• Tidak ada hasil yang ditemukan

KANUN JURNAL ILMU HUKUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KANUN JURNAL ILMU HUKUM"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KANUN

JURNAL ILMU HUKUM

PELINDUNG

Mohd. Daud Yoesoef, S.H., M.H. (Dekan Fakultas Hukum Unsyiah)

KETUA PENGARAH

Prof. Dr. Husni Jalil, S.H., M.H.

WAKIL KETUA PENGARAH

Faisal A. Rani, S.H., M.H.

KETUA PENYUNTING

T. Ahmad Yani, S.H., M.Hum.

DEWAN PENYUNTING

Prof. Dr. Amiruddin A.Wahab, S.H. Prof. Dahlan, S.H., M.H. Prof Dr. Hikmahanto Juwana, Sf!. LL.M .. Ph.D

Prof. Dr. Suhaidi, S.H.,M.H. Prof. Dr. Rusydi Ali Muhammad, S.H.

Prof. Dr. Syahrizal. S.H., M.A. Dr. Ilyas Ismail, S.H., M.Hum. Dr. Suhaimi, S.H., M.Hum. Dr. Eddy Punama, S.H., M.Hum. Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.Hum.

Dr. Mohd. Din, S.H., M.H. Dr. Adwani, S.H., M.H. Dr. Taqwaddin, S.H., S.E., M.S.

PENYUNTING PELAKSANA

lIyas Yunus, S.H., M.Hum Fikri, S.H., M.H. lndra Kesuma Hadi, S.H., M.H.

Mahfud, S.H., LL.M. Sulaiman Tripa, S.H., M.H. BENDAHARA Rismawati, S.H., M.Hum. TATA USAHA Kamaruddin, S.Sos. s n No. 2027/SK DITJEN PPG/Snll994 ISSN 0854-5499 TGL. 26 APRIL 1994 (lntemational Standart Serial Number)

Alamat Redaksi

Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala LLII Telp/Fax (0651) 7552295 Emai/:Juma/[email protected]

Darussalam - Banda Aceh

BANK BNI 1946 Cabang Banda Aceh No. Rekening 005.000626084.901

Jumal ini diterbitkkan oleh Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala secara berkala, Caturwulan, yaitu setiap tahun dalam bulan-bulan April, Agustus, dan Desember. Penerbitan ini diharapkan berrnanfaat bagi kepentingan perkem­ bangan ilmu pengetahuan, terutama publikasi temuan-temuan ilmiah di bidang ilmu hukum kepada kalangan atau profesi hukum, mahasiswa, dan pembaca. Lebih jauh media tnt dapat menampung

hubungan-hubungan komunikatif di antara para alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala dengan berbagai gagasan keilmuan yang diajukan untuk di­ publikasikan dalam jumal ini.

Jumal KANUN menerima tulisan dari berbagai pihak untuk dipublikasikan, dengan kriteria sebagai berikut:

a. Tulisan adalah orisinil, belum pemah diterbitkan melalui jumal atau media publikasi lainnya.

b. Tulisan disertai judul dan abstrak (dalam bahasa Indonesia dan Inggris). Tulisan yang dimuat harus mengikuti struktur sebagai berikut: Pendahuluan, kerangka teoretik, metodologi, tujuan dan konstitusi: hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi, serta daftar pustakal rujukan (Iihat petujuk penulisan). c. Naskah ditulis spasi ganda dengan

Microsof Word, dalam 15-20 halaman, ukuran kuarto, kirim dalam bentuk Hard dan Soft Copy bersama tulisan.

Setiap tulisan yang dimuat dalam jumal ini merupakan pendapat dan tanggungjawab pribadi penulis. Redaksi berhak mengedit setiap tulisan yang dimuat pada jumal ini tanpa mengubah subtansinya.

(3)

KANUN

Nom 0 r 50

JURNAL ILMU HUKUM Tabuo XII

April 2010 Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.Hum.

Kedudukan Hukum Adat Dalam Sistem Hukum 1

Dr. Taqwaddin, S.H., M.S.

Aspek Legal Penguasaan Hutan Oleh Mukim 13

Dr. Ilyas Ismail, S.H., M.Hum.

Kedudukan Dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria

Nasional 46

Dr. Mohd. Din, S.H., M.Hum.

Restoratif Justice Dalam Wawasan Pemidanaan Menurut Hukum Adat

Gayo 63

Darmawan, S.H., M.Hum.

Peranan Sarak Opat Dalam Masyarakat Gayo...•... 82 Nurdin MH, S.H., M.H.

Pedoman Penyelenggaraan Peradilan Perdamaian Adat Di Aceh 103

Abdurrahman, S.H., M.Hum.

Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Adat 121

Ilyas Yunus, S.H., M.Hum.

Eksistensi Dan Kekuatan Penyelesaian Sengketa Secara Adat Pada Tingkat Gampong

Suatu Penelitian Di Kabupaten Aceh Besar 131

Sulaiman Tripa, S.H.

Pengelolaan Perikanan Berbasis Kearifan Lokal Di Aceh 167

T. Muttaqin Mansur, S.Ag., M.H.

Kedudukan Hukum Adat La'ot Dalam Sistem Hukum Nasional 186

(4)

Mahdi Syahbandir, Kedudukan Hukum Ada! Dalam Sis!em Hukum

KEDUDUKAN HUKUM ADAT DALAM

SISTEM HUKUM

(The Structure of Customary Law In Indonesia's Legal System)

Oleh: Mahdi Syahbandir**)

ABSTRACT

Kata Kunci: Hukum Adat, Sistem Hukum.

This article aim is to describe regarding customary law in the Indonesia legal system inconnection with Indonesia cionstitusian and other national law level and its impact toward the customary law application in the field.

Based on this analytical study can be summerised that: i). the structure of customary law in Indonesia national law system is the similar position with any other national law. The diffrerence among of them is customary law unrecorded writtenly such as national law; 2). UUD i945 as Indonesia's constitusion recognises beside written law also available unwritten law as known with named customary law (hukum adat); 3). UUD i945 more prioritise written law inform of undang-undang level and other indonesia's national law level in creating and managing social live; 4). This reality must be responsed by parliament in craeting Qanun (regional law) in Aceh through accomodating customary law that grow, live and rise in the community, it is caused customary law is an awaranes of law rising in community as populer named living law; and 5). The judicial roles and the finder of law is very strategic in overseeing the legal awaranes occur in the community that must be used as the main consideration in handling particular legal case, therefore judicialprudence is one oflegal indentity source whic lives in community.

*) Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.Hum. adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

(5)

Taqwaddin, Aspek Legal Penguasaan Hutan oleh Mukim

ASPEK LEGAL PENGUASAAN HUTAN OLEH MUKIM

(Legal Aspect ofthe Forrest Management by Mukim)

Oleh: Taqwaddin*)

ABSTRACT

Kata Kunci: Aspek Legal, Penguasaan Hutan, Mukim

Mukim is one ofthe unique structure in Governance ofAceh, in which it is federation from several Gampong (village) which exist since Islam Religious lesson came to Aceh region. Therefore Mukim has long path story, it resulted authority and authority of Mukim in the past has already sufficient known and obeyed by the people who stayed in the Mukim area.

Mukim has authority toward all of its territory, in the land and also in the sea. In the lagal aspect, Mukim since past until nowadays has the power basis or legal jurisdiction toward the Forrest in each Mukim area. The forrest exist in the Mukim area measured by the requirement go and back for a day, it is understood by the Mukim community as Uteun Mukim in which it is also called as rights of Kullah (Uteun Potallah). So terminology of Uteun Mukim is equivalent with Customary Forrest (hutan adat) in the Indonesia's ofnational law.

In the managerial aspect, in the Forrest management affair, the roles and responsibilities in the Mukim area are led by the customary chief of Forrest (Panglima Uteun or Pawang Glee). The management and using of the customary forest ofMukim almost always has coordination Imuem Mukim with Pawang Glee

and also Petua Seunebok.

A. SEJARAH HUKUM MUKIM

Mukim adalah pemerintahan khas Aceh yang merupakan federasi dari beberapa gampong (desa) yang telah ada sejak Islam masuk ke Aceh. Menurut sejarahnya, pada masa Kerajaan Aceh, struktur pemerintahan dibagi dalam lima

*) Dr. Taqwaddin, SH., SE., M.S. adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

(6)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

KEDUDUKAN DAN PENGAKUAN HAK ULAYAT DALAM

SISTEM HUKUM AGRARIA NASIONAL

(The Structure and Recognation ofCustomary Rights to the Land / Hak Ulayat on Indonesia's Agrarian National Legal System)

Oleh: I1yas Ismail·>

ABSTRACT

Kata Kunci: Hak Ulayat, Hukum Tanah

This article aim is to describe concerning the existency of customary rights to the land for the further named hak ulayat in the structure of the power rights acces to the land. The requirements so that it can be recognized as hak ulayat to the land based on the national agrarian law. The study in tihis article is a normative study by using analyse any kind of nasional law, research result and also the expert insight in relation to issue studied.

The analyse result shows that hak ulayat in which as the Indiginous rights has position as an entity of rights to the land in Indonesia's agrarian national law. The rights of those indigenous peopleis recognized its existency if it fulfills two requirements cumulatively are as follow: 1) that indigenous people's rights are still available/exist, not have ever been, and 2) The application ofthose rights of indigenous people has to be pro- to Indonesia's insight. The symbolization of the state recognition to rights of indigenous people is: 1) the legalization into regional law (Qanun) in Districts level; or president decree depends on the location of that indigenous right present; or in kind of related regional leader decree, 2) compensation for hak ulayat which is usedfor public and even personal needs/interrest.

'J Ilyas Ismail. S.H., M.Hum adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

KANLIN No. 50 Edisi April 201 0 46

(7)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

A. PENDAHULUAN

,...,.~kum Agraria Nasional bersumberkan pada hukum adat. Dalam sistem

L.Y

Uhukum adat dikenal ada dua macam hak atas tanah, yaitu; 1). Hak atas tanah yang dikuasai secara bersama oleh suatu masyarakat (hukum) adat, yang dalam istilah te1(nis yuridisnya disebut hak ulayat; dan 2). Hak atas tanah yang dikuasai secara perorangan.

Hak Ulayat merupakan hak masyarakat hukum adat atas segala sumber daya agraria yang ada dalam wilayah kekuasaan masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Dengan demikian obyek dari hak ulayat meliputi segala sumber daya agraria (bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya). Hak Ulayat lahir bukan karena diciptkan oleh keputusan pejabat tetapi tumbuh dan berkembang (serta juga dapat lenyap) sesuai dengan keberadaan dan perkembangan kehidupan masyarakat hukum adat yang bersangkutan.

Sejak lahimya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan dasar Pokok-Pokok Agraria yang lazim juga disebut Undang-Undang Pokok Agraria (DUPA) bahwa hak ulayat diakui sebagai suatu hak atas tanah apabila memenuhi persyaratan yang ditentukan. Berdasarkan Pasal 3 UUPA bahwa hak ulayat diakui sebagai suatu hak atas tanah apabila dalam kenyataannya memang masih ada dan pelaksanaan hak tersebut harus sesuai dengan kepentingan nasional serta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan. Dalam kenyataannya masih be1um adanya kesamaan pemahaman dan penafsiran (multi tafsir) terhadap persyaratan tersebut, bahkan bebagai ketentuan perundang­ undangan masih menempatkan hak ulayat pada posisi yang berbeda dan bertentangan. Perbedaan penempatan hak ulayat dalam ketentuan perundang­ undangan dan perbedaan tafsiran terhadap hak ulayat oleh berbagai pihak yang berkepentingan telah menimbulkan konflik dalam penguasaan tanah ulayat.

(8)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

Hal ini tentunya berakibat pada tidak dapat dimanfaakan tanah tersebut secara optimal, di samping itu juga dapat menimbulkan ketidakharmonisan hubungan antar masyarakat, pengusaha dan penguasa yang pada akhimya dapat menimbulkan kerawanan sosial. Sehubungan dengan hal tersebut dipandang urgen untuk dilakukan kajian secara ilmiah tentang kedudukan dan pengakuan hak ulayat dalam sistem hukurn agrarian nasional, sehingga ada kesamaan persepsi dan diikuti aksi nyata pejabat yang berwenang dan pemangku kepentingan lainnya terhadap hak ulayat.

B. PENGERTIAN HAK ULAVAT

Dalam kepustakaan hukurn adat, hak masyarakat hukurn atas tanah disebut

"Beschikkingsrecht", namun di berbagai daerah di Indonesia dikenal bennacam­

macam istilah untuk memberikan gambaran tentang hak masyarakat hukum tersebut, misalnya : ''petuanan'' (Ambon), "panyampeto" (Kalimantan), "wewengkon" (Jawa), "prabumian" (Bali), "limpo" (Sulawesi Selatan), "paer"

(Lombok), "ulayat" (Minangkabau) dan banyak lagi istilah-istilah yang

digunakan untuk beschikkingsrecht itu1, dan "tanoh umum" atau "tanoh

masyarakat" di Aceh2• Para ahli hukurn adat juga menggunakan istilah yang

berbeda-beda terhadap hak masyarakat hukurn tersebut, antara lain: Djojodigoeno menyebutnya "hak purba" dan Supomo menyebutnya "hak pertuanan,,3.

Undang-undang Pokok Agraria menggunakan istilah hak ulayat, yaitu sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 UUPA:

1 Ter Haar, terjemahan Soebakti Poesponoto, 1994, Asas-asas dan Susunan hukum Adat,

Pradnya Paramita, Jakarta, him. 63.

2 Hakimy, TI. EI, 1980, Tatanan Tanah di Wi/ayah Pedesaan Aceh, Japoran penelitian,

Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, him. 48.

3 Iman Sudiyat, 1981, Hukum Adat: Sketsa ASQs, Liberty Press, Yogyakarta, hIm. 2.

(9)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayal Dalam Sislem Hukum Agraria Nasional

"Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal I dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya. masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi." Namun demikian pengertian hak ulayat itu sendiri tidak dijelaskan secara tegas, kecuali disebutkan "... yang dimaksud dengan hak ulayat dan hak-hak serupa itu ialah apa yang dalam kepustakaan hukum adat disebut

"beschikkingsrecht" (Penjelasan Pasal 3 UUPA), karena itu pengertian atau batasan tentang hak ulayat berpedoman kepada pendapat para ahli.

Roestandi Ardiwilaga menyebutkan bahwa hak ulayat sebagai hak dari persekutuan hukum untuk menggunakan dengan bebas tanah-tanah yang masih merupakan hutan belukar dalam lingkungan wilayahnya, guna kepentingan persekutuan hukum itu sendiri dan anggota-anggotanya atau untuk kepentingan orang luaran (orang asing) atas izin Kepala Persekutuan dengan membayar

. ·4 recogrusl.

Hak ulayat pada dasamya berkenaan dengan hubungan hukum antara masyarakat hukum adat dengan tanah dalam lingkungan wilayahnya. Hubungan hukum tersebut berisi wewenang dan kewajiban terhadap tanah dengan segala isinya, yakni perairan, tumbuh-tumbuhan dan binatang dalam wilayahnya yang menjadi sumber kehidupan dan mata pencahariannya5• Karena itu ruang lingkup

4 Roestandi Ardiwilaga R, 1962, Hukum Agraria Indonesia dalam Teori dan Praktek, cetakan

kedua, NV. Masa Baru, Bandung, hIm. 2.

5 Maria SW. Sumardjono, 2008, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya,

Buku Kompas, Jakarta. 2008, hIm. 170.

(10)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayal Dalam Sislem Hukum Agraria Nasional

hak ulayat meliputi segala sumber daya agraria yang ada dalam lingkungan wilayahnya dan tanah merupakan obyek hak ulayat yang utama.

Masyarakat Aceh berpandangan bahwa dilihat dari segi penguasaannya (haknya) tanah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: pertama, tanah-tanah yang tidak terikat dengan hak perorangan yang lazim disebut Haqul Allah; kedua, tanah-tanah yang sudah terikat dengan hak-hak perorangan, yang lazim disebut

Haqul Adam6• Apabila mengacu pada pandangan ini maka dapat disebutkan lebih

lanjut bahwa tanah-tanah yang tidak terikat dengan hak perorangan masih dapat dibedakan antara; 1).tanah-tanah yang sama sekali tidak terikat dengan suatu hak apapun yang juga dapat disebut tanah Negara, dan 2).tanah-tanah yang dikuasai oleh suatu masyarakat hukum adat yang lazim juga disebut tanah hak ulayat.

Walaupun dalam sejarahnya istilah hak ulayat tidak dikenal dalam masyarakat Aceh, namun istilah "tanoh umum" atau "tanoh masyarakat" mengandung makna yang sama dengan tanah ulayat. Hanya saja dalam kenyataannya kewenangan masyarakat hukum adat terhadap "tanoh umum" atau "tanoh masyarakat" tersebut tidak seperti dahulu kala, sehingga dengan sendirinya pula mempengaruhi keberadaannya7•

"Tanoh umum" atau "tanoh masyarakat" dibedakan dengan tanah negara.

Tanah negara merupakan tanah-tanah yang belum ada suatu hak apapun di atasnya, baik hak perorangan maupun hak masyarakat hukum. Bahkan pada masa kolonial antara tanah negara dan "tanoh masyarakat" atau "tanoh umum" ditempatkan tanda-tanda batas dan atau jalan-jalan batas, yang oleh masyarakat

6 Perlindungan, AP, 1991, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, Mandar maju,

Bandung, hIm. 20.

7 Hakimy, TI. EJ, Loc. Cit.

(11)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

Lam Tamot Aceh Besar disebut "patak atau ja/an Boss Wezen"s, yang dimaknakan sebagai batas hutan negara. Dalam kawasan hutan negara tersebut warga masyarakat dilarang untuk mengusahakan atau memungut hasil hutan.

Hak ulayat dapat mengembang (menguat) dan mengempis (melemah), sama juga halnya dengan hak-hak perorangan dan ini pula yang mernpakan sifat istimewa hak-hak atas tanah yang tunduk pada hukum adat. Apabila hak-hak perorangan menguat, maka hak masyarakat melemah dan apabila hak perorangan melemah maka hak masyarakat menguat kembali.

B. KEDUDUKAN HAK ULAYAT DALAM STRUKTUR HAK-HAK

PENGUASAAN ATAS SUMBER DAYA AGRARIA

Dalam sistem hukum agraria nasional dikenal prinsip bahwa pada tingkatan yang tertinggi semua bidang tanah, termasuk segala sumber daya agrarian lainnya, adalah kepunyaan bangsa Indonesia sebagai personifikasi seluruh rakyat Indonesia, karena itu dalam sistem hukum agraria nasional tidak dikenal istilah tanah yang tak ber-tuan9• Konsep hak bangsa dimuat dalam Pasal 1 UUPA. Hak bangsa ini adalah abstraksi dari hak ulayat. Apabila hak bangsa hanya ada satu di Indonesia sehingga dapat disebut Hak Bangsa Indonesia, sedangkan hak ulayat pasti lebih dari sam, tergantung pada banyaknya masyarakat hukum adat yang ada di Indonesia, yang jumlahnya tentu harns didasarkan pada hasil penelitian.

Berdasarkan statusnya tanah (permukaan bumi) dibedakan dalam dua macam, yaitu 1) tanah negara; dan 2). tanah hak. Tanah Negara mernpakan

8 Abdullah Ahmad, et. AI, 2000, Keberadaan Hak Ulayat Setelah Berlakunya Hukum Agraria

Nasional di Kabupaten Aceh Besar, Laporan Penelitian, hIm. 14.

9 Boedi Harsono, 2003, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-undang

Pokok Agraria, lsi dan Pelaksanaannya, jilid 1, Djambatan, Jakarta, hIm. 231.

(12)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayal Dalam Sislem Hukum Agraria Nasional

bidang-bidang tanah yang tidak melekat sesuatu hak atas tanah, sedangkan tanah hak merupakan bidang-bidang tanah yang melekat hak atas tanah. Hak-hak atas tanah tersebut meliputi; 1) hak-hak atas tanah yang dipunyai secara perorangan; seperti hak milik dan hak pakai; 2) hak atas tanah yang dipunyai secara bersama­ sama oleh suatu masyarakat hukum adat, atau yang lazim disebut hak ulayat. Pasal 3 UUPA menentukan:

"Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan pasal 2, pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi".

Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dipahamai bahwa hak ulayat merupakan suatu hak atas tanah, karena itu tanah ulayat bukan merupakan tanah Negara. Hak Ulayat merupakan suatu entitas hak atas tanah tersendiri, unik, berbeda dengan hak-hak atas tanah lainnya. Perbedaan utamanya terIetak pada subjek dan kewenangan yang melekat pada subyek hak. Subyek hak ulayat adalah suatu masyarakat hukum adat, bukan perorangan dan hak ini tidak dapat dialihkan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 3 UUPA dapat dipahami juga bahwa hak ulayat diakui sebagai sebagai suatu hak atas tanah tersendiri, apabila memenuhi dua persyaratan, yaitu 1). Hak tersebut ada (eksis), dan 2). Pelaksanaan hak yang masih ada tersebut harus sesuai dengan kepentingan nasional dan negara serta

tidak boleh bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan. Namun

demikian tidak terdapat ketentuan dan penjelasan lebih lanjut tentang kriteria "ada" nya hak ulayat dan tentang batasan "kepentingan nasional dan negara".

KANUN No. 50 Edisi April 2010 52

(13)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

Boedi Harsono menyebutkan bahwa alasan pembentuk UUPA tidak mengatur tentang hak ulayat karena pengaturan hak ulayat, baik dalam penetuan kriteria maupun pendaftarannya, akan melestarikan keberadaan hak ulayat, sedangkan secara alamiah terdapat kecendrungan melemahnya hak ulayatlO •

Berkenaan dengan batasan hams sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, Maria SW. Sumardjono menyatakan bahwa pemikiran yang melandasi penyusun UUPA saat itu lebih didorong oleh pengalaman empiris berupa hambatan ketika Pemerintah memerlukan tanah yang dipunyai masayarakat hukum adat untuk proyek pertanian di Sumatera Selatan menjelang tahun 1960, yang antara lain membuahkan pokok-pokok pikiran bahwa kepentingan masyarakat hukum adat hams tunduk kepada kepentingan nasional dan bahwa hak ulayat tidak bersifat eksklusif I .

Dalam kenyataannya ketiadaan kriteria persyaratan eksistensi hak ulayat dan ketiadaan batasan yang jelas tentang kepentingan nasional dan Negara telah menimbulkan konflik antara masyarakat hukum adat dengan pengusaha dan penguasa terkait pemberian HGU atau HPH. Penguasa dan pengusaha cenderung menafikan hak masyarakat hukum adat yang secara obyektif kedudukan masyarakat hukum adat lebih lemah dibandingkan dengan pengusaha dan penguasa yang mempunyai kedudukan ekonomi, sosial dan politik lebih kuat. Karena itu adanya kriteria persyaratan eksistensi hak ulayat dan adanya batasan tentang kepentingan nasional dan negara merupakan suatu kebutuhan untuk dijadikan pedoman dalam menyelasaikan permasalahan hak ulayat.

10 Ibid, hIm. 193.

II Maria SW. Sumardjono, Op.Cit, hIm. 170 -171.

(14)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh FH UGM yang bekeIja sarna dengan Depdagri pada tahun 1975-1979 diperoleh kesimpulan, sebagaimana dikutip oleh Maria SW. Sumardjono, antara lain:

1. Masyarakat hukum adat dalam makna murni-purwa sebagaimana dirumuskan para ahlinya, pada beberapa dasa warsa abad ini sudah langka. Dengan demikian hak ulayat dalam arti lengkap pun sudahjarang ada;

2. Hak ulayat selaku atribut hukum adat pada umumnya hidup bertahan dalam masyarakat dengan suasana psikologis-sosial bebas, dalam arti tidak terlalu dikekang oleh feodalisme ataupun politik penjajah, contoh: keadaan di Aceh dibandingkan dengan keadaan di Sumatra Utara, wilayah Minangkabau dibandingkan dengan wilayah desa swapraja di Jawa;

3. Meskipun secara formal tidak dijumpai adanya masyarakat hukum adat yang asli, tetapi setiap usaha pemerintah untuk memanfaatkan tanah rakyat perlu terlebih dahulu dilakukan pendekatan sehingga tidak menimbulkan keresahan bagi rakyat setempat. Karena rakyat pada umumnya masih merasa mempunyai hak meskipun tidak diketahui secara tegas apa namanya dan bagaimana perwuj udannyaI2.

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, menyebutkan bahwa untuk menentukan ada atau tidak adanya hak ulayat di suatu daerah hams dialakukan penelitian oleh pemerintah daearah dengan mengikutsertakan pakar hukum adat, masyarakat hokum adat yang bersangkutan, dan lembaga swadaya masyarakat serta institusi-institusi yang

12 Maria SW. Sumardjono, 1990, Telaah Konseptual terhadap Beberapa Aspek Hak Milik,

pembahasan terhadap makalah Chadijah Dalimunthe "Konsep Akademis Hak MiJik Atas Tanah menurut UUPA", disampaikan pada Seminar Nasional Hukum Agraria ke-3, kerja sama BPN­ FH USU, Medan, 19-20 September. hIm. 4.

(15)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

mengelola sumber daya alamo Sedangkan kriteria penentu eksistensi hak ulayat terdiri atas tiga unsur, yaitu 1) terdapat masyarakat hukum adat tertentu sebagai subyek hak ulayat; 2) adanya tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup dan tempat mengambil keperluan hidup masayarakat hukum adat tersebut; dan 3) terdapatnya tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan dan penggunaan tanah ulayat yang berlaku dan ditaati oleh masyarakat hukum adat tersebut.

D. WUJUD PENGAKUAN HAK ULAYAT

Pengakuan hak ulayat dalam UUPA ternyata telah juga mendapat pengakuan dalam berbagai ketentuan perundang-undangan lainnya bahkan dalam UUD 1945 Perubahan Kedua dan TAP MPR No. IX Tahun 2001. Adapun beberapa ketentuan tersebut, sebagai berikut:

1. UUD 1945 Perubahan Kedua (disahkan 18 Agustus 2000). Dalam UUD 1945 tersebut terdapat dua pasal yang memuat tentang pengakuan dan penghormatan terhadap hak masayarakat hukum adat, yaitu; 1). Pasal 18 B ayat (2) yang menentukan, "Negara mengakui dan menghorrnati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang", 2). Pasal Pasal 28 I ayat (3) yang menentukan; "identitas budaya dan hak masyarakat trdisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban".

2. TAP MPR No. IXlMPRl2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, yang dalam Pasal 4 disebutkan bahwa salah satu prinsip yang hams dijunjung dalam pelaksanaan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam adalah pengakuan, penghormatan dan perlindungan hak

(16)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

masayarakat hukum adat dan keragaman budaya bangsa atas sumber daya agrarianlsumber daya alamo

3. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

• Pasal 6 ayat (2) "Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman.

4. UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

• Pasal 1 huruf f "hutan adat adalah hutan Negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat

• Pasal 4 ayat (3) "penguasaan hutan oleh Negara tetap memerhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak betentangan dengan kepentingan nasional.

• Pasal 5 ayat (1) "hutan berdasarkan statusnya terdiri dari; (a) hutan Negara, dan (b) hutan hak". Dalam Pasal 5 ayat (2) disebutkan bahwa hutan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hoof a dapat berupa hutan adat.

• Pasal 67 ayat (1) " masyarakat hukum adat sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya berhak; (a) melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masayarakat adat yang bersangkutan; (b) melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang; dan (c) mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meninghkatkan kesej ahteraannya.

5. UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi

• Pasal 34 ayat (1) "Dalam hal badan usaha atau bentuk usaha tetap akan menggunkan bidang-bidang tanah hak atau tanah negara di dalam wilayah kerjanya, Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang bersangkutan wajib

KANUN No. 50 Edisi April 2010 56

(17)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

terlebih dahulu mengadakan penyelesaian dengan pemegang hak atau pemakai tanah di atas tanah negara sesuai dengan ketentuan perindang­ undangan yang berlaku".

)

• Pasa! 34 ayat (2) "Penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara musyawarah dan mufakat dengan cara jual beli, tukar­ menukar, ganti rugi yang layak, pengakuan atau bentuk penggantian lain 't..e'Pada pemegang hak atau pemakai tanah di atas tanah negara".

I Penjelasan Pasa! 34 Ayat (2) "Yang dimaksudkan dengan pengakuan dalam

ketentuan ini adalah pengakuan atas adanya hak ulayat masyarakat hukum adat di suatu daerah, sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan melalui musyawarah dan mufakat berdasarkan hukum adat yang bersangkutan". 6. UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

• Pasa! 6 Ayat (2) "Penguasaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah danlatau pemerintah daerah dengan tetap mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak yang serupa dengan itu, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan perundang-undangan.

• Pasa! 6 Ayat (3) "Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap diakui sepanjang kenyataannya masih ada dan telah dikukuhkan dengan peraturan daerah setempat".

7. UU No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan

• Pasal 9 ayat (2) "Dalam hal tanah yang diperlukan merupakan tanah hak ulayat masyarakat hukum adat yang menurut kenyataanya masih ada, mendahului pemberian hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon hak wajib melakukan musyawarah dengan masyarakat hukum adat

(18)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

pemegang hak ulayat dan warga pemegang hak atas tanah yang bersangkutan, untuk memperoleh kesepakatan mengenai penyerahan tanah dan imbalannya.

8. UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yang diubah dengan UU No. 45 Tahun 2009.

• Pasal 6 ayat (2) "Pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan ikanharus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran serta masyarakat".

9. UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan

• Pasal 58 ayat (3) "Pemegang hak atas tanah, atau pemakai tanah negara, atau masyarakat ulayat hukum adat, yang tanahnya diperlukan untuk pembangunanjalan, berhak mendapat ganti kerugian".

10. UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh

• Pasal 213 ayat (2) "Pemerintah Aceh danlatau pemerintah kabupatenlkota berwenang mengatur dan mengurus peruntukan, pemanfaatan dan hubungan hukum berkenaan dengan hak atas tanah dengan mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak yang te1ah ada termasuk hak-hak adat seSUaI dengan norma, standar, dan prosedur yang berlaku secara nasional".

11. UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

• Pasal 17

(1) HP-3 (hak pengusahaan perairan pesisir, garis bawah catatan

penulisJ diberikan dalam luasan dan waktu tertentu.

(2) Pemberian HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan kepentingan ke1estarian Ekosistem Pesisir dan

KANUN No. 50 Edisi April 2010 58

(19)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

Pulau-Pulau Kecil, Masyarakat Adat, dan kepentingan nasional serta hak lintas damai bagi kapal asing.

• Pasal 18 "HP-3 dapat diberikan kepada: a). Orang perseorangan warga negara Indonesia; b). Badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia; atau c). Masyarakat Adat".

• Pasa161

(1) Pemerintah mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak Masyarakat Adat, Masyarakat Tradisional, dan Kearifan Lokal atas Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah dimanfaatkan secara turun temurun.

(2) Pengakuan hak-hak Masyarakat Adat, Masyarakat Tradisional, dan Kearifan Lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijadikan acuan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang berkelanjutan.

Berdasarkan ketentuan dalam beberapa perundang-undangan tersebut dapat dipahami bahwa hak ulayat diakui, dihormati dan dilindungi. Hanya saja pengakuan, penghormatan dan perlindungan yang ditentukan dalam Konstitusi, TAP MPR dan Undang-Undang tersebut masih bersifat abstrak, masih dalam tataran peng-andai-an, atau masih bersifat kondisional. Pengakuan itu bam berwujud kalau hak ulayat tersebut benar-benar ada (eksis) dan pelaksanaan hak ulayat yang benar-benar ada tersebut hams sesuai dengan kepentingan nasional dan negara. Pengakuan tersebut hams didasarkan pada hasil penelitian sebagaimana telah diuaraikan di atas. Pengakuan tersebut perlu ditetapkan dalam keputusan kepala daerah lokasi hak ulayat berada. Penerbitan surat keputusan kepala daerah tidak bermakna pemberian atau penetapan hak ulayat tetapi sebagai wujud pengakuan atau pengukuhan hak ulayat. Karena sesuai dengan konsepsinya

(20)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

bahwa adanya hak ulayat bukan karena diciptakan atau ditetapkan tetapi lahir (dan juga) lenyap atau hapus secara alamiah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.5 Tahun 1999 bahwa penentuan kriteria, pelaksanaan penelitian dan pendaftaran hak ulayat harns diatur lebih lanjut dalam peraturan daerah yang bersangkutan. Hingga saat ini dan sejauh yang dapat diketahui bahwa belum adanya peraturan daerah tentang hak ulayat di Aceh.

Di beberapa daerah lain telah ada peraturan daerah tentang hak ulayat, antara lain; (l).Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 9 tahun 2000 tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari, yang memuat tentang administrasi pemerintahan nagari dan hubungan antara nagari dengan sumber daya agrarian yang terdapat dalam wilayahnya; (2) Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy; dan (3) Peraturan Daerah Kabupaten Nunukan Nomor 3 Tahun 2004 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.

E. PENUTUP

Hak ulayat merupakan hak masyarakat hukum adat atas segala sumber daya agrarian (terutama tanah) yang ada dalam wilayahnya. Hak ulayat atas tanah merupakan suatu hak atas tanah tersendiri, unik dan berbeda dengan hak-hak atas tanah jenis lainnya dan karena itu pula tanah ulayat tidak termasuk dalam kategori tanah negara.

Sistem hukum agrarla nasional bahkan UUD 1945 Perubahan Kedua, mengakui dan menghormati serta melindungi hak ulayat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip berbangsa dan bemegara dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Untuk

KANUN No. 50 Edisi April 2010 60

(21)

lIyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

membuktikan keberadaan hak ulayat hams dilakukan penelitian secara partisipatif yang melibatkan berbagai pihak yang kompeten dan menggunakan kriteria obyektif yang telah ditentukan.

Hasil penelitian yang membuktikan adanya hak ulayat perlu

ditindaklanjuti dengan pengukuhannya melalui surat keputusan dari pemerintah daerah setempat, yang didalarnnya memuat tentang subyek, obyek serta hak dan kewajiban subyek. Keputusan pemerintah daerah tentang pengukuhan hak ulayat tersebut perlu didaftarkan pada kantor pertanahan walaupun tidak diterbitkan sertifikatnya.

Penelitian, pengukuhan dan pendaftaran hak ulayat dipandang dapat menjadi altematif solusi terhadap konflik tanah ulayat yang belum dapat terselesaikan secara tuntas. Di samping diharapkan juga dapat memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi pemegang hak ulayat serta dapat menjadi salah satu penunjang terwujudnya tertib administrasi pertanahan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Ahmad, et.al, (2000), Keberadaan Hak Ulayat Setelah Berlakunya

Hukum Agraria Nasional di Kabupaten Aceh Besar, Laporan Penelitian,

Pusat Studi Hukum Adat dan Islam UNSYIAH, Banda Aceh.

Boedi Harsono, (2003), Hukum Agraria Indonesia. Sejarah Pembentukan

Undang-undang Pokok Agraria, lsi dan Pelaksanaannya, jilid 1,

Djambatan, Jakarta.

Hakimy, Tl. El, (1980), Tatanan Tanah di Wi/ayah Pedesaan Aceh, laporan penelitian, Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

(22)

Jlyas Ismail, Kedudukan dan Pengakuan Hak Ulayat Dalam Sistem Hukum Agraria Nasional

Iman Sudiyat, (1981), Hukum Adat, Sketsa Asas, Liberty, Yogyakarta.

Maria SW. Sumardjono, (2008), Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

--- (1990), Telaah Konseptual terhadap Beberapa Aspek Hak Milik,

pembahasan terhadap maka1ah Chadijah Dalimunthe "Konsep Akademis Hak Milik Atas Tanah menurut UUPA", disarnpaikan pada Seminar Nasional Hukum Agraria ke-3, kerja sarna BPN-FH USU, Medan, 19-20 September.

Perlindungan AP, (1991), Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria,

Mandar maju, Bandung.

Roestandi Ardiwilaga R, (1962), Hukum Agraria Indonesia dalam Teori dan Praktek, cetakan kedua, NY. Masa Barn, Bandung.

Ter Haar, (1994), Asas-asas dan Susunan hukum Adat, terjemahan Soebakti

Poesponoto, Pradnya Pararnita, Jakarta.

****000****

KANUN No. 50 Edisi April 2010

(23)

Mohd. Din, Restoratif Justice Dalam Wawasan Pemidanaan Menurut Hukum Adat Gayo

RESTORA TIF JUSTICE DALAM WAWASAN PEMIDANAAN

MENURUT HUKUM ADAT GAYO

(Restroaktif Justice in the Insight of Criminal Punishment according to Gayo's Customary Law)

Oleh: Mohd. Din .)

ABSTRACT

Kata Kunci: Restroaktif Justice, Wawasan Pemidanaan, Hukum Adat Gayo

The advance of theory regarding the purpose of criminal punishment was started from kantianism, retributive and utilitarian which has orientation toward the crime actor. Basically this aim does not accomodate integrated criminal punishment purposes, until emerging restroaktife concept in which involve the crime victim interrest in the crime punishemnt mechanism. For Indonesia, restroaktive justice concept has been known in the customary law under the peace proccess.

A. PENDAHULUAN

~aerah Aceh yang kini dikenal dengan sebutan NAD, bukanlah suatu

~daerah

yang barn ada sejak Indonesia merdeka. Masyarakat Aceh yang

mendiami wilayah Aceh sudah ada sejak dahulu. Dalam sejarah penjajahan Belanda, Aceh-lah satu-satunya daerah di wi1ayah nusantara yang sulit dikuasai.

Sebagai suatu kumpulan Masyarakat, bahkan disebut Kerajaan Aceh, maka sudah barang tentu Aceh mempunyai tatanan hukum untuk mengatur kehidupan di dalam masyarakat. Aturan tersebut adalah hukum adat. Hukum adat

"J Dr. Mohd. Din, S.H., M.H adalah Dosen tetap pad a Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

(24)

Darmawan, Peranan Sarak OPat Dalam Masyarakat Gayo

PERANAN SARAK OPAT DALAM MASYARAKAT GAYO

(The Roles ofSarak Opal in Gayo Community)

Oleh : Darmawan

*)

ABSTRACT

Kata Kunci: Sarak Opat, Masyarakat Gayo.

The structure ofSarak Opat in Gayo community is still implemented strongly, and ifoccur dispute among community in Gayo is always settled through this traditional institution. Most ofcustomary provisions which still remain exist even though overlap with national written law. Sarak Opat institution is still exist, nevertheless the community and national law advance causes Sarak Opat Institution occurring deviation concept from the pure value.

A. PENDAHULUAN

/""lllr.~erdasarkanAmandemen Undang-undang Dasar 1945, dalam Pasal 18B LJt:)antara lain dinyatakan, bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Ketentuan ini memperkuat kembali keberadaan Undang-undang No. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Undang-undang No. 18 Tahun 2001 tentang Pembentukan Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kemudian diatur kembali dengan Undang-undang No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang diberlakukan untuk Nanggroe Aceh Darussalam,

'J Darmawan, S.H., M.Hum adalah, S.H. adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

(25)

Nurdin MH, Pedoman Penyelenggaraan Peradilan Perdamaian Ada! di Aceh

PEDOMAN PENYELENGGARAAN PERADILAN

PERDAMAIAN ADAT DI ACEH

1

(The Application Guideline of Informal Justice in Aceh)

Oleb: Nurdin MH*)

ABSTRACT

Kata Kunci: Pedoman Penyelenggaraan, Peradilan Perdamaian Adat .

Customary law of Aceh has a number of legal principles such as acceptable, accountability, non-discrimination/equality before the law; accessible to the public, win-win solution, consensus, transparency, competent, and presumption of innocence. The principles are not only found in Adat Law ofAceh but also in other civilized legal systems in the world. In practice, the principles are applied strictly (see the case ofSultan Iskandar Muda).

Adat guidelines or legal procedure of Adat is badly needed by informal justice providers in order to have legal certainty. There are some reasons why the guide line is necessary; (1) during new order (35 years) central government denied the existence of adat law, (2) during the conflict era (30 years) Acehnese did not have enough opportunity to practice their customary law, and (3) most of you people today are head ofvillage and they do not have enough knowledge and experience on guide line ofadat.

A.

PENDAHULUAN

Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang dilakukan selama kurun waktu Agustus sampai dengan Desember 2007. Ada tiga kata kunci dalam penelitian tersebut yaitu kewenangan, kejelasan dan efektivitas peradilan adat. Tiga hal tersebut yang mengganggu para pelaksana peradilan adat (informal

1 Dipresentasikan Pada Workshop Aceh Justice Resource Centre - UNOP, 26 Februari 2008,

Grand Hotel, Banda Aceh.

'J Nurdin MH, S.H., M.H adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam- Banda Aceh

(26)

Abdurrahman, Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Adat

PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI

PENDEKATAN ADAT

(Dispute Stelement Through Customary Approach)

Oleh : Abdurrahman *)

ABSTRACT

Kata Kunci: Penyelesaian Sengketa, Pendekatan Adat.

There are available some alternative dispute settlement method in the community life, it is commonly through formal way (litigation) and also can be used through informal way (non litigation). One of informal dispute settlement is through customary approach which is undertaken by adat institution. The dispute settlement through adat approach has the main purpose that is to keep harmonisation and relationship among the community, not only providing the legal certainty but also the justice.

In the life of Aceh' people, the customary dispute settlement was done by adat institution at Gampong (village) and Mukim level. And for this, it has been promulgated already under several Qanun (regional law) of Aceh. The application of customary dispute settlement in Aceh is supported by any general principles that can provide protection for the rights ofdisputed parties.

