dengan kendala (1) 2700 + 20 − 𝑍1(𝑋) 20 + 𝑑1−− 𝑑1+= 1 (2) 𝑍2 𝑋 − 32 − 16 16 + 𝑑2−− 𝑑2+= 1 (3) 𝑎1(𝑋) − 300 + 50 50 + 𝑑3−− 𝑑3+= 1 (4) 300 + 25 − 𝑎1(𝑋) 25 + 𝑑4−− 𝑑4+= 1 (5) 2680 ≤ 𝑍1 𝑋 ≤ 2720 (6) 16 ≤ 𝑍2(𝑋) ≤ 48 (7) 250 ≤ 𝑎1(𝑋) ≤ 325 (8) 𝑥1≤ 125 𝑥2≤ 100 𝑥3≤ 150 𝑥4≤ 120 (9) 𝑥𝑖, 𝑑𝑖−, 𝑑𝑖+≥ 0; 𝑑𝑖−, 𝑑𝑖+≤ 1; 𝑑𝑖−⋅ 𝑑𝑖+= 0, 𝑖 = 1,2, 3, 4; 𝑗 = 1, 2
Penyelesaian masalah ini menghasilkan solusi optimal 𝑥1= 125, 𝑥2= 28, 𝑥3= 139.2, 𝑥4=
0, 𝑑1−= 𝑑2−= 0, 𝑑3−= 0.156, 𝑑4−= 0, 𝑑1+=
𝑑2+= 𝑑3+= 0, 𝑑4+= 0.312 dengan nilai fungsi
objektif sebesar 0.156 (detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 4).
IV CONTOH KASUS DAN PEMBAHASAN
Bank komersial adalah lembaga denganmultiproduk. Produk investasi yang ditawarkan bank komersial ada yang berisiko dan ada yang tidak berisiko. Semakin tinggi risiko suatu produk investasi, semakin besar tingkat pendapatan yang diperoleh. Oleh karena itu, bank komersial harus bisa mengalokasikan produk investasi sehingga memaksimumkan profit dan meminimumkan risiko secara bersamaan.
Diasumsikan bahwa setiap bank komersial harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
1 Paling sedikit 47% dari giro dan 36% dari deposito berjangka dan tabungan tetap dalam keadaan likuid (liquid part). 2 Paling sedikit 14% dari giro dan 4% dari
deposito berjangka dan tabungan dialokasikan dalam kategori kas.
3 Paling sedikit 5% dari total sumber dana diinvestasikan ke setiap kategori investasi. 4 Paling sedikit 40% dari total sumber dana
diinvestasikan ke pinjaman komersial. (Gupta dan Bhattacharya 2010b) Selanjutnya akan digunakan tiga fungsi objektif, yaitu memaksimumkan profit, meminimumkan kecukupan modal, dan meminimumkan rasio aset berisiko (jumlah investasi yang berisiko/modal). Fungsi objektif profit diperoleh dari penjumlahan tingkat pendapatan setiap kategori investasi. Fungsi objektif kecukupan modal diperoleh dari rasio modal wajib untuk memenuhi kebutuhan investasi (dapat dilihat pada Tabel
1 kolom kecukupan modal) dengan modal sebenarnya (dana sendiri). Fungsi objektif risiko diperoleh dari rasio jumlah investasi yang berisiko terhadap dana sendiri.
Rasio aset berisiko yang rendah mengindikasikan bahwa suatu lembaga keuangan dalam keadaan aman. Kecukupan modal yang rendah mengindikasikan risiko yang minimum, karena kecukupan modal yang rendah memberikan makna bahwa selisih antara dana yang dibutuhkan untuk investasi dan dana sebenarnya (modal sendiri) juga rendah sehingga mengakibatkan risiko yang minimum.
Dalam karya ilmiah ini, akan digunakan contoh kasus dari bank fiktif yang disebut sebagai “Bank AXN”. Perencanaan pengoptimalan investasi pada bank tersebut akan diselesaikan dengan menggunakan metode goal programming dan fuzzy goal
programming.
4.1 Contoh Kasus Bank AXN
Misalkan sumber dana Bank AXN berasal dari dana sendiri dan dana dari pihak ketiga. Sumber dana sendiri sebesar 250 juta rupiah, sumber dana dari pihak ketiga terdiri atas giro sebesar 125000 juta rupiah, dan deposito berjangka dan tabungan sebesar 225000 juta rupiah. Dana tersebut akan diinvestasikan ke dalam berbagai kategori investasi dengan tingkat pendapatan, bagian likuid, kecukupan modal, dan risiko aset, seperti yang terlihat dalam Tabel 1.
Tabel 1 Kategori investasi Bank AXN 𝑗 Kategori Investasi Tingkat Pendapatan (%) Bagian Likuid (%) Kecukupan Modal (%) Aset Berisiko? (Ya/Tidak) 1 Kas 0 100 0 Tidak
2 Investasi jangka pendek 4 99.5 1 Tidak
3 Surat berharga pemerintah
jangka waktu 1 sampai 5 tahun 3.5 96 5 Tidak
4 Surat berharga pemerintah
jangka waktu 5 sampai 10 tahun 7 90 6 Tidak
5 Pinjaman angsuran 11.5 0 17 Ya
6 Kredit tunai 12 0 19 Ya
7 Pinjaman komersial 10.5 0 11 Ya
4.2 Model Pemrograman Linear dengan Multiobjektif dari Kasus Bank AXN
Keputusan investasi dari Bank AXN dapat dimodelkan dengan variabel keputusan untuk setiap kategori investasi yang ada dalam Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 dan asumsi-asumsi yang diberikan, maka model pemrograman linear dengan multiobjektif atau
multiobjective linear programming (MLP)
dapat diformulasikan menjadi: Misalkan
𝑥𝑗 = banyaknya uang (dalam jutaan rupiah)
yang akan diinvestasikan ke dalam kategori investasi ke-𝑗, 𝑗 = 1,2, … , 7. Formulasi pemrograman linear multiobjektif adalah sebagai berikut:
(1) Minimumkan (aset berisiko) 𝑍1 𝑋 ≔ 1 250 (𝑥5+ 𝑥6+ 𝑥7) (2) Maksimumkan (profit) 𝑍2 𝑋 ≔ 0.04 𝑥2+ 0.035𝑥3+ 0.07𝑥4 +0.115𝑥5+ 0.12𝑥6+ 0.105𝑥7
(3) Minimumkan (kecukupan modal) 𝑍3 𝑋 ≔
1
250 (0.01𝑥2+ 0.05𝑥3 +0.06𝑥4+ 0.17𝑥5+ 0.19𝑥6+ 0.11𝑥7)
dengan kendala
(1) Semua dana (dana sendiri dan dana pihak ketiga) diinvestasikan ke setiap kategori investasi 𝑥1+ ⋯ + 𝑥7= 350250 (2) Kendala likuiditas 𝑥1+ 0.995𝑥2+ 0.96𝑥3+ 0.9𝑥4≥ 0.47 × 125000 + 0.36 × 225000 (asumsi 1) (3) Kendala diversifikasi 𝑥1≥ 0.14 × 125000 + 0.04 × 225000 (asumsi 2) 𝑥𝑗 ≥ 0.05 × 350250, 𝑗 = 2, … ,7 (asumsi 3)
(4) Kendala untuk aset komersial 𝑥7≥ 0.4 (250 + 125000 + 225000)
(asumsi 4)
(MLP 1) Penyelesaian masalah investasi Bank AXN dengan preemptive goal programming dapat diselesaikan dengan menggunakan
software LINGO 11.0. Tahap pertama untuk
menyelesaikan masalah ini ialah dengan membagi fungsi objektif menjadi tiga bagian sesuai dengan urutan prioritas. Berdasarkan tingkat kepentingan setiap fungsi objektif, maka misalkan prioritas pertama adalah meminimumkan aset berisiko, prioritas kedua adalah memaksimumkan profit, dan prioritas ketiga adalah meminimumkan kecukupan modal.
Prioritas pertama
Minimumkan (aset berisiko) 𝑍1(𝑋) ≔ 1 250 (𝑥5+ 𝑥6+ 𝑥7) dengan kendala (1) 𝑥1+ ⋯ + 𝑥7= 350250 (2) 𝑥1+ 0.995𝑥2+ 0.96𝑥3+ 0.9𝑥4≥ 139750 (3) 𝑥1≥ 26500 𝑥𝑗 ≥ 17512.5, 𝑗 = 2, … ,7 (4) 𝑥7≥ 140100
Penyelesaian masalah ini menghasilkan solusi optimal (dalam juta rupiah) 𝑥1=
26500, 𝑥2= 𝑥3= 𝑥5= 𝑥6= 17512.5, 𝑥4 =
113600, 𝑥7= 140100 dengan 𝑍1= 700.5,
𝑍2= 28091.38 juta rupiah dan 𝑍3=
118.329 (detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 5). Kemudian nilai fungsi objektif risiko 𝑍1≤ 700.5 ditambahkan pada kendala
di prioritas kedua, sehingga modelnya menjadi:
Prioritas kedua Maksimumkan (profit) 𝑍2 𝑋 ≔ 0.04 𝑥2+ 0.035𝑥3+ 0.07𝑥4 +0.115𝑥5+ 0.12𝑥6+ 0.105𝑥7 dengan kendala (1) 𝑥1+ ⋯ + 𝑥7= 350250 (2) 𝑥1+ 0.995𝑥2+ 0.96𝑥3+ 0.9𝑥4≥ 139750 (3) 𝑥1≥ 26500 𝑥𝑗 ≥ 17512.5, 𝑗 = 2, … ,7 (4) 𝑥7≥ 140100 (5) 𝑍1≤ 700.5
Penyelesaian masalah ini menghasilkan solusi optimal (dalam juta rupiah) 𝑥1=
26500, 𝑥2= 𝑥3= 𝑥5= 𝑥6= 17512.5, 𝑥4 =
113600, 𝑥7= 140100 dengan 𝑍1= 700.5,
𝑍2= 28091.38 juta rupiah dan 𝑍3=
118.329 (detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 6). Kemudian nilai fungsi objektif profit 𝑍2≥ 28091.38 juta rupiah
ditambahkan pada kendala di prioritas ketiga, sehingga modelnya menjadi:
Prioritas ketiga
Minimumkan (kecukupan modal) 𝑍3 𝑋 ≔ 1 250 (0.01𝑥2+ 0.05𝑥3+ 0.06𝑥4 +0.17𝑥5+ 0.19𝑥6+ 0.11𝑥7) dengan kendala (1) 𝑥1+ ⋯ + 𝑥7= 350250 (2) 𝑥1+ 0.995𝑥2+ 0.96𝑥3+ 0.9𝑥4≥ 139750 (3) 𝑥1≥ 26500 𝑥𝑗 ≥ 17512.5, 𝑗 = 2, … ,7 (4) 𝑥7≥ 140100 (5) 𝑍1≤ 700.5 (6) 𝑍2≥ 28091.38
Masalah ini tidak mempunyai solusi fisibel (detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 7). Meskipun solusi pada prioritas ketiga tidak fisibel, tetapi tetap diperoleh solusi optimal dengan nilai yang sama dengan solusi optimal yang diperoleh pada prioritas kedua. Hal ini dikarenakan solusi optimal pada prioritas ketiga hampir memenuhi kendala (6), yaitu 𝑍2 = 28091.375 ≅
28091.38.
Dalam kasus ini, solusi optimal dengan menggunakan metode preemptive goal
programming hanya diperoleh sampai
prioritas kedua, yaitu 𝑥1= 26500, 𝑥2= 𝑥3=
𝑥5= 𝑥6= 17512.5, 𝑥4= 113600, dan 𝑥7=
140100 (masing-masing dalam juta rupiah). Selanjutnya dilakukan substitusi dari solusi optimal tersebut ke dalam fungsi
objektif aset berisiko, profit, dan kecukupan modal, maka diperoleh total aset berisiko sebesar 700.5, total profit sebesar 28091.38 juta rupiah, dan total kecukupan modal sebesar 118.329.
Solusi optimal menunjukkan bahwa Bank AXN akan memperoleh profit sebesar 28091.38 juta rupiah dengan total risiko 700.5 dan kecukupan modal sebesar 118.329 jika menginvestasikan dana sebesar 26500 juta rupiah untuk kategori kas, sebesar 17512.5 juta rupiah untuk masing-masing kategori investasi jangka pendek, surat berharga pemerintah jangka waktu 1 sampai 5 tahun, pinjaman angsuran, dan kredit tunai, sebesar 113600 juta rupiah untuk kategori investasi surat berharga pemerintah jangka waktu 5 sampai 10 tahun, dan sebesar 140100 juta rupiah untuk kategori investasi pinjaman komersial.
Selanjutnya akan digunakan metode goal
programming dengan menetapkan secara
subjektif tiga level aspirasi dari fungsi objektif aset berisiko, profit, dan kecukupan modal, yaitu 𝑔1= 700, 𝑔2= 28100 juta rupiah, dan
𝑔3= 118. Penetapan level aspirasi tersebut
didasarkan pada solusi nilai fungsi objektif yang diperoleh dari metode preemptive goal
programming.
4.3 Model Goal Programming
Berdasarkan formulasi (MLP 1) dan dengan mengasumsikan bahwa ada tiga tujuan yang ingin dicapai, yaitu tujuan pertama adalah meminimumkan aset berisiko, tujuan kedua adalah memaksimumkan profit, dan tujuan ketiga adalah meminimumkan kecukupan modal, maka dengan menambahkan variabel deviasi untuk setiap fungsi tujuan, model (MLP 1) dapat diubah menjadi model goal programming seperti berikut: Tentukan 𝑋 = (𝑥1, 𝑥2, … , 𝑥7) yang meminimumkan 𝑑1++ 𝑑2−+ 𝑑3+ dengan kendala
(1) Kendala aset berisiko 𝑍1(𝑋) + 𝑑1−− 𝑑1+= 700
(2) Kendala profit
𝑍2(𝑋) + 𝑑2−− 𝑑2+= 28100
(3) Kendala kecukupan modal 𝑍3 𝑋 + 𝑑3−− 𝑑3+= 118 (4) 𝑥1+ ⋯ + 𝑥7= 350250 (5) 𝑥1+ 0.995𝑥2+ 0.96𝑥3+ 0.9𝑥4≥ 139750 (6) 𝑥1≥ 26500 𝑥𝑗 ≥ 17512.5, 𝑗 = 2, … ,7
(7) 𝑥7≥ 140100
(8) 𝑑𝑘−, 𝑑𝑘+≥ 0, 𝑑𝑘+∙ 𝑑𝑘−= 0, 𝑘 = 1, 2, 3
dengan
𝑑𝑘+= nilai yang menampung deviasi yang
berada di atas tujuan ke-𝑘,
𝑑𝑘−= nilai yang menampung deviasi yang
berada di bawah tujuan ke-𝑘, 𝑘 = 1,2,3
Penyelesaian masalah ini menghasilkan solusi optimal (dalam juta rupiah), yaitu 𝑥1= 26500, 𝑥2= 𝑥3= 𝑥5= 17512.5, 𝑥4=
113427.5, 𝑥6 = 17685, 𝑥7 = 140100, 𝑑1−=
𝑑2−= 𝑑3−= 0, 𝑑1+ = 1.19, 𝑑2+= 0, 𝑑3+=
0.4187 (detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 8). Karena 𝑑1+≠ 0 dan 𝑑3+≠ 0,
maka tujuan aset berisiko dan tujuan kecukupan modal tidak berhasil dicapai.
Misalkan dipilih 𝑔1= 700, 𝑔2= 28100
juta rupiah dan 𝑔3= 80, maka diperoleh
solusi optimal (dalam juta rupiah), 𝑥1=
26500, 𝑥2 = 𝑥3 = 𝑥5= 17512.5, 𝑥4 =
113427.5, 𝑥6= 17685, 𝑥7= 140100, 𝑑1−=
𝑑2−= 𝑑3−= 0, 𝑑1+= 1.19, 𝑑2+= 0, dan
𝑑3+= 38.4187 (detail penghitungan dapat
dilihat di Lampiran 9). Karena 𝑑1+≠ 0 dan
𝑑3+≠ 0, maka tujuan aset berisiko dan tujuan
kecukupan modal tidak berhasil dicapai. Dalam kasus ini, dengan menggunakan metode goal programming, tidak semua tujuan berhasil dicapai. Hal ini berkaitan dengan pemilihan level aspirasi untuk setiap fungsi objektif. Pada umumnya fungsi objektif profit (memaksimumkan) berbanding lurus dengan fungsi objektif risiko (meminimumkan) dan kecukupan modal (meminimumkan) artinya jika profit mengalami kenaikan, maka risiko dan kecukupan modal juga akan naik begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, penggunaan metode goal programming yang mengharuskan memilih nilai aspirasi fungsi objektif 𝑔1< 700.5, 𝑔2> 28091.38, dan
𝑔3< 118.329 tidak akan terpenuhi.
Selanjutnya akan digunakan metode fuzzy
goal programming untuk menyelesaikan
masalah investasi Bank AXN.
4.4 Formulasi Fuzzy Goal Linear Programming
Misalkan diberikan level aspirasi 𝑔1= 700, 𝑔2= 28100 juta rupiah, dan
𝑔3= 118 berturut-turut untuk fungsi objektif
aset berisiko (𝑍1(𝑋)), fungsi objektif profit
(𝑍2 𝑋 ), dan fungsi objektif kecukupan modal
𝑍3 𝑥 , maka akan diperoleh model fuzzy
goal programming untuk masalah alokasi
investasi Bank AXN sebagai berikut: Tentukan
𝑋 = (𝑥1, 𝑥2, … , 𝑥7)
sehingga memenuhi fungsi objektif (1) 𝑍1(𝑋) ≲ 700 (2) 𝑍2(𝑋) ≳ 28100 (3) 𝑍3(𝑋) ≲ 118 terhadap kendala (1) 𝑥1+ ⋯ + 𝑥7≅ 350250 (2) 𝑥1+ 0.995𝑥2+ 0.96𝑥3+ 0.9𝑥4≳ 139750 (3) 𝑥1≥ 26500 𝑥𝑗 ≥ 17512.5, 𝑗 = 2, … ,7 (4) 𝑥7≥ 140100
Diasumsikan bahwa fungsi objektif (1), (2), dan (3) merupakan fungsi objektif fuzzy, kendala (1) dan (2) merupakan fungsi kendala
fuzzy.
Misalkan 𝑝1, 𝑝2, dan 𝑝3 berturut-turut
merupakan batas toleransi untuk fungsi keanggotaan dari 𝑍1 𝑋 , 𝑍2(𝑋 ), dan 𝑍3 𝑥
dan 𝑞11, 𝑞12, 𝑞2 merupakan batas toleransi
untuk fungsi keanggotaan dari fungsi kendala
fuzzy 𝑎𝑙 𝑋 , 𝑙 = 1, 2, maka fungsi
keanggotaan untuk setiap tujuan dan kendala
fuzzy menjadi:
1) Fungsi keanggotaan untuk tujuan fuzzy aset berisiko (fungsi objektif pertama)
1 (Z (X)) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1, jika 700 ( ) 700 (700 ) ( ) , jika 700 ( ) 700 0, jika ( ) 700 p Z X p Z X Z X p p Z X p
2) Fungsi keanggotaan untuk tujuan fuzzy profit (fungsi objektif kedua)
2 (Z (X)) 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0, jika ( ) 28100 ( ) (28100 ) , jika 28100 ( ) 28100 1, jika 28100 ( ) 28100 Z X p Z X p p Z X p Z X p
3) Fungsi keanggotaan untuk tujuan fuzzy kecukupan modal (fungsi objektif ketiga)
3 (Z (X)) 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1, jika 118 ( ) 118 (118 ) ( ) , jika 118 ( ) 118 0, jika ( ) 118 p Z X p Z X Z X p p Z X p
4) Fungsi keanggotaan untuk kendala fuzzy 𝑎1(𝑋) (kendala pertama) 1 (a X( )) 1 11 1 12 1 11 11 1 11 1 12 1 1 12 12 jika ( ) 350250 0, atau ( ) 350250 ( ) (350250 ) , jika 350250 ( ) 350250 1, jika ( ) 350250 350250 ( ) , jika 350250 ( ) 350250 a X q a X q a X q q a X q a X q a X a X q q
5) Fungsi keanggotaan untuk kendala fuzzy 𝑎2(𝑋) (kendala kedua) 2 (a (X)) 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0, jika ( ) 139750 ( ) 139750 , jika 139750 ( ) 139750 1, jika 139750 ( ) 139750 a X q a X q q a X q a X q
Selanjutnya permasalahan ini akan diselesaikan dengan metode min sum fuzzy
goal programming yang dapat diformulasikan
sebagai berikut: Tentukan 𝑋 = (𝑥1, 𝑥2, … , 𝑥7) yang meminimumkan 𝑑1−+ 𝑑2−+ 𝑑3−+ 𝑑4−+ 𝑑5−+ 𝑑6− dengan kendala (1) 700 + 𝑝1 − 𝑍1(𝑋) 𝑝1 + 𝑑1 −− 𝑑 1+= 1 (2) 𝑍2 𝑋 − (28100 − 𝑝2) 𝑝2 + 𝑑2 −− 𝑑 2 += 1 (3) 118 + 𝑝3 − 𝑍3 𝑋 𝑝3 + 𝑑3 −− 𝑑 3 += 1 (4) 𝑎1 𝑋 − 350250 − 𝑞11 𝑞11 + 𝑑4 −− 𝑑 4+ = 1 350250 + 𝑞12 − 𝑎1 𝑋 𝑞12 + 𝑑5 −− 𝑑 5 + = 1 (5) 𝑎2 𝑋 − 139750 − 𝑞2 𝑞2 + 𝑑6 −− 𝑑 6 += 1 (6) 700 − 𝑝1≤ 𝑍1 𝑋 ≤ 700 + 𝑝1 (7) 28100 − 𝑝2≤ 𝑍2 𝑋 ≤ 28100 + 𝑝2 (8) 118 − 𝑝3≤ 𝑍3 𝑋 ≤ 118 + 𝑝3 (9) 350250 − 𝑞11≤ 𝑎1 𝑋 ≤ 350250 + 𝑞12 (10) 139750 − 𝑞2≤ 𝑎2 𝑋 ≤ 139750 + 𝑞2 (11) 𝑥1≥ 26500 𝑥𝑗 ≥ 17512.5, 𝑗 = 2, … ,7 (12) 𝑥7≥ 140100 (13) 𝑑𝑘−, 𝑑𝑘+≥ 0, 𝑝𝑖, 𝑞11, 𝑞12, 𝑞2> 0, 𝑑𝑘−, 𝑑𝑘+≤ 1, 𝑑𝑘+∙ 𝑑𝑘−= 0, 𝑘 = 1, 2, … , 6, 𝑖 = 1, 2, 3
Selanjutnya akan ditentukan minimum nilai toleransi untuk setiap fungsi tujuan fuzzy dan kendala fuzzy sehingga solusi optimal yang diperoleh memenuhi kepuasan pembuat keputusan. Pembuat keputusan akan merasa puas jika berhasil meminimumkan total aset berisiko, memaksimumkan profit, dan meminimumkan total kecukupan modal dengan asumsi bahwa total profit berbanding lurus dengan total aset berisiko dan total kecukupan modal. Tahapan dalam penentuan nilai toleransi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Misalkan nilai toleransi 𝑝1 selalu berubah
dan nilai toleransi 𝑝2, 𝑝3, 𝑞11, 𝑞12, dan 𝑞2
konstan, yaitu 𝑝1= 700𝑟; 𝑟 ∈ 0.05, 1 ;
𝑝2= 0.05 × 28100; 𝑝3= 0.05 × 118;
𝑞11= 𝑞12= 0.05 × 350250; 𝑞2=
0.05 × 139750, maka diperoleh grafik fungsi objektif, aset berisiko, profit, dan kecukupan modal sebagai berikut:
Gambar 10 Grafik perubahan nilai fungsi objektif terhadap 𝑝1. 0 0.5 1 1.5 2 35 105 175 245 315 385 455 525 595 665 n il a i fu n g si o b je k ti f p1
Grafik perubahan nilai fungsi objektif
Gambar 11 Grafik perubahan nilai aset berisiko terhadap 𝑝1.
Gambar 12 Grafik perubahan total profit terhadap 𝑝1.
Gambar 13 Grafik total kecukupan modal terhadap 𝑝1.
(detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 10).
Dari Gambar 10 dapat dilihat bahwa semakin besar nilai 𝑝1, maka nilai fungsi
objektif semakin mendekati nol. Gambar 11 dan Gambar 12 menunjukkan bahwa total aset berisiko dan total profit mulai konstan saat nilai 𝑝1= 105, yaitu total aset berisiko
sebesar 781.88 dan total profit sebesar 28100 juta rupiah, sedangkan total kecukupan modal tidak terpengaruh dengan perubahan nilai 𝑝1.
Oleh karena itu, dipilih nilai toleransi 𝑝1= 105 sehingga total aset berisiko ada
dalam selang 595, 805 .
2) Misalkan nilai toleransi 𝑝2 selalu berubah
dan nilai toleransi 𝑝1, 𝑝3, 𝑞11, 𝑞12, dan 𝑞2
konstan, yaitu 𝑝1= 105; 𝑝2= 28100𝑟;
𝑟 ∈ 0.05, 1 ; 𝑝3= 0.05 × 118; 𝑞11=
𝑞12= 0.05 × 350250; 𝑞2= 0.05 ×
139750, maka diperoleh grafik fungsi objektif, aset berisiko, profit, dan kecukupan modal sebagai berikut:
Gambar 14 Grafik perubahan nilai fungsi objektif terhadap 𝑝2.
Gambar 15 Grafik perubahan nilai aset berisiko terhadap 𝑝2. 710.00 720.00 730.00 740.00 750.00 760.00 770.00 780.00 790.00 35 105 175 245 315 385 455 525 595 665 r is ik o p1
Grafik perubahan total aset berisiko
27500.00 27600.00 27700.00 27800.00 27900.00 28000.00 28100.00 28200.00 35 105 175 245 315 385 455 525 595 665 p r o fi t p1
Grafik perubahan total profit
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 35 105 175 245 315 385 455 525 595 665 m o d a l p1
Grafik perubahan total kecukupan modal 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1405 4215 7025 9835 12645 15455 18265 21075 23885 26695 n il a i fu n g si o b je k ti f p2
Grafik perubahan nilai fungsi objektif 0.00 200.00 400.00 600.00 800.00 1000.00 1405 4215 7025 9835 12645 15455 18265 21075 23885 26695 r is ik o p2
Grafik perubahan total aset berisiko
Gambar 16 Grafik perubahan total profit terhadap 𝑝2.
Gambar 17 Grafik perubahan total kecukupan modal terhadap 𝑝2.
(detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 11).
Dari Gambar 14, Gambar 15, Gambar 16, dan Gambar 17 dapat dilihat bahwa perubahan nilai 𝑝2 tidak memengaruhi nilai fungsi
objektif, total aset berisiko, total profit, dan total kecukupan modal, maka dipilih nilai toleransi terkecil, yaitu 𝑝2= 1405 sehingga
total profit ada dalam selang 26695, 29505 . 3) Misalkan nilai toleransi 𝑝3 selalu berubah
dan nilai toleransi 𝑝1, 𝑝2, 𝑞11, 𝑞12, dan 𝑞2
konstan, yaitu 𝑝1= 105; 𝑝2= 1405;
𝑝3= 118𝑟; 𝑟 ∈ 0.05, 1 ; 𝑞11= 𝑞12=
0.05 × 350250; 𝑞2= 0.05 × 139750,
maka diperoleh grafik fungsi objektif, aset berisiko, profit, dan kecukupan modal sebagai berikut:
Gambar 18 Grafik perubahan nilai fungsi objektif terhadap 𝑝3.
Gambar 19 Grafik perubahan nilai aset berisiko terhadap 𝑝3.
Gambar 20 Grafik perubahan total profit terhadap 𝑝3. 0.00 5000.00 10000.00 15000.00 20000.00 25000.00 30000.00 1405 4215 7025 9835 12645 15455 18265 21075 23885 26695 p r o fi t p2
Grafik perubahan total profit
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 1405 4215 7025 9835 12645 15455 18265 21075 23885 26695 m o d a l p2
Grafik perubahan total kecukupan modal 0.69 0.7 0.71 0.72 0.73 0.74 0.75 0.76 0.77 0.78 0.79 5 .9 1 7 .7 2 9 .5 4 1 .3 5 3 .1 6 4 .9 7 6 .7 8 8 .5 1 0 0 .3 1 1 2 .1 n il a i fu n g si o b je k ti f p3
Grafik perubahan nilai fungsi objektif 768.00 770.00 772.00 774.00 776.00 778.00 780.00 782.00 784.00 5 .9 1 7 .7 2 9 .5 4 1 .3 5 3 .1 6 4 .9 7 6 .7 8 8 .5 1 0 0 .3 1 1 2 .1 r is ik o p3
Grafik perubahan nilai aset berisiko
27700.00 27800.00 27900.00 28000.00 28100.00 28200.00 28300.00 28400.00 28500.00 28600.00 28700.00 28800.00 5 .9 1 7 .7 2 9 .5 4 1 .3 5 3 .1 6 4 .9 7 6 .7 8 8 .5 1 0 0 .3 1 1 2 .1 p r o fi t p3
Gambar 21 Grafik perubahan total kecukupan modal terhadap 𝑝3.
(detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 12).
Dari Gambar 18 dapat dilihat bahwa semakin besar nilai 𝑝3, maka nilai fungsi
objektif semakin turun. Pada Gambar 19, Gambar 20, dan Gambar 21 dapat dilihat bahwa pada saat nilai 𝑝3∈ 5.9, 35.4 , total
aset berisiko sebesar 781.88, total profit sebesar 28100 juta rupiah, dan total kecukupan modal sebesar 118. Pada saat nilai 𝑝3∈ [41.3, 47.2], total aset berisiko turun
menjadi 776.86, total profit tetap, dan total kecukupan modal turun menjadi 119.89. Pada saat 𝑝3= 53.1, total aset berisiko turun
menjadi 772.68, sedangkan total profit dan total kecukupan modal berturut-turut naik menjadi 28722.91 juta rupiah, dan 121.94. Oleh karena itu, dipilih nilai toleransi 𝑝3= 53.1 sehingga total kecukupan modal
ada dalam selang 64.9, 171.5 .
4) Misalkan nilai toleransi 𝑞11 selalu
berubah dan nilai toleransi 𝑝1, 𝑝2, 𝑝3, 𝑞12,
dan 𝑞2 konstan, yaitu 𝑝1= 105; 𝑝2=
1405; 𝑝3= 53.1; 𝑞11= 350250𝑟; 𝑟 ∈
0.05, 1 ; 𝑞12= 0.05 × 350250; 𝑞2=
0.05 × 139750, maka diperoleh grafik fungsi objektif, aset berisiko, profit, dan kecukupan modal sebagai berikut:
Gambar 22 Grafik perubahan nilai fungsi objektif terhadap 𝑞11.
Gambar 23 Grafik perubahan nilai aset berisiko terhadap 𝑞11.
Gambar 24 Grafik perubahan total profit terhadap 𝑞11. 116.00 117.00 118.00 119.00 120.00 121.00 122.00 123.00 5 .9 1 7 .7 2 9 .5 4 1 .3 5 3 .1 6 4 .9 7 6 .7 8 8 .5 1 0 0 .3 1 1 2 .1 m o d a l p3
Grafik perubahan total kecukupan modal 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 n il a i fu n g si o b je k ti f q11
Grafik perubahan nilai fungsi objektif 725.00 730.00 735.00 740.00 745.00 750.00 755.00 760.00 765.00 770.00 775.00 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 r is ik o q11
Grafik perubahan total aset berisiko
27600.00 27800.00 28000.00 28200.00 28400.00 28600.00 28800.00 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 p r o fi t q11
Gambar 25 Grafik perubahan total kecukupan modal terhadap 𝑞11.
(detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 13).
Dari Gambar 22 dapat dilihat bahwa semakin besar nilai 𝑞11, maka nilai fungsi
objektif semakin turun. Pada Gambar 23, Gambar 24, dan Gambar 25 dapat dilihat bahwa saat 𝑞11= 35025, total aset berisiko,
profit, dan kecukupan modal berturut-turut turun menjadi 748.95, 28100 juta rupiah, dan 119.33. Oleh karena itu, dipilih 𝑞11= 35025
sehingga kendala fuzzy pertama ada pada selang 315225, 367762.5 .
5) Misalkan nilai toleransi 𝑞12 selalu
berubah dan nilai toleransi 𝑝1, 𝑝2, 𝑝3, 𝑞11,
dan 𝑞2 konstan, yaitu 𝑝1= 105; 𝑝2=
1405; 𝑝3= 53.1; 𝑞11= 35025; 𝑞12=
350250𝑟; 𝑟 ∈ 0.05, 1 ; 𝑞2= 0.05 ×
139750, maka diperoleh grafik fungsi objektif, aset berisiko, profit, dan kecukupan modal sebagai berikut:
Gambar 26 Grafik perubahan nilai fungsi objektif terhadap 𝑞12.
Gambar 27 Grafik perubahan nilai aset berisiko terhadap 𝑞12.
Gambar 28 Grafik perubahan total profit terhadap 𝑞12.
Gambar 29 Grafik perubahan total kecukupan modal terhadap 𝑞12.
(detail penghitungan dapat dilihat di Lampiran 14).
Dari Gambar 26, Gambar 27, Gambar 28, dan Gambar 29 dapat dilihat bahwa perubahan nilai 𝑞12 tidak memengaruhi nilai fungsi
117.50 118.00 118.50 119.00 119.50 120.00 120.50 121.00 121.50 122.00 122.50 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 m o d a l q11
Grafik perubahan total kecukupan modal 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 n il a i fu n g si o b je k ti f q12
Grafik perubahan nilai fungsi objektif 0.00 200.00 400.00 600.00 800.00 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 r is ik o q12
Grafik perubahan total aset berisiko 0.00 5000.00 10000.00 15000.00 20000.00 25000.00 30000.00 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 p r o fi t q12
Grafik perubahan total profit
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 1 7 5 1 2 .5 5 2 5 3 7 .5 8 7 5 6 2 .5 1 2 2 5 8 7 .5 1 5 7 6 1 2 .5 1 9 2 6 3 7 .5 2 2 7 6 6 2 .5 2 6 2 6 8 7 .5 2 9 7 7 1 2 .5 3 3 2 7 3 7 .5 m o d a l q12
Grafik perubahan total kecukupan modal
objektif, total aset berisiko, total profit, dan total kecukupan modal, maka dipilih nilai toleransi terkecil, yaitu 𝑞12= 17512.5
sehingga total kendala fuzzy pertama ada dalam selang 315225, 367762.5 .
6) Misalkan nilai toleransi 𝑞2 selalu berubah
dan nilai toleransi 𝑝1, 𝑝2, 𝑝3, 𝑞11, dan 𝑞12
konstan, yaitu 𝑝1= 105; 𝑝2= 1405;
𝑝3= 53.1; 𝑞11= 35025; 𝑞12= 17512.5;
𝑞2= 139750𝑟; 𝑟 ∈ 0.05, 1 , maka
diperoleh grafik fungsi objektif, aset berisiko, profit, dan kecukupan modal sebagai berikut:
Gambar 30 Grafik perubahan nilai fungsi objektif terhadap 𝑞2.
Gambar 31 Grafik perubahan nilai aset berisiko terhadap 𝑞2.
Gambar 32 Grafik perubahan total profit terhadap 𝑞2.
Gambar 32 Grafik perubahan total kecukupan modal terhadap 𝑞2.
(detail penghitungan dapat diilihat di Lampiran 15).
Dari Gambar 30 dapat dilihat bahwa semakin besar nilai 𝑞2, maka nilai fungsi
objektif semakin mendekati nol. Pada Gambar 31, Gambar 32, dan Gambar 33 menunjukkan bahwa saat nilai 𝑞2∈ [6987.5, 20962.5]
nilai aset berisiko dan kecukupan modal turun, sedangkan total profit tetap, yaitu 28100 juta rupiah. Oleh karena itu dipilih nilai toleransi 𝑞2= 20962.5 sehingga kendala fuzzy kedua
ada dalam selang 118787.5, 160712.5 . Dari keenam tahapan tersebut diperoleh nilai toleransi 𝑝1= 105, 𝑝2= 1405, 𝑝3=
53.1, 𝑞11= 35025, 𝑞12= 17512.5, dan
𝑞2= 20962.5 sehingga diperoleh solusi
optimal (dalam juta rupiah) 𝑥1= 26500, 𝑥2=
𝑥3= 𝑥5= 𝑥6= 17512.5, 𝑥4= 111084, 𝑥7= 670.00 680.00 690.00 700.00 710.00 720.00 730.00 740.00 750.00 760.00 6 9 8 7 .5 2 0 9 6 2 .5 3 4 9 3 7 .5 4 8 9 1 2 .5 6 2 8 8 7 .5 7 6 8 6 2 .5 9 0 8 3 7 .5 1 0 4 8 1 2 .5 1 1 8 7 8 7 .5 1 3 2 7 6 2 .5 r is ik o q2
Grafik perubahan total aset berisiko
28086.00 28088.00 28090.00 28092.00 28094.00 28096.00 28098.00 28100.00 28102.00 6 9 8 7 .5 2 0 9 6 2 .5 3 4 9 3 7 .5 4 8 9 1 2 .5 6 2 8 8 7 .5 7 6 8 6 2 .5 9 0 8 3 7 .5 1 0 4 8 1 2 .5 1 1 8 7 8 7 .5 1 3 2 7 6 2 .5 p r o fi t q2
Grafik perubahan total profit
117.80 118.00 118.20 118.40 118.60 118.80 119.00 119.20 119.40 119.60 6 9 8 7 .5 2 0 9 6 2 .5 3 4 9 3 7 .5 4 8 9 1 2 .5 6 2 8 8 7 .5 7 6 8 6 2 .5 9 0 8 3 7 .5 1 0 4 8 1 2 .5 1 1 8 7 8 7 .5 1 3 2 7 6 2 .5 m o d a l q2
Grafik perubahan total kecukupan modal 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 6 9 8 7 .5 2 0 9 6 2 .5 3 4 9 3 7 .5 4 8 9 1 2 .5 6 2 8 8 7 .5 7 6 8 6 2 .5 9 0 8 3 7 .5 1 0 4 8 1 2 .5 1 1 8 7 8 7 .5 1 3 2 7 6 2 .5 n il a i fu n g si o b je k ti f q2
Grafik perubahan nilai fungsi objektif
141859.5 dengan nilai fungsi objektif sebesar 0.102794 dan total aset berisiko 𝑍1=
707.54, total profit 𝑍2= 28100 juta rupiah,
dan total kecukupan modal 𝑍3= 118.5 (detail
penghitung dapat dilihat di Lampiran 16). Jadi, Bank AXN akan memperoleh profit sebesar 28100 juta rupiah dengan total risiko sebesar 707.54 dan total kecukupan modal sebesar 118.5 jika menginvestasikan dana sebesar 26500 juta rupiah untuk kategori kas,
sebesar 17512.5 juta rupiah untuk masing-masing kategori investasi jangka pendek, surat berharga pemerintah jangka waktu 1 sampai 5 tahun, pinjaman angsuran, dan kredit tunai, sebesar 111084 juta rupiah untuk kategori investasi surat berharga pemerintah jangka waktu 5 sampai 10 tahun, dan sebesar 141859.5 juta rupiah untuk kategori investasi pinjaman komersial.
V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Dalam kasus pengalokasian dana bank pada contoh kasus Bank AXN, metode goal
programming tidak dapat digunakan karena
dengan menggunakan metode goal programming tidak semua tujuan berhasil
dicapai, sedangkan dengan menggunakan metode fuzzy goal programming dapat diperoleh solusi optimal yang disesuaikan dengan keinginan pembuat keputusan, yaitu dengan menentukan secara subjektif level aspirasi dan nilai toleransi untuk setiap tujuan yang ingin dicapai. Penetapan level aspirasi
untuk setiap tujuan disesuaikan dengan nilai fungsi objektif yang diperoleh dari solusi optimal dengan menggunakan metode
preemptive goal programming. 5.2 Saran
Pada karya ilmiah ini data yang digunakan adalah data hipotetik. Saran untuk penulisan dan penelitian selanjutnya adalah dengan menggunkan data pengalokasian dana bank yang sebenarnya.
DAFTAR PUSTAKA
[BI] Bank Indonesia. 2010. Kamus IstilahPerbankan. [terhubung berkala]. http://www.bi.go.id/web/id/Kamus. [4 Jan 2012].
Chak CK, Feng G, Palaniswani M. 1998. Implementation of Fuzzy System. Di dalam: Leondes Cornelius T. Fuzzy
Logic and Expert Systems Applications.
Volume 2 of Neural Network Systems Techniques and Applications. London: Academic Press.
Dendawijaya L. 2005. Manajemen Perbankan. Bogor: Ghalia Indonesia.
Gupta M, Bhattacharya D. 2010a. Multi objective problem in fuzzy environment where resources are triangular fuzzy number. European Journal of Scientific
Research 46:099-106.
Gupta M, Bhattacharya D. 2010b. Goal programming and fuzzy goal programming techniques in the bank investment plans under the scenario of maximizing profit and minimizing risk
factor: A case study. Advances in Fuzzy
Mathematics 5(2):111-119.
Krugman PR, Obstfeld M. 1999. Ekonomi
Internasional: Teori dan Kebijakan. Ed
ke-2. Penerjemah: Munandar H, Basri FH. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Terjemahan dari: International
Economic: Theory and Policy. 2𝑛𝑑ed.
Siamat D. 1993. Manajemen Bank Umum. Jakarta: Inter Media.
Sihombing J. 1993. Pengantar Funds
Manajemen untuk Perbankan. Jakarta:
Institut Bankir Indonesia.
Sinungan M. 1992. Manajemen Dana Bank. Jakarta: Rineka Cipta.
Winston WL. 2004. Operations Research
Applications and Algorithms. 4𝑡 ed.
New York: Duxbury.
Zimmermann. 1991. Fuzzy Set Theory and
Its Applications.2𝑡 ed. Massachusetts: