• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI TUKAR PETANI KOMODITAS PERKEBUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NILAI TUKAR PETANI KOMODITAS PERKEBUNAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

SEPA : Vol. 13 No.2 Februari 2017 : 142 – 158 ISSN : 1829-9946

NILAI TUKAR PETANI KOMODITAS PERKEBUNAN

Chairul Muslim

Pusat Sosial Ekonomi Dan Kebijakan Pertanian Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu

JL. Tentara Pelajar No. 3 B Bogor Email: [email protected]

Abstract : One indicator / measuring tool that can be used to assess farmers' welfare is Farmers Exchange Rate. This paper is part of the research result of PATANAS (Panel Petani Nasional) conducted by Indonesian Center for Agriculture Socio Economic and Policy Analysis in Fiscal Year 2009-2012. More detail the purpose of writing this paper is to analyze Farmers Farmer's Exchange Rate (palm, cocoa, rubber and sugar cane) in Patanas villages. Primary data sources are farming efforts resulting from Patanas studies in 2008 and 2012 in four provinces, namely Jambi Province (representing rubber and palm oil), East Java (sugarcane), West Kalimantan (rubber and palm oil), and South Sulawesi (representing cocoa commodities). Secondary data obtained from local government related agencies. The result shows that rubber NTP period of 2009-2012 shows positive that the price received is bigger than the price paid, it shows that farmers are able to cover all cost components. NTP cocoa there is a decline in the exchange rate of income of 57.08%. This decline in exchange rates in line with the decline in the increase in the exchange rate of farm income. Thus the exchange rate of cocoa farmers (NTP <100) means that the purchasing power of farmers is relatively low, because the received is lower than the price paid. NTP palms and sugar cane show a positive phenomenon (NTP> 100) of farm income can cover production costs so that the price received is greater than the price paid, indicating better welfare of household life. Of course, the role of the government to participate in increasing the income of farmers through the assistance of subsidized agricultural input, provision of infrastructure; as well as policies for controlling household consumption expenditures (such as the provision of raskin, subsidized education, health subsidies, etc.) are highly relevant in improving the welfare of farmers.

Keywords: NTP palms, cocoa, rubber, sugar cane.

Abstrak : Salah satu indikator/alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan petani adalah Nilai Tukar Petani. Tulisan ini merupakan bagian hasil penelitian PATANAS ( Panel Petani Nasional ) yang dilaksanakan oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian pada Tahun Anggaran 2009–2012. Lebih detail tujuan penulisan makalah ini adalah menganalisis Nilai Tukar Petani Kebun (sawit,kakao, karet dan tebu) di desa-desa Patanas. Sumber data primer adalah usaha tani yang dihasilkan dari studi Patanas tahun 2008 dan 2012 di empat propinsi, yaitu Provinsi Jambi, (mewakili komoditas karet dan sawit), Jawa Timur (tebu), Kalimantan Barat (komoditas karet dan sawit), dan Sulawesi Selatan (mewakili komoditas kakao). Data sekunder didapat dari instansi terkait pemerintah daerah. Hasil menunjukkan bahwa NTP karet periode 2009-2012 menunjuukan positif artinya harga yang diterima lebih besar dari pada harga yang dibayarkan, hal ini menunjukkan bahwa petani mampu untuk menutupi seluruh komponen biaya. NTP kakao terjadi penurunan nilai tukar pendapatan sebesar 57,08 persen Penurunan nilai tukar ini sejalan dengan penurunan peningkatan nilai tukar pendapatan usahatani. Dengan demikian nilai tukar

(2)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

petani kakao ( NTP<100) artinya kemampuan daya beli petani relative rendah, karena yang diterima lebih rendah disbanding harga yang dibayarkan. NTP sawit dan tebu menunjukkan gejala yang posif ( NTP>100) dari pendapatan usahatani dapat menutupi biaya produksi sehingga harga yang diterima lebih besar disbanding harga yang dibayar, menunjukkan kesejahteraan hidup rumahtangga yang lebih baik. Tentunya peran pemerintah turut serta untuk peningkatan pendapatan petani melalui bantuan subidi saprodi, penyediaan infrastruktur; serta kebijakan untuk pengendalian pengeluaran konsumsi rumahtangga (seperti pemberian raskin, subsidi pendidikan, subsidi kesehatan, dan lainnya) dinilai sangat relevan dalam perbaikan kesejahteraan petani.

Kata kunci: NTP, kakao, sawit, karet, tebu. PENDAHULUAN

Kegiatan Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai negara agraris dengan jumlah penduduk yang bekerja pada kegiatan pertanian yang besar, maka sudah selayaknya pembangunan nasional dan terlebih lagi pembangunan pertanian memberikan perhatian terhadap kesejahteraan petani. Salah satu bidang usaha pertanian adalah sektor perkebunan dan untuk itu perhatian kepada kesejahteraan petani pekebun juga perlu mendapat perhatian.

Salah satu indikator/alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan petani adalah Nilai Tukar Petani (NTP). Salah satu alat ukur daya beli petani yang mencerminkan tingkat kesejahteraan petani, telah dipublikasikan oleh badan Pusat Statistik (BPS) dan diformulasikan dalam bentuk Nilai Tukar Petani (Parawaty, 2011). Pengetahuan tentang perilaku nilai tukar petani kebun yakni tidak lepas dari faktor-faktor penyusunnya, baik komponen penyusun HT ( harga yang diterima ) maupun komponen penyusun HB ( harga yang dibayarkan), dan faktor faktor yang mempengaruhi nilai tukar petani kebun tersebut akan sangat berguna bagi perbaikan kebiijakan dan program-program pembangunan perkebunan kedepan.

Simatupang dan Maulana (2008) mengemukakan bahwa kesejahteraan yang unik bagi rumah tangga tani praktis tidak ada sehingga NTP menjadi pilihan satu-satunya bagi pengamat pembangunan pertanian dalam menilai tingkat kesejahteraan petani. Semakin tinggi NTP, relatif semakin sejahtera tingkat kehidupan petani (Silitonga,1995; Sumodiningrat, 2001; Tambunan, 2003; BPS,

2006; Masyhuri, 2007). Jauh sebelumnya pendapat tersebut juga didukung oleh Rachmat (2000) yang menunjukkan bahwa NTP mempunyai karakteristik yang cenderung menurun. Hal ini berkaitan dengan karakteristik yang melekat dari komoditas pertanian dan nonpertanian. Namun, sejak dua tahun terakhir ini yakni tahun 2013 hasil kajian (Rachmat, 2013) menyatakan bahwa walaupun tidak sepenuhnya menggambarkan kesejahteraan petani sebagai alat ukur daya beli, namun NTP sering kali digunakan sebagai salah satu indikator relatif tingkat kesejahteraan petani.

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian Patanas (Panel Petani Nasional) yang dilaksanakan oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian pada Tahun Anggaran 2009–2012. Secara khusus tujuan penulisan makalah ini adalah menganalisis Nilai Tukar Petani Kebun dari hasil hasil studi Patanas.

METODE ANALISIS

Konsep NTP yang dikembangkan BPS, identik dengan konsep nisbah paritas (parity ratio) yang dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1930an (Tomek dan Robinson, 1981). Secara konsepsi NTP merupakan alat pengukur daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan dalam memproduksi usahatani (Rachmat, M, 2000). Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan nisbah antara harga yang diterima (HT) dengan harga yang dibayar petani (HB) yang dirumuskan.(BPS, 2008, Nurmanaf R, et.al.,2005).

