Arya Rezavidi, MEE, PhD
IKATAN AUDITOR TEKNOLOGI INDONESIA (IATI)
•
Pendahuluan
•
Peran TIK dalam Pembangunan
•
Peran Keamanan Informasi dalam TIK
•
Konteks Perlunya Audit TIK
•
Contoh Kasus Audit TIK
•
Peran Auditor TIK
•
Standar Keamanan Informasi
•
Penutup
Pendahuluan
•
“You cannot Not Communicate” (Martin
Heidegger-Filsuf Jerman).
•
Era digital dan globalisasi, memunculkan
komunikasi dunia maya (Cyber Space).
•
Aplikasi World Wide Web (WWW) diciptakan oleh
Bernes Lee, 1990.
•
Masyarakat dunia maya berkembang pesat dan
seluruh aktivitas dunia nyata dipindahkan ke
dunia maya (cyber community/cyber
society/global village community).
• Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau Information and
Communication Technology (ICT) berlangsung sedemikian cepat, yang
secara langsung maupun tidak langsung dapat mempercepat atau memperlambat kemajuan bangsa, sehingga diperlukan keseriusan
pemerintah dalam mengantisipasi dan memanfaatkan pesatnya kemajuan ini, demi majunya negara Indonesia.
• Saat ini perkembangan TIK sudah memasuki pada tahapan pengembangan industri kreatif, yang akan semakin mengoptimalkan dukungan
pemanfaatan TIK dalam merancang dan memproduksi produk-produk kreatif.
• Karakteristik pemanfaatan TIK di masyarakat pun semakin luas dan beragam, serta menonjolkan penggunaan perangkat TIK yang bersifat pribadi dan aktualisasi pribadi melalui perangkat tersebut.
•
Peran TIK dalam Pembangunan ekonomi Indonesia sangat besar,
dan haruslah menciptakan kemandirian dan meningkatkan daya
saing bangsa
•
Teknologi informasi dapat menciptakan “daya ungkit” (leverage)
yang sangat dibutuhkan dalam mewujudkan kemajuan.
•
Kesadaran / kepedulian (awareness) akan pentingnya peran TIK,
baik bagi pejabat pemerintah dan swasta, sangatlah diperlukan.
•
Pembangunan kesadaran / kepedulian itu dapat dilakukan dengan
berbagai cara antara lain melalui pelaksanaan workshop,
pemaparan kecenderungan perkembangan teknologi di masa
depan, ataupun diskusi kritis tentang apa yang harus dan perlu
dilakukan serta apa yang seharusnya tidak dilakukan jika
menyangkut TIK.
Ruang Maya dan Ruang Nyata
Indonesia Cyber Community
Membutuhkan Tata Kelola TIK yang benar untuk mengatasi Digital Divide, Peningkatan pelayanan publik, Meningkatkan Pertumbuhan
Ekonomi dan menjaga Kedaulatan NKRI
Pendahuluan
+
TIK adalah Infrastruktur Penting di Masyarakat TIK Merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi
TIK adalah sektor strategis & asset yang
berharga bagi Pemerintah • 270 Juta pengguna telepon selular (2014) • 47 Juta Pengguna Internet (2014) • 30%-40% akses Illegal • Investasi TIK di Pemerintahan Rp. 14 Triliun (2013) • Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor telekomunikasi Rp. 13,5 Triliun (2013)
Kondisi Pembangunan
Cyber Community saat ini dan Implikasinya
Sumber : Detiknas 2014
Jejaring Media Sosial Online
Jumlah Pengguna di Indonesia : 1. Facebook (34 jt) Twitter (20 jt) 2. Line (10 jt) 3. Google+ (3.4 jt) 4. Linkedlin (1 jt)Appliances Layer
Sumber : www.enciety.coCyber Attack tahun 2012: 1. 36,6 jt perth 2. 1000 situs pemerintahan 9
•
Analisa resiko terhadap serangan dan ancaman
sistem informasi
•
Mengamankan Aset Informasi, Teknologi
Informasi dan Komunikasi atau aset yang
berhubungan dengan TIK
•
Menjaga kontinuitas proses (bisnis) yang sedang
berjalan
•
Meningkatkan akuntabilitas dari organisasi
•
Memenuhi kriteria keamanan informasi,
kerahasiaan, keutuhan, ketersediaan
(confidentality, integrity dan availability)
Audit Tik sangat diperlukan agar terhindar dari:
•
Kerugian akibat kehilangan data
•
Kesalahan dalam pengambilan keputusan
•
Risiko kebocoran data
•
Penyalahgunaan komputer
•
Kerugian akibat kesalahan proses perhitungan
•
Tingginya nilai investasi (perangkat keras dan
perangkat lunak dll.)
• Ref: Weber, Ron; Information System Controls and Audit, Prentice-Hall, 2000
Ubiquitous Computing
•
Kasus Cyber Crime pada tahun 2013 meningkat jumlahnya menjadi
1.237 kasus, naik sebanyak 67,34 persen dari tahun 2012 yang
semula sebanyak 816 kasus.
•
Dari 1.237 kasus, baru 404 kasus yang terungkap, sedangkan sisanya
833 kasus belum terpecahkan
Location Layer
http://wartakota.tribunnews.com/2013/12/27/e-Commerce
e-Government
Socio-Culture Attack
Customer Layer
• Indonesia kekurangan konten Positif.
• Pencarian di Google dengan kunci “Pelajar” menghasilkan
video/berita negatif. • Seharusnya
konten-konten pendidikan yang muncul paling atas.
• Merusak moral Generasi muda dan Bangsa.
Socio-Culture Attack di Customer Layer
SMS Penipuan Undian
SMS Penipuan Lowongan Kerja
SMS Penipuan Permintaan Pulsa
SMS Pemerasan
Pelaku :73 warga negara China dan 97 warga negara Taiwan
Dampak Negatif Cyber Community
•
Peran masyarakat termasuk peran para
auditor teknologi informasi yang tergabung di
dalam IATI (Ikatan Auditor Teknologi
Indonesia) sangatlah penting, untuk
mengendalikan dan mengaudit perkembangan
teknologi informasi agar dapat menciptakan
“value” dari pengguna teknologi informasi.
Ruang Lingkup Audit
Sistem TIK bisa merupakan sistem yang besar sekali
Harus ditentukan ruang lingkup yang diaudit
keseluruhan sistemnya secara umum dan atau secara
khusus untuk suatu bagian atau kegiatan saja
18
AGENDA
Gambaran Umum Sistem E-Banking di Indonesia
NASABAH AGEN ELEKTRONIK SISTEM ELEKTRONIK PENDUKUNG SISTEM ELEKTRONIK BANK SISTEM ELEKTRONIK BI
SWITCHING I S P INTERNET TELCO/ CONTENT PROVIDER ISSUING BANK/ ORIGINATING BANK ACQUIRING BANK/ BENEFICIARY BANK KARTU ATM KARTU DEBET/KREDIT MOBILE BANKING OTC PHONE BANKING EKSTRANET BI TPK BANK RT BANK SKN-BI BI-RTGS RT BANK CARD HOLDER ORIGINATOR ORIGINATOR ORIGINATOR BENEFICIARY/ MERCHANT ORIGINATOR TPK BANK Issue: -Validitas/alat bukti -Netral teknologi -Kontrak elektronik -Otentikasi/e-sign -Fraud Issue: -Saat pengiriman/penerimaan -Agen elektronis -Integritas data -Fraud -Perbuatan yg dilarang Issue: -Tg Jawab Penyelenggara -Agen elektronis
-Fraud & Risk
-Perbuatan yg dilarang
Issue:
-Tg Jawab Penyelenggara -Agen elektronis
-Fraud & Risk
-Perbuatan yg dilarang
• e-KTP:
– memastikan data kependudukan dalam SIAK dan e-KTP memenuhi prinsip keamanan informasi (data center, smartcard, jaringan, pencetakan kartu, personalisasi dll)
– perekaman data penduduk di sekitar 6000 titik dan pengiriman data dapat di audit aspek keamanannya
• e-Pemilu:
– Audit perangkat keras, perangkat lunak, data center dan jaringan
– Audit pengamanan data pemilih, hasil pemungutan suara, rekapitulasi dan tabulasi nasional
• Cyber Security
– Transaksi elektronik
• Sistem Informasi Pertahanan Negara
– IT Security Architecture
– Cyber Defence dalam konteks C4ISR, mengatasi serangan keamanan dengan spektrum luas, mulai cyber crime, cyber terrorism, cyber warfare
2. Kelembagaan dan Sistem Tata Kelola untuk Pengelolaan
Cyber Security Nasional Kurang Optimal
1. Lemahnya Pemahaman dan Awarenes tentang Keamanan Informasi (Cyber Security) pada Pemangku Kepentingan.
3. Lemahnya Kemampuan IPTEK dalam Pengelolaan Keamanan Informasi (Cyber Security).
Pokok-Pokok
Persoalan yang
Ditemukan
4. Peraturan dan Perundangan Cyber Community (Cyber Law) Kurang Lengkap.
Indonesia telah mempunyai beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang keamanan sistem informasi yang perlu di setiap perusahaan dan kantor
pemerintah baik pusat maupun daerah serta perlu dilakukan peningkatan
kapasitas terkait keamanan sistem informasi bukan hanya kepada pengelola data dan informasi, namun kepada semua orang sesuai tingkat dan pekerjaannya.
• SNI ISO/IEC 27001:2009 Teknologi informasi – Teknik keamanan – Sistem
manajemen keamanan informasi – Persyaratan, nformation technology – Security
techniques – Information security management systems – Requirements (ISO/IEC 27001:2005, IDT)
• ISO/IEC 27007 Standard merupakan panduan bagi organisasi yang memiliki kewenangan melakukan audit dan sertifikasi sistem manajemen keamanan informasi (SMKI). Standar ini dimaksudkan untuk mendukung proses akreditasi • SNI 7512:2008 Teknologi informasi - Teknik keamanan - Pengelolaan insiden
keamanan informasi
• SNI 19-7125-2005 Teknologi Informasi - Teknik keamanan - Panduan teknik untuk penggunaan dan manajemen jasa Pihak Ketiga Terpercaya
Dasar Hukum
1.
UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (UU ITE)
2.
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik
(PP PSTE)
3.
Peraturan perundangan-undangan di sektor, antara
lain UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Tujuan Pemanfaatan TIK dlm UU ITE
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik dilaksanakan dengan tujuan untuk:
a. mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia; b. mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
c. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;
d. membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap Orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dan
e. memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.
Cakupan UU-ITE
Bab II
Asas dan Tujuan
Bab III
Informasi Elektronik, Dokumen Elektronik, dan
Tanda Tangan Elektronik
Bab IV
Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik dan Sistem Elektronik
Bab V
Transaksi Elektronik Bab VI
Nama Domain, HKI, dan Pelindungan Hak Pribadi
Bab I Ketentuan Umum Bab VII Perbuatan yang Dilarang Bab VIII Penyelesaian Sengketa Bab IX Peran Pemerintah Dan Masyarakat Bab X Penyidikan Bab XI Ketentuan Pidana Bab XII Ketentuan Peralihan Bab XIII Ketentuan Penutup 24
PP NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG
PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK (PP PSTE)
Diundangkan tanggal 15 Oktober 2012
Merupakan salah satu peraturan pelaksana UU ITE
Meliputi beberapa pengaturan sbgmn amanat dr UU
ITE yang dituangkan dalam Bab per bab.
Cakupan PP PSTE
Bab II Penyelenggaraan Sistem Elektronik Bab III Penyelenggaraan Agen Elektronik Bab IVPenyelenggaraan Transaksi Elektronik
Bab V
Tanda Tangan Elektronik
Bab VI Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik Bab I Ketentuan Umum Bab VII Lembaga Sertifikasi Keandalan Bab VIII Pengelolaan Nama Domain Bab IX Sanksi Bab X Ketentuan Peralihan Bab XI Ketentuan Penutup 26
Penyelenggaraan Sistem Elektronik
• Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik. (Psl 1 angka 5 UU ITE)
• Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) adalah setiap Orang, penyelenggara negara, Badan Usaha, dan masyarakat yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan Sistem Elektronik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama kepada Pengguna Sistem Elektronik untuk keperluan dirinya dan/atau keperluan pihak lain (Pasal 1 angka 4 PP PSTE)
• Penyelenggaraan Sistem Elektronik (Psl 15 UU ITE)
a. Setiap PSE harus menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana mestinya. b. PSE bertanggung jawab terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektroniknya.
c. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik.
Perangka
t Keras
(Pasal 6)Pendaftaran
(Pasal 5)Perangkat
Lunak
(Pasal 7)Pengamana
n
(Pasal 19-20)Tata
Kelola
(Pasal 12-17)Sertifikasi
Kelaikan
Sistem
Elektronik
(Pasal 30-32)Tenaga
Ahli
(Pasal 10,11)Pengawasan
(Pasal 33)Pengaturan Penyelenggaraan Sistem
Elektronik Dlm PP PSTE
1
.
Memenuhi aspek interkonektivitas
dan kompatibilitas
2
.
Memperoleh sertifikasi kelaikan
dari Menteri
3
.
Mempunyai layanan dukungan
teknis, pemeliharaan, dan
purnajual
4
.
Memiliki referensi pendukung
bahwa Perangkat Keras tersebut
berfungsi sesuai dengan
spesifikasinya
5
.
Memiliki jaminan ketersediaan suku
cadangnya paling sedikit 3 tahun
6
.
Memiliki jaminan kejelasan
mengenai kondisi kebaruan
7 Memiliki jaminan bebas dari cacat
PERANGKAT
KERAS
Perangkat Lunak untuk PSE Pelayanan Publik wajib terdaftar di Kominfo
Wajib menyerahkan kode sumber kepada instansi
pemerintah (untuk perangkat lunak yang khusus dibuat utk Instansi)
Bila kepentingan hukum mengendaki, dapat dilakukan pemeriksaan Kode Sumber Perangkat Lunak
Ketentuan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri
Memiliki
kompetensi TI
PSE strategis
harus tenaga
ahli WNI
Jabatan tenaga
ahli pada PSE
strategis sesuai
Peraturan
Ketentuan
lebih lanjut
dalam
Peraturan
Menteri
TENAGA AHLI
TATA
KELOLA
PSE Wajib :
Menjamin tersedianya service
level agreement
Menjamin tersedianya
Perjanjian Keamanan Informasi
Menjamin keamanan informasi
& sarana komunikasi internal
Menjamin Keterpaduan seluruh
komponen
Menerapkan Manajemen Risiko
Memiliki kebijakan tata kelola,
prosedur kerja pengoperasian,
dan mekanisme audit
TATA KELOLA – DATA PRIBADI
PSE wajib:
– Menjaga rahasia, keutuhan, dan
ketersediaan Data Pribadi yang dikelolanya.
– Menjamin perolehan, penggunaan, dan
pemanfaatan Data Pribadi berdasarkan
persetujuan orang yang bersangkutan,
kecuali ditentukan lain oleh peraturan
perundang-undangan.
– Menjamin penggunaan atau pengungkapan
data dilakukan berdasarkan persetujuan
dari pemilik Data Pribadi tersebut dan
sesuai dengan tujuan yang disampaikan
kepada pemilik Data Pribadi pada saat
perolehan data.
Tata Kelola
PSE Pelayanan Publik
•
Wajib menerapkan tata kelola yang baik dan akuntabel
Wajib memiliki rencana keberlangsungan kegiatan untuk
menanggulangi gangguan
Wajib menempatkan Pusat Data dan Pusat Pemulihan Bencana di
wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum, perlindungan
dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga negaranya
Instansi pengawas-pengatur sektor terkait dapat mengatur lebih lanjut
mengenai Pusat Data dan Pusat Pemulihan Bencana serta tata kelola
PSE di sektornya dgn tetap berkoordinasi dgn Menteri
Tata Kelola
PSE Pelayanan Publik
Wajib menerapkan tata kelola yang
baik dan akuntabel
Wajib memiliki rencana
keberlangsungan kegiatan untuk menanggulangi gangguan
Wajib menempatkan Pusat Data dan
Pusat Pemulihan Bencana di
wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum, perlindungan
dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga negaranya
Instansi pengawas-pengatur sektor
terkait dapat mengatur lebih lanjut mengenai Pusat Data dan Pusat
Pemulihan Bencana serta tata kelola PSE di sektornya dengan tetap
berkoordinasi dgn Menteri
PSE Wajib :
• Menyediakan rekam jejak
audit
utk
seluruh kegiatan PSE
• Melakukan pengamanan terhadap
komponen PSE
Memiliki & menjalankan prosedur
pengamanan SE utk hindari gangguan,
kegagalan, & kerugian
• Menyediakan sistem pengamanan
mencakup prosedur & sistem pencegahan
& penanggulangan thdp ancaman
• Jika terjadi kegagalan/gangguan SE yang
berdampak serius, PSE wajib
mengamankan data & segera lapor ke
APH/ Instansi Pengawas-Pengatur sektor
terkait pada kesempatan pertama
•
PSE untuk pelayanan publik wajib memiliki Sertifikat Kelaikan Sistem
Elektronik.
•
Sertifikasi Kelaikan SE dilaksanakan terhadap seluruh/sebagian komponen
sesuai karakteristik kebutuhan & sifat strategis PSE.
•
Sertifikat Kelaikan SE diberikan oleh Menteri
•
Menteri dapat mendelegasikan kewenangan pemberian Sertifikat Kelaikan
SE kepada lembaga sertifikasi.
•
Standar teknis yang digunakan dalam proses Sertifikasi Kelaikan SE
ditetapkan oleh Menteri.
•
Instansi Pengawas dan Pengatur Sektor terkait dpt menetapkan persyaratan
tambahan Sertifikasi Kelaikan SE sesuai kebutuhan sektor.
SERTIFIKASI KELAIKAN SISTEM
ELEKTRONIK
Kesimpulan
•
Pemerintah berkewajiban melindungi segenap warga
negaranya dari segala ancaman termasuk ancaman yang
ditimbulkan dari kejahatan cyberspace.
•
Pemerintah dengan koordinasi antara lembaga yang terkait
dengan keamanan informasi harus menyusun strategi
kebijakan keamanan informasi nasional.
•
Seluruh lembaga wajib melakukan sistem keamanan
informasi secara PDCA berdasarkan ISO27001.
•
Melalui sumber daya manusia yang kompeten dalam
keamanan informasi, nilai informasi akan dikelola dengan
baik sehingga informasi yang tepat akan dikirimkan pada
waktu yang tepat dan dalam bentuk yang tepat.
•
Keberhasilan penerapan sistem keamanan informasi
tergantung pada komitmen dukungan manajemen
Teori Cyber Community Layer
Tehnik Cyber Attack
• Reconnaissance merupakan cara-cara untuk memperoleh sebanyak mungkin informasi terkait target serangan.
• Interception and tampering merupakan pelanggaran pada kerahasiaan dan integritas informasi selama dipertukarkan.
• Exploit attack merupakan upaya untuk menerobos keamanan sistem informasi dengan memanfaatkan celah keamanan pada protokol
komunikasi, sistem operasi, dan aplikasi.
• Malware attack merupakan upaya untuk menerobos keamanan sistem informasi dengan menggunakan virus, worm, trojan horse, backdoor, dan rootkit.
• Denial of service merupakan pelanggaran pada ketersediaan informasi. Tujuan dari serangan ini adalah membuat sistem unresponsive atau crash misalnya radio signal jamming dan membanjiri jaringan dengan trafik atau dikenal sebagai flooding.
• Social engineering merupakan upaya untuk menerobos keamanan dengan mentargetkan sumber daya manusia yang bertugas sebagai pengelola atau pengguna sistem informasi.
Tehnik Cyber Crime
• Unauthorized Access, kejahatan memasuki atau menyusup ke dalam suatu sistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin, atau tanpa
sepengetahuan dari pemilik sistem jaringan komputer.
• Illegal Contents, kejahatan yang dilakukan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang suatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau menggangu ketertiban umum. • Penyebaran virus secara sengaja, kejahatan penyebaran virus melalui
fasilitas TIK orang lain secara sengaja agar menyebar dan merusak di berbagai server yang terhubung.
• Data Forgery, kejahatan yang bertujuan memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang ada di internet. Dokumen-dokumen-dokumen ini biasanya dimiliki oleh institusi atau lembaga yang memiliki situs berbasis web database.
• Cyber Espionage, Sabotage, and Extortion Cyber, kejahatan yang
memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan kegiatan mata-mata, membuat gangguan, perusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung dengan internet.,
Tehnik Cyber Crime
• Cyberstalking, kejahatan untuk mengganggu atau melecehkan seseorang dengan memanfaatkan komputer,
• Carding, kejahatan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet.
• Hacking dan Cracker, kejahatan dengan aksi perusakan di internet, pembajakan account milik orang lain, pembajakan situs web, probing, menyebarkan virus, hingga pelumpuhan target sasaran melalui Denial Of
Service (DOS).
• Cybersquatting, kejahatan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjualnya kepada perusahaan tersebut
dengan harga yang lebih mahal.
• Hijacking, merupakankejahatan melakukan pembajakan hasil karya orang lain. Yang paling sering terjadi adalah Software Piracy (pembajakan
perangkat lunak).
Taksonomi Cyber Security
Sumber : Cyber Security Policy Guide Handbook
Back
Pengertian Tata Kelola TIK dan ISO 27001
Pembuatan Peraturan CERT, CIO, GSI,
GSB, PKI dan CA
Perbandingan Kekuatan
Cyber Warfare 5 negara.
Negara Cyber Offense Cyber Dependence Cyber Defense Total USA 8 2 1 11 Rusia 7 5 4 16 China 5 4 6 15 Iran 4 5 3 12 Korea Utara 2 9 7 18
Sumber : Richard A. Clarke. 2010.
Cyber War The Next Threat To National Security and What To Do About It.
• Offense merupakan ukuran kemampuan suatu negara dalam melakukan penyerangan guna melemahkan jaringan-jaringan sistem komputer lawan
• Dependence adalah suatu tingkat ketergantungan terhadap jaringan dan sistem yang dapat dengan mudah diserang oleh cyber.
• Defense yang dimaksud adalah pengukuran dari kemampuan suatu negara guna beraksi dalam suatu serangan cybe