• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arya Rezavidi, MEE, PhD IKATAN AUDITOR TEKNOLOGI INDONESIA (IATI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Arya Rezavidi, MEE, PhD IKATAN AUDITOR TEKNOLOGI INDONESIA (IATI)"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

Arya Rezavidi, MEE, PhD

IKATAN AUDITOR TEKNOLOGI INDONESIA (IATI)

(2)

Pendahuluan

Peran TIK dalam Pembangunan

Peran Keamanan Informasi dalam TIK

Konteks Perlunya Audit TIK

Contoh Kasus Audit TIK

Peran Auditor TIK

Standar Keamanan Informasi

Penutup

(3)

Pendahuluan

“You cannot Not Communicate” (Martin

Heidegger-Filsuf Jerman).

Era digital dan globalisasi, memunculkan

komunikasi dunia maya (Cyber Space).

Aplikasi World Wide Web (WWW) diciptakan oleh

Bernes Lee, 1990.

Masyarakat dunia maya berkembang pesat dan

seluruh aktivitas dunia nyata dipindahkan ke

dunia maya (cyber community/cyber

society/global village community).

(4)

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau Information and

Communication Technology (ICT) berlangsung sedemikian cepat, yang

secara langsung maupun tidak langsung dapat mempercepat atau memperlambat kemajuan bangsa, sehingga diperlukan keseriusan

pemerintah dalam mengantisipasi dan memanfaatkan pesatnya kemajuan ini, demi majunya negara Indonesia.

• Saat ini perkembangan TIK sudah memasuki pada tahapan pengembangan industri kreatif, yang akan semakin mengoptimalkan dukungan

pemanfaatan TIK dalam merancang dan memproduksi produk-produk kreatif.

• Karakteristik pemanfaatan TIK di masyarakat pun semakin luas dan beragam, serta menonjolkan penggunaan perangkat TIK yang bersifat pribadi dan aktualisasi pribadi melalui perangkat tersebut.

(5)

Peran TIK dalam Pembangunan ekonomi Indonesia sangat besar,

dan haruslah menciptakan kemandirian dan meningkatkan daya

saing bangsa

Teknologi informasi dapat menciptakan “daya ungkit” (leverage)

yang sangat dibutuhkan dalam mewujudkan kemajuan.

Kesadaran / kepedulian (awareness) akan pentingnya peran TIK,

baik bagi pejabat pemerintah dan swasta, sangatlah diperlukan.

Pembangunan kesadaran / kepedulian itu dapat dilakukan dengan

berbagai cara antara lain melalui pelaksanaan workshop,

pemaparan kecenderungan perkembangan teknologi di masa

depan, ataupun diskusi kritis tentang apa yang harus dan perlu

dilakukan serta apa yang seharusnya tidak dilakukan jika

menyangkut TIK.

(6)

Ruang Maya dan Ruang Nyata

(7)

Indonesia Cyber Community

Membutuhkan Tata Kelola TIK yang benar untuk mengatasi Digital Divide, Peningkatan pelayanan publik, Meningkatkan Pertumbuhan

Ekonomi dan menjaga Kedaulatan NKRI

Pendahuluan

+

(8)

TIK adalah Infrastruktur Penting di Masyarakat TIK Merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi

TIK adalah sektor strategis & asset yang

berharga bagi Pemerintah • 270 Juta pengguna telepon selular (2014) • 47 Juta Pengguna Internet (2014) • 30%-40% akses Illegal • Investasi TIK di Pemerintahan Rp. 14 Triliun (2013) • Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor telekomunikasi Rp. 13,5 Triliun (2013)

Kondisi Pembangunan

Cyber Community saat ini dan Implikasinya

Sumber : Detiknas 2014

(9)

Jejaring Media Sosial Online

Jumlah Pengguna di Indonesia : 1. Facebook (34 jt) Twitter (20 jt) 2. Line (10 jt) 3. Google+ (3.4 jt) 4. Linkedlin (1 jt)

Appliances Layer

Sumber : www.enciety.co

Cyber Attack tahun 2012: 1. 36,6 jt perth 2. 1000 situs pemerintahan 9

(10)

Analisa resiko terhadap serangan dan ancaman

sistem informasi

Mengamankan Aset Informasi, Teknologi

Informasi dan Komunikasi atau aset yang

berhubungan dengan TIK

Menjaga kontinuitas proses (bisnis) yang sedang

berjalan

Meningkatkan akuntabilitas dari organisasi

Memenuhi kriteria keamanan informasi,

kerahasiaan, keutuhan, ketersediaan

(confidentality, integrity dan availability)

(11)

Audit Tik sangat diperlukan agar terhindar dari:

Kerugian akibat kehilangan data

Kesalahan dalam pengambilan keputusan

Risiko kebocoran data

Penyalahgunaan komputer

Kerugian akibat kesalahan proses perhitungan

Tingginya nilai investasi (perangkat keras dan

perangkat lunak dll.)

• Ref: Weber, Ron; Information System Controls and Audit, Prentice-Hall, 2000

(12)

Ubiquitous Computing

Kasus Cyber Crime pada tahun 2013 meningkat jumlahnya menjadi

1.237 kasus, naik sebanyak 67,34 persen dari tahun 2012 yang

semula sebanyak 816 kasus.

Dari 1.237 kasus, baru 404 kasus yang terungkap, sedangkan sisanya

833 kasus belum terpecahkan

Location Layer

http://wartakota.tribunnews.com/2013/12/27/

e-Commerce

e-Government

(13)

Socio-Culture Attack

Customer Layer

• Indonesia kekurangan konten Positif.

• Pencarian di Google dengan kunci “Pelajar” menghasilkan

video/berita negatif. • Seharusnya

konten-konten pendidikan yang muncul paling atas.

• Merusak moral Generasi muda dan Bangsa.

(14)

Socio-Culture Attack di Customer Layer

SMS Penipuan Undian

SMS Penipuan Lowongan Kerja

SMS Penipuan Permintaan Pulsa

SMS Pemerasan

Pelaku :73 warga negara China dan 97 warga negara Taiwan

(15)

Dampak Negatif Cyber Community

(16)

Peran masyarakat termasuk peran para

auditor teknologi informasi yang tergabung di

dalam IATI (Ikatan Auditor Teknologi

Indonesia) sangatlah penting, untuk

mengendalikan dan mengaudit perkembangan

teknologi informasi agar dapat menciptakan

“value” dari pengguna teknologi informasi.

(17)

Ruang Lingkup Audit

 Sistem TIK bisa merupakan sistem yang besar sekali

 Harus ditentukan ruang lingkup yang diaudit

keseluruhan sistemnya secara umum dan atau secara

khusus untuk suatu bagian atau kegiatan saja

(18)

18

AGENDA

Gambaran Umum Sistem E-Banking di Indonesia

NASABAH AGEN ELEKTRONIK SISTEM ELEKTRONIK PENDUKUNG SISTEM ELEKTRONIK BANK SISTEM ELEKTRONIK BI

SWITCHING I S P INTERNET TELCO/ CONTENT PROVIDER ISSUING BANK/ ORIGINATING BANK ACQUIRING BANK/ BENEFICIARY BANK KARTU ATM KARTU DEBET/KREDIT MOBILE BANKING OTC PHONE BANKING EKSTRANET BI TPK BANK RT BANK SKN-BI BI-RTGS RT BANK CARD HOLDER ORIGINATOR ORIGINATOR ORIGINATOR BENEFICIARY/ MERCHANT ORIGINATOR TPK BANK Issue: -Validitas/alat bukti -Netral teknologi -Kontrak elektronik -Otentikasi/e-sign -Fraud Issue: -Saat pengiriman/penerimaan -Agen elektronis -Integritas data -Fraud -Perbuatan yg dilarang Issue: -Tg Jawab Penyelenggara -Agen elektronis

-Fraud & Risk

-Perbuatan yg dilarang

Issue:

-Tg Jawab Penyelenggara -Agen elektronis

-Fraud & Risk

-Perbuatan yg dilarang

(19)

• e-KTP:

– memastikan data kependudukan dalam SIAK dan e-KTP memenuhi prinsip keamanan informasi (data center, smartcard, jaringan, pencetakan kartu, personalisasi dll)

– perekaman data penduduk di sekitar 6000 titik dan pengiriman data dapat di audit aspek keamanannya

• e-Pemilu:

– Audit perangkat keras, perangkat lunak, data center dan jaringan

– Audit pengamanan data pemilih, hasil pemungutan suara, rekapitulasi dan tabulasi nasional

• Cyber Security

– Transaksi elektronik

• Sistem Informasi Pertahanan Negara

– IT Security Architecture

– Cyber Defence dalam konteks C4ISR, mengatasi serangan keamanan dengan spektrum luas, mulai cyber crime, cyber terrorism, cyber warfare

(20)

2. Kelembagaan dan Sistem Tata Kelola untuk Pengelolaan

Cyber Security Nasional Kurang Optimal

1. Lemahnya Pemahaman dan Awarenes tentang Keamanan Informasi (Cyber Security) pada Pemangku Kepentingan.

3. Lemahnya Kemampuan IPTEK dalam Pengelolaan Keamanan Informasi (Cyber Security).

Pokok-Pokok

Persoalan yang

Ditemukan

4. Peraturan dan Perundangan Cyber Community (Cyber Law) Kurang Lengkap.

(21)

Indonesia telah mempunyai beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang keamanan sistem informasi yang perlu di setiap perusahaan dan kantor

pemerintah baik pusat maupun daerah serta perlu dilakukan peningkatan

kapasitas terkait keamanan sistem informasi bukan hanya kepada pengelola data dan informasi, namun kepada semua orang sesuai tingkat dan pekerjaannya.

SNI ISO/IEC 27001:2009 Teknologi informasi – Teknik keamanan – Sistem

manajemen keamanan informasi – Persyaratan, nformation technology – Security

techniques – Information security management systems – Requirements (ISO/IEC 27001:2005, IDT)

ISO/IEC 27007 Standard merupakan panduan bagi organisasi yang memiliki kewenangan melakukan audit dan sertifikasi sistem manajemen keamanan informasi (SMKI). Standar ini dimaksudkan untuk mendukung proses akreditasiSNI 7512:2008 Teknologi informasi - Teknik keamanan - Pengelolaan insiden

keamanan informasi

SNI 19-7125-2005 Teknologi Informasi - Teknik keamanan - Panduan teknik untuk penggunaan dan manajemen jasa Pihak Ketiga Terpercaya

(22)

Dasar Hukum

1.

UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan

Transaksi Elektronik (UU ITE)

2.

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang

Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik

(PP PSTE)

3.

Peraturan perundangan-undangan di sektor, antara

lain UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

(23)

Tujuan Pemanfaatan TIK dlm UU ITE

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik dilaksanakan dengan tujuan untuk:

a. mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia; b. mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

c. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;

d. membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap Orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dan

e. memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.

(24)

Cakupan UU-ITE

Bab II

Asas dan Tujuan

Bab III

Informasi Elektronik, Dokumen Elektronik, dan

Tanda Tangan Elektronik

Bab IV

Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik dan Sistem Elektronik

Bab V

Transaksi Elektronik Bab VI

Nama Domain, HKI, dan Pelindungan Hak Pribadi

Bab I Ketentuan Umum Bab VII Perbuatan yang Dilarang Bab VIII Penyelesaian Sengketa Bab IX Peran Pemerintah Dan Masyarakat Bab X Penyidikan Bab XI Ketentuan Pidana Bab XII Ketentuan Peralihan Bab XIII Ketentuan Penutup 24

(25)

PP NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG

PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI

ELEKTRONIK (PP PSTE)

Diundangkan tanggal 15 Oktober 2012

Merupakan salah satu peraturan pelaksana UU ITE

Meliputi beberapa pengaturan sbgmn amanat dr UU

ITE yang dituangkan dalam Bab per bab.

(26)

Cakupan PP PSTE

Bab II Penyelenggaraan Sistem Elektronik Bab III Penyelenggaraan Agen Elektronik Bab IV

Penyelenggaraan Transaksi Elektronik

Bab V

Tanda Tangan Elektronik

Bab VI Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik Bab I Ketentuan Umum Bab VII Lembaga Sertifikasi Keandalan Bab VIII Pengelolaan Nama Domain Bab IX Sanksi Bab X Ketentuan Peralihan Bab XI Ketentuan Penutup 26

(27)

Penyelenggaraan Sistem Elektronik

Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik. (Psl 1 angka 5 UU ITE)

Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) adalah setiap Orang, penyelenggara negara, Badan Usaha, dan masyarakat yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan Sistem Elektronik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama kepada Pengguna Sistem Elektronik untuk keperluan dirinya dan/atau keperluan pihak lain (Pasal 1 angka 4 PP PSTE)

Penyelenggaraan Sistem Elektronik (Psl 15 UU ITE)

a. Setiap PSE harus menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana mestinya. b. PSE bertanggung jawab terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektroniknya.

c. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik.

(28)

Perangka

t Keras

(Pasal 6)

Pendaftaran

(Pasal 5)

Perangkat

Lunak

(Pasal 7)

Pengamana

n

(Pasal 19-20)

Tata

Kelola

(Pasal 12-17)

Sertifikasi

Kelaikan

Sistem

Elektronik

(Pasal 30-32)

Tenaga

Ahli

(Pasal 10,11)

Pengawasan

(Pasal 33)

Pengaturan Penyelenggaraan Sistem

Elektronik Dlm PP PSTE

(29)

1

.

Memenuhi aspek interkonektivitas

dan kompatibilitas

2

.

Memperoleh sertifikasi kelaikan

dari Menteri

3

.

Mempunyai layanan dukungan

teknis, pemeliharaan, dan

purnajual

4

.

Memiliki referensi pendukung

bahwa Perangkat Keras tersebut

berfungsi sesuai dengan

spesifikasinya

5

.

Memiliki jaminan ketersediaan suku

cadangnya paling sedikit 3 tahun

6

.

Memiliki jaminan kejelasan

mengenai kondisi kebaruan

7 Memiliki jaminan bebas dari cacat

PERANGKAT

KERAS

(30)

Perangkat Lunak untuk PSE Pelayanan Publik wajib terdaftar di Kominfo

Wajib menyerahkan kode sumber kepada instansi

pemerintah (untuk perangkat lunak yang khusus dibuat utk Instansi)

Bila kepentingan hukum mengendaki, dapat dilakukan pemeriksaan Kode Sumber Perangkat Lunak

Ketentuan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri

(31)

Memiliki

kompetensi TI

PSE strategis

harus tenaga

ahli WNI

Jabatan tenaga

ahli pada PSE

strategis sesuai

Peraturan

Ketentuan

lebih lanjut

dalam

Peraturan

Menteri

TENAGA AHLI

(32)

TATA

KELOLA

PSE Wajib :

 Menjamin tersedianya service

level agreement

 Menjamin tersedianya

Perjanjian Keamanan Informasi

 Menjamin keamanan informasi

& sarana komunikasi internal

 Menjamin Keterpaduan seluruh

komponen

 Menerapkan Manajemen Risiko

 Memiliki kebijakan tata kelola,

prosedur kerja pengoperasian,

dan mekanisme audit

(33)

TATA KELOLA – DATA PRIBADI

PSE wajib:

– Menjaga rahasia, keutuhan, dan

ketersediaan Data Pribadi yang dikelolanya.

– Menjamin perolehan, penggunaan, dan

pemanfaatan Data Pribadi berdasarkan

persetujuan orang yang bersangkutan,

kecuali ditentukan lain oleh peraturan

perundang-undangan.

– Menjamin penggunaan atau pengungkapan

data dilakukan berdasarkan persetujuan

dari pemilik Data Pribadi tersebut dan

sesuai dengan tujuan yang disampaikan

kepada pemilik Data Pribadi pada saat

perolehan data.

(34)

Tata Kelola

PSE Pelayanan Publik

Wajib menerapkan tata kelola yang baik dan akuntabel

Wajib memiliki rencana keberlangsungan kegiatan untuk

menanggulangi gangguan

Wajib menempatkan Pusat Data dan Pusat Pemulihan Bencana di

wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum, perlindungan

dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga negaranya

Instansi pengawas-pengatur sektor terkait dapat mengatur lebih lanjut

mengenai Pusat Data dan Pusat Pemulihan Bencana serta tata kelola

PSE di sektornya dgn tetap berkoordinasi dgn Menteri

(35)

Tata Kelola

PSE Pelayanan Publik

 Wajib menerapkan tata kelola yang

baik dan akuntabel

 Wajib memiliki rencana

keberlangsungan kegiatan untuk menanggulangi gangguan

 Wajib menempatkan Pusat Data dan

Pusat Pemulihan Bencana di

wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum, perlindungan

dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga negaranya

 Instansi pengawas-pengatur sektor

terkait dapat mengatur lebih lanjut mengenai Pusat Data dan Pusat

Pemulihan Bencana serta tata kelola PSE di sektornya dengan tetap

berkoordinasi dgn Menteri

PSE Wajib :

• Menyediakan rekam jejak

audit

utk

seluruh kegiatan PSE

• Melakukan pengamanan terhadap

komponen PSE

Memiliki & menjalankan prosedur

pengamanan SE utk hindari gangguan,

kegagalan, & kerugian

• Menyediakan sistem pengamanan

mencakup prosedur & sistem pencegahan

& penanggulangan thdp ancaman

• Jika terjadi kegagalan/gangguan SE yang

berdampak serius, PSE wajib

mengamankan data & segera lapor ke

APH/ Instansi Pengawas-Pengatur sektor

terkait pada kesempatan pertama

(36)

PSE untuk pelayanan publik wajib memiliki Sertifikat Kelaikan Sistem

Elektronik.

Sertifikasi Kelaikan SE dilaksanakan terhadap seluruh/sebagian komponen

sesuai karakteristik kebutuhan & sifat strategis PSE.

Sertifikat Kelaikan SE diberikan oleh Menteri

Menteri dapat mendelegasikan kewenangan pemberian Sertifikat Kelaikan

SE kepada lembaga sertifikasi.

Standar teknis yang digunakan dalam proses Sertifikasi Kelaikan SE

ditetapkan oleh Menteri.

Instansi Pengawas dan Pengatur Sektor terkait dpt menetapkan persyaratan

tambahan Sertifikasi Kelaikan SE sesuai kebutuhan sektor.

SERTIFIKASI KELAIKAN SISTEM

ELEKTRONIK

(37)

Kesimpulan

Pemerintah berkewajiban melindungi segenap warga

negaranya dari segala ancaman termasuk ancaman yang

ditimbulkan dari kejahatan cyberspace.

Pemerintah dengan koordinasi antara lembaga yang terkait

dengan keamanan informasi harus menyusun strategi

kebijakan keamanan informasi nasional.

Seluruh lembaga wajib melakukan sistem keamanan

informasi secara PDCA berdasarkan ISO27001.

Melalui sumber daya manusia yang kompeten dalam

keamanan informasi, nilai informasi akan dikelola dengan

baik sehingga informasi yang tepat akan dikirimkan pada

waktu yang tepat dan dalam bentuk yang tepat.

Keberhasilan penerapan sistem keamanan informasi

tergantung pada komitmen dukungan manajemen

(38)
(39)

Teori Cyber Community Layer

(40)

Tehnik Cyber Attack

Reconnaissance merupakan cara-cara untuk memperoleh sebanyak mungkin informasi terkait target serangan.

Interception and tampering merupakan pelanggaran pada kerahasiaan dan integritas informasi selama dipertukarkan.

Exploit attack merupakan upaya untuk menerobos keamanan sistem informasi dengan memanfaatkan celah keamanan pada protokol

komunikasi, sistem operasi, dan aplikasi.

Malware attack merupakan upaya untuk menerobos keamanan sistem informasi dengan menggunakan virus, worm, trojan horse, backdoor, dan rootkit.

Denial of service merupakan pelanggaran pada ketersediaan informasi. Tujuan dari serangan ini adalah membuat sistem unresponsive atau crash misalnya radio signal jamming dan membanjiri jaringan dengan trafik atau dikenal sebagai flooding.

Social engineering merupakan upaya untuk menerobos keamanan dengan mentargetkan sumber daya manusia yang bertugas sebagai pengelola atau pengguna sistem informasi.

(41)

Tehnik Cyber Crime

Unauthorized Access, kejahatan memasuki atau menyusup ke dalam suatu sistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin, atau tanpa

sepengetahuan dari pemilik sistem jaringan komputer.

Illegal Contents, kejahatan yang dilakukan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang suatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau menggangu ketertiban umum. • Penyebaran virus secara sengaja, kejahatan penyebaran virus melalui

fasilitas TIK orang lain secara sengaja agar menyebar dan merusak di berbagai server yang terhubung.

Data Forgery, kejahatan yang bertujuan memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang ada di internet. Dokumen-dokumen-dokumen ini biasanya dimiliki oleh institusi atau lembaga yang memiliki situs berbasis web database.

Cyber Espionage, Sabotage, and Extortion Cyber, kejahatan yang

memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan kegiatan mata-mata, membuat gangguan, perusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung dengan internet.,

(42)

Tehnik Cyber Crime

Cyberstalking, kejahatan untuk mengganggu atau melecehkan seseorang dengan memanfaatkan komputer,

Carding, kejahatan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet.

Hacking dan Cracker, kejahatan dengan aksi perusakan di internet, pembajakan account milik orang lain, pembajakan situs web, probing, menyebarkan virus, hingga pelumpuhan target sasaran melalui Denial Of

Service (DOS).

Cybersquatting, kejahatan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjualnya kepada perusahaan tersebut

dengan harga yang lebih mahal.

Hijacking, merupakankejahatan melakukan pembajakan hasil karya orang lain. Yang paling sering terjadi adalah Software Piracy (pembajakan

perangkat lunak).

(43)

Taksonomi Cyber Security

Sumber : Cyber Security Policy Guide Handbook

Back

(44)

Pengertian Tata Kelola TIK dan ISO 27001

(45)

Pembuatan Peraturan CERT, CIO, GSI,

GSB, PKI dan CA

(46)

Perbandingan Kekuatan

Cyber Warfare 5 negara.

Negara Cyber Offense Cyber Dependence Cyber Defense Total USA 8 2 1 11 Rusia 7 5 4 16 China 5 4 6 15 Iran 4 5 3 12 Korea Utara 2 9 7 18

Sumber : Richard A. Clarke. 2010.

Cyber War The Next Threat To National Security and What To Do About It.

Offense merupakan ukuran kemampuan suatu negara dalam melakukan penyerangan guna melemahkan jaringan-jaringan sistem komputer lawan

Dependence adalah suatu tingkat ketergantungan terhadap jaringan dan sistem yang dapat dengan mudah diserang oleh cyber.

Defense yang dimaksud adalah pengukuran dari kemampuan suatu negara guna beraksi dalam suatu serangan cybe

Referensi

Dokumen terkait

WBT sering juga diidentikkan dengan e-learning, dalam metoda ini selain menggunakan komputer sebagai sarana pendidikan, juga memanfaatkan jaringan Internet, sehingga seorang

 Jaringan yang membentuk internet bekerja berdasarkan suatu set protokol standar yang digunakan untuk menghubungkan jaringan komputer dan mengalamati lalu

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka akan dilakukan penelitian bagaimana membuat suatu jaringan paralel diskless dengan memanfaatkan

Tahapan awal adalah menganalisis topologi Jaringan Komputer pada Perguruan Tinggi Di Kotamadya Palembang. Tahapan berikutnya adalah melakukan pengukuran kualitas jaringan

jemaat Bukit Moria Winangun juga memanfaatkan jaringan internet tersebut dengan pembuatan website, hal ini dilakukan untuk dapat menginformasikan kegiatan-kegiatan gereja dan

komputer pihak sasaran. Sabotage and Extortion merupakan jenis kejahatan yang dilakukan dengan membuat gangguan,  perusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program 

komputer melalui tayangan  Mencocokkan peralatan yang digunakan internet/intranet sesuai diagram jaringan  Melakukan studi pustaka tentang fungsi dan perangkat yang digunakan akses

Jaringan Internet adalah jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga informasi, berbagai jenis dan dalam berbagai bentuk seperti yang telah dijelaskan