Secara umum Nilai tukar petani (NTP) didefinisikan sebagai nisbah antara harga yang

(3)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

diterima petani (HT) dengan harga yang dibayar petani (HB) atau NTP = HT/HB. Pengukuran NTP dinyatakan dalam bentuk indeks sebagai berikut:

NTP = IT/IB di mana:

NTP = Indeks Nilai Tukar Petani

IT = Indeks harga yang diterima petani IB = Indeks harga yang dibayar petani

Indeks tersebut merupakan nilai tertimbang terhadap kuantitas pada tahun dasar tertentu. Pergerakan nilai tukar akan ditentukan oleh penentuan tahun dasar karena perbedaan tahun dasar akan menghasilkan keragaan perkembangan indeks yang berbeda. Formulasi Indeks yang digunakan adalah Indeks Laspeyres (BPS, 1995). ∑ Qo Pi I = --- ∑ Qo Po di mana: I = Indeks Laspeyres

Qo = Kuantitas pada tahun dasar tertentu (tahun 0) Po = Harga pada tahun dasar tertentu (tahun 0) Pi = Harga pada tahun ke i

Nilai tukar petani (NTP-komoditas perkebunan) didefinisikan sebagai nisbah antara harga komoditas basis perkebunan yang diterima petani (HT komoditas perkebunan) dengan harga yang dibayar petani (HB komoditas perkebunan) atau

NTPperkebunan = HTperkebunan /HBperkebunan

Harga komoditas perkebunan yang diterima petani merupakan harga tertimbang dari harga komoditas perkebunan yang diterima petani. Dengan demikian, Ht komoditas perkebunan merupakan harga tingkat petani atau "Farm Gate".

Harga yang dibayar petani perkebunan merupakan harga tertimbang dari seluruh harga yang dibayar petani, yaitu harga barang konsumsi (makanan, konsumsi nonmakanan) dan harga barang modal yang dikonsumsi atau dibeli petani. Harga tersebut adalah harga eceran barang jasa yang di pasar perdesaan.

Perilaku NTP-komoditas perkebunan tersebut dapat didekomposisi/ ditelusuri kedalam komponen penyusunnya terutama komponen harga yang dibayar (HB komoditas perkbunan). Dengan dekomposisi ini juga dapat ditelusuri faktor penentu dari perilaku (naik turunnya) NTP-perkebunan.

NTPperkebunan = HTperkebunan /HBperkebunan

di mana:

Nilai tukar harga komoditas perkebunan dapat diturunkan indikator nilai tukar sebagai berikut:

1) NT-Pupuk atau nilai tukar harga komoditas perkebunan terhadap pupuk, yaitu rasio antara harga komoditas perkebunan terhadap harga pupuk,

2) NT-Lahan atau nilai tukar harga komoditas perkebunan terhadap lahan, yaitu rasio antara harga komoditas perkebunan terhadap harga sewa lahan, 3) NT-Upah atau nilai tukar harga komoditas

perkebunan terhadap upah, yaitu rasio antara harga komoditas perkebunan terhadap upah tenaga kerja.

Untuk mempelajari lebih mendalam tentang kesejahteraan, digunakan analisa Nilai Tukar Pendapatan Perkebunan, yaitu penerapan pendekatan nilai dalam penghitungan nilai tukar. Nilai tukar pendapatan perkebunan menggambarkan tingkat daya beli pendapatan usahatani perkebunan terhadap nilai komponen biayanya. Nilai Tukar tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Nilai Tukar Pendapatan Usaha Tani komoditas perkebunan dirumuskan sebagai berikut:

Pyi Qyi NTU-I = ---

Pxj Qxj dimana:

NTU-I = nilai tukar pendapatan usaha tani terhadap input

Pyi = harga komoditas pertanian ke i (i = karet, kakao, sawit, dan tebu),

Qyi = produksi komoditas pertanian ke i, Pxj = harga input produksi ke j,

Qxj = jumlah input produksi ke j,

j = input ptoduksi (lahan, benih, pupuk, tenaga kerja)

(4)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Nilai tukar pendapatan usaha tani komoditas perkebunan akan didekomposisi sebagai berikut:

a) NTI-Biaya atau Nilai Tukar pendapatan usaha tani komoditas perkebunan terhadap Biaya produksi, yaitu rasio antara nilai pendapatan usaha tani terhadap biaya produksi,

b) NTI-lahan atau Nilai Tukar pendapatan usaha tani komoditas perkebunan terhadap Lahan, yaitu rasio antara nilai pendapatan usaha tani terhadap biaya (sewa) lahan, c) NTI-Upah atau Nilai Tukar pendapatan

usaha tani komoditas perkebunan terhadap Upah, yaitu rasio antara nilai pendapatan usaha tani terhadap biaya (upah) tenaga kerja,

d) NTI-Pupuk atau Nilai Tukar pendapatan usaha tani komoditas perkebunan terhadap Pupuk yaitu rasio antara nilai pendapatan usaha tani terhadap biaya (nilai) pupuk, Sumber Data

Data yang digunakan pada analisis nilai tukar usaha tani komoditas perkebunan adalah data primer usaha tani yang dihasilkan dari studi Patanas tahun 2008 dan 2012 di empat propinsi, yaitu Provinsi Jambi, (mewakili komoditas karet dan sawit), Jawa Timur (tebu), Kalimantan Barat (komoditas karet dan sawit), dan Sulawesi Selatan (mewakili komoditas kakao).

STRUKTUR PENGUASAAN LAHAN PETANI PERKEBUNAN

Penguasaan total lahan pertanian bagi rumah tangga petani perkebunan tahun 2009-2012 umumnya mengalami penurunan, kecuali komoditas tebu menunjukkan peningkatan sekitar 67,68%. Menurunnya penguasaan lahan seperti kakao dikarenakan terjadinya alih fungsi komoditas, yakni kebun kakao menjadi sawah dan lahan kering untuk tanaman pangan. Sisi lain adalah banyak tanaman kakao yang rusak atau mati akibat serangan OPT (hama PBK, babi, tikus, dan lainnya). Bahkan cukup banyak lahan warisan yang diberikan kepada yang menerimanya telah berubah fungsi (fragmentasi lahan). Dengan demikian, lahan yang dimiliki petani dari satu generasi ke genarasi berikutnya

akan semakin sempit. Dengan kata lain, terjadi marjinalisasi pemilikan lahan. Pada batas luasan lahan tertentu, petani berlahan sempit cenderung akan menjual lahannya karena pendapatan yang diperoleh dari lahan yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka.(Tabel 1.)

Tabel 1. Dinamika Penguasaan Lahan Pertanian Rumah Tangga Petani Komoditas Perkebunan, Patanas, 2009-2012 Perubahan 2009 2012 (%) Kakao 0,94 0,52 -45,25 Sawit 1,45 1,38 -5,09 Karet 2,06 1,73 -16,33 Tebu 0,31 0,51 67,68 Komoditas Lahan Pertanian

Sumber: Data Patanas (diolah)

Sama halnya pada tanaman karet penguasaan lahan pertanian sejak periode 2009-2012 mengalami penurunan hingga -16.33 persen. Menurunnya hal tersebut dikarenakan yakni rata-rata umur tanaman karet yang sudah tua ( umur tanaman karet lebih dari 50 tahun), serta penyakit jamur putih yang mewabah pada waktu itu.

Begitu pula pada tanaman kelapa sawit yang kondisi penguasaan lahan petani semakin menurun, hal ini dikarenakan banyak lahan yang dilepas akibat semakin tingginya biaya input serta harga jual tandan sawit yang rendah, sehingga saat itu hasil panen yang di dapat belum sepenuhnya dapat menutupi biaya sarana produksi.

NILAI TUKAR PETANI PERKEBUNAN Data nasional menunjukkan dalam kurun waktu empat tahun (2009-2012) laju pertumbuhan nilai tukar petani perkebunan rata-rata sebesar 0,13%/tahun (BPS, 2012). Peningkatan NTP menunjukkan bahwa laju harga yang diterima petani lebih tinggi dibanding laju harga yang dibayar petani.

Dalam periode 2009 -2012, penurunan NTP pernah terjadi pada periode Maret 2010 sampai November 2010 dan setelahnya menunjukkan peningkatan secara konsisten. Nilai NTP perkebunan pada bulan Agustus

(5)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Tabel 2. Perkembangan Nilai Tukar Petani Perkebunan Periode 2009-2012

2009 2010 2011 2012 bulan Ht Hb NTP R Ht Hb NTP R Ht Hb NTP R Ht Hb NTP R 1 118,20 117,89 100,26 128,48 122,63 104,77 136,81 130,74 104,64 143,42 134,53 106,61 2 120,12 118,65 101,24 128,64 123,12 104,48 138,75 131,16 105,79 143,64 134,95 106,44 3 121,60 118,95 102,23 128,88 123,13 104,67 139,35 131,18 106,23 144,01 135,24 106,49 4 123,42 118,70 103,98 129,06 123,51 104,49 140,57 130,63 107,61 144,35 135,7 106,37 5 123,03 118,75 103,61 129,36 123,74 104,54 141,17 130,59 108,1 144,64 136,07 106,29 6 123,44 119,00 103,73 129,59 124,34 104,22 141,82 130,95 108,3 144,50 136,69 105,72 7 124,16 119,40 103,98 130,02 126,20 103,03 141,97 131,68 107,82 144,73 137,51 105,25 8 125,70 119,99 104,77 130,92 127,24 102,90 143,08 132,51 107,98 145,91 138,45 105,39 9 127,53 121,10 105,31 131,64 127,64 103,13 143,56 132,81 108,1 146,25 138,6 105,52 10 128,18 121,50 105,49 132,85 127,68 104,05 143,73 132,94 108,12 147,19 138,82 106,03 11 128,00 121,39 105,44 134,01 128,45 104,33 143,37 133,31 107,55 146,88 139,12 105,58 12 128,36 121,61 105,55 135,18 129,67 104,25 143,32 133,69 107,2 146,90 139,65 105,19

Gambar :Perkembangan Nilai Tukar Petani Perkebunan Jan 2009- Des 2012

sebesar 102,90 tersebut merupakan nilai NTP terendah pada periode tahun 2009 -2012, namun masih diatas nilai 100 (tabel 2 dan Gambar 1). Artinya dalam periode Maret – Agustus 2010 terjadi peningkatan yang lebih tinggi pada indeks harga yang dibayar (Hb) dibandingkan laju indeks harga yang diterima petani (Ht)

NILAI TUKAR PETANI KOMODITI

PERKEBUNAN Komoditas Karet

Berikut ini adalah hasil perhitungan nilai tukar usaha tani karet di desa Patanas (Panel Petani Nasional) tahun 2009–2012. Dari hasil analisis usaha tani karet secara total perubahan biaya produksi yang dikeluarkan pada periode 2009-2012 menurun, artinya pada tahun 2009-2012 tidak

(6)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

ada pembelian bibit karet, tetapi biaya pemeliharaan yang cukup tinggi, seperti pemakaian pupuk, obat-obatan, dan upah tenaga kerja mengalami peningkatan, seperti pupuk mengalami kenaikan sekitar 34.9 % (tahun 2012) dibanding tahun 2009 hanya 30.7 %. Begitu pula obatan-obatan mengalami kenaikan 2 kali lipat dibanding tahun 2009, yakni pada tahun 2009 biaya obat-obatan sekitar 22.5% meningkat menjadi 45.4% di tahun 2012. Sama halnya biaya pupuk dan obata-obatan, bahwa biaya upah tenaga kerja mengalami kenaikan tetapi relatif signifikan, artinya selama periode tidak mengalami kenaikan yang drastis hanya 18.1 % tahun 2012 atau hanya meningkat sekitar Rp. 4400/hari, sehingga total biaya usahatani yang dikeluarkan tahun 2012 sebesar Rp. 3.9 juta/ha. Dengan demikian pendapatan bersih yang diperoleh petani selama periode 2009-2012 mengalami peningkatan sekitar 82.7 % ( atau mengalami peningkatan sekitar 5.3 juta/ha), lebih rinci tertera pada Tabel 3.

Fenomena yang menarik adalah dengan pendapatan bersih yang mengalami peningkatan, tetapi produksi mengalami penurunan, sekitar 1.8 %, hal ini karena adanya wabah penyakit jamur putih. Peningkatan pendapatan tersebut terjadi karena adanya peningkatan harga yang sebesar 50 persen Rp 8000/kg menjadi Rp. 12000/kg tahun 2012.

Dengan kondisi usahatani di atas, terjadi kenaikan nilai tukar pendapatan usahatani karet terhadap total biaya produksi tahun 2009-2012 sebesar 90,06 persen atau peningkatan rata-rata 22,51 persen/tahun. Peningkatan nilai tukar ini sejalan dengan peningkatan nilai tukar pendapatan usahatani terhadap sewa lahan, pupuk urea, dan upah, masing-masing dengan rata-rata peningkatan nilai tukar terhdap sewa lahan sebesar 35,06 persen, terhadap pupuk 47,21 persen, dan terhadap upah 54,77 persen.

Dalam konsep nilai tukar petani, yaitu rasio antara harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar, nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan dan upah.

Tabel 3. Perubahan NT Pendapatan Usaha Tani Komoditas karet (2009-2012)

Uraian Karet

2009 2012 perubahan(%) A. Analisis Usaha Tani/ha (Rp 000)

Nilai Produksi 10.547 15.772 49,5

Biaya Produksi 4.101 3.943 -3,9

Pendapatan Bersih 6.446 11.779 82,7

R/C Ratio 2.6 4.0

Produksi (Kg/Ha) 1.310 1.287 -1,8

Harga Jual Produk (Rp/kg) 8.051 12.216 51,7 sewa lahan (Rp.000) 2,200 7.500 34.08 Harga Pupuk Urea Tk Petani (Rp/kg) 1.500 1.862 24,1 Upah Buruh (Rp000/hari) 24.525 28.957 18,1

B. Nilai Tukar Pendapatan

Terhadap Total Biaya Produksi 1,57 2,99 90,06 Terhadap Sewa lahan 47,94 64,02 35,06

Terhadap Upah 0,3 0,4 54,77

Terhadap Pupuk 4,3 6,33 47,21

C. Nilai Tukar Petani

NT Harga Output Thd Pupuk Urea 5,37 8,14 51,58 NT Harga Out Put Thd Upah 0,33 0,42 27,94

(7)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Penurunan nilai tukar terjadi terhadap sewa lahan yang mencapai 35,06 persen/tahun, disusul nilai tukar terhadap upah sebesar 54,77 /tahun, dan nilai tukar terhadap pupuk urea 47,21 persen/tahun. Artinya harga yang diterima lebih besar dari pada harga yang dibayarkan, hal ini menunjukkan bahwa petani mampu menutupi seluruh komponen biaya. Komoditas Kakao

Di Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di desa patanas bahwa komoditas kakao merupakan komoditas unggulan utama dan paling menonjol dibandingkan jenis tanaman perkebunan lainnya. Kendati tergolong sebagai komoditas unggulan, secara garis besar usahatani kakao rakyat ini masih memiliki beberapa kekurangan dan perlu ditingkatkan. Menurut Iqbal. dan Azmi (2006) bahwa Kekurangan tersebut terkait dengan berbagai aspek, mulai dari budidaya, pemeliharaan, panen/pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran. Namun dengan potensi yang dimiliki, usahatani ini berpeluang untuk dibenahi baik secara teknis maupun dalam hal penataan kelembagaannya. Salah satu peluang

guna merealisasikan tujuan tersebut adalah melalui implementasi Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Primatani).

Usahatani kakao dilihat secara total pendapatan bersih yang diperoleh mengalami penurunan periode 2009-2012, adanya penurunan dikarenakan selain rendahnya produktivitas yang dicapai, hama penggerak buah kakao (PBK) yang sampai saat ini belum dapat diatasi petani serta hama binatang babi dan kera yang merusak buah kakao bahkan merusak tanaman.

Pendapatan usahatani kakao seperti yang terdapat pada Tabel 4, mengalami penurunan, hal ini dikarenakan komponen biaya produksi yang meningkat sekitar 75% ( dari Rp.3.1 juta/ha – Rp. 5.5 juta/ha). Peningkatan tersebut seperti biaya pupuk, obat-obatan, upah tenaga kerja dan adanya biaya sewa lahan. Disisi lain menurunnya harga jual produksi kakao sekitar 8.6% dibanding tahun 2009 (Rp.15.589/kg) turun menjadi Rp. 14.245/kg. Pola tahun 2012 bahwa nampaknya minat petani berusahatani sudah menurun, disamping harga saprodi dan upah tenaga kerja yang kian meningkat

Tabel 4. Perubahan NT Pendapatan Usaha Tani Komoditas Kakao (2009-2012)

Uraian Kakao

2009 2012 Perubahan (%) A. Analisis Usaha Tani/ha (Rp 000)

Nilai Produksi 10.195 10.684 4,8

Biaya Produksi 3.117 5.456 75

Pendapatan Bersih 7.078 5.228 -26,1

R/C Ratio 0.9 2.0 122,2

Produksi (Kg/Ha) 654 750 14,8

Harga Jual Produk (Rp/kg) 15.589 14.245 -8,6

Sewa Lahan 0 2.286 100

Harga Pupuk Urea Tk Petani (Rp/kg) 1296 1518 17,1 Upah Buruh (Rp000/hari) 19.052 23.000 20,7

B. Nilai Tukar Pendapatan

Terhadap Total Biaya Produksi 2,27 0,96 -57,8

Terhadap Sewa Lahan 0 2,28 100

Konsumsi Pangan 0,72 0,15 -79,2

Konsumsi Nonpangan__ 1,13 0,24 -78,8

C. Nilai Tukar Harga

NT Harga Output Thd Pupuk Urea 10,39 9,5 -8,6 NT Harga Out Put Thd Sewa Lahan 0,16 0,14 -12,5 NT Harga Out Put Thd Upah 0,4 0,49 22,5

(8)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Pada komoditas kakao biaya tertinggi terletak pada biaya bibit dan pupuk. Dan keuntungan yang didapat sekitar Rp. 5.2 juta/ha. Berbeda dengan komoditas sawit dan tebu bahwa biaya terbesar yang dikeluarkan pada usahatani komoditas sawit dan tebu pada biaya sewa lahan. Untuk komoditas tebu biaya bibit saat itu ada pembokaran total, karena selama ini petani panen tebu selalu sistem ratoon. Sisi lain bahwa kedua komoditas tersebut memiliki produksi yang cepat menghasilkan, dan memang sangat berperan dalam pasar domestik serta sebagai devisa negara.

Pada komoditas kakao pada periode tersebut terjadi penurunan pendapatan bersih hingga 26%. Penurunan ini dikarenakan harga produk yang menurun karena kualitas kakao saat itu yang tidak baik serta biaya produksi yang semakin meningkat.

Dengan kondisi usahatani di atas, terjadi penurunan nilai tukar pendapatan usahatani kakao terhadap total biaya produksi tahun 2009-2012 mengalami penurunan sebesar 57,08 persen.

Rasio Nilai tukar harga antara harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar, nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan dan upah mengalami penurunan masing –masing sebesar -8,65/tahun dan -12,5 %/tahun. Tetapi rasio nilai tukar harga terhadap upah sebesar 22,5/tahun. Dengan demikian nilai tukar petani, yaitu rasio antara harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar, nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan mengalami penurunan.

Komoditas Sawit

Perkembangan sektor perkebunan di Kalimantan Barat dari tahun ketahun memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dalam skala perkebunan besar, produksi terbesar di Kalimantan Barat adalah tanaman kelapa sawit.

Secara teknis, kelapa sawit cocok untuk daerah Kalimantan Barat, karena tidak mempersyaratkan kesuburan tanah, Hampir sepertiga luas wilayah Kalimantan Barat sudah dikonversi menjadi wilayah perkebunan sawit. Hasil-hasil dari perkebunan ini memberikan kontribusi terhadap pembangunan di daerah Kalimantan Barat dan merupakan salah satu

mata pencaharian masyarakat di Kalimantan Barat. Selain bagi masyarakat, perusahaan pengelolanya juga dapat menghasilkan keuntungan dengan menjual hasil perkebunan baik melalui pasar domestik maupun pasar global.

Kelapa sawit merupakan bentuk usaha yang dipilih karena hasil yang sangat menjanjikan. Tetapi sekitar 60% lahan yang ada di Kalimantan Barat kini telah beralihfungsi menjadi perkebunan. Lahan terluas yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat yaitu di kabupaten Sanggau dengan luas lahan 63.238 Ha, untuk peringkat kedua yaitu di kabupaten Ketapang dengan luas lahan 49.936 Ha, dan untuk terluas ketiga yaitu kabupaten Sekadau dengan luas lahan 24.634 Ha.(Akbari Safitri,et al, 2013).

Dibalik dampak positif yang dihasilkan oleh perkebunan sawit ini, terdapat pula dampak negatifnya. Keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar seperti sekarang ini, mengancam Kalimantan Barat sebagai satu kesatuan ekologis. Juga merusak keseimbangan alam dan lingkungan, seperti akar dari kelapa sawit sangat sulit untuk dibersihkan walaupun pohon sawit tersebut telah mati, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar akar dan tanah yang telah ditanami kelapa sawit dapat digunakan lagi. Selain itu tanah bekas perkebunan kelapa sawit akan menjadi gersang karena unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah telah habis.

Hal yang paling dikritisi adalah pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan skala besar. Misalnya saja, target untuk luasan pembukaan perkebunan kelapa sawit yaitu 1,5 juta Ha. Kebun yang sudah ditanam dan telah dikelola mencapai 900 ribu hektar. Tetapi faktanya proses perizinan kini sudah mencapai 4,8- 4,9 juta Ha. Luas perkebunan yang masih dalam proses perizinan yang jauh lebih luas dari target itu akan kembali merusak hutan di Kalbar.

Target yang 1,5 juta hektar itu sebenarnya prioritas untuk lahan kritis dan tidak produktif. Tetapi jika izin nanti melebihi target, bisa dipastikan jika yang diambil itu bukan hanya lahan kritis. Pasti di dalamnya ada tanah yang masih punya hutan, ada hutan produksi, dan lahan gambut. Wilayah yang dikelola masyarakat menjadi semakin sempit.

(9)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Tabel 5. Perubahan NT Pendapatan Usaha Tani Komoditas Kelapa Sawit (2009-2012)

Uraian

Kelapa sawit

2009 2012 Perubahan (%) A. Analisis Usaha Tani/ha (Rp 000)

Nilai Produksi 23.646 32.173 36,1

Biaya Produksi 4.663 8.305,00 78.1 Pendapatan Bersih 18.983 23.868,00 25.7

R/C Ratio 3.1 3.9

Produksi (Kg/Ha) 18.33 22.219 21,2 Harga Jual Produk (Rp/kg) 1.29 1.448 12,2

Sewa Lahan 1.5 3.846 156.4

Harga Pupuk Urea Tk Petani (Rp/kg) 1.322 1.934 46.3 Upah Buruh (Rp000/hari) 37.137 48.211 29.8

B. Nilai Tukar Pendapatan

Terhadap Total Biaya Produksi 4,07 2,87 32.91 Terhadap Sewa Lahan 12,66 6,21 16.43

Terhadap Upah 0,51 0,5 86.24

Terhadap Pupuk 14,36 12,34 55.51

Konsumsi Pangan 1,2 1,16 -3,3

Konsumsi Nonpangan 2,19 2,18 -0,5

C. Nilai Tukar Harga

NT Harga Output Thd Pupuk Urea 0,86 0,97 12,8 NT Harga Out Put Thd Sewa Lahan 0,01 0,01 0,0 NT Harga Out Put Thd Upah 0,04 0,05 25,0

Sebaiknya pemerintah melakukan pengecekan terhadap daerah-daerah yang telah melanggar dan melegalkan proses perizinan yang semestinya lahan itu bukan untuk perkebunan. Jika beberapa tahun kedepan pembukaan perkebunan masih terus diperluas, akibatnya akan terjadi bencana alam yang mungkin berujung pada bencana kemanusiaan. Seharusnya bencana alam dapat dicegah sejak dini, sebagai suatu harapan agar anak cucu nanti masih dapat melihat betapa indahnya alam yang luas dan pohon-pohon lebat maka mulai dari sekarang upayakan dalam menerima suatu perusahaan pertimbangkan matang-matang apa dampak yang ditimbulkan baik dampak positif maupun negatif.

Pada (Tabel 5) pada periode 2009-2012 terjadi perubahan peningkatan usaha tani dari komoditas kelapa sawit, hal ini dikarenakan biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditutupi dari hasil jual produk yang meningkat dibanding pada tahun 2009. Dengan kondisi usahatani diatas, terjadi kenaikan nilai tukar

pendapatan usahatani sawit terhadap total biaya produksi, dengan perubahan 32,91 persen/tahun. Peningkatan nilai tukar ini sejalan dengan peningkatan nilai tukar pendapatan usahatani terhadap sewa lahan, pupuk urea,dan upah, masing-masing -rata perubahan nilai tukar terhdap sewa lahan sebesar 16.43/tahun; terhadap pupuk 55,51 persen/tahun,dan terhadap upah 86,24 persen/tahun. Dalam konsep nilai tukar petani,yaitu rasio antara harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar, nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan dan upah pada komoditastebu dan tembakau menurun.

Komoditas Tebu

Perkembangan komoditas tebu di Jawa Timur dilaksanakan Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional sejak tahun 2001. Kegiatan rehabilitasi tanaman menggunakan bibit tebu unggul telah dapat mengganti pertanaman tebu varietas lama milik petani

(10)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

seluas 28.000 Ha. Kemudian mulai tahun 2003 dilaksanakan kegiatan penggantian varietas melalui pembangunan kebun bibit dan Bongkar Ratoon. Pembangunan kebun bibit seluas 2.912 Ha pada tahun 2003, 2.861 Ha pada tahun 2004 dan 2.861 Ha pada tahun 2005. Realisasi kegiatan bongkar ratoon di Jawa Timur mulai tahun 2003 - 2005 mencapai 97.135 Ha, yang terdiri dari hasil bongkar ratoon tahun tanam 2003/2004 terealisasi 26.125 Ha, pada musim tanam 2004/2005 seluas 31.110 Ha, musim tanam 2005/2006 seluas 39.900 Ha. Pada tahun 2013 dilakukan program bongkar ratoon di 26 kabupaten seluas 28.400 Ha. Rata-rata areal tebu yang dicapai sejak 2010-2014 seluas 205.525 ribu ha, produktivitas 6.18 kg/ha dan rendemen dicapai sekitar 7,26%.

Sejak tahun 2009 komoditas tebu sebagai bahan baku pembuat gula masih terbelengkalai dalam pelaksanaanya. Jika melihat trend saat

ini yang mengedepankan bio energi seharusnya sudah mulai digalakkan penanaman tebu. Tetes tebu yang merupakan produk dari tebu ini bisa dijadikan sebagai bahan baku biofuel.

Menilik apa yang telah dilakukan Pemerintah Jawa Timur dalam menjalankan program ini. Propinsi Jawa Timur termasuk salah satu propinsi di Pulau Jawa yang melaksanakan program akselerasi produktivitas gula nasional yang dicanangkan oleh Departemen Pertanian. Dengan kegiatan utama pembongkaran eks tanaman tebu ratoon dan pembangunan kebun bibit tebu. Di Jawa Timur. Salah satu dampak dari program ini, banyak dijumpai petani yang melakukan bongkar ratoon tanaman tebu dan diganti dengan bibit tebu yang berkualitas. Program bongkar ratoon menjadi dambaan petani untuk mengganti varietas tanaman tebunya.

Tabel 6. Perubahan NT Pendapatan Usaha Tani Komoditas Tebu (2009-2012)

Uraian Tebu

2009 2012 Prbh (%) A. Analisis Usaha Tani/ha (Rp 000)

Nilai Produksi 5.250 7.497 42,8

Biaya Produksi 7.270 16.437 126,1

Pendapatan Bersih 5.242 7.480 42,7

R/C Ratio 0.7 0.8

Produksi (Kg/Ha) 638 638 0

Harga Jual Produk (Rp/kg) 8.229 11.750 42,8

Sewa Lahan 3.488 4.545 30,3

Harga Pupuk Urea Tk Petani (Rp/kg) 1.321 1.740 31,7 Upah Buruh (Rp000/hari) 13.664 20.628 51 B. Nilai Tukar Pendapatan

Terhadap Total Biaya Produksi 0,72 0,46 -36,9

Terhadap Sewa Lahan 1,5 1,65 9,5

Terhadap Upah 0,38 0,36 -5,5

Terhadap Pupuk 3,97 4,3 8,3

Konsumsi Pangan 1,1 1,8 63,6

Konsumsi Nonpangan 1,9 2,9 52,6 C. Nilai Tukar Harga

NT Harga Output Thd Pupuk Urea 5,49 7,83 42,6 NT Harga Out Put Thd Sewa Lahan 0,08 0,12 50,0 NT Harga Out Put Thd Upah 0,28 0,41 46,4

(11)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Dari hasil penelitian patanas tahun 2009-2012 pada kegiatan usahatani tebu (Tabel 6) perubahan biaya terbesar yang dikeluarkan adalah pada kegiatan bibit ( 41.6%), karena adanya bongkar ratoon tersebut. Sehingga biaya total produksi mengalami perubahan mencapai 126%. Dengan kondisi tersebut usaha tani di atas terjadi kenaikan nilai tukar pendapatan usaha tani tebu sebaliknya mengalami negative. Dengan demikian, bahwa nilai tukar petani yaitu rasio antara harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar, nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan, dan upah cenderung menurun. Dengan kondisi usahatani tebu di atas, terjadi penurunan nilai tukar pendapatan usahatani tebu terhadap total biaya produksi tahun 2009-2012 yakni sebesar -36,9 persen pertahun. Penurunan nilai tukar ini sejalan dengan penurunan terhadap upah tenaga kerja yakni sebesar -5,5 persen pertahun. Tetapi sebaliknya terjadi peningkatan terhadap sewa lahan dan pemakaian pupuk, yakni masing-masing 9,5 persen dan 8,3 persen pertahun.

Dalam konsep nilai tukar petani, yaitu rasio antara harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar, nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan dan upah, justru mengalami peningkatan yakni 42,6 persen, 50,0 persen dan 46,4 persen pertahun.

STRUKTUR PENDAPATAN DAN NILAI

TUKAR PENDAPATAN RUMAH

TANGGA PERKEBUNAN

Untuk melihat melihat tingkat kesejahteraan rumahtangga perkebunan akan dianalisa struktur pendapatan dan nilai tukarnya terhadap pengeluaran, terutama pengeluaran pangan dan non pangan. Berikut ini diuraikan berbagai perkembangan struktur pendapatan rumahtangga petani perkebunan ( Karet, Kakao, Sawit Dan Tebu) di desa patanas periode 2009-2012.

Petani Karet

Secara nominal rata-rata tingkat pendapatan rumah tangga petani karet tahun 2012 meningkat sekitar Rp. 12 juta atau meningkat 74.3 % sedangkan pendapatan tertinggi adalah pada usaha non pertanian mencapai 155. 9 % atau meningkat sekitar dari Rp. 4.6 juta menjadi Rp. 12 juta.

Dengan share yang paling tinggi pada usaha pendapatan rumahtangga petani adalah usaha pendapatan non pertanian sehingga berdasarkan sumber pendapatan proporsi pendapatan paling terbesar adalah pendapatan non pertanian sebesar 46.8%

Informasi pada tahun 2015 bagi pemerintah Provinsi Jambi untuk komoditas karet tetap memprioritaskan pembangunan perkebunan karet karena komoditas ini pada tahun 2015 harga sudah lebih baik dari tahun sebelumnya, karet yang merupakan komoditas unggulan diyakini menjadi penggerak ekonomi rakyat dan daerah. Perkebunan karet di Jambi dipertahankan sebagai lokomotif ekonomi rakyat karena komoditas tersebut membuka banyak peluang kerja. Pesatnya pembangunan perkebunan karet di Jambi selama ini mampu menyerap banyak tenaga kerja, termasuk tenaga kerja kurang berpendidikan di daerah pedesaan. Karena itu perkebunan karet sangat diandalkan sebagai salah satu solusi penanggulangan masalah kemiskinan dan pengangguran.

Sisi lain bahwa perkebunan karet di Jambi semakin luas karena masyarakat sudah cukup lama memiliki tradisi perkebunan. Tradisi berkebun tersebut menjadi modal penting untuk menjadikan perkebunan karet sebagai penggerak ekonomi rakyat. Perkebunan karet merupakan motor penggerak ekonomi rakyat dan daerah karena usaha perkebunan karet sudah membudaya sejak lama di daerah ini. Kemudian sebagian besar lahan di daerah itu sangat cocok dikembangkan untuk kebun karet. Karena itu tradisi berkebun karet di Jambi tidak perlu diubah. (Majalah Hortus. 2015).

Di tahun 2015 karet sebagai primadona, sehingga harus mendapat perhatian serius dalam upaya pengembangannya, misalnya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat maka pola tanam yang lebih baik serta kualitas bibit perlu secara rutin diperbaiki serta ditingkatkan. Untuk memotivasi peningkatan hasil perkebunan maupun pertanian. Pemerintah saat ini tengah dan akan terus membangun jalan menuju sentra produksi, dengan upaya diharapkan dapat menekan ongkos produksi petani.

Informasi dari Dinas Perkebunan Provinsi Jambi bahwa sub sektor perkebunan khususnya komoditas karet merupakan andalan

(12)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat, karena itu menjadi PR bagi pemerintah daerah untuk memantapkan program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan yang berkelanjutan.

Dalam konsep nilai tukar petani, yaitu rasio antara harga yang diterima petani

terhadap harga yang dibayar, nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan dan upah pada komoditas karet cenderung positif. Persentase nilai tukar pendapatan tertinggi adalah terhadap konsumsi non pangan ( 27.99%) dan persentase nilai tukar pendapatan adalah terhadap total pengeluaran yakni sekitar 0.94%.

Tabel 7. Dinamika NTP Berbasis Komoditas karet, Tahun 2009 – 2012

Uraian Karet

2009 2012 Prbh % Sumber Pendapatan (Rp.000)

Pendapatan Pertanian 11,92 16,94 42,11 Pendapatan Non Pertanian 4,7 12,02 155,74 Pendapatan Total 16,62 28,96 74,25

Biaya Pertanian 1,96 2,49 27,04

Total Pengeluaran 21,47 30,69 42,94

Konsumsi Pangan 12,68 17,86 40,85

Konsumsi Non Pangan 6,83 10,03 -84,92

NTP pendapatan (%)

terhdp total pengeluaran 0,77 0,94 22,08 terhdp konsumsi pangan 1,31 1,62 23,66 terhdp konsumsi non pangan 2,43 2,89 18,66 terhdp total konsumsi 1,31 1,62 23,71 Tabel 8. Dinamika NTP Berbasis Komoditas kakao, Tahun 2009 – 2012

Uraian Kakao 2009 2012 prbh % Sumber Pendapatan (Rp.000) Pendapatan Pertanian 9,7 6,04 -37,7 Pendapatan Non Pertanian 10,04 21,62 115,3

Pendapatan Total 19,74 27,66 40,1

Biaya Pertanian 1,58 1,53 -3,2

Total Pengeluaran 20,1 26,68 32,7

Konsumsi Pangan 11,31 15,47 36,8

Konsumsi Non Pangan 7,21 9,68 34,3

NTP pendapatan (%)

terhdp total pengeluaran 0,98 1,04 6,12 terhdp konsumsi pangan 1,75 1,79 2,29 terhdp konsumsi non pangan 2,74 2,86 4,38 terhdp total konsumsi 1,07 1,1 2,80

(13)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Tabel 9. Dinamika NTP Berbasis Komoditas kelapa sawit, Tahun 2009 – 2012

Uraian

Kelapa sawit 2009 2012 Prbh % Sumber Pendapatan (Rp.000)

Pendapatan Pertanian 23,15 47,38 104,7 Pendapatan Non Pertanian 6,1 17,53 187,4

Pendapatan Total 29,24 64,91 122

Biaya Pertanian 3,85 6,17 60,3

Total Pengeluaran 26,86 40,25 49,9

Konsumsi Pangan 14,88 22,23 49,4

Konsumsi Non Pangan 8,13 11,85 45,8

NTP pendapatan (%)

terhdp total pengeluaran 1,09 1,61 47,71 terhdp konsumsi pangan 1,96 2,92 48,98 terhdp konsumsi non pangan 3,6 5,48 52,22 terhdp total konsumsi 1,27 1,9 49,61

Petani Kakao

Untuk komoditas kakao sumber pendapatan yang mengalami perubahan peningkatan terbesar ada pada sumber pendapatan non pertanian ( 115.3%), sedangkan yang mengalami penurunan justru ada pada pertanian. Hal ini dikarenakan harga yang kurang menguntungkan pada saat itu. Sisi lain total pengeluaran konsumsi pangan lebih besar dari pada pengeluaran konsumsi non pangan ( 34.3%).

Untuk komoditas kakao dinamika NTP selama periode 2009-2012 sumber pendapatan rumahtangga tertinggi terletak pada sumber pendapatan non pertanian yakni dari Rp. 10 juta menjadi Rp. 21.6 juta tahun 2012 atau mengalami peningkatan 38.33 persen pertahunnya. Dan persentase NTP pendapatan tertinggi adalah NTP terhadap total konsumsi non pangan sekitar 2.86 % di tahun 2012. Untuk lebih rinci dinamika NTP per komoditas tertera pada tabel 7 dibawah ini.

Petani Sawit

Pada komoditas sawit persentase sumber pendapatan yang mengalami perubahan tertinggi selama periode 2009-2012 ada sumber pendapatan non pertanian, hal ini dikarenakan rata-rata petani sawit setelah mengolah usahataninya, sebagian besar petani bekerja disektor non pertanian, seperti bekerja sebagai tukang kayu atau bangunan, tukang ojek dari

desa ke pasar yang letaknya cukup jauh dari tempat pemukiman. Untuk komoditas sawit dinamika NTP selama periode 2009-2012 sumber pendapatan rumahtangga tertinggi terletak pada sumber pendapatan non pertanian yakni dari Rp. 6 juta menjadi Rp. 17,53 juta tahun 2012 atau mengalami peningkatan 187.4% pertahunnya. Dan persentase NTP pendapatan terhadap pengeluaran tertinggi adalah NTP terhadap total konsumsi non pangan sekitar 5.48 % di tahun 2012. Dan persentase terendah terhadap pengeluaran ada pada pengeluaran total konsumsi yakni sekitar 1.9 persen.

Petani Tebu

Tingkat pendapatan rumahtangga perkebunan tebu masih dari sumber pendapatan non pertanian Secara rata-rata kontribusi peningkatan pendapatan dari kegiatan non pertanian meningkat sebesar 205,96 persen dalam kurun waktu 3 tahun, yaitu meningkat dari rata-rata Rp 12 juta per tahunnya. Perubahan pendapatan dari non pertanian (non-farm) lebih tinggi dari pendapatan dari usahatani (on-farm). Kondisi ini juga menunjukkan terbukanya lapangan kerja usaha non pertanian dengan fasilitas yang lebih baik.

Dari struktur perilaku konsumsi rumahtangga petani, proporsi pengeluaran untuk bahan makanan relatif meningkat tahun 2009-2012 namun proporsi persentase NTP

(14)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Tabel 10. Dinamika NTP Berbasis Komoditas Tebu, Tahun 2009 – 2012

Uraian

Tebu

2009 2012 Prbh % Sumber Pendapatan (Rp.000)

Pendapatan Pertanian 17,17 33,4 94,53 Pendapatan Non Pertanian 6,21 19 205,96

Pendapatan Total 23,38 22,3 -4,62

Biaya Pertanian 2,24 3,9 74,11

Total Pengeluaran 16,25 23,6 45,23

Konsumsi Pangan 8,78 12,2 38,95

Konsumsi Non Pangan 5,22 7,6 45,59

NTP pendapatan (%)

terhdp total pengeluaran 1,44 0,95 -34,03 terhdp konsumsi pangan 2,66 1,83 -31,20 terhdp konsumsi non pangan 4,48 2,96 -33,93 terhdp total konsumsi 1,67 1,13 -32,34

pendapatan cenderung menurun dari 1.67 menjadi 1.13 persen pertahunnya. Sama halnya dengan NTP pendapatan terhadap pengeluaran non komsumsi seperti proporsi pengeluaran untuk sandang dan kesehatan. Sementara proporsi pengeluaran untuk makanan jadi, perumahan, pendidikan-rekreasi-olahraga, serta transportasi-komunikasi juga mengalami penurunan.

Secara keseluruhan dari komoditas perkebunan tersebut , berdasarkan sumber pendapatannya, rata-rata proporsi pendapatan terbesar berasal dari kegiatan di luar sektor pertanian, yaitu pada tahun 2012 menempati proporsi 57,92%, sedangkan kegiatan di sektor pertanian didominasi oleh pendapatan dari kegiatan usaha tani (on farm) dengan proporsi sebesar 33,0%. Yang menarik adalah petani yang bekerja sambilan atau berburuh tani, nampaknya tidak tertarik bagi petani, artinya petani lebih giat mengerjakan lahan kebunnya sendiri. Seperti pada tabel tersebut, terlihat proporsi pendapatan total terhadap kegiatan dari buruh tani hanya 9,0%.

Dalam kurun waktu tahun 2009-2012 rata-rata peningkatan pendapatan total rumah tangga perkebunan terjadi peningkatan sebesar 287,7% atau rata 95,9%/tahun. Rataan pendapatan rumah tangga meningkat dari Rp22,24 juta pada tahun 2009 menjadi Rp86,25 juta. Penulusuran lebih lanjut menunjukkan perubahan peningkatan pendapatan rumah

tangga relatif paling tinggi terjadi pada rumah tangga petani kelapa sawit yaitu 122%, disusul rumah tangga karet 74,3%, dan kakao 40,10% masing-masing dalam kurun waktu tiga tahun. Sebaliknya, rata-rata dari pendapatan total tebu mengalami penurunan selama periode tersebut yaitu sekitar –4,41%. Tetapi rata-rata dari pendapatan pertanian mengalami peningkatan sekitar 94,7%.

Sehingga dari uraian diatas dari struktur pendapatan dari agroekosistem lahan berbasis tanaman perkebunan, peningkatan pendapatan rumah tangga terbesar terjadi karena peningkatan pendapatan pendapatan nonpertanian (nonfarm) dan pendapatan dari kegiatan usaha tani (on-farm); sementara pendapatan dari kegiatan off-farm, yaitu berburuh tani menurun. Secara rata-rata kontribusi peningkatan pendapatan dari kegiatan nonpertanian meningkat sebesar 158,7% dalam kurun waktu tiga tahun, yaitu meningkat dari rata-rata Rp6,13 juta menjadi Rp15,88 juta. Pendapatan dari kegiatan usaha tani meningkat sebesar 137,5%, yaitu peningkatan dari Rp14,11 juta menjadi Rp33,52 juta dalam kurun waktu tiga tahun. Perubahan pendapatan dari nonpertanian (non-farm) lebih tinggi dari pendapatan dari usaha tani (on-farm). Kondisi ini juga menunjukkan terbukanya lapangan kerja usaha nonpertanian dengan fasilitas yang lebih baik.

(15)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

KESIMPULAN DAN SARAN

Penguasaan total lahan pertanian bagi rumah tangga petani perkebunan tahun 2009-2012 umumnya mengalami penurunan, kecuali komoditas tebu menunjukkan peningkatan sekitar 67,68%. Menurunnya penguasaan lahan bagi petani kakao dikarenakan terjadinya alih fungsi komoditas, yakni kebun kakao menjadi sawah dan lahan kering untuk tanaman pangan dan palawija. Sisi lain adalah banyak tanaman kakao yang rusak atau mati akibat serangan OPT (hama PBK, babi, tikus, dan lainnya). Bahkan cukup banyak lahan warisan yang diberikan kepada yang menerimanya telah berubah fungsi (fragmentasi lahan). Dengan demikian, lahan yang dimiliki petani dari satu generasi ke genarasi berikutnya akan semakin sempit. Dengan kata lain, terjadi marjinalisasi pemilikan lahan. Pada batas luasan lahan tertentu, petani berlahan sempit cenderung akan menjual lahannya karena pendapatan yang diperoleh dari lahan yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka.

Bagi petani karet penguasaan lahan pertanian sejak periode 2009-2012 mengalami penurunan hingga -16.33 persen. Menurunnya hal tersebut dikarenakan rata-rata umur tanaman karet yang diusahakan tanaman karet yang sudah tua ( umur tanaman karet lebih dari 50 tahun), disamping itu juga muncul penyakit jamur putih yang mewabah pada waktu itu dan sebagian besar lahan karet rusak.

Pada petani kelapa sawit rata –rata kondisi penguasaan lahan pertanian selama periode 2009-2012 semakin menurun, hal ini dikarenakan banyak lahan yang dilepas akibat semakin tingginya biaya input serta harga jual tandan sawit yang rendah, sehingga saat itu hasil panen yang di dapat belum sepenuhnya dapat menutupi biaya sarana produksi.

Selama periode empat tahun (2009-2012) laju pertumbuhan nilai tukar petani perkebunan rata-rata sebesar 0,13%/tahun. Penurunan NTP pernah terjadi pada periode Naret 2010 sampai November 2010 dan setelahnya menunjukkan peningkatan secara konsisten. Artinya dalam periode Maret – November 2010 terjadi peningkatan yang lebih tinggi pada indeks harga yang dibayar (Hb) dibandingkan laju indeks harga yang diterima petani.

Pada usahatani karet , terjadi kenaikan nilai tukar pendapatan usahatani karet

terhadap total biaya produksi tahun 2009-2012 sebesar 90,06 persen atau peningkatan rata-rata 22,51 persen/tahun. Peningkatan nilai tukar ini sejalan dengan peningkatan nilai tukar pendapatan usahatani terhadap sewa lahan, pupuk urea, dan upah, masing-masing dengan rata-rata peningkatan nilai tukar terhdap sewa lahan sebesar 35,06 persen, terhadap pupuk 47,21 persen, dan terhadap upah 54,77 persen. Nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan dan upah. Penurunan nilai tukar terjadi terhadap sewa lahan yang mencapai -5,66 persen/tahun, disusul nilai tukar terhadap upah sebesar -3,00 5/tahun, dan nilai tukar terhadap pupuk urea -1,21 persen/tahun.

Pada usahatani kakao, terjadi penurunan nilai tukar pendapatan usahatani kakao terhadap total biaya produksi tahun 2009-2012 mengalami penurunan sebesar 57,08 persen atau peningkatan rata-rata 1,62 persen/tahun. Penurunan nilai tukar ini sejalan dengan penurunan peningkatan nilai tukar pendapatan usahatani terhadap, pupuk urea, dan upah, masing-masing dengan rata-rata peningkatan nilai tukar terhadap pupuk -8,6 persen, dan terhadap sewa lahan -12,5 persen. Penurunan nilai tukar terjadi terhadap sewa lahan yang mencapai -100persen/tahun, disusul nilai tukar terhadap upah sebesar 22,5/tahun, dan nilai tukar terhadap pupuk urea -8,6 persen/tahun. Nilai tukar harga kakao terhadap harga pupuk, sewa lahan mengalami penurunan.

Pada kondisi usahatani sawit, terjadi penurunan nilai tukar pendapatan usahatani sawit terhadap total biaya produksi tahun 2009-2012 yakni sebesar – 29,4 persen. Penurunan nilai tukar usahatani ini sejalan dengan menurunnya peningkatan nilai tukar pendapatan usahatani terhadap sewa lahan, pupuk urea, dan upah, masing-masing dengan rata-rata peningkatan nilai tukar terhdap sewa lahan sebesar -51 persen, terhadap pupuk – 14,1 persen, dan terhadap upah -3,1 persen.

Terjadi peningkatan nilai tukar harga terjadi terhadap pemakaian pupuk urea sekitar 42,6 persen, terhadap sewa lahan sebesar 50.0 persen dan terhadap upah sekitar 46,4 persen pertahun.

Pada usahatani tebu, terjadi penurunan nilai tukar pendapatan usahatani tebu terhadap total biaya produksi tahun 2009-2012 yakni sebesar -36,9 persen pertahun. Penurunan nilai tukar ini sejalan dengan penurunan terhadap

(16)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

upah tenaga kerja yakni sebesar -5,5 persen pertahun. Tetapi sebaliknya terjadi peningkatan terhadap sewa lahan dan pemakaian pupuk, yakni masing-masing 9,5 persen dan 8,3 persen pertahun. Nilai tukar harga output terhadap harga pupuk, sewa lahan dan upah, justru mengalami peningkatan yakni 42,6 persen, 50,0 persen dan 46,4 persen pertahun.

Implikasi Kebijakan

Nampaknya untuk kedepannya pemerintah dalam ini institusi terkait perlu mengupayakan perbaikan distribusi lahan perkebunan, terutama pada wilayah lahan atau yang kondisinya mengalami ketimpangan pemilikan lahan yang cukup seirus. Dalam hal adanya upaya pemilikan dalam skala usaha perkebunan rumahtangga di perdesaan, yakni melalui program reforma agraria, tentunya mempertimbangkan faktor lingkungan.

Besarnya biaya peremajaan kebun pada tanaman tua, pemerintah harus membantu dalam proses peremajaan karena adanya jeda waktu produksi akibat peremajaan, untuk itu pemerintah perlu mempersiapkan waktu, seperti proses ketersediaan pada sarana produksi, sisi lain yang namanya program peremajaan seperti Revitalisasi perkebunan benar-benar harus di terapkan ke masyarakat petani agar secara nyata petani dapat hasil produksi kebunnya sebagai tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

[BPS]. 2015. Statistik Nilai Tukar Petani di Indonesia.

Akbari Safitri, Widiana,Anggun Arianto. 2013. Perkebunan sawit di KALBAR dan dampaknya bagi lingkungan. EDC (Econimic Debat Competition) BEM Faklultas Ekonomi UNTAN.

Masyhuri. 2007. Revitalisasi pertanian untuk mensejahterakan petani. Makalah Konpernas XV dan Kongres XIV PERHEPI; 3-5 Agustus 2007; Surakarta. Majalah Hortus. 2015. Sawit dan Karet jadi

andalan provinsi Jambi

Nurmanaf, A.R, A. Djulin, Sugiarto, A.K. Zakaria,. N.K, Agustina, J. F. Sinuraya, 2005. Dinamika Sosial Ekonomi Rumahtangga dan Masyarakat Pedesaan: Analisa Profitabilitas Usahatani dan Dinamika Harga dan Upah Pertanian. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi Dan kebijakan Pertanian. Bogor

Parawaty. 2011. Posisi Nilai Tukar Petani Padi dengan Nilai Tukar Petani Komoditas Pangan. JPAL 1(2).

Rachmat M. 2000. Analisis nilai tukar petani Indonesia [Disertasi]. Bogor (Indonesia): Institut Pertanian Bogor. Rachmat M. 2013. Nilai tukar petani: konsep,

pengukuran dan relevansinya sebagai indikator kesejahteraan petani. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 31(2):111-122.

Rosmiyati S. 2000. Studi Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Komoditas Pertanian. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor

Silitonga C. 1995. Diagnosa Metoda dan Penafsiran Angka Nilai Tukar Petani dalam Pangan. Jakarta (Indonesia): BULOG. 6(23):23-39.

Simatupang P, Maulana M. 2008. Kaji Ulang Konsep dan Perkembangan Nilai Tukar Petani Tahun 2003-2006. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan. LIPI. Sumodiningrat. 2001. Kepemimpinan dan

pemberdayaan ekonomi rakyat. Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta (Indonesia): Universitas Gadjah Mada.

Susiolawati SH. Supriyati, Muchjidin Rachmat, Kurnia Suci I., Tjetjep Nurasa, R. E. Manurung. 2012. Dinamika indikator pembangunan pertanian dan perdesaan di wilayah agroekosistem lahan kering berbasis perkebunan. Laporan

(17)

Chairul Muslim : Nilai Tukar Petani Komoditas Perkebunan …

Penelitian Patanas. Bogor (Indonesia): Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Litbang Pertanian. Tambunan. 2003. Perkembangan sektor

pertanian di Indonesia (beberapa isu penting). Jakarta (Indonesia): Ghalia.

Tomek WG, Robinson KL. 1981. Agricultural Product Prices. 2nd Edition. Ithaca: Cornell University Press.

Gambar

Tabel 2. Perkembangan Nilai Tukar Petani Perkebunan Periode 2009-2012

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Gambar 1, Barlowe (1978) menjelaskan penggunaan nilai produk dan kurva biaya untuk land rent yang merupakan surplus ekonomi setelah pembayaran biaya

Sedangkan bila diartikan dari kacamata Teknik Sipil, reklamasi dapat di artikan sebagai suatu pekerjaan penimbunan tanah dengan skala volume dan luasan yang sangat besar, pada

1) Produk, memiliki produk yang berbeda dari sekolah lainnya yakni kegiatan baca tulis Al-Quran, kegiatan ekstrakurikuler drumband, beladiri, pramuka, futsal, voli, basket. 2)

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang dilakukan di SMP Negeri 1 Mentaya Hilir Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, teknik pengumpulan data

Pentadbir Sistem ICT adalah bertanggungjawab memastikan kawalan keselamatan dilaksana bagi mengelak berlakunya capaian oleh pengguna yang tidak sah, pengubahsuaian,

Setelah mencermati dan mempelajari Nota Keuangan dan Raperda Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) Tahun Anggaran 2014 dan Rancangan Peraturan

Keterampilan Penulisan: cerita dibuat dengan benar, sistematis, dan menarik menunjukkan keterampilan pembuatan cerita yang baik Keseluruhan cerita sangat menarik, jelas

Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, kepercayaan ibu dan perilaku tokoh masyarakat dengan status imunisasi campak pada bayi/balita umur 1 –