap pemilik

Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005 tentang Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan serta Laporan

Laju inflasi tahunan Kota Palangka Raya dan Sampit pada triwulan III-2010. tercatat masing-masing sebesar 9,11% dan 7,59% meningkat

Definisi gross income, untuk menghitung capital charge risiko operasional, adalah Laba/Rugi sebelum pajak yang disesuaikan dengan. Memperhitungkan kembali seluruh

7/14/PBI/ 2005 telah menurunkan penempatan asing dalam transaksi swap dari rata- rata harian sebesar USD415 juta (Juni) menjadi hanya USD66 juta pada bulan Juli, bahkan posisinya

2009 sampai dengan data bulan Desember 2009 yang disampaikan pada bulan. Januari 2010 diatur sebagai

Tingkat bunga efektif tahunan ditetapkan sebesar BI Rate BI Rate yang berlaku pada hari yang sama dengan perhitungan bagian tertentu dari pemenuhan kewajiban GWM dalam rupiah

Perubahan Atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005 tentang Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan serta Laporan