A. PENDAHULUAN

~ersengketaan di satu sisi merupakan hal yang lumrah teIjadi dalam

~kehidupan

masyarakat, tetapi di sisi lain menciptakan ketidakharmonisan

dan ketidak seimbangan kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat yang komunal dan dan didasari pada prinsip-prinsip kebersamaan maka keharmonisan, dan keseimbangan hidup merupakan tatanan ideal yang selalu

*)Abdurrahman, S.H., M.Hum adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

(27)

lIyas, Eksislensi dan Kekualan Penyelesaian Sengkela Secara Adal Pada Tingkal Gampong

EKSISTENSI DAN KEKUATAN PENYELESAIAN

SENGKETA SECARA ADAT PADA TINGKAT GAMPONG

SUATU PENELITIAN

DI

KABUPATEN ACEH BESAR

(The Existence And Power OJ Customary Law In Solving Dispute In Gampollg A Research Conducted In Aceh Besar)

Oleh: Ilyas*)

ABSRTACT

Kata Kunci: Eksistensi, Kekuatan Penyelesaian Sengketa, Secara Adat, Gampong.

The Act Number 44, 1999 on Special Status of the Aceh Province has been a fact that Aceh has been given several special statuses in terms of education, custom and religion. Having regard with custom, it has been followed up by the enactment ofQanun (Aceh Provincial Ordinance) Number 9,2008 concerning the development of custom practice. Article 3 section (3) states that it is possible that

ifthere are disputes amongst people in Gampong, the police should let the dispute

are solved by applying customary law. Therefore, the dispute settlement is not only can be solved through the court but also outside ofthe court.

A. PENDAHULUAN

Di dalarn masyarakat hukum adat apabila teIjadi perselisihan antara sesama warga, diselesaikan secara musyawarah dengan penuh rasa kekeluargaan, karena musyawarah merupakan sarana untuk menyelesaikan persengketaan, baik diselesaikan sendiri oleh para pihak, yang melibatkan anggota keluarga masing­ masing maupun permasalahan tersebut dilaporkan kepada lembaga adat setempat.

'J I1yas, S.H., M.Hum adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

(28)

Sulaiman Tripa, Pengelolaan Perikanan Berbasis Kearifan Lokal di Aceh

PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS KEARIFAN

LOKAL

DI

ACEH

(The Fisheries Management Based on Local Wisedom in Aceh)

Oleh: Suiaiman Tripa*)

ABSTRACT

Kata Kunci: Pengelolaan, Perikanan, Kearifan, Aceh

Fisheries condition of Aceh is currently being critical. The condition was one of them caused by the pattern of fisheries management. In fisheries management in Aceh is known pattern of local wisdom in the form of hukom adat laot communities living in 1./7 lhoks. This wisdom pattern sets five key areas, namely laot abstinence, Laot cllstom, environmental maintenance cllstom, laot feast custom, and drifting item custom. The pattern is also recognized in the laws and regulations in Indonesia. But in reality, the traditional wisdom is implemented through the concept of division of roles among the government, fishermen, indigenolls institutions, and otherfisheries stakeholders.

A. LATAR BELAKANG

~7risis lingkungan global yang berlangsung sejak tiga dasa warsa terakhir

~ini

merupakan konsekuensi dari penggunaan pola-pola kegiatan pembangunan yang semata-mata diorientasikan untuk meraih pertumbuhan ekonomi. 1

Sektor perikanan merupakan bagian dari sumber daya alam yang bisa diperbarui. Namun demikian, bukan berarti sumberdaya alam yang bisa diperbarui

') Sulaiman Tripa adalah, S.H. adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh.

·1 Nyoman Nurjaya, 2007, Keari/an Lokal dan Pengelolaan 5umherdaya, ]urna140/XI11/2007.

(29)

T.Muttaqin Mansur, Kedudukan Hukum Adat La'at dalam Sistem Hukum Nasianal

KEDUDUKAN HUKUM ADAT LA'OT DALAM SISTEM

HUKUM NASIONAL

(The Structure

0/

Hukum Adat La'ot in the National legal system)

Oleh: T. Muttaqin Mansur**)

ABSTRACT

Kata Kunci: Hukum Adat Laot, Sistem Hukum Nasional

The customary law of the sea for the furthere mentioned as hukum adat la 'ot is the customary law conducted by the Aceh's fisherman community to provide some prosedures on catching fish and the fisherman community life. In

the coastal area.

In the hukum adat la 'ot is contained regarding the procedures of catching the fish (meupayang) at the sea and also contains the mechanism dispute settlement ifoccuring customary dispute amongfisherman.

Hukum adat la'ot has existed since 400 years ago. Nowadays, hukum adat la 'ot has got the strong position in the Indonesia legal sistem as stated in several hyrarchy of Indonesia's laws, the last as stated in article J62 (2), abjad (e) the law Number JJ year 2006 regarding The governing of Aceh and it's proceeding in regional regulation (Qanun) Number 9regardingthe supervising of Adat La 'ot and the the customary behavior and Qanun Aceh Number J0 regarding the Customary board.

A. PENDAHULUAN

Hukurn adat laot rnerupakan hukurn-hukurn adat yang diberlakukan oleh rnasyarakat nelayan Aceh untuk rnenjaga ketertiban dalarn penangkapan ikan dan

*) Teuku Muttaqin Mansur, S.Ag., M.H. adalah Dosen tetap pada Fakultas Hukum Unsyiah dan Sekretaris Pusat Studi Hukum Adat Laot dan Kebijakan Pesisir Unsyiah.

KANUN No. 50 Edisi April 2010 186

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Saya bersedia menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswi Jurusan Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang

 Peserta didik mengerjakan beberapa soal dari - dalam buku paket mengenai penentuan koefisien, variabel, konstanta, suku sejenis, dan derajat dari bentuk aljabar, penentuan

rendah (ketinggian bangunan sampai dengan 12 meter) di lokasi sesuai dengan fungsi jalan lokal/lingkungan, Pelaku pembangunan wajib menyediakan lahan pada lahan

Adapun kontribusi yang dilakukan penyuluh agama dalam menyelesaikan perkara sengketa non ajudikasi utamanya dalam rumah tangga yaitu dengan mengajak para pihak

Agni Prasetya Tartib, 2013, Pengaruh Lingkungan Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Guru pada SMP Pasundan 6 Bandung dan SMK Pasundan 3 Bandung , Jurnal Unikom

Inventarisasi dan Identifikasi Hutan Mangrove di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Provinsi Lampung. Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar Lampung. Pertumbuhan

juga, sekaligus menjadi kepastian akan hasil-hasil masa depan yang lebih baik buat mereka.. Ketiga , dalam perspektif masa depan, seorang pemimpin harus mampu berperan