• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR RISIKO TERJADINYA PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA PETUGAS PENGANGKUT SAMPAH DI KECAMATAN SEMARANG UTARA TAHUN 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FAKTOR RISIKO TERJADINYA PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA PETUGAS PENGANGKUT SAMPAH DI KECAMATAN SEMARANG UTARA TAHUN 2015"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

i

FAKTOR RISIKO TERJADINYA PENYAKIT AKIBAT

KERJA PADA PETUGAS PENGANGKUT SAMPAH

DI KECAMATAN SEMARANG UTARA TAHUN 2015

SKRIPSI

Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana

Kesehatan Masyarakat dengan peminatan Keselamatan Kerja

dan Kesehatan Lingkungan Industri (K3LI)

SEPTIANA ARDIYANTI

NIM. D11.2011.01272

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN

UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

SEMARANG

(2)

ii

© 2015

(3)
(4)
(5)
(6)

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan untuk

Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya

Papa dan mama ku yang tidak pernah berhenti memberikan doa Dan restu serta kasih sayang dan segala pengorbanannya

Keluarga ku yang selalu memberikan semangat Sahabat-sahabat ku yang selalu menemaniku

Teman-teman di masa kecil ku sipit ,upil dan anik yang tidak henti memberiku motivasi untuk selalu berjuang, jangan takut untuk melangkah kedepan dan semangat dalam memperjuangkan masa depan

Dosen pembimbing yang selalu sabar membimbingku dengan lembut seakan seperti Mama no.2 bagiku

(7)

vii

RIWAYAT HIDUP

Nama : Septiana Ardiyanti

Tempat, tanggal lahir : Semarang, 14 September 1993 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Perum. Wiratama 1 no.15 Gang.Nila blok.K Semarang Selatan

Riwayat Pendidikan

1. SD Negeri 02 Pudakpayung Semarang,2000 – 2006 2. SMP Negeri 26 Semarang, 2006 – 2008

3. SMA Walisongo, 2008 – 2011

4. Diterima di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang tahun 2011

(8)

viii

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan Judul “Faktor Risiko Terjadinya Penyakit Akibat Kerja pada Petugas Pengangkut Sampah di Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015”. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar derajat Sarjana S-1 pada Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan baik dari segi materi maupun teknis penulisan karena keterbatasan yang dimiliki oleh penulis, oleh karena itu harapan penulis untuk mendapatkan koreksi dan telaah yang bersifat konstruktif agar skripsi ini dapat diterima.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini, banyak memperoleh bantuan baik moril maupun material dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada :

1. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kes sebagai Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

2. Dr. dr. Sri Andarini Indreswari, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

3. Suharyo, M.Kes selaku Ketua Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

4. Eko Hartini, ST. M.Kes selaku pembimbing yang telah membimbing baik, sabar dan lembut selama perkuliahan maupun penyelesaian skripsi ini.

5. Seluruh Staf Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan studi.

(9)

ix

6. Papa dan mama tercinta yang selalu memberikan kasih sayang, doa serta dorongan moril maupun material yang tak terhingga.

7. Seluruh petugas pengangkut sampah yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian saya.

8. Sahabat-sahabat saya yang membantu, menyemangati dan menemani saya selalu Adityo Totok Endargo, Yuanika P.D, Nana Erliana, Lidya Agrilinda Nindy, Dwie Ernawati dan sahabat-sahabatku lainnya.

9. Teman–teman angkatan tahun 2011 Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang bersama – sama dalam suka maupun duka dalam proses studi.

10. Dan semua teman–teman atau pihak–pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih semuanya.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi penulis sendiri dalam melaksanakan penelitian dan menyelesaikan studi di Program Studi S1 Kesehatan masyarakat Universitas Dian Nuswantoro.

Semarang, 30 Oktober 2015

(10)

x

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

SEMARANG

2015

ABSTRAK

Septiana Ardiyanti

FAKTOR RISIKO TERJADINYA PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA PETUGAS PENGANGKUT SAMPAH DI KECAMATAN SEMARANG UTARA TAHUN 2015 XVII + 60 hal + 19 tabel + 6 gambar + 6 lampiran.

Petugas pengangkut sampah dari pemukiman penduduk ke TPS merupakan tenaga kerja yang memiliki risiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit sebagai akibat dari pekerjaannya. Berdasarkan survei pertama pada petugas pengangkut sampah di TPS Kelurahan Kuningan Kecamatan Semarang, diperoleh informasi bahwa penyakit yang paling banyak diderita petugas pengangkut sampah adalah diare, penyakit kulit, dan gangguan saluran pernafasan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko terjadinya penyakit akibat kerja pada petugas pengangkut sampah di Kecamatan Semarang Utara-Kota Semarang.

Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan

cross sectional. Metode analisis yang digunakan uji statistik Fisher’s Exact dan

uji Rank Spearman/Person Correlation. Sampel adalah sebagian dari populasi berjumlah 39 orang.

Hasil penelitian diketahui sebagian besar pekerja adalah laki-laki (84.6%), rata-rata berusia 47 tahun, rata-rata mempunyai masa kerja 12.5 tahun dan lama kerja 8 jam, gerobak sampah sebagai sarana pengangkut sampah, responden memakai 2 jenis APD 35.9%, dan 89.7% menderita penyakit akibat kerja (89.7%). Ada hubungan antara jenis sarana dan pemakaian APD dengan terjadinya penyakit akibat kerja .

Untuk melindungi kesehatan petugas pengangkut sampah, melengkapi gerobak sampah dengan sekat, meningkatkan pelindungan kesehatan petugas pengangkut sampah dengan pemakaian APD saat berkerja serta membudayakan penerapan cara hidup sehat terhadap petugas pengangkut sampah.

Kata kunci : Penyakit Akibat Kerja, Jenis Sarana, Penggunaan APD. Kepustakaan : 27, 1997-2014

(11)

xi

UNDERGRADUATE PROGRAM OF PUBLIC HEALTH FACULTY OF HEALTH SCIENCES DIAN NUSWANTORO UNIVERSITY

SEMARANG 2015 ABSTRACT

Septiana Ardiyanti

RISK FACTORS OF OCCUPATIONAL DISEASES ON WASTE TRANSPORTATION OFFICER IN SUB-DISTRICT OF SEMARANG UTARA XVIII + 60 Pages + 19 Tables + 6 Figures + 6 Appendices

The waste transportation officer from residential areas to trash shelter has a high risk of suffering from various diseases as the side impact of his work. Initial survey based on the officers of garbage in trash shelter Village of Kuningan Semarang district, obtained information that the disease most suffered by the officer was abdominal pain and diarrhea, skin diseases, and respiratory disorders. The purpose of this study was to analyze the risk factors of occupational disease on waste transportation officer in sub-district of Semarang Utara.

The type of study was descriptive analytic conducted by cross sectional approach. Data has been analyzed by d Fisher's Exact test and Spearman Rank

/ Person Correlation. The sample was 39 peoples.

Result showed that the majority of officer was male (84.6%), with average of age 47 years, the worked period was 12.5 years and worked for 8 hours per day, wheelie bins as a tools of garbage, most respondents used 2 types of personal protective equipment (35.9%), and suffering from occupational diseases (89.7%). There was a relationship between the type of vehicle, uses personal protective equipment with the occurrence of occupational diseases.

Suggested to protect health of workers garbage, relevant stakeholders are advised to minimize the risk of occupational disease by lowering levels of exposure to garbage against officers, the way of improvements and additions garbage transporter to RW in the garbage there are many which hoard.

Keywords : Occupational Disease, garbage, personal protective equipment References : 27, 1997-2014

(12)

xii

DAFTAR PUSTAKA

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN HAK CIPTA ... ii

HALAMAN PERNYATAAN SKRIPSI ... iii

HALAMAN PERSEYUJUAN PUBLIKASI ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

HALAMAN RIWAYAT HIDUP ... vii

HALAMAN PRAKATA ... viii

ABSTRAK ... x

HALAMAN DAFTAR ISI ... xii

HALAMAN DAFTAR TABEL ... xv

HALAMAN DAFTAR GAMBAR ... xvi

HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 5 C. Tujuan Penelitian ... 5 D. Manfaat Penelitian... 6 E. Keaslian Penelitian ... 7 F. Lingkup Penelitian ... 9

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sampah dan Karakteristiknya ... 10

(13)

xiii

C. Penyakit Akibat Kerja pada Petugas Pengangkut Sampah ... 16

D. Konsep Penyebab dan Proses Terjadinya Penyakit ... 20

E. Faktor Risiko Penyakit Akibat Kerja pada Petugas Pengangkut Sampah ... 23

F. KerangkaTeori ... 26

BAB III. METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep ... 27

B. Hipotesis ... 28

C. Jenis Penelitian ... 28

D. Variabel Penelitian ... 29

E. Definisi Operasional ... 29

F. Populasi dan Sampel ... 31

G. Pengumpulan Data... 31

H. Pengolahan Data ... 34

I. Analisis Data ... 35

BAB IV. HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 37

B. Analisis Hasil Univariat ... 42

C. Analisis Bivariat ... 46

BAB V. PEMBAHASAN A. Keterbatasan Penelitian ... 48

B. Penyakit Akibat Kerja pada Petugas Pengangkut Sampah ... 48

C. Uji Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Terjadinya Penyakit Akibat Kerja ... 51

(14)

xiv

D. Uji Hubungan Antara Umur dengan Terjadinya Penyakit Akibat Kerja ... 52 E. Uji Hubungan Antara Masa Kerja dengan Terjadinya Penyakit

Akibat Kerja ... 53 F. Uji Hubungan Antara Lama Kerja dengan Terjadinya Penyakit

Akibat Kerja ... 54 G. Uji Hubungan Antara Jenis Sarana Pengangkut Sampah Yang

Digunakan dengan Terjadinya Penyakit Akibat Kerja ... 55 H. Uji Hubungan Antara Penggunaan APD dengan Terjadinya Penyakit

Akibat Kerja ... 57

BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ... 59 B. Saran ... 60

(15)

xv

HALAMAN DAFTAR TABEL

Tabel Hal

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian... 7

Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 29

Tabel 3.2 Uji Statistik Hipotesis Penelitian ... 35

Tabel 3.3 Uji Statistik Hipotesis Penelitian ... 36

Tabel 4.1 Jumlah RW,RT dan Jumlah TPS per Kelurahan ... 38

Tabel 4.2 Sebaran Penduduk Kecamatan Semarang Utara ... 39

Tabel 4.3 Hasil Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Petugas ... 42

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Umur Petugas ... 42

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Masa Kerja Petugas ... 43

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Lama Kerja Petugas ... 43

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Jenis Alat Pengangkut Petugas ... 43

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Jenis APD Petugas ... 44

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Pemakaian APD Petugas ... 45

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Jenis Penyakit Akibat Kerja Petugas ... 45

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Penderita Penyakit Akibat Kerja ... 46

Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Kategori Penderita Penyakit Akibat Kerja ... 46

Tabel 4.13 Tabulasi Silang antara Jenis Kelamin dengan Penyakit Akibat Kerja .. 46

Tabel 4.14 Tabulasi Silang antara Jenis Alat Pengangkut dengan Penyakit Akibat Kerja ... 47

(16)

xvi

HALAMAN DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

Gambar 2.1 Hubungan Interaksi Host, Agent, dan Environment ... 21

Gambar 2.2 Keadaan Keseimbangan Interaksi Host, Agent, Environment ... 21

Gambar 2.3 Kerangka Teori ... 26

Gambar 3.1 Kerangka Konsep ... 27

Gambar 4.1 Gambar TPS di Kelurahan Tanjung Mas ... 40

Gambar 4.2 Gambar TPS di Kelurahan Bandarharjo ... 41

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Kuesioner Penelitian

2. Surat Rekomendasi Penelitian 3. Lampiran Frequency Table 4. Lampiran Uji Bivariat 5. Data SPSS

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Balakang

Sampah merupakan salah satu masalah besar bagi hampir seluruh kota di negara berkembang, terutama yang jumlah penduduknya banyak. Setiap tahun timbulan sampah mengalami peningkatan, disisi lain lahan yang dapat digunakan untuk pengelolaan sampah sangat terbatas sehingga pengelolaan sampah yang dilaksanakan tidak mampu mengatasi masalah yang ada.¹

Di Indonesia, sampah menjadi masalah penting untuk kota yang padat penduduknya seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, serta kota besar lain termasuk Semarang. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, yaitu: (1) volume sampah yang sangat besar sehingga melebihi kapasitas daya tampung tempat pembuangan sampah akhir atau TPA, (2) Lahan TPA semakin sempit karena tergeser tujuan penggunaan lain, (3) Teknologi pengelolaan sampah tidak optimal sehingga sampah lambat membusuknya yang mengakibatkan perlunya perluasan areal TPA baru, (4) Sampah yang sudah matang dan telah berubah menjadi kompos tidak dikeluarkan dari TPA, (5) Manajemen pengelolaan sampah tidak efektif sehingga seringkali menjadi penyebab distorsi dengan masyarakat setempat, (6) Pengelolaan sampah dirasakan tidak memberikan dampak positif kepada lingkungan, dan (7) Kurangnya dukungan kebijakan dari pemerintah, terutama dalam memanfaatkan produk sampingan dari sampah sehingga menyebabkan tertumpuknya produk tersebut di TPA.¹

(19)

2

Di Kota Semarang, dari tahun ke tahun timbulan sampah mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk. Tahun 2010, dengan penduduk sebanyak 1,534,187 jiwa, timbulan sampah di Kota Semarang sekitar 4,602.56 m³/hari. Tahun 2014 penduduk Kota Semarang meningkat menjadi 1,638,942 jiwa dan timbulan sampah juga mengalami peningkatan menjadi 4,916.82 m³/hari. Dengan demikian, dalam 4 tahun timbulan sampah di Kota Semarang mangalami peningkatan sebesar 6,83% atau 1,71% per tahun.²

Pengelolaan sampah di Kota Semarang dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) bersama-sama masyarakat. Pengangkutan sampah dari tempat pemukiman penduduk ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) menjadi tanggung jawab masyarakat, sedangkan pengangkutan sampah dari TPS ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dilakukan oleh petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang.3

Kecamatan Semarang Utara merupakan salah satu wilayah Kota Semarang yang memiliki masalah serius dalam hal pengelolaan sampah. Selain banyak pemukiman dengan kepadatan penduduk tinggi, sebagian besar wilayah Kecamatan Semarang Utara merupakan daerah yang sering tergenang banjir. Banjir di sebagian besar wilayah Kecamatan Semarang Utara tidak hanya terjadi pada musim penghujan saja, namun juga terjadi pada musim kemarau yang disebabkan oleh air pasang (rob). Dengan keadaan geografis yang demikian maka proses pembusukan sampah relatif lebih cepat terjadi. Upaya yang dilakukan untuk mencegah timbulnya bau busuk yang sangat mengganggu, pengangkutan sampah ke Tempat

(20)

Pembuangan Akhir (TPA) harus dilakukan sesegera mungkin. Timbulan sampah Kecamatan Semarang Utara tahun 2010 sekitar 366.42 m³/hari yang merupakan 7,93% dari total timbulan sampah Kota Semarang. Tahun 2014 timbulan sampah di Kecamatan Semarang Utara sekitar 407.33 m³/hari yang merupakan 8,28% dari total timbulan sampah di Kota Semarang. Dibanding tahun 2010 timbulan sampah di Kecamatan Semarang Utara tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 11,16%. Pengangkutan sampah dari tempat pemukiman penduduk ke TPS dilakukan oleh petugas pengangkut sampah yang wilayah kerjanya meliputi satu Rukun Warga (RW)².

Petugas pengangkut sampah dari tempat permukiman penduduk ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) merupakan kelompok tenaga kerja yang memiliki resiko tinggi (high risk group) untuk mengalami gangguan kesehatan akibat terpapar secara terus menerus oleh sampah. Berdasarkan survei awal yang dilakukan pada 20 Mei 2015 diketahui terhadap 10 petugas pengangkut sampah di TPS Kelurahan Kuningan – Kecamatan Semarang, diperoleh informasi bahwa penyakit yang paling banyak diderita petugas pengangkut sampah adalah sakit perut dan diare (40%), penyakit kulit (40%), dan gangguan saluran pernafasan (30%). Mereka telah bekerja sebagai pengangkut sampah antara 2 tahun sampai dengan 11 tahun, yang mulai bekerja antara pukul 05.30 sampai dengan pukul 07.00, dan selesai antara pukul 12.00 sampai pukul 14.00. Jumlah hari kerja Petugas pengangkut Sampah, 50% bekerja setiap hari dan 50% lainnya bekerja 6 hari per minggu.

(21)

4

Terjadinya penumpukan sampah, selain menimbulkan bau, sampah akan menjadi tempat perindukan serangga terutama lalat dan tikus. Keadaan yang demikian akan menyebabkan timbulnya berbagai jenis gangguan pada masyarakat seperti gangguan estetika dan kenyamanan, serta gangguan kesehatan. Tingginya angka kesakitan akan berpengaruh terhadap produktivitas petugas pengangkut sampah. Pada saat sakit mereka tidak berangkat kerja, sehingga sampah akan menumpuk karena tidak ada petugas yang mengangkut ke TPS.4

Sampai saat ini penelitian tentang angka kesakitan dari berbagai penyakit yang kemungkinan berhubungan dengan pekerjaan pada petugas pengangkut sampah di Kota Semarang belum pernah dilakukan, termasuk penelitian faktor risiko terjadinya berbagai penyakit tersebut pada petugas pengangkut sampah. Dengan demikian data tentang jenis penyakit yang sering terjadi pada petugas pengangkut sampah, angka kesakitan (prevalensi), serta faktor risiko terjadinya penyakit akibat kerja belum diketahui. Tanpa adanya data seperti diatas maka upaya peningkatan perlindungan terhadap kesehatan petugas pengangkut sampah tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Keadaan inilah yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian dengan judul: “Faktor risiko terjadinya penyakit akibat kerja pada petugas pengangkut sampah di Kecamatan Semarang Utara – Kota Semarang Tahun 2015”

(22)

B. Perumusan Masalah

Sebagai perumusan masalah dari penelitian yang akan dilaksanakan adalah: “Apa sajakah faktor risiko terjadinya penyakit akibat kerja pada

petugas pengangkut sampah di Kecamatan Semarang Utara – Kota Semarang?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Menganalisis faktor risiko terjadinya penyakit akibat kerja pada petugas pengangkut sampah di Kecamatan Semarang Utara - Kota Semarang. 2. Tujuan Khusus.

a. Mendiskripsikan karakteristik petugas pengangkut sampah yaitu, jenis kelamin, umur, masa kerja, lama kerja, jenis sarana pengangkut sampah, dan penggunaan APD.

b. Mendiskripsikan angka kesakitan penyakit akibat kerja (penyakit saluran pencernaan, penyakit saluran pernafasan, dan penyakit kulit) pada petugas pengangkut sampah.

c. Menganalisa tingkat risiko jenis kelamin petugas pengangkut sampah terhadap terjadinya penyakit akibat kerja.

d. Menganalisa tingkat risiko umur petugas pengangkut sampah terhadap terjadinya penyakit akibat kerja.

e. Menganalisa tingkat risiko masa kerja petugas pengangkut sampah terhadap terjadinya penyakit akibat kerja.

f. Menganalisa tingkat risiko lama kerja petugas pengangkut sampah terhadap terjadinya penyakit akibat kerja.

(23)

6

g. Menganalisa tingkat risiko jenis sarana pengangkut sampah terhadap terjadinya penyakit akibat kerja.

h. Menganalisa tingkat risiko penggunaan APD petugas pengangkut sampah terhadap terjadinya penyakit akibat kerja.

D. Manfaat Penelitian

1. Keilmuan

Dari aspek keilmuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan Ilmu Kesehatan Masyarakat, khususnya untuk bidang Pengelolaan Sampah.

2. Dinas Kebersihan dan Petamanan Kota Semarang

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam upaya melindungi kesehatan dan keselamatan petugas pengangkut sampah, untuk mempertahankan produktivitasnya.

3. Pengurus Rukun Warga (RW) di Kota Semarang dan Petugas pengangkut sampah

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam hal pengelolaan sampah di wilayahnya dengan meningkatkan perlindungan kesehatan dan keselamatan petugas pengangkut sampah agar tetap produktif serta diharapkan akan meningkatkan pengetahuan petugas pengangkut sampah tentang berbagai penyakit yang berhubungan dengan pekerjaannya, serta berbagai faktor risiko terjadinya penyakit tersebut.

(24)

E. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja sudah dilakukan beberapa peneliti lain, namun terdapat perbedaan antara penelitian - penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan. Beberapa penelitian sejenis yang pernah dilakukan, antara lain seperti pada tabel 1.1

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian.

No Judul Penelitian dan Tahun

Peneliti Metode Penelitian Hasil Penelitian

1 Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru pada pemulung di TPA Jatibarang Kota Semarang Haning Nadia Warsatta na5 Variabel penelitian.

1. Variabel terikat: Gangguan fungsi paru.

2. Variabel bebas: Umur, lama bekerja, durasi kerja, status gizi, penggunaan APD, kebiasaan merokok, dan riwayat penyakit. Sasaran: Pemulung di TPA Jatibarang Kota Semarang. Jenis penelitian:Observasional dengan pendekatan crossectional.

60% pemulung menderita gangguan fungsi paru.

Tidak ada hubungan antara karakteristik individu dengan terjadinya gangguan fungsi paru. 2 Hubungan praktik kebersihan diri perseorangan pemulung dengan kejadian kecacingan perut pada pemulung kalongan ungaran kabupaten semarang tahun 2010. Desty Krisna Wientari6 Variabel penelitian.

1. Variabel terikat:Status kecacingan perut pada pemulung di TPA Kalongan Kabupaten Semarang 2. Variabel bebas: praktik

kebersihan badan, praktik kebersihan tangan dan kuku ,praktik kebersihan alat makan minum, praktik penggunaan jamban, praktik penggunaan air bersih.

Sasaran penelitian:semua pemulung yang tinggal di TPA Kalongan Ungaran Kabupaten Semarang. Rancangan penelitian: Explanatory survey dengan pendekatan cross

sectional.

1.Tidak ada hubungan antara praktik kebersihan badan, praktik kebersihan kaki,sera praktik kebersihan alat makan dan minum dengan kejadian kecacingan 2.Ada hubungan antara

praktik kebersihan tangan dan kuku, praktik penggunaan jamban / kebiasaan BAB, serta praktik penggunaan air bersih dengan kejadian kecacingan

(25)

8

No Judul Penelitian dan Tahun

Peneliti Metode Penelitian Hasil Penelitian

3 Faktor – faktor risiko paparan gas ammonia dan hydrogen sulfida terhadap keluhan gangguan kesehatan pada pemulung di TPA Jatibarang, kota Semarang Roselina Jayanti Kumala sari7 Variabel penelitian:

1. Variabel terikat: Keluhan gangguan kesehatan. 2. Variabel bebas: Umur, masa

kerja, pola paparan, kebiasaan beristirahat, jarak tempat tinggal dengan TPA

Sasaran penelitian: Pemulung wanita yang bekerja dan tinggal berdekatan di sekitar TPA Jati barang

Ada hubungan antara umur dan masa kerja dengan keluhan gangguan kesehatan. Tidak ada hubungan antara pola paparan, kebiasaan istirahat, dan jarak tempat tinggal dengan keluhan gangguan kesehatan.

Perbedaan mendasar antara penelitian yang sudah dilaksanakan seperti pada tabel 1.1 dengan penelitian yang akan dilaksanakan ini terletak pada lokasi penelitian, responden, metoda dan variabel penelitian.

Lokasi penelitian Haning Nadia Warsattana dan Roselina Jayanti Kumalasari di TPA Jatibarang Kota Semarang, lokasi penelitian Desty Krisna Wientari di TPA Kalongan Kabupaten Semarang, sedangkan lokasi penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah wilayah Kecamatan Semarang Utara.

Sasaran penelitian Haning Nadia Warsattana dan Roselina Jayanti Kumalasari adalah pemulung di TPA Jatibarang, sasaran penelitian lokasi penelitan Desty Krisna Wientari adalah pemulung wanita di TPA Kalongan-Kabupaten Semarang, sedangkan sebagai sasaran dari penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah petugas pengangkut sampah dari tempat permukiman ke TPS di wilayah Kecamatan Semarang Utara.

Sebagai variabel terikat dari penelitian Haning Nadia Warsattana adalah gangguan fungsi paru, penelitian Desty Krisna Wientari adalah status kecacingan, dan pada penelitian Roselina Jayanti Kumalasari adalah keluhan gangguan kesehatan. Sedangkan sebagai variabel terikat dari penelitian yang akan dilaksanakan adalah penyakit akibat kerja meliputi penyakit saluran pencernaan, penyakit saluran pernafasan, dan penyakit kulit.

(26)

F. Lingkup Penelitian

1. Lingkup Keilmuan

Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian Ilmu Kesehatan Masyarakat bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

2. Lingkup Materi

Sebagai materi penelitian adalah faktor risiko penyakit akibat kerja pada petugas pengangkut sampah.

3. Lingkup Lokasi

Sebagai lokasi penelitian adalah wilayah Kecamatan Semarang Utara - Kota Semarang.

4. Lingkup Metode

Penelitian dilaksanakan merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan melalui survai dengan menggunakan kuesioner.

5. Lingkup Objek/ Sasaran

Sebagai sasaran penelitian adalah petugas pengangkut sampah dari tempat permukiman penduduk ke TPS.

6. Lingkup Waktu

(27)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sampah dan Karakteristiknya

1. Pengertian.

Definisi tentang sampah telah banyak diberikan oleh para ahli. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

a. Definisi sampah berdasarkan Undang-Undang

Berdasarkan Udang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang dimaksud dengan sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.8

b. Definisi sampah berdasarkan Standard Nasional Indonesia

Menurut Badan Standarisasi Nasional, sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari bahan organik dan bahan an organik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan.9 c. Definisi sampah menurut Teti Suryati

Menurut Teti Suryati, sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.10

(28)

d. Definsi Arif Zulkifli

Arif Zulkifli mendefinisikan sampah sebagai suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia atau proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi. 4

Kesamaan dari keempat definisi diatas adalah: (1) bahwa sampah adalah merupakan material yang bersifat padat, dan (2) bahwa sampah adalah sisa kegiatan sehingga dianggap tidak berguna lagi atau tidak mempunyai nilai ekonomi lagi.

2. Jenis sampah.

Penggolongan jenis sampah dapat didasarkan pada komposisi kimia, sifat mengurai, mudah tidaknya terbakar dan berbahaya, yaitu:4

a. Jenis sampah berdasarkan komposisi kimia.

Berdasarkan komposisi kimianya, sampah dibedakan dalam 2 (dua) golongan yaitu:

1) sampah organik, yaitu sampah yang sebagian besar bahannya merupakan senyawa-senyawa organik (contoh sisa sayuran). 2) Sampah anorganik, yaitu sampah yang bahannya merupakan

senyawa anorganik (Contoh: kaleng bekas). b. Jenis sampah berdasarkan sifatnya.

Berdasarkan sifatnya sampah dibedakan dalam 4 (empat), golongan. 1) Sampah yang secara alami mudah terurai (degradable waste)

seperti sisa makanan, potongan daging, serta daun

2) Sampah yang secara alami sulit terurai (non degradable) seperti plastik, kaleng, dan kaca.

(29)

12

3) Sampah yang mudah terbakar (combustible) seperti kertas, daun kering, dan plastic.

4) Sampah yang tidak mudah terbakar (non combustible) seperti besi, kaleng, dan gelas.

3. Karakteristik sampah.

Terdapat 12 karakteristik sampah, yaitu: 11

a. Garbage, adalah sampah yang berupa sisa potongan hewan atau sayuran dari hasil pengolahan yang mudah membusuk, lebab, dan mengandung sejumlah air bebas.

b. Rubbish, adalah sampah yang dapat terbakar atau tidak dapat terbakar yang berasal dari rumah, pusat perdagangan, kantor, yang tidak termasuk garbage.

c. Ashes, adalah sisa-sisa pembakaran dari zat mudah terbakar baik di rumah, dikantor, dan industri.

d. Street sweeping ( sampah jalanan ), adalah sampah yang berasal dari pembersihan jalan dam trotoar baik dengan tenaga manusia maupun tenaga mesin.

e. Dead animals, adalah sampah berupa bangkai yang mati karena alam, penyakit atau kecelakaan.

f. Household refuse, adalah sampah yang terdiri dari rubbish, garbage, ashes, yang berasal dari perumahan.

g. Abandonded vehicles, adalah sampah yang berupa bangkai-bangkai mobil, truck, kereta api.

h. Sampah industry, adalah sampah padat yang bersal dari industry-industri, pengolahan hasil bumi.

(30)

i. Demolition wastes, adalah sampah yang berasal dari pembongkaran gedung.

j. Construction wastes, adalah sampah yang berasal dari sisa pembangunan, perbaikan dan pembaharuan gedung.

k. Sewage solid, adalah sampah yang berasal dari benda kasar yang umumnya zat organic hasil saringan pada pintu masuk suatu pusat pengolahan air buangan.

l. Sampah khusus, adalah sampah yang memerlukan penanganan khusus misalnya, kaleng cat, zat radiokatif.

4. Ciri-ciri sampah

Adapun ciri - ciri sampah antara lain: 11 a. Daun pohon yang gugur

b. Seperti kulit pisang dan buah-buahan yang busuk

c. Kotoran hewan, seperti kotoran ayam, kotoran kambing, sapi dan lain-lain.

5. Sumber-sumber sampah

Sumber sampah adalah asal timbulan sampah. Sampah yang ada di sekitar masyarakat dapat berasal dari beberapa sumber berikut: 11

a. Pemukiman penduduk

Sampah di suatu pemukiman dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang terdapat di desa atau kota. Jenis sampah yang dihasikan adalah sisa makan dan bahan sisa proses pengolahan makan atau sampah basah (garbage), sampah kering (rubbish), perabotan rumah tangga, abu atau sisa kebun.

(31)

14

b. Tempat umum dan tempat perdagangan

Tempat umum adalah tempat banyak orang yang berkumpul dan melakukan kegiatan termasuk juga perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam ini berupa sisa-sisa makanan (garbage), sampah kering, abu, sisa bangunan, sampah khusus dan terkadang sampah berbahaya.

c. Sampah layanan masyarakat milik pemerintah

Sarana layanan masyarakat yang dimaksud antara lain, tempat hiburan dan umum, jalan umum, tempat pakir, tempat layanan kesehatan, dan kompleks militer. Tempat tersebut biasanya menghasilkan sampah khusus dan sampah kering.

d. Industri berat dan ringan

Kegiatan industri pada umumnya memiliki sifat distributif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan tempat ini adalah sampah basah, sampah kering, sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.

e. Pertanian

Sampah yang dihasikan merupakan tanaman dan binatang berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, dan bahan pembasmi serangga tanaman.

6. Komposisi sampah

Bagian terbesar dari sampah kota adalah bahan organik ( sampah basah ) yang mudah busuk atau mudah di uraikan ( biodegradable ). Bahan ini biasanya berjumlah sekitar 60% - 75% dari total volume sampah, sementara sisanya berupa sampah anorganik. 12

(32)

7. Pengaruh Sampah Terhadap Kesehatan dan Lingkungan. a. Pengaruh sampah terhadap kesehatan.

Pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan lingkungan akan dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan, yaitu:

1) Menjadi tempat berkembang biak dan sarang serangga dan tikus 2) Menjadi sumber pengotoran tanah

3) Menjadi sumber pengotoran sumber air permukaan dan air tanah. 4) Menjadi sumber dan tempat hidup kuman yang membahayakan

kesehatan.13

b. Sampah sebagai faktor penyebab penyakit.

Didalam tumpukan sampah basah banyak mengandung telur cacing maupun penyebab penyakit lainnya. Beberapa penyakit yang dapat disebabkan oleh sampah antara lain adalah penyakit kulit, jamur, dan penyakit saluran pencernaan. Terjadinya penyakit saluran pencernaan dimungkinkan karena sampah bercampur dengan faeces atau muntahan penderita penyakit saluran pencernaan.

Bahan-bahan tertentu pada timbunan sampah yang mengandung nitrit dapat menimbulkan alergi dan iritasi, apabila terjadi kontak langsung dengan sampah.13

(33)

16

B. Petugas Pengangkut Sampah.

Kegiatan operasional pengangkut sampah tergantung pada pola-pola operasional yang digunakan ( cara penyapuan, pengumpulan, pengang kutan, dan pembuangan akhir ) serta kapasitas peralatannya yang dalam hal ini dilakukan oleh petugas pengangkut sampah. Petugas pengangkut sampah dapat di bedakan menjadi 2, yaitu: 3

1. Penarik becak/gerobak

Adalah seseorang/ sekelompok orang yang bertugas mengambil serta membersihkan sampah dari rumah tangga ke TPS ( Tempat Pembuangan Sementara ) dengan menggunakan becak/ gerobak sampah atau sarana lain sesuai kebutuhan, selain itu penarik becak/ gerobak bertugas pula untuk menkontrol volume sampah pada kontainer. 2. Penyapu TPS.

Adalah seseorang yang menyapu dan membersihkan TPS serta sekitarnya.

C. Penyakit Akibat Kerja pada Petugas Pengangkut Sampah.

Petugas pengangkut sampah merupakan tenaga kerja yang memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit yang ditimbulkan oleh sampah. Hampir setiap hari mereka mengalami kontak langsung dengan sampah. Oleh karena penyakit - penyakit tersebut terjadi karena pekerjaan yang dilakukan, maka disebut sebagai penyakit akibat kerja.

Beberapa Jenis Penyakit akibat kerja yang sering banyak ditemukan pada tenaga kerja, adalah:14.

(34)

1. Penyakit kulit akibat kerja

Penyakit kulit merupakan suatu penyakit yang menyerang pada permukaan tubuh, dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab.15 Beberapa jenis penyakit kulit, adalah:14

a. Kadas/ kurap/ tinae/ ringwarm

Penyakit kadas (tinae) adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh beberapa jamur yang berbeda dan biasanya dikelompokan berdasarkan lokasinya dalam tubuh. Metode termudah yang digunakan untuk diagnosis penyakit kurap adalah tes KOH (seperti diagnosis cruis).

b. Tinea versicolar (panu).

Panu adalah suatu infeksi jamur yang menyebabkan timbulnya bercak-bercak putih sampai coklat muda pada kulit terutama pada orang dewasa yang disebabkan oleh jamur Pytrosporum Obriculare. Untuk mendiagnosis panu dapat menggunakan sinar ultraviolet. Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan mengambil sampel 56 sampel responden pemulung sampah di TPA Jatibarang, diperoleh hasil yaitu 26(46,4%) pemulung menderita Tinea pedis.16

c. Abses kulit (abses kutaneus)

Abses kulit adalah pengumpulan nanah yang disebabkan infeksi bakteri Stapphylococcus. Abses kulit sering terjadi setelah komplikasi dari bisul, cedera, atau setelah luka ringan. Abses kulit biasanya terjadi akibat tidak menggunakan APD pada saat melakukan pekerjaan.

(35)

18

2. Penyakit Pencernaan akibat kerja

Secara garis besar gangguan pencernaan dibedakan menjadi 2 kelompok, yang pertama kelompok penyakit organik, yaitu penyakit yang disebabkan oelh kelainan atau kerusakan organ tubuh manusia. Yang kedua, kelompok gangguan fungsional, penyakit yang dalam pemeriksaan tidak ditemukan kelainan atau perubahan patologis organ maupun fungsi biokimia, hanya fungsi kerja pencernaan kurang lancar.17

Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan hasil penelitian tidak ada hubungan antara praktik kebersihan badan, praktik kebersihan kaki dan praktik kebersihan alat makan dan minum dengan kejadian kecacingan serta Ada hubungan antara praktik kebersihan tangan dengan kuku, praktik penggunaan jamban/ kebiasaan BAB, dan praktik penggunaan air bersih dengan kejadian kecacingan.6

Macam-macam penyakit pencernaan: a. Penyakit maag

Penyakit maag dalam bahasa Belanda,“maag” berarti lambung yang dalam kehidupan sehari-hari sering digunakan istilah “sakit perut”. Gangguan maag dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain kelainan yang timbul pada saluran pencernaan (lambung-usus), penyakit organ hati ( hepatitis), pankreas, dan empedu, selain itu pada kasus tertentu disebabkan karena gangguan jantung atau strees psikis yang berlebihan.

b. Diare

Diare merupakan peristiwa buang air besar yang encer dan berulang kali (mencret). Jika kotoran yang dikeluarkan encer serta

(36)

mengandung lendri dan darah, biasanya disebut disentri. Diare terjadi karena perjalanan chymus terlalu cepat dan resorpsi air di dalam usus besar terganggu. Sedangkan disentri, disebabkan oleh infeksi atau radang lambung dan usus (gastroenteristis) dan dapat pula disebabkan karena keracunan makanan. Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines 2005, diare dibagi

menjadi dua, yaitu diare akut (berlangsung kurang dari 15 hari) dan diare kronis (berlangsung lebih dar 15 hari).

3. Penyakit Saluran Pernafasan.

Secara luas, definisi penyakit pernafasan dapat diartikan penyakit yang terjadi karena adanya gangguan sistem pernafasan, pada umumnya disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan. Infeksi saluran pernafasan berdasarkan wilayah infeksinya dibagi menjadi dua, yaitu infeksi saluran pernafas atas dan infeksi saluran pernafas bawah. Infeksi saluran pernafas atas meliputi rhinitis, sinusitis, faringitis, laringitis, epiglotitis, tonsilitis, otitis. Sedangkan infeksi saluran pernafasan bawah meliputi infeksi pada bronkhus, alveoli seperti bronkhitis, bronkhiolitis, pneumonia.18

Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan hasil penelitian 60% pemulung menderita gangguan fungsi paru dan tidak ada hubungan antara karakteristik individu dengan terjadinya gangguan fungsi paru.5 Penyakit pernafasan antara lain adalah :

(37)

20

1) Sinusitis :

Sinusitis merupakan peradangan pada mukosa sinus paranasal. Peradangan ini biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas. Tanda dari penyakit ini adalah hidung tersumbat, sekret hidung yang kental berwarna hijau kekuningan atau jernih, batuk, demam tinggi, sakit kepala. Penularan sinusitis adalah melalui kontak langsung dengan penderita melalui udara.

2) Bronkhitis

Bronkhitis adalah kondisi peradangan pada daerah trakheobronkhial. Tanda dari penyakit bronkhitis ini adalah batuk yang menetap bertambah parah, sesak nafas, nyeri telan. Penularan penyakit bronkhitis melalui droplet, sedangkan faktor risiko terjadinya bronkhitis antara lain, merokok, infeksi sinus.

D. Konsep Penyebab dan Proses Terjadinya Penyakit.

Saat ini teori tentang faktor penyebab penyakit tidak dapat dipisahkan dengan berbagai berbagai faktor yang yang berperan dalam proses kejadian penyakit yang dikembangkan melalui ekologi lingkungan. Berdasarkan konsep ini manusia berinteraksi dengan berbagai faktor penyebab dalam lingkungan tertentu dan keadaan tertentu akan menimbulkan penyakit yang tertentu pula.19

Pengertian penyebab penyakit telah berkembang dari rantai sebab akibat ke suatu proses kejadian penyakit, yaitu proses interaksi antara manusia (host atau pejamu) dengan penyebab (agent) serta dengan lingkungan (environment).

(38)

Gambar 2.1. Hubungan Interaksi Host, Agent, dan Environment

Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi, sehingga apabila terjadi perubahan pada salah satu faktor maka akan berpengaruh terhadap faktor

yang lain. Dalam keadaan terjadi keseimbang antara ketiga faktor tersebut, seseorang akan dalam kondisi sehat.

Gambar 2.2. Keadaan Keseimbangan Interaksi Host, Agent, Environment.

Sebaliknya, bila salah satu faktor mengalami perubahan maka orang menjadi sakit. Pada keadaan normal, kondisi keseimbangan proses interaksi tersebut dapat dipertahankan, baik melalui intervensi alamiah terhadap salah satu dari ketiga faktor tersebut maupun melalui usaha tertentu manusia

Host

Environment Agent

Agent Host

(39)

22

dalam bidang pencegahan maupun dalam bidang peningkatan derajad kesehatan.

1. Agent (penyebab penyakit).

Agent merupakan penyebab kausal terjadinya penyakit, yang dibagi dalam lima kelompok, yaitu:

a. Penyebab biologis b. Penyebab nutrisi c. Penyebab kimiawi d. Penyebab fisika e. Penyebab psikis. 2. Host (pejamu).

Adalah sifat – sifat pada manusia, baik sifat biologis maupun sifat khusus sebagai makhluk sosial.

Sifat biologis manusia yang berhubungan dengan terjadinya penyakit adalah:

a. Umur, jenis kelamin, ras, dan keturunan,

b. Bentuk anatomis tubuh serta fungsi fisiologis dan faal tubuh,

c. Keadaan imunitas dan reaksi tubuh terhadap berbagai unsure dari luar maupun dari dalam tubuh sendiri,

d. Kemampuan interaksi antara penjamu dengan penyebab secara biologis, serta

e. Status gizi dan status kesehatan secara umum. Sedangkan sifat khusus sebagai makhluk sosial, adalah:

a. Kelompok etnik termasuk adat, kebiasaan, agama, dan hubungan keluarga serta hubungan sosial kemasyarakatan,

(40)

b. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari – hari termasuk kebiasaan hidup sehat.

3. Environment (lingkungan).

Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam menentukan terjadinya proses interaksi antara penjamu dengan penyebab penyakit dalam proses terjadinya penyakit.

Terdapat tiga jenis lingkungan manusia, yaitu lingkungan biologis, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial.

E. Faktor Risiko Penyakit Akibat Kerja pada Petugas Pengangkut

Sampah.

Petugas pengangkut sampah merupakan tenaga kerja yang termasuk kelompok risiko tinggi (high risk group) terhadap terjadinya penyakit akibat kerja, khususnya penyakit yang berhubungan dengan sampah. 19

Beberapa faktor risiko penyakit akibat kerja antara lain adalah: a. Jenis kelamin.

Jenis kelamin merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang merupakan salah satu variable deskriptif yang dapat memberikan perbedaan angka kejadian penyakit antara pria dan wanita. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena bentuk anatomis, biologis, dan system hormonal yang berbeda.

b. Umur

Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama, karena umur mempunyai hubungan yang erat dengan keterpaparan. Selain itu umur juga mempunyai hubungan dengan besarnya risiko terhadap penyakit tertentu dan sifat resistensi pada berbagai kelompok tertentu.

(41)

24

c. Masa kerja.

Masa kerja berhubungan dengan lama kontak antara tenaga kerja dengan lingkungan kerja. Dalam kaitan dengan pengangkutan sampah, masa kerja petugas pengangkut sampah berhubungan dengan waktu kontak antara tenaga pengangkut sampah dengan sampah yang diangkut, atau menunjukkan lamanya terjadi paparan oleh sampah. Pada paparan oleh zat berbahaya yang sulit diurai oleh tubuh, masa kerja merupakan faktor risiko yang besar pengaruhnya terhadap terjadinya dampak kesehatan bagi orang yang terpapar.

d. Lama bekerja.

Lama bekerja merupakan jumlah waktu yang digunakan petugas pengangkut sampah untuk melakukan pekerjaan selama seminggu. Dengan demikian lama bekerja merupakan jumlah jam bekerja selama seminggu yang dinyatakan dalam satuan jam per munggu. Dalam penentuan nilai ambang batas suatu zat toksik di tempat kerja yang bersifat toksik. Lama bekerja berbanding lurus dengan intensitas paparan sampah terhadap petugas pengangkut sampah.

e. Jenis Sarana Pengangkut Sampah.

Terdapat beberapa jenis sarana yang dapat digunakan untuk mengangkut sampah dari tempat pemukiman penduduk ke TPS. Hubungan antara jenis sarana pengangkut sampah dengan risiko terjadinya penyakit akibat kerja lebih disebabkan oleh intensitas paparan sampah terhadap petugas pengangkut sampah. Perbedaan intensitas paparan sampah disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : (1) faktor jarak petugas dengan sampah yang

(42)

diangkut, (2) posisi dari petugas terhadap sampah yang diangkut, dan (3) Ada tidaknya penghalang dalam proses paparan.

f. Pemakaian APD.

APD bagi petugas pengangkut sampah bukan hanya melindungi pengguna dari kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja, tapi juga ada yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari terjadinya penyakit. Beberapa jenis APD yang berfungsi mencegah terjadinya penyakit adalah: (a) tutup kepala, (b) pakaian kerja atau verpack, (c) masker penutup mulut dan hidung, (d) kaos tangan, dan (e) sepatu bot)

(43)

26

F. Kerangka teori.

.

Diagram 2.3. Proses Terjadinya Penyakit Akibat Kerja pada Petugas Pengangkut Sampah 19

Penyakit Akibat Kerja Petugas Pengangkut Sampah Environment (Lingkungan) Sampah Host Karakteristik Petugas Pengangkut Sampah Bahan kimia Mikroba Patogen Agent Masa Kerja Jenis kelamin Lama Bekerja Jenis Sarana Pengangkut sampah Umur Upaya Pencegahan Pemakaian APD

(44)

27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep.

Diagram 3.1. Kerangka Konsep Masa Kerja

Lama Bekerja

VARIABEL TERIKAT VARIABEL BEBAS

Jenis Sarana Pengangkut Sampah

Penggunaan APD

Umur PENYAKIT AKIBAT

KERJA 1. Penyakit Saluran Pencernaan 2. Penyakit Saluran Pernapasan 3. Penyakit Kulit Jenis Kelamin

(45)

28

B. Hipotesis

1. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya penyakit akibat kerja 2. Ada hubungan antara umur dengan terjadinya penyakit akibat kerja.

3. Ada hubungan antara masa kerja dengan terjadinya penyakit akibat kerja 4. Ada hubungan antara lama bekerja dengan terjadinya penyakit akibat

kerja.

5. Ada hubungan antara jenis sarana pengangkut sampah yang digunakan dengan terjadinya penyakit akibat kerja.

6. Ada hubungan antara penggunaan APD dengan terjadinya penyakit akibat kerja

C. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian deskriptif analitik. yaitu penelitian yang tujuan utamanya untuk membuat gambaran atau diskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif, selanjutnya digali untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu fenomena kesehatan itu terjadi.20

Pendekatan yang diterapkan dalam pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian adalah pendekatan cross sectional. Dengan pendekatan cross

sectional observasi atau pengumpulan data dilakukan sekaligus pada suatu

saat. Dengan demikian setiap subyek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subyek pada saat pemeriksaan.20

(46)

D. Variabel Penelitian

1

Variabel Terikat

:

Penyakit Akibat Kerja

2

Variabel Bebas

:

a. Jenis Kelamin

b. Umur. c. Masa kerja d. Lama Bekerja

e. Jenis sarana pengangkut sampah

f.

Penggunaan APD

E. Definisi Operasional

Tabel 3.1

Definisi Operasional

NO . VARIABE L

DEFINISI OPERASIONAL SKALA KATEGORI 1. Penyakit

Akibat Kerja

Penyakit saluran pencernaan, penyakit saluran pernafasan akut, dan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur yang diderita petugas pengangkut sampah yang terjadi pada 3 bulan terakhir. Nominal 1. Tidak menderita penyakit akibat kerja 2. Menderita penyakit akibat kerja Ordinal 1. Tidak menderita penyakit 2. Menderita 1 penyakit 3. Menderita 2 penyakit 4. Menderita 3 penyakit 2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin petugas

pengangkut sampah berdasarkan keterangan responden

Nominal 1. Laki-laki 2. Perempuan

(47)

30

Tabel 3.1

Definisi Operasional(Lanjutan)

NO

.

VARIABEL DEFINISI OPERASIONAL SKALA KATEGORI

3. Umur Umur petugas pengangkut sampah berdasarkan keterangan responden Rasio Dalam satuan tahun 4. Masa Kerja Lama petugas bekerja sebagai

pengangkut sampah. Interval Dalam satuan tahun 5. Lama Bekerja

Sampai saat penelitian dilakukan,

Waktu yang digunakan petugas untuk mengangkut sampah dalam 1 hari berdasarkan keterangan responden. Interval Dalam satuan jam per hari 6. Jenis Sarana Pengangk ut Sampah

Jenis sarana yang digunakan untuk mengangkut sampah

dari rumah warga ke TPS

Nominal 1. Becak sampah 2. Gerobak sampah 7. Penggunaan APD

Penggunaan APD oleh petugas pengankut sampah

saat bekerja Ordinal 1. Tidak menggunakan APD(masker, sarung tangan, sepatu bot, dan verpack) 2. Menggunakan 1 jenis APD 3. Menggunakan 2 jenis APD 4. Menggunakan 3 jenis APD atau lebih.

(48)

F. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi penelitian adalah semua petugas pengangkut sampah yang ditunjuk warga untuk melaksanakan pengangkutan sampah dari rumah penduduk ke TPS. Berdasarkan data di kantor Camat Semarang Utara, jumlah pengangkut sampah dari rumah penduduk ke TPS di 3 ( tiga ) Kelurahantersebut sebanyak 39 orang dengan rincian: 16 orang di Kelurahan Tanjung Mas, 12 orang di Kelurahan Bandarharjo, dan 11 Orang di Kelurahan Bulu Lor.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap mewakili populasinya. Sampel dalam penelitian ini adalah petugas pengangkut sampah sebanyak 39 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan Total Sampling. Dimana seluruh petugas pengangkut sampah diambil untuk dijadikan sampel penelitian dan dipilih secara acak.

G. Pengumpulan Data 1. Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan untuk penelitian meliputi data primer dan data sekunder.

Data primer yang dikumpulkan adalah:

a. Kejadian penyakit akibat kerja petugas pengangkut sampah, b. Jenis kelamin petugas pengangkut sampah

c. Umur petugas pengangkut sampah. d. Masa kerja petugas pengangkut sampah

(49)

32

e. Lama bekerja petugas pengangkut sampah f. Jenis sarana pengangkut sampah

g. Penggunaan APD oleh petugas pengangkut sampah.

Adapun data sekunder yang dikumpulkan meliputi data tentang karakteristik daerah Kecamatan Semarang Utara yang merupakan lokasi penelitian. Data tersebut meliputi: (1) Data tentang geografi Kecamatan Semarang Utara,(2) Data tentang demografi Kecamatan Semarang Utara, dan (3) Data tentang pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Semarang Utara. Semua data sekunder yang diperlukan, dikutip dari monografi Kecamatan Semarang Utara.

2. Teknik/ Metode/ Prosedur Pengumpul Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang penggunaan APD, sedangkan wawancara dilakukan untuk memperoleh data tentang umur, masa kerja, lama bekerja, dan jenis sarana pengangkut sampah, serta penyakit akibat kerja pada petugas pengangkut sampah.

Observasi dan wawancara dilakukan di TPS setelah mendapat persetujuan responden melalui penandatanganan informed consent (formulir persetujuan).

3. Alat Pengumpul Data / Instrumen Penelitian

Untuk keperluan pengumpulan data, digunakan 2 (dua) jenis Instrumen penelitian, yaitu formulir pengamatan dan kuesioner (terlampir). Untuk menilai validitas kuesioner yang digunakan sebagai instrument penelitian, dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas.

(50)

a) Uji Validitas

Uji validitas instrument yang dilakukan merupakan uji validitas empiris, yaitu validitas yang dinyatakan berdasarkan hasil pengalaman.21

Dalam uji validitas, jumlah responden sebanyak 10 orang petugas pengangkut sampah di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara. Penentuan validitas dilakukan dengan menggunakan koefisen korelasi product moment dari Karl Pearson.

Hasil uji validitas, dari 25 item kuesioner, 6 item dinilai tidak valid, karena nilai rxy hitung ≤ 0,632 (nilai rxy 33able pada derajad bebas (db)

= n – 2 = 8 dan α=5%). Item kuesioner yang tidak valid adalah no: 1, 4, 9, 10, 12 dan 17. Item-item lainnya (19 item) dinilai valid, karena nilai rxy hitung > 0,632.20

b) Uji Reliabilitas.

Untuk melakukan Uji reliabilitas instrument, wawancara dilakukan dua kali terhadap responden yang sama, dengan rentang waktu 5 hari. Hasil uji reliabilitas, instrument dinilai releabel karena nilai hitung koefisien alpha = 0,778, lebih besar dari nilai pada tabel (0,632).21

(51)

34

H. Pengolahan Data

Pengolahan data yang dilakukan meliputi: 1. Editing.

Dilakukan untuk mengoreksi data yang diperoleh untuk mengetahui ada tidaknya kesalahan dalam pendokumentasian. Apabila terdapat kesalahan dilakukan konfirmasi kepada petugas pencari data (surveyor). 2. Coding.

Dilakukan untuk mempermudah proses pengolahan data selanjutnya dengan cara memberikan kode tertentu pada formulir pencatatan.

3. Scoring.

Merupakan kegiatan pemberian scor (nilai) untuk mempermudah uji statistik yang dilakukan.

4. Tabulating.

Tabulasi data dilakukan secara computerize. I. Analisis Data

Analisis terhadap data yang diperoleh dari penelitian, dilakukan dalam bentuk analisis univariat dan analisis bivariat.

1. Analisis Univariat.

Analisis univariat dilakukan untuk mendiskripsikan seluruh variabel penelitian, baik variable terikat maupun variabel bebas dengan menggunakan analisis table atau grafik. Hasil analisis berupa distribusi frekuensi, tendensi sentral dan sebaran data dari masing-masing variable penelitian.

(52)

2. Analisis Bivariat.

Data hasil penelitian diagnosis dengan menggunakan komputer. Analisis bivariat digunakan untuk pengujian hipotesis penelitian. Uji statistik yang digunakan adalah:

1) Uji hubungan Chi square

Syarat dari uji Chi-Square yaitu sel mempunyai nilai expected kurang dari 5, maksimal 20% dari jumlah sel. Jika syarat uji Chi-Square tidak terpenuhi, maka dipakai uji alternatifnya yaitu alternatif uji Chi-Square untuk tabel 2 x2 adalah Uji Fisher, alternatif uji Chi-Square untuk tabel 2 x K adalah uji Kolmogorov-Sminor, alternatif uji Chi-Square untuk tabel tersebut adalah penggabungan sel.23

Pengujian hipotesis dari penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji statistik seperti pada table 3.2

Tabel 3.2

Jenis Uji Statistik Hipotesis Penelitian No Variabel

Bebas

Skala Data

Variabel Terikat Skala Data

Uji Statistik 1. Jenis

Kelamin

Nominal Penyakit akibat kerja

Nominal Uji hubungan

Fisher’s Exact Test

2. Jenis Sarana Pengangkut Sampah

Nominal Penyakit akibat kerja

Nominal Uji hubungan

Fisher’s Exact Test

(53)

36

Tabel 3.3

Jenis Uji Statistik Hipotesis Penelitian No Variabel

Bebas

Skala Data

Variabel Terikat Skala Data

Uji Statistik 2. Umur Rasio Penyakit akibat

kerja

Ordinal Uji hubungan

Pearson Correlation

3. Masa Kerja Interval Penyakit akibat kerja

Ordinal Uji hubungan

Rank Spearmen

4. Lama Bekerja

Interval Penyakit akibat kerja

Ordinal Uji hubungan

Pearson Correlation

6. Penggunaan APD

Ordinal Penyakit akibat kerja

Ordinal Uji hubungan

(54)

37

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Keadaan Geografi

Semarang Utara merupakan salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah administratif Pemerintah Kota Semarang. Luas wilayah Kecamatan Semarang Utara 113.527 ha, dengan batas wilayah :

1. Utara : Laut Jawa

2. Timur : Kecamatan Semarang Tengah

3. Selatan : Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Barat 4. Barat : Kecamatan Semarang Barat

Topografi wilayah Kecamatan Semarang Utara merupakan daratan rendah dengan ketinggian ≤ 1 meter dari merpukaan laut. Dengan ketinggian ≤ 1 meter dari permukaan laut tersebut menyebabkan sebagian besar wilayah Kecamatan Semarang Utara sering tergenang air saat air laut pasang (rob).

Secara administratif, wilayah Kecamatan Semarang Utara terbagi dalam 9 kelurahan, 89 Rukun Warga (RW), dan 706 Rukun Tetangga (RT) serta mempunyai 16 TPS. Jumlah RW di masing-masing kelurahan sangat bervariasi. Kelurahan dengan jumlah RW terbanyak adalah Kelurahan Tanjung Mas (16 RW), sedangkan yang

(55)

38

paling sedikit Kelurahan Penggaron Kidul (4 RW). Data selengkapnya seperti tabel 4.1:

Tabel 4.1

Jumlah RW, RT dan Jumlah TPS per Kelurahan Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

No Kelurahan Jumlah RW Jumlah RT Jumlah TPS

1 Bandarharjo 12 103 5 2 Bulu Lor 11 79 1 3 Plombokan 5 47 2 4 Purwosari 6 48 1 5 Kuningan 11 87 2 6 Panggung Lor 14 129 1 7 Panggung Kidul 4 29 1 8 Tanjung Mas 16 129 2 9 Dadap sari 10 60 1 Jumlah 89 706 16

1. Keadaan Demografi

Penduduk Kecamatan Semarang Utara sebanyak 139.665 jiwa, terdiri dari 63.593 laki-laki (48.45%) dan 76.072 perempuan (51.54%). Dengan demikian sex rasio penduduk Kecamatan Semarang Utara adalah 0.94 . Jumlah penduduk di masing-masing Kelurahan sangat bervariasi. Kelurahan dengan penduduk terbanyak adalah Tanjung Mas (32.385 jiwa) dan yang paling sedikit Kelurahan Panggung Kidul (5.377 jiwa). Data selengkapnya pada tabel 4.2 :

(56)

Tabel 4.2

Sebaran Penduduk Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015 No Kelurahan Penduduk

Laki-laki Perempuan Jumlah % 1 Bandarharjo 10.294 10.149 20.434 14.64 2 Bulu Lor 7.358 7.755 15.113 10.82 3 Plombokan 4.086 4.087 8.173 5.85 4 Purwosari 4.298 4.700 8.998 6.44 5 Kuningan 6.791 6.936 13.727 9.83 6 Panggung Lor 6.870 7.371 14.421 10.20 7 Panggung Kidul 2.687 2.690 5.377 3.85 8 Tanjung Mas 16.193 16.192 32.385 23.19 9 Dadap sari 5.016 16.192 21.208 15.18 Jumlah 63.593 76.072 139.665 100

1. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Pengelolaan sampah rumah tangga di Kecamatan Semarang Utara dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dengan melibatkan masyarakat. Pemkot menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk pembuangan sampah, antara lain Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) yang berjumlah 16 TPS, container dan truk pengangkut sampah dari TPS ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) termasuk biaya operasionalnya, serta gerobak sampah untuk mengangkut sampah dari tempat pemukiman ke TPS. Peran masyarakat adalah mengangkut sampah dari tempat permukiman ke TPS.

Pengangkutan sampah dari permukiman penduduk dilakukan oleh petugas pengangkut sampah yang ditunjuk dan digaji oleh masyarakat. Seorang petugas pengangkut sampah bertanggung jawab atas pengangkutan sampah yang berasal dari rumah penduduk untuk dibuang ke TPS yang telah ditetapkan. Wilayah kerja

(57)

40

petugas pengangkut sampah merupakan wilayah RW, sehingga jumlah seluruh petugas pengangkut sampah di Kecamatan Semarang Utara sama dengan jumlah RW, yaitu sebanyak 89 RW.

TPS RW 15 TPS RW 01

Gambar 4.1

TPS di Kelurahan Tanjung Mas

Dapat dilihat pada gambar 4.1 bahwa terdapat 2 TPS yaitu yang berada di RW 15 dan RW 01 Kelurahan Tanjung Mas. Dari 2 TPS diatas seluruh TPS terletak diantara permukiman warga. Selain itu terdapat TPS yang berdekatan dengan warung makan, seperti TPS yang berada di RW 1. Jarak yang ditempuh petugas pengangkut sampah untuk mengangkut sampah ke wilayah permukiman warga yaitu meter. Tidak ada pemisahan sampah yang dilakukan oleh petugas, semua sampah dijadikan 1 dalam suatu wadah bersama dari berbagai sumber sampah. Ini sesuai dengan SNI No. 19-2454-2002, bahwa aktivitas penanganan sampah sementara dalam suatu wadah baik dari berbagai sumber umum yang termasuk dalam pewadahan komunal.22

(58)

TPS RW 10 TPS RW 09 Gambar 4.2

TPS di Kelurahan Bandarharjo

Dapat diliahat pada gambar 4.2, bahwa terdapat 2 TPS yang berada di RW 10 dan RW 09. TPS tersebut berada di dekat permukiman warga, berjarak ±50 meter. Terlihat kondisi sampah yang berserakan di luar dan di dalam wadah sampah, petugas menggunakan gerobak untuk mengangkut sampah ke TPS.

Gambar 4.3 TPS Kelurahan Bulu Lor

Dapat dilihat Gambar 4.3 TPS Kelurahan Bulu Lor terlihat lebih rapi dibandingkan TPS Tanjung Mas dan Bandarharjo. Ada pemisahan

(59)

42

wadah sampah antara basah dan kering. Ini sesuai dengan SNI No. 19-2454-2002 bahwa pewadahan sampah terdiri dari 2 wadah warna yang berbeda, untuk menampung sampah dapur dan sampah halaman.22

B. Analisis Univariat

1. Jenis Kelamin

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Petugas Pengangkut Sampah No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

1 Laki-laki 33 84.6

2 Perempuan 6 15.4

Jumlah 39 100.0

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar jenis kelamin petugas pengangkut sampah adalah laki-laki (84.6%).

2. Umur

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Umur Pengangkut Sampah Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

Mean Median Minimum Maksimum

Umur (Tahun)

47 45 25 68

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan rata – rata umur pekerja adalah 47 tahun, usia terendah pekerja adalah 25 tahun dan umur tertinggi adalah 68 tahun.

(60)

3. Masa Kerja

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Masa Kerja Pengangkut Sampah Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

Mean Median Minimum Maximum Masa Kerja

(Tahun)

12.53 12.0 5 25

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa rata-rata masa kerja pekerja adalah 12.53 tahun, masa kerja terendah 5 tahun dan masa kerja tertinggi 25 tahun.

4. Lama Kerja

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Lama Bekerja Per/hari Pengangkut Sampah Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

Mean Median Minimum Maximum Lama Kerja

(Hari/jam)

8.39 8.0 5 12

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa rata-rata pekerja bekerja dalam sehari adalah 8 jam, minimal bekerja 5 jam dan maksimal bekerja 12 jam.

5. Jenis Alat Pengangkut Sampah

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Jenis Alat Pengangkut Sampah Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

No Jenis Alat Frekuensi Persentase (%)

1 Becak 14 35.9

2 Gerobak 25 64.1

Jumlah 39 100.0

Berdasarkan tabel 4.7 bahwa jenis alat pengangkut sampah yang digunakan terbanyak adalah gerobak dengan jumlah petugas 25 orang (64.1%). Volume sampah yang berada di gerobak melebihi kapasitas

(61)

44

sehingga sampah tercecer dan volume sampah yang berada di gerobak lebih banyak dari pada becak sampah. Bau busuk sampah umum berasal dari proses pembusukan sampah yang beraksi dengan udara lembab, jika dibiarkan terus menerus secara tidak langsung tumpukan sampah yang tidak diangkut akan memyebabkan populasi udara hingga penyakit penafasan.

6. Pemakaian APD

Tabel 4.8

Distribusi Frekuensi Jenis APD Petugas Pengangkut Sampah Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

No Jenis APD Frekuensi (%)

1 Tidak memakai APD 9 23.1

2 Helm pelindung 3 7.7

3 Sepatu bot 3 7.7

4 Sarung tangan 3 7.7

5 Masker 2 5.1

6 Pakaian kerja 2 5.1

7 Sepatu bot, sarung tangan 14 35.9

8 Sepatu Bot, sarung tangan, dan Masker 3 7.7

Total 39 100.0

Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan bahwa APD yang banyak diipakai sepatu bot,sarung tangan dengan jumlah orang yang memakainya berjumlah 14 orang (35.9%).

(62)

Tabel 4.9

Distribusi Frekuensi Pemakaian APD Petugas Pengangkut Sampah Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

No Pemakaian APD Frekuensi (%)

1 Tidak memakai APD 9 23.1

2 Memakai 1 jenis APD 13 33.3

3 Memakai 2 jenis APD 14 35.9

4 Memakai 3 jenis APD 3 7.7

Jumlah 39 100.0

Berdasarkan tabel 4.9 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memakai 2 jenis APD sepatu bot,sarung tangan , yaitu sebanyak 14 responden (35.9%). Semakin banyak penggunaan APD yang dipakai oleh petugas pengangkut sampah semakin berkurang penyakit akibat kerja yang dialami oleh petugas pengangkut sampah.

7. Penyakit Akibat Kerja

Tabel 4.10

Distribusi Frekuensi Jenis Penyakit Akibat Kerja Petugas Pengangkut Sampah Kecamatan Semarang Utara Tahun 2015

No Jenis PAK Frekuensi Persentase (%)

1 Tidak menderita PAK 4 10.3

2 Pencernaan 8 20.5

3 Pernafasan 8 20.5

4 Kulit 10 25.6

5 Pernafasan dan Kulit 6 15.4

6 Pencernaan, Pernafasan, Kulit 3 7.7

Total 39 100.0

Berdasarkan tabel 4.10 menunjukkan bahwa sebagian besar jenis penyakit akibat kerja yang diderita oleh petugas adalah penyakit kulit (25.6%). Petugas tidak memakai sarung tangan saat mengangkut sampah sehingga petugas terpapar kuman yang ada disampah yang mengakibatkan penyakit kulit seperti gatal-gatal berkepanjangan.

Gambar

Gambar 2.1. Hubungan Interaksi Host, Agent, dan Environment
Diagram 2.3. Proses Terjadinya Penyakit Akibat Kerja                                    pada Petugas Pengangkut Sampah  19
Diagram 3.1. Kerangka Konsep Masa Kerja
Gambar 4.3  TPS Kelurahan Bulu Lor

Referensi

Dokumen terkait

Ada hubungan yang signifikan (p=0,000) antara tingkat pengetahuan risiko penyakit akibat kerja dengan kesadaran pemakaian masker pada pekerja dengan tingkat keeratan

Tujuan penelitian ini adalah untuk hubungan antara risiko penyakit akibat kerja dengan kesadaran pemakaian masker pada pekerja bagian.. operator jahit

HUBUNGAN PERSEPSI RISIKO KECELAKAAN DAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DENGAN KEDISIPLINAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DI JALUR 1 DAN 2 PT WIJAYA KARYA BETON BOYOLALI

Risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja pada bagian diesel yaitu kontak dengan bahan bakar oli, solar dan bensin yang berpotensi menghirup asap, panas pada kulit

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan postur janggal pada pekerja armada mobil sampah TANGKASAKI’ (Truk Angkutan

Dari hasil perbandingan hasil penilaian petugas dapat disimpulkan peneliti bahwa petugas merasa sarana kerja di loket pendaftaran rawat jalan seperti meja dan kursi

Salah satu orang yang berisiko terkena gangguan kulit adalah petugas pengelola sampah.Semakin sering dan lamanya kontak dengan sampah dan jika tidak memperhatikan

Risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja pada bagian diesel yaitu kontak dengan bahan bakar oli, solar dan bensin yang berpotensi menghirup asap, panas pada kulit