STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan 1 ISSN 1978-3167 Vol V No 2 September 2012
JURNAL
ILMIAH
KESEHATAN
(JIK)
Penerbit:
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan 2
SUSUNAN REDAKSI
Penasehat
Mokhammad Arifin, SKp.MKep
Pimpinan Redaksi
Milatun Khanifah, SST
Penyunting
Siti Khuzaiyah, SST
Kontributor
Mokhammad Arifin, SKp. Mkep Emi Nurlaela, SKp.MKep.Sp.Mat Yuni Sandra, Skep. Ns
Firman Faradisi, Skep. Ns Wahyu Ersila, SST
Distribusi
Halim Indra Kusuma, S.Kom
Keuangan
Yanuarti Nugrahaningsih, SE
Alamat Redaksi:
LPPM STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan
d/a Kampus II, Jl.Raya Ambokembang No.8 Kedungwuni Pekalongan telp (0285) 785179 Fax (0285) 785555
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan 3
PENGANTAR REDAKSI
Assalaamualikum Wr. Wb
Ba`da salam semoga Rahmat dan Hidayah Allah senantiasa terlimpah atas kita semua. Shalawat serta salam senantiasa kita panjatkan kepada Rasulullah SAW yang senantiasa kita nantikan Syafaatnya kelakdi Yaumil akhir. Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Muhammadiyah Pekajangan berhasil menerbitkan kembali jurnal ilmiah kesehatan (JIK).
Ucapan terimakasih kami haturkan kepada STIKES Muhamadiyah Pekajangan yang telah memberikan dukungan secara maksimal sehingga jurnal ini dapat terbit. Terimaksih juga kami sampaikan kepada segenap penulis yang telah menyumbangkan tulisannya. Tidak lupa kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya jika dalam penyusunan JIK ini masih banyak kekurangan. Kami mengaharapkan adanya kritikan dan saran yang membangun dari pembaca.
Kami berharap jurnal ini dapat bermanfaat, baik bermanfaat bagi STIKES Muhammadiyah Pekajangan pada khususnya, serta bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Pekajangan, September 2012 Pimpinan Redaksi
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan 4
Daftar Isi
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan 5
Rancangan Instrumen Deteksi Dini Gangguan Jiwa untuk Kader dan Masyarakat di Kabupaten Pekalongan
Mokhamad Arifin
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Prodi DIII Keperawatan, Jl.Raya Ambokembang No.8 Kedungwuni Pekalongan Indonesia
Telepon +6281391723670 Email: [email protected]
Kasus gangguan jiwa masih menjadi stigma di masyarakat sehingga perlu partisipasi semua pihak dalam mengatasi masalah ini khususnya dalam mensukseskan program “Jawa Tengah Bebas Pasung Tahun 2012”. Kader kesehatan merupakan salah satu elemen penting yang diharapkan dapat membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan derajat masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh instrument yang dapat membantu kader dalam mendeteksi secara dini kasus gangguan jiwa di masyarakat/lingkungan dimana dia tinggal. Instument awal yang dibuat peneliti di ujikan pada pada kelompok sampel yang berbeda yaitu kader di wilayah Puskesmas Kedungwuni II, Talun, Bojong Kabupaten Pekalongan masing-masing 30 responden yang kemudian dilakukan uji valitas dan reliablitas. Dengan nilai r tabel (Pearson Product Momment) dengan level of significant 0,05, r tabel pada df-2 = 0,306. Dari 30 item pertanyaan yang dibuat peneliti pada penelitian tahap I (Puskesmas Kedungwuni II) terdapat 7 item yang tidak valid yaitu item nomor 1 (0,297), 3 (0,269), 12 (0,257), 13 (0,214), 14 (O,146), 15 (0,292). Pada peneltian tahap II (Puskesmas Talun) dengan 23 item pertanyaan yang tidak valid hanya 1 nomor yaitu no. 13 (0,280) dan pada penelitian tahap III (Bojong) dengan 22 item pertanyaan dari analisis semuanya dinyatakan valid dan reliable. Dengan adanya instrumen deteksi dini ini diharapkan kader dapat segera melaporkan kepada petugas kesehatan atau pusat pelayanan kesehatan terdekat bila diketahui ada anggota masyarakat yang mengalami gangguan jiwa untuk kemudian dapat segera dilakukan tindak lanjut oleh pihak terkait.
Kata Kunci : Rancangan Intrumen, deteksi dini, gangguan jiwa, Kader
PENDAHULUAN
“Add life to the years, Add
health to life, and add Years to life” demikian slogan Departemen Kesehatan RI yang artinya “meningkatkan mutu kehidupan, meningkatkan kesehatan, dan memperpanjang usia”. Pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan 6 WHO mengatakan seseorang
dikatakan sehat yaitu sehat dari bio, psiko, sosio, dan spiritual. WHO (2000) juga menyebutkan bahwa 25% penduduk dunia mengalami gaangguan mental dan priulaku, dan hanya 40% yang terdiagnosis. Data lain meyebutkan bahwa prevalensi bunuh diri di Indonesia adalah 1,6-1,8 per 100.000 penduduk. Banyak faktor yang menyebabkan penderita gangguan jiwa berat, namun yang sering terlupakan adalah dampak akibat dari gangguan jiwa yaitu “dissabily” ketidakmampuan seseorang melakukan pekerjaanya karena menurut penelitian Bank Dunia beban yang ditanggung karenan gannguan jiwa adalah 8,1 % diatas penyakit
TBC, kanker, jantung yang semesnya mendapat perhatian yang serius. Sayangnya, pelayanan kesehatan untuk penderita gangguan jiwa belum optimal. Tidak semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa dan hanya terdapat 500 dokter spesialis jiwa yang setengahnyanya bekerja di Jakarta.(Damayanti, 2007).
Di Rumah Sakit Jiwa banyak penderita jiwa yang ditelantarkan keluarganya dikarenakan keluarga tidak tahu bagaimana cara mengatasi kondisi keluarga saat di rumah keluarga hanya mampu memberikan obat itupun kadang putus obat hal ini dapat menyebabkan penderita gangguan jiwa dapat terjadi kekambuhan.
Prevalensi nasional gangguan jiwa berat adalah 0,3 persen. Penderita gangguan jiwa berat paling banyak di Jakarta. Jumlahnya lebih tinggi dari angka prevalensi nasional yaitu 0,46 persen
(Viora, 2007) jumlah tersebut berdasarkan riset kesehatan dasar di 478 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia tahun 2007. Dari riset tersebut dikelompokkan 2 jenis gangguan jiwa, yaitu gangguan mental emosional atau psikosomatik yang prevalensinya 11,6 persen dari penduduk di atas usia 15 tahun. Gangguan jiwa jenis ini, jumlah penderita paling banyak di Jawa Barat (20 persen), diikuti Sumatera Barat, Aceh, dan Gorontalo.
Data di Kabupaten Pekalongan menunjukkan jumlah yang cukup besar yaitu Psikotik (gangguan jiwa berat) pada tahun 2011 sebanyak 622, Neurosis (gangguan jiwa ringan) sebanyak 899, Epilepsi sebanyak 125, Keterbelakangan mental 67 kasus. Dari obeservasi di lapangan masih dijumpai kasus gangguan jiwa berat yang ada belum mendapat penanganan optimal bahkan yang dalam kondisi “dipasung”. Menurut laporan Dinkes Kab. Pekalongan (2011) Setiap puskesmas sudah ada penanggungjwab program kesehatan jiwa dan sudah melakukan kegiatan berupa pelatihan penagangan kesehatan jiwa bagi petugas kesehatan bagi petugas kesehatan, kader, pelayanan Mobil Unit Kesehatan Jiwa
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan 7 sederhana untuk membantu kader
mengenali kasus gangguan jiwa khususnya yang berat untuk kemudian mengambil tindakan yang tepat untuk penangananya. Hal ini dikarenakan rendahnya pengetahuan tentang kesehatan jiwa dan masih ada stigma dimasyarakat dimana masyarakat banyak mempunyai penilaian negatif tetang gangguan jiwa sehingga banyak kasus gangguan jiwa yang justru disembunyikan atau dibiarkan tampa penanganan.
Penelitian ini ingin mendapatkan instrumen sederhana deteksi kasus kejiwaan sehingga kader dapat mengenali gejala gangguan jiwa dan kemudian dapat melaporkan pada tenaga kesehatan atau puskesmas terdekat di wilayahnya untuk kemudian keluarga pasien akan berobat jalan di puskesmas/rumah sakit umum atau dirujuk ke RS Jiwa. Tujuan penelitian ini Diperolehnya rancangan instrumen deteksi kasus gangguan jiwa untuk kader dan masyarakat yang teruji validitasnya.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
di Wilayah Kabupaten Pekalongan
Emi Nurlaela
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan
Jl.Raya Ambokembang No.8 Kedungwuni Pekalongan Indonesia Telepon +6281391723670 Email: [email protected]
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran dukungan keluarga dalam
meningkatkan kesehatan anggota keluarganya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan metode pengumpulan data studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan adanya dukungan keluarga terhadap anggota keluarga yang memberikan air susu ibu, keluarga yang memiliki anggota keluarga lanjut usia, keluarga menghadapi anggota keluarganya yang menopause. Hasil penelitian menunjukkan keluarga yang tidak malas mendengarkan keluhan anggota keluarganya yang mengalami masalah kesehatan 34 %, sedangkan 12 % keluarga selalu tidak malas mendengarkan keluhan. Keluarga menyatakan mau selalu membantu mengatasi keluhan 20 %, sedang 16 % keluarga tidak pernah menyatakan mau membantu mengatasi keluhan. Keluarga yang selalu memperhatikan tanda gejala masalah atau penyimpangan kesehatan anggota keluarganya 22 %, sedangkan 38 % keluarga tidak pernah memperhatikan tanda gejala penyimpangan kesehatan yang dirasakan oleh anggota keluarga. Keluarga yang selalu mengingatkan untuk melakukan tindakan yang bertujuan mengurangi keluhan 18%, sedangkan 24 % keluarga tidak pernah melakukannnya. Keluarga yang selalu tidak mengingatkan untuk menghindari kebiasaan buruk yang mempengaruhi kesehatan 12%, sedangkan 26% tidak pernah tidak mengingatkan untuk menghindari kebiasaan buruk. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan keluarga masih kurang kurang dirasakan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk tetap melibatkan keluarga dalam pengelolaan asuhan, keterlibatan keluarga didasarkan bukan untuk melepaskan tugas dan tanggung jawab petugas kesehatan namun menitik beratkan pada dukungan emosional, penghargaan, informasional, dan instrumental dalam meningkatkan kesehatan anggota keluarganya.
Kata Kunci : Dukungan, Keluarga, Sehat
PENDAHULUAN
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Kesehatan masyarakat tergantung dari kesehatan keluarga yang berada di masyarakat tersebut. Pada kondisi dimana salah satu anggota keluarga sakit maka keluarga dan masyarakat sekitar mengalami dampak langsung maupun tidak langsung dirasakan (Friedman 1998, h.176).
Keluarga berasal dari kumpulan individu yang terikat atas dasar perkawinan ataupun dasar ikatan lainnya yang saling berinteraksi dengan
berkomunikasi diantara mereka. Keluarga memilki berbagai macam bentuk diantaranya keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak; keluarga ekstended yang merupakan keluarga besar; keluarga dyad yaitu keluarga tanpa anak; single family atapun keluarga; dan single adult yang terdiri dari satu orang dewasa (Achjar, 2010.h.4).
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Keluarga baru atau pemula yang
terciptakan tersebut masih dipengaruhi oleh keluarga sebelumnya apabila hidup dalam satu rumah ataupun berdekatan rumah. Pengaruh yang ditimbulkannya dapat positif atapun sebaliknya. Salah satu fungsi keluarga adalah memberikan dukungan terhadap anggotanya. Pengaruh yang diberikan dari lingkungan sekitar keluarga tersebut dapat menjadikan suatu dukungan agar suatu kegiatan yang dijalankan berhasil namun adapula pengaruh negatif berupa penolakan yang menjadikan hambatan terhadap keberhasilan tindakan dilakukan (Niven, Neil 2002, h.197).
Dukungan keluarga terhadap anggota keluarganya yang sedang sakit ataupun memerlukan peningkatan kesehatan sangat diperlukan. Dari anggota keluarga yang paling kecil sampai anggota keluarga yang paling besar dalam artian sudah lanjut usia, semua membutuhkan dukungan keluarga. Dukungan berupa pemberian informasi, pemberian instrumen yang mendukung penyembuhan, pemberian perhatian dan kasih sayang, serta pemberian penilaian penghargaan atas upaya yang telah dilakukan oleh anggota keluarga yang sakit. Dukungan sosial keluarga sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi seperti kecemasan, kepatuhan minum obat, kepatuhan dalam program diet (Niven, Neil 2002, h.197).
Adanya dukungan terhadap anggota keluarga yang sakit ataupun anggota keluarga yang memerlukan peningkatan kesehatannya, bukan berarti memberikan suatu kondisi ketergantungan total dengan anggota keluarga yang lain, namun dukungan keluarga diberikan pada beberapa aktivitas yang tidak dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harapan aktivitas secara bertahap dapat dilakuka.
Kurangnya dukungan keluarga terhadap anggota keluarganya, memberikan dampak terhadap motivasi atau dorongan untuk sembuh dari penyakit
kurang dirasakan. Motivasi untuk sembuh dari suatu penyakit dapat berasal dari diri sendiri dan dapat pula dorongan atau motivasi untuk sembuh berasal dari luar individu tersebut. Kedua sumber motivasi tersebut saling mendukung, mengingat motivasi yang hanya berasal dari diri sendiri menjadi lemah apabila tidak didukung oleh motivasi dari luar seperti motivasi atau dorongan dukungan dari keluarga. Seseorang yang kurang mendapat dukungan dapat mengalami depresi bahkan adanya upaya untuk bunuh diri, karena merasa kurang diperhatikan, merasa sendiri dalam hidup, merasa tidak dibutuhkan dan sebagainya.
Bagaimana gambaran dukungan keluarga terhadap anggota keluarganya agar penyembuhan penyakit cepat tercapai dan kesehatan dapat ditingkatkan, hal inilah yang perlu dikaji melalui suatu pendekatan ilmiah penelitian. Dengan melihat ada tidaknya dukungan diberikan menjadi dasar untuk perbaikan pengelolaan asuhan kesehatan pada pasien yang berasal suatu keluarga, melibatkan keluarga dalam pemberian asuhan walaupun sudah ada petugas kesehatan yang merawat. Memperbaiki persepsi yang salah mengenai bila dukungan diberikan maka tidak adanya upaya mandiri yang dilakukan oleh keluarga yang sakit.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Penelitian yang dilakukan ini adalah
penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan data dalam penelitian yaitu dengan kuesioner dan studi dokument. Sampel penelitian ini adalah keluarga dengan berbagai masalah kesehatan diantaranya masalah pemberian air susu ibu secara eksklusif, keluarga dengan masalah kemandirian lansia, keluarga dengan masalah reproduksi wanita berupa menopause. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 50 orang. Penelitian telah dilaksanakan di Kabupaten Pekalongan pada bulan Januari.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian terkait dengan dukungan keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif berupa dukungan informasional dan dukungan instrumental. Dukungan instrumental berupa membelikan jamu atau susu untuk memperlancar air susu ibu. Sedangkan dukungan informasional berupa informasi mengenai makanan yang baik untuk memperlancar air susu ibu. Informasi mengenai cara mengatasi masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan menyusui bayinya seperti puting susu lecet, payudara bengkak. Hasil penelitian tersebut keluarga yang mendapat dukungan keluarga informasional sebanyak 60 %, dimana anggota keluarga yang memberikan dukungan berlatar belakang pendidikan kesehatan, 20 % keluarga mempunyai anggota keluarga yang masih sekolah di kesehatan dan 40 % sebagai tenaga kesehatan. Hasil penelitian terkait pemberian ASI eksklusif tidak ada yang murni mendapat dukungan informasional dari anggota keluarga yang bukan berlatar belakang pendidikan kesehatan. Sedangkan dukungan instrumental dari lima partisipan yang mendapat mendapat dukungan dari suami sebanyak dua orang partisipan yaitu dengan membelikan jamu dan membelikanSTIKES Muhammadiyah Pekajangan dukungan dari keluarga, berbagai faktor
yang mungkin menjadi penyebab kurangnya dukungan keluarga diantaranya keluarga mempunyai persepsi tidak perlunya suatu dukungan diberikan, keluarga dengan kesibukan pekerjaan sehingga kurang bisa memberikan dukungan.
SIMPULAN
Pengelolaan asuhan pasien memerlukan keterlibatan keluarga. Keluarga dapat dilibatkan dalam mendukung upaya pemenuhan ASI eksklusif. Untuk mencegah kecemasan pada Wanita Menopause dan meningkatkan Kemandirian lansia memerlukan juga dukungan dari keluarga.
Keikutsertaan atau keterlibatan keluarga dalam pengelolaan asuhan pasien jangan dijadikan suatu upaya untuk melepaskan tugas dan tanggung jawab pengelolaan. Identifikasi terhadap intoleransi aktivitas pasien diperlukan untuk memastikan aktivitas yang memerlukan bantuan pertolongan oleh keluarga maupun tenaga kesehatan
ACKNOWLEDGEMENT
(PERSANTUNAN)
Persantunan kami ucapkan terhadap beberapa orang diantaranya adalah : Sugiarti, Fina (2010) Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kemandirian Lansia (Elderly) Dalam Aktivitas Dasar Sehari-hari Di Kelurahan Jenggot Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan ; Afriani, Nur Iza (2011) Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Wanita Usia 45-50 tahun Menghadapi Menopause di Desa Kesesi Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan; Marlia, Eka (2011) Pengalaman Ibu memberikan ASI Eksklusif Di wilayah Kabupaten Pekalongan
DAFTAR PUSTAKA
Buku Sumber
Achjar, Komang Ayu Henny (2010) Asuhan Keperawatan Keluarga. Cetakan I. CV Sagung Seto. Jakarta Sudarto, Asuhan Keperawatan Keluarga,
dengan pendekatan keperawatan Transkultural , cetakan I, EGC, Jakarta
Niven, Neil (2002), Psikologi Kesehatan, Pengantar untuk Perawat & Profesional Kesehatan lain , Cetakan I, EGC, Jakarta
Journal Penelitian
Roustit, Christelle. Campoy, Eric. Renahy, Emilie. King, Gary. Parizot, Isabelle. Chuvin, Pierre. (2011). Family Social Environment In Childhood and Self-Rate Health In Positive or Negative Experiences of Social Support Relate to Current and Future Helath? Resulths from the Doentinchem Cohort Study
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
Penurunan Tingkat Kecemasan Anak Rawat Inap dengan Permainan
Hospital Story di RSUD Kraton Pekalongan Yuni Sandra Pratiwi
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Prodi DIII Keperawatan, Jl.Raya Ambokembang No.8 Kedungwuni Pekalongan Indonesia
Telepon +6281390099917 Email: [email protected]
Abstract: Sick and hospitalisation were stressors that could caused anxiety of child. One of treatment to reduce the anxiety of child was play therapy, especially hospital story, i.e., told story to child used pictured book about hospital schedules and its routinities, care givers, and answered child’s questions about hospital. This study was animed to know the effect of hospital story toward anxiety of the 6-8 years old child. This study experimental quasi. A questionnaire was used to collect the data. The sample taken with purposive sampling approach. Wilcoxon statistic analysis was used to know the effect of hospital story toward anxiety of the 6-8 years oldd child. The result of Wilcoxon statistic analysis got Z scores was – 4,596 and p-value was 0,000 (p<0,05); it could be concluded that hospital story had a significant effect toward anxiety of the 6-8 years old child.
Keyword: anxiety, child, hospital story
Abstrak: Kondisi sakit dan hospitalisasi merupakan stressor yang dapat
menyebabkan kecemasan pada anak. Salah satu tindakan untuk menurunkan kecemasan tersebut adalah terapi bermain, khususnya hospital story, yaitu bercerita kepada anak menggunakan buku bergambar tentang rutinitas dan jadwal rumah sakit, pemberi pelayanan (tim kesehatan), dan menjawab pertanyaan yang diajukan anak tentang rumah sakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh hospital story terhadap kecemasan anak usia 6-8 tahun. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Penentuan sampel dengan purposive sampling. Uji statistik wilcoxon digunakan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain hospital story terhadap kecemasan anak usia 6-8 tahun. Hasil uji statistik wilcoxon diperoleh skor Z = - 4,596 dan nilai p = 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara terapi bermain hospital story terhadap penurunan kecemasan anak usia 6-8 tahun.
Kata kunci : kecemasan, anak, hospital story
PENDAHULUAN
Perawatan anak di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stress, baik bagi anak maupun orang tua. Beberapa bukti ilmiah menunjukan bahwa lingkungan rumah sakit itu sendiri merupakan penyebab stress bagi anak dan orang tuanya, baik
lingkungan fisik rumah sakit seperti bangunan atau ruang rawat, alat-alat, bau yang khas, pakaian putih petugas kesehatan maupun lingkungan sosial, seperti sesama pasien anak, ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu sendiri. (Yupi Supartini, 2004)
STIKES Muhammadiyah Pekajangan mempengaruhi kondisi psikologis
seorang anak, yang pada tingkat tertentu dapat menyebabkan seorang anak jatuh pada kondisi kecemasan, baik cemas sedang, berat maupun panik. (Budi Ana Keliat, 2006)
Respon kecemasan anak usia 6-8 tahun terkait hospitalisasi umumnya sudah muncul ketika anak baru pertama kali datang untuk dirawat di rumah sakit, menjerit-jerit saat sedang menangis dan tidak mau didekati, mencari-cari orang tua, menangis ketika orang tua meningalkan ruangan untuk suatu keperluan, menolak dan bahkan menyuruh pergi orang lain yang di anggapnya asing, selalu ingin ditemani dan menolak ditemani orang lain, tidak mau beraktivitas dan cenderung tidur-tiduran saja, tidak menunjukan minat atau rasa antusias, terlihat murung tidak acuh terhadap lingkungan, dan menunjukan perilaku yang tidak biasa dilakukannya misalnya: mengompol, menghisap ibu jari, mengeluarkan air liur. (3) Hal ini tidak hanya disebabkan oleh kondisi sakit yang dideritanya, namun juga dikarenakan persepsi negatif anak terhadap rumah sakit. Sehingga perlu suatu aktivitas bermain yang dapat mengurangi persepsi negatif tersebut. (Hart, 1999)
Hasil observasi yang dilakukan di RSUD Kraton Pekalongan selama tahun 2007, jumlah anak yang dirawat di Ruang Anak rata- rata perhari 30 orang dari 33 kapasitas tempat tidur yang tersedia. Jumlah tersebut hampir 50 % (15 orang) menunjukkan respon gelisah, cengeng, regresi, sulit makan, sulit tidur, dan tidak
kooperatif, terutama pada kelompok usia 6-8 tahun.
Terapi bermain adalah suatu aktivitas bermain yang dijadikan sarana untuk menstimulasi perkembangan anak, mendukung proses penyembuhan dan membantu anak lebih kooperatif dalam program pengobatan serta perawatan. Aktivitas bermain yang diberikan meliputi admission activities, aktivitas mengenal citra tubuh, interaksi kelompok, ekspresi seni, stimulasi harga diri, ekspresi diri, penurunan ketegangan, aktivitas untuk isolasi dan imobilisasi, aktivitas perawatan kesehatan dan kegiatan hidup sehari-hari, permainan pernafasan, persepsi-motor, dan manajemen nyeri. ( Hart, 1999)
Terapi bermain merupakan salah satu teknik yang akan membantu penurunan ketegangan emosional yang dirasakan anak. Secara bertahap respon psikis maupun fisiologis kecemasan akan berkurang dan kepercayaan diri anak akan berkembang optimal pula.(Hart, 1999)
Hospital Story adalah suatu aktivitas bermain dengan menceritakan semua hal yang berkaitan dengan rumah sakit, khususnya tentang rutinitas kegiatan, mengenal tim kesehatan, dan prosedur pengobatan, melalui media buku cerita bergambar. Hospital Story termasuk aktivitas bermain admission activities, yaitu aktivitas bermain yang dilakukan segera setelah anak datang ke rumah sakit. (Hart, 1999)
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Hal inilah yang
mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang pengaruh terapi bermain hospital story terhadap kecemasan anak usia 6-8 tahun yang dirawat di ruang perawatan anak RSUD Kraton Pekalongan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi bermain hospital story terhadap kecemasan anak usia 6-8 tahun yang dirawat di ruang perawatan anak RSUD Kraton Pekalongan.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimen karena mengukur kecemasan anak usia 6-8 tahun (menggunakan kuesioner) sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain hospital story terhadap orang tua dari anak yang akan diteliti sebanyak 28 orang. Kemudian dilakukan perlakuan terapi bermain hospital story terhadap anak yang diteliti.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari, variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini sebagai variabel independen adalah
Terapi Bermain Hospital Story dan variabel dependen adalah Kecemasan Anak Usia 6-8 Tahun.
Pengumpulan data pada penelitian ini adalah kuesioner. Istrumen yang digunakan adalah kuesioner, buku cerita rumah sakit bergambar, kertas, krayon / pensil warna dan pensil.
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah menggunakan uji statistik wilcoxon yang digunakan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain hospital story terhadap kecemasan anak.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Kecemasan Anak
1. Kecemasan Anak Sebelum
Terapi Bermain Hospital Story
Sebelum dilakukan terapi bermain hospital story sebagian besar anak atau 60,7% (17 anak) mengalami kecemasan sedang, 39,3% (11 anak) mengalami kecemasan berat dan tidak ada anak yang mengalami kecemasan ringan seperti tampak pada tabel (tabel
2. Kecemasan Anak Sesudah
Terapi Bermain Hospital Story
Sesudah dilakukan terapi bermain hospital story sebagian besar anak atau 57,1% (16 anak)
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
No Nilai Rerata (mean) Z p
Sebelum Sesudah Selisih
1 9,96 6,46 3,5 -4,596 0,000
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Anak Sesudah Terapi
Bermain Hospital Story Di Ruang Anak RSUD Kraton Pekalongan
No Tingkat Kecemasan Frekuensi Persentase (%)
1 Ringan 12 42,9
2 Sedang 16 57,1
3 Berat 0 0,0
Total 28 100
Perubahan Kecemasan Anak
Sebelum dan Sesudah Terapi
Bermain Hospital Story
1. Perubahan Kecemasan Anak Sebelum dan Sesudah Terapi Terjadi perubahan respon kecemasan anak sesudah
dilakukan terapi bermain hospital story.
Sebagian besar anak atau 82,2% (23 anak) mengalami
penurunan tingkat kecemasan, dan 17,8% (5 anak) tidak menunjukan penurunan tingkat kecemasan seperti pada tabel (tabel 3).
Tabel 3. Perubahan Respon Kecemasan Anak Sebelum Dan Sesudah
Terapi Bermain Hospital Story Di Ruang Anak RSUD Kraton
Pekalongan
No Perubahan Respon Kecemasan Anak
Frekuensi Persentase (%)
1 Tetap 5 17,8
2 Turun 23 82,2
Total 28 100
2. Perubahan Rerata (mean) Kecemasan Anak Sebelum Dan Sesudah Terapi
Uji statistik Wilcoxon pada data responden kecemasan anak sebelum dan sesudah terapi bermain hospital story, diperoleh skor Z = - 4,596 dengan nilai p = 0,000 (p<0,05)
artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara pengukuran sebelum dan sesudah terapi bermain hospital story atau dengan kata lain terdapat pengaruh terapi bermain hospital story terhadap penurunan kecemasan anak seperti pada tabel (tabel 4).
Tabel 4. Perubahan Rerata (mean) Kecemasan Anak Sebelum dan
Sesudah Terapi Bermain Hospital Story Di Ruang Anak RSUD
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
PEMBAHASAN
A. Tingkat Kecemasan Anak
Sebelum Terapi Bermain
Hospital Story
Hasil penelitian sebelum dilakukan terapi bermain hospital story 17 anak (60,7%) mengalami kecemasan sedang, dan 11 anak (39,3%) mengalami kecemasan berat. Namun tidak ada satupun anak yang menunjukan kecemasan ringan.
Hal ini menggambarkan bahwa responden mengalami kecemasan akibat hospitalisasi yang dibuktikan dengan menunjukan minimal 5 respon kecemasan yang diobservasi dalam kuesioner, seperti : 24 orang tua dari anak yang diteliti mengatakan anaknya menangis, 17 orang tua dari anak yang diteliti mengatakan anaknya menjerit-jerit, 15 orang tua dari anak yang diteliti mengatakan anaknya murung, 20 orang tua dari anak yang diteliti mengatakan anaknya tidak acuh terhadap lingkungan, 20 orang tua dari anak yang diteliti mengatakan anaknya tidak mau didekati orang asing, dan menolak tindakan pengobatan atau perawatan. Keadaan tersebut sejalan dengan pendapat Wong bahwa respon kecemasan anak akibat hospitalisasi lebih didominasi oleh respon kecemasan perpisahan (separation anxiety). Respon ini terjadi akibat anak harus berpisah dengan teman dan orang terdekatnya. Perilaku yang muncul diantaranya anak menangis ketika pertama kali dirawat di rumah sakit,
menjerit-jerit saat sedang menangis dan tidak mau didekati, mencari-cari orang tua, menangis ketika orang tua meninggalkan ruangan untuk suatu keperluan, menolak dan bahkan menyuruh pergi orang lain yang dianggapnya asing, selalu ingin ditemani dan menolak ditemani orang lain, tidak mau beraktivitas dan cenderung tidur-tiduran saja, tidak menunjukan minat atau rasa antusias, terlihat murung, tidak acuh terhadap lingkungan, dan menunjukan perilaku yang tidak biasa dilakukannya (misalnya: mengompol, menghisap ibu jari, dan mengeluarkan air liur). (Donna L Wong, 2003)
STIKES Muhammadiyah Pekajangan lebih keras). (Donna L Wong,
2003)
B. Tingkat Kecemasan Anak
Sesudah Terapi Bermain
Hospital Story
Setelah dilakukan terapi bermain hospital story responden penelitian tidak ada yang menunjukan kecemasan berat, 16 anak menunjukan kecemasan sedang dan 11 anak menunjukan kecemasan ringan. Secara keseluruhan terjadi kecenderungan penurunan respon kecemasan anak antara sebelum dan sesudah terapi bermain hospital story. Namun masih ada 5 anak yang tidak menunjukan penurunan respon kecemasan. Ini terjadi karena kecemasan dipengaruhi pula oleh kondisi penyakit yang diderita anak.
Anak usia 6-8 tahun dalam perkembangan psikologis menurut Jean Peaget masuk di dalam kongkrit operasional dimana anak sudah mulai dapat berfikir logis, terarah, dapat memilih, menggolongkan, mampu berfikir dari sudut pandang orang lain dan dapat mengatasi persoalan dengan konkret, dengan sistematis, menurut persepsinya. Sehingga, secara bertahap respon pesikis maupun fisiologis kecemasan akan berkurang dan kepercayaan diri anak akan berkembang optimal pula. Anak tidak lagi menjerit-jerit saat sedang menangis, mau ditemani oleh orang lain, mau beraktivitas, tidak acuh terhadap lingkungan, tidak menunjukan perilaku yang tidak biasa dilakukanya
(misalnya : mengompol, menghisap ibu jari, mengeluarkan air liur), tidak menolak ketika perawat atau dokter melakukan tindakan keperawatan pada dirinya, dan tidak menangis ketika ada keinginanya yang tidak terpenuhi. (Utaminingsih,2006)
Menurut Suliswati, terdapat beberapa faktor yang dapat mencetuskan kecemasan pada anak, diantaranya hospitalisasi yang diakibatkan perubahan status kesehatan anak, dimana kondisi sakit tertentu mengharuskan anak untuk dirawat di rumah sakit. Hal ini selalu menimbulkan respon cemas pada anak, karena anak harus menghadapi kondisi sakitnya, perubahan lingkungan, dan perpisahan dengan teman serta orang-orang terdekatnya. Kecemasan anak yang yang dirawat di rumah sakit ditanggulangi secara lintas disiplin dengan melibatkan berbagai modalitas terapi meliputi: terapi lingkungan, terapi relaksasi, dan terapi bermain, khususnya hospital story. (Hart, 1999)
C. Pengaruh Terapi Bermain
Hospital Story Terhadap
Kecemasan Anak.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan dapat diartikan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran kecemasan anak sebelum dilakukan terapi bermain hospital story dengan hasil sesudah diberikan terapi bermain hospital story. Sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara terapi bermain hospital story terhadap kecemasan anak.
Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa terapi bermain, khususnya hospital story, juga membantu anak beradaptasi dengan lingkungan dan rutinitas rumah sakit, sehingga anak yang awalnya stress dan cemas menjadi lebih rileks dan kooperatif. (Hart, 1999)
Hospital story adalah suatu aktivitas bermain yang bertujuan memberikan informasi tentang rumah sakit kepada anak dengan mengorientasikan anak terhadap rutinitas dan jadwal rumah sakit, mengidentifikasi pemberi layanan (tim kesehatan) diruang anak, menjawab pertanyaan yang diajukan anak tentang rumah sakit. Aktivitas
tersebut bertujuan
mengorientasikan anak terhadap lingkungan rumah sakit, terutama orientasi personal dan tempat, sehingga anak lebih mengenal lingkungan rumah sakit, kegiatan, rutinitas dan orang-orang yang terlibat dalam mengobati dan merawat dirinya. Perkenalan anak terhadap lingkungan rumah sakit dapat memperluas lapang persepsi anak bahwa rumah sakit bukan lingkungan yang mengancam dan
membahayakan dirinya. Anak merasa lebih aman, sehingga menunjukan penurunan respon kecemasan. (Hart,1999)
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terapi bermain hospital story memiliki pengaruh yang signifikan untuk menurunkan respon kecemasan anak akibat hospitalisasi. Hal ini sejalan dengan penelitian-penelitian sejenis tentang terapi bermain. Menurut penelitian Gariapy yang dilakukan di Quebec Canada dengan 22 responden menggunakan case control study, diperoleh hasil bahwa terapi bermain sangat efektif mengurangi stress pada anak akibat hospitalisasi dan mampu meningkatkan mood anak. Menurut penelitian Veja terapi bermain juga efektif untuk dipergunakan sebagai terapi modalitas untuk mempertahankan perkembangan anak yang menjalani hospitalisasi. Penelitian Utaminingsih di RSU Gresik dengan 24 responden, diperoleh hasil bahwa terapi bermain (games) sangat efektif untuk meningkatkan tingkat adaptasi psikologis anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit tersebut.
SIMPULAN
STIKES Muhammadiyah Pekajangan terhadap penurunan kecemasan anak
yang dirawat di Ruang Anak RSUD Kraton Pekalongan.
DAFTAR PUSTAKA
Budi Anna Keliat, (2006), Modul Model Keperawatan Profesional Jiwa, Jakarta: EGC.
Hart, (1999), Therapeutic Play Activities For Hospital Children, St. Louis : Mosby-Year Book Inc.
Setiadi, (2007), Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan, Yogyakarta : Graha Ilmu. Utaminingsih, (2006), Pengaruh
Terapi Bermain:Games Terhadap Tingkat Adaptasi Psikologis Anak Usia Sekolah di Ruang Anggrek RSU Kabupaten Gresik, http : / www.jiptunair.lib.ac.ad/gdl-s1-2006-utaminingsih.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
Efektivitas Terapi Murotal dan Terapi Musik Klasik terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Operasi di Pekalongan
Firman Faradisi
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Prodi DIII Keperawatan, Jl.Raya Ambokembang No.8 Kedungwuni Pekalongan Indonesia
Telepon +6285742320556 Email: [email protected]
Abstrak: Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh tekanan dan kebanyakan diakibatkan kecelakaan lalulintas. Banyak pasien yang mengalami kecemasan sebelum operasi. Kini telah dikembangkan terapi untuk menangani kecemasan, diantaranya adalah terapi musik dan terapi murotal untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan efektivitas pada kedua terapi dalam menurunkan kecemasan. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperiment, tipe pre test and post test design. Sample penelitian adalah pasien fraktur ekstremitas di RSI Muhammadiyah Pekajangan. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Tehnik pengambilan data dengan cara observasi dan wawancara. Analisa data menggunakan uji t-dependent (paired sample t test). Hasil pengkajian sebelum diberikan terapi sebagian besar pasien mengalami cemas sedang. Uji beda tingkat kecemasan dengan terapi musik diperoleh nilai thitung sebesar 8,887 (p = 0,000 < 0,05) sehingga H0 ditolak. Artinya pemberian terapi musik efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien. Uji beda tingkat kecemasan dengan terapi murotal diperoleh nilai thitung sebesar 10,920 (p = 0,000 < 0,05) sehingga H0 ditolak artinya pemberian terapi murotal efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien. Uji beda tingkat kecemasan dengan terapi musik dan murotal diperoleh nilai thitung sebesar 2,946 (p = 0,000 < 0,05) sehingga H0 ditolak artinya pemberian terapi murotal lebih efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien dibandingkan dengan terapi musik.
Kata Kunci: Fraktur, operasi, kecemasan, terapi musik, terapi murotal
PENDAHULUAN
Kecelakaan lalulintas sering kali terjadi di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Menurut data kepolisian Republik Indonesia tahun 2003, jumlah kecelakaan di jalan mencapai 13.399 kasus. Kasus itu menyebabkan kematian pada 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat dan 8.694 luka ringan dan diperkirakan tiap tahunya akan mengalami peningkatan. Adapun trauma yang sering terjadi pada kasus ini adalah trauma kepala, fraktur (patah tulang),
dan trauma dada (Sujudi, 2008). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau ruda paksa. Pada pasien fraktur akan timbul nyeri dimana hal ini dapat menyebabkan kecemasan pada pasien. Nyeri yang timbul diakibatkan oleh terputusnya kontinuitas jaringan, spasme otot, gerakan fragmen tulang, dan cidera
pada jaringan lunak
(Doengoes,1999).
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Tindakan operasi terdiri dari reposisi
terbuka, fiksasi interna dan reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna, dimana didalamnya terdapat banyak prosedur yang harus dilaksanakan (Mansjoer, 2007). Tindakan pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan bisa membahayakan bagi pasien. Maka tidak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami.
Beberapa orang kadang tidak mampu mengontrol kecemasan yang dihadapi, sehingga terjadi disharmoni dalam tubuh. Hal ini akan berakibat buruk, karena apabila tidak segera diatasi akan meningkatkan tekanan darah dan pernafasan yang dapat menyebabkan pendarahan baik pada saat pembedahan ataupun pasca operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis sebelum dilakukan operasi (Efendy, 2005).
Kini telah banyak dikembangkan terapi-terapi keperawatan untuk menangani kecemasan ataupun nyeri, salah satunya adalah terapi musik yang dapat mengurangi tingkat kecemasan pada pasien. Terapi musik ini terbukti berguna dalam proses penyembuhan karena dapat menurunkan rasa nyeri dan dapat membuat perasaan klien rileks (Kate and Mucci, 2002). Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian di tahun 1996, Journal of the American Medical Association melaporkan
tentang hasil-hasil suatu studi terapi musik di Austin, Texas yang menemukan bahwa setengah dari ibu-ibu hamil yang mendengarkan musik selama kelahiran anaknya tidak membutuhkan anestesi. Rangsangan musik meningkatkan pelepasan endofrin dan ini menurunkan kebutuhan akan obat-obatan. Pelepasan tersebut memberikan pula suatu pengalihan perhatian dari rasa sakit dan dapat mengurangi kecemasan (Campbell, 2001).
Terapi religi dapat mempercepat penyembuhan, hal ini telah dibukikan oleh berbagai ahli seperti yang telah dilakukan Ahmad al Khadi, direktur utama Islamic Medicine Institute for Education and Research di Florida, Amerika Serikat. Dalam konferensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika, wilayah missuori AS, Ahmad Al-Qadhi melakukan presentasi tentang hasil penelitianya dengan tema pengaruh Al-Quran pada manusia dalam perspektif fisiologi dan psikologi. Hasil penelitian tersebut menunjukan hasil positif bahwa mendengarkan ayat suci Al-Quran memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan ketegangan urat saraf reflektif dan hasil ini tercatat dan terukur secara kuantitatif dan kualitatif oleh sebuah alat berbasis komputer ( Remolda, 2009).
STIKES Muhammadiyah Pekajangan terhadap penurunan kecemasan pada
pasien pre-operasi. Rencana penelitian akan dilakukan di RSI Muhammadiyah Pekajangan. Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Pekajangan adalah rumah sakit umum yang juga menangani bedah tulang. Peneliti memilih RSI Muhammadiyah PKJ karena terdapat kasus yang sesuai dengan kriteria penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan pengkajian yang meliputi gejala-gejala fisiologis ataupun psikologis dimana beberapa item penilaian kecemasan membutuhkan pengkajian yang tidak segera, akan tetapi pasien harus menginap di Rumah Sakit sehingga dapat dikaji apakah terjadi perubahan setelah diberikan terapi. Item-item yang dimaksud diantaranya adalah item gangguan tidur.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian Quasi eksperiment, tipe pre test and post test design, karena sebelum diberikan perlakuan atau terapi, pasien dikaji terlebih dahulu tingkat kecemasanya kemudian setelah diberi perlakuan atau terapi maka dikaji kembali tingkat kecemasanya, apakah mengalami penurunan tingkat kecemasan atau tidak. Menurut Guy bahwa ukuran minimal sampel yang dapat diterima berdasarkan metode penelitian perbandingan kelompok statis minimal 30 subyek (Hasan, 2002). Sampel dari penelitian ini diambil 30 kasus pre operasi fraktur yang ada selama dua bulan penelitian. Pembagian Sampelnya adalah sebagai berikut: 15 pasien: diberikan terapi musik, 15 pasien: diberikan terapi murotal.
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur
kecemasan yang dalam
penggunaannya menggunakan metode observasi dan wawancara. Alat ukur tingkat kecemasan HRS-A berisi rentang intensitas kecemasan yang dirasakan klien. Untuk mendukung jalanya penelitian, peneliti menggunakan MP3 atau tape recorder yang berisikan musik klasik dan murotal. Lembar observasi yang digunakan peneliti sebagai alat ukur dalam mengukur intensitas nyeri, pada penelitian ini merujuk pada kuisioner kecemasan HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety) dengan skala 0 sampai 4 untuk setiap item dan dari score <6->27 untuk penentuan tingkat kecemasan akhir. Pada tahun 1961 Hamilton melakukan penelitian dengan instrument HRS-A (1960). Alat ukur kecemasan ini sudah dilakukan uji validitas dan reabilitas dan terbukti menjadi skala ukur kecemasan yang valid dan dapat diterima secara universal (Setyonegoro, 2009).
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
Tingkat Kecemasan dengan Terapi Musik
Seb …
Tidak Cemas Ringan Sedang Berat
0
Tingkat Kecemasan dengan Terapi Murotal
Sebelu m
Gambar 1. Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin Analisis Univariate
1. Tingkat Kecemasan Pasien
Sebelum dan Sesudah
mendapatkan Terapi Musik
Berdasarkan hasil distribusi tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah mendapatkan terapi musik diperoleh hasil bahwa sebelum mendapatkan terapi musik diketahui Sebagian besar termasuk kategori sedang. Sedangkan hasil distribusi mengenai tingkat kecemasan pasien Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Pekajangan sesudah mendapatkan terapi musik diketahui sebagian besar termasuk kategori ringan seperti tampak pada gambar (gambar 2).
Gambar 2. Tingkat Kecemasan Pasien Sebelum dan sesudah Mendapatkan Terapi Musik
2. Tingkat Kecemasan Pasien
Sebelum dan Sesudah
mendapatkan Terapi Murotal
Hasil distribusi mengenai tingkat kecemasan pasien Rumah Sakit
Islam Muhammadiyah
Pekajangan sebelum
mendapatkan terapi murotal sebagian besar termasuk kategori sedang. Sedangkan hasil distribusi mengenai tingkat kecemasan pasien Rumah Sakit Muhammadiyah Pekajangan sesudah mendapatkan terapi murotal sebagian besar tidak merasakan adanya kecemasan seperti tampak pada gambar
(gambar 3).
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
Hasil Uji Normalitas Kolomogorov
Smirnov
Berdasarkan hasil pengujian normalitas dengan menggunakan metode kolmogorov smirnov diatas diketahui bahwa nilai probabilitas (p) untuk pasien yang diterapi dengan musik pada pre test adalah 0,970 > 0,05 dan pada saat post test adalah 0,985 > 0,05 sehingga Ho diterima, artinya data berdistribusi normal; sedangkan untuk pasien yang diterapi dengan murotal pada pre test diperoleh nilai probabilitas (p) adalah 0,957 > 0,05 dan pada saat post test adalah 0,613 > 0,05 sehingga Ho diterima, artinya data berdistribusi normal seperti tampak pada tabel (tabel 1).
Tabel 1. Tabel Hasil Uji Kolmogorof Sminorv
No Kelompok Variabel Kolmog
orov Smirnov
Z
p Keteran
gan
1. Musik Pre Test 0,490 0,970 Normal
Post Test 0,458 0,985 Normal
2. Murotal Pre Test 0,510 0,957 Normal
Post Test 0,758 0,613 Normal
Adapun untuk lebih jelas mengenai perbedaan tingkat kecemasan antara sebelum dan sesudah pemberian terapi musik dapat dilihat pada gambar (gambar 4).
Gambar 4. Grafik Perbandingan Tingkat Kecemasan Sebelum dan Sesudah Terapi Musik
Selanjutnya berikut ini akan dibahas tentang perbedaan tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah mendapatkan terapi murotal.
Tabel 2. Hasil Uji Beda Tingkat Kecemasan dengan Terapi Murotal
Kelompok N Mean thitung P Pre Test 15 19,33
10,920 0,000 Post Test 15 6,73
Sumber: data primer diolah, 2011
STIKES Muhammadiyah Pekajangan tingkat kecemasan antara sebelum dan sesudah terapi murotal terdapat perbedaan yang signifikan, sehingga pemberian terapi murotal efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien.
Adapun untuk lebih jelas mengenai perbedaan tingkat kecemasan antara sebelum dan sesudah pemberian terapi murotal dapat dilihat pada gambar gambar (gambar 5).
Gambar 5. Grafik Perbandingan Tingkat Kecemasan Sebelum dan Sesudah Terapi Murotal
Selanjutnya berikut ini akan dibahas tentang perbedaan tingkat kecemasan pasien sesudah mendapatkan terapi musik dan murotal.
Tabel 3.Hasil Uji Beda Tingkat Kecemasan dengan Terapi Musik dan Murotal
Kelompok N Mean thitung P responden untuk kelompok yang
dilakukan terapi dengan musik dan murotal. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS 15.0 for windows diperoleh nilai thitung sebesar 2,946 (p = 0,000 < 0,05) sehingga H0 ditolak, artinya tingkat kecemasan antara sesudah mendapatkan terapi musik dan murotal terdapat perbedaan yang signifikan, sehingga pemberian terapi murotal lebih efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien dibandingkan dengan terapi musik.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan sebagai penyalur impuls menuju
serat otonom. Serat saraf tersebut mempunyai dua sistem saraf, yaitu saraf simpatis dan para simpatis. Kedua saraf ini dapat mempengaruhi kontraksi dan relaksasi organ-organ. Relaksasi dapat merangsang pusat rasa ganjaran sehingga timbul ketenangan (Ganong, 2005).
Namun dari data yang didapat ternyata lebih efektif menggunakan murotal dibandingkan terapi musik klasik, karena Terapi murotal memiliki aspek yang sangat diperlukan dalam mengatasi kecemasan, yakni kemampuanya dalam membentuk koping baru untuk mengatasi kecemasan sebelum operasi. Sehingga secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa terapi murotal mempunyai dua poin penting, memiliki irama yang indah dan juga secara psikologis dapat memotivasi dan memberikan dorongan semangat dalam menghadapi problem yang sedang dihadapi. Sedangkan dalam terapi musik, hanya memiliki satu poin saja, yaitu memiliki nada yang indah. Terapi musik memang dapat menurunkan tingkat kecemasan yang dapat terlihat dari menurunya ketegangan, pernafasan, tekanan darah, nadi (respon fisiologis). Akan tetapi setelah terapi musik selesai dilaksanakan, pasien kembali dihadapkan pada kenyataan akan operasi yang akan dihadapinya, sehingga rasa cemas kembali meningkat. Terbukti ketika malam hari pasien kembali merasakan kecemasan, hal ini dapat diketahui ketika peneliti mengkaji post test pada sebagian item yang harus dikaji di pagi hari maka pasien mengeluh tidur tidak pulas, sering kencing dan
lain sebagainya. Adapun pada terapi murotal maka kecemasan baik yang berupa gejala fisiologis ataupun psikologis mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan terdapat 3 orang pasien setelah diberikan terapi murotal mengatakan bahwa mereka merasa lebih tenang dan siap untuk melakukan operasi.
Terapi murotal memberikan dampak psikologis kearah positif, hal ini dikarenakan ketika murotal diperdengarkan dan sampai ke otak, maka murotal ini akan diterjemahkan oleh otak. Persepsi kita ditentukan oleh semua yang telah terakumulasi, keinginan, hasrat, kebutuhan dan pra anggapan (Oriordan, 2002). Keinginan dan harapan terbesar pasien yang akan menjalani operasi adalah agar operasi dapat berjalan lancar dan pasien dapat pulih seperti semula. Maka kebutuhan terbesar adalah kekuatan penyokong, yaitu realitas kesadaran terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa (Krishna, 2001). Dengan terapi murotal maka kualitas kesadaran seseorang terhadap Tuhan akan meningkat, baik orang tersebut tahu arti Al-Quran atau tidak. Kesadaran ini akan menyebabkan totalitas kepasrahan kepada Allah SWT, dalam keadaan ini otak berada pada gelombang alpha, merupakan gelombang otak pada frekuensi 7-14HZ. Ini merupakan keadaan energi otak yang optimal dan dapat menyingkirkan
stres dan menurunkan
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang perbedaan tingkat efektivitas antara pemberian terapi musik dengan terapi pembacaan Al-Qur’an terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien pre-operasi di Rumah Sakit Islam Pekajangan dapat ditarik simpulan: tingkat kecemasan antara sebelum dan sesudah terapi musik terdapat perbedaan yang signifikan, sehingga pemberian terapi musik efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien, tingkat kecemasan antara sebelum dan sesudah terapi murotal terdapat perbedaan yang signifikan, sehingga pemberian terapi murotal efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien, tingkat kecemasan antara sesudah mendapatkan terapi musik dan murotal terdapat perbedaan yang signifikan, sehingga pemberian terapi murotal lebih efektif menurunkan tingkat kecemasan pasien dibandingkan dengan terapi musik.
Perlu dipertimbangkan berbagai hal untuk pasien pra operasi sebagai berikut: bagi profesi keperawatan diharapkan untuk senantiasa melaksanakan dan meningkatkan peran mandirinya dalam upaya mengatasi masalah kecemasan pada pasien sebelum pembedahan melalui pemberian terapi musik atau terapi Al-Quran; bagi institusi pendidikan kesehatan diharapkan terus mengkaji berbagai terapi yang lebih efektif dalam penanganan cemas dan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya dibidang keperawatan; bagi Rumah Sakit terkait, diharapkan setelah diperoleh hasil yang signifikan maka dapat diterapkan
sebagai terapi tetap dalam proses penyiapan pasien sebelum operasi; dalam pemberian terapi, sebaiknya musik yang diberikan sesuai dengan jenis musik yang disukai oleh pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rinika Cipta.
Brunner dan Suddart, 2002. Keperawatan Medikal Bedah penerjemah Panggabean. Jakarta: EGC.
Butterton, Mary, 2008. Listening to Music in Psychotherapy. Oxford: Radcliffe Publishing. Campbell, D, (2001a). Efek Mozart
bagi Anak, Meningkatkan Daya Pikir, Kesehatan dan Kreativitas Anak Melalui Musik penerjemah Widodo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
________, D(2001b).Efek Mozart: Memanfaatkan kekuatan musik untuk mempertajam pikiran, mengaktifkan kreativitas dan menyehatkan tubuh penerjemah Hermaya. Jakarta: Gramedia. Crish, Y. 2008, Konsep Dasar
Operasi.
http:www.yenibeth.com, tanggal akses : 7-01-2008.. Doengoes, Marlyn, 1999. Rencana
Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Efendy, 2005. Kiat Sukses Menghadapi Operasi. Yogyakarta: Sahabat Setia. Emmoto, 2005. The True of Water,
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Ganong, WF, 2005. Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Gfeller and Thaut.1999. Music Therapy. Religi Sesuai Sunnah Rasulullah SWT. Jakarta: Pustaka Marwa.
Hadi, A, 2008. Seni dan Religiusitas Spiritualitas Islam.http://bayt-al-hikmah.com Tanggal akses: 12-7-2009.
Hawari, D, 2002. Dimensi Religi dalam Praktik Psikiatri dan Psikologi. Jakarta: Balai Penerbit UI.
Kate and Mucci, 2002. The Healing Sound of Musik penerjemah Prakoso. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Khrisna, A, 2001. Masnawi, Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.. Long, B, 2008. Foundation In
Nursing Theory and Practice. http://books.google.co.id. Tanggal akses 10-6-2009. MacGregor, S, 2001. Piece of Mind
Menggunakan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar untuk Mencapai Tujuan. Jakarta: Gramedia.
Mansjoer, A dkk, 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:
Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI. Aktifitas Musik yang Merangsang IQ, EQ, SQ, untuk Membangkitkan Kreatifitas dan Imajinas, penerjemah Dharma. KAIFA. Bandung. Mindlin, 2009. Brain Music. http:
//www.editinternational.com Tanggal Akses: 13-7-2009. Mukhdam, 2008. Pengaruh Al-Quran
terhadap Organ Tubuh. http.//www.mukhdam.com. Tanggal akses: 14-02-2009. Nancy, E, 2006. Introductory
Medical Surgical Nursing. Edisi 9. E, Lippincott.
Notoatmojo, S, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam, 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penenlitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Medika Salemba Oriordan, RNL (1a). 2002. Seni
Penyembuhan Alami Seni Penyembuhan Menggunakan Energi Jiwa penerjemah Aristyawati. Bekasi: Gugus Press.
_______, RNL (1b). 2002. Seni Penyembuhan Sufi dengan Pendekatan Kepada Tuhan penerjemah Aristyawati. Bekasi: Gugus Press.
Psycho reseach team, 2008. Pengaruh pembacaan Al-Quran Terhadap Pembentukan Auto-Sugestif.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Qadiy, A, 1984. Pengaruh Terapi
Murotal Terhadap Organ Tubuh. http://www.mail-archive.com. Tanggal akses: 28-8-2009.
Remolda, P, 2009. Pengaruh Al-Quran pada Manusia dalam Perspektif Fisiologi dan Psikologi. http://www.the edc.com . Tanggal akses: 14-7-2009.
Setyonegoro, K, 2009 ( adaptet 1982). Pusat Penelitian dan Pengembangan Kalbe Farma. Jakarta: Cermin dunia kedokteran.
Smeltzer, S, 2001. Fraktur Tibia Fibula
http://Wilkipedia.Org/Wiki/Fra ktur. Tanggal Akses:9 Maret 2009.
_________, 2003. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta.
Stuart, Gail, 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. EGC, Jakarta.
Sugiono, 2007. Statistika untuk Penelitian. ALVABETA. Bandung.
Sujudi, A, 2008. Berita Kejadian Kecelakaan di Jalan. http:// Pusdiknakes.or.id. Tanggal Akses: 23 Agustus 2009.
Syamsyuhidayat, R.2005. Buku Ajar Ilmu Bedah.Edisi 2. EGC. Jakarta.
Tomy, L, 2007. Terapi Musik dalam perspektif otak. http:// www.liveconnector.com. Tanggal Akses :14-7-2009. Tubalawoniy, F, 2007. Pengaruh
Pemberian Terapi Musik terhadap Penurunan Tingkat Nyeri pada Pasien Post
Operasi di Ambon. Skripsi, Semarang. UNDIP.
Wijanarko, Nugroho, 2007. Evektivitas Pemberian Terapi Musik terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan di ruang ICU-ICCU Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Skripsi,
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
Peningkatan Hasil Belajar dengan Metode Problem Based Learning dan
Ceramah Pada Mahasiswa Kebidanan di Surakarta
Wahyu Ersila
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Prodi DIII Kebidanan Jl.Raya Pekajangan No.78 Kedungwuni Pekalongan Indonesia
Telepon +6285640151178 Email: [email protected]
Abtract: Learning outcomes are changes that led to changes in human attitudes and behavior. This study aims to improve learning outcomes by methods of problem-based learning and lectures, and study the behavior of students through student feedback on problem-based learning method and lecture. Qualitative descriptive method. This study uses a model cycle. Each cycle consists of four stages: planning, action, observation, and reflection. Non-regular students study subjects DIII Midwifery polytechnic third semester Kemenkes Surakarta. Technique of taking the pre test and post test, observation and in-depth interviews. Instruments used booklet, observation sheets and interview guides. Research shows the average value of the learning materials postpartum obstetric management in the first cycle with the PBL method pre test and post test 62.50 77.20 to 74.36% (29 students who completed the study) and the second cycle with pre test and post test 65.90 by 81.70 by 87.18% (34 students who completed their study). While the average value for a lecture on the first cycle of pre test and post test 61.90 68.30 to 65.64% (25 students who completed the second cycle of learning and the pre test and post test 64.40 at 70.90 with 76.32% (29 students who completed the study. the PBL method, students assume that the method of interest, cooperation and responsibility to train, train and enhance critical thinking in the learning activity. while lecturing students lack of interest, students are less active when learning.
Keywords: learning outcomes, method of problem-based learning and lecture
Abstrak: Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar melalui metode problem based learning dan ceramah, serta mengetahui perilaku mahasiswa melalui tanggapan mahasiswa tentang metode problem based learning dan ceramah.
Metode diskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan model siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian mahasiswa Non reguler semester III DIII Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta. Teknik pengambilan pre tes dan post tes, observasi serta wawancara mendalam. Intrumen yang digunakan lembar soal, lembar observasi dan panduan wawancara. Hasil Penelitian menunjukan rata-rata nilai hasil belajar materi manajemen kebidanan ibu nifas pada siklus I dengan metode PBL pre tes 62,50 dan post tes 77,20 dengan 74,36% (29 mahasiswa yang tuntas dalam belajarnya) dengan dan pada siklus II pre test 65,90 dan pos tes sebesar 81,70 dengan 87,18% (34 mahasiswa yang tuntas belajarnya). Sedangkan rata-rata nilai untuk metode ceramah pada siklus I pre tes 61,90 dan post tes 68,30 dengan 65,64% (25 mahasiswa yang tuntas belajarnya dan pada siklus II hasil pre tes 64,40 dan post tes sebesar 70,90 dengan 76,32% (29 mahasiswa yang tuntas dalam belajarnya. Pada metode PBL, mahasiswa mengganggap bahwa metode yang menarik, melatih kerjasama dan tanggung jawab, melatih berfikir kritis dan meningkatkan keaktifan dalam belajar. Sedangkan metode ceramah mahasiswa kurang tertarik, mahasiswanya kurang aktif saat belajar.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
PENDAHULUAN
Belajar merupakan proses yang aktif yang harus melibatkan siswa dalam kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus pengajar, yang diharapkan dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki (Dalyono. M, 2005). Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya (Winkel, dalam Purwanto, 2009). Proses pengajaran merupakan sebuah aktivitas sadar untuk membuat siswa belajar.
Salah satu metode yang menunjang pembelajaran yang memberdayakan mahasiswa adalah metode Problem Based Learning, yang merupakan metode belajar yang menantang mahasiswa untuk bekerjasama dalam kelompok untuk mencari solusi dari masalah dengan mengaitkan rasa keingintahuan serta analisis mahasiswa untuk berfikir kritis dan analitis dan mencari sumber pembelajaran yang sesuai (Amir T, 2009).
Dari studi pendahuluan
diperoleh keterangan bahwa Askeb nifas merupakan mata kuliah yang didapat mahasiswa kebidanan pada semester III, materi manajemen kebidanan pada ibu nifas adalah pokok bahasan ke delapan dari mata kuliah Askeb nifas. Poltekkes Surakarta merupakan Institusi kebidanan yang masih menerapkan metode ceramah dan belum
menerapkan metode pembelajaran Problem Based Learning secara penuh pada setiap mata kuliah yang ada, untuk itu penerapan metode ini untuk meningkatkan hasil belajar berdasarkan pada masalah-masalah
yang nyata bisa dijadikan dasar untuk membuat suatu penelitian tindakan kelas ini.
METODE
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan bagaimana meningkatkan hasil belajar dengan metode Problem Based Learning dan ceramah melalui pre tes dan post tes. Selain itu juga disertai dengan tanggapan mahasiswa tentang metode PBL dan ceramah melalui wawancara.
Penelitian ini dilakukan di Politeknik Kesehatan Surakarta jurusan D III Kebidanan, di Jl. Ksatrian No. 2 Danguran, Klaten Selatan, yang dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2011. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa kebidanan semester III Politeknik Kesehatan Surakarta tahun 2010/2011. Sampel yang digunakan pada penelitian ini dengan teknik cluster sampling, yakni pengambilan sampel dilakukan pada pada suatu wilayah tertentu yang dianggap mewalili populasi yang akan diteliti (Azwar.A, 2003). Penentuan yang menjadi sampel untuk metode PBL atau ceramah kelas ceramah adalah kelas B.
STIKES Muhammadiyah Pekajangan Teknik non tes yang digunakan pada
penelitian ini ada 2 yaitu observasi dan wawancara.
Teknik yang digunakan untuk analisis data pada penelitian ini adalah teknik deskriptif kualitatif dengan penjelasan sebagai berikut: data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan menggunakan deskripsi persentase. Nilai pre tes dan post tes yang diperoleh siswa dirata-rata untuk membandingkan adanya peningkatan hasil belajar sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Jika nilai post tes > dari pre tes maka hasil belajar mengalami peningkatan yang positif. Nilai persentase dihitung dengan ketentuan sebagai berikut:
NK
NP = --- x 100% R
Keterangan:
NP = Nilai persentase NK = Nilai komulatif R = Jumlah responden Data kualitatif yang diperoleh dari observasi dan wawancara. Miles and Huberman (dalam Sugiyono 2010), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kulitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data kualitatif yakni;Reduksi data dimana data reduksi merupakan data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara ditulis dalam bentuk rekaman data, dikumpulkan, dirangkum, dan dipilih hal-hal yang pokok. Langakh berikutnya adalah penyajian data yang merupakan gambaran keseluruhan
atau bagian tertentu. Penyajian data ini ditulis dalam paparan data.. Berikutnya adalah penarikan simpulan atau verivikasi yaitu data yang diperoleh dicari pola, hubungan, atau hal-hal yang sering timbul dari data tersebut kemudian dihasilkan simpulan sementara yang disebut dengan temuan peneliti. Hasil simpulan akhir dilakukan refleksi untuk menentukan atau menyusun rencana tindakan berikutnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Nilai hasil pre tes dan post tes dengan metode PBL siklus I
No Interval nilai Frekuensi Kriteria
1 Di bawah
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
3 65 - 79 21 Tuntas
4 80 - 89 4 Tuntas
5 90 -
100
0 Tuntas
Hasil pre tes dan post tes pada siklus pertama menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode problem based learning sebanyak 29 mahasiswa atau 74,36% dari seluruh mahasiswa kelas A telah berhasil menyelesaikan soal dengan nilai sama atau diatas Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM=65). Sedangkan pembelajaran dengan metode ceramah sebanyak 25 mahasiswa atau 65,79% dari seluruh mahasiswa kelas B telah berhasil menyelasaikan soal dengan nilai sama. Akan tetapi target penelitian yaitu minimal 75% dari seluruh mahasiswa kelas A dan kelas B tuntas KKM dalam mengerjakan soal pre dan post tes dengan materi manajemen kebidanan ibu nifas. Maka dari itu, perlu diadakan perencanaan ulang untuk melaksanakan siklus berikutnya.
Tabel 3. Nilai hasil pre tes dan post tes dengan metode PBL siklus II
No Interval nilai Frekuensi Kriteria
1 Di bawah 55 0 Tidak tuntas
2 55 - 64 5 Tidak tuntas
3 65 - 79 13 Tuntas
4 80 - 89 14 Tuntas
5 90 - 100 7 Tuntas
Tabel 4. Nilai hasil pre tes dan post tes dengan metode Ceramah siklus II
No Interval nilai Frekuensi Kriteria
1 Di bawah 55 0 Tidak tuntas
2 55 - 64 9 Tidak tuntas
3 65 - 79 23 Tuntas
4 80 - 89 4 Tuntas
5 90 - 100 1 Tuntas
Hasil pre tes dan post tes pada siklus kedua menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode