• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1. Latar Belakang

Pentingnya menjaga dan meningkatkan kelestarian lingkungan hidup merupakan hal yang wajib dilakukan bagi masyarakat dunia. Hal ini dicetuskan oleh adanya kekhawatiran besar kemungkinan terjadinya bencana lingkungan hidup yang mengancam. Keadaan alam yang semakin tidak menentu belakangan ini merupakan suatu pertanda dari fenomena terjadinya pemanasan global (Global Warming). Pemanasan global itu sendiri merupakan suatu fenomena meningkatnya suhu global yang disebabkan oleh peningkatan jumlah karbon dioksida dan gas-gas Methane, CFC, dan Nitrous Oxicide pada atmosfer bumi. (Encyclopedia

Americana International edition, volume 10).

Para Peneliti sudah banyak yang melakukan riset tentang dampak – dampak dari terjadinya Pemanasan Global, seperti penipisan lapisan ozon yang secara langsung memperbesar prevelensi kanker kulit dan berpotensi mengacaukan iklim dunia serta pemanasan global, memperkuat alasan kekhawatiran tersebut. Bahkan sampah sekarang menjadi masalah besar karena jumlah sampah yang semakin besar dan banyaknya sampah yang sulit di daur ulang (Wibowo 2002, dalam Melisa Gunawan 2014).

Berdasarkan fenomena – fenomena yang terjadi maka perlu ditingkatkan pentingnya kesadaran masyarakat dunia untuk bersama – sama melakukan pelestarian lingkungan dimulai dari hal yang paling kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menghentikan penebangan pohon liar, mengurangi pemakaian bahan – bahan yang susah diurai, mengurangi penggunakan rumah kaca yang akan berdampak menipisnya lapisan ozon. Oleh karena itu dibutuhkan kontribusi penuh dari semua masyarakat dunia untuk bersama – sama mengurangi faktor – faktor yang dapat mengakibatkan global warming seperti pengurangan penggunaan kantong plastik.

(2)

Berdasarkan data survey, rata-rata pemakaian kantong plastik per orang di Indonesia adalah 700 lembar per tahun. Sampah kantong plastik saja di Indonesia mencapai 4000 ton per hari atau sama dengan 16 pesawat Boeing 747, sehingga sekitar 100 milyar kantong plastik terkonsumsi per tahunnya di Indonesia. Produksi kantong plastik tersebut menghabiskan 12 juta barel minyak bumi yang tak bisa diperbaharui, yang setara dengan 11 Triliun rupiah. (Sumber: Yahoo! Indonesia dan Greeneration Indonesia)

Kekhawatiran inilah yang kemudian memunculkan apa yang disebut dengan Green Consumerism. Paham Green Consumerism memiliki keyakinan adanya masalah lingkungan yang nyata, dan masalah tersebut harus ditangani dengan serius dan disikapi dengan cara yang aktif (Smith 1998, dalam Umi Oktaviani 2011).

Melihat permasalahan diatas maka lahir istilah Green marketing Green atau terdiri dari segala kegiatan untuk menghasilkan dan memfasilitasi segala jenis pertukaran yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, dimana pemenuhan dan kebutuhan manusia tersebut mempunyai dampak menghancurkan lingkungan yang minimum (Polonsky, 1994 dalam Frensa Oktaviani 2011).

Tujuan Green marketing yaitu mengembangkan produk yang lebih aman dan ramah lingkungan, meminimalkan limbah bahan baku dan energi, mengurangi kewajiban akan masalah lingkungan hidup dan meningkatkan efektifitas biaya dengan mematuhi peraturan lingkungan hidup agar dikenal sebagai perusahaan yang baik (Heizer dan Randen, 2006 dalam Seftifani at al. 2014).

Menghadapi fenomena yang terjadi pada saat ini khususnya Pemerintah di Indonesia memberikan suatu upaya untuk menangani permasalahan penggunaan kantong plastik berlebih dengan cara memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar Rp. 200,- di setiap mini market. berdasarkan Surat Edaran Nomor S.1230/PSLB3-PS/2016, pada tanggal 21 Februari dilalukan uji coba penerapan kantong plastik berbayar di semua pasar modern atau swalayan dan pasar tradisional di Indonesia. (cnnindonesia.com, diakses pada tanggal 23 Juni 2016).

(3)

Namun pada nyatanya dengan adanya kebijakan ini menimbulkan kesan atau pandangan masyarakat tentang keefektifan kebijakan tersebut. Walaupun demikian, masyarakat yang berperan sebagai konsumen harus sadar terhadap lingkungan khususnya pada masalah penggunaan kantong plastik berlebih ini.

Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan kepada 30 responden mahasiswa universitas widyatama yang bertujuan untuk mengetahui tentang persepsi atas kebijakan penggunaan kantong plastik berbayar. Berikut ini tabel 1.1 hasil pra survey.

Tabel 1.1 Hasil Pra Survey

Pernyataan Ya Tidak

Apakah Anda pernah menggunakan atau membeli Kantong Plastik Berbayar seharga Rp. 200,- di mini market?

21 9

Sumber : Data Pra-Survey yang telah diolah

Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada 30 responden pada mahasiswa widyatama pada pertanyaan “Apakah Anda pernah menggunakan atau membeli Kantong Plastik Berbayar seharga Rp. 200,- di mini market?.” Yang menyatakan “Ya” sebanyak 21 orang dan yang menyatakan “Tidak” 9 Orang. Sedangkan dalam hasil kuesioner yang diisi oleh responden juga menyertakan pendapat kelebihan penggunaan kantong plastik dapat diambil kesimpulan dari banyaknya kesamaan jawaban dari responden diantaranya,

1. Harga yang relatif murah

2. Praktis, ringan dan Simple untuk digunakan 3. Anti Air

4. Memudahkan membawa barang 5. Mudah didapat

Sedangkan pada pendapat responden tentang kekurangan penggunaan kantong plastik dapat diambil kesimpulan, diantaranya,

(4)

1. Mengandung zat kimia berbahaya 2. Mudah sobek

3. Sulit di daur ulang

4. Meningkatkan volume limbah 5. Sulit terurai dan sulit dihancurkan

Menurut data yang diambil dari hasil pra survey terhadap 30 responden mahasiswa widyatama menunjukan sebagian besar sering menggunakan kantong plastik, hal ini menggambarkan kurangnya persepsi atas kesadaran terhadap lingkungan.

Namun pada kenyataannya kebijakan kantong plastik berbayar ini menuai kontroversi pro dan kontra dalam pandangan masyarakat, hal ini dapat dilihat pada beberapa kutipan berita yang diambil dari media online, diantaranya :

Opini Ketua Umum Yayasan Peduli Bumi Indonesia (YPBI) Ananda M. Latip kantong plastik berbayar harus merupakan tanggung jawab suatu pengusaha. “Harapan kami tentunya jangan sampai kebijakan itu justru memberatkan masyarakat yang sekarang sedang dililit persoalan lemahnya ekonomi nasional. Jadi jangan sampai kebijakan ini justru ditunggangi oleh kepentingan kelompok pengusaha” Ujar Ananda (nasional.republika.co.id, 23 Juni 2016).

Menurut Rudy membahas tentang kebijakan kantong plastik berbayar dengan harga yang murah tidak akan efektif.

“Penggunaan tas plastik berbayar itu bukan solusi terbaik. Saya menolak, karena yang mampu bayar tetap akan memilih tas plastik. Tas plastik itu lebih praktis dan tidak akan mengurangi jumlah sampah plastik,” kata Rudy di sela-sela sosialisasi ‘Berbelanja Cantik Tanpa Kantong Plastik’, di area Car Free Day Jalan Slamet Riyadi, Solo (valdan.blogspot.co.id, 23 Juni 2016).

Adapun komentar masyarakat yang menyarankan seharusnya bukan konsumen atau masyarakat saja yang harus dikenai beban dengan membayar plastik yang digunakan, tegas Tiwa, tetapi perusahaan-perusahaan yang memproduksi

(5)

makanan, minuman, bumbu, deterjen, shampo, dan lain-lainnya, juga harus dikenakan sanksi itu.

“Konsumen selama ini tinggal terima barang yang dibungkus plastik tersebut? Konsumen tidak bisa menawarkan diri harus menggunakan bahan yang lebih aman atau ramah lingkungan. Jadi edukasi untuk penyelamatan alam karena plas-tik, ya jangan hanya masyarakat saja yang harus menerima beban. Memang uang Rp 200 nilainya tidak seberapa, tapi kalau dalam jumlah banyak akan menjadi nilai uang yang besar juga,” Ujar Tiwa (lawupost.com, 23 Juni 2016).

Warga Ujungberung Bandung, Fatimah mendukung dengan kebijakan kantong plastik berbayar karena akan mengurangi penggunaan sampah plastik yang sulit terurai.

“Selain merusak lingkungan (penggunaan sampah plastik) sudah saatnya masyarakat kita beralih ke kebiasaan yang sebenarnya sudah diajarkan para orangtua kita dulu. Sekarang diawali dengan pasar modern, nanti menular ke pasar tradisional,” kata Fatimah (regional.kompas.com, 2016).

Adapun pendapat dari Kompasianer bernama Ryan juga menyoroti pembebanan biaya kantong plastik yang hanya ditujukan kepada konsumen. Ia mencoba menganalisis hal ini. Menurutnya, penyediaan kantong plastik sejatinya adalah bagian dari servis yang diberikan pelaku usaha kepada konsumen. Dengan kata lain, kantong plastik adalah kewajiban si pemilik toko. Ia melihat ada kejanggalan dalam hal ini. Jika ditelaah, dengan membayar ekstra untuk sebuah kantong plastik malah memberikan peluang atau lahan baru bagi si pemilik usaha untuk mencari keuntungan. Seharusnya, langkah tepat yang diambil adalah peritel harus menyediakan kantong berbahan lain untuk digunakan konsumen. Dengan begitu ada alternatif selain plastik dan ini tentu saja bisa menekan angka penggunaan plastik (kompasiana.com, diakses pada 23 juni 2016).

Hal ini berkaitan dengan pedapat (Sachdev, 2011 dalam Melisa Gunawan 2014) bahwa pada saat masyarakat menjadi lebih khawatir terhadap lingkungan alam, pelaku bisnis mulai menyesuaikan perilaku perusahaan dalam usaha untuk menanggapi kepedulian “baru” dari masyarakat. Perusahaan dengan cepat menerima konsep – konsep seperti sistem manajemen lingkungan dan minimalisasi

(6)

sampah dan juga telat mengintegrasikan masalah – masalah lingkungan hidup ada semua aktifitas perusahaan. Masyarakat sudah sadar terhadap produk – produk yang kurang ramah lingkungan dikarenakan oleh kepedulian dan kesejahteraan hidupnya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan kenapa isu ini menjadi sangat modern dan memunculkan banyak persepsi terhadap green marketing di mata masyarakat.

Perilaku masyarakat terhadap kepedulian terhadap lingkungan sangat mendukung, namun melihat hasil pra-survey menunjukan bahwa sikap masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan masih dibilang kurang sadar akan menjaga kelestarian lingkungan sehingga terdapat kesenjangan antara Sikap dan Perilaku masyarakat terhadap persepsi penggunaan kantong plastik berbayar dan persepsi atas lingkungan hidup terhadap niat beli ulang kantong plastik di mini market. Sedangkan yang dimaksud dengan Persepsi pada permasalahan di atas menyatakan bahwa persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Rakhmat (2007: 51). Kajian penilitian ini merujuk kepada persepsi kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan lingkungan yang merupakan tanggung jawab bersama khususnya pada masalah penggunaan kantong plastik berlebih serta kesadaran masyarakat dalam melakukan niat beli ulang kantong plastik berbayar.

Fenomena – fenomena yang sedang terjadi memberikan pandangan kepada kita bahwa pelestarian lingkungan harus dilakukan secara aktif. Hal ini menjadi dasar peneliti untuk melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Persepsi Atas Penggunaan Kantong Plastik Berbayar dan Lingkungan Hidup Terhadap Niat Beli Ulang di Mini market.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukan di atas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh persepsi atas penggunaan kantong plastik berbayar terhadap Niat Beli Ulang di mini market?

2. Bagaimana pengaruh persepsi atas lingkungan hidup terhadap Niat Beli Ulang di mini market?

(7)

1.3. Batasan Penelitian

Adapun batasan masalah pada penelitian ini, yaitu Responden pada penelitian diambil dari Mahasiswa dan Mahasiswi Universitas Widyatama.

1.4. Maksud dan Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh persepsi atas penggunaan kantong plastik berbayar terhadap Niat Beli Ulang di mini market. 2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh persepsi atas lingkungan hidup

terhadap Niat Beli Ulang di mini market. 1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak sebagai berikut:

1. Bagi Penulis

a. Sebagai sarana bagi penulis untuk menambah wawasan, kemampuan, dan pengetahuan setelah melakukan proses studi dibangku kuliah serta membandingkan antara teori yang diperoleh penulis di kelas dengan kondisi yang ada di lapangan.

b. Sebagai data atau masukan dalam menyusun skripsi guna memenuhi salah satu sayrat menempuh ujian sidan sarjana.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya serta sebagai titik ukur penelitian yang lebih luas dan mendalam mengenai pembahasan yang berkenaan dengan penelitian pada objek dan masalah yang sama.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini dibagi ke dalam lima bab yang disajikan sebagai berikut :

(8)

Bab ini berisi uraian tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan serta manfaat penelitian ini dan sistematika penulisan, BAB II : Tinjauan Pustaka

Bab ini berisi uraian tentang landasan – landasan teori dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini. Disamping itu juga terdapat kerangka pemikiran dan hipotesis dari penelitian yang dilakukan.

BAB III : Metode Penelitian

Bab ini berisi uraian tentang penjelasan variabel penelitian, definisi operasional penelitian, populasi, sampel, jenis sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis.

BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab ini berisi uraian tentang pengujian dan analisis dari hasil temuan yang diperoleh selama penelitian.

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi uraian tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan serta saran - saran yang berguna bagi penelitian dimasa yang akan datang.

Gambar

Tabel 1.1   Hasil Pra Survey

Referensi

Dokumen terkait

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut

Sub Bidang Evaluasi dan Pelaporan pada jabatan pekerjaan penyusun laporan memiliki nilai FTE yang tinggi akan tetapi jumlah pegawai yang ada melebihi nilai perhitungan

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Bedasarkan faktor-faktor tersebut, maka ketiadaan hubungan paparan debu terhirup dengan kapasitas vital paru pada pekerja penyapu pasar Johar kota Semarang, tidak

Agar penyeleksian karyawan dapat dilakukan dengan lebih efisien serta menghindari subyektifitas keputusan yang dihasilkan, diperlukan suatu Sistem Penunjang Keputusan (SPK)

Psoriasis adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak- bercak eritema berbatas tegas, ditutupi oleh skuama yang tebal berlapis-lapis

Penelitian ini ditujukan untuk pengembangan sistem informasi administrasi, diharapkan dapat menghasilkan sebuah produk berupa Sistem Informasi Administrasi Santri Pada

Seringkali apabila tunggakan sewa berlaku ianya dikaitkan dengan masalah kemampuan yang dihadapi penyewa dan juga disebabkan faktor pengurusan yang lemah. Ada